• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROTOTIPE KNOWLEDGE MANAGEMENT SYSTEM MATERI PERKULIAHAN (Studi Kasus Politeknik LP3I Jakarta Program Studi Manajemen Informatika)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROTOTIPE KNOWLEDGE MANAGEMENT SYSTEM MATERI PERKULIAHAN (Studi Kasus Politeknik LP3I Jakarta Program Studi Manajemen Informatika)"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

28

PROTOTIPE KNOWLEDGE MANAGEMENT SYSTEM MATERI

PERKULIAHAN

(Studi Kasus Politeknik LP3I Jakarta

Program Studi Manajemen Informatika)

Oleh : Kuswandi

Manajemen Informatika, Politeknik LP3I Jakarta

Gedung Sentra Kramat Jl. Kramat Raya No. 7-9 Jakarta Pusat 10450 Telp. 021-31904598 Fax. 021-31904599

Email : [email protected]

ABSTRAK

Politeknik adalah institusi yang bergerak di dunia pendidikan, semakin banyaknya materi perkuliahan dan banyaknya dosen pengajar akan diperlukan adanya koordinasi antar dosen tersebut. Politeknik LP3I Jakarta yang terdiri dari beberapa cabang tersebar diseluruh Jakarta tentunya perlu untuk saling berbagi ilmu pengetahuan satu sama lainnya sehingga dalam memberikan materi perkuliahan tidak terjadi perbedaaan pengetahuan pada bahan ajar di mata kuliah yang sama. Agar tidak terjadi perbedaan persepsi dan pengetauan dalam memberikan materi perkuliahan kepada mahasiswanya, maka diperlukan sebuah media bagi tiap-tiap dosen pengajar dalam membagi knowledge yang dimiliki agar kemampuan dan pengetahuan para dosen dapat mendekati satu sama lainnya. dalam masalah ini dapat digunakan sebuah knowledge management untuk mengatur knowledge yang dimiliki oleh tiap dosen pengajar. Dunia teknologi saat ini terus berkembang dan sudah merambah berbagai bidang kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitar pendidikan banyak yang sudah memanfaatkan teknologi, sebagai institusi yang bergerak di bidang pendidikan setidaknya pihak perguruan tinggi juga memikirkan bagaimana caranya mengelola kinerja para pengajarnya terutama dalam pemberian materi kepada mahasiswa, oleh sebab itu dibutuhkan knowledge management dalam tiap mata kuliah agar materi yang diberikan oleh dosen pengajar mata kuliah dapat sesuai dan seragam, selain itu diharapkan kemampuan yang dimiliki oleh dosen pengajar tidak terlalu berbeda jauh satu sama lainnya. Untuk uji coba berjalannya pemodelan knowledge management, maka metode yang akan digunakan pada penelitian ini adalah Focus Group Discussion (FGD). Adapun untuk pembentukan knowledge menggunakan model SECI. Dengan FGD ini diharapkan para dosen pengajar terutama pada mata kuliah yang sama dapat berdiskusi dan dapat saling membagi ilmu pengetahuan serta pengalaman yang dimiliki oleh masing-masing dosen pengajar sehingga tidak banyak terjadi perbedaan pengetahuan dan ketidakseragaman materi perkuliahan yang diajarkan. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah prototype Knowledge Management System (KMS) yang akan dapat memberikan solusi yang efektif dalam upaya meningkatkan budaya sharing para dosen pengajar pada Politeknik LP3I Jakarta khususnya program studi Manajemen Informatika.

(2)

29 PENDAHULUAN

Setiap perguruan tinggi pasti mengharapkan kualitas pendidikan yang baik dan terus meningkat, terutama di era globaliosasi yang memiliki banyak persaingan dalam dunia pendidikan yang terus berkembang dan dinamis untuk mencapai hal itu, maka setiap perguruan tinggi memiliki caranya masing-masing dalam mengembangkan kualitas pendidikan yang dimiliki.

Salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan kualitas pendidikan adalah keahlian tenaga pengajar (Dosen) dalam memberikan materi perkuliahan kepada mahasiswanya dengan keahlian, pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki oleh para dosen pengajar, diharapkan mahasiswa dapat mempelajari tiap mata kuliah dengan baik dan dimengerti.

Penulis saat ini bekerja sebagai koordinator program pada prodi manajemen informatika khususnya konsentrasi informatika komputer dan multimedia, berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama ini penulis melihat adanya perbedaan knowledge dari tiap dosen pengajar pada mata kuliah yang sama menyebabkan perbedaan bobot materi yang disampaikan sehingga pada saat ujian dengan soal terpusat masih ada mahasiswa yang merasa bingung karena ada materi yang belum disampaikan.

Hal ini disebabkan karena adanya budaya sharing diantara dosen tidak berjalan dengan baik sehingga knowledge yang dimiliki dosen khususnya yang mengajar mata kuliah yang sama menjadi kurang berkembang, berdasarkan hasil pengamatan tersebut maka penulis tertarik untuk membuat sebuah prototype knowledge sharing materi perkuliahan

yang ditujukan agar dapat mengelola

knowledge sharing antara dosen tersebut.

LANDASAN TEORI

Konsep dasar Knowledge

Data dapat merepresentasikan suatu objek sebagaimana dikemukakan oleh wawan dan munir, bahwa “data adalah nilai yang merefresentasikan deskripsi dari suatu objek atau kejadian (event)”. Dengan demikian dapat dijelaskan kembali bahwa data merupakan suatu objek, kejadian atau fakta yang terdokumentasikan dengan memiliki kodefikasi terstruktur untuk suatu atau beberapa entitas.

Informasi merupakan suatu hasil dari pemrosesan data menjadi sesuatu yang bermakna bagi yang menerimanya, sebagaimana dikemukakan oleh Vercellis “Information is the outcome of extraction

and processing activities carried out on data , and it appears meaningful for those who receive it in a specific domain”.

Pebedaan dari Data, informasi dan

knowledge , Knowledge bukan sekedar

data atau informasi , keduanya sangat berhubungan, dan perbedaannya antara istilah tersebut pada derajat kemateriannya davenport dan prusak.

Firestone mengemukakan bahwa Wisdom merupakan tingkatan yang paling

tinggi dari knowledge karena tidak hanya didasarkan knowledge saja, namun juga terbentuk dari pengalaman, moral, etika dan lain sebagainya. wisdom lebih mengacu pada bagaimana seseorang memutuskan suatu hal apakah itu benar atau salah, hubungan antara data informasi, knowledge dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 1

Tingkatan Data, Informasi, Knowledge dan Wisdom

Becerra, et all menyatakan bahwa untuk memahami pengetahuan, maka perlu

memahami tentang jenis dan tipe pengetahuan. Perbandingan antara

(3)

jenis-30 jenis ilmu pengetahuan tergambar pada

tabel berikut.

Tabel 1

Perbandingan Jenis dan Tipe Pengetahuan

Proses Penciptaan Knowledge

Profesor Nonaka menyatakan bahwa proses penciptaan knowledge organisasi terjadi karena adanya interaksi (konversi) antara tacit knowledge dan explicit knowledge, melalui proses sosialisasi, ekternalisasi, kombinasi dan internalisasi.

Saat ini, organisasi biasanya menggunakan media-media berikut ini sebagai sarana komunikasi antar sumber daya manusia yang ada diorganisasi dan pihak-pihak yang berkepentingan , yaitu : 1. Rapat secara berkala

2. Diskusi secara berkala 3. Pertemuan bulanan 4. Intranet

5. Surat edaran/surat keputusan 6. Papan pengumuman

7. Internet/media massa

Untuk mendukung proses aktivitas dan pengembangan sumber daya manusia di suatu organisasi yang merupakan perwujudan dari model SECI (socialization, externalization,

combination, internalization) Nonaka, digunakan perangkat teknologi informasi yang ada di organisasi.

1) Sosialisasi

Proses sosialisasi antar – SDM di organisasi salah satunya dilakukan melalui pertemuan tatap muka (rapat, diskusi, dan pertemuan bulanan). Melalui pertemuan tatap muka ini, SDM dapat saling berbagi knowledge dan pengalaman yang dimilikinya sehingga tercipta knowledge baru bagi mereka. rapat dan diskusi yang dilakukan secara berkala harus memiliki notulen rapat. Notulen rapat ini kemudian menjadi bentuk eksplisit (dokumentasi) dari knowledge

2) Ekternalisasi

Sistem Knowledge Management akan sangat membantu proses ekternalisasi ini, yaitu proses untuk mengartikulasi

tacit knowledge menjadi suatu konsep

yang jelas. dukungan terhadap proses ekternalisasi ini dapat diberikan dengan mendokumentasikan notulen rapat (bentuk eksplisit dari knowledge yang tercipta saat diadakannya pertemuan) ke dalam bentuk elektronik untuk kemudian dapat dipublikasikan kepada mereka yang berkepentingan

3) Kombinasi

Proses konversi knowledge melalui kombinasi adalah mengkombinasikan berbagai explicit knowledge yang berbeda untuk disusun kedalam sistem

knowledge management . media untuk

proses ini dapat melalui intranet (forum diskusi) database organisasi dan internet untuk memperoleh sumber eskternal. fitur-fitur enterprise portal seperti knowledge organisasization sistem yang memiliki fungsi untuk

pengkategorian informasi (taksonomi), pencarian , dan sebagainya sangat membantu dalam proses ini. Business

intelligence sebagai fungsi penganalisis

data secara matematis dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. data yang telah tersimpan dalam sistem (data

warehouse) dianalisis terutama untuk

analisis data kondisi daerah, keuangan operasional, serta yang bersifat strategis

(4)

31 , seperti pembuatan indikator-indikator

kinerja . 4) Internalisasi

Semua dokumen data, informasi dan

knowledge yang sudah

didokumentasikan dapat dibaca oleh orang lain. pada proses inilah terjadi peningkatan knowledge sumber daya manusia . sumber-sumber explicit dapat diperolah melalui media intranet

(database organisasi) , surat edaran/surat keputusan, papan pengumuman dan internet serta media massa sebagai sumber eksternal. Untuk dapat mendukung proses ini , sistem perlu memiliki alat bantu pencarian dan pengambilan dokumen . content management, selain mendukung proses

kombinasi, juga dapat mempasilitasi proses internalisasi. Pemicu untuk proses ini adalah penerapan “learning

by doing”. Fitur-fitur yang terdapat

pada fungsi learning akan sangat membantu terlaksananya proses ini. Selain itu pendidikan dan pelatihan (training) dapat mengubah berbagai pelajaran tertulis (explicit knowledge) menjadi tacit knowledge para karyawan.

Gambar 3

Pemetaan infrastruktur teknologi informasi ke dalam proses SECI

Penerapan knowledge management ini, tidak hanya didukung oleh SDM yang berkualitas (memiliki informasi, pengalaman dan keahlian yang dibutuhkan) dan teknologi informasi yang tepat guna, tetapi juga budaya berbagi

knowledge.

Gambar 4 Kerangka Pemikiran

Kerangka Pemikiran

Berdasarkan hasil pengamatan sementara dan kajian teori yang telah disusun oleh peneliti, maka selanjutnya dapatlah dibangun kerangka berpikir tentang pengembangan model Knowledge

Management System untuk para dosen di

Program Studi Manajemen Informatika Politeknik LP3I Jakarta, adapun kerangka pemikiran dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

Kerangka berpikir ini dimulai dengan melihat kondisi objek yang diteliti saat ini dengan cara melakukan proses wawancara awal. Kemudian menentukan masalah yang terjadi saat ini, langkah selanjutnya yaitu menentukan metodologi penelitian yang akan digunakan, kemudian menganalisa dan merancang model KMS yang sesuai. Setelah didapat model KMS, maka dibuatlah prototype Knowledge

Management System Materi Perkuliahan.

Langkah terakhir adalah melakukan pengujian terhadap prototype tersebut. Hipotesis

Diduga Knowledge Management

System (KMS) yang dibangun akan dapat

memberikan solusi yang efektif dalam upaya meningkatkan budaya sharing dan memudahkan pengguna khususnya untuk melakukan Knowledge Sharing.

(5)

32 METODOLOGI DAN RANCANGAN

PENELITIAN

Dalam penelitian tersebut untuk pembentukan knowledge penulis menggunakan model SECI. Penulis juga menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) sebagai sarana melakukan pengumpulan data dan Informasi melalui Survey, Penyebaran Kuesioner, Wawancara dan pengamatan Sampling/ Metode Pemilihan Sample Proses pemilihan sampel yang digunakan pada tesis ini menggunakan purpose

sampling atau yang lebih dikenal dengan

memilih koresponden secara sengaja untuk dianalisis, koresponden dalam penelitian ini adalah beberapa dosen Program studi Manajemen Informatika di Poltek LP3I Jakarta.

Metode Pengumpulan Data

Studi Literatur, Dimaksudkan untuk mendapatkan data atau fakta yang bersifat teoritis yang berhubungan dengan penelitian sebagai bahan referensi. Referensi yang dibutuhkan adalah teori atau fakta yang berhubungan dengan

knowledge management system dan referensi-referensi yang berhubungan dengan objek yang akan diteliti

Wawancara, Wawancara telah diakui sebagai teknik pengumpulan data atau informasi yang penting dan banyak dilakukan dalam pengembangan sistem informasi. Wawancara adalah suatu percakapan langsung dengan tujuan-tujuan tertentu dengan menggunakan format tanya jawab yang terencana, adapun key person yang diwawancarai pada penelitian ini adalah para dosen pengajar Politeknik LP3I Jakarta khususnya program studi Manajemen Informatika.

Kuesioner, Merupakan pertanyaan-pertanyaan yang dibuat oleh penulis untuk melakukan evaluasi terhadap pemodelan

knowledge management system

berdasarkan batasan-batasan pokok bahasan dan cerita yang ditentukan. Kuesioner disebarkan kepada para peserta diskusi FGD (Forum Group Discussion) yang ditetapkan sebelumnya yang terdiri dari beberapa dosen pengajar yang ada di Program Studi Manajemen Informatika Politeknik LP3I Jakarta.

Focus Group Discussion, FGD dilaksanakan setelah peserta mengisi kuesioner yang menjelaskan tentang pertanyaan inti dari tujuan yaitu pendapat masing-masing tentang bagaimana cara melakukan knowledge sharing yang paling tepat bagi para dosen pengajar di Program Studi Manajemen Informatika Politeknik LP3I Jakarta.

Instrumentasi

Penelitian ini menggunakan metode wawancara dan Kuesioner serta hasil dari FGD guna memperoleh data dan masukan sehingga dapat dibentuk pemodelan yang diinginkan dan dapat dicari interpretasi yang akan menjadi hasil akhir.

(6)

33 Langkah-langkah Penelitian

Gambar 4 Langkah Penelitian

Penjelasan langkah-langkah diatas: Identifikasi Masalah, Langkah awal dari penelitian ini adalah dengan mengidentifikasikan masalah yang terdapat pada Program Studi Manajemen Informatika di Politeknik LP3I dengan melakukan wawancara langsung kepada beberapa dosen untuk mendapatkan gambaran jelas akan keadaan organisasi. Hasil dari langkah ini yaitu rumusan masalah.

Perumusan masalah, Berdasarkan pada identifikasi masalah, rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana model Knowledge Sharing

System yang sesuai untuk menunjang

kegiatan perkuliahan di Politeknik LP3I Jakarta program studi Manajemen Informatik.

Tinjauan Studi, Langkah berikutnya adalah dengan melakukan tinjauan studi. Tujuannya untuk mendapatkan pemaparan teoritis yang mendukung penelitian yang dilakukan. Metode yang dilakukan adalah dengan membaca berbagai referensi terkait

knowledge management.

Analisis Faktor Kontingensi, Pada langkah ini dilakukan analisis berdasarkan jenis-jenis knowledge yaitu : tacit, explicit, procedural, dan declarative knowledge), dan analisis karakteristik organisasi yaitu ukuran organisasi, strategi bisnis dan lingkungan.

Analisa Proses Knowledge Management, Langkah selanjutnya yaitu analisis terhadap proses-proses knowledge management yang sudah ada di Politeknik LP3I Jakarta Program studi Manajemen Informatika. Hasil dari langkah ini berupa

existing knowledge management process.

Kemudian akan dibandingkan dengan hasil dari analisis faktor kontingensi

Analisis Infrastruktur Knowledge

Management, Pada tahap ini yang dilakukan adalah analisis budaya organisasi dan infrastruktur teknologi informasi knowledge management yang akan dibangun guna mendukung system informasi yang diperlukan oleh organisasi dalam memfasilitasi knowledge management.

Perancangan Model Knowledge

Management system, Langkah ini yaitu melakukan perancangan model KMS bagi Politeknik LP3I Program studi Manajemen Informatika. Perancangan ini didasarkan dari hasil analisis faktor kontingensi dan

existing knowledge management process.

Metode yang diguanakan yaitu perbandingan dari hasil analisis factor kontingensi dan existing knowledge management process. Hasil dari langkah

ini adalah model KMS

Pembuatan Prototipe KMS, Langkah ini yaitu mambuat prototype

knowledge management system Materi Perkuliahan di Politeknik LP3I Jakarta

Program studi Manajemen Informatika, tahapan prototipe ini dengan merancang kebutuhan sistem, infrastruktur sistem, dan tampilan prototipe. Proses pembuatan ini berdasarkan dari model KMS yang didapat dari proses sebelumnya yaitu perancangan model KMS. Hasil dari proses ini adalah

prototype knowledge management system

materi perkuliahan.

Pengujian Prototipe KMS, Langkah selanjutnya adalah dengan melakukan pengujian terhadap prototype

Knowledge Management System Materi

Perkuliahan yang telah didapat dari proses sebelumnya. Pengujian yang dilakukan adalah dengan mencoba melakukan

(7)

34 proses-proses KM yang didukung oleh

prototype Knowledge Management System

Materi Perkuliahan. Hasil dari proses ini adalah KMS yang sudah diuji dan dapat diususlkan kepada Politeknik LP3I Jakarta.

ANALISA DAN PEMBAHASAN Analisis Skenario Knowledge

Management System

Untuk merumuskan sebuah

knowledge pada sistem ini perlu dilakukan

daur dari proses knowledge management yang terdiri dari 4 (empat) tahapan yang sesuai dengan model SECI Nonaka, berikut ini adalah hubungan antara membuat dan merumuskan sebuah

knowledge.

Gambar 5

Model SECI KMS materi perkuliahan

1. Sosialisasi

Pada proses sosialisasi dilakukan dengan cara mewawancarai para dosen pengajar khususnya program studi management informatika, wawancara tersebut dilakukan kepada 12 orang dosen,Hasil dari wawancara tersebut disimpulkan bahwa perlu dibangunnya

knowledge sharing dengan media forum

diskusi 2. Ekternalisasi

Proses ini dilakukan dengan cara mendokumentasikan hasil wawancara ke dalam bentuk dokumen atau hasil rapat kedalam notulen rapat ( tacit ke ekplisit) kemudian didokumentasikan ke dalam bentuk elektronik sehingga dapat dipublikasikan kepada yang berkepentingan

3. Kombinasi

Proses kombinasi adalah proses yang dilakukan untuk mengubah knowledge yang bersifat explicit menjadi explicit. Fitur yang mendukung proses ini adalah manajemen dokumen seperti menu

searching agar dosen yang lain dapat

mencari dan mengambil explicit knowledge yang ada kemudian setelah

dilakukan perubahan-perubahan tertentu dapat pula memberikan explicit knowledge yang baru ke satu lokasi yang dapat diakses oleh dosen yang lain 4. Internalisasi

Proses internalisasi adalah proses untuk dapat mengubah knowledge yang bersifat explicit menjadi tacit. Fitur yang dapat mendukung proses ini adalah diskusi elektronik (forum) dan manajemen dokumen seperti menu untuk proses internalisasi ddapat dimudahkan dengan adanya forum karena semua knowledge, ide dan pengalaman dari dosen dapat di share sehingga menjadi knowledge baru untuk dosen lain. Manajemen dokumen juga dapat dengan mudah mencari atau mendapatkan lesson learned yang sudah terdokumentasi di satu lokasi penyimpanan tersebut

Berikut ini adalah beberapa aksi yang dapat dipakai pada teknologi yang mendukung proses knowledge management.

Untuk mengatur hak akses terhadap pengguanaan aplikasi ini maka ditambahkan fitur tambahan yaitu user

management sebagai modul yang berfungsi untuk mengontrol akses terhadap fasilitas-fasilitas yang ada. Hanya yang berstatus administrator saja yang mempunyai akses penuh dalam sistem ini. Perancangan Sistem, Prototipe Model dan Pengujian Sistem Perancangan Sistem

Berdasarkan hasil analisis proses

knowledge management dan teknologi

yang akan didapatkan, maka langkah berikutnya adalah membuat rancangan

(8)

35

knowledge management system materi

perkuliahan pada Program studi manajemen Informatika di Poloiteknik LP3I Jakarta. Gambar diniadalah rancangan knowledge management system materi perkuliahan.

Gambar 6

Rancangan Model KMS Materi Perkuliahan

Jadi perancangan knowledge management system materi perkuliahan

adalah terdiri dari modul diskusi chat, modul manajemen dokumen, modul manajemen user. untuk mendukung proses KM sosialisasi, ekternalisasi, kombinasi dan internalisasi. Knowledge Respository adalah tempat untuk menyimpan semua

knowledge yang ada, baik yang berupa

dokumen, file, hasil diskusi, data elektronik, dan lain-lain. Tipe dokumen dapat bermacam-macam, misalnya : .pdf, .doc, .txt, dan lain-lain.

Desain dan Implementasi KMS

Setelah model KMS didapat, maka langkah selanjutnya adalah membuat desain dan implementasi KMS. Adapun langkah-langkanya adalah sebagai berikut :

1. Analisis Kebutuhan Sistem

Pada tahap pembuatan prototipe

Knowledge Management System Materi

Perkuliahan ini menggunakan pendekatan desain dan analisis berorientasi objek atau objek oriented

analysis and design (OOAD) dengan

menggunakan notasi Unified Modeling

Language (UML). Pada tahap ini

dilakukan analisis pengumpulan kebutuhan elemen-elemen di tingkat

aplikasi. Dengan analisis ini akan ditentukan domain-domain data atau informasi, fungsi, proses, atau prosedur yang diperlukan beserta unjuk kerja dan antar muka. Hasil akhir dari tahapan ini adalah prototipe KMS materi perkuliahan

2. Kebutuhan fungsional Knowledge

Management System

Berdasarkan model KMS yang telah didapatkan sebelumnya, maka kebutuhan fungsional dari KMS materi Perkuliahan adalah dosen sebagai user dapat melakukan diskusi elektronik melalui home , management dokumen, unduh dokumen, kelola pesan. sedangkan admin dapat melakukan diskusi elektronik melalui home , management dokumen, unduh dokumen, kelola pesan, management dosen, Kebutuahan fungsioanal tersebut dapat dilihat pada gambar 7.

Gambar 7

Use case diagram KMS Materi Perkuliahan

a. Activity diagram upload dan unduh file

Diagram ini memungkinkan dosen sebagai pengguna untuk dapat melakukan menambah dan mengunduh file. aktivitas yang dilakukan dapat dilihat pada gambar 8.

(9)

36

Gambar 8

Activity diagram upload dan unduh file b. Activity diagram chat

Diagram ini menggambarkan user dapat melakukan diskusi dengan admin dan user lainnya. sehingga tercipta sharing knowledge antara pengguna. aktivitas yang dilakukan dapat dilihat pada gambar 9.

Gambar 9 Activity diagram Chat 1) Mengelola diskusi Elektronik (chat)

Modul ini memungkinkan dosen sebagai pengguna untuk dapat melakukan diskusi dengan pengguna lainnya sehingga tercipta sharing knowledge antara pengguna.

Pada saat menggunakan modul ini user harus melakukan login terlebih dahulu. Setelah login maka user bisa memilih forum yang akan diikuti. Setelah itu akan muncul opsi pilihan untuk membuat threat baru, mengikuti forum diskusi yang diinginkan. Kemudian

user bisa membalas atau mengisi komentar untuk forum yang telah dipilih. Jika selesai user bisa kembali ke menu utama pada sistem.

2) Mengelola Dokumen

Modul ini dapat digunakan untuk mengelola dokumen yang dibutuhkan oleh user sehingga knowledge yang diperlukan bias lebih mudah diakses.

Pada saat menggunakan modul ini user harus melakukan login terlebih dahulu, setelah itu user memilih fitur dokumen kemudian bisa menggunakan beberapa fitur dalam dokumen yakni:

a. Melakukan upload dokumen User bisa melakukan tambah dokumen dengan memilih opsi tambah dokumen, setelah itu mengisi detil dokumen dan kemudian memilih dokumen yang akan diupload, setelah itu dokumen sudah bias dibagikan sebagai knowledge yang baru b. Melakukan cari dokumen

User juga bisa mengunakan opsi cari dokumen sesuai dokumen yang dibutuhkan oleh user, dengan mengisi form cari dokumen kemudian pilih cari maka aplikasi akan memunculkan opsi yang mendekati dari kata yang dicari

b. Melakukan unduh dokumen Setiap user juga bisa menggunakan fitur unduh dokumen untuk menyimpan knowledge dalam device masing-masing, sehingga knowledge bisa mudah digunakan.

3) Mengelola User

Modul ini memungkinkan user yang telah terdaftar dalam knowledge

management system untuk

(10)

37 hanya bisa digunakan oleh

admninistrator. c. Activity diagram chat

Diagram ini menggambarkan user dapat melakukan diskusi dengan admin dan user lainnya. sehingga tercipta sharing knowledge antara pengguna. aktivitas yang dilakukan dapat dilihat pada gambar 10.

Gambar 10

Activity diagram Chat

1) Mengelola diskusi Elektronik (chat) Modul ini memungkinkan dosen sebagai pengguna untuk dapat melakukan diskusi dengan pengguna lainnya sehingga tercipta sharing knowledge antara pengguna.

Pada saat menggunakan modul ini user harus melakukan login terlebih dahulu. Setelah login maka user bisa memilih forum yang akan diikuti. Setelah itu akan muncul opsi pilihan untuk membuat threat baru, mengikuti forum diskusi yang diinginkan. Kemudian user bisa membalas atau mengisi komentar untuk forum yang telah dipilih. Jika selesai user bisa kembali ke menu utama pada sistem 2) Mengelola Dokumen

Modul ini dapat digunakan untuk mengelola dokumen yang dibutuhkan oleh user sehingga knowledge yang diperlukan bias lebih mudah diakses.

Pada saat menggunakan modul ini user harus melakukan login terlebih

dahulu, setelah itu user memilih fitur dokumen kemudian bisa menggunakan beberapa fitur dalam dokumen yakni. a. Melakukan upload dokumen

User bisa melakukan tambah dokumen dengan memilih opsi tambah dokumen, setelah itu mengisi detil dokumen dan kemudian memilih dokumen yang akan diupload, setelah itu dokumen sudah bias dibagikan sebagai knowledge yang baru.

b. Melakukan cari dokumen

User juga bisa mengunakan opsi cari dokumen sesuai dokumen yang dibutuhkan oleh user, dengan mengisi form cari dokumen kemudian pilih cari maka aplikasi akan memunculkan opsi yang mendekati dari kata yang dicari c. Melakukan unduh dokumen

Setiap user juga bisa menggunakan fitur unduh dokumen untuk menyimpan knowledge dalam device masing-masing, sehingga knowledge bisa mudah digunakan.

3) Mengelola User

Modul ini memungkinkan user yang telah terdaftar dalam knowledge

management system untuk

menggunakan fitur yang ada. Fitur ini hanya bisa digunakan oleh admninistrator.

a. Class Diagram

Gambar 11

Class Diagram KMS Materi Perkuliahan 3. Kebutuhan Non-Fungsional

(11)

38 a. Kebutuhan Operasional

KMS yang digunakan merupakan aplikasi yang dibuat berbasis web yang ditempatkan pada jaringan di Politeknik LP3I Jakarta. Sedangkan untuk operasional browsernya dibutuhkan yang sudah terintegrasi dengan flash player 10 dan xampp. Jika dapat diterapkan sebenarnya , sistem ini diharapkan dapat ditempatkan pada jaringan internet dilihat dari kesibukan para dosen yang tidak selalu berada di kampus.

b. Kebutuhan Keamanan Sistem Sistem berbentuk forum ini sebenarnya belum teruji bagaimana keamanan datanya ,akan tetapi dengan pengguanaan sistem login dan adanya administrator sudah menjadi ketentuan dasar sebuah aplikasi dalam hal keamanan sistem. Dari segi keamanan jaringan, Politeknik LP3I Jakarta sudah menerapkan sistem keamanan tersendiri.

c. Kebutuhan Performansi

Untuk penggunaan forum yang merupakan aplikasi berbasis web, tidak perlu menggunakan bandwith yang besar, kebutuhan forum biasanya hanya membutuhkan kecepata bandwith

sekitar 512 KB/s, tetapi jika menggunakan conference sebagai aplikasi yang berbasis web dan menerapkan penggunaan fitur audio video, performa yang digunakan akan menjadi lebih besar dalam penggunaannya, penggunaan fitur audio akan mengonsumsi bandwith lebih banyak daripada percakapan berbasis teks, oleh sebab itu disertakan fitur chat yang sederhana agar para anggota dapat langsung berinteraksi.

d. Budaya Knowledge Sharing

Penerapan Knowledge Management System ini akan menjadi

tidak efektif jika semua pihak yang terkait dengan pembangunan knowledge tidak ikut terlibat. Keterlibatan dalam membangun database knowledge ini dapat dilakukan dengan cara terus menerus menggunakan knowledge management system ini sebagai media

penyebaran knowledge dengan sesama

user .

e. Perancangan basis data

Rancangan Entity Relationship Diagram (ERD) pada prototipe

Knowledge Management System materi

perkuliahan ini seperti pada gambar 12 dibawah ini.

Gambar 12 Rancangan basis data KMS

4. Pembuatan Prototipe Knowledge Management System Materi Perkuliahan

Prototipe dari knowledge management sistem ini dibuat menggunakan php flatform, alas an dari penggunaan flatform ini adalah karena dapat diintegrasikan dengan berbagai komponen plugins yang sesuai dengan web based dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan sistem yang ada pada bagian akademik dimasa yang akan dating .

1. Infrastruktur Knowledge

management System

Penerapan KMS menggunakan model client-server dimana aplikasi diletakan pada suatu server tersendiri agar mudah dipelihara. Untuk

(12)

39 mengakses aplikasi ini ini client

membutuhkan web browser yang telah mendukung teknologi adobe flash., kebutuhan minimum hardware dan software KMS adalah sebagai berikut :

a.

Server

Tabel 2

Kebutuhan Minimum Server Hardware Software CPU : intel Pentium 4,2 GHz (PC) OS : MS Windows XP SP2, MS Windows server 2003, Debian Linux CPU : Intel core 2 Duo 2 GHz Windows XP SP2, Windows Seven 500 MB free disk space PHP 5 Plugins : Xampp Adobe Dream Weaver CS3 Wireless / LAN Card b. Client Tabel 3

Kebutuhan Minimum Client Hardware Software CPU : intel Pentium 4 celeron 2,4 GHz(PC) OS : MS Windows XP SP2 CPU : Intel core 2 Duo 2 GHz Windows XP SP2 Memory : 2 GB Web Browser dengan adobe flash player, Xampp LAN Card atau Wifi Loudspeaker 2. Tampilan Layar

Pada aplikasi Knowledge Management system Materi perkuliahan ini ada beberapa menu yang bisa digunakan oleh user untuk melakukan knowledge sharing antara

lain : Home , Dokumen, dan menu Dosen. Didalam menu dterdapat beberapa fasilitas pencarian untuk memudahkan user dalam mencari knowledge yang dibutuhkan. Dibawah ini adalah tampilan struktur menu pada aplikasi KMS Materi Perkuliahan.

(13)

40

Gambar 13

Menu Knowledge Management System

Gambar diatas menerangkan bahwa pada saat aplikasi kms ini dibuka terdapat 3 buah menu yaitu Home, Dokumen dan dosen. Dimana didalam menu home, dosen sebagaia user bisa melakukan registrasi kemudian setelah registrasi user tersebut bisa melakukan login dengan menggunakan username dan password yang dibuat pada saat registrasi. Setelah berhasil login maka user bisa melakukan beberapa hal, diantaranya : mengupload dokumen, unduh dokumen, upload file video, unduh video serta melakukan chat dengan sesame dosen sebagai user. Adapun admin selain dari melakukan hal tersebut bisa juga melihat data dosen/list dosen yang ada

5. Hasil Pengujian Dengan ISO 9126 Pada pengujian kualitas ISO 9126 ini akan dibagi menjadi dua bagian, yaitu tingkat kualitas masing-masing aspek berdasarkan empat karakteristik ISO 9126 dan tingkat kualitas secara kesuluruhan dari empat karakteristik ISO 9126. Dari 10 responden yang mengisi kuesioner untuk pengujian kualitas perangkat lunak untuk implementasi prototipe knowledge management system materi perkuliahan.

Berdasarkan jawaban responden terhadap indikator kualitas software menurut ISO

9126 dapat diukur dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan :

1. Skor aktual adalah jawaban seluruh responden atas kuisioner yang telah diajukan.

2. Skor ideal adalah nilai tertinggi atau semua responden diasumsikan memilih jawaban dengan skor tertinggi.

Selanjutnya hasil tersebut akan diolah dan dihitung dengan kriteria yang telah ditetapkan sebagai berikut:

Tabel 4

Kriteria presentase tanggapan responden

% Jumlah Skor Kriteria

<20% Sangat Tidak Baik 20,00% - 36,00% Tidak Baik 36,01% - 52,00% Kurang Baik 52,01% - 68,00% Cukup 68,01% - 84,00% Baik 84,01% - 100% Sangat Baik

Catatan : batas bawah 20% diperoleh dari 1/5 dari batas 100%

Tingkat Kualitas Perangkat Lunak Per Aspek

a) Aspek Functionality

Berikut tanggapan responden terhadap

functionality(fungsionalitas)

implementasi prototipe knowledge management system materi perkuliahan

dapat kita lihat pada tabel 5 di bawah ini:

Tabel 5

Tanggapan responden berdasarkan aspek functionality

(14)

41

Pada tabel di atas dapat dilihat mayoritas responden setuju bahwa prototipe knowledge management system materi perkuliahan memiliki functionality (fungsionalitas) yang sangat baik sesuai dengan fungsi-fungsi yang dimilikinya. Persentase skor tanggapan responden sebesar 89,20% berada dalam kriteria sangat baik.

b) Aspek Reliability

Berikut tanggapan responden terhadap reliability(kehandalan)

implementasi prototipe knowledge management system materi perkuliahan

dapat kita lihat pada tabel 6 di bawah ini.

Tabel 6

Tanggapan responden berdasarkan aspek reability

Pada tabel di atas dapat dilihat mayoritas responden setuju bahwa implementasi prototipe knowledge management system materi perkuliahan

memiliki reliability (kehandalan) yang sangat baik sesuai dengan fungsi-fungsi yang dimilikinya. Persentase skor tanggapan responden sebesar 87,33% berada dalam kriteria sangat baik.

c) Aspek Usability

Berikut tanggapan responden terhadap usability (kebergunaan) implementasi prototipe knowledge management system materi perkuliahan

dapat kita lihat pada tabel 7 di bawah ini.

Tabel 7

tenggapan responden berdasarkan aspek usability

Pada tabel di atas dapat dilihat mayoritas responden setuju bahwa implementasi prototipe knowledge management system materi perkuliahan

memiliki usability (kebergunaan) yang sangat baik sesuai dengan fungsi-fungsi yang dimilikinya. Persentase skor tanggapan responden sebesar 87,00% berada dalam kriteria sangat baik.

d) Aspek Efficiency

Berikut tanggapan responden terhadap efficiency (efisiensi) implementasi prototipe knowledge management system materi perkuliahan

dapat kita lihat pada tabel 8 di bawah ini.

Tabel 8

(15)

42

Pada tabel di atas dapat dilihat mayoritas responden setuju bahwa implementasi prototipe knowledge management system materi perkuliahan

memiliki efficiency (efisiensi) yang sangat baik sesuai dengan fungsi-fungsi yang dimilikinya. Persentase skor tanggapan responden sebesar 89,00% berada dalam kriteria sangat baik.

e) Tingkat Kualitas Perangkat Lunak Keseluruhan

Berdasarkan analisis data yang diperoleh dari kuisioner, berikut rekapitulasi hasil pengujian kualitas berdasarkan empat aspek kualitas perangkat lunak ISO 9126:

Tabel 9

hasil pengujian kualitas ISo 9126

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat kualitas implementasi pada prototipe ini secara keseluruhan dalam kriteria sangat baik, dengan persentase 88,14%. Aspek kualitas tertinggi adalah berdasarkan aspek

Functionality dengan persentase sebesar

89,20%, sedangkan aspek kualitas terendah adalah dari aspek Usability dengan presentase sebesar 87,00%.

6. Implikasi Penelitian

Sebagai suatu penelitian yang dilakukan di Politeknik LP3I Program Studi manajemen Informatika, maka kesimpulan yang ditarik tentu memiliki implikasi dalam bidang pendidikan dan juga penelitian-penelitian selanjutnya, sehubungan dengan hal tersebut maka implikasi adalah sebagai berikut:

a. Aspek Sistem

Hasil yang didapat pada penelitian ini adalah berupa pemodelan dan bentuk prototipe, dengan demikian penyempurnaan kebutuhan dalam pembuatan KMS di penelitian selanjutnya akan lebih dilengkapi dengan perkembangan yang jauh lebih baik hasilnya,sehingga dimasa depan terdapat penerapan knowledge management yangsudah berjalan lebih baik dibandingkan dengan sekarang

Hasil penelitian mengenai bentuk kebutuhan dalam developing

(pengembangan) prototipe knowledge management materi perkuliahan untuk prodi manjemen informatika ternyata didapatkan hasil analisis dari kebutuhan apa

(16)

43 saja yang dibutuhkan untuk

menyelesaikan prototipe KMS ini dalam sebuah bentuk forum dengan kebutuhan yang disesuaikan dengan analisis

Dari sisi sistem informasi. Penerapan KMS ini dapat menjadi jembatan penghubung komunikasi antara dosen di prodi manajemen informatika , baik dosen part time maupun dosen tetap, diharapkan kedepannya aplikasi KMS ini dapat diintegrasikan dengan sistem informasi yang sudah ada karena KMS ini telah menyediakan service yang dapat diakses oleh aplikasi lain

Dalam pelaksanaan kinerja KMS ini dibutuhkan sebuah perencanaan matang dalam pengelolaannya. Seperti dibutuhkan seorang administrator yang berfungsi untuk mengawasi pelaksanaan dalam menjalankan sistem. Hal ini memerlukan waktu yang jauh lebih lama untuk mengetahui uji coba keberhasilan sistem ini benar-benar dapat diketahui apakah efektif atau tidak. Sehingga dalam pelaksanaanya dibutuhkan pengendalian :

1) Pengendalian terhadap hardware a. Memilih sebuah tempat hosting

dengan server yang berkualitas baik, terpercaya dan bertanggung jawab, sehingga jika terjadi kesalahan dapat diselesaikan dengan baik

b. Jika server yang digunakan adalah server pribadi, diharapkan memiliki perawatan yang rutin dan berkala

c. Membuat aturan yang mengatur perawatan hardware sesuai dengan kebutuhan yang dibutuhkan untuk kelancaran sistem.

d. Mebuat siklus peremajaan hardware agar tidak ketinggalan jaman

2) Pengendalian terhadap software a) Membuat aturan-aturan bagi para

user dalam menggunakan sistem, sehingga bentuk isi forum lebih berkualitas

b) Berjalannya system didampingi oleh seorang admin

c) Admin melakukan pemeriksaan periodik agar tidak terjadi kelebihan muatan atau over posting

d) Perlu adanya perpindahan dan penimpanan data secara berkala (repository) agar data dan semua

knowledge yang ada tidak hilang. b. Aspek Manajerial

Sistem yang dikembangkan perlu adanya komitment dari semua pihak untuk menggunakan sistem tersebut, paling tidak yang pertama kali harus diperhatikan adalah adanya kesungguhan dari pihak manajemen untuk segera mengeluarkan kebijakan agar keikutsertaan organisasi untuk mengembangkan sebuah budaya

knowledge sharing organisasi itu

dapat terwujud.

c. Aspek Penelitan Lanjut

Penelitain ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi penelitian selanjutnya yang akan mengembangkan lebih lanjut dari hal-hal yang tidak atau belum dilakukan dalam penelitian ini, diantaranya :

a. Pengembangan sistem ditingkatkan pada skala penerapan yang tidak hanya berkenaan dengan materi perkuliahan.

b. Hendaknya periode penelitian diperpanjang sehingga knowledge yang dimiliki oleh setiap pengguna dapat diterima dengan jelas.

(17)

44 7. Rencana Implementasi

Rencana Implementasi sistem adalah sebagai berikut

1. Pemilihan operator , operator salah satu peranan penting dalam penerapan system baru, dimana tanpa adanya operator dan programmer, sistem baru yang dirancang tidak akan dapat diimplementasikan.

2. Konstruksi sistem , yaitu persiapan ruang, hardware dan software. Ruang yang disiapkan mulai dari meja computer, internet sampai dengan web hosting sebagai tempat aplikasi ditanamkan. Hardware yang disiapkan besirupa PC, wifi router dll.

3. Instalasi sistem, yaitu instalasi hardware dan software sesuai dengan rancangan

4. Pelatihan user, pelatihan user dilakukan dengan cara mengumpulkan user untuk mencoba penggunaan system dan sosialisasi. 5. Ujicoba sitem baru, pengujian sistem

harus dilakukan untuk mengetahui apakah sistem yang barau tersebut sesuai dengan system yang direncanakan atau tidak.

6. Evaluasi sistem, untuk mengetahui hasil dari sistem yang telah dibuat apakah sesuai dengan rancangan atau tidak.

7. Perbaikan system, dilakukan setelah adanya pengujian dan berdasarkan evaluasi masih ada kekurangan atau ketidaksesuaian dengan rancangan system.

8. Penerapan system, setelah semua sesuai dengan rancangan barulah system KMS materi perkuliahan ini diterapkan pada Program Studi Manajemen Informatika di Politeknik LP3I Jakarta.

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan analisis dan kajian yang dilakukan di Politeknik LP3I Jakarta program studi Manajemen informatika dapat ditarik kesimpulan bahwa prototipe

Knowledge Management System (KMS)

materi perkuliahan yang dibangun dan diterapkan dengan diskusi elektronik (chat) dapat memberikan solusi yang efektif dalam upaya meningkatkan budaya sharing dan memudahkan pengguna khususnya untuk melakukan Knowledge

Sharing .

Untuk merumuskan sebuah

knowledge pada sistem ini perlu dilakukan

daur dari proses knowledge management yang terdiri sosialisasi, ekternalisasi, kombinasi, dan internalisasi.

Pada tahap pembuatan prototipe

Knowledge Management System Materi

Perkuliahan ini menggunakan pendekatan desain dan analisis berorientasi objek atau

objek oriented analysis and design

(OOAD) dengan menggunakan notasi

Unified Modeling Language (UML).

Berdasarkan model KMS yang telah didapatkan sebelumnya, maka kebutuhan fungsional dari KMS materi Perkuliahan adalah dosen sebagai user dapat melakukan diskusi elektronik melalui home , management dokumen, unduh dokumen, kelola pesan. sedangkan admin dapat melakukan diskusi elektronik melalui home , management dokumen, unduh dokumen, kelola pesan, management dosen.

KMS yang digunakan merupakan aplikasi yang dibuat berbasis web yang ditempatkan pada jaringan di Politeknik LP3I Jakarta. Sedangkan untuk operasional browsernya dibutuhkan yang sudah terintegrasi dengan flash player 10 dan xampp. Jika dapat diterapkan sebenarnya , sistem ini diharapkan dapat ditempatkan pada jaringan internet dilihat dari kesibukan para dosen yang tidak selalu berada di kampus

Pengujian yang dilakukan kepada para dosen dengan berpacu pada standard ISO 9126 menunjukan bahwa tingkat

(18)

45 kualitas implementasi pada prototipe ini

secara keseluruhan dalam kriteria sangat baik, dengan persentase 88,14%. Aspek kualitas tertinggi adalah berdasarkan aspek

Functionality dengan persentase sebesar

89,20%, sedangkan aspek kualitas terendah adalah dari aspek Usability dengan presentase sebesar 87,00%.

Saran

Agar penerapan prototype KMS materi perkuliahan ini berjalan dengan baik, maka penulis menyarankan :

1. Dari segi Manajerial, sebaiknya ada kesungguhan dari pihak manajemen untuk segera mengeluarkan kebijakan kepada semua pihak untuk menggunakan sistem tersebut, agar keikutsertaan organisasi untuk mengembangkan sebuah budaya

knowledge sharing organisasi itu

dapat terwujud.

2. Dari segi sistem, sebaiknya disediakan media penyimpanan data yang mencukupi untuk menghindari over loaddata, serta melakukan penyesuaian fitur aplikasi sesuai teknologi yang berkembang sehingga aplikasi ini terus mengalami upgrade sesuai dengan perkembangan teknologi.

3. Untuk penelitian lebih lanjut, disarankan agar peneliti berikutnya bisa melakukan penelitian untuk mengukur presentase penggunaan aplikasi knowledge management system materi perkuliahan ini serta

melakukan penelitian lanjutan untuk menmgukur tingkat kebutuhan yang lebih komplek dari penggunaan aplikasi ini, tidak hanya mencakup materi perkuliahan tapi juga bidang-bidang yang lainnya. Hendaknya periode penelitian diperpanjang sehingga knowledge yang dimiliki oleh setiap pengguna dapat diterima dengan jelas.

DAFTAR PUSTAKA

Becera., et.al., “Knowledge Management” http://

wps.prenhall.com/bp_becerra_km _1/0,9020,1264561-,00.html <sitasi>, 23 Oktober 2010.

Bell, Housel., “Measuring and Managing Knowledge Management”. Singapore:McGraw Hill, 2001. Burk, M., “Knowledge Management :

Everyone Benefit by Sharing Infornation”. Federal Highway Administration, US Departement of Transportation, 1999.

Cole, Stephen., “Making Science ; Between Nature and Society Cambrige”, Mass : Harvard University Press, 1992.

Davidson, Carl and Philip Voss, “Knowledge Management : An Introduction to creating a competitive Advantage from intellectual capital”, Vision Book, New Delhi, India, 2003.

Davenport, Thomas H and Prusak, “Working Knowledge: How Organization Manage what they know”.Boston: Harvard Business School Press,1998.

Dunamis., “Successful Implementation of KM in Indonesia”. Jakarta : Dunamis Publishing, 2013.

Janszen, Felix. “The Age of Innovation: Making Business Creativity a Competence Not a Coincidence”. London: Pearson Education Limited, 2000.

Gunadarma, “Teknik Sampling” http://www.goegle.com/peni.staff.g unadarma.ac.id, 29 Desember 2013.

(19)

46 Handi Aditya Kurniawan, “Software

Quality Assurance”. Surabaya:

Institut Negeri Surabya,2007. Moedjiono., “ pedoman penelitian,

penyusunan dan penilaian tesis (V.5).” Slide materi kuliah: Universitas budi luhur, oktober 2012.

Nonaka, Ikujiro and Takeuchi, Hirotaka., “The Knowledge Creating Company: How Japanese Companies Cretae the Dynamic of Innovation”. Oxpord: Oxpord University Press, 1995.

Pressman, B. “Software Engineering”. McGraw-Hill, 2005.

Saputro, Ari., “Pemodelan Dengan Prototype Knowledge Management System Materi Ajar : Studi Kasus Fakultas Teknologi Informasi Universitas Budi Luhur”. Tesis Diss., Universitas Budi Luhur, 2013

Setiarso, Bambang., et.al., “Penerapan Knowledge Management pada Organisasi”.1st

ed.,Yogyakarta:Graha Ilmu, 2009. Seppewali, Andi., “prototype mobile

knowledge management system berbasis android :studi kasus PT Pesona Eduikas”. Tesis Diss., Universitas Budi Luhur, 2013. Setiarso, Bambang., “Knowledge Sharing

in Organizations: model and mechanism”. Kualalumpur

(Malaysia): Special Library Conference (Slib 2005), May 15-17,2005.p 14.

Setiawan, Wawan dan Munir, “Pengantar teknologi informasi: Basis Data”, Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia,2006.

Shahidi Nazir Blatti, J. Kepler, “ISO 9126

Software Quality

Matrics(Functionality) Support by UML Suite”, ACM Sigsaf Software Enginering Vol.30: 02, University Linz, Maret 2005

Tiwana, A., “Knowledge Management Toolkit”. New Jersey: Prentice Hall,1999.

Vercellis , Carlo, “Business intelligence : data maining and optimalization for decision making” , Chicester: John Willey & Son, 2009.

Widiambodo, Ariadita., “Prototype KMS berbasis sacial network sites : SK direktorat pembinaan pendidikan khusus dan layanan khusus

penedidikan menengah

kemdikbud”. Tesis Diss., Universitas Budi Luhur, 2013.

[Webs 2013] Carawebs, ”Apa itu PHP”, http://www.carawebs.info/2013/04/apa-itu-php.html ,.28 April 20013.

Gambar

tabel berikut.
Gambar 4  Kerangka Pemikiran
Gambar 4   Langkah Penelitian
Diagram  ini  menggambarkan  user  dapat  melakukan  diskusi  dengan  admin  dan user lainnya
+4

Referensi

Dokumen terkait

Pada saat ini, tingkat persaingan industri sepeda motor khususnya jenis skuter matik mengalami persaingan yang tinggi. Kondisi pasar saat ini menuntut adanya perubahan yang

Dengan model berbasis murni akrual, pencatatan selama periode berjalan atas pembayaran (penerimaan) kas di muka diperlakukan sebagai aset (liabilitas).. Di akhir periode,

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, selaku guru pendidik yang melakukan pengajaran di sekolah, tidak ada salahnya kalau kaulinan barudak ini menjadi sumber

Anda dapat menggunakan monitor dengan model atau resolusi berbeda dalam rutinitas harian Anda, dan Anda dapat menerapkan tata letak jendela yang berbeda pada monitor tersebut.

Mata Pelajaran Nilai Rata-rata Rapor1. Nilai

Pada penelitian ini dilakukan penyembunyian pesan teks dengan teknik watermarking ke dalam media citra (cover image) dengan algoritma Discrete Cosine Transform

Tarwoto (2010) menambahkan bahwa perilaku seks pranikah dipengaruhi oleh adanya dorongan biologis, ketidakmampuan mengendalikan dorongan biologis, kurangnya pengetahuan

Selanjutnya kurangnya motivasi siswa dalam mengerjakan tugas sekolah menggunakan teknologi yang ada dan Kurangnya peran guru ataupun orang tua dalam mengkontrol