Ekonomi Pembangunan Indonesia : dalam Perspektif
Sistem dan Usaha Agribisnis
Disampaikan pada Kuliah Sistem dan Usaha Agribisnis, Program Magister Agribisnis, Departemen Agribisnis, Institut Pertanian Bogor. Bogor, 1 September 2014
Rachmat Pambudy
1Ekonomi Pembangunan
Ilmu ekonomi tradisional (
traditional economics
) memusatkan perhatiannya
pada alokasi termurah dan paling efisien atas segenap sumberdaya yang langka,
serta upaya-upaya memanfaatkan pertumbuhan optimal sumberdaya tersebut dari
waktu ke waktu agar dapat menghasilkan sebanyak mungkin barang atau jasa.
Mazab neoklasik menjadi dasar pemikiran
Sedangkan cakupan ilmu ekonomi politik (
political economy
) lebih luas dari
jangkauan ilmu ekonomi tradisional. Fokus khususnya antara lain adalah
proses-proses sosial dan institusional yang memungkinkan kelompok-kelompok elit ekonomi
dan politik mempengaruhi alokasi sumberdaya produktif yang persediaannya selalu
terbatas (langka), sekarang, atau di masa yang akan datang, baik secara khusus
untuk keuntungan sendiri atau kelompok maupun secara umum untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat lebih luas. Dengan demikian, ekonomi politik itu pada intinya
membahas kaitan antara ilmu politik dan ilmu ekonomi dengan perhatian utama
pada peranan kekuasaan dalam pembuatan keputusan-keputusan ekonomi.
Sedangkan ilmu ekonomi pembangunan (
development economics
)
mempunyai ruang lingkup yang lebih luas. Selain memperhatikan masalah efisiensi
alokasi sumberdaya produktif yang langka (atau yang tidak terpakai) serta
kesinambungan pertumbuhan dari waktu ke waktu, ilmu ekonomi pembangunan juga
memberi perhatian pada mekanisme-mekanisme ekonomi, sosial, politik dan
kelembagaan, baik dalam sektor swasta maupun sektor publik.
Jadi jelas bahwa cakupan ekonomi pembangunan lebih luas daripada
ekonomi tradisional maupun ekonomi politik. Logikanya yang utama adalah karena
ekonomi pembangunan langsung berkaitan dengan keseluruhan proses politik,
budaya dan ekonomi yang diperlukan guna mempengaruhi transformasi struktural
dan kelembagaan yang cepat dari seluruh masyarakat demmi menghasilkan
serangkaian kemajuan ekonomi yang benar-benar bermanfaat dan melalui proses
yang efisien bagi sebagian besar penduduk.
Dalam ekonomi pembangunan, ada beberapa pertanyaan sederhana yang
menggambarkan ragam dan cakupan permasalahan yang dihadapi oleh hampir
seluruh Negara berkembang yang menggambarkan mengapa ekonomi
pembangunan perlu dipelajari (Todaro dan Smith, 2003). Pertanyaan-pertanyaan
kritis tersebut antara lain adalah :
1. Apakah sesungguhnya hakekat pembangunan itu?
2. Apa sajakah sumber-sumber pertumbuhan ekonomi nasional?
3. Apa yang bisa dipelajari dari catatan-catatan sejarah pertumbuhan ekonomi
suatu Negara?
4. Bagaimana perbaikan peranan dan status kaum wanita dapat memberikan
dampak positif bagi pembangunan ekonomi?
5. Apakah pertumbuhan penduduk suatu Negara yang cepat dapat mengancam
kemajuan ekonomi Negara-negara berkembang?
6. Apa saja penyebab kemiskinan ekstrim dan kebijakan apa yang selama ini efektif
meningkatkan taraf hidup?
7. Apakah kesehatan yang lebih baik dapat membantu mewujudkan tercapainya
keberhasilan pembangunan?
8. Mengapa pengangguran di Negara berkembang begitu tinggi dan mengapa teus
saja terjadi urbanisasi?
9. Apakah yang dimaksud dengan proses pembangunan berwawasan lingkungan?
10.Apakah perluasan perdagangan internasional itu memang hal yang diinginkan
ditinjau dari sudut kepentingan Negara-negara berkembang?
11.Haruskah ekspor produk primer seperti halnya produk pertanian terus
ditingkatkan atau haruskah semua Negara berkembang menomorduakan
pembinaan produk primeer guna merintis industrialisasi dengan cara
membangun industri manufaktur secepat mungkin?
12.Bagaimana Negara-negara dunia ketiga sampai terjerumus dalam jebakan utang
luar negeri dan apa implikasinya?
13.Haruskah perusahaan-perusahaan multinasional disorong menanamkan
modalnya di Negara miskin, dan apa persayaratannya?
14.Apa yang dimaksud dengan globalisasi dan apa pengaruhnya terhadap
Negara-negara berkembang?
Selanjutnya, sedikit uraian tentang hakekat pembangunan dengan berbagai
tolok ukur antara lain pendapatan nasional bruto atau
Gross National Product
penting. Tolok ukur ekonomis tersebut agar lebih akurat harus didukung oleh
indikator sosial non ekonomis antara lain adalah kondisi sosial masyarakat seperti
tingkat pendidikan, kualitas pelayanan kesehatan, kecukupan kebutuhan perumahan
yang pada akhirnya PBB menciptakan Indeks pembangunan manusia (
Human
Development Index
/HDI).
Prof. Dudley Seers dalam Todaro dan Smith (2003) mangajukan beberapa
pertanyaan mendasar yang bisa jadi merupakan makna pembangunan sebenarnya
sebagai berikut : apa yang terjadi dengan kemiskinan penduduk di Negara itu?
Bagaimana dengan tingkat penganggurannya? Adakah perubahan-perubahan
signifikan atas penanggulangan masalah ketimpangan pendapatan? Jika ketiga
permasalahan tersebut selama periode tertentu sedikit banyak telah teratasi, maka
tidak diragukan bahwa selama periode tersebut, merupakan periode pembangunan
suatu Negara. Namun jika salah satu atau dua atau bahkan ketiganya menjadi
semakin buruk, maka Negara tersebut tidak dapat dikatakan dalam periode
pembangunan.
Menurut Todaro dan Smith (2003), proses pembangunan paling tidak memiliki
tiga tujuan utama sebagai berikut :
1. Peningkatan ketersediaan serta perluasan distribusi berbagai macam barang
kebutuhan hidup pokok seperti pangan, sandang, papan, kesehatan dan
perlindungan keamanaan
2. Peningkatan standar hidup yang tidak hanya berupa peningkatan pendapatan,
tetapi juga meliputi penambahan lapangan kerja, perbaikan kualitas pendidikan
serta peningkatan perhatian atas nilai-nilai cultural dan kemanusiaan, yang
kesemuanya itu tidak hanya memperbaiki kesejahteraan material, tetapi juga
menumbuhkan harga diri pada pribadi dan bangsa.
3. Perluasan pilihan-pilihan ekonomis dan sosial bagi setiap individu serta bangsa
secara keseluruhan yakni dengan membebaskan mereka dari belitan sikap
menghamba dan ketergantungan, bukan hanya terhadap orang atau
Negara-negara lain, namun juga terhadap setiap kekuatan yang berpotensi merendahkan
nilai-nilai kemanusiaan mereka.
Pembangunan pada hakekatnya adalah upaya peningkatan taraf hidup rakyat secara adil dan merata. Pembangunan adalah bagaimana mentransformasi masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup, mengurangi jumlah orang miskin, membantu setiap orang untuk memiliki kesempatan agar mampu mendapatkan pekerjaan layak, pelayanan kesehatan dan akses pendidikan bagi generasi muda untuk mempersiapkan generasi yang berkualitas. Tujuan pembangunan adalah kesejahteraan masyarakat, keadilan dan kemakmuran seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945. Jadi tujuannya adalah masyarakat yang adil berkemakmuran dan makmur berkeadilan. Hal inilah yang harus menjadi perhatian kita semua.
Pembangunan harus diarahkan pada penurunan kesenjangan atau ketimpangan ekonomi. Karena kesenjangan ekonomi ini merupakan hambatan bagi pembangunan dimana akan terjadi inefisiensi ekonomi. Beberapa alasan dikemukakan oleh Todaro dan Smith (2003) mengapa pembangunan harus diarahkan pada penurunan kesenjangan ekonomi. Ada beberapa alasan mengapa keadilan itu penting. Pertama, ketimpangan pendapatan yang ekstrim menyebabkan inefisiensi ekonomi. Hal ini disebabkan pada tingkat pendapatan rata-rata berapapun, ketimpangan makin tinggi menyebabkan makin kecilnya penduduk yang dapat memenuhi syarat mendapatkan pinjaman (kredit).
Kedua, disparitas pendapatan yang ekstrim merupakan masalah yang berpotensi melemahkan stabilitas sosial dan solidaritas. Lebih parah lagi, ketimpangan ini akan memperkuat kekuatan politis golongan kaya, di samping kekuatan ekonomi mereka. Hal ini biasanya digunakan untuk mengarahkan hasil pembangunan dan sumberdaya yang ada untuk kepentingan mereka sendiri. Ketimpangan yang tinggi akan mempermudah pemburuan rente dengan berbagai cara termasuk lobi, sumbangan politis, penyuapan dan kroniisme. Akhirnya semua itu akan akan menghambat pembangunan.
Sementara itu, pembangunan Indonesia di masa yang akan datang dihadapkan pada tiga tantangan yaitu globalisasi, desentralisasi dan demokratisasi. Ketiga tantangan tersebut menjadi faktor penentu dalam memilih strategi pembangunan Indonesia. Selain itu, saat ini Indonesia juga masih dihadapkan pada masalah-masalah mendasar seperti kemiskinan, pengangguran dan turunnya daya beli masyarakat. Oleh karena itu pilihan yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah pilihan yang dapat memberikan solusi masalah-masalah mendasar tersebut sekaligus dapat menjawab ketiga tantangan tersebut.
IPB Prof. Dr. Andi Hakim Nasution yang telah memperkirakan bahwa Indonesia akan menghadapi (Kompas, 3 Nov 1980) :
1. Masalah penyediaan pangan dan pemeliharaan gizi masyarakat.
2. Masalah pengelolaan sistem penunjang kehidupan manusia di dalam lingkungan.
3. Masalah pengadaan energi dari berbagai sumber energi non-konvensional.
4. Masalah pengumpulan, pengelolaan dan penyebaran informasi di dalam populasi
besar menuju peningkatan ketahanan pangan nasional.
Apa yang diperkirakan Prof Andi Hakim Nasution lebih dari 25 tahun yang lalu kini terjadi di depan mata kita. Dalam sepuluh tahun terakhir ini, perancang ekonomi dan pembangunan Indonesia telah membawa kita dalam situasi yang sangat berbahaya. Saat ini Indonesia terjebak pada pertumbuhan ekonomi yang rendah (di bawah 10 persen) dan tidak berkualitas (ketimpangan/ indek gini makin tinggi), terjebak utang luar dan dalam negeri. Saat ini masyarakat juga terjebak impor pangan (gandum, kedelai, gula, susu, garam, daging) serta barang barang konsumtif (mobil, sepeda motor, barang barang elektronik dan barang mewah lainnya). Selain itu Indonesia juga mengalami jebakan pengurasan sumberdaya alam (hutan, tanah dan air, minyak, gas, batubara, emas dan sumber mineral lainnya). Jebakan itu telah menyebabkan pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan sosial ekonomi sangat tinggi. Angka pada tabel di bawah ini menunjukkan bahwa tujuan pembangunan nasional masih jauh dari harapan para pendiri bangsa dan negara Indonesia.
Data Kemiskinan dan Penganguran di Indonesia
Indikator 1996 1997 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Penduduk miskin (berdasarkan kriteria miskin
yang ditetapkan pemerintah)
(%) 15.7 27.1 16.0 15.1 15.2 16.0 17.8 16.6 (Juta jiwa) 31.1 54.6 33.3 32.5 33.0 35.2 39.6 37.4 Penduduk di bawah garis kemiskinan
internasional 1 (dengan penghasilan kurang dari USD 1 per hari)
(%) 7.8 12.0 7.2 6.6 7.4 6.0 8.5 6.7 (Juta jiwa) 15.5 24.2 15.0 14.2 16.1 13.2 18.9 15.1 Penduduk di bawah garis kemiskinan
internasional 2 (dengan penghasilan kurang dari USD 2 per hari)
(%) 50.5 65.1 53.5 50.1 49.0 45.2 49.6 45.2 (Juta jiwa) 100.1 131.1 111.4 107.9 106.3 99.3 110.5 102.0 Tingkat pengangguran (mereka yang
menganggur dari total angkatan kerja)
(%) 4.9 6.4 9.1 9.5 9.9 11.2 10.3 9.1 (Juta jiwa) 4.3 5.7 9.1 9.9 10.3 11.9 10.9 10.0 Sumber : BPS dan World Bank, November 2007 dalam Basri, 2009., BPS, Depnakertrans, Data diolah
Saat ini kesenjangan ekonomi dan sosial juga makin lebar. Berdasarkan ukuran koefisien gini yang menjadi indikator utama ketimpangan penduduk, Indonesia makin buruk dari waktu ke waktu. Kesenjangan terjadi bukan hanya antar kelompok namun juga antar wilayah (desa-kota, kota-pinggir kota, dan di dalam kota). HDI Indonesia tahun 2007 (dilaporkan tahun 2009) meraih angka 0,734 pada peringkat 111. Meskipun nilai HDI naik, namun Indonesia belum mampu meningkatkan peringkatnya, bahkan justru menurun dibanding tahun sebelumnya (2005/0,726 peringkat 109).
Kondisi ekonomi Indonesia belum mengalami perubahan signifikan. Berbagai permasalahan ekonomi sampai saat ini bukan tidak mungkin masih berlanjut dan menjadi pekerjaan rumah untuk tahun-tahun selanjutnya. Kondisi iklim makro yang masih belum kondusif seperti stimulasi kebijakan fiskal yang belum memadai, inflasi, tingginya suku bunga, nilai tukar yang masih rentan dari tekanan baik dari dalam maupun luar negeri terutama fluktuasi harga minyak dunia sehingga menyulitkan negara-negara dengan tingkat konsumsi yang tinggi seperti Indonesia. Masalah lain berupa rendahnya tingkat investasi. Ketidakpastian hukum, birokrasi dan peraturan ketenagakerjaan yang tidak memadai masih menjadi hambatan utama bagi para calon investor meskipun dari segi keamanan sudah meningkat.
Dari sisi ekonomi mikro, permasalahan yang masih menghambat antara lain rendahnya produktivitas dan rendahnya daya saing. Dalam era globalisasi, mau tidak mau produk-produk Indonesia harus menghadapi persaingan baik di pasar domestik maupun internasional. Oleh karena itu, perlu peningkatan kinerja yang lebih baik dari kondisi sekarang agar dapat meningkatkan daya saing.
Sehubungan dengan ketenagakerjaan, Indonesia diharapkan lebih memberikan perhatian lagi. Jumlah angkatan kerja dua tahun terakhir ini cukup tinggi. Sedangkan permintaan tenaga kerja masih relatif kecil. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan investasi
dan perluasan kegiatan ekonomi yang masih lamban sehingga dari jumlah angkatan kerja tersebut tidak dapat terserap semuanya.
Tabel Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin
Golongan Umur 2005 2006 *)
Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan
15-19 4,554,518 3,166,239 4,450,060 3,213,997 20-24 8,557,426 6,035,336 8,878,088 5,911,935 25-29 9,068,346 5,015,808 8,948,166 5,163,878 30-34 8,819,126 4,597,398 8,819,884 4,688,365 35-39 8,741,198 4,587,581 8,740,263 4,557,079 40-44 7,745,759 4,142,288 7,552,648 4,408,811 45-49 6,593,967 3,578,062 6,492,656 3,586,178 50-54 5,145,698 2,526,968 5,053,144 2,595,196 55-59 3,270,463 1,873,050 3,426,805 1,782,502 60+ 5,235,018 2,603,404 5,310,844 2,701,296
Jumlah 67,731,519 38,126,134 67,672,558 38,609,237
Sumber: Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia, BPS Catatan : *) Februari 2006
Sisanya dari yang tidak terserap ini merupakan pengangguran terbuka. Saat ini jumlah pengangguran belum ada perubahan secara signifikan. Tingkat pengangguran di Indonesia tergolong tinggi apalagi sejak krisis pada tahun 1997. Selama tiga tahun terakhir, angka pengangguran semakin meningkat dari 9.67 persen pada tahun 2003 dan 9.86 persen tahun 2004 hingga 11.24 persen tahun 2005. Angka ini diperkirakan masih dapat meningkat pada tahun ini. Sementara angka kemiskinan justru semakin meningkat. BPS secara resmi mengumumkan tingkat kemiskinan pada maret 2006 menjadi 39.05 juta jiwa (17.75 persen), meningkat dari 35.10 juta jiwa atau sekitar 15.97 persen pada Februari 2005.
Data Ketenagakerjaan Indonesia
Ketenagakerjaan 2003 2004 2005
a. Angka pengangguran
terbuka % 9.67 9.86 11.24
b. Angka setengah
menganggur % 29.2 28 27.3
c. Rata-rata Pendapatan Bersih Pekerja
Rp/Bul an
678,6 53
729,5 16
730,7 53 d. Kebutuhan Hidup Minimum
(KHM)
Rp/Bul an
478,4 17
509,2 36
530,0 82 e. Upah Minimum Propinsi
(UMP)
Rp/Bul an
414,7 15
458,4 99
507,6 97 Sumber : BPS (2006)
Pertumbuhan ekonomi 5.6 persen pada tahun 2005 lebih tinggi dari tahun sebelumnya (5.1 persen pada tahun 2005) memang patut kita syukuri. Namun, dengan tingkat penawaran tenaga kerja yang semakin meningkat, kemungkinan kita tidak akan dapat mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan dengan cepat hanya dengan pertumbuhan ekonomi sebesar itu. Sementara pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) masih didorong oleh komponen konsumsi. Pertumbuhan PDB dengan konsumsi sebagai peran besar berpotensi menimbulkan masalah terutama ketergantungan impor.
Pada Tabel 3 dapat kita lihat peranan berbagai komponen PDB dimana peranan kegiatan pengeluaran konsumsi rumah tangga dan pemerintah masih cukup tinggi. Hal ini kemungkinan merupakan penyebab tingginya kenaikan impor yang digunakan sebagai penopang kegiatan konsumsi tersebut. Di sisi lain, pertumbuhan komponen lain memang cukup menggembirakan. Namun, kondisi ini masih perlu ditingkatkan dalam rangka menangani masalah ketenagakerjaan dan kemiskinan.
Pertumbuhan PDB Berdasarkan Komponen (% y-o-y)
Komponen PDB 200
1
200 2
200 3
200 4
200 5
PDB 3.8 4.4 4.9 5.1 5.6
Konsumsi RT 3.5 3.8 3.9 4.9 4.0
Konsumsi Pemerintah 7.6 13. 0
10. 0
1.9 8.1
Pembentukan Modal Tetap Bruto
6.5 4.7 1.0 15. 7
9.9
Ekspor 0.6 -1.2 8.2 8.5 8.6
Impor 4.2 -4.2 2.7 24.
9
12. 4 Sumber : BPS dalam Yudoyono (2006)
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi saja tidak cukup untuk mengatasi permasalahan pengangguran dan kemiskinan di Indonesia. Diperlukan pertumbuhan ekonomi yang juga berkualitas dan berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi tersebut adalah pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada pertumbuhan sektor-sektor riil dan kegiatan produkstif lainnya serta peningkatan daya saing dengan sasaran penyediaan lapangan pekerjaan dan peningkatan pendapatan.
Selanjutnya pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkelanjutanan dapat dilakukan dengan pengembangan sektor ekonomi dengan pemanfaatan sumberdaya alam seperti pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, kelautan, kehutanan, pariwisata, pertambangan dan energi. Dengan potensi sumberdaya alam yang besar, Indonesia semestinya dapat memanfaatkannya dalam upaya peningkatan taraf hidup dan upaya kegiatan produksi yang dapat menghasilkan komoditi yang dapat bersaing baik domestik maupun internasional.
Agribisnis dan Peranannya Dalam Penyerapan Tenaga Kerja
Dengan multifungsi seperti itu pula produk pertanian yang dikelola dengan baik dan benar dapat menjadi sumber pendapatan ekspor (devisa) berbasis pertanian tropis, serta pendorong dan penarik bagi tumbuhnya sektor-sektor ekonomi khususnya industri dan jasa nasional lainnya. Pembangunan pertanian tropis yang dikelola dengan baik dan bijak akan dapat dengan lebih kompetitif sehingga dapat meningkatkan pendapatan penduduk secara lebih merata dan berkelanjutan.
Kontribusi sektor agribisnis dalam penyerapan tenaga kerja tahun 1990 mencapai sekitar 74 persen dan kemudian meningkat menjadi 77 persen tahun 1995. Hal ini berarti cara yang paling tepat untuk meningkatkan kesempatan kerja dan berusaha di Indonesia adalah melalui pembangunan agribisnis. Kontraksi perekonomian agregat pada tahun 1998 menyebabkan penurunan penyerapan tenaga kerja nasional sebesar 2,13 persen atau sekitar 6,43 juta orang. Penyerapan tenaga kerja sektor pertambangan dan galian turun sebesar 290,5 ribu orang (-32,4%), sektor industri manufaktur turun sebesar 1,38 juta orang (-12,36%), sektor bangunan turun sebesar 1,75 juta orang (-41,62%), perdagangan dan hotel turun 2,27 juta orang (-13,22%), sektor keuangan, persewaan turun sebesar 141,7 juta orang (-13,10%). Namun penyerapan tenaga kerja sektor pertanian naik sebesar 432,5 ribu orang atau sektiar 1,21 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sektor agribisnis mampu mengurangi beban pengangguran nasional akibat krisis ekonomi.
proporsi 13,63 persen, 8,27 persen, 4,13 persen, dan 3,31 persen. Keadaan ini menunjukkan masih tetap dominan peran sektor pertanian dalam perekonomian rumah tangga pedesaan, baik di Jawa maupun di luar Jawa. Kegiatan di luar sektor pertanian yang relatif kecil dan sedang bertumbuh, tidak bisa dilepaskan keterkaitannya dengan keberhasilan atau kinerja pembangunan pertanian.
Dari data tahun terakhir, sektor pertanian masih menjadi penopang utama dalam penyerapan tenaga kerja. Data pada tabel di bawah menunjukkan kontribusi Sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja. Data tersebut menunjukkan besarnya peranan sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja pada beberapa tahun terakhir. Selain itu, pada masa krisis, sektor ini juga terbukti sebagai buffer ekonomi dimana pada saat pertumbuhan ekonomi mangalami kontraksi, sektor ini justru tumbuh positif.
Kontribusi Sektor Pertanian dalam Penyerapan Tenaga Kerja dan PDB
2000 2001 2002 2003 2004
Pertumbuhan PDB 1.9 4.1 2.8 3.1 3.1
Sumbangan Terhadap PDB 15.6 15.6 15.7 15.0 14.7 Penyerapan Tenaga Kerja (juta jiwa) 40.5 39.7 40.6 42.0 43.0 Penyerapan Tenaga Kerja (%) 45.1 43.8 44.3 46.3 46.6 Sumber : Menko Perekonomian, Dep. Pertanian, Dep. Kelautan dan Perikanan dan Dep.
Kehutanan (Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Indonesia 2005) Terlepas dari perannya dalam penyerapan tenaga kerja, sektor agribisnis terutama pada sub sistem on-farm bukan tanpa masalah. Pertama, pangsa tenaga kerja yang sangat besar dari sektor sub sistem on-farm (sekitar 46.6 persen tahun 2004) serta sumbangan PDB yang semakin menurun (14.7 persen tahun 2004) mengakibatkan tingkat produktivitas pada sektor ini menjadi sangat rendah. Seperti terlihat dalam tabel berikut ini, kinerja sub sistem on-farm dirasakan masih terlalu rendah dibanding sektor lain.
Indeks Nilai Produksi Per Tenaga Kerja
200 0 200 1 200 2 200 3 200 4 Pertanian, Perikanan dan
Kelautan 0.3 4 0.3 6 0.3 5 0.3 2 0.3 1 Industri (Total) 2.3
6 2.4 9 2.5 3 2.8 0 2.7 8 Agroindustri 2.4 0 2.4 2 2.4 7 2.6 1 2.6 4 Indeks Nilai Produksi Per Tenaga Kerja Total = 1
Sumber : Menko Perekonomian, Dep. Pertanian, Dep. Kelautan dan Perikanan dan Dep. Kehutanan (Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Indonesia 2005)
dan kecilnya tingkat pendapatan. Dari tabel berikut dapat kita lihat betapa kecilnya tingkat upah yang diterima di sektor pertanian dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya.
Upah Rata-rata Pekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Tahun 2005 (Rp/Bulan)
Lapangan Pekerjaan Kota Desa Pertanian, Peternakan, Kehutanan,
Perikanan
349,46 4
343,8 93 Pertambangan, penggalian 2,311,2
35
852,1 66 Industri Pengolahan 772,60
9
548,9 23 Listrik, gas dan air 1,090,8
06
727,2 84
Bangunan 757,33
8
604,9 57
Perdagangan besar 726,28
7
497,0 78 Angkutan, pergudangan 955,84
4 664,9 72 Keuangan 1,327,4 18 968,6 54 Jasa 957,27 8 824,4 84 Rata-Rata 1,027, 587 670,2 68 Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2005 dalam Depnakertrans (2006)
Kondisi tersebut di atas akan berimplikasi pada upaya mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran. Dengan proporsi penduduk miskin di sektor pertanian yang mencapai 60 persen dari total penduduk miskin dan lebih dari 50 persen pengangguran terdapat di sektor ini. Oleh karena itu, dengan mengatasi berbagai permasalahan pada sektor ini melalui pemanfaatan potensi sumberdaya alam dan upaya peningkatan daya saing, maka sebagian besar masalah mendasar seperti kemiskinan, pengangguran dan daya saing akan dapat terselesaikan dan sekaligus memberikan solusi masalah kelestarian lingkungan.
Strategi di atas diharapkan dapat dijadikan tahap awal perkembangan perekonomian Indonesia. Crawford (1991) dalam Saragih (2006) memberikan gambaran tahap perkembangan ekonomi terkait dengan produktivitas tenaga kerja seperti dalam bagan berikut.
Bagan Tahap Perkembangan Ekonomi Dikaitkan dengan Produktivitas Tenaga Kerja
Ekonomi Pertanian/Pra
-Industri
Ekonomi Industri Ekonomi Informasi
Tahap Awal Tahap Berkemban g Tahap Matang
Tahap Awal Tahap Berkemban
g
Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Industri Pengolahan Industri Pengolahan Rumah Tangga Kerajinan Industri Pengolahan Rumah Tangga Kerajinan Industri Pengolahan Keluarga Industri Kerajinan Keluarga Jasa Rumah Tangga Kerajinan Industri Pengolaha n Keluarga Keluarga Jasa
Keluarga Jasa Angkutan,
Konstruksi, Perdaganga n, Real Estate, Keuangan, Kesehatan, Pendidikan Business Leisure Angkutan, Konstruksi, Perdaganga n, Real Estate, Keuangan, Kesehatan, Pendidikan Business Leisure Keluarga Jasa, Angkutan, Perdaganga n, Keuangan, Real Estate, Kesehatan, Pendidikan
Angkutan, Konstruksi, Perdaganga n, Real Estate, Keuangan, Kesehatan, Pendidikan Business Leisure Jasa Angkutan, Konstruksi, Perdaganga n, Real Estate, Keuangan dll Jasa
Jasa
Dengan mengacu pada bagan tersebut, melihat jumlah penduduk yang bekerja pada masing-masing sektor, tahap perekonomian kita berada dalam tahap peralihan dari tahap awal ke tahap perkembangan dalam suatu ekonomi industri. Proses perkembangan ekonomi yang kita lakukan sebaiknya mengikuti pola dan karakter sumberdaya alam maupun manusia yang kita miliki. Dengan demikian proses perkembangan tersebut dapat berjalan tanpa pemaksaan dan pasar dapat menyerap sehingga perkembangannya tidak berhenti begitu saja di tengah jalan.
Oleh karena itu penetapan sasaran pertumbuhan sektor agribisnis sebagai salah satu fokus pembangunan nasional sudah tepat sebagai salah satu solusi permasalahan mendasar pengangguran dan kemiskinan. Diperlukan usaha keras dalam mencapai sasaran tersebut. Usaha tersebut mencakup optimalisasi skala usaha dan produksi dalam usaha pertanian, penelitian teknologi produksi dan pengolahan, dukungan infrastruktur.
berbasis pertanian dan pedesaan yang dapat mendorong penyerapan tenaga kerja diluar sub sistem on-farm. Untuk meningkatkan posisi tawar sektor agribisnis juga dikembangkan kelembagaan agribisnis dan peningkatan aksesibilitas terhadap berbagai layanan usaha. Selain itu juga dilakukan upaya mengurangi atau menghilangkan hambatan usaha dan ekonomi biaya tinggi serta perlindungan terhadap perdagangan bebas yang tidak adil.
Terakhir, solusi masalah pengangguran melalui agribisnis adalah kebijakan makro ekonomi antara lain dengan kebijakan fiskal. Kebijakan fiskal merupakan salah satu instrumen penting yang dapat dikelola oleh pemerintah disamping kebijakan lain yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap pembangunan pertanian dan pedesaan.
Kebijakan fiskal berupa belanja pemerintah untuk infrastruktur dan pertanian akan berpengaruh terhadap tingkat pengangguran dan kemiskinan. Yudoyono (2004) dalam disertasinya menyampaikan bahwa peningkatan belanja pemerintah untuk infrastruktur dan pertanian serta pendidikan dan kesehatan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Penyerapan tenaga kerja ini bukan hanya pada sektor pertanian saja, tetapi juga tenaga kerja di sektor lain. Hal ini dimungkinkan karena sektor pertanian memiliki keterkaitan terhadap sektor lainnya.
Untuk meningkatkan pendapatan, dilakukan melalui upaya peningkatan nilai tambah pada sub sistem pengolahan. Dengan demikian peningkatan upah ini bias terjadi melalui peningkatan penyerapan tenaga kerja di luar sub sistem on-farm. Inilah yang sebetulnya dikategorikan sebagai pembangunan pertanian melalui pendekatan sistem dan usaha agribisnis dimana setiap sub sistem memiliki keterkaitan dan kesinambungan. Dengan dukungan agroindustri, pengembangan sistem agribisnis memiliki peranan penting dalam upaya menyelesaikan sebagian besar masalah mendasar pengangguran dan kemiskinan.
Tentunya, kondisi tersebut di atas juga tidak terlepas dari kondisi perekonomian lain baik makro maupun mikro. Diperlukan dukungan kebijakan pemerintah mencakup undang-undang dan peraturan lain yang memadai, rencana penataan ruang dan wilayah yang baik dan perpaduan sinergis dari berbagai sektor dalam upaya memerangi kemiskinan dan pengangguran demi terciptanya masyarakat yang adil dan makmur.
Daftar Pustaka
____________. 1998. International Agricultural Development (3rd Ed.) Edited by C.K. Ecicher and J.M. Staatz. The John Hopkins University Press. Baltimore and London.
____________. 2009. Pocket World in figures 2010 Edition (The Economist). Profile Books Ltd. In Association with The Economist. London.
Basri, F. dan H. Munandar. 2009. Lanskap Ekonomi Indonesia : Kajian dan Renungan terhadap Masalah-Masalah Struktural, Transformasi Baru, dan prospek Perekonomian Indonesia. Kencana. Jakarta.
Dornbusch, R., S. Fischer, and R. Startz. 2008. Macroeconomics 10th Edition. McGraw-Hill Inc. New York.
Downey, W.D., and S.P. Erickson. 1987. Agribusiness Management, 2nd Edition. McGraw-Hill Inc. New York.
Giddens, A. 1999. The Third Way : The Renewal of Social Democracy. Blackwell Publisher Ltd. USA.
hdr.undp.org
Hovey, C., and G. Rehmke. 2008. The Complete Ideal’s guides : Global Economics. Alpha Books. Jakarta.
Jones, C.O. 1994. Pengantar Kebijakan Publik (Public Policy) Diterjemahkan oleh : Ricky Istamto, Editor : Nashir Budiman. RajaGrafindo Persada. Jakarta.
Kotler, P., S. Jatusripitak, and S. Maesincee. 1997. The Marketing of Nations. The Free Press. New York.
Nasution, A.H. 1985. Daun-daun Berserakan : Percikan Pemikiran Mengenai Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan. Inti Sarana Aksara. Jakarta.
Parson, W. 2001. Public Policy : An Introduction to the Theory and Practice of Policy Analysis. Edward Elgar Publishing, Ltd.
Stiglitz, J.E. 2002. Globalization and Its Discontents. W.W. Norton & Co. New York & London.
Stiglitz, J.E. 2006. Making Globalization Work. W.W. Norton & Co. New York & London.
The World Bank. 2002. The Right to Tell : The Role of Mass Media in Economic Development. The World Bank. Washington DC.