commit to user
JURNAL SKRIPSI
PERBEDAAN PENGARUH PEMBELAJARAN DAN KOORDINASI MATA-KAKI TERHADAP HASIL BELAJAR OPERAN BAWAH SEPAKBOLA
PADA SISWA PUTRA KELAS XI SMA NEGERI 4 KOTA SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2013/2014
(Studi Eksperimen Dengan Pembelajaran Inklusi dan Eksplorasi Pada Siswa Putra Kelas XI SMA Negeri 4 Kota Surakarta
Tahun Pelajaran 2013/2014)
SKRIPSI
Oleh :
MUHAMAD BRAM RIYADI NIM : K5610052
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA 2014
commit to user
PERBEDAAN PENGARUH PEMBELAJARAN DAN KOORDINASI MATA-KAKI TERHADAP HASIL BELAJAR OPERAN BAWAH SEPAKBOLA
PADA SISWA PUTRA KELAS XI SMA NEGERI 4 KOTA SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2013/2014
(Studi Eksperimen Dengan Pembelajaran Inklusi dan Eksplorasi Pada Siswa Putra Kelas XI SMA Negeri 4 Kota Surakarta
Tahun Pelajaran 2013/2014)
MUHAMAD BRAM RIYADI K5610052
Pendidikan Kepelatihan Olahraga JPOK FKIP Universitas Sebelas Maret
Email : [email protected]
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui : (1) Perbedaan pengaruh gaya mengajar inklusi dan eksplorasi terhadap hasil belajar operan bawah sepakbola pada siswa putra kelas XI SMA Negeri 4 Kota Surakarta tahun pelajaran 2013/2014. (2) Perbedaan pengaruh antara koordinasi mata-kaki tinggi dan koordinasi mata-kaki rendah terhadap kemampuan operan bawah sepakbola pada siswa putra kelas XI SMA Negeri 4 Kota Surakarta tahun pelajaran 2013/2014. (3) Ada tidaknya interaksi antara gaya mengajar dan koordinasi mata-kaki terhadap hasil belajar operan bawah sepakbola pada siswa putra kelas XI SMA Negeri 4 Kota Surakarta tahun pelajaran 2013/2014. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Populasi sekaligus subyek dalam penelitian ini adalah siswa putra kelas XI SMA Negeri 4 Kota Surakarta tahun pelajaran 2013/2014 sebanyak 130 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Simple Random Sampling, 60 dari jumlah populasi dijadikan sampel penelitian. Teknik pengumpulan data dengan tes dan pengukuran yang meliputi : koordinasi mata-kaki dengan Soccer Wall
commit to user
Volley Test serta kemampuan tes tendangan mendatar bola dengan tes ketepatan
tendangan. Teknik analisis data yang digunakan adalah ANAVA 2 X 2. Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut : (1) Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada perbedaan peningkatan kemampuan tendangan mendatar yang ditimbulkan oleh pembelajaran inklusi dan eksplorasi dengan perbedaan peningkatan bahwa F0= 29.25 lebih besar dari Ft= 4.110 pada taraf signifikan
5%. (2) Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan antara siswa yang memiliki koordinasi mata-kaki tinggi dengan siswa yang memiliki koordinasi mata-kaki rendah dengan hasil perhitungan diperoleh F0 =8.73 lebih
besar dari Ft = 4.110 pada taraf signifikasi 5%. (3) Ada interaksi antara bentuk
pembelajaran inklusi, eksplorasi dan koordinasi mata-kaki tehadap kemampuan tendangan mendatar dengan hasil analisis data ditunjukkan oleh F0 = 26.31 lebih
besar dari Ft = 4.110 pada taraf signifikasi 5%. Berdasarkan hasil penelitian
diperoleh kesimpulan sebagai berikut : (1) Ada perbedaan pengaruh yang meyakinkan antara pembelajaran inklusidengan pembelajaran eksplorasiterhadap kemampuan tendangan mendatar pada siswa putra kelas XI SMA Negeri 4 Surakarta. Metode pembelajaran inklusi lebih baik pengaruhnya dibandingkan dengan metode pembelajaran eksplorasi. (2) Ada pengaruh yang meyakinkan antara koordinasi mata-kaki tinggi dan koordinasi mata-kaki rendah terhadap kemampuan tendangan mendatar pada siswa putra kelas XI SMA Negeri 4 Surakarta. Pengaruh peningkatan kemampuan operan bawah pada siswa yang memiliki koordinasi mata-kaki tinggi lebih baik dibandingkan pada siswa yang memiliki koordinasi mata-kaki rendah. (3) Ada interaksi antara bentuk pembelajaran inklusi, eksplorasi dan koordinasi mata-kaki terhadap kemampuan operan bawah pada siswa putra kelas XI SMA Negeri 4 Surakarta tahun pembelajaran 2013/2014.
commit to user
PENDAHULUAN
Sepakbola adalah suatu
permainan yang dimainkan oleh dua kelompok berlawanan yang masing-masing berjuang untuk memasukkan bola ke gawang kelompok lawan,
yang dimana masing-masing
kelompok beranggotakan sebelas pemain. Sepakbola adalah permainan yang sangat populer di dunia, banyak di gemari oleh semua kalangan, dari kalangan anak-anak, dewasa, hingga orang tua. Perkembangan sepakbola pada jaman saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat khususnya di Indonesia, hal ini ditandai dengan banyaknya sekolah sepakbola (SSB) dan tim sepakbola yang didirikan di berbagai pelosok wilayah di Indonesia.
Dalam permainan sepakbola sering kita jumpai teknik-teknik
dasar yang bermacam-macam.
Keterampilan bermain sepakbola
akan dimiliki siswa apabila
menguasai teknik dasar bermain sepakbola. Salah satu teknik dasar yang kita jumpai adalah teknik menendang bola. Menendang bola merupakan teknik dengan bola yang paling banyak dilakukan dalam
permainan sepakbola. Tim yang baik adalah tim yang kemampuan masing-masing pemainnya menguasai teknik sepakbola dengan baik. salah satunya pada teknik operan bawah sepakbola. Teknik operan bawah tidak lagi
hanya sebagai umpanan, tetapi
sebagai serangan ke daerah lawan yang dapat menghasilkan gol. Dalam pembelajaran operan bawah perlu adanya variasi dalam mengajar untuk mencapai hasil yang lebih baik. Dalam upaya mencapai pembelajaran
tersebut, harus menemukan
komponen-komponen yang tepat
dalam pembelajaran yang dapat
diperhatikan dan dilaksanakan
dengan baik dan benar.
Peran penting dalam
menyampaikan materi pelajaran
yaitu metode pembelajaran.
Kaitannya dengan metode
pembelajaran, seorang guru dapat menerapkan berbagai macam cara, salah satunya gaya mengajar. Gaya mengajar merupakan bagian dari metode pembelajaran. Keputusan guru pada awal pembelajaran tentang gaya mengajar sangat penting untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Banyaknya macam gaya mengajar,
commit to user maka seorang guru harus cermat dan
tepat dalam memilihnya agar tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat dicapai secara optimal. Karena
pembelajaran yang dilakukan
sebelumnya terlihat kurang menarik
minat dan semangat yang
menyebabkan hasil belajar siswa
menurun. Gaya mengajar yang
dilakukan adalah intruksi atau mengarahkan siswa pada tugas gerak, selama proses pembelajaran banyak siswa yang merasakan bosan. Bosan terjadi jika seseorang selalu
melihat, merasakan, mengalami
peristiwa yang sama secara berulang kali, bertemu dengan sesuatu yang sama setiap hari dan tidak ada sesuatu yang diharapkan. Demikian juga dalam proses belajar mengajar, bila guru dalam proses belajar mengajar tidak menggunakan variasi atau gaya mengajar lainnya, maka akan membosankan siswa, perhatian siswa berkurang, mengantuk dan akibatnya tujuan belajar tidak tercapai. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut seorang guru dapat menerapkan salah satu gaya mengajar atau mengkombinasikan dari beberapa gaya mengajar.
Dari beberapa gaya mengajar tersebut, gaya mengajar inklusi dan gaya mengajar eksplorasi memiliki karakteristik yang berbeda. Gaya mengajar inklusi merupakan cara
pembelajaran dengan cara
merancang materi pembelajaran
berdasarkan level atau tingkatan dari cara yang mudah dan cara yang sulit.
Sedangkan gaya eksplorasi
merupakan cara mengajar yang memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengeksplorasikan tugas ajar yang diberikan oleh guru. Dari kedua macam gaya mengajar tersebut, masing-masing memiliki penekanan
secara khusus dalam belajar
keterampilan. Kedua gaya mengajar
tersebut belum diketahui gaya
mengajar mana yang lebih baik pengaruhnya terhadap peningkatan hasil belajar operan bawah. Karena kemapuan operan bawah tidak hanya dipengaruhi oleh penerapan gaya mengajar dari guru.
Faktor individu (siswa)
sangat menentukan terhadap
penguasaan suatu keterampilan
olahraga. Koordinasi mata-kaki
berperan terhadap gerakkan operan bawah, yaitu pada saat mengoper
commit to user
bola seorang pemain harus
memperhatikan bola dan situasi
permainan. Pada saat pemain
melakukan operan bawah seorang pemain tidak harus menunduk terus memperhatikan letak dengan terus
melihat bola, tetapi harus
memperhatikan situasi permainan.
Apakah benar siswa yang
mempunyai koordinasi mata-kaki baik kemampuan operan bawah juga baik. Nampaknya hal ini perlu di pertanyakan lagi, karena kemampuan
operan bawah tidak hanya
dipengaruhi koordinasi mata-kaki tinggi maupun koordinasi mata-kaki rendah, tetapi ada faktor lainnya misalnya, kelentukan, kekuatan, kecepatan dan lain sebagainya.
Upaya untuk mengetahui
gaya mengajar mana yang lebih baik pengaruhnya antara gaya mengajar inklusi dan gaya mengajar eksplorasi serta pengaruh koordinasi mata-kaki terhadap hasil belajar operan bawah sepak bola, maka perlu dikaji dan diteliti lebih mendalam baik secara
teori maupun praktik melalui
penelitian eksperimen. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa putra kelas XI SMA Negeri 4 Kota Surakarta
tahun pelajaran 2013/2014. Dalam pembelajaran permainan sepak bola
diajarkan macam-macam teknik
dasar bermain sepak bola salah satunya teknik operan bawah. Dari pembelajaran pendidikan jasmani tersebut, ternyata tidak semua siswa putra kelas XI SMA Negeri 4 Kota Surakarta tahun pelajaran 2013/2014 memiliki kemampuan operan bawah sepak bola yang baik.
Waktu pembelajaran yang relatif singkat merupakan salah satu
faktor yang menyulitkan guru.
Waktu pembelajaran 2 X 45 menit tidak memungkinkan membelajarkan teknik dasar operan bawah sepakbola secara maksimal. Peran guru dalam
pembelajaran khususnya gaya
mengajar sulit dikembangkan secara maksimal karena seringnya jam pembelajaran pendidikan jasmani bersamaan dengan kelas lain (kelas X atau XII) serta sarana dan prasarana di sekolah yang ada tidak
sepenuhnya bisa dipakai untuk
pembelajaran juga menjadi kendala
yang menghambat proses
pembelajaran, sehingga siswa lebih cenderung kurang bergerak. Hal ini sangat menyulitkan guru untuk
commit to user
memaksimalkan dan
mengembangkan pembelajaran
pendidikan jasmani.
Kurang maksimalnya dalam pembelajaran pendidikan jasmani, sehingga masih perlu pembelajaran atau latihan di luar jam pelajaran sekolah. Oleh karena itu, dengan
pembelajaran yang tepat dan
memperhatikan faktor-faktor yang
mendukung kemampuan operan
bawah sangat penting agar diperoleh hasil belajar yang optimal. Karena, belajar keterampilan bukan belajar seperti pada umumnya, sehingga perlu strategi atau cara mengajar yang baik dan tepat. Seorang guru
dituntut berkreativitas dalam
menyajikan tugas ajar yang akan
diberikan di antaranya dengan
menerapkan gaya mengajar yang tepat, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai lebih optimal.
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka penulis akan melakukan penelitian dengan judul, “Perbedaan Pengaruh Pembelajaran Dan Koordinasi Mata-Kaki Terhadap Hasil Belajar Operan Bawah Sepakbola Pada Siswa Putra Kelas XI SMA Negeri 4 Kota
Surakarta Tahun Pelajaran
2013/2014”.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan
metode eksperimen. Dasar
penggunaan metode ini adalah
kegiatan diawali dengan melakukan tes awal kemudian memberikan
perlakuan kepada subyek dan
diakhiri dengan suatu bentuk tes guna mengetahui pengaruh perlakuan yang telah diberikan.
Penelitian menggunakan
rancangan factorial 2 X 2 “factorial
adalah rancangan dimana bisa
dimasukkan dua variabel atau lebih untuk memanipulasi secara simultan. Dengan rancangan ini bisa diteliti pengaruh setiap variabel independen
terhadap variabel dependen dan juga pengaruh interaksi antara variabel-variabel independen (Sugiyanto, 1995: 30)”.
Teknik pengambilan sampel
yang digunakan adalah Simple
Random Sampling. Langkah
pertama, mengetes 130 anak
tersebut, sehingga diperoleh
kemampuan koordinasi
rata-commit to user rata dari hasil tes tersebut. Kemudian
diambil 30 anak yang nilainya di atas rata-rata dan masuk dalam kategori tinggi serta 30 anak yang nilainya di
bawah rata-rata masuk dalam
kategori rendah. Sampel berjumlah
60 anak ini kemudian
dikelompokkan sesuai rancangan factorial 2 X 2 yaitu menjadi 4 kelompok, dimana setiap kelompok
terdiri dari 15 anak, untuk
mengelompokkannya dilakukan
secara Ordinal Pairing.
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini diadakan tes dan pengukuran. Untuk
mengukur koordinasi mata-kaki
adalah menggunakan soccer wall
volley test dari Ismaryati (2006:
54-55) dan tes menendang bola dari Dr. Norbert Rogalski dan Dr. Ernest G. Degel yang dikutip Soekatamsi
(1988: 254) untuk mengukur
kemampuan operan bawah.
HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Data
Deskripsi hasil analisis data dan hasil kemampuan tendangan mendatar siswa putra kelas XI SMA
Negeri 4 Surakarta disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut :
Tabel 3. Ringkasan Angka-Angka Statistik Deskriptif Data
Hasil Kemampuan
Tendangan Mendatar Tiap
Kelompok Berdasarkan Perlakuan. Perl akua n Koor dina si Mat a-Kaki Stat istik Te s Aw al Tes Ak hir Penin gkata n Inkl usi (A1) Ting gi (B1) Ju mla h 57. 00 97.0 0 40.00 Me an 3.8 0 6.47 2.67 SD 0.9 4 1.36 0.82 Ren dah (B2) Ju mla h 64. 00 103. 00 39.00 Me an 4.2 7 6.87 2.60 SD 1.2 8 1.77 1.45 Eksp loras i (A2) Ting gi (B1) Ju mla h 44. 00 78.0 0 34.00 Me an 2.9 3 5.20 2.27 SD 1.0 3 1.52 0.96 Ren dah (B2) Ju mla h 49. 00 79.0 0 30.00 Me an 3.2 7 5.27 2.00 SD 1.4 9 1.79 0.93
commit to user Hal-hal yang menarik dari nilai-nilai
yang terdapat dalam tabel di atas adalah sebagai berikut :
1. Jika kelompok siswa dengan
koordinasi mata-kaki tinggi yang
mendapat perlakuan dengan
bentuk pendekatan inklusi
mempunyai rata-rata tes awal 3.80 dan tes akhir 6.47 dengan rata-rata peningkatan 2.67. Sedangkan kelompok siswa yang
mendapat pelakuan dengan
bentuk pendekatan eksplorasi
mempunyai rata-rata tesawal 2.93 dan tes akhir 5.20 dengan rata-rata peningkatan 2.27. Bila ke dua pendekatan pembelajaran
dibandingkan, maka dapat
diketahui bahwa kelompok
perlakuan dengan bentuk
pendekatan inklusi lebih baik dari pada kelompok perlakuan dengan bentuk pendekatan eksplorasi.
2. Kelompok perlakuan pada siswa dengan koordinasi mata-kaki rendah dengan perlakuan bentuk pendekatan inklusi mempunyai rata-rata tes awal 4.27 dan tes akhir 6.87 dengan peningkatan 2.60. Sedangkan pada kelompok siswa dengan perlakuan bentuk
pendekatan eksplorasi
mempunyai rata-rata tes awal 3.27 dan tes akhir 5.27 dengan peningkatan 2.00. Bila ke dua kelompok dibandingkan, maka dapat diketahui bahwa kelompok
perlakuan dengan bentuk
pendekatan inklusi lebih baik dari pada kelompok perlakuan dengan bentuk pendekatan eksplorasi
terhadap tendangan mendatar siswa putra kelas XI SMA Negeri 4 Surakarta
B. Uji Prasyarat Analisis 1. Uji Normalitas
Dari data hasil prediksi
kemampuan menendang bola
sebelum diberi perlakuan, setelah dianalisis menggunakan uji Liliefors, maka diperoleh hasil pengujian seperti tercantum dalam tabel berikut :
Tabel 4. Hasil Uji Normalitas Dengan Uji Liliefors.
Kelo mpok N Pr ob Lo Lt Kesim pulan A1B1 1 5 0. 05 0.2 07 0.2 196 Distrib usi Norma l
commit to user A2B1 1 5 0. 05 0.1 976 0.2 196 Distrib usi Norma l A1B2 1 5 0. 05 0.1 23 0.2 196 Distrib usi Norma l A2B2 1 5 0. 05 0.1 66 0.2 196 Distrib usi Norma l Dari tabel diatas diketahui bahwa Lo < Lt. Hal ini menunjukkan bahwa sampel yang terambil berasal dari populasi yang berdistribusi
normal. Dengan demikian
persyaratan normalitas data telah terpenuhi. Rincian dan prosedur Uji Normalitas dapat dilihat dalam lampiran.
2. Uji Homogenitas Varians
Dengan data yang sama dianalisis menggunakan uji Barlett, maka diperoleh hasil pengujian yang
tercantum dalam tabel sebagai
berikut :
Tabel 5. Hasil Uji Homogenitas Dengan Uji Barlett.
Σ Kelo mpo k N i S2g ab X2hit X2tab el Kesi mpul an 4 1 5 1.1 403 8.24 03 8,72 4 Hom ogen
Dari tabel diatas dapat diketahui X2hit lebih kecil dari pada
X2tabel. Hal ini menunjukkan
sampel-sampel penelitian pada kelompok
bentuk pendekatan inklusi dan
bentuk pendekatan eksplorasi
keduanya bersifat homogen. Dengan demikian persyaratan homogenitas juga dipenuhi. Rincian dan prosedur analisis uji homogenitas varians dapat diperiksa pada lampiran.
Setelah uji homogenitas dan normalitas dilakukan, maka dapat dilakukan analisis varians dua faktor untuk kepentingan pengujian hipotesis.
C. Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis ini dilakukan berdasarkan hasil analisis data dan interpretasi analisis varians. Uji rentang Newman Keuls ditempuh sebagai langkah-langkah uji rata-rata
setelah anava. Bila anava
menghasilkan kesimpulan tentang perbedaan pengaruh kelompok yang dibandingkan, maka uji rentang
Newman Keuls, dimaksud untuk
mengetahui pengaruh kelompok
commit to user
Berkenaan dengan hasil
analisis dan uji rentang Newman
Keuls, ada beberapa hipotesis yang
harus diuji. Hasil analisis data dapat dilihat seperti yang tercantum dalam tabel berikut ini.
Tabel 6. Ringkasan Keseluruhan Hasil Analisis Varians Dua Faktor.
Sumber Variasi d k JK RJ K Fo Ft Ratarata Perlakua n 1 340 .82 34 0.8 2 - - A B AB Kekelirua n 1 1 1 5 6 170 .20 3.7 4 162 .1 483 1.8 7 17 0.2 0 3.7 4 16 2.1 1.9 43 29 .2 5 ** * 8. 73 ** * 26 .3 1 ** * - 4. 11 0 Total 6 0 550 8.7 3 Keterangan : A : Kelompok siswa
berdasarkan Pendekatan Gaya
Mengajar B : Kelompok siswa berdasarkan Kemampuan Menendang Bola AB : Interaksi Antara Kelompok Siswa Berdasarkan Pendekatan Belajar dan Kemampuan Menendang Bola *** : Tanda Signifikansi
Tabel 7. Ringkasan Hasil Uji
Rentang Newman Keuls K P M ea n A2 B2 A2 B1 A1 B2 A1 B1 RST 2. 00 2. 27 2. 47 2. 67 a = 0. 0 5 a = 0. 0 1 A2 B2 2. 00 - 0. 17 * 0. 23 * 0. 34 * 0. 0 8 0. 1 0 A2 B1 2. 27 - - 0. 10 0. 12 * 0. 1 0 0. 1 2 A1 B2 2. 60 - - - 1. 07 * 0. 1 1 0. 1 3
commit to user A1 B1 2. 67 - - - - Keterangan : * : Signifikasi pada p < 0.05. A1B1 : Kelompok pembelajaran
menendang bola dengan pembelajaran inklusi yang
memiliki koordinasi
mata-kaki tinggi.
A1B2 : Kelompok pembelajaran
menendang bola dengan pembelajaran eksplorasi
yang memiliki koordinasi mata-kaki tinggi.
A2B1 : Kelompok pembelajaran
menendang bola dengan pembelajaran inklusi yang
memiliki koordinasi
mata-kaki rendah.
A2B2 : Kelompok pembelajaran
menendang bola dengan pembelajaran eksplorasi
yang memiliki koordinasi mata-kaki rendah.
1. Pengujian Hipotesis Pertama
Untuk perlakuan dengan bentuk pembelajaran inklusi dan
eksplorasi, hasil penelitian
menunjukkan adanya perbedaan
yang signifikan terhadap peningkatan hasil kemampuan menendang bola siswa putra kelas XI SMA Negeri 4 Surakarta. Perbedaan peningkatan ini karena F0= 29.25 lebih besar dari Ft=
4.110 pada taraf signifikan 5%. Ini berarti bahwa hipotesis nol (Ho)
ditolak sehingga ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok perlakuan.
2. Pengujian Hipotesis Kedua
Dari hasil penelitian
menunjukkan adanya perbedaan
yang signifikan antara siswa yang memiliki koordinasi mata-kaki tinggi
dengan siswa yang memilki
koordinasi mata-kaki rendah
terhadap peningkatan hasil belajar kemampuan menendang bola siswa putra kelas XI SMA Negeri 4 Surakarta. Dari hasil perhitungan diperoleh F0 =8.73 lebih besar dari
Ft = 4.110 pada taraf signifikasi 5%.
Ini berarti hipotesis nol (H0) ditolak
commit to user signifikasi antara koordinasi
kaki tinggi dengan koordinasi mata-kaki rendah.
3. Pengujian Hipotesis Ketiga
Dari hasil analisis data yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ada interaksi antara, yang ditunjukkan oleh F0 = 26.31 lebih
besar dari Ft = 4.110 pada taraf
signifikasi 5% sehingga H0 ditolak,
jadi dapat disimpulkan bahwa antara
bentuk pembelajaran inklusi,
eksplorasi dan kemampuan
koordinasi mata-kaki ada interaksi dalam peningkatan hasil kemampuan tendangan mendatar pada siswa Putra Kelas XI SMA Negeri 4 Surakarta.
D. Pembahasan Hasil Penelitian
Pembahasan hasil
penelitian ini memberikan penafsiran lebih lanjut mengenai hasil-hasil analisis data yang telah dilakukan sebelumnya. Berdasarkan pengujian hipotesis telah mengahasilkan tiga kemungkinan analisis yaitu : (1) Ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara pembelajaran inklusi dan
eksplorasi terhadap peningkatan
hasil kemampuan menendang bola pada Siswa Putra Kelas XI SMA Negeri 4 Surakarta. (2) Ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara kemampuan kordinasi mata-kaki tinggi dan kordinasi mata-mata-kaki rendah terhadap peningkatan hasil kemampuan tendangan mendatar pada Siswa Putra Kelas XI SMA Negeri 4 Surakarta. (3) Ada interaksi antara bentuk pendekatan belajar dan
koordinasi mata-kaki terhadap
peningkatan hasil kemampuan menendang mendatar pada Siswa Putra Kelas XI SMA Negeri 4 Surakarta. Kelompok kesimpulan analisis tersebut dapat dipaparkan lebih lanjut secara rinci sebagai berikut :
1. Pengaruh Antara Pendekatan Belajar Inklusi, dan Eksplorasi
terhadap Kemampuan
Tendangan Mendatar dalam Sepak Bola pada Siswa Putra Kelas XI SMA Negeri 4 Surakarta.
Berdasarkan pengujian
hipotesis pertama menunjukkan bahwa, ada pengaruh antara pendekatan pembelajaran inklusi,
commit to user
eksplorasi terhadap kemampuan
tendangan mendatar pada Siswa Putra Kelas XI SMA Negeri 4
Surakarta. Kelompok yang
mendapat perlakuan pendekatan
pembelajaran dengan bentuk
pendekatan inklusi memiliki
peningkatan lebih dibanding
dengan kelompok perlakuan
dengan bentuk pendekatan
eksplorasi. Ditinjau dari hasil
kemampuan menendang mendatar
yang dihasilkan ternyata
kelompok perlakuan pendekatan
pembelajaran dengan bentuk
pendekatan inklusi lebih baik
daripada kelompok perlakuan
dengan bentuk pendekatan
eksplorasi.
Dari angka-angka
dihasilkan dalam analisis data
menunjukkan bahwa
perbandingan rata-rata
peningkatan hasil menendang bola dengan bentuk pendekatan inklusi
adalah 2.635 diatas rata-rata peningkatan kelompok bentuk pendekatan eksplorasi yang hanya 2.135 .
2. Pengaruh Koordinasi Mata-kaki Terhadap Kemampuan Tendangan Bola Mendatar dalam Permainan Sepak Bola Pada Siswa Putra Kelas XI SMA Negeri 4 Surakarta.
Berdasarkan pengujian
hipotesis kedua ternyata ada perbedaan antara koordinasi mata-kaki tinggi dan rendah terhadap kemampuan tendangan mendatar pada siswa tendangan mendatar Siswa Putra Kelas XI SMA
Negeri 4 Surakarta. Pada
kelompok koordinasi tinggi
dimungkinkan akan menghasilkan kemampuan yang lebih besar dalam melakukan kemampuan tendangan mendatar dari pada kelompok siswa yang mempunyai koordinasi rendah.
Dari angka-angka
dihasilkan dalam analisis data
menunjukkan bahwa
perbandingan rata-rata
peningkatan hasil kemampuan tendangan mendatar pada siswa yang memiliki koordinasi mata-kaki tinggi lebih baik 0.55 dari pada kelompok yang mempunyai koordinasi mata-kaki rendah.
commit to user 3. Interaksi Antara Pendekatan
Inklusi, Eksplorasi, dan
Koordinasi terhadap
Kemampuan Tendangan
Mendatar dalam Permainan Sepak Bola pada Siswa Putra Kelas XI SMA Negeri 4 Surakarta.
Penggunaan pendekatan
belajar dalam kemampuan
tendangan bola mendatar dapat dijadikan sebagai salah satu
sarana untuk meningkatkan
kordinasi mata-kaki. Dengan
demikian penggunaan
pendekatan pembelajaran dan koordinasi mata-kaki mempunyai interaksi yang positif, dimana koordinasi mata-kaki yang baik dapat mendukung pencapaian hasil kemampuan menendang bola yang lebih optimal. Untuk mengetahui interaksi antara pendekatan pembelajaran dan koordinasi mata-kaki, disajikan sebagai berikut :
Tabel 8. Pengaruh Sederhana,
Pengaruh Utama,dan
Koordinasi Faktor Utama terhadap Peningkatan Hasil
Kemampuan Tendangan
bola mendatar.
Gambar 6. Bentuk Interaksi Nilai Peningkatan
Hasil kemampuan
menendang bola. .
Gambar diatas
menunjukkan bahwa, bentuk garis
A1 A2 Rerata A1-A2 B1 2.67 2.60 2.64 0.07 B2 2.27 2.00 2.13 0.27 Rerata 2.47 2.23 2.35 0.23 B1-B2 0.40 0.47 0.43 -0.07 2 . 0 0 2. 6 0 3 . 0 2 . 8 2 . 6 2 . 4 2 . 2 2 . 0 A 2 A 1 2. 6 7 2. 2 7
commit to user perubahan besarnya nilai hasil
belajar kemampuan tendangan
mendatar adalah tidak sejajar,
sehingga jika garis tersebut
diteruskan akan mendapat suatu titik
pertemuan (perpotongan) antara
pendekatan pembelajaran dan
koordinasi. Berarti terdapat
kecenderungan ada interaksi antara keduanya. Hal ini sesuai dengan
kajian teori yang dikemukakan
bahwa peningkatan hasil tidak
dipengaruhi oleh pendekatan
pembelajaran saja, tetapi juga faktor
internal, dimana kedua faktor
tersebut mempengaruhi secara
berkaitan. Tinggi rendahnya
koordinasi yang dimiliki akan
mempengaruhinya terbentuknya
kemampuan yang memadai,
sehingga dapat mempengaruhi
kemampuan tendangan mendatar. Dengan kata lain, siswa yang memiliki koordinasi tinggi akan lebih optimal dalam melakukan
tendangan sehingga hasil
kemampuan tendangan mendatar lebih baik jika dibanding dengan siswa yang koordinasinya rendah.
SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan analisis data dan
pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut :
1. Ada perbedaan pengaruh yang
menyakinkan antara
pembelajaran inklusi dengan
pembelajaran eksplorasi
terhadap kemampuan tendangan mendatar pada siswa putra kelas XI SMA Negeri 4 Surakarta.
Pengaruh peningkatan
kemampuan tendangan mendatar
yang ditimbulkan oleh
pembelajaran inklusi rata-rata peningkatanya adalah 2.635, dan pembelajaran eksplorasi rata-rata peningkatannya adalah 2.135. Yaitu sebesar 0.50 inklusi
lebih baik pengaruh peningkatan kemampuan menendang bola dari pada eksplorasi.
2. Ada pengaruh yang
menyakinkan antara koordinasi mata-kaki tinggi dan koordinasi
mata-kaki rendah terhadap
commit to user pada siswa putra kelas XI SMA
Negeri 4 Surakarta. Pengaruh
peningkatan kemampuan
menendang bola yang
ditimbulkan oleh siswa yang memiliki koordinasi mata-kaki tinggi rata-rata peningkatanya adalah 2.47 dan koordinasi mata-kaki rendah rata- rata
peningkatanya adalah 2.30.
Yaitu pengaruh peningkatan
kemampuan tendangan mendatar yang ditimbulkan oleh siswa yang memiliki koordinasi tinggi lebih baik dari pada siswa yang
memiliki koordinasi rendah
yaitu sebesar 0.17
3. Ada interaksi antara bentuk pembelajaran inklusi, eksplorasi
dan koordinasi mata-kaki
tehadap kemampuan tendangan mendatar pada siswa putra kelas XI SMA Negeri 4 Surakarta. Keduanya ada hubungan timbal balik.
B. Implikasi
Kesimpulan dari hasil penelitian ini dapat mengandung pengembangan ide yang lebih luas jika dikaji pula tentang implikasi yang ditimbulkan.
Atas dasar kesimpulan yang telah
diambil, dapat dikemukakan
implikasinya sebagai berikut :
1. Secara umum dapat dikatakan bahwa pembelajaran inklusi,
eksplorasi dan koordinasi
mata-kaki merupakan variabel-variabel
yang dapat mempengaruhi
peningkatan dalam kemampuan tendangan mendatar.
2. Penggunaan pembelajaran inklusi
dan koordinasi memberikan
pengaruh lebih tinggi daripada bentuk eksplorasi. Hal ini berarti
bahwa penggunaan bentuk
pembelajaran dengan bentuk
pembelajaran inklusi secara
menyakinkan memberikan
pengaruh yang efektif dalam kemampuan tendangan mendatar,
karena dalam penggunaanya,
hasil tendangan mendatar dapat
meningkat yang optimal.
Sedangkan pembelajaran dengan bentuk pembelajaran eksplorasi
hasil tendangan kurang optimal
dalam peningkatan hasil
tendangan mendatar, sehingga pembelajaran ini efektifitasnya kurang optimal dalam tendangan mendatar.
commit to user 3. Penggunaan bentuk pembelajaran
inklusi, eksplorasi dengan
koordinasi mata-kaki ada
interaksi, hal ini karena ada perubahan taraf dari faktor yang satu berarti ada perubahan atau taraf faktor lain.
C. Saran
Saran-saran yang dapat
dikemukakan berdasarkan hasil
penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Mengingat bentuk pembelajaran adalah salah satu cara yang
efektif dalam peningkatan
koordinasi mata-kaki, maka
hendaknya guru SMA Negeri 4 Surakarta menggunakan bentuk
pembelajaran untuk
meningkatkan koordinasi mata-kaki yang salah satunya dengan
menggunakan bentuk
pembelajaran inklusi dan
eksplorasi, dan sebagai pilihan
pertama ialah bentuk
pembelajaran inklusi, sehingga hasil kemampuan menendang akan lebih optimal.
2. Dalam peningkatan hasil
kemampuan tendangan mendatar,
disamping pemilihan bentuk
pembelajaran yang tepat perlu
juga mempertimbangkan
kemampuan koordinasi
mata-kaki siswa yang dapat
mendukung keberhasilannya.
Dalam penelitian ini untuk meningkatkan hasil kemampuan
tendangan mendatar perlu
mempertimbangkan koordinasi
mata-kaki. Karena koordinasi yang tinggi akan jauh lebih
optimal dalam kemampuan
tendangan mendatar daripada koordinasi rendah.
commit to user
DAFTAR PUSTAKA
B, Mulyono. 2007. Tes dan
Pengukuran dalam Sepak Bola. Surakarta : JPOK FKIP UNS.
Brotosuryo, S., Sunardi & Furqon,
M. 1994. Perencanaan
Pengajaran Pendidikan
Jasmani dan Kesehatan.
Jakarta: Depdikbud.
Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar dan
Menengah. Direktorat
Pendidikan Guru dan Tenaga
Teknis Bagian Proyek
Penataran Guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan SD Setara D II.
Dimyati & Mudjiono. 1999. Belajar
dan Pembelajaran. Jakarta: PT
Rineka Cipta
Harsono. 1988. Coaching dan
Aspek-Aspek Psikologis Dalam
Coaching. Jakarta: PT. Dirjen
Dikti P2LPT.
HP, Suharno. 1993. Ilmu Coaching
Umum. Yogyakarta. IKIP
Yogyakarta.
Husdarta & Saputra, Yudha M. 2010.
Belajar dan Pembelajaran
Pendidikan Jasmani dan
Kesehatan. Bandung :
Alfabeta.
Ismaryati. 2011. Tes dan
Pengukuran Olahraga.
Surakarta : UNS Pers.
Lutan, Rusli. 1988. Belajar
Keterampilan Motorik
Pengantar dan Metode.
Jakarta : PT. Gramedia. _________. 2000. Perencanaan dan
Strategi Pemblajaran
Penjaskes. Jakarta:
Depdikbud-Dikdasmen. Luxbacher, Joseph. 1997. Sepak Bola
Langkah-Langkah Menuju
Sukses. Alih Bahasa. Agus
Setiadi. Jakarta : PT.
Gramedia.
Mielke, Danny. 2007. Dasar-Dasar
Sepakbola. Alih Bahasa. Eko
Wahyu Setiawan. Bandung : PT. Intan Sejati.
Muchtar, Remmy. 1992. Olahraga
Pilihan Sepak Bola. Jakarta :
Depdikbud. Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.
Pribadi, Benny A. 2009. Model
Desain Sistem Pembelajaran.
Jakarta: PT Dian Rakyat. Sagala, Syaiful. 2003. Konsep dan
Makna Pembelajaran.
Bandung: Alfabeta.
Sajoto, M. 1995. Peningkatan dan Pembinaan Kekuatan Kondisi
Fisik Dalam Olahraga.
Semarang: Dahara Prize.
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi
Pembelajaran. Jakarta:
Kencana Prenada Media
Group.
Sneyers, Josef. 1988. Sepak Bola Remaja Petunjuk dan Latihan
commit to user Jakarta : PT. Rusda Jaya
Putra.
Soekatamsi. 1988. Teknik Dasar
Bermain Sepak Bola.
Surakarta : Tiga Serangkai. Sudjana, Nana. 2005. Dasar-Dasar
Proses Belajar Mengajar.
Bandung: Sinar Baru
Algensindo.
Sugiyanto. 1995. Metodologi
Penelitian. Surakarta : UNS Pers.
Sutikno, M. Sobry. 2013. Belajar
dan Pembelajaran. Lombok :
Holistica.
Wahjoedi. 1999. Jurnal Iptek
Olahraga. Jakarta : Pusat
Pengkajian dan
Pengembangan IPTEK
(PPPITOR). Kantor Menteri Negara dan Olahraga.