• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan proram penguatan pendidikan karakter berbasis budaya sekolah di Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Godean Kabupaten Sleman

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Penerapan proram penguatan pendidikan karakter berbasis budaya sekolah di Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Godean Kabupaten Sleman"

Copied!
184
0
0

Teks penuh

(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. PENERAPAN PROGRAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS BUDAYA SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR NEGERI SE-KECAMATAN GODEAN KABUPATEN SLEMAN. SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Oleh: Richardo Wahyu Tharindra NIM : 151134144. PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR. JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2020.

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. SKRIPSI PENERAPAN PROGRAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS BUDAYA SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR NEGERI SE-KECAMATAN GODEAN KABUPATEN SLEMAN. Oleh: Richardo Wahyu Tharindra NIM: 151134144. Telah disetujui oleh: Pembimbing I. Maria Melani Ika Susanti, S.Pd., M.Pd.. Tanggal 14 Januari 2020. Pembimbing II. Theresia Yunia Setyawan, S.Pd., M.Hum.. ii. Tanggal 14 Januari 2020.

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. SKRIPSI. PENERAPAN PROGRAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS BUDAYA SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR NEGERI SE-KECAMATAN GODEAN KABUPATEN SLEMAN. Dipersiapkan dan ditulis oleh: Richardo Wahyu Tharindra NIM: 151134144 Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji pada tanggal 28 Januari 2020 dan dinyatakan telah memenuhi syarat. Susunan Panitia Penguji. Ketua. Nama Lengkap. Tanda Tangan. Christiyanti Aprinastuti, S.Si., M.Pd.. ......................... Sekretaris Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd.. ......................... Anggota. Maria Melani Ika Susanti, S.Pd., M.Pd.. ......................... Anggota. Theresia Yunia Setyawan, S.Pd., M.Hum.. ....................... Anggota. Drs. Puji Purnomo, M.Si.. ......................... Yogyakarta, 28 Januari 2020 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Dekan,. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si.. iii.

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. PERSEMBAHAN. Karya ini kupersembahkan untuk: . Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria yang selalu menuntun langkahku dan selalu memberikan berkat melimpah. . Kedua orangtuaku, Bapak Alm. Yohanes Wahyudi dan Ibu Catharina Budiyati yang selalu memberikanku semangat dan tidak pernah lupa mendoakanku. . Seluruh keluargaku yang selalu mendoakan kesuksesanku. . Para sahabatku yang selalu ada untuk memberikan semangat dan motivasi dan bantuannya. . Teman-teman payung kecil yang selalu berjuang, menyemangati, dan saling membantu pada saat penelitian hingga penyusunan tugas akhir ini.. iv.

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. MOTTO. “Manusia tidak merancang untuk gagal, mereka gagal untuk merancang.” (William J. Siegel). “Sebelum hal lain, persiapan adalah kunci menuju sukses” (Alexander G. Bell). v.

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. PERNYATAAN KEASLIAN KARYA. Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.. Yogyakarta, 28 Januari 2020 Peneliti. Richardo Wahyu Tharindra. vi.

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta: Nama. : Richardo Wahyu Tharindra. Nomor Mahasiswa. : 151134144. Demi. pengembangan. ilmu. pengetahuan,. saya. memberikan. kepada. Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: PENERAPAN PROGRAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS BUDAYA SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR NEGERI SE-KECAMATAN GODEAN KABUPATEN SLEMAN Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Univeristas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai peneliti. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 28 Januari 2020 Yang menyatakan. Richardo Wahyu Tharindra. vii.

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ABSTRAK PENERAPAN PROGRAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS BUDAYA SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR NEGERI SE-KECAMATAN GODEAN KABUPATEN SLEMAN. Richardo Wahyu Tharindra Universitas Sanata Dharma 2020 Latar belakang penelitian ini adalah revolusi karakter melalui pendidikan dengan dicanangkannya Program Penguatan Pendidikan Karakter oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di setiap satuan pendidikan formal. Program Penguatan Pendidikan Karakter dibuat dalam tiga pendekatan yakni kelas, budaya sekolah, dan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui dan mendeskripsikan sejauh mana penerapan Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah di Sekolah Dasar Negeri seKecamatan Godean Kabupaten Sleman. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif dengan metode survei. Populasi penelitian adalah 132 guru dan sampel sebanyak 97 guru di Kecamatan Godean. Pemilihan responden dilakukan secara acak pada masingmasing sekolah. Peneliti menggunakan lembar kuesioner yang terdiri dari 10 soal pertanyaan tertutup dan 10 soal pertanyaan terbuka. Pada pertanyaan tertutup dan terbuka terbagi dalam 4 aspek yakni branding sekolah, pembiasaan, kegiatan ekstrakurikuler, dan peraturan sekolah. Hasil penelitian dengan pertanyaan tertutup pada aspek branding sekolah mendapatkan rerata jawaban sebanyak 73% jawaban ya dan 27% jawaban tidak. Pada aspek pembiasaan, peneliti mendapatkan rerata jawaban sebanyak 96% jawaban ya dan 4% jawaban tidak. Pada aspek kegiatan ekstrakurikuler, peneliti mendapatkan rerata jawaban ya sebanyak 93% jawaban ya dan 7% jawaban tidak. Pada aspek peraturan sekolah, peneliti mendapatkan rerata jawaban 97% jawaban ya dan 3% jawaban tidak. Jadi penerapan program penguatan pendidikan karakter berbasis budaya sekolah di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Godean Kabupaten Sleman sejauh ini sudah berjalan baik dilihat dari empat aspek yakni branding sekolah, pembiasaan, kegiatan ekstrakurikuler, dan peraturan sekolah Kata kunci: Penguatan Pendidikan Karakter, Kecamatan Godean, Budaya Sekolah. viii.

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ABSTRACT IMPLEMENTATION OF THE PROGRAM FOR THE STRENGTHENING OF CHARACTER EDUCATION BASED ON SCHOOL CULTURE IN ELEMENTARY SCHOOL STATE ON GODEAN DISTRICT SLEMAN REGENCY Richardo Wahyu Tharindra Sanata Dharma University 2020 The background of this research is a revolution character through education with the program for strengthening introduction of character education by Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan in each formal education. The program for strengthening character education made in three different approaches to the class , school culture , and the community. The purpose of this research is knowledge and described the extent to which the application of establishing a culture based character education schools in primary schools across the Godean district Sleman regency. The research is quantitative research descriptive with a method of survey. Research population is 132 teachers and samples from 97 teachers in godean district. Respondents were election at random in each school. Researchers used questionnaires that were gathered on sheets of 10 problems questions closed and open question 10 problems. The questions closed and open in divided into 4 aspects of the school branding , daily activities , extracurricular activities , and regulations school. The research covered on the branding school getting an answer as many as percent on average 73% answers yes and 27% answers no. On the daily activities getting an answer as many as percent on average 96 % answers yes and 4 % answers no. On the extracurricular activities getting an answer as many as percent on average 93% answers yes and 7% answers no. On regulations school getting an answer as many as percent on average 97% answers yes and 3% answers no. The implementation of strengthening programs character education based on school culture in elementary schools state on Godean district Sleman regency has been running well seen from four aspects are branding school, daily activities, extracurricular activities , and regulations school. Keywords: Strengthening Character Education, Godean District, School Culture.. ix.

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. KATA PENGANTAR. Peneliti memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kasih dan karunia-Nya, peneliti dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini yang berjudul Penerapan Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah Di Sekolah Dasar Negeri SeKecamatan Godean Kabupaten Sleman dapat selesai tepat pada waktunya. Skripsi ini disusun guna memenuhi syarat memperoleh gelar sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dalam penyusunan skripsi ini, peneliti tidak lepas dari bantuan, dukungan, bimbingan, nasihat, dan kerjasama dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini, peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. 2. Christiyanti Aprinastuti, S.Si., M.Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma. 3. Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd. selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. 4. Maria Melani Ika Susanti, S.Pd., M.Pd. selaku Dosen Pembimbing I, yang telah memberikan dukungan, motivasi, dan perhatian sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini. 5. Theresia Yunia Setyawan, M.Hum. selaku Dosen Pembimbing II, yang telah memberikan dukungan, motivasi, dan perhatian sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini. 6. Seluruh keluarga besar dosen dan staf PGSD Universitas Sanata Dharma. 7. Odo Hadinata, M.Pd selaku tim pengembang Program Penguatan Pendidikan Karakter di Kemendikbud. 8. Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Sleman dan Kepala UPT Kecamatan Godean yang telah memberikan izin kepada peneliti untuk melaksanakan penelitian ini.. x.

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 9. Semua Kepala Sekolah dan Guru SD Se-Kecamatan Godean Kabupaten Sleman Yogyakarta yang telah membantu melaksanakan penelitian ini. 10. Sahabat Payung yang selalu memberikan semangat, doa, masukan, dan dorongan.Orangtuaku. tercinta. yang. telah. memberikan. dukungan,. semangat, dorongan, dan menunjang segala kebutuhan. 11. Payung kecil yakni Tiwi dan Sasa yang selalu memberikan dukungan, kritik, saran, serta semangat. 12. Semua teman-teman kelas C PGSD angkatan 2015. 13. Pihak validator instrumen penelitian di Daerah Istimewa Yogyakarta 14. Teman-teman angkatan 2015 PGSD yang selalu mengiringi langkah peneliti selama menjalani perkuliahan. 15. Seluruh pihak yang telah membantu baik secara moral maupun material, yang tidak dapat peneliti sebutkan satu per satu. Peneliti berharap penulisan skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca untuk menambah pengetahuan dan memperluas wawasan Peneliti menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, peneliti sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar skripsi ini lebih sempurna.. Peneliti. xi.

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR ISI. Halaman HALAMAN JUDUL ………………………………………………..... i. HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING …………………….. ii. HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………... iii. HALAMAN PERSEMBAHAN …………………………………….... iv. HALAMAN MOTTO ………………………………………………... v. PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ……………………………... vi. LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS …….... vii. ABSTRAK …………………………………………………………….. viii. ABSTRACT ………………………………………………………….... ix. KATA PENGANTAR ………………………………………………... x. DAFTAR ISI ………………………………………………………….. xii. DAFTAR TABEL …………………………………………………….. xv. DAFTAR GAMBAR …………………………………………………. xvi. DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………. xvii. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah …………………………………………... 1. B. Batasan Masalah …………………………………………………... 5. C. Rumusan Penelitian ……………………………………………….. 6. D. Tujuan Penelitian …………………………………………………. 6. E. Manfaat Penelitian ………………………………………………... 7. F. Definisi Operasional ………………………………………………. 7. BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka …………………………………………………….. 9. 1. Pendidikan …………………………………………………….. 9. 2. Karakter ……………………………………………………….. 10. 3. Pendidikan Karakter …………………………………………... 11. 4. Budaya Sekolah ……………………………………………….. 12. 5. Program Penguatan Pendidikan Karakter …………………….. 12. xii.

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. a. Pendekatan Penguatan Pendidikan Karakter …………….... 13. b. Nilai-nilai Penguatan Pendidikan Karakter ……………….. 17. 6. Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah ………………. 22. a. Pengertian Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah …………………………………………… b. Persiapan penerapan Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah ………………………………….. c. Aspek dalam Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah ……………………………………………. 22. 24. 29. B. Penelitian yang Relevan …………………………………………... 34. C. Kerangka Berpikir ……………………………………………….... 39. D. Pertanyaan Penelitian ……………………………………………... 41. BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian …………………………………………………..... 42. B. Setting Penelitian ………………………………………….........…. 43. 1. Subjek Penelitian ………………………………………………. 43. 2. Objek Penelitian ……………………………………………….. 43. 3. Tempat Penelitian …………………………………………….... 43. 4. Waktu Penelitian ………………………………………………. 43. C. Populasi dan Sampel ……………………………………………... 44. 1. Populasi ………………………………………………………... 44. 2. Sampel …………………………………………………………. 46. D. Variabel Penelitian ……………………………………………….. 50. E. Teknik Pengumpulan Data ……………………………………….. 51. 1. Kuesioner ………………………………………………………. 51. 2. Studi Dokumenter …………………………………………….... 52. F. Instrumen Penelitian …………………………………………….... 53. 1. Instrumen Kuesioner Pertanyaan Tertutup …………………….. 54. 2. Instrumen Kuesioner Pertanyaan Terbuka …………………….. 55. 3. Daftar Cek ……………………………………………………... 57. G. Teknik Pengujian Instrumen ……………………………………... 58. 1. Validitas Isi …………………………………………………….. 59. xiii.

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 2. Validitas Muka ……………………………………………….... 64. H. Teknik Analisis Data ……………………………………………... 65. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian …………………………………………………... 68. 1. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian …………………………….... 68. 2. Deskripsi Responden Penelitian ……………………………….. 70. 3. Deskripsi Data Penerapan Program Penguatan Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Godean. 71. Kabupaten Sleman …….............................................................. B. Pembahasan ………………………………………………………. 86. BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ………………………………………………………. 102. B. Keterbatasan Penelitian …………………………………………... 103. C. Saran …………………………………………………………….... 103. DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………... 105. LAMPIRAN …………………………………………………………... 109. DAFTAR RIWAYAT HIDUP ……………………………………….. 167. xiv.

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR TABEL. Tabel 3.1. Populasi Penelitian .......................................................................... 44. Tabel 3.2. Penentuan Jumlah Sampel Minimal menurut Krejcie dan Morgan. 47. Tabel 3.3. Penghitungan Sampel Penelitian ..................................................... 49. Tabel 3.4. Kisi-kisi Instrumen Pertanyaan Tertutup......................................... 54. Tabel 3.5. Kisi-kisi Instrumen Pertanyaan Terbuka ......................................... 56. Tabel 3.6. Daftar Cek Sampel Penelitian ......................................................... 57. Tabel 3.7. Konversi Nilai Skala Lima .............................................................. 60. Tabel 3.8. Modifikasi Nilai Skala Lima ........................................................... 60. Tabel 3.9. Kriteria Skor Skala Lima ................................................................. 63. Tabel 3.10. Rekapitulasi Validasi Instrumen...................................................... 63. Tabel 3.11. Hasil Validasi Muka ........................................................................ 65. Tabel 4.1. Daftar Sekolah Dasar Negeri yang Diteliti ...................................... 69. Tabel 4.2. Kisi-kisi Instrumen Kuesioner Pertanyaan Tertutup ....................... 71. Tabel 4.3. Hasil Persentase Instrumen Kuesioner Pertanyaan Tertutup........... 87. Tabel 4.4. Rerata Persentase Setiap Aspek Budaya Sekolah ......................... xv. 100.

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR GAMBAR. Gambar 2.1. Nilai Karakter Filosofi Ki Hajar Dewantara …………………. 17. Gambar 2.2. Lima Nilai Utama Pendidikan Karakter …………………….... 18. Gambar 2.3. Literature Map Penelitian yang Relevan …………………….. 38. Gambar 4.1. Grafik Persentase Penerapan PPK Berbasis Budaya Sekolah di Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Godean …………….. 73. Gambar 4.2. Grafik Persentase Penerapan Butir 1 ………………………… 75. Gambar 4.3. Grafik Persentase Penerapan Butir 2 ………………………… 76. Gambar 4.4. Grafik Persentase Penerapan Butir 3 ………………………… 77. Gambar 4.5. Grafik Persentase Penerapan Butir 4 ………………………… 78. Gambar 4.6. Grafik Persentase Penerapan Butir 5 ………………………… 79. Gambar 4.7. Grafik Persentase Penerapan Butir 6 ………………………… 80. Gambar 4.8. Grafik Persentase Penerapan Butir 7 ………………………… 81. Gambar 4.9. Grafik Persentase Penerapan Butir 8 ………………………… 82. Gambar 4.10 Grafik Persentase Penerapan Butir 9 ………………………… 84 Gambar 4.11 Grafik Persentase Penerapan Butir 10 ……………………….. 85. xvi.

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Surat Izin Penelitian dari Universitas Sanata Dharma ……………. Lampiran 2. Surat Rekomendasi Izin Penelitian dari Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik …………………………………………………………. Lampiran 3. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian dari UPTD Kecamatan Godean ………………………………………………... Lampiran 4. Surat Keterangan Sudah Mengumpulkan Hasil Penelitian kepada Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik …………………………….... Lampiran 5. Rangkuman Data Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Godean Kabupaten Sleman……………………………………………......... Lampiran 6. Coding Data 19 Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Godean Kabupaten Sleman ……………………………………………….... 110 111. 112. 113. 114. 116. Lampiran 7. Rekap Data Instrumen Pertanyaan Tertutup ………………………. 119. Lampiran 8. Rekap Data Instrumen Pertanyaan Terbuka ………………………. 122. Lampiran 9. Kisi-kisi Instrumen soal Pertanyaan Tertutup …………………….. 125. Lampiran 10. Kisi-kisi Instrumen Pertanyaan Terbuka …………………….......... 126. Lampiran 11. Identitas Responden dan Surat Pengantar Instrumen ……………... 127. Lampiran 12. Soal Pertanyaan Tertutup dan Pertanyaan Terbuka ……………….. 128. Lampiran 13. Permohonan Izin Validasi Ahli …………………………………... 131. Lampiran 14. Data Mentah 10 Validasi Ahli ……………………………………. 132. Lampiran 15. Hasil Rekap Validasi Isi Instrumen Soal Pertanyaan Tertutup ….... 162. Lampiran 16. Hasil Validasi Muka Instrumen Soal Pertanyaan Terbuka ………... 163. Lampiran 17. Daftar Cek Dokumentasi Data …………………………………...... 164. xvii.

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB I PENDAHULUAN. A.. Latar Belakang Masalah Negara pendidikan. mempunyai yang. bermutu. kewajiban kepada. dalam setiap. memberikan warga. negara. layanan melalui. penyelenggaraan pendidikan pada satuan sekolah (Raharjo, 2018 : 130). Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.. Dari isi. undang-undang tersebut,. pendidikan. diharapkan dapat menjadi tunjangan agar manusia mempunyai kecakapan, baik pada dirinya sendiri maupun dalam berperilaku sebagai warga negara yang demokratis. Pemerintah dalam mencapai tujuan pendidikan nasional dilakukan dengan menerapkan pendidikan karakter melalui rencana Presiden Joko Widodo di tahun 2014. Presiden Joko Widodo merencanakan Nawa Cita atau 9 agenda prioritas yang pada poin kedelapan merencanakan untuk melakukan revolusi karakter bangsa. Revolusi tersebut dilakukan melalui perbaikan pendidikan karakter. Atas dasar ini, Kementrian Pendidikan dan. 1.

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Kebudayaan mencanangkan Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) secara bertahap mulai Tahun Ajaran 2016/2017. Gerakan PPK bukanlah suatu kebijakan baru karena pendidikan karakter sudah menjadi gerakan nasional sejak tahun 2010. Kesuma, dkk., (2011: 5) menjelaskan bahwa pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempratikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya. Samani dan Hariyanto (2011: 45) menyatakan bahwa pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa. Guru dan orangtua peserta didik hendaknya bekerja sama agar dapat mewujudkan karakter peserta didik yang sopan dalam berbicara, santun dalam bertindak, dan memiliki pola pikir yang bijak. Pendidikan karakter dari rencana Nawa Cita atau 9 agenda prioritas diberi nama Penguatan Pendidikan Karakter. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter peserta didik melalui keselarasan dalam hal olah hati (etik), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik) dengan dukungan dan kerja sama antara sekolah dengan orangtua, keluarga, dan masyarakat (Kemendikbud, 2017: 1). Secara garis besar ada lima nilai utama dalam pendidikan karakter yang sangat diprioritaskan yakni religiositas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong dan integritas yang terintegrasi dalam kurikulum. Penguatan Pendidikan Karakter juga.

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. didukung dengan adanya Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Penguatan Pendidikan Karakter menurut Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 memiliki tiga tujuan. Tujuan yang pertama yakni membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas Indonesia Tahun 2045 dengan jiwa Pancasila dan pendidikan karakter. Tujuan yang kedua yakni mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan pendidikan karakter sebagai jiwa utama dalam penyelenggaraan pendidikan bagi peserta didik. Tujuan yang ketiga yakni memperkuat potensi dan kompetensi pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik, masyarakat, dan lingkungan keluarga dalam menerapkan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Kemendikbud (2017: 2) menjelaskan bahwa penerapan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dilakukan dengan tiga pendekatan yaitu program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis kelas, program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis budaya sekolah, dan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis masyarakat. Dalam program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis kelas, Kemendikbud Pendidikan. (2017: Karakter. 2). menjelaskan. (PPK). bahwa. dilaksanakan. program antara. lain. Penguatan melalui. pengintegrasian program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dalam kurikulum, optimalisasi muatan lokal, dan manajemen kelas. Program Penguatan. Pendidikan. Karakter. (PPK). berbasis. budaya. sekolah. dilaksanakan melalui pembiasaan nilai-nilai dalam keseharian sekolah, keteladanan pendidik, ekosistem sekolah, norma, peraturan, dan tradisi.

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. sekolah. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis budaya masyarakat dilakukan dengan melibatkan mitra yang ada di masyarakat yaitu orangtua, tokoh masyarakat, tokoh agama, pelaku usaha, akademisi, budayawan, dan lain-lain. Dari ketiga pendekatan ini program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) mengharapkan agar peserta didik mendapat lima nilai karakter yakni religiositas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas. Berdasarkan data Kemendikbud (2019) diketahui bahwa di tahun 2016 sebanyak 542 sekolah menjadi sasaran pertama untuk mendapat penerapan program penguatan pendidikan karakter dan di tahun 2017, Kemendikbud menargetkan sebanyak 1.626 sekolah akan menjadi target rintisan PPK, yang akan memberikan dampak pada sekitar 9.830 sekolah di sekitarnya. Hingga tahun 2020, target penerapan penuh PPK diharapkan dapat terwujud yakni penerapan penuh PPK kepada seluruh sekolah di Indonesia. Program penguatan pendidikan karakter membuat peneliti tertarik pada pendekatan budaya sekolah. Dengan pendekatan budaya sekolah, peserta didik mempunyai banyak kegiatan yang bersinggungan dengan nilai-nilai Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Adanya singgungan ini terlihat dari kegiatan peserta didik dari masuk kelas hingga pulang sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, tradisi yang ada di masing-masing sekolah peserta didik belajar, dan peraturan sekolah yang wajib ditaati oleh peserta didik. Pendekatan budaya sekolah akan membuat peserta didik terbiasa dengan nilai-nilai utama PPK yang sering mereka dapatkan baik melalui kegiatan.

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. pembelajaran di kelas, tradisi sekolah, peraturan sekolah, dan kegiatan ekstrakurikuler yang peserta didik pilih. Dengan demikian, peserta didik mampu menghargai orang-orang di sekitarnya baik itu guru, karyawan sekolah, warga lingkungan sekolah, dan teman sebayanya sehingga etika dan perilakunya diharapkan sesuai dengan nilai-nilai utama PPK. Peneliti melakukan penelitian di Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Peneliti memilih Kecamatan Godean dikarenakan peneliti ingin mengetahui sejauh mana keterlibatan sekolah di Kecamatan Godean dalam menerapkan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis budaya sekolah selain itu berdasarkan data disdik Sleman Kecamatan Godean berada di peringkat 12 Tahun Ajaran 2018/2019 se-Kabupaten Sleman. Peneliti mengharapkan dengan adanya penelitian ini, sekolah mampu menerapkan kegiatan atau program yang mendukung PPK sehingga peserta didik memiliki kebiasaan positif di sekolah dan dibantu dengan bimbingan orangtua di rumah, peserta didik memiliki akhlak dan etika dalam kehidupan sehari-hari.. B.. Batasan Masalah Beberapa batasan masalah untuk penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Subjek penelitian ini adalah guru kelas dari kelas I sampai kelas VI di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Godean Kabupaten Sleman. 2. Peneliti menggunakan metode random sampling untuk mengambil beberapa sampel dari populasi sekolah dasar negeri se-Kecamatan Godean Kabupaten Sleman..

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. 3. Fokus penelitian ini adalah penerapan penguatan pendidikan karakter berbasis budaya sekolah di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Godean Kabupaten Sleman.. C.. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Sejauh mana penerapan program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya sekolah di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Godean Kabupaten Sleman ? 2. Bagaimana penerapan program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya sekolah di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Godean Kabupaten Sleman ?. D.. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Mengetahui sejauh mana penerapan program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Godean Kabupaten Sleman telah dilakukan. 2. Mendeskripsikan penerapan program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Godean Kabupaten Sleman..

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. E.. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut. 1. Bagi sekolah Sekolah dapat menunjang citra yang baik dari masyarakat dan pemerintah berupa cap atau branding yang sesuai dengan kegiatan pembiasaan, peraturan, dan program sekolah yang didukung dengan penampilan sekolah. 2. Bagi guru Guru dapat melihat potensi dari pendidikan karakter untuk peserta didik, sehingga mampu menanamkan lima nilai karakter pada peserta didik. 3. Bagi peneliti Peneliti dapat menambah wawasan tentang jenis-jenis basis pada pendidikan karakter. Peneliti mampu mengetahui berbagai macam penerapan pendidikan karakter berbasis budaya di sekolah.. F.. Definisi Operasional Beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut. 1. Karakter adalah sifat dan akhlak yang merupakan kepribadian khusus seseorang yang digunakan sebagai cara untuk berpikir dan berperilaku yang khas dalam kehidupan sehari-hari. 2. Pendidikan karakter adalah adalah kegiatan mendidik peserta didik dengan memberikan tuntunan yang sesuai dengan yang ada di.

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8. masyarakat agar dapat berkontribusi dengan mengambil keputusan yang tepat untuk tindakan yang akan dilakukan. 3. Budaya sekolah adalah sebuah kegiatan berupa kebiasaan rutinitas melalui kegiatan harian yang dapat membentuk norma, tingkah laku, sikap, nilai, dan tradisi yang menandakan karakteristik sebuah sekolah. 4. Program penguatan pendidikan karakter adalah kegiatan inti dari pendidikan nasional yang menggerakkan karakter peserta didik lewat kerja sama antara sekolah dengan orangtua dan masyarakat sehingga menghasilkan karakter peserta didik yang selaras dalam olah hati, olah rasa, dan olah raga. 5. Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah adalah kegiatan praktik di sekolah berupa pembiasaan nilai-nilai yang ada di sekolah, di mana semua warga sekolah juga terlibat dalam melaksanakan norma, tradisi, dan aturan yang berlaku di sekolah agar tercipta lingkungan sekolah yang kondusif demi merealisasikan misi dan tujuan lembaga pendidikan yang terdiri dari pembuatan branding sekolah, kegiatan pembiasaan, kegiatan ekstrakurikler, dan peraturan sekolah..

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB II LANDASAN TEORI. A. Kajian Pustaka 1. Pendidikan Pendidikan mencakup semua perbuatan atau semua usaha dari generasi tua untuk mengalihkan nilai-nilai serta melimpahkan pengetahuan, pengalaman, kecakapan, serta keterampilan kepada generasi selanjutnya. Fungsi dari pendidikan adalah sebagai usaha untuk menyiapkan anak didik agar anak didik tersebut dapat memenuhi fungsi hidup mereka, baik rohani maupun jasmani (Kurniawan, 2013: 26). Kurniawan juga menjelaskan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau didikan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan anak didik, baik jasmani maupun rohani, menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Soedijarto. (2008:. xvii). menjelaskan. bahwa. pendidikan. didefinisikan sebagai sebuah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual. keagamaan, pengendalian. diri,. kepribadian,. kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan. masyarakat.. mendefinisikan. Solahudin. bahwa. dan. Abdul. (2009:. pendidikan. adalah. daya. 9. 210). turut. upaya. untuk.

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10. memajukan perkembangan budi pekerti, pikiran, dan jasmani anakanak. Dari penjelasan tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa pendidikan adalah bimbingan terencana dalam proses pembelajaran agar peserta didik mampu mengembangkan potensi yang ada pada dirinya baik secara jasmani maupun rohani yang nantinya akan terbentuk sebagai kepribadian yang berguna pada masyarakat dan pada dirinya sendiri. 2. Karakter Seseorang dapat dikatakan berkarakter jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya (Kertajaya, 2010: 3). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2019), karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Hidayatullah (2010: 13) menjelaskan bahwa karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang menjadi pendorong dan penggerak, serta membedakan dengan individu lain. Samani dan Hariyanto (2011: 41) juga menjelaskan bahwa karakter dimaknai sebagai cara berpikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Dari penjelasan tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa karakter adalah sifat dan akhlak yang merupakan kepribadian khusus seseorang.

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11. yang digunakan sebagai cara untuk berpikir dan berperilaku yang khas dalam kehidupan sehari-hari. 3. Pendidikan Karakter Kesuma, dkk., (2011: 5) menjelaskan bahwa pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempratikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya. Samani dan Hariyanto (2011: 45) menyatakan bahwa pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa. Yaumi (2014: 9) juga menuturkan bahwa pendidikan karakter adalah suatu istilah yang luas yang digunakan untuk menggambarkan kurikulum dan ciri-ciri organisasi. sekolah. yang mendorong pengembangan nilai-nilai. fundamental anak-anak di sekolah. Pendidikan karakter dikatakan luas karena mencakup berbagai berbagai sub komponen yang menjadi bagian dari program pendidikan karakter seperti pembelajaran dan kurikulum tentang keterampilan-keterampilan sosial, pengembangan sosial, pengembangan moral, pembinaan kepedulian dan berbagai program pengembangan sekolah yang mencerminkan aktivitas yang mengarah pada pendidikan karakter (Yaumi, 2014: 9). Dari penjelasan tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah kegiatan mendidik peserta didik dengan memberikan tuntunan yang sesuai dengan yang ada di masyarakat agar.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12. dapat berkontribusi dengan mengambil keputusan yang tepat untuk tindakan yang akan dilakukan. 4. Budaya Sekolah Koesoema (2018: 21) menjelaskan bahwa setiap lembaga pendidikan memiliki kultur sekolah yang terbentuk secara alami melalui jalinan interaksi antar sesama dan kegiatan harian yang menjadi rutinitas sehingga dapat menjadi ekosistem. Koesoema juga menambahkan jika kultur sekolah ramah maka secara moral dapat menumbuhkan tanggung jawab profesional dan integritas moral pada setiap anggotanya. Muntir (2018) menjelaskan bahwa kultur sekolah adalah sebuah model kompleks yang meliputi norma, tingkah laku, sikap, nilai, dan tradisi yang menandakan karakteristik sekolah. Maryamah (2016) menjelaskan bahwa budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian yang dipraktikkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, peserta didik dan masyarakat sekitar sekolah. Dari penjelasan di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa budaya sekolah adalah sebuah kegiatan berupa kebiasaan rutinitas melalui kegiatan harian yang dapat membentuk norma, tingkah laku, sikap, nilai, dan tradisi yang menandakan karakteristik sebuah sekolah. 5. Program Penguatan Pendidikan Karakter Gerakan Program Penguatan Pendidikan Karakter sudah ada sejak tahun 2010 dan diperkuat di tahun 2014 bersama dengan Nawacita 8 untuk menggelorakan Gerakan Nasional Revolusi Mental. Gerakan.

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13. Penguatan Pendidikan Karakter adalah kegiatan inti dari pendidikan nasional sehingga menjadi poros pelaksanaan pendidikan dasar dan menengah yang perlu mengintegrasikan, memperdalam, memperluas, dan sekaligus menyelaraskan berbagai program pendidikan nasional dan pendidikan karakter yang sudah dilaksanakan hingga sekarang (Hendarman, dkk., 2017: 5). Program Penguatan Pendidikan Karakter merupakan gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik) dengan dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat (Kemendikbud, 2017: 1).. Koesoema (2018: 6). menjelaskan bahwa Program Penguatan Pendidikan Karakter adalah perubahan pola pikir dan cara bertindak dalam mengelola sekolah, yang. menempatkan. nilai. karakter. sebagai. dimensi. terdalam. pendidikan. Dari penjelasan tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa Program Penguatan Pendidikan Karakter adalah kegiatan inti dari pendidikan nasional yang menggerakkan karakter peserta didik lewat kerja sama antara sekolah dengan orangtua dan masyarakat sehingga menghasilkan karakter peserta didik yang selaras dalam olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga..

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14. a. Pendekatan Penguatan Pendidikan Karakter 1) Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Kelas Pendidikan karakter berbasis kelas, menurut Koesoema (2018: 9) adalah locus educationis utama di mana proses pembentukan karakter terjadi di dalam lingkungan pendidikan. Seluruh reformasi dalam bidang pendidikan, secanggih apapun programnya, tidak akan efektif bila tidak menyentuh pokok persoalan pendidikan itu sendiri, yaitu keseluruhan proses pengajaran yang terjadi di dalam kelas. Dalam basis kelas, Hendarman, dkk., (2017: 27) menjelaskan bahwa penguatan pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam berbagai aspek yakni dalam kurikulum, manajemen kelas, penggunaan metode pembelajaran, mata pelajaran khusus, gerakan literasi, serta layanan bimbingan dan konseling. Kemendikbud (2017: 2) menjelaskan bahwa penguatan pendidikan karakter berbasis kelas dapat dilakukan melalui manajemen kelas, optimalisasi kegiatan muatan lokal, dan pengintegrasian dalam kurikulum. Dari penjelasan tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa penguatan pendidikan karakter berbasis kelas adalah sebuah kegiatan yang dilakukan di dalam kelas yang terjadi dalam proses pengajaran yang sudah diintegrasikan dengan kurikulum,. manajemen. kelas,. penggunaan. metode. pembelajaran, mata pelajaran khusus, gerakan literasi, serta layanan bimbingan dan konseling..

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15. 2) Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah Hendarman,. dkk.,. (2017:. 35). menjelaskan. bahwa. pendidikan karakter berbasis budaya sekolah merupakan sebuah kegiatan untuk menciptakan iklim dan lingkungan sekolah yang mendukung praktik penguatan pendidikan karakter mengatasi ruang-ruang kelas dan melibatkan seluruh sistem,. struktur,. dan. pelaku. pendidikan. di. sekolah.. Kemendikbud (2017: 2) menjelaskan bahwa pendidikan karakter berbasis budaya sekolah adalah kegiatan yang dilaksanakan melalui pembiasaan nilai-nilai dalam keseharian di sekolah, keteladanan pendidik, norma, aturan, dan tradisi di sekolah yang telah disepakati bersama. Koesoema (2018: 10) menjelaskan bahwa pendidikan karakter berbasis budaya sekolah. adalah. antarindividu. kegiatan. pada. berupa. lembaga. komunikasi. pendidikan. dalam. interaktif rangka. merealisasikan misi dan tujuan lembaga pendidikan. Dari penjelasan di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa pendidikan karakter berbasis budaya adalah kegiatan praktik di sekolah berupa pembiasaan nilai-nilai yang ada di sekolah, di mana semua warga sekolah juga terlibat dalam melaksanakan norma, tradisi, dan aturan yang berlaku di sekolah demi merealisasikan misi dan tujuan lembaga pendidikan..

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16. 3) Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Masyarakat Hendarman,. dkk.,. (2017:. 41). menjelaskan. bahwa. penguatan pendidikan karakter berbasis masyarakat adalah suatu kegiatan perpaduan antara sekolah dengan lembaga, komunitas, dan masyarakat lain di luar sekolah untuk dijadikan sebagai mitra penguatan pendidikan karakter. Kemendikbud (2017: 2) menjelaskan bahwa penguatan pendidikan karakter berbasis masyarakat dilakukan dengan melibatkan mitra masyarakat yang berada di luar sekolah, seperti orangtua, tokoh masyarakat, tokoh agama, akademisi, pegiat pendidikan, seniman, budayawan, sastrawan, dan tokoh menginspirasi lainnya. Koesoema (2018: 18) mengatakan bahwa pendekatan berbasis masyarakat adalah pelibatan publik, baik kelompok komunitas maupun kelembagaan, baik pemerintah maupun non pemerintah. Dari penjelasan di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa penguatan pendidikan karakter berbasis masyarakat adalah suatu kegiatan dari program sekolah yang dilakukan bersama dengan tokoh-tokoh di masyarakat yang masih berkaitan. dengan. program. sekolah. tersebut. untuk. menginspirasi peserta didik agar peserta didik dapat mencontoh karakter yang ada pada tokoh-tokoh tersebut..

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17. b. Nilai-nilai Penguatan Pendidikan Karakter Selain merupakan kelanjutan dan kesinambungan dari Gerakan Nasional Pendidikan Karakter Bangsa Tahun 2010, gerakan Penguatan Pendidikan Karakter juga merupakan bagian integral dari Nawacita yang tertuang dalam butir ke 8 Nawacita yang berbunyi Revolusi Karakter Bangsa dan Gerakan Nasional Revolusi Mental dalam pendidikan yang hendak mendorong seluruh bagian kepentingan untuk membuat perubahan pola pikir dan cara bertindak dalam mengelola sekolah. Untuk itu, gerakan Penguatan Pendidikan Karakter menempatkan nilai karakter sebagai dimensi terdalam pendidikan yang membudayakan dan memberadabkan para pelaku pendidikan (Hendarman, dkk., 2017: 8). Terdapat lima nilai dalam pendidikan karakter. Lima nilai karakter ini diambil dari filosofi Ki Hajar Dewantara. Gambar lima nilai karakter dari filosofi tersebut adalah sebagai berikut.. Gambar 2.1 Filosofi Nilai Karakter Ki Hajar Dewantara Gambar 2.1 memperlihatkan bahwa nilai-nilai karakter yang diambil dari filosofi Ki Hajar Dewantara adalah olah hati (etika), olah.

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18. raga (kinestetika), olah karsa (estetika) dan olah pikir (literasi). Dalam olah hati, peserta didik diharapkan menjadi individu yang memiliki kerohanian yang mendalam, beriman dan bertakwa. Dalam olah pikir, peserta didik diharapkan menjadi individu yang memiliki keunggulan akademis sebagai hasil dari pembelajaran dan menjadi pembelajar sepanjang hayat. Dalam olah karsa, peserta didik diharapkan menjadi individu yang memiliki integritas moral, rasa berkesenian dan berkebudayaan. Dalam olah raga, peserta didik diharapkan menjadi individu yang sehat dan mampu berpartisipasi aktif sebagai warga negara. Peserta didik dapat mengolah keempat nilai tersebut yang nantinya akan terkristal menjadi lima nilai utama pendidikan karakter. Kelima nilai utama pendidikan karakter tersebut dapat dilihat pada gambar berikut.. Nasionalisme. Integritas. Nilai Utama. Gotong Royong. Religiositas. Kemandirian. Gambar 2.2 Lima Nilai Utama Pendidikan Karakter Gambar 2.2 memperlihatkan lima nilai utama pendidikan karakter yang berasal dari kristalisasi nilai karakter dari filosofi Ki.

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19. Hajar Dewantara. Menurut Hendarman, dkk., (2017: 8-9) nilai-nilai karakter tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. 1) Nasionalisme Nilai karakter nasionalisme merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, serta menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Sub nilai nasionalisme antara lain adalah apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, rela berkorban, unggul dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku, dan agama. 2) Integritas Nilai karakter integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, serta memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral. Karakter integritas meliputi sikap tanggung jawab sebagai warga negara, serta aktif terlibat dalam kehidupan sosial melalui konsistensi tindakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran..

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20. Sub nilai integritas meliputi kejujuran, cinta pada kebenaran, setia, komitmen moral, anti korupsi, keadilan, tanggung jawab, keteladanan, dan menghargai martabat individu (terutama pada penyandang distabilitas). 3) Religiositas Nilai karakter religiositas mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain, serta hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain. Nilai karakter religiositas ini meliputi tiga dimensi relasi, yaitu hubungan individu dengan Tuhan, individu dengan sesama, dan individu dengan lingkungan. Nilai karakter religiositas ini ditunjukkan dalam perilaku mencintai dan menjaga keutuhan ciptaan. Sub nilai religiositas meliputi cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan dan kerja sama antar pemeluk agama dan kepercayaan, teguh pendirian, percaya diri, anti perundungan dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak, mencintai lingkungan dan melindungi kecil dan tersisih. 4) Gotong Royong Nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan menghargai kerja sama dan bahu-membahu menyelesaikan.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21. persoalan bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan, memberikan pertolongan pada orang-orang yang membutuhkan. Sub nilai gotong royong meliputi menghargai, kerja sama, inklusif, komitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat, tolong-menolong, solidaritas, empati, anti diskriminasi, anti kekerasan, dan sikap kerelawanan. 5) Kemandirian Nilai karakter kemandirian merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain serta menggunakan segala tenaga, pikiran, dan waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi, dan citacita. Sub nilai kemandirian meliputi etos kerja, tangguh, daya juang tinggi, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat. Berdasarkan uraian di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter memiliki 3 pendekatan dalam penerapan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai yang dimaksud diambil dari filosofi Ki Hajar Dewantara yakni olah hati, olah pikir, olah raga, dan olah karsa. Filosofi tersebut terkristal menjadi nilai utama pendidikan karakter yaitu, nasionalisme, religiositas, kemandirian, gotong royong, dan integritas. Penguatan Pendidikan Karakter juga memiliki 3 pendekatan yaitu, pendekatan berbasis kelas, budaya sekolah, dan masyarakat. Penguatan pendidikan karakter berbasis kelas adalah sebuah kegiatan yang dilakukan di dalam kelas yang terjadi dalam proses.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22. pengajaran yang sudah diintegrasikan dengan kurikulum, manajemen kelas, penggunaan metode pembelajaran, mata pelajaran khusus, gerakan literasi, serta layanan bimbingan dan konseling. Pendidikan karakter berbasis budaya sekolah adalah kegiatan praktik di sekolah berupa pembiasaan nilai-nilai yang ada di sekolah, di mana semua warga sekolah juga terlibat dalam melaksanakan norma, tradisi, dan aturan yang berlaku di sekolah demi merealisasikan misi dan tujuan lembaga pendidikan. Penguatan pendidikan karakter berbasis masyarakat adalah suatu kegiatan dari program sekolah yang dilakukan bersama dengan tokoh-tokoh di masyarakat yang masih berkaitan dengan program sekolah tersebut untuk menginspirasi peserta didik agar peserta didik dapat mencontoh karakter yang ada pada tokoh-tokoh tersebut. 6. Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah a. Pengertian Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah Hendarman, dkk., (2017: 35) menjelaskan bahwa penguatan pendidikan karakter berbasis budaya sekolah berfokus pada kebiasaan dan pembentukan budaya yang mempresentasikan nilai-nilai utama penguatan pendidikan karakter yang menjadi prioritas satuan pendidikan. Koesoema (2018: 10) menjelaskan bahwa pendidikan karakter berbasis budaya sekolah adalah kegiatan berupa komunikasi interaktif antarindividu pada lembaga pendidikan dalam rangka merealisasikan misi dan tujuan lembaga pendidikan.. Kemendikbud. (2017:. 2). menjelaskan. bahwa.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23. pendidikan karakter berbasis budaya sekolah adalah kegiatan yang. dilaksanakan. melalui. pembiasaan. nilai-nilai. dalam. keseharian di sekolah, keteladanan pendidik, norma, aturan, dan tradisi di sekolah yang telah disepakati bersama. Koesoema (2018: 22) menjelaskan bahwa kultur (budaya) sekolah terbentuk dari berbagai macam peristiwa di dalam dunia pendidikan, seperti adanya berbagai macam norma, nilai, peraturan, sejarah, praksis pembiasaan sehari-hari, kehadiran sosok keteladanan, serta lingkungan yang membawa atmosfer nilai pembentukan karakter. Hendarman, dkk., (2017: 15) juga menjelaskan bahwa pada penguatan pendidikan karakter berbasis budaya sekolah ada beberapa poin yang harus diperhatikan. Poin-poin tersebut adalah sebagai berikut. 1) Menekankan pada pembiasaan nilai-nilai utama dalam keseharian sekolah 2) Menonjolkan keteladanan orang dewasa di lingkungan pendidikan 3) Melibatkan seluruh ekosistem pendidikan di sekolah 4) Mengembangkan dan memberi ruang yang luas pada segenap potensi peserta didik melalui kegiatan kokurikuler dan tata kepala sekolah 5) Mempertimbangkan norma, peraturan, dan tradisi sekolah.

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24. b. Persiapan. penerapan. Penguatan. Pendidikan. Karakter. berbasis budaya sekolah Hendarman, dkk., (2017: 35-41) memaparkan bahwa persiapan pendidikan karakter berbasis budaya sekolah dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut. 1) Menentukan nilai utama PPK Sekolah. memulai. program. penguatan. pendidikan. karakter dengan melakukan asesmen awal. Salah satu kegiatan asesmen awal sekolah adalah memilih nilai utama yang akan menjadi fokus dalam pengembangan pembentukan dan penguatan karakter di lingkungan sekolah. Nilai utama yang dipilih nantinya akan menjadi fokus dalam rangka pengembangan budaya dan integritas sekolah. Sekolah menjabarkan nilai utama ke dalam indikator dan bentuk perilaku objektif yang bisa diamati dan diverifikasi. Dari nilai utama, sekolah mampu membuat tagline yang mampu menjadi moto sekolah sehingga menunjukkan kekhasan, keunikan, dan keunggulan sekolah. Tagline atau istilah. yang. lebih. lazimnya. yaitu. branding. dapat. memudahkan orangtua atau wali murid untuk mencari sekolah yang pas untuk anaknya. Beberapa contoh branding yang. dapat. ditemukan. di. sekolah. dasar. misalnya. “Membentuk Pemimpin Berintegritas”, “Sekolah Cinta”, “Sekolah Budaya”. Sekolah yang telah mempunyai branding.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25. dapat memfokuskan kegiatan sekolah agar tertuju pada branding tersebut. Contohnya sekolah dengan branding “Membentuk Pemimpin Berintegritas” dapat menjadwalkan kegiatan kepimpinan yang didukung oleh tokoh yang bersangkutan. Guru yang ada di sekolah dapat melatih kepemimpinan peserta didik ketika peserta didik menjadi ketua kelas. Peraturan yang ada di sekolah harus dipatuhi agar nantinya peserta didik menjadi pribadi yang memiliki integritas yang tinggi, sehingga terbentuklah pemimpin yang berintegritas. 2) Menyusun jadwal harian Sekolah mampu menyusun jadwal kegiatan untuk memperkuat nilai-nilai utama yang telah dipilih sebagai upaya penguatan program pendidikan karakter yang sedang berlangsung. Ada tiga kegiatan yang dapat disusun yakni kegiatan pembiasaan, kegiatan intrakurikuler, serta kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler. Kegiatan tersebut disusun berdasarkan kondisi sekolah, norma, aturan, dan budaya setempat. Contohnya, kegiatan peserta didik di pagi hari setelah bel masuk adalah menyanyikan lagu wajib nasional, lalu dilanjutkan dengan berdoa, dan membaca buku cerita sebagai kegiatan literasi. Pada saat pulang sekolah sebelum meninggalkan kelas, peserta didik diwajibkan menyanyikan lagu daerah atau lagu nasional. Lalu pada sore harinya, ada.

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26. kegiatan pramuka atau ekstrakurikuler pilihan yang diminati oleh peserta didik dengan menyesuaikan harinya. 3) Evaluasi peraturan sekolah Koesoema (2018: 113) menjelaskan bahwa evaluasi peraturan mengacu pada kegiatan rutin dan terstruktur untuk menilai dan mengevaluasi aturan-aturan yang sudah ada agar aturan itu semakin baik, efektif, dan relevan. Hendarman, dkk., (2017: 40) mengemukakan bahwa lembaga pendidikan wajib melakukan koreksi dan evaluasi atas berbagai aturan yang dimiliki oleh lembaga pendidikan tersebut dan menyelaraskannya dengan nilai-nilai revolusi mental yang diarahkan pada penguatan pendidikan karakter. Peraturan merupakan kesepakatan bersama yang disetujui oleh masingmasing individu dalam rangka pencapaian tujuan lembaga pendidikan dan mengikat masing-masing individu secara formal. terhadap. pendidikan. komitmen,. (Koesoema,. visi,. 2018:. dan. 66).. misi. Beberapa. lembaga contoh. peraturan yang wajib dievaluasi adalah peraturan kedisiplinan tentang sakit, izin, alpa, penerapan kebijakan kriteria ketuntasan. minimal,. dan. peraturan. terkait. kegiatan. sekolah. tentang. mencontek (Hendarman, dkk., 2017: 40). Evaluasi. pemanfaatan. peraturan. kehadiran dibutuhkan agar peraturan sekolah dapat menjadi sarana efektif dalam pembentukan karakter disiplin peserta.

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27. didik (Hendarman, dkk., 2017: 40). Keteraturan dalam lembaga pendidikan bisa stabil dan berkelanjutan karena ada kebijakan berupa peraturan yang menjadi panduan bagi sekolah yang bersifat rutin (Koesoema, 2018: 135). Koesoema juga menambahkan bahwa tanpa ada peraturan yang membingkai kinerja setiap individu sesuai dengan cakupan tugas dan tanggung jawabnya, lembaga pendidikan tidak akan dapat melaksanakan visi dan misinya dengan baik. 4) Pengembangan tradisi sekolah Rutinitas di sekolah yang terjadi terus-menerus dan berulang bisa membentuk tradisi sekolah (Koesoema, 2018: 135). Koesoema juga menjelaskan bahwa keteraturan dan rutinitas adalah ciri khas sebuah lembaga pendidikan. Satuan pendidikan dapat mengembangkan PPK berbasis budaya sekolah dengan memperkuat tradisi yang sudah dimiliki oleh sekolah (Hendarman, dkk., 2017: 40). Lembaga pendidikan melaksanakan kegiatannya dengan lebih mengutamakan adanya. keteraturan,. disiplin,. dan. ketepatan. waktu. (Koesoema, 2018: 135). Koesoema juga menjelaskan bahwa seluruh program dalam lembaga pendidikan sebagian besar merupakan kegiatan yang sifatnya rutin. Bila rutinitas ini berlangsung secara terus-menerus, lembaga pendidikan akan melahirkan apa yang disebut tradisi (Koesoema, 2018: 136)..

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28. Koesoema (2018: 136) mengemukakan bahwa beberapa momen rutinitas yang bisa menjadi sarana bagi sekolah untuk menanamkan budi pekerti dan membentuk karakter peserta didik adalah sebagai berikut. (1) Melakukan upacara bendera pada setiap hari Senin (2) Membiasakan peserta didik menyanyikan lagu-lagu nasional dan daerah (3) Momen penerimaan peserta didik baru harus harmonis seiring dengan nilai-nilai moral yang ada. Nilai moral yang dimaksud adalah tidak membedakan biaya sekolah, tidak memberikan label sekolah favorit dan tidak. (4) Peserta didik merayakan hari besar keagamaan untuk saling bertoleransi satu sama lain sekaligus ikut serta dalam kegembiraan dan perayaan dengan mereka yang sedang merayakan hari besar keagamaannya. 5) Pengembangan kegiatan kokurikuler Kegiatan kokurikuler dilakukan melalui serangkaian penugasan yang sesuai dengan target pencapaian kompetensi setiap mata pelajaran yang relevan dengan kegiatan intrakurikuler. Kegiatan kokurikuler dapat dilaksanakan baik di dalam lingkungan sekolah maupun di luar sekolah, tetapi kegiatan. tersebut. tetap. sesuai. dengan. perencanaan. pembelajaran. Jadi dalam kegiatan tersebut masih terkandung nilai-nilai utama karakter..

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29. 6) Kegiatan ekstrakurikuler Penguatan nilai-nilai utama Penguatan Pendidikan Karakter sangat dimungkinkan dilaksanakan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler bertujuan untuk mengembangkan kepribadian peserta didik sesuai dengan bakat peserta didik. Kegiatan ekstrakurikuler ada dua jenis, yaitu wajib dan pilihan. Kegiatan wajib adalah pendidikan kepramukaan dan pilihan adalah ekstrakurikuler yang dikembangkan oleh sekolah. Nilai-nilai karakter harus diterapkan. dalam. kegiatan. ekstrakurikuler.. Nilai-nilai. tersebut disesuaikan dengan kegiatan yang relevan yang dilakukan. Peserta didik diharapkan lebih sadar dan paham dengan penerapan pendidikan karakter yang diselipkan pada kegiatan ekstrakurikuler. c. Aspek dalam Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah Kemendikbud (2017: 13) menjelaskan bahwa penguatan pendidikan karakter berbasis budaya sekolah memiliki empat aspek yang harus diamati. Keempat aspek tersebut adalah sebagai berikut. 1) Branding sekolah Nugroho (2016) menjelaskan bahwa branding sekolah merupakan acuan para peserta didik untuk belajar agar sesuai dengan visi dan misi sekolah. Butarbutar (2019) menjelaskan.

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30. bahwa branding sekolah adalah sebuah usaha yang dilakukan oleh sekolah untuk menjadikan sekolah tersebut dikenal, diingat, dan memiliki penilaian tersendiri di masyarakat. Zulaikha (2017) juga menjelaskan bahwa brand adalah sebuah identitas yang dibuat oleh orang-orang dalam bidang pemasaran agar memudahkan konsumen memilih produk. Dalam konteks pendidikan, masyarakat akan memilih sebuah sekolah di mana peserta didik akan diberikan pelajaran dan menyongsong masa depan. Sekolah yang bermutu dan terkenal di masyarakat, dinilai memiliki status sosial yang tinggi pada lulusan sekolah tersebut. Dari penjelasan tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa branding sekolah adalah sebuah usaha yang dilakukan oleh sekolah yang berpedoman pada visi dan misi sekolah untuk dapat diingat dan dikenal oleh masyarakat, sehingga sekolah memiliki status sosial yang tinggi di masyarakat. Contoh dari branding sekolah adalah “Membentuk Pemimpin Berintegritas”, “Sekolah Budaya”, “Sekolah Cinta”, “The Green School”. 2) Pembiasaan Koesoema (2018: 135) menjelaskan bahwa kegiatan rutinitas di sekolah yang terjadi terus-menerus dan berulang bisa membentuk tradisi sekolah. Seluruh program dalam lembaga pendidikan sebagian besar merupakan kegiatan yang.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31. sifatnya rutin. Bila rutinitas ini berlangsung secara terusmenerus, lembaga pendidikan akan melahirkan apa yang disebut tradisi (Koesoema, 2018: 136). Hendarman, dkk., (2017: 37). juga ikut menjelaskan bahwa sekolah dapat. menyusun jadwal kegiatan untuk memperkuat nilai-nilai utama yang telah dipilih sebagai upaya penguatan program pendidikan karakter secara habituasi. Ada tiga kegiatan yang dapat disusun salah satunya adalah kegiatan pembiasaan. Contohnya, kegiatan peserta didik di pagi hari setelah bel masuk adalah menyanyikan lagu wajib nasional, lalu dilanjutkan dengan berdoa, dan membaca buku cerita sebagai kegiatan literasi. Muthoharoh, dkk., (2013: 1) mengatakan bahwa pembiasaan merupakan kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang agar sesuatu tersebut dapat menjadi kebiasaan. Dari penjelasan di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa kegiatan pembiasaan adalah kegiatan rutinitas di sekolah yang terjadi terus-menerus dan berulang, untuk memperkuat nilai-nilai utama PPK agar kegiatan tersebut dapat menjadi kebiasaan. 3) Kegiatan ekstrakurikuler Hendarman, dkk., (2017: 41) menjelaskan bahwa kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan kepribadian dan bakat peserta didik,.

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32. sesuai dengan minat dan kemampuannya masing-masing. Kegiatan. ekstrakurikuler. merupakan. kegiatan. rutinitas. sekolah di luar jam pelajaran. Selain itu, kegiatan ekstrakurikuler juga merupakan ajang penggemblengan peserta didik sesuai minat dan bakat peserta didik yang bersifat sukarela dan tanpa tekanan (UPT Cilacap, 2011: 1). Takdir (2017) mengutip teori Noor menjelaskan bahwa kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. Dari penjelasan di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan kepribadian dan bakat peserta didik, sesuai dengan minat dan kemampuannya masing-masing. 4) Peraturan sekolah Koesoema (2018: 66) menjelaskan bahwa peraturan sekolah merupakan kesepakatan bersama yang disetujui oleh masing-masing individu dalam rangka pencapaian tujuan lembaga pendidikan dan mengikat masing-masing individu.

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33. secara formal terhadap komitmen, visi, dan misi lembaga pendidikan. Instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 1 Mei 1974, No. 14/U/1974 juga menjelaskan bahwa tata tertib sekolah atau peraturan sekolah ialah ketentuanketentuan yang mengatur kehidupan sekolah sehari-hari dan mengandung sanksi terhadap pelanggarannya. Sinungan (2005: 145) juga ikut menjelaskan bahwa tata tertib sekolah adalah sekumpulan aturan-aturan yang ditujukan oleh semua komponen di dalam suatu lembaga atau organisasi agar selalu tunduk dan melaksanakan apa yang telah ditetapkan. Dari penjelasan di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa peraturan sekolah adalah kesepakatan bersama yang disetujui oleh warga sekolah yang bertujuan untuk mengatur kehidupan sekolah sehari-hari dan mengandung sanksi terhadap pelanggarannya. Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa Pendidikan karakter berbasis budaya sekolah adalah kegiatan praktik di sekolah berupa pembiasaan nilai-nilai yang ada di sekolah, di mana semua warga sekolah juga terlibat dalam melaksanakan norma,. tradisi,. dan. aturan. yang berlaku. di. sekolah. demi. merealisasikan misi dan tujuan lembaga pendidikan. Langkah-langkah pelaksanaan penguatan pendidikan berbasis budaya sekolah adalah (1) menentukan nilai utama PPK,. (2) menyusun jadwal harian (3). mengevaluasi peraturan sekolah, (4) mengembangkan tradisi sekolah,.

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34. (5). mengembangkan. kegiatan. kokurikuler,. dan. (6). kegiatan. ekstrakurikuler. Aspek-aspek yang ada dalam penguatan pendidikan karakter. berbasis. budaya. sekolah. adalah. branding. sekolah,. pembiasaan, kegiatan ekstrakurikuler, dan peraturan sekolah.. B. Penelitian yang Relevan Fitriani (2014) melakukan penelitian yang berjudul Pendidikan Karakter dalam Kegiatan Ekstrakurikuler di SMA Negeri 8 Yogyakarta. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan penanaman delapan belas nilai pembentuk karakter bangsa dalam kegiatan ekstrakurikuler. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan model penelitian studi kasus. Hasil dari penelitian ini adalah penanaman 18 nilai pembentuk karakter bangsa dalam kegiatan ekstrakurikuler di SMA Negeri 8 Yogyakarta dilakukan dengan melakukan pembiasaan, nasehat, serta disisipkan dalam rangkaian kegiatan ekstrakurikuler. Faktor yang mendukung dalam penerapan nilai karakter adalah, adanya partisipasi dari guru pembina kegiatan ekstrakurikuler, alumni dan kepala sekolah dengan membuat kegiatan terkait penanaman nilai karakter serta adanya partisipasi peserta didik untuk mengikuti kegiatan tersebut. Faktor pendukung lainnya adalah adanya slogan dan visi serta misi yang mendukung penanaman nilai karakter di sekolah serta sarana prasarana yang mendukung kegiatan ekstrakurikuler. Faktor penghambat dalam penerapan nilai karakter di SMA Negeri 8 Yogyakarta adalah banyaknya kegiatan yang dilaksanakan di sekolah selain kegiatan ekstrakurikuler.

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35. yang diikuti peserta didik yang membuat peserta didik kesulitan mengatur waktu untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tepat waktu. Selain itu, masih ada peserta didik yang kurang mendengarkan nasihat guru dan kurangnya kontrol pada diri peserta didik sehingga masih ada peserta didik yang melakukan hal-hal yang kurang baik. Amazona (2016) melakukan penelitian yang berjudul Penerapan Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Islam Terpadu Hidayatullah Yogyakarta. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi nilai-nilai pendidikan karakter terpilih yakni religius, tekun, jujur, disiplin, dan tanggung jawab. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode survei. Hasil dari penelitian ini adalah pelaksanaan program sekolah berupa pembiasaan dan budaya sekolah yang berkaitan dengan nilai religius, jujur, tekun, disiplin, dan tanggung jawab. Pelaksanaan program tersebut dilakukan dengan cara (1) mewajibkan peserta didik shalat dhuha berjamaah di masjid sekolah guna melatih sikap religius peserta didik, (2) menekankan pada peserta didik untuk tidak mencontek pada saat ulangan guna melatih sikap jujur, (3) melarang peserta didik untuk meninggalkan kelas saat pelajaran berlangsung guna melatih sikap tekun peserta didik agar dapat menyimak pelajaran dengan seksama, (4) menekankan pada peserta didik untuk melaksanakan piket sesuai jadwal guna melatih sikap disiplin peserta didik, (5) mewajibkan peserta didik untuk membuang sampah pada tempatnya guna melatih sikap tanggung jawab peserta didik..

Gambar

Gambar 2.1 Filosofi Nilai Karakter Ki Hajar Dewantara  Gambar  2.1  memperlihatkan  bahwa  nilai-nilai  karakter  yang  diambil dari filosofi Ki Hajar Dewantara adalah olah hati (etika), olah
Gambar 2.2 Lima Nilai Utama Pendidikan Karakter
Gambar 2.3 Literature Map Penelitian yang Relevan
Tabel 3.1 Populasi Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dengan berkembangnya sistem pengelolaan dan pemberdayaan yayasan, sekarang Lembaga Amil Zakat sudah mencapai ditingkat Kabupaten dan Kota, seperti di Kota

Ini yang mendoromg peneliti tertarik melakukan penelitian dieL-Zawa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, dengan adanya putusan Mahkamah Konstitusi

Pusdiklat Bulutangkis di Semarang tidak hanya sebagai wadah pembinaan dan pelatihan, tetapi juga menjadi salah satu tempat seleksi atlet-atlet berbakat dari sekitar

Berdasrkan hasil penelitian mengenai frekuensi pemberian pakan fermentasi kulit ubi kayu (Manihot utilissima) menunjukkan bahwa laju pertumbuhan harian, tingkat

Berdasarkan pengamatan lebih lanjut, terdapat beberapa yang masih terbuka untuk dapat diteliti antara lain dalam sistem informasi uji kompetensi ini masih sangat

Hasil rekapitulasi diketahui persamaaan regresi linear berganda yang tertera dalam tabel diatas maka dapat dijelaskan Nilai βo artinya jika tidak ada perubahan pada variabel

Dalam melaksanakan tugas setiap pimpinan satuan organisasi wajib menerapkan prinsip koordinasi, integrasi dan sinkronisasi di lingkungan masing-masing maupun an tar

Atozz Jaya Indonesia merupakan perusahaan yang memiliki sistem penjualan electronic dan komponen electronic yang mempunyai mutu yang baik dan berkualitas untuk