• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Desa Sukawening merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Desa ini memiliki luas wilayah sebesar 246380 Ha dan terdiri atas 7 RW serta 29 RT. Sebelah utara desa berbatasan dengan Desa Neglasari, Sinarsari, dan Ciherang, sebelah timur berbatasan dengan Desa Ciapus, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Sukadamai, dan sebelah barat berbatasan dengan Desa Petir. Desa Sukawening terletak sekitar 3 km dari pusat Pemerintahan Kecamatan, 35 km dari pusat Pemerintahan Kabupaten, 135 km dari pusat Ibukota Propinsi, dan 65 km dari pusat Ibukota Negara.

Secara geografis Desa Sukawening terletak pada ketinggian tanah 550 meter, dengan curah hujan rata sebesar 33mm/tahun dan suhu udara rata-rata 24ºC. Sementara berdasarkan topografi, Desa Sukawening terdiri ata 93 ha dataran dan 26 ha perbukitan dengan tingkat erosi ringan sebesar 1.5 ha.

Berdasarkan data tahun 2006, jumlah penduduk Desa Sukawening adalah sebesar 7326 jiwa dengan 1928 kepala keluarga (KK) dan kepadatan penduduk 2.46/km2. Berdasarkan jenis kelamin, penduduk terdiri atas 3772 laki-laki dan 3554 perempuan yang sebarannya menurut kelompok usia disajikan pada Tabel 5. Jumlah penduduk yang berada pada usia produktif (15-60 tahun) sebesar 2212 laki-laki dan 2268 perempuan dengan tingkat pendidikan kelompok usia produktif didominasi oleh tamat SD.

Tabel 5 Sebaran jumlah penduduk berdasarkan kelompok usia Kelompok usia Laki-laki Perempuan Jumlah %

0 - 4 186 152 338 4.61 5 - 9 162 142 304 4.15 10 - 14 161 140 301 4.11 15 - 19 270 259 529 7.22 20 - 24 251 262 513 7.00 25 - 29 214 231 445 6.07 30 - 34 107 237 344 4.69 35 - 39 186 212 398 5.43 40 - 49 467 207 674 9.20 50 - 54 255 274 529 7.22 55 - 59 518 530 1048 14.30 60 - 64 274 269 543 7.41 65 – ke atas 721 639 1360 18.56

(2)

Mata pencaharian penduduk sangat beragam. Petani dan pedagang merupakan profesi yang paling banyak ditekuni, disusul dengan supir dan buruh tani. Sebaran matapencaharian penduduk disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6 Sebaran matapencaharian penduduk Mata pencaharian Jumlah %

PNS 36 1.32 TNI 2 0.07 POLRI 1 0.04 Swasta 226 8.31 Wiraswasta 121 4.45 Dagang 545 20.04 Tani 585 21.51 Pertukangan 125 4.60 Buruh Tani 336 12.35 Pemulung 12 0.44 Jasa (PRT) 36 1.32 Pengemudi/Supir 425 15.63 Tukang ojek 270 9.93

Desa Sukawening mempunyai beberapa sarana dan prasarana, antara lain sarana dan prasarana sosial, pendidikan, kesehatan, dan pengairan. Prasarana sosial meliputi 1 kantor desa, 9 masjid, dan 23 mushola. Prasarana pendidikan terdiri atas 3 Sekolah Dasar (SD) dan 1 Sekolah Menengah Pertama, sedangkan prasarana kesehatan, antara lain 1 Puskemas Pembantu (Pustu) dan 10 Posyandu. Sarana dan prasarana pengairan terdiri dari 36 mata air, 1 unit PAM, 1 hidran umum, serta 573 sumur gali dan sumur pompa.

Karakteristik Keluarga

Keluarga adalah sekelompok orang yang tinggal atau hidup bersama dalam satu rumah tangga dan ada ikatan darah. Jumlah contoh dalam penelitian ini adalah 30 keluarga dengan satu diantaranya adalah keluarga dengan status perkawinan cerai.

Pendidikan Orang Tua

Salah satu faktor sosial ekonomi yang ikut mempengaruhi tumbuh kembang anak adalah pendidikan (Supariasa et al. 2002). Pendidikan yang tinggi diharapkan sampai kepada perubahan tingkah laku yang baik (Suhardjo 1989).

(3)

Sebaliknya tingkat pendidikan yang rendah mempunyai konsekuensi terhadap rendahnya kemampuan ekonomi, pengetahuan gizi, dan pola asuh anak, yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap kemampuan penyediaan dan pemilihan pangan dalam kuantitas maupun kualitas yang cukup.Kondisi ini kemudian akan mempengaruhi kesehatan dan status gizi anggota keluarga terutama anak.

Tabel 7 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan orang tua balita masih rendah. Persentase tertinggi tingkat pendidikan ayah (40.0%) dan ibu (50.0%) hanyalah tamat SD/sederajat. Pada tabel 7 terlihat pula bahwa hanya terdapat 20.0% ayah yang berpendidikan SMA/sederajat dan masih terdapat 6.7% ayah yang tidak tamat SD. Sementara pada tingkat pendidikan ibu hanya sebesar 3.3% ibu yang berpendidikan Perguruan Tinggi dan 6.7% berpendidikan SMA/sederajat, sedangkan sebanyak 10.0% ibu tidak tamat SD.

Tabel 7 Sebaran tingkat pendidikan orang tua balita

Jenjang Ayah Ibu

n % n % tidak tamat SD 2 6.7 3 10.0 SD/Sederajat 12 40.0 15 50.0 SMP/sederajat 9 30.0 9 30.0 SMA/sederajat 6 20.0 2 6.7 PT 0 0.0 1 3.3 Total 29 96.7 30 100.0

Ibu sebagai gate keeper utama dalam keluarga berperan penting dalam menentukan proses tumbuh kembang anak. Hasil penelitian Rivera et al. (1995) menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan kejadian stunting pada anak. Tingkat pendidikan ibu dapat berpengaruh pada perilaku ibu dalam mengelola rumah tangga, termasuk dalam konsumsi pangan, perawatan kesehatan dan higiene, serta pemberian stimulasi yang tepat kepada anak. Tingkat pendidikan juga sangat mempengaruhi kemampuan penerimaan informasi mengenai gizi dan kesehatan anak yang akan membantu ibu memberikan pengasuhan yang maksimal.

Pekerjaan dan Pendapatan

Pekerjaan memiliki hubungan yang erat dengan pendapatan. Sementara aspek pendapatan merupakan salah satu aspek sosial ekonomi yang dapat mendukung terjadinya kekurangan gizi. Tingkat pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan terhadap kuantitas dan kualitas makanan yang

(4)

dikonsumsi. Rendahnya pendapatan menyebabkan daya beli terhadap makanan menjadi rendah dan konsumsi pangan keluarga akan berkurang. Kondisi ini akhirnya akan mempengaruhi kesehatan dan status gizi keluarga (Riyadi et al. 1990).

Berdasarkan Tabel 8, sebagian besar ayah balita bermatapencaharian sebagai buruh bangunan/industri (40.0%) dan pedagang (33.3%) yang tidak memiliki pendapatan yang tetap. Sedangkan hampir seluruh ibu (86.7%) tidak bekerja atau hanya menjadi ibu rumah tangga, sisanya sebanyak 10.0% bekerja sebagai pedagang dengan berjualan di rumah dan sebanyak 3.3% sebagai pembantu rumah tangga.

Tabel 8 Sebaran pekerjaan orang tua balita

Jenis pekerjaan n % Ayah tidak bekerja 1 3.3 buruh bangunan/industri 12 40.0 guru 1 3.3 pedagang 10 33.3 karyawan swasta 2 6.7 PNS 1 3.3

supir dan buruh industri 1 3.3

lainnya 1 3.3 Total 29 96.7 Ibu tidak bekerja 26 86.7 wirausaha 3 10.0 PRT 1 3.3 Total 30 100.0

Pendapatan per kapita keluarga adalah seluruh pendapatan anggota keluarga per bulan dibagi jumlah anggota keluarga. Besarnya pendapatan tergantung pada jenis pekerjaan kepala keluarga dan anggota keluarga lainnya.

Pendapatan per kapita keluarga balita berkisar dari Rp 60000 sampai Rp 500000 dengan rata-rata Rp 207252.4. Apabila dibandingkan dengan garis

kemiskinan Propinsi Jawa Barat pada tahun 2010. yaitu sebesar Rp 201138 (BPS 2010) maka diperoleh persentase keluarga miskin sebanyak 60.0%. Sebaran status ekonomi keluarga balita disajikan pada Tabel 9.

(5)

Tabel 9 Sebaran keluarga balita berdasarkan garis kemiskinan Jawa Barat tahun 2010

Status ekonomi keluarga n %

Miskin (< 201138) 18 60.0

Tidak miskin (>201138) 12 20.0

Total 30 100.0

Rata-rata ± SD 207252.4 ± 93356.1

Pendapatan yang kurang tidak memungkinkan keluarga dapat menyiapkan makanan yang terbaik untuk anak. Pendapatan dalam satu keluarga akan mempengaruhi aktifitas keluarga dalam pemenuhan kebutuhan keluarga (Yuliana 2004). Akan tetapi besarnya pendapatan pada keluarga tidak miskin, juga tidak menjamin pola konsumsi pangan yang lebih baik. Kadang-kadang perubahan utama yang justru terjadi dalam kebiasaan makan adalah pangan yang dimakan itu lebih mahal terutama apabila tidak didukung oleh pengetahuan gizi yang baik. Menurut Suhardjo (1989) di negara-negara berkembang golongan keluarga miskin menggunakan bagian terbesar dari pendapatan untuk memenuhi kebutuhan makanan yaitu umumnya dua per tiga dari pendapatannya. Namun sebaliknya. apabila pendapatan semakin baik, maka pengeluaran untuk non pangan akan semakin besar, mengingat semua kebutuhan pokok untuk makan sudah terpenuhi.

Besar Keluarga

Besar keluarga menggambarkan jumlah anggota keluarga yang tinggal bersama dalam satu atap dan hidup dari pendapatan yang sama. Sebagian besar (70.0%) keluarga balita merupakan keluarga kecil dengan jumah anggota keluarga ≤4 orang, dan sisanya (30.0%) merupakan keluarga sedang dengan anggota keluarga 5-7 orang, dengan rata-rata 4.3 orang, nilai minimum 2 dikarenakan status bercerai dan nilai maksimum 7. Sebaran besar keluarga balita dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10 Sebaran jumlah anggota keluarga balita

Besar keluarga n % Kecil (≤ 4 orang) 21 70.0 Sedang (5-6 orang) 9 30.0 Besar (≥ 7 orang) 0 0 Total 30 100.0 Rata-rata + SD 4.3 ± 1.24

(6)

Meski tidak hidup dari penghasilan yang sama, sebanyak 20% keluarga balita tinggal bersama dengan dua sampai empat keluarga di bawah satu atap, yang sebarannya dapat dilihat pada Tabel 11. Pada umumnya kondisi tersebut terjadi apabila keluarga inti balita (ayah, ibu, adik, kakak) masih tinggal bersama dengan kakek dan neneknya namun telah terpisah secara keuangan keluarga. Adapula yang tinggal bersama dengan kerabat dekat lainnya.

Tabel 11 Sebaran jumlah keluarga yang tinggal dalam satu atap

Jumlah keluarga n %

1 keluarga 24 80.0

> 1 keluarga 6 20.0

Total 30 100.0

Rata-rata + SD 1.3 ± 0.70

Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu

Menurut Suhardjo (1996) pengetahuan gizi adalah pemahaman seseorang tentang ilmu gizi, zat gizi, serta interaksi antara zat gizi terhadap status gizi dan kesehatan. Praktek konsumsi pangan merupakan hasil interaksi dari pengetahuan gizi dan sikap terhadap gizi. Pengetahuan gizi dapat membentuk praktek pangan secara langsung dan dapat juga mempengaruhi praktek pangan melalui sikap.

Secara tidak langsung pengetahuan gizi ibu akan mempengaruhi status gizi balita, karena dengan pengetahuannya para ibu dapat mengasuh dan memenuhi gizi anak balitanya, yang pada gilirannya dapat menjamin asupan gizi anak. Pengetahuan gizi yang diukur pada penelitian ini meliputi pengetahuan ibu seputar kehamilan, tumbuh kembang anak, praktek pemberian ASI dan MP-ASI, serta pengetahuan mengenai zat gizi dan pangan sumber zat gizi.

Tabel 12 menunjukkan sebaran item yang dijawab benar oleh ibu balita. Item pertanyaan yang dijawab benar oleh seluruh ibu adalah pertanyaan mengenai bahaya rokok dan asap rokok bagi ibu hamil, sedangkan item pertanyaan yang paling sedikit diketahui oleh ibu balita adalah pertanyaan mengenai penyebab kejadian anemia atau kurang darah (23.3%).

(7)

Tabel 12 Sebaran item pertanyaan yang dijawab dengan benar oleh ibu balita

No Pertanyaan

Jawaban benar

n %

I. Pengetahuan mengenai kehamilan

1 Porsi makan ibu ketika hamil sebaiknya lebih banyak dibandingkan

saat tidak hamil (Benar) 21 70.0

2 Anemia atau kurang darah dapat terjadi dikarenakan kekurangan

vitamin A (Salah) 7 23.3

3 Salah satu akibat apabila ibu hamil mengalami anemia (kurang

darah) adalah berat badan bayi ketika lahir rendah (Benar) 20 66.7 4 Rokok dan asap rokok adalah hal yang berbahaya bagi ibu hamil (Benar) 30 100.0 5 Kecukupan gizi ibu ketika hamil akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak setelah lahir (Benar) 29 96.7 II. Pengetahuan mengenai tumbuh kembang balita

6 Masa kritis (emas) pertumbuhan dan perkembangan anak terjadi

sejak dalam kandungan hingga usia 2 tahun (Benar) 25 83.3 7 Seorang anak dikatakan sehat apabila gemuk/gendut badannya

(Salah) 24 80.0

III. Pengetahuan mengenai praktek pemberian ASI dan MP-ASI 8 Untuk mendukung pertumbuhan anak sebaiknya makanan

tambahan selain ASI diberikan setelah usia satu bulan (Salah) 28 93.3 9 ASI cukup diberikan hingga anak berusia 18 bulan (Salah) 16 53.3 10 Pada usia 9 bulan anak boleh diberikan makanan seperti orang

dewasa (Salah) 25 83.3

IV. Pengetahuan mengenai zat gizi dan pangan sumber zat gizi 11 Contoh bahan makanan yang mengandung protein hewani adalah

telur (Benar) 24 80.0

12 Zat gizi untuk mendukung pertumbuhan anak adalah protein

(Benar) 29 96.7

13 Rabun/buta senja pada mata disebabkan kekurangan vitamin C

(Salah) 17 56.7

14 Nasi adalah makanan sumber karbohidrat (Benar) 28 93.3 15 Garam beryodium dapat mencegah anemia (Salah) 16 53.3 16 Bahan makanan sumber zat besi adalah hati (Benar) 22 73.3 17 Vitamin D dan kalsium dibutuhkan dalam pertumbuhan karena

sehat untuk mata (Salah) 18 60.0

18 Makanan yang banyak mengandung kalsium adalah susu (Benar) 27 90.0 19 Asam lemak jenuh omega-3. DHA dan EPA yang banyak

ditambahkan pada susu berfungsi untuk energi bagi tubuh (Salah) 16 53.3 20 Vitamin A banyak didapat dari sayuran berwarna hijau (Benar) 23 76.7

Rendahnya persentase ibu yang menjawab benar item pertanyaan mengenai penyebab kejadian anemia atau kurang darah menandakan bahwa pengetahuan ibu mengenai kejadian anemia yang banyak terjadi pada ibu hamil sangat rendah dan sangat beresiko bagi kehamilan yang tidak sehat. Pemeriksaan rutin kehamilan kepada bidan desa merupakan cara penjagaan

(8)

kesehatan kehamilan yang umumnya dilakukan para ibu meskipun mereka tidak cukup memahami pengetahuan penting seputar kehamilan.

Pertanyaan mengenai tumbuh kembang balita telah dapat dijawab dengan baik oleh sebagian besar ibu (83.3% dan 80.0%). Sementara lebih dari separuh ibu menjawab salah mengenai usia minimal pemberian ASI (53.3%). Para ibu banyak yang beranggapan bahwa memberikan ASI cukup hanya sampai anak berusia 18 bulan atau 1.5 tahun.

Sebagian besar ibu mampu menjawab dengan benar contoh bahan pangan sumber protein hewani (80.0%), zat gizi untuk mendukung pertumbuhan (96.7%), zat gizi yang kaya terkandung dalam nasi (93.3%), dan bahan makanan yang banyak mengandung kalsium (90.0%). Meskipun demikian pengetahuan yang baik juga harus didukung oleh sikap dan keterampilan yang baik sehingga dapat dipraktekkan dengan baik dan tepat sesuai kebutuhan.

Secara keseluruhan lebih dari separuh ibu balita memiliki tingkat pengetahuan gizi yang sedang (skor 60-80) (60%), sebanyak 30% ibu memiliki tingkat pengetahuan gizi yang tinggi (skor >80), dan hanya 10% ibu yang memiliki tingkat pengetahuan gizi rendah (skor <60). Sebaran tingkat pengetahuan gizi ibu disajikan pada Tabel 13.

Tabel 13 Sebaran tingkat pengetahuan gizi ibu balita Tingkat pengetahuan gizi ibu n %

Rendah (>60) 3 10

Sedang (60-80) 18 60

Tinggi (<80) 9 30

Total 30 100

Rata-rata ± SD 74.2 ± 12.46

Pengetahuan gizi ibu yang sebagian besar berada pada kategori sedang (60%) dengan rata-rata skor 74.2, dapat disebabkan oleh tingkat pendidikan ibu yang masih didominasi tamatan SD/sederajat (50%) dan SMP/sederajat (30%), serta kurangnya akses terhadap informasi gizi dan pelayanan kesehatan.

Pengetahuan gizi seseorang dapat diperoleh melalui pendidikan formal maupun non formal serta melalui media massa. Hasil penelitian Ariefani (2009) menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan dan akses ibu terhadap informasi dan pelayanan gizi dan kesehatan, semakin tinggi pula tingkat pengetahuan gizi ibu tersebut. Berbagai informasi gizi dan kesehatan dapat diperoleh dengan melihat atau mendengar sendiri, melalui alat-alat komunikasi

(9)

seperti membaca surat kabar/majalah, mendengarkan siaran radio, menyaksikan siaran televisi, atau melalui penyuluhan. Akses ibu terhadap informasi dan pelayanan gizi dan kesehatan ditentukan oleh pendidikan ibu serta motivasi ibu untuk mendapatkan layanan gizi dan kesehatan (Engle, Menon & Haddad 1997).

Karakteristik Anak Balita

Usia

Usia anak balita diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu 30-41 bulan, 42-53 bulan, dan 54-60 bulan, sesuai dengan instrumen perkembangan bahasa yang digunakan. Usia anak balita pada penelitian ini sebagian besar berada pada rentang usia 30-41 bulan dan 42-53 bulan dengan persentase masing-masing sebesar 43.3% dan rata-rata 44.2 bulan. Sisanya berada pada rentang usia 54-60 bulan sebanyak 13.3%. Sebaran usia balita dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14 Sebaran anak balita menurut kelompok usia

Usia (bulan) n % 30-41 13 43.3 42-53 13 43.3 54-60 4 13.3 Total 30 100.0 Rata-rata ± SD 44.2 ± 7.64 Jenis Kelamin

Kekurangan gizi dapat terjadi pada setiap orang baik karena kurangnya asupan maupun karena faktor penyakit infeksi yang diderita. Anak laki-laki maupun anak perempuan mempunyai peluang yang sama mengalami kurang gizi kronik yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya stunting. Persentase jenis kelamin anak balita pada penelitian ini tersebar merata, yaitu 50.0% laki-laki dan 50.0% perempuan yang disajikan pada Tabel 15.

Tabel 15 Sebaran anak balita menurut jenis kelamin

Jenis kelamin n %

Laki-laki 15 50.0

Perempuan 15 50.0

(10)

Berat Badan Lahir

Berat badan lahir merupakan salah satu indikator penting bagi kesehatan bayi, sebab bayi yang lahir dengan berat badan yang rendah (<2500 gram) beresiko tinggi mengalami kurang gizi dan gangguan dalam tahapan perkembangannya.

Tabel 16 menunjukkan bahwa hampir seluruh anak balita lahir dengan berat badan yang cukup atau normal (93.3%) dan hanya sebagian kecil yang lahir dengan berat badan yang kurang atau rendah (6.7%). Hasil ini menunjukkan bahwa kurang gizi kronik yang dialami balita stunted diduga tidak terjadi sejak dalam kandungan, namun terjadi karena kuantitas dan kualitas makanan pendamping (sampai usia 2 tahun) maupun pengganti ASI (setelah usia 2 tahun) yang tidak mencukupi.

Tabel 16 Sebaran berat badan lahir anak balita

Berat badan lahir n %

< 2500 gram 2 6.7

≥ 2500 gram 28 93.3

Total 30 100.0

Riwayat Pemberian ASI

ASI (Air Susu Ibu) merupakan makanan pertama dan utama bagi bayi. ASI merupakan makanan yang paling ideal bagi bayi karena mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan bayi. Pemberian ASI dengan tepat kepada bayi akan memberikan banyak dampak positif bagi kesehatan dan proses tumbuh kembangnya. ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi seimbang dan sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan bayi. ASI juga mengandung zat-zat penting yang akan memberi perlindungan kepada bayi dari serangan penyakit dan alergi, serta membantu pengembangan kecerdasan bayi secara optimal. Pemberian ASI juga akan menunjang perkembangan kepribadian, kecerdasan emosional, kematangan spiritual, dan perkembangan sosialisasi yang baik bagi bayi (Roesli 2000).

Tabel 17 menunjukkan bahwa hampir seluruh ibu balita memberikan ASI kepada anaknya (96.7%) dan hanya seorang ibu yang tidak memberikan (3.3%) dikarenakan alasan ASI tidak keluar.

(11)

Tabel 17 Sebaran riwayat pemberian ASI

Pemberian ASI n %

Ya 29 96.7

Tidak 1 3.3

Total 30 100.0

WHO dan UNICEF menganjurkan pemberian ASI ekslusif kepada bayi hingga usia 6 bulan dan pemberiannya tetap diteruskan hingga usia 2 tahun atau lebih dengan didampingi makanan padat yang benar dan tepat. Hal ini disebabkan banyak kandungan dan manfaat ASI yang masih dibutuhkan anak dan justru meningkat di tahun kedua (12-24 bulan), seperti zat anti bodi, lemak, dan vitamin A (Roesli 2000).

Tabel 18 menunjukkan persentase usia penyapihan anak balita tersebar hampir cukup merata pada setiap rentang usia, secara berturut-turut, yaitu pada usia 12-18 bulan sebanyak 23.3%, pada usia 19-23 bulan sebanyak 26.7%, persentase terbesar yaitu pada usia 24 bulan sebanyak 33.3%, dan sebagian kecil pada usia lebih dari 24 bulan sebesar 13.3%.

Tabel 18 Sebaran usia penyapihan anak balita

Usia penyapihan n % 12 – 18 bulan 7 23.3 19 – 23 bulan 8 26.7 24 bulan 10 33.3 > 24 bulan 4 13.3 Total 29 96.7

Tindakan penyapihan yang dilakukan ibu pada berbagai rentang usia tertentu pada umumnya dilatarbelakangi oleh alasan tertentu. Ibu yang menyapih pada usia 12-18 bulan sebagian besar mengaku memang merencanakan untuk menghentikan pemberian ASI pada usia tersebut (10%). Begitu pula pada sebagian besar ibu yang menyapih pada usia 19-23 bulan (10%). Para ibu umumnya sengaja menghentikan pemberian ASI karena percaya dengan menghentikan pemberian ASI, anak mereka akan banyak makan sehingga bisa tumbuh dengan baik. Sementara ibu yang menyapih pada usia 24 bulan kebanyakan telah mengetahui bahwa ASI memang sebaiknya diberikan hingga anak usia 2 tahun (16.7%). Para ibu yang menyapih anaknya pada usia lebih dari 24 bulan kebanyakan disebabkan anaknya susah untuk berhenti menyusu (6.7%). Sebaran alasan usia penyapihan anak disajikan pada Tabel 19.

(12)

Tabel 19 Sebaran alasan usia penyapihan anak

Alasan usia penyapihan n %

12 – 18 bulan

Dibantu dengan susu 1 3.3

Budaya/kepercayaan 1 3.3

Sengaja diberhentikan 3 10.0

Putting susu lecet 1 3.3

Bayi tidak lagi mau menyusu 1 3.3

19 – 23 bulan

Dibantu dengan susu 1 3.3

Sengaja diberhentikan 3 10.0

Ibu tidak sehat 1 3.3

Putting susu lecet 1 3.3

Bayi tidak lagi mau menyusu 1 3.3

Sulit diberhentikan 1 3.3

24 bulan

Sesuai yang dianjurkan 5 16.7

Budaya 2 6.7

Sengaja diberhentikan 1 3.3

Sulit diberhentikan 1 3.3

Untuk menaikkan berat badan anak 1 3.3

> 24 bulan

Sulit diberhentikan 2 6.7

Sengaja diberhentikan 1 3.3

Untuk menaikkan berat badan anak 1 3.3

Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama dianjurkan dengan berdasarkan pada bukti ilmiah tentang manfaat ASI bagi daya tahan hidup bayi, pertumbuhan, dan perkembangannya. ASI memberi semua energi dan zat gizi yang dibutuhkan bayi selama 6 bulan pertama hidupnya. Pemberian ASI eksklusif juga akan mengurangi tingkat kematian bayi yang disebabkan berbagai penyakit yang umum menimpa anak-anak seperti diare dan radang paru, serta mempercepat pemulihan bila sakit (Linkages 2002). Berbagai penelitian membuktikan bahwa ternyata bayi yang diberikan ASI eksklusif akan lebih sehat dan lebih jarang sakit serta memiliki IQ yang lebih tinggi dibandingkan bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif. ASI eksklusif berarti memberikan ASI saja tanpa tambahan cairan lainnya, seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, atau air putih, serta tanpa tambahan makanan padat, seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan tim (Roesli 2000).

(13)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktek pemberian ASI eksklusif tidak dilakukan oleh seorang ibu balita pun. Para ibu telah memberikan beberapa makanan/minuman selain ASI sebelum usia 6 bulan seperti, air putih (86.7%), madu (40.0%), bubur saring (6.7%), biskuit (3.3%), bubur tepung (13.3%), pisang (6.7%), dan susu (6.7%). Para ibu yang menginginkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama menganggap bahwa yang dilarang untuk diberikan sebelum 6 bulan hanyalah pemberian makanan padat seperti pisang atau bubur, karena akan berbahaya bagi bayi, sedangkan pemberian cairan terutama air putih tidak akan berdampak apapun dan dapat dijadikan sebagai pendamping ASI selama 6 bulan pertama. Tabel 20 menyajikan sebaran riwayat pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama usia balita.

Tabel 20 Sebaran riwayat pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama

ASI eksklusif n %

Ya 0 0.0

Tidak 30 100.0

Total 30 100.0

Makanan/minuman yang diberikan sebelum 6 bulan n %

air putih 26 86.7 madu 12 40.0 bubur saring 2 6.7 biskuit 1 3.3 bubur tepung 4 13.3 pisang 3 10.0 susu 2 6.7

Tabel 21 menunjukkan bahwa sebagian besar ibu yang memberikan air putih sebagai pendamping ASI pada 6 bulan pertama usia bayi (60.0%) menyatakan khawatir bayi akan haus. Mereka menganggap bahwa ASI adalah makanan bukan minuman sehingga air putih dibutuhkan untuk menghilangkan rasa seret setelah pemberian ASI, serta untuk menghilangkan rasa haus bayi. Air putih mulai diberikan setelah bayi lahir. Para ibu yang memberikan madu, sebagian besar (40.0%) dilatarbelakangi oleh alasan budaya dikarenakan ASI belum keluar sebelum hari ketiga setelah melahirkan sehingga madu akan diberikan sebagai pengganti setelah lahir sampai ASI keluar. Sementara persentase tertinggi ibu yang memberikan makanan padat, seperti bubur saring, biskuit, bubur tepung, pisang, serta susu disebabkan anggapan bahwa bayi lapar karena hanya sedikit ASI yang keluar (20.0%). Makanan padat seperti

(14)

bubur saring, biskuit, bubur tepung, dan pisang hampir seluruhnya diberikan mulai usia 4 bulan (30.0%), sedangkan susu diberikan mulai setelah lahir (6.7%). Tabel 21 Sebaran alasan pemberian makanan/minuman sebelum usia 6 bulan Alasan memberikan makanan/minuman sebelum 6 bulan n %

air putih

takut bayi haus 18 60.0

supaya bayi sehat 1 3.3

gantian dengan ASI 5 16.7

untuk diperjalanan 1 3.3

menurunkan demam 1 3.3

madu

budaya 12 40.0

mengobati sariawan 1 3.3

bubur saring. bubur tepung. pisang dan susu

ingin mencoba memberikan 1 3.3

tambahan ASI 4 13.3

bayi lapar,ASI sedikit atau kurang 6 20.0

ASI tidak keluar 1 3.3

Usia pemberian n %

air putih

0 bulan 26 86.7

madu

0 bulan 12 40.0

bubur saring, biskuit, bubur tepung, dan pisang

<4 bulan 1 3.3

≥4bulan 9 30.0

susu

0 bulan 2 6.7

Menurut Linkages (2002) pemberian cairan sebelum bayi berusia 6 bulan berisiko membahayakan kesehatan bayi. Tambahan cairan sebelum waktunya akan meningkatkan resiko kekurangan gizi dan resiko terkena penyakit. ASI telah mengandung air sebagai komponen utama, yaitu sebanyak 88% ASI mengandung semua yang diperlukan untuk menghilangkan rasa haus dan membuat bayi merasa kenyang. ASI adalah makanan dan minuman terbaik bagi bayi agar tumbuh kuat dan sehat. Konsumsi air putih atau cairan lain meskipun dalam jumlah yang sedikit, akan membuat bayi merasa kenyang sehingga tidak mau menyusu, padahal ASI kaya dengan gizi yang sempurna untuk bayi.

Meskipun madu tampaknya seperti makanan sehat dan alami untuk bagi bayi, pemberian madu sebelum 1 tahun banyak tidak direkomendasikan. Hal ini

(15)

disebabkan madu beresiko mengandung bakteri Clostridium botulinumyang bisa menghasilkan racun pada saluran cerna bayi yang belum sempurna dan dikenal sebagai toksin botulinum (infant botulism) yang berbahaya bagi sistem saraf bayi. Begitu pula bagi pemberian makanan padat yang terlalu dini. Apabila bayi diberikan makanan tambahan di bawah usia 6 bulan, maka ada kemungkinan bayi dapat mengalami gangguan pencernaan maupun alergi. Hal ini disebabkan sistem pencernaan dan sistem kekebalan tubuh bayi yang masih belum sempurna. Pemberian makanan padat yang terlalu dini juga dapat menyebabkan beban yang berlebihan bagi ginjal bayi dan terjadi hyperosmolalitas (Krisnatuti & Yenrina 2000). Pemberian cairan dan makanan sebelum 6 bulan juga dapat menjadi sarana masuknya bakteri patogen, sementara bayi merupakan tahapan usia yang sangat rentan.

Susu formula adalah produk berupa tepung (umumnya susu sapi) yang telah diformulasikan sedemikian rupa sehingga komposisinya mendekati air susu ibu (Muchtadi 2002). Menurut Arisman (2004) susu formula merupakan susu selain ASI yang diberikan kepada bayi sampai usia satu tahun. Pada penelitian ini juga dilihat persentase riwayat pemberian susu formula sebelum usia 6 bulan pada bayi. Tabel 22 menunjukkan bahwa sebanyak 6.7% ibu memberikan susu formula. Alasan pemberian adalah karena ASI tidak keluar dan sebagai tambahan makanan bagi bayi karena ASI hanya keluar sedikit. Sebagian besar ibu telah menyadari pentingnya pemberian ASI saja dibandingkan susu formula (90.0%).

Tabel 22 Sebaran pemberian susu formula sebelum usia 6 bulan

Susu formula n %

Ya 2 6.7

Tidak 28 93.3

Total 30 100.0

Alasan pemberian susu formula n %

Ya

ASI sedikit atau kurang 1 3.3

ASI tidak keluar 1 3.3

Tidak

tidak mau memberikan/cukup dengan ASI 26 86.7

rawan diare 1 3.3

(16)

Pemberian susu formula tidaklah lebih menguntungkan daripada pemberian ASI. ASI merupakan makanan bayi yang paling sempurna. kandungan gizi sesuai kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal pada anak. ASI juga mengandung zat untuk perkembangan kecerdasan, zat kekebalan (mencegah dari berbagai penyakit) dan dapat menjalin hubungan cinta kasih antara bayi dengan ibu (Judarwanto 2008). Menurut Khasanah (2011) kandungan susu formula tidak bisa menyamai kandungan gizi lengkap ASI meskipun dilakukan usaha fortifikasi. Disisi lain banyak temuan bahwa anak yang diberikan susu formula lebih rentan terkena infeksi, seperti diare atau jatuh sakit karena kurangnya higienitas, serta beresiko menyebabkan alergi. Selain itu harga dari susu formula yang relatif mahal menyebabkan pada beberapa kejadian terdapat kecenderungan untuk mengencerkan susu formula, sehingga kandungan gizinya yang tidak lagi memenuhi kebutuhan bayi (Muchtadi 2002).

Status Gizi Anak Balita

Status gizi adalah salah satu aspek status kesehatan yang dihasilkan dari asupan, penyerapan, dan penggunaan pangan, serta terjadinya infeksi, trauma, dan faktor metabolik. Menurut Suhardjo (1986) status gizi merupakan keadaan tubuh yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan, dan penggunaan makanan. Berdasarkan pemantauan status gizi balita dengan indeks TB/U menggunakan baku antropometri WHO 2005, sebesar 80.0% anak balita memiliki status gizi pendek atau stunted, sedangkan 20.0% anak lainnya berstatus gizi sangat pendek atau severe stunted, dengan rata-rata nilai Z-skor sebesar -2.69. Indikator TB/U berguna untuk menggambarkan status gizi masa lalu sehingga kejadian stunting atau kependekan menggambarkan riwayat kurang gizi kronik atau dalam jangka waktu yang lama. Sebaran status gizi balita dapat dilihat pada Tabel 23.

Tabel 23 Sebaran status gizi anak balita berdasarkan indeks TB/U

Status gizi n %

Pendek (stunted) 24 80.0

Sangat pendek (severe stunted) 6 20.0

Total 30 100.0

(17)

Status Kesehatan Anak Balita

Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi. Tabel 24 menunjukkan bahwa lebih dari separuh anak balita pernah mengalami sakit dalam sebulan terakhir (63.3%).

Tabel 24 Sebaran status kesehatan anak balita dalam satu bulan terakhir

Status kesehatan anak balita n %

Sakit 19 63.3

Tidak sakit 11 36.7

Total 30 100.0

Tabel 25 menunjukkan bahwa jenis penyakit yang paling banyak diderita anak balita dalam satu bulan terakhir adalah batuk, pilek (20.0%) serta pilek/influenza dan panas/demam (16.7%).

Tabel 25 Sebaran jenis penyakit yang diderita anak balita dalam satu bulan terakhir Jenis penyakit n % Pilek 5 16.7 Batuk biasa 2 6.7 Batuk,pilek 6 20.0 Panas/demam 5 16.7

Panas, pilek, batuk (ISPA) 4 13.3

Diare 3 10.0

Sementara Tabel 26 menunjukkan bahwa persentase tertinggi frekuensi sakit anak balita dalam satu bulan terakhir adalah sebanyak satu kali (53.3%). Adapun persentase tertinggi lama anak sakit dalam satu bulan terakhir adalah 4-7 hari (30.0%) dengan rata-rata 4.6 hari.

Tabel 26 Sebaran frekuensi dan lama sakit anak balita dalam satu bulan terakhir

Frekuensi sakit n % 1 kali 16 53.3 > 1 kali 3 10.0 Total 19 63.3 Rata-rata ± SD 1.0 ± 0.20 Lama sakit n % 1-3 hari 8 26.7 4-7 hari 9 30.0 8-14 hari 2 6.7 Total 19 63.3 Rata-rata ± SD 4.6 ± 3.28

(18)

Sanitasi Lingkungan Pemukiman

Menurut Syarief (1992) status gizi juga dipengaruhi oleh sanitasi termasuk sanitasi lingkungan pemukiman. Pemukiman yang sanitasi lingkungannya tidak baik memungkinkan seseorang dapat menderita penyakit infeksi yang dapat menyebabkan seseorang dapat menjadi kurang gizi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan kejadian kurang gizi dan sanitasi lingkungan yang buruk (Yulia 2008). Kondisi sanitasi dilihat dari penyediaan air bersih, jenis lantai rumah, dan kepemilikan kamar mandi.

Sarana Air Bersih

Tersedianya sarana air bersih merupakan salah satu syarat rumah sederhana sehat. Kualitas dari air bersih yang akan digunakan sebagai air minum diantaranya, yaitu jernih, tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau, dan tidak mengandung bibit penyakit. Sebaran sarana air bersih keluarga balita disajikan pada Tabel 27.

Lebih dari separuh keluarga balita menggunakan sumur dengan kedalaman rata-rata 8-12m (60%) sebagai sumber air minum. Sebanyak 16.7% menggunakan ledeng/PAM, sedangkan sebanyak 20.0% keluarga masih menggunakan mata air tak terlindungi, dan 3.3% keluarga menggunakan sungai. Sebanyak 53.3% dari pengguna sumur memakai pompa mesin untuk mengalirkan air, sementara 6.7% lainnya masih timba.

Tabel 27 Sebaran sarana air bersih keluarga balita Sarana penyediaan air bersih n % Mata air tidak terlindungi 6 20.0

PAM 5 16,7

Sumur terlindungi 18 60.0

Sungai 1 3.3

Total 30 100

Menurut Subandriyo et al (1997) dalam Sukandar (2007), sumber minum air yang bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa, air ledeng, sumur yang terlindungi, dan mata air yang terlindungi. Berdasarkan sarana penyediaan air bersih yang digunakan keluarga balita, hanya keluarga yang menggunakan PAM (air ledeng) dan sumur yang dapat memberikan air yang bersih dan sehat bagi anggota keluarga selama kebersihan sumur terus dapat terlindungi dengan baik dari segala macam pencemaran yang dapat merusak kualitas air.

(19)

Jenis Lantai Rumah

Lantai merupakan bagian dari rumah yang paling banyak berinteraksi dengan seluruh anggota keluarga, tidak terkecuali anak balita. Jenis lantai rumah dapat mempengaruhi tingkat kesakitan anak balita, sebab lantai dapat menjadi sumber penyakit seperti cacingan dan penyakit penyebab sakit perut (Latifah et al. 2002). Sebaran jenis lantai rumah keluarga balita disajikan pada Tabel 28.

Tabel 28 Sebaran jenis lantai rumah keluarga balita

Lantai rumah n % Keramik 14 46.7 Plester/semen 15 50.0 Bambu 1 3.3 Total 30 100

Seluruh keluarga balita telah memiliki rumah dengan lantai yang sesuai dengan persyaratan rumah sehat, dengan persentase tertinggi menggunakan lantai plester/semen (50.0%). Menurut Latifah et al. (2002) rumah dikatakan sehat apabila memenuhi persyaratan, yaitu lantai rumah harus mudah dibersihkan seperti keramik, teraso, tegel atau semen, dan kayu atau bambu.

Kepemilikan Kamar Mandi

Pengelolaan pembuangan limbah kotoran manusia merupakan hal penting yang harus diperhatikan, dikarenakan banyak penyakit yang dapat disebabkan melalui pembuangan manusia. Penyakit-penyakit tersebut disebarkan melalui air (water borne disease), seperti penyakit pada saluran cerna, infeksi cacing gelang, dan disentri (Yulia 2008). Menurut Entjang (2000) pembuangan kotoran yang tidak sesuai dengan aturan akan memudahkan terjadinya water borne disease.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 70.0% keluarga balita telah mempunyai WC sendiri, 20.0% menggunakan WC umum, sedangkan sebanyak 10.0% membuang hajat di sungai. Sebaran kepemilikan kamar mandi keluarga balita dapat dilihat pada Tabel 29.

Tabel 29 Sebaran kepemilikan kamar mandi keluarga balita

Kamar Mandi n %

Sungai 3 10.0

WC sendiri 21 70.0

WC umum 6 20.0

(20)

Perilaku Higiene

Higiene merupakan usaha kesehatan untuk mencegah penyakit. Menurut Fewtrell et al. (2007), sanitasi dan higiene dapat berpengaruh terhadap kejadian infeksi, seperti diare dan ISPA, yang kemudian dapat menjadi penyebab terjadinya kekurangan gizi.

Perilaku Higiene Ibu

Perilaku higiene ibu yang dilihat pada penelitian ini adalah mencuci bahan makanan sebelum dimasak, memasak air (minum) hingga mendidih, mencuci tangan dengan sabun sebelum mengolah makanan, dan mencuci tangan dengan sabun sebelum memberi makan anak balita. Tabel 30 menunjukkan sebaran perilaku higiene ibu balita.

Tabel 30 Sebaran perilaku higiene ibu balita Perilaku higiene ibu Selalu

Kadang-kadang

Tidak

pernah Total

n % n % n % n %

Mencuci bahan makanan

sebelum dimasak 30 100.0 0 0.0 0 0.0 30 100.0

Memasak air (minum) hingga

mendidih 30 100.0 0 0.0 0 0.0 30 100.0

Mencuci tangan dengan sabun

sebelum mengolah makanan 8 26.7 12 40.0 10 33.3 30 100.0 Mencuci tangan dengan sabun

sebelum memberi makan anak balita

12 40.0 7 23.3 11 36.7 30 100.0

Mencuci atau membersihkan bahan makanan sebelum dimasak merupakan hal yang tidak boleh dianggap remeh. Bahan makanan yang berasal dari pasar, warung, atau kebun biasanya masih kotor dan mengandung berbagai macam kotoran atau telah terkontaminasi oleh lalat maupun debu. Pencucian bahan-bahan makanan sampai bersih terutama sayuran dapat menghilangkan telur-telur cacing yang menempel di sayuran tersebut. Pencucian bahan makanan sebelum dimasak dapat mencegah terjadinya infeksi cacing ke dalam tubuh (cacingan).

Penyediaan air minum yang bersih dan bebas penyakit bagi anggota keluarga terutama balita yang masih sangat rentan terhadap penyakit dapat dilakukan dengan merebus air hingga mendidih. Harianto (2004) dalam Yulia (2008) mengemukakan bahwa penyakit diare bisa berasal dari air minum yang tidak direbus sampai mendidih.

(21)

Penyakit cacingan dan diare merupakan penyakit infeksi yang cukup banyak berhubungan dengan kejadian kurang gizi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh ibu balita telah membiasakan mencuci bahan makanan sebelum dimasak dan memasak air minum hingga mendidih.

Tangan merupakan salah satu jalur masuknya bakteri dan virus ke dalam tubuh serta menjadi penghantar penularan berbagai penyakit. Tangan manusia dalam waktu yang singkat dapat saja bersentuhan dengan berbagai bahan/benda yang mengandung bakteri/virus, seperti tinja, urin, tanah, air, dan sebagainya. Cuci tangan dengan sabun dapat menghilangkan sejumlah besar virus dan bakteri yang menjadi penyebab berbagai penyakit, terutama penyakit yang menyerang saluran cerna, seperti diare dan penyakit infeksi saluran nafas akut. Hampir semua orang mengerti pentingnya cuci tangan dengan sabun, namun tidak membiasakan diri untuk melakukannya dengan benar pada saat yang penting.

Persentase terbesar ibu hanya kadang-kadang mencuci tangan dengan sabun sebelum mengolah makanan (40.0%). Sementara ibu yang selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum memberi makan anak mempunyai perbandingan yang tidak jauh berbeda dengan yang tidak pernah melakukannya (40.0% dan 36.7%). Para ibu yang tidak pernah mencuci tangan dengan sabun sebelum menyuapi anak balita beralasan menggunakan sendok untuk menyuapi anaknya sehingga tidak perlu mencuci tangannya terlebih dahulu.

Perilaku Higiene Anak Balita

Kebersihan adalah faktor yang besar pengaruhnya terhadap kesehatan. Menurut Depkes RI (1997), beberapa kebiasaan yang harus dibiasakan kepada anak agar mereka dapat belajar menjaga kesehatannya sendiri sejak dini, antara lain memotong kuku setiap minggu, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar, serta menggunakan alas kaki saat berada di luar rumah. Sebaran perilaku higiene anak balita disajikan pada Tabel 31.

Pentingnya kebiasaan mencuci tangan sebelum makan masih belum disadari secara penuh oleh para ibu balita. Hal ini terlihat dari persentase tertinggi anak balita tidak pernah dibiasakan mencuci tangan sebelum makan (40.0%). Usaha preventif lain yang dilakukan untuk mencegah bakteri, virus, cacing, dan zat-zat berbahaya lainnya masuk ke dalam tubuh adalah dengan mencuci tangan dengan sabun setelah buang air kecil/besar, menggunakan alas

(22)

kaki jika bermain di luar rumah, dan menggunting kuku. Sebagian besar anak balita sudah terbiasa untuk selalu mencuci tangan setelah buang air kecil/besar (60.0%) dan menggunakan alas kaki di luar rumah (53.3%). Sebagian ibu mengaku kesulitan mengajarkan anak untuk selalu menggunakan alas kaki di luar rumah. Sebanyak 43.3% anak umumnya menggunakan sendal jika keluar rumah kemudian melepasnya ketika bermain.

Tabel 31 Sebaran perilaku higiene anak balita Perilaku higiene anak balita Selalu

Kadang-kadang

Tidak

pernah Total

n % n % n % n %

Mencuci tangan dengan sabun

sebelum makan 9 30.0 9 30.0 12 40.0 30 100.0

Mencuci tangan dengan sabun

setelah buang air kecil/besar 18 60.0 5 16.7 5 16.7 28 93.3 Menggunakan alas kaki jika

bermain di luar rumah 16 53.3 13 43.3 1 3.3 30 100.0

Pengguntingan kuku balita merupakan hal yang penting dalam usaha penjagaan kebersihan dan kesehatan balita. Kuku balita tumbuh dengan cepat dan mudah kotor terutama ketika mereka sedang bermain, sehingga berpotensi menjadi jalan masuk bakteri maupun telur cacing ke dalam tubuh. Pengguntingan kuku anak balita umumnya masih dilakukan oleh ibu balita, sehingga penjagaan kebersihan kuku balita masih tergantung pada kebiasaan yang dilakukan oleh para ibu. Lebih dari separuh anak balita telah terbiasa digunting kukunya setiap seminggu sekali (53.3%), sedangkan 30.0% lainnya digunting setiap dua minggu sekali. Hanya 16.7% balita yang dibiasakan digunting kuku lebih dari satu kali dalam seminggu.

Pola Asuh Makan Anak Balita

Tumbuh kembang anak yang optimal membutuhkan dukungan pengasuhan yang berkualitas baik pula, salah satunya adalah pola asuh makan anak balita yang diterapkan orang tua terutama ibu sebagai penanggung jawab utama dalam pengasuhan anak. Pola asuh makan anak mengacu pada apa dan bagaimana anak makan, serta situasi yang terjadi saat makan (Hastuti 2006). Karyadi (1985) menyatakan bahwa pola asuh makan merupakan praktek-praktek pengasuhan yang berkaitan dengan cara dan situasi pemberian makan kepada anak.

(23)

Tabel 32 Sebaran praktek pemberian makan anak

Praktek pemberian makan n %

Susunan menu makan balita

Makanan pokok, lauk pauk/sayur 21 70.0

Makanan pokok, lauk pauk, sayur/ buah 9 30.0

Makanan pokok, lauk pauk, sayur, buah 0 0.0

Total 30 100.0

Jadwal makan teratur

Ya 19 63.3

Tidak 11 36.7

Total 30 100.0

Frekuensi makan dalam sehari

1 kali 2 6.7

2 kali 12 40.0

3 kali 13 43.3

> 3 kali 3 10.0

Total 30 100.0

Kebutuhan gizi anak balita dapat terpenuhi melalui praktek pemberian makan yang tepat, serta dengan kuantitas dan kualitas yang cukup. Berdasarkan tabel 32 di atas, sebagian besar anak balita hanya biasa diberikan makanan pokok dan lauk pauk atau sayur (70.0%) dalam menu sehari-harinya. Penentuan menu pada umumnya mengikuti kemauan makan anak yang hanya mau makan hanya dengan lauk saja atau dengan sayur saja, serta mengikuti daya beli yang tidak mampu membeli buah setiap hari, tanpa diiringi pengetahuan yang cukup mengenai pemilihan makanan bergizi dan peranan pentingnya bagi tumbuh kembang balita. Pemilihan makanan yang kurang tepat bagi anak balita dalam menu makannya sehari-hari akan mempengaruhi kecukupan gizinya dan pada akhirnya akan berdampak pada proses tumbuh kembangnya.

Pembiasaan jadwal makan yang teratur hanya dilakukan oleh 63.3% ibu. Pemberian makan dengan jadwal yang tidak teratur dapat menyebabkan anak balita susah makan dan akhirnya tidak dapat terpenuhi kebutuhan gizinya. Apabila waktu makan dan sarapan tidak teratur akan membuat mereka biasa melewati waktu makannya dan menyebabkan dirinya tidak lagi merasa lapar (Meutiara 2010). Belum lagi apabila penerapan jadwal makan yang tidak teratur menyebabkan jadwal makan selingan dan minum susu yang terlalu dekat dengan waktu makan utama anak, sehingga membuat anak menjadi enggan untuk makan karena merasa kenyang atau hanya mau makan sedikit (Febry &

(24)

Marendra 2008). Apabila dibiarkan, maka dengan sendirinya asupan gizi anak balita tidak dapat terpenuhi dengan baik.

Hanya 43.3% anak yang biasa memiliki frekuensi makan 3 kali sehari belum termasuk selingan. Jumlah frekuensi makan anak balita dalam sehari akan mempengaruhi konsumsi pangannya. Anak balita yang makan lebih dari 3 kali dalam sehari kemungkinan akan lebih mencukupi kebutuhan gizinya dibandingkan dengan anak yang hanya makan 2 kali sehari.

Pola asuh makan yang baik bukan hanya mengenai bagaimana memberi makan dengan pola gizi yang baik dan sesuai dengan usia anak, namun juga melibatkan adanya interaksi antara ibu dan anak. Perilaku ibu saat memberi makan anak serta situasi dan kondisi ketika anak diberi makan dapat berpengaruh terhadap konsumsi pangan anak dan pada akhirnya berpengaruh terhadap status gizinya. Situasi dan kondisi saat makan sangat mempengaruhi seseorang dalam menikmati makanannya. Seorang anak balita masih sangat tergantung kepada orang dewasa dalam hal makan, sehingga seorang ibu harus mengetahui beberapa hal agar anak balita tersebut nyaman dalam menyantap makanannya.

Separuh ibu membangun kebiasaan makan anaknya dalam situasi disiplin duduk di dalam rumah, baik sambil menonton televisi atau makan bersama anggota keluarga lainnya, sedangkan 46.7% ibu lainnya membiarkan anaknya makan di luar rumah sambil bermain. Para orang tua hendaknya mengupayakan agar aktifitas makan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Usaha sebagian ibu hanya difokuskan pada bagaimana membuat anaknya mau makan dan menghabiskan makanannya bukan membangun aktifitas makan sebagai sesuatu yang menyenangkan. Perilaku ibu yang mengajak anaknya makan sambil jalan-jalan atau bermain dengan tujuan agar anak mau makan beresiko makanannya akan tercemar debu sehingga berpotensi menularkan penyakit. Orang tua sebaiknya membiarkan anak untuk makan di dalam rumah sehingga anak paham bahwa makan sebaiknya dilakukan ditempatnya (Westcott 2008). Membangun suasana yang menyenangkan saat makan dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain penyediaan alat makan yang desain yang menarik, melakukan kegiatan yang disukai anak seperti bercerita atau mendengarkan lagu yang disukainya, dan makan bersama dengan anggota keluarga lain atau bersama temannya sehingga ia menjadi lebih bersemangat (Farida 2008).

(25)

Menghadapi anak yang susah makan, 50.0% ibu memilih untuk membuat makanan lain yang disukai anak. Akan tetapi variasi yang dibuat ibu hanya berupa memasakkan makanan yang biasa disukai anak dan terbatas pada hanya beberapa menu saja. Para ibu balita kurang dapat memvariasikan menu dengan berbagai cara pengolahan ataupun cara penghidangan sehingga anak cenderung bisa menjadi bosan. Menu makanan yang bervariasi dengan tetap memperhatikan komposisi gizinya dan penyajian makanan yang menarik dapat mempengaruhi selera makan anak, baik dari penampilan, tekstur, aroma, warna, dan besar porsi (Febry & Marendra 2008). Menurut Khumaidi (1989) bahwa masalah gizi yang terjadi di pedesaan salah satunya dipengaruhi oleh pengetahuan gizi ibu yang sangat rendah yaitu para ibu tidak mengetahui cara memasak dan menghidangkan makanan agar anaknya tidak bosan. Pengetahuan ibu tentang memilih makanan yang bernilai gizi baik juga masih sangat rendah.

Problema penolakan makan oleh anak balita dihadapi sebagian besar ibu dengan cara merayu anak (76.7%). Di pedesaan cara yang banyak digunakan ibu dalam merayu atau membujuk anak agar mau makan adalah dengan menjanjikan sesuatu kepadanya. Sedangkan persentase terbesar ibu akan membiarkan ketika tiba-tiba anaknya berhenti makan sebelum makanannya habis (40%). Pada umumnya mereka beranggapan anak sudah kenyang sehingga tidak menghabiskan makannya.

Pemberian pujian ketika anak makan dengan lahap dapat meningkatkan semangat anak untuk makan. Hampir seluruh ibu memberikan pujian ketika anaknya makan dengan lahap (96.7%). Seluruh ibu balita juga memprioritaskan memberi makan anak dibandingkan kesibukan pekerjaannya. Para ibu memilih untuk menunda pekerjaannya dan segera memberi makan anak ketika anak meminta untuk makan. Seluruh ibu balita juga selalu memantau sisa makanan anaknya meskipun beberapa diantaranya sudah terbiasa makan sendiri tanpa disuapi. Sementara sebanyak 6.7% ibu menyatakan bahwa anaknya tidak pernah mengalami kesulitan makan dan selalu menghabiskan makanannya. Sebaran perilaku ibu dalam pemberian makan anak balita dapat dilihat pada Tabel 33.

(26)

Tabel 33 Sebaran perilaku ibu dalam pemberian makan anak

Perilaku ibu dalam pemberian makan n %

Situasi makan anak

Disiplin makan, duduk di dalam rumah 15 50.0

Sambil bermain di luar rumah 14 46.7

Situasi tidak diperhatikan 1 3.3

Total 30 100.0

Tindakan ibu apabila anak susah makan

Mengganti dengan jajanan 9 30.0

Membuatkan makanan lain 15 50.0

Memaksa anak untuk makan 2 6.7

Mengganti dengan jajanan+membuatkan makanan lain 2 6.7

Total 28 93.3

Tindakan ibu apabila anak menolak makan

Mengganti dengan jajanan 4 13.3

Memaksa anak untuk makan 1 3.3

Merayu anak agar mau makan 23 76.7

Total 28 93.3

Pemberian pujian apabila anak makan dengan lahap

Ya 29 96.7

Tidak 1 3.3

Total 30 100.0

Tindakan ibu apabila anak berhenti makan

Menunggu kemudian menawarkan kembali 10 33.3

Memaksa anak makan kembali 5 16.7

Memarahi anak 1 3.3

Membiarkan 12 40.0

Total 28 93.3

Tindakan ibu apabila anak meminta makan ketika ibu

sedang sibuk

Memberikan makan dengan segera 30 100.0

Menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu 0 0.0

Membiarkan atau tidak menghiraukan 0 0.0

Total 30 100.0

Pemantauan sisa makanan anak

Selalu 30 100.0

Kadang-kadang 0 0.0

Tidak pernah 0 0.0

(27)

Frekuensi Konsumsi Pangan Sumber Protein Hewani

Konsumsi pangan hewani yang cukup merupakan syarat penting untuk terpenuhinya gizi tubuh sehari-hari. Pangan hewani merupakan pangan bermutu tinggi karena mengandung asam amino esensial yang lengkap, kaya akan vitamin B12 dan vitamin A, mengandung zat besi heme yang mudah diserap, dan mempunyai nilai cerna protein yang tinggi (Khomsan 2002) sehingga sangat penting peranannya untuk untuk memberikan pertumbuhan secara optimal.

Khomsan (2004) menyatakan bahwa frekuensi konsumsi pangan per hari merupakan salah satu aspek dalam kebiasaan makan. Frekuensi konsumsi pangan bisa menjadi penduga tingkat kecukupan gizi, artinya semakin tinggi frekuensi konsumsi pangan, maka peluang terpenuhinya kecukupan gizi semakin besar.

Protein hewani dapat diperoleh dari berbagai bahan pangan dan olahannya. Pangan sumber protein hewani yang paling sering dikonsumsi anak balita adalah susu dengan rata-rata frekuensi 8.5 kali/minggu, sementara yang paling jarang dikonsumsi adalah makanan olahan ikan dalam bentuk otak-otak yang hanya dikonsumsi 1.0 kali/minggu. Sebaran frekuensi pangan sumber protein hewani anak balita dapat dilihat pada Tabel 34.

Tabel 34 Sebaran frekuensi konsumsi pangan sumber protein hewani anak balita Jenis pangan Frekuensi (kali/minggu) Berat (g/hari)

Susu 8.5 185.8 Telur 4.4 45.7 Ikan teri 3.2 5.7 Sosis 3.1 19.4 Sate Ayam 2.2 8.5 Ikan tongkol 1.8 9.0 Ayam 1.4 10.2 Bakso 1.3 6.6 Nugget 1.1 7.3 Otak-otak 1.0 4.8

Pangan sumber protein hewani yang paling banyak dikonsumsi anak balita stunting adalah susu dengan berat 185.8 gram/hari. Telur merupakan pilihan pangan lauk hewani yang paling banyak dipilih balita stunting dalam menu sehari-hari dengan frekuensi 4.4 kali/minggu dan berat konsumsi 45.7 gram/hari atau hampir setara dengan sebutir telur (60 gram). Sedangkan sosis merupakan

(28)

pangan hewani yang paling banyak dipilih sebagai jajanan oleh anak balita stunting dengan frekuensi 3.1 kali/minggu dan berat 19.4 gram mendekati satu buah sosis setiap harinya (25 gram).

Faktor Budaya

Banyak sekali penemuan para peneliti yang menyatakan bahwa faktor budaya sangat berperan dalam proses terjadinya masalah gizi di berbagai masyarakat dan negara. Unsur-unsur budaya mampu menciptakan suatu kebiasaan makan penduduk yang kadang-kadang bertentangan dengan prinsip-prinsip ilmu gizi (Suhardjo 2005).

Tabu Makanan

Pantangan atau tabu makanan adalah suatu larangan untuk mengkonsumsi jenis makanan tertentu, karena terdapat ancaman bahaya atau hukuman terhadap barang siapa yang melanggarnya (Suhardjo 1989). Banyak faktor yang mendasari tabu makanan, misalnya karena magis, kepercayaan, takut berkomunikasi, kesehatan, dan lain-lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tabu makanan sama sekali tidak dijalankan kepada satu anak balita pun dalam keluarga balita seperti yang terlihat pada Tabel 35, sehingga tidak akan mempengaruhi konsumsi pangan dan kecukupan gizi anak balita.

Tabel 35 Sebaran tabu makanan pada anak balita

Tabu makanan n %

Ada 0 0.0

Tidak ada 30 100.0

Total 30 100.0

Distribusi Makanan dalam Keluarga

Distribusi konsumsi pangan yang tidak baik (maldistribution) diantara anggota keluarga dapat mendukung terjadinya masalah gizi kurang pada balita yang termasuk kelompok rawan gizi (Suhardjo 2005), sebab prioritas pemberian makanan dalam keluarga akan mempengaruhi kualitas konsumsi pangan setiap anggota keluarga. Anak balita yang tidak mendapat prioritas utama pemberian makan dalam keluarga hanya akan mendapat sisa-sisa dari anggota keluarga lainnya, sehingga akan mempengaruhi kecukupan gizinya yang sangat penting dalam masa tumbuh kembangnya.

(29)

Tabel 36 Sebaran prioritas pemberian makan dalam keluarga balita

Prioritas pemberian makan n %

Bapak 1 3.3

Anak-anak 19 63.3

Tidak ada/bareng-bareng 10 33.3

Total 30 100.0

Tabel 36 menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua telah menempatkan anak-anak sebagai prioritas utama dalam pemberian makan keluarga (63.3%), sementara 33.3% lainnya tidak memberlakukan prioritas dalam distribusi makanan dalam keluarga.

Persepsi Ibu terhadap Tinggi Badan Anak

Perilaku individu seringkali didasarkan pada persepsi mereka tentang kenyataan, bukan pada kenyataan itu sendiri. Hasil wawancara kepada para ibu mengenai persepsi mereka terhadap tinggi badan anaknya menunjukkan hanya 30.0% ibu yang merasa bahwa anak mereka memiliki tinggi yang kurang, sedangkan 70.0% lainnya merasa anaknya memiliki tinggi badan yang normal atau hanya memiliki kekurangan pada berat badan dan bukan pada tinggi badan.

Tinggi badan merupakan hal yang tidak banyak mendapat perhatian dari para orang tua, dikarenakan terbatasnya pengetahuan mereka mengenai arti penting tinggi badan. Hal ini dapat terlihat dari persepsi ibu mengenai pengukuran tinggi badan di Posyandu. Ketika ditanyakan mengenai arti pentingnya pengukuran tinggi badan di Posyandu, seluruh ibu menyatakan bahwa pengukuran tersebut merupakan hal yang penting untuk mengetahui pertumbuhan atau pertambahan tinggi badan anak. Akan tetapi pada kenyataannya, hanya kurang dari 20% ibu yang benar-benar mengetahui tinggi badan anak maupun pertambahannya pada pengukuran terakhir. Meskipun demikian, ingatnya kurang dari 20% ibu tersebut terhadap tinggi badan anaknya, tidak berarti mereka mengetahui makna hasil pengukuran tersebut terhadap kondisi pertumbuhan anaknya. Hal ini disebabkan rendahnya pengetahuan para ibu mengenai pertumbuhan linier anak serta tidak adanya sosialisasi maupun evaluasi mengenai makna hasil pengukuran tinggi badan dari Posyandu maupun Puskemas sebagai perwakilan Dinas Kesehatan, seperti berapa tinggi badan seharusnya untuk tiap tahapan usia dan apa makna jika tinggi badan anak kurang, atau sama dengan, atau lebih tinggi dari standar yang telah ditetapkan.

(30)

Di Posyandu, status gizi anak balita berdasarkan tinggi badan menurut umur (TB/U), belum menempati posisi penting seperti halnya berat badan menurut umur (BB/U). Hal ini terlihat dari tidak adanya evaluasi akan hasil pengukuran tinggi badan baik kepada ibu balita maupun dalam pencatatan administrasi. Pelaporan kejadian kependekan atau stunting juga tidak dimasukkan ke dalam pelaporan keadaan gizi anak setiap 6 bulan sekali, seperti halnya hasil evaluasi terjadinya gizi kurang dan gizi buruk. Pendugaan anak cenderung memiliki tinggi badan cukup atau kurang, hanya didasarkan pada persepsi para ibu dan kader dengan membandingkan tinggi badan antar anak secara kasar, sehingga pada beberapa wilayah Posyandu yang dijadikan contoh, ditemukan banyak kejadian stunting pada anak balita yang luput dari pengetahuan orang tua bahkan kader Posyandu. Hal ini dikarenakan mereka beranggapan bahwa tinggi badan anak-anak tersebut masih normal bahkan lebih tinggi dari anak lainnya. Mereka tidak mengetahui bahwa justru yang terjadi antar anak-anak tersebut adalah perbedaan tingkat keparahan kejadian stunting. Hampir seluruh ibu yang mengakui anaknya memiliki tinggi badan yang kurang, ketika ditanyakan lebih lanjut mengenai perasaan mereka terhadap kependekan anaknya, menyatakan bahwa perasaan mereka biasa saja. Beberapa ibu menganggap bahwa kondisi tersebut merupakan “bakat” atau turunan dari orang tuanya, ibu lainnya menyatakan telah berusaha menaikkan gizi anak tapi tidak berhasil, dan sebagian besar ibu beranggapan bahwa anaknya pasti akan tumbuh tinggi seiring pertambahan usianya nanti. Anggapan-anggapan tersebut umumnya telah membuat mereka pasrah dengan kondisi yang terjadi, namun tidak menganggapnya sebagai suatu masalah dalam tumbuh kembang anaknya. Beberapa ibu juga berpandangan bahwa tidak mengapa anaknya bertubuh pendek, karena yang terpenting mereka sehat atau tidak sakit-sakitan dan gesit atau lincah.

“Anak saya pendek karena sudah bakat. Bapaknya juga kecil.”

“Biarinlah pendek yang penting sehat. Nanti juga tumbuh tinggi. Kakaknya juga dulu begitu.”

“Sedih sih badannya kecil, pendek, tapi dia mah paling lincah dibanding yang lain yang badannya lebih besar juga. Jadi biarin deh.”

Para ibu juga mengakui masih mempunyai harapan bahwa anaknya akan tumbuh tinggi terutama ketika sudah masuk sekolah nanti, sehingga kependekan yang terjadi tidak mengganggu masa depan anaknya. Selain itu, para ibu di

(31)

pedesaan juga cenderung tidak mempunyai cita-cita yang tinggi terhadap masa depan anaknya. Kebanyakan mereka hanya berpikir untuk menyekolahkan anaknya maksimal hingga SMA, sehingga masa depan anaknya pun bukanlah sesuatu yang tinggi dan tinggi badan bukan menjadi masalah atau batu sandungan bagi masa depan anaknya kelak.

Kejadian stunting di pedesaan ibarat fenomena gunung es yang tertutup oleh kasus gizi buruk yang lebih mendapat perhatian. Belum adanya perhatian serius dari semua pihak mengenai masalah gizi ini baik dari sisi preventif maupun kuratif meningkatkan peluang semakin bertambahnya prevalensi balita stunted yang pada akhirnya berpotensi mengganggu proses tumbuh kembang anak yang optimal.

Perkembangan Bahasa Anak Balita

Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Menurut Yusuf (2010) dalam berbahasa. anak dituntut untuk menuntaskan empat tugas pokok yang satu sama lainnya saling berkaitan. Pertama, pemahaman, yaitu kemampuan memahami makna ucapan orang lain. Kedua, pengembangan perbendaharaan kata, Ketiga, penyusunan kata-kata menjadi kalimat dan terakhir adalah kemampuan mengucapkan kata-kata. Sementara menurut Hizni et al. (2009) perkembangan bahasa adalah kemampuan anak untuk mendengarkan, mengerti, dan berkomunikasi aktif sesuai tahapan usia anak.

Pengukuran perkembangan bahasa pada penelitian ini dilakukan terhadap tiga kelompok usia balita, yaitu usia 2.5-3.4 tahun (30-41 bulan), 3.5-4.4 tahun (42-53 bulan), dan usia 4.5-5.4 tahun (54-65 bulan). Indikator masing pengukuran berbeda sesuai dengan tugas perkembangan masing-masing kelompok usia. Persentase tertinggi perkembangan bahasa anak termasuk pada kategori rendah (40.0%). Sebaran perkembangan bahasa anak balita dapat dilihat pada Tabel 37.

Tabel 37 Sebaran perkembangan bahasa anak balita

Perkembangan bahasa n % Rendah (>60) 12 40.0 Sedang (60-80) 11 36.7 Tinggi (<80) 7 23.3 Total 30 100.0 Rata-rata ± SD 65.2 ± 20.20

(32)

Tabel 38 Sebaran penguasaan tugas perkembangan bahasa masing-masing kelompok usia balita

Tugas perkembangan bahasa Mampu Tidak mampu

n % n %

Usia 2.5-3.4 tahun (30-41 bulan)

Memberikan informasi tentang diri sendiri 2 15.4 0 0.0

Menirukan kembali urutan kata 12 92.3 1 7.7

Mengikuti perintah sederhana 13 100.0 0 0.0

Memahami bahasa isyarat 6 46.2 3 23.1

Menunjukkan gerakan orang pada gambar 6 46.2 1 7.7

Menyanyikan lagu 2 15.4 4 30.8

Usia 3.5-4.4 tahun (42-53 bulan)

Memberikan informasi tentang diri sendiri 5 38.5 0 0.0

Menirukan kembali urutan kata 0 0.0 0 0.0

Mengikuti perintah sederhana 11 84.6 0 0.0

Memahami bahasa isyarat 4 30.8 3 23.1

Menunjukkan gerakan orang pada gambar 8 61.5 0 0.0

Menyanyikan lagu 1 7.7 5 38.5

Memiliki pembendaharaan kata tentang

keterangan tempat 8 61.5 1 7.7

Mengenal alfabet 1 7.7 12 92.3

Mengurut dan menceritakan isi gambar seri 3 23.1 7 53.8

Usia 4.5-5.4 tahun (54-65 bulan)

Memberikan informasi tentang diri sendiri 0 0.0 1 25.0

Menirukan kembali urutan kata 2 50.0 0 0.0

Mengikuti perintah sederhana 3 75.0 0 0.0

Memahami bahasa isyarat 2 50.0 0 0.0

Menunjukkan gerakan orang pada gambar 4 100.0 0 0.0

Menyanyikan lagu 1 25.0 1 25.0

Memiliki pembendaharaan kata tentang

keterangan tempat 4 100.0 0 0.0

Mengenal alfabet 0 0.0 4 100.0

Mengurut dan menceritakan isi gambar seri 0 0.0 3 75.0

Memberikan alasan 1 25.0 1 25.0

Menghubungkan gambar dengan kata 0 0.0 4 100.0

Bercerita pengalaman sendiri 0 0.0 1 25.0

Tabel 38 menggambarkan sebaran penguasaan tugas perkembangan bahasa pada masing-masing kelompok usia balita. Kemampuan mengikuti perintah sederhana merupakan kemampuan yang dikuasai oleh seluruh balita pada kelompok usia 2.5-3.4 tahun (30-41 bulan), sedangkan kemampuan yang

(33)

paling sedikit dikuasai adalah kemampuan menyanyikan lagu (31%). Pada anak balita kelompok usia 3.5-4.4 tahun (42-53 bulan), kemampuan yang paling banyak dikuasai anak balita adalah kemampuan mengikuti perintah sederhana (84.6%) dan yang paling sedikit dikuasai adalah kemampuan mengenal alfabet (85%). Kemampuan yang dikuasai oleh seluruh anak balita pada kelompok usia 4.5-5.4 tahun (54-65 bulan) adalah kemampuan menunjukkan gerakan orang pada gambar dan kemampuan memiliki pembendaharaan kata tentang keterangan tempat, sedangkan kemampuan yang tidak dikuasai oleh seluruh anak balita adalah mengenal alfabet dan menghubungkan gambar dengan kata. Mengenal alfabet dan membaca merupakan kemampuan yang belum pernah diajarkan kepada anak balita bahkan pada anak kelompok usia 54-60 bulan.

Hubungan Kejadian Stunting dengan Perkembangan Bahasa

Status gizi yang kurang seperti kejadian stunting yang menggambarkan kurang gizi dalam jangka waktu lama pada anak balita, berpotensi mengganggu proses perkembangan anak. Perkembangan otak terutama sejak masa janin sampai usia dua tahun pertama merupakan periode window of opportunity yang membutuhkan gizi yang cukup sehingga dapat berkembang optimal. Kurangnya gizi pada masa-masa penting tersebut dapat menyebabkan terhambatnya perkembangan otak yang juga dapat berdampak pada rendahnya kecerdasan, kemampuan belajar, kreativitas, dan produktivitas anak (Syarief et al. 2007).

Hasil uji korelasi Spearman antara status gizi anak balita dengan perkembangan bahasanya menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan. Hasil ini diduga disebabkan oleh terbatasnya keragaman data yang dikarenakan contoh dalam penelitian hanya terdiri dari anak balita stunted dan severe stunted. Keragaman data yang baik akan diperoleh apabila contoh juga terdiri dari anak balita dengan status gizi normal sehingga dapat lebih jelas terlihat apakah terdapat hubungan antara status gizi dengan perkembangan bahasa.

Namun berdasarkan rata-rata skor perkembangan bahasa, anak-anak yang berstatus gizi severe stunted memiliki rata-rata pencapaian skor perkembangan bahasa yang lebih tinggi dibandingkan anak yang berstatus gizi stunted seperti yang disajikan pada Tabel 39.

Gambar

Tabel 5 Sebaran jumlah penduduk berdasarkan kelompok usia  Kelompok usia  Laki-laki  Perempuan  Jumlah  %
Tabel 6 Sebaran matapencaharian penduduk  Mata pencaharian  Jumlah  %
Tabel 8 Sebaran pekerjaan orang tua balita
Tabel 9 Sebaran keluarga balita berdasarkan garis kemiskinan   Jawa Barat  tahun 2010
+7

Referensi

Dokumen terkait

Diketahuinya hubungan pengetahuan ibu, tingkat pendidikan ibu, tingkat pendidikan ayah, status ekonomi keluarga, jumlah anak dan stimulus dengan motorik kasar pada

Hubungan Pendapatan Keluarga, Pengetahuan Ibu Tentang Gizi, Tinggi Badan Orang Tua, Dan Tingkat Pendidikan Ayah Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Umur 12-59

Variable terikat adalah kejadian infeksi pada anak 1-2 th sedangkan variable bebas adalah tingkat pendidikan ibu, tingkat pendidikan ayah, status ekonomi keluarga, status

Ada hubungan antara perkembangan bahasa dengan pendidikan ibu, karena Semakin tinggi pendidikan ibu maka diharapkan semakin baik pengetahuan ibu tentang

Hal tersebut akan tercapai jika pendidikan anak usia dini mampu mengembangkan pendekatan, dan metode pembelajaran yang mampu mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak,

Di Kecamatan Cicadas secara umum tingkat pendidikan ayah lebih baik dari ibu walaupun masih ada yang tidak tamat SD. Rata-rata nilai matematika anak sudah cukup

Hal ini berarti bahwa semakin tinggi pendidikan ayah maka keterikatan remaja dengan teman sebaya juga akan semakin kecil, karena diduga semakin tinggi pendidikan ayah

Berdasarkan hasil pengolahan skor rata-rata tingkat kepentingan pada masing-masing atribut pelayanan KOGUPE dengan menggunakan Excel 2007, didapatkan hasil penilaian