BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang

Teks penuh

(1)

2.1. Penyediaan Air Bersih

Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak (Permenkes RI, 1990). Air bersih merupakan salah satu bahan pokok, yang mutlak dibutuhkan oleh manusia sepanjang masa, baik langsung maupun tidak langsung. Sumber air yang banyak dipergunakan oleh masyarakat adalah air permukaan (sungai, danau/waduk, air laut dan sebagainya), air tanah dan air hujan di daerah tertentu. Apabila tidak diperhatikan maka air dari sumber di atas mungkin dapat mengganggu kesehatan manusia. Untuk mencegah timbulnya gangguan penyakit yang disebabkan atau ditularkan malalui air, maka air yang dipergunakan terutama untuk minum harus memenuhi syarat – syarat kesehatan (Depkes RI, 1993).

2.2. Peranan Air Dalam Kehidupan Manusia

Tidak satupun kehidupan yang ada di dunia ini dapat berlangsung tampa tersedianya air yang cukup. Bagi manusia, kebutuhan akan air ini amat mutlak, karena sebenarnya zat pembentuk tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air, volume air dalam tubuh manusia rata – rata 65% dari total berat badannya, dan volume tersebut sangat bervariasi pada masing–masing orang, bahkan juga bervariasi antara bagian – bagian tubuh seseorang. Beberapa organ tubuh manusia yang mengandung banyak air, antara lain, otak 74,5%, tulang 22%, ginjal 82,7%, otot 75,6%, dan darah 83% (Budiman Chandra, 2006).

(2)

Air sangat besar peranannya dalam tubuh manusia yaitu :

1. Sebagai pelarut dan alat pengangkut dari berbagai jenis bahan makanan seperti karbohidrat, asam amino, asam lemak, dan vitamin. Bahan – bahan yang larut dalam darah diangkut keseluruh tubuh dan dipergunakan sesuai dengan fungsinya.

2. Sebagai fasilitator pertumbuhan yaitu air merupakan bagian dari tubuh di dalam pertumbuhan. Karbohidrat yang disimpan di dalam sel – sel hati dan otot dua pertiganya merupakan air. Lemak yang disimpan dalam beberapa jaringan, seperlimanya merupakan air, sedangkan di dalam otot dijumpai air sebesar 75,6%. Oleh karena itu tampa air tidak terjadi proses pertumbuhan.

3. Sebagai katalisator yaitu air dalam berbagi reaksi biologis di dalam tubuh, sel lambung, dan dalam usus tempat terjadinya proses pencernaan makanan. Dalam hal ini air sebagai lingkungan perantara.

4. Sebagai pengatur suhu tubuh yaitu mengingat air dapat menghantar panas, maka air berperan penting untuk mendistribusikan panas yang ditimbulkan oleh hasil metabolisme tubuh sehingga temperatur tubuh dapat normal 37oC. Metabolisme tubuh yang menghasilkan panas diubah menjadi air yang dikeluarkan melalui tubuh lewat keringat.

5. Sebagai sumber mineral, yaitu berupa mineral penting yang terdapat di dalam keadaan normal dipergunakan sebagai sumber mineral tambahan bagi tubuh. Mineral dalam minuman dapat diperoleh secara alamiah atau dapat pula ditambahkan apabila tidak dijumpai di dalam air minum (Sitepoe, 1997).

(3)

2.3. Sumber Air di Alam

Air yang ada di alam pada dasarnya merupakan proses daur ulang yang terus menerus berupa proses sirkulasi dari penguapan, presipitasi, dan pengaliran.

Matahari yang merupakan sumber energi, akan memberikan panas terhadap air permukaan sehingga terjadi penguapan ke udara dan berubah menjadi awan. Setelah mengalami beberapa proses jatuh sebagai hujan kepermukaan bumi baik di lautan maupun ke daratan.

Dalam memenuhi kebutuhan untuk minum dan kebutuhan lainnya, manusia memanfaatkan sumber – sumber air yang ada di sekitarnya baik itu air alam yang langsung dipakai maupun setelah mengalami proses pengolahan terlebih dahulu. Sumber air yang dapat kita manfaatkan pada dasarnya dapat dibedakan sesuai dengan dimana air tersebut diambil, antara lain sebagai berikut :

2.3.2. Air Hujan

Air hujan merupakan air yang steril dan bebas dari zat – zat beracun, akan tetapi mengingat proses terjadinya hujan hingga hujan sampai ke bumi telah mengalami kontak dengan udara, maka air hujan tidak murni lagi karena telah dipengaruhi oleh pencemaran udara.

Air hujan memiliki sifat – sifat yaitu bersifat lunak (soft water) karena tidak atau kurang mangandung larutan garam dan zat-zat mineral sehingga terasa kurang segar. Dapat mengandung beberapa zat yang terdapat di udara seperti NH3 dan CO2

agresif yang bersifat korosif. Dari segi bakteriologis relatif bersih, tetapi tergantung pada tempat penampungannya.

(4)

2.3.2. Air Permukaan

Air permukaan adalah yang berada di permukaan bumi, berupa air sungai, air danau/waduk, aliran air, air laut dan sebagainya. Air ini pun pada dasarnya merupakan air hujan yang jatuh ke bumi atau dapat juga berasal dari air tanah .

Air permukaan pada umumnya lebih banyak dipakai sebagi sumber air baku untuk sistem sarana penyediaan air bersih di perkotaan maupun pedesaan.

Akan tetapi harus memerlukan pengolahan terlebih dahulu agar dapat dijadikan sebagai sumber air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Air permukaan sangat mudah mengalami pencemaran, baik oleh aktivitas manusia, hewan maupun karena proses alamiah seperti erosi.

2.3.3. Air Tanah

Air tanah terbentuk dari hujan yang jatuh ke permukaan bumi dan meresap ke dalam air tanah melalui pori-pori tanah dan akar tanaman, dan kemudian tertahan pada lapisan tanah membentuk lapisan yang mengandung air tanah (aquifer).

Sebagian air hujan yang mencapai permukaan bumi akan menyerap ke dalam tanah dan akan menjadi air tanah. Air tanah terbagi menjadi 3 yaitu (Sutrisno, 1996): 1. Air Tanah Dangkal

Terjadi karena proses peresapan air di permukaan tanah. Lumpur akan tertahan, demikian pula dengan sebagian bakteri, sehingga tanah akan jernih. Air tanah dangkal akan terdapat pada kedalaman 15 meter.

2. Air Tanah Dalam

Terdapat pada lapis rapat air pertama dan pada kedalaman 100 – 300 meter. Ditinjau dari segi kualitasnya pada umumnya lebih baik dari tanah dangkal.

(5)

3. Mata Air

Mata air adalah tempat dimana air tanah keluar ke permukaan tanah secara alamiah dan biasanya terletak di lereng gunung atau tepi sungai.

Berdasarkan munculnya ke permukaan, air tanah terbagi atas 2 yaitu :

a. Mata air (gravity spring), yaitu air mengalir dengan gaya berat sendiri pada lapisan tanah yang permukaan tanah yang tipis air tanah tersebut menembus lalu keluar sebagai mata air.

b. Mata air artesis berasal dari lapisan air yang dalam posisi tertekan. Air artesis berusaha untuk menembus lapisan rapat air dan keluar ke permukaan bumi. Ditinjau dari sudut kesehatan, ketiga macam air ini tidaklah selalu memenuhi syarat kesehatan, karena ketiga-tiganya mempunyai kemungkinan untuk dicemari. Embun, air hujan, atau salju misalnya yang berasal dari air angkasa, ketika turun ke bumi dapat menyerap abu, gas, ataupun materi-materi berbahaya lainnya. Demikian pula hal nya, karena sekalipun telah mengalami proses penyaringan, namun tetap saja ada kemungkinan terkontaminasi dengan zat-zat mineral ataupun kimia yang mungkin membahayakan kesehatan (Azwar, 1990).

2.4. Sumur Gali

Sumur gali adalah salah satu sarana penyediaan air bersih dengan cara menggali tanah sampai mendapatkan lapisan air dengan kedalaman tertentu yang terdiri dari bibir sumur, dinding sumur, lantai sumur, saluran air limbah dan dilengkapi dengan timba dengan gulungan atau pompa (Depkes, 1998).

(6)

Sumur gali adalah salah satu konstruksi sumur yang paling umum dan meluas dipergunakan untuk mengambil air tanah bagi masyarakat kecil dan rumah-rumah perorangan sebagai sumber air bersih. Sumur gali ini pada umumnya dibuat adalah untuk mengambil air tanah bebas sehingga dapat dipengaruhi oleh musim. Sumur gali menyediakan air yang berasal dari lapisan air yang relatif dekat dengan permukaan tanah, oleh karena itu dengan mudah terkontaminasi melalui rembesan .

Menurut Depkes RI, 1990 ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam membuat sumur gali diantaranya :

1. Jarak sumur gali dari pencemaran seperti kakus, lubang galian sampah, lubang galian untuk air kotor minimal 10 meter dan letaknya tidak berada dibawah sumber pencemar tersebut.

2. Dinding sumur (cincin) minimal 3 meter dari permukaan tanah dan terbuat dari bahan yang kedap air.

3. Lebar minimal lantai sumur 1 meter dari tepi bibir sumur dan terbuat dari bahan yang kedap air.

4. Tinggi bibir sumur minimal 0,8 meter dari permukaan tanah.

5. Mempunyai saluran pembuangan air bekas, minimal sepanjang 10 meter dan terbuat dari bahan kedap air.

Untuk mencegah pengotoran dan pencemaran maupun kecelakaan pada saat sumur gali tidak digunakan maka sumur gali perlu memiliki tutup sumur yang kuat dan rapat. Penentuan persyaratan dari sumur gali didasarkan pada beberapa hal yaitu: 1. Kemampuan hidup bakteri pathogen selama 3 hari dan perjalanan air di dalam

(7)

2. Kemampuan bakteri pathogen menembus tanah secara vertikal sedalam 3 meter. 3. Kemungkinan bakteri pathogen menembus tanah secara horizontal sejauh 10

meter.

4. Kemungkinan terjadinya kontaminasi pada saat sumur digunakan maupun tidak digunakan.

5. Kemungkinan runtuhnya tanah dinding sumur.

Adapun persyaratan membuat sumur gali menurut Azrul Azwar, 1990 :

1. Dinding sumur 3 meter bagian atas harus dibuat dari tembok yang tidak tembus air, agar perembesan air permukaan yang telah tercemar tidak terjadi. Kedalaman 3 meter diambil karena bakteri pada umumnya tidak dapat hidup lagi pada kedalaman tersebut.

2. Kira – kira 1,5 meter berikutnya ke bawah dinding ini dibuat dari tembok yang tidak disemen, tujuannya lebih banyak untuk mencegah runtuhnya tanah.

3. Dasar sumur diberi batu kerikil agar tidak keruh.

4. Diatas tanah dibuat dinding tembok kira – kira 1 meter, agar air sekitarnya tidak masuk kedalam sumur serta untuk keselamatan pemakai.

5. Tanah di sekitar tembok sumur atas disemen dan tanahnya dibuat miring dengan tepinya dibuat saluran. Lebar semen sekeliling sumur kira – kira 1,5 meter, agar air permukaan tidak masuk.

6. Sumur diberi atap, ember yang dipakai jangan diletakkan dibawah, tetapi harus tetap tergantung. Sebaiknya air sumur diambil dengan pompa.

Adapun persyaratan yang harus dipenuhi sumur gali yang sehat meliputi hal – hal sebagai berikut ( Entjang, 1991).

(8)

1. Persyaratan Lokasi

a. Menghindarkan pengotoran dengan memperhatikan jarak sumur dengan lubang galian tinja, lubang galian sampah dan sumber pengotoran lainnya. Umumnya jarak tidak kurang dari 10 meter dan usahakan letaknya tidak lebih rendah dari sumber pengotoran.

b. Dibangun pada tempat dengan kedalaman air tanah kurang dari 7 meter. 2. Persyaratan Kontruksi

a. Dinding sumur minimal 3 meter dari permukaan tanah dan dibuat dari tembok kedap air sehingga tidak terjadi perembesan air. Sebab sampai kedalaman 3 meter tanah masih mengandung bakteri.

b. Dinding berikutnya (1,5 meter) dibawahnya dibuat dari pasangan batu bata tampa diplester yang berguna sebagai dinding rembesan dan mencegah keruntuhan dinding ketika airnya ditimba.

c. Kedalaman sumur mencapai lapisan yang banyak mengandung air sehingga tidak mengalami kekeringan pada musim kemarau.

d. Sumur diberi bibir setinggi 70 cm dari permukaan tanah untuk mencegah masuknya air permukaan kedalam sumur.

e. Lantai diplester kedap air dalam jarak 1 meter sekeliling atau dari bibir sumur dengan ketebalan 20 cm dari permukaan tanah serta dibuat agak miring. Tepi lantai ditinggikan sekitar 5 cm agar tidak melimpah kesekitarnya.

f. Bagian dasar sumur diberi kerikil unuk mencegah air tidak keruh sewaktu ditimba.

(9)

g. Saluran pembuangan air limbah dengan lubang peresapan dibangun pada 10 meter dari sumur.

2.5. Hubungan Air Dengan Kesehatan

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor : 20 Tahun 1990, air digolongkan menjadi 4 (empat) golongan yaitu :

1. Golongan A : Air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu.

2. Golongan B : Air yang dapat digunakan sebagai air baku untuk air minum. 3. Golongan C : Air yang dapat dipergunakan untuk keperluan perikanan dan

peternakan.

4. Golongan D : Air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian dan dapat dimanfaatkan untuk usaha perkotaan, industri dan pembangkit tenaga air.

Untuk kelangsungan hidup manusia air sangat dibutuhkan terutama air minum. Air yang memenuhi syarat kesehatan tentunya memberi manfaat yang sangat tak ternilai. Akan tetapi air yang dikomsumsi oleh masyarakat masih banyak yang belum memenuhi syarat – syarat kesehatan yang telah ditetapkan, sehingga pada akhirnya air tersebut bukan memberi manfaat, tetapi justru menimbulkan kerugian.

Penyakit – penyakit yang dapat ditularkan melalui air dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) kategori yaitu ( Kusnoputranto, 2000 ):

(10)

1. Water Borne Disease

Adalah penyakit yang ditularkan langsung melalui air minum, dimana kuman pathogen dapat di dalam air minum. Diantara penyakit – penyakit tersebut adalah penyakit kolera, penyakit typoid, penyakit hepatitis, infektiosa, penyakit dysentri dan penyakit gastroenteritis.

2. Water Washed Disease

Adalah penyakit yang disebabkan karena kekurangan air untuk pemeliharaan hygiene perorangan. Penyakit ini sangat dipengaruhi oleh cara penularan dan dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu :

a. Penyakit infeksi saluran pencernaan, misalnya diare. Penyakit dalam kelompok ini serupa dengan yang terdapat dalam water borne disease yaitu : kolera, typoid, hepatitis. Berjangkitnya penyakit ini erat dengan tersedianya air untuk makan, minum dan memasak, serta untuk kebersihan alat-alat makan.

b. Penyakit kulit dan selaput lendir. Penyakit yang termasuk golongan ini antara lain penyakit infeksi fungsi pada kulit, penyakit conjunctivitis (trachoma). Berjangkitnya penyakit ini sangat erat dengan kurangnya penyediaan air bersih untuk hygiene perorangan.

c. Penyakit infeksi yang ditimbulkan oleh insekta parasit pada kulit dan selaput lendir. Insekta parasit akan mudah berkembang biak dan menimbulkan penyakit bila kebersihan umum tidak terjamin.

(11)

3. Water Base Disease

Adalah penyakit yang ditularkan oleh bibit penyakit yang sebagian siklus hidupnya berada di air seperti Schistosomiasis. Larva Schistomiasis hidup di dalam keong air. Setelah waktunya, larva ini akan mengubah bentuk menjadi

Curcuma dan dapat menembus kaki manusia yang berada di dalam air tersebut.

Air ini sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia seperti mandi, mencuci, menangkap ikan, dan sebagainya.

4. Water Related Insecta Vektors

Adalah penyakit yang ditularkan melalui vektor yang hidupnya tergantung pada air, misalnya malaria, demam berdarah, filariasis, yellow fever, dan lain sebagainya. Nyamuk sebagai vektor penyakit akan berkembang biak dengan mudah, bila dilingkungannya terdapat genangan- genangan air seperti gentongan air, pot, dan sebagainya tempat perindukannya.

2.5.2. Penyimpangan Standard Terhadap Parameter Penting.

Pihak yang berwewenang dalam penyediaan air bersih masih banyak mendistribusikan air ke konsumen yang tidak memenuhi standard Permenkes RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990 tentang persyaratan kualitas air bersih, dan masyarakat di pedesaan masih banyak yang menggunakan air tanah sebagai sumber air bersih yang tidak memenuhi syarat kesehatan, akibat yang dapat terjadi apabila air tidak memenuhi standar kualitas air bersih adalah terjadinya penyimpangan terhadap standar parameter penting yang merugikan konsumen/masyarakat yaitu (Soemirat, 2003) :

(12)

1. Suhu

Temperatur dari air akan mempengaruhi penerimaan masyarakat akan air tersebut dan dapat mempengaruhi pula reaksi kimia dalam pengolahan, terutama apabila temperature tersebut sangat tinggi. Berdasarkan Permenkes RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990 suhu maksimum yang di perbolehkan yaitu dibawah 30C atau diatas 30C dari suhu udara. Penyimpangan terhadap standard suhu ini akan mengakibatkan air tersebut tidak disukai oleh konsumen, meningkatnya daya toksisitas bahan kimia atau bahan pencemar dalam air dan pertumbuhan mikroba dalam air.

2. Warna

Air bersih sebaiknya tidak berwarna untuk alasan estetika dan untuk mencegah keracunan dari berbagai zat kimia maupun mikroorganisme yang berwarna. Berdasarkan Permenkes RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990 warna maksimum yang diperbolehkan untuk air bersih yaitu 50 TCU. Efek kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah mengganggu estetika, air tersebut tidak diterima oleh konsumen, memungkinkan masyarakat/konsumen akan mencari sumber air lain yang mungkin saja justru tidak memenuhi syarat kesehatan.

3. Bau dan Rasa

Biasanya bau dan rasa terjadi bersama-sama yaitu akibat adanya dekomposisi bahan organic dalam air. Demikian juga senyawa kimia tertentu menyebabkan rasa di dalam air seperti NaCl menyebabkan air menjad asin. Standard persyaratan menyangkut baud an rasa menurut Permenkes RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990 menyatakan bahwa air tidak boleh terdapat bau dan rasa

(13)

yang tidak diinginkan. Efek kesehatan yang dapat ditibulkan adalah kemungkinan masyarakat/konsumen akan mencari sumber lain yang mungkin saja justru tidak memenuhi syarat kesehatan dan dapat mengganggu estetika dan tidak disukai konsumen.

4. Kekeruhan

Air dikatakan keruh, apabila air tersebut mengandung begitu banyak partikel, bahan yang tersuspensi sehingga memberikan warna/rupa yang berlumpur dan kotor. Bahan-bahan yang menyebabkan kekeruhsn ini meliputi : tanah liat, lumpur, bahan-bahan organik yang tersebar secara baik dan partikel-partikel kecil yang tersuspensi lainnya. Standard persyaratan menyangkut kekeruhan menurut Permenkes RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990 menyatakan bahwa kadar maksimum yang diperbolehkan adalah 25 NTU. Efek kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah gangguan estetika dan mengurangi efektifitas desinfeksi air.

5. Mangan (Mn)

Endapan MnO2 akan memberikan noda-noda pada bahan/benda-benda yang

berwarna putih. Adanya unsur ini dapat menimbulkan bau dan rasa pada minuman. Unsur ini bersifat toksis pada alat pernapasan. Konsentrasi Mn yang lebih besar dari 0,5 mg/l, dapat menyebabkan rasa yang aneh pada minuman dan meninggalkan warna coklat-coklatan pada pakaian cucian, dan dapat juga menyebabkan kerusakan pada hati. Konsentrasi standart maksimum yang ditetapkan oleh Permenkes R.I No : 416/Menkes/Per/IX/1990 adalah sebesar 0,5 mg/l.

(14)

6. Besi (Fe)

Konsentrasi unsur ini dalam air yang melebihi ± 2 mg/l akan menimbulkan noda-noda pada peralatan dan bahan-bahan yang berwarna putih. Adanya unsur ini dapat pula menimbulkan bau dan warna pada air minum, dan warna koloid pada air. Selain itu, konsentrasi yang lebih besar dari 1 mg/l dapat menyebabkan warna air menjadi kemerah-merahan, memberi rasa tidak enak pada minuman. Konsentrasi standart maksimum yang ditetapkan oleh Permenkes R.I No : 416/Menkes/Per/IX/1990 adalah sebesar 1,0 mg/l.

7. Nitrat (NO3-)

Air sumur perseorangan dengan konsentrasi Nitrat 67 – 1100 mg/l telah mengakibatkan methemoglobinemia pada bayi yang memperoleh susu yang dibuat dengan campuran air tersebut. Kandungan Nitrat mempengaruhi suatu populasi tertentu dalam penggunaan air yang khusus. Konsentrasi Nitrat yang melebihi 45 mg/l dalam air merupakan peringatan agar berhati-hati dalam penggunaan air tersebut untuk campuran makanan/minuman untuk bayi. Jumlah Nitrat (NO3-) yang besar dalam usus cenderung untuk berubah menjadi Nitrit

(NO2-), yang dapat bereaksi langsung dengan haemoglobin dalam darah

membentuk ”methaemoglobine” yang dapat menghalangi perjalanan oksigen di dalam tubuh. Konsentrasi standart maksimum yang ditetapkan oleh Permenkes R.I No : 416/Menkes/Per/IX/1990 adalah sebesar 10 mg/l.

(15)

8. Bakteriologi

Penyimpangan terhadap standard ini dapat disimpulkan bahwa air tersebut telah tercemar oleh tinja atau limbah yang berarti dalam air tersebut kemungkinan besar terdapat kuman-kuman pathogen dan non phatogen yang membahayakan kesehatan seperti : salmonella typi, shigella disentri, entonisiba, coliform.

2.7. Standard Kualitas Air

Di Indonesia standar mutu air bersih ditetapkan oleh Departemen Kesehatan R.I dalam bentuk Peraturan Menteri Kesehatan R.I Nomor : 416/Per/Menkes/IX/1990 Tentang Syarat-syarat dan pengawasan kualitas air yang ditetapkan pada tanggal 3 September 1990 yang menjelaskan perbedaan antara pengertian air minum dengan air bersih yaitu :

1. Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.

2. Air Bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak.

Adapun syarat-syarat kesehatan yang berkenan dengan kualitas air adalah : 1. Syarat Fisik yang meliputi : Suhu, warna, bau, rasa dan kekeruhan.

2. Syarat Kimia yang meliputi : Derajat keasaman (pH), jumlah zat padat (Total Disolved Solid) dan bahan-bahan kimia lainnya.

3. Syarat Biologi yang meliputi : kuman-kuman parasit, kuman-kuman phatogen dan bakteri golongan coli.

(16)

4. Syarat radioaktif yang meliputi : benda-benda radioaktif yang mungkin terkandung dalam air.

2.7.1. Pengertian Standard Kualitas Air

Standard kualitas air dapat diartikan sebagai ketentuan-ketentuan yang biasanya dituangkan dalam bentuk pernyataan atau angka yang menunjukkan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi agar air tersebut tidak menimbulkan gangguan kesehatan, penyakit gangguan tehnis, dan gangguan dalam segi estetika (Depkes RI, 1999).

Dalam menangani masalah penyediaan air bersih, perlu adanya standar kualitas. Hal ini berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :

1. Air yang memenuhi syarat kesehatan haruslah bebas dari mikroorganisme pathogen, bebas dari warna, bau, kekeruhan dan rasa.

2. Penyimpangan dari syarat kesehatan akan mengakibatkan kerugian dalam bentuk gangguan kesehatan/penyakit, gangguan teknis dan gangguan dalam segi estetika. 3. Persyaratan kualitas air tersebut supaya dapat diterapkan, perlu dijabarkan dalam

bentuk yang lebih teratur dan terperinci yang diuraikan konsentrasinya.

Standard kualitas air bersih dapat diuraikan sebagai ketentuan-ketentuan berdasarkan Permenkes RI. Nomor : 416/Menkes/Per/IX/1990 yang biasanya dituangkan dalam bentuk pernyataan atau angka yang menunjukkan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi agar air tersebut tidak menimbulkan gangguan kesehatan.

(17)

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penyimpangan standard adalah sebagai berikut :

1. Secara alamiah sumber air yang digunakan mengandung bahan-bahan kimia dalam jumlah yang berlebihan sehingga memerlukan pengolahan yang lebih sempurna.

2. Kesalahan dalam memilih tehnologi pengolahan air sehingga diperoleh hasil yang menyimpang atau tidak memenuhi standard syarat kualitas.

3. Terbatasnya dana yang digunakan untuk pengolahan air. Setiap pengolahan air memerlukan dana. Semakin tinggi kualitas yang ingin dicapai semakin besar dana yang dibutuhkan.

4. Air yang telah memenuhi standard kualitas mendapat pencemaran, baik secara alamiah maupun akibat aktifitas manusia.

5. Kurangnya pengertian individu atau masyarakat dalam menggunakan fasilitas air bersih.

Setiap penyimpangan standard kualitas, dapat mengakibatkan kerugian terhadap :

1. Manusia

Beberapa penyakit dan gangguan kesehatan lainnya dapat terjadi akibat adanya penyimpangan standard kualitas air. Contohnya, penyakit Blue Baby yang menimpa bayi akibat bayi tersebut minum air yang mengandung nitrat yang melebihi batas yang ditetapkan dalam standard kualitas.

(18)

2. Lingkungan

Gangguan yang ditimbulkan tidak berupa penyakit, melaikan bersifat tehnis. Contohnya : air yang mengandung CO2 agresif , air tersebut akan bersifat korosif

yang akibatnya akan merusak jaringan pipa. 3. Estetika

Beberapa penyimpangan standard kualitas air bersih dapat menyebabkan kerugian dibidang estetika. Contohnya : air yang berwarna sangat tidak disukai oleh masyarakat. Demikian pula air yang keruh, berbau dan berasa menimbulkan perasaan jijik di kalangan masyarakat.

2.7. Perilaku

Menurut Notoadmodjo (2003), perilaku dipandang dari segi biologis adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme yang bersangkutan. Jadi perilaku manusia pada hakikatnya adalah suatu aktivitas dari pada manusia itu sendiri.

Menurut Sarwono (1997), perilaku manusia merupakan hasil dari pada segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain, perilaku merupakan respon atau reaksi individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon ini bersifat pasif (tanpa tindakan) maupun aktif (disertai tindakan).

(19)

Bentuk operasional dari perilaku dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu :

1. Perilaku dalam bentuk pengetahuan yakni dengan mengetahui situasi atau rangsangan dari luar.

2. Perilaku dalam bentuk sikap yakni tanggapan batin terhadap keadaan atau rangsangan dari luar diri si subjek.

3. Perilaku dalam bentuk tindakan yang sudah konkrit berupa perbuatan (action) terhadap situasi dan atau rangsangan dari luar

2.7.1. Pengetahuan (Knowledge)

Putusan orang yang tahu disebut mempunyai pengetahuan. Jadi, pengetahuan tidak lain dari hasil tahu. Kalau orang misalnya tahu, bahwa pohon itu rendah, maka ia mengakui hal “rendah” terhadap pohon itu. Ia mengakui terhadap sesuatu. Memang ia tahu, yang menghasilkan pengetahuan. Pengakuan sesuatu terhadap sesuatu itu disebut “putusan” (Poedjawijatna, 1998).

Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, yakni dengan indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).

Ada 6 (enam) tingkatan pengetahuan yaitu : 1. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan

(20)

yang telah diterima. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari dengan menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan, menyatakan, dan sebagainya.

2. Memahami (Comprehansion)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, dan meramalkan terhadap objek yang dipelajari.

3. Aplikasi (Appilcation)

Aplikasi berarti sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum – hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya, dapat menggunakan prinsip – prinsip siklus pemecahan masalah (problem solving

cycle) di dalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.

4. Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.

(21)

5. Sintesis (Synthesis)

Sintesis yaitu menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.

6. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi yang berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Misalnya, dapat membandingkan antara anak yang cukup gizi dengan anak yang kekurangan gizi, dapat menanggapi terjadinya diare di suatu tempat, dapat menafsirkan sebab ibu – ibu tidak mau ikut KB, dan sebagainya (Notoadmojo, 2003).

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden.

2.7.2. Sikap (Attitude)

Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu. Dalam

(22)

kehidupan sehari-hari adalah merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial.

Menurut Allport (1954) yang dikutip dari Notoatmodjo (2003), menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 (tiga) komponen pokok, yaitu :

1. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek. 2. Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek.

3. Kecenderungan untuk bertindak (trend to behave).

Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total

attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran, keyakinan dan

emosi memegang peranan penting (Notoatmodjo, 2003). Ada 4 (empat) tingkatan sikap yaitu :

1. Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).

2. Merespon (responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah, adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut. 3. Menghargai (valuing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. Misalnya, seseorang yang mengajak orang lain untuk membersihkan lingkungannya, atau mendiskusikan tentang

(23)

kesehatan lingkungan, adalah suatu bukti bahwa seseorang tersebut telah mempunyai sikap positif terhadap kesehatan lingkungan.

4. Bertanggung jawab (responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yamg telah dipillihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi.

2.7.3. Tindakan atau Praktek (Practice)

Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Disamping faktor fasilitas juga diperlukan faktor dukungan (support) dari pihak lain.

Tingkat-tingkat tindakan atau praktek adalah : 1. Persepsi (perception)

Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktek tingkat pertama.

2. Respon terpimpin (Guided respons)

Dapat dilakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai pula dengan contoh adalah indikator praktek tingkat dua.

3. Mekanisme (Mecanism)

Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktek tingkat tiga.

(24)

4. Adopsi (Adoption)

Adaptasi yaitu suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasikannya sendiri tampa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.

2.10. Kerangka Konsep

Kualitas Air Sumur Gali Perilaku (Pengetahuan, Sikap dan Tindakan) Masyarakat Tentang Konstruksi Sumur Gali Meliputi :

Parameter Fisik, meliputi : 1. Suhu

2. Berasa 3. Berwarna 4. Keruh 5. Berbau

Parameter Kimia, meliputi : 1. Mangan

2. Besi 3. Nitrat

Parameter Biologi, meliputi :

1. E. coli 2. Total Coliform Permenkes R.I No.416/MENKES /PER/IX/1990 Konstruksi Sumur Gali Yang Memenuhi Syarat Kesehatan

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :