Bab 2. Landasan teori. Pada bab ini penulis akan menjelaskan berbagai teori yang mendukung penulis

Teks penuh

(1)

Bab 2 Landasan teori

Pada bab ini penulis akan menjelaskan berbagai teori yang mendukung penulis dalam menyusun skripsi ini. Teori-teori tersebut mencakup teori sintaksis, dan juga paham mono no aware.

2.1 Teori Sintaksis

Sintaksis merupakan salah satu cabang ilmu linguistik yang membahas hubungan antarkata dalam sebuah tuturan (Verhaar, 2004:11). Verhaar juga mengatakan bahwa tatabahasa terdiri dari morfologi dan sintaksis dimana morfologi menyangkut struktur gramatikal di dalam kata, dan sintaksis berurusan dengan tatabahasa di antara kata-kata dalam tuturan. Sintaksis membahas susunan kata-kata yang terdapat di dalam kalimat dan merupakan bagian dari cabang ilmu struktur bahasa fungsional.

Menurut Masuoka dan Takubo (2000, hal. 2) sebuah kalimat terbentuk dari unsur-unsur yang lebih kecil dan mendasar namun sangat penting yang disebut dengan Go atau kata. Kata adalah bahan utama dalam membentuk kalimat. Setiap kata yang membentuk sebuah kalimat mempunyai peran atau fungsi yaitu sebagai predikat, subjek, objek, atau pelengkap. Diantara berbagai fungsi, predikat menjadi yang paling penting karena predikat mementukan keseluruhan kerangka kalimat.

Professor M. A. K. Halliday, mengatakan bahwa ada ikatan hubungan yang kuat antara konteks sebuah teks dengan struktur gamatika, sehingga pemahaman susunan struktur gramatika dan linguistik sistematis diperlukan untuk memahami sebuah konteks dalam teks (Schourup, 1991: 8)

(2)

2.2 Konsep Mono no Aware

Paham mono no aware adalah salah satu dari paham biishiki yang telah penulis jelaskan pada bab pertama. Paham ini pertama kali diperkenalkan pada abad ke-18 zaman Edo oleh seorang ahli literatur klasik bernama Motoori Norinaga. Norinaga melalui karya tulisnya yang berjudul 「阿波禮弁」Aware Ben menyatakan bahwa Aware merupakan esensi paling dasar dalam literatur Jepang apapun genre-nya (Shirane, 2002:611).

2.2.1 Sejarah Mono no Aware

Norinaga berargumentasi bahwa sebelum kedatangan atau masuknya budaya luar ke Jepang, orang-orang Jepang telah mengekspresikan perasaan lembut dan jujur yang seringkali digambarkan dalam waka atau monogatari pada abad-abad terdahulu. Pengaruh budaya China ini membuat orang Jepang kehilangan ‘perasaan sesungguhnya’ atau jitsujou dan kejujuran makoto mereka, dan bagi mereka yang ingin melihat kembali bagaimana orang Jepang terdahulu mengekspresikan perasaan jitsujou dan makoto, tidak ada cara lain selain melihat ke literatur klasik Jepang.

Salah satu karya literatur Jepang yang terkenal memiliki konsep mono no aware adalah Genji Monogatari. Kata mono no aware sendiri berasal dari dua suku kata yaitu “a” dan “hare” dimana menurut Norinaga kata itu secara alami akan keluar secara spontan saat perasaan dalam hati kita tergerak. Kata “mono” pada awalnya tidak ditulis dengan kanji 物 melainkan hanya dengan hiragana.

Seisetsu dalam Meli (2002, hal. 225) mengatakan bahwa mono no aware sangat berkembang dan mudah untuk ditemukan pada zaman Heian. Pada zaman itu baginya, karya literatur seperti Genji Monogatari menggambarkan budaya yang luar

(3)

biasa, dunia pada zaman Heian yang nampak tidak terbatas, zaman dimana mono no aware berkembang.

When in the world, where in the world, has there been a culture like that of our Heian court, so utterly ruled by sensibility? Where in the world have the moon and the flowers been so admired? In what period has there been such fondness for mono no aware (hal. 225)?

Terjemahan:

Kapan dan di mana ada sebuah budaya seperti itu, di zaman Heian kita, yang dikuasai oleh perasaan halus? Di manakah ketika bulan dan bunga-bunga pernah sangat dikagumi? Pada zaman kapankah mono no aware begitu digemari (hal. 225)?

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa tidak ada zaman selain zaman Heian dalam sejarah Jepang, yang sangat menggemari mono no aware. Muraoka Tsunetsugu pada tahun 1911, menjadi orang pertama yang melalui bukunya Motoori Norinaga, menyatakan bahwa mono no aware adalah sebuah teori literatur (Meli, 2002, hal. 226)

2.2.2 Pemahaman Konsep Mono no Aware

Menurut Norinaga, ketika kita membaca sebuah karya literartur seperti waka, monogatari, atau uta, yang harus dipahami adalah mono no aware dalam karya tersebut. Bagi Norinaga, mono no aware tidak terikat dengan ajaran agama Buddha, yang pada saat zaman Edo berkembang. Baik ajaran Buddha ataupun ajaran Konfusianisme yang pada saat itu berkembang, tidak lebih dari hasil pemikiran manusia. Menurutnya, Magokoro adalah hal yang lebih penting untuk dipikirkan. Menurut Norinaga, magokoro bukanlah mengenai hati yang baik atau jahat, tetapi hati yang sudah ada sejak seseorang dilahirkan dan hanya jika setiap orang kembali kepada magokoro, perdamaian di dunia akan terjadi (Nakamura et all,1991, hal. 133).

(4)

Norinaga dalam salah satu karyanya 「石上私淑言」Isonokami Sasamegoto dalam Mark Meli (2002, hal. 223) mengatakan:

If we look at our ancient writings and consider them deeply, we shall see that in general the full significance of the way of poetry is fully expressed by the single word ‘aware’. From the age of the gods down until the present, and even from now until the end of time, all of the waka that have been or will be composed go back to this one word. Thus should we attempt to grasp the final significance of this way of poetry, it lies nowhere other than here. Further should we go on to ask what be the essence of such tales as Genji Monogatari and Ise Monogatari, we shall again reply with the single word ‘aware’ … (hal. 223)

Terjemahan:

Jika kita melihat karya tulisan zaman dahulu dan mengkajinya lebih dalam, kita akan melihat secara signifikan bahwa pada umumnya, karya puisi diekspresikan dengan satu kata yaitu ‘aware’. Sejak zaman dewa-dewa hingga saat ini, dan bahkan hingga masa nanti, semua waka yang sudah dan akan diciptakan akan kembali kepada kata tersebut. Dengan demikian, jika kita ingin memahami inti dari sebuah puisi, tiada ada kata lain selain ‘aware’. Jika kita lebih lanjut mempertanyakan esensi dari sebuah cerita, seperti Genji Monogatari atau Ise Monogatari maka kita akan kembali mengatakan ‘aware’… (hal. 223)

Berdasarkan kutipan tersebut, Norinaga menekankan bahwa semua karya sastra seperti monogatari, waka, ataupun uta dan lainnya, memiliki sebuah hon’i(本意) atau “motif” yaitu 「あはれ」. Ketika membicarakan aware maka hal yang paling mendasar adalah timbulnya perasaan, dan umumnya adalah perasaan sedih.

Menurut konsep mono no aware tidak hanya kesedihan saja yang dapat timbul tapi juga perasaan lain. Menurut Norinaga dalam Nakai Kazuko (1996, hal. 2) dalam mono no aware tidak hanya ada kesedihan tapi juga kesenangan, rasa bahagia, keanehan, dan bila semua itu menjadi perasaan kagum yang dapat dilepaskan, maka semua rasa itu adalah aware.

Dalam konsep mono no aware pemahaman suatu peristiwa adalah salah salah satu poin penting. Pemahaman suatu peristiwa yang membuat seseorang menjadi tergerak secara emosi, menunjukkan bahwa orang tersebut tahu apa penyebab dari timbulnya

(5)

perasaan tersebut. Sebagai contoh adalah ketika kita melihat orang yang tengah berduka, dan kita tahu mengerti mengapa orang tersebut merasakan kesedihan, maka hal tersebut dapat dikatakan kita memahami “hati” dari sebuah peristiwa atau situasi. Pemahaman “hati” dari sebuah peristiwa yang membuat perasaan kita tergerak karena betapa sedihnya hal tersebut adalah wujud dari pemahaman mono no aware (Shirane, 2005, hal. 620).

Setelah melihat beberapa konsep mono no aware yang dipaparkan oleh banyak ahli diatas, maka paham mono no aware ini sebenarnya memiliki tiga ciri utama yang menunjukkan mono no aware yaitu timbulnya kesadaran akan ketidak kekalan dalam benda atau manusia, kedua adalah mengekspresikan perasaan terpendam, dan ketiga adalah menjalani kehidupan dalam kepedihan. Okazaki Yoshie (Meli, 2002, hal. 231) menganalogikan aware yang bermakna hidup bersama dalam kesedihan berbeda dengan makna ‘tragedi’ pada mitolgoi Yunani. Bagi orang Yunani, sebuah tragedi bertujuan utnuk membangkitkan rasa takut dan juga kasihan. Bagi orang Jepang, jika rasa sedih atau kasihan menjadi dominan, orang Jepang memiliki mono no aware yang mengajarkan bahwa aware bukan pergumulan, bukan juga sebuah perjuangan, ataupun rasa takut. Aware bukan mengenai berjuang melawan takdir melainkan mencoba berdamai dengan tragedy dan kemudian hidup bersamanya.

Seperti yang telah dijelaskan diatas, mono no aware adalah perasaan yang timbul ketika menyaksikan sebuah keindahan yang bersifat sementara yang berasal dari alam, atau dalam teori modern, mono no aware juga dapat diartikan perasaan yang timbul dalam hati ketika melihat sesuatu dihadapan kita. Keindahan tersebut terwujudkan dari sebuah benda, benda yang tersedia oleh alam, dan didalamnya termasuk juga nyawa manusia (Sawako, 1996, hal. 29). Sawako juga mengatakan

(6)

bahwa dalam keadaan tertentu, tidak hanya kesedihan saja yang dirasakan tapi juga rasa suka cita, kagum atau kebahagiaan.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa dalam paham mono no aware perasaan atau pemahaman akan kesedihan atau perasaan pedih dapat muncul ketika kita melihat sebuah benda yang membuat seorang individu tergerak. DeMente (1997, hal. 263) menjelaskan mono no aware terhadap benda dengan mengatakan bahwa filosofi apreasiasi akan ketidakabadian dari sebuah keindahan yang dekat dengan ajaran Buddha dapat dilihat dalam kehidupan samurai yang pada dahulu kala sering kali mensetarakan nyawa mereka dengan bunga sakura.

Sakura, seperti yang kita ketahui adalah bunga yang hanya mekar dalam waktu singkat, dan akan segera gugur. Keindahan dan kerapuhan sakura sering diibaratkan dengan singkatnya kehidupan manusia dan hal duniawi lainnya, dan hal tersebut menjadi hal yang penting untuk dipahami sebelum seseorang hidup secara sepenuhnya sebagai orang yang dewasa.

DeMente menambahkan salah satu cara untuk memahami mono no aware sebagai elemen penting dalam budaya Jepang adalah dengan menikmati hujan di akhir pekan dengan menginap di penginapan terpencil dengan pemandangan lautan atau lembah pegunungan. Baginya, melihat lautan berwarna abu-abu yang dingin, atau lembah pegunungan saat sedang hujan dalam kesendirian di kamar pasti mengingatkan kita bahwa kehidupan ini terkadang manis namun menyedihkan dan sangat singkat (1997, hal. 264).

Haruo Shirane (2002, hal. 618) menjelaskan perasaan simpati dapat muncul hanya dengan mendengar sebuah puisi ataupun lagu yang dibacakan atau dinyanyikan

(7)

pengalaman pedih yang serupa dapat mengerti perasaan tersebut. Pemahaman tersebut membuat kita dapat mengerti apa yang orang rasakan ketika mereka menghadapi suatu keadaan dan bagaimana keadaan dan situasi tersebut dapat membuat orang merasakan suka cita ataupun duka. Perasaan yang timbul tersebut dapat membuat orang merasakan simpati secara alami dan membuat seseorang untuk bertindak tanpa harus merugikan orang lain. Ini merupakan keuntungan dari pemahaman mono no aware (Shirane, 2002, hal. 618).

Shirane juga menambahkan,sebagai contoh adalah ketika kita melihat, mendengar, dan menemui berbagai kejadian di dunia ini, untuk menangkap maksud dan tujuan dari sebuah peristiwa, dan untuk dapat mencamkannya dengan hati kita, adalah pemahaman terhadap “hati” dari sebuah peristiwa atau Shirane menyebutnya dengan “to know the heart of things” (Shirane, 2002, hal. 620). Setiap peristiwa atau benda yang ada di dunia memiliki banyak variasi, beberapa dapat membuat kita tergerak hanya sedikit, yang lainnya bisa saja membuat hati kita tersentuh secara mendalam. Perasaan kita digerakan oleh sesuatu yang muncul secara spontan dam sulit untuk ditahan, sehingga meskipun hati kita adalah milik kita, kita tidak mengendalikannya.

Meskipun sebuah peristiwa tersebut sangat keji dan juga tidak benar, hati kita dapat tergerak. Walaupun kita mencoba untuk tidak tergerak oleh karena peristiwa atau perbuatan yang terjadi dihadapan kita adalah hal yang tidak benar, dalam hati kita tetap muncul perasaan secara spontan yang sulit dikendalikan. Sebagai contoh adalah ketika seorang penguasa melihat r

Motoori Norinaga mengatakan bahwa tujuan dari mono no aware bukan hanya melepaskan emosi terpendam dalam diri, melainkan juga merupakan sebuah proses untuk memahami perasaan orang lain untuk menjadikannya objek dari rasa empati

(8)

(Shirane, 2002, hal. 611). Hal tersebut didukung juga oleh pernyataan Norinaga yang dikemukakan seperti berikut:

宣長は、「もののあはれ」を知ることに文芸の本質があるとみたが、 「人の情はわれながらわれにまかせぬことありて、おのづからしのびが たきふしもあるものなり」と知るとき、「もののあはれ」をもっと深く 理解できると言っている (Nakamura, et all, 1991, hal. 133)

Terjemahan:

Norinaga mengatakan bahwa memahami mono no aware tidak hanya terdapat pada karya literatur tapi juga dengan ketika kita memahami “rasa simpati adalah hal yang bisa datang kapan saja, dan merupakan hal yang tidak bisa kita kendalikan”, maka kita dapat memahami secara lebih mendalam mengenai “mono no aware” (Nakamura, et all, 1991, hal. 133)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : Teori yang Mendukung