• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perawatan Interseptif Orthodontik pada Dysplasia Vertikal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Perawatan Interseptif Orthodontik pada Dysplasia Vertikal"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

J^G tjt 2t)00 7 (Edisis Kh6ut 565-591 Dreftitkan dt Jakano

Jurlrl Kedoktern cigi UDiversit s lDdobesia

tssN 085.1-364X

PERAWATAN INTERSEPTIF ORTHODONTIK

PADA DYSPLASIA

VERTIIC{L

Haru S. Anggani

Bagian

Orthodonti

Fakultas

Kedokteran

Cigi l-rniversitas

lndonesia

I

Hrru S. Anggrni. Perawatan InterseprifOrthodontik Pada Dysplasia Venikal. Jurnal Kedokteran cigi '- nilersitas Indonesia.

2000: 7 (Edisi Khusut: 585 591

Abstrak

Perawatan interseptif onhodonti bagi kasus displasia sagitai atau displasia transversat sudah dianggap =bagai suatu pendekatan perawatan ortbodonii. Dan dengan semakin luasnya waw?san para ahli displasia .:nikal yang seringkali rnenyertai displasia sagilal atau displasia transv€rsal. mendapat perhatisn semakin :ciar. Anak-anak dengan displasia vedikal te$agi dalam dua kategori. Yang petama adalah anal dengan :rrtumbuhan vertikal b€rlebihan. Dan yang kedua adalah anak dengan defisiensi pertumbuhan venital.

-:3mMran klinis anak-anak dengan p€rtumbuhan vcflikal berlebihan unLlnnya memperlihatkan tinggi muka .::rerior yang panjang terutama pada sepertiga anteior br"ah. Seringkalijuga disermi dengan gigitan rerbuka -rerior. Penatalaksanaan perawatan kasus-kasus displasia vertikal harus nempertimbangkan umur :,rriologis, sifht dari k€lainarmya, dental atau skeletal. arah rotasi rnandibula, dan displasia lain yang

(2)

Pendahuluan

Sekalipun perawatan ortodontik pad rna.a asal periode geligi her.unpur ma.rh rn.nrrnbulkan nro JJn Lontra di kalangdn prJ dhh. ad.rlah hrjar"ena unrul memilah pera\latan kasus-kasus maloklusi secara i dl' iJurl PenunJaan pcrasdlan onodonn padr ka.us kasu. malollusi \dng lidat nrcncakup keldinan slelelal. ma.ih dimungkinkan.

Namun kasus-kasus yang mencakup lcl,rnrn .kelctal umurrrn) d memerlulln ferr$irrdn on^donrik rang lebih .lini IIal

.r, rnengingat hdh\a putcn.i pertumbuhan .an-e rna.ih linggr raJr usid dini dapal rrrcn.eg;h kondrsi )dng Irbih narah Kapan polensi pe$umbuhan seorang ana\ kita kalakan masih linggi? Umumnya adalah pada periode geligi bercampur.r Pera*atan .rrnr pada la-ll.Ielainan rLeletal .atsital dan .rlau rrnns\ervl -udah .ecara llla\ daFal .rrterirn, .ebagai suatu pcnd(kalan pcra\\atan. Dan kini dengan benambah l L - . n \ " \ d \ d . J n p d r " d h l i . m d l J p c r h d r i d n akan adan)a displasia \ertikal menyenar Ji.pla.ir .agital dan alau lrans\er\al. semakin besar. Sehingga sebagai resikonya. detcksi atau diagnosa dini akan adanya displasia vertikal menjadi penting. karena hai ini akan sangat menenlukan {encana pera\\,atan selanjutnyn. Iulisan ini akan nrelr1bahas mengenai bagaimana kila dapal Drendct€ksi adanla displasia vertikal dan bagaimana penanganannya di usia dini.

f injauan Pustaka

Di'plasia sagrtal dan $an'\ ersal sudah lama meniadi perhatian para ahh. Dan kini dcngan semakin luasnya wawasan para ahli. displasia vertikal yang seringkalj rrcn\cndi displa"ia sagitdl alau lrdn5\ersal. mendapat perhatian semakin besar. Pam Jhli bcrang€af'an bah$" di'pla.ra renikal Incrrfalnn rnasdlah unil rang tidal' mudah di diagnosa maupun dirawat secara efektif.

Adrpun pold perkembangan ar,rh renildl ini berkembang sebelum gigi molar pertama crupsi dan bahkan jauh sebelum pcrturnhuhan Ji Inasd renraia rnen.rpai nunraknla Anak-anak )rng Incngdl,rmr Ina:dlrh displasia \enik.rl .cLard gJris besar di bagi dalan dua katcgori. Yang nendma adalah dnal'-anal' rang rnengalarni nerrumbuhan linpgi mukr antefior berlebihan. disebut juga dengan "Zorg Fa,e Slndrone . Yang keJua adalah anal-anal, )ang mengaldrni delisien\i tenurn-buhan tinggi muka atau disebut juga

''Short Face Syndrone .\

^nal-anaf dcngar) Io p fa.e .\rn-.l,"dme umurnnya nemiliki tinggi muka anterior atas dan maksila normal. Nanun ting.gr mula arlerior ba\dh. pdnirng. Karena berbagai sebab lang bcrlainan gar)rbaran kIni. anak-lnal tcrscbut ladarglala .lisenai gigitan terhula di anteior dan hampir selalu dapat dipastikan. gigi-gigi posterior atas Ilr(ngalarni \unrJ erup\r. Paniffrrgnlx linPPi muka anterior banah- kemrngkinan dischahlrn oleh pcninglatan prmtmhulra ruldng al!e,'ldr. ckslrusi giti geligi. tr,lak adanla pcrtumhuhan ramu. mandibuld .rlau lurangnla perturnbuhan \ enilil \enJi rahang. Namun itu faktor keturunan dan Iingkungan inungkin jugx n)empun)ai pcmnan terhadaf lcrjJdin.r di.plasia ter-t i k a l in i . r r

Berlainan dengan hal fersebut di alas anak-anak mcmperlrhalkan defi.iensi ler-ombuhan tinggi muka atau ''SFS' biasanla mengalami grgrran dalam .rnlerior. Drsplasia rcn;Lal ini dapal rnen)cnai stLaru maloklusi kelas ll divisi 2. Pada keadaan

ini Iingtsi rnula dnlcrror basah rnernendel. dan h;b;r ramnak proru\i. \ddpun maksilanya nomal dan erupsi gigi atas dan ba\ah tehdmbat. Drlatakan hah$r anal-anak )ang mcngalami de6siensi slelelal arah \enikal dapat Ji detcksi pada usia dinr. Pdda umurnnla sudut rnandihula rendah dan ramus mandibula cendcrung piniang. Penurnbuhan rahang lebih ban)dk kc arah anterior dan hal jni tercermin dari adanya

(3)

keienderungan manJibulr unluk rola'i I'e arah berlawanan dengan larLrm tam

-l\emdmpuan untul' Inengcnal sudah arau akan adan)a .uaru Fe|tlmhuhan \enikal yang berlebihdn s"ngal penlinP guna mencgal,kan diagno\a. mencnluldn 'enLana perasaldn ddn .ul'.e\ pelauatdn \asv'uni ( la6qr menggamharldn add\d Fnumbuhan renikal lang bcrlehihan pada grgirdn rerbul,a )ang ber!itul skeletdl Dikatakannya bahwa adanya ciri klas lelainan dentofasial ini merupaian "ualu sambaran yang doninan pada gigitan ierbula antcrinr \ang hersil.rl \kelcl,rl ' darnhar"rn klinis gipitdn rerhuld dnleriar .lcleral urnu)m\d mcrnpcrlihalkdrr .cpcr-tiga muka ba\'"ah yang memaniang. kctidak scimbangan sepertiga ml*a bawah dengan sepeniga mula lengah dan \udul mdndibul Iang besar.r Selain itu selr'aktu istimhaf dan rcr\en)um gingi\a dan gigi geligi dnlerior tampak terlihat jelas. Bersamaan dengan itu. nampak bibir )ang pcndek dan menurup Jengan lrddk scmpurna. Dasdr hidunP tamf,ak scnpit dan dagu kurang menonjol.6 Gambaran klinis dapal bcn'ariasi dan hal iru Juga lergantunC padr di\\repansi dntcro-posrior. Pada beberapa lasu-. pu"i.i dagu mmgkin saja seinbang atau maju. Yang paling mudah dikenali adalah bila sccara klinis ditemukan adanla gigitan terbuka anterior atau gigitan dalam anterior.

Cigilan lerbrka di nnterior secarir unum diklasifikasikan sebagai suatu hal \ang b(rsitar .l,eletal alau denldl. Adapun ciri-ciri gigitan terbuka yang belsif'at dental a.-lalah pola kraniofasialnla normal. gigi inisisif maju. gigi anterior bawah kurang erupsi. linggi gigi molar normal atau agah herlehihan dan ada lebiasadn huruk rnenghisap tori. Addpun \ang Incngdlami srgrran terbl|la regio anterior mehputr gigi inii\il dan Laninus. Jika di(emuLan ciri-ciri lraniolasial. maka biasan\a lral it-menunjulkan suatu gigitan terbuka yang bersifat skeletal. Ciri-ciri tersebut antara lain sudut m;hdibula besar, sudut Gonion besar, tinggi muka anterior panjang. bidang

Pet6idtan It rseptil (rlha]ontik I'ada D\)lustu tutlel

palaral miring ke - ..atas-depan sena mandibolaretrognalik.'

Beberapa pencliti lain menemukan adanya linggi muka posterior yang pendek.rr'r: Narron peneliti lain meldpor-kan bah\a tidak ada perbedaan tinggi muka posterior pada kasus d€ngan aiau tanpa gigitan terbuka anterior.- Bila tinggi nuke posterior dibandiugkan dcngan linggi muka antcrior maka pada kasus-kasus gigitan terbuka nampak nilainya kurang dari normal, demikian pula perbandinean tinegi muka anterior atas dengan tinggi muka anteior total nilainl'a kurang dari normal.Lr rr Kim l9?4 mengajukan Oyelrrre Depth Inctikdtor (ODl) sebagai suatu irdikator bagi adan."_a gigitan tcrbulia anlerior. ODI dipemlch dengan menjumlahlan besar sudut-sudut yang ferbcntuk antam bjdang mandibula dan garis AB serla sudut antara bidang l;ranldurt dan bidang palatal.' Ilal ini dikualkan pleb hasil penclitian vang ncnemukan bah\\a oDI lebih baik daripada pengukuran-pcngukuran lain bagi idcn-tilikasi suatu gigitan lcrbuka. Namlrn demikian tctap ada anggapan bah\a ODI tidak dapal meramalkan kcccndcrungan adanva gigitan terbuka. Selain itrr mereka tetap nenganggap bahwa indikator yang paling jelas adalah adanva gigitan lerbuka inr sendiri.r

Gigitan terbuka anterior sewaklu pra-pubeilas muncul pada n1asa hansisi dari pertude gigi gcligi sulung ke pedode gigr gel;gi tetap. Dan biasanya hal ini akan terkoreksi secara spntan.'" Namun bila pada waktu )ang bersamaan diserlai dengan kebiasaan buruk menghisap iari maka gigitan terbuka anterior akan nenetap-r7 Sebaliknya. bila kenbiasaan buruk tersebut bisa dihentikan. gigitan tcrbuka antenor akan terkoreksi secara sponlan. Adanya gigi supetnumerurt-, dn,i:r/o.!is dan kista yang pada dasamya menyebabkan terhambatnya erupsijuga dapat memicu terjadinya gigitan terbuka anterior. Dan umumn.va. dengan menghi)angkan faktor pcnycbab. gigitan rerbliiia lerscbut akan lerbuka dengan

(4)

spon-Ian. Kalaupun membutuhkan intenensi J i r i . ' n d l a r i n d a L J n , , d o d o n l i k ) a n g m i n i -rnum saja sudah dapar mengarasi gigiran

PaJa behcrdna ld-Lrs ) anB hercil.rl sLeletal. eigitan terbuka anterior kad.rDg-Lala terk.mpersa.r oleh pcflunbrhdn dcn-baheolar pada pcriode pra-pubeftas. Sehngga gigitan rerbuka anterior akan teralasr namun clapal Juga secara progresif Inentadi l(bih pdrrh. ''" Dengan rnemrhami rdrnhrra.r Llini\ dan g nbrfJn lrdniordsrdl .Ldlr Lasu, dengdn pcdumhuhdn \cnikal \dn-J l.e'lrhihdn. Jk r lel.il- muJrh higr npcrat.rr rrntuk nenenlukxn ren.rna bagr kJ.u. Icr.ebur. Pada prrn:rnn\r. Pr,,tiir Ircn!-dJL.rlr ncr,r$dlan iJerl hi-j J rk-an k dengan penumbuhan \enikal bL rlcbih.rn adalah dengan nr.Lkrrkr.r kontlol agar selama pera\4,aian mitndibula rura\i Le arrh bcrl.rranan arah larurn jrrn. ke atas dan ke depan. Dengan deDrikian gig'larl rerhuld dntcnor r))LrnpLrn\dj l(,er.p.rlrn unt,tk Incnuruf ddn lingt. muka anterior ba\\,ah tidrk senakirr p . n i d I c . H d l ; l u d d p J t J i , d p l i b r l . r p ^ w s i \crliL.rl llrdksila dipcfldhrnl,Jn Jrn erup5i gigi postcrior atas dicegah.' Narnun nampaklva hal ini lidak semudah ),ang dikrrrkln. Subteln\ dan Sakuda L Iqo.tr bahkan mengatakan suatu gigitan rerbuka anlenor )ang betul-betul bersif'at slelelal |nL$tahil unluk dira,'\,al secara olodontih karena menutup gigitan terbuka dengan iahn rnengeL:tru.i pigi anrerior hdn\l dl,rn Incngh.r\illan csleri. uajdh I anB kurang baik tcrutama pasien-pasien yang p i g i e ( i i e i J a n g i n g i r r ra n g i c l a . re r l i h a r . Nahoum (1977.) juga berkomcnrar bahwa rird$Jlan pigit,rn anleri,.r )ang hcrsit.rl \krlcrJl rrnumn)J drra\\ar lr,rn\u Bigr - clisin\ d unt.r Incnghuh nglan laklor ana(xnis lainn)a. ' Namun dcmikian Epker Jrr fi.h lo77 melapoflan bdntdk iugr kJ\Lrc -\dng herharil dirJ$al me5lipun beberapa diantaran)a ridak stabil hasilnya.6

Pcra$atan ortodontik konvensional pada pasien gigilaD terbuka anterior dibagi J..iIr h(hc,dta k,rlcgurr oleh Fpker dar

Fish 11977). Yang penama adalah derrgan mcnguhah lrih pcn.rnrbul,dn. Ital Ini pernah drlaporkan ,,lch Pe, son | 'o-El Jrri penelitiann)a tcerhadap 20 pasien anak, anak \ang rnempunl.ai kecendcrungan rotasi nandibula ke belaLang. Anak-anak ter.ehut LI ek.l ilsr lc cmpar grgi premolarnla dan kemudian di pasangkaD vertikzl-pull .ri? .rp selama 9 bLrlan. scbelum dipasang alrt onodonti cckar. llasilnl'a menunjuklian adan)-a penurupan gigilar) lerhul,r r lerior Jnn Incn!ecil ,-sudut mandibula.r0: P.r"luatan lerscbu, padd prinsipnla adalah mcngubah arah rotasi mandibula Le arah depill sambil mcnulup ruangan bekas pencabukn premolar. rnenghambal erupsi gigi posterior dan pcrubahrn corzl_rhr.r. Alrli lai,r. mcnakai high-pull headgear )ang diharapkan dapat meneharubat per-tunbuhan |ertikal nuksila dan sckaligus memacu pcrkembangan dcnloaileolar anterior. Pcratratan sernacan ini bcrawal dari pemeriksaan bal \,a )ang menjadi sebab displasia \ertikal adalah maksila nrgirn losl<n 'r trc||pin pf r\jf \ang hamprr sama. pcrnah .iuga dilaporkan keberhasilan perawatan gigitan terbuka anlerror dengan re rdLii loDrbinasi actirdtoi

.-headgear.l'

)t FR / appliance,lt oan requlalor.

Pcndeliatan ododon{ik konvensional )inc ledu:r .rd,rla,r tlerrgen nrelakukrn pcr-ger.rlan gigi r(nenlJ dengrn rujLrur rre-nutup gigi terbuka anrcrior. Kim (197,{) men)arankan pencabutan gigi molar kedua agar mandibula rotasi kc depan. { tetapi hal ini kurang diserqjui oleh N{izrahi (1978) yang iuga tidak sepakat untuk melakukan dislnlisasi Dn)lar karena akan menycbabkan mandibula scmakin rotasi ke belakang.r6 M<rrten"i pcllcnhuldr :rraL inrnrsi InutJr. Nahoun (1977) berpcndapat bah*,a hal lcr.ehur lJlJIr,rii liJdk mentsuhah lin$i rnula torrl larcnr posisi islrrdhdl fisiotngj. mdnJrhuld tiddk tcryeng, uh. U\flhd-usaha lain pemah dicoba untuk dilakukar namun hasilnva tetap tidak memuaskan c e p ( n i n r i \ . r l I \ i c l a . t r k \ L r r i k r l u n l u k

(5)

menpelsmrsi gigi gelrgr anterror'" -poskrior birc Planes arar "rcolll positioner" $E* mengintrusi gigi molar."

Kasus-lasus defisiensi pertumbuhan \enilal mempunyai gambdran klinis maupun kaniofasial yang sama sekah hcdainan dengan kasus-La"us pentur)buan \ <fliLal )anC berlebihan. Karenenla. pendekatan petawatannya pula berbeda Yang harus diingat adalah bah$a lasus-kasus tersebut memiliki sudut mandibula lebih kecrl dari normal. ramu( mandibula cendenrng panjanpr 5ena peffumbuan man-dibula cenderung panjang sena per-tumbuhan mandibula cenderung ke arah berla\ananjarum iam. C;gi Sehgi posleoor atas bawah terhambat erupsinya dan kadangkala di anlerior di\ertai grgrldn dalam. Pdnsip perawatan pada kasus-kasus demikian adalah meningla*an erupsi gigi porrerior dan mengubah arah rolasi mandibula ke belal'ang tanpa mengurangi teseimhangan dagu lerlalu jauh. Dikalskan oleh para ahii ada 2 cara unruk meningkdlLan tinggi muka pada anal-dnal )ang mengalami defisiensi Penurnbuhan \enikal. Yang pendmd adalah dengan memanfaa an ekstrusi gigi poslerror alibal pemakaian cervical headgear. Yang kedua adalah dengan memakai ^l^t mlofungsional lang memungkintan gigi po.terior erupsi heha.. Karena keban)akan anal-andk dengan defisiensi pertumbuhan tenilal juga mengalami malrelasi rahang kelas il.

dkan mcniadi jelas apalah (rupsi gigi rang terjadi selama pera\ aun lerulirin-karena gigi molar alas atdu molar ba\\ah. sementara dengan alat ntofung"ional erupsi dapat di manipulasi sehingga peninglatan tinggi \enikal dapdl diperolen dengan erupsi grgr molar ala\ atau ba$ah. Koreksr maloklusi lela' ll bagaimanapun lcbih mudah bila molar basah crup\j lebih darioada molar ata- sehineqa'ieluruh laLlor menlaor sermDang,

I'.trrdnh hte^fptit Onha.lonlilt Pdu t)t\)lu\u t ult^ul

Pembahasan

Masalah pertumbuhan vertikal yang

berlebihan terutama gigitan terbuka anterior

telah lama disadari sebagai

masalah

yang

sr it diatasi dalam arti stabil Lmtuk janglc

panjang.

I3e6agai laporan penelitian

oleh

para ahli dengan berbagai cara dan alat

ulrtuli nengatasi gigitan terbuka telah

dilaporkan.

Meskipun perhatian

para ahli

felah banyak tefluiu pada masalah nr

namun mdsih saia Lonrroversi

mengenai

faktor-faktor yang mendukung tedadinya

giCitan lerbuld sehingga

sulit dicapai

kesepatriatan mengenai

bagaimana

sebaiknla penatalaksanaannya

kasus-kasus

gigitan lerbuka antcrior lcrscbut. Suatu

pengembangan

rencana perawatan dan

penatalaksanaannya

yang baik sangat teF

gantung pada diagnosa yang tepat. Dan hal

ini membuluhkan

evaluasi yang seksama

dan pengerdhuaan

)ang luas mengenai

berbagai taktor penyebab kasus gigitan

terbuka

anterior

ini.'

Selain itu. penting untuk dapal

membcdakan

suatu gigitan terbuka yang

bersifat dental atau skeletal. (Angiolasi

1984) dan al i-ahli lain membedakarurya

dengan

memakai

6 kiteria yaitu sudut

SN-VP. Sudur

gonion..udul

antara

bidang

S\-bidang Palatal,

sudut antara

bidang Palatal'

bidang mandibula, perbandingan

tinggi

muka posterior

dengan

tinggi muka anterior

sena perbandingan

tinggi muka anterior

atas dengan tinggi muka anterior bawah.

Dikatakannya

bila ke 6 kiteria tersebut

rDenpunyai nilai rat4-rata. maka gigitan

terbuka anterior ],ang terjadi hanya bersifat

denlal.

' Sedangkan

gigitan terbuka

anterior

).ang bersifat skeletal biasanya 'ne'niliki

disproposional skeletal yang sangat

bermakna. Secara klinis wajah nampak

paniang dengan elongasi sep

rtiga

muka

baNah dan sudut mandibula b

sar.r3

Kadang-ladang

terljhat bibir atas pendek

dan ridak mcnurup dengan baik sehingga

gusi lerlihal jela.. Walaupun

demikian.

penampilan wajah mungkin saja sangal

(6)

bc^{riasi. lcrgantung displasja skeletal lain \dr! In(n\cnar rirsplasir rcniLal ini. l.,at-. r r r \ d d n B e r g l q o l l.,at-. \ r a l r s l o 9 5 menganjrrkan agar uaktu per.rsatan lebih cia\icn. hendali\ d gigjlan lerhuka diranal pada peiode geligi bercampu..:'r" P(rd$alan )dng dimalsudlaan di5ini lJrLnriul inler\ensi dini seLJra oaoJuntil

m.upun dalam arti meDghilangkan

kebiasaan-kebiasaan buruk ]ang mungkin .1dr. K.rlau pen\ehahn\a ddalah hdl-hal )ang bersifat lokal pnlalogis, maka dengan rncnghilangk.rn faktor penrehah ter.ehut

delganltanpa pera\\,atan ortodontik

kon!cr\iural. rrrasalah grgrtan terbuka akan lerara.r Ka\us-la.us ]ang men\angkul n.neL .Leletdl dapat jugc dilakukan inlef\ er).i dini. .ehinpga memungl'nl,an peflrl'nhdn hrngsional maupun sleletal. Irrterren.i rinr dapar dilaLulan dengan ncmakai ie.rJge;' atau alar-alar m\o-lungsioanal sesuaj dengan masalah yang ttrlait dan di.pla.ra anteroposterior rang nrungkin menycrtai$a. Yang perlu juga diingat bahna penumbuhan vertikal wajah rrrlarjLt hingga Inir\n rerndta ddn ldsca fcmaja. Hal irri berarti bahua sekalipun perubahan dengan mengubah arah peflurnbuhan .udah herhd.il pdda pcriode

gelrgi bercampur. nampalnld dibuluhkan

reten.i altjl unluk beberapa bulan

Kesimpulan

- Cuna

mcngcnrli

adan\r

.uaru

disllasi:

renik.rl pada .eorang anal. perlu dirnengeni gamharan llini" lang rnunplin nampdL pada seorang anal )ang pertumbuhan vertikaln)a berle-bihan atau bahkan dcfisiensi. Gambaran klinis ini bisa saja disertai gambaran klinis suatu displasia sagital ataupun uansvcrsal

- Penguasaan terhadap analisa sefalo-nelri akan sangat membantu

mcma-hami masalah-masalah \c(ikal )ang

- Penatalaksanaanperawatankasus-kasus

di\nla\ia \ enilal harus mcmpsnirn-banCLan ur)rur rnorfolop'i'. .rfrt dan kelainrnnra. dc|lldl Jldu \keieral. ardh rotasi mandibula. displasia lain lang menyertain)a.

- Pada kasus-kasus berat vang ncncakup aspek skclctal pcrlu dipertimbangkan tindrlan pernbcdahan fund mencdnii hasil yang optilnal.

Daftar Kepustakaan

L Protlit WR. Fields HW. (i,,/c,?ofdll , ) ' / 4 J 4 r . . l u , i . a \ ' V o , l - \ a , ' r r D . r n \ 2 " l 9 9 i r

I \ i r J a 5 l P d r r e m 5 o f \ e n r k d - U r o $ l h i , , the I ace. )n J .lahuJ De4trtn, iat orthnl 1 9 8 8 i 9 3 : l 0 l - 1 6

1 . Dung DJ and RJ Smirh. ( ephalomerl-. i n i r r l J i c b n o \ : ephalomerl-. o f o p < n b r r e r ( n d c r t r i A"t J Olhal 1988191.4a4-90

4. Sassouni- V.,{ Classilication of skeletal tacial l)!cs. ,.1,, ./ O/rr, I 969.55 i I 09,21 5. Bell W Corection of skeletal lype of

a n r e r i o r o p c r b i r c . J o r J l ( u r J e r l " - l 29:706-11 6 . f p k e r B a r J F i . h L S , r r s : c d l o n l o d o n l c c o n e c l | o n o l C l d ' l l l \ k . l c r i l o t e , r b i r e |1nt.l Ortho 1971l. '7 |:2'7 8'99 - . S u b r c l n ) J D . \ 4 u r g r u \ < A ' \ . O p e n b i r e r n a r l e n r : l h e s h \ o f c u L c e s 5 o r l , , i l I r l n . ( o o l l l l c d l l r n . J , r i , ' n u t r h e l h i r d l n l c - r J r u . r l O n h o d o n r r c c o n p r c I , r , J . ' n I 9 7 3 . S t l - o u i s M o s b y . 1 9 7 5 i 4 i l - 4 5 8 . S u b r e | | r ) J D . i r t u d " \ i . o t . 1 o:rc D i d p n o . i . . n d r e a r m r n ' 4 4 / . / i r ' l 1 , 1 9 6 4 ; 5 0 : 3 3 7 5 8 o . l u p e / U r ! i r o C . W d l l e n lR . I ' I l c R V . l o o n d e p h DR. A n t e r i u r , ' t . , , D t c I n J l o . . [ r . i o I A l r n g L r . o r n d l n - ] r a Postrele'rtion evaluation of ordrodonticalh t r e a t e d p a t i e n t s A r i J O r t h a . 1 9 8 5 i 8 7 : 1 7 5 8 6

10. Neilson IL. Vertikal nalocclusion: Etio l o p t . d e \ e l o t m e n ' . J i d r l u . i . a n d . o m e i s p e c r s o l r r c r r n e n r . , . 1 r p l ? O ' t h , , 1

l 9 9 l i6l:247-60

(7)

I L rlaralabahis NA. Yjagtzis SC. Tourounzakrs NM. Cephalometric characreristic of open-bite in adultsi A three dinensionai cephir.merric e\alu tion. l4t t A(tult Ilahnd Ot thopadth SugeD I9r)4:q 22J-1| ll Cangialosi TJ. Skeletal morphotogrc

featur€s of anrerior open bite. An J Otrho 198:1i85i28-36

li. Nahoum Hl. Venicaal proportions :A gu ide for Prognosis and treatment in anrerior opeabjre. An J (htho t97 7:72: t2a-46 l.l. Kim. Ovcrbite depih indicator wiih

panicular rererence ro anreriur open-bin A"t J Ortho t971:,65: 5a6-61|

') Wdrdlas

DR & smilh er al. Cephalomeric o{ dnrerior oter bire a recie!er operar;n" characteristic analysis. An J Oftho 1992;3:234-43

l6 Mizrali. A re\re$ ol rnreriof open-hir( . Br .l Ortho, 1978t5:21-1

- P.pulich.

I and lhumpson. U lhumb dnd finger-suctrns: lr'c relalion ro mdloc-clusion. An J Ortho. I973;63:148-55 l8 Prolllr W and Bill U Open bire tn

surgical Lo'e.c'ion ot dcnrolacidt dcfoF mities Bell. Proffit and White (Eds) 1980 WB. Saunders Co.

lo. Richdrd.on { rlissificarion ,rf o|en bire Eur.l Ofi ho. 19a\3 t289-96

l0 Pearson. Verri[al confiol lrealmenr i)l paricnrs having baclwardroralional grow1h te']dencies-/lngle Olthod I 978;48:132-40

Pur uktr Inrlr\.N | (rtht\b,ti k Putu Drttt^nt ti.litol

l l C r d b ( l l \ 4 t , . ' n r J . . . ! . . , . n , t T t . . . I t , t f / , / . a . . . P h i l a d e l p J , r d u B \ d , . n o e r ! . tu-. 12. Pteiffer J and crober_v D. Simuhaneous use

o f c e r v r ( a l appliJnce J n d r ( r i ! a r o r A! Odhopedic approach ro fixedappliance rhenpy Am.l Ottha l972t6t :353,'/ 3

: l P r e i r l e r J a n d c r a b e q D. { p\itisoph\ ol L o m b i n e d o n \ . , p e d i t onhodonrr\ r " e a | | , r e n l ADt.J Olth0 19,!2:81:l8t-20 |

l,l. Fra cl R and Frnntet CA. Iiurcriottal d p p r o a f | r o r r e d r n ( n ' o r skcte at open bi.( An. I Ol t h a. t 983 181 : 5 1-6a

25. O*€n A. Modified Function Regutator for ! e n i f d l mdxillrn c\.e... J ( tin U4hu l 9 8 5 i l 9 i 7 3 l - 4 9

2 6 K i m Y . Anrerior o p e n b e a r . d ir, r"earmenr w r l h m L l r l o . r p edse\vice a r c t , w i r e trA,. Ottho 19aT.57:29O 321

27. Sper) T. ]he role of toorh cxtrusi(D in l l a n n r n g l o r u h n g n d r h r c . J r s < f r /,/ ./ A J " l t ! t , t h . nn,/ i,/,ru S,,/s.,.r tq8r. 4 : 1 9 9 - 2 1 l

2 8 . B e l l W | . ( reckmorc er at :urgiLdl colrectron of $e long face syndrome. i4D ()rtho 1971al:10-68

2 n . K d l . a r a ( dnJ R Ber! Anr{r.or opcjr .tc m d l " . c l u 5 i o n : a ioll o$ r p . r u d ) ,,j onhodonric rrearment eff!cts. Eut ./ (htho.! 1 9 9 1 2 7 1 - 8 0

1 0 . Vid,,is \D I icienr o hodonr:\ .redrmenr omrrg.,.1tt J Oltho Dentolac (rthop 1 9 9 5 : 5 : 5 6 0 , 1 .

Referensi

Dokumen terkait

diciptakan dalam waktu yang sama dan masing-masing menurut gambar dan rupa Allah yang. menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai kesamaan derajat

Salah satu informasi yang dapat diperoleh dari multimedia dalam perancangan aplikasi Website Interaktif Resep Masakan Daerah Dengan Visualisasi Multimedia Menggunakan Teknologi

Tujuan website yang penulis buat ini untuk memudahkan dan memperlancar dalam melakukan penjualan buku dan membantu orang-orang yang sedang mencari informasi tentang bukubuku. Pada

Kepada peserta Pelelangan yang keberatan, diberikan kesempatan untuk menyampaikan sanggahan khususnya mengenai ketentuan dan prosedur yang telah ditentukan dalam dokumen

[r]

Tanggung jawab sosial dalam perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) adalah mekanisme bagi suatu organisasi untuk secara sukarela mengintegrasikan perhatian terhadap

〔民集未登載最高裁民訴事例研究四二〕全国消費実態調査の調査票情報を記録した準文書が民訴

Tidak terkecuali dalam hal ini nama Allâh Azza wa Jalla al-Wadûd, memahami kandungan nama ini dengan benar merupakan sebab utama untuk meraih mahabbatullâh (kecintaan kepada Allâh