• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1.1. Latar Belakang Masalah

Peningkatan teknologi informasi dan tranportasi dewasa ini menimbulkan terjadinya peningkatan arus migrasi antar negara yang dapat memberikan dampak positif dan negatif. dampak positif antara lain seperti modernisasi masyarakat serta mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara.dampak negatf arus migrasi adalah adalah munculnya tindak pidana keimigrasian seperti penyelundupan orang, pemalsuan dokumen keimigrasian dan penyalahgunaan ijin keimigrasian, bahkan dewasa ini kejahatan di bidang keimigrasian sudah lebih berkembang dari yang tidak terorganisasi menjadi yang terorganisasi (organized crime).

Dalam kaitannya memaksimalkan dampak positif dan dan meminimalkan dampak negatif dari arus migrasi ke dan dari wilayah Indonesia diperlukan suatu penegakan hukum keimigrasian yang baik dan mampu memberikan efek jera bagi para pelaku tindak pidana keimigrasian sehingga mengurangi damapk negatif arus migrasi.

Akhir-akhir ini media massa sering menyuguhkan pemberitaan mengenai maraknya penyelundupan orang, penjualan bayi keluar negeri, pemalsuan paspor dan visa, masalah kewarganegaraan, penyalahgunaan ijin keimigrasian dan berbagai macam kejahatan lintas negara yang kesemuanya itu tergolong ke dalam tindak pidana keimigrasian. Pada Kantor Imigrasi Klas I Soekarno-Hatta sebagai Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI), sering ditemukan pelanggaran dan tindak kejahatan di bidang keimigrasian, namun sayangnya masih banyak kasus-kasus yang muncul tidak dapat yang diangkat ke tingkat pengadilan. Secara garis besar, hal ini disebabkan tingginya pilihan terhadap proses tindakan administrasi; struktur organisasi yang tidak mendukung dalam melakukan penyidikan tindak pidana keimigrasian; dan kurang koordinasi antara penyidik Polri dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil Imigrasi

(2)

(PPNS) di bidang keimigrasian, sehingga tindakan pro yustisia sebagai penegakan hukum di bidang keimigrasian masih tidak menjadi pilihan meskipun Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 telah mengatur ketentuan pidana dan penegakan hukum pidana dengan merujuk pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

Di dalam Pasal 47 ayat (1) Undang-undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian, menyatakan bahwa selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, juga Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan keimigrasian diberi wewenang khusus sebagai Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana , untuk melakukan penyidikan tindak pidana keimigrasian. Sesuai ketentuan Pasal 7 ayat (2) Penyidik Pegawai Negeri Sipil dalam melakukan penyidikan tindak pidana berada di bawah koordinasi dan pengawasan Penyidik Kepolisian Republik Indonesia, bentuk koordinasi dan pengawasan tersebut disebutkan dalam Pasal 107 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) Hukum Acara Pidana , yaitu :

Pasal 107 ayat (1)

Untuk kepentingan penyidikan, Penyidik Kepolisian Republik Indonesia memberikan petunjuk kepada Penyidik pegawai negeri sipil dan memberikan bantuan penyidikan yang diperlukan,

Pasal 107 ayat (2)

Penyidik pegawai negeri sipil melaporkan kepada Penyidik Kepolisian Republik Indonesia tentang adanya suatu tindak pidana yang sedang disidik, jika dari penyidikan itu oleh Penyidik pegawai negeri sipil ditemukan bukti yang kuat untuk mengajukan tindak pidananya kepada penuntut umum.

Pasal 107 ayat (3)

Penyidik pegawai negeri sipil jika telah selesai melakukan penyidikan, hasil penyidikan tersebut harus diserahkan kepada penuntut umum melalui Penyidik Kepolisian Republik Indonesia .

(3)

Dalam melakukan penyidikan, Penyidik Pegawai Negeri Sipil Imigrasi bertanggung jawab secara yuridis atas tindakan penyidikan yang dilakukannya sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku sedangkan. tanggung jawab kedinasan dilaksanakan secara hierarki dalam hal ini Direktur Jenderal Imigrasi dapat memberikan petunjuk, pengarahan dan mendukung kegiatan penyidikan dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana keimigrasian. Penyidik Pegawai Negeri sipil (PPNS) Imigrasi juga diharuskan melakukan koordinasi dengan instansi dan badan pemerintah yang terkait dalam hal pelaksanaan tugas pengawasan terhadap kegiatan dan keberadaan warganegara asing yang dilakukannya, diantaranya dengan Departemen Luar Negeri, Departemen Dalam Negeri, Departemen Pertahanan dan Keamanan, Departemen Tenaga Kerja, Kejaksaan Agung dan bahkan dengan Badan Koordinasi Intelijen Negara.1

Di dalam ketentuan penegakan hukum pidana di bidang keimigrasian terdapat dua cara penyelesaian tindak pidana keimigrasian yaitu melalui tindakan keimigrasian dan melalui pro yustisia. Pelanggaran dan kejahatan di bidang keimigrasian haruslah dapat dicegah dan diberantas melalui penegakan hukum di bidang keimigrasian. Secara yuridis formal tindak pidana keimigrasian adalah setiap perbuatan yang melanggar peraturan keimigrasian berupa kejahatan dan pelanggaran yang diancam hukuman pidana sebagaimana disebutkan dalam Pasal 62 Undang-undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian yang menjelaskan ketentuan-ketentuan tindak pidana keimigrasian yang berupa kejahatan dan tindak pidana keimigrasian yang berupa pelanggaran, yaitu untuk tindak pidana keimigrasian yang diatur dalam Pasal 48, 49, 50, 52, 53, 54, 55, 56, 57, 58 dan Pasal 59 adalah kejahatan, sedangkan tindak pidana keimigrasian yang diatur dalam Pasal 51, 60, 61 adalah pelanggaran. Didalam ketentuan Pidana Undang-undang Nomor 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian terdapat pasal-pasal yang unsur pasalnya mirip dengan unsur pidana pada pidana umum yang terdapat dalam KUHP antara lain, dalam ketentuan ini Undang-Undang

1

Romli Atmasasmita, ”Aspek Hukum Kerjasama Regional Internasional Dalam Rangka

Mengatasi Peningkatan Imigran Gelap”, Laporan Tahap III Penelitian, Badan Pembinaan Hukum

(4)

Nomor 9 Tahun 1992 memberikan kewenangan pada instansi Polri untuk memberikan perijinan berupa pembuatan Surat Keterangan Lapor Diri yang harus dimiliki setiap orang asing yang bekerja di Indonesia sehingga walaupun pelanggaran ketentuan ini merupakan pidana di bidang keimigrasian namun administrasi dan penyidikannya lebih dapat dilakukan oleh Penyidik Polri.

Sebagai bagian dari institusi penegak hukum, maka dasar pemikiran Pegawai Negeri Sipil untuk menjadi Penyidik Pegawai Negeri Sipil harus memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam Peraturan Menteri Kehakiman Republik Indonesia nomor : M-05.PW.07.03 Tahun 1984 tentang Pengusulan Pengangkatan dan Pemberhentian Penyidik Pegawai Negeri sipil seperti yang disebutkan dalam Pasal 1 yaitu : 2

a. Pegawai negeri sipil berpangkat serendah-rendahnya Pengatur Muda tingkat I (golongan II/b) yang bertugas dalam bidang penyidikan sesuai dengan Undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing. b. Berpendidikan serendah-rendahnya Sekolah Lanjutan Tingkat Atas atau

berpendidikan khusus dibidang penyidikan atau khusus dibidang tehnis operasional atau berpengalaman minimal 2 (dua) tahun pada bidang tehnis operasional. Dalam pengangkatan tersebut diutamakan bagai pegawai negeri sipil yang mengikuti pendidikan khusus dibidang penyidikan.

c. Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil (DP3) untuk selama 2 (dua) tahun berturut-turut harus terisi dengan nilai baik dan berbadan sehat yang dinyatakan dengan keterangan dokter.

Kemudian setelah Pegawai Negeri Sipil tersebut diangkat menjadi Penyidik Pegawai Negeri Sipil ditugaskan untuk menegakkan peraturan-peraturan hukum pidana yang mencakup :3

a. Perintah dan larangan yang atas pelanggaran terhadapnya oleh organ-organ yang dinyatakan berwenang oleh Undang-undang dikaitkan (ancaman) pidana; norma-norma yang harus ditaati oleh siapa pun juga;

2

Pasal 1 Peraturan Menteri Kehakiman RI. Nomor : M-05.PW.07.03 Tahun 1984 Tentang

Petunjuk Pelaksanaan Pengusulan Pengangkatan dan Pemberhentian Penyidik Pegawai Negeri Sipil,

Jakarta, 1984..

3

Jan Remmelink, Hukum Pidana: Komentar atas Pasal-Pasal Terpenting dari Kitab

Undang-Undang Hukum Pidana Belanda dan Padanannya dalam Kitab Undang-Undang-Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia, PT Gramedia Utama, Jakarta, 2003, hlm 1.

(5)

b. Ketentuan-ketentuan yang menetapkan sarana-sarana apa yang dapat didayagunakan sebagai reaksi terhadap pelanggaran norma-norma hukum penitensier atau lebih luas yaitu hukum tentang sanksi dan aturan-aturan yang secara temporal atau dalam jangka waktu tertentu menetapkan batas ruang lingkup kerja dari norma-norma. Dengan begitu, hukum pidana (seharusnya) ditujukan untuk menegakan tertib hukum dan melindungi masyarakat hukum.

Proses penyidikan dugaan tindak pidana keimigrasian merupakan serangkaian tindakan penyidik untuk mencari dan mengumpulkan bukti, yang dengan bukti itu membuat terang tentang dugaan tindak pidana keimigrasian yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya, dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana.4 Kewenangan untuk melakukan penyidikan dugaan tindak pidana keimigrasian ini selain dilakukan oleh Penyidik Kepolisian Republik Indonesia juga dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil Imigrasi yang diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b, yaitu Pejabat Pegawai Negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh Undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing.5 Ditambah lagi pemahaman masyarakat tentang tindak pidana keimigrasian masih kurang. Selama ini pemahaman tindak pidana keimigrasian belum memasyarakat, walaupun tindak pidana keimigrasian merupakan hal yang sudah lama dikenal di Indonesia, terutama pada masa akhir Perang Dunia II, kita ketahui pada waktu itu kehidupan ekonomi sosial sangat parah, dimana-mana terjadi kelaparan, kekurangan pangan, perumahan dan kesehatan yang mengakibatkan timbulnya migrasi ilegal dan penjualan manusia. Untuk keadaan pada waktu itu, dapat kita pahami bila terjadi kejahatan keimigrasian yang disebabkan keadaan sosial ekonomi yang sangat buruk disatu sisi; dan tuntutan kehidupan yang layak yang harus dipenuhi di sisi yang lain. Namun masalah menjadi agak lain bila sampai saat ini, dimana reformasi sedang dilakukan dan proses penuntasan praktek korupsi, kolusi, nepotisme dan pelanggaran

4

Republik Indonesia., Petunjuk Pelaksanaan Direktur Jenderal Imigrasi, Nomor : F-337.IL.02.01 Tahun 1995 tentang Tatacara Penyidikan Tindak Pidana Keimigrasian, Jakarta, 1995.

5

Pasal 6 ayat (1) huruf b, Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara

(6)

hukum lainnya sedang menjadi fenomena yang dinantikan masyarakat, dengan keadaan di lapangan banyaknya tindakan kejahatan keimigrasian kian marak terjadi.

Tindakan untuk memberantas tindak pidana keimigrasian, telah dilakukan oleh pemerintah bertahun-tahun termasuk mengubah dan menambah peraturan mengenai delik keimigrasian. Akan tetapi semua usaha yang dilakukan masih kurang berhasil seperti yang diharapkan. Dipandang dari sudut kesadaran hukum masyarakat pada saat ini kesadaran hukum masyarakat untuk menaati atau mematuhi peraturan hukum di bidang keimigrasian masih lemah. Dari segi hukum pidana, tugas memberantas tindak pidana keimigrasian merupakan tugas para penegak hukum yang memakai sarana undang-undang, kewenangan untuk melakukan penyidikan tindak pidana keimigrasian sebelumnya di lakukan oleh pihak Kepolisian Republik Indonesia (Polri) namun demikian tindak pidana keimigrasian masih berlangsung terus. Kekurangpahaman akan tindak pidana keimigrasian membawa dampak negatif terhadap penerapan peraturan tentang tindak pidana keimigrasian, sehingga dalam pelaksanaan masih ditemukan kesenjangan dimana dalam pelaksanaan penyidikan tindak pidana keimigrasian dimungkinkan terjadi tiga penyelesaian penyidikan yaitu :

1. Tindak Pidana keimigrasian ditangani oleh dua penyidik sehingga terdapat dua berkas perkara untuk kasus yang sama.

2. Tindak Pidana keimigrasian ditangani oleh salah satu penyidik

3. Tindak pidana keimigrasian tidak ditangani karena masing-masing penyidik lepas tangan.

Penyidik Pegawai Negeri Sipil Imigrasi adalah penyidik yang berwenang untuk melakukan penyidikan tindak pidana Keimigrasian menurut Undang-Undang Nomor 9 tahun 1992 tentang keimigrasian. Sebagai Penyidik yang berwenang menangani tindak pidana keimigrasian mempunyai tugas yang berat untuk dapat menangani tindak pidana keimigrasian hal ini dikarenakan adanya dualisme pemahaman yang dikandung dalam Undang-Undang Nomor 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian, mengenai penyidik yang berwenang menangani tindak pidana keimigrasian, ditambah pemahaman mayarakat tentang tindak pidana keimigrasian yang masih kurang

(7)

sehingga menuntut peningkatan kemampuan dan profesionalisme dari para Penyidik Pegawai Negeri Sipil Imigrasi. PPNS Imigrasi dalam melaksanakan tugasnya beracara di bidang Keimigrasian selain tunduk pada Undang-Undang Nomor 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian juga tunduk pada Undang-undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana serta peraturan perundang-undangan lainnya. Oleh karena itu diperlukan adanya sinkronisasi dalam menegakkan hukum secara pidana di dalam sistem peradilan pidana Indonesia. Sinkronisasi yang dimaksud menurut

Muladi adalah Sinkronisasi atau keserempakan dalam hal struktural (Structural Syncronization), subtansial (substantial syncronization, dan dapat pula bersifat

kultural (Culrtural syncronization).6 Dalam konsep yang sama, Lawrence M.

Friedman mengemukakan bahwa efektif dan berhasil tindaknya pemindanan sangat

tergantung kepada realitas penegakan hukumnya. Hal ini sangat berkaitan dengan unsur hukum yakni struktural hukum (structure of the law), materi hukum (subtance

of the law), dan budaya hukum (legal culture) dalam sebuah masyarakat. Struktur

hukum menyangkut aparat penegak hukum, kemudian materi hukum meliputi perangkat peraturan perundang-undangan, dan budaya hukum merupakan hukum yang hidup (living law) yang dianut dalam suatu masyarakat, tentang struktur hukum

Friedman menjelaskan :

To begin with, the legal system has the structure of a legal system consist of elemens of the kind, the numberr and size of court; their jurisdiction...., strutcure. Also means how the legislative is organized...., what procedures the police departement follow, and go on, structure is a way is a kind of cross section of a legal system...a kind of still photograpih, with free theaction.7

Yang artinya struktur dari sistem hukum terdiri unsur berikut ini, jumlah dan ukuran pengadilan, yurisdiksinya (termasuk jenis kasus yang mereka periksa), dan tata cara naik banding dari pengadilan ke pengadilan lainnya. Struktur juga berarti

6

Muladi , Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, Semarang, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 1995, hlm.1.

7

Lawrence M. Friedman, American Law , New York, W.W. Norton And Company, 1984, hlm. 5-6.

(8)

bagaimana badan legistlatif ditata, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh Presiden, prosedur apa yang diikuti oleh kepolisian dan sebagainya. Jadi struktur hukum (legal structure) terdiri dari lembaga hukum yang ada dimaksudkan untuk menjalankan perangkat hukum yang ada. Pemahaman tentang substansi hukum adalah berikut :

Another aspect of the system is tis substance. By this means the actual rules, norms behavioral patterns of people inside the system ...the stress here is on living law not just rules in law goods.8

Aspek lain dari sistem hukum adalah substansinya. Yang dimaksud dengan substansi adalah aturan, norma dan pola perilaku nyata manusia yang berada dalam sistem itu. Jadi substansi hukum (Legal substantion) menyangkut peraturan perundang-undangan yang berlaku yang memiliki kekuatan yang mengikat dan menjadi pedoman bagi aparat penegak hukum. Selain perlu ada sinkronisasinya dalam segi struktural dan substansial antara Penyidik pegawai negeri sipil dan penyidik Polri, dalam melakukan penyidikan perlu juga adanya koordinasi. Koordinasi, menurut

Ricky W. Griffin, menyebutkan arti pada koordinasi adalah “coordination is the process tingking the activities of the various departements of organization”

(koordinasi adalah suatu proses menghubungkan kegiatan-kegiatan dari bermacam-macam instansi organisasi)9 Pada penulisan ini penulis membatasi penelitian pada :

1.Penegakan hukum di bidang keimigrasian menurut Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana di lihat dalam aspek yuridis normatif, dan;

2.Penegakan hukum di bidang keimigrasian dengan melihat aspek yuridis empiris terhadap struktur penegakan hukum keimigrasian dan budaya

8

Ibid.

9

Ricky W. Griffin, Management: second Edition, Boston: Houghton Company, 1987, hlm. 311.

(9)

penegakan hukum keimigrasian dalam pada ruang penelitian Kantor Imigrasi Klas I Khusus Soekarno-Hatta.

1.2. Perumusan Masalah

Alasan penulis untuk mengambil judul “Analisis Penegakan Hukum

Keimigrasian Pada Kantor Imigrasi Klas I Khusus Soekarno Hatta berdasarkan Undang-Undang Keimigrasian dan Hukum Acara Pidana” disebabkan penulis

melihat adanya kenyataan tindak pidana keimigrasian yang terus berlangsung yang dapat mengganggu stabilitas keamanan dan ketertiban, walaupun telah diterbitkan Undang-Undang Keimigrasian pada tahun 1992 tentang Keimigrasian. Kekurangpahaman masyarakat akan pengertian tindak pidana keimigrasian menjadi tantangan tersendiri bagi PPNS Imigrasi dalam menegakan hukum dan memberantas tindak pidana keimigrasian. Hakikat keimigrasian sendiri, merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam pemberian pelayanan dan penegakan hukum serta pengamanan terhadap lalu lintas keluar masuknya orang dari dan ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia, serta pengawasan terhadap keberadaan warga negara asing di wilayah Negara Republik Indonesia, maka secara operasional peran keimigrasian dapat diterjemahkan kedalam konsep Tri Fungsi Imigrasi. Konsep ini hendak menyatakan bahwa sistem keimigrasian, baik ditinjau dari budaya hukum keimigrasian, materi hukum (peraturan hukum) keimigrasian, lembaga, organisasi, aparatur mekanisme hukum keimigrasian, sarana dan prasarana hukum keimigrasian, dalam operasionalisasinya harus selalu mengandung Tri Fungsi yaitu ;

1. Fungsi Pelayanan masyarakat ; Salah satu fungsi keimigrasian adalah fungsi penyelenggaraan pemerintahan atau administrasi negara yang mencerminkan aspek pelayanan, dari aspek itu imigrasi dituntut memberikan pelayanan yang prima di bidang keimigrasian baik terhadap WNI maupu WNA.

2. Fungsi Penegakan Hukum; Dalam pelaksanaan tugas keimigrasian, keseluruhan aturan hukum keimigrasian itu di tegakan kepada setiap orang

(10)

yang berada diwilayah hukum Indonesia baik WNI atau WNA. Secara operasional penegakan hukum yang dilaksanakan oleh institusi Imigrasi juga mencakup penolakan pemberian izin masuk, izin bertolak, izin keimigrasian, semua itu merupakan bentuk penegakan hukum yang bersifat administratif, sedang dalam hal penegakan hukum yang bersifat proyustisia yaitu kewenangan melakukan penyidikan tindak pidana keimigrasian.

2. Fungsi keamanan

Imigrasi berfungsi sebagai penjaga pintu gerbang negara, dikatakan demikian karena Imigrasi merupakan institusi pertama dan terakhir dalam menyaring kedatangan dan keberangkatan orang masuk dan keluar wilayah Indonesia. Pelaksanaan fungsi keamanan yang ditujukan kepada WNI dijabarkan dalam tindakan pencegahan keluar negeri atas permintaan menteri Keuangan dan kejaksaaan Agung.

Pelaksanaan fungsi keamanan yang ditujukan kepada WNA adalah: 1). Melakukan seleksi terhadap setiap maksud kedatangan orang asing melalui pemeriksaan permohonan visa; 2). Melakukan kerjasama dengan aparatur keamanan negara lainnya, khususnya memberikan supervisi perihal penegakan hukum keimigrasian; 3). Melakukan operasi intelejen bagi kepentingan keamanan negara; 4). Melaksanakan pencegahan dan penangkalan. Didalam perkembangannya, Tri Fungsi Imigrasi dapat dikatakan mengalami suatu pergeseran bahwa pengertian fungsi keamanan dan penegakan hukum merupakan suatu bagian yang tak terpisahkan karena penerapan penegakan hukum dibidang keimigrasian berarti sama atau identik dengan menciptakan kondisi keamanan yang kondusif maupun sebaliknya didalam rangka memelihara kondisi keamanan yang kondusif secara otomatis fungsi penegakan hukum keimigrasian harus dilaksanakan secara terus menerus dan konsekuen. Sedangkan fungsi baru yaitu sebagai fasilitator pembangunan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan fungsi keimigrasian lainnya.10 Penyidik

10

M.Iman Santoso, Perspektif Imigrasi Dalam pembangunan Ekonomi dan Ketahanan

(11)

Pegawai Negeri Sipil (PPNS) pada Kantor Imigrasi Klas I Khusus Soekarno-Hatta mempunyai tugas dan peranan yang sangat penting dalam upaya penanganan tindak pidana keimigrasian yang terjadi pada wilayah kerja Bandara Soekarno Hatta yang bertujuan untuk memberantas tindak pidana keimigrasian. Namun tugas dan kewenangan ini dalam pelaksanaannya seringkali menemui kendala baik dari peraturan hukum yang mengatur mengenai tindak pidana keimigrasian maupun sering kali kewenangan tersebut bertabrakan dengan kewenangan yang dimiliki oleh instansi penegak hukum semisal peyidik Polri. Berdasarkan permasalahan tersebut diatas, maka dapat diuraikan pertanyaan penelitian sebagai berikut :

1. Bagaimana penegakan hukum di bidang keimigrasian menurut Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian dan Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

2. Bagaimana meningkatkan penegakan hukum di bidang keimigrasian dari sistem penegakan hukum pada Kantor Imigrasi Klas I Khusus Soekarno-Hatta menurut Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini, adalah :

1. Untuk memahami bagaimana penegakan hukum di bidang keimigrasian menurut Undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

2. Untuk mengetahui bagaimana meningkatkan penegakan hukum di bidang keimigrasian dari sistem penegakan hukum pada Kantor Imigrasi Klas I Khusus Soekarno-Hatta menurut Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

(12)

1.4. Manfaat dan Batasan Penelitian

1. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka penegakan hukum keimigrasian dalam sistem penegakan hukum di Indonesia, serta menambah pengetahuan dan wawasan peneliti dalam penelitian dan penulisan karya ilmiah dibidang multidisipliner.

2. Secara praktis, diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran bagi masyarakat, khususnya para penegak hukum di bidang keimigrasian agar dapat lebih mengetahui dan memahami tentang penegakan hukum keimigrasian.

Penelitian ini akan mengambil tempat penelitian di Kantor Imigrasi Klas I Khusus Soekarno Hatta dengan pertimbangan bahwa tindak pidana Keimigrasian yang terjadi di wilayah Jakarta, khususnya yang terjadi di Bandara Soekarno-Hatta memiliki ciri dan karakter tersendiri dan semua tindak pidana keimigrasian yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia modus dan cirinya dapat terjadi di wilayah ini, walaupun hampir semua penyelenggaraan peradilan pidana tindak pidana keimigrasian di Indonesia adalah hampir sama dan berpedoman pada ketentuan perundang-undangan yang sama. Penulis membatasi masalah yang dianalisa dalam penulisan ini pada masalah bagaimana mekanisme penegakan hukum di bidang keimigrasian menurut Undang-undang Nomor 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

1.5. Sistematika Penelitian

BAB I. PENDAHULUAN

Dalam bab ini dikemukakan mengenai pokok-pokok bahasan yang melandasi penelitian, yaitu menguraiakan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan penelitian, dan sistematika penelitian.

(13)

BAB II. KERANGKA PEMIKIRAN PENEGAKAN HUKUM PIDANA DAN SISTEM PERADILAN PIDANA

Dalam bab ini dikemukakan mengenai hal-hal yang bersifat mendasar atau umum teori-teori dan ketentuan-ketentuan dalam penaganan tindak pidana baik secara formil maupun materiil.

BAB III. GAMBARAN UMUM PENEGAKAN HUKUM DI BIDANG

KEIMIGRASIAN

Dalam Bab ini dikemukakan Pengertian, Tata cara Penyidikan, Koordinasi Penyidik Pegawai Negeri Sipil Imigrasi dengan Penyidik Kepolisian Republik Indonesia selaku koordinator dan pengawasan Penyidik Pegawai Negeri Sipil kewenangan Penyidik Pegawai Negeri Sipil di bidang keimigrasian.

BAB IV. METODOLOGI PENELITIAN

Dalam bab ini dikemukakan mengenai pendekatan penelitian dan teknik pengumpulan data yang meliputi: kajian kepustakaan, wawancara, cara penyajian data dan analisis data primer dan sekunder.

BAB V. ANALISIS PENEGAKAN HUKUM KEIMIGRASIAN PADA KANTOR IMIGRASI KLAS I KHUSUS SOEKARNO HATTA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG KEIMIGRASIAN DAN HUKUM ACARA PIDANA. Dalam bab ini dikemukakan hasil penelitian dan analisa yang berkaitan dengan peningkatan penegakan hukum di bidang keimigrasian menurut Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana pada sistem penegakan hukum di Kantor Imigrasi Klas I Khusus Soekarno Hatta.

(14)

BAB VI. PENUTUP

Dalam bab ini akan diuraikan mengenai kesimpulan dan saran yang bersumber dari pembahasan dalam bab-bab sebelumnya berkaitan dengan penegakan hukum keimigrasian pada Kantor Imigrasi Klas I Khusus Soekarno Hatta.

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu Faktor yang mempengaruhi kualitas belajar adalah sikap. Seorang peserta didik yang memiliki sikap positif terhadap pelajaran, maka anak tersebut akan memperoleh

Masalah pokok tersebut selanjutnya dibuatkan sub masalah yang dijadikan sebagai rumusan masalah yakni, Bagaimana Penggunaan Media Pembelajaran Mahasiswa PPL mata

Adapun judul tesis yang disusun oleh penulis adalah ” Analisis Penempatan Optimal Bank Kapasitor Pada Sistem Distribusi Radial Dengan Metode Genetik Algorithm” Aplikasi: PT..

RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN PADA DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASSET DAERAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA.. BELITUNG BERBASIS

yang sering dihadapi oleh guru adalah jika dalam proses pembelajaran siswa sering ramai, mengantuk dan tidak memperhatikan pelajaran yang disampaikan. Dengan adanya

Paket pengadaan ini terbuka untuk penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan, dengan terlebih dahulu melakukan registrasi pada Layanan Pengadaan Secara

memberikan laporan khusus kepada Dewan Komisaris, Pemegang Saham dan/atau RUPS. 4) Laporan berkala dan laporan lainnya disampaikan dengan bentuk, isi dan tata cara

Desa Rasau terdiri dari 6 dusun yaitu Dusun Kempas, Dusun Engkeruh, Dusun Kelaweh, Dusun Sebuluh, Dusun Riam Sejawak, dan Dusun Pangkelan Paret.Di Desa Rasau