• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI DAN PEMODELAN AIR TANAH DI PESISIR KOTA BANDAR LAMPUNG PROVINSI LAMPUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STUDI DAN PEMODELAN AIR TANAH DI PESISIR KOTA BANDAR LAMPUNG PROVINSI LAMPUNG"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI DAN PEMODELAN AIR TANAH

DI PESISIR KOTA BANDAR LAMPUNG PROVINSI LAMPUNG

Eva Rolia

1

, Ahmad Zakaria

2

dan Idharmahadi

3

Mahasiswa Program Pasca Sarjana Magister Teknik Sipil Universitas Lampung, Jl. Prof.Dr. Sumantri Brojonegoro 1 Lampung. Email: [email protected]

Program Pasca Sarjana Magister Teknik Sipil Universitas Lampung, Jl. Prof.Dr. Sumantri Brojonegoro 1 Lampung. Email: [email protected]

Program Pasca Sarjana Magister Teknik Sipil Universitas Lampung, Jl. Prof.Dr. Sumantri Brojonegoro 1 Lampung.

ABSTRAK

Meningkatnya kegiatan yang ada di kawasan pesisir Kota Bandar Lampung berpengaruh terhadap penggunaan air tanah. Untuk memenuhi kebutuhan akan air, maka dilakukan pemompaan yang berakibat terjadinya penurunan muka air tanah, berkurangnya cadangan air tanah, perubahan arah aliran air tanah, penurunan daya dukung tanah, kekeringan, dan intrusi air laut. Penelitian di daerah Kecamatan Panjang dan Teluk Betung Selatan ini dilakukan dengan menggunakan alat Geolistrik yang merupakan metode penyelidikan air tanah. Dan dalam penelitian ini juga dilakukan uji salinitas air dengan menggunakan alat refractometer. Tujuan penelitian adalah untuk mencari letak dan kedalaman akuifer air tanah, serta jenis akuifer dengan menggunakan metode geolistrik, dan pemodelan air tanah dengan menggunakan software Rock Work 2004 yang dapat menggambarkan kondisi perlapisan batuan dan pola pergerakan air tanah. Pengukuran geolistrik dilakukan di 11 titik, pengukuran muka air tanah di 12 titik, dan pengujian kadar garam air dengan 21 sampel air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis lapisan batuan yang terdapat pada daerah penelitian antara lain adalah, lempung, lempung berpasir, pasir berlempung, pasir, dan batu gamping. Jenis perlapisan batuan tersebut didapatkan dari hasil pemodelan dan validasi dengan hasil pengeboran tanah di daerah tersebut. Dari hasil penelitian ini juga didapat bahwa akuifer air tanah berada pada kedalaman 3,26 meter hingga 47,4 meter dari muka tanah. Jenis akuifer yang terdapat pada daerah penelitian adalah akuifer bebas, akuifer semi tertekan dan akuifer tertekan. Sedangkan dari uji salinitas didapatkan bahwa pada daerah Way lunik dan Ketapang sudah terjadi intrusi air laut. Kata Kunci: pemodelan, akuifer, air tanah

1. PENDAHULUAN Latar belakang

Provinsi Lampung memiliki pantai sepanjang ± 720 km, meliputi pantai sebelah Timur yang menghadap ke Laut Jawa sepanjang ± 300 km, pantai sebelah Selatan yang menghadap ke Teluk Lampung dan Teluk Semangka masing-masing sepanjang ± 130 km dan ±140 km, serta pantai sebelah Barat yang menghadap ke Samudera Indonesia sepanjang ± 150 km. Melihat beragamnya kegiatan yang berkembang di kawasan pantai, dengan berbagai aktivitas seperti pelabuhan, pemukiman, industri, pariwisata, perkebunan, perikanan/pertambakan, pertanian, dan lain sebagainya, pengembangan yang dilakukan dengan tidak/kurang memperhatikan aspek konservasi lingkungan menimbulkan terjadinya proses perubahan fisik dan biologi yang terjadi di kawasan pantai. Erosi dan abrasi pantai, sedimentasi dan pendangkalan, penyumbatan muara, intrusi air asin, kerusakan habitat mangrove, terumbu karang dan padang lamun, tsunami, dan sebagainya yang tidak seimbang dan akan mengakibatkan bencana di sepanjang pantai.

Berkaitan dengan hal tersebut, pengelolaan air tanah secara bijaksana perlu dilakukan secara lebih dini untuk memelihara potensi ketersediaan air tanah dan pencegahan terjadinya intrusi air laut. Dengan demikian pemanfaatan air tanah dapat terus berlanjut hingga generasi mendatang. Oleh karena itu, perlu kiranya diketahui kondisi potensi air tanah dan usaha konservasi daerah resapan cekungan air tanah daerah pesisir Kota Bandar Lampung. Hal ini penting dilakukan mengacu pada rencana pengembangan daerah untuk masa-masa yang akan datang dan pengelolaan yang efektif dalam pemanfaatan air tanah sebagai sumber air bersih. Untuk pemanfaatan air tanah secara optimal, perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang potensi air tanah di pesisir Kota Bandar Lampung dengan menggunakan alat Geolistrik dan pemodelan dengan menggunakan software Rockwork 2004.

(2)

Maksud dan tujuan penelitian

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi air tanah dengan menggunakan alat Geolistrik, dan pemodelan dengan menggunakan software Rockwork 2004 di daerah Pesisir Kota Bandar Lampung.

Tujuan penelitian adalah :

a. Mengetahui distribusi resistivitas batuan untuk mencari letak dan kedalaman akuifer air tanah. b. Mengetahui karakteristik akuifer pada daerah penelitian.

c. Pemodelan air tanah dengan menggunakan software Rockwork 2004 untuk memberikan gambaran kondisi perlapisan batuan di daerah pesisir Kota Bandar Lampung dan keberadaan akuifer air tanah serta deteksi terjadinya intrusi air laut.

2. TINJAUAN PUSTAKA Pendugaan geolistrik

Geolistrik merupakan salah satu metode geofisika yang mempelajari sifat aliran listrik di dalam bumi dan untuk mengetahui perubahan tahanan jenis lapisan batuan di bawah permukaan tanah dengan cara mengalirkan arus listrik DC (direct current) yang mempunyai tegangan tinggi ke dalam tanah. Metode ini lebih efektif jika digunakan untuk eksplorasi yang sifatnya dangkal, contohnya penentuan kedalaman batuan dasar, pencarian reservoir air, dan juga digunakan dalam eksplorasi geothermal (http://www.geocis.net).

Berdasarkan letak (konfigurasi) elektroda-elektroda potensial dan elektroda-elektroda arus, dikenal beberapa jenis metode resistivitas tahanan jenis, antara lain:

1. Metode Schlumberger 2. Metode Wenner

3. Metode Dipole Sounding

Tabel 1. Konstanta Schlumberger

Elektroda

Besi (1/2 L) 0,5 m 2,5 m 5 m Jarak Elektroda Tembaga (1/2 a) 10 m 25 m 50 m 75 m 100 m 200 m

1,5 m 6,25 2,0 m 11,8 2,5 m 18,8 4,0 m 49,5 5,0 m 77,70 11,80 6,0 m 112,3 18,70 8,0 m 200,3 38,30 10 m 313,3 58,90 23,50 12 m 451,8 86,50 37,40 15 m 706,1 137 62,80 20 m 1260 247 117,8 47,10 25 m 1960 389 188,5 82,30 30 m 2830 562 274,9 126 40 m 5020 1001 494,8 236 50 m 7850 1567 777,5 376 118 60 m 11300 2258 1123 550 187 75 m 17800 3330 1759 867,9 314 100 m 31420 6279 3144 1555 586 235 125 m 9814 4901 2438 920 412 150 m 14130 7060 3518 1370 628 524 175 m 9819 4800 1890 878 720 471 200 m 12560 6267 2480 1180 1191 825 250 m 9800 3900 1880 1767 257 300 m 14121 5610 2760 2448 1780 350 m 7640 3800 3233 2360 400 m 10000 4970 4123 3050 450 m 12700 6230 5118 3760 1649 500 m 15300 7810 6218 4560 2062

(3)

550 m 19000 9100 7422 5500 2510 600 m 22000 11300 8731 6500 3000 650 m 26000 15400 10140 7500 3530 700 m 30800 20000 13290 9890 4700 800 m 25400 16850 12560 6040 900 m 31300 20830 15540 7540 1000 m Sumber: Todd, 1980

Tabel 2. Variasi Harga Tahanan Jenis Dari Beberapa Jenis Batuan Sedimen

Jenis Batuan Nilai Tahanan Jenis (Ωm)

Lempung 3-30 Lempung Berdebu 5 – 40 Pasir Berlempung 5 – 50 Lempung Berpasir 30 - 100 Lempung Shale 50 – 200 Pasir, Gravel 102 – 5.103

Gips, Batu Gamping 102 – 5.103

Batuan Kristalin 2.102 – 105

Batu Bergaram, Anhydrate 2.103 <

Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya harga tahanan jenis adalah: 1. Jenis Material

Besarnya tahanan jenis tergantung pada daya hantar listrik setiap material. Semakin mudah material menghantarkan arus listrik, maka tahanan jenisnya semakin kecil.

2. Kandungan Air Dalam Batuan

Semakin banyak kandungan air dalam batuan, maka tahanan jenisnya semakin kecil, karena air merupakan media penghantar arus listrik.

3. Porositas Batuan

Semakin besar porositas batuan, berarti semakin banyak pori-pori dalam batuan, maka semakin kecil tahanan jenisnya karena semakin banyak air yang terkandung di dalamnya.

4. Sifat Kimiawi

Air asin lebih mudah menghantarkan listrik daripada air tawar, sehingga tahanan jenisnya semakin kecil. Hal ini disebabkan karena terdapatnya ion-ion (Na+ dan Cl-) yang mampu menghantarkan arus listrik.

Software Rock Work 2004

Software Rock Work 2004 digunakan untuk melihat gambaran 3D sebaran nilai resistivity, litologi, dan karakteristik akuifer serta pola pergerakan air tanah. Input data dalam program ini adalah:

1. Titik lokasi pengukuran.

2. Nilai resistivity aktual batuan yang diperoleh dari hasil software IP2Win.

3. Jenis perlapisan batuan yang sudah ditentukan dan berdasarkan data sumur bor yang ada di lokasi penelitian. 4. Kedalaman dan ketebalan akuifer serta waktu penelitian.

3. METODOLOGI PENELITIAN Desain Penelitian

1. Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Geolistrik (Resistivity Meter) Tipe Naniura yang dilengkapi dengan dua buah elektroda arus, dua buah elektroda potensial, dua gulung kabel (elektroda arus), dua gulung kabel (elektroda potensial), Accu, dan palu untuk menanam elektroda.

b. GPS c. Meteran d. Refractometer 2. Pengambilan Data

Metode yang digunakan dalam pengambilan data yaitu metode geolistrik tahanan jenis sounding dengan konfigurasi Schlumberger. Konfigurasi ini dipakai untuk mengetahui variasi harga tahanan jenis secara

(4)

vertikal. Konfigurasi ini menggunakan 4 elektroda, yaitu 2 elektroda arus dan 2 elektroda potensial. Jarak elektroda potensial diubah-ubah sepanjang 0,5 m, 5 m, dan 10 m. Elektroda potensial cenderung jarang diubah-ubah meskipun jarak elektroda arus selalu berubah-ubah. Penelitian dilakukan di 11 titik yaitu di lapangan Baruna, Peti Kemas, SMAN 6 Ketapang, By Pass Kelurahan Karang Maritim, Pantai Way Lunik, Kelurahan Pidada, Oasis, Gunung Balau, Merbau Mataram, Kebun Sawit Merbau Mataram, dan SDN Way Laga.

Pengukuran muka air tanah dilakukan di sumur gali penduduk di 12 titik pengamatan dan tersebar di sekitar Kecamatan Panjang dan Teluk Betung Selatan. Langkah pengukuran dengan mengukur kedalaman air tanah menggunakan meteran dan menentukan lokasi penelitian dengan GPS.

Dalam penelitian ini juga dilakukan pemeriksaan kadar garam (salinitas) air yang digunakan oleh penduduk. Sampel air yang diambil sebanyak 21 buah berasal dari sumur bor dan sumur gali yang ada di kecamatan Panjang dan Teluk Betung Selatan. Penelitian salinitas air dilakukan dengan menggunakan Refractometer. Pemeriksaan kadar garam dalam air dimaksudkan untuk mengetahui indikasi terjadinya intrusi air laut. 3. Pengolahan Data

Data yang diperoleh dari pengukuran di lapangan adalah besar arus (I) dan beda potensial (V), yang kemudian dilakukan perhitungan untuk menentukan harga tahanan jenis semu ρa yaitu hasil kali faktor geometri K dengan perbandingan potensial dan arus. Setelah didapatkan harga tahanan jenis semu kemudian dibuat pemodelan 1D untuk mendapatkan harga tahanan jenis sebenarnya (tahanan jenis aktual). Software yang digunakan untuk pengolahan data 1D adalah IP2WIN. Data masukan pada software ini adalah tahanan jenis semu dan jarak antar elektroda arus (AB/2). Dari hasil pemodelan 1D, maka dapat dibuat pemodelan 3D dengan menggunakan software Rockwork 2004.

4. Metode Analisis Dan Intrepetasi Data

Analisis dan interpretasi data hasil pengukuran Geolistrik dapat dilakukan dengan cara pembacaan hasil 1D, 2D, dan 3D yang menggunakan software IP2WIN dan Rockwork 2004. Selain itu informasi geologi dari hasil pembacaan peta geologi, geohidrologi, topografi, data sumur bor, hasil pengamatan langsung, dan hasil wawancara dengan penduduk menjadi hal yang harus dipertimbangkan dalam menganalisis dan menginterpretasikan hasil pengukuran geolistrik.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pendugaan geolistrik

Berdasarkan hasil pengukuran dengan geolistrik yang dilakukan pada 11 titik pengukuran akan menghasilkan nilai kuat arus dari elektroda arus yang dihubungkan dengan amperemeter, dan nilai beda potensial dari elektroda potensial yang dihubungkan dengan voltmeter. Kemudian nilai kuat arus dan potensial hasil pengukuran tersebut dijadikan nilai tahanan jenis semu dengan menggunakan formulasi:

(1) Dimana: ρ = Tahanan jenis semu (ohm m)

Δv = Beda Potensial (mili volt) i = Kuat arus (mili ampere) k = Konstanta Schlumberger

Sebagai contoh hasil pengukuran geolistrik di titik 1 yaitu Lapangan Baruna kelurahan Karang Maritim Kecamatan Panjang. Pada pengukuran elektroda potensial 0,5 m dan elektroda arus 1,5 m diperoleh nilai beda potensial 1792 mV dan kuat arus 103 mA. Dari nilai rentangan elektroda, konstanta Schlumberger bernilai 6,25 sehingga:

Jadi, nilai tahanan jenis semu untuk pengukuran elektroda potensial 0,5 m dan elektroda arus 1,54 m pada daerah Lapangan Baruna adalah 108,74 Ωm.

Pada pendugaan geolistrik di Lapangan Baruna Kelurahan Karang Maritim (Titik 1) terdeteksi nilai tahanan jenis sampai kedalaman 21,6 meter. Nilai tahanan jenis terendah yaitu 17,7 Ωm dan nilai tertinggi 190 Ωm. Titik ukur 2 yaitu daerah depan terminal peti kemas Kelurahan Panjang Selatan terdeteksi nilai tahanan jenis sampai kedalaman 25 meter. Nilai tahanan jenis terendah pada titik pengukuran ini adalah 32,6 Ωm dan nilai tertinggi 144 Ωm. Titik pendugaan ke 3 yaitu di lokasi SMAN 6 Bandar Lampung, kelurahan Ketapang diperoleh pendugaan sampai kedalaman 43,13 meter. Nilai resistivitas terendah adalah 21,35 Ωm dan tertinggi 173,6 Ωm. Titik ukur 4 yang berada di Pantai Kelurahan way Lunik yang merupakan tanah milik PT. Bumi Waras dan sudah direklamasi untuk pembangunan gudang, terdeteksi nilai tahanan jenis sampai kedalaman 47,4 meter. Nilai resistivitas terendah adalah

(5)

4,27 Ωm dan nilai tertinggi 813 Ωm. Pada daerah jalan By-Pass Kelurahan Karang Maritim (titik ukur 5) terdeteksi nilai tahanan jenis terendah 22,9 Ωm, dan tertinggi 226 Ωm. Kedalaman total adalah 44,3 meter dari muka tanah setempat.

Pengukuran muka air

Dalam penelitian ini juga dilakukan pengukuran muka air pada sumur gali penduduk. Penelitian dilakukan pada tanggal 29 April 2011 sebanyak 12 titik pengukuran yang juga tersebar di sekitar Kecamatan Panjang dan Teluk Betung Selatan. Pada daerah ini sulit sekali ditemui sumur gali karena sebagian besar penduduk menggunakan sumur bor dan PDAM. Alat bantu dalam pengukuran ini adalah GPS dan meteran.

Tabel 3. Titik Pengukuran Muka Air

Titik Lokasi Lintang Selatan Timur Bujur

Elevasi Sumur (MSL) Kedalaman Sumur (MTS) Kedalaman Muka Air (MTS) Elevasi Muka Air (MSL) 1. Kel. Ketapang TBS 532833 9398936 48 m 16 m 7 m 41 m

2. Kel. Way Lunik TBS 533509 9397891 3 m 15 m 3,1 m -0,1 m 3. Kel. Way lunik TBS 534371 9397062 16 m 15 m 2,7 m 1 m

4. Karang Maritim 535908 9394390 32 m 7 m 2,9 m 29,1 m 5. Karang Maritim 536153 9393837 33 m 13 m 2,5 m 30,5 m 6. Panjang Selatan 535631 9395219 33 m 10 m 0,6 m 32,4 m 7. Way Laga 534740 9397860 15 m 10 m 2,15 20,85 m 8. Ketapang 533520 9397983 1 m 7 m 3,2 m -2,2 m 9. Srengsem 536092 9393100 3 m 7 m 2,5 m 0,5 m 10. Srengsem 536092 9393069 2 m 5 m 1,65 m 0,35 m 11. Oasis 534740 9396570 6 m 12 m 7,8 m -1,8 m 12. Merbau Mataram 536555 9397214 140 m 2 m 0,1 m 139,9 m Pengukuran Salinitas Air

Setelah dilakukan pendugaan geolistrik dan pengukuran muka air tanah, dalam penelitian ini juga dilakukan pemeriksaan kadar garam (salinitas) yang terkandung dalam air. Sampel air yang diambil sebanyak 21 buah yang berasal dari sumur gali dan sumur bor penduduk. Sampel diambil pada tanggal 25 Mei 2011. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Refractometer. Penelitian ini dilakukan di Balai Besar Budidaya Perikanan Laut (BBBPL) Hanura, Padang Cermin Kabupaten Pesawaran. Dalam 2 sampel air tersebut terkandung kadar garam sebesar 1 mg/1000 mg (1ppt) pada daerah Kelurahan Ketapang dengan elevasi muka air tanah -2,2 m MSL dan pada daerah Peti Kemas memiliki kadar garam (salinitas) 2 mg/1000 mg (2ppt) dengan elevasi muka air di daerah tersebut -0,1 m MSL.

Tabel 4. Nilai Salinitas Air

Titik Lokasi Sumur Jenis Lintang Selatan Bujur Barat Elevasi (m) (MSL) Salinitas (ppt)

1. Ketapang Gali 533520 9397983 1 1

2. Ketapang Bor 532833 9398936 48 0

3. Ketapang Bor 532864 9398745 20 0

4. Way Lunik Bor 533694 9397651 1 0

5. Peti kemas Panjang Selatan Bor 535047 9396224 2 2

6. Karang Maritim Gali 536100 9354029 2 0

7. Srengsem Gali 536092 9393095 3 0

8. Srengsem Gali 536092 9393095 1 0

9. Karang Maritim Bor 536061 9393714 10 0

10. Panjang Selatan Bor 535938 9394377 2 0

11. Karang Maritim Gali 535631 9394377 32 0

12. Panjang Selatan Gali 535631 9395219 33 0

13. Panjang Selatan Bor 535668 9394753 9 0

14. Pidada Bor 535422 9395781 3 0

15. Pidada Gali 535148 9396566 6 0

16. Oasis Bor 534838 9397794 31 0

(6)

18. Merbau Mataram Gali 536565 9397207 140 0

19. Way Laga Bor 536080 9399517 129 0

20. Merbau Mataram Bor 536100 9397638 135 0

21. Way Laga Bor 536556 9398732 103 0

Setelah diperoleh harga tahanan jenis aktual dengan menggunakan software IP2Win, maka dapat ditentukan jenis lapisan tanah yang terdapat pada daerah penelitian. Berdasarkan harga tahanan jenis beberapa jenis batuan menurut Dohr (1975), maka dapat diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 5. Kedalaman Pengukuran Nilai Resistivity

Titik Lokasi Elevasi (m)

Kedalaman Terdeteksi (m) Resti Min (Ωm) Resti Max (Ωm) Dari Muka

Tanah (MTS) Dari Permukaan Laut (MSL)

1. Lapangan Baruna, Kelurahan Karang

Maritim, Kec. Panjang +1 21,6 20,6 17,7 190

2. Depan Peti Kemas Kelurahan

Panjang Selatan, Kec. Panjang +2 25 23 32,6 242

3. Depan SMAN 6 Kel. Ketapang, Kec.

Teluk Betung Selatan (TBS) +8 43,13 35,13 17,84 173,6 4. Pinggir Pantai, Kel. Way lunik, Kec.

TBS +1 47,4 46,4 4,72 813

5. Jalan By-Pass Kel. Karang Maritim

Kec. Panjang +2 44,3 42,3 22,9 226

6. Jalan By-Pass Margo Mulyo Kel.

Pidada +14 33,65 19,65 38,09 166,6

7. Jalan By-Pass Oasis Kel. Pidada +15 35 20 17,9 182

8. Jalan By-Pass Gunung Balau. Kel.

Way Lunik, Kec. TBS +9 23,5 14,5 24,84 210,6

9. Merbau Mataram, way Laga, Kec.

Panjang +142 30,98 -112,02 37,06 386,2

10. Perkebunan Sawit way Laga +136 19,8 -127,2 50,4 2246

11. Depan SDN 1 Way Laga +128 26,2 -102,8 36,6 240

Jenis perlapisan batuan daerah penelitian

Hasil Pendugaan geolistrik dan pemodelan yang menggunakan software Rock Work 2004, diperoleh gambaran perlapisan batuan secara umum di daerah penelitian terdiri dari lapisan lempung, lempung berpasir, pasir berlempung, pasir, dan batu gamping.

Gambar 1. Litologi Semua Titik Ukur Kedalaman akuifer air tanah

Dalam penelitian ini ditemukan perlapisan batuan berupa lempung, lempung berpasir, pasir berlempung, pasir, dan batu gamping. Batu pasir merupakan sedimen lepas dari butir mineral dan pecahan batuan yang dapat bertindak sebagai akuifer yang baik dan dapat menghasilkan air dalam jumlah besar. Selain pasir, batu gamping yang juga

(7)

terdapat pada daerah penelitian yang juga merupakan lapisan permeabel. Batu gamping merupakan batuan karbonat yang memiliki sifat kerapatan, kesarangan, dan kelulusan yang tinggi. Akuifer yang terdiri dari jenis perlapisan pasir dan batu gamping dapat ditemui di daerah penelitian dengan rincian dalam tabel di bawah ini.

Tabel 6. Kedalaman Akuifer Air Tanah

Titik Jenis Batuan Elevasi (MSL) Dari Permukaan Kedalaman (m) Ketebalan (m) Tanah (MTS) Dari Permukaan Laut (MSL)

Baruna Batu Gamping +1 m 8,9 – 21,6 7,9 – 20,6 12,7

Peti Kemas Batu Gamping +2 m 24,7 - 25 22,7 – 23 0,3

SMAN 6 Batu Gamping +8 m 31,84 – 43,13 23,84 – 35,13 11,29 Way Lunik Pasir

+1 m 3,77 – 17,5 2,77 – 16,5 13,73

Batu Gamping 17,5 – 47,4 16,5 – 46,4 29,9

K. Maritim Batu Gamping +2 m 22,9 – 44,3 20,9 – 42,3 21,4 Margo

Mulyo Pasir Batu Gamping +14 m 27,96 – 33,65 16,2 – 27,96 13,96 – 19,65 2,2 – 13,96 11,76 5,69

Oasis Batu Gamping +15 m 28,5 - 35 13,5 – 20 6,5

Gunung

Balau Pasir Batu Gamping +9 m 7,18 – 17,1 17,1 – 23,5 -1,82 – 8,1 8,1 – 14,5 9,92 6,4 Merbau

Mataram Batu Gamping +142 m 31,84 – 43,13 (-110,16) – (-98,87) 11,29 K. Sawit Batu Gamping +136 m 3,26 – 19,8 (-132,74) – (-116,2) 16,54 Way Laga Pasir +128 m 17,7 – 26,2 (-110,3) – (-101,8) 8,5 Intrusi air laut

Hasil pengolahan data diperoleh gambaran perlapisan batuan di daerah penelitian terdiri dari pasir berlempung, lempung berpasir, lempung, pasir dan batu gamping. Dari perhitungan nilai tahanan jenis dan gambaran letak akuifer, diperoleh kesimpulan bahwa sudah ada indikasi terjadinya intrusi pada daerah penelitian, terutama pada daerah yang cukup dekat dengan laut. Titik pengukuran Way Lunik berada pada garis patahan yang membatasi daerah pantai dengan daratan. Kemungkinan pada daerah ini mengandung banyak air dan hasi uji salinitas menunjukkan bahwa terdapat kadar garam sebesar 2 mg/1000 mg (2ppt) pada sampel air yang diambil di daerah ini. Untuk titik pengukuran peti kemas juga terdapat kandungan garam pada sampel air seberat 1 mg/ 1000 mg (1 ppt). 5. KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas yang didasarkan pada hasil pendugaan Geolistrik, pengukuran muka air, pengukuran salinitas, dan pengolahan data dengan software IP2Win serta Rock Work 2004, maka disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1. Daerah Kecamatan Panjang dan Kecamatan Teluk Betung Selatan memiliki karakteristik batuan yang cenderung sama karena daerah tersebut terletak di daerah pesisir Kota Bandar Lampung. Jenis perlapisan batuan yang mendominasi daerah penelitian adalah jenis batuan pasir berlempung, lempung berpasir, pasir, lempung dan batu gamping.

2. Keberadaan air tanah tawar dapat dijumpai pada lapisan lempung berpasir, pasir berlempung, pasir, dan batu gamping pada kedalaman 1,21 meter hingga hingga lebih dari 40 meter dari muka tanah setempat.

3. Kedalaman akuifer air tanah di daerah studi yaitu 3,26 meter sampai 47,4 meter dari permukaan tanah dengan ketebalan minimal 0,3 meter di daerah Peti Kemas Panjang sampai nilai terbesar 43,63 di daerah Way Lunik. 4. Jenis akuifer yang terbentuk pada daerah penelitian adalah merupakan akuifer bebas di daerah Baruna, Peti

Kemas, dan Ketapang. Akuifer tertekan dan semi tertekan merupakan jenis akuifer yang didominasi pada daerah penelitian. Jenis perlapisan batuan yang diasumsikan sebagai akuifer yang baik adalah lapisan batu pasir.

5. Tanda-tanda terjadinya intrusi air laut sudah terlihat terutama pada daerah Peti Kemas dan Way Lunik. Nilai pemeriksaan salinitas pada daerah tersebut adalah 2 ppt (part per thousand) atau 2 mg/1000 mg dan Way Lunik 1 ppt atau 1 mg/1000 mg. Diperkirakan pada daerah ini telah terjadi penyusupan air laut karena letak akuifer dan tinggi muka air pada daerah ini berada di bawah permukaan laut.

DAFTAR PUSTAKA

Aryanto. (2010). Geolistrik. http://aryanto.blog.uns.ac.id.

(8)

Kodoatie, R. (2010). Tata Ruang Air. Andi Ofset. Yogyakarta. 538 hlm.

Hendayana, Heru. (1994). Metode Resistivity Untuk Eksplorasi Air Tanah. Jurusan Teknik Geologi. Fakultas Teknik. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Seyhan, Ersin. (1990). Dasar-Dasar Hidrologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 380 hlm.

Simoen, Sunarso. (1980). Diktat Kuliah Geohidrologi. Jurusan Teknik Geologi. Fakultas Teknik. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Simoen, Sunarso. (2000). Geolistrik Suatu Teknik Geofisika Untuk Penyelidikan Bawah Permukaan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Sosrodarsono, Suyono. (2006). Hidrologi Untuk Pengairan. Pradnya Paramita. Jakarta.

Rolia, Eva. (2002). Studi Air Tanah Di Daerah Pesisir Teluk Lampung Dengan Metode Geolistrik. Skripsi. Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Tood, David Keith. (1980). Groundwater Hidrology. California. 535 hlm.

Triatmadja, Radianta. (2009). Model Matematik Teknik Pantai Menggunakan Diferensi Hingga dan Metode Karakteristik. Beta Offset. Yogyakarta.

Triatmodjo, Bambang. (2006). Hidrologi Terapan. Beta Offset. Yogyakarta. Undang-Undang Pengelolaan Sumber Daya Air. (2008). Fokusmedia. Bandung.

Gambar

Tabel 1.   Konstanta Schlumberger  Elektroda
Tabel 2.  Variasi Harga Tahanan Jenis Dari Beberapa Jenis Batuan Sedimen  Jenis Batuan  Nilai Tahanan Jenis (Ωm)
Tabel 3.   Titik Pengukuran Muka Air
Gambar 1.   Litologi Semua Titik Ukur  Kedalaman akuifer air tanah
+2

Referensi

Dokumen terkait

Zona rembesan banyak dijumpai pada daerah dekat saluran pembuangan, sehingga diduga pencemaran air tanah sudah menembus lapisan akuifer tengah (kedalaman 30 - 60

Secara lateral, berdasarkan keterdapatan air ta- nahnya, sistem akuifer daerah penyelidikan dikelom- pokkan menjadi dua sistem. Pertama, sistem akuifer dengan aliran air

Sebagian skripsi saya yang berjudul “Monitoring Kedalaman Air Tanah Dalam Menggunakan Metode Geolistrik di Wilayah Surakarta Bagian Selatan” akan dipublikasikan

Telah dilakukan penelitian untuk mencari konfigurasi yang tepat dalam eksplorasi sumber daya air (air tanah) dengan metode geolistrik tahanan jenis dengan

Berdasarkan hasil perhitungan dan interpretasi data lapangan geolistrik, diperoleh parameter-parameter dari jenis batuan berdasarkan tanahan jenis pada kedalaman yang

Berdasarkan data hasil pengukuran air tanah, lokasi yang disarankan untuk dilakukan pengeboran adalah air tanah dalam (akuifer tertekan) yang mempunyai kedalaman

Pengamatan kualitas air tanah pada akuifer bebas (akuifer tidak tertekan) di wilayah penelitian, dilakukan pada sumur gali dan sumur pantek dengan kedalaman

Hasil penelitian menunjukkan terdapat akuifer tertekan yang di indikasikan berisi air tawar dengan litologi batu pasir yang diapit oleh lapisan batu lempung dengan kedalaman 41-110,9 m