BAB IV PEMBAHASAN. sumber modal, jika pelaku tidak memiliki modal yang cukup maka ia akan

Teks penuh

(1)

BAB IV

PEMBAHASAN

A. Pembiayaan Ba’i Bi Tsaman Ājil (BBA)

Pelaku bisnis dalam menjalankan bisnisnya sangat membutuhkan sumber modal, jika pelaku tidak memiliki modal yang cukup maka ia akan berhubungan dengan pihak lain, seperti bank untuk mendapatkan suntikan dana para pelaku harus melakukan pembiayaan. Begitu pula pada BMT, para nasabah yang memerlukan dana mereka akan melakukan pembiayaan dengan tidak adanya bunga melainkan bagi hasil. Dan sebagai bagian penting dari aktivitas BMT, kemampuan dalam menyalurkan dana sangat mempengaruhi tingkat performa lembaga. Hubungan antara tabungan dan pembiayaan dapat dilihat dari kemampuan BMT meraih dana sebanyak-banyaknya serta kemampuan menyalurkan dana secara baik.

Pembiayaan dengan akad jual beli barang dengan pembayaran angsuran, sedangkan harga jual adalah harga pokok ditambah dengan keuntungan yang disepakati. Jumlah kewajiban yang harus dibayar oleh nasabah adalah sebesar jumlah barang yang harus ditambah dengan mark-up (laba) yang telah disepakati bersama.1

      

1

Hertanto Widodo, dkk. 2005. Panduan Praktis Operasional Baitul Mal Wat Tamwil

(2)

Tabel 4.1

Skim Pembiayaan ba’i bi tsaman ājil(BBA)

Akad Jual beli barang pembiayaan (pelunasan) secara angsuran Jangka waktu 6 bulan sampai dengan maksimal 24 bulan

Keuntungan Merupakan sejumlah nominal yang disepakati sebagai bagian keuntungan BMT atas transaksi jual beli yang dilakukan, yang selanjutnya kita sebutkan sebagai margin. Besarnya margin berkisar antara 2,5 % - 2,7 % dari harga pokok barang yang ditransaksikan.

Pelunasan Dilakukan secara angsuran sesuai dengan jangka waktu yang telah disepakati diawal kontrak nasabah membayar angsuran atas pokok pembiayaan ditambah dengan margin keuntungan.

Potongan Pelunasan

Diberikan kepada nasabah yang mampu melakukan pelunasan pelunasan atas pokok pembiayaan sebelum jatuh tempo. Potongan berupa penghapusan margin pembiayaan sampai dengan 1 bulan berikutnya

Denda Tidak ada denda bil maal yang dikenakan kepada nasabah atas keterlambatan pembayaran akibat ketidakmapuannya. Tenggang waktu yang diberikan adalah maksimal selama lima bulan berturut-turut sejak keterlambatan pertama. Setalah itu, sebagai bentuk pendisiplinan nasabah, BMT dimungkinkan untuk

(3)

melakukan penyitaan bangunan.

Jaminan Dalam pembiayaan tersebut disyaratkan adanya barang jaminan dari peminjam dana. Jaminan tersebut sifatnya tidak mutlak harus dipenuhi. Tetapi dianggap penting karena untuk mengantisipasi jika terjadi pembiayaan bermasalah. Jaminan tersebut dapat berupa jaminan utama dan jaminan tambahan. Misalnya surat tanah, BPKB kendaraan bermotor, dll

Sumber : Data diolah oleh peneliti

a. Kelebihan dan Kelemahan dari pembiayaan ba’i bi tsaman ājil Adapun kelebihan pembiayaan ba’i bi tsaman ājil(BBA) adalah sebagai berikut :

• Untuk margin sudah ketemu • Mengarah kepada usaha produktif

• Tidak melakukan analisa pembiayaan yang terlalu dalam (mampu atau tidak)

Sedangkan kelemahan dari pembiayaan ba’i bi tsaman ājil(BBA) adalah sebagai berikut :

• Nasabah ingin membeli barang dengan sendiri.

• Nisbah : untung/rugi harus membayar margin dan harga pokok atau terbatas dalam margin.2

      

2

(4)

b. Pelaksanaan Pembiayaan ba’i bi tsaman ājil (BBA)

Bapak Saidin menjelaskan bahwa Pelaksanaan pembiayaan ba’i bi

tsaman ājil (BBA) bagi usaha kecil di BMT NU Sejahtera Cabang Klipang

Semarang dapat dilakukan dengan melakukan beberapa tahapan atau prosedur yaitu sebagai berikut : permohonan pembiayaan, penyidikan (investasi), analisa pembiayaan, pemutusan .3

Pelaksanaan pembiayaan ba’i bi tsaman ājil (BBA) bagi usaha kecil di BMTNU Sejahtera dapat dilakukan dengan melakukan beberapa tahapan atau prosedur yang dapat diuraikan sebagai berikut :

1) Permohonan Pembiayaan

a) Pengajuan Permohonan Pembiayaan

Alur permohonan pembiayaan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 4.1

Alur Permohonan Pembiayaan

      

3

Wawancara pada tanggal 24 September 2012, pukul 11.00-12.30

Calon Nasabah  Realisasi Pengajuan Pembiayaan Konsultasi dengan BMT Melengkapi  persyaratan  administrasi BMT  Layak  Ditolak  Tidak Layak Survwey / analisa  kelayakan nasabah di  BMT 

(5)

Sumber : diolah oleh peneliti

Petunjuk teknis dan beberapa kegiatan yang tercantum sebagai prosedur pengajuan pembiayaan dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 4.2

Petunjuk Teknis Dan Beberapa Kegiatan Yang Tercantum Sebagai Prosedur Pengajuan Pembiayaan

Sumber : Data diolah oleh peneliti

2) Penyidikan (Investasi)

Tujuannya adalah untuk mengetahui berkas yang diajukan sudah lengkap sesuai dengan persyaratan dan sudah benar, termasuk menyelidiki keabsahan berkas.

3) Analisa Pembiayaan

Analisa pembiayaan yang dilakukan BMT dengan melihat 5 C diantaranya :

a) Character (Karakter) Penilaian tentang watak atau kepribadian calon debitur.

Proses  Identifikasi  Mengisi  Formulir  Pemeriksaan  Berkas  Pemeriksaan  Buku Registrasi Informasi  Rencana survey Evaluasi  Pengajuan  Laporan Devisi  ke Manajer  Evaluasi  Pencatatan  Rencana Realisasi Pengajuan Berkas  ke Manajer  Informasi  Persetujuan/  Penolakan  Laporan ke  Kepala Devisi  Evaluasi  Manajer  Pencatatan  Buku Expedisi  Plafon Pengajuan Pembiayaan 

(6)

b) Capacity (Kemampuan) yaitu penilaian tentang kemampuan debitur untuk melakukan pembayaran kembali pembiayaan yang diterima.

c) Capital (Modal Sendiri) yaitu penilaian terhadap modal sendiri yang dimiliki calon debitur. Pembiayaan BMT hanya " tambahan " dana. Maka nasabah sendiri harus mempunyai modal. .

d) Condition Of Economy (Kondisi Perekonomian) yaitu kondisi perekonomian secara umum sangat menetukan keberhasilan suatu usaha yang dibiayai.

e) Collateral (Jaminan). Hal ini dilakukan, karena pembiayaan yang diberikan perlu diamankan dengan jaminan / agunan. Ibu Andira Ramadhani menjelaskan bahwa dari beberapa produk-produk pembiayaan yang ditawarkan oleh BMT ada dua pembiayaan yang banyak diminati oleh nasabah, yaitu: ba’i bi tsaman ājil (BBA) dan

murābahah (MRA). Akan tetapi nasabah banyak yang menggunakan

pembiayaan ba’i bi tsaman ājil (BBA) yang alasannya karena:

a) Produk BBA dianggap pembiayaan yang paling mudah (simpel) dibandingkan dengan pembiayaan-pembiayaan yang lainnya,

b) Flexibel,

c) Dan sistem pembayarannya juga tidak membebani nasabah yaitu dengan cara mengangsur.4

      

4

(7)

Dilihat dari definisinya saja usaha mikro merupakan usaha dengan aset tidak lebih dari Rp 50 juta, dan problem terbesar biasanya terletak pada modal. Untuk meningkatkan produktivitas usaha salah satu faktor penunjang yang terpenting adalah kesediaan modal yang cukup, kendala permodalan bagi umumnya pengusaha mikro tidak mampu dipenuhi oleh perbankan modern karena pada umumnya mereka tidak bankable (tidak mengerti tentang perbankan) padahal bank akan selalu berpegang pada azaz bankable untuk memutuskan kreditnya (pembiayaan) maka dari itu banyak usaha mikro yang mengalami kesulitan permodalan.

Dengan adanya kebutuhan permodalan usaha yang menjadi problem yang sangat mendesak, tidak sedikit pengusaha mikro mengambil jalan

pragmatis (jalan pintas) yakni mencari permodalan daribank plecent

(rentenir). Dan kehadiran BMT (baitul maal wa tamwil) sebagai pendatang baru dalam dunia pemberdayaan masyarakat melalui sistem simpan-pinjam syari’ah, dimaksudkan untuk menjadi alternatif yang lebih inovatif dalam jasa keuangan.

Dalam hal ini BMT dapat memberdayakan para usaha mikro yaitu dengan cara BMT menyediakan barang kepada siapa saja yang membutuhkan modal untuk pengembangan usahanya atau untuk memulai usaha agar semua kebutuhannya terpenuhi. Dan dengan menawarkan produk pembiayaan ba’i bi tsaman ājil (BBA) usaha mikro ini dapat meminjam modal dari BMT, sudah banyak nasabah yang menggunakan produk ba’i bi

(8)

membebani para usaha mikro tersebut dan nasabah juga tidak repot datang ke BMT karena pihak BMT setiap hari, minggu, bahkan bulan akan datang ke nasabah tersebut untuk menagih uang yang telah dipinjam oleh nasabah.

Menurut Bapak Saidin selaku kepala cabang BMT NU Sejahtera melalui pembiayaan BBA ini BMT dapat memberdayakan para usaha mikro, karena dengan adanya pembiayaan BBA ini para nasabah dapat meminjam modal dari BMT untuk mengembangkan usahanya. Contoh saja orang yang mempunyai ketrampilan akan tetapi orang tersebut tidak mempunyai modal untuk menyalurkan ketrampilan tersebut, maka pihak BMT akan meminjamkan modal dengan akad BBA.5

Begitu juga menurut Ibu Andira Ramadani selaku Layanan Nasabah di BMT NU Sejahtera menjelaskan dengan adanya pembiayaan BBA ini BMT dapat membantu memberdayakan para usaha mikro, karena sudah terbukti dari tahun ke tahun pembiayaan BBA ini banyak peminatnya dan juga karena cara pembayarannya pun secara mengangsur .6

      

5

Wawancara pada 24 September 2012, pukul 10.00-11.00 6

(9)

pem Jum K Mu Mu M Qa Kl palin adan Dapat di mbiayaan yan mlah Data N Keterangan BBA Musyārakah udhārabah Murabahah ard Hasan Jumlah Sumber: ipang Sema Dari gam ng banyak nya pembiay lihat pada ng di berika Nasabah Pem 2009 % 56 45 % - 20 16 % 43 35 % 3 2 % 122 : Data dip arang Pr Sumber D mbar diatas diminati ol yaan BBA i tabel di ba an oleh BM Tab mbiayaan B % 2010 5,9 % 459 - 6,4 % 63 5,2 % 235 2,4 % 5 762 peroleh da Ga rosentase N Data : Doku dapat kita leh nasabah ini semua k

awah ini jum T NU Sejah el 4.2 BMT NU S % 2 60,2 % 5 8,2 % 30,8 % 2 0,6 % 9 ari laporan ambar 4.3 Nasabah Pem umentasi BM a lihat bahw h yaitu sebe kebutuhan pa mlah nasaba htera : ejahtera Ta 011 % 562 60,1 % - 69 7,3 % 295 31,5 % 8 0,8% 934 keuangan mbiayaan MT NU Seja wa pembiay esar 60,5% ara nasabah BBA    = 60,5% MSA   = 0 % MRA   = 30,9 MDA  = 7,8% QH      = 0,7% ah dan data ahun 2009-2 Sept 2012 602 6 - % 78 7 308 3 % 7 0 995 n NU Seja ahtera yaan BBA %, karena de h terpenuhi. % 9% % % a aset 2012 % 60,5% - 7,8 % 30,9% 0,7% ahtera yang engan

(10)

Berdasarkan tabel jumlah nasabah pembiayaan tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa para nasabah yang ingin mengembangkan usahanya dan untuk menyalurkan ketrampilan dan tidak mempunyai modal, maka nasabah bisa melakukan pembiayaan di BMT dengan akad ba’i bi

tsaman ājil (BBA).

B. Peran Pembiayaan BBA dalam Pemberdayaan Usaha Mikro di BMT NU Sejahtera

Seperti yang telah dikemukan oleh Bapak Saidin selaku kepala cabang BMT NU Sejahtera makna pemberdayaan dalam BMT adala membuat nasabah yang sebelumnya pasif menjadi aktif, artinya nasabah yang sebelumnya tidak mempunyai pekerjaan maka BMT akan memberikan modal berupa barang untuk nasabah tersebut mendapatkan pekerjaan sesuai dengan kemampuan nasabah tersebut.7

Dalam prinsip tolong menolong ini BMT dapat menyalurkannya dengan cara nasabah dapat meminjam modal (melakukan pembiayaan) karena pada dasarnya usaha mikro mempunyai beberapa permasalahan, yaitu:

• Aspek pemasaran

Pengusaha mikro tidak memiliki perencanaan dan strategi pemasaran yang baik, usahanya hanya dimulai dari coba-coba bahkan tidak sedikit karena terpaksa. Jangkauan pemasarannya sangat terbatas sehingga informasi produknya tidak sampai kepada

      

7

(11)

calon pembeli potensial, mereka hampir tidak memperhitungkan tentang calon pembeli dan tidak mengerti bagaimana harus memasarkannya.

• Aspek manajemen

Pengusaha mikro biasanya tidak memiliki pengetahuan yang baik tentang sistem manajemen pengelolaan usaha, sehingga sulit dibedakan antara aset keluarga usaha bahkan karena banyak diantara mereka yang memanfaatkan ruang keluarga untuk berproduksi, dan perencanaan usaha tidak dilakukan sehingga tidak jelas arah dan terget usaha yang akan dijalankan dalam periode waktu tertentu. • Aspek teknis

Berbagai aspek teknis yang masih sering menjadi problem meliputi: cara berproduksi, sistem penjualan sampai pada tidak adanya badan hukum serta perizinan usaha yang lain

• Aspek keuangan

Kendala yang sering mengemuka dalam setiap perbincangan usaha kecil adalah lemahnya bidang keuangan, sedangkan pengusaha mikro hampir tidak memiliki akses yang luas kepada sumber permodalan Kendala ini sesungguhnya dipengaruhi oleh tiga kendala diatas kebutuhan akan permodalan tidak dapat dipenuhi oleh lembaga keuangan modern, karena pengusaha kecil tidak dapat memenuhi prosedur yang ditetapkan.

(12)

Dengan adanya kendala-kendala tersebut maka banyak nasabah yang melakukan pembiayaan di BMT khususnya pembiayaan BBA sangat berperan dalam memberdayakan para usaha mikro ini karena menurut para nasabah pembiayaan BBA dianggap pembiayaan yang paling mudah, simpel dan cara membayarnya pun secara mengangsur. Maka dari itu para nasabah yang pada umumnya banyak dari usaha mikro seperti: pedagang kaki lima, pedagang sayur, pedagang ikan dan lain-lainnya menggunakan pembiayaan BBA.

Dalam menyelesaikan kendala-kendala yang dihadapi oleh usaha mikro, BMT berperan dalam pemberdayaan usaha mikro dalam 3 peran yaitu :

1. Peran Motivator

Motif merupakan daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motiv dapat diartikan sebagai suatu kondisi internal (kesiapan, dan kesiagaan). Yang berawal dari kata “motiv” itu, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah aktif pada saat-saat tertentu terutama apabila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan mendesak.

Sujono Trimo memberikan pengertian motivasi adalah

suatu kekuatan penggerak dalam prilaku individu dalam prilaku individu baik yang akam menentukan arah maupun daya ahan

(13)

(perintence) tiap perilaku manusia yang didalamnya terkandung pula ungsur-ungsur emosional insane yang berasangkutan. 8

Dari uraian diatas dapat di sipulkan bahwa motivasi secara etimologi adalah dorongan atau daya penggerak yang ada daya penggerak yang berada dalam diri seseorang untuk melakukan suatu tindakan untuk mencapai sebuah tujuan.

Sedangkan motivator adalah yang memberi dorongan yaitu BMT NU Sejahtera . Bapak Saidin menjelaskan :

“Selalu memotivasi nasabah dalam menyeleseikan masalah-masalah yang dihadapi nasabah sudah dilakukan, tapi hanya dilakukan secara non-formal atau secara langsung saat transaksi agar nasabah lebih baik dalam penanganan-penanganan masalah-masalah yang dihadapi ataupun yang akan dihadapi”9

BMT NU Sejahtera sudah melakukan motivasi-motivasi pada nasabah-nasabahnya. Namun hanya dilakukan non-formal atau secara langsung saat transaksi dilakukan. BMT NU Sejahtera belum pernah melakukan penyuluhan-penyuluhan yang bentuknya formal dalam melakukan dorongan pada nasabah dalam penanganan-penanganan masalah-masalah atau kendala-kendala yang dihadapi atau yang mungkin dihadapi seperti seminar. 

Peran BMT sebagai motivator untuk nasabah meliputi kemampuan memberikan sikap terbuka dan mendorong nasabah       

8

 http://www.sarjanaku.com/2012/04/pengertian‐motivasi‐menurut‐para‐ahli.html. 27/12/2012  9

(14)

untuk mengembangkan potensi dalam memecahkan masalah-masalah atau kendala-kendala yang dihadapi nasabah, baik dalam hal permodalan maupun manajemen dalam menjalankan usahanya. Motivasi merupakan suatu penggerak atau dorongan-dorongan yang terdapat dalam diri manusia yang dapat menimbulkan, mengarahkan, dan mengorganisasikan tingkah lakunya.

2. Peran Fasilitator

Menurut Zakiah Daradjat “fasilitas adalah segala sesuatu yang dapat mempermudah upaya dan memperlancar kerja dalam rangka mencapai suatu tujuan.

Sedangkan menurut Suryo Subroto “ fasilitas adalah segala sesuatu yang dapat memudahkan dan memperlancar pelaksanaan suatu usaha dapat berupa benda-benda maupun uang. Lebih luas lagi tentang pengertian failitas Suhaisimi Arikonto berpendapat, “fasilitas dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat memudahkan dan memperlancar pelaksanaan segala sesuatu usaha.10

Bapak Saidin juga menjelaskan :

      

10

(15)

“BMT NU Sejahtera sudah menyiapkan produk-produk yang dapat membantu masalah-masalah nasabah, nasabah bisa memilih produk apa yang akan dipilih sesuai kebutuhannya.” 11

Dari yang dijelaskan oleh Bapak Saidin di atas, sudah jelas BMT NU Sejahtera sudah menyiapkan produk-produk yang dibutuhkan oleh nasabah dalam menangani permasalahan yang dihadapi oleh nasabah. Nasabah dapat memilih sesuai kebutuhan dan minatnya.

Ada beberapa produk yang ada di BMT yaitu: pembiayaan

ba’i bi tsaman ājil (BBA), pembiayaan murābahah (MBA),

pembiayaan musyārakah (MSA), pembiayaan mudhārabah

(MDA), dan pembiayaan qard hasan.

Dalam peran fasilitator, BMT menyiapkan dan menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh nasabah. BMT juga menyediakan berbagai pilihan pembiayaan yang dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan dan minat nasabah. Dalam hal memenuhi kurangnya modal dalam usaha mikro BMT menyediakan pembiayaan ba’i bi tsaman ājil (BBA) yang cara pembayarannya tidak membebani nasabah yaitu dengan mengangsur.

      

11

(16)

3. Peran Katalisator

Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi reaksi kimia pada suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu sendiri. 12

Bapak Saidin menjelaskan :

“BMT NU Sejahtera itu menghubungkan, yaitu menghubungkan antara pembeli/nasabah dengan pemilik barang. BMT NU Sejahtera dengan produk BBA ini memudahkan dan mempercepat dalam menghubungkan dengan pemilik barang. Dan BMT juga mempercepat dalam hal menangani masalah yang dihadapai nasabah dengan lewat produk BBA kami”.13

Peran katalisator yaitu pihak BMT mempercepat menghubungkan antara nasabah/pembeli dengan penyedia barang/penjual. BMT membantu dalam hal pemenuhan permodalan usaha mikro dengan pembiayaan ba’i bi tsaman ājil (BBA) dengan membeli barang dari penyedia barang kemudian pihak nasabah melakukan pembayaran dengan cara mengangsur ke pihak BMT. Dengan demikian usaha mikro dapat memenuhi kekurangan modalnya dan dapat mengembangkan usahanya dengan adanya pembiayaan ba’i bi tsaman ājil (BBA) di BMT NU Sejahtera.        12  http://yazz1.blogspot.com/2009/10/apa‐itu‐katalis.html. 27/12/2012  13 Hasil wawancara pada hari Kamis, 27 Desember 2012 pukul 08.30‐09.20  

(17)

Di bawah ini adalah hasil penelitian melalui pertanyaan yang di ajukan pada nasabah BMT NU Sejahtera yang menggunakan pembiayaan BBA melalui angket, apakah pembiayaan BBA berperan bagi usaha mereka. Berikut ini jawaban nasabah yang diolah oleh peneliti :

Tabel 4.3

Analisis peran pembiayaan ba’i bi tsaman ājil (BBA) untuk nasabah di BMT NU Sejahtera

No Nama Nasabah Jenis Usaha Berperan Sama

Saja Tidak Berperan 1 Bpk Darmono Perdagangan 9 - - 2 Bpk Yazed Peternakan 9 - - 3 Bpk Taufiq Perdagangan 9 - - 4 Bpk Sutomo Perdagangan 9 - -

5 Ibu Suparmi Perdagangan 9 - -

6 Bapak Abdul Lain-lain ( Mebel )

9 - -

7 Bpk Lazim Perdagangan 9 - -

8 Ibu Rohayati Perdagangan - 9 -

9 Ibu Anissa Perdagangan 9 - -

10 Bapak Syahadat Perdagangan 9 - -

Sumber data : di olah oleh peneliti dari penyebaran angket pada nasabah

Dari data hasil jawaban nasabah pengguna pembiayaan ba’i bi tsaman

ājil (BBA) di BMT NU Sejahtera di olah peneliti di atas, 9 nasabah yang

menggunakan pembiayaan (BBA) mengakatan beperan penting bagi usaha mereka, terutama para pedagang kaki lima yang modalnya pas-pasan. Hanya satu yang mengatakan sama saja. Mereka datang ke BMT karena membutuhkan tambahan dana untuk usaha meraka.

(18)

C. Faktor pendukung dalam memberikan pembiayaan ba’i bi tsaman ājil (BBA) untuk meningkatkan pemberdayaan Usaha Mikro.

Menurut Dwi Cahyono selaku Admin Pembiayaan menjelaskan bahwa faktor pendukung dalam memberikan pembiayaan ba’i bi tsaman ājil (BBA) untuk meningkatkan pemberdayaan usaha mikro adalah :14

a) Lokasi BMT NU Sejahtera yang berada di dekat pasar, karena pasar lebih banyak usaha mikro yang memerlukan suntikan dana tambahan.

b) Walaupun pembiayaan ba’i bi tsaman ājil (BBA) termasuk pembiayaan yang baru, namun hanya dengan mengenalkan sedikit definisi tentang pembiayaan ba’i bi tsaman ājil (BBA), nasabah lebih cepat mengerti, karena lebih simpel yaitu pembayarannya dengan angsuran.

c) Usaha mikro lebih memilih pembiayaan yang cara pembayarannya tidak memberatkan mereka, yaitu seperti dengan cara mengangsur. D. Faktor penghambat dalam memberikan pembiayaan ba’i bi tsaman ājil

(BBA) untuk meningkatkan pemberdayaan Usaha Mikro.

Beliau juga menjelaskan dalam memberikan pembiayaan kepada nasabah, BMT NU Sejahtera menghadapi masalah yang dapat menghambat dalam memberikan pembiayaan ba’i bi tsaman ājil (BBA) untuk meningkatkan pemberdayaan usaha mikro, penghambat tersebut sebagai berikut :

      

14

(19)

a) Rendahnya pemahaman masyarakat terhahap produk-produk pembiayaan syariah yang ditawarkan oleh BMT termasuk pembiayaan ba’i bi tsaman ājil(BBA).

b) Rendahya kredibilitas BMT di mata masyarakat.

c) Rendahnya kesadaran beragama masyarakat. Dari pengalaman penerapan pembiayaan syariah yang sudah dijalani, masyarakat lebih mementingkan unsur praktis dan ekonomis, dibandingkan dengan kesadaran untuk bermuamalah secara benar sesuai dengan tuntutan syariah.

d) Pola pencatatan arus kas usaha / bisnis nasabah yang masih belum sesuai dengan standard dan bahkan terkesan mengabaikan hal tersebut. Hal ini jelas menyulitkan BMT dalam melakukan analisa kelayakan nasabah maupun menjalankan aktivitas bisnis berbasis bagi hasil kepada nasabah pembiayaan.

e) Kredit Macet

f) Sulitnya memahami karakter setiap calon nasabah dalam falsafah teknisnya, menolak nasabah yang beresiko dengan segala pertimbangan lebih baik dari pada menerimanya.

g) Sulitnya menemukan nasabah yang benar-benar produktif.

h) BMT yang dihadapkan pada kondisi persaingan dan perebutan pasar keuangan mikro, baik oleh lembaga keuangan mikro konvensional seperti kopersi maupun BPR/BPRS, dan juga

(20)

ekspansi yang dilakukan oleh lembaga keuangan makro konvensional/ syariah untuk memasuki pasar mikro kredit. 15

Bapak Dwi Cahyono juga menjelaskan solusi dalam menghadapi masalah yang dapat menghambat dalam memberikan pembiayaan ba’i bi

tsaman ājil (BBA) untuk meningkatkan pemberdayaan usaha mikro di BMT

NU Sejahtera adalah sebagai berikut :

1) Peningkatan profesionalitas pelayanan dan operasional BMT, upaya ini dilakukan menanamkan image yang baik tentang BMT kepada masyarakat.

2) Peningkatan permodalan BMT, baik dari anggota dan strategi pengumpulan funding dari nasabah penabung, maupun bermitra dengan lembaga keuangan syariah lain yang lebih besar dan lebih besar permodalannya. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan likuiditas BMT agar mampu menjangkau segmen pasar yang lebih luas dengan fleksibilitas pelayanan yang tinggi.

3) Sosialisasi yang lebih intensif dan intergal yang mampu menjangkau masyarakat awam sebagai besar operasional di wilayah masing-masing BMT. Dari sosialisasi ini diharapakan akan muncul pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap keberadaan ekonomi syariah dan juga pentingnya bermuamalah dengan lembaga keuagan syariah seperti BMT.16

 

      

15

Hasil wawancara pada 30 Oktober 2012, pukul 09.00-10.00 16

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :