1
MOTIF SISWA MELANGGAR TATA TERTIB SEKOLAH
TENTANG ATURAN PAKAIAN DAN PENAMPILAN
DI SMA N 1 PASAMAN
ARTIKEL
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Strata 1
(
S1
)
ELPENDI
NPM.10070078
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(SKTIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
2015
2
HALAMAN PENGESAHAN ARTIKEL
Motif Siswa Melanggar Tata Tertib Sekolah Tentang Aturan Pakaian dan Penampilan
Di SMA N 1 Pasaman
Nama
: Elpendi
NPM
: 10070078
Program Studi
: Pendidikan Sosiologi
Jurusan
: Pendidikan Ilmu Sosial
Institusi
: Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan
(STKIP) PGRI Sumatera Barat
Jurnal ini telah disetujui oleh dosen pembimbing skripsi untuk diserahkan ke Program
Studi Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat.
Padang, 02 September 2015
Disetujui Oleh:
Pembimbing I
Pembimbing II
1
Motif School Students Breaking Rules About Rules of Dress and Appearance In SMAN 1 Pasaman, Thesis, Sociology of Education Studies Program, College of Teacher Training and Education (STKIP)
PGRI West Sumatra, Padang, 2015. 1
Program Studi Pendidikan Sosiologi (STKIP) PGRI Sumatera Barat
This research is the fact the field that the student dressed and groomed to school is not in accordance with the rules of conduct that exist in SMA N 1 Pasaman. The formulation of the problems is whether the motives of students violating discipline rules of dress and appearance in SMAN 1 Pasaman.
The theory is other motive and motive Because by Alfred Schutz, with a qualitative approach with descriptive type. Informants in this study were students who ever violated the rules of conduct of clothing and appearance and principals, school discipline team of teachers, teacher Counselling, as well as subject teachers are aware of this violation, and friends students never violeted in Selection using purposive sampling. Data collection methods with non-participant observation, in-depth interviews and document study. Analysis of the data with Miles and Huberman.
Results into two parts: 1. In other to motives: 1) the tendency imitate performed by the students: a) want to look attractive and feel comfortable, b) follow the development of the fashion/trend; 2) the clothes that make the confidence of students. 2. Because motives: 1) clearances social control in schools, 2) in the ridicule of friends, 3) the influence of friends sekolah.4) feel unattractive and uncomfortable, 5) was not abreast of fashion/trend.
Key Word : Motive, Violate, Fashion Appearance
1.
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat Angkatan 2010
2.
Pembimbing I dan Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat
3.
Pembimbing II dan Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat
2
PENDAHULUAN
Undang-undang No. 20 Tahun 2003tentang Sistem Pendidikan Nasional, mendefenisikan pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat dan bangsa (Mulyati dan Komariah 2011: 88).Sekolahmerupakan tempat sosialisasi ketiga yang didahului oleh sosialisasi didalam keluarga, kemudian teman sepermainan (Sunarto, 2004:24).
Sekolah memiliki peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat.Sekolah dapat membantu seorang anak untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.Sekolah berfungsi sebagai sosialisasi membantu anak-anak dalam mempelajari cara-cara hidup ditempat mereka lahir, sekolah berfungsi untuk mentransmisi dan mentransformasi kebudayaan(Sadulloh, 2011: 199). Seiring perkembangan zaman dan juga pengaruh media massa, lembaga pendidikan atau yang kerap disebut sekolah mulai dipengaruhi oleh perkembangan kebudayaan, misalnya kebudayaan dalam penampilan dan berpakaian di sekolah dan menyebabkan pelanggaran.
Meskipun sekolah sudah mengatur cara berpakaian dan berpenampilan di sekolah dalam bentuk tata tertib, tetapi masih saja ada siswa melakukan pelanggaran terhadap aturan tata tertib berpakain dan berpenampilan disekolah. Sekolah terus melakukan antisipasi dengan melakukan raziabaik secara dadakan maupun terang-terangan yang dimulai ketika siswa memasuki gerbang sekolah setiap hari, setelah upacara bendera setiap senin, saat jam pelajaran.
Meskipun dilakukan razia terhadap pelanggaran tata tertib sekolah, masih ada juga siswa yang tidak jera, dan masih juga melakukan pelanggaran yang sama. Dari pada itu dengan keadaan sekolah sebagai panutan bagi sekolah lain di Pasaman Barat yang juga bisa disebut dengan sekolah favorit di Pasaman Barat, dimana banyak orang yang ingin belajar di SMA N 1 Pasaman dengan alasan untuk kemudahan masuk perguruan tinggi karena sudah banyak siswanya yang lulus di perguruan tinggi negeri dan swasta. Berdasarkan pelanggaran tata tertib sekolah yang dilakukan oleh siswa dalam berpenampilan dengan mengikuti gaya berpakaian dan gaya berpenampilan menarik peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul “Motif Siswa MelanggarTata Tertib Sekolah Tentang Aturan Pakaian dan Penampilan Di SMA N 1 Pasaman”.
Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan motif siswa melanggar aturan tata tertib berpakaian dan penampilan di SMA N 1 Pasaman.
Teori yang dipakai dalam penelitian ini adalah in other motive dan because motive oleh Alfred Schutz. In other motiveyaitu motif yang merujuk kepada tujuan dari tindakan dan Because motive yaitu tindakan yang merujuk kepada pengalaman masa lalu (Craib, 1994:134).
BAHAN dan METODE
Pendekatan yang digunakan dalm penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengantipe deskriptif. Informan dalam penelitian ini siswa yang siswa yang pernah melanggar aturan tata tertib pakaian dan penampilan di SMA N 1 Pasaman dengan intensitas keseringan melanggar menimal 2 kali tiap semesternya, Kepala Sekolah, guru tim disiplin sekolah, guru BK, dan juga guru mata pelajaran yang mengetahui pelanggaran ini di SMA N 1 Pasaman, teman yang tidak melanggar tata tertib pakaian dan penampilan. Penentuan informan dilakukan dengan purposive sampling.Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi non partisipan, wawancara mendalam, dan studi dokumen.Unit analisis yang digunakan yaitu individu. Analisis data yang digunakan yaitu analisis data interaktif model Miles dan Huberman.
PEMBAHASAN
1. Motif Siswa Melanggar Tata Tertib Sekolah Tentang Aturan Pakaian dan Penampilan di SMA N 1 Pasaman
a. In Other Motive
1) Kecenderungan Meniru Yang Dilakukan Oleh Siswa.
Kebanyakan dari sifat anak adalah mengidentifikasi perilaku orang-orang yang ada dilingkungan sosialnya (bab& Kolip, 2011:222).Setiap perilaku orang yang ada dilikungan akan ditirukan, dan kebetulan perilaku yang ditirukan itu menyimpang sehingga perilaku anak tersebut ikut menyimpang hingga melanggar aturan yang ada dilingkungannya.Mereka yang menirukan itu tidak tahu perilaku yang tirukan menyimpang dan juga membuat percaya diri sehingga mereka terus menggunakannya secara berkelanjutan sampai tersimpan dalam otaknya
.
Begitu juga dengan berpakaian dan berpenampilan, kebanyakan dari gaya berpakain berasal dari proses peniruan yang tujuan berpakaian
3
dan berpenampilan untuk dapat menambah rasa percaya diri.Berdasarkan hal itu ada beberapa motif siswa melakukan pelanggaran tata tertib berpakaian dan berpenampilan yaitu:
a) Ingin Terlihat Menarik dan Merasa Nyaman
Pada dasarnya pakaian dan penampilan yang digunakan oleh seseorang sebenarnya memiliki suatu tujuan misalnya saja keinginan terlihat menarik dan terasa nyaman saat menggunakannya. Keinginan seseorang terlihat menarik dan terasa nyaman saat menggunakan suatu pakaian dan penampilan inilah yang memotivasi seseorang untuk melakukan berbagai hal untuk mencapainya termasuk itu melakukan pelanggaran yang pada awalnya dimulai dari proses peniruan.Siswa sebagai seorang remaja yang dalam masa perkembangan yang selalu melakukan sosialisasi dengan hal-hal yang ada dilingkunganya yang kemudian ditirukan/diimitasikan kedalam dirinya, yang mana kebetulan ditirukan hal yang salah.
Keinginan tampil menarik dan nyaman dalam berpakaian dan berpenampilan yang ditambah dengan peniruan hal yang salah membuat siswa menjadi pelanggar aturan tata tertib pakaian dan penampilan disekolah
.
b) Mengikuti perkembangan Trend/Mode
Trend/mode merupakan bentuk nomina yang bermakna ragam cara atau bentuk terbaru pada suatu waktu tertentu (http://id.wikipedia.org/wiki/mode/diakses 7 juni 2014). Trend/mode pakaian dan penampilan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak terdiam dikehidupan sehari-hari saja, trend/mode pakaian dan penampilan juga membawa pengaruh ke lingkungan sekolahsehingga menyebabkan pelanggaran tata tertib sekolah seperti.
Menurut Poespo (2001: 155) kebanyakan orang dalam berpakaian mengutamakan penampilan yang menambah keindahan serta kelihatan lebih menarik atau sesuai dengan mode pada saat itu.Jadi dapat disimpulkan bahwa motif (In Other Motive) pelanggaran tata tertib berapakaian dan berpenampilan yang dilakukan siswa bertujuan untuk terlihat Trend atau Modis dilingkungan sekolah agar tidak kelihatan tidak ketinggalan zaman.
2. Pakaian Yang Membuat Percaya Diri Siswa
Menurut Yusuf Luxory (2014: 4) percaya diri merupakan percampuran antara perasaan dan pikiran yang melahirkan perasaan rela terhadap diri sendiri. Jika dicocokkan dengan pelanggaran tata tertib tentang pakaian dan penampilan di sekolah yang dilakukan oleh siswa tentunya memiliki arti yang berkesinambungan, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Poespo (2001: 26) tentang pemahaman pakaian atau busana dimana pakaian yang membuat percaya diri dengan apa yang dipakai.
Percaya diri merupakan inti dari segala tindakan seseorang, hal itu dikarenakan percaya diri merupakan faktor yang mendorong orang untuk berprilaku dan bertidak dalam kehidupan sehari-hari, yang dalam hal ini termasuk pelanggaran.Menurut siswa pakaian dan penampilan yang membuat percaya diri itu berupa pakaian dan penampilan sesuai trend/mode sekarang seperti rambut yang panjang, celana yang pensil, baju yang ketat, rok yang ketat, yang pada dasarnya hal itu melanggar aturan sekolah.
b. BecauseMotive
1. Kelonggaran Kontrol Sosial Yang Ada di Sekolah
Setiap pelanggaran tentunya perlu ditindak dan diberi sanksi secara tegas tanpa ada melewatkan satu orang pun untuk memberikan efek jera kepada para pelanggar dan memberikan pengetahuan kepada yang lain tentang efek dari melakukan pelanggaran sehingga tercapai suatu keadaan tanpa ada yang melakukan pelanggaran lagi.Sikap yang subjektif terhadap pelanggaran sering kali membuat kontrol sosial melemah sehingga pelanggaran akan selalu ada terjadi.
Suatu sekolah memiliki norma yang teratur dan juga memiliki sanksi yang cukup kuat dan sah untuk mengontrol setiap perilaku yang melanggar aturan seperti aturan tata tertib. Peraturan dan sanksi yang ada disekolah sudah disepakati dalam pembuatannya sehingga sanksi yang diberikan sudah dapat dipahami. Kemudian dari pada itu pemberian sanksi kepada siswa yang melanggar juga merupakan suatu pendidikan agar siswa lebih memiliki perilaku yang lebih baik disamping juga memberikan pendidikan pengetahuan.
Sering kali kontrol sosial tidak dapat dilaksanakan secara penuh dan konsekuen.Hal ini bukan karena kondisi objektif yang tidak memungkinkan, melainkan karena sikap toleran agen-agen kontrol sosial terhadap pelanggaran
4
yang ada. Mengambil sikap toleran, pelaksana kontrol sosial sering kali membiarkan begitu saja sementara pelanggaran norma lepas dari sanksi yang seharusnya dijatuhkan (Setiadi & Kolip, 2011:261).Dari semua pelanggaran tata tertib berpakaian dan penampilan yang dilakukan oleh siswa hal diatas lah yang membuat pelanggaran tetap ada dimana siswa hanya memberikan beberapa alasan yang membuat para agen kontrol sosial percaya sehingga dapat lepas dari sanksi yang ada.
Manusia memang tidak bebas dari hati nurani dan rasa toleransi sehingga setiap pelanggaran dapat diringankan dari sanksi yang seharusnya mereka terima oleh para pelanggaran tersebut.Perilaku toleransi inilah yang membuat pelanggaran tetap ada sehingga para pelanggar yang baru terus bermunculan dengan tidak aka ada teratasi.Seharusnya agen-agen kontrol sosial lebih berlaku keras demi tercapainya keadaan tanpa yang ada lagi melanggar aturan.
2. Diejek Teman
Menurut Adilla (dalam Utami 2013:3) ejekan merupakan tindakan mengintimidasi atau mengganggu, melecehkan, mengancam, mempermalukan orang lain yang lemah, baik secara individu maupun secara berkelompok yang biasa disebut dengan bullying. Ejekkan inilah yang mendorong terjadinya pelanggaran tata tertib pakaian dan penampilan di sekolah dimana siswa yang tidak mau diejek, direndahkan dan dipermalukan merubah pikiran mereka untuk ikut berpakaian dan berpenampilan yang melanggar tata tertib.
Suatu keadaan para remaja tidak akan pernah mau untuk diejek maupun diketawakan, mereka lebih suka untuk dipuji. Keingin untuk dipuji terutama dikalangan remaja merupakan hal yang wajar (Setiadi dan Kolip 2011:223).Tetapi jika yang diinginkan untuk dipuji itu tidak ditemukan, yang didapatkan berbalik kepada ejekkan maka remaja mencari langkah lain sebagai bentuk pelampiasan dan nantinya akan bisa berdampak pada pelanggaran terhadap nilai atau norma.
3. Pengaruh Teman Sekolah
Pada usia sekolah seorang anak akan banyak menghabiskan waktu kesesehariannya di lingkungan pendidikan atau sekolah.Selama berada dilingkungan pendidikan, anak akan terus berinteraksi dan akan terus bersosialisasi dengan yang ada disekolah misalnya sajadengan teman sekolah. Pada waktu seorang anak berinteraksi dan bersosialisasi dengan teman satu sekolah tentunya
berbagai nilai atau norma serta perilaku akan diserap yang kemudian diidentifikasi kedalam diri sendiri.
Sesuai dengan sosialisasi sebagai suatu proses belajar individu dilingkungannya khususnya teman satu sekolah, berbagai nilai dan perilaku diserap yang kemudian diidentifikasi kedalam diri sendiri, jika yang dipelajari itu bersifat baik maka akan baik yang ditampilkan oleh individu, tetapi jika yang di pelajari bersifat buruk maka akan buruk ditampilkan oleh individu.
Setiadi dan Kolip (2011: 223) mengatakan penyimpangan dapat terjadi karena proses belajar yang menyimpang dimana anak-anak mengidentifikasi (meniru) perilaku dilingkungannya yang menyimpang, terutama dari kelompok seusia dan sepermainan mereka. hal ini yang membuat siswa melanggar karena rata-rata teman-teman mereka berpenampilan yang ketat, celana yang pensil dan rambut yang panjang dengan berbagai bentuk sehingga mendorong mereka untuk ikut melanggar agar tidak diketawai sama teman-teman yang telah dulu melangggar. Sering kali lingkungan yang tidak sehat, seperti lingkungan yang dengan banyak anggota yang menyimpang akan sangat berpengaruh pada perilaku yang lain. Kebanyakan dari sifat manusia yang mengidentifikasi perilaku orang lain yang ada didalam lingkungan sosialnya.
4. Merasa Tidak Menarik dan Tidak Nyaman Merasa menarik dan nyaman dalam berpakaian dan berpenampilan merupakan dabaan semua orang.Maka dari itu demi tampil menarik dan nyaman dalam berpakaian dan berpenampilan orang mampu menghabiskan waktu berjam-jam dalam memperhatikan penampilannya.Tampil menarik dan nyaman menggunakan suatu pakaian dan penampilan dapat membawa pengaruh kepada lingkungannya sekitar dan diri seseorang misalnya saja dia lebih dihargai oleh orang-orang, percaya diri lebih meningkat dan juga dalam berkegiatan seseorang dapat bersemangat dalam menjalaninya.
Berkenaan dengan hal diatas, demi mencapai penampilan yang menarik dan nyaman dalam berpakaian para siswa berusaha melakukan berbagai hal hingga melanggar aturan tata tertib berpakaian dan berpenampilan disekolah.
Menurut siswa pakaian yang distandarkan oleh sekolah membuat diri mereka tambah jelek, culun, terasa tidak menarik didepan lawan jenisnya, dan ketika belajar mereka merasa tidak nyaman sama sekali sehingga mereka tidak kosentrasi dalam belajar.
5
5. Merasa Tidak Mengikuti PerkembanganTrend/Mode
Setiap orang dalam berpakaian dan berpenampilan akan selalu mengikuti trend/mode yang ada pada saat itu. Trend/mode berpakaian dan berpenampilan ini dapat membuat seseorang bertambah percaya diri saat menggunakannya.Trend/mode akan selalu berubah-ubah dan akan membuat trend/modeyang lama akan ditinggalkan dan dianggap kuno. Trend/mode dapat merambah kemana saja termasuk itu sekolah, para siswa yang terkena dampak perkembangan trend/mode mulai menampilkan bentuk pakaian dan penampilan yang sesuai trend/mode yang ada pada saat itu dan membuat mereka menjadi pelanggar.
Menurut pendapat siswa bahwa pakaian dan penampilan yang distandarkan oleh sekolah tidak mengikuti trend/mode masa sekarang sehingga siswa tidak mau menggunakannya yang merupakan motif (because motive) siswa melakukan pelanggaran tata tertib pakaian dan penampilan di sekolah.Jika dinilai dari sisi positif pengaruh trend/mode sangat besar pengaruhnya seperti sesorang dapat lebih pecaya diri, seseorang dapat terjauhi oleh sikap intimidasi dari orang lain, juga lebih nyaman dan semangat dalam berkegiatan, dan lain-lain.
KESIMPULAN
Berdasarkan realita dilapangan yang terjadi bahwa motif siswa melanggar tata tertib sekolah tentang aturan pakaian dan penampilan dipandang dalam dua segi yaitu:
a. in other motivemerupakan tujuan yang digambarkan sebagai maksud, makna, harapan, minat, yang diinginkan dan karena itu berorientasi ke masa depan. Motif siswa melanggar tata tertib pakaian dan penampilan di sekolah dipandang secara in other motive yaitu:
1. Kecenderungan meniru yang dilakukan oleh siswa, Kebanyakan dari sifat anak adalah menirukan perilaku orang-orang yang ada dilingkungan sosialnya yang kemudian dipratekkan kedalam dirinya sendiri, termasuk yang ditirukan itu cara berpakaian dan berpenampilan. Kecenderungan meniru mengenai pakaian dan penampilan dilakukan oleh siswa ini terbagi kedalam beberapa bagian yaitu:
a) Ingin terlihat menarik dan merasanyaman; keinginan mereka tampil menarik dan merasa nyaman tercapai ketika mengunakan pakaian dan penampilan
yang dinyatakan melanggar tata tertib dan pakaian tersebut juga membuat diri mereka tambah percaya diri
b) Mengikuti perkembangan trend; menurut siswa pakaian dan penampilan yang melanggar aturan tata tertib tersebut mereka gunakan sebagai bentuk mengikuti trend/mode sekarang.
2. pakaian yang membuat percaya diri siswa, siswa merasa lebih percaya diri dengan apa yang mereka pakai dan mereka sukai meskipun itu melanggar tata tertib.
b. Because Motive,merujuk kepada pengalaman masa lalu aktor dan tertanam dalam pengetahuan yang terendapkan, dan arena itu berorientasi masa lalu. Motif siswa melanggar tata tertib tentang pakaian dan penampilan disekolah secara because motive yaitu:
1) kelonggaran kontrol sosial yang ada disekolah; faktor subjektif yang dimiliki agen-agen kontrol sosial yang dapat mentolerir pelanggaran dan terjadi pelepasan terhadap pelanggar yang kemudian tidak ada pemeriksaan kembali terhadap pelanggar sehingga pelanggaran terus terjadi.
2) diejek teman; ejekkan dapat pendorong terjadinya pelanggaran tata tertib lantaran siswa tidak ingin dilecehkan, dihina ataupun dipermalukan dan juga direndahkan didepan teman-teman yang lain.
3) pengaruh teman sekolah; pelanggaran dapat terjadi karena pengaruh teman sekitar, hal itu terjadi karena teman sekitar dipenuhi dengan oleh orang yang melanggar dan ditambah lagi adanya pengejekkan terhadap teman yang tidak melanggar.
4) merasatidakmenarik dan tidak nyaman; menurut siswa pakaian dan penampilan yang distandarkan oleh sekolah membuat mereka tidak menarik dan terasa tidak nyaman, pakaian tersebut membuat merasa jelek, diejek teman-temannya, mereka tidak nyaman ketika belajar.
5) merasa tidak mengikuti perkembangan trend/mode; pakaian dan penampilan yang distandarkan sekolah menurut siswa ketigalan zaman, dan tidak mengikuti trend/mode masa sekarang.
DAFTAR PUSTAKA
Craib, Ian.1994.Teori–Teori SosialModernDari ParsonsSampaiHabermas.Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Luxory,Yusuf.2014.PercayaDiri.Jakarta: Khalifah.
6
Mulyati,YatiSitidanKomariah, Aan(TimDosenAdministrasiPendidikanUniversitas PendidikanIndonesia).2011.Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfbeta.
Poespo, Goet. 2001.FashionCoordinatePadu Padan Busana. Yogjakarta:Kanisius.
Sadulloh,Uyoh,dkk.2011.Pedagogig(Ilmu Mendidik). Bandung:Alfabeta.Jakarta:PT RajaGrafindo Persada. Setiadi,Elly M,danKolip,Usman.2011.PengantarSosiol ogi.Jakarta:Kencana PrenadaMediaGroup. Sunarto,Kamanto. 2004. PengantarSosiolog. Edisi Revisi.Jakarta:LembagaPenerbit FE UI.
Utami, YanaChoria. 2013.Cyberbullyingdi Kalangan Remaja (Study Tentang KorbanCyberbullyingDi Kalangan RemajaDiSurabaya).JurnalUniversitas Airlangga.JurusanProgramStudi Sosiologi.
http://www.journal.unair.ac.id/filerPDF/k mnts73d7a00d3dfull.pdf
Wikipedia.2014. Mode.http://id.wikipedia.org/ wiki/mode/ Diakses 7 Juni 2014