• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORITIS TENTANG PERKAWINAN DAN KAWIN SIRI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN TEORITIS TENTANG PERKAWINAN DAN KAWIN SIRI"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

19 A. Perkawinan

1. Pengertian Perkawinan

Pengertian perkawinan menurut hukum Islam, perkawinan itu adalah perjanjian antara bakal suaminya atau wakilnya dan wali perempuan atau wakilnya. Perkawinan dalam bahasa Arabnya adalah nikah dan menurut syarat-syarat hakekat nikah itu adalah akad antara calon pengantin laki-laki dan wali laki-laki-laki-laki dan perempuan untuk membolehkan keduanya bergaul suami isteri.

Perkawinan menurut Pasal 2 Kompilasi Hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mistaqan qhalidzan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakan merupakan ibadah.

Kata mistaqan ghalidzan ini ditarik dari firman Allah SWT yang terdapat pada Al’quran surah an-Nisa ayat 21 yang artinya :

Bagaimana kamu akan mengambil mahar yang telah kamu berikan pada isterimu, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.

Dari definisi di atas, sepertinya ada sebuah kesepakatan, bahwa perkawinan itu dilihat sebagai sebuah akad.

(2)

Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Ikatan lahir, yaitu hubungan formal yang dapat dilihat karena dibentuk menurut Undang-Undang, hubungan mana mengikat kedua pihak, dan pihak lain dalam masyarakat, sedangkan ikatan batin yaitu hubungan tidak formal yang dibentuk dengan kemauan bersama yang sungguh-sungguh, yang mengikat kedua pihak saja.

R. Sardjono, seperti dikutip oleh Asmin, mengatakan:

Ikatan lahir batin berarti bahwa para pihak yang bersangkutan karena perkawinan itu sangat formil sebagai suami-isteri baik bagi mereka dalam hubungannya dengan masyarakat luas. Pengertian ikatan batin suami isteri yang bersangkutan terkadang niat yang sungguh-sungguh untuk hidup bersama sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk dan membina keluarga yang bahagia dan kekal.14

Jadi dalam suatu perkawinan tidak boleh hanya ada ikatan lahir atau ikatan batin saja, kedua unsur tersebut harus ada dalam setiap perkawinan, karena ikatan perkawinan bukan hanya semata-mata untuk memenuhi hawa nafsu belaka.

Suami isteri adalah fungsi masing-masing pihak sebagai akibat dari adanya ikatan lahir batin. Tidak ada ikatan lahir batin berarti tidak pula ada fungsi sebagai suami-isteri.

14Asmin, Status Perkawinan Antar Agama ditinjau dari Undang-Undang Nomor 1

(3)

Pekawinan adalah pokok yang terutama untuk mengatur kehidupan rumah tangga dan keturunannya, yang akan merupakan susunan masyarakat kecil dan nantinya akan menjadi anggota dalam masyarakat yang luas. Tercapainya hal itu sangat tergantung kepada eratnya hubungan antara kedua suami-isteri dan pergaulan keduanya yang baik. Hal tersebut dapat terwujud apabila masing-masing, suami dan isteri tetap menjalankan kewajibannya sebagai suami-isteri yang baik.

Seperti sabda Nabi SAW yang artinya:

Dari Abu Hurairah katanya, Rasulullah Saw telah memberi pelajaran, kata beliau: Mu’min yang sempurna imannya ialah yang sebaik-baik peribadinya dan sebaik-baik peribadi ialah orang yang sebaik-baiknya terhadap isterinya”. (Riwayat Ahmad dan Tirmidzi).15

Perkawinan merupakan perjanjian yang setia, dan sama-sama bertanggung jawab dalam menunaikan tugasnya sebagai suami-isteri atas keselamatan dan kebahagiaan rumah tangga. Perjanjian tersebut harus sesuai dengan syarat sahnya perjanjian, yaitu pasal 1320 KUHPerdata adalah :

a. Kesepakatan

Adanya rasa ikhlas atau saling memberi dan menerima atau sukarela diantara pihak-pihak yang membuat perjanjian tersebut. Kesepakatan tidak ada apabila dibuat atas dasar paksaan, penipuan, atau kekhilafan.

b. Kecakapan

Para pihak yang membuat perjanjian haruslah orang-orang yang oleh hukum dinyatakan sebagai subjek hukum, yaitu yang cakap hukum

(4)

(dewasa). Tidak cakap adalah orang-orang yang ditentukan hukum, yaitu anak-anak, orang-orang dewasa yang ditempatkan dalam pengawasan (curatele), dan orang sakit jiwa. Mereka yang belum dewasa menurut Undang-Undang Perkawinan adalah anak-anak karena belum berumur 18 (delapan belas) tahun. Meskipun belum berumur 18 (delapan belas) tahun, apabila seseorang telah atau pernah kawin dianggap sudah dewasa, berarti cakap untuk membuat perjanjian.

c. Hal tertentu

Obyek yang diatur dalam perjanjian harus jelas, tidak samar. Hal ini penting untuk memberikan jaminan atau kepastian kepada pihak-pihak dan mencegah timbulnya fiktif, misalnya: orang jelas, anak siapa.

d. Sebab yang dibolehkan

Isi perjanjian tidak boleh bertentangan dengan perundang-undangan yang bersifat memaksa, ketertiban umum, dan atau kesusilaan. Misalnya: adanya paksaan dalam menikah.

Syarat pertama dan kedua menyangkut subjeknya (syarat subjektif), sedangkan syarat ketiga dan keempat mengenai objeknya (syarat objektif). Terdapatnya cacat kehendak (keliru, paksaan, penipuan) atau tidak cakap untuk membuat perikatan, mengakibatkan dapat dibatalkannya perjanjian. Jika objeknya tidak tertentu atau tidak dapat ditentukan atau causanya tidak halal, perjanjiannya adalah batal. Bilamana syarat subjektif dan syarat objektif tidak dipenuhi maka akibat hukum yang timbul adalah tidak sahnya perjanjian tersebut.

(5)

Persoalan perkawinan pada kehidupan manusia mempunyai arti yang sangat penting, oleh karena kebahagiaan manusia sebagian besar tergantung pada kebahagiaan keluarga. Betapa tidak agama mengajarkan kehidupan, manusia yang berlainan jenis serta telah akil balig keduanya dilarang untuk melakukan hubungan badan tanpa adanya perkawinan.

Perkawinan adalah salah satu sarana untuk membentuk suatu keluarga, disamping sebagai sumber kehidupan dan penghidupan. Perkawinan dapat dinilai juga sebagai suatu harta yang mempunyai nilai permanen, karena memberikan kemantapan untuk dicadangkan bagi kehidupan dimasa yang akan datang, dan pada akhirnya perkawinan pulalah yang akan dijadikan bahan untuk memperoleh keturunan dimasa datang.

Nani Suwondo mengemukakan pengertian perkawinan adalah :

Suatu tindakan hukum yang dilakukan dengan maksud akan hidup bersama dengan kekal, antara dua orang yang berjenis kelamin yang berlainan dan dilangsungkan menurut cara-cara yang ditetapkan pemerintah, perkawinan mana berdasarkan hukum sipil dan berazaskan monogami.16

Sedangkan menurut Paul Scholten memberikan pengertian sebagai berikut:

Perkawinan adalah persekutuan suami dengan isteri untuk hidup bersama dengan jangka waktu panjang, persekutuan mana diatur oleh negara.

Perkawinan itu adalah peristiwa yang sangat penting yang menyangkut segala macam soal, sehingga peristiwa itu bukan saja menyangkut pribadi

(6)

orang yang akan menikah saja, tetapi juga menyangkut soal orang tua, keluarga, bahkan menyangkut anggota-anggota masyarakat itu sendiri.

2. Tujuan Perkawinan

Tujuan perkawinan dalam Islam untuk memenuhi tuntutan hajat tabiat kemanusiaan, berhubungan antara laki-laki dan perempuan, dalam rangka mewujudkan suatu keluarga yang bahagia dengan dasar cinta dan kasih sayang, untuk memperoleh keturunan yang sah dalam masyarakat dengan mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah diatur oleh syariah.

Rumusan tujuan perkawinan itu dapat diperinci sebagai berikut : a. Menghalalkan hubungan kelamin untuk memenuhi tuntutan hajat

tabiat kemanusiaan

Tuhan menciptakan manusia dengan jenis kelamin yang berbeda-beda, yaitu jenis laki-laki dan perempuan. Sudah menjadi kodrat bahwa antara kedua jenis itu saling mengandung daya tarik. Dilihat dari sudut biologis daya tarik itu adalah kebirahian atau seksuil. Dengan perkawinan, pemenuhan tuntutan tabiat kemanusiaan itu dapat disalurkan secara sah. Andai kata tidak ada saluran yang sah itu, maka manusia banyak melakukan perbuatan dan hal-hal yang tidak baik dalam masyarakat.

b. Mewujudkan suatu keluarga dengan dasar cinta kasih

Ikatan perkawinan merupakan ikatan yang paling teguh dan kuat. Mengapa hal itu bisa terjadi, sedangkan kita semua mengetahui bahwa

(7)

pada umumnya antara laki-laki dan perempuan sebelum melaksanakan perkawinan pada umumnya tidak ada ikatan apapun. Satu-satunya alat untuk memperkokoh ikatan perkawinan itu adalah rasa cinta dan kasih sayang antara laki-laki dan perempuan secara timbal balik, dan atas dasar cinta kasih inilah kedua belah pihak yang melakukan perkawinan itu berusaha membentuk keluarga yang bahagia.

c. Memperoleh keturunan yang sah

Memperoleh keturunan dalam perkawinan bagi penghidupan manusia mengandung dua segi kepentingan, yaitu kepentingan untuk diri pribadi dan kepentingan bersifat umum (universal). Setiap orang yang melaksanakan perkawinan tentu mempunyai keinginan untuk memperoleh anak / keturunan. Keinginan manusia untuk memperoleh anak ini bisa dipahami, karena anak-anak itulah nanti yang diharapkan dapat membantu dan jadi penerus ibu bapaknya pada hari tuanya kelak. Sedangkan aspek yang umum atau universal yang berhubungan dengan keturunan / anak ialah karena anak-anak itulah yang menjadi penyambung keturunan seseorang dan akan selalu berkembang untuk meramaikan dan memakmurkan dunia ini.

d. Menjaga manusia dari kerusakan dan kejahatan

Salah satu faktor yang menyebabkan manusia mudah terjerumus ke dalam kejahatan dan kerusakan, ialah pengaruh hawa nafsu dan seksuil. Dengan tidak adanya saluran yang sah untuk memenuhi

(8)

kebutuhan seksuilnya, biasanya manusia baik laki-laki maupun wanita akan mencari jalan yang tidak halal.

e. Menumbuhkan aktifitas dalam berusaha mencari rezeki yang halal dan memperbesar rasa tanggung jawab

Menurut hukum Islam tujuan perkawinan adalah menuruti perintah Allah untuk memperoleh keturunan yang sah dalam masyarakat, dengan mendirikan rumah tangga yang damai dan teratur.17

Jadi tujuan perkawinan menurut hukum Islam adalah untuk menegakan agama, untuk mendapatkan keturunan, untuk mencegah maksiat dan untuk membina keluarga, rumah tangga yang damai dan teratur, mencegah terjadinya perzinahan, dan atau pelacuran, sebagaimana Nabi Muhamad SAW berseru kepada generasi muda, berdasarkan jama’ah ahli hadist :

Hai para pemuda jika diantara kamu mampu dan berkeinginan untuk kawin hendaklah kawin. Karena sesungguhnya kawin itu memejamkan mata terhadap orang yang tidak halal dipandang, dan akan memeliharanya dari godaan syahwat. Jika tidak mampu untuk kawin maka berpuasa, karena dengan berpuasa hawa nafsu terhadap wanita akan berkurang.

Pasal 3 Kompilasi Hukum Islam menjelaskan, bahwa tujuan perkawinan adalah untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Artinya tujuan perkawinan itu adalah : a. Untuk hidup dalam pergaulan yang sempurna.

b. Satu jalan yang amat mulia untuk mengatur rumah tangga dan turunan.

17Mahmud Junus, Hukum Perkawinan Indonesia, CV. Mandar Maju, Bandung, 1990, hlm.24.

(9)

c. Sebagai satu tali yang amat teguh, guna memperoleh tali persaudaraan antara kaum kerabat laki-laki (suami) dengan kaum kerabat perempuan (isteri), yang mana pertalian itu akan menjadi satu jalan yang membawa kepada bertolong tolongan antara satu kaum (golongan) dengan yang lain.

Di dalam Pasal 1 Undang-undang No.1 Tahun 1974 dikatakan bahwa yang menjadi tujuan perkawinan, yaitu membentuk keluarga, atau rumah tangga yang bahagia, dan kekal bedasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Membentuk keluarga adalah membentuk kesatuan masyarakat terkecil yang terdiri dari suami, isteri, dan anak, sedangkan membentuk rumah tangga, yaitu membentuk kesatuan hubungan suami-isteri dalam satu wadah yang disebut rumah kediaman bersama.

Dalam hal ini bahagia diartikan sebagai adanya kerukunan, dan hubungan antara suami-isteri, dan anak-anak dalam rumah tangga. Dalam rumah tangga mereka, mendambakan kehidupan yang kekal artinya berlangsung terus menerus seumur hidup, dan tidak boleh diputuskan begitu saja, atau dibubarkan menurut pihak-pihak.

Perkawinan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, artinya perkawinan tidak terjadi begitu saja menurut pihak-pihak, melainkan sebagai karunia Tuhan kepada manusia sebagai makhluk beradab. Karena itu, perkawinan dilakukan secara beradab pula, sesuai dangan ajaran agama yang diturunkan Tuhan kepada manusia.

(10)

Perkawinan merupakan suatu kesungguhan untuk hidup bersama sebagai suami isteri yang disucikan oleh Tuhan, bertujuan untuk membina dan membangun rumah tangga atau keluarga sejahtera baik lahir maupun batin, berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Suatu perkawinan yang sukses tidak mungkin dapat diharapkan dari mereka yang masih kurang mantap, baik fisik maupun mental emosional, melainkan menuntut kedewasaan dan tanggung jawab serta kematangan fisik dan mental, untuk itu suatu perkawinan haruslah dimasuki dengan suatu persiapan yang penting.

Perkawinan yang hanya mengandalkan kekuatan cinta tanpa disertai persiapan yang matang, akan banyak mengalami kelemahan. Jadi untuk memasuki suatu perkawinan bukan hanya cinta saja yang dibutuhkan, melainkan pemikiran yang rasional dan dapat meletakan dasar-dasar yang kokoh dalam membentuk suatu perkawinan, dan perkawinan itu sendiri merupakan proses awal dari perwujudan bentuk-bentuk kehidupan manusia.18

3. Syarat Perkawinan

Syarat sah perkawinan/ pernikahan Menurut hukum Islam harus memenuhi rukun nikah, yaitu:

1. Kedua mempelai (calon suami dan calon isteri) 2. Wali

18Djoko Prakoso dan I Ketut Martika, Asas-asas Hukum Perkawinan Indonesia, Cetakan Pertama, Bina Akasara, 1987, hal.3.

(11)

3. Dua orang saksi 4. Ijab qabul

5. Mahar (Mas Kawin)

Ad.1. Kedua mempelai (calon suami dan calon isteri)

a. Calon suami ataupun calon isteri menurut Kompilasi Hukum Islam harus berusia minimal 19 tahun sedangkan untuk wanita 16 tahun (Pasal 15 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam).

b. Perkawinan didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai (Pasal 16 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam). c. Bentuk persetujuan calon mempelai wanita dapat berupa

pernyataan tegas dan nyata dengan tulisan, lisan, atau isyarat tetapi dapat juga berupa diam, dalam arti selama tidak ada penolakan yang tegas (Pasal 16 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam).

d. Sebelum berlangsungnya perkawinan, pegawai pencatat nikah menanyakan lebih dahulu persetujuan calon mempelai dihadapan dua saksi nikah (Pasal 17 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam).

e. Bila ternyata perkawinan tidak disetujui oleh seorang calon mempelai, maka perkawinan itu tidak dapat dilangsungkan (Pasal 17 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam).

(12)

f. Bagi calon mempelai yang menderita tunawicara atau tunarungu, persetujuan dapat dinyatakan dengan tulisan atau isyarat yang dapat dimengerti (Pasal 17 ayat (3) Kompilasi Hukum Islam).

Ad.2. Wali Nikah

Wali nikah dalam perkawinan merupakan rukun yang harus dipenuhi bagi calon mempelai wanita yang bertindak untuk menikahinya.

a. Orang mukalaf balig, karena orang mukalaf adalah orang yang dibebani hukum dan dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya.

b. Muslim. Apabila orang yang kawin itu muslim, diisyaratkan walinya juga seorang muslim. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT : ”Janganlah orang-orang mukmin itu mengangkat orang kafir sebagai wali-wali (mereka) dengan meninggalkan orang-orang mukmin” (QS.Ali Imron : 28).

c. wali nikah terdiri atas wali nasab dan wali hakim.

d. Wali nasab terdiri dari empat kelompok dalam urutan kedudukan, kelompok yang satu didahulukan dari kelompok yang lain sesuai erat tidaknya susunan kekerabatan dengan calon mempelai wanita.

(13)

Pertama, kelompok kerabat laki-laki garis lurus keatas yakni ayah, kakek, dari pihak ayah dan seterusnya.

Kedua, kelompok kerabat saudara laki-laki kandung atau saudara laki-laki seayah, saudara seayah dan keturunan dari laki-laki mereka.

Ketiga, kelompok kerabat paman yakni saudara laki-laki kandung ayah, saudara seayah dan keturunan dari laki-laki mereka.

Keempat, kelompok saudara laki-laki kandung kakek, saudara laki-laki seayah kakek, dan keturunan laki-laki mereka.

e. Apabila dalam suatu kelompok wali nikah terdapat beberapa orang yang sama-sama berhak menjadi wali, maka yang paling berhak menjadi wali ialah yang lebih dekat derajat kekerabatanya dengan calon mempelai wanita. f. Apabila dalam satu kelompok sama derajat kekerabatannya, maka yang paling berhak menjadi wali nikah ialah kerabat kandung dari kerabat yang hanya seayah.

g. Apabila dalam suatu kelompok derajat kekerabatannya, sama yakni sam-sama derajat kerabat seayah, mereka sama-sama berhak menjadi wali nikah dengan mengutamakan yang lebih tua dan memenuhi syarat-syarat wali.

(14)

Apabila wali nikah yang paling berhak urutannya tidak memenuhi syarat sebagai wali nikah atau oleh karena wali nikah itu menderita tunawicara, tuna rungu, atau sedang uzur, maka hak menjadi wali bergeser kepada wali nikah yang lain menurut derajat berikutnya :

1. Wali hakim baru dapat bertindak sebagai wali nikah, apabila wali nasab tidak ada atau tidak mungkin menghadirkannya, atau tidak diketahui tempat tinggalnya atau adlal atau enggan.

2. Dalam hal wali adhal enggan maka wali hakim dapat bertindak sebagai wali nikah setelah ada putusan Pengadilan Agama tentang wali tersebut.

Ad.3. Dua orang saksi

a. Saksi dalam perkawinan merupakan rukun saat pelaksanaan akad nikah.

b. Setiap perkawinan harus disaksikan oleh dua orang saksi, yang dapat ditunjuk sebagai saksi dalam akad nikah ialah seorang laki-laki muslim, adil, akil baligh, tidak terganggu ingatan dan tidak tuna rungu atau tuli. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW : “Tidak ada nikah kecuali dengan adanya wali dan dua saksi yang adil.”

(15)

c. Saksi harus hadir dan menyaksikan secara langsung akad nikah, serta menandatangani akta nikah pada waktu dan ditempat akad nikah dilangsungkan.

d. Saksi harus mengerti dan mendengar perkataan-perkataan yang diucapkan pada waktu akad nikah dilaksanakan. Ad.4. Ijab dan qabul

a. Ijab yaitu ucapan dari wali/ orang tua atau wakilnya pihak perempuan sebagai penyerahan kepada pihak laki-laki. Sedangkan Kabul yaitu, ucapan dari pengantin laki-laki atau wakilnya sebagai tanda penerimaan.

b. Pada dasarnya akad nikah harus diucapkan secara lisan, kecuali bagi yang tidak mengucapkan secara lisan boleh dengan tulisan, atau menggunakan isyarat-isyarat tertentu. c. Antara ijab dan qabul tidak boleh diselingi kata-kata lain

atau perbuatan-perbuatan lain, yang dapat dipandang mempunyai maksud mengalihkan akad yang sedang dilangsungkan.

d. Masing-masing pihak harus mendengar dan memahami perkataan-perkataan atau isyrat-isyarat yang diucapkan, atau dilakukan oleh masing-masing pihak di waktu akad. Ad. 5. Mahar (Mas Kawin)

Calon mempelai pria wajb membayar mahar kepada calon mempelai wanita yang jumlah, bentuk, dan jenisnya disepakati

(16)

oleh kedua belah pihak. Mahar diberikan berdasarkan atas kesederhanaan dan kemudahan yang dianjurkan oleh agama Islam.

a. Penyerahan mahar dilakukan dengan tunai.

b. Apabila calon mempelai wanita menyetujui, penyerahan mahar boleh ditangguhkan baik untuk seluruhnya atau untuk sebagian. Mahar yang belum diuraikan penyerahannya menjadi utang calon mempelai pria.

c. Kelalaian menyebut jenis dan jumlah mahar pada waktu akad nikah tidak menyebabkan batalnya perkawinan. Begitu pula halnya dalam keadaan mahar masih terutang tidak mengurangi sahnya perkawinan.

Syarat-syarat sahnya suatu perkawinan yang diatur dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, meliputi syarat materil dan formil.

A. Syarat materil adalah syarat-syarat yang mengenal diri pribadi calon mempelai. Ada yang berlaku untuk semua perkawinan (umum) dan yang berlaku hanya untuk perkawinan tertentu saja (khusus).

1. Syarat materil yang berlaku umum

a. Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai (Pasal 6 yat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan).

(17)

b. Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita telah mencapai umur 16 (enam belas) tahun (Pasal 7 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan). c. Seorang yang masih terikat perkawinan dengan orang lain

tidak dapat kawin lagi, kecuali dalam hal yang tersebut dalam (Pasal 3 ayat (2) dan ayat (4) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan).

d. Pasal 11 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Pasal 39 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, mengenai waktu tunggu bagi seorang wanita yang putus perkawinannya yaitu : 1) Apabila perkawinan putus karena kematian, waktu tunggu

ditetapkan 130 hari.

2) Apabila perkawinan putus karena perceraian, waktu tunggu bagi yang masih berdatang bulan ditetapkan 3 kali suci atau 90 hari.

3) Apabila perkawinan putus, sedang janda tersebut sedang hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan. 4) Tidak ada waktu tunggu bagi janda yang putus

perkawinan karena perceraian, sedang antara janda tersebut dengan bekas suaminya belum pernah terjadi hubungan kelamin.

(18)

5) Bagi perkawinan yang putus karena perceraian, tenggang waktu tunggu dihitung sejak jatuhnya putusan Pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap.

6) Bagi perkawinan yang putus karena kematian, tenggang waktu dihitung sejak kematian suami.

Tidak dipenuhinya syarat-syarat tersebut, menimbulkan ketidak-wenangan untuk melangsungkan perkawinan, dan berakibat batalnya suatu perkawinan.

2. Syarat materil yang berlaku khusus

Syarat ini hanya berlaku untuk perkawinan tertentu saja dan meliputi hak-hak sebagai berikut :

a. Tidak melanggar larangan perkawinan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 8 s/d Pasal 10 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 yaitu mengenai larangan perkawinan antara dua orang yang diantaranya :

1) Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah ataupun keatas.

2) Berhubungan darah dalam garis kesamping. 3) Berhubungan semenda.

4) Berhubungan susuan

5) Berhubungan saudara isteri atau sebagai bibi atau kemenakan dari isteri dalam hal seorang suami beristeri lebih dari satu.

(19)

6) mempunyai hubungan, yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku dilarang kawin

7) Masih terikat tali perkawinan dengan orang lain kecuali, dalam hal tersebut pada Pasal 3 ayat (2), Pasal 4 dan Pasal 9 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974.

8) Izin dari kedua orang tua, bagi mereka yang belum mencapai umur 21 tahun. Bila salah satu dari orang tua yang meninggal, izin dapat diperoleh dari orang tua yang masih hidup, bila itupun tidak ada, dari wali yang memelihara atau keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan lurus keatas atau bisa juga izin dari Pengadilan, bila orang-orang tersebut tidak ada atau tidak mungin diminta izinnya (Pasal 6 ayat (2) s/d ayat (5) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974).

B. Syarat formil adalah tata cara yang harus dipenuhi sebelum dan pada saat dilangsungkannya perkawinan. Syarat untuk melaksanakan perkawinan diatur dalam pasal 3, 4, 8, dan 10 PP No. 9 tahun 1975, yaitu tentang :

1. Pemberitahuan

Tentang pemberitahuan diatur dalam Pasal 3 dan 4 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975. Pasal 3 dan 4 Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975 mengatur:

(20)

a. Setiap orang yang akan melangsungkan perkawinan, memberitahukan kehendaknya itu kepada pegawai pencatat di tempat perkawinan akan dilangsungkan.

b. Pemberitahuan tersebut dalam ayat 1 dilakukan sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum perkawinan dilangsungkan.

c. Pengecualian terhadap jangka waktu tersebut dalam ayat 2 (dua) disebabkan sesuatu alasan yang penting, diberikan oleh Camat atas nama Bupati Kepala Daerah.

d. Dan pasal 4 mengatur bahwa pemberitahuan dilakukan secara lisan atau tertulis oleh calon mempelai atau orang tua atau wakilnya kepada pegawai pencatat perkawinan.

2. Pengumuman

Setelah semua persyaratan terpenuhi, maka pegawai pencatat menyelenggarakan pengumuman yang ditempel di papan pengumuman kantor pencatat perkawinan. Ketentuan ini diatur dalam Pasal 8 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975.

3. Pelaksanaan

Setelah hari ke-10 (sepuluh) tidak ada yang mengajukan keberatan atas rencana perkawinan tersebut maka perkawinan dapat dilangsungkan oleh pegawai pencatat perkawinan. Khusus

(21)

yang beragama Islam pegawai pencatat perkawinan hanya sebagai pengawas saja.19

Disamping itu, perkawinan sah apabila dilaksanakan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu (Pasal 2 ayat 1 UU No.1 Tahun 1974), yang dimaksud dengan hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu termasuk ketentuan perundang-undangan yang berlaku bagi golongan agama dan kepercayaannya sepanjang tidak bertentangan atau tidak ditentukan lain oleh Undang-Undang itu. Jadi bagi orang Islam tidak ada kemungkinan untuk kawin dengan melanggar hukum agamanya sendiri. Demikian juga bagi orang Kristen dan bagi Hindu maupun Budha.

Adapun syarat-syarat perkawinan menurut UU No. 1 tahun 1974 adalah:

1. Adanya persetujuan kedua calon mempelai. Dengan adanya kesepakatan kedua belah pihak untuk melangsungkan perkawinan, tanpa adanya paksaan dari pihak manapun juga. Hal ini sesuai dengan hak asasi manusia atas perkawinan, dan sesuai dengan tujuan perkawinan, yaitu membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

19Wahyuni, Setyowati, Hukum Perdata I (Hukum Keluarga), Universitas 17 Agustus, Semarang, 1997, hlm. 39.

(22)

2. Bagi seorang yang belum mencapai usia 21 tahun, untuk melangsungkan perkawinan harus ada izin dari kedua orang tua. Menurut ketentuan Pasal 7 Undang-undang No. 1 Tahun 1974, perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun. Batas umur ini ditetapkan maksudnya untuk menjaga kesehatan suami-isteri dan keturunannya, yang berarti bahwa seorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin kedua orang tua, karena mereka dianggap belum dewasa.

3. Bila salah seorang dari kedua orang tua telah meninggal atau tak mampu menyatakan kehendaknya, maka izin dapat diperoleh dari orang tua yang masih hidup atau orang tua yang mampu menyatakan kehendaknya.

4. Bila kedua orang tuanya telah meninggal dunia atau tak mampu menyatakan kehendaknya, maka izin dapat diperoleh dari wali. 5. Bila ayat 2, 3, dan 4 Pasal 6 Undang-undang No. 1 Tahun 1974

ini tidak dapat dipenuhi, maka calon mempelai dapat mengajukan izin pada Pengadilan setempat.

6. Penyimpangan tentang Pasal 7 ayat 1 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 dapat minta dispensasi kepada Pengadilan.

(23)

4. Asas-asas Perkawinan 1. Asas kesukarelaan

2. Asas persetujuan kedua belah pihak 3. Asas memilih pasangan

4. Asas kemitraan suami isteri 5. Asas untuk selama-lamanya 6. Asas monogami terbuka

Asas kesukarelaan, yaitu harus adanya kesukarelaan antara kedua calon suami-isteri dan kedua orang tua kedua belah pihak. Kesukarelaan orang tua yang menjadi wali seorang wanita, merupakan sendi asasi perkawinan Islam.

Asas persetujuan kedua belah pihak, artinya tidak boleh ada paksaan dalam melangsungkan perkawinan. Persetujuan seorang gadis untuk dinikahkan dengan seorang pemuda, misalnya harus diminta lebih dahulu oleh wali atau orang tuanya. Menurut keterangan Rasul SAW, persetujuan itu dapat disimpulkan dari diamnya gadis tersebut.

Asas memilih pasangan, diriwayatkan dalam sunnah Rasul SAW. Diceritakan oleh Ibnu Abbas, bahwa pada suatu ketika seorang gadis bernama Jariyah menghadap Rasulullah, dan menyatakan bahwa ia telah dikawinkan oleh ayahnya dengan seorang yang ia tidak sukainya. Setelah mendengar pengakuan itu, Rasul menegaskan bahwa ia (Jahiriyah) dapat memilih untuk meneruskan perkawinan dengan orang yang tidak ia

(24)

sukainya, itu atau meminta supaya perkawinannya dibatalkan untuk dapat memilih pasangan dan kawin dengan orang lain yang disukainya.

Asas Kemitraan suami-isteri dengan tugas dan fungsi atau hak dan kewajiban yang berbeda, karena perbedaan kodrat (sifat asal atau bawaan), disebutkan dalam Al’quran Surat an-Nisa ayat (34). Kemitraan ini mnyebabkan kedudukan suami isteri dalam beberapa hal yang sama, dan dalam hal yang berbeda : suami menjadi kepala keluarga, isteri menjadi kepala dan penanggung jawab pengaturan rumah tangga.

Asas untuk selama-lamanya, artinya perkawinan dilaksanakan untuk membina kasih sayang selama hidupnya dan untuk mendapat keturunan. Asas ini pula, maka perkawinan mut’ah yakni perkawinan sementara untuk bersenang-senang selama waktu tertentu saja, seperti yang terdapat dalam masyarakat Arab jahiliyah dahulu dan beberapa waktu setelah Islam, dilarang oleh Nabi Muhammad SAW.20

Asas Monogami terbuka, dalam Pasal 3 ayat (1) Undang-undang No. 1 Tahun 1974, dinyatakan bahwa pada asasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang isteri, seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami. Dengan demikian Undang-undang No. 1 Tahun 1974 menganut asas perkawinan yang monogami. Dalam waktu yang sama seorang lelaki hanya boleh mempunyai satu orang perempuan sebagai isterinya, seorang perempuan hanya boleh mempunyai satu orang lelaki sebagai suaminya. Pasal 3 ayat (2) Undang-undang No. 1 Tahun

20Mohamad Daud Ali, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1998, hlm. 126-127.

(25)

1974 menyatakan bahwa :Pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila dikendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan.

Dengan adanya Pasal ini maka berarti Undang-undang No. 1 Tahun 1974 menganut asas monogami terbuka, oleh karena tidak tertutup kemungkinan dalam keadaan terpaksa suami melakukan poligami yang sifatnya tertutup atau poligami yang sifatnya tidak begitu saja dapat dibuka tanpa pengawasan hakim. Menurut Hazairin : Pasal 3 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 ini, merupakan contoh pembaharuan tafsir bagi umat Islam di Indonesia, dimana peraturan Perundang-undangan yang setingkat derajatnya ditetapkan, kemudian menghapuskan ketentuan-ketentuan yang berlawanan dalam Perundang-undangan sederajat mendahuluinya.

Dalam hal seorang suami akan beristeri lebih dari seorang maka ia wajib mengajukan permohonan kepada Pengadilan di daerah tempat tinggalnya. Pengadilan dimaksud hanya memberi izin kepada seorang suami yang beristeri lebih dari seorang apabila beralasan sebagai berikut : a. Isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri.

b. Isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan.

c. Isteri tidak dapat melahirkan keturunan.

Jadi seorang suami yang mempunyai isteri masih hidup tetapi ternyata tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri, misalnya tidak dapat mendampingi dan melayani suami dengan baik, mengatur rumah

(26)

tangga dengan baik, mengurus dan mendidik anaknya dengan baik, termasuk tidak menjaga kehormatan dirinya dari maksiat (suka berzina, pemabuk, penjudi, dll). Begitu pula jika isteri jika isteri cacat badannya, misalnya lumpuh tidak berdaya, lemah syaraf, atau berpenyakit yang sulit disembuhkan, seperti hilang akal, gila, batuk kering (TBC) menahun, lepra, dll. Apalagi jika isteri tidak dapat membuahkan keturunan anak. Dengan alasan-alasan demikian suami dapat beristeri lebih dari seorang wanita, dengan mengajukan permohonan tertulis kepada Pengadilan.

B. Akibat HukumYang timbul Dari Adanya Perkawinan 1. Hak dan Kewajiban Suami Isteri

Suami-isteri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakan rumah tangga, yang menjadi dasar dari sususnan masyarakat. Hak dan kedudukan isteri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat. Pasal 31 ayat (2) Undang-undang No. 1 Tahun 1974 menyatakan bahwa : Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum. Suami adalah kepala keluarga dan isteri adalah rumah tangga. Suami isteri wajib saling mencintai, menghormati, setia dan memberi bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain. Suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya. Isteri wajib mengatur urusan rumah tangga

(27)

sebaik-baiknya. Pasal 34 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 menyatakan bahwa : Jika suami atau isteri melalaikan kewajibannya masing-masing dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan.

Menurut hukum Islam suami dan isteri dalam membina keluarga/rumah tangga harus bergaul dengan cara yang baik (ma’ruf). Sebagaimana Allah SWT berfirman : ”Dan bergaulah dengan mereka para isteri dengan cara yang baik”. Kemudian dalam hadist Tarmizi, Rasulullah SAW bersabda :”Orang mukmin yang lebih sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya, dan sebaik-baiknya kamu adalah yang sangat baik kepada isteri”. Berdasarkan Al’quran dan hadist itu, maka kewajiban utama suami dalam membina keluarga/rumah tangga adalah berbuat sebaik mungkin kepada isteri. Pengertian berbuat yang ma’ruf , ialah saling cinta mencintai dan hormat menghormati, saling setia dan saling bantu membantu antara yang satu dengan yang lain.

Selanjutnya dikatakan pula dalam Al’quran bahwa pria (suami) adalah pemimpin dari wanita (Q. IV: 4) dan wanita (isteri) itu mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut yang ma’ruf, tetapi suami mempunyai satu tingkat kelebihan dari isterinya (Q. II : 228). Dengan demikian menurut hukum Islam tidak semua hal kedudukan suami dan isteri seimbang, harus dilihat pada fungsi dan peranannya. Kedudukan suami adalah lebih setingkat dari isteri, karena suami dibebani tugas sebagai pemimpin (qawammun) dari keluarga/rumah tangga, sedangkan wanita (isteri) tidak sejauh itu. Suami adalah kepala keluarga/rumah

(28)

tangga yang bertanggung jawab atas kesejahteraan keluarga/rumah tangga, suami adalah pelindung bagi keluarga/ rumah tangga bukan saja dalam arti kebendaan, tetapi juga berupa tenaga, dan suami adalah pejaga kehormatan keluarga/rumah tangga. Sedangkan isteri karena fitrah kewanitaanya, maka ia berkewajiban mengatur urusan keluarga/rumah tangga dalam kehidupan masyarakat, dan isteri adalah pendamping dan pembantu suami, sejauh kemampuan fisik yang ada padanya. Namun dalam hal lainnya kedudukan suami dan kedudukan isteri adalah seimbang.

Satu hal yang tidak diatur dalam Undang-undang No. 1 Tahun 1974, didalam hukum Islam merupakan hal yang penting, yaitu suami dan isteri wajib saling menjaga kehormatan diri, keluarga/rumah tangga dan menyimpan rahasia rumah tangga. Sebagaimana dalam Al-Qur’an dikatakan, bahwa wanita yang saleh adalah yang taat kepada Allah dan memelihara diri dibalik pembelakangan suaminya, oleh karena Allah telah memelihara mereka. Maksud dari ayat Al-Qur’an tersebut ialah, agar isteri tidak berbuat curang (menyeleweng) serta memelihara kehormatannya dan harta suaminya (termasuk dirinya), sedangkan suami berkewajiban mempergauli isterinya dengan sebaik-baiknya. Kemudian sebagaimana hadist riwayat Ahmad dan Muslim menyatakan, bahwa Nabi Muhammad SAW berkata :”Manusia yang sangat buruk disisi Allah pada hari kiamat, ialah pria (suami) yang bercampur dengan dia, dan isteri bercampur dengan dia, kemudian menyiarkan rahasia isteri dan suami itu. Jadi

(29)

menurut ajaran Islam dilarang keras membeberkan keluar rahasia keluarga/rumah tangga, apalagi rahasia ditempat tidur.

2. Harta Perkawinan

Menurut Pasal 92 kompilasi Hukum Islam, bahwa : suami atau isteri tanpa persetujuan pihak lain tidak diperbolehkan menjual atau memindahkan harta bersama. Harta bersama dari perkawinan seorang suami yang mempunyai isteri lebih dari seorang, masing-masing terpisah dan berdiri sendiri. Pasal 94 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam menyatakan bahwa : Kepemilikan harta bersama dari perkawinan seorang suami yang mempunyai isteri lebih dari seorang, dihitung pada saat berlangsungnya akad perkawinan yang kedua, ketiga, atau yang keempat.

Bahwa ada kemungkinan dalam suatu perkawinan akan ada harta bawaan dari isteri yang terpisah dari harta suami, dan masing-masing suami dan isteri menguasai dan memiliki hartanya sendiri-sendiri. Sedangkan harta bersama atau harta pencarian milik bersama suami isteri tidak ada, dan harta bawaan suami isteri itu kemudian bertambah dengan mas kawin yang diterimanya dari suaminya ketika berlangsungnya perkawinan, atau masih merupakan hutang jika belum dipenuhi suami ketika perkawinan itu.

Selanjutnya suami tidak boleh memakai hak milik isteri tanpa persetujuan si isteri. Apabila harta isteri digunakan oleh suami, walaupun untuk kebutuhan sehari-hari pada dasrnya merupakan hutang suami kepad

(30)

isteri yang harus dikembalikan. Kewajiban suami adalah memberi nafkah lahir batin kepada isteri dan membahagiakan isteri serta tidak menyusahkan isteri, dan bukan sebaliknya. Suami isteri harus saling membantu dalam membangun keluarga/rumah tangganya, dan segala sesuatunya dilakukan dengan baik dan musyawarah antar satu sama lain.

Sebagaimana Firman Allah SWT :

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.(QS.Asy-syuura : 38)

Dengan demikian berdasarkan ayat tersebut, maka walaupun urusan rumah tangga adalah kewajiban semata-mata suami, tentunya dalam keadaan sulit didalam kehidupan sehari-hari seperti, untuk sandang, pangan, dan pendidikan anak, hendaknya diatasi bersama dengan musyawarah mufakat dengan isteri dan anggota keluarga. Isteri yang baik, iman dan taqwanya kepada Allah SWT, tidak akan keberatan harta miliknya digunakan untuk kebutuhan bersama, hanya suami harus tetap menyadari bahwa urusan rumah tangga itu adalah tanggung jawabnya dan bukan tanggung jawab isterinya.

Menurut Pasal 35 ayat (1) Undang-undang No. 1 tahun 1974, bahwa harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama. Dalam Pasal 35 ayat (2) dinyatakan :”Adapun harta bawaan dari suami-isteri masing-masing baik sebagai hadiah atau warisan berada dibawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menetukan lain. Mengenai harta bersama, suami atau isteri dapat bertindak atas persetujuan

(31)

kedua belah pihak. Dalam Pasal 36 ayat (2) dinyatakan bahwa : Mengenai harta bawaan masing-masing, suami dan isteri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbutan hukum mengenai harta bendanya. Bila perkawinan putus karena perceraian harta bersama diatur menurut hukumnya masing, yang dimaksud denagn hukumnya masing-masing adalah hukum agama, hukum adat atau hukum lainnya.

Dengan demikian Undang-undang No. 1 Tahun 1974 lebih mendekati hukum adat dan hukum agama dan menjauhi hukum Perdata Eropa yang jauh dari hukum Indonesia.21 Hal mana tidak berarti, bahwa hukum perkawinan nasional kita telah menerima hukum adat yang menyangkut harta perkawinan. Mungkin sesuai bagi keluarga/rumah tangga yang bersifat parental, tetapi tidak sesuai dengan keluarga/ rumah tangga yang bersifat patrilineal. Oleh karena di dalam Undang-undang dipakai kaidah “sepanjang para pihak tidak menentukan lain” atau kaidah “diatur menurut hukumnya masing-masing”.

3. Kedudukan Anak

Di dalam hukum agama Islam tidak ada ketentuan khusus yang mengatur tentang kedudukan anak dalam ikatan perkawinan. Namun dari tujuan perkawinan dalam Islam adalah, untuk memenuhi perintah Allah agar memperoleh keturunan yang sah, maka yang dikatakan anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dari akad nikah yang sah. Islam menghendaki

21Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia, CV. Mandar Maju, Bandung, 1990, hlm. 123.

(32)

terpeliharanya keturunan dengan baik, dan setiap anak harus kenal siapa bapak dan ibunya. Ketika anak-anak masih kecil ia dijaga dan dipelihara oleh ayah dan ibunya, dan setelah ia dewasa dimana orang tuanya sudah lemah dan tidak mampu lagi, maka dengan kemampuannya ia wajib mengurus dan memelihara orang tuanya.

Setiap anak yang belum dewasa atau juga sudah baligh tetapi keadaan hidupnya miskin tidak mempunyai harta, berhak untuk mendapatkan nafkah dari orang tuanya yang mampu. Menurut Imam Hanafi, anak yang belum dewasa dan masih menuntut ilmu pengetahuan, wajib mendapatkan nafkah dari ibunya. Anak wanita walupun sudah dewasa tetapi belum kawin dan tidak mampu, berhak mendapatkan nafkah dari orang tuanya yang mampu. Begitu pula sebaliknya, anak-anak yang sudah dewasa dan mampu wajib memberi nafkah kepada ayah ibunya yang tidak mampu.

Menurut Imam syafi’i, Imam Hanfi dan Imam Maliki kewajiban anak terhadap ayah dan ibu tidak saja terbatas pada beragama Islam, tetapi juga bagi ayah dan ibu yang tidak beragama Islam. Anak berkewajiban mencarikan Isteri bagi ayahnya, jika ibunya sudah tiada, sedangkan ia wajib memberi nafkah hidup ibu tirinya, dan begitu juga jika dikehendaki apabila ayah sudah tidak ada, anak mencarikan suami bagi ibunya dan ikut memberi nafkah kepada bapak tirinya yang baru itu.

Menurut Pasal 42 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974, bahwa anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah. Dalam Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang No. 1

(33)

Tahun 1974 dinyatakan, bahwa anak yang dilahirkan diluar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya. Pasal 44 ayat (1) menyatakan, bahwa seorang suami dapat menyangkal sahnya anak yang dilahirkan oleh isterinya, bila mana ia dapat membuktikan bahwa isterinya berzina dan anak itu akibat dari perzinahan tersebut. Kemudian pada Pasal 44 ayat (2) menyatakan, bahwa Pengadilan memberikan keputusan tentang sah atau tidaknya anak, atas permintaan pihak yang berkepentingan. Jadi kalau seorang wanita yang telah mengandung karena berbuat zina dengan orang lain, kemudian ia kawin sah dengan pria yang bukan pemberi benih kandungan wanita itu, maka jika anak itu lahir, anak itu adalah anak sah dari perkawinan wanita itu dengan pria itu.

Anak yang lahir di luar perkawinan, misalnya seorang wanita yang mengandung kemudian melahirkan anak, tanpa diketahui siapa bapak si anak, maka anak itu hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibu yang melahirkan dan atau keluarga ibunya saja, dan tidak ada hubungan perdata dengan bapak biologisnya. Berdasarkan Pasal 287 KUHPerdata, menyelidiki soal siapkah bapak seorang anak adalah terlarang. Sedangkan dalam Pasal 288 KUHPerdata, menyelidiki soal siapakah ibu seorang anak luar kawin adalah diperbolehkan. Kemudian tentang kedudukan anak berdasarkan Undang-undang No. 1 Tahun 1974, hanya mengatur tentang kedudukan anak sah dan tidak sah dan tidak membicarakan kedudukan anak lainnya.

(34)

4. Perwalian

Perwalian dalam Undang-undang No. 1 Tahun 1974 diatur pada Pasal 50 s/d Pasal 54, yang mempunyai ikatan erat dengan Pasal 48 dan Pasal 49 yang mengatur tentang kekuasaan orang tua dan pembatasannya. Pada Pasal 49 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 ditentukan, bahwa kekuasaan salah seorang dari orang tua dapat dicabut dengan keputusan Pengadilan, atas permintaan orang tua yang lain. Dari ketentuan Pasal 49 ini dapat ditafsirkan, bahwa menurut Undang-undang No. 1 Tahun 1974, kekuasan orang tua terhadap anak dapat dijalankan hanya oleh seorang dari kedua orang tua si anak.

Perwalian hanyalah ada bilamana terhadap seorang ataupun beberapa orang anak tidak berada dibawah kekuasaan orang tuanya sama sekali. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 50 Ayat (1) Undang-undang No. 1 Tahun 1974 yang menyatakan : Anak yang belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun belum pernah melangsungkan perkawinan, yang tidak berada di bawah kekuasaan orang tua, berada di bawah kekuasan wali.

Dengan demikian, maka putusnya perkawinan antara kedua orang tua, meninggalnya salah seorang dari kedua orang tua, tidak dengan sendirinya mengakibatkan anak berada dibawah kekuasaan wali. Kecuali apabila dalam putusnya perkawinan, kedua orang tua telah menyerahkan anaknya dibawah kekuasaan wali, atau kedua orang tua meninggal dunia atau kedua orang tua dicabut kekuasaanya terhadap anaknya, maka dengan sendirinya

(35)

anak berada dibawah kekuasaan wali. Perwalian itu tidak hanya mengenai diri pribadi anak yang bersangkutan, tetapi juga mengenai harta bendanya.

Pasal 51 dan 54 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 menyatakan : Pasal 51

Ayat (1) :

Wali dapat ditunjuk oleh satu orang tua yang menjalankan kekuasaan orang tua, sebelum ia meninggal, dengan surat wasiat atau dengan lisan di hadapan 2 (dua) orang saksi.

Ayat (2) :

Wali sedapat-dapatnya diambil dari keluarga anak tersebut atau orang lain yang sudah dewasa berpikiran sehat, adil, jujur dan berkelakuan baik.

Ayat (3) :

Wali wajib mengurus anak yang dibawah penguasaannya dan harta bendanya sebaik-baiknya dengan menghormati agama dan kepercayaan anak itu.

Ayat (4) :

Wali wajib membuat daftar harta benda anak yang berada di bawah kekuasaannya pada waktu memulai jabatannya dan mencatat semua perubahan-perubahan harta benda anak atau anak-anak itu.

Wali bertanggung jawab tentang harta benda anak yang berada di bawah perwaliaannya serta kerugian yang ditimbulkan karena kesalahan atau kelalainnya.

Pasal 54

Wali yang telah menyebabkan kerugian kepada harta benda anak yang di bawah kekuasaanya, atas tuntutan anak atau keluarga anak tersebut dengan keputusan Pengadilan, yang bersangkutan dapat diwajibkan untuk mengganti kerugian tersebut.

Dalam Pasal 53 jo. Pasal 49 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 menjelaskan, seperti halnya kekuasaan orang tua terhadap anaknya dapat

(36)

dicabut dengan putusan Pengadilan, maka kekuasaan wali terhadap anak di bawah perwaliannya juga dapat di cabut dengan putusan Pengadilan, baik atas permintaan orang tuanya (kalau masih hidup) maupun keluarga dalam garis lurus ke atas dan saudara kandung yang telah dewasa atau pejabat yang berwenang, karena kelalaian kewajibannya sebagai wali atau berkelakuan buruk sekali.

Apabila seorang wali dicabut kekuasaannya sebagai wali, maka Pengadilan menunjuk orang lain sebagai penggantinya. Orang tua yang dicabut kekuasaan terhadap anaknya, membawa akibat yang berbeda dengan wali yang telah dicabut kekuasaanya sebagai wali. Wali tidak lagi bertanggung jawab terhadap pemeliharaan dan pendidikan anak yang berada di bawah kekuasaannya. Selain berakhirnya perwalian karena dicabut oleh Pengadilan, juga karena anak telah dewasa (berumur 18 tahun) atau sudah menikah.

C. Tinjauan Umum Tentang Kawin siri 1. Pengertian Kawin siri

Kata ”siri” menurut Aberan, khususnya dalam asas-asas perkawinan menutut Islam22: Dari segi etimologi berasal dari bahasa Arab sirra, israr yang secara harfiah mengandung arti rahasia.

Kawin siri menurut artinya adalah nikah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau rahasia. Adapun nikah siri dalam kitab-kitab

22Aberan, Asas-asas Perkawinan Menurut Islam, Dalam Jurnal Kanun No.38 Tahun XIV April 2004, FH. Universitas Kuala, Banda Aceh, 2004, hlm.215.

(37)

fiqih tidak dikenal istilah nikah siri. Istilah ini lebih popular secara lokal dalam fiqih perkawinan di Indonesia. Nikah siri dalam konteks masyarakat di Indonesia sering dimaksudkan dalam dua pengertian yaitu :

1. Perkawinan yang dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi, tanpa mengundang orang luar selain dari kedua keluarga mempelai, kemudian tidak mendaftarkan perkawinannya kepada Kantor Urusan Agama (KUA) bagi orang muslim dan Kantor Catatan Sipil bagi non-muslim, sehingga perkawinan mereka tidak mempunyai legalitas formal dalam hukum positif di Indonesia sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Perkawinan yang dilakukannya tersebut selama rukun dan syaratnya terpenuhi sesuai Hukum agama maka perkawinannya adalah sah dan isteri serta hasil keturunannya berhak atas warisan jika suaminya meninggal dunia, namun perkawinannya tidak mempunyai kekuatan hukum di mata negara atau standy in judicio.

Perkawinan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi oleh sepasang pria dan wanita, tanpa diketahui oleh kedua pihak keluarganya sekalipun, bahkan benar-benar dirahasiakan sampai tidak diketahui siapa yang menjadi wali dan saksinya atau hanya karena ingin memuaskan nafsu syahwat belaka tanpa mengindahkan lagi ketentuan-ketentuan syariat. Pernikahan seperti ini tidak sah secara agama dan apalagi secara hukum negara. Pernikahannya yang dilakukannya tersebut berakibat batal demi

(38)

hukum, karena pernikahannya tidak sah menurut agama dan hukum negara. Sehingga perkawinannya dianggap tidak pernah terjadi.

Dengan demikian dalam proses kawin siri yang dilaksanakan adalah rukun atau wajib nikahnya saja, sedangkan sunah nikah tidak dilaksanakan, khususnya mengenai pengumuman perkawinan atau yang disebut waliyah/perayaan. Dengan demikian orang yang mengetahui pernikahan tersebut juga terbatas pada kalangan tertentu saja.

Perkawinan ini biasanya terungkap ketika banyak orang mempertanyakan, ada pasangan berlainan jenis sudah hidup bersama dalam satu keluarga. Belakangan baru diketahui bahwa pasangan bersangkutan menikah, dan di nikahkan oleh Kiyai atau Ulama atau orang yang dipandang telah mengetahui hukum-hukum munakahat (pernikahan).

2. Pandangan Tokoh Agama dan Pakar Hukum Indonesia Tentang Kawin Siri

Menurut Dadang Hawari, riwayat pernikahan siri zaman dahulu berbeda dengan zaman sekarang, dahulu belum ada negara dan belum ada administrasi yang mengaturnya. Namun kini, segala urusan termasuk pernikahan sudah diatur dan harus tercatat secara resmi. Di samping itu, bukan hanya untuk kepentingan negara melainkan juga demi menjaga kehormatan wanita.23

(39)

Menurutnya, telah terjadi upaya mengakali pernikahan dari sebuah prosesi agung menjadi sekedar ajang untuk memuaskan hawa nafsu manusia. Ia menilai, pernikahan siri saat ini banyak dilakukan sebagai upaya legalisasi perselingkuhan, atau menikah lagi untuk yang kedua kali atau lebih. Selanjutnya menurut Dadang Hawari, perkawinan orang Indonesia yang beragama Islam sudah diatur dalam Undang-undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974, yang di dalamnya bukan hanya mengatur aturan negara tapi juga mencakup syariat Islam. Dalam undang-undang tersebut dinyatakan, bahwa perkawinan tersebut harus tercatat sesuai Perundang-undangan yang berlaku, atau bagi umat Islam tercatat kantor urusan agama (KUA), sehingga resmi tercatat dan mendapatkan surat nikah. Karena itu, dengan tegas Dadang menyatakan, bahwa pernikahan apapun selain yang tercatat secara resmi di negara hukumnya tidak sah.

Dalam Pasal 3 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 dinyatakan, bahwa seorang pria hanya boleh memiliki satu istri dan demikian sebaliknya. Kalaupun pria tersebut hendak menikah lagi untuk yang kesekian kalinya, dalam Pasal 4 diatur, bahwa ada syarat bagi si pria untuk melakukannya, syarat tersebut antara lain harus mendapatkan izin pengadilan setempat, kemudian si istri tidak dapat melahirkan keturunan, tidak bisa melakukan kewajiban sebagai seorang istri, serta memiliki cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Kalaupun kemudian semua syarat itu terpenuhi, dalam Pasal 5 juga diatur bahwa pernikahan tersebut juga harus mendapat izin sang istri. Selain itu, ada kepastian bahwa suami mampu

(40)

menjamin kebutuhan istri dan anak mereka, serta suami bisa berlaku adil kepada istri dan anak-anak mereka. Persyaratan inilah yang harus dipenuhi oleh pria-pria yang akan menikah lagi. Namun karena dirasa sulit dan merepotkan, banyak pria yang demi untuk menikah lagi, pada akhirnya membuat keterangan palsu atau menikah kucing-kucingan. Inilah yang menurut Dadang Hawari menjadi alasan haramnya nikah siri.

Beliau juga menilai fenomena nikah siri yang kini terjadi di masyarakat Indonesia sudah disalahgunakan,”Sekarang ini nawaitu-nya (niat) sudah benar-benar salah. Mereka yang menikah untuk yang kedua, dan seterusnya sebagian besar menikah dengan alasan hawa nafsunya”.

Menurut KH. Ma’aruf, kawin siri atau kawin dibawah tangan adalah pernikahan yang terpenuhi semua rukun dan syarat yang ditetapkan dalam fiqh (hukum Islam). Namun, nikah ini tanpa pencatatan resmi di instansi berwenang sebagaimana diatur dalam Perundang-undangan. Kalau nikah siri itu, mungkin hanya nikah berdua saja, tanpa ada saksi dan sebagainya. Kalau pengertian siri itu dianggap hanya berdua saja, tidak pakai syarat dan rukun nikah lainnya, bisa dipastikan pernikahan semacam ini tidak sah, “tandasnya”24. Kepala Madrasah Ushul Fiqh Progresif Wahid Institute Abdul Moqsith Ghazali juga menyatakan : bahwa pernikahan siri dipandang dari agama Islam, pada hakikatnya pernikahannya sah secara

(41)

syari’at. Hanya tidak ada surat-surat resmi yang akan memperkuat ikatan pernikahan, karena tidak dilaporkan ke KUA.25

Adapun pendapat dari Ustadz H. Oman menyatakan :

Pada prinsipnya, selama pernikahan sirri itu memenuhi rukun dan syarat perkawinan, maka dapat dipastikan hukum perkawinan itu pada dasarnya sudah sah, tapi bertentangan dengan perintah Nabi SAW, yang menganjurkan agar perkawinan itu terbuka dan diumumkan kepada orang lain agar tidak menjadi fitnah dan tuduhan buruk dari masyarakat.

Mahfud MD menyatakan bahwa : perkawinan siri tidak melanggar konstitusi, karena dijalankan berdasarkan akidah agama yang dilindungi undang-undang 1945. Namun menurut beliau, dalam konteks Indonesia saat ini, pernikahan siri itu harus dilarang oleh Undang-undang (UU). Hal ini penting sebagai wujud perlindungan akibat buruk pada korban-korbannya yaitu anak dan isterinya. Karena menurutnya, banyak orang yang melakukan nikah siri saat ini hanya sebagai pelampiasan nafsu seksual belaka.26 Sedangkan menurut Jimmly Asshidiqqie, yang menyatakan : ”bahwa Nikah siri merupakan perzinahan terselebung memang benar adanya, sebagi contoh kasus Mayangsari, demi menghindari zinah akhirnya melakukan nikah siri,” tuturnya.27

Menurut Afdi Chandra, bahwa nikah siri jelas merugikan kedua belah pihak, ini jika dipandang dari hukum negara. Sepanjang pernikahan tidak tertulis di catatan sipil atau KUA, artinya pernikahan itu tidak sah secara hukum. Artinya lagi, pernikahan kedua belah pihak dianggap tidak pernah

25hizbut-tahrir.or.id 26www.detik.com 27Vivanews.com

(42)

terjadi. Ini kalau ditilik dari sisi standy in judicio atau kedudukan hukumnya. “Hak-haknya menjadi tidak jelas, karena negara belum mengakui pernikahan tersebut, bahkan sampai soal warisan,” sebut Chandra.28

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Sebagai warga masy, berilah contoh contoh (2-3) ketidakpuasan dalam pelayanan publik di tempat anda.. Uraikan kenapa

Berdasarkan tabel 6.didapatkan data bahwa rata-rata nyeri haid sesudah dilakukan kompres panas secara berturut- turut adalah 1,27 dengan nilai terendah 1 dan tertinggi 2.

2004 – 2006, sama halnya dengan penelitian yang dilakukan Friska Sihite (2012), DAU berpengaruh positif terhadap Pertumbuhan Ekonomi yang dilakukan pada Kab/Kota di Provinsi

Hal-hal pokok yang dilakukan dalam analisis data ini yaitu : cross plot antara Density vs Gamma ray dari data sumur, hal ini untuk mengetahui karakteristik data dan

Berdasarkan analisis data, peneliti dapat menyimpulkan bahwa struktur gerak tari di bagi menjadi empat bagian, yaitu motif, frase, kalimat gerak atau ragam gerak, dan gugus hingga

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir Skripsi ini dengan judul “PELAKSANAAN

Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa interaksi pemberian Pupuk Kandang Kotoran Ayam dan Pupuk NPK Mutiara Yaramila berpengaruh sangat nyata terhadap

Perkembangan industri di Indonesia sudah berkembang dengan pesat, hal ini ditandai dengan banyaknya tamu asing yang datang ke Indonesia untuk melakukan kunjungan