• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penegakan Hukum Terhadap Hakim Sebagai Pelaku Tindak Pidana Narkotika (Studi Putusan Pengadilan Negeri No.361 Pid.Sus 2013 PN.JKT.BAR) Chapter III V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Penegakan Hukum Terhadap Hakim Sebagai Pelaku Tindak Pidana Narkotika (Studi Putusan Pengadilan Negeri No.361 Pid.Sus 2013 PN.JKT.BAR) Chapter III V"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA TINDAK PIDANA

NARKOTIKA

Kata ”penjahat” tidak ditemukan dalam Kitab Undang-Undang Hukum

Pidana Indonesia akan tetapi kata ”penjahat” merupakan istilah yang terdapat

dalam masyarakat yang diberikan kepada orang tertentu yang menurut penilaian

masyarakat tersebut telah melakukan pelanggaran terhadap kaedah-kaedah atau

hukum yang berlaku di dalam masyarakat tersebut.

Antara kejahatan, penjahat, dan jenis penjahat merupakan suatu mata

rantai yang terpisah di dalam pembahasannya. Maksudnya antara perbuatannya, si

pelaku, dan tipe atau jenis orangnya merupakan suatu kesatuan yang menunggal

seandainya dibicarakan maupun dibahas dalam proses pertimbangan hukum.

Beberapa pendapat ahli kriminologi tentang tipe atau jenis penjahat ini

antara lain dikemukakan oleh Lambroso, Garofallo, dan Seelig. Jenis penjahat

yang dikemukakan mereka di antaranya adalah:117

1. Lambroso: mengemukakan jenis penjahat itu, ada penjahat kelahiran,

penjahat yang kurang beres ingatannya atau pikiran/gila juga termasuk

peminum alkohol/minuman keras, penjahat karena hawa nafsu yakni

karena orang-orang yang karena sifatnya bernafsu melaksanakan

kemauannya seenaknya saja, penjahat dalam kesempatan atau penjahat

117

(2)

kesempatan, dalam hal ini ada kalanya karena terdesak akalnya karena

kebiasaan, dan bentuk campuran antara penjahat kelahiran/bakat ditambah

dengankesempatan, dan mereka ini melakukan kejahatan disebabkan

karena keadaan yang kurang sempurna.

2. Garafallo: mengemukakan tipologinya berupa, penjahat-penjahat

pembunuh, penjahat-penjahat penyerang, agresif, orang yang suka sekali

menyerang orang lain dengan kata-kata atau perbuatan, penjahat-penjahat

curang, penjahat-penjahat yang terdorong karena terdorong hawa nafsu

yang tidak terkendalikan.

3. Seelig: mengemukakan tipologinya berupa penjahat-penjahat karena

pekerjaannya seperti pelacur, karena penjahat-penjahat karena lemah

jiwanya, yakni sering terjadi pada anak-anak muda yang dalam

pekerjaannya selalu tidak dapat menahan godaannya dari luar atau kurang

sempurna pekerjaannya akibat pekerjaan tersebut (misalnya penggelapan,

korupsi, penipuan), penjahat cepat marah, yakni sering terjadi karena

keadaan tergoncang yang mengakibatkan mereka melakukan perbuatan

agresif baik dalam pergaulan, nafsu birahi (misalnya penghinaan tulisan

maupun lisan), penjahat-penjahat yang disebabkan oleh krisis jiwa/krisis

kehidupan, penjahat-penjahat yang kurang berdaya menahan

tekanan-tekanan luar (misalnya orang-orang yang suka mengumpat),

penjahat-penjahat karena keyakinan (misalnya pemberontakan kepada pemerintah

yang sah), penjahat-penjahat yang kurang disiplin dalam masyarakat

(misalnya percekcokan dengan tetangga), dan penjahat-penjahat bentuk

(3)

Secara sosial, seseorang yang terjerumus pada penggunaan obat-obat

terlarang dapat mengakibatkan munculnya niat untuk berbuat jahat baik dalam

keadaan sadar maupun dalam tidak sadar. Individu yang telah terbiasa

menggunakan obat-obat seperti narkoba dan psikotropika, membatasi diri untuk

bersosialisasi, melakukan kejahatan pemerkosaan, kejahatan pembunuhan,

kecelakaan lalu lintas, percekcokan dalam rumah tangga, perlakukan tidak wajar

pada anak. Ini adalah dampak nyata yang sering disaksikan di mana-mana.

Sangathebat dampak negatif yang disebabkan oleh penggunaan obat-obat

terlarang tersebut.

Kemudian selanjutnya, apakah benar faktor genetik yang membuat

seseorang melakukan kejahatan? Dr. Sullivan berpendapat baik kekerasan maupun

kejahatan adalah permasalahan kesehatan masyarakat. Sullivan melakukan

penelitian mengenai sejumlah aspek biologis permasalahan tersebut (seperti ras,

gender, kimiawi otak, dan susunan genetik). Sullivan menemukan hubungan

antara perilaku agresif dengan berbagai gangguan dalam tingkatan sebuah zat

kimia bernama serotonin yang berhubungan langsung dengan gen-gen tertentu.

Studi yang lain dalam tahun 1993 juga menemukan hubungan antara gen dengan

kekerasan. Mutasi kromosom X yang ditemukan diasosikan sebagai penghambat

halus dan perilaku kekerasan kriminal yang terkadang bersifat agresif. Mutasi itu

disebabkan oleh kurangnya enzyme monoamine oxidase yang memetabolisir

neurotransmitter serotonin. Orang-orang yang memiliki gen abnormal ini

biasanya terlibat dalam tindakan agresif yang impulsif, tetapi waktu, tempat, tipe,

dan tingkat keseriusan kejahatan mereka bervariasi serta tidak dapat diprediksi.

(4)

kasus pembunuhan dengan aktivitas otak dari kontrol normal dengan jumlah yang

sama. Sebuah prefrontal cortex yang rusak bisa mengakibatkan perilaku agresif

yang impulsif. Sullivan memperingatkan bahwa hasil scan tersebut sebagai

diagnostik karena para pembunuh adalah sekelompok orang yang heterogen.

Singkat kata, pengaplikasikan penelitian seperti ini dalam pengendalian kejahatan

seringkali menimbulkan isu etika serta politik. Para ilmuwan punya banyak fakta

tentang hubungan DNA dengan kejahatan. Sejumlah studi mengungkapkan lebih

dari 80% pelaku kejahatan apapun yang ditangkap dan lebih dari 90% pelaku

kekerasan, memiliki sebuah kromosom Y tambahan dan kromosom Y ini hanya

ada pada pria. Terkadang kromosom ini jumlahnya lebih dari satu. Peran

testosterone dalam perilaku agresif juga sangat berpengaruh menunjukkan

hubungan langsung antara tingkat testosterone dengan agresif. Testosterone

mengatur ekspresi gen dengan bertindak di berbagai lokasi di dalam sebuah DNA.

Inilah yang menyebabkan perubahan gen yang kemudian mengubah perilaku. Saat

dua individu berkelamin laki-laki berkelahi, maka testoterone di pihak yang

menang meningkat sedangkan testoterone pada pihak yang kalah menurun.148

Setiap manusia dalam hidupnya telah diberikan oleh Tuhannya berupa

pedoman berisi perintah dan larangan. Individu yang mematuhi perintah dan

larangan agama akan memperoleh pahala dari Tuhannya dan sebaliknya yang

melanggar akan berdosa. Ajaran keagamaan dengan tegas ditentukan bahwa setiap

orang harus berbuat baik dengan mematuhi pedoman-pedoman yang telah

digariskan dalam firman Tuhan melalui kitab-kitab suci dan Rasulnya, maka

konsekuensinya adalah barangsiapa yang melanggar dan mengingkari perintah

148

(5)

Tuhan seperti membunuh, mencuri, berzina dan lain-lain, maka dia sendirilah

yang harus bertanggung jawab atas perbuatan jahat tersebut.149

Tidak adanya suatu pendirian yang tetap dalam suatu kepribadian akan

menyebabkan seseorang mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif khususnya

penyalahgunaan narkotika dan psikotropika. Sebab pada pribadi yang semacam

ini, biasanya tidak dapat membedakan hal-hal yang positif dan negatif.Krisis

kejiwaan juga memegang peranan yang penting, hal ini biasanya terjadi pada

orang-orang yang kurang kreatif, pemalas, senang ikut-ikutan, senang iseng.

Keadaan seperti ini akan menimbulkan perbuatan yang negatif, sebab orang-orang

semacam ini tidak dapat memanfaatkan waktu yang terluang dengan kegiatan

positif.

Jadi terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi individu untuk

melakukan kejahatan sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, faktor-faktor

kejahatan tersebut bersumber keadaan ekonomi, kemiskinan, pengangguran,

penggunaan obat-obat terlarang yang berada dalam lingkungan sosial.

Tindak pidana narkotika berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun

2009 tentang Narkotika memberikan sanksi pidana cukup berat, di samping dapat

dikenakan hukuman badan dan juga dikenakan pidana denda, tapi dalam

kenyataanya tindak pidana Narkotika di dalam masyarakat menunjukkan

kecenderungan yang semakin meningkat baik secara kuantitatif maupun kualitatif

dengan korban yang meluas, terutama di kalangan anak-anak, remaja, dan

generasi muda pada umumnya.

(6)

Rachman Hermawan S, berpendapat bahwa terjadinya penyalahgunaan

narkotika dan psikotropika dipengaruhi oleh beberapa faktor dimana salah satunya

adalah faktor dari dalam diri pecandu narkotika dan psikotropika. Dimana hal ini

meliputi faktor kecerdasan, usia,jenis kelamin serta masalah-masalah yang

dihadapi.151

Menurut Sudarsono, bahwa penyalahgunaan narkotika dan psikotropika di

latar belakangi oleh beberapa sebab, yaitu:

Banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang mulai

menyalahgunakan narkoba, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan

ketergantungan. Pada umumnya secara keseluruhan faktor-faktor

yangmenyebabkan seseorang melakukan tindak pidana narkotika dapat dibedakan

atas faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang

bersal dari dalam diri sendiri, sedangkan faktor eksternal merupakan merupakan

faktor yang berasal dari luar diri pelaku.

152

a. Untuk membuktikan keberanian dalam melakukan

tindakan-tindakan yang berbahaya seperti ngebut dan bergaul dengan

wanita;

b. Menunjukkan tindakan yang menentang orang tua, guru, dan

norma sosial;

c. Mempermudah penyaluran dan mempermudah perbuatan seks;

151

Rachman Hermawan S, Penyalahgunaan Narkotika Oleh Para Remaja,Eresco,Bandung, 1988, hal.32

152

(7)

d. Melepaskan diri dari kesepian dan memperoleh

pengalaman-pengalaman emosional;

e. Mencari dan menemukan arti hidup;

f. Mengisi kekosongan dan kesepian hidup;

g. Menghilangkan kegelisahan, frustasi dan kepepet hidup;

Menurut hasil penelitian Dadang Hawari, bahwa di antara faktor-faktor

yang berperan dalam penggunaan narkotika dan psikotropika adalah:153

a. Faktor kepribadian anti sosial dan psikopatik;

b. Kondisi kejiwaan yang mudah merasa kecewa atau depresi;

c. Kondisi keluarga yang meliputi keutuhan keluarga, kesibukan

orang tua, hubungan orang tua dengan anak;

d. Kelompok teman sebaya; dan Narkotika dan psikotropika itu

sendiri mudah diperoleh dan tersedianya pasaran yang resmi

maupun tidak resmi

Menurut Tim Badan Narkotika Nasional, bahwa terdapat beberapa faktor

yang menyebabkan seseorang atau individu menyalahgunakan narkotika dan

psikotropika antara lain:

1) Keingintahuan yang besar untuk mencoba, tanpa sadar atau

berfikir panjang tentang akibatnya dikemudian hari;

2) Keinginan untuk mencoba-coba karena penasaran;

3) Keinginan untuk bersenang-senang;

4) Keinginan untuk mengikuti trend atau gaya hidup;

5) Keinginan untuk dapat diterima dalam suatu kelompok;

153

(8)

6) Lari dari masalah, kebosanan atau kegetiran hidup;

7) Pengertian yang salah bahwa mencoba sekali-kali tidak akan

menimbulkan masalah;

8) Tidak mampu atau tidak berani menghadapi tekanan dari

lingkungan atau

kelompok pergaulan untuk menggunakan narkotika dan

psikotropika; dan

9) Tidak dapat atau mampu mengatakan “tidak” pada narkotika

dan psikotropika.

Pada umumnya secara keseluruhan faktor-faktor yang menyebabkan

seseorang melakukan tindak pidana narkotikadapat dibedakan atas faktor internal

dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang bersal dari dalam diri

sendiri, sedangkan faktor eksternal merupakan merupakan faktor yang berasal dari

luar diri pelaku.

A. Faktor Eksternal

Faktor Eksternal yang menyebabkan terjadinya Tindak Pidana Narkotika

terdiri dari:

1. Faktor Pengaruh Teman/Kelompok/Lingkungan

Perasaan setia kawan sangat kuat dimiliki oleh generasi muda. Jika

tidak mendapatkan penyaluran yang positif, sifat positif tersebut dapat

berbahaya dan menjadi negatif. Bila temannya memakai narkotika dan

psikotropika, maka individu tersebut ikut juga memakai. Bila

temannya dimarahi orang tuanya atau dimusuhi masyarakat, maka

(9)

menyebabkan anak ikut-ikutan. Awalnya hanya satu orang yang

merokok, kemudian semuanya menjadi perokok. Setelah semuanya

merokok, satu orang mulai memakai ganja, lalu yang lainnya ikut

sehingga menjadi sekawanan pemakai ganja. Setelah semua memakai

ganja, satu orang memakai ekstasi, kemudian semuanya ikut, demikian

seterusnya meningkat menjadi shabu dan pada akhirnya menjadi

pemakai putaw.

2. Faktor Keluarga

Faktor keluarga merupakan hal yang penting pada terjadinya

penggunaan awal obat-obatan terlarang. Keluarga mempunyai peranan

penting dalam perkembangan awal serta melindungi dari awal

penggunaan narkoba. Jika terjadi suatu konflik dalam keluarga dimana

masalah tersebut terlalu sulit untuk diselesaikan sehingga

menimbulkan depresi, hal ini dapat memicu seseorang untuk

menggunakan narkoba agar dapat merasakan suatu ketenangan dan

jauh dari masalah yang dialami.

3. Faktor Ekonomi

Faktor ekonomi merupakan akar dari permasalahan dari setiap tindak

kejahatan. Seseorang akan melakukan hal-hal yang melanggar hukum jika

tidak terpenuhinya kebutuhan hidup mereka, termasuk oknum polisi

sekalipun. Tingginya kebutuhan hidup memaksa polisi untuk mencari

pendapatan tambahan melalui berbagai cara termasuk

menyalahgunakan kewenangan mereka untuk hal-hal yang seharusnya

mereka berantas seperti, menerima suap, melindungi pengedar narkoba

(10)

mereka lakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan

keluarga mereka.

B. Faktor Internal

Faktor internal sebagai faktor yang berasal dari dalam diri si pelaku yang

berupa:

1. Faktor Usia

Kebanyakan penyalahgunaan narkotika dan psikotropika dimulai atau

terdapat pada masa remaja, sebab masa remaja yang sedang

mengalami perubahan biologik, psikologik maupun sosial yang pesat

merupakan individu yang rentan untuk menyalahgunakan narkotika

maupun psikotropika tersebut. Anak atau remaja dengan ciri-ciri

tertentu mempunyai risiko lebih besar untuk menjadi

penyalahgunanya. Ciri-ciri tersebut antara lain:154

h. Keingintahuan yang besar untuk mencoba atau penasaran; a. Cenderung memberontak dan menolak otoritas;

b.Cenderung memiliki gangguan jiwa lain (komorbiditas) seperti

depresi, cemas, psikotik, keperibadian dissosial;

c. Perilaku menyimpang dari aturan atau norma yang berlaku

d. Rasa kurang percaya diri (low selw-confidence), rendah diri dan

memiliki citra diri negatif (low self-esteem);

e. Sifat mudah kecewa, cenderung agresif dan destruktif;

f. Mudah murung, pemalu, pendiam;

g. Mudah merasa bosan dan jenuh;

154

(11)

i. Keinginan untuk bersenang-senang (just for fun);

j. Keinginan untuk mengikuti mode, karena dianggap sebagai lambang

keperkasaan dan kehidupan modern;

k. Keinginan untuk diterima dalam pergaulan;

l. Identitas diri yang kabur, sehingga merasa diri kurang “jantan”;

m. Tidak siap mental untuk menghadapi tekanan pergaulan sehingga

sulit mengambil keputusan untuk menolak tawaran NAPZA dengan

tegas;

n. Kemampuan komunikasi rendah;

o. Melarikan diri dari sesuatu (kebosanan, kegagalan, kekecewaan,

ketidakmampuan, kesepian dan kegetiran hidup, dan lain-lain);

p. Putus sekolah; dan

q. Kurang menghayati iman atau kepercayaannya.

2. Faktor Pendidikan

Banyak dari mereka yang putus sekolah. Sehingga pemahaman mereka

tentang bahaya narkoba tidak diketahui dengan baik. Sosialisasi

tentang bahaya narkoba juga tidak pernah mereka dapatkan. Baik di

sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Pendidikan yang rendah

mengakibatkan daya tangkap menjadi kurang dan pada akhirnya

wanita memiliki pengetahuan yang terbatas pula.

3. Faktor Psikologis

Menurut Subagyo Partodiharjo, secara individu terdapat beberapa faktor

yang mempengaruhi seseorang dapat menyalahgunakan narkotika dan

(12)

sendiri atau pemakai narkotika dan pasikotropika tersebut yakni sebagai

berikut:155

a) Rasa kecewa, frustasi, kesal

Perasaan kesal, kecewa, atau frustasi biasanya terjadi karena

kegagalan pada generasi muda, eksekutif muda, suami atau istri.

Penggunaan narkotika dan psikotropika pada kelompok ini

bertujuan untuk sesaat melupakan kekecewaan, kekesalan dan

frustasi. Kondisi masyarakat yang carut marut telah banyak

melahirkan kekecewaan, kekesalan, bahkan frustasi. Narkotika dan

psikotropika dapat melupakannya sesaat, tetapi tidak untuk

mengatasi masalah yang sesungguhnya.

b) Ingin bebas dari rasa sakit atau pusing

Penderita penyakit berat yang kronis dan tidak kunjung sembuh,

misalnya kanker hati, luka bakar, luka tusuk, wasir, kanker

paruparu, migren, encok, pengapuran, dan lain-lain, selalu

merasakan sakit yang luar biasa karena penyakitnya. Rasa sakit

tersebut sering kali tidak dapat dihilangkan dengan obat penghilang

rasa sakit biasa (analgetik) sehingga penderitanya mencoba

narkotika atau psikotropika.Narkotika maupun psikotropika dapat

menghilangkan rasa sakit tersebut, tetapi tidak menyembuhkan

penyakitnya. Celakanya, pemakai yang bersangkutan malah

mendapat maslah baru yaitu ketergantungan dengan segala

komplikasinya yang justru menjadi lebih berbahaya

155

(13)

c) Ingin menikmati rasa gembira, tampil lincah, energik, dan

mengusir rasa sedih dan malas

Para eksekutif dan selebritis biasanya memiliki gaya hidup yang

trendi. Mereka merasa dituntut untuk selalu tampil lebih prima.

Dengan mengkonsumsi narkotika atau psikotropika, mereka dapat

tampil prima dan percaya diri karena kehilangan rasa malu,

walaupun sesungguhnya tidak demikian. Perasaan hebat tersebut di

atas seharusnya dicapai melalui tekun berolah raga, hidup teratur,

meningkatkan kualitas fisik, mental, intelektual, dan moralnya.

Bukan mengambil jalan pintas dengan tampil seolah-olah prima

melalui manipulasi atau tipuan melalui mengkonsumsi narkotika

atau psikotropika tersebut. Penampilan prima yang semu atau atau

tipuan itu lambat laun akan terungkap juga, sehingga

lama-kelamaan akan ketahuan juga jati dirinya yang sesungguhnya itu.

d) Takut mengalami rasa sakit (sakaw)

Pengguna jenis narkotika atau psikotropika tersebut yang sudah

menjadi pemakai tetap (pemadat) akan mengalami rasa sakit

(sakaw) bila tidak memakainya. Karena takut merasakan

penderitaan, maka pemakai tersebut terus memakainya sehingga

menjadi pemakai yang setia (junkies). Banyak pemakai narkotika

dan psikotropika ini yang setia adalah orang-orang yang merasa

”terpaksa” memakai, sebab kalau tidak memakainya, mereka akan

mengalami sakaw. Kebanyakan penyalahgunaan narkotika dan

(14)

remaja yang sedang mengalami perubahan biologik, psikologik

maupun sosial yang pesat merupakan individu yang rentan untuk

(15)

BAB IV

ANALISIS PUTUSAN PENGADILAN NO.361/Pid.Sus/2013/PN.JKT.BAR

A. Kronologis Kasus

Putusan No. 361/Pid.Sus/2013/PN.JKT.BAR156

Saat itu Terdakwa sedang berkaraoke dengan Siddiq Pramono dan Dinda

Melani Rachman serta dua orang pemandu karaoke yakni Frisca Angeline dan

Nindi Angelina Anggraini. Sebelumnya Terdakwa telah membeli pil ekstasi

sejumlah 10 butir dan 1 paket jie shabu yang dibeli dari teman Terdakwa yang :

Nama Lengkap : Puji Wijayanto, SH., MH

Tempat Lahir : Blora

Umur/Tanggal Lahir : 48 Tahun / 20 Oktober 1964

Jenis Kelamin : Laki-laki

Kebangsaan : Indonesia

Tempat Tinggal : Persada Kemala Blok 2 No. 11 RT.002/013

Desa Jakasampurna Kec. Bekasi Kota

Bekasi

Agama : Islam

Pekerjaan : PNS (Hakim PN Bekasi)

Kronologi Perkara:

Puji Wijayanto (Terdakwa) merupakan seorang hakim di Pengadilan

Negeri Bekasi. Pada hari Selasa tanggal 16 Oktober 2012 sekitar pukul 17.00

WIB Terdakwa sedang berada di Room 331 Illigals Hotel & Club di Jalan Hayam

Wuruk Nomor 108 Jakarta Barat.

156

(16)

bernama Nicolas. Kemudian Terdakwa membeli lagi 10 butir pil ekstasi

sebagaitambahan karena Terdakwa bermaksud untuk berkaraoke lebih lama dari

semestinya.

Pada hari yang sama, petugas dari Badan Narkotika Nasional (BNN)

melakukan penggeledahan dan penangkapan di Illigals Hotel & Club di Jalan

Hayam Wuruk Nomor 108 Jakarta Barat. Dari penangkapan dan penggeledahan

tersebut didapatkan 8,5 bagian pil ekstasi warna merah muda didalam kantong

celana terdakwa, dan 5 butir pil ekstasi berwarna kuning dan satu paket sisa pakai

shabu-shabu dan peralatan (bong).

1. Dakwaan157

Dalam Putusan ini, Penuntut Umum menggunakan Dakwaan Subsider,

yaitu surat dakwaan yang berisikan dua atau beberapa dakwaan yang disusun dan

dijejerkan berurutan (berturut-turut), mulai dari dakwaan tindak pidana yang

terberat sampai kepada dakwaan tindak pidana yang teringan 158

a. Pasal 114 ayat (1) Jo. Pasal 132 ayat (1) Undang-undang No. 35 Tahun

2009 tentang Narkotika (Primair)

. Adapun

Dakwaan dalam Putusan ini adalah:

Pasal 114 ayat (1)

‘Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum memproduksi,

mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan Narkotika Golongan I,

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan

paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit

157

Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Barat, No.Reg. 361/Pid.Sus/2013/PN.JKT.BAR

158

(17)

Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak

Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).159

“Percobaan atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana

Narkotika dan Prekursor Narkotika sebagaimana dimaksud dalam Pasal

111, Pasal 112, Pasal 113, Pasal 114, Pasal 115, Pasal 116, Pasal 117,

Pasal 118, Pasal 119, Pasal 120, Pasal 121, Pasal 122, Pasal 123, Pasal

124, Pasal 125, Pasal 126, dan Pasal 129, pelakunya dipidana dengan

pidana penjara yang sama sesuai dengan ketentuan sebagaimana

dimaksud dalam Pasal-Pasal tersebut.”

Pasal 132 ayat (1)

160

b. Pasal 112 ayat (1) Jo. Pasal 132 ayat (1) Undang-undang No. 35 Tahun

2009 tentang Narkotika (Subsidair)

Pasal 112 ayat (1)

“Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum memiliki,

menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I

bukan tanaman, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4

(empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan pidana denda

paling sedikit Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah) dan paling

banyak Rp8.000.000.000,00 (delapan miliar rupiah).”161

c. Pasal 127 ayat (1) huruf a Undang-undang No.35 Tahun 2009 tentang

(18)

a. Narkotika Golongan I bagi diri sendiri dipidana dengan pidana

penjara paling lama 4 (empat) tahun;”162

2. Tuntutan

Penuntutan adalah tindakan umum untuk melimpahkan perkara pidana ke

Pengadilan Negeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam

Undang-undang ini dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh Hakim

di sidang Pengadilan.163 Dalam Putusan ini, Penuntut Umum memberikan

tuntutan berupa164

1. Menyatakan Terdakwa PUJI WIYANTO, S.H., M.H. tidak terbukti

secara sah dan meyakinkan sebagaimana diatur dalam dakwaan

Primair maupun Subsidair; :

2. Membebaskan Terdakwa PUJI WIYANTO, S.H., M.H. dari dakwaan

tersebut diatas;

3. Menyatakan Terdakwa PUJI WIYANTO, S.H., M.H telah terbukti

secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana

“Sebagai penyalahgunaan Narkotika Golongan I bagi diri sendiri”

sebagaimana diatur dalam Pasal 127 ayat (1) huruf a Undang-undang

No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dalam dakwaan lebih subsidair;

4. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa PUJI WIJAYANTO, SH, MH

dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun dan 6 (enam) bilan

dikurangi selama Terdakwa berada dalam tahanan, dengan perintah

supaya Terdakwa tetap berada dalam tahanan;

162

Ibid

163

Pasal 1 butir 7 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana

164

(19)

5. Menetapkan barang bukti berupa:

- 8,5 (delapan koma lima) butir pil ekstasi dengan logo chanel

dengan berat bruto 3,0796 gram, setelah dilakukan pemeriksaan di

Labkrim:

1. 8 (delapan) butir tablet warna merah muda logo chanel

dengan berat netto seluruh 2,1797 gram (sisa hasil

Labkrim sebanyak 6 (enam) butir dengan netto 1,6241

gram;

2. Pecahan tablet warna merah muda dengan berat netto

0,4850 gram (sisa Labkrim dengan berat netto 0,4045

gram).

- 1 (satu) buah handphone Blackberry tipe Dakota warna hitam

beserta Simcard Simpati;

- 1 (satu) bandel nota pembayaran Illigals Hotel & Club room 331

a/n Dinda

Dirampas untuk dimusnahkan;

- 1 (satu) buah KTP a/n PUJI WIJAYANTO, SH, MH dengan NIK

3275022110640014 dikembalikan kepada Terdakwa PUJI

WIJAYANTO, SH, MH;

6. Menetapkan supaya Terdakwa dibebani biaya perkara sebesar Rp.

(20)

3. Putusan165

Putusan adalah pernyataan oleh Hakim yang diucapkan dalam sidang

pengadilan Terbuka, yang dapat berupa pemidanaan atau bebas atau lepas dan

segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara diatur dalam Undang-undang

ini.166

1. Menyatakan, Terdakwa PUJI WIJAYANTO, SH,MH tidak terbukti

secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dalam

dakwaan primair dan subsidair;

Dalam perkara ini, Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara

ini menjatuhkan putusan sebagai berikut:

2. Membebaskan Terdakwa PUJI WIJAYANTO, SH,MH dari dakwaan

primair dan subsidair;

3. Menyatakan Terdakwa PUJI WIJAYANTO, SH, MH telah terbukti

secara dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana

“penyalahguna Narkotika Golongan I untuk diri sendiri”;

4. Menghukum Terdakwa PUJI WIJAYANTO,SH,MH dengan pidana

penjara selama 2 (dua) tahun;

5. Menetapkan masa penahanan yang telah dijalankan Terdakwa

dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;

6. Menetapkan Terdakwa tetap dalam tahanan;

7. Menetapkan barang bukti berupa:

- 8,5 (delapan koma lima) butir pil ekstasi warna merah muda

dengan logo chanel dengan berat bruto 3,0796 gram setelah

dilakukan pemeriksaan Labkim:

165

Ibid

166

(21)

1. 8 (delapan) butir tablet warna merah muda logo chanel dengan

berat netto seluruh 2,1797 gram (sisa hasil labrim sebanyak 6

(enam) butir dengan berat netto 1,6241 gram);

2. Pecahan tablet warna merah muda dengan berat netto 0,4850

gram (sisa labkrim dengan berat netto 0,4045 gram);

- 1 (satu) buah Handphone Blackberry type DAKOTA warna hitam

beserta simcard Simpati;

- 1 (satu) bandel nota pembayaran Illigals Hotel & Clu Room 331

a/n DINDA;

Dirampas untuk dimusnahkan;

- 1 (satu) buah KTP a/n PUJI WIJAYANTO, SH,MH dengan NIK

327502210640014;

Dikembalikan kepada Terdakwa PUJI WIJAYANTO, SH,MH

8. Menghukum Terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar

Rp.5.000 (lima ribu rupiah);

B. Analisis Putusan

Berdasarkan kronologis pada putusan No.361/Pid.Sus/2013/PN.JKT.Bar

atas nama Terdakwa PUJI WIJAYANTO,SH,MH yang telah diputus 21 Mei

2013, bahwa Terdakwa telah secara jelas dan meyakinkan telah memenuhi unsur

perbuatan tindak pidana yang terkandung dalam pasal 127 ayat (1) huruf a “Setiap

Penyalah Guna: Narkotika Golongan I bagi diri sendiri dipidana dengan pidana

penjara paling lama 4 (empat) tahun;”

Dalam kasus ini, Penutut Umum dalam surat dakwaannya menjatuhkan

(22)

berbentuk subsider dirumuskan beberapa tindak pidana secara berlapis dari delik

yang paling berat ancaman pidananya, hingga delik yang paling ringan. Akan

tetapi sesungguhnya yang didakwakan terhadap terdakwa dan yang harus

dibuktikan didepan persidangan hanyalah satu dakwaan saja.167

1. Primair: melanggar pasal 114 ayat (1) Jo. Pasal 132 ayat (1) UU No.35

Tahun 2009 tentang Narkotika

Didalam perkara

ini, Penuntut Umum menjatuhkan dakwaan berupa:

2. Subsidair: melanggar pasal 112 ayat (1) Jo. Pasal 132 ayat (1) UU No.

35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

3. Lebih subsidair: melanggar pasal 127 ayat (1) UU No.35 Tahun 2009

tentang Narkotika.

Kemudian didalam tuntutannya, Penuntut Umum menyatakan bahwa

Terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan perbuatan sesuai

dengan dakwaan primair dan dakwaan subsidair, dan terbukti setelah secara sah

dan meyakinkan melakukan tindak pidana sesuai dengan yang diatur didalam

dakwaan lebih subsidair, yaitu Pasal 127 ayat (1) UU No. 35 Tahun 2009 tentang

Narkotika. Dalam tuntutannya Penuntut Umum menjatuhkan tuntutan dengan

pidana penjara selama 2 (dua) tahun dan 6 (enam) bilan dikurangi selama

Terdakwa berada dalam tahanan, dengan perintah supaya Terdakwa tetap berada

dalam tahanan.

Majelis Hakim dalam pertimbangannya, membuktikan satu persatu

dakwaan yang dijatuhkan kepada Terdakwa dimulai dari dakwaaan yang primair,

subsidair dan lebih subsidair.Dalam dakwaan primair terdakwa didakwa dengan

167

(23)

pasal 114 ayat (1) Jo. Pasal 132 ayat (1) UU No.35 Tahun 2009 tentang

Narkotika, yang unsurnya adalah sebagai berikut:

1. Setiap orang

Unsur “setiap orang” adalah dimaksudkan seseorang yang diajukan

oleh Penuntut Umum dalam persidangan yang mempunyai identitas

sebagaimana dalam dakwaaan dari Penuntut Umum. Dalam

persidangan berdasarkan keterangan para saksidan terdakwa diperoleh

fakta hukum bahwa Terdakwa bernama PUJI WIJAYANTO,SH,MH

yang mempunyai identitas sebagaimana dalam dakwaan. Dengan

demikian unsur “setiap orang” telah terpenuhi.

2. Yang tanpa hak atau melawan hukum

Unsur “tanpa hak atau melawan hukum” adalah dimaksud terdakwa

tidak mempunyai hak secara hukum untuk melakukan segala perbuatan

yang berkaitan dengan narkotika karena segala perbuatan yang

dikaitkan dengan narkotika haruslah memperoleh izin dan perbuatan

yang dilakukan adalah bertentangan dengan peraturan yang berlaku.

Sesuai dengan pasal 8 ayat (1)168, Pasal 41169

168

UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, Pasal 8 ayat (1):

“Narkotika Golongan I dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan.

169

UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, Pasal 41:

“Narkotika Golongan I hanya dapat disalurkan oleh pedagang besar farmasi tertentu kepada lembaga ilmu pengetahuan tertentu untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.”

UU No. 35 tahun 2009

tentang narkotika fakta persidangan yang diperoleh dari keterangan

para saksi, keterangan terdakwa, bukti surat serta barang bukti yang

(24)

terdakwa bersama-sama dengan teman-temannya membeli narkotika

tersebut tidak ada izin dan tidak ada kaitannya dengan pengobatan,

sehingga dalam hal ini terdakwa tidak memiliki hak untuk

berhubungan dengan narkotika dan apabila terdakwa bersinggungan

dengan narkotika, hal tersebut merupakan suatu perbuatan yang

melawan hukum. Dengan demikian, maka unsur “yang tanpa hak atau

melawan hukum” telah terpenuhi.

3. Menawarkan untuk dijual, membeli, menerima, menjadi perantara

dalam jual beli, menukar atau menyerahkan Narkotika Golongan I

Unsur “Menawarkan untuk dijual, membeli, menerima, menjadi

perantara dalam jual beli, menukar atau menyerahkan Narkotika

Golongan I” adalah dimaksud kalau terdakwa telah memperjualbelikan

narkotika golongan I. Dalam persidangan, diperoleh fakta bahwa

narkotika yang dimiliki terdakwa bukan untuk diperjual belikan,

namun hanya dikonsumsi bersama, dan terdakwa tidak memperoleh

imbalan atau pembayaran karena telah membagikan narkotika tersebut

kepada teman-temannya. Sehingga unsur “Menawarkan untuk dijual,

membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar atau

menyerahkan Narkotika Golongan I” tidak terpenuhi.

4. Percobaan atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana

narkotika dan prekusor narkotika170

170

(25)

Dikarenakan telah ada unsur yang tidak terpenuhi, maka terdakwa telah

terbukti secara sah dan meyakinkan tidak melakukan perbuatan sebagaimana

dalam dakwaan Primair.

Oleh karena dakwaan primair tidak terpenuhi, Majelis Hakim kemudian

membuktikan dakwaan subsidair yaitu Pasal 112 ayat (1) Jo, Pasal 132 ayat (1)

UU No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika, yang unsurnya terdiri dari:

1. Setiap orang

Unsur “setiap orang” adalah dimaksudkan seseorang yang diajukan oleh

Penuntut Umum dalam persidangan yang mempunyai identitas

sebagaimana dalam dakwaaan dari Penuntut Umum. Dalam persidangan

berdasarkan keterangan para saksidan terdakwa diperoleh fakta hukum

bahwa Terdakwa bernama PUJI WIJAYANTO,SH,MH yang mempunyai

identitas sebagaimana dalam dakwaan. Dengan demikian unsur “setiap

orang” telah terpenuhi.

2. Yang tanpa hak atau melawan hukum

Unsur “tanpa hak atau melawan hukum” adalah dimaksud terdakwa tidak

mempunyai hak secara hukum untuk melakukan segala perbuatan yang

berkaitan dengan narkotika karena segala perbuatan yang dikaitkan dengan

narkotika haruslah memperoleh izin dan perbuatan yang dilakukan adalah

bertentangan dengan peraturan yang berlaku. Sesuai dengan pasal 8 ayat

(1)171, Pasal 41172

171

UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, Pasal 8 ayat (1):

“Narkotika Golongan I dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan.

172

UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, Pasal 41:

(26)

persidangan yang diperoleh dari keterangan para saksi, keterangan

terdakwa, bukti surat serta barang bukti yang diajukan dalam persidangan

telah diperoleh fakta hukum bahwa terdakwa bersama-sama dengan

teman-temannya membeli narkotika tersebut tidak ada izin dan tidak ada

kaitannya dengan pengobatan, sehingga dalam hal ini terdakwa tidak

memiliki hak untuk berhubungan dengan narkotika dan apabila terdakwa

bersinggungan dengan narkotika, hal tersebut merupakan suatu perbuatan

yang melawan hukum. Dengan demikian, maka unsur “yang tanpa hak

atau melawan hukum” telah terpenuhi

3. Memiliki, menyimpan, menguasai atau menyediakan Narkotika Golongan

I bukan tanaman

Unsur “Memiliki, menyimpan, menguasai atau menyediakan Narkotika

Golongan I bukan tanaman” adalah dimaksudkan terdakwa dalam

bersinggungan dengan narkotika tersebut adalah untuk suatu persediaan

dan ada rencana lain yang bukan untuk dipakai sendiri. Telah ternyata

berdasarkan keterangan saksi dan keterangan terdakwa dalam persidangan

telah diperoleh fakta hukum bahwa narkotika tersebut diperuntukkan

untuk dipakai sendiri dan tidak ada maksud lain. Dengan demikian unsur

“Memiliki, menyimpan, menguasai atau menyediakan Narkotika

Golongan I bukan tanaman” tidak terpenuhi.

(27)

4. Percobaan atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana

narkotika dan prekusor narkotika173

Oleh karena dakwaan subsidair tidak terpenuhi, Majelis Hakim kemudian

membuktikan dakwaan lebih subsidair yaitu Pasal 127 ayat (1) huruf a No.35

Tahun 2009 tentang Narkotika, yang unsurnya adalah “Setiap penyalahguna

Narkotika golongan I bagi diri sendiri”, yang dimaksudkan adalah seseorang yang

menyalahgunakan narkotika golongan I dengan cara orang tersebut memakai

narkotika tersebut. Berdasarkan keterangan para saksi, keterangan terdakwa, bukti

surat serta barang bukti yang diajukan, diperoleh fakta bahwa terdakwa

merupakan penyalahguna narkotika golongan I, yaitu sebagai orang yang

menggunakan narkotika golongan I bagi diri sendiri. Oleh karena itu, Terdakwa

telah memenuhi unsur “Setiap penyalahguna Narkotika golongan I bagi diri

sendiri”.

Dalam putusannya174

173

Unsur ini tidak dipertimbangkan karena telah ada unsur yang tidak terpenuhi sebelumnya, oleh karena itu Majelis Hakim tidak perlu mempertimbangkan unsur lainnya

174

Amar Putusan Majelis Hakim yang memeriksa perkara Nomor 361/Pid.Sus/2013/PN.JKT.Bar:

, Majelis Hakim menjatuhkan pidana selama 2 tahun

dikurangi masa tahanan.Hal ini berbeda dari tuntutan Penuntut Umum, yakni 2

tahun 6 bulan.

1. Menyatakan, Terdakwa PUJI WIJAYANTO, SH,MH tidak terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dalam dakwaan primair dan subsidair;

2. Membebaskan Terdakwa PUJI WIJAYANTO, SH,MH dari dakwaan primair dan subsidair;

(28)

Berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh, Majelis Hakim menjatuhkan

pidana sesuai dengan tuntutan Penuntut Umum atau paling tidak menghukum

maksimal Terdakwa. Dalam pertimbangannya, Majelis Hakim mengabaikan fakta

bahwa Terdakwa merupakan seorang Hakim yang sudah seharusnya memberikan

teladan dan tidak melakukan perbuatan tercela. Berdasarkan Kode Etik Hakim,

seorang hakim haruslah berkelakuan baik dan tidak tercela, serta tidak melakukan

perbuatan-perbuatan yang tidak merendahkan martabat hakim.175

4. Menghukum Terdakwa PUJI WIJAYANTO,SH,MH dengan pidana penjara selama 2

(dua) tahun;

Kode etik hakim

diatur dalam Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung RI dan Ketua Komisi

5. Menetapkan masa penahanan yang telah dijalankan Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;

6. Menetapkan Terdakwa tetap dalam tahanan; 7. Menetapkan barang bukti berupa:

- 8,5 (delapan koma lima) butir pil ekstasi warna merah muda dengan logo chanel dengan berat bruto 3,0796 gram setelah dilakukan pemeriksaan Labkim:

1. 8 (delapan) butir tablet warna merah muda logo chanel dengan berat netto seluruh 2,1797 gram (sisa hasil labrim sebanyak 6 (enam) butir dengan berat netto 1,6241 gram);

2. Pecahan tablet warna merah muda dengan berat netto 0,4850 gram (sisa labkrim dengan berat netto 0,4045 gram);

- 1 (satu) buah Handphone Blackberry type DAKOTA warna hitam beserta simcard Simpati;

- 1 (satu) bandel nota pembayaran Illigals Hotel & Clu Room 331 a/n DINDA;

Dirampas untuk dimusnahkan;

- 1 (satu) buah KTP a/n PUJI WIJAYANTO, SH,MH dengan NIK 327502210640014;

Dikembalikan kepada Terdakwa PUJI WIJAYANTO, SH,MH

8. Menghukum Terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp.5.000 (lima ribu rupiah);

175

(29)

Yudisial RI No. 047/KMA/SKB/IV/2009, No.02/SKB/P.KY/IV/2009 tentang

Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim.

Dalam poin 7.1 Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim sudah jelas,

bahwa seorang Hakim harus menjaga kewibawaan serta martabat lembaga

Peradilan dan Profesi baik di dalam maupun di luar Pengadilan. Perbuatan

Terdakwa ini tentu sudah bertentangan dengan Kode Etik dan Pedoman Perilaku

Hakim, dan sudah pasti mencoreng serta menodai kewibawan serta martabat

Lembaga Peradilan dan Profesi.

Majelis Hakim yang memberikan putusan tidak mempertimbangkan

kedudukan dan profesi Terdakwa selaku hakim.Profesi Terdakwa tidak menjadi

alasan pemberatan dalam penjatuhan pidana kepada Terdakwa.Sudah selayaknya

dan seharusnya Majelis Hakim menjatuhkan hukuman yang lebih berat lagi

kepada Terdakwa, sehingga kemudian Putusan tersebut dapat menjadi suatu

yurisprudensi dan menjadi pelajaran agar hakim-hakim lain tidak melakukan

perbuatan yang serupa dengan Terdakwa.

Selain itu, berdasarkan teori relatif hukum pidana yang berpangkal pada

dasar bahwa pidana adalah alat untuk menegakkan tata tertib (hukum) dalam

masyarakat.Pidana adalah alat untuk mencegah timbulnya suatu kejahatan dengan

tujuan agar tata tertib masyarakat dapat terpelihara.Dalam teori relatif, penjatuhan

pidana tergantung dari efek yang diharaplan dari penjatuhan pidana itu sendiri,

yakni agar seseorang tidak mengulangi perbuatannya.Hukum Pidana difungsikan

(30)

BAB V

PENUTUP

I. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan diatas,

dapat disimpulkan:

1. Tindak pidana narkotika dapat diartikan dengan suatu perbuatan yang

melanggar ketentuan-ketentuan hukum narkotika. Tindak pidana yang

berhubungan dengan nerkotika termasuk tindak pidana khusus, dimana

ketentuan yang dipakai termasuk diantaranya hukum acaranya

menggunakan ketentuan khusus. Disebut dengan tindak pidana khusus,

karena tindak pidana narkotika tidak menggunakan KUHPidana sebagai

dasar pengaturan, akan tetapi menggunakan Undang-Undang Republik

Indonesia No. 35 Tahun 2009. Secara umum hukum acara yang

dipergunakan mengacu pada tata cara yang dipergunakan oleh KUHAP,

akan tetapi terdepat beberapa pengecualian sebagaimana ditentukan oleh

undang-undang narkotika. Tindak pidana narkotika juga dapat dikatakan

adalah penggunaan atau peredran narkotika yang tidak sah (tanpa

kewenangan) dan melawan hukum (melanggar undang-undang narkotika).

Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009, hakim

adalah hakim pada Mahkamah Agung dan hakim pada badan peradilan

yang berada dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan

peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata

(31)

lingkungan peradilan tersebut. Sedangkan hakim agung adalah hakim pada

Mahkamah Agung dan hakim konstitusi adalah hakim pada Mahkamah

Konstitusi.Perkembangan pengaturan mengenai Tindak Pidana Narkotika

di Indonesia dimulai dari dibuatnya:

a. Undang-Undang No. 9 Tahun 1976 tentang Narkotika

b. Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika

c. Undang-Undang No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika

d. Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika

2. Banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang mulai

menyalahgunakan narkoba, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan

ketergantungan. Pada umumnya secara keseluruhan faktor-faktor yang

menyebabkan seseorang melakukan tindak pidana narkotika dapat

dibedakan atas faktor internal dan eksternal. Faktor internal seperti faktor

psikologis, faktor usia, pendidikan, serta faktor genetic. Sedangkan faktor

eksternal beberapa diantaranya adalah faktor lingkungan (pengaruh

teman/kelompok), faktor ekonomi dan faktor keluarga.

3. Kasus tindak pidana Narkotika yang dilakukan oleh Hakim berdasarkan

putusan Pengadilan Negeri Jakarta Barat dengan perkara No. Reg.

361/Pid.Sus/2013/PN.JKT.BAR atas nama Terdakwa PUJI WIJAYANTO,

SH, MH, dimana Majelis Hakim menjatuhkan putusan berdasarkan pasal

127 ayat (1) huruf a Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang

Narkotika dengan sanksi pidana penjara selama 2 (dua) tahun dikurangi

masa penahanan. Berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh, Majelis Hakim

(32)

tidak menghukum maksimal Terdakwa. Dalam pertimbangannya, Majelis

Hakim mengabaikan fakta bahwa Terdakwa merupakan seorang Hakim

yang sudah seharusnya memberikan teladan dan tidak melakukan

perbuatan tercela. Berdasarkan Kode Etik Hakim, seorang hakim haruslah

berkelakuan baik dan tidak tercela, serta tidak melakukan

perbuatan-perbuatan yang tidak merendahkan martabat hakim. Kode etik hakim

diatur dalam Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung RI dan Ketua

Komisi Yudisial RI No. 047/KMA/SKB/IV/2009,

No.02/SKB/P.KY/IV/2009 tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku

Hakim.Majelis Hakim yang memberikan putusan tidak

mempertimbangkan kedudukan dan profesi Terdakwa selaku hakim.

Profesi Terdakwa tidak menjadi alasan pemberatan dalam penjatuhan

pidana kepada Terdakwa. Sudah selayaknya dan seharusnya Majelis

Hakim menjatuhkan hukuman yang lebih berat lagi kepada Terdakwa,

sehingga kemudian Putusan tersebut dapat menjadi suatu yurisprudensi

dan menjadi pelajaran agar hakim-hakim lain tidak melakukan perbuatan

yang serupa dengan Terdakwa.

II. Saran

1. Perlunya peningkatan pemahaman mengenai Tindak Pidana Narkotika

lagi serta Profesi Kehakiman, sehingga apabila kelak terjadi

permasalahan tindak pidana narkotika oleh Hakim, maka akan ada

(33)

2. Perlunya ditingkatkan tingkat efektifas pemberantasan narkotika dari

aspek undang-undang yang berlaku, serta tetap dilakukannya

pembaharuan terhadap jenis-jenis baru dari narkotika itu sendiri

didalam peraturan perundang-undangan nasional.

3. Perlunya memperhatikan aspek profesi dari seorang terdakwa kasus

tindak pidana narkotika sebagai aspek pemberat dalam penjatuhan

hukuman, terlebih ketika pelakunya adalah seorang aparat penegak

hukum. Hal ini bertujuan untuk menjaga wibawa aparat penegak

hukum ditengah masyarakat, memberi efek jera kepada pelaku, serta

efek peringatan kepada aparat penegak hukum lain, sehingga tidak

Referensi

Dokumen terkait

Kebijakan dan strategi pengelolaan ikan bilih Danau Singkarak berdasarkan skala perioritas yang ditampilkan pada Tabel 2 adalah sebagai berikut : (1) melakukan pengelolaan

Mengenai pendapat Imam Abu Hanifah, yang mana beliau menetapkan dan mendahulukan seorang anak laki-laki untuk menjadi wali nikah, menurut hemat penulis, pendapat

respected and applied in connection with forest management rights, access to forest resources, sharing of benefits, etc. National Law No. - Approved ILO Convention 169 on

Setelah rangkaian sensor force sensitive resistor selesai dirangkai pada arduino maka program di upload pada arduino. Kemudian dipasang pada instrumen pengujian yaitu pada

artinya bahwa ada peningkatan antara nilai rata-rata pretest dengan nilai rata-rata posttest pada kelas yang diberi perlakuan model pembelajaran quantum dengan

Kondisi ini memperlihatkan bahwa pemasaran ke wanita selalu menggambarkan peran-peran stereotip yang cukup menonjol yang tercermin dalam iklan produk perawatan tubuh

perintah atau instruksi secara fisik, para.. peserta didik dapat belajar lebih jauh untuk membaca dan menuliskannya. Sehingga pada saatnya para peserta didik telah

Conference on Social Cohesion, Justice and Citizenship: The Role of Voluntary Sector, Victoria University, Wellington.. Jenny, Widiya,