HUBUNGAN ANTARA STATUS G I Z I DAN USIA M E N A R C H E
PADA R E M A J A P U T E R I DI SMP MUHAMMADIYAH 6 DAN
SMPN 16 P A L E M B A N G D E S E M B E R 2013
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked)
O i e h :
ARDINA SOVYANA
M M : 70 2010 003
F A K U L T A S K E D O K T E R A N
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
PADA R E M A J A P U T E R I DI SMP MUHAMMADIYAH 6 DAN
SMPN 16 PALEMBANG D E S E M B E R 2013
Dipersiapkaii dan disusun oleh
ARDINA SOVYANA
NIM :70 2010 003
Sebagai salaJi satu syarat tneriiperoleh gc!ar Sarjana Kedokteran (S. Ked)
Pada Unggal: 13 September 2014
Menyetujui:
Dr. Dimvati B w r l i w d k . M.Sc dr. A.Ridwan. MO. MJSc Pembimbing PcrUma Pembimbing Kedua
^ tui f \ Dfekan
"'"^
^'
^ ^ ^ ^ ^ - ^ ' ^ ^ Dr.H.M.AU Mucfator. M.ScPERNYATAAN
Dengan ini Saya meneran^uin bahwa:
1. Karya Tulis Saya, skripsi ini adaiah aslt dan beium pemah diajukan untuk mendapatkan gelar akademik, baik di Univcrsitas Muhammadiyah Paiembang, maupun Pcrguruan Tinggi lainnya.
2. Karya Tulis ini mumi gagasan, rumusan, dan penelitian Saya sendiri, tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan Tim Pembimbing.
3. Dalam Karya Tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau dipubiikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan nama pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka.
4. Pemyataan ini Saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pemyataan ini, maka Saya bersedia menerima sanksi akademik atau sanksi tainnya sesuai dengan norma yang berlaku di Pei^tmian Tinggi ini.
Paiembang, 13 September 2014 Yang membuat pemyataan
Ardina Sovyana NTM. 70 2010 003
Dengan Penyerahan naskah artikei dan soflcopy berjudui: Hubungan antara Status Gizi dan Usia Menarche Pada Remaja Puteri di SMP Muhammadiyah 6 dan SMP Negeri 16 Paiembang. Kepada Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (UP2M) Fakultas Kedokteran Universiias Muhammadiyah Paiembang (FK-UMP), Saya:
Nama : Ardina Sovyana N I M : 702010003
Program Studi : Pendidikan Kedokteran Umum
Fakultas : Kedokteran Universitas Muhammadiyah Paiembang Jenis Karya Iimiah ; Skripsi
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, setuju memberikan kepada FK-UMP, Pengaiihan Hak Cipta dan Publikasi Befaas Royaiti atas Karya iimiah, Naskah, dan sqftcopy diatas. Dengan hak tersebut, FK-UMP berhak menyimpan, mengalihmedia/ formatkan, daiam bentuk pangkalan data (datahase), mendistribusikan, menampiikan, mempublikasikan di internet atau media lain untuk kepentingan akademis, tanpa perlu meminta izin dari Saya, seiama tetap mencantumkan nama Saya, dan Saya memberikan wewenang kepada pihak FK-UMP untuk menentukan salali satu Pembimbing sebagai Penulis Utama dalam Publikasi. Segala bentuk timtutan hukum yang timbui atas peianggaran Hak Cipta daiam Karya Iimiah ini menjadi tanggungjawab Saya pribadi.
Deniikian pemyataan ini, Saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Paiembang
Pada tanggal : i 8 September 2014
Yang Menyetujui,
MOTTO DANPERSEMBAHAN
Motto :
• Tidak akan menjadi orang berguna dan sukses jika tidak diiringi usaha, Maka terustah berusaha dan berdo 'a dengan mengharapkan ridho Attah SHT.
• Keberhasitan adaiah sebuah proses, niatmu adaiah awai keberhasilan, peiuh keringaimu adaiah penyedapnya, tetes air matamu adaiah pewarnanya, do*amu dan doa orang-orang di sekitarmu adaiah bara api yang mematangkannya, kegagalan disetiap langkahmu adaiah pengawetnya. Maka dari itu, bersabarlahlH
Allah selalu menyertat orang-orang yang penuh kesabaran dalam proses menuju keberhasilan, sesungguhnya kesabaran akan memmbuat kita mengerti baguimana cara mensyukuri arit sebuah keberhasilan.
Ku Persembahkan Kepada:
> Allah SWT atas berkat rahmat dan ridho-Nya lah sehingga skripsi ini dapat
diselesaikan dengan baik.
> Rasulullah SA Wyang telah menjadi teladan dalam hidupku
> Kedua orang tuaku tercintayang tak henti-hentinya memberikan do 'a,
dukungan, nasehat, materi, dan kasih sayang seiama ini kepadaku.
> Adik-adikku tercinta (Ninda dan Bonita) tetap semangat untuk melangkah, dalam menggapai semua cita-cita.
ini.
Seluruh staff T'A UMFyang telah banyak memberikan ilmu yang
bermanfaat
Untuk tuiusnya persahabatan yang telah terjalin, buat (Mesfa Juniny, Anin
Kaima Perdani) Keep Enjoy The Process.
Keluarga besar PK-UMP*IOy Banyak kenangan bersama kalian.
Untuk adik-adik tersayang Perda, April, Umi, Suci,dlL. tetap kompak dan
semngat dalam menggapai cita-cita
Buat orang yang spesialyang selalu ada untuk memberikan semangat
dalam mengerjakan skripsi
U N 1 \ T : R S I T A S M U H A M M A D I Y A H P A L E M B AiN G F A K U L T A S K E D O K T E R A N
SKRIPSI, U September 2014 ARDINA SOVYANA
Hubungan antara Status Gizi dan Usia Menarche Pada Remaja Puteri di SMP Muhammadiyah 6 dan SMP Negeri 16 Paiembang Desember 2013
xii+ 48 halaman+ 7 tabei+ 2 gambar+ 9 lampiran ABSTRAK
Menarche merupakan peristiwa paling penting pada remaja putri sebagai pertaiida siklus masa subur sudah dimulai. Usia menarche sangat bervariasi dan sangat tergantung pada status gizi. Remaja yang lebih tinggi dan lebih berat dengan tubuh yang lebih besar atau memiliki tubuh gemuk cenderung mengalami menarche normal dan bisa lebih cepat. Faktor keturunan, keadaan gizi dan kesehatan umum berperan penting dengan menarche. Beberapa penelitian menyatakan baliwa status gizi mempenganihi usia menarche. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dan usia menarche pada remaja putri di SMP Muhammadiyah dan SMP Negeri 16 Paiembang. Metode penelitian yang digunakan adaiah kuantitatif, penelitian survey analitik dengan Cross Sectional dengan menggunakan metode stratified random sampling yaitu didasarkan perlimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau slfat-sifat popuiasi yang sudah diketahui sebelumnya dengan popuiasi 692 orang dan sampel berjumlah 88 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan 94,9% remaja putri memiliki status gizi baik dengan usia menarche normal, dan sebanyak 22,2% memiliki status gizi buruk dengan usia menarche nomial. Pada analisis bivariat, menunjukkan ada hubungan antara status gizi dengan usia menarche pada remaja puteri, p value (0,0005). Maka diharapkan hasil penelitian in! dapat mempertahankan gizi baik agar menarche normal.
Referensi: 31 (1989-2013)
Kata Kunci: Status Gizi, Usia Menarche
Fhesis, 13 S E P T E M B E R 2014 ARDINA SOVYANA
The relationship between nutritional status and age of menarche in teenage girls in junior high school in Muhammadiyah and junior high school in 16 Paiembang in period of Desember 2013
xii+ 48 Pages + 7 tables +2 pictures +9 enclosure ABSTRACT
Menarciie is one of the most important things happened in teenage girls as a sign of fertility cycle has begun. There are various age of menarche and it depends on nutritional status. Teenagers who are taller and heavier with a larger body or fatter figure tend to have earlier normal menarche. Heredity, nutritional status and general health plays an important role with menarche. Some studies suggest that nutritional status affects the age of menarche. This study aims to determine the relationship between nutritional status and age of menarche in girls in junior high school in Muhammadiyah and junior high school in 16 Paiembang. The method of this study is quantitative, analytical study with cross sectional survey using a stratified random sampling method and it is based on certain considerations made by the researchers themselves, based on the characteristics or properties of previously known populations with a sample population of 692 teenage girls were followed and the total is 88 teenage girls, t he result in this study showed that 94.9% of teenage girls have better nutritional status with normal age of menarche. and 22.2% teenage girls have a malnutrition status with norma! menarche age. In bivariate analysis, showed association between nutritional status witli age of menarche in teenage girls, p value (0.0005V It is expected that the results of this study can maintain good nutrition to normal menarche.
References: 31 (1989-2013)
Key words: Nutritional Status, age of menarche
K A T A PENGANTAR
Fuji syukur peneliti panjatkan kepada Allali SWT atas segala ralmiat dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyeiesaikan penelitian ini yang beijudui
^Hubungan antara Status Gizi dan lisia Menarche Pada Kemaja Puteri di SMP Muhammadiyah 6 dan SMP Negeri 16 Paiembang'' sebagai salah satu syarat untuk meiakukan penelitian di i-akultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Paiembang. Saiawat beriring saiam selalu tercurah kepada junjungan kita, nabi besar Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabal, dan
pengikui-pengikumya sampai akhir zaman.
Peneliti menyadari bahwa penelitian ini jauh dari sempuma. Oleh karena ilu, peneliti mengharapkan kriiik dan saran yang bersitat membangun guna perbaikan di masa mendatang.
Daiam hai penyelesaian penelitian ini, penulis banyak mendapai bantuan, bimbingan dan saran. Pada kesempatan ini, penulis irigin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada :
1. Allah SWT, yang telah memberi kehidupan dengan sejuknya keimanan. 1. Kedua orang tua yang seiaiu memberi dukungan materit maupun spiritual. 3. Dekan dan staff Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah
Paiembang.
4. dr. Dimyati Burhanudm,M.Sc selaku pembimbing I . 5. dr. A.Ridwan.MO-M.Sc selaku pembimbing 11.
6. Prof. dr. H. Syakroni Daud Rusydi, SpOG(K) selaku penguji.
Semoga Ailah SWT memberikan balasan pahala atas segala amal yang diberikan kepada semua orang yang telali mendukung peneliti dan semoga laporan ini bermanfaat bagi kita dan perkembangan ilmu pengetahuan kedokteran. Semoga kita seiaiu dalam lindungan Allah S W I . Amin.
Paiembang, 13 September 2014
Ardina Sovyana
H A L A M A N P E R N Y A T A A N ii MO n o DAN PERSEMBAHAN iii
A B S T R A K V A B S T R A C T vi K A T A PENGANTAR vii
DAFTAR TST viii D A F T A R T A B E L x D A F T A R GAMBAR xi D A F T A R L A M P I R A N xu BAB I PENDAHULUAN
1.1. Lalar Beiakang 1 1.2 Rnmnsan Masalah 4 1.3 Tujuan Penelitian 4 1.4 Manlaat Penelitian 5 1.5 Keaslian Penelitian 5
BAB I I TINJAUAN F U S T A K A
2.1 Landasan Teori 7 2.1.1 Remajai 7 2.1.2 Status Gizi U
2.1.3 Menstruasi 31 2.1.4 Menarche 33
2.2 Kerangka Teori 37 2.3 Hipotesis 37
BAB I I I M E T O D E P E N E L I T I A N
3.1 Jenis Penelitian 38 3.2 Waktu dan tempat penelitian 38
3.3 Popuiasi dan Sampel 38 3.3.1 Popuiasi 38 3.3.2 Sampel 39 3.3.3 Cara Pengambilan Sampel 40
q A \ r „ - : « i , - , i D...«.>i;+:.,r' 4 0
j . - r V iuiau^i i ^ i i i ^ i i t i u i i
.3.5 Definisi Operasinnal 40 3.6 Cara pengumpulan data 41 3.7 Metode Teknis Analisis Data 41
3.7.1 Pengolahan data 41 3.7.2 Analisis data 42 3.8 Alur Penelitian 43
BAB I V H A S I L DAN PEMBAHASAN
Hasil dan Pembahasan 44
BAB V K E S I M P U L A N DAN SARAN
5.1 Kesimpulan 48
5.2 Saran 1 48
D A F I A R PUS l A K A L A M P I R A N
R I W A V A T HIDUP
label 3. Interpretasi Status Gizi Dalam Grafik CDC 30 Tabel 4. Kebaikan dan Kelemahan Indeks Antropometri 30
T,,u«i ^ ruE,+«u..E,; Q.:»r^.,<.-.,.u«« i7.:.i«r«,-.«u c+o+,,n n;^; As
i u L r ' w i .J. 1 L I U O i i , ! ^ ! U i M u i l V U j i I ' W ^ l U i J l i J J U I V k . > k i * L U O \j iiji
Tabel 6. Distribusi Berdasarkan Kelompok Usia Menarche 45 Tabel 7. Distribusi Hubimgan Status Gizi Dengan Usia Menarche 46
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Kerangka Teori 37 Gambar 2.2 Alur Penelitian 43
Lampiran 4. Pengolahati Data dengan SPSS Lampiran 5. Kartu Bimbingan
Lampiran 6=Siirat izin pengam_bilan data awal Lampiran 7. Surat Izin Penelitian
Lampiran S.Surat Telah Selesai Penelitian
i_<axixpil O i l X VJXXX lJUtii. X VXXwlxlitixi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Beiakang
Kesehatan reproduksi menurut WHO (2010), merupakan suatu keadaan tisik, mental dan sosiai yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan daiam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Hal ini terkait pada suatu keadaan dimana manusia dapat menikmati kehidupan seksualnya serta mampu menjaiankan fungsi dan proses reproduksinya secara sehat dan aman. Artinya, perempuan dan laki-laki keduanya menjadi perhatian kesehatan reproduksi. Pada perempuan ditandai dengan muiainya menstruasi, atau pada laki-laki ditandai dengan terjadinya perubalian suara yang menjadi besar dan mantap.
Di Anierika Serikat (2009), sekitar 95% anak perempuan mempunyai tanda pubertas pada umur 12 tahun dan umur rata-rata 12,5 tahun. Menarche atau menstruasi pertama merupakan salah satu perubahan pubertas yang pasli dialami setiap anak perempuan.
Sebuah studi di Amerika Serikat (2006), juga mengungkapkan bahwa ada hubungan yang kuat dari peningkaian IMT dengan awalnya usia pubertas.
Secara nasional rata-rata usia menarche 13-14 tahun terjadi pada 37,5 persen anak Indonesia. Rata-rata usia menarche 11-12 tahun terjadi pada 30,3 persen pada anak-anak di D K I Jakarta, dan 12,1 persen di Nusa Tenggara Barat. Rata-rata usia menarche 17-18 tahun terjadi pada 8,9 persen anak-anak di Nusa Tenggara Timur, dan 2,0 persen di Bengkulu. 2,6 persen anak-anak di D K I Jakarta sudah mendapatkan haid pertama pada usia 9-10 tahun, dan terdapat 1,3 persen anak-anak di Maluku dan Papua Barat yang baru mendapatkan haid pertama pada usia 19-20 tahun. Umur menarche 6-8 tahun sudah terjadi pada sebagian kecii (<0,5%) anak-anak di 17 provinsi, sebaliknya umur menarche 19-20 tahim merata terdapat di seluruh provinsi (Riskesdas, 19-2010).
Hasii Riskesdas (2U1U), menunjukkan bahwa berdasarkan laporan responden yang sudah mengaiami haid, rala-rala usia menarche di Indonesia adaiah 13 lahun
(20,Uyo) dengan kejadian lebih awal pada usia kurang dari 9 tahun dan ada yang iebih lambai sampai 20,
Hasil Riskesdas (2010), menunj ukkan bahwa berdasarkan laporan presentase perempuan mengaiami haid pertama di provinsi Sumatera Selatan beium haid 8,3%, umur haid pertama 6-8 tahun (0,1%), 9-10 tahun (0,9%), 11-12 tahun (21,1%) , 13-14 tahun (40,7%), 15-16 tahun (17,6 % ) , 17-18 tahun (2,7) %,
19-20 tahun (0,2%).
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Bagiada, di SLTP Negeri 4 Jember dengan sempel sebanyak 20 orang didapatkan hasil siswi yang mengalami menarche sebanyak 7 orang (35%) tidak mengalami kecemasan, 9 orang (45%) mengalami kecemasan ringan, 4 orang (20%) mengalami kecemasan sedang (Bagiada, 2003)
Menurut penelitian Misaroh (2009), usia menarche rata-rata adalali 13,1 tahim. Usia seorang anak perempuan mendapatkan menarche sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor, di antaranya faktor keturunan, kesehatan gizi, dan keadaan umum.
Diungkapkan oleh Hdward (2007), dalam 25 tahun terakhir, usia rata-rata menarche menjadi lebih cepat, dari 12,75 tahun menjadi 12,54 tahun. Usia menarche yang lebih cepat mencerminkan keadaan gizi dan kesehatan umum yang lebih baik.
Peneliti lain yaitu Yulianto (2001), menemukan bahwa remaja yang berstatus gizi normal menarche pada usia < 12, 5 tahim, sedangkan yang berstatus gizi kurang menarche pada usia > 12,5 tahun.
3
menarche >13 tahun. Didapatkan hasii terdapat hubungan antara status gizi dengan usia menarche.
Menurut Shalisha (2011), sebuah penelitian yang dilakukan di lanjung Morawa, didapatkan bahwa semakin baik status gizi seseorang, maka usia menarche orang tersebut akan semakin tepat (tidak terlambat atau terlalu dini). Faktor yang menyebabkan teijadinya menstruasi lebih dini, yaitu faktor internal
dan faktor eksternal. Faktor internal terjadi karena aspek psikoiogis, kesuburan,dan hormon. Sedangkan faktor eksternal adaiah faktor budaya, lingkungan sosiai, status gizi, dan status ekonomi.
Stams gizi wanita sangat mempengaruhi terjadinya menarche terutama dari faktor usia terjadinya menarche. Secara psikologi wanita remaja yang pertama sekali mengalami haid akan mengeluh rasa nyeri, kurang nyaman, dan perut terasa begah. Tetapi pada beberapa remaja kelulian-keluhan tersebut tidak dirasakan, ini dipengaruhi oleh nutrisi yang adekuat yang dikonsumsi. Gizi kurang atau terbatas
selain akan meinpengaruiii pertumbulian, fungsi organ tubuh, juga akan menyebabkan terganggunya fungsi reproduksi (Widada, 2002).
Faktor-faktor yang berpengaruli dalam mempercepat usia menarche adalali perbaikan gizi, latar beiakang sosiai ekonomi orang tua dan faktor keturunan
(Pacarada2007).
Keadaan gizi remaja wanita dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik dan usia menarche. Status gizi remaja wanila sangat mempengaruhi terjadinya menarche baik dari faktor usia terjadinya menarche, adanya keiuhan-keiuhan
seiama menarche maupun lamanya hari menarche (Yulianto 2001).
Usia untuk mencapai fase terjadinya menarche dipengamhi oieh banyak faktor antara lain faktor gizi, suku, genetik, sosiai, ekonomi, dan Iain-lain. Faktor gizi mempengamhi kematangan seksual. Pada remaja yang mendapat menarche lebih dini, mereka cenderung lebih berat dan lebih tinggi pada saat menarche dibandingkan dengan yang beium menstruasi pada usia yang sama. (Wiknjosastro H dkk, 2009).
einosional, sosiai, dan fisik. Masalah-masatali gizi dan kesehatan yang dihadapi remaja tersebut saiing berkaitan dengan satu sama Iain dan diperiukan penanganan yang terpadu dan menyeluruh (KJiomsan. 20U3).
Berdasarkan data diatas penulis teriarik untuk meiakukan peneiilian yang
berjudui "Hubungan antara Status Gizi dan usia menarche pada Remaja Puteri di SMP Muhammadiyah 6 dan SMP Negeri 16 Paiembang".
1.2. Kumusan Masalah
Apakah ada hubungan aniara status gizi dan usia menarche pada remaja puteri di SMP Muliaimnadiyah 6 dan SMP Negeri 16 Paiembang Desember 2013?
13. Tujuan
13.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara status gizi dan usia menarche pada remaja puteri di SMP Muhammadiyah 6 dan SMP Negeri 16 Paiembang Desember 2013.
13.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui distribusi frekuensi status gizi pada remaja puteri dl SMP Muhammadiyah 6 dan SMP Negeri 16 Paiembang Desember 2013.
2. Untuk mengetahui distribusi frekuensi usia menarche pada remaja puteri di SMP Muhammadiyah 6 dan SMP Negeri 16 Paiembang Desember 2013.
5
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambiih referensi tentang hubungan antara status gizi dan usia menarche pada remaja puteri, serta sebagai pengembangan ilmu pengetahuan.
1.4.2. Manfaat Praktis
a. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambali pengetaliuan mengenai hubimgan antara status gizi dan usia menarche pada remaja puteri dan dapat memperdalam pengetahuan tentang status gizi dan usia menarche.
b. Bagi Masyarakat
Sebagai lambahan informasi sehingga dapat mengirnplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari
c. Bagi Akademik
Sebagai bahan dokumentasi yang bisa bermanfaat bagi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Paiembang.
1.5. Keaslian Penelitian
Penelitian tentang hubungan antara stams gizi dan usia menarche pada remaja puteri merupakan penelitian pertama yang dilakukan di SMP Muhammadiyah 6 dan SMP Negeri 16 Paiembang, tetapi penelitian yang mirip lelah dilakukan dan ada kaiUmnya dengan status gizi seperli berikut ini:
1. Siti Aishah (2007) menggunakan uj i Cross Sectional dengan cara pengambilan sampel purpossive sam probability sampling hanya untuk 2 sekolah yaim pada siswa SD dan SMP, sedangkan penelitian ini dilakukan untuk 2 sekolah SMP.
variabel bebas yang terdiri dari faktor sosiai ekonomi, faktor audio visual, faktor psikis, faktor status gizi dan faktor aktiviias fisik dengan variabel terikat, yaitu kejadian menarche pada remaja, sedangkan penelitian ini menggunakan data berat badan dan tinggi badan sekarang yang diukur secara langsung untuk melihat hubungan status gizi dengan usia menarche.
BAB I I
TINJAUAN P U S T A K A
2.1. Landasan Teori 2.1.1. Remaja
A. Definisi
Remaja atau adolescence, berasai dari bahasa iatin adolescere yang berarti tumbuh ke arah kematangan. Baik kematangan fisik, sosiai maupun psikoiogis (Santrock WJ. 2008).
Masa lernaja adalali masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan tisik, emosi, dan psikis. Masa remaja. yakni antara usia
10-19 taitun, adalali suatu periode suatu pematangaii organ reproduksi manusia, dan sering disebut masa pubertas. Masa remaja adaiah periode peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa (Santrock WJ. 2008).
Batas usia remaja menurut WHO adaiah 12-24 tahun. Menurut Depkes Rl antara 10-19 tahun dan beium kawin. Menurut BK.IvBN adaiah antara 10-19 tahun.Pada masa remaja tersebut terjadiiah suatu perubahan organ-organ Tisik (organobioiogik) secara cepal, dan perubahan tersebut tidak seimbang dengan perubahan kejiwaan mental emosional (Santrock WJ. 2008).
Menurut WHO (1995), yang dikatakan usia remaja adaiah antara 10-18 tahun. Tetapi berdasarkan penggolongan umur, masa remaja dibagi atas:
1. Masa remaja awal ( 10-12 tahun ) 2. Masa remaja tengah ( 14-16 tahun) 3. Masa remaja akhir (17-19 tahun )
B. Perkembangan Remaja dan Tugasnya
Menurut Santrock WJ (2008), tugas perkembangan remaja wanita
ada sepuluh, yaitu:
a. Mencapai hubungan sosiai yang matang dengan teman sebaya, baik dengan teman sejenis maupun dengan beda jenis kelamin. b. Dapat menjaiankan peranan-peranan sosiai menurut jenis kelamin
masing-masing.
c. Menerima kenyataan (realitas) jasmaniah serla menggunakannya seefektif mungkin dengan perasaan puas.
d. Mencapai kebebasan emosional dari orangtua atau orang dewasa lainnya.
e. Mencapai kebebasan ekonomi.
f. Memiiih dan mempersiapkan diri untuk pekeijaan atau jahatan. g. Mempersiapkan diri untuk melakukait perkawinan dan hidup
berumah langga.
h. Mengembangkan kecakapan intelektual serta konsep-konsep yang diperiukan untuk kepentingan hidup bermasyarakat.
i . Memperlihatkan tingkali laku yang secara sosiai dapat dipenanggungjawabkan.
j . Memperoleh sejumiaii norma-norma sebagai pedoman dalam lindakannya dan pandangan hidupnya.
Menurut Santrock WJ (2008), baliwa lugas-tugas yang harus dipenuhi sehubungan dengan perkembangan seksualiias remaja adaiah memiliki pengetaliuan yang benar tentang seks dan berbagai peran jems kelamin yang dapat diterima masyarakat, mengembangkan sikap yang benar tentang seks, meiigenali pola-pola periiaku heteroseksual yang dapat diterima masyarakat. meneiapkan niiai-niiai yang harus diperjuangkaii dalam memiiih pasaiigan hidup, mempelajari cara-cara mengekspresikan cinta.
C . Ferubahan Fisik pada Kemaja Ferempnan
9
organ-organ reproduksi (organ seksual), sehingga tercapai kematangan yang ditunjukkan dengan kemampuan meiaksanakan fungsi produksi (Santrock WJ. 2008).
Menurut Santrock WJ (2008), perubahan yang terjadi pada pertumbuhan tersebut diikuti timbulnya landa-landa sebagai berikut: a. Tanda- tanda seks primer pada Perempuan
Semua organ reproduksi perempuan tumbuh pada masa puber. Sebagai tanda kematangan organ reproduksi pada perempuan adaiah datangnya haid. Ini adaiah serangkaian pengeluaran darah, lendir, dan jaringan sel yang hancur dari uterus secara berkala. yang akan terjadi kira-kira setiap 28 hari. Hal ini berlangsung terus sampai menjeiang masa menopause.
b. Tanda-tanda Seks Sekunder pada Perempuan 1. Rambui
Rambut kemaluan pada wanita timibuli setelaJi pinggui dan payudara muiai berkembang. buiu keiiak dan buiu pada kuiii wajah muiai tampak seteiaii haid. Seniua rambut kecuali rambut wajali muia-muia iurus dan lerang wamanya. kemudian menjadi iebih subur, lebih kasar, lebih geiap, dan agak keriling.
2. Pinggui
Pinggui menjadi berkembang, membesar, dan membulat. Ha! ini sebagai akibat membesamya miang pinggui dan berkembangnya Iemak di bawah kulit.
3. Payudara
Seiring pinggui membesar, maka payudara juga membesar dan puting susu menonjol. Hai ini terjadi secara harmonis sesuai pula dengan berkembang dan makin besamya keienjar susu, sehingga payudara menjadi iebih besar dan lebih bulat.
4. Kulit
5. Keienjar Lemak dan Keienjar Keringat
Keienjar kermgat dan keienjar iemak menjadi lebih aktif. Sumbatan keienjar lemak dapat menyebabkan jerawat. Keienjar keringat dan baimya mennsuk sebeinm dan seiama masa haid.
6. Otot
Menjeiang akhir masa puber, otot semakin kuat dan membesar. Akibatnya akan membentuk bahu, iengan, dan tungkai kaki.
7. Suara
Suara berubah semakin merdu. Suara serak jarang terjadi pada perempuan.
D. Perubahan Kejiwaan pada masa Remaja
ivieriurui Santrock w'J (200Sj. pcrubahan-perubahan yang berkaitan dengan kejiwaan pada remaja adaiah ;
a. Perubahan Emosi
Perubahan tersebut berupa kondisi ;
1. Scn.sittt aiau pcka, misainya mudah mcnangis. ccmas, frustasi, dan sebaliknya bi.sa terlawa tanpa aiasan yang jelas. Utamanya sering terjadi paUa remaja puteri, iehih-lebih sebcium menstruasi.
2. Mudali bereaksi baiikan agresif terhadap gangguan atau rangsangan iuar yang mempengaruhinya. iiuiah sebabnya mudah terjadi perkeialnaii, suka mencari perhatian dan bertindak tanpa berpikir terlebih dahuiu.
3. Ada kecenderungan tidak patuli pada orangtua, dan lebih senang pergi bersama dengan lemannya daripada linggai di rumah.
b. Perkembangan Inteiegensia
2.1.2. S T A T U S G l Z l A. Definisi
Status gizi adaiah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi (Almatsier, 2009).
Status gizi adaiah keadaan kesehatan akibat intcraksi antara makanan, keseimbangan dari intake makanan, tubuh manusia dan
lingkungan hidup manusia (Supariasa dkk, 2002).
Status gizi adaiah status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan kebutuhan dan masukan nutrisi atau zat gizi (Heryati, 2007).
B. Fungsi zat gizi
Zat gizi berfungsi sebagai suinber energi, untuk pertumbuiian dan mempertahankan jaringan-jaringan tubuh, untuk mengatur proses-proses didalam tubuh, berperan dalam mekanisme perlahanan tubuh terhadap berbagai penyakit serta sebagai zat anti oksidan (Supariasa dkk, mM)..
Menurut Suparia.sa dkk ( 2002), beberapa nutrisi yang diperiukan daiam sehan-hari:
• Karbohidrat: Bisa didapat dari beras, terigu, umbi-umbian (ubi, singkongj, danjagung.
• Protein: Bisa didapat dari daging, susu dan hasil olahannya, kacang-kacangan.
• Kalsium dan besi: Bisa didapat dari ikan, kacang-kacangan, sayuran.
• Vitamin; Bisa didapat dari sayuran dan buah.
serta berfungsi sebagai zat pemberi energi, ketiga zat tersebut dinamakan zat pembakar (Almatsier, 2009).
Protein, mineral, dan air adaiah bagian dari jaringan tubuh. Oleh karena itu diperiukan imtuk membentuk sel-sel baru, memelihara dan mengganli sei-sei yang rusak. Dalam Iungsi ini keliga zal gizi lersebul dinamakan zat pembangun (Almatsier, 2009).
Zat gizi yang mengatur proses tubuh adaiah protein, mineral, air dan vitamin. Protein mengatur keseimbangan air di daiam sel, bertindak sebagai buffer daiam upaya memelihara netralitas tubuh dan membentuk antibodi sebagai penangkai organisme yang bersitat infektif dan balian-bahan asing yang dapat masuk ke dalam tubuh. Mineral dan vitamin diperiukan sebagai pengatur daiam proses-proses oksidasi. fungsi normal saraf dan otot serta banyak proses lain yang terjadi di dalam tubuh termasuk proses menua. Air diperiukan untuk melarutkan balian-balian di dalam tubult, seperti di dalam darali, cairan pencemaan.jaringan. dan mengatur suhu tubuh. peredaran darah. pembuangaii sisa-sisa atau ekskresi dan lain-Iain proses tubult. Daiam fungsi mengatur proses tubuh ini. protein . mineral air. dan vitamin dinamakan zat pengatur (Almatsier, 2009).
C. Pengeiompokan zat gizi
Zal-zai nuLrienl dibagi dalam 2 goiongan besar. yaitu makro nutrient (zat gizi makro) dan mikro nutrient (zat gizi mikro).
a. Makro Nutrient
13
b. Mikro Nutrient
Dalam goiongan zat gizi mikro ini, termasuk vitamin ( baik yang larut dalam air maupun yang iarut dalam lemak ) dan sejumlah mineral yang hanya dibutuhkan dalam kuantitas yang hanya sedikit. Vitamin yang larut dalam air yakni vitamin C dan B kompieks ( meliputi vitamin B2 [riboilamin], niacin, vitamin B6 [piridoksin], asam foiat, biotin, asam pantotenal, dan vitamin B i 2 [kobalaminj ). Vitamin yang iarut dalam iemak, vitamin A (retinoi ), vitamin D (kaisiferoi), vitamin E (tokoteroi), dan vitamin K (quinon). Mikro mineral meliputi zat besi, yodium, fluor, zink, chromium, seienium, mangan, molipdenum dan kiufum. Kebanyakan diantaranya terikat pada enzim dan hormon serta berfungsi pada meiabolisme (Supariasa dkk. 2002).
Menurut Supariasa dkk ( 2002), macam-macam Status Gizi; a. Status Gizi Normal
Keadaan tubuh yang mencerminkan keseimbangan antara konsumsi makanan dan penggunaan zat gizi pada tubuh.
b. Malnutrisi
Mainutnsi adaiah keadaan dimana tubuh lidak mendapat asupan gizi yang cukup, malnuli'isi dapat juga disebut keadaaan yang disebabkan oieh keiidakseimbangan di antara pengambilan makanan dengan kebutuiian gizi untuk mempeitaiiankan kesehatan. Im bisa terjadi karena asupan makan terlalu sedikit aiaupun pengambilan makanan yang tidak seimbang. Seiain itu, kekurangan gizi dalam tubuli jugabera kibai terjadinya maiabsorpsi makanan atau kegagaian metaboiik.
Menurut Supariasa dkk (2002), mainuirisi adaiah keadaan patologis akibat kekurangan atau keiebihan secara relatif maupun absolut satu atau iebih zat gizi.Ada empat bentuk:
2. Specific Dejficiency : Kekurangan zat gizi tertentu, misainya kekurangan vitamin A, yodium, Fe, dan lain — lain
3. Over Nutrition : Keiebihan konsumsi pangan imtuk periode tertentu 4. Imbalance ; Karena kelidaksesuaian /at gizi, misainya: koleslerol
terjadi karena tidak seimbangnya LDL {Low Density Lipoprotein), FIDL {High Density Lipoprotein) dan V L D L {Very Low Density Lipoprotein)
c. Kurang Energi Protein (KEP)
Kurang energi protein adaiah seseorang yang kurang gizi disebabkan oleh rendalmya konsuinsi energi dan protein dalam makanan sehari - hari dan atau gangguan penyakit lenentu. Anak disebut KEP apabila berat badannya kurang dari 80% indeks berat badan menurut umur (BBrii) baku WHO - NCHS. KEP merupakan Uelisiensi gizi (energi dan protein) yang paling berat dan meluas terutama pada baiiia (Nupanasa dkk, 2oo2y
D. Pola makan
Pemilihan makanan : pemilihan makan dipengaruhi uieh faktur internal Dan faktor eksternal
Menurut Barasi, iviary E. (2007). untuk mencapai asupan nuirien yang memenuhi kebutuhan tisioiogis, dan memberikan manlaat kesehatan yang optimaL maka perlu dilakukan seieksi makanan yang tepat. Banyak faktor yang menentukan seieksi ini. Semuanya dapat dikeiompokkan sebagai faktor yang berkaitan dengan :
• Konsumen itu sendiri (faktor internal)
15
Pemahaman tentang faktor-faktor ini dan dampaknya terdapat pilihan konsumen bersifat kritikal dalam setiap inisiatif imtuk mengubah asupan makanan. Hubungan antara berbagai faktor ini bersifat kompieks, dan orang mungkin tidak menyadari penganihnya, sehingga menjadikan bidang ini sukar dipeiajari (Barasi, Mary E. 2007).
Kebiasaan Terkait Makanan (food habit)
Pemilihan makanan mencakup sebagian dari hai yang iebih iuas tentang kebiasaan terkait makanan yang merupakan periiaku khas sekeiompok orang daiam kaitannya dengan makanan (Barasi. Mary E. 2UU7).
Kebiasaan tersebut dianggap memberi arti penting pada identitas kelompok. Selain jenis makanan yang dipilih, kebiasaan terkail makanan juga menentukan waktu makan dan jumlah hidangan, metode penyiapan makanan dan orang yang ikut makan, ukuran porsi dan cara makan. kebiasaan terkait makanan adaiah hasii pcngaruh iingkungan terhadap budaya dan demikian biasanya lambat untuk berubah (Barasi, Mary K. 20u/).
Faktor Internal yang mempengaruhi pemilihan makanan
Faktor ilsioiugis dan psikoiogis menimbulkan keingintin untuk makan. Pengaruh psikoiogis dapat memodifikasi atau mengaiahkan kebutuhan tisioiogis akan makanan; contohnva pada makan secara berlebihan (binge eating), atau menolak makanan sebagai akibat depresi (Barasi, Mary E. 2(M)7p
norma ini, dan menjadi perilatcu yang mempengaruhi pemilihan makanan (Barasi, Mary E. 2007).
Kontrol terhadap pemilihan makanan
Mengenai keberadaan faktor-faktor internal dalam pemilihan makanan dan membiarkan individu mengontrol pilihan makanannya sendiri merupakan hai yang penting. Hiiangnya kontroi dapat menyebabkan iiilangnya nafsu makan yang mungkin menjadi masalah di inslitusi yang makanannya ditentukan dari pusat. Orang yang disarankan menjaiani diet dengan modifikasi mungkin juga akan mengaiami kehiiangan kontroi , kurangnya keparuhan terhadap diet (Barasi, Mary E. 2007).
Faktor eksternal
Faktor eksternal ditentukan oieh konteks sosiai dan budaya, dan cenderung juga mempengaruhi berkembangnya dan bertahannya faktor internal, maupun makanan yang tersedia (Barasi, Mary b. 2007y
Budaya
Budaya adaiah penentu utaina dari pemilihan makanan; budaya memberikan dan memperkual identitas dan rasa memiliki, dan mempertegas perbedaan dari budaya lain. Pengaruh budaya mungkin sangat jelas (makanan pokok sebagian besar hidanganpopuler) atau tersamar (bumbu yang digunakan, cara masak). Temuan bahwa migran
(penduduk yang pindah ke iuar negeri) mempertahankan identitas budayanya dengan mempertahankan pilihan makanannya telah dilaporkan oieh banyak penelitian (Barasi, Mary E. 2007).
17
makanan dianggap cocok untuk anak atau ibu hamil (misainya minuman beraikohot) (Barasi, Mary E . 2007).
Agama
Agama sering menentukan konteks pemiiihan makanan secara iuas. Beberapa agama di diinia memiliki peraturan tentang makanan yang diperboiehkan, dan kapan makanan tersebut boieh atau tidak boieh dhnakan. Larangati ditetapkan mengenai jenis daging, daging secara umum, dan cara menyembeiih; cara memasak dan kombinasi makanan juga diatur oieh ketentuan ini. Peraturan mungkin juga meliputi lama puasa, rituai- dan perayaan. Penganut agama-agama ini membatasi pilihan makanan mereka, tetapi juga memperoleh rasa identitas (Barasi, Mary E. 2007).
Keputusan etis
Cara menghasilkan makanan dapat mempengaruhi pemiiihan makanan. Ada banyak keprihatlnan mengenai cara pemelihaiaan hewan imtuk dimakan dan cara bertani yang merusak iingkungan. Pendukung suatu prinsip etika mungkin mengubah pilihan makanannya agar sesuai dengan prinsip yang dianumya , memiiih makanan organik, menjadi
vegetarian (Barasi, Mary E. 2007).
Faktor ekonomi
dari tidak tersedianya makanan di daerah mereka, kurangnya uang untuk membeii makana, atau keduanya (Barasi, Mary E. 2007).
Norma sosia)
Periiaku yang dapat diterima oieh iingkup sosiai seseorag, daiam kaitannya dengan makanan, berpengaruh kuat terhadap pemilihan makana. Hai ini ditujukkan meiaiui tekanan oieh teman sebaya (peer pressure) dan memperkuat keyakinan orang tersebut tentang makanan. Norma sosiai mungkin juga menentukan status makanan. beberapa makanan dianggap iebih berkelas (seringkaii mahal) sehingga digunakan untuk membuat orang iain terkesan. dikonsumsi pada acara khusus saja, atau tidak pemah dimakan (Barasi, Mary E. 2007).
Pendidikan/kesadaran tentang kesehatan
Faktor ini berasai dari iingkungan eksternai dan memutuskan besamya perhatian terhadap hai-hal yang berkaitan dengan makanan dan gizi, dan seberapa jauh masalah kesehatan menentukan pilihan makanan. Sebagian besar penghaiang, termasuk beberapa faktor eksternal yang dibahas di sini, mungkin ikut mempengamhi proses ini, pengenalan akan resiko dan diet yang tidak sehat, relevansinya bagi seseorang. dan kemampuan untuk menindakianjuiinya dengan pemiiihaii makanan merupakan prasyarat kunci (Barasi, Mary E. 2007).
Media dan periklanan
19
Faktor sosiai dan budaya berpengaruh besar terhadap pemilihan makanan, bahkan ketika konsumen tidak sadar akan hai ini. Kedua taktor ini memodifikasi atau mengaiahkan taktor tisioiogis dan psikoiogis, dan dapat menimbulkan dampak positif maupim negatif terhadap keseiuruhan asupan makanan (Barasi, Mary E. 2007).
E . Penilaian Status Gizi
Menurut Supariasa dkk (2002), penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian yaitu :
1. Antropometri
Secara umum antropometri berarti ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai lingkat umur dan lingkat gizi. Antropometri secara
umum digunakan untuk melihat keiidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini teriihat pada poia permmbuhan llsik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.
2. Klinis
3. Biokimia
Penilaian sanis gizi secara biokimia adaiah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan mbuh. Jaringan mbuh yang digunakan antara iain : darah, urin,
tinja, dan juga beberapa jaringan tubuh seperli hati dan otot. Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang iebih parah lagi. Banyak gejala klinis yang kurang spesitlk, maka penentuan secara faali dapat lebih banyak menolong untuk menenmkan kekurangan gizi yang spesitlk.
4. Biofisik
Penentuan status gizi secara biotisik adaiah penentuan status gizi dengan melihat kemampuan tungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan. Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik {epidemic of night blindness). Cara yang digunakan adaiah les adapiasi geiap.
Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi tiga (Supanasadkk, 20u2) yaitu :
a. Survei Konsumsi Makanan
Survei konsumsi makanan adaiah penenman status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlali dan jenis zat gizi yang di konsumsi. Pengumpuian data konsumsi makanan dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga, dan individu. Survei ini dapat mengidentiilkasi keiebihan dan kekurangan zat gizi.
b. Statistik Vital
21
penilaian status gizi dengan statistik vital dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat.
c. Faktor Hkologi
Menurut Supariasa dkk (2002), mengungkapkan bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil inleraksi beberapa Faktor fisik, biologis, dan iingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi, dan lain - iain. Pengukuran taktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar unmk meiakukan program intervensi gizi.
F . Jenis Parameter
1. umur
Menurut Supariasa dkk (2002), batasan umur yang digunakan adaiah tahun umur penuh (Completed Year) dan untuk anak umur 0 - 2 tahun digunakan bulan usia penuh (Completed Month).
2. Berat Badan
Cara mengukur Berat badan
a. Beritahu pada responden sebeium meiakukan penimbangan agar melepas asesoris yang dipakai (alas kaki, topi, jam tangan, dompet, dan lain-Iain).
b. Feriksa keadaan alat yang akan digunakan sebelum pengukuran. c. Dipasiikan limbangan menunjukkan skaia dengan angka 0.
d. Subjek berdiri di atas timbangan dengan tegak lurus pandangan iurus menghadap kedepan, pada kedua kaki sejajar, tang kiri dan kanan lurus disisi tubuh dan diusahakan tetap tenang pada saat pengukuran berat badan.
e. Baca hasil yang ada pada jaruni yang menunj uk angka di timbangan.
3. I inggi Badan
Menurut Supariasa dkk (2002), tinggi badan merupakan parameter untuk mengetahui keadaan yang telah ialu dan keadaan sekarang, jika umur lidak diketahui dengan tepat. Kadar panjang dan tinggi badan mengambarkan kecukupan gizi untuk jangka panjang. Cara mengukur I mggi hadan:
a. Beritaliu pada responden sebelum meiakukan penimbangan agar meiepas asesoris yang dipakai (alas kaki. topi, jam tangan. dompei. dan lain-iain)
b. Diposisikan subjek tetap di bawah mikcrotoice dengan tidak mengenakan alas kaki
c. Kaki rapat, iurut lurus, tumit, paniat, dan bahu menyentuh dinding vertikal.
23
e. Uiminta subjek untuk menarik nafas panjang dan berdiri tegak tanpa mengangkat tumit imtuk membantu menegakkan tuiang
beiakang usahakan bahu tetap santai.
f. Ditarik mikcrotoice hingga menyentuh ujimg kepala, dipegang secara horizunlai. Pengukuran Iinggi badan di ambil pada saat menarik nafas maksimum. Dengan mata pengukur sejajar dengan alat penunjuk angka untuk menghindari kesalahan penglihatan. Catalan tinggi badan pada skaia 0.1 cm terdekat.
4. Lingkar Lengan Atas
Menurut Supariasa dkk (2002), lingkar iengan atas diukur di pertengahan antara processus olekranon dari scapula dan processus oiekranon dari siku. Kombinasi aniara pengukuran iingkar iengan alas dan lipat kuiit trisep {Iriceps skin-fold) dapat menentukan area otot di tangan serta area iemak di tangan secara tidak langsimg.
5. Jaringan Lunak
Pengukuran ketebaian Hpaian iemak sub-kutan atau iipaian kuiit dapat meniiai jumiah iemak di daiam tubuh mdividu.tempat iipatan kulit yang menggambarkan lemak tubuh adaiah di trisep dan bisep, di bawah scapula, di atas krista iliaka, dan paha atas (Supariasa dkk, 2002).
Menurut Supariasa,200i cara mengukur status gizi:
^ X 1 0 0 %
Ketcranean:
BB: berat badan sekarang
1 D . L^iixi uouoii iuCtu U i i w i r d k a l l ixiwituui ^ o t i f t . V^JLVV... Cara mengukur:
2. Kemudian catat pada kuesioner/kertas
3. Seteiah diukur semua, tentukan berat badan ideal dengan cara melihat pada grafik CDC,
4. Catat berat badan ideal pada kuesioner/kertas sesuai dengan responden yang didapat
5. Seteiah berat badan ideal teiah didapatkan dan dicatat semua, hitung dengan menggunakan rumus diatas.
6. Tentukan hasil :staius gizi baik, gizi kurang atau gizi buruk yang dapat dilihat pada tabel 2.1 penggolongan status gizi menurut indeks antropometri.
7. Cara membaca hasil status gizi, lihat pada tabel 2.1 bagian BB/TB karena pada saat menghiiung status gizi menggimakan rumus
BB
— X TOO / H
6. Indeks Antropometri.
Parameter /\ntropomeiri merupakan dasar dari penilaian status gizi. Kombinasi antara beberapa parameter disebut indeks /Vntropomeiri. Beberapa indeks telah diperkenaikan sepeni pada hasil seminal" Antiopometri 1975. Di hidonesia ukuran baku hasil pengukuran daiam negeri beium ada. maka untuk berat badan (BB) dan tinggi badan ( I B ) digunakan baku ilARVAHD yang disesuaikan untuk Indonesia (100% baku Indonesia = 50 persentii baku Harvard) dan untuk (LLA) digimakan baku WOLANSKJ (Supariasa, 2001).
25
l abel 2.1 Penggolongan Keadaan Gizi menurut Indeks Antropometri
STATUS GIZI
Ambang batas baku untuk keadaan gizi berdasarkan indeks
BB/U TB/U BB/TB
Gizi baik > 80% >90% >90%
Gizi kurang 71-80% 81-90% 81-90%
Gizi buruk < 60% <70% <70%
(Sumber: Supariasa. 2001. Penilaian status gizi. Jakarta; EGC)
Dalam pengukuran indeks Antropometri sering terjadi kerancuan, hai ini akan mempengaruhi inteprctasi status gizi yang keiiru. Masih banyak pakar yang berkecimpung di bidang gizi beium mengerti makna dari beberapa indeks antropometri. Perbedaan penggunaan indeks tersebut akan memberikan gambaran prevalensi status gizi yang berbeda.
a. Berat Badan menurut Umur
• Gizi Lebih : > 2.0 SD Baku WHO-NCHS • Gizi Baik : - 2.0 SO s/d + 2 SD
• Gizi Kurang : <-2.0 SD • Gizi Buruk : <-3.0 SD
(Dedi Alamsyah, 2013). b. Tinggi Badan menurut Umur
Iinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeietai. Pada keadaan normal, tinggi badan tubuh seiring dengan pertambahan umur. Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti berat badan, relative kurang sensitif terhadap masalah kekurangan gizi daiam waktu yang pendek. Pengaruh definisi gizi terhadap tinggi badan akan nampak dalam wakm yang relatif iama (Supariasa, 2001).
• Normal : -2.0 SD baku WHO-NCHS • Pendek : <-2.0 SD
(Dedi Alamsyah, 2013).
c. Berat Badan menurnt Tinggi Badan
Berat badan memiliki hubungan yang linear dengan tinggi badan. Dalam keadaan normal, perkembangan berat badan akan searali dengan pertumbuhan tinggi badan dengan kecapaian tertentu. indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menilai status gizi saat kini (sekarang) (Supariasa. 2001).
• Gemuk : > 2.0 SD baku WHO-NCHS • Normal : - 2.0 SD s/d + 2 SD
• Kurus ; < -2 SD • Sangat Kurus : < -3.0 SU
(Dedi Alamsyah, 2013).
27
dan danjurkan juga menggunakan indeks I B/U dan BB/TB imtuk membedakan apakah kekurangan gizi terjadi kronis atau akut. Keadaan gizi kronis atau akut mengandung arti terjadi keadaan gizi yang dihubimgkan dengan masa lain dan waktu sekarang. Pada keadaan kurang gizi kronis, BB/U dan TB/U rendah, tetapi BB/TB normal. Kondisi ini sering disebut dengan stunting.
Pada tahun 1978, WHO lebih menganjurkan penggunaan BB/TB, karena menghiiangkan faktor umiir yang menurut pengaiaman suiit didapat secara benar, khususnya di daerah terpencil dimana terdapat masalah tentang pencatatan keiahiran anak. Indeks BB/TB juga menggambarkan keadaan kurang gizi akut waktu sekarang. Walaupun tidak dapat menggambarkan keadaan giziwaktu iampau (Supariasa. 2001).
Dari berbagai jenis indeks tersebut diatas, untuk menginterpretasikaimya dibutulikan ambang batas. Staf pengajar I K A FK Ui (i99S), menyajikannya dengan beberapa cara. diantaranya: 1. Angka rata-rata {mean value) dengan standar deviasi
Kurva yang lerbentuk dari data ukuran mbuh berupa ionceng ibeVl-shapped dislribulion curve). Dengan cara ini dapat ditetapkan kedudukan seorang anak dibandingkan dengan segoiongan anak normal lainnya.
2. Persentii
Angka persentii menunjukkan kedudukan anak tersebut diantara 100 anak.
3. Grid Wetzel
Sedangkan Supariasa, dkk (2001) menyajikan ambang batas ke dalam tiga cara yaitu, persen terhadap median, persentii dan standar deviasi unit.
1. Persen terhadap Median
Median adaiah nilai tengah dari suatu popuiasi. Dalam antropometri gizi, median sama dengan persentii 50. Niiai median dinyatakan sama dengan 100% (untuk standar). Seteiah itu dihitung persentase terhadap nilai median untuk mendapatkan ambang batas.
2. Persentii
Cara iain untuk menentukan ambang bata-s seiain persen terhadap median adaiah persentii. Persentii 50 sama dengan Median atau nilai tengah dari jumlah popuiasi berada diatasnya dan setengahnya berada dibawahnya. National Center for Health Statistics (NCHS) merekomendasikan persentii ke 5 sebagai batas gizi buruk dan kurang,
serta persentii 95 sebagai batas gizi lebih dan gizi baik. 3. Standar Deviasi Unit (SDU)
Standar Deviasi Unit disebut juga Z-skor. WHO menyarankan menggunakan cara ini untuk meneliti dan untuk memaniau pertumbuhan.
1 SD unit (1 Z skor) kurang iebih sama dengan i i % dari median BB/U 1 SD unit (1 Z skor) kira-kira 10% dari median BB/TB
1 SD unit (1 Z skor) kira-kira 5% dari median TB/U
Waterlow juga merekomendasikan penggunaan SD unLuk menyatakan hasii pengukuran pertumbuhan atau Growth Monitomg. WHO memberikan gambaran perhitungan SD unit terhadap baku NHCS (Supariasa, 200 i ) .
29
a. 78% dari median imtuk BB/U (± 3 persentii) b. 80% median untuk BB/TB
c. 90% median untuk 1B/U
Rumus perhitungan Z-skor adaiah:
Z ~ Skor = Nilai Individu Subyek — Nilai Median Baku Rujukan Nilai Simpang Baku Rujukan
Tabel 2.2 Interpretasi Status Gizi Berdasarkan Tiga Indeks Antropometri (BB/U,TB/U, BB/TB Standart Baku Antropometeri
WHO-NCHS)
Indeks yang digunakan
No . - _ . . » » _ a H « « « _ _ ^ _ interpretasi
BB/U TB/U BB/TB
I Rendah Rendah Norma] Normal, duiu kurang gizi Rendah Tinggi Rendah Sekarang kurang ++ Rendah Normal Rendah Sekarang kurang +
2 N'^n'*!?^' XI r> r i l l i»!
Norniai Tinggi Rendah Sekarang kurang
Noiiiial Rendali Tinggi Sekajang lebiii, iiuiu kuiang Tinggi Tinggi Nonnai Tinggi, normal
Tinggi Rendah Tinggi Obese
Tinggi Normal Tinggi Sekarang Iebih, beium obese
Keterangan: untuk ketiga indeks ( BBAJ,TBAJ, BB/TB) : Rendah : < -2 SD Standar Baku Antronometri WTIO-NCHS Normal : -2 s/d -r2 SD Standar Baku Antropometri "MiO-KSCUS Tinggi : > -i- 2 SD Standar Balcu .Antropometri WTiO NCHS
l abel 2.3 Interpretasi CDC
Grade o f Weight for Height for Weight for
Malnutrition Age (wasting) Age (stunting) Height
Normal > 9 0 >95 > 9 0
M i l d 7 5 - 9 0 90 -95 8 1 - 9 0
Moderate 60 - 74 8 5 - 8 9 70 - 80
Severe <6U <85 < 7 0
Sumber: WHO, 2012.
Tabel 2.4 Kebaikau daii Kelemalian Indeks Antropometri
Indeks Kebaikan Kelemahan
BB/U
TBAJ
Baik untuk mengukur status gizi akut/kxonis
Berat badan dapat berfluktuasi
Sangat sensitive terhadap
perubalian-Baik untuk menilai gizi masa Iampau
Ukuran panjang dapat dibuat sendiri, murah dan mudah dibawa
Umur sering sulit
ditaksir secara tepat
Tinggi badan tidak cepat naik, bahkan tidak mungkin turun
P i = > T i m i l ( ' j i m n r h " l n t i \ - ' f »
sulit dilakukan karena anak harus berdiri tegak, sehmgga diperiukan
melakukannya
31
BB/TB - Tidak memerlukan
data umur
Membutuhkan 2
macam alat ukur - Dapat membedakan
proporsi badan (gemuk, normal, kurus)
Pengukuran relative lebih lama
Membutuhkan 2
orang untuk melakukannya.
(Sumber Sri Hartini, 1983 Study Penggunaan SKDN sebagai alat ukur Status Gizi Anak Baiita dalam UPGK (thesis) Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, Jakarta, him 18)
2.1.3. MENSTRUASI A. Definisi
Menstruasi adaiah peristiwa pendarahan periodik dan siklik yang disertai peiepasan lapisan endometrium. Lama pendarahan .sekitar 3-5 hari, namun ada juga yang mengalaminya hanya 1-2 hari dan sampai 7-8 hari. (guyion. 2007).
Menstruasi adalali peiidaraliaii secara periodik dan siklik dari uterus, disertai peiepasan (deskuamasi) endometrium. Panjang siklus haid ialali jaiak antaia tanggal muiainya haid yang lalu dan muiainya haid yang berikumya. Hari muiainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus ( Wiknjosastro H,2U08).
Mekanisme
Mekanisme menstruasi yaitu hormon steroid estrogen dan progesteron mempengaruhi pertumbuhan endometrium. Oi bawah pengaruh estrogen endometrium memasuki fase proiiferasi; sesudah ovulasi, endometrium memasuki fase sekresi. Dengan menurunnya kadar estrogen dan progesteron pada akhir sikius haid, terjadi regresi endometrium yang kemudian diikuti oieh pendarahan yang disebut menstruasi. Mekanisme menstruasi beium diketahui dengan seiuruhnya (Wiknjosastro H,2008).
B. Siklus menstruasi
Ovum berkembang di daiam ovarium. Seteiah matang saat ovulasi, ovum akan keluar ke rongga abdomen dan masuk ke tuba faiopii. Biia terjadi fertiiisasi (masuknya sperma ke daiam ovum/ovum dibuaiti sperma). Hasil fertiiisasi akan berkembang menjadi fetus yang berimpiantasi ke daiam endometrium uterus, perempuan akan mengaiami kehamilan. Blla tidak terjadi fertiiisasi, ovum dan sebagian iapisan endometrium akan mengalami regresi dan keiuar dari tubuh sebagai haid (guyion, 2007).
Menurut guyion (2007), Dalam sikius menstruasi, terdapat siklus ovarium.
Siklus Ovarium
Setiap periode, ovarium mengalami 3 fase perubahan yaitu; fase foiikuler, fase ovulasi dan fase luteal,
a. tase foiikuler
33
menjadi fbiikel Ue Graaf. tase folikel berlangsung muiai hari pertama sampai hari ke- 14 sikius menstruasi.
b. Fase Ovulasi
Seteiah matang folikei De Graaf bergerak ke lepi dan mendesak dinding ovarium. Pada hari ke- 14, folikei De Graaf dan dinding ovarium pecah (ovulasi). Ovulasi terjadi karena peningkaian mendadak kadar LH di darah. Ovum keluar dari ovarium ke kavum abdomen. Ovum biasanya akan ditangkap oieh fimbrae tuba faiopii dan masuk ke dalam tuba. Kadang-kadang ovum tetap berada di cavum abdomen. Biia ada sperma yang membuahi ovum, maka impianlasi akan terjadi di luar uterus.
c. Fase Luteal
Seteialt ditinggalkan ovum, sisa voiikel aka terisi darali (korpus hemoragik). Korpus hemoragik kemudian berubah menjadi korpus rabnun yang beiisi membran granulosa lalu menjadi korpus luteum yang mengandung lutein. Korpus iuteum mensekresi hormon progesteron dan estrogen. Hormon progesteron berperan peting untuk mempersiapkan uterus menghadapi proses kehamiian. Biia tidak leijadi kehamilan, korpus luteum menjadi regresi/hancur dan ovarium masuk ke sikius baru. Biia terjadi kehamiian korpus luteum dipertahankan lerbentuk piasenia.
2.1.4. M E N A R C H E A. Dennisi
pada perempuan berusia sekitar 8-9 tahim. Estrogen dengan konsentrasi rendah ini sudah mampu merangsang pertumbuhan payudara kerana
organ ini mempunyai reseptor untuk estrogen, khususnya pada gianduianya. Estrogen juga menimbuikan perubahan organ-organ seks sekunder, diantaranya : distribusi rambut, deposit jaringan iemak, pertumbuhan vuiva, dan akhimya perkembangan endometrium di daiam
uterus. Pada penelitian dijumpai pengeluaran FSH bersifat plateau atau mendatar sedangkan pengeluaran luteinizing hormone (LH) jauh iebih rendah sehingga tidak dapat menimbulkan rangsangan sehingga teijadi ovulasi. Rangsangan estrogen yang cukup iama terhadap endometrium akliimya menimbulkan perdaralian lucut pertama yang disebut menarche.
Usia menarche, adalali ketika niuncuhiya menstruasi peitama, tahapan daiam pemaiangan perempuan dan indikator pembangunan fisiologis wanita, kesehatan dan status gizi (Wiknjosastro H,2008).
B. Karakteriskik lisia Menarche
Biasanya mencapai puncak pada onset terjadinya pubertas dan menstruasi, yaitu aniara usia 10-16 tahun pada anak wanila, tetapi rata-rata 13 lahun (Guyion. 2007).
Menurut Wiknjosastro H (2008), usia gadis remaja pada waktu pertama kaiinya mendapat haid {menarche) bervariasi, yaitu antara
iO-16 tahun, tetapi rata-ratanya 12,5 tahun. Menarche terjadi di tengah-lengah masa pubertas, yaitu peralihan dari anak-anak ke dewasa.
35
C . Macam-macam Menarche
Menurut Wiknjosastro (2005) macam-macam menarche ada 3, yaitu:
- Menarche Prekoks
Menarche prekoks yaitu teijadinya menstruasi perlama kali iebih cepat / mendapatkan menstruasi sebeium umiu 10 tahim.
Usia menopause tidak akan berpengaruh pada seseorang yang mengaiami menstruasi iebih cepat,
- Menarche normal yaitu mendapatkan menstruasi tepat waktu, yaitu pada usia 10-13 lahun.
- Menarche Tarda
Menarche tarda yaitu mengaiami menstruasi yang iambat/' baru menstruasi umui 14-16 tahun.
O. Faktor Yang Mempengaruhi Usia Menarche
Menurut Hartini (2009), faktor yang mempengaruhi usia menarche bukan hanya salu, tetapi banyak faktor yang mempengaruiu usia menarche. Perkembangan pubertas awal dipengaruhi dipicu oleh persekitaran dan sebenarnya merupakan respon adaptif terliadap slress lingkungan sepeni konflik perkawinan. ketiadaan ayah, didikan yang kurang dari orang tua dan sosio-ekonomi yang rendah.
Usia menarche dipengaruhi oieh keturunan. Menurut para peneliti, lokus baru termiisuk empat sebelumnya yang terkait dengan indeks massa tubuh, tiga lokus atau dekat gen lainnya teriihat daiam homeostasis energi dan regulasi hormonal. Kecerdikan dan analisis set gen teiah diidentifika.si koenzim A dan biosintesis asam iemak sebagai proses biologis berkaitan dengan waktu menarche (Hartini, 2009).
memrche-nya. menunm. Usia menarche juga dipengamhi oleh faktor sosio-ekonomi pubertas (Karapanou dan Papadimitriou, 2010).
Faktor psikologi juga berperan terhadap usia menarche. Hal ini dapat dilihat pada anak remaja yang membesar tanpa kehadiran ayah kandung mengalami menarche pada usia yang iebih lewat. Hal ini juga beriaku pada anak remaja yang membesar bersama ayah tiri diiambah pula dengan lingkungan keluarga yang stress. Sties akan menekan aksis hipotalamus-pimitari-gonad dan melambaikan pubertas (Karapanou dan Papadimitriou, 2010).
E . Hubungan Antara Status Gizi Dengan Usia Menarche
Usia menarche sangat bervariasi dan banyak faktor yang mempengaruhi status gizi, saiali satuuya adalali faktor status gizi. Pada umumnya, remaja yang iebih tinggi dan lebih berat dengan tubuh yang lebih besar atau memiliki tubuli gemuk cenderung mengalami menarche normal dan bisa iebih cepat (Dewi. 2005).
Faktor ukuran tubuii termasuk Iinggi badan, berat badan, indeks massa tubuh teiah iama dibukiikan berasosiasi kuat dengan muiainya menarche (Yulianto, 2001).
Kenaikan berat badan merupakan faktor yang berkait secara kunsislen dengan awalnya kematangan seksual pada dewasa muda dan remaja. Beberapa kajian retrospektif teiah menunjukkan remaja yang mengalami menarche sebelum usia 12 tahun adaiah iebih berat dan gemuk berbanding dengan remaja yang mengaiami menarche. Perbedaan ukuran menyumbang kepada awalnya menarche (Adair dan Larsen, 2001).
Usia menarche berhubungan dengan lingkar pinggang. Saat ini diketahui bafaawa adipocytederived hormone Leptin , yakni suatu hormon yang menimbulkan rasa kenyang dan dihasilkan oleh sel lemak mimgkin merupakan penghubimg antara berat badan dan pubertas
37
Usia menarche berhubung dengan Iinggi badan berbanding berat
badan, menunjukkan kematangan skeletal iebih penting berbanding akumulasi lemak tubuh untuk berlakunya menarche (Ganong, 2008).
2.2. Kerangka Teori
perikianan
Faktor resiko Status Gizi
T
Kebias
aan makan
Pendidikan/
kesadaran
tentang
kesehatan
[•aktor
Sosio-ekonomi
rendah
keluarga
~i r
i t
Usia menarche remaja putri di SMP Muhammadiyah 6 SMPN
16 paiembang
I Li L, L
Faktor
Iingkungan ekonomi
Faktor
lingkungan "I r
keturunan
Gambar 2.2 Kerangka (eori hubungan status gizi dan usia menarche.
23 Hipotesis
3.1. Jenis Penelitian
Jenis peneiilian ini merupakan peneiilian survey analitik yaitu peneiilian yang menjelaskan pengaruh antara variabel independen (status gizi) dengan variabel dependen (menarche), menggimakan metode peneiilian Cross Sectional. (Sastroasmoro dan Ismael, 2010).
33. Waktu dan Tempat Penelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di SMP Negeri 16 tanggal 19 Desember 2013 dan di SMP Muhammadiyah 6 paiembang tanggai 20 Desember 2013. Aiasan pemilihan lokasi adalali:
a. Lokasi penehtian di SMP Muhammadiyah 6 dan SMPN 16 paiembang mudah dijangkau
b. Beium pemah dilakukan peneiilian dengan tema hubungan status gizi dengan usia menarche di SMP Muhammadiyah 6 dan SMPN 16 Paiembang. c. Pemiiihan tempat di sekitar piaju, karena peneiilian diiaksanakan pada saat peneliti masih meiaksanakan kuliah, sehingga memiliki waktu yang terbatas.
3.2.2. Waktu Penelitian
Penelitian diiaksanakan pada tanggai 17-18 Desember 2013.
3.3. Popuiasi dan Sampel Penelitian 3.3.1. Popuiasi
A. Popuiasi Target
Popuiasi pada penehtian ini adaiah semua siswi di SMP Muliammadiyali 6 dan SMPN 16 Paiembang.
39
B. Popuiasi Terjangkau
Popuiasi terjangkau pada penelitian ini adaiah siswi yang sudah menstruasi di SMP Muhammadiyah 6 dan SMPN
i6 Paiembang dan kemudian akan diacak stratinkasi.
33.2. Sampel
Sampel peneiilian ini adaiah sebagian dari jumlah siswi yang sudah menarche di SMP Muhammadiyah 6 dan SMPN 16 paiembang dengan siswi sebagai responden.
Sampel pada penelitian ini berjumlah 692 orang dihitung dengan menggunakan rumus Notoadmojo (2005).
N
" ~ 1 -f w (d)2 Keterangan:
N ^ jumlali popuiasi n = besarnya sampel
d = tingkat kepercayaan/lcetepatan yang diinginkan (10%)
Sehingga besar sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalali sebagai berikut. Berikut:
N
^~ lyN (0,1)2
n = 692 1+692.0,01
692 1+6,92 n - 692
7,92 n - 87,3737
a. Cara pengambilan sampel
Karena keias V i i , V I I I , i X iebih dari 1 keias dari liap sekolah, maka penentuan besar sampel tiap-tiap menggunakan prosedur pengambilan sampel acak siratiftkasi (stratified random sampling).
3.4. Variabel penelitian 3.4.1. Variabel Dependen
Menarche siswi di SMP Muhanmiadiyah 6 dan SMPN 16 paiembang
3.4.2. Variabel Independen
Status gizi siswi SMP Muhammadiyah 6 Dan SMPN 16 paiembang.
3.5. Definisi Operasionai 3.5.1. Variabel Dependen
I . Menarche
Defmisi ; usia pertama kali mengalami menstruasi. Cara Ukur : wawancara
Alat Ukur : Kuesioner
Hasii Ukur : I.Normai : 10-i3tahun.
2. Tarda : baru haid usia 14-16 tahim Skaia Ukur: Ordinal
3.5.2. Variabel Independen
1. Status gizi remaja putri
Detinisi : kesehatan remaja putri yang ditentukan oleh derajat kebutuhan fisik akan energy dan zat-zat lain yang diperoieh dari makanan yang dampak fisiknya diukur secara grafik CDC dengan BB/TB. Cara Ukur: mengukur berat badan dengan meggunakan timbangan
selanjutnya dikategorikan berdasarkan grafik CDC dan diiiitung BB
41
Alat Ukur : berat badan dan tinggi badan Hasii :
1. Gizi baik : >90% 2. Gizi kurang : 81 -90 % Skaia : Ordinal
3.6. Cara Pengumpulan Data 3.6.1. Data Primer
Data primer adaiah data yang didapat dari responden dengan cara wawancara berpedoman kuesioner dan meiakukan penimbangan menggunakan alat timbangan, selanjutnya dikategorikan berdasarkan BB/TB.
3.6.2. Data Sekunder
Data sekunder adaiah data yang didapal dari peneiusuran arsip SMP Muhammadiyah 6 dan SMPN 16 Paiembang.
3.7. Metode Teknis Analisis Data
3.7.1. Cara Pengolahan dan Analisis Data
Seteiah data dikumpulkan, dilakukan pengolahan data dengan tahap-tahap sebagai berikut:
a. Editing
Editing dilakukan untuk meneliti kelengkapan, kesinambungan dan keseragaman untuk mempennudali dalam pengolahan data.
b. Coding
Coding, yaitu pengklasitlkasian dan pemberian kode pada data hasil kuisioner untuk memudahkan daiam pengolahan data. c. Entry Data
d. Tabulating
Tabulating merupakan pengorganisasian data agar dapat mudah dijumlah, disusun, dan ditala untuk disajikan dan dianalisis.
Analisa data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan analisa univariat dan bivariat.
a. Analisa Univariat
Data variabel dependen dan independen dibuai daiam bentuk label distribusi frekuensi.
h. Analisa Bivariat
43
3.8. Alur Penelitian
r
Popuiasi Terjangkau
(Remaja putri SMP Muhammadiyah 6 dan SMPN 16) paiembang
Sampel Penelitian
(Remaja putri SMP Muhammadiyah 6 dan SMPN 16) paiembang
Analisis data diperoieh dari kuisioner yang akan diberikan ke siswi
4.1. Gambaran Umum SMP Negeri 16 Paiembang dan SMP Muhammadiyah 6 Paiembang
SMP Negeri 16 Paiembang berlokasi di Jl. Maliameru 16 Ulu Kec. Seberang Ulu 11 Kota Paiembang. Sekolah ini terdiri dari keias V I I sebanyak 9 keias, keias V I I I sebanyak 9 keias dan keias IX sebanyak 8 keias.
Fasilitas yang dimiliki oieh sekoiaii im antara lain; 27 ruang keias, 12 ruang toilet siswa. i ruang kepala sekolah dan wakii kepaia sekoiah dengan i toilet, i ruang lata usalia, 1 ruang guru dengan 3 toilet, I ruang bimbingan konseiing, 1 ruang muitimedia yang bergabung dengan ruang praktek kompuier, 1 ruang perpuslakaan,! ruang mushola, 6 kanlin dan 1 ruang UKS.
Kondisi kebersihan pada sekoiah ini cukup baik dan nyaman, ruang beiajar dan iingkungannya pun cukup bersih, begitu juga kondisi WC dan kualitas aimya cukup jemih.
SMP Muhammadiyah 6 Paiembang herloka.si di Ji. .lend. Ahmad Yani 16 Ulu Kec. Seberang Ulu 11 Kota Palembaiig. Sekolali ini terdiri dari keias VTI sebanyak 5 keias, keias VIII sebanyak 3 keias dan keias I X sebanyak 3 keias.
Fasilitas yang dimiiiki oieh sekolah ini antara iain: 9 ruang keias, 2 ruang toilet siswa, 1 ruang kepaia sekolali, wakil kepala sekoiah dan gabimg dengan ruang guru yang hanya diberi sekat untuk pembatas dengan 1 toilet.
Kondisi kebersihan pada sekoiah Ini cukup baik, ruang beiajar dan Iingkungannya pun cukup bersih.
45
4.2. Uasil Penelitian
Dari penelitian mengenai hubungan antara status gizi dan usia menarche pada remaja puteri di SiVlP Muhammadiyah 6 dan SMP Negeri 16 Paiembang periode Desember 2015 diperoieh sebagai berikut.
4.2.1 Analisa Univariat
A. Distribusi Berdasarkan Kelompok Status Gizi
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kelompok Status Gizi
Status Gizi Frekuensi Persentase
Gizi baik 79 89,8%
Gizi kurang 9 10.2%
88 ! 00%
Dari label diatas, dapat dilihat bahwa responden dengan status gizi baik sebanyak 79 siswi (89,9%), status gizi kurang sebanyak 9 siswi (10,2%).
B. Distnbusi Berdasarkan Kelompok Usia Menarche
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kelompok Usia Menarche
Usia Menarche Frekuensi Persentase
Normal 77 87,5%
Lambat/ Tarda 11 12,5%
Total 88 100%)
4.2.2 Analisa Bivariat
C . Hubungan Status Gizi dengan Usia Menarche
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Responden Hubungan Status Gizi
dengan Tlsia Menarche
Usia Menarche Jumlah P Normal Lambat
n %
N % N %
1 Gizi baik 75 94,9 4 5,1 79 100
2 Gizi 2 223 7 7X8 9 100 0,0005 kurang
Dari label diatas siswi yang memiliki status gizi baik dengan usia menarche normal lebih banyak, yaitu 75 siswi (94,9%) dibandingkan siswi yang status gizinya kurang dengan usia menarche normal sebanyak 2 siswi (22,2%). Berdasarkan uji Fisher's diperoieh P=0,0005, yang artinya ada hubungan yang bermakna aniara hubungan status gizi dan usia menarche.
4.3. Pembahasan
4.3.1 Status gizi terhadap usia menarche
Berdasarkan hasil peneiilian menunjukkan bahwa persentase hubungan status gizi terhadap usia menarche pada sampel yang mempunyai status gizi baik dengan usia menarche normal sebanyak (94,9%) dan status gizi kurang dengan usia menarche normal sebanyak (22,2%). Dari hasil analisis bivariat menggunakan SPSS uji Fisher's Exact Test didapatkan p value 0,0005 lebih kecii dari a 0,05 ini menimjukkan ada hubungan antara status gizi dengan usia menarche di SMP Muhammadiyah dan SMP Negeri 16 Paiembang.
47
Sejaian dengan teori, keadaan gizi remaja wanita dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik dan usia menarche. Status gizi remaja wanita sangat mempengaruhi terjadinya menarche baik dari faktor usia terjadinya menarche, adanya keiuhan-keiuhan seiama menarche maupun lamanya hari menarche (Yulianto 2001).
Hasii penelitian ini sejaian dengan penelitian Antono Dwi Sumy (2008) yang menyatakan bahwa seseorang yang memiliki gizi yang baik maka usia menarche akan normal.
Hasii penelitian ini sejaian dengan penelitian Siti Aishah (2007) yang diiakukan di Tanjung Morawa, didapatkan bahwa semakin baik status gizi seseorang, maka usia menarche orang tersebut akan semakin tepat (tidak teriambai atau terlalu dini). Faktor yang menyebabkan terjadinya menstiTiasi lebih dini, yaitu faktor internal dan faktor eksternai, Faktor internal terjadi karena aspek psikoiogis. kesuburan.dan hormon. Sedangkan faktor eksternal adalali faktor bud