• Tidak ada hasil yang ditemukan

BIRO ANALISA ANGGARAN DAN PELAKSANAAN APBN SETJEN DPR RI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BIRO ANALISA ANGGARAN DAN PELAKSANAAN APBN SETJEN DPR RI"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

BIRO

ANALISA

ANGGARAN

DAN

PELAKSANAAN

APBN

– SETJEN

DPR

RI

Analisis Dampak Dan a Alokasi Khu sus terhadap Pelayan an Publik Daerah ( Kondisi Infrastruktur dan Indikator Pelayanan Publik )

A. Dampak Alokasi DAK terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Pada 2010-2011 Tim Analisis APBN melakukan analisis terhadap korelasi alokasi DBH, DAU dan DAK terhadap PDRB dan PAD. Analisis dilakukan pada 365 Kabupaten/Kota, dengan kurun waktu 2007-2010 ( 4 tahun), dengan model regresi sederhana dimana proporsi pengaruh sektor swasta diasumsikan sementara tetap dari tahun pengamatan. Dari hasil analisis ini disimpulkan:

Analisis Dampak Alokasi DBH, DAU dan DAK

(2008 – 2011)

Belanja transfer ke daerah (DBH, DAU dan DAK) membawa dampak yang signifikan pada pertumbuhan ekonomi (yang dideskripsikan dari pertumbuhan PDRB ) dan penguatan ekonomi lokal (yang dideskripsikan dari pertumbuhan PAD )

Secara statistik alokasi DAK lebih dominan dalam membawa dampak pada pertumbuhan ekonomi daerah (kabupaten/kota) dibandingkan dengan alokasi DBH dan DAU.

Adanya dampak yang lebih signifikan dari alokasi DAK terhadap PDRB, dikarenakan :

1. Secara nasional alokasi DAK lebih merata ke seluruh kabupaten/kota daripada alokasi DBH dan DAU.

2. Dengan menggunakan formula pengalokasian yang didasarkan pada kriteria umum, khusus dan teknis, maka alokasi DAK lebih terarah pada kebutuhan-kebutuhan daerah.

Referensi Hasil kajian dari beberapa lembaga, menunjukkan hasil yang memiliki kecenderungan (trend) sama, antara lain :

SMERU (2010) :

Korelasi positif kondisi infrastruktur dan pelayanan publik terhadap alokasi DAK

Bappenas (2010) :

Dampak positif alokasi DAK terhadap pertumbuhan ekonomi daerah Dampak positif alokasi DAK terhadap IPM daerah

(2)

BIRO

ANALISA

ANGGARAN

DAN

PELAKSANAAN

APBN

– SETJEN

DPR

RI

Walaupun secara makro DAK membawa dampak pada pertumbuhan ekonomi, masih terdapat permasalahan dalam pencapaian tujuan dari pengalokasian. Secara teoritis, seberapapun besaran belanja pemerintah ke suatu sistem perekonomian (daerah) pasti mempengaruhi besaran pertumbuhan ekonominya. Namun, apakah dampak (outcome) yang menjadi tujuan kebijakan alokasi tersebut berhasil dicapai?

B. Dampak Alokasi DAK terhadap Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik

Pada 2012-2013 Tim Analisis APBN melakukan focusing analisis terhadap korelasi alokasi DAK terhadap tujuan-tujuan dari pengalokasian DAK. Analisis dilakukan pada 380 Kabupaten/Kota, dengan kurun waktu 2008-2011 (4 tahun), dengan melakukan analisi korelasi terhadap beberapa bidang utama alokasi DAK, yaitu : Pendidikan, kesehatan dan infrastruktur terhadap indikator-indikator utama pelayanan public pada bidang-bidang tersebut.

Sebagaimana diketahui, tujuan secara makro dari alokasi DAK adalah membantu pencapaian prioritas pembangunan nasional , yang terfokus ada membantu peningkatan pelayanan publik dasar (antara lain: pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar). Untuk itu dianalisis keterkaitan antara alokasi DAK dengan turunan dari aspek-aspek pelayanan publik dalam parameter kualitas manusia yang secara internasional diukur dengan indeks pembangunan manusia (IPM).

Beberapa indikator yang digunakan dalam analisa, antara lain : Indikator Pelayanan Publik

Bidang Pendidikan ( angka partisipasi sekolah murni , Angka Rata2 Nilai UN SMP, angka

partisipasi sekolah SMP murni, Angka Melek Huruf) ; Indikator Pelayanan Publik Bidang

Kesehatan ( rasio akes pada vaksinasi utama, angka kematian bayi ) ; Indikator Pelayanan Publik Bidang Infrastruktur ( proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik, rasio pada air

bersih, rasio akse pada sanitasi ).

Sedangkan untuk kabupaten/kota penerima DAK di lakukan 2 tahap pengelompokan (clustering) , yaitu : a.kemampuan fiskal rendah/sedang/tinggi dan b.letak demografi wilayah Jawa Bali / luar Jawa Bali. Analisa clustering ini dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya perbedaan dampak alokasi DAK antar kelompok. Dari hasil analisis disimpulkan :

(3)

BIRO

ANALISA

ANGGARAN

DAN

PELAKSANAAN

APBN

– SETJEN

DPR

RI

Dampak Alokasi DAK terhadap Indeks Pelayanan Publik : Pendidikan

1. Alokasi DAK membawa dampak positif pada indeks pelayanan pendidikan, di kabupaten/kota dengan kapasitas fiskal rendah dan sedang.

2. Adapun pada kabupaten/kota dengan kapasitas fiskal tinggi dampak positif lemah (tidak signifikan)

3. Dampak positif lebih dominan di wilayah luar Jawa Bali

Dampak Alokasi DAK terhadap Indeks Pelayanan Publik :

Kesehatan

1. Alokasi DAK membawa dampak positif pada indeks pelayanan kesehatan, di kabupaten/kota dengan kapasitas fiskal rendah dan sedang.

2. Adapun pada kabupaten/kota dengan kapasitas fiskal tinggi dampak positif lemah (tidak signifikan)

3. Dampak positif lebih dominan di wilayah luar Jawa Bali

Dampak Alokasi DAK terhadap Indeks Pelayanan Publik :

Infrastruktur

1. Alokasi DAK membawa dampak positif pada indeks pelayanan pendidikan, di kabupaten/kota dengan kapasitas fiskal tinggi, sedang maupun rendah.

2. Dampak positif lebih dominan di wilayah luar Jawa Bali

Intepretasi Alokasi DAK berdampak/ memberikan stimulus bagi perbaikan indikator pelayanan publik pada seluruh kabupaten/kota, dengan dampak yang berbeda pada daerah-daerah dengan kapasitas fiskal yang berbeda. Perbedaan dampak ini juga terdapat pada daerah-daerah di wilayah Jawa Bali dan luar Jawa/Bali.

Perbedaan dampak yang signifikan antar kabupaten/kota yang berbeda kondisi fiskal dan kewilayahan, menunjukkan pentingnya melakukan revitalisasi alokasi DAK untuk diberikan pada daerah yang benar-benar membutuhkan. Disi lain DAK yang berkorelasi lemah bahkan negatif (pada kabupaten/kota dengan kapasitas fiskal tinggi) dapat menunjukkan lemahnya proses pengalokasian sampai dengan implementasi mekanisme pendanaannya. Targeting output dan outcome yang jelas bagi pengalokasian DAK juga perlu dirumuskan, untuk memudahkan mengukur pencapaian dampak kebijakan.

(4)

BIRO

ANALISA

ANGGARAN

DAN

PELAKSANAAN

APBN

– SETJEN

DPR

RI

Lampiran :

Plotting 1 : Korelasi Kenaikan Alokasi DAK dengan Peningkatan Pelayanan Publik di Kabipaten/Kota ( Gabungan Seluruh Indikator )

Public service indicator sector performance at the district/city level

Infrastructure Education

Health

Sumber : 2009 Susenas, 2008 Podes

Infrastructure inputs: Dinas Public Work spending (proxy for infrastructure spending, RGDP deflator), number of civil servant (PNSD) per 1000 population (proxy for human resources). Infrastructure outcomes: quality of road, access to road network, water and sanitation.

Education inputs: realized education expenditure; average service area of schools (primary, junior high, and secondary, in km2); number of teachers per level of school; and the number of schools per 1,000 students at each age group. Education outputs: Net Enrollment Rate, Adult Literacy, Means Years of Schooling.

Health inputs: public health expenditures per capita, gross regional domestic product, district level fiscal capacity, infrastructure and human resource indicators (the number of village clinics per 100,000, and the number of midwifes per 100,000), and indicators related to the accessibility of health facilities (service areas in km² of Puskesmas and hospitals). Health outcomes: skilled birth attendance, morbidity rates, and the coverage of measles.

-3 -2 -1 0 1 2 O u tp u t In d e x -2 0 2 4 6 8 Input Index

Scores for factor 1 deaoutput

-2 -1 0 1 2 3 O u tp u t In d e x -2 0 2 4 6 8 Input Index

Scores for factor 1 deaoutput

-6 -4 -2 0 2 O u tp u t In d e x -4 -2 0 2 4 Input Index

(5)

BIRO

ANALISA

ANGGARAN

DAN

PELAKSANAAN

APBN

– SETJEN

DPR

RI

Plotting 2 : Korelasi Kenaikan Alokasi DAK dengan Peningkatan Indikator Pelayanan Publik bidang Infrastruktur di Kabipaten/Kota

Panjang Jalan Kondisi Baik Akses kepada Air Bersih

Akses kepada Sanitasi

-1 0 0 0 1 0 0 2 0 0 c h a n g e i n p a v e d r o a d % -100 0 100 200 300 400 500

change in real Infrastructure expenditure % Change in paved road condition and infrastructure expenditure Fitted Line -5 0 0 5 0 1 0 0 1 5 0 c h a n g e i n a c c e s s t o c le a n w a te r % 0 500 1000 1500

change in real Infrastructure expenditure %

Change in the access to clean water and infrastructure expenditure Linear Fit -5 0 0 5 0 1 0 0 ch a n g e i n a cce ss t o sa n it a ti o n % 0 200 400 600 800 1000

change in real Infrastructure expenditure %

Change in the access to sanitation and infrastructure expenditure Linear Fit

(6)

BIRO

ANALISA

ANGGARAN

DAN

PELAKSANAAN

APBN

– SETJEN

DPR

RI

Kabipaten/Kota

Access to primary vaccines Skilled birth attendance

Plotting 4 : Korelasi Kenaikan Alokasi DAK dengan Peningkatan Indikator Pelayanan Publik bidang Pendidikan di Kabipaten/Kota

Net enrollment rate (NER) Primary school Junior High School National Exam Score

NER Junior high school Literacy rate

-5 0 0 5 0 1 0 0 c h a n g e i n a c c e s s t o v a c c in a ti o n % 0 100 200 300 400 500

change in real health expenditure %

Change in access to vaccination and health expenditure Fitted Line -5 0 0 5 0 1 0 0 c h a n g e i n a c c e s s t o s k il le d b ir th a tt e n d a n c e % -200 0 200 400 600

change in real health expenditure %

Change in access to skilled birth attendance and health expenditure Fitted Line -1 0 -5 0 5 1 0 c h a n g e i n p ri m a ry s c h o o l e n ro llm e n t % -100 0 100 200 300

change in real education expenditure % Change of SD NER & Education Expenditure Fitted Line 0 2 0 4 0 6 0 c h a n g e i n N a ti o n a l e x a m s c o re i n S M P % -100 0 100 200 300

change in real education expenditure %

Change of SMP UN score & Education Expenditure Fitted Line

(7)

BIRO

ANALISA

ANGGARAN

DAN

PELAKSANAAN

APBN

– SETJEN

DPR

RI

Source: SIKD for expenditure data. 2002 and 2009 data from Susenas for most outcome data; 2004-09 Susenas data for vaccination outcomes; paved roads data from DG-Highway of Ministry of Public Works database. Note: Split districts include districts that split from 2002 (or earlier) to 2009. In the following graphs we have omitted several “outlier” observations given the higher propensity for measurement error at the extremes. Both statistically significant and insignificant percentage changes in outcomes are included.

Penyusun : Handriyanto Setiadi

-5 0 0 5 0 1 0 0 c h a n g e i n j u n io r h ig h s c h o o l e n ro llme n t % -100 0 100 200 300

change in real education expenditure %

Change of SMP NER & Education Expenditure Fitted Line -5 0 5 1 0 1 5 c h a n g e i n l it e ra c y r a te % -100 0 100 200 300

change in real education expenditure %

Change of Literacy & Education Expenditure Fitted Line

Referensi

Dokumen terkait

waktu tertentu. Waktu dihitung sejak awal staf memberikan suatu layanan pada pasien hingga tepat sebelum diberikan layanan yang sama diberikan kepada pasien

Desain jalur lalu lintas yang aman dengan pendekatan traffic calming untuk memenuhi kebutuhan tersebut yaitu penyediaan jalur sepeda (dalam hal ini berupa jalur lambat) yang

Asfiksia merupakan penyebab utama kematian bayi, indikator untuk diagnosis asfiksia pada bayi baru lahir (BBL) dengan penilaian Apgar Score menit pertama kelahiran.

Hal yang hampir serupa dikemukakan oleh Indarjati (2001) yang menyebutkan adanya tiga macam kondisi kepuasan yang bisa dirasakan oleh konsumen berkaitan

Haba peneutralan bagi tindak balas antara asid hidroklorik dan natrium hidroksida adalah lebih tinggi daripada tindak balas antara asid etanoik dengan

Bahwa dalam pelaksanaan Otonomi Daerah dengan titik berat pada Pemerintah Daerah Kabupaten, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang

Asbuton dapat digunakan sebagai bahan tambah aspal minyak atau campuran beraspal minyak karena Asbuton, terutama Asbuton Kabungka, memiliki bitumen yang relative lebih

Memiliki sertifikat pelatihan perbankan syariah dengan materi sekurangnya ketentuan perbankan syariah, produk bank syariah, kegiatan operasional bank syariah dan laporan