• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANAN ANALISIS RASIO RENTABILITAS DALAM MENILAI TINGKAT EFISIENSI USAHA DARI PENGGUNAAN MODAL PADA KOPERASI BMT IBAADURRAHMAN KOTA SUKABUMI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERANAN ANALISIS RASIO RENTABILITAS DALAM MENILAI TINGKAT EFISIENSI USAHA DARI PENGGUNAAN MODAL PADA KOPERASI BMT IBAADURRAHMAN KOTA SUKABUMI"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PERANAN ANALISIS RASIO RENTABILITAS DALAM MENILAI

TINGKAT EFISIENSI USAHA DARI PENGGUNAAN MODAL PADA

KOPERASI BMT IBAADURRAHMAN KOTA SUKABUMI

Agus Sobar 1, Tarjono2

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi PGRI Sukabumi

[email protected]

Abstrak

Rentabilitas merupakan kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu, laba yang besar belumlah merupakan ukuran bahwa perusahaan itu telah dapat bekerja dengan efisien. Efisien baru dapat diketahui dengan membandingkan laba yang diperoleh dengan kekayaan atau modal yang menghasilkan laba tersebut.

Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui bagaimana rasio rentabilitas dan tingkat efisiensi penggunaan modal serta peranan rasio rentabilitas dalam menilai tingkat efisiensi penggunaan modal pada Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman kota Sukabumi.

Alat pengumpul data dalam penelitian ini berupa neraca dan laporan rugi laba dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2017. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif serta teknik analisis data dengan menggunakan analisis rasio keuangan yaitu rasio rentabilitas ekonomis dan rasio rentabilitas modal sendiri.

Setelah dilakukan penelitian tentang peranan rasio rentabilitas dalam menilai tingkat efisiensi penggunaan modal pada Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman kota Sukabumi, diperoleh hasil bahwa rasio rentabilitas ekonomis pada Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman kota Sukabumi mengalami fluktuatif, rasio terbesar pada tahun 2017 yaitu sebesar 1,08 % dan rasio terkecil pada tahun 2014 sebesar 0,78 %. Sedangkan untuk rasio rentabilitas modal sendirinya terus menurun dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2017. Rasio terbesar terjadi pada tahun 2013 yaitu sebesar 2,63 % dan rasio terkecil yaitu sebesar 1,84 % terjadi pada tahun 2016. Mengacu pada standar rentabilitas yang diharapkan oleh Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman kota Sukabumi, maka dari sisi rentabilitas ekonomisnya dapat diketahui bahwa penggunaan keseluruhan modal pada Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman kurang efisien. Sedangkan dari sisi rentabilitas modal sendiri, meskipun kecenderungan rasionya terus turun tetapi Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman kota Sukabumi belum efisien dalam menggunakan modal sendiri yang dimilikinya. Dengan demikian rasio rentabilitas dapat dijadikan sebagai salah satu alat bantu dalam menilai tingkat efisiensi penggunaan modal pada Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman kota Sukabumi, dengan adanya perhitungan rasio tersebut maka dapat diketahui efisien atau tidaknya Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman kota Sukabumi dalam menggunakan keseluruhan modal yang dimilikinya

(2)

Abstract

Rentability is the ability of a company to generate profits during a certain period, a large profit is not a measure that the company can work efficiently. New efficient can be known by comparing the profit obtained with wealth or capital that produces the profit.

This study aims to determine how the profitability ratio and the level of efficiency of capital use and the role of profitability ratios in assessing the level of efficiency of capital use in the BMT Cooperative ‘Ibaadurrahman Sukabumi city.

Data collection tools in this study are in the form of balance sheets and income statement from 2013 to 2017. This research uses quantitative descriptive research methods and data analysis techniques using financial ratio analysis, namely economic profitability ratios and profitability ratios of own capital.

After conducting research on the role of profitability ratios in assessing the level of capital use efficiency in the BMT 'Ibaadurrahman Cooperative in Sukabumi city, the results showed that the economic profitability ratio of BMT' Ibaadurrahman Cooperative in Sukabumi City experienced fluctuations, the largest ratio in 2017 was 1.08% and the ratio the smallest in 2014 was 0.78%. While for the capital profitability ratio itself continues to decline from 2013 to 2017. The largest ratio occurred in 2013 which was 2.63% and the smallest ratio of 1.84% occurred in 2016. Referring to the standard of profitability expected by the Cooperative BMT 'Ibaadurrahman in the city of Sukabumi, so in terms of economic profitability, it can be seen that the overall use of capital in the BMT Cooperative Ibaadurrahman is less efficient. While in terms of own capital profitability, although the tendency of the ratio continues to fall but the BMT Cooperative ‘Ibaadurrahman Sukabumi city has not been efficient in using its own capital. Thus the profitability ratio can be used as a tool in assessing the level of efficiency of capital use in the BMT Cooperative ‘Ibaadurrahman in the city of Sukabumi, with the calculation of these ratios, it can be seen whether BMT Cooperative‘ Ibaadurrahman Sukabumi city is efficient in using all of its capital.

Keywords: Capital Resources, Profitability, Business Efficiency

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Koperasi merupakan salah satu bentuk organisasi ekonomi yang senantiasag mendapat perhatian dari pemerintah. Koperasi merupakan suatu badan usaha yang beranggotakan orang perorangan atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Koperasi mempunyai tujuan yang berorientasi pada

kebutuhan serta kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Sebagai badan usaha, koperasi memerlukan sejumlah modal untuk menunjang perkembangan usahanya. Oleh karena itu setiap anggota diwajibkan menyetor simpanan pokok dan simpanan wajib sebagai modal awal pendirian koperasi serta setiap tahun harus menyisihkan sebagian SHUnya untuk membentuk cadangan. Untuk memperkuat struktur permodalan, koperasi dapat memupuk modal melalui modal penyertaan

(3)

baik dari pemerintah, anggota masyarakat maupun badan usaha lainnya. Koperasi pun dapat menyerap modal pinjaman berupa dana program dari pemerintah atau dari bank-bank yang menyalurkan pinjaman. modal koperasi sangat penting, karena tanpa modal, koperasi tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Dengan adanya modal yang cukup, maka koperasi akan mampu untuk bersaing dengan usaha-usaha lain di luar koperasi.

Untuk mencapai tujuan yang diinginkan yaitu kesejahteraan anggota maka pengelolaan koperasi harus sangat diperhatikan terutama bagaimana agar modal yang diamanahkan oleh anggota maupun modal yang bersumber dari luar anggota dapat digunakan dengan efisien sehingga menghasilkan SHU yang besar. Akan tetapi SHU yang besar belumlah menunjukkan koperasi tersebut telah bekerja dengan efisien. Efisien baru dapat diketahui dengan membandingkan laba yang diperoleh itu dengan kekayaan atau modal yang menghasilkan laba tersebut atau dengan kata lain adalah dengan menghitung rentabilitasnya. Karena modal yang besar belum tentu akan menghasilkan SHU yang besar pula kalau modal tersebut tidak dikelola dengan sebaik-baiknya.

Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah Baitul Maal Wattamwil (KSPPS BMT) ‘Ibaadurrahman Kota Sukabumi merupakan salah satu

koperasi yang bergerak di sektor usaha simpan pinjam dimana modal sendiri yang dimilikinya, modal penyertaan dan modal pinjamannya terus meningkat dari tahun ke tahun, akan tetapi sejauh mana koperasi tersebut dapat mengefisienkan modalnya sehingga tingkat rentabilitasnya pun meningkat perlu adanya suatu penganalisaan yang lebih khusus.

Dari fenomena sebagaimana diungkapkan diatas, maka penelitian yang dilakukan dibatasi dengan judul “peranan analisys Rasio Rentabilitas dalam Menilai Tingkat Efisiensi Penggunaan Modal Pada Koperasi Baitul Maal Wattamwil ‘Ibaadurrahman Kota Sukabumi”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas maka identifikasi masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana Rasio Rentabilitas pada Koperasi Baitul Maal Wattamwil ‘Ibaadurrahman Kota Sukabumi. 2. Bagaimana Tingkat Efisiensi

Penggunaan Modal Pada Koperasi

Baitul Maal Wattamwil

’Ibaadurrahman Kota Sukabumi. 3. Bagaimana Peranan Rasio Rentabilitas

dalam Menilai Tingkat Efisiensi Penggunaan Modal pada Koperasi Baitul Maal Wattamwil ‘Ibaadurrahman Kota Sukabumi.

(4)

C. Maksud dan Tujuan Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data dan informasi yang diperlukan untuk kelancaran dari penelitian termaksud yang lebih jauhnya bisa bermanfaat untuk objek yang diteliti.

Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui Analisa Rasio Rentabilitas pada Koperasi Baitul Maal Wattamwil ‘Ibaadurrahman Kota Sukabumi.

2. Untuk mengetahui Tingkat Efisiensi Penggunaan Modal pada Koperasi Baitul Maal Wattamwil ‘Ibaadurahman Kota Sukabumi.

3. Untuk mengetahui Peranan Analisa Rasio Rentabilitas dalam Menilai Tingkat Efisiensi Penggunaan Modal pada Koperasi Baitul Maal Wattamwil ‘Ibaadurrahman Kota Sukabumi.

II. KAJIAN PUSTAKA

A. Manajemen Keuangan

Salah satu fungsi yang penting bagi keberhasilan usaha suatu perusahaan dalam mencapai tujuannya adalah kondisi manajemen keuangan perusahaan itu sendiri. Kondisi yang demikian memberikan konsekuensi perusahaan harus memberi perhatian khusus terhadap masalah ini. Pendapat para ahli mengemukakan pengertian dari manajemen keuangan.

Bambang riyanto (2001;4) “Manajemen keuangan sebagai keseluruhan aktivitas perusahaan yang bersangkutan dengan usaha mendapatkan dana yang diperlukan dengan biaya yang minimal dan syarat-syarat yang paling menguntungkan beserta usaha untuk menggunakan dana tersebut seefisien mungkin”.

Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston (1998 ; 4) “Manajemen keuangan dapat diterangkan berdasarkan fungsi dan tanggungjawab dari manajer keuangan. Fungsi utama manajer keuangan adalah ; merencanakan, mencarai, dan memanfaatkan dana dengan berbagai cara untuk memaksimal efisiensi/daya guna dari operasi-opearasi peusahaan”.

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, maka dapat dikatakan manajemen keuangan merupakan aktivitas-aktivitas yang menyangkut ; perencanaan, pencarian, dan pemanfaatan dana perusahaan secara optimal melalui operasi perusahaan yang terukur demi tercapaiya tujuan perusahaan, yaitu meningkatkan nilai perusahaan. Dalam menjalankan operasional perusahaan manajemen harus memperhatikan tingkat kesehatan dan kinerja keuangan, hal ini ditujukan untuk menjaga kontinuitas usaha dalam jangka panjang, sehingga perlu untuk diperhatikan secara seksama, terutama hasil dari analisys rasio keuangannya.

(5)

B. Analisis Rasio Keuangan

Analisis Rasio Keuangan merupakan salah satu alat analisis keuangan yang paling populer dan banyak digunakan. Rasio finansial atau Rasio Keuangan merupakan alat analisis keuangan perusahaan untuk menilai kinerja suatu perusahaan berdasarkan perbandingan data keuangan yang terdapat pada pos laporan keuangan (neraca, laporan laba/rugi, laporan aliran kas). Rasio menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan (mathematical relationship) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain.

Analisis rasio dapat digunakan untuk membimbing investor dan kreditor dalam membuat keputusan atau pertimbangan tentang pencapaian perusahaan dan prospek dimasa datang. Analisis rasio merupakan salah satu cara pemprosesan dan penginterpretasian informasi akuntansi, yang dinyatakan dalam artian relatif maupun absolut untuk menjelaskan hubungan tertentu antara angka yang satu dengan angka yang lain dari suatu laporan keuangan.

Analisis rasio keuangan menggunakan data laporan keuangan yang telah ada sebagai dasar penilaiannya. Meskipun didasarkan pada data dan kondisi masa lalu, analisis rasio keuangan dimaksudkan untuk menilai resiko dan peluang di masa yang akan datang. Pengukuran dan hubungan satu pos dengan

pos lain dalam laporan keuangan yang tampak dalam rasio-rasio keuangan dapat memberikan kesimpulan yang berarti dalam penentuan tingkat kesehatan keuangan suatu perusahaan. Tetapi bila hanya memperhatikan satu alat rasio saja tidaklah cukup, sehingga harus dilakukan pula analisis persaingan-persaingan yang sedang dihadapi oleh manajemen perusahaan dalam industri yang lebih luas, dan dikombinasikan dengan analisis kualitatif atas bisnis dan industri manufaktur, analisis kualitatif, serta penelitian-penelitian industri.

C. Analisys Rasio Rentabilitas

Dari laporan keuangan yang telah disusun oleh perusahaan maka pihak manajemen perusahaan akan dapat melakukan rencana-rencana untuk menentukan tujuan perusahaan. Salah satu rencana perusahaan adalah melakukan analisis rentabilitas yang berkaitan dengan peningkatan efisiensi kerja perusahaan.

Menurut pendapat Mamduh M hanafi dan Abdul Halim (2008 : 83) ”rasio rentabilitas atau profitabilitas adalah rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan pada tingkat penjualan, asset dan modal saham tertentu”. Menurut keduanya ada tiga rasio yang sering digunakan dalam menghitung rentabilitas atau profitabilitas yaitu profit margin,

(6)

return on total asset (ROA) dan return on equity (ROE).

Profit margin menghitung sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan tertentu. Rasio ini bisa diinterpretasikan juga sebagai kemampuan perusahaan menekan biaya-biaya pada periode tertentu. Return On Total Assets (ROA) mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat asset tertentu dengan kata lain mengukur kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan aktivanya untuk memperoleh laba. Return On Equity (ROE) mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan modal tertentu.

Sedangkan menurut James C. Van Horne dan John M. Wachowicz dalam bukunya Fundamentals of Financial Management (Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan) (2005 : 222) ”rasio rentabilitas atau rasio profitabilitas adalah merupakan rasio yang menghubungkan laba dari penjualan dan investasi”.

Perbandingan antara laba dengan penjualan dikenal dengan profit on sales, sedangkan perbandingan antara laba dengan aktiva dikenal dengan return on assets.

Bambang Riyanto (2001 : 35) mengemukakan bahwa Rentabilitas suatu perusahaan menunjukkan perbandingan

antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut. Rentabilitas suatu perusahaan diukur dengan kemampuan perusahaan menggunakan aktivanya secara produktif dan mengefisienkan penggunaan modal yang dimilikinya. Rentabilitas merupakan kriteria penilaian yang secara luas digunakan dan dianggap paling valid untuk dipakai sebagai alat pengukur dalam menilai kinerja keuangan suatu perusahaan. Cara untuk menilai rentabilitas suatu perusahaan adalah bermacam-macam dan tergantung pada laba dan aktiva atau modal mana yang akan diperbandingkan satu dengan yang lainnya. Sehubungan dengan adanya dua sumber modal perusahaan yaitu yang berasal dari pemilik perusahaan (modal sendiri) dan dari para kreditur (modal asing), maka rentabilitas suatu perusahaan dapat dihitung dengan dua cara, yaitu :

1. Rentabilitas Ekonomis (Earning Power)

Rentabilitas ekonomis adalah perbandingan antara laba usaha dengan modal sendiri dan modal asing yang dipergunakan untuk menghasilkan laba tersebut yang dinyatakan dalam persentase. Rentabilitas ekonomis menujukan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan seluruh modal yang bekerja didalamnya. Modal yang dipergunakan dalam menghitung rentabilitas ekonomis

(7)

hanyalah modal yang bekerja dalam perusahaan demikian pula laba yang diperhitungkan hanya laba yang berasal dari operasi perusahaan (operating profit). Oleh karena itu, laba yang diperoleh diluar perusahaan atau dari efek tidak diperhitungkan dalam menghitung rentabilitas ekonomis.

2. Rentabiltas Modal Sendiri

Yang dimaksud dengan rentabilitas modal sendiri adalah perbandingan antara jumlah laba dengan modal sendiri di pihak lain, atau dengan kata lain bahwa rentabilitas modal sendiri adalah kemampuan suatu perusahaan dengan modal sendiri yang bekerja di dalamnya untuk menghasilkan keuntungan. Namun dalam perhitungan laba disini ada perbedaan dengan rentabilitas ekonomis, laba yang diperhitungkan dalam rentabilitas ekonomis adalah laba yang berasal dari operasi perusahaan, sedangkan laba yang diperhitungkan dalam rentabilitas modal sendiri adalah laba usaha setelah dikurangi dengan bunga modal asing atau pinjaman dan pajak perseroan. Dengan demikian maka jelaslah perbedaan antara rentabilitas ekonomis dengan rentabilitas modal sendiri baik dari segi modal yang diperhitungkan ataupun dari laba yang dipergunakan untuk menentukan tingkat rentabilitas bagi suatu perusahaan.

Dari uraian diatas dapat penulis simpulkan bahwa rentabilitas merupakan

kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dengan seluruh modal yang dipergunakan dalam satu periode tertentu. Rentabilitas suatu perusahaan merupakan pencerminan kemampuan modal perusahaan yang bersangkutan untuk mendapatkan keuntungan. Oleh karena rentabilitas merupakan pencermian efisiensi suatu perusahaan di dalam menggunakan modal kerjanya, maka cara menggunakan tingkat rentabilitas untuk ukuran efisiensi suatu perusahaan merupakan cara yang baik.

Dengan demikian jelaslah bahwa rentabilitas merupakan suatu hal yang sangat penting bagi suatu perusahaan, sebagai suatu usaha efisiensi dimana setiap perusahaan dalam operasinya selalu berusaha meningkatkan labanya agar rasio rentabilitasnya sesuai dengan standar.

D. Efisiensi

Efisiensi merupakan salah satu tujuan yang dicapai dalam pengelolaan operasional usaha perusahaan sebagai upaya untuk menciptakan peningkatan nilai perusahaan. Ada beberapa pengertian Efisiensi, diantaranya :

1. Being effective without wasting time or effort or expense (menjadi efektif tanpa membuang uang atau usaha atau waktu). Dengan kata lain tepat atau sesuai untuk menghasilkan

(8)

sesuatu dengan tidak membuang-buang waktu, tenaga dan biaya. 2. Working productively with minimum

wasted effort or expenses (bekerja secara produktif dengan pengeluaran usaha dan biaya yang kecil).

Efisiensi merupakan suatu ukuran keberhasilan yang dinilai dari segi besarnya sumber/biaya untuk mencapai hasil dari kegiatan yang dijalankan. Menurut Mulyanah (1987 : 3) efisiensi merupakan suatu ukuran dalam membandingkan rencana penggunaan masukkan dengan penggunaan yang direalisasikan atau penggunaan yang sebenarnya, Sedangkan menurut SP. Hasibuan (1984 : 4) yang mengutip pernyataan H. Emerson “Efisiensi adalah perbandingan yang terbaik antara input (masukan) dan output (hasil antara keuntungan dengan sumber-sumber yang dipergunakan) seperti halnya juga hasil optimal yang dicapai dengan penggunaan sumber yang terbatas”. Dari definisi-definisi diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa efisiensi adalah perbandingan terbaik antara suatu kegiatan dengan hasilnya.

E. Pengertian Modal

Pengertian Modal sampai saat ini masih beragam dikalangan para ahli ekonomi, dan kadang-kadang bertentangan satu dengan yang lainnya

Pada permulaannya, orientasi dari pengertian modal adalah “ physical-oriented”. Dalam hal ini dapat dikemukakan misalnya pengertian modal yang klasik yaitu bahwa modal adalah hasil produksi yang digunakan untuk memproduksi lebih lanjut. Dalam perkembangannya pengertiam modal mulai bersifat “non-physical oriented”, dimana pengertian modal ditekankan pada nilai, daya beli atau kekuasaan memakai atau menggunakan yang terkandung dalam barang-barang modal, meskipun dalam hal ini sebenarnya juga belum ada persesuaian pendapat dari para ahli ekonomi sendiri.

Bambang Riyanto (2001 : 2) mengemukakan pendapat beberapa penulis mengenai pengertian Modal :

1. Lutge mengartikan modal hanyalah dalam artian uang (geldkapital). 2. Scwiedland memberikan pengertian

modal dalam artian yang lebih luas, dimana modal itu meliputi baik modal dalam bentuk uang (geldkapital), maupun dalam bentuk barang (sachkapital).

3. Polak mengartikan modal ialah kekuasaan untuk menggunakan barang-barang modal. Modal terdapat di neraca sebelah kredit. Sedangkan barang-barang modal ialah barang – barang yang ada dalam perusahaan yang belum digunakan, terdapat di neraca sebelah debit.

(9)

S. Munawir (2007 : 19) mengemukakan bahwa : “Modal adalah merupakan hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik perusahaan yang ditunjukan dalam pos modal (modal saham), surplus dan laba yang ditahan, Atau kelebihan nilai aktiva yang dimiliki perusahaan terhadap seluruh hutang-hutangnya”.

Menurut Bambang Riyanto (2001 : 19), apabila kita melihat neraca akan tampak 2 gambaran modal yaitu bahwa neraca menunjukan modal menurut bentuknya (sebelah debit) disebut “modal aktif atau modal kongkret” dan modal menurut sumber atau asalnya (disebelah kredit) disebut “modal pasif atau modal abstrak”.

Modal aktif dibedakan menjadi modal kerja dan modal tetap. Sedangkan modal pasif dibedakan menjadi modal sendiri dan modal asing.

Modal sendiri atau sering disebut modal badan usaha adalah modal yang berasal dari pemilik perusahaan yang tertanam di dalam perusahaan untuk waktu yang tidak tertentu lamanya serta yang berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Modal inilah yang menjadi tanggungan terhadap keseluruhan resiko perusahaan dan secara yuridis modal inilah yang merupakan jaminan bagi para kreditur. Modal Asing atau sering juga disebut modal kreditur adalah modal yang berasal dari luar perusahaan yang sifatnya

sementara bekerja di dalam perusahaan dan merupakan utang bagi perusahaan yang bersangkutan yang pada saatnya harus dikembalikan.

Sumber Permodalan Koperasi

Koperasi sebagai bentuk badan usaha tentunya dalam melakukan kegiatan usahanya tidak terlepas dari masalah permodalan. Pada umumnya modal koperasi berasal dari iuran para anggotanya. Namun dalam perkembangannnya modal koperasi bisa juga berasal dari pinjaman, baik dari anggota sendiri maupun diluar anggota seperti perbankan. Bahkan sekarang koperasi dimungkinkan untuk menerbitkan sertifikat Obligasi atau Surat Utang Koperasi (SUK).

Menurut UU No 25 Tahun 1992 tentang perkoperasian pasal 41 bahwa modal koperasi terdiri dari modal sendiri dan modal pinjaman. Modal sendiri dapat berasal dari simpanan pokok, simpanan wajib, dana cadangan dan hibah dari anggota maupun dari masyarakat. Sedangkan modal pinjaman dapat berasal dari anggota koperasi, koperasi lainnya, bank dan lembaga keuangan lannya, penerbitan obligasi dan surat hutang lainnya, serta sumber lain yang sah.

Modal Sendiri

Modal sendiri pada koperasi terdiri dari :

(10)

1. Simpanan Pokok

Simpanan pokok adalah sejumlah uang yang wajib dibayarkan oleh anggota kepada koperasi pada saat masuk menjadi anggota. Simpanan pokok tidak dapat diambil kembali selama yang bersangkutan masih menjadi anggota koperasi. Simpanan pokok jumlahnya sama untuk setiap anggota.

2. Simpanan Wajib

Simpanan wajib adalah jumlah simpanan tertentu yang harus dibayarkan oleh anggota kepada koperasi dalam waktu dan kesempatan tertentu, misalnya tiap bulan dengan jumlah simpanan yang sama untuk setiap bulannya. Simpanan wajib tidak dapat diambil kembali selama yang bersangkutan masih menjadi anggota koperasi. 3. Modal Penyertaan

Modal penyertaan adalah sejumlah uang atau barang modal yang dapat dinilai dengan uang yang ditanamkan oleh pemodal untuk menambah dan memperkuat struktur permodalan koperasi dalam meningkatkan usahanya.

4. Dana Cadangan

Dana cadangan adalah sejumlah uang yang diperoleh dari penyisihan Sisa Hasil Usaha, yang dimaksudkan untuk pemupukan modal sendiri,

pembagian kepada anggota yang keluar dari keanggotaan koperasi, dan untuk menutup kerugian koperasi bila diperlukan.

5. Hibah

Hibah adalah sejumlah uang atau barang modal yang dapat dinilai dengan uang yang diterima dari pihak lain yang bersifat hibah/pemberian dan tidak mengikat.

Modal Pinjaman

Adapun modal pinjaman koperasi berasal dari pihak-pihak sebagai berikut :

1. Anggota dan calon anggota

2. Koperasi lainnya dan/atau anggotanya yang didasari dengan perjanjian kerjasama antar koperasi 3. Bank dan Lembaga keuangan bukan

bank serta lembaga keuangan lainnya yang dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan perudang-undangan yang berlaku.

4. Penerbitan obligasi dan surat utang lainnya yang dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

5. Sumber lain yang sah

Sumber lain yang sah adalah pinjaman dari bukan anggota yang dilakukan tidak melalui penawaran secara hukum. Contohnya pemberian saham kepada koperasi oleh perusahaan berbadan hukum PT.

(11)

III. UJI ANALISA DATA A. Kerangka Penelitian

Dalam mengadakan interpretasi dan analisis laporan keuangan suatu perusahaan memerlukan adanya ukuran tertentu. Ukuran yang sering digunakan dalam analisis laporan keuangan adalah “rasio”. Rasio merupakan alat yang dinyatakan dalam “arithmatical term” yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara berbagai pos dalam suatu laporan keuangan.

Analisis rasio yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba dengan keseluruhan modal yang dimilikinya adalah analisis rasio rentabilitas. Dengan mengetahui rasio rentabilitas, maka akan diperoleh suatu gambaran tingkat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan keseluruhan modal yang dimilikinya, sehingga diketahui efisien atau tidak perusahaan tersebut dalam menggunakan sumber modalnya.

B. Metode Penelitian

Metode penelitian adalah cara yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya. Metode penelitian yang dilaksanakan secara yang sistematis dan terorganisir. Dalam melakukan penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif yaitu metode penelitian yang menuturkan atau

menafsirkan data yang ada dengan tujuan membuat gambaran secara sistematis, faktual mengenai fakta-fakta dan hubungan

antara fenomena yang diselidiki. Dimana penulis mengumpulkan data secara

menyeluruh dari Koperasi BMT Ibaadurrahman yang selanjutnya diteliti sesuai dengan identifikasi masalah yang akan dipecahkan dan dianalisis dengan menggunakan analisis rasio keuangan.

C. Variabel Penelitian dan

Operasionalisasi Variabel

Variabel Penelitian merupakan suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek, atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya.

Pada penelitian ini, terdapat dua variabel yaitu :

1. Variabel X merupakan variabel independen atau variabel bebas yang merupakan varibel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya varibel terikat. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah rasio rentabilitas.

2. Variabel Y adalah variabel dependen atau variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini

(12)

yang menjadi variabel terikat adalah tingkat efisiensi penggunaan modal. Operasionalisasi variabel pada penelitian Karya Tulis Ilmiah ini dapat

diuraikan seperti pada Tabel 1 di bawah ini :

Tabel 1

Operasionalisasi Variabel

Variabel Definisi Dimensi Indikator Skala

Rasio Rentabilitas

Rasio Rentabilitas adalah rasio yang menunjukan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut (Bambang Riyanto, Dasar-dasar pembelanjaan perusahaan (2001 : 35) 1.Rentabilitas Ekonomis (Earning Power) 2. Rentabilitas Modal Sendiri Laba Usaha Modal Asing Modal Sendiri Laba Bersih Modal Sendiri Rasio Efisiensi Penggunaan Modal

Efisiensi adalah perbandingan yang terbaik antara input (masukan) dan output (hasil antara keuntungan dengan sumber-sumber yang dipergunakan) seperti halnya juga hasil optimal yang dicapai dengan penggunaan sumber yang terbatas”. SP.Hasibuan (1984: 4)

Modal

merupakan hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik perusahaan yang ditunjukan dalam pos modal (modal saham), surplus dan laba yang ditahan. Atau kelebihan nilai aktiva yang dimiliki perusahaan terhadap seluruh hutang-hutangnya, menurut S. Munawir (2007:19) Standar rentabilitas yang diharapkan oleh KBMT Modal Asing Modal Sendiri RE = 1.2 % RMS = 2.5 % 1.Simpanan 2.Hutang Dagang 3.Hutang Leasing 4.Pyd Dari Bank 1.Simpanan Pokok 2.Simpanan Wajib 3.Modal penyertaan 4. Hibah 5.Cadangan 6. SHU Rasio

D. Teknik Analisis Data

Setelah data terkumpul, selanjutnya penulis melakukan pengolahan dan menganalisis data sekunder untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas guna memecahkan masalah-masalah yang diteliti.

Penulis menganalisis data sekunder berupa neraca dan laporan rugi laba dari tahun 2013 sampai dengan 2017 dengan menggunakan analisis rasio keuangan yaitu analisis rasio rentabilitas. Adapun rasio rentabilitas yang digunakan adalah rasio rentabilitas ekonomis dan rasio rentabilitas

(13)

modal sendiri dengan rumus-rumus sebagai berikut :

1. Rasio Rentabilitas Ekonomis Rentabilitas Ekonomis =

Laba Usaha

Modal Asing+Modal Sendiri x 100 % 2. Rasio Rentabilitas Modal Sendiri Rentabilitas Modal Sendiri = Laba Bersih

Modal Sendiri x 100 %

Untuk mengetahui peranan analisys rasio rentabilitas dalam menilai tingkat efisiensi penggunann modal digunakan metoda yang sederhana, yaitu dengan mempergunakan fungsi matematika. Adapun analisys fungsi matematika yang dipergunakan adalah sebagai berikut ;

Y = f X Dimana :

Y = Efisiensi penggunaan mopdal X = Analisiy rasio rentabilitas Dengan hasil analisis data memiliki pengertian sebagai berikut :

1. Jika X naik = Y naik 2. Jika X tetap = Y tetap 3. Jika X turun = Y turun

Hasil dari analisis data ; 1. X bereperan terhadap Y

a. Berperan searah b. Berperan tidak searah 2. X tidak berperan terhadap y

IV. PEMBAHASAN MASALAH

A. Rasio Rentabilitas pada Koperasi

BMT ‘Ibaadurrahman Kota

Sukabumi

Rasio Rentabilitas merupakan rasio yang menunjukan perbandingan antara laba dengan aktiva usaha ataupun dengan modal sendiri yang dimiliki oleh suatu perusahaaan sehingga diperoleh gambaran mengenai kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba serta efisien atau tidaknya perusahaan tersebut dalam menggunakan keseluruhan modal yang dimilikinya.

Data yang dibutuhkan dalam menghitung rasio rentabilitas adalah jumlah modal asing, modal sendiri, perolehan laba usaha dan laba bersih. Sebagai bahan untuk dianalisa, di bawah ini disajikan jumlah modal serta perolehan laba yang terdapat pada Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman kota Sukabumi.

Sumber Permodalan

Modal merupakan salah satu faktor terpenting untuk menunjang keberlangsungan operasional suatu koperasi. Modal pada Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman bersumber dari modal pinjaman dan modal sendiri.

1. Modal Pinjaman pada Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman terdiri dari :

a. Simpanan Wadiah dan Mudharabah

(14)

c. Hutang Leasing

d. Pembiayaan dari bank maupun dari pemerintah

2. Modal Sendiri yang dimiliki oleh Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman terdiri dari:

a. Simpanan Pokok dan Simpanan Wajib Anggota

b. Simpanan Wajib Khusus c. Modal Penyertaan

d. Hibah e. Cadangan f. SHU

Untuk mendapatkan gambaran secara rinci mengenai jumlah modal Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman, di bawah ini diuraikan keseluruhan modal selama lima tahun dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2017, sebagaimana pada tabel 4.1 berikut ini: Tabel 2 Modal Pinjaman Uraian Jumlah 2013 2014 2015 2016 2017 Simpanan Wadiah Dan Mudharabah 7.500.659.513 8.710.318.404 2.759.714.021 10.482.879.665 11.998.372.749 Kewajiban segera 286.056.018 317.337.763 205.575.410 468.121.555 380.709.398 Hutang kepada Pihak ke-3 - - - - Hutang Lainnya - - 40.000.000 40.000.000 40.000.000 Pembiayaan yang diterima 11.682.795.987 12.675.114.188 16.733.951.575 9.030.005.008 4.471.345.012 Jumlah 19.469.475.518 21.702.770.355 19.739.241.006 20.021.006.228 16.890.427.159 Sumber : KBMT Ibaadurrahman

Dari data tersebut di atas, modal pinjaman pada Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman dari tahun 2013 sampai dengan 2017 meningkat dari tahun ke tahun, ini menunjukan perkembangan yang

sangat besar dan adanya kepercayaan dari pihak luar terhadap Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman.

Modal Sendiri Koperasi BMT

(15)

Tabel 3 Modal Sendiri Uraian Jumlah 2013 2014 2015 2016 2017 Simpanan Pokok 64.820.000 81.980.000 263.219.410 425.850.832 568.500.000 Simpanan Wajib 99.700.000 115.400.000 118.168.709 166.680.000 196.940.000 Simpanan Wajib Khusus 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 300.033.431 Modal Penyertaan 7.059.127.591 7.362.282.036 12.285.639.975 13,523.727.591 14.702.470.974 Reevaluasi Asset - - 1.082.368.450 1.082.368.450 1.082.368.450 Cadangan 129.035.309 147.191.345 85.691.659 169.259.279 192.655.209 SHU 206.906.388 212.339.994 305.509.918 289.189.030 337.912.028 Jumlah 7.874.589.288 8.256.639.157 14.154.906.462 15.757.075.182 17.380.880.091 Sumber : K BMT Ibaadurrahman

Dari data tersebut diatas, modal sendiri yang dimiliki oleh Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman juga menunjukan peningkatan dari tahun ketahun, kenaikan yang signifikan terjadi antara tahun 2013 yaitu dari sebesar Rp 7.874.589.288,- menjadi Rp 17.380.880.091,- di tahun 2017

yang disebabkan adanya penambahan dari modal penyertaan.

Berdasarkan data di atas, jumlah keseluruhan modal yang terdapat pada Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman Sukabumi dapat disajikan dalam tabel pada halaman berikut ini:

Tabel 4

Rekapitulasi Keseluruhan Modal

Sumber : KBMT Ibaadurrahman

Dari rekapitulasi data pada tabel di atas diperoleh gambaran bahwa jumlah keseluruhan modal baik modal pinjaman maupun modal sendiri yang terdapat pada

Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman kota Sukabumi dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2016, tetapi dari tahun 2016 ke tahun 2017 mengalami penurunan. Uraian 2013 2014 2015 2016 2017 Modal Pinjaman 19.469.475.518 21.702.770.355 19.739.241.006 20.021.006.228 16.890.427.159 Modal Sendiri 7.874.589.288 8.256.639.157 14.154.906.462 15.757.075.182 17.380.880.091 Jumlah 27.344.064.809 29.959.409.512 33.894.147.468 35.778.081.410 34.271.307.250

(16)

Perolehan Sisa Hasil Usaha

Sisa Hasil Usaha (SHU) merupakan Laba bagi koperasi. SHU Koperasi merupakan pendapatan koperasi yang diperoleh dalam satu tahun buku dikurangi biaya, penyusutan dan kewajiban lainnya

termasuk pajak dalam tahun buku yang bersangkutan.

Perolehan laba Koperasi BMT ’Ibaadurrahman selama lima tahun yaitu tahun 2013 sampai dengan tahun 2017, dapat dilihat pada tabel 5 berikut ini :

Tabel 5

Perolehan Sisa Hasil Usaha

Uraian Jumlah 2013 2014 2015 2016 2017 Pendapatan 4.153.110.659 5.947.093.906 6.580.001.290 6.883.917.292 6.810.972.285 Biaya 3.946.204.271 5.734.753.912 6.274.491.372 6.594.728.262 6.473.060.257 SHU 206.906.388 212.339.994 305.509.918 289.189.030 337.912.028 Sumber : KBMT Ibaadurrahman

Dari data yang terdapat pada tabel di atas, SHU yang diperoleh dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2017 meningkat dari tahun ke tahun, akan tetapi kenaikannya tidak cukup signifikan dikarenakan

kenaikan pendapatan diikuti pula dengan kenaikan biaya yang dikeluarkan.

Adapun perolehan laba usaha dan laba bersih pada Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman kota Sukabumi tersaji pada tabel 6 dibawah ini :

Tabel 6

Perolehan Laba Usaha dan Laba Bersih

Uraian Jumlah 2013 2014 2015 2016 2017 Laba Usaha 227.597.027 233.573.993 336.060.904 318.107.933 371.730.231 Laba Bersih 206.906.388 212.339.994 305.509.913 289.189.030 337.912.028 Sumber : KBMT Ibaadurrahman

Laba usaha merupakan pendapatan koperasi yang diperoleh dalam satu tahun buku dikurangi biaya, penyusutan dan kewajiban lainnya sedangkan laba bersih merupakan pendapatan koperasi yang

diperoleh dalam satu tahun buku dikurangi biaya, penyusutan dan kewajiban lainnya termasuk pajak.

(17)

Berdasarkan data tersebut di atas, SHU paling besar diperoleh pada tahun 2017 yaitu sebesar Rp 337.912.028,-.

Berdasarkan data tersebut di atas, selanjutnya penulis akan menghitung rasio rentabilitas ekonomis (Earning Power) dan rentabilitas modal sendiri pada Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman kota Sukabumi.

Rasio Rentabilitas Ekonomis (Earning Power)

Rasio rentabilitas ekonomis adalah rasio perbandingan antara laba usaha dengan modal sendiri dan modal asing yang dipergunakan untuk menghasilkan laba tersebut yang dinyatakan dalam persentase.

Dari hasil perhitungan, rekapitulasi rasio rentabilitas ekonomis pada Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman kota Sukabumi dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2017 dapat dilihat pada tabel 7 di bawah ini :

Tabel 7

Rasio Rentabilitas Ekonomis

Uraian

Tahun

2013 2014 2015 2016 2017 Rasio Rentabilitas Ekonomis 0,83% 0,78% 0,99% 0,89% 1,08%

Rasio Rentabilitas Modal Sendiri

Rasio rentabilitas modal sendiri adalah rasio perbandingan antara jumlah laba bersih dengan modal sendiri yang dinyatakan dalam persentase atau dengan kata lain kemampuan suatu perusahaan dengan modal sendiri yang bekerja di dalamnya untuk menghasilkan keuntungan.

Dari hasil perhitungan, rekapitulasi rasio rentabilitas modal sendiri pada Koperasi BMT Ibaadurrahman kota Sukabumi dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2017 dapat dilihat pada tabel 8 berikut ini :

Tabel 8

Rasio Rentabilitas Modal Sendiri Uraian

Tahun

2013 2014 2015 2016 2017 Rasio Rentabilitas Modal Sendiri 2,63 % 2,57 % 2,16% 1,84% 1,94%

(18)

Selanjutnya, rekapitulasi hasil perhitungan rasio rentabilitas ekonomis dan rentabilitas modal sendiri pada Koperasi

BMT ‘Ibaadurrahman kota Sukabumi dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 9

Rekapitulasi Hasil Perhitungan Rasio Rentabilitas

TAHUN

Rentabilitas Ekonomis Rentabilitas Modal Sendiri

Rasio (%) Naik/(Turun) Rasio (%) Naik/(Turun)

2013 0,83 % - 2,63% -

2014 0,78 % (0,05 %) 2,57% (0,06 %)

2015 0,99 % 0,22 % 2,16% (0,41 %)

2016 0,89 % (0,10 %) 1,84% (0,32 %)

2017 1,08 % 0,19 % 1,94% 0,10 %

B. Tingkat Efisiensi Penggunaan Modal pada Koperasi BMT Ibaadurrahman Kota Sukabumi

Rentabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba dengan keseluruhan modal yang dimilikinya, baik modal dari luar maupun modal yang bersumber dari pemilik atau intern perusahaan. Suatu perusahaan dikatakan rentabel apabila perusahaan tersebut dapat mengoptimalkan modal yang ada sehingga menghasilkan laba yang besar. Rentabilitas berkaitan erat dengan efisiensi dalam penggunaan modal, efisiensi merupakan perbandingan yang terbaik antara input (masukan) dan output (hasil antara keuntungan dengan sumber-sumber yang dipergunakan) seperti halnya juga hasil optimal yang dicapai dengan penggunaan sumber yang terbatas.

Laba yang besar belum tentu rentabilitasnya tinggi bila dibandingkan

dengan modal yang dimilikinya. Hal ini bisa diketahui dengan mengacu pada standar rentabilitas yang telah ditetapkan oleh masing-masing perusahaan, untuk Koperasi sampai saat ini belum ada standar yang ditetapkan secara nasional, akan tetapi untuk Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman kota Sukabumi memiliki standar rentabilitas yang diharapkan yaitu untuk rasio rentabilitas ekonomis sebesar 1.2 % sedangkan untuk rasio rentabilitas modal sendiri sebesar 2.5 %. Standar ini bisa berubah sesuai dengan relevansi dan perkembangannya.

Berdasarkan pedoman rentabilitas yang diharapkan oleh Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman kota Sukabumi, dan juga dari hasil perhitungan rasio rentabilitas dapat diketahui tingkat efisiensi penggunaan modal pada koperasi BMT Ibaadurrahman sebagai berikut :

(19)

Tabel 10

Tingkat Efisiensi Penggunaan Modal

Tahun Rentabilitas Ekonomis Rentabilitas Modal Sendiri

Standar Hasil Keterangan Standar Hasil Keterangan

2013 1,2 % 0,83 % < Efisien 2,5 % 2,63 % Efisien 2014 0,78 % < Efisien 2,57 % Efisien 2015 0,99 % < Efisien 2,16 % < Efisien 2016 0,89 % < Efisien 1,84 % < Efisien 2017 1,08 % < Efisien 1,94% < Efisien

Berdasarkan Tabel di atas, tingkat efisiensi penggunaan modal pada Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman Kota Sukabumi menujukan angka kurang efisien.

C. Peranan Rasio Rentabilitas dalam Menilai Tingkat Efisiensi Penggunaan Modal pada Koperasi BMT Ibaadurrahman Sukabumi

Dari uraian-uraian hasil perhitungan rasio rentabilitas di atas, maka dapat didiketahui bahwa rasio rentabilitas pada Koperasi BMT ‘Ibaadurrahman kota Sukabumi cenderung fluktuatif dan secara umum mengalami penurunan. Tingkat efisiensi usahapun fluktuatif dan cenderung secara umum mengalami penurunan. Hal ini memberikan pengertian bahwa analisys t rasio rentabilitas berperan terhadap tingkat efisiensi usaha.

Dari hasil analisys memberikan masukan kepada manajemen agar melakukan langkah-langkah yang tepat yang sebaiknya ditempuh dalam mengoptimalkan keseluruhan modalnya untuk menghasilkan rentabilitas yang sesuai dengan standar yang diharapkan. Rasio yang rendah menunjukan kemungkinan adanya over investmen dalam aktiva yang digunakan untuk operasi, rendahnya volume pembiayaan dibandingkan dengan biaya operasional yang diperlukan, rendahnya tingkat perputaran aktiva yang digunakan, adanya pembiayaan yang bermasalah atau adanya kegiatan ekonomi yang menurun.

(20)

DAFTAR PUSTAKA

Danfar,2009. Definisi Efisiensi, Blog pada Wordpress.com

Hanafi M Mamduh, Abdul Halim, 2007. Analisis Laporan Keuangan, Edisi 3,UPP STIM YKPN, Yogyakarta. Koperasi BMT Ibaadurrahman, 2017. Company Profil, Sukabumi.

Laporan RAT, 2013, 2014, 2015, 2016, 2017

Mardiasmo, 2001. Akuntansi Keuangan Dasar, Edisi 3, BPFE Yogyakarta.

Munawir S, 2007. Analisa Laporan Keuangan, Edisi 4, Liberty, Yogyakarta. Prastowo Dwi, Rifka Julianty, 2008.

Analisis Laporan Keuangan, Edisi 2, UPP STIM YKPN, Yogyakarta. Riyanto Bambang, 2001. Dasar Dasar

Pembelanjaan Perusahaan, Edisi 4, BPFE Yogyakarta.

Subandi, 2008. Ekonomi Koperasi Teori dan Praktek, Cetakan Perdana, Alfabeta, Bandung.

Sugiono, 2008. Metode Penelitian bisnis, Alfabeta, Bandung

Sularso, 2009. Modal Koperasi, http: // www. smecda. Com/

deputi7/file_infokop/

Edisi%2002/modal_kop.htm

Tim Redaksi FOKUSMEDIA, 2008. Undang Undang Perkoperasian Dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, FOKUSMEDIA, Bandung.

Van Horne, John M Wachowicz, 2005. Fundamentals Of Financial Management ( Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan), Edisi 12, Salemba Empat, Jakarta.

Widyawulandari, 2009. Pengertian modal dalam koperasi,

http://community.gunadarma.ac.id/bl og/ view/ id_2305/ title_pengertian modal dalam koperasi/

http://community.gunadarma.ac.id/blog/ view/ id_2305/ title_pengertian

Gambar

Tabel 3  Modal Sendiri  Uraian  Jumlah  2013  2014  2015  2016  2017  Simpanan  Pokok  64.820.000  81.980.000  263.219.410  425.850.832  568.500.000  Simpanan  Wajib  99.700.000  115.400.000  118.168.709  166.680.000   196.940.000  Simpanan  Wajib Khusus

Referensi

Dokumen terkait

bahwa dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, kemandirian daerah, dan memperhatikan pertumbuhan ekonomi masyarakat yang cukup baik serta masih terdapat

Beberapa perusahaan penyelenggara radio trunking tersebut merupakan perusahaan baru yang belum atau masih sedikit pelanggan ( subscriber ) dimana operator radio trunking

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat,perlindungan, dan penyertaanNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan program kerja magang dan

Sedangkan ikterus patologis mempunyai beberapa petunjuk, yaitu ikterus yang terjadi sebelum umur 24 jam, setiap peningkatan kadar bilirubin serum

Agus Salim Razak, S.H.. Nurhayati

Perangkat pendingin termoakustik merupakan sistem sederhana yang komponen utamanya adalah tabung resonator dan stack dimana gelombang bunyi yang beresonansi

Program kegiatan yang diberikan berupa Program Ipteks Bagi Masyarakat IbM Penataan Perkarangan Perkotaan Berbasis Tanaman Obat dan Sayuran Sebagai Upaya Peningkatan

Harap tawarkan kepada kami sesuai spesifikasi di bawah ini serta syarat di halaman sebalik./ We are pleased to invite you to quote as specification spesified below and terms on