WIDYA GENITRI Volume 6, Nomor 1, Desember 2014 23 PEMAHAMAN KONSEP TRI HITA KARANA
UMAT HINDU DI KOTA PALU I Gede Made Suarnada * Staff Pengajar STAH Dharma Sentana Sulawesi Tengah
ABSTRAK
Tri Hita Karana menjadi hal yang tidak terpisahkan menuju kehidupan yang harmonis. Konsep Tri Hita Karana diwujudkan dengan parahyangan berupa tempat suci sebagai sarana melakukan hubungan antara manusia dengan Tuhan, pawongan yaitu melakukan hubungan antara manusia dengan manusia, dan palemahan yaitu melakukan hubungan antara manusia dengan alam dan makhluk hidup lainnya, namun belum semua masyarakat Hindu di Kota Palu memiliki pemahaman tentang Tri Hita Karana dan belum mampu mengimplementasikan konsep Tri Hita Karana tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas ngayah yang merupakan salah satu implementasi dari konsep pawongan dan palemahan tidak bisa dilaksanakan dengan maksimal. Umat sibuk dengan aktivitas masing-masing. Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka muncul permasalahan yaitu bagaimana pemahaman konsep Tri Hita Karana umat Hindu di Kota Palu?
Penelitian ini dilaksanakan di Kota Palu. Pemilihan Kota Palu dilakukan secara purposif mengingat Kota Palu merupakan kota yang majemuk, dimana umat Hindu hidup berbaur dengan umat agama lainnya. Sumber data dalam penelitian ini ada dua yaitu data primer dan data sekunder. Adapun teknik yang digunakan untuk pengumpulan data adalah dengan teknik wawancara, dokumentasi dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif interpretatif untuk mencari makna dari hasil wawancara yang telah dilakukan. Data yang diperoleh dikelompokkan, kemudian dilakukan reduksi data dalam bentuk kategorisasi.
Hasil penelitian: pemahaman umat Hindu tentang konsep parahyangan sebagai konsep Ketuhanan tidak hanya memberi ruang untuk pemujaan kepada Tuhan semata, tetapi juga kepada sinar suci-Nya yang disebut dewa. Pemahaman umat Hindu terhadap konsep pawongan sebagai konsep yang identik dengan makna vasudeva kutumbhakam, bahwa kita semua merupakan keluarga besar. Ajaran agama Hindu bersumber dari kitab suci Veda mengajarkan bahwa seorang manusia tidak boleh hidup egois hanya memperhatikan diri sendiri tetapi harus melayani leluhur, para orang suci, melayani sesama umat manusia seperti melayani diri sendiri, dan juga melayani makhluk lainnya sebagai satu keluarga semesta. Pemahaman umat Hindu tentang konsep palemahan yaitu umat Hindu memaknai lingkungan sekitar sebagai sahabat yang mesti dijaga dan dilindungi. Alam sebagai sumber materi yang diperlukan untuk hidup.
Kata Kunci: Pemahaman, Tri Hita Karana, Umat Hindu
1. Pendahuluan
Saat ini kemajuan peradaban manusia sudah memasuki masa milenium. Hal tersebut ditandai dengan adanya perubahan sosial budaya yang sangat cepat. Kontak sosial berpengaruh terhadap sikap dan pola perilaku
yang akan berdampak langsung dan tidak langsung terhadap tata laku dan cara menjalani hidup. Indonesia secara khusus masyarakat Hindu tidak terlepas dari pengaruh arus globalisasi yang berpengaruh pada perubahan-perubahan kognitif, perubahan-perubahan
24 WIDYA GENITRI Volume 6, Nomor 1, Desember 2014 tuntutan individu dan akhirnya akan membawa
pembentukkan nilai-nilai baru. Dalam kitab Veda sudah dijelaskan bahwa untuk dapat dilahirkan sebagai manusia sungguh hal yang sangat sulit diraih bagaikan kerdipan kilat yang cepat sekali (Sarasamuscaya). Dengan demikian bahwa manusia diciptakan dengan dibekali segala kebutuhan hidup dan menjalankan kehidupannya dengan bersumber pada Hyang Widhi dan sesama manusia (Tri Hita Karana).
Pada hakekatnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan bisa hidup wajar tanpa hidup bersama dengan manusia lainnya. Namun jika manusia mampu bersatu untuk mensinergikan berbagai potensinya maka manusia akan mampu membangun hal-hal yang berskala besar. Dengan jalan dharma maka kebersamaan akan mampu dibangun secara harmonis dan dinamis. Dalam dharma telah ditentukan jalur-jalur yang harus ditempuh dalam mewujudkan tujuan hidup yang sejahtera dan bahagia. Dalam praktek keagamaan terdapat tiga aktivitas yaitu asih, punia, dan bhakti. Asih kepada alam, punia atau mengabdi pada sesama, dan bhakti pada Tuhan. Salah satu cara mewujudkan bahkti kita kepada Tuhan dengan cara menjaga kesejahteraan alam lingkungan hidup seperti bumi dengan segala isinya karena dari alam yang sejahtera itulah manusia akan mendapatkan hidup yang sejahtera secara langsung namun dalam kehidupan empiris alam semakin dirusak oleh perilaku manusia. Dalam Bhagawad Gita V.25 diyatakan bahwa:
Labhante brahma-nirvanam Rsayah ksina-kalmasah Chinna-dvaidha yatatmanah Sarva-bhuta-hite ratah Artinya:
Siapapun yang senatiasa sibuk menjaga kesejahteraan alam itu dijanjikan akan mencapai Brahma Nirvana (moksa).
Menyadari bahwa perbuatan adalah karma, karmalah sumber baik dan buruk, dosa atau kebajikan, laba atau rugi, kebahagiaan atau kesedihan. Seluruh hidup dipengaruhi oleh karma, sehingga setiap perbuatan akan mempunyai dampak atau hasil. Demikian halnya dengan kehidupan masyarakat Hindu di Kota Palu yang dalam kesehariannya dipengaruhi oleh karma masing-masing yang merupakan hasil dari perbuatan. Untuk menuju kehidupan yang harmonis maka konsep Tri Hita Karana akan menjadi hal yang tidak terpisahkan. Tiga konsep Tri Hita Karana ini diwujudkan dengan adanya parahyangan berupa tempat suci/ibadah sebagai sarana untuk melakukan hubungan antara manusia dengan Tuhannya, pawongan sebagai sarana untuk melakukan hubungan antara manusia dengan manusia, dan palemahan sebagai sarana untuk melakukan hubungan antara manusia dengan alam dan makhluk hidup lainnya. Ketiga konsep ini jika dilakukan maka akan menghasilkan suatu perilaku yang berdimensi religius Hinduistis, yaitu suatu perilaku menyeimbangkan diri dengan alam semesta raya dilandasi dengan kesadaran bahwa alam semesta adalah kompleksitas unsur-unsur yang satu sama lain saling terkait. Perwujudan ini dilandasi oleh yajna sebagaimana yang tersebut dalam tiga kerangka agama Hindu yaitu tattwa, susila, dan upacara.
Demikian halnya dengan umat Hindu yang ada di Kota Palu. Di tengah-tengah kondisi masyarakat yang heterogen, mereka berusaha untuk melaksanakan rutinitas kesehariannya dengan mendasarkan diri pada nilai-nilai Hindu. Beberapa umat Hindu di Kota Palu hidup mengelompok dalam sebuah lingkungan perumahan atau dalam sebuah area yang cukup luas untuk membentuk “komunitas Hindu”. Sehingga tidak menemui kendala dalam implementasi nilai-nilai kehinduan yang tertuang dalam wujud budaya dan aktivitas sosial. Beberapa lagi hidup dalam sebuah lingkungan yang menjadikan mereka terasing,
WIDYA GENITRI Volume 6, Nomor 1, Desember 2014 25 minoritas, dan harus beradaptasi dengan
budaya masyarakat di sekitarnya. Sehingga menemui kendala dalam implementasi budaya-budaya Hindu, atau tetap mereka laksanakan dalam bentuk-bentuk yang berbeda.
Menurut sumber (NN) yang merupakan tokoh umat Hindu dan sudah cukup lama tinggal di Kota Palu, belum semua masyarakat Hindu Kota Palu memiliki pemahaman tentang Tri Hita Karana dan belum semua umat Hindu mampu mengimplementasikan konsep Tri Hita Karana tersebut dalam kehidupan kesehariannya. Aktivitas ngayah yang merupakan salah satu implementasi dari konsep pawongan dan palemahan tidak bisa dilaksanakan dengan maksimal. Umat sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Baik aktivitas ngayah di kantornya/tempat kerjanya, maupun aktivitas ngayah di lingkungan sekitarnya pada setiap hari Jumat (di Kota Palu ada kewajiban Jumat bersih), sehingga untuk ngayah di pura seringkali kekurangan peserta. Namun masih banyak juga umat Hindu yang membagi waktunya antara ngayah di lingkungannya, di kantornya, dan di pura. Itu baru dalam hal ngayah, belum aktivitas lainnya yang mencerminkan implementasi dari konsep Tri Hita Karana, guna mewujudkan harmoni hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta/Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungannya. Dari uraian latar belakang di atas muncul permasalahan yaitu bagaimana pemahaman konsep Tri Hita Karana umat Hindu di Kota Palu?
2. Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kota Palu. Pemilihan Kota Palu dilakukan secara purposif mengingat Kota Palu merupakan kota yang majemuk, dimana umat Hindu hidup berbaur dengan umat agama lainnya. Sumber data dalam penelitian ini ada dua yaitu data primer dan data sekunder. Adapun teknik yang digunakan untuk pengumpulan data adalah dengan teknik wawancara, dokumentasi dan
observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif interpretatif untuk mencari makna dari hasil wawancara yang telah dilakukan. Data yang diperoleh dikelompokkan, kemudian dilakukan reduksi data dalam bentuk kategorisasi.
3. Hasil dan Pembahasan
Pemahaman memiliki arti yang lebih dalam dari “tahu” (know). Memahami suatu obyek bukan sekedar tahu terhadap obyek tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat menginterpretasikan secara benar tentang obyek yang diketahui tersebut. Misalnya, umat Hindu yang memahami konsep Tri Hita Karana bukan sekedar mampu menyebutkan pengertian dan pembagiannya namun dapat menjelaskan mengapa Tri Hita Karana (parahyangan, pawongan dan palemahan) dilaksanakan.
3.1. Pemahaman Umat Hindu tentang Konsep Parahyangan
Tuhan dalam agama Hindu disebut Ida Sang Hyang Widhi Wasa memiliki arti yang menakdirkan, merupakan intisari (sat) dari seluruh kehidupan. Beliau adalah wyapi wyapaka nirwikara atau meliputi dan meresapi seluruh alam ini, tetapi Beliau tidak terpengaruh olehnya. Dalam Wrhaspatitattwa sloka 4 disebutkan bahwa seperti apa kita menanggapi wujud Hyang Widhi, seolah-olah seperti itulah wujud Beliau, karena Beliau tidak bisa dikonstruksikan di dalam pikiran manusia. Bahkan Tuhan Yang Maha Esa di dalam ajaran agama Hindu disebut dengan ribuan nama, sebagaimana yang sering kita lantunkan dalam mantram Tri Sandhya bait 2 dan 3, sebagai berikut:
OM Narayanah evedam sarvam Yad-butham yacca bhavyam Niskalanko niranjano nirvikalpo Nirakhayatah suddho devo eko Narayanah na dvitiyo asti kascit
26 WIDYA GENITRI Volume 6, Nomor 1, Desember 2014 Artinya:
Ya, Sang Hyang Widhi yang diberi gelar Narayana, segala makhluk yang ada berasal dari-Mu. Dikau bersifat gaib, tak berwujud, tak terbatas oleh waktu, mengatasi segala kebingungan, tak termusnahkan. Dikau Maha Cemerlang, Maha Esa tidak ada duanya, disebut Narayana, dipuja semua makhluk (Tri Sandhya bait 2).
OM tvam sivah tvam mahadevah Isvarah paramesvarah
Brahma visnusca rudras ca Purusah parikirtitah Artinya:
Ya, Hyang Widhi yang disebut pula dengan nama Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma, Wisnu dan Rudra. Hyang Widhi adalah asal mula dari semua yang ada (Wiana, 1993: 18).
Dari hasil wawancara juga terlihat bahwa pemahaman umat Hindu tentang konsep parahyangan sebagai konsep Ketuhanan tidak hanya memberi ruang untuk pemujaan kepada Tuhan semata, tetapi juga kepada sinar suci-Nya yang disebut sebagai dewa. Bagi umat Hindu, memuja dewa sama artinya dengan memuja Tuhan juga. Kata dewa berasal dari urat kata div yang artinya sinar. Sebagaimana sinar matahari, maka Tuhan diibaratkan sebagai mataharinya, dan para dewa sebagai sinar matahari itu sendiri. Bukan mataharinya yang bersentuhan langsung dengan kulit kita, tetapi sinarnya. Para pakar yang menggeluti “ilmu sinar” sudah meneliti bahwa sinar matahari itu banyak warnanya dan berbeda-beda pula fungsi dan khasiatnya. Ada sinar merah, ungu, ultraviolet, inframerah, dan lain-lain. Namun sumbernya tetap satu yakni matahari. Demikianlah umat Hindu mempersepsikan konsep Ketuhanan dalam kehidupan sehari-harinya.
Pemahaman umat Hindu tentang konsep parahyangan (hubungan antara manusia dengan Tuhan) diketahui dari hasil wawancara dengan beberapa informan. Sebagian besar dari informan mengetahui konsep tersebut, sebagaimana dipaparkan pada saat wawancara, sebagai berikut:
“...parahyangan itu kan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, termasuk para dewa yang merupakan sinar suci Tuhan...” (Tn. Dw, 43 th)
“...salah satu wujud bahwa kita telah melaksanakan konsep parahyangan tersebut adalah dengan membangun tempat pemujaan di setiap rumah tangga...” (Ny.Wy. S, 35 th)
3.2. Pemahaman Umat Hindu tentang Konsep Pawongan
Ajaran Hindu yang bersumber dari kitab suci Veda mengajarkan bahwa seorang manusia tidak boleh hidup egois hanya memperhatikan diri sendiri tetapi harus melayani leluhur, para orang suci, melayani sesama umat manusia seperti melayani diri sendiri, dan juga melayani makhluk lainnya sebagai satu keluarga semesta sebagaimana ungkapan suci vasudeva kutumbhakam yang artinya semua adalah saudara (Donder dan Wisarja, 2009: 43).
Hasil wawancara menunjukkan bahwa pemahaman umat Hindu terhadap konsep pawongan sebagai konsep yang identik dengan makna vasudeva kutumbhakam, bahwa kita semua merupakan keluarga besar. Hindu memandang bahwa perbedaan yang kita miliki merupakan keniscayaan dari sebuah kehidupan yang harus dimaknai sebagai pemberi warna kehidupan. Ungkapan rwa bhineda misalnya, mengacu pada sebuah fakta perbedaan yang terjadi di tengah masyarakat. Kitab Sruti bahkan menguraikan bahwa manusia memang diciptakan Tuhan dari perbedaan peran dan
WIDYA GENITRI Volume 6, Nomor 1, Desember 2014 27 fungsi, sebagaimana termuat dalam kitab suci
Yajurveda XXX.5 dan XXX.11: Brahmane brahmanam kstraya rajanyam,
Marudhbhyo vaisyam, tapase sudram Artinya:
Tuhan Yang Maha Esa telah menciptakan brahmana untuk pengetahuan, para ksatrya untuk perlindungan, para vaisya untuk perdagangan, dan para sudra untuk pekerjaan jasmaniah.
Brahmano asya mukham asid, bahu rajanyah krtah,
Uru tadasya yad vaisyah padbhyam sudro ajayata
Artinya:
Brahmana diciptakan melalui mulut Tuhan Yang Maha Kuasa, ksatrya lahir dari lengan-Nya, vaisya lahir dari paha (penyangga perut), dan sudra lahir dari kaki-Nya.
Organ-organ sosial inilah yang dideskripsikan oleh Veda untuk dipahami dan disadari oleh manusia agar dalam kehidupannya sebagai sistem sosial dapat hidup berinteraksi antara berbagai anggota sistem sosial. Konsep pawongan dimaknai oleh umat Hindu sebagai cara pandang Hindu melihat interaksi manusia dengan berbagai latar belakangnya di tengah-tengah masyarakat. Bahwa harmoni dalam bentuk ketentraman dan kedamaian bisa diwujudkan melalui hubungan yang saling bersinergi, saling menghormati dan saling menghargai antar sesama manusia. Bahkan Bhagawad Gita VII.21 memastikan pandangan Hindu yang mengakomodir perbedaan tersebut dalam sebuah slokanya sebagai berikut.
Yo yo yam yam tanum bhaktah sraddhayarcitum icchati,
Tasya tasyacalam sraddham tam eva vidadhamy aham
Artinya:
Apapun bentuk kepercayaan yang ingin dipeluk oleh penganut agama, Aku perlakukan kepercayaan mereka sama supaya tetap teguh dan sejahtera.
Sebagian besar informan mengetahui dan memahami konsep pawongan, sebagaimana diungkapkan pada saat wawancara sebagai berikut.
“...pawongan adalah hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia. Misalnya, kita saling menghargai sesama pada saat sedang suka maupun duka. Di tempat kita ini (Palu) ada krama dan banjar. Nah, salah satu tujuannya kan untuk suka dan duka. Menurut tiang, ini aplikasi dari konsep pawongan tersebut...” (Tn. Dw, 43 th) “...pawongan merupakan harmonisasi hubungan antara sesama manusia. Contoh implementasinya menurut tiang adalah pelaksanaan upacara manusia yajna, yang punya acara melaksanakan prosesinya, sebagai sesama umat kita medelokan/menjenguknya...” (Tn.Md. S, 45 th)
Ketika ditanya konsep pawongan dalam hubungannya dengan interaksi sosial di tengah komunitas yang heterogen, informan menyampaikan tanggapannya sebagai berikut.
“Menurut saya, perbedaan itu kan sesuatu yang lumrah. Konsep pawongan kita berlaku juga untuk mereka. Artinya, kita memandang meraka sebagai sesama manusia, sama-sama makhluk ciptaan Tuhan...” (Tn. Dw, 45 th)
28 WIDYA GENITRI Volume 6, Nomor 1, Desember 2014 3.3. Pemahaman Umat Hindu tentang
Konsep Palemahan
Agama Hindu mengajarkan agar manusia hidup menemani alam dan bukan menundukkan alam, karena menginginkan dua jenis kebahagiaan yaitu kebahagiaan lahiriah (jagatditha) dan kebahagiaan rohani (jiwa muktah) guna mencapai moksa. Dalam Brhadaranyaka Upanisad ada sebuah untaian sloka indah yang melukiskan pandangan Hindu terhadap alam sekitarnya termasuk pepohonan, sebagai berikut:
Seperti sebuah pohon hutan, Begitulah pasti manusia, Rambutnya adalah daun-daun, Kulitnya kulit luar pohon, Dari kulitnya darah,
Getah dari kulit (pohon) mengalir keluar, Darinya mengalir ketika tertusuk,
Kucuran seperti dari pohon bila ditebas, Potongan-potongan dagingnya adalah lapisan-lapisan kayu,
Serat adalah seperti otot, kuat. Tulang adalah kayu di dalam,
Sumsum pun dibuat menyerupai inti kayu batang pohon.
Gambaran yang identik antara badan manusia dengan batang pohon menegaskan pandangan Hindu terhadap hubungan persaudaraan antara diri manusia dengan lingkungan sekitar. Pemahaman umat Hindu terhadap konsep palemahan dapat dilihat dari hasil wawancara dengan beberapa informan, sebagai berikut.
“...yang ketiga adalah palemahan yang bermakna adanya hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan atau alam sekitarnya...” (Tn. Dw, 43 th)
“...contoh implementasinya pada saat upacara butha yajna, seperti mecaru. Upacara mecaru kan memiliki makna harmonisasi dengan alam. Melalui
upacara ini, umat Hindu ingin mewujudkan harmonisasi antara mikrokosmos (manusia) dengan makrokosmos (alam semesta)...” (Tn. Md. S, 45 th)
Hasil wawancara menunjukkan bahwa umat Hindu memaknai lingkungan sekitar sebagai sahabat yang mesti dijaga dan dilindungi. Meskipun semua informan tidak mengetahui sumber ajaran Tri Hita Karana khususnya konsep palemahannya, namun semua informan memberikan pandangannya yang arif tentang lingkungan. Bahwa untuk mencapai kehidupan yang harmonis, maka hubungan yang sinergis juga harus dilakukan dengan lingkungan sekitar kita, baik tumbuhan, hewan peliharaan, dan lain-lain. Alam sebagai sumber materi yang diperlukan untuk hidup. Alam merupakan bagian tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia, karena sejatinya unsur-unsur Panca Maha Butha yang membentuk manusia (mikrokosmos) adalah identik dengan unsur-unsur yang membentuk alam (makrokosmos).
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan yaitu:
1. Pemahaman umat Hindu tentang konsep parahyangan sebagai konsep Ketuhanan tidak hanya memberi ruang untuk pemujaan kepada Tuhan, tetapi juga kepada sinar suci-Nya yang disebut sebagai dewa. Salah satu wujud telah melaksanakan konsep parahyangan tersebut adalah dengan membangun tempat pemujaan di rumah. 2. Pemahaman umat Hindu terhadap konsep
pawongan sebagai konsep yang identik dengan makna vasudeva kutumbhakam, bahwa kita semua merupakan keluarga besar. Ajaran Hindu yang bersumber dari kitab suci Veda mengajarkan bahwa seorang manusia tidak boleh hidup egois hanya memperhatikan diri sendiri tetapi harus melayani leluhur, para orang suci,
WIDYA GENITRI Volume 6, Nomor 1, Desember 2014 29 melayani sesama umat manusia seperti
melayani diri sendiri, dan juga melayani makhluk lainnya sebagai satu keluarga semesta.
3. Pemahaman umat Hindu tentang konsep palemahan yaitu umat Hindu memaknai lingkungan sekitar sebagai sahabat yang mesti dijaga dan dilindungi. Bahwa untuk mencapai kehidupan yang harmonis, maka hubungan yang sinergis juga harus dilakukan dengan lingkungan sekitar kita, baik tumbuhan, hewan peliharaan, dan lain-lain. Alam sebagai sumber materi yang diperlukan untuk hidup.
DAFTAR PUSTAKA
Donder, I Ketut dan I Ketut Wisarja. 2009. Teologi Sosial. Cetakan Pertama. Yogyakarta: Impulse.
Jaman, I Gede. 2006. Tri Hita Karana dalam Konsep Hindu. Cetakan Pertama. Denpasar: Pustaka Bali Post.
Kusuma,Wijaya Ida Bagus. 2000. Tri Hita Karana (Konsepsi dan Penerapnnya dalam Kehidupan Sosial di Bali). Miles, B Matthew. Huberman, A Michael.
1992. Analisis Data Kualitatif. Cetakan Pertama. Jakarta: Univeritas Indonesia Press.
Purwanto, Hari. 2000. Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropologi. Cetakan Pertama. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Raho, Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Cetakan Pertama. John Wolor, Editor. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Wardi, I Wayan. 2008. Pengelolaan Warisan Budaya Berwawasan Lingkungan. Bumi Lestari Vol. 8, Agustus: hal 193-204. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana.
Wastika, Dewa Nyoman, 2005. Penerapan Konsep Tri Hita Karana dalam Perencanaan Perumahan di Bali. Pemukiman Natah Vol.3, Agustus: hal 62-105. Denpasar: Fakultas Teknik Prodi Studi Arsitektur Universitas Udayana.
Wiana, Ketut. 1993. Bagaimana Umat Hindu Menghayati Tuhan. Cetakan Pertama. Jakarta: Penebar Swadaya.