• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN

A. Tinjauan Pustaka

A.1. Hukum Internasional

Hukum internasional dapat didefinisikan sebagai keseluruhan hukum yang untuk sebagian besar terdiri dari prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah perilaku yang terhadapnya Negara-negara merasa dirinya terikat untuk menaati, dan karenanya, benar-benar ditaati secara umum dalam

hubungan-hubungan mereka satu sama lain.1 Hukum internasional telah

mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hukum internasional kini tidak hanya merupakan suatu sistem yang terdiri dari kaidah-kaidah yang mengatur hubungan antar Negara-negara saja. Hal ini disebabkan lahirnya negara-negara baru yang mengakibatkan meningkatnya hubungan antar Negara yang mendorong pembentukan lembaga-lembaga atau organisasi internasional permanen seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mampu menjalin hubungan satu sama lain dan dengan negara-negara, serta adanya gerakan yang disponsori oleh PBB yang bertujuan untuk melindungi kebebasan dan hak asasi manusia. Kedua kategori perkembangan tersebut telah menyebabkan timbulnya kaidah-kaidah baru

di masa mendatang.2 1 J.G. Starke, Opcit., h. 3. 2 J.G. Starke, Opcit., h. 4.

(2)

13

Hukum internasional, sebagai mana kita ketahui saat ini merupakan keseluruhan kaidah yang sangat diperlukan untuk mengatur sebagian besar hubungan – hubungan antar negara – negara, tanpa adanya kaidah – kaidah ini sungguh tidak mungkin bagi mereka untuk melakukan tetap dan terus menerus. Sesungguhnya hukum internasional merupakan persoalan

dengan keperluan hubungan timbal balik antar negara- negara. 3

Tetapi dalam kenyataannya tetap saja masih terjadi konflik – konflik antara negara yang melakukan perjanjian tersebut, dan konflik yang ada tidak mudah begitu saja untuk diselesaikan, karena dapat memicu terjadinya perang. Sejak diadopsinya Piagam PBB muncul anggapan bahwa penggunaan kekerasan atau perang telah diharamkan dalam praktek hubungan internasional. Sebagai kelanjutannya, negara – negara harus menggunakan metode – metode damai sebagai satu – satunya pilihan yang tersedia bagi mereka untuk menyelesaikan segala sengketa yang dimilikinya. Sehingga, hanya dua kemungkinan yang tersisa bagi penggunaan kekerasan, yakni dalam hal bela diri dan apabila terdapatnya

otorisasi dari Dewan Keamanan PBB.4

A.2. Nuklir

Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang berkembang pesat juga menjadi salah satu pendorong berkembangnya hukum internasional. Adanya kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan mengharuskan

3

J.G. Strake, Opcit., h. 16.

4

(3)

14

dibuatnya ketentuan-ketentuan baru yang mengatur kerjasama antar negara di berbagai bidang untuk mencapai tujuan bersama.

Dalam menciptakan perdamaian dan keamanan internasional, berbagai usaha telah dilakukan. Dengan dibuatnya perjanjian internasional, setiap negara dapat berkontribusi secara penuh untuk mencapai kekehidupan antar negara yang harmonis.

Dalam hal stabilitas internasional, yang palng diperhatikan oleh masyarakat internasional adalah masalah mengenai senjata – senjata pemusnah massal (weapon of mass distruction) atau yang lebih dikenal dengan senjata nuklir. Pada satu sisi teknologi nuklir ini banyak sekali memberikan kesejahteraan bagi umat manusia, seperti menyediakan pasokan energi pengganti listrik dengan jumlah yang besar dengan biaya yang terjangkau dan tetap aman. Tetapi pada sisi lainnya energi nuklir ini bisa menjadi senjata yang sangat kuat bagi keperluan militer.

Penggunaan senjata nuklir yang pernah terjadi yaitu serangan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika Serikat atas perintah Presiden Amerika Serikat, Harry S. Truman, yang terjadi selama Perang Dunia II terhadap Kekaisaran Jepang dimana nuklir “Little Boy” dijatuhkan di kota Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945, diikuti dengan pada tanggal 9 Agustus 1945, dijatuhkan bom nuklir “Fat Man” di atas Nagasaki. Bom atom ini membunuh sebanyak 140.000 orang diHiroshima

dan 80.000 di Nagasaki pada akhir tahun 19455. Sejak saat itu, ribuan jiwa

5“Frequently Asked Questions

#1".Radiation Effects Research Foundation.” dikutip dari sumber

(4)

15

telah tewas akibat luka atau sakit yang berhubungan dengan radiasi yang dikeluarkan oleh bom, mayoritas yang tewas adalah penduduk sipil.

Serangan pada saat itu di Hiroshima dan Nagasaki selain menimbulkan banyak kerugian dari berbagai aspek, hal ini menjadi pengalaman buruk

bagi masyarakat banyak serta menimbulkan ketakutan pada

masyarakatinternasional terutama negara – negara non- pemilik nuklir.Untuk mengantisipasi masalah tersebut dibentuklah Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency) yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yaitu sebuah organisasi independen yang didirikan pada 29 Juli 1957 dengan tujuan mencegah penyalahgunaan nuklir dan mempromosikan penggunaan nuklir untuk tujuan damai serta menangkal penggunaannya untuk keperluan militer.

A.3. Pengaturan Hukum Internasional terhadap Nuklir

Selain pengawasan yang dilakukan oleh Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency), maka di setiap negara yang ikut serta dalam berbagai macam perjanjian internasional yang diadakan oleh Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency), juga mempunyai badan pengawasan mereka masing-masing di setiap negara guna mengawasi penggunaan tenaga nuklir tersebut di masing-masing negara. Dalam hal ini khususnya di Indonesia

http://id.wikipedia.org/wiki/Pengeboman_atom_Hiroshima_dan_Nagasaki, diakses tanggal 25 April 2019 pukul 15:28

(5)

16

sebagai salah satu negara yang juga ikut serta sebagai anggota Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency).

Indonesia juga memiliki suatu badan nasional yang bertugas melakukan pengawasan tenaga nuklir yang dinamakan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) dan di samping memiliki badan yang melakukan pengawasan terhadap penggunaan tenaga nuklir, Indonesia juga memiliki suatu badan yang melakukan riset tenaga nuklir yang

bernama Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN)6.

Dalam kerangka global, semua konperensi internasional menyangkut energi nuklir yang diadakan sejak akhir Perang Dunia II pada dasarnya diarahkan atau ditujukan pada dua hal, yaitu pertama,

mengawasi dan menghapuskan “atoms for war”dan Kedua,

mempromosikan dan mengupayakan “atoms for peace”.7

Melalui hukum internasional negara-negara merumuskan prinsip-prinsip hubungan dan kerjasama di berbagai bidang kegiatan internasional untuk

mencapai tujuan bersama. Melalui ketentuan-ketentuan hukum

internasional, negara-negara dituntut untuk tunduk terhadap setiap peraturan-peraturan hukum internasional guna mencegah terjadinya sengketa yang mungkin terjadi dan menyelesaikan sengketa yang terjadi.

Melalui hukum internasional yang dirumuskan dalam berbagai bentuk perjanjian internasional, negara-negara menggabungkan upaya

6

Badan Pengawas Tenaga Nuklir, http://id.wikipedia.org/wiki/Badan_Pengawas_Tenaga _Nuklir, diakses tanggal 25 April 2019 Pukul 16.01 WIB

7

(6)

17

mereka untuk menangani isu keamanan, perlucutan senjata, hak asasi manusia (HAM), lingkungan hidup sampai pada terorisme. Tanpa adanya ketentuan-ketentuan hukum internasional, dunia tidak mungkin mencapai kemajuan dan kehidupan yang harmonis, yang bertujuan agar tercapainya perdamaian dan keamanan yang dibutuhkan bagi kesejahteraan umat

manusia.8

Kemudian lebih mendalam peraturan hukum internasional mengenai nuklir adalah sebagai berikut :

a. Piagam PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa)

Dengan berakhirnya Perang Dunia II pasca serangan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang memakan banyak korban nyawa dan rusaknya lingkungan akibat radiasi zat radioaktif menimbulkan ketakutan masyarakat dunia akan bahaya senjata pemusnah massal yang dapat memicu timbulnya perang nuklir di masa mendatang yang dapat mengancam kelangsungan peradaban umat manusia. Langkah-langkah efektif yang menjadi priortas utama untuk dilakukan adalah memajukan perlucutan senjata berupa penghentian serta mengurangi pacuan senjata nuklir dan mencegah berkembangnya senjata nuklir itu sendiri.

Piagam PBB dapat dijadikan salah satu instrumen internasional yang berkaitan dengan nuklir saat ini. Piagam PBB (Charter of The United Nations) ditandatangani pada tanggal 26 Juni1945 di San Francisco dan secara resmi dinyatakan mulai berlaku pada tanggal 24 Oktober1945.

8

(7)

18

Setelah Perang Dunia II, pendapat umum cenderung lebih menginginkan suatu pengaturan mengenai menjaga perdamaian dan keamanan internasional yang menjadi tanggungjawab bersama negara-negara. Perserikatan Bangsa–Bangsa didirikan dengan tujuan utama untuk memelihara perdamaian dan keamanan internasional dan untuk itu untuk mengambil tindakan bersama yang efektif untuk pencegahan dan

penghapusan ancaman.9

Piagam PBB ini merupakan traktat multilateral yang bersifat terbuka, yakni penuangan kesadaran masyarakat internasional dalam memelihara perdamaian dan keamanan adalah secara kolektif serta memberikan kesempatan kepada Negara-negara lain yang awalnya tidak turut melakukan perjanjian untuk menjadi anggota Piagam PBB tersebut. Maka Piagam ini secara hukum menciptakan kewajiban yang mengikat bagi semua negara yang menjadi anggota PBB. Negara-negara yang telah menjadi anggota PBB berkewajiban memenuhi ketentuan-ketentuan yang

terdapat dalam Piagam.10

Piagam PBB merupakan ungkapan tertinggi hukum internasional yang merupakan dokumen konstitusional yang mendistribusikan kekuasaan dan fungsi di antara organ PBB.

Dengan sepenuhnya mematuhi Piagam dan seluruh badan hukum internasional makaketentuan hukum internasional dapat diterapkan dalam pertikaian-pertikaian bersenjata yang memuat sejumlah prinsip yang

9

Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, Bab I, Pasal1(1) 10

(8)

19

relevan dengan perencanaan militer dan perumusan doktrin-doktrin strategis untuk tidak menggunakan kekuatan senjata, termasuk kategori senjata pemusnah massal dalam situasi yang bertentangan dengan PBB untuk mencapai keamanan internasional.

Hukum humaniter internasional telah menetapkan hal-hal yang diperbolehkan dan dilarang untuk diterapkan pada metode peperangan internasional. Sejalan dengan hal ini termasuk pula antara lain prinsip-prinsip pembedaan antara sasaran-sasaran militer dan sipil, larangan kegiatan yang menyebabkan kerusakan yang tidak perlu, dan larangan untuk melakukan serangan-serangan yang melampaui kegunaan militer

yang nyata dan langsung.11 Senjata nuklir memperkenalkan dimensi yang

baru dan berbeda secara kualiatif. Sulit untuk dipahami bahwa senjata nuklir dapat digunakan dalam situasi yang sejalan dengan prinsip-prinsip yang diatur dalam hukum humaniter. Usaha-usaha lebih lanjut yang harus dilakukan adalah agar hukum internasional juga memuat pelarangan menyeluruh dan pemusnahan total semua senjata nuklir, dan juga pelarangan yang jelas dan menyeluruh pengembangan, percobaan, pembuatan dan penimbunan serta penggunaan senjata – senjata nuklir.

b. Resolusi Majelis Umum PBB

Majelis Umum PBB atau Sidang Umum PBB adalah salah satu dari enam badan utama PBB yang merupakan badan permusyawaratan yang terdiri dari semua Negara Anggota PBB. Majelis Umum sebagai

11

(9)

20

badan utama PBB memiliki tugas dan kekuasaaan yaitu salah satunya berkaitan dengan pelaksanaan perdamaian dan keamanan internasional. Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, Majelis Umum membentuk berbagai badan, seperti komite, komisi, konperensi dan agency.

Dalam pelaksanaan perdamaian dan keamanan internasional, Majelis Umum mengusahakan setiap Negara-negara tidak melakukan tindakan-tindakan dengan menggunakan kekuatan bersenjata yang dapat mengancam perdamaian dan keamanan internasional serta tidak mengakui hak untuk mengancam dengan perang atau dengan melanggar isi perjanjian-perjanjian berkaitan dengan perdamaian dan keamanan internasional. Seperti halnya dengan penggunaan teknologi nuklir tidak untuk tujuan damai ataupun melakukan ujicoba senjata nuklir dapat menimbulkan keadaan internasional yang tidak aman. Hal tersebut akan menimbulkan kecurigaan pada Negara lain akan digunakannya nuklir untuk tujuan perang dan menimbulkan perang. Untuk hal tersebut Majelis Umum dapat memberikan solusi berupa usul tentang cara-cara penyelesaian atau tentang syarat-syarat penyelesaian untuk mengurangi potensi terjadinya ancaman terhadap perdamaian dan keamanan internasional.

Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations General Assembly Resolution)adalah sebuah keputusan resmi dari Majelis Umum PBB yang diperoleh dari semua Negara anggota dari PBB di dalam tubuh Majelis Umum PBB dan diadopsi ke dalam tubuh PBB

(10)

21

yang biasanya dicapai melalui suatu mayoritas sederhana yaitu 50% dari semua suara ditambah satu dan melalui mayoritas dua pertiga untuk menyelesaikan masalah yang secara signifikan berhubungan dengan pemeliharaan perdamaian dan keamanan internasional, pengakuan atas anggota baru untuk PBB, penangguhan hak-hak dan hak keanggotaan, pengusiran anggota, pengoperasian sistem perwalian, atau pertanyaan

anggaran.12 Pemungutan suara dalam Majelis Umum PBB merupakan cara

penting bagi sebuah negara untuk mengekspresikan sikap tentang isu-isu yang menjadi perhatian.Sementara resolusi yang diadopsi oleh Majelis

Umum PBB bersifat tidak mengikat.13

Majelis Umum berhak untuk membicarakan dan membuat rekomendasi mengenai semua masalah yang berada pada jangkauan Piagam PBB. Walaupun keputusan Dewan tidak memiliki kekuatan yang mengikat secara hukum, namun dia mencerminkan bobot opini dunia mengenai masalah-masalah internasional yang penting dan merupakan

kekuatan moril dari masyarakat dunia.14

c. Resolusi Dewan Keamanan PBB

Dewan Keamanan PBB (TheUnited Nations Security

Council/UNSC) adalah salah satu dari enam organ utama PBB yang

12United Nations General Assembly resolution”dikutip dari sumber

https://en.wikipedia.org/wiki/United_Nations_General_Assembly_resolution diakses tanggal 27 April 2019 pukul 13:34 WIB

13

Yuku Zaitsu. United Nations General Assembly Resolutions on Select Nuclear Weapons Issues (2001-2011) –A Briefing Paper for the 67t h Session of the United Nations General Assembly. disampaikan tanggal 25 September 2012

14

Kantor Penerangan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Indonesia. (Jakarta: 1993). hlm. 4

(11)

22

memiliki 15 Negara anggota. Lima di antaranya –Republik Rakyat Cina, Perancis, Rusia, Inggris dan Amerika Serikat –merupakan Negara anggota tetap dan sepuluh anggota lainnya dipilih oleh Majelis Umum untuk masa dua tahun. Di bawah Piagam, semua Negara Anggota wajib mematuhi keputusan Dewan. Tanggungjawab utama dari Dewan Keamanan PBB

adalah memelihara perdamaian dan keamanan internasional.15

Dalam pelaksanaan tugas utamanya dalam memelihara perdamaian dan keamanan internasional, Dewan Keamanan mengawasi setiap tindakan-tindakan Negara yang berhubungan dengan hal yang mengancam stabilitas keamanan global. Termasuk di dalamnya mengenai pengawasan pemanfaatan teknologi nuklir yang ditujukan untuk pengembangan senjata nuklir dimana kegiatan tersebut dapat menimbulkan situasi internasional yang tidak aman. Dalam hal ini, Dewan Keamanan mempunyai hak untuk dapat memberikan solusi yang perlu disepakati lebih lanjut tentang cara-cara penyelesaian untuk menanggulangi kondisi tersebut serta mengatur mengenai sanksi-sanksi yang diterima oleh Negara yang telah mengancam perdamaian dan keamanan internasional.

Resolusi PBB adalah ekspresi formal pendapat atau kehendak organ PBB. Mereka umumnya terdiri dari dua bagian yang jelas yaitu pembukaan dan bagian operasi.Pembukaan umumnya menyajikan pertimbangan atas dasar mana tindakan yang diambil, pendapat

15

(12)

23

diungkapkan atau arahan yang diberikan.Bagian operasi menyatakan

pendapat organ atau tindakan yang akan diambil.16

Resolusi Dewan Keamanan PBB (United Nations Security Council Resolution) adalah resolusi PBB yang ditetapkan lewat pemungutan suara oleh lima anggota tetap dan sepuluh anggota tidak tetap dari Dewan Keamanan PBB. Dalam pasal 27 Piagam PBB menetapkan bahwa konsep resolusi pada non-prosedural jika hal itu diadopsi sembilan atau lebih dari lima belas anggota Dewan Keamanan untuk memilih resolusi serta jika tidak dipergunakannya hak tolak oleh salah satu dari lima anggota tetap. Resolusi dianggap sebagai tindakan yang mempunyai kekuatan moral dan politis yang pada hakikatnya tidak mempunyai kekuatan mengikat tetapi

lebih bersifat rekomendatif.17

d. Statuta IAEA (International Atomic Energy Agency)

Statuta International Atomic Energy Agency (IAEA) telah disetujui pada tanggal 23 Oktober 1956 oleh Konperensi Statuta Badan Energi Atom Internasional, yang diselenggarakan di Markas Besar PBB, New York

.IAEA sangat berkaitan dengan teknologi nuklir dan aplikasi yang

kontorversial, baik sebagai senjata atau sebagai alat yang praktis dan berguna. Ide-ide yang Presiden Eisenhower kemukakan dalam pidatonya pada tahun 1953 membantu dalam membentuk undang-undang IAEA,

16

“Security Council Resolutions”dikutip dari sumber http://www.un.org/Docs/sc/ diakses tanggal 27 April 2019 pukul 14:15 WIB

17

(13)

24

yang mana 81 negara dengan sepakat menyetujuinya pada bulan Oktober 1956.

Dalam Pasal II Statuta IAEA tersebut disebutkan bahwasanya, IAEA akan mempercepat dan memperbesar kontribusi energi atom untuk perdamaian, kesehatan dan kesejahteraan di seluruh dunia. Dan dipastikan bahwa bantuan yang diberikan oleh IAEA atas permintaan tiap negara dalam menggunakan nuklir dalam sifat yang bertujuan damai, energi nuklir yang digunakan tidak disalahgunakan dengan memajukan tujuan militer negara.

Pada bulan oktober 1957, IAEA dalam konferensi umum pertama memutuskan untuk mendirikan kantor pusat IAEA di Wina, Austria.

Sampai dengan pembukaan Vienna International Centre pada Agustus

1979, Grand Hotel tua di sebelah Vienna Opera House adalah kantor pusat IAEA untuk sementara.

IAEA juga memiliki dua kantor daerah atau kantor cabang yang terletak di Toronto, Kanada (sejak 1979) dan Tokyo, Jepang (sejak 1984), serta dua kantor penghubung di New York City, Amerika Serikat (sejak 1957) dan Jenewa, Swiss (sejak 1965). IAEA menjalankan sebuah laboratorium khusus dalam teknologi nuklir di Wina dan Seiberdorf, Austria, dibuka pada tahun 1961, dan sejak 1961, di Monako. Saat ini IAEA dipimpin oleh Yukiya Amano yang telah terpilih sebagai ketua IAEA pada bulan Juli 2009, dan masih menjabat sampai dengan saat ini semenjak bulan Desember 2009.

(14)

25

Dalam sebuah organisasi yang khususnya merupakan sebuah organisasi internasional pasti memiliki visi, misi dan tujuan yang mana menjadi pilar organisasi internasional tersebut dalam menjalankan kegiatannya. Sudah menjadi ciri khas untuk setiap organisasi adalah visi dan misinya. Secara bersama-sama, pernyataan tersebut jelas, dimana dalam visi dan misi harus mempersiapkan program-program organisasi, pengoperasian dan komunikasi. Yang mana komunikasi tersebut, secara langsung dan tidak langsung memperkuat organisasi tersebut. Visi menunjukkan sebuah organisasi internasional dalam memetakan impian yang ingin dicapai di masa depan atau kesuksesan jangka panjang. Misi merupakan pernyataan tentang sesuatu yang harus dilaksanakan oleh organisasi internasional dalam mewujudkan visi. Dan tujuan, merupakan rangkaian banyak hal yang hendak dicapai.

Visi IAEA adalah menjadi pusat dunia dalam kerjasama di bidang nuklir, bekerja dengan negara-negara anggota dan beberapa mitra di seluruh dunia untuk mempromosikan teknologi nuklir yang aman dan damai. Visi tersebut dinyatakan dalam IAEA Statuta, yang mana berfungsi sebagai prinsip semua kerangka kegiatan IAEA.

Misi dalam IAEA dipandu oleh kepentingan dan kebutuhan tiap negara-negara anggota, rencana strategis dan visi yang terkandung dalam

IAEA Statuta. Misi IAEA didukung tiga pilar, yaitu: Safety and Security

(keselamatan dan keamanan), Science and Technology (sains dan

(15)

26

verifikasi).18 Misi IAEA yang pertama adalah organisasi independen antar

pemerintah berbasis sains dan teknologi, dalam naungan PBB, yang berfungsi sebagai titik fokus global dalam kerjasama nuklir.Yang kedua membantu negara-negara anggotanya, dalam konteks tujuan sosial dan ekonomi, dalam perencanaan menggunakan pengetahuan dan teknologi nuklir dalam berbagai tujuan damai, termasuk pembangkitan listrik tenaga nuklir, dan memfasilitasi transfer teknologi dan pengetahuan tersebut secara berkelanjutan untuk mengembangkan negara-negara anggota. Yang ketiga mengembangkan standar keselamatan nuklir, dan berdasarkan standar-standar ini, mempromosikan pencapaian dan pemeliharaan tingkat keselamatan yang tinggi dalam pengaplikasian energi nuklir, serta perlindungan kesehatan manusia dan lingkungan terhadap radiasi. Yang keempat memverifikasi melalui sistem inspeksi yang mana negara-negara anggota mematuhi komitmen mereka, dibawah perjanjian Non-Proliferasi (NPT) dan perjanjian non-proliferasi lainnya, untuk menggunakan material nuklir dan fasilitasnya hanya untuk tujuan damai.

Statuta IAEA mulai berlaku pada tanggal 29 Juli1957 dan merupakan cikal bakal pembentukan IAEA yang merupakan sebuah organisasi independen yang berada di bawah naungan PBB yang

bermarkas di Wina, Autria dan beranggotakan 137 negara.19

18“The “Atom for Peace” Agency”, dalam https://www.iaea.org/about/about-iaea, diakses pada

tanggal 27 April 2019 Pukul 15.05 WIB 19

“A Short History of IAEA” sebagaimana dimuat dalam http://www.iaea.org/About/history.html terakhir diakses tanggal 27 April 2019 Pukul 15:35 WIB

(16)

27

Sebagai badan energi atom dunia yang mempunyai dua misi (dual mission)20, yaitu „commited to containing the spread of nuclear weapons’ dan „support the elimination of the nuclear arsenals‟, maka pembetukan

IAEA (Interntional Atonomic Energy Agency) adalah bertujuan21:

1) Untuk meningkatkan dan memperbesar kontribusi

energi atom bagi perdamaian, kesehatan,

kemakmuran di seluruh dunia.

2) Untuk memastikan, sepanjang badan ini mampu

melakukannya, bahwa setiap reaktor nuklir, kegiatan, atau informasi yang berkaitan dengan energi nuklir akan dipergunakan hanya untuk tujuan-tujuan damai.

3) Untuk memastikan bahwa segala bantuan baik yang

diberikan maupun yang diminta atau di bawah pengawasannya tidak disalah-gunakan sedemikian rupa untuk tujuan militer.

Peran IAEA adalah sebagai sebuah forum antar pemerintah (an intergovernmental forum) untuk keilmuan dan kerjasama teknik dalam pemanfaatan teknologi nuklir secara damai di seluruh dunia. Dengan tujuan untuk mewujudkan perdamaian internasional dan keamanan serta untuk mewujudkan Tujuan-Tujuan Dunia Millenium (the World's

20

Mohamed ElBaradei, Atoms for Peace: A Vision for the Future, dalam https://www.iaea.org/sites/default/files/publications/magazines/bulletin/bull45-2/45205081720.pdf, diakses pada tanggal 27 April 2019 Pukul 16.05 WIB 21

Pasal II Statuta IAEA, dalam https://www.iaea.org/about/statute#a1-2, diakses pada tanggal 27 April 2019 Pukul 15.54 WIB.

(17)

28

Millenium Goals) bidang sosial, ekonomi dan peningkatan kualitas lingkungan. Sedangkan program-program dari IAEA bertujuan untuk lebih mendorong pengembangan dan penerapan teknologi nuklir secara damai,

memberikan pengamanan internasional terhadap penyalahgunaan

teknologi nuklir, dan memfasilitasi tindakan-tindakan keamanan teknologi nuklir. Pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai antara lain untuk:22

1) Pembangkit tenaga listrik;

2) Bidang sumber daya pertanian (seperti di Peru

Selatan, telah dikembangkan pembasmi hama tanaman (horticultural pests) bagi terciptanya daerah bebas lalat buah (fruit fly free area));

3) Bidang peternakan (di Sri Lanka, program dari

IAEA yang memanfaatkan teknologi nuklir untuk meningkatkan produksi susu);

4) Bidang oceanography di Paris, Perancis.;

5) Teknologi kedokteran (di Laboratorium IAEA di

Seiberdorf, Austria dikembangkan teknologi

mutakhir bidang kedokteran (Advanced Nuclear Medicine Technology).

22

Teknologi nuklir untuk kemakmuran manusia, dalam http://www-naweb.iaea.org/na/index.html, diakses pada tanggal 27 April 2019.

(18)

29

International Atonomic Energy Agency (IAEA) juga memiliki

beberapa fungsi yang tercantum pada Statuta IAEA sebagai berikut23:

1) Dalam menjalankan fungsinya, IAEA :

a) Melakukan kegiatan sesuai dengan tujuan

dan prinsip PBB untuk mempromosikan perdamaian dan kerjasama internasional, sesuai dengan kebijakan dari PBB untuk pembentukan pelucutan senjata di seluruh dunia dijaga dan sesuai dengan perjanjian internasional yang sesuai dengan kebijakan tersebut.

b) Menetapkan kontrol atas penggunaan bahan

fisik khusus (nuklir) yang diterima oleh IAEA, untuk memastikan bahwa bahan-bahan tersebut digunakan hanya untuk tujuan damai.

c) Mengalokasikan sumber daya sedemikian

rupa untuk mengamankan pemanfaatan yang efisien dan manfaat umum terbesar yang mungkin di semua daerah di dunia,

mengingat kebutuhan khusus daerah

tertinggal di dunia

23

Pasal III Statuta IAEA, dalam https://www.iaea.org/about/statute#a1-2, diakses pada tanggal 27 April 2019 Pukul 19.11 WIB.

(19)

30

d) Menyerahkan laporan kegiatan tiap tahunnya

kepada Majelis Umum PBB, dan kepada Dewan Keamanan: jika sehubungan dengan kegiatan IAEA ada pertanyaan yang berada dalam wewenang Dewan Keamanan, IAEA harus memberitahu Dewan Keamanan, sebagai organ tanggung jawab utama untuk pemeliharaan perdamaian dan keamanan internasional, dan juga dapat mengambil langkah terbuka untuk hal tersebut dibawah Statuta ini, termasuk yang tercantum pada ayat C Pasal XII.

e) Menyerahkan laporan kepada Dewan

Ekonomi dan Sosial, dan organ-organ PBB lain yang berwenang.

2) Dalam menjalankan fungsinya, IAEA tidak

diperbolehkan membantu negara anggotanya akan hal politik, ekonomi, militer atau kondisi lain yang tidak sesuai dengan ketentuan Statuta ini.

3) Berdasarkan ketentuan dari Statuta ini dan dengan

persyaratan perjanjian menyimpulkan antara negara atau kelompok negara dan IAEA yang harus sesuai

(20)

31

dengan ketentuan Statuta, kegiatan IAEA dilakukan dengan memperhatikan hak berdaulat negara.

A.4. Non-Prolifertion Treaty (NPT)

Rezim Non-proliferation Treaty (NPT), merupakan perjanjian yang mengikat secara hukum internasional terhadap negara-negara yang menandatangani atau meratifikasi traktat NPT tersebut. Kemunculan traktat NPT sendiri bertujuan untuk mencegah penyebaran senjata nuklir, dan mendorong penggunaan energi nuklir untuk tujuan yang damai dan positif, seperti tenaga listrik dan pelucutan secara umum dan menyeluruh. Perjanjian non-proliferasi nuklir mengacu pada upaya-upaya untuk memberantas dan mencegah penyebab senjata-senjata nuklir, yang bisa saja luput dari kontrol ke negara-negara yang belum memiliki sistem persenjataan nuklir sama sekali. Karena jika tidak diatur, situasi tersebut berpotensi akan sangat membahayakan keamanan global dan menganggu

kedaulatan suatu negara.24.

Oleh sebab itu, NPT mampu mengadakan kesepakatan pengendalian persenjataan yang paling luas dan diikuti oleh sebagian besar negara-negara di dunia. Perjanjian ini diharapkan dapat membawa harapan baru bagi terciptanya perdamaian dunia. Traktat Nonproliferasi Nuklir (NPT) ditandatangani pada 1 Juli 1968 di New York, Amerika Serikat oleh 43 negara dan mulai efektif dua tahun kemudian.

24

International Journal of Law and Social Sciences (JLSS) Vol.1 No.1, Jan 2012 (The effectiveness of the nuclear Non-Proliferation Treaty (NPT) in curbing Iran‟s nuclear programme: A Critical analysis)

(21)

32

Pada tanggal 11 Mei 1995 di New York, lebih dari 170 negara sepakat melanjutkan perjanjian ini tanpa batas waktu dan syarat tertentu, Perjanjian ini memiliki tiga prinsip utama, yaitu: nonproliferasi, perlucutan, dan hak untuk mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan damai. Semua Negara telah mendorong NPT untuk bekerja dengan lebih baik lagi untuk mencapai perdamaian dunia, terutama negara-negara bigfive yang sekalipun disebut Nuclear Weapon State (NWS)25.

Non-Proliferasi Senajata Nuklir (NPT) merupakan perjanjian internasional yang bertujuan untuk mencegah penyebaran senjata nuklir dan teknologi senjata nuklir, mendorong perkembangan penggunaan energi nuklir untuk maksud damai dan memajukan tujuan mecapai pelucutan secara umum dan menyeluruh. NPT ini berada dibawah tanggung jawab IAEA yang juga memainkan peranan penting dalam pengawasan teknologi nuklir.

Hingga saat ini beberapa negara nukir seperti Amerika Serikat, Uni Soviet (Rusia) dan Inggris bersama – sama lebih dari 178 negara non-nuklir ikut serta menandatangani naskah NPT tersebut. Untuk memantau perkembangan program nukir masing – masing negara anggota NPT,

parapenandatangan melakukan pertemuan lima tahunan.26

25

Charles J. Moxley, Jr., John Burroughs, & Jonathan Granoff, Nuclear Weapons and Compliance with International Humanitarian Law and the Nuclear Non-Proliferation Treaty, 34 FORDHAM INT'L L.J. (forthcoming winter 2011), h., 9

26

(22)

33

NPT Sebagai perjanjian internasional yang bertujuan untuk melokalisir dan membatasi jumlah negara yang mendeklarasikan dirinya bersenjata nuklir membagi dua keanggotaan dalam NPT.

Kelompok keanggotaan yang pertama disebut sebagai Nuclear

Weapon States (NWS), yang terdiri dari negara – negara : Amerika Serikat, Rusia, Perancis, Inggris dan Cina. Negara – negara ini dikategorikan sebagai NWS karena telah mempunyai kapabilitas nuklir sebelum Januari 1967. NWS masih diperbolehkan mempertahankan nuklirnya, tetapi tidak diperbolehkan memindahkan atau mengirimkan teknologi dan arsenal nuklir ke negara lain, dilarang membantu negara lain mengembangkan teknologi senjata nuklir, dan diwajibkan berkomitmen untuk usaha – usaha pelucutan senjata nuklir serta mecegah perlombaan senjata nuklir.

Kelompok keanggotaan kedua disebut sebagai Non-Nuclear

Weapon States (NNWS), diamana negara – negara ni mempunyai kewjiban diantaranya adalah :

1. Tidak boleh mengembangkan senjata nuklir;

2. Diperbolehkan melakukan riset teknologi nuklir untuk tujuan non –

militer;

3. Harus menerima pengawasan dari dunia internasional berkenaan dengan

penggunaan material nuklir agar tidak disalahgunakan untuk

(23)

34

Sehingga dalam kajian pembahasan NPT ini, terdapat tiga pilar dalam mengatur pengunaan senjata nuklir yang telah disepakati oleh negara-negara yang terlibat yaitu: pertama, nonproliferasi, kedua

penggunaan damai, dan ketiga perlucutan senjata.27

Yang pertama yaitu: Nonproliferasi, berdasarkan Pasal I dari NPT, negara yang memiliki senjata nuklir berjanji untuk tidak mentransfer, menjual senjata nuklir bahkan alat dan bahan dasar peledak nuklir lainnya kepada negara-negara non-senjata nuklir. Juga dengan cara lain seperti membantu, mendorong atau membujuk negara non-nuklir untuk memproduksi, membeli dan menerima senjata nuklir itu sendiri.

Yang kedua yaitu: penggunaan damai. Menurut Pasal II dari NPT, negara-negara non-senjata nuklir berjanji untuk tidak memperoleh atau melakukan kontrol atas senjata nuklir atau alat peledak nuklir lainnya bahkan berjanji untuk tidak menerima dan memproduksi senjata nuklir itu sendiri, bahwa dalam pasal II NPT ini kebalikan dari pasal I NPT. Menurut Pasal III dari NPT, negara-negara non-senjata nuklir berjanji untuk menerima IAEA untuk memverifikasi bahwasanya kegiatan nuklir yang dimiliki oleh negaranya masing-masing adalah untuk melayani tujuan yang damai. Seperti di Fukushima, Jepang, nuklir dipergunakan untuk pembangkit listrik yang dapat mendorong kesejahteraan masyarakatnya. Kendatipun nuklir berakibat negatif sebagai pembangkit listrik, keputusan itu diluar dari traktat NPT. Negara-negara yang terlibat. NPT Pasal IV mengakui dan menerima hak semua negara untuk

27

(24)

35

mengembangkan energi nuklir untuk tujuan damai dan untuk mendapatkan keuntungan dari kerjasama internasional dalam negaranya.

Yang ketiga yaitu: Perlucutan. Berdasarkan Pasal VI NPT, semua

pihak berjanji untuk melanjutkan negosiasi dengan iman yang baik dan langkah-langkah yang efektif berkaitan dengan pemberhentian perlombaan senjata nuklir jika bertujuan untuk memandang rendah negara lain.

Singkatnya, ketiga pilar ini saling berkaitan dan saling memperkuat untuk menciptakan Sebuah Rezim nonproliferasi yang efektif dan negara-negara anggotanya mematuhi dengan kewajiban mereka memberikan landasan penting untuk kemajuan perlucutan senjata dan memungkinkan kerja sama yang lebih besar dalam penggunaan energi nuklir untuk kegiatan yang positif dan damai. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa negara-negara NWS dan Non NWS semua harus mematuhi traktat NPT yang telah disepakati bersama untuk keamanan secara global.

B. Hasil Penelitian

Dalam Hasal penelitian penulis akan mengangkat suatu permasalahan yang melibatkan negara Korut (Korea Utara) dengan teknologi perkembangan senjata nuklirnya yang mendapat banyak pertentangan dari negara – negara yang lain karena diduga tidak sesuai dengan peraturan internasional.

(25)

36

B.1. Sejarah Perkembangan Teknologi Nuklir KORUT

Korea Utara merupakan salah satu negara yang berada di kawasan Asia Timur, yang berbatasan langsung dengan Korea Selatan di Semenanjung Korea.

Negara Korea menghubungkan Asia Timur laut dengan dunia luar terutama kepulauan Jepang yang letaknya dekat dengan Semenanjung Korea. Posisi geografi Semenanjung Korea yang strategis menyebabkan Korea mempunyai arti penting sebagai penghubung antar negara di

kawasan Timur Tengah dengan kawasan Asia.28

Pada saat terjadinya perang dingin, Semenanjung Korea dibagi dua oleh kedua negara besar pemenang perang sebelumnya. Bagian Selatan yang dikuasai oleh Amerika Serikat, sementara Utara dikuasai oleh Uni Soviet. Pembagian ini dilakukan secara sepihak oleh Amerika dan Uni Soviet pada tahun 1945 serta bersifat kontradiktif dengan Konferensi Kairo 1943 dan menyatakan bahwa kedua negara Korea ini harus bersatu. Namun Konferensi Yalta yang terjadi pada bulan Februari 1945 mengizinkan Uni Soviet (pemerintahan Stalin) untuk mendirikan zona penyangga sebagai negara satelit di Moskow untuk membantu perang

melawan Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik.29

28

S.Y. Yang dan Mas‟oed. M, Masyarakat Politik dan Pemerintahan Korea: Sebuah Pengantar, Yogyakarta: Universitas Gajah Mada, 2003, h., 45

29

Kathryn Weathersby, Soviet Aims in Korea and the Origins of the Korean War 1945-1950: New Evidence from Russian Archives, Wodrow Wilson International Center for Scolars, Working Paper No.8, 1993, p. 10

(26)

37

Kemudian untuk pertama kalinya pada tanggal 25 Juni 1950 Korea Utara melakukan penyerangan dari darat maupun udara ke Korea Selatan. Aksi penyerangan ini di dukung sepenuhnya oleh Uni Soviet dalam bidang persenjataan. Pada saat terjadinya penyerangan Korea Selatan belum memiliki persenjataan dan kekuatan pertahanan yang cukup untuk melawan Korea Utara. Sehingga Korea Utara memiliki keunggulan dalam penyerangan ini. Penyerangan Korea Utara ini dikenal dengan perang korea atau forgotten war.

Perang ini berakhir tiga tahun kemudian yang ditandai dengan kesepakatan untuk membuat zona demiliterisasi atau zona netral yang memisahkan kedua negara. Selain mendukung penyerang Uni Soviet juga mulai mengimplementasikan penelitian nuklir di Korea Utara. Uni Soviet melakukan serangkaian penelitian geologi untuk biji uranium di Korea Utara. Cadangan deposit uranium yang terdapat di Korea Utara saat itu diperkirakan mencapai 26 juta ton. Kemudian pada tahun 1956 ditandatangani perjanjian partisipasi kerja sama damai penggunaan nuklir antar kedua negara. Dalam perjanjian ini disetujui adanya pengiriman ilmuwan dan teknisi ke Uni Soviet. Para ilmuwan ini mendapatkan

pelatihan untuk program nuklir di Moskow.30

Pada saat itu teknologi yang dimiliki oleh Korea Utara belum memadai untuk memproduksi senjata nuklir sendiri. Setelah China berhasil melakukan uji coba bom nuklir pertamanya pada tahun 1964, Korut mulai

30

Uk Heo dan Jung-Yeop Woo, The North Korean Nuclear Crisis: Motive, Progress, and Prospect, Korean Observer, Vol.39, No. 4, ( The Institute of Korean Studies, Winter 2008 ), p. 490.

(27)

38

mendekati China untuk mempelajari teknologi senjata nuklirnya. Namun sayang, China malah memberikan respon dingin, sehingga membuat Kim Il Sung makin mempererat kerjasamanya dengan Moskow dan mengembangkan kapabilitas rudal balistik sendiri.

Pada tahun 1965 akhirnya didirikan Akademi Militer Hamhung, dimana para militer Korea Utara menerima pelatihan pengembangan rudal. Uni Soviet juga menyediakan bantuan secara meluas kepada Korea Utara

dalam membangun pusat penelitian di Yongbyon.31

Fasilitas yang dikembangkan pertama kali adalah reaktor nuklir model Uni Soviet yang dioperasikan untuk tujuan penelitian. Di pusat ini Uni Soviet membantu Korea Utara untuk menjalankan reaktor nuklir berdaya 5 MW. Reaktor ini sangat kecil sehingga tidak menjadi perhatian negara-negara sekitar karena membutuhkan waktu yang cukup lama bagi reaktor tersebut untuk memproduksi plutonium dan menjadi sebuah bom nuklir.

Namun dengan adanya fasilitas nuklir di Yongbyon ini, perlahan Korea Utara berhasil memperoleh plutonium dan mulai menguasai teknologi senjata nuklir yang mendorong Kim Il Sung untuk membangun

senjata nuklir yang lebih besar lagi.32 Bagi Il Sung, senjata nuklir ini akan

membuat Korea Utara lebih kuat dari tetangganya, Korea Selatan. Selain itu senjata nuklir ini juga bisa melawan serangan Amerika dan juga memperkecil ketergantungan Korea Utara terhadap negara lain. Dengan adanya senjata nuklir juga memberikan jaminan keamanan bagi Korea

31

Joseph S. Bermudez,Jr., A History of Ballistic Missile Development in the DPRK, Occasional Paper No.2, Center for Nonpoliferation Studies, 1999, p.2

32

(28)

39

Utara yang selama ini tidak ditawarkan oleh negara manapun dalam komunitas internasional. Lebih lagi Korea Utara harus mengalami situasi keamanan yang lemah selama Perang Korea. Pengembangan senjata nuklir menjadi sumber keamanan bagi rezim bagi Kim Il Sung dan

pemimpin-pemimpin Korea Utara berikutnya.33

Setelah Kim Il Sung wafat pada tahun 1994, kepemimpinan Korea Utara kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Kim Jong Il. Pada era ini tak banyak yang berubah di Korea Utara. Kim Jong Il tetap melanjutkan pengembangan senjata nuklir yang telah dibangun oleh mendiang

ayahnya. Dikarenakan terjadi transformasi sosial dimasa

kepemimpinannya, kemudian Kim Jong Il memperkenalkan kebijakan Songun atau military first. Kebijakan ini lebih mengedepankan militer,

yaitu kebijakan strong and prosperous great power. Menurut Jong Il,

ideologi military centric lebih dibutuhkan agar rezimnya bisa diselamatkan dan terlepas dari ancaman negara lain. Selain itu ideologi ini juga berhasil memberikan Jong Il prestise dan daya tawar di komunitas internasional. Semenjak berhenti mendapat dukungan dari Uni Soviet, Korea Utara sadar bahwa mereka harus bisa memberikan jaminan keamanan dari akuisisi senjata nuklir mereka sendiri.

Ketidakstabilan rezim di era Kim Jong Il disebabkan oleh semakin meluasnya kesenjangan yang terjadi di Korea Utara. Kontrol sosial semakin menurun, para petinggi lebih mementingkan kekayaan, sehingga kondisi moral serta tenaga militer semakin menurun. Akibatnya ekonomi

33

(29)

40

di Pyongyang mengalami stagnasi serta kekurangan makanan dan energi. Namun pada periode ini Korea Utara juga berhasil memproduksi rudal balistik dengan jarak tempuh yang lebih jauh dari sebelumnya.

Untuk mendukung program pengembangan senjata nuklir ini, Korea Utara terus melakukan serangkaian uji coba. Sebagian dari uji coba ini diklaim berhasil oleh Korea Utara, meskipun ada beberapa yang dinyatakan gagal. Namun dengan banyaknya keberhasilan yang dicapai oleh Korut ini semakin menguatkan peran kepemilikannya atas senjata nuklir. Uji coba yang terus dilakukan oleh Korea Utara ini dapat dimaknai sebagai bentuk strategi untuk memperkuat posisi tawar politiknya didalam percaturan internasional sebagaimana yang dimaksud pada awal pembangunan senjata nuklir ini. Hal ini juga berkaitan dengan realitas bahwa Korea Utara mengalami isolosi keterlibatan ekonomi dan politik sebagai akibat dari perang korea.

Isu nuklir Korea Utara semakin memanas ketika Pyongyang berhasil mengembangkan sekaligus melakukan tes terhadap misil Rodong-1 yang hulu ledaknya mampu menjangkau 1000 km. Kemudian disusul oleh pengembangan misil Nodong-1 dan Nodong-2 dengan jangkauan hingga

3.500 km.34 Selain itu Korea Utara juga berhasil mengembangkan senjata

nuklir tipe Taepodong-1 dan Taepodong-2. Taepodong-1 tercatat memiliki kekuatan jarak tempuh mencapai 1500 hingga 2000 km, dengan kekuatan ledak sebesar 1.000 kg hingga 1.500 kg. Sedangkan Taepodong-2 selesai

34

Jane‟s Defense Weekly, North Korea casts a longer shadow with TD-4, dalam Rochard D.Fisher, The Korean Journal of defense Analysis, Barbara Star,1994,p.110.

(30)

41

dikembangkan pada tahun 2004 dengan kemampuan 4.400 hingga 6.700

km dan kekuatan ledak yang tinggi.35

B.1.1 Perkembangan Nuklir Era Kim Jong Un

Pada tahun 2011, pemerintahan Kim Jong Il digantikan oleh anaknya, Kim Jong Un. Sejak awal menjabat sebagai pemimpin Korea Utara, banyak pihak yang meragukan Kim Jong Un. Hal ini dikarenakan pengangkatan Jong Un terlalu cepat, sementara ia belum memiliki pengalaman dalam memimpin negara. Sadar akan hal ini, kemudian Kim Jong Un lebih memilih untuk mengunci diri menjadi jendral tertinggi angkatan bersenjata dibandingkan menjadi pemimpin partai buruh atau ketua komisi pertahanan nasional. Karena dengan memimpin angkatan militer, Kim Jong Un bisa memegang kontrol penuh terhadap kebijakan “military first” yang dicanangkan oleh mendiang ayahnya.36

Era Kim Jong Un menandai sebuah era baru dalam program riset dan pengembangan senjata nuklir serta rudal balistik Korea. Sejak awal memimpin, Jong Un menunjukkan perkembangan yang sangat pesat dan signifikan dalam hal pencapaian level teknologi dan kapasitas industri dalam memproduksi komponen-komponen yang dibutuhkan untuk keberlangsungan program rudal balistik.

Berbeda dari pemimpin sebelumnya, Kim Jong Un mencanangkan

kebijakan baru yang dinamai kebijakan Byungjin. Kebijakan ini adalah

35

Op.Cit, p.112 36

S.H,Choe, Kim Jong-un Named Leader of North Korean Army, The New York Times, 31 Desember 2011, P. A9.

(31)

42

kebijakan yang menitik beratkan kepada sektor program nuklir dan rudal balistik sebagai prioritas utama dalam usaha sinergi pembangunan antara sektor ekonomi dan sektor militer. Dalam pelaksanaanya program nuklir dan rudal balistik mendapat prioritas tertinggi dalam segi alokasi negara diatas sektor militer. Selain itu, pemimpin Korea Utara ke tiga ini juga melakukan reformasi ekonomi internal, yang tujuannya adalah untuk membuat Korea Utara lebih mandiri dan menurunkan ketergantungannya terhadap bantuan luar negeri. Seperti yang diketahui, masalah ekonomi dan pangan merupakan permasalahan yang begitu lama yang menghantui Korea Utara dan belum terselesaikan hingga saat ini. Kim Jong Un juga mengistruksikan bahwa Korea Utara harus meningkatkan produksi hulu ledak nuklir yang lebih kecil untuk dapat dimuat dalam rudal balistik, meningkatkan produksi dan kapasitas rudal balistik, dan berusaha untuk mengembangkan teknologi nuklir agar dapat membuat senjata yang lebih canggih dan mematikan. Kim juga mengisyaratkan bahwa rudal balistik

antar benua atau Intercontinental Ballistic Missile (ICBM) dengan hulu

ledak nuklir akan menjadi senjata utama di Kore Utara.

Sejak awal kepemerintahannya, Kim Jong Un telah beberapa kali melakukan uji coba senjata masal ini. Pada bulan Februari 2013, Kim Jong Un melakukan uji coba senjata nuklir untuk pertama kalinya. Tiga tahun kemudian pada bulan Januari Kim Jong Un kembali melakukan uji coba peluncuran bom hidrogen. Bulan September di tahun yang sama, Korea Utara kembali melakukan uji coba, kekuatan getaran yang dirasakan mencapai 5,3SR. Pada bulan September 2017, Korea Utara juga

(32)

43

melakukan uji coba senjata nuklir yang menyebabkan kejadian gempa hingga 6,3SR yang diukur oleh survei geologi milik Amerika Serikat. Pyongyang mengklaim bahwa perangkat tersebut merupakan bom hidrogen yang bisa dipasang di rudal antar benua. Dan yang terakhir, Korea Utara melakukan penembakan rudal balistiknya yang melintasi wilayah udara kedaulatan Jepang di bagian Timur, yaitu pulau Hokkaido.

Tindakan-tindakan yang dilakukan Kim saat ini membuat krisis di Semenanjung Korea semakin memanas. Melihat keagresifan Korea Utara di bawah pimpinan Kim Jong Un dalam pengembangan nuklir dan rudalnya tentu menjadi ketakutan tersendiri. Dengan potensi yang dimiliki Korea Utara saat ini, ditambah dengan kekuatan militernya dapat dipastikan hal ini menjadi ancaman yang serius. Kim Jong Un yang juga terkenal lebih memilih untuk mengambil langkah militer dibandingkan diplomasi membuat hal ini harus ditangani dengan serius.

Pada tanggal 22 Januari 2013 Korea Utara mendapatkan kecaman keras atas uji coba peluncuran roket jarak jauh yang dilakukan pada tanggal 12 Desember 2012. Korea Utara kerap melakukan ancaman bahkan untuk kedua kalinya hingga mendapatkan respon aksi Dewan Keamanan PBB dan juga Amerika Serikat, yang mana selalu mengkritik dan menentang program nuklir Korea Utara.

Di bawah kepemimpinan Kim Jong Un, negara ini juga pernah melakukukan uji coba tembak senjata rudal pendek di pantai timurnya, yaitu Provinsi Kangwon. Ada pun program nuklir yang dilakukan oleh

(33)

44

Kim Jong Un selama ini adalah sebagai bentuk strategi yang dijadikannya sebagai alat tawar yang ingin ditukar dengan bantuan ekonomi dari Ameria Serikat, hal ini dilakukan pasca Amerika Serikat memberhentikan supply makanan dan pembekuan bank perdagangan internasional Korea

Utara pada 2013.37

B.2. Keikutsertaan Korea Utara dalam NPT

Korea Utara mulai bergabung dengan NPT pada tahun 1985 namun tidak bersedia melengkapi perjanjian pengawasan dengan IAEA. Korea Utara pada akhirnya memenuhi ketetapan IAEA saat AS menarik senjata nuklirnya yang berada di Korea Selatan. Pada tanggal 27 September 1991 Presiden George H.W. Bush mengumumkan penarikan seluruh senjata nuklir taktisnya yang diletakkan di Korea Selatan. Pada 31 Desember 1991, kedua negara Korea menandatangani South-North Joint Declaration on Denuclearization. April 1992, Korea Utara pada akhirnya meratifikasi

perjanjian pengawasan dengan IAEA.38

Pada tanggal 4 Mei 1992, Korea Utara menyerahkan laporan mengenai tujuh lokasi dan 90 gram plutonium yang dimilikinya. Dari laporan tersebut, terdapat ketidaksesuaian data yang membuat IAEA pada 9 Februari 1993 meminta inspeksi khusus. Inspeksi khusus IAEA ini ditolak oleh Korea Utara. Kemudian pada 12 Maret 1993, Korea Utara mengutarakan niat pengunduran dirinya dari NPT dalam jangka waktu tiga

37

Ibid. h. 10.

38“US and North Korea Key Security Development,”

http://www.ncnk.org/resources/briefingpapers/

all-briefing-papers/dprk-security-and-non-proliferation-key-events, diakses pada 29 April

(34)

45

bulan. Niat pengunduran diri tersebut akhinya ditunda dan Korea Utara mau melakukan negosiasi. Setelah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk negosiasi dengan AS, Korea Utara akhirnya membuat kesepakatan dengan IAEA yang mengizinkan inspector IAEA mengunjungi seluruh lokasi fasilitas nuklir yang dilaporkan. Akan tetapi Korea Utara menolak inspektor mengakses pabrik pengolahan plutonium di Yongbyon dan kemudian mendeklarasikan pengunduran dirinya dari IAEA pada tanggal 13 Juni 1994.

Negosiasi pun dilakukan kembali oleh AS hingga pada tanggal 21 Oktober 1994 Korea Utara dan PBB menandatangani Agreed Framework. Namun sekali lagi Korea Utara secara resmi keluar dari NPT dan menghidupkan program nuklirnya di tahun 2003. Pada awal tahun 2003 ini, Korea Utara kembali memproses cadangan plutoniumnya di Yongbyon yang mampu menghasilkan 20-28 kg senjata nuklir. Negara tetangga, Cina, Rusia, Korea Selatan dan Jepang sangat resah dengan adanya krisis ini, sementara keinginan mengisolasi Korea Utara oleh Amerika Serikat, secara ekonomi dan politik, akan mengakibatkan krisis di Semenanjung Korea secara berkepanjangan.

Ada pun yang menyebabkan Korea Utara keluar dari NPT pada tahun

2003 dikarenakan posisi Korea Utara terlihat mengalami

ketidakseimbangan dengan Amerika Serikat dalam kerangka perjanjian

kerjasama (Agreed Framework) yang dibentuk tahun 1994. Kondisi

(35)

46

1) Amerika Serikat gagal untuk menghidupkan kerangka perjanjian

kerjasama ;

2) Amerika Serikat telah berjanji untuk menyediakan fasilitas tenaga listrik

dan reactor ringan bagi pembangunan dalam negeri Korut sampai akhir 2003. Namun kenyaaannya sampai akhir 2002, hal ini tidak pernah dilaksanakan;

3) Amerika Serikat dan Korea Utara telah setuju untuk menormalisasikan

hubungan politik dan ekonomi kedua negara. Namun pada kenyataannya, Amerika Serikat malah menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Korea Utara dan memasukan Korea Utara ke dalam daftar negara yang patut dicurigai sebagai “the axis of

evil”;

4) Amerika Serikat telah berjanji tidak akan menggunakan kekuatan senjata

nuklirnya. Namun pada kenyataanya Korut kemungkinan besar menjadi target serangan preemptive yang dianut oleh Amerika Serikat;

5) Korut telah setuju, mengizinkan hadirnya tim pemeriksa nuklir di Korea

Utara tetapi setelah menerima fasilitas reactor ringan yang dijanjikan pihak Amerika Serikat. Namun kenyataanya AS tetap mengirimkan tim

pemeriksa ke Korea Utara tanpa menepati janjinya terlebih dahulu.39

Kondisi ketidakseimbangan ini disebabkan karena adanya rasa saling tidak percaya di antara kedua belah pihak. Sehingga tidak mencapai

39“Nuclear Non Proliferation Treaty,” Merriam Webster’s Collegiate Encyclopedia. USA: Merriam Webster Inc, 2000. H. 12

(36)

47

kesepakatan agenda diantara Amerika Serikat dan Korea Utara. Selain itu pengaktifan kembali program nuklir dan keluarnya negara tersebut dari NPT dengan Amerika Serikat juga terlihat sebagai “diplomatic card” dalam proses tawar-menawar dengan Amerika Serikat selain sebagai cara untuk menyelamatkan kepentingan rezimnya.

B.3. Alasan Pendorong Korea Utara Mengembangkan Senjata Nuklir

Sampai saat ini Korea Utara berusaha mengembangkan nuklir disebabkan oleh beberapa faktor. Berakhirnya Perang Dingin menandai berakhirnya pula bantuan bagi Korea Utara yang selama itu datang dari blok komunis. Walaupun konsentrasi persenjataan negara ini masih sangat tinggi, pimpinan militer menyadari kekuatan militer konvensional mereka kalah jauh daril mereka, seperti Jepang, Korea Selatan, dan AS. Oleh karena itu, senjata nuklir lantas dipilih sebagai langkah deterrence jangka panjang yang kredibel.

Terdapat beberapa kemungkinan scenario pengembangan nuklir Korea

Utara.40 Pertama, Pyongyang berusaha berkomunikasi dengan Korea

Selatan yang selama ini merasakan sikap permusuhan dari Korea Utara. Kedua, Korea Utara menginginkan perhatian Washington. Ketiga, pemerintahan Korea Utara bermaksud untuk memperkuat legitimasi politik pengganti Kim Jong Il, Kim Jong Un. Keempat, Pyongyang bermaksud mengembangkan gudang senjata nuklir untuk digunakan melawan Korea Selatan, Jepang, dan atau AS.

40

(37)

48

Pertunjukan nuklir Korea Utara yang programnya menelan keuangan negara habis-habisan muncul sebagai manifestasi dua doktrin yang menuntun tindakan para perwira militer dan menentukan postur politik

Korea Utara sejak akhir 1990-an.41 Dua doktrin tersebut adalah (1)

“Kangsong Taeguk”, yang berarti pemikiran mengenai pentingnya membangun negara yang kuat dan sejahtera dan (2) “Songun Chongchi”

atau keutamaan militer.42

Menurut pendekatan domestic politics model, nuklir menjadi alat

politik bagi elit yang mencoba mempengaruhi kebijakan negara. Dalam kasus Korea Utara, militer memegang kendali atas pembuatan keputusan

nasional. Di bawah pemerintahan Kim Jong Il, Korean People’s Army

(KPA) secara pasti menjadi pemain kunci dalam struktur kekuatan Korea Utara. KPA jauh lebih kuat secara politis daripada partai komunis Korea Utara yang dikenal sebagai Korean Workers Party. Dominasi Kim Jong Il

juga datang dari kedudukannya sebagai pimpinan badan militer National

Defense Commission, dimana posisinya sebagai presiden dan ketua partai komunis.

Betapa pun kerugian yang dialami Korea Utara ketika secara terbuka mendeklarasikan diri sebagai negara bersenjata nuklir, ada strategi yang logis di balik deklarasi Korea Utara sebagai negara berkekuatan senjata nuklir. Korea Utara percaya tindakan ini akan memberikan keuntungan

41 International Risk, “North Korea‟s Nuclear Test: The Logic Behind the Leadership‟s Action and

Likely Future Development”, 12 Oktober 2006.

42 Scott D. Sagan, “Why Do Stated Build Nuclear Weapon?: Three Models in Search of A Bomb”,

(38)

49

strategis, simbolis, dan teknologi yang dibutuhkan dalam jangka panjang untuk mewujudkan Korea Utara yang kuat dan makmur. Sesuai dengan definisi strategi nuklir sebagai pemanfaatan senjata nuklir untuk meraih kepentingan politik internasional, nuklir bagi Korea Utara dapat menjadi alat penting dalam perundingan internasional.

Terdapat beberapa kemungkinan skenario lain untuk menjelaskan

motif pengembangan nuklir Korea Utara.43 Pertama, Korea Utara ingin

memiliki senjata nuklir sebagai tindakan keamanan, Pyongyang tidak akan menghentikan pengembangan senjata nuklir tanpa mempertimbangkan keuntungan yang akan didapatkan. Kedua, program nuklir hanyalah sebagai alat untuk mempertahankan rezim.

Sedangkan menurut pendapat lain, Korea Utara memiliki tiga motif

dalam mengembangkan nuklir. Motif pertama adalah regime survival.

Sekalipun perang Korea telah berakhir lebih dari lima dasawarsa lalu (1953), perang Korea secara teknis belum berakhir karena situasi perang Korea mereda setelah ditandatanganinya perjanjian gencatan senjata dan bukannya sebuah perjanjian damai. Korea Utara masih merasa terancam dengan penempatan 27 ribu tentara AS di Korea Selatan, ditambah 47 ribu tentara AS lainnya di Jepang. Korea Utara tidak akan melupakan bagaimana Cina pada dekade 1950-an mengalami tiga kali ancaman serangan nuklir dari Amerika Serikat. Ancaman serangan nuklir pertama dialami Cina karena bantuan militer Cina pada Korea Utara saat perang

43

(39)

50

Korea. Dua ancaman lainnya dialami Cina berkaitan dengan konflik

Cina-Taiwan tahun 1955 dan 1958.44

Motif kedua pengembangan senjata nuklir Korut adalah ekonomi. Korut menggunakan program nuklirnya sebagai instrumen untuk memeras negara-negara di sekitarnya memberikan bantuan ekonomi. Konsesi yang diberikan Korut, seperti penghentian sementara program nuklirnya atau izin inspeksi IAEA dilakukan dengan imbalan bantuan makanan dan bahan bakar dari Cina dan Korea Selatan, serta pembangunan reaktor nuklir sipil di Korut oleh pihak Korea Selatan dan Jepang.

Motif ketiga program senjata nuklir Korut adalah untuk mengangkat status politik Korut di mata dunia. Korut selalu ingin bernegosiasi langsung dengan AS dan bukannya Korea Selatan, yang dianggap hanya negara boneka bentukan AS. Dengan bernegosiasi langsung Vis-à-vis AS, Korut memberikan sinyal pada dunia bahwa dirinya adalah lawan yang sepadan dengan AS. Gabungan dari militer, ekonomi dan politik ini membuat Korut sangat unik. Biasanya negara negara mengembangkan senjata nuklir dengan sangat rahasia untuk menghindari intervensi luar. Namun rezim Korut melakukan hal yang sebaliknya dengan mengakui secara terang-terangan keinginan mereka untuk menjadi negara nuklir.

Terdapat pula 4 (empat) hipotesis mengenai pengembangan senjata

nuklir Korea Utara.45 Yang pertama adalah hipotesis yang menyatakan

44 Francis Fukuyama & Kongdan Oh,

The US-Security After The Cold War, National Defense Research Institute, prepared for the Under Secretary of Defense for policy 1993, hlm. 26-28.

(40)

51

pengembangan nuklir ini dimaksudkan sebagai pertahanan militer, dimana senjata nuklir bisa digunakan sebagai sistem penangkal serangan AS dan mengimbangi kekuatan militer Korea Selatan. Pandangan ini diterima oleh banyak penganut liberal Korea Selatan. Berdasarkan hipotesis ini maka untuk mewujudkan denuklirisasi Korea Utara, dihilangkannya ancaman AS melawan Korea Utara merupakan syarat utama.

Ancaman AS yang dirasakan Korea Utara adalah penempatan pasukan AS di Korea Selatan dan jaminan payung nuklir AS di Korea Selatan sehingga berubahnya kedua hal tersebut dapat menyebabkan berakhirnya aliansi AS-Korea Selatan. Hal tersebut cenderung tidak akan terjadi dikarenakan Korea Selatan merasa bahwa denuklirisasi Korea Utara harus didahului dengan melakukan disarmament di Semenanjung Korea.

Yang kedua adalah hipotesis tujuan diplomatik, yang menyatakan bahwa senjata nuklir digunakan sebagai alat penawar untuk mencapai normalisasi hubungan AS-Korea Utara serta menerima bantuan ekonomi. Jika Korea Utara mendapatkan jaminan keamanan dan pemulihan ekonomi, maka negara tersebut akan menghentikan program nuklirnya.

Yang ketiga, hipotesis tujuan politik yang menyatakan bahwa Kim Jong Il menggunakan senjata nuklir untuk meningkatkan prestise politiknya. Meskipun Kim Jong Il mewarisi jabatan ayahnya, dia tidak mewarisi legitimasi politiknya. Selain itu, di bawah kepemimpinannya, perekonomian Korea Utara berada di ambang kehancuran. Berdasarkan

45 Lim Soo‐Ho, “Motives Behind NK‟s Nuclear Weapons and Prospects for Denuclearizations,”

(41)

52

hipotesis ini, Kim Jong Il terdesak melakukan pengembangan nuklir dan rudal jarak jauhnya untuk meningkatkan legitimasi politiknya.

Keempat adalah strategi militer ofensif yang menyatakan bahwa senjata nuklir adalah sebuah alat yang menyatukan kedua Korea yang digunakan untuk melawan intervensi militer AS. Jika Korea Utara terancam menggunakan senjata nuklir dalam melawan Korea Selatan, Jepang dan pangkalan militer AS di Guam, maka akan sulit bagi AS untuk mengintervensi secara efektif. Dengan skenario ini maka Korea Utara dapat mengalahkan Korea Selatan dan menyatukannya menjadi satu negara.

Untuk memahami pengembangan nuklir yang dilakukan oleh Korea Utara, harus dilihat juga struktur politik domestiknya. Hubungan eksternal ataupun kebijakan luar negeri yang dilakukan Korea Utara tidak terlepas

dari ideologi Juche yang dianutnya. Juche ini merupakan ideologi yang

menekankan bahwa Korea Utara bebas menentukan nasib diri sendiri serta tidak tergantung dengan negara lain. Menurut Charles Armstrong, Juche adalah “a general world view that sets the parameters, the outer boundaries, of engagement with the outside world.”46 Ideologi ini menegaskan ketidakmampuan Pyongyang untuk mempertimbangkan secara mendasar kepentingan nasional jangka panjangnya.

Juche juga merupakan ideologi nasionalis terpenting di Korea Utara yang menggantikan Marxisme-Leninisme. Bukan hanya sebagai dasar

46

(42)

53

kebijakan luar negeri, Juche juga telah menjadi inti paham sosialisme

Korea Utara. Juche didefinisikan sebagai bentuk dari sosialisme nasionalis

khas Korea Utara yang berjuang untuk mencapai kemerdekaan dan

self-reliance di bidang politik, ekonomi dan keamanan. Kepemimpinan Korea

Utara percaya bahwa Juche merupakan hal penting bagi hubungan

eksternal dan pembenaran seluruh tindakan yang dilakukan Korea Utara.

Dari dua model pemicu pengembangan senjata nuklir Korea Utara, model struktur domestik adalah model yang dominan. Hal ini dikarenakan

Korea Utara memiliki ideologi juche serta kebijakan military first yang

selama ini diyakininya sebagai strategi pertahanan diri terbaik untuk mempertahankan negara. Korea Utara selama ini hampir selalu mau untuk diajak bernegosiasi dan menghentikan fasilitas nuklirnya dikarenakan Korea Utara membutuhkan bantuan dari negara luar untuk meningkatkan kesejahteraan negara. Bila Korea Utara mendapatkan jaminan tidak akan diserang oleh AS, mendapatkan bantuan ekonomi dari negara-negara lain, dan diterima dalam komunitas internasional, negara-negara lain menganggap Korea Utara akan menghentikan program nuklirnya. Namun usaha-usaha negosiasi tersebut seringkali gagal dikarenakan perbedaan persepsi masing-masing pihak. Perbedaan ini muncul salah satunya disebabkan oleh rezim yang kuat serta ideologi Korea Utara yang ingin bersikap mandiri dan tidak tergantung dengan negara lain. Oleh sebab itu model struktur domestik merupakan faktor pemicu yang lebih dominan dalam pengembangan nuklir Korea Utara.

(43)

54

C. Analisis

Untuk mengetahui apakah status dari pengembangbiakkan nuklir yang dilakukan oleh Korea Utara itu merupakan pelanggaran dari Hukum Internasional yang berlaku, maka penulis akan menjelaskan sebagai berikut

Korea Utara mendapat tekanan dari dunia internasional untuk segera meninggalkan program persenjataan nuklirnya. Uji coba nuklir tersebut dinilai dapat mengancam kentraman dan stabilitas kemanan Negara – negara Internasional. Oleh karena itu, beberapa negara seperti Amerika Serikat dan negara – negara sekutunya di kawasan Asia Timur meminta kepada Dewan Keamanan (DK) PBB agar segeram menjatuhkan sanksi bagi Korea Utara yang benar – benar membuat mereka jera. Pyongyang juga didesak banyak pihak untuk ikut bergabung kembali kedalam kesepakatan Non-Proliferasi Nuklir (NPT) sebagai upaya program penghetian pengembangbiakan nuklir. Hal inilah yang membuat IAEA harus segera memberikan sansksi yang efektif agar Korut memperkuat tenanga nuklirnya unttuk tujuan tidak damai dapat dicegah dan tidak menimbulkan gejolak yang nantinya bisa menimbulkan adanya perang Dunia ke-3 dalam sejarah.

Seperti yang telah diketahui bahwasannya tiap – tiap negara yang memiliki kepemilikkan senjata nuklir sudah pasti harus bergabung dalam Non-proliferation Treaty (NPT) yang bertujuan untuk mecegah penyebaran senjata nuklir dan mendorong untuk menggunakan teknologi nuklir ini untuk tujuan positif seperti untuk tenaga listrik. NPT sendiri

(44)

55

berada dibawah pengawasan IAEA yang merupakan sebuah organisasi independen yang berada di bawah naungan dari PBB (Perserikatan Bangsa – Bangsa). Kemudian segala peraturan, fungsi, tujuan dari IAEA terdapat dalam Statuta IAEA yang dimana tiap – tiap yang memiliki atau yang mengembangkan teknologi nuklir haruslah sesuai dengan Statuta IAEA.

Korea Utara sendiri dalam kepemilikkan nuklirnya dalam

perkembangannya tidak sesuai dengan apa yang tertuang dalam Statuta IAEA. Pada Pasal III huruf B Poin Pertama dimana dikatakan bahwa “melakukan kegiatan sesuai dengan tujuan dan prinsip PBB untuk mempromosikan perdamaian dan kerjasama internasional, sesuai dengan kebijakan dari PBB untuk pembentukan pelucutan senjata di seluruh dunia dijaga dan sesuai dengan perjanjian internasional yang sesuai dengan kebijakan tersebut” karena pada kenyataannya Korea Utara sudah tidak tergabungan dalam perjanjian NPT yang berada dibawah pengawasan IAEA. Itu sudah cukup menerangkan bahwa pengembangbiakan nuklir yang dilakukan oleh sudah menyalahi aturan yang sudah dibua oleh PBB melalui IAEA.

Sebetulnya nuklir itu sendiri memiliki dampak yang baik dan juga dampak buruk, atau lebih dikenal dengan sisi negatif dan positifnya. Dalam hal positifnya jika digunakan sebagai tujuan damai maka nuklir ini bisa berperan sebagian besar menjadi sebuah pembangkit listrik. Tenaga yang dikeluarkan dari nuklir cukup besar dalam menerangi suatu negara, hal ini juga dapat meningktkan kinerja teknologi dari suatu negara itu sendiri di mata dunia. Namun dampak negatif dari pengembangan nuklir

(45)

56

ini justru dapat mempengaruhi kesehatan manusia. Radiasi yang ditimbulkan oleh nuklir dapat menyebabkan beberapa gangguan kesehatan, belum lagi apabila nuklir itu digunakan sebaagai tujuan yang tidak baik, seperti dijadikan sebgai senjata pemusnah massal, dan penghancur. Bayangkan saja apa yang terjadi pada kehidupan manusia jika

nuklir disalahgunakan atau apabila terjadi kegagalan didalam

pengembangannya.

Setelah diuraikan di atas bahwa setiap permasalahan yang mampu mengancam keamanan dan ketertiban internasional, harus segera diselesaikan agar tidak menyebabkan kerugian yang melibatkan negara – negara lainnya. Setiap permasalahan internasional yang terjadi itu harus diselesaikan berdasarkan ketentuan hukum internasional yang berlaku. Untuk menyelesaikan permasalahan internasional ada dua kategori yaitu

secara damai dan juga secara paksa.47 Tujuannya adalah agar keamanan

dan ketertiban dunia tetap terjaga, hal ini salah satu tujuan dan prinsip yang terkandung dalam piagam PBB yaitu dalam prinsip damai.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat diketahui bahwa hal yang dilakukan oleh Korea Utara dengan melakukan pengembangan senjata nuklir sebagai tujuan tidak damai ini sudah jelas sangat tidak damai dan mengancamai stabilitas perdamaian dunia. Banyak negara yang mendengar mengenai hal ini dan mengecam tindakan Korut, sebagai suara terbesar adalah Amerika Serikat. Negara adikuasa ini menyatakan ketidaksetujuannya sejak tahun 2006, dimana ada perdebatan sengit pada

47

Referensi

Dokumen terkait

Di Indonesia pelaksanaan CSR telah diatur didalam Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas, yang diatur didalam bab V pasal 74 ayat

Pada penelitian ini pula ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum) dengan zinc pyrithione 1% sebanding dalam menghambat pertumbuhan Pityrosporum ovale secara in vitro, yang berarti

Voltmeter untuk mengukur tegangan antara dua titik, dalam hal ini adalah tegangan pada lampu 3, voltmeter harus dipasang secara paralel dengan beban yang hendak diukur, posisi

Noda yang dihasilkan untuk argini berwarna biru, asam glutamat merah sedangkan alanin berwarna unguuntuk histidin dan larutan sampel tidak menimbulkan bercak warna sehinggga

Menurut Sulastri (2012:1), standar adalah kesepakatan-kesepakatan yang telah didokumentasikan yang di dalamnya terdiri antara lain mengenai spesifikasi-spesifikasi

The result of this study showed that there was a significant effect of maternal body mass index on obesity among primary school children.. Maternal BMI was used

Tuan Guru sebagai tokoh elitis 21 di masyarakat memiliki peran yang besar dalam perubahan menuju merariq yang lebih ‘syar’i’ ini, kedua, masyarakat Lendang