BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan sektor perekonomian yang mendukung kelancaran
aktivitas ekonomi, khususnya sektor makanan dan minuman di Indonesia
sangat menarik untuk diteliti. Perusahaan makanan dan minuman merupakan
salah satu sektor yang diminati oleh para investor, karena banyak
memberikan keuntungan dalam memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.
Industri makanan dan minuman berkembang dengan baik dan pertumbuhan
yang positif. Dapat diambil data dari www.bps.go.id bahwa perkembangan
dan pertumbuhan yang menunjukan peningkatan tiap tahun, dengan adanya
bukti pada triwulan I pada tahun 2017makanan dan minuman menunjukan
nilai indeks produksi sebesar 169,31% dan 152,42%. Dan pada triwulan II
pada tahun 2017 makanan dan minuman menunjukan nilai indeks produksi
sebesar 170,81% dan 155,26%. Sehingga makanan dan minuman mengalami
pertumbuahan indeks produksi sebesar 1,5% dan 2.84%.
Pasar modal pada dasarnya bertujuan untuk menjembatani aliran dana
dari pihak yang memiliki dana (investor) dengan pihak yang membutuhkan
dana (perusahaan go public). Perusahaan yang telah go public dan terdaftar
dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) wajib memenuhi kewajibannya untuk
menyampaikan laporan keuangan yang telah di audit oleh Kantor Akuntan
diperlukan oleh investor di pasar modal meliputi informasi fundamental dan
teknikal. Informasi yang bersifat teknikal sepereti keadaan ekonomi, sosial
dan politik suatu negara. Sedangkan yang bersifat fundamentaladalah yang
diperoleh di intern perusahaan, khususnya kondisi keuangan perusahaan
dalam melakukan transaksi saham di BEI. Informasi fundamental yang lazim
digunakan adalah informasi laporan keuangan (Santoso dkk,2016).
Laporan keuangan merupakan sarana pengkomunikasian informasi
keuangan kepada pihak-pihak di luar perusahaan. Dalam penyusunan laporan
keuangan, dasar akrual dipilih karena lebih rasional dan adil dalam
mencerminkan kondisi keuangan perusahaan secara riil, namun disisi lain
penggunaan dasar akrualdapat memberikan keleluasaan kepada pihak
manajemen dalam memilih metode akuntasi selama tidak menyimpang dari
aturan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku. Pilihan metode akuntansi
yang secara sengaja dipilih oleh manajemen untuk tujuan tertentu dikenal
dengan sebutan Manajemen Laba atau Profit Management/Earning
ManagementRahmawati (dalam Kartika 2012). Manipulasi laba yang dikenal
dengan manajemen laba (Profit Management) yang didefinisikan sebagai
usaha pihak manajer yang disengaja untuk memanipulasi laporan keuangan
dalam batasan yang dibolehkan oleh prinsip akuntansi dengan tujuan untuk
memberikan informasi untuk kepentingan manajer(Santoso dkk,2016).
Manajemen laba menjadi pusat perhatian bagi para pengguna laporan
keuangan dalm menggunakannya. Manajemen laba merupakan keikutsertaan
memungkinkan terjadinya dua hal yaitu kemungkinan terjadi penurunan laba
atau kenaikan laba dengan cara manipulasi. Menurut Damayanthi (2008)
manajemen laba yang sering dilakukan manajemen sangat mempengaruhi
kualitas laba. Laba yang dihasilakan manajemen erat hubungannya dengan
decision usefulness bagi pihak yang berkepentingan dengan perusahaan. Laba
yang dilaporkan akan lebih baik jika diakui dan diukur dengan prinsip
akuntansi dan digabungkan dengan implementasi keputusan (Pasaribu
dkk,2015).
Ukuran perusahaan dilihat dari total aset atau aktiva yang dimiliki
oleh perusahaan, yang dapat dipergunakan untuk kegiatan operasi
perusahaan. Perusahaan yang besar lebih diperhatikan oleh masyarakat
sehingga mereka akan lebih berhati-hati dalam melakukan pelaporan
keuangan dan melaporkan kondisinya lebih akurat. Semakin besar ukuran
perusahaan, biasanya informasi yang tersedia untuk investor dalam
pengambilan keputusan sehubungan dengan investasi dalam saham
perusahaan tersebut semakin banyak. Hal ini menunjukkan bahwa semakin
besar perusahaan semakin kecil pengelolaan laba yang dilakukan(Nahar dan
Erawati,2017).
Debt to Equity Ratio menggambarkan komposisi/struktur modal
perusahaan yang digunakan sebagai sumber pendanaan usaha. Semakin tinggi
DER menunjukann semakin tinggi komposisi utang perusahaan
dibandingkan dengan modal sendiri sehingga berdampak besar pada beban
perusahaan. Perusahaan dengan debt to equity rasio yang tinggi akan
mengalami kesulitan dalam memperoleh dana tambahan dari pihak kreditor
bahkan perusahaan terancam melanggar perjanjian utang dan mengalami
kerugian, apabila hal itu terjadi bisa saja praktek manajemen laba terpaksa
dilakukan untuk memenipulasi seolah-olah perusahaan memiliki kinerja yang
baik dengan pencapain laba maksimal (Santoso dkk,2016).
Syamsudi (dalam Santoso dkk, 2016) mengatakan pada umumnya
manajemen perusahaan, pemegang saham biasa dan calon pemegang saham
sangat tertarik akan EPS, karena hai ini menggambarkan jumlah rupiah yang
diperoleh untuk setiap lembar saham biasa. Peningkatan EPS menandakan
bahwa perusahaan berhasil meningkatkan taraf kemakmuran inverstor, dan
hal ini akan mendorong investor untuk menambah jumlah modal yang
ditanamkan pada perusahaan. Makin tinggi nilai EPS akan menggembirakan
pemegang saham karena semakin besar laba yang disediakan untuk pemegang
saham. Hal ini akan berakibat dengan meningkatnya laba sehingga harga
saham cenderung naik, sedangkan ketika menurun, harga saham juga ikut
menurun.
Perencanaan Pajak adalah langkah awal dalam manajemen pajak
dimana pada tahap ini dilakukan pengumpulan dan penelitian terhadap
peraturan perpajakan, dengan maksud dapat diseleksi jenis tindakan
penghematan pajak yang akan dilakukan. Perencanaan pajak atau tax
planning merupakan bagian dari manajemen pajak dan merupakan langkah
proses mengorganisasi usaha WP atau kelompok WP sedemikian rupa
sehingga hutang pajaknya baik PPh maupun pajak-pajak lainnya berada
dalam posisi yang minimal, sepanjang hal ini dimungkinkan oleh ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pada tahap ini dilakukan
pengumpulan dan penelitian terhadap peraturan perpajakan agar dapat
diseleksi jenis penghematan pajak yangdilakukan (Astutik dan
Mildawati,2016).
Watts and Zimmerman (dalam Jao dan Pagalung, 2011) menyatakan
dalam growthbahwa semakin dekat perusahaan kearah pelanggaran
persyaratan utang yang didasarkan atas angka akuntansi maka manajer lebih
cenderung untuk memilih prosedur-prosedur akuntansi yang memindahkan
laba periode mendatang ke laba periode berjalan. Oleh karena itu, semakin
tinggi nilai leverage dalam suatu perusahaan maka kemungkinan manajer
dalam melakukan manajemen laba semakin besar. Hal ini dilakukan demi
memperoleh penilaian yang baik dari kreditur (Nahar dan Erawati,2017).
Alasan memilih perusahaan makanan dan minuman sebagai objek
penelitian karena sektor industri makanan dan minuman merupakan salah satu
sektor usaha yang akan terus mengalami pertumbuhan. Seiring dengan
meningkatnya pertumbuhan jumlah penduduk dan kondisi ekonomi di
Indonesia saat ini yang tidak terlalu bagus, permintaan konsumen akan
makanan dan minuman ini tidak terpengaruh sedikitpun, melihat permintaan
konsumen akan makanan dan minuman ini terus meningkat, namun di sisi
Berdasarkan penelitian sebelumnya, fenomena dan alasan diatas
memberikan motivasi kepada penulis untuk memilih topik ini dan
menjadikannya sebagai bahan penulisan skripsi dengan judul “Pengaruh
Ukuran Perusahaan, Debt to Equity Ratio, Earning Per Share,Perencanaan
Pajak dan Growth terhadap Manajemen Laba (studi pada perusahaan
manufaktur sub sector Food dan Beverage yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia (BEI) Periode 2011-2016”.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah Ukuran Perusahaan berpengaruhpositif terhadap Manajemen
Laba pada perusahaan manufaktursub sector food beverage yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
2. Apakah Debt to Equity Ratio berpengaruh positif terhadap Manajemen
Laba pada perusahaan manufaktursub sector food beverage yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
3. Apakah Earning Per Share berpengaruhnegatif terhadap Manajemen
Laba pada perusahaan manufaktursub sector food beverage yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
4. Apakah Perencanaan Pajak berpengaruh positif terhadap Manajemen
Laba pada perusahaan manufaktursub sector food beverage yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
5. Apakah Growth berpengaruh positif terhadap Manajemen Laba pada
perusahaan manufaktur sub sector food beverage yang terdaftar di Bursa
C. Tujuan Penelititian
1. Untuk mengetahui pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Manajemen
Laba pada perusahaan manufaktursub sector food beverage yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2. Untuk mengetahui pengaruhDebt to Equity Ratio terhadap Manajemen
Laba pada perusahaan Manufaktursub sector food beverage yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
3. Untuk mengetahui pengaruhEarning Per Share terhadap Manajemen
Laba pada perusahaan manufaktursub sector food beverage yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
4. Untuk mengetahui pengaruh Perencanaan Pajak terhadap Manajemen
Laba pada perusahaan manufaktursub sector food beverage yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
5. Untuk mengetahui pengaruh Growth terhadap Manajemen Laba pada
perusahaan manufaktur sub sector food beverage yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat di peroleh dari penelitian ini adalah sebagai
berikut :
1. Bagi pembaca dan peneliti, hasil ini dapat diharapkan memberi
kontribusi empiris mengenai pengaruh ukuran perusahaan, debt to equity
ratio, earning per share, perencanaan pajak dan growth terhadap
2. Bagi dunia bisnis, hasil penelitian ini dapat diharapkan memberikan bukti
empiris mengenai pengaruh ukuran perusahaan, debt to equity ratio,
earning per share, perencanaan pajak dan growth terhadap manajemen
laba, sehingga penelitian ini dapat dijadikan sebagai literatur dan
pengetahuan dalam dunia bisnis.
3. Bagi manajemen perusahaan, hasil penelitian ini dapat diharapkan dapat
membantupara pihak manajemen dalam menetapkan peraturan-peraturan
menegenai ukuran perusahaan, debt to equity ratio, erning per share,
perencanaan pajak dan growth, sehingga peraturan tersebut dapat di