• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Mekanika Tanah 2 Sondir

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan Mekanika Tanah 2 Sondir"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

NAMA PRAKTIKAN : Muh Sulthoanuddin Akbar (1306448634)

Dwi Septiady (1406642864)

Fitria Minami (1306448741)

Muhammad Kevarga (1306391983)

KELOMPOK : P 6

TANGGAL PRAKTIKUM : Minggu, 4 Okotober 2015

JUDUL PRAKTIKUM : CONE PENETRATION TEST (SONDIR)

ASISTEN : Reza Riil Akbar P

PARAF DAN NILAI :

I.

PENDAHULUAN

A. Standar Acuan & Referensi

ASTM D 3441 “Standard Test Method for Mechanical Cone Penetration Tests of Soil”

SNI 03-2832-1992 “Cara uji penetrasi lapangan dengan alat sondir” B. Maksud dan Tujuan Percobaan

Untuk mengetahui tahanan konus dan hambatan lekat (skin friction) tanah pada kedalaman tertentu.

Pengujian ini merupakan pengujian lapangan yang hasilnya digunakan dalam menghitung daya dukung tanah ketika akan dilakukan pekerjaan tanah dan juga pekerjaan pondasi untuk struktur bangunan.

C. Alat-alat dan Bahan a. Alat :

 Alat Sondir  Kuas dan Oli  Besi Kanal 4 buah

(2)

 Kayu penahan

 Pipa Sondir lengkap dengan pipa dalamnya

 Manometer 2 buah, berkapasitas 60 kg/cm2 dan 250 kg/cm2  Angkur 2 buah

 Batangan besi untuk memutar angkur

 Biconus standar dengan luas conus 10 cm2 dan luas mantel 150 cm2  Kunci Inggris 3 buah

D. Teori dan Rumus yang Digunakan

Uji sondir merupakan salah satu pengujian lapangan dimana dilakukan penetrasi batang serta konus yang bertujuan untuk mengetahui daya dukung tanah pada setiap lapisan, yaitu berupa tahanan ujung (end bearing) dan juga tahanan gesek (skin friction). Selain itu, pengujian ini juga dilakukan untuk mengetahui kedalaman tanah keras.

Pengujian sondir dilakukan dengan melakukan penetrasi alat sondir, yang terdiri dari batang silindris dengan ujung berupa konus. Biasanya konus yang digunakan adalah biconus, yang dilengkapi dengan selimut untuk mengukur hambatan lekat tanah. Gambar 1 merupakan alat sondir berdasarkan SNI 2827:2008.

Gambar 1. Ricncian konus ganda (bicenan) tipe Begemann. Posisi tertekan (kiri), posisi terbentang (kanan)

Dalam melakukan penetrasi alat sondir, diperlukan suatu rangkaian alat pembeban hidrolik yang dipasang pada titik lokasi pengujian. Alat pembeban ini harus dijepit oleh dua batang penjepit yang diangkur pada tanah agar tidak

(3)

bergerak ketika dilakukan pengujian. Selain itu terdapat satu buah manometer yang digunakan untuk membaca tekanan hidrolik yang terjadi ketika dilakukan penetrasi batang dalam, pipa dorong, dan konus. Gambar 2 menunjukkan rangkaian alat yang digunakan dalam penetrasi konus pada praktikum ini.

Gambar 2. Rangkaian alat penetrasi konus

Hasil dari pengujian sondir ini adalah tahanan ujung yang diambil sebagai gaya penetrasi per satuan luas penampang ujung sondir, atau qc dan tahanan ujung total, atau qt. Pengujian sondir ini dilakukan hingga mencapai tanah keras atau hingga mencapai kemampuan maksimum alat, yaitu tekanan qc = 250 kg/cm2. Berikut merupakan proses kerja bikonus pada saat dilakukan penetrasi alat sondir.

(4)

Gambar 3. Mekanisme kerja bikonus pada saat dilakukan penetrasi alat sondir

Setelah didapatkan data tahanan qc dan qt, dilakukan perhitungan nilai friksi yang terjadi pada selimut bikonus (fs), hambatan pelekat (HP), jumlah hambatan pelekat (JHP), serta Friction Ratio (FR). Berikut rumus yang digunakan dalam perhitungan:

Ft ×qt=Fc × qc+Fm × f

f =(Ft × qt )+(Fc ×qc ) Fm

Dengan memasukkan nilai-nilai Fm, Ft, dan Fc akan didapat;

fs=10 qt−10 qc

150

fs=qt−qc

15 Dimana:

Ft = Fc = luas penampang bikonus (10 cm2)

qt = tekanan tanah total yang terbaca pada manometer akibat tekanan konus dan friksi (kg/cm2)

qc = tekanan konus yang terbaca pada manometer (kg/cm2) Fm = luas mantel bikonus (150 cm2)

(5)

Hambatan Pelekat ;

HP=l× f

Dimana:

L = panjang lekatan = 20 cm (sondir ditekan setiap 20 cm)

Jumlah Hambatan Pelekat ;

JHP=∑fi×li

Sedangkan nilai rasio gesekan (friction Ratio) diperoleh berdasarkan persamaan berikut

FR=qc fs ×100

Setelah dilakukan perhitungan fs, HP, JHP, dan FR, dibuat grafik terhadap kedalaman yang menunjukkan stratifikasi dari lapisan tanah di lokasi tersebut. Nilai tahanan konus serta nilai rasio friksi dapat dikorelasikan terhadap jenis tanah serta prilakunya. Gambar berikut menunjukkan korelasi hasil uji CPT terhadap prilaku tanah oleh Robertson (1986).

(6)

II.

PRAKTIKUM

A. Persiapan Praktikum

1. Menyiapkan semua alat yang akan digunakan

2. Menyiapkan 2 buah angkur dan batang besi untuk memutarnya

3. Karena angkur yang pertama telah terpasang oleh kelompok praktikum sebelumnya, lalu memasang angkur yang kedua berdekatan dengan angkur yang sebelumnya

4. Menanam angkur yang kedua dengan jarak yang ditentukan sebelumnya terhadap angkur yang pertama

5. Menyiapkan penyangga dengan kayu balok yang datar yang telah disediakan 6. Meletakkan alat sondir dinatara kedua angkur yang ditanam

7. Memasang besi kanal diatas alat sondir dan menguncinya terhadap angkur yang ditanam

8. Membuat lubang seukuran sondir terlebih dahulu untuk menanam sondir menggunakan batangan besi yang tersedia

9. Melumaskan oli dengan kuas ke sondir

10. Sebelum praktikum dimulai, buka pengunci manometer sondir yang skala maksimumnya adalah 250 kg/cm2

B. Jalannya Praktikum

1. Memasang konus dengan pipa sondir dan pipa dalamnya lalu menghubungkan dengan alat sondir

2. Memutar alat sondir hingga menekan rangkaian pipa sondir dengan konus kedalam tanah sedalam 20 cm

3. Membuka kunci alat dan memutar alat sondir hingga pipa dalam rangkaian sondir masuk kedalam tanah sambil melakukan pembacaan pada manometer. Pembacaan pada manometer diliat ketika jarum pada manometer terhentak, dan yang dicatat dalam data adalah angka sebelum terhentak dan angka setelah terhentak untuk mengetahui nilai Qc dan Qt.

4. Mengunci kembali alat sondir dan memutar kembali sedalam 20 cm 5. Mengulangi prosedur dari nomor 2, hingga mencapai 1 meter

6. Memasang batang sondir selanjutnya dan melumaskan bagian penghubung dengan oli

7. Mengulangi sampai pembacaan manometer menyentuh angka 250 kg/cm2

(7)

8. Setelah menyentuh angka 250 kg/cm2, memutar balik alat sondir untuk mengangkat batang sondir yang ada didalam tanah

9. Memutar alat sondir hingga batang sondir terangkat dan sambungan dengan batang sondir lainnya terlihat kurang lebih 20 cm

10. Mengunci batang sondir yang dibawah dengan erat menggunakan kunci inggris

11. Memutar sambungan antar batang sondir dan megeluarkan batang sondir dari alat sondir

12. Mengulangi pengangkutan batang sondir hingga semuanya batang sondir bisa keluar

13. Mencabut angkur, rapihkan alat

III.

PENGOLAHAN DATA

Data yang diperoleh terdiri dari kedalaman per 20 cm dan pemabacaan qc dan qt dalam manometer dengan satuan kg/cm2.

h (cm) Qc (kg/cm2 ) Qt (Kg/cm2) 0 0 0 20 0 0 40 62 75 60 60 95 80 60 100 100 30 55 120 25 35 140 25 30 160 25 45 180 25 40 200 22 40 220 20 40 240 20 35 260 20 40 280 20 45 300 20 45 320 25 40 340 50 65 360 27 37 380 25 45 400 25 40

(8)

420 20 40 440 20 40 460 15 25 480 15 20 500 15 20 520 15 20 540 15 25 560 15 25 580 15 20 600 10 15 620 15 15 640 20 30 660 25 30 680 10 10 700 15 17 720 17 20 740 30 37 760 25 35 780 20 30 800 20 30 820 20 20 840 15 20 860 10 15 880 10 15 900 20 23 920 15 25 940 20 35 960 30 35 980 20 30 1000 25 40 1020 20 35 1040 25 32 1060 20 30 1080 15 20 1100 20 20 1120 15 25 1140 20 25 1160 15 20 1180 10 20 1200 15 25 1220 40 45 1240 25 40 1260 15 30 1280 10 20 1300 20 25 1320 10 20

(9)

1340 10 25 1360 15 30 1380 25 30 1400 15 30 1420 15 35 1440 30 40 1460 20 30 1480 10 15 1500 30 40 1520 25 30 1540 30 45 1560 30 40 1580 20 25 1600 10 20 1620 20 25 1640 20 25 1660 45 50 1680 70 120 1700 195 245 Perhitungan ; Untuk h = 40 cm; qc = 60 kg/cm2; qt = 100 kg/cm2 fs=qt−qc 15 = 100−60 15 =2.667 kg /cm 2 HP=l× fs=20× 5=53.33 kg /cm2 JHP=5+(100)=117.333kg cm2

(10)

FR=fs qc×100 = 2.667 60 × 100 =4.444 Untuk h = 60 cm; qc = 30 kg/cm2; qt = 55 kg/cm2 fs=qt−qc 15 = 55−30 15 =1.667 kg /cm 2 HP=l× fs=20× 1.667=33,333 kg/cm2 JHP=1.667 +33.333=34.9997 kg /cm2 FR=fs qc×100 = 1,667 55 × 100 =3.030 h (cm) Qc (kg/cm2) Qt (Kg/cm2) fs (kg/cm2) (kg/cm2)HP JHP (kg/cm2) FR (%) 0 0 0 0.000 0.000 0 0 20 0 0 0.000 0.000 0 0 40 62 75 0.867 17.333 17.333 1.397849 60 60 95 2.333 46.667 64.000 3.888889 80 60 100 2.667 53.333 117.333 4.444444 100 30 55 1.667 33.333 150.667 5.555556 120 25 35 0.667 13.333 164.000 2.666667 140 25 30 0.333 6.667 170.667 1.333333 160 25 45 1.333 26.667 197.333 5.333333 180 25 40 1.000 20.000 217.333 4 200 22 40 1.200 24.000 241.333 5.454545 220 20 40 1.333 26.667 268.000 6.666667 240 20 35 1.000 20.000 288.000 5 260 20 40 1.333 26.667 314.667 6.666667 280 20 45 1.667 33.333 348.000 8.333333

(11)

300 20 45 1.667 33.333 381.333 8.333333 320 25 40 1.000 20.000 401.333 4 340 50 65 1.000 20.000 421.333 2 360 27 37 0.667 13.333 434.667 2.469136 380 25 45 1.333 26.667 461.333 5.333333 400 25 40 1.000 20.000 481.333 4 420 20 40 1.333 26.667 508.000 6.666667 440 20 40 1.333 26.667 534.667 6.666667 460 15 25 0.667 13.333 548.000 4.444444 480 15 20 0.333 6.667 554.667 2.222222 500 15 20 0.333 6.667 561.333 2.222222 520 15 20 0.333 6.667 568.000 2.222222 540 15 25 0.667 13.333 581.333 4.444444 560 15 25 0.667 13.333 594.667 4.444444 580 15 20 0.333 6.667 601.333 2.222222 600 10 15 0.333 6.667 608.000 3.333333 620 15 15 0.000 0.000 608.000 0 640 20 30 0.667 13.333 621.333 3.333333 660 25 30 0.333 6.667 628.000 1.333333 680 10 10 0.000 0.000 628.000 0 700 15 17 0.133 2.667 630.667 0.888889 720 17 20 0.200 4.000 634.667 1.176471 740 30 37 0.467 9.333 644.000 1.555556 760 25 35 0.667 13.333 657.333 2.666667 780 20 30 0.667 13.333 670.667 3.333333 800 20 30 0.667 13.333 684.000 3.333333 820 20 20 0.000 0.000 684.000 0 840 15 20 0.333 6.667 690.667 2.222222

(12)

860 10 15 0.333 6.667 697.333 3.333333 880 10 15 0.333 6.667 704.000 3.333333 900 20 23 0.200 4.000 708.000 1 920 15 25 0.667 13.333 721.333 4.444444 940 20 35 1.000 20.000 741.333 5 960 30 35 0.333 6.667 748.000 1.111111 980 20 30 0.667 13.333 761.333 3.333333 1000 25 40 1.000 20.000 781.333 4 1020 20 35 1.000 20.000 801.333 5 1040 25 32 0.467 9.333 810.667 1.866667 1060 20 30 0.667 13.333 824.000 3.333333 1080 15 20 0.333 6.667 830.667 2.222222 1100 20 20 0.000 0.000 830.667 0 1120 15 25 0.667 13.333 844.000 4.444444 1140 20 25 0.333 6.667 850.667 1.666667 1160 15 20 0.333 6.667 857.333 2.222222 1180 10 20 0.667 13.333 870.667 6.666667 1200 15 25 0.667 13.333 884.000 4.444444 1220 40 45 0.333 6.667 890.667 0.833333 1240 25 40 1.000 20.000 910.667 4 1260 15 30 1.000 20.000 930.667 6.666667 1280 10 20 0.667 13.333 944.000 6.666667 1300 20 25 0.333 6.667 950.667 1.666667 1320 10 20 0.667 13.333 964.000 6.666667 1340 10 25 1.000 20.000 984.000 10 1360 15 30 1.000 20.000 1004.000 6.666667 1380 25 30 0.333 6.667 1010.667 1.333333 1400 15 30 1.000 20.000 1030.667 6.666667

(13)

1420 15 35 1.333 26.667 1057.333 8.888889 1440 30 40 0.667 13.333 1070.667 2.222222 1460 20 30 0.667 13.333 1084.000 3.333333 1480 10 15 0.333 6.667 1090.667 3.333333 1500 30 40 0.667 13.333 1104.000 2.222222 1520 25 30 0.333 6.667 1110.667 1.333333 1540 30 45 1.000 20.000 1130.667 3.333333 1560 30 40 0.667 13.333 1144.000 2.222222 1580 20 25 0.333 6.667 1150.667 1.666667 1600 10 20 0.667 13.333 1164.000 6.666667 1620 20 25 0.333 6.667 1170.667 1.666667 1640 20 25 0.333 6.667 1177.333 1.666667 1660 45 50 0.333 6.667 1184.000 0.740741 1680 70 120 3.333 66.667 1250.667 4.761905 1700 195 245 3.333 66.667 1317.333 1.709402

Tabel 1. Hasil perhitungan data sondir

Dari data diatas dapat dijadikan dalam bentuk grafik sebagai berikut; a. Grafik qc berbanding dengan kedalaman (h)

(14)

Qc vs H

Qc vs H

b. Grafik qt berbanding dengan kedalaman (h)

Qt vs H

Qt vs H c. Grafik JHP berbanding dengan kedalaman (h)

(15)

JHP vs H

JHP vs H

d. Grafik FS berbanding dengan kedalaman (h)

FS vs H

Fs vs H

(16)

FR vs H

FR vs H

IV.

ANALISA

Analisa Percobaan

Tujuan dari praktikum yang bernama cone penetration test (CPT) atau biasa disebut sondir bertujuan untuk mengetahui nilai tahanan conus (end

bearing) dan hambatan lekat (skin friction). Dalam praktikum sondir,

percobaan dimulai dengan menentukan titik untuk melakukan pemasangan angkur yang bertujuan untuk menjaga kestabilan alat sondir ketika uji sedang berlangsung, angkur dipasang secara berdekatan yaitu disebelah kanan dan sebelah kiri yang dimana alat sondir akan ditempatkan ditengah-tengah, pada praktikum kali ini praktikan hanya melakukan pemasangan 1 buah angkur, karena angkur yang sebelumnya telah terpasang oleh praktikan sebelumnya. Pemasangan angkur dilakukan dengan memutar angkur searah jarum jam sehingga angkur dapat menembus tanah, untuk memutar angkur dapat digunakan besi pemutar ditambah dengan batang besi yang panjangnya sekitar 1 m di sisi kanan dan kiri besi pemutar yang dapat menimbulkan momen sehingga mempermudah penanaman angkur kedalam tanah. Setelah kedua angkur telah terpasang kedalam tanah, praktikan mempersiapkan sondir untuk

(17)

ditempatkan diantara kedua angkur, atur posisi sondir ditengah dan usahakan agar sondir lurus dengan permukaan tanah, jika tidak gunakanlah balok kayu untuk meluruskan posisi sondir yang miring. Setelah sondir telah ditempatkan sebagaimana mestinya, gunakan balok besi kanal sebanyak 4 buah lalu gunakan pengunci angkur untuk mengunci sondir agar stabil dan tidak menimbulkan pergerakan yang dapat mengganggu jalannya praktikum.

Jalannya praktikum dimulai dengan membuka pengunci manometer yang pembacaan maksimumnya adalah 250 kg/cm2 , lalu melumasi baut dan drat penghubung alat dengan sondir dengan oli serta memasang batang sondir yang terdapat conus, setelah itu praktikan memutar alat sondir berlawanan jarum jam kebawah hingga menyentuh permukaan tanah dilanjut dengan melubangi permukaan tanah sedalam 1 m terlebih dahulu, setelah batang conus sondir menembus tanah sedalam 1 m, praktikan memutar alat sondir searah jarum jam agar drat penghubung alat ke batang naik setinggi 1 meter, setelah itu praktikan menambahkan batang yang baru dengan batang sebelumnya yang dihubungkan oleh mur silinder. Setelah itu praktikan memutar alat sondir untuk menekan batang sondir kebawah di setiap kedalaman 20 cm, di setiap pertamabahan 20 cm praktikan membuka pengunci batang lalu memutar alat sondir secara konstan agar batang silinder yang didalam dapat menggerakan conus yang dimana didapatkan nilai pembacaan manometer, pada hentakan pertama di manometer praktikan akan mendapat nilai qc, pada hentakan yang kedua akan mendapat nilai qt, nilai qc & qt digunakan adalah parameter penentu nilai tahanan konus dan hambatan lekat. Ketika batang sudah menyentuh setiap kedalaman 1 m , praktikan menambahkan batang lain dan melakukan langkah-langkah diatas secara terus menerus hingga menemukan bagian tanah keras di kedalaman 17 m dari permukaan tanah. Setelah menemukan tanah keras, praktikan harus mengeluarkan batang-batang sondir yang terhubung sejauh kedalam n secara satu-persatu dengan memutar tuas searah jarum jam dan menahan batang menggunakan kunci inggris agar tidak terlepas dan masuk kedalam tanah. Setelah semua batang berhasil dikeluarkan dari dalam tanah, praktikan membereskan alat sondir dan membuka angkur yang sebelumnya terpasang dalam tanah.

(18)

Analisa Hasil

Hasil yang didapatkan dari praktikum sondir adalah nilai h (cm), qc (kg/cm2), qt (kg/cm2), dari ketiga data awal tersebut selanjutnya praktikan mencari nilai, fs, HP, JHP, dan FR. Dengan rumus sebagai berikut;

fs=qt−qc 15 HP=l× f JHP=∑fi×li FR=qc fs ×100

Bisa didapatkan perhitungan dengan rentan kedalaman yaitu 0 -1660 m, untuk mendapatkan nilai minimum dan maksimum dari ke-enam variable

Data Minimum Maksimu

m Rentang QC (kg/cm2) 10 195 10 - 195 QT (kg/cm2) 10 245 10 - 245 FS (kg/cm2) 0 3.333 0 - 3.333 HP (kg/cm2) 0 66.667 0 - 66.667 JHP (kg/cm2) 17.333 1317.333 17.333 - 1317.333 FR (%) 0 10 0 - 10

Berdasarkan data yang telah didapat melalui praktikum sondir, praktikan mendapatkan nilai qc dan perhitungan data fs untuk menentukan jenis tanah berdasarkan klasifikasinya.

Klasifikasi tanah berdasarkan buku mekanika tanah karangan Ir. V. Sunggono H.K. adalah

QC FS Klasifikasi

6-10 0,15-0,4

0,2 0,2-0,5

Humus, lempung sangat lunak Pasir kelanauan lepas, pasir sangat lepas Lempung lembek, lempung kelanauan lembek

10-30 0,1

0,1-0,4

Kerikil lepas Pasir lepas

(19)

0,4-0,8

0,8-2,0 Lempung atau lempung kelanauanLempung agak kenyal

30-60 1,5

1,0-3,0 Pasir kelanauan, pasir agak padatLempung kelanauan kenyal

60-150 1,0

1,0-3,0 >3,0

Kerikil kepasiran lepas

Pasir padat, pasir kelanauan/lempung padat Kerikil kelempungan

Lempung kerikilan kenyal

150-300 1,0-2,0 Pasir padat, pasir kekerikilan padat

Pasir kasar, pasir kelanauan padat Tabel 2. Klasifikasi tanah

Kedalaman (h=cm) Jenis Tanah berdasarkan klasifikasi tanah 0-60

Lempung Agak Kenyal 60-120

120-180 180-240 240-280

280-340 Lempung Kelanauan Kenyal

340-400 Lempung Agak Kenyal

400-460 460-520 Lempung/Lempung Kelanauan 520-580 580-640 640-700 Pasir Lepas 700-760 760-820 Lempung/Lempung Kelanauan 820-880 880-940 Pasir Lepas 940-1020 Lempung/Lempung Kelanauan 1020-1080 1080-1140 Pasir Lepas 1140-1200 Lempung/Lempung Kelanauan 1200-1260 1260-1320 1320-1380

Lempung Agak Kenyal 1380-1440

1440-1500

Lempung/Lempung Kelanauan 1500-1560

1560-1620

1620-1680 Lempung Kelanauan Kenyal 1680-1700 Lempung Kerikilan Kenyal

(20)

Dari data klasifikasi jenis tanah yang didapat, pada tempat yang telah ditentukan dengan kedalaman tertentu yaitu 0-60 cm memiliki jenis tanah yaitu lempung agak kenyal dengan nilai qc 0-75 kg/cm2 dan qt 0-75 kg/cm2. Perbedaan kedalaman pada praktikum sondir mempengaruhi nilai detail dari jenis tanah, yang dimana semakin kecil perbedaan kedalaman tanah semakin akurat data jenis tanah.

Analisa Kesalahan

Dalam melaksanakan praktikum sondir di lapangan, praktikan melakukan beberapa kesalahan yang dapat menyebabkan ketidak akuratan dalam pengambilan data, yang mempengaruhi ketika pengolahan data untuk mendapatkan variable-variabel pada percobaan ini yaitu ;

1. Penempatan angkur yang tidak memperhitungkan jarak, yaitu dengan metode kira-kira sehingga membuat penempatan sondir menjadi tidak stabil.

2. Penggunaan kayu penyangga untuk membuat sondir tegak lurus dengan permukaan tanah tanpa adanya kemiringan, praktikan menempatkan susunan balok secara kasat mata yang dimana praktikan mengira-ngira apakah sondir sudah tegak lurus 90° dengan tanah atau belum.

3. Karena faktor tidak tegak lurusnya alat sondir terhadap tanah, batang sondir yang tertancap sedalam h (cm) belum tentu lurus, yang dapat memungkinkan miringnya batang sondir .

4. Kesalahan yang terkahir adalah pada saat praktikan melakukan pembacaan manometer, yaitu saat jarum manometer menunjukan nilai qc dan qt mata pengelihatan praktikan yang kurang tangkas karena pada saat pembacaan nilai qc adalah saat jarum pertama berhenti bergerak dan qt adalah saat jarum kedua berhenti bergerak dalam nilai tertentu .

(21)

V.

A PLIKASI, KELEBIHAN DAN KEKURANGAN TES SONDIR BESERTA APLIKASI PONDASI YANG COCOK UNTUK JENIS TANAH YANG DIDAPAT

Praktikum modul cone penetration test memiliki beberapa kelebihan ; 1. Murah, cepat, data yang dihasilkan akurat.

2. Pas untuk digunakan di Indonesia, karena mayoritas jenis tanah di Indonesia adalah lempung kelanauan

untuk kekurangannya adalah sebagai berikut; 1. Sulit memperoleh sampel secara visual

2. Sulit untuk menembus lapisan yang keras seperti batuan 3. Tidak bisa merepresentatifkan data berupa pasir

Berdasarkan praktikum sondir, jenis tanah berdasarkan klasifikasinya adalah LEMPUNG/LEMPUNG KELANAUAN dan pondasi yang dapat di aplikasikan adalah pondasi tiang pancang.

VI.

KESIMPULAN

1. Dari Tes Sondir didapatkan nilai qc dan qt , dengan masing-masing rentang, 0-195 kg/cm2 dan 0-245 kg/cm2.

2. Data yang didapat sebagai berikut dengan rumus yang telah ada;

Data Minimum Maksimum Rentang

QC (kg/cm2) 10 195 10 - 195 QT (kg/cm2) 10 245 10 - 245 FS (kg/cm2) 0 3.333 0 - 3.333 HP (kg/cm2) 0 66.667 0 - 66.667 JHP (kg/cm2) 17.333 1317.333 17.333 -1317.333 FR (%) 0 10 0 - 10

3. Jenis tanah berdasarkan klasifikasi tanah menurut buku mekanika tanah Ir. Sunggono dengan melihat kedalaman tanah, qc, dan fs yang didapat, tanah praktikum tergolong lempung/lempung kelanauan.

(22)

VII. LAMPIRAN

(23)

Gambar

Gambar 1. Ricncian konus ganda (bicenan) tipe Begemann. Posisi tertekan (kiri), posisi terbentang (kanan)
Gambar 2. Rangkaian alat penetrasi konus
Gambar 3. Mekanisme kerja bikonus pada saat dilakukan penetrasi alat sondir
Gambar 4. Korelasi hasil uji CPT dengan jenis tanah
+2

Referensi

Dokumen terkait