MAKALAH MANAJEMEN RESIKO
RESIKO PERUBAHAN SUKU BUNGA
Disusun oleh :
Muhammad Shidiq Anwar 213-13-182 Mukharis Subandrio 213-13-014
Aqil Yahya 213-13-044
PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi robbil’alamin puji syukur penyusun persembahkan kepada ALLAH SWT yang telah memberikan nikmat kesehatan jasmani dan rohani, sehingga dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Manajemen resiko ini .
Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah khususnya kepada dosen pembimbing mata kuliah Manajemen resiko.
Mungkin di dalam makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun untuk pembuatan makalah-makalah selanjutnya sangat diharapkan agar pembuatan makalah-makalah selanjutnya menjadi lebih baik lagi.
Akhir kata penyusun mengucapkan banyak terima kasih atas kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan makalah-makalah selanjutnya. Dan semoga makalah ini juga berguna untuk kita semua.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... i
DAFTAR ISI... ii
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang... 1
1.2 Rumusan Masalah... 2
1.3 Tujuan... 2
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian risiko suku bunga... 3
2.2 Karakteristik Perubahan Risiko Suku Bunga... 3
2.3 Pengukuran Risiko Perubahan Tingkat Bunga : Metode Penilaian Kembali ( Reprecing Model )... ... 4
2.4 Pengukuran Risiko Perubahan Tingkat Bunga : Metode Jangka Waktu ( Maturity Model)... 7
2.5 Pengukuran Risiko Perubahan Tingkat Bunga : Metode Durasi... 7
2.6 Faktor penyebab perubahan suku bunga domestik .………... 7
2.7 Resiko perubahan suku bunga dan permintaan uang ...……….. 7
2.8 Manajemen Risiko pada suku bunga obligas.………. 8
2.9 Risiko pada suku bunga dan saham ……….. 8
BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan... 13
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saving and loan (dikenal juga sebagai thrift) merupakan lembaga bank community based (memfokuskan pada masyarakat lokal) yang sudah ada sejak tahun 1800-an. Lembaga tersebut diatur dengan ketat sampai tahun 1980-an. Beberapa peraturan tersebut adalah pembatasan tingkat bunga yang bisa ditawarkan ke deposan. Peraturan tersebut juga mencakup tipe pinjaman yang bisa ditawarkan yang terbatas. Pada tahun 1970-an, banyak bank di AS, termasuk S & L mengalami aliran kas keluar karena adanya persaingan dari instrumen money-market fund, yang memberikan tingkat bunga yang lebih tinggi. Pada saat yang sama, dana bank banyak yang tertanam di hipotik (mortgage, misal kredit rumah atau KPR) yang mempunyai jangka waktu yang panjang. Pada saat tingkat bunga naik, nilai aset tersebut menjadi turun.
Pada masa kepresidenan Jimmy Carter, peraturan terhadap S & L diperlonggar, sehingga S & L bisa memberikan kredit yang lebih bervariasai. Kongres juga meningkatkan batas deposito yang bisa diasuransikan dari $40.000 menjadi $100.000 per rekening. Pada masa kepresidenan Reegen, deregulasi S & L semakin cepat, sehingga S & L bisa menyamai bank : bisa menawarkan deposito dengan tingkat bunga sesuai pasar, pinjam dari Federal Reserve (bank sentral), memberikan kredit komersial, dan mengeluarkan kartu kredit. Hal tersebut merupakan penyimpangan dari misi awal S & L.
Beberapa faktor lain disebut jugas sebagai penyebab krisis S & L, antara lain : harga properti yang berfluktuasi tinggi, deregulasi, kurangnya pengawasan dari lembaga yang berwenang, kesalahan manajemen, dan dalam beberapa situasi kejahatan (fraud). Sekitar 1.000 S & L mengalami kebangkrutan. Biaya total dari krisis tersebut diperkirakan mencapai $150 miliar, sekitar $125 miliar ditanggung langsung oleh pemerintah Amerika Serikat, yang menyebabkan membengkaknya defisit anggaran awal tahun 1990-an.
Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa kegagalan mengelola risiko tingkat bunga bisa mengakibatkan kehancuran bank. Bank terutama rentan terhadap risiko perubahan tingkat bunga karena alasan akan terlihat setelah selesai memahami materi ini. Materi ini membicarakan risiko perubahan tingkat bunga, mulai dari memahami karakteristik perubahan tingkat bunga, kemudian diteruskan dengan beberapa metode untuk mengukur risiko perubahan tingkat bunga. 1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari risiko suku bunga ? 2. Apakah karakteristik dari risiko suku bunga ?
3. Bagaimanakah pengukuran risiko perubahan tingkat bunga ?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui apakah itu risiko perubahan tingkat suku bunga. 2. Mengatahui karakteristik dari risiko perubahan tingkat suku bunga.
3. Mengetahui bagaimanakah pengukuran risiko perubahan tingkat suku bunga.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Risiko Suku Bunga
Risiko suku bunga adalah risiko yang dialami akibat perubahan suku bunga yang terjadi di pasaran yang mampu memberi pengaruh pada perusahaan.
Risiko suku bunga merupakan exposur kondisi keuangan terhadap pegerakan suku bunga yang merugikan. Menerima risiko tersebut merupakan bagian yang normal, dan dapat merupakan bagian yang penting dalam menciptakan keuntungan dan peningkatan nilai saham. Perubahan dalam suku bunga berakibat berubahnya pendapatan bunga bersih dan tingkat pendapatan dan biaya operasional yang sensitif terhadap perubahan suku bunga . Perubahan tingkat suku bunga juga berakibat pada underlying value instrument assets, liability dan Off Balance Sheet (OBF) karena present value dari future cash flow (bahkan cash flow –nya sendiri) berubah karena suku bunga berubah. Sesuai dengan itu maka agar proses manajemen suku bunga efektif, perlu dijaga supaya suku bunga tetap berada pada prudent level untuk keamanan dan kesehatan perusahaan.
Terdapat 2 (dua) perspective paling umum untuk melakukan asesmen terhadap risiko suku bunga yaitu :
- The earning perspective, yang difokuskan pada dampak perubahan suku bunga pada pendapatan bank yang akan diterima dalam jangka pendek.
- The economic value perspective, yang difokuskan pada nilai cash flow suatu bank.2
2.2 Karakteristik Perubahan Risiko Suku Bunga
Perubahan tingkat bunga bisa menyebabkan perusahaan menghadapi dua tipe risiko : a. Risiko perubahan pendapatan
Pendapatan bersih ( hasil investasi dikurangi biaya ) berubah, yaitu berkurang dari yang diharapkan.
b. Risiko perubahan nilai pasar
Nilai pasar berubah karena perubahan tingkat bunga,yaitu berubah menjadi lebih kecil ( turun nilainya ).
2.2.1 Risiko Perubahan Pendapatan
Perubahan tingkat bunga dapat menyebabkan sedikitnya perubahan pendapatan. Ada 2 jenis risiko perubahan pendapatan yang dihadapi oleh perusahaan :
a. Risiko Penginvestasian kembali
Misal aset seperti berikut ini :
Aset Kewajiban (Pasiva)
Obligasi jangka waktu :1 tahun ,bunga : 12% pertahun
Obligasi jangka waktu: 2 tahun , dengan bunga : 10% pertahun ,selama 2 tahun
Keterangan :
Tahun 1 perusahaan peroleh keuntungan ( spreads ) 2% = 12% - 10%
Tahun kedua tergantung tingkat bunga investasi
Bila 12% tingkat bunga tetap peroleh keuntungan sama dengan tahun pertama
Bila bunga 8%, rugi 2%
b. Risiko Pendanaan Kembali
Keterangan :
Tahun pertama spreads keuntungan 12%-10% = 2%
Tahun ke-2 tergantung tingkat bunga obligasi berlaku
Jika bunga pendanaan sama sebesar 10% maka diperoleh keuntungan 2%
Jika bunga 14% rugi 2% 3
2.2.2 Risiko Perubahan harga Pasar
Perubahan tingkat bunga menyebabkan perubahan nilai pasar aset atau kewajiban yang dipegang oleh perusahaan, jika penurunan nilai aset lebih besar dibanding dengan penurunan nilai kewajiban, maka perusahaan mengalami kerugian atau sebaliknya, Secara umum, jika
3 Mamduh M. Hanafi, Manajemen Risiko, (Yogyakarta: UPP STIM YKPN, 2014 ), 122-123
Aset Pasiva
Obligasi jangka waktu 2 tahun ,bunga 12% pertahun
bunga meningkat maka nilai sekuritas cenderung mengalami penurunan. Tingkat penurunan nilai tersebut bisa berbeda dari satu sekuritas ke sekuritas lainnya.
Misal perusahaan mempunyai neraca sebagai berikut :
Aset Pasiva
Obligasi jangka waktu 10 tahun ,nilai nominal :Rp. 1 juta. Kupon Bunga :10% Nilai pasar: Rp. 1 juta
Obligasi jangka waktu 2 tahun ,Nilai nominal: Rp. 1 juta. Kupon Bunga: 10% Nilai pasar: Rp. 1 juta
Misalkan tingkat yang berlaku adalah 10%, maka nilai obligasi yang menjadi asset dan obligasi kewajiban adalah :
Obligasi asset = 100.000 +…………...+ 1.100.000 = 1 juta (1+0,1)1 (1+0,1)10
Obligasi Kewajiban = 100.000 +…………...+ 1.100.000 = 1 juta (1+0,1)1 (1+0,1)2
Obligasi asset dan kewajiban mempunyai nilai pasar yang sama yaitu Rp 1 juta. Misalkan tingkat bunga naik menjadi 12%, maka nilai obligasi keduanya adalah:
Obligasi asset = 100.000 +………+ 1.100.000 = Rp. 886.996 1+0,12)1 (1+0,12)10
Obligasi Kewajiban = 100.000 +………+ 1.100.000 = Rp. 966.199 (1+0,12)1 (1+0,12)2
Terlihat bahwa kedua obligasi tersebut mengalami penurunan nilainya. Karena obligasi asset mengalami penurunan lebih besar dibandingkan turunnya obligasi kewajiban, maka perusahaan tersebut mengalami kerugian. 4
2.3 Pengukuran Risiko Perubahan Tingkat Bunga : Metode Penilaian Kembali ( Reprecing
Model )
2.3.1 Periode Harian
Repricing model mencoba mengukur risiko perubahan tingkat bunga dengan menggunakan pendekatan pendapatan. Model tersebut ingin melihat bagaimana pengaruh perubahan tingkat bunga terhadap pendapatan yang diperoleh suatu organisasi.
Aset Kewajiban ( Pasiva )
Meminjamkan dipinjaman pasar antar bank 1 hari Rp 2 M
Comercial Paper 3 bulan Rp 3 M Surat Hutang 6 bulan Rp 5 M Pinjaman 1 tahun Rp 6 M Obligasi 3 tahun Rp 10 M Obligasi 3 tahun tk bunga mengambang Rp 5 M
Pinjaman bunga tetap
jangka waktu 10 tahun Rp 10 M
Meminjam di pasar antar bank 1 hari Rp 3 M Tabungan Rp 3 M Deposito 1 bulan Rp 10 M Deposito 1 tahun Rp 10 M Deposito 2 tahun Rp 10 M Modal Rp 5 M
Total Aset Rp 41 M Total Pasiva Rp 41 M
a. Mengidentifikasi dan mengelompokkan asset
Misal aset bank pinjaman dipasar antar bank satu hari sebesar Rp 2 miliar, jika tingkat bunga besok berubah (misal naik), maka pendapatan bunga yang diperoleh akan berubah (meningkat dalam hal ini), dengan kata lain aset ini tergolong sensitif dan harus dinilai kembali ( Reprice). Disisi lain melihat sisi pasiva, bank meminjam dipasar antar bank sebesar Rp 3 miliar, bank memiliki aset yang sensitif terhadap perubahan tingkat bunga sebesar Rp 3 miliar, ini tergolong sensitif dan harus dinilai kembali ( Reprice ) jika bunga harian berubah.
b. Menghitung Gap antara Asset dan Kewajiban yang sensitif terhadap perubahan tingkat bunga
dan menghitung perubahan pendapatan
Gap antara RSA dengan RSL bisa dihitung sebagai berikut :
GAP = (Rp 2 miliar) – (Rp 3 miliar ) = - Rp 1 miliar
Misalkan tingkat bunga meningkat sebesar 1% (misal dari 10% menjadi 11%), maka pendapatan bank tersebut berubah sebesar :
Perubahan pendapatan = (GAP x ( Δ Bunga)
Dengan kata lain bank tersebut mengalami kerugian sebesar Rp 10 juta jika tingkat bunga sebesar 1% .5
2.3.2 Periode Lebih dari Satu Hari
Identifikasi aset sensitif terhadap perubahan tingkat bunga dalam waktu 1 tahun. Berikut hasil identifikasi tersebut :
Meminjam dipinjaman pasar antarbank 1 hari Rp 2 M
Commercial Paper 3 bulan Rp 3 M
Surat Hutang 6 bulan Rp 5 M
Pinjaman 1 tahun Rp 6 M
Bagian Obligasi 3 tahun yang jatuh tempo tahun ini Rp2 M Obligasi 3 tahun tingkat bunga mengambang Rp 5 M +
Total Rate sensitif aset (RSA) Rp 23 M
Untuk obligasi 3 tahun, sebesar Rp 2 M jatuh tempo tahun ini, Karena itu sejumlah Rp 2M akan dinilai ulang jika tingkat bunga berubah. Untuk obligasi dengan tingkat bunga mengambang, karena tingkat bunga ditetapkan kembali selam enam bulan, maka obligasi tersebut akan dinilai ulang setiap enam bulan. Pinjaman dengan bunga tetap dengan jangka waktu 10 tahun tidak masuk dalam perhitungan, karena tingkat bunga tersebut tetap selama 10 tahun, tidak akan berubah meskipun tingkat bunga berubah – ubah. Dari perhitungan diatas, nampak bahwa bank tersebut mempunyai asset yang sensitif terhadap perubahan tingkat bunga selama periode satu tahun (RSA) sebesar Rp 23 M.
Langkah berikutnya adalah mengidintifikasi kewajiban yang sensitif terhadap perubahan tingkat bunga untuk periode 1 tahun :
Meminjam dipasar antar bank 1 hari Rp 3 M
Tabungan Rp 3 M
Deposito 1 bulan Rp 10 M
Deposito 1 tahun Rp 10 M
Total Rate Sensitive Liability ( RSL ) Rp 26 M
Dari perhitungan di atas nampak bahwa bank tersebut mempunyai kewajiban yang sensitif terhadap perubahan tingkat bunga selama periode 1 tahun ( RSL ) sebesar Rp 26 M.6
2.3.3 Gap Sebagai Indikator Risiko Tingkat Bunga
Kumulatif GAP = RSA – RSL
= Rp 23 M – Rp 26 M = - Rp 3 M
Maka kenaikan bunga akan merugikan bank tersebut karena gap negatif . dalam contoh diatas, gap ratio adalah :
GAP Ratio = KGAP / Total aset
= - Rp 3 M / Rp 41 M = - 0,073 atau - 7,3%. 7
Gap ratio bermanfaat karena memberikan informasi besarnya gap relatif terhadap total asset.
2.2.4 Perubahan Tingkat Bunga yang Berbeda Untuk Asset dan Kewajiban
Δ Pendapatan bersih = Δ Pendapatan bunga – Δ Biaya bunga
Kembali ke contoh di atas, di mana Bank mempunyai RSA sebesar Rp 23 M, dan mempunyai RSL sebesar Rp 26 M, atau gap sebesar – Rp 3 M. Misalkan tingkat bunga untuk asset berubah 2% sementara tingkat bunga untuk kewajiban berubah 1%.
Maka perubahan pendapatan :
ΔPendapatan bersih = (Rp 23 M)(0,02) – (Rp 26 M)(0,01) = Rp 460 juta – Rp 260 juta
= Rp 200 juta
Terlihat bahwa bank justru memperoleh keuntungan karena pendapatan bunga meningkat lebih beasr dibandingkan dengan biaya bunga.8
2.4 Pengukuran Risiko Perubahan Tingkat Bunga : Metode Jangka Waktu ( Maturity
Model)
2.4.1 Perhitungan Gap jangka waktu
Contoh metode Jangka waktu mengukur perubahan harga pasar suatu aset akibat
perubahan tingkat bunga.
Suatu bank mempunyai neraca sebagai berikut
Aktiva Pasiva
Obligasi jangka waktu 10 tahun
Nilai nominal Rp 10 juta, kupon bunga= 15%
Obligasi jangka waktu 20 tahun
Nilai nominal Rp 10 juta, kupon bunga= 15%
Pinjaman jangka pendek, bunga 15% jangka waktu 2 tahun, nilai nominal = Rp 180 juta
Modal saham Rp 2 juta Total aset Rp 20 juta Total Pasiva Rp 20juta
Misal tingkat bunga yang berlaku atau yield adalah 15% harga pasar akan sama dengan nilai nominal dengan situasi ini. Bank tersebut mempunyai aktiva dan pasiva sebesar 20juta. Misalkan tingkat bunga yang berlaku meningkat menjadi 17% maka nilai obligasi tersebut menjadi :
Obligasi Aset 1 = 150.000 + ... + 1.150.000 = 9.068.279 (1+0,17)1 (1+0,17)10
Obligasi Aset 2 = 150.000 + ... + 1.150.000 = 8.874.447 (1+0,17)1 (1+0,17)20
Pinjaman = 2.700.000 + 1.150.000 = 17.429.323 (1+0,17)1 (1+0,17)2
Neraca yang baru sesudah perubahan tingkat bunga :
Aktiva Pasiva
Oblogasi jangka waktu 10 tahun
Nilai nominal Rp 10 juta, kupon bunga= 15% Rp 9.068.279 Obligasi jangka waktu 20 tahun
Nilai nominal Rp 10 juta, kupon bunga= 15% Rp 8.874.447
Pinjaman jangka pendek, bunga 15% jangka waktu 2 tahun, nilai nominal = Rp 18juta
Rp 17.429.323 Modal saham Rp 2 juta Rp 513.403 Total aset Rp 17.942.726 Total Pasiva Rp 17.942.726 Bank tersebut dikatakan mempunyai ketidaksesuaian jangka waktu antara aset dengan kewajiban ( maturity mismatch ). Ketidaksesuaian jangka waktu tersebut memunculkan ekposur terhadap resiko perubahan tingkat bung. Semakin besar ketidaksesuain tersebut semakin besar risiko perubahan tingkat bunga yang dihadapi bank tersebut.
Jangka waktu untuk portofolio aset atau kewajiban dapat dihitung sebagai rata-rata
tertimbang dalam jangka waktu aset atau kewajiban individual dengan membobot adalah nilai pasar dari masing-masing aset.
Gap jangka waktu bisa dihitung :
Gap jangka waktu = MA ( maturity of Aset ) – ML ( Maturity of liability )
Semakin besar gap jangka waktu baik positif maupun negatif semakin besar risiko
perubahan tingkat bunga yang dihadapi. Contoh : struktur neraca bank dengan gap jangka waktu yang tidak nol.9
Aktiva Pasiva
Pinjama (aset) jangka panjang
(misal memberikan kredit kepemilikan perumaha/KPR dengan kangka waktu 10 tahun
Tabungan dan deposito (dengan jangka waktu 1 tahun)
Modal Saham
2.5 Pengukuran Risiko Perubahan Tingkat Bunga : Metode Durasi
2.5.1 Perhitungan durasi
Durasi bisa didefinisikan sebagai rata-rata tertimbang jangka waktu aliran kas dengan
pembobot porposi present value dari setiap aliran kas tersebut.
Misal tingkat bunga yang berlaku adalah 10% durasi untuk kedua obligasi bisa dihitung :
Waktu Obligasi A PVIF (5%) PV Kas Rata-rata tertimbang
(1) (2) (3) (4)=(2)x(3) Jangka waktu (5)
½ 50.000 0,952381 47.619 0,0238
1 1.050.000 0,907029 952.381 0,9524
1.000.000 0,9762 Catatan: 5% adalah 10% dibagi dua, karena dibayarkan tiap semester
Waktu Obligasi B PVIF (10%)
PV Kas Rata-Rata tertimbang Jangka waktu
(1) (2) (3) (4)=(2)x(3
)
(5)
1 1.100.000 0,909091 1.000.000 1
1.000.000 1 Durasi Obligasi A
{[(47.619)(1.000.000)] x (1/2)} + {[(952.381)(1.000.000)]x (1)} = 0,9762 tahun
Durasi Obligasi B
{[(1.000.000)/(1.000.000)] x 1} = 1 tahun
Misalkan kita mempunyai dua obligasi yaitu X danY dengan informasi sebagi berikut:
Obligasi Perincian Tingkat bunga yang berlaku (yield) adalah 9%
1.038.897 4,186 Meskipun jangka waktu keduanya lima tahun, tetapi durasi untuk keduanya lebih kecil dari lima tahun, karena ada aliran kas yang dibayarkan sebelum tahun kelima. Durasi Y lebih kecil dibandingkan durasi X karena aliran kas Y lebih awal dibayarkan ( karena dibyarkan setiap semester ) dibandingkan obligasi X
Durasi untuk obligasi tanpa kupon ( zero coupon bond atau zeroes ) sama dengan jangka waktu obligasi tersebut Obligasi zeroes dengan jangka waktu dua tahun mempunyai durasi 2 tahun
Obligasi consol adalah obbligasi yang tidak mempunyai jatuh tempo. Dapat dihitung dengan : Dc = 1 + (1/R)10
2.5.2 Karateristik Durasi
Durasi akan meningkat jika jangka waktu aset semakin panjang, menurun jika yield
meningkat dan menurun jika kupon bunga meningkat
Misalkan ada obligasi dengan karateristik yang sama persis, kecuali jangka waktunya
lebih panjang yaitu tahun 2 tahun Tahun Aliran
Misalkan ada obligasi lain yang karateristiknya sama persis dengan obligasi M, tetapi
yield ( tingkat bunga yang berlaku ) meningkat menjadi 12% Tahun Aliran
Misalkan ada obligasi lain yang karateristiknya sama persis dengan obligasi M, tetapi
kupon binganya lebih tinggi, misal 15%.11
Tahun Aliran
2.6 Faktor penyebab perubahan suku bunga domestik
Ada 3 faktor yang mempengaruhi suku bunga domestik suatu negara : 1) Kondisi ekonomi global.
2) Stabilitas ekonomi dalam negeri.
3) Stabilitas sosial dan politik dalam dan luar negeri.12
2.7 Resiko perubahan suku bunga dan permintaan uang :
a) Jika suku bunga naik, maka publik akan membelanjakan dananya untuk membeli aset
yang menguntungkan.
b) Jika suku bunga turun, publik akan mengambil dananya di bank dan diinvestasikan untuk
usaha.
c) Jika suku bunga naik maka publik cenderung menyimpan uangnya di bank karena aman.
d) Dari segi pemerintah menaikkan suku bunga kredit adalah sebagai antisipasi kredit
macet. Carry Trade
Resiko Carry Trade adalah bentuk perilaku investor dalam melakukan investasi dengan cara meminjam dana dari suatu negara yang memiliki tingkat suku bunga rendah dan selanjutnya membawa dana tersebut untuk ditanamkan pada negara yang memiliki tingkat suku bunga tinggi. Jika suku bunga negara tujuan itu kembali normal/rendah, maka dana ditarik kembali.13
2.8Manajemen Risiko pada suku bunga obligasi:
Jika kondisi suku bunga obligasi stabil, masyarakat cenderung memilih obligasi. Penerimaan bunganya tetap.
Pemilik obligasi biasanya yang memiliki uang lebih dan menginginkan keamanan berinvestasi.14
2.9 Risiko pada suku bunga dan saham :
Pada saat suku bunga mengalami kenaikan dan harga saham di pasar mengalami penurunan, maka investor cenderung memindahkan dananya dari saham ke deposito. Pada saat kondisi pasar saham sedang menghangat, maka akan terjadi kebalikan dari
hal diatas, dengan alasan keuntungan bermain saham lebih tinggi.
Investor adalah mereka yang memiliki karakteristik penghindar risiko dan menyukai keuntungan yang berkelanjutan.15
12 Has’ad Rahman Attamimi, Makalah Manajemen Risiko Bank tentang Risiko Suku Bunga, (Sumbawa : Universitas Samawa), 7
13 Has’ad Rahman Attamimi, Makalah Manajemen Risiko Bank tentang Risiko Suku Bunga, (Sumbawa : Universitas Samawa), 7
14 Has’ad Rahman Attamimi, Makalah Manajemen Risiko Bank tentang Risiko Suku Bunga, (Sumbawa : Universitas Samawa), 7
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Risiko suku bunga merupakan exposur kondisi keuangan suatu bank terhadap pegerakan suku bunga yang merugikan. Menerima risiko tersebut merupakan bagian yang normal dari bisnis bank, dan dapat merupakan bagian yang penting dalam menciptakan keuntungan dan peningkatan nilai saham. Perubahan dalam suku bunga berakibat berubahnya pendapatan bunga bersih dan tingkat pendapatan dan biaya operasional suatu bank yang sensitif terhadap perubahan suku bunga . Perubahan tingkat suku bunga juga berakibat pada underlying value instrument assets, liability dan Off Balance Sheet (OBF) karena present value dari future cash flow (bahkan cash flow –nya sendiri) berubah karena suku bunga berubah. Sesuai dengan itu maka agar proses manajemen suku bunga efektif, perlu dijaga supaya suku bunga tetap berada pada prudent level untuk keamanan dan kesehatan (soundness)bank.
a.) Jika suku bunga naik, maka publik akan membelanjakan dananya untuk membeli aset yang menguntungkan.
b) Jika suku bunga turun, publik akan mengambil dananya di bank dan diinvestasikan untuk
usaha.
c) Jika suku bunga naik maka publik cenderung menyimpan uangnya di bank karena aman.
DAFTAR PUSTAKA
(1) Bank for International Settlement (BIS) , BaselCommittee on Banking Supervision , Paper ‘ Principles for The Management and Supervision of Interest Rate Risk’ , July, 2004.