Foto: Wisnu H.A.
ABSTRACT
PENDAHULUAN
Tumbuhan berkayu pada umumnya memiliki bunga yang muncul di tunas muda, pucuk atau ranting pohon. Namun demikian ada sebagian tumbuhan yang menghasilkan bunga dan buah di batang atau cabang utama. Fenomena bunga yang muncul di batang ini dikenal dengan istilah “cauliflora”, berasal dari kata Latin “caulis” dan “flor” yang artinya “batang” dan “bunga”. Tumbuhan yang menghasilkan bunga dan buah di b a t a n g a t a u c a b a n g u t a m a d i s e b u t “cauliflorous”.
Most plants species produce flowers and fruits on new leafy shoots, twigs or smaller branches. However, some species bear flowers and fruits on the main trunk or major branches.This indication is known as “cauliflory” (from the Latin word “caulis”, meaning “stem” and “flor”, meaning “flower”). The plants themselves are called “cauliflorous”. The plants are considered cauliflorous, such as: cannonball tree (Couroupita guianensis Aubl.), tampui (Baccaurea macrocarpa (Miq.) Müll. Arg.), yellow mahony (Dysoxylum parasiticum (Osbeck) Kosterm.), candle tree (Parmentiera cereifera Seem.), burahol (Stelechocarpus burahol (Blume) Hook.f. & Thomson.), loa tree (Ficus racemosa L.), and belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.).
Berdasarkan pada letak bunga dan buah dikenal beberapa cauliflora, antara lain: simple cauliflora, trunkiflora, basiflora dan ramiflora. Simple cauliflora adalah tumbuhan yang bunganya lebih umum muncul pada batang dan cabang utama daripada di ranting. Jika bunga berkembang hanya pada batang utama disebut trunkiflora. Apabila bunga atau perbungaan berkembang terbatas pada bagian pangkal batang disebut basiflora. Sedangkan ramiflora adalah tumbuhan yang bunganya biasa berkembang pada cabang-cabang yang kecil atau ranting pohon.
Tri Handayani
Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya – LIPI email: [email protected]CAULIFLORA : TUMBUHAN YANG BERBUNGA DI BATANG
Mengapa suatu jenis menjadi cauliflora? Berbagai dugaan telah diungkapkan oleh para ahli tumbuhan. Dugaan tersebut antara lain : menghasilkan bunga dan buah yang berukuran relatif besar, untuk memanfaatkan faktor lingkungan yang ada supaya lebih efisien, memfasilitasi penyerbukan silang dan pemencaran biji serta adanya evolusi tunas bunga. Sayangnya, berbagai pendapat tersebut baru sebatas dugaan dan belum ada bukti penelitian Namun demikian pendapat tersebut dapat dijadikan sebagai acuan dalam memahami pentingnya cauliflora bagi suatu jenis tanaman (Mahr, 2007; Sharma, 2011).
Beberapa contoh tanaman cauliflora ditemukan di hutan hujan tropis. Terdapat lebih dari 100 jenis tanaman dari 15 suku, yang memiliki ciri-ciri tanaman cauliflora. Jenis tanaman cauliflora juga dapat ditemukan pada koleksi tanaman Kebun Raya Bogor. Menurut Hidayat dan Astuti (2009), terdapat 38 jenis tanaman cauliflora yang berpotensi di Kebun Raya Bogor. Jenis-jenis tersebut berpotensi sebagai tanaman buah, tanaman hias, tanaman obat dan penghasil kayu. Jenis-jenis tanaman yang memiliki ciri-ciri cauliflora di Kebun Raya Bogor misalnya: pohon meriam (Couroupita guianensis), burahol (Stelechocarpus burahol), tampui (Baccaurea macrocarpa), pohon lilin (Parmentiera cereifera), nangka (Artocarpus h e t e r o p y l l u s) , j a b o t i c a b a (M y r c i a r i a cauliflora), pohon loa (Ficus racemosa), coklat (Theobroma cacao) dan belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi).
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TANAMAN MENJADI CAULIFLORA
Menurut Amstrong (1998), Mahr (2007) dan Sharma (2011), ada beberapa pendapat yang menjelaskan suatu jenis tanaman menjadi cauliflora, yaitu :
1. Tanaman cauliflora menghasilkan buah-buah yang besar dan cukup berat yang tidak
mungkin didukung oleh cabang-cabang kecil. Pendapat lain karena bunganya tumbuh di batang atau cabang, maka buahnya cenderung menjadi lebih besar dan lebih berat.
2. Tanaman cauliflora lebih efisien dalam memanfaatkan faktor lingkungan yang ada. Bunga dan buah yang tumbuh di batang atau dekat permukaan tanah akan menerima nutrisi dan air yang melimpah dibandingkan dengan yang tumbuh di kanopi.
3. Cauliflorous memfasilitasi penyerbukan silang dan penyebaran biji yang dilakukan oleh hewan-hewan yang tidak dapat mencapai bunga atau buah yang muncul di tunas atau ranting di kanopi. Wallace (1878) dalam Sharma (2011), menyatakan dengan menjadi cauliflora suatu jenis tanaman dapat memanfaatkan layanan yang diberikan oleh hewan-hewan di darat untuk kelangsungan hidupnya sendiri. Sedangkan menurut Stebbins (1974) dalam Amstrong (1998), cauliflora merupakan adaptasi suatu jenis tanaman yang berkaitan erat dengan penyerbukan silang. Jika penyerbukan sendiri tidak dapat dilakukan oleh bunga suatu tanaman cauliflora maka ia membutuhkan bantuan hewan penyerbuk. Hewan penyerbuk di hutan hujan tropis umumnya hidup dan tersebar di permukaan tanah. Beberapa jenis tanaman cauliflora mendapatkan keuntungan dari hewan-hewan tersebut. Selain untuk membantu penyerbukan, hewan-hewan tersebut bermanfaat dalam menyebarkan biji-biji dari buah cauliflorous. Aksesibilitas tampaknya menjadi salah satu alasan penyerbuk dan pemakan buah tertarik pada bunga dan buah penghasil biji yang muncul di batang. Menjadikan bunga dan buah lebih mudah untuk diakses oleh berbagai hewan merupakan strategi yang baik dalam memastikan kelangsungan hidup suatu jenis. Meskipun banyak jenis hewan termasuk burung, kelelawar, mamalia pemanjat atau
Contoh hubungan tanaman cauliflora dengan hewan dapat dilihat pada tanaman burahol (Stelechocarpus burahol) dengan lebah klanceng (Trigona sp.) dan hewan pemencar biji (tupai, musang dan kelelawar). Trigona sp. memiliki nama lokal klanceng, lanceng, kelulut atau teuweul. Lebah ini hinggap di bunga burahol untuk mendapatkan nektar atau serbuk sari (Goodrich, 2012; Saunders, 2012). Proses penyerbukan bunga, umumnya terjadi tanpa disengaja. Ketika mereka mengunjungi suatu bunga ada serbuk sari yang menempel di bagian tubuhnya. Lebah tidak mungkin hanya hinggap di satu bunga, tetapi cenderung berpindah-pindah ke bunga lainnya. Setelah hinggap di satu bunga kemudian berpindah ke bunga lain, serbuk sari yang menempel di tubuhnya tanpa sengaja jatuh dan menempel di kepala putik. D e n g a n d e m i k i a n t e r j a d i l a h p r o s e s penyerbukan bunga burahol.
Tanaman burahol tidak mungkin menyebarkan bijinya sendiri. Ia membutuhkan bantuan hewan untuk memencarkan biji jauh dari induknya, supaya tidak terjadi kompetisi. Selain itu untuk menjaga kelangsungan hidupnya dan terhindar dari kepunahan. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa hewan yang sering mengunjungi buah burahol adalah tupai, musang dan kelelawar. Ketika buah masak, hewan-hewan tersebut memakan buah burahol. Mereka hanya memakan daging buahnya saja, sedangkan bijinya akan jatuh dimana mereka makan. Proses pemencaran biji yang dilakukan oleh tupai, musang dan kelelawar berbeda-beda. Biji-biji sisa dari buah yang dimakan tupai umumnya berserakan tidak jauh dari pohon induknya. Bahkan sebagian besar akan jatuh persis di bawah pohon induk. Sedangkan musang akan memakan daging buah beserta bijinya, kemudian pergi jauh. Biji yang berada di dalam perut musang tidak mengalami proses p e n c e r n a a n , a k i b a t n y a j i k a m u s a n g serangga mengunjungi bunga cauliflora,
ternyata tidak ada yang mengkhususkan diri sebagai penyerbuk tanaman cauliflora. Hewan pengunjung tanaman cauliflora dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu : hewan berkantung yang biasanya memanjat pada batang untuk memakan nektar dan buah, burung pemakan buah, polinator dan kelelawar yang memakan nektar dan buah serta jenis-jenis serangga kecil baik yang merayap maupun terbang (Amstrong, 1998). 4. Dormansi tunas bunga pada batang utama
membutuhkan waktu relatif lama. Selama tumbuh, tunas yang dorman tertutup atau berada di bawah jaringan sekunder. Ketika tunas aktif, tunas-tunas tersebut langsung menerobos kulit batang yang akhirnya bunga muncul pada batang. Sayangnya, berbagai pendapat tersebut baru sebatas dugaan dan belum ada bukti penelitian.
HUBUNGAN CAULIFLORA DENGAN HEWAN
Hewan yang mempunyai hubungan dekat dengan tanaman cauliflora terutama hewan penyerbuk (polinator) dan pemencar biji. Ketertarikan hewan penyerbuk dan pemencar biji terhadap tanaman cauliflora tidak terlepas dari kebutuhan dan kelangsungan hidup hewan tersebut. Hewan mengunjungi tanaman cauliflora karena adanya bonus yang ditawarkan. Sebaliknya, tanaman cauliflora mau menawarkan bonus pada hewan dengan harapan mereka membantu proses penyerbukan bunga atau pemencaran bijinya. Artinya, hubungan kedua belah pihak lebih banyak m e n g u n t u n g k a n d a r i p a d a m e r u g i k a n . Keberadaan tanaman cauliflora akan menjamin kelangsungan hidup hewan penyerbuk dan pemencar biji. Sebaliknya, dengan adanya hewan penyerbuk dan pemencar biji dapat menjamin kelangsungan hidup tanaman cauliflora.
Mengapa suatu jenis menjadi cauliflora? Berbagai dugaan telah diungkapkan oleh para ahli tumbuhan. Dugaan tersebut antara lain : menghasilkan bunga dan buah yang berukuran relatif besar, untuk memanfaatkan faktor lingkungan yang ada supaya lebih efisien, memfasilitasi penyerbukan silang dan pemencaran biji serta adanya evolusi tunas bunga. Sayangnya, berbagai pendapat tersebut baru sebatas dugaan dan belum ada bukti penelitian Namun demikian pendapat tersebut dapat dijadikan sebagai acuan dalam memahami pentingnya cauliflora bagi suatu jenis tanaman (Mahr, 2007; Sharma, 2011).
Beberapa contoh tanaman cauliflora ditemukan di hutan hujan tropis. Terdapat lebih dari 100 jenis tanaman dari 15 suku, yang memiliki ciri-ciri tanaman cauliflora. Jenis tanaman cauliflora juga dapat ditemukan pada koleksi tanaman Kebun Raya Bogor. Menurut Hidayat dan Astuti (2009), terdapat 38 jenis tanaman cauliflora yang berpotensi di Kebun Raya Bogor. Jenis-jenis tersebut berpotensi sebagai tanaman buah, tanaman hias, tanaman obat dan penghasil kayu. Jenis-jenis tanaman yang memiliki ciri-ciri cauliflora di Kebun Raya Bogor misalnya: pohon meriam (Couroupita guianensis), burahol (Stelechocarpus burahol), tampui (Baccaurea macrocarpa), pohon lilin (Parmentiera cereifera), nangka (Artocarpus h e t e r o p y l l u s) , j a b o t i c a b a (M y r c i a r i a cauliflora), pohon loa (Ficus racemosa), coklat (Theobroma cacao) dan belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi).
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TANAMAN MENJADI CAULIFLORA
Menurut Amstrong (1998), Mahr (2007) dan Sharma (2011), ada beberapa pendapat yang menjelaskan suatu jenis tanaman menjadi cauliflora, yaitu :
1. Tanaman cauliflora menghasilkan buah-buah yang besar dan cukup berat yang tidak
mungkin didukung oleh cabang-cabang kecil. Pendapat lain karena bunganya tumbuh di batang atau cabang, maka buahnya cenderung menjadi lebih besar dan lebih berat.
2. Tanaman cauliflora lebih efisien dalam memanfaatkan faktor lingkungan yang ada. Bunga dan buah yang tumbuh di batang atau dekat permukaan tanah akan menerima nutrisi dan air yang melimpah dibandingkan dengan yang tumbuh di kanopi.
3. Cauliflorous memfasilitasi penyerbukan silang dan penyebaran biji yang dilakukan oleh hewan-hewan yang tidak dapat mencapai bunga atau buah yang muncul di tunas atau ranting di kanopi. Wallace (1878) dalam Sharma (2011), menyatakan dengan menjadi cauliflora suatu jenis tanaman dapat memanfaatkan layanan yang diberikan oleh hewan-hewan di darat untuk kelangsungan hidupnya sendiri. Sedangkan menurut Stebbins (1974) dalam Amstrong (1998), cauliflora merupakan adaptasi suatu jenis tanaman yang berkaitan erat dengan penyerbukan silang. Jika penyerbukan sendiri tidak dapat dilakukan oleh bunga suatu tanaman cauliflora maka ia membutuhkan bantuan hewan penyerbuk. Hewan penyerbuk di hutan hujan tropis umumnya hidup dan tersebar di permukaan tanah. Beberapa jenis tanaman cauliflora mendapatkan keuntungan dari hewan-hewan tersebut. Selain untuk membantu penyerbukan, hewan-hewan tersebut bermanfaat dalam menyebarkan biji-biji dari buah cauliflorous. Aksesibilitas tampaknya menjadi salah satu alasan penyerbuk dan pemakan buah tertarik pada bunga dan buah penghasil biji yang muncul di batang. Menjadikan bunga dan buah lebih mudah untuk diakses oleh berbagai hewan merupakan strategi yang baik dalam memastikan kelangsungan hidup suatu jenis. Meskipun banyak jenis hewan termasuk burung, kelelawar, mamalia pemanjat atau
Contoh hubungan tanaman cauliflora dengan hewan dapat dilihat pada tanaman burahol (Stelechocarpus burahol) dengan lebah klanceng (Trigona sp.) dan hewan pemencar biji (tupai, musang dan kelelawar). Trigona sp. memiliki nama lokal klanceng, lanceng, kelulut atau teuweul. Lebah ini hinggap di bunga burahol untuk mendapatkan nektar atau serbuk sari (Goodrich, 2012; Saunders, 2012). Proses penyerbukan bunga, umumnya terjadi tanpa disengaja. Ketika mereka mengunjungi suatu bunga ada serbuk sari yang menempel di bagian tubuhnya. Lebah tidak mungkin hanya hinggap di satu bunga, tetapi cenderung berpindah-pindah ke bunga lainnya. Setelah hinggap di satu bunga kemudian berpindah ke bunga lain, serbuk sari yang menempel di tubuhnya tanpa sengaja jatuh dan menempel di kepala putik. D e n g a n d e m i k i a n t e r j a d i l a h p r o s e s penyerbukan bunga burahol.
Tanaman burahol tidak mungkin menyebarkan bijinya sendiri. Ia membutuhkan bantuan hewan untuk memencarkan biji jauh dari induknya, supaya tidak terjadi kompetisi. Selain itu untuk menjaga kelangsungan hidupnya dan terhindar dari kepunahan. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa hewan yang sering mengunjungi buah burahol adalah tupai, musang dan kelelawar. Ketika buah masak, hewan-hewan tersebut memakan buah burahol. Mereka hanya memakan daging buahnya saja, sedangkan bijinya akan jatuh dimana mereka makan. Proses pemencaran biji yang dilakukan oleh tupai, musang dan kelelawar berbeda-beda. Biji-biji sisa dari buah yang dimakan tupai umumnya berserakan tidak jauh dari pohon induknya. Bahkan sebagian besar akan jatuh persis di bawah pohon induk. Sedangkan musang akan memakan daging buah beserta bijinya, kemudian pergi jauh. Biji yang berada di dalam perut musang tidak mengalami proses p e n c e r n a a n , a k i b a t n y a j i k a m u s a n g serangga mengunjungi bunga cauliflora,
ternyata tidak ada yang mengkhususkan diri sebagai penyerbuk tanaman cauliflora. Hewan pengunjung tanaman cauliflora dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu : hewan berkantung yang biasanya memanjat pada batang untuk memakan nektar dan buah, burung pemakan buah, polinator dan kelelawar yang memakan nektar dan buah serta jenis-jenis serangga kecil baik yang merayap maupun terbang (Amstrong, 1998). 4. Dormansi tunas bunga pada batang utama
membutuhkan waktu relatif lama. Selama tumbuh, tunas yang dorman tertutup atau berada di bawah jaringan sekunder. Ketika tunas aktif, tunas-tunas tersebut langsung menerobos kulit batang yang akhirnya bunga muncul pada batang. Sayangnya, berbagai pendapat tersebut baru sebatas dugaan dan belum ada bukti penelitian.
HUBUNGAN CAULIFLORA DENGAN HEWAN
Hewan yang mempunyai hubungan dekat dengan tanaman cauliflora terutama hewan penyerbuk (polinator) dan pemencar biji. Ketertarikan hewan penyerbuk dan pemencar biji terhadap tanaman cauliflora tidak terlepas dari kebutuhan dan kelangsungan hidup hewan tersebut. Hewan mengunjungi tanaman cauliflora karena adanya bonus yang ditawarkan. Sebaliknya, tanaman cauliflora mau menawarkan bonus pada hewan dengan harapan mereka membantu proses penyerbukan bunga atau pemencaran bijinya. Artinya, hubungan kedua belah pihak lebih banyak m e n g u n t u n g k a n d a r i p a d a m e r u g i k a n . Keberadaan tanaman cauliflora akan menjamin kelangsungan hidup hewan penyerbuk dan pemencar biji. Sebaliknya, dengan adanya hewan penyerbuk dan pemencar biji dapat menjamin kelangsungan hidup tanaman cauliflora.
mengeluarkan kotoran, biji burahol yang keluar sebagai kotoran musang masih dalam bentuk utuh. Pemencaran biji terjadi di tempat-tempat musang membuang kotorannya. Hampir sama dengan musang, kelelawar akan membawa buah burahol jauh dari pohon induknya. Bedanya, jika musang memakan buah beserta bijinya, maka kelelawar hanya memakan daging buahnya saja.
Rasa aman dan kebutuhan tempat tinggal, dapat juga sebagai alasan terjadinya hubungan antara tanaman cauliflora dengan hewan. Sebagai contoh hubungan antara Goniothallamus ridleyi dengan semut merah. G. ridleyi adalah salah satu jenis tanaman yang termasuk ke dalam suku Annonaceae. Di pohon jenis ini seringkali ditemukan banyak semut merah. Hewan tersebut membuat sarang diantara bunga dan buah G. ridleyi. Semut mendapatkan tempat tinggal dan makanan dari pohon. Kehadiran semut akan menguntungkan pohon dari sisi penyerbukan dan rasa aman dari gangguan hewan lain. Lalu lalang semut diantara bunga dapat membantu proses penyerbukan bunga.
Menurut Saunders (2012), polinator utama pada G. ridleyi adalah semut merah. Semut juga akan
memangsa hama ulat yang menyerang G. ridleyi, sehingga pohonnya terlindung dari serangan hama.
JENIS-JENIS TANAMAN CAULIFLORA
Beberapa jenis tanaman cauliflora ditemukan sebagai tanaman koleksi Kebun Raya Bogor, misalnya: pohon meriam (Couroupita guianensis), tampui (Baccaurea macrocarpa), mahoni kuning (Dysoxylum parasiticum), pohon lilin (Parmentiera cereifera), pohon loa (Ficus racemosa), burahol (Stelechocarpus burahol), kayu arang (Diospyros cauliflora), belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi), nam-nam (Cynometra c a u l i f l o r a) , n a n g k a (A r t o c a r p u s heterophyllus), belimbing manis (Averrhoa carambola), bernuk (Cresentia cujete), pohon
coklat (Theobroma cacao) dan jaboticaba (Plinia cauliflora). Berikut akan diuraikan delapan jenis tanaman cauliflora yang menjadi koleksi Kebun Raya Bogor.
Pohon meriam (Couroupita guianensis Aubl.)
Pohon meriam termasuk ke dalam suku Lecythidaceae. Pertama kali diberi nama oleh seorang ahli botani dari Perancis yang bernama Jean Baptiste Christophore Fusee Aublet pada tahun 1775. Merupakan tanaman asli dari daerah Guiana yang terletak di bagian timur laut Amerika Selatan. Jenis ini tersebar di Colombia, Venezuela bagian utara, Guyana, Suriname, Ecuador, Peru dan Brazil. Termasuk tanaman introduksi di negara-negara Asia, seperti India, Sri Langka, Thailand, Singapura dan Indonesia. Di India biasanya ditemukan di kuil-kuil Siwa . Pemeluk Hindu menganggap tanaman ini sebagai pohon suci Siwa dan disebut Naga Lingga karena kelopak bunga menyerupai kap “Naga” (Mostafa, 2014). Di Sri langka dan Thailand, jenis ini ditemukan di sekitar kuil Budha. Dikenal dengan nama “cannonball tree” atau “pohon meriam” karena bentuk dan ukuran buah mirip seperti cannon atau meriam. Tanaman ini banyak menarik perhatian orang karena bunga dan buahnya yang berada di sepanjang batang unik dengan ukuran cukup besar. Pohon yang dapat mencapai tinggi 25-35 meter ini, mempunyai bunga yang diameternya 7-8 cm. Selain bunga besar, warnanya pun cukup mencolok. Perpaduan warna oranye-merah sampai putih di mahkota bunga bagian atas dengan kuning muda di bagian bawah memberi kesan yang kontras. Bunga didukung o l e h t a n g k a i b e r k a y u y a n g p a n j a n g menggantung di sepanjang batangnya. Aroma bunga harum baunya, biasanya tercium pada malam dan pagi hari. Buahnya bulat, besar, berwarna kecoklatan menggantung pada tangkai buah di batang. Bentuk dan ukuran buah bervariasi. Buah berdiameter 12-25 cm. Satu buah berisi 50-150 biji. Buah akan masak setelah
berumur 12-18 bulan. Keindahan bunga, aroma bunga yang harum dan keunikan buahnya menjadikan tanaman ini ditanam sebagai tanaman hias (Mori, 2012). Bunga dimanfaatkan untuk parfum dan kosmetik (Mostafa, 2014). Bunga, daun, kulit dan daging buahnya juga digunakan untuk obat sakit gigi, pilek, sakit perut, hipertensi, tumor, malaria, kudis atau mensterilkan luka (Al-Dhabi et al., 2012; Elumalai et al., 2012; Mostafa, 2012). Daging buahnya dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak, seperti ayam, bebek, kalkun dan babi (Mori, 2012; Mostafa, 2014 ). Pohon meriam berfungsi sebagai antiseptik, antijamur, antibiotik dan analgesik Perbanyakannya dilakukan dengan menggunakan biji. Di habitat alamnya, pohon meriam tumbuh subur di tempat yang penuh matahari atau agak ternaungi, pada tanah yang lembab dengan kelembaban udara yang tinggi. Kondisi tumbuh tersebut, menurut beberapa ahli ekologi (Sharma, 2011), kehadiran pohon meriam ini dapat dijadikan sebagai indikator bahwa ekosistem di lingkungan tersebut masih bagus. Pohon meriam dianggap memainkan peranan
penting dalam menjaga kondisi ekosistem, terutama dalam menjaga kelembaban tanah dan udara.
Tampui (Baccaurea macrocarpa (Miq.) Müll. Arg.)
Tampui masih berkerabat dekat dengan menteng, namun memiliki ukuran buah yang lebih besar dan berkulit lebih tebal. Jenis ini termasuk ke dalam suku Phyllanthaceae. Pohon tampui tingginya dapat mencapai 29 meter. Perbungaan kebanyakan muncul pada batang atau cabang. Buah-buah terangkai dalam tandan yang panjangnya sampai 15 cm. Buahnya bulat atau agak bulat, kulit buah tebal mengayu, berwarna coklat, kuning, oranye, merah tua atau hijau tua. Daging buah berwarna putih, kuning atau jingga. Buah yang rasanya manis keasaman dapat dimakan sebagai buah segar. Buah juga umum dijual di pasar lokal , seperti Pasar Bogor, Pasar Anyar (Bogor) atau Pasar Bojonggede. Perbanyakan jenis ini dilakukan dengan menggunakan biji. Jenis tanaman ini tersebar di Semenanjung Malaysia, Sumatra dan Borneo.
Gambar 1. a) Bunga Couroupita guianensis, b) Buah Baccaurea macrocarpa, c) Buah Dysoxylum cauliflorum, d) Buah Parmentiera cereifera, e) Buah Ficus racemosa, f) Buah Stelechocarpus burahol, g) Buah Diospyros cauliflora, h) Buah Averhoa bilimbi
mengeluarkan kotoran, biji burahol yang keluar sebagai kotoran musang masih dalam bentuk utuh. Pemencaran biji terjadi di tempat-tempat musang membuang kotorannya. Hampir sama dengan musang, kelelawar akan membawa buah burahol jauh dari pohon induknya. Bedanya, jika musang memakan buah beserta bijinya, maka kelelawar hanya memakan daging buahnya saja.
Rasa aman dan kebutuhan tempat tinggal, dapat juga sebagai alasan terjadinya hubungan antara tanaman cauliflora dengan hewan. Sebagai contoh hubungan antara Goniothallamus ridleyi dengan semut merah. G. ridleyi adalah salah satu jenis tanaman yang termasuk ke dalam suku Annonaceae. Di pohon jenis ini seringkali ditemukan banyak semut merah. Hewan tersebut membuat sarang diantara bunga dan buah G. ridleyi. Semut mendapatkan tempat tinggal dan makanan dari pohon. Kehadiran semut akan menguntungkan pohon dari sisi penyerbukan dan rasa aman dari gangguan hewan lain. Lalu lalang semut diantara bunga dapat membantu proses penyerbukan bunga.
Menurut Saunders (2012), polinator utama pada G. ridleyi adalah semut merah. Semut juga akan
memangsa hama ulat yang menyerang G. ridleyi, sehingga pohonnya terlindung dari serangan hama.
JENIS-JENIS TANAMAN CAULIFLORA
Beberapa jenis tanaman cauliflora ditemukan sebagai tanaman koleksi Kebun Raya Bogor, misalnya: pohon meriam (Couroupita guianensis), tampui (Baccaurea macrocarpa), mahoni kuning (Dysoxylum parasiticum), pohon lilin (Parmentiera cereifera), pohon loa (Ficus racemosa), burahol (Stelechocarpus burahol), kayu arang (Diospyros cauliflora), belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi), nam-nam (Cynometra c a u l i f l o r a) , n a n g k a (A r t o c a r p u s heterophyllus), belimbing manis (Averrhoa carambola), bernuk (Cresentia cujete), pohon
coklat (Theobroma cacao) dan jaboticaba (Plinia cauliflora). Berikut akan diuraikan delapan jenis tanaman cauliflora yang menjadi koleksi Kebun Raya Bogor.
Pohon meriam (Couroupita guianensis Aubl.)
Pohon meriam termasuk ke dalam suku Lecythidaceae. Pertama kali diberi nama oleh seorang ahli botani dari Perancis yang bernama Jean Baptiste Christophore Fusee Aublet pada tahun 1775. Merupakan tanaman asli dari daerah Guiana yang terletak di bagian timur laut Amerika Selatan. Jenis ini tersebar di Colombia, Venezuela bagian utara, Guyana, Suriname, Ecuador, Peru dan Brazil. Termasuk tanaman introduksi di negara-negara Asia, seperti India, Sri Langka, Thailand, Singapura dan Indonesia. Di India biasanya ditemukan di kuil-kuil Siwa . Pemeluk Hindu menganggap tanaman ini sebagai pohon suci Siwa dan disebut Naga Lingga karena kelopak bunga menyerupai kap “Naga” (Mostafa, 2014). Di Sri langka dan Thailand, jenis ini ditemukan di sekitar kuil Budha. Dikenal dengan nama “cannonball tree” atau “pohon meriam” karena bentuk dan ukuran buah mirip seperti cannon atau meriam. Tanaman ini banyak menarik perhatian orang karena bunga dan buahnya yang berada di sepanjang batang unik dengan ukuran cukup besar. Pohon yang dapat mencapai tinggi 25-35 meter ini, mempunyai bunga yang diameternya 7-8 cm. Selain bunga besar, warnanya pun cukup mencolok. Perpaduan warna oranye-merah sampai putih di mahkota bunga bagian atas dengan kuning muda di bagian bawah memberi kesan yang kontras. Bunga didukung o l e h t a n g k a i b e r k a y u y a n g p a n j a n g menggantung di sepanjang batangnya. Aroma bunga harum baunya, biasanya tercium pada malam dan pagi hari. Buahnya bulat, besar, berwarna kecoklatan menggantung pada tangkai buah di batang. Bentuk dan ukuran buah bervariasi. Buah berdiameter 12-25 cm. Satu buah berisi 50-150 biji. Buah akan masak setelah
berumur 12-18 bulan. Keindahan bunga, aroma bunga yang harum dan keunikan buahnya menjadikan tanaman ini ditanam sebagai tanaman hias (Mori, 2012). Bunga dimanfaatkan untuk parfum dan kosmetik (Mostafa, 2014). Bunga, daun, kulit dan daging buahnya juga digunakan untuk obat sakit gigi, pilek, sakit perut, hipertensi, tumor, malaria, kudis atau mensterilkan luka (Al-Dhabi et al., 2012; Elumalai et al., 2012; Mostafa, 2012). Daging buahnya dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak, seperti ayam, bebek, kalkun dan babi (Mori, 2012; Mostafa, 2014 ). Pohon meriam berfungsi sebagai antiseptik, antijamur, antibiotik dan analgesik Perbanyakannya dilakukan dengan menggunakan biji. Di habitat alamnya, pohon meriam tumbuh subur di tempat yang penuh matahari atau agak ternaungi, pada tanah yang lembab dengan kelembaban udara yang tinggi. Kondisi tumbuh tersebut, menurut beberapa ahli ekologi (Sharma, 2011), kehadiran pohon meriam ini dapat dijadikan sebagai indikator bahwa ekosistem di lingkungan tersebut masih bagus. Pohon meriam dianggap memainkan peranan
penting dalam menjaga kondisi ekosistem, terutama dalam menjaga kelembaban tanah dan udara.
Tampui (Baccaurea macrocarpa (Miq.) Müll. Arg.)
Tampui masih berkerabat dekat dengan menteng, namun memiliki ukuran buah yang lebih besar dan berkulit lebih tebal. Jenis ini termasuk ke dalam suku Phyllanthaceae. Pohon tampui tingginya dapat mencapai 29 meter. Perbungaan kebanyakan muncul pada batang atau cabang. Buah-buah terangkai dalam tandan yang panjangnya sampai 15 cm. Buahnya bulat atau agak bulat, kulit buah tebal mengayu, berwarna coklat, kuning, oranye, merah tua atau hijau tua. Daging buah berwarna putih, kuning atau jingga. Buah yang rasanya manis keasaman dapat dimakan sebagai buah segar. Buah juga umum dijual di pasar lokal , seperti Pasar Bogor, Pasar Anyar (Bogor) atau Pasar Bojonggede. Perbanyakan jenis ini dilakukan dengan menggunakan biji. Jenis tanaman ini tersebar di Semenanjung Malaysia, Sumatra dan Borneo.
Gambar 1. a) Bunga Couroupita guianensis, b) Buah Baccaurea macrocarpa, c) Buah Dysoxylum cauliflorum, d) Buah Parmentiera cereifera, e) Buah Ficus racemosa, f) Buah Stelechocarpus burahol, g) Buah Diospyros cauliflora, h) Buah Averhoa bilimbi
Mahoni kuning (Dysoxylum parasiticum
(Osbeck) Kosterm.)
Tumbuhan mahoni kuning termasuk ke dalam suku Meliaceae. Nama jenis “parasiticum” berasal dari kata “parasites” atau “parasite”. Kata tersebut sebenarnya merupakan kesalahan yang tidak disengaja oleh muridnya Linnaeus. Ia mengira bunga dan buah yang muncul di batang merupakan parasit yang tumbuh pada tumbuhan Dysoxylum. Tumbuhan yang tingginya dapat mencapai 27 meter ini menghasilkan bunga berwarna putih atau krem yang harum baunya. Buah bergerombol di sepanjang batang, berwarna coklat atau coklat oranye. Perbanyakannya dilakukan dengan biji. Jenis ini tersebar di Kepulauan Solomon, Papua, Malesia, Taiwan dan Cape York. D. cauliflorum, merupakan jenis lain yang menghasilkan bunga dan buah di batang. Bunga berwarna putih yang harum baunya muncul di sepanjang batang utama. Buah muda berwarna hijau, berubah menjadi merah ketika tua. Jenis ini tersebar di Indo-China, Semenanjung Malaysia, Sumatra, Borneo dan Filipina. Hasil penelitian Ting et al. (2011), ekstrak daun dan kulit D. cauliflorum mengandung senyawa yang berpotensi sebagai antioksidan, sitoprotektif, penghambatan pertumbuhan dan imunomodulator.
Pohon lilin (Parmentiera cereifera Seem.)
Nama “Parmentiera” dijadikan nama marga tumbuhan ini untuk menghormati Antoine-Augustin Parmentier, seorang petani Perancis yang hidup pada tahun 1737-1813. Sedangkan “cereifera” berarti bantalan lilin. Di Indonesia dikenal dengan nama “pohon lilin”, karena buahnya yang berbentuk silindris menyerupai bentuk lilin dibungkus oleh lapisan lilin. Jenis ini termasuk ke dalam suku Bignoniaceae. Pohon lilin merupakan jenis endemik di Panama. Perawakannya berupa pohon kecil yang tingginya dapat mencapai 7 meter. Daun majemuk, dengan anak daun berukuran kecil yang berwarna hijau mengkilat. Bunga soliter
atau bergerombol sampai 4 bunga, berwarna putih-merah jambu, tumbuh di batang dan c a b a n g - c a b a n g u t a m a . B u a h s i l i n d r i s menyerupai bentuk lilin, panjang sampai 60 cm, tumbuh menggantung di batang dan cabang utama. Buah muda berwarna hijau, jika tua berubah menjadi kuning, licin seperti lilin. Jenis ini diberi nama umum “pohon lilin” karena buah yang terlihat seperti lilin kuning tergantung langsung dari cabang. Buah dan biji dapat dimakan atau untuk pakan ternak (Abdel-wahab et al.,2014). Meskipun buah dapat dimakan tetapi tidak umum dikonsumsi karena mengandung banyak serat. Karena keindahan dan keunikan buahnya menyebabkan pohon ini menarik untuk dijadikan tanaman hias. Perbanyakan umumnya dilakukan dengan menggunakan biji.
Pohon loa (Ficus racemosa L.)
Pohon loa merupakan salah satu jenis beringin yang termasuk ke dalam suku Moraceae. Tanaman ini sering dijumpai di hutan-hutan tropis atau di pinggir sungai. Pohon yang tingginya 20-30 meter ini, menghasilkan buah-buah bulat, bergerombol di sepanjang batangnya. Buah muda berwarna hijau, kemudian berubah menjadi oranye atau merah pada saat masak. Buah loa sangat disukai oleh burung atau monyet. Buah masak dapat dimakan atau dibuat manisan. Menurut Shiksharthi & Mittal (2011), jenis ini dapat dimanfaatkan untuk obat diare, disentri, diabetes, gonorrhoe, penyakit kulit, lepra, asma, bisul dan batuk. P e r b a n y a k a n n y a d i l a k u k a n d e n g a n menggunakan biji. Jenis tanaman ini tersebar luas di Afrika bagian timur laut, India, Indo-China, Malesia dan Australia barat.
Burahol (Stelechocarpus burahol (Blume) Hook.f. & Thomson.)
Burahol juga dikenal dengan nama kepel. Tumbuhan langka yang termasuk ke dalam suku Annonaceae ini berasal dari Asia Tenggara.
Pohon tingginya mencapai 25 meter. Batangnya berwarna coklat-kelabu tua sampai hitam, memiliki banyak tonjolan yang biasanya sebagai tempat munculnya bunga. Bunga berwarna hijau, kemudian berubah menjadi kuning keputihan. Bunga jantan muncul di batang sebelah atas dan cabang-cabang yang lebih tua, sedangkan bunga betina berada di batang. Buah yang berbentuk bulat, berwarna kecoklatan bergerombol menggantung di sepanjang batang. Buah burahol digemari oleh puteri keraton, khususnya Yogyakarta dan Surakarta karena diyakini dapat mengharumkan bau keringat dan air seni. Buah burahol juga dimanfaatkan untuk peluruh air kencing, mencegah radang ginjal dan mencegah kehamilan (obat KB). Keindahan bentuk tajuk yang menyerupai piramida serta w a r n a d a u n m u d a k e m e r a h - m e r a h a n menyebabkan pohon ini banyak digunakan untuk tanaman hias. Perbanyakan burahol dapat dilakukan dengan menggunakan biji, cangkok atau sambungan.
Kayu arang (Diospyros cauliflora Blume.)
Tumbuhan ini masih berkerabat dekat dengan bisbul atau kesemek. Termasuk ke dalam suku Ebenaceae. Batangnya memiliki banyak benjolan-benjolan tempat munculnya bunga atau buah. Bunga soliter atau bergerombol, muncul di sepanjang batang, terutama bagian pangkal batang. Bunga berwarna coklat kemerahan, berubah menjadi hijau kekuningan, Bekas kelopak bunga tidak cepat luruh meskipun buah sudah tua. Buah berbentuk bulat, bagian ujung runcing, tertutup oleh bulu-bulu halus berwarna keperakan. Semakin tua umur buah, bulu-bulu yang menempel semakin berkurang. Kulit buah sangat keras. Buah muda berwarna hijau, buah tua berwarna kuning. Penampilan pohon semakin bertambah unik dengan banyaknya buah muda dan tua yang bergerombol di sepanjang batang. Buah yang
masak rasanya manis. Meskipun dapat dimakan, namun tidak umum karena daging buahnya sangat tipis. Buah yang matang dengan warna kulit kuning biasanya dimakan oleh tupai. Jenis ini diperbanyak dengan bijinya.
Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.)
Belimbing wuluh dikenal juga dengan nama belimbing sayur, karena sering dimanfaatkan untuk bumbu masak sayur. Jenis ini termasuk ke dalam suku Oxalidaceae. Tanaman berupa pohon yang tingginya dapat mencapai 10 meter. Batang utama umumnya pendek dan cabangnya rendah. Daun majemuk, setiap daun terdiri atas 11-37 anak daun. Pohon ini menghasilkan bunga berwarna putih, kuning atau lila. Bunga muncul langsung dari batang atau cabang utama. Buah muda berwarna hijau, jika masak berubah menjadi kuning atau kuning pucat. Daging buah berair, rasanya sangat asam. Selain untuk bumbu masak, belimbing wuluh juga dimanfatkan untuk obat tradisional seperti : sariawan, sakit gigi, penurun tekanan darah tinggi dan obat batuk. Belimbing wuluh dapat diperbanyak dengan bijinya.
PENUTUP
Berbagai fenomena dapat ditemukan pada dunia flora, salah satunya adalah cauliflora. Berdasarkan pada letak bunga dan buahnya, maka dikenal simple cauliflora, trunkiflora, basiflora dan ramiflora. Di dunia terdapat lebih dari 100 jenis dari 15 suku tanaman yang memiliki ciri-ciri cauliflora. Beberapa jenis tanaman cauliflora yang dikoleksi oleh Kebun Raya Bogor. Jenis-jenis ini dapat dimanfaatkan untuk tanaman hias, buah segar, sayuran maupun obat tradisional.
Mahoni kuning (Dysoxylum parasiticum
(Osbeck) Kosterm.)
Tumbuhan mahoni kuning termasuk ke dalam suku Meliaceae. Nama jenis “parasiticum” berasal dari kata “parasites” atau “parasite”. Kata tersebut sebenarnya merupakan kesalahan yang tidak disengaja oleh muridnya Linnaeus. Ia mengira bunga dan buah yang muncul di batang merupakan parasit yang tumbuh pada tumbuhan Dysoxylum. Tumbuhan yang tingginya dapat mencapai 27 meter ini menghasilkan bunga berwarna putih atau krem yang harum baunya. Buah bergerombol di sepanjang batang, berwarna coklat atau coklat oranye. Perbanyakannya dilakukan dengan biji. Jenis ini tersebar di Kepulauan Solomon, Papua, Malesia, Taiwan dan Cape York. D. cauliflorum, merupakan jenis lain yang menghasilkan bunga dan buah di batang. Bunga berwarna putih yang harum baunya muncul di sepanjang batang utama. Buah muda berwarna hijau, berubah menjadi merah ketika tua. Jenis ini tersebar di Indo-China, Semenanjung Malaysia, Sumatra, Borneo dan Filipina. Hasil penelitian Ting et al. (2011), ekstrak daun dan kulit D. cauliflorum mengandung senyawa yang berpotensi sebagai antioksidan, sitoprotektif, penghambatan pertumbuhan dan imunomodulator.
Pohon lilin (Parmentiera cereifera Seem.)
Nama “Parmentiera” dijadikan nama marga tumbuhan ini untuk menghormati Antoine-Augustin Parmentier, seorang petani Perancis yang hidup pada tahun 1737-1813. Sedangkan “cereifera” berarti bantalan lilin. Di Indonesia dikenal dengan nama “pohon lilin”, karena buahnya yang berbentuk silindris menyerupai bentuk lilin dibungkus oleh lapisan lilin. Jenis ini termasuk ke dalam suku Bignoniaceae. Pohon lilin merupakan jenis endemik di Panama. Perawakannya berupa pohon kecil yang tingginya dapat mencapai 7 meter. Daun majemuk, dengan anak daun berukuran kecil yang berwarna hijau mengkilat. Bunga soliter
atau bergerombol sampai 4 bunga, berwarna putih-merah jambu, tumbuh di batang dan c a b a n g - c a b a n g u t a m a . B u a h s i l i n d r i s menyerupai bentuk lilin, panjang sampai 60 cm, tumbuh menggantung di batang dan cabang utama. Buah muda berwarna hijau, jika tua berubah menjadi kuning, licin seperti lilin. Jenis ini diberi nama umum “pohon lilin” karena buah yang terlihat seperti lilin kuning tergantung langsung dari cabang. Buah dan biji dapat dimakan atau untuk pakan ternak (Abdel-wahab et al.,2014). Meskipun buah dapat dimakan tetapi tidak umum dikonsumsi karena mengandung banyak serat. Karena keindahan dan keunikan buahnya menyebabkan pohon ini menarik untuk dijadikan tanaman hias. Perbanyakan umumnya dilakukan dengan menggunakan biji.
Pohon loa (Ficus racemosa L.)
Pohon loa merupakan salah satu jenis beringin yang termasuk ke dalam suku Moraceae. Tanaman ini sering dijumpai di hutan-hutan tropis atau di pinggir sungai. Pohon yang tingginya 20-30 meter ini, menghasilkan buah-buah bulat, bergerombol di sepanjang batangnya. Buah muda berwarna hijau, kemudian berubah menjadi oranye atau merah pada saat masak. Buah loa sangat disukai oleh burung atau monyet. Buah masak dapat dimakan atau dibuat manisan. Menurut Shiksharthi & Mittal (2011), jenis ini dapat dimanfaatkan untuk obat diare, disentri, diabetes, gonorrhoe, penyakit kulit, lepra, asma, bisul dan batuk. P e r b a n y a k a n n y a d i l a k u k a n d e n g a n menggunakan biji. Jenis tanaman ini tersebar luas di Afrika bagian timur laut, India, Indo-China, Malesia dan Australia barat.
Burahol (Stelechocarpus burahol (Blume) Hook.f. & Thomson.)
Burahol juga dikenal dengan nama kepel. Tumbuhan langka yang termasuk ke dalam suku Annonaceae ini berasal dari Asia Tenggara.
Pohon tingginya mencapai 25 meter. Batangnya berwarna coklat-kelabu tua sampai hitam, memiliki banyak tonjolan yang biasanya sebagai tempat munculnya bunga. Bunga berwarna hijau, kemudian berubah menjadi kuning keputihan. Bunga jantan muncul di batang sebelah atas dan cabang-cabang yang lebih tua, sedangkan bunga betina berada di batang. Buah yang berbentuk bulat, berwarna kecoklatan bergerombol menggantung di sepanjang batang. Buah burahol digemari oleh puteri keraton, khususnya Yogyakarta dan Surakarta karena diyakini dapat mengharumkan bau keringat dan air seni. Buah burahol juga dimanfaatkan untuk peluruh air kencing, mencegah radang ginjal dan mencegah kehamilan (obat KB). Keindahan bentuk tajuk yang menyerupai piramida serta w a r n a d a u n m u d a k e m e r a h - m e r a h a n menyebabkan pohon ini banyak digunakan untuk tanaman hias. Perbanyakan burahol dapat dilakukan dengan menggunakan biji, cangkok atau sambungan.
Kayu arang (Diospyros cauliflora Blume.)
Tumbuhan ini masih berkerabat dekat dengan bisbul atau kesemek. Termasuk ke dalam suku Ebenaceae. Batangnya memiliki banyak benjolan-benjolan tempat munculnya bunga atau buah. Bunga soliter atau bergerombol, muncul di sepanjang batang, terutama bagian pangkal batang. Bunga berwarna coklat kemerahan, berubah menjadi hijau kekuningan, Bekas kelopak bunga tidak cepat luruh meskipun buah sudah tua. Buah berbentuk bulat, bagian ujung runcing, tertutup oleh bulu-bulu halus berwarna keperakan. Semakin tua umur buah, bulu-bulu yang menempel semakin berkurang. Kulit buah sangat keras. Buah muda berwarna hijau, buah tua berwarna kuning. Penampilan pohon semakin bertambah unik dengan banyaknya buah muda dan tua yang bergerombol di sepanjang batang. Buah yang
masak rasanya manis. Meskipun dapat dimakan, namun tidak umum karena daging buahnya sangat tipis. Buah yang matang dengan warna kulit kuning biasanya dimakan oleh tupai. Jenis ini diperbanyak dengan bijinya.
Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.)
Belimbing wuluh dikenal juga dengan nama belimbing sayur, karena sering dimanfaatkan untuk bumbu masak sayur. Jenis ini termasuk ke dalam suku Oxalidaceae. Tanaman berupa pohon yang tingginya dapat mencapai 10 meter. Batang utama umumnya pendek dan cabangnya rendah. Daun majemuk, setiap daun terdiri atas 11-37 anak daun. Pohon ini menghasilkan bunga berwarna putih, kuning atau lila. Bunga muncul langsung dari batang atau cabang utama. Buah muda berwarna hijau, jika masak berubah menjadi kuning atau kuning pucat. Daging buah berair, rasanya sangat asam. Selain untuk bumbu masak, belimbing wuluh juga dimanfatkan untuk obat tradisional seperti : sariawan, sakit gigi, penurun tekanan darah tinggi dan obat batuk. Belimbing wuluh dapat diperbanyak dengan bijinya.
PENUTUP
Berbagai fenomena dapat ditemukan pada dunia flora, salah satunya adalah cauliflora. Berdasarkan pada letak bunga dan buahnya, maka dikenal simple cauliflora, trunkiflora, basiflora dan ramiflora. Di dunia terdapat lebih dari 100 jenis dari 15 suku tanaman yang memiliki ciri-ciri cauliflora. Beberapa jenis tanaman cauliflora yang dikoleksi oleh Kebun Raya Bogor. Jenis-jenis ini dapat dimanfaatkan untuk tanaman hias, buah segar, sayuran maupun obat tradisional.
DAFTAR PUSTAKA
Abdel-Wahab, N.A; A. N.E. Hamed; H. E. Khalil, M.N. Samy; A.S. Wanas; M.A. Fouad and M.S. Kamel. 2014. Phenolic acid glycosides from Parmentiera cereifera
Seem. (Candle tree). Phytochemistry Letters 9: 74–77
Al-Dhabi, N.A., C.Balachandran, M. K. Raj, V.Duraipandiyan, C. Muthukumar, S.Ignacimuthu, and I. A. K. V. S. Rajput. Antimicrobial, antimycobacterial and antibiofilm properties of Couroupita guianensis Aubl. Fruit extract. 2012. Al-Dhabi et al. BMC Complementary and Alternative Medicine, 12:242
Amstrong, W.P. 1998. The Truth About C a u l i f l o r y. h t t p : / / w a y n e s w o r d . palomar.edu/plmay99.htm, diakses 23 April 2015.
Elumalai, A., V. Naresh, M. C. Eswaraiah P. Narendar, and Raj Kumar. 2012. Evaluation of Antiulcer Activity of
Couroupita guianensis Aubl Leaves. Asian J. Pharm. Tech. 2012; Vol. 2: Issue 2, Pg 64-66
Goodrich, K.R. 2012. Floral scent in Annonaceae. Botanical Journal of the Linnean Society 169: 262–279.
Hidayat, S. dan I.P. Astuti. 2009. Potensi koleksi cauliflora di Kebun Raya Bogor, hal : 642-647. Prosiding Seminar Nasional Biologi XX dan Kongres Perhimpunan Biologi Indonesia XIV. UIN Maulana Malik Ibrahim, malang.
http://asianplant.net/Moraceae/Ficus_racemo sa.htm. Ficus racemosa L. Diakses 30 April 2015.
http://en.wikipedia.org/wiki/Parmentiera_cer ifera. Parmentiera cereifera. Diakses 25-5-2015
http://en.wikipedia.org/wiki/Talk:Dysoxylum_ p a r a s i t i c u m Ta l k :D y s o x y l u m parasiticum. Diakses 31 Maret 2015.
http://id.wikipedia.org/wiki/Baccaurea_macr ocarpa. Tampui. Diakses 19 Mei 2015. http://id.wikipedia.org/wiki/Kepel. Kepel. Diakses 6 April 2015. h t t p : / / k e y s . t r i n . o r g . a u : 8 0 8 0 / k e y - server/data/0e0f0504-0103-430d-8 0 0 4 - 0 6 0 d 0 7 0 server/data/0e0f0504-0103-430d-8 0 d 0 4 / m e d i a /Html/taxon/Ficus_racemosa.htm.
Ficus racemosa. Diakses 30 April 2015. http://plantbook.org/plantdata/bignoniaceae
/ p a r m e n t i e r a _ c e r e i f e r a . h t m l ,
Parmentiera cereifera. Diakses 25-5-2015.
http://www.asianplant.net/Meliaceae/Dysoxyl um_cauliflorum.htm. Dysoxylum cauliflorum. Diakses 30 April 2015. http://www.asianplant.net/Phyllanthaceae/Ba
ccaurea_macrocarpa.htm. Baccaurea macrocarpa. Diakses 19 Mei 2015 h t t p : / / w w w. m o t h e r h e r b s . c o m / f i c u s
-racemosa.html. Ficus racemosa. Diakses 30 April 2015
https://aboutherbal.wordpress.com/2010/11/ 27/belimbing-wulh-averrhoa-bilimbi-l/ Belimbing wuluh. Diakses 19 Mei 2015 https://sites.google.com/site/efloraofindia/sp
ecies/m---z/m/moraceae/ficus/ficus-racemosa. Ficus racemosa. Diakses 30 April 2015
Mahr, S. 2007. Cauliflory: Flowers that Bloom on Tree Trunks. Wisconsin Master Gardener website, University of Wisconsin – Madison.
Mori, S.2012. Cannon Ball Tree (Couropita g u i a n e n s i s ) . http://www.eoearth.org/view/article/ 150888/ Diakses 15 Juni 2015.
Mostafa, K. 2014. Cannon Ball/Nagalinga. http://www.naturestudysociety.org/ca nnon-ball-nagalingam/ Diakses 15 juni 2015
Saunders, R.M.K. 2012. The diversity and evolution of polination systems. Botanical Journal of the Linnean Society 169: 222–244
Sharma, S.K. 2011. Cauliflory & cannonball tree. Science Reporter : 53-54.
Shiksharthi, A.R.and S. Mittal. 2011. Ficus Racemosa: Phytochemistry, Traditional Uses and Pharmacological Properties: A Review. International Journal of Recent Advances in Pharmaceutical Research Vol 4: 6-15.
Ting., N, M. Othman, G. Telford, G. Clarke, T. D. Bradshaw, T. J. Khoo, H. S. Loh. C. Wiart, D. Pritchard and J. R. Fry. 2011. Antioxidant, cytoprotective, growth inhibitory and immunomodulatory activities of extracts of Dysoxylum cauliflorum Hiern., a Malaysian Meliaceae. Journal of Medicinal Plants Research Vol. 5(24) : 5867-5872.
DAFTAR PUSTAKA
Abdel-Wahab, N.A; A. N.E. Hamed; H. E. Khalil, M.N. Samy; A.S. Wanas; M.A. Fouad and M.S. Kamel. 2014. Phenolic acid glycosides from Parmentiera cereifera
Seem. (Candle tree). Phytochemistry Letters 9: 74–77
Al-Dhabi, N.A., C.Balachandran, M. K. Raj, V.Duraipandiyan, C. Muthukumar, S.Ignacimuthu, and I. A. K. V. S. Rajput. Antimicrobial, antimycobacterial and antibiofilm properties of Couroupita guianensis Aubl. Fruit extract. 2012. Al-Dhabi et al. BMC Complementary and Alternative Medicine, 12:242
Amstrong, W.P. 1998. The Truth About C a u l i f l o r y. h t t p : / / w a y n e s w o r d . palomar.edu/plmay99.htm, diakses 23 April 2015.
Elumalai, A., V. Naresh, M. C. Eswaraiah P. Narendar, and Raj Kumar. 2012. Evaluation of Antiulcer Activity of
Couroupita guianensis Aubl Leaves. Asian J. Pharm. Tech. 2012; Vol. 2: Issue 2, Pg 64-66
Goodrich, K.R. 2012. Floral scent in Annonaceae. Botanical Journal of the Linnean Society 169: 262–279.
Hidayat, S. dan I.P. Astuti. 2009. Potensi koleksi cauliflora di Kebun Raya Bogor, hal : 642-647. Prosiding Seminar Nasional Biologi XX dan Kongres Perhimpunan Biologi Indonesia XIV. UIN Maulana Malik Ibrahim, malang.
http://asianplant.net/Moraceae/Ficus_racemo sa.htm. Ficus racemosa L. Diakses 30 April 2015.
http://en.wikipedia.org/wiki/Parmentiera_cer ifera. Parmentiera cereifera. Diakses 25-5-2015
http://en.wikipedia.org/wiki/Talk:Dysoxylum_ p a r a s i t i c u m Ta l k :D y s o x y l u m parasiticum. Diakses 31 Maret 2015.
http://id.wikipedia.org/wiki/Baccaurea_macr ocarpa. Tampui. Diakses 19 Mei 2015. http://id.wikipedia.org/wiki/Kepel. Kepel. Diakses 6 April 2015. h t t p : / / k e y s . t r i n . o r g . a u : 8 0 8 0 / k e y - server/data/0e0f0504-0103-430d-8 0 0 4 - 0 6 0 d 0 7 0 server/data/0e0f0504-0103-430d-8 0 d 0 4 / m e d i a /Html/taxon/Ficus_racemosa.htm.
Ficus racemosa. Diakses 30 April 2015. http://plantbook.org/plantdata/bignoniaceae
/ p a r m e n t i e r a _ c e r e i f e r a . h t m l ,
Parmentiera cereifera. Diakses 25-5-2015.
http://www.asianplant.net/Meliaceae/Dysoxyl um_cauliflorum.htm. Dysoxylum cauliflorum. Diakses 30 April 2015. http://www.asianplant.net/Phyllanthaceae/Ba
ccaurea_macrocarpa.htm. Baccaurea macrocarpa. Diakses 19 Mei 2015
h t t p : / / w w w. m o t h e r h e r b s . c o m / f i c u s -racemosa.html. Ficus racemosa. Diakses 30 April 2015
https://aboutherbal.wordpress.com/2010/11/ 27/belimbing-wulh-averrhoa-bilimbi-l/ Belimbing wuluh. Diakses 19 Mei 2015 https://sites.google.com/site/efloraofindia/sp
ecies/m---z/m/moraceae/ficus/ficus-racemosa. Ficus racemosa. Diakses 30 April 2015
Mahr, S. 2007. Cauliflory: Flowers that Bloom on Tree Trunks. Wisconsin Master Gardener website, University of Wisconsin – Madison.
Mori, S.2012. Cannon Ball Tree (Couropita g u i a n e n s i s ) . http://www.eoearth.org/view/article/ 150888/ Diakses 15 Juni 2015.
Mostafa, K. 2014. Cannon Ball/Nagalinga. http://www.naturestudysociety.org/ca nnon-ball-nagalingam/ Diakses 15 juni 2015
Saunders, R.M.K. 2012. The diversity and evolution of polination systems. Botanical Journal of the Linnean Society 169: 222–244
Sharma, S.K. 2011. Cauliflory & cannonball tree. Science Reporter : 53-54.
Shiksharthi, A.R.and S. Mittal. 2011. Ficus Racemosa: Phytochemistry, Traditional Uses and Pharmacological Properties: A Review. International Journal of Recent Advances in Pharmaceutical Research Vol 4: 6-15.
Ting., N, M. Othman, G. Telford, G. Clarke, T. D. Bradshaw, T. J. Khoo, H. S. Loh. C. Wiart, D. Pritchard and J. R. Fry. 2011. Antioxidant, cytoprotective, growth inhibitory and immunomodulatory activities of extracts of Dysoxylum cauliflorum Hiern., a Malaysian Meliaceae. Journal of Medicinal Plants Research Vol. 5(24) : 5867-5872.