• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN BANK INDONESIA DALAM AKSES KEUANGA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERAN BANK INDONESIA DALAM AKSES KEUANGA"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

KEBIJAKAN BANK INDONESIA DALAM AKSES KEUANGAN DAN UMKM Mata Kuliah :

Kebanksentralan Dosen Pengampu : Dr. Moh. Adenan, M.M.

Oleh:

1. Sinta Wulandari (130810101107)

2. M. Rizqi Iskhaqi (130810101108)

3. Zannatul Maulida (130810101116)

4. Fatchur Rozi (130810101173)

5. Suci Arvilia (130810101122)

Kelas : B

ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS JEMBER 2015

(2)

Pertama-tama saya ucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang MahaEsa, karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, saya akhirnya dapat makalah ini. Makalah ini saya buat untuk memenuhi tugas kelompok Kebanksentralan yang berjudul Kebijakan Bank Indonesia dalam Akses Keuangan dan UMKM Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Jember. Pada kesempatan ini, kami sebagai penyusun juga ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak lain yang ikut turut membantu dan berkontribusi dalam penyusunan makalah ini terutama kepada bapak dosen pengampu, dan kepada teman-teman yang turut menyumbangkan buah pemikirinnya dalam makalah ini.

Akhir kata, kami selaku penulis, menyampaikan mohon maaf jika dalam makalah ini banyak kekurangan, karena tidak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun dari pembaca sangat saya perlukan demi kesempurnaan makalahini di masamendatang. Semoga makalah ini dapat bemanfaat bagi para pembaca, khususnya para mahasiswa di lingkunganUniversitasJember.

Jember, 2 Desember 2015

Penyusun

(3)

1.1 Latar Belakang

Pembangunan ekonomi Indonesia tidak bisa lepa dari peranan Pemerintah, lembaga-lembaga di sektor keuangan dan pelaku-pelaku usaha. Pemerintah sebagai pembuat dan pengatur kebijakan diharapkan dapat memberikan iklim yang kondusif bagi dunia usaha, sehingga lembaga keuangan baik perbankan maupun nonperbankan serta pelaku usaha di lapangan mampu memanfaatkan kebijakan dan melaksanakan kegiatan usaha dengan lancar, yang pada akhirnya dapat mendorong percepatan pembangunan ekonomi. Salah satu pelaku usaha yang memiliki eksistensi penting namun kadang “terlupakan” dalam percaturan kebijakan di negeri ini adalah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Padahaljika kita pahami lebih dalam, peran UMKM bukanlah sekedar pendukung dalam kontribusi ekonomi nasional. UMKM dalam perekonomian nasional memiliki peran yang penting dan strategis. Kondisi tersebut dapat dilihat dari berbagai data empiris yang mendukung bahwa eksistensi UMKM cukup dominan dalam perekonomianIndonesia.

Pertama, jumlah industri yang besar dan terdapat dalam setiap sektor ekonomi. Kedua, potensi yang besar dalam penyerapan tenaga kerja, dan ketiga, kontribusi UMKM dalam pembentukan PDB cukup signifikan yakni sebesar 56% dari total PDB di tahun 2010 (Biro Pusat Statistik dan Kementerian Koperasi dan UKM, 2010). Data terbaru tahun 2013 yang dirilis oleh kementrian koperasi dan UMKM menunjukkan bahwa, jumlah UMKM pada tahun 2013 mencapai 57.895.721 unit atau mencapai 99,99 % dari semua total usaha yang ada. Sedangkan sisanya, 0,01% merupakan usaha yang tergolong besar. Dari jumlah unit UMKM tersebut pada tahun yang sama yaitu tahun 2013 jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai 114.144.082 orang atau 96,99% dari semua tenaga kerja.

(4)

besar berdasar pada investasi pribadi. Sangat sedikit dari mereka yang berhubungan dengan pihak ketiga untuk mendapatkan dana. Jika mereka membutuhkan suntikan dana dari pihak luar, justru pihak pihak penyedia dana selain bank, yang sangat berperan. Misal bank-bank perkreditan rakyat atau yang lebih sering lagi adalah rentenir. Seperti yang sudah kiya ketahui, bunga yang dikenakan seringkali sangat tinggi sehingga sangat membebani peminjam. Jelas,kondisi seperti ini tidak akan terjadi untuk perusahaan berskala besar.

Perkembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terbuktimerupakan penggerak utama sektor riil yang berpengaruh langsung terhadappertumbuhan ekonomi nasional.Namun demikian perkembangan UMKM umumnya masihmengalami berbagai masalah dan belum sepenuhnya sesuai dengan yangdiharapkan, Masalah yang hingga kini masih menjadi kendala utama dalampengembangan usaha UMKM adalah keterbatasan modal yang dimiliki dansulitnya mengakses dana sumber modal UMKM.

Oleh karena itu, untuk mendorong pertumbuhan UMKM dalam kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi dibutuhkanakses keuangan dari berbagai pihak sebagaimana telah disebut di atas. Salah satunya adalah peran Bank Indonesia sebagai salah satu lembaga keuangan atau institusi moneter di negara kita. Peran Bank Indonesia tidak boleh dianggap remeh, mengingat Bank Indonesia berberan sebagai otoritas moneter dimana kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia tersebut sangat memberikan dampak yang luas terutama kebijakan terkait dengan pengembangan UMKM itu sendiri.

(5)

perbankan serta untuk mendukung sistem perbankan yang sehat. Dari sisi supply, Bank Indonesia mengeluarkan berbagai kebijakan perbankan sehingga dapat meningkatkan pemberian kredit kepada UMKM namun tetap prudent.

Sementara itu, Bank Indonesia melalui program keuangan inklusif guna menciptakan akses keuangan termasuk akses keuangan untuk UMKMterangkum dalam enam pilar strategi nasional keuangan inklusif (SNKI), yaitu edukasi keuangan dalam rangka peningkatan kemampuan mengelola keuangan termasuk mengenal risiko, penyediaan fasilitas keuangan bagi publik dari program pemerintah, pemetaan informasi keuangan, penyusunan kebijakan dan peraturan pendukung, peningkatan intermediasi dan sarana distribusi serta perlindungan konsumen. Terkait usaha kecil, mikro dan menengah (UMKM), arah kebijakan Bank Indonesia dalam pengembangan UMKM bertujuan untuk menjembatani kesenjangan informasi (asymmetric information) antara UMKM dengan perbankan, sebagai bagian dari program keuangan inklusif kepada UMKM.

1.2 Rumusan Masalah

Berpijak pada konteks di atas, maka dapat dirumuskan pertanyaan dalam makalah ini yang akan diangkat dalam analisis yaitu,

1. Bagaimana peran Bank Indonesia dalam pengembangan akses keuangan di Indonesia? 2. Bagaimana peran dan kebijakan Bank Indonesia dalam pengembangan UMKM di

Indonesia?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui peran Bank Indonesia dalam pengembangan akses keuangan di Indonesia.

(6)

BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian UMKM

Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 UMKM memiliki kriteria sebagai berikut:

1. Usaha Mikro, yaitu usaha produktif milik orang perorangan atau badan usaha milik perorangan yang memenuhi kriteria yakni :

a. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 50.000.000 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha

b. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 3000.000.000 (tiga ratus juta rupiah)

2. Usaha Kecil, yaitu usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria yakni :

a. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

b. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah). 3. Usaha Menengah, yaitu usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh

orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar yang memenuhi kriteria :

a. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta`rupiah) sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

(7)

2.2 Potensi dan Peranan UMKM dalam Perekonomian Indonesia

Berdasarkan informasi dari kementrian Bagian Data – Biro Perencanaan kementrian Negara Koperasi dan UKM Republik Indonesia, UMKM memberi berbagai jenis kontribusi, antara lain sebagai berikut :

a. Kontribusi UMKM terhadap Penciptaan Investasi Nasional ; Pembentukan Investasi Nasional menurut harga berlaku :

1. Tahun 2007, kontribusi UMKM tercatat sebesar Rp. 461,10 triliun atau 52,99% dari total investasi nasional sebesar Rp. 870,17 triliun.

2. Tahun 2008, kontribusi UMKM mengalami peningkatan sebesar Rp. 179,27 triliun atau sebesar 38,88% menjadi Rp. 640,38 triliun.

b. Kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional ; PDB Nasional menurut harga berlaku :

1. Tahun 2007, kontribusi UMKM terhadap PDB nasional menurut harga berlaku tercatat sebesar Rp. 2.105,14 triliun atau sebesar 56,23%

2. Tahun 2008, kontribusi UMKM terhadap PDB nasional menurut harga berlaku tercatat sebesar Rp. 2.609,36 triliun atau sebesar 55,56%

c. Kontribusi UMKM dalam Penyerapan Tenaga Kerja Nasional ; pada tahun 2008, UMKM mampu menyerap tenaga kerja sebesar 90.896.207 orang atau 97,04% dari total penyerapan tenaga kerja, jumlah ini meningkat sebesar 2,43%.

d. Kontribusi UMKM terhadap Penciptaan Devisa Nasional ; pada tahun 2008 kontribusi UMKM terhadap penciptaan devisa nasional melalui ekspor non migas mengalami peningkatan sebesar Rp. 40,75 triliun atau 28, 49%.

(8)

0% 20% 40% 60% 80% 100% 120%

0.0% 5.0% 10.0% 15.0% 20.0% 25.0% 30.0%

80.6% 19.4%

15.3% 22.1%

Kredit UMKM Kredit Non UMKM

Growth Kredit UMKM (Rhs) Growth Kredit Perbankan (Rhs)

 Pertumbuhan kredit UMKM pada bulan November adalah sebesar 15,3% (yoy), masih lebih kecil dibandingkan pertumbuhan kredit perbankan sebesar 22,1% (yoy).

 Berdasarkan sektor ekonomi, sebagian besar masih disalurkan di sektor perdagangan (53,3%), yang didominasi penerima kredit dari skala usaha menengah.

 Menurut wilayah, penyaluran kredit UMKM masih terpusat di wilayah Jawa sebesar 56,8% diikuti dengan pulau Sumatera (20,8%) dan pulau Kalimantan serta Sulawesi (masing-masing 7,4%).

 Dilihat dari jenis penggunaan, kredit modal kerja mempunyai pangsa terbesar yaitu sebesar 33,2% dan dan kredit investasi sebesar 9,8%

 Baki debet kredit UMKM Bank Umum pada November 2013 mencapai Rp595,4 Triliun.  Pangsa kredit UMKM terhadap total kredit bank umum pada November 2013 sebesar

19,4%

 Jumlah Nasabah (dengan pendekatan rekening kredit) UMKM sebesar 8,1 juta rekening yang terdiri dari 81,1% nasabah usaha mikro, 14,7% nasabah usaha kecil, dan 4,2% nasabah usaha menengah.

 NPL kredit UMKM pada November 2013 (3,47%). Namun demikian, kredit kepada UMKM masih lebih tinggi dibandingkan NPL kredit perbankan (1,8%).

(9)

UMKM mempunyai peran yang sangat vital dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk mendorong peran intermediasi perbankan, Bank Indonesia terus berupaya untuk meningkatkan akses UMKM kepada bank dan mendorong perbankan untuk membiayai UMKM. Kebijakan ini diarahkan agar UMKM mampu meningkatakan ejibilitas dan kapabilitasnya sekaligus mendorong peningkatan kapasitas ekonomi daerah. Sebagai upaya untuk mendorong peningkatan kapasitas ekonomi daerah. Sebagai upaya untuk mendorong perbankan melakukan pembiayaan kepada UMKM, Bank Indonesia telah melaksankan beberapa kegiatan, antara lain :

1. Peningkatan akses pembiayaan UMKM kepada perbankan melalui penguatan infrastruktur keuangan, dalam bentuk kegiatan :

a. Memfasilitasi percepatan pendirian Perusahaan Penjaminan Kredit Daerah melalui berbagai sosialsisasi, yang berkoordinasi dengan beberapa kementerian.

b. Merencanakan implementasi peringkatan UMKM (credit rating) dalam rangka persiapan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Saat ini telah diperoleh hasil pemeringkatan sebanyak 323 peringkat untuk %* UMKM dengan menggunakan metode masing-masing pemeringkatan.

2. Peningkatan expertise perbankan tentang UMKM

Program pelatihan dalam rangka bantuan teknis telah diselenggarakan oleh Bank Indonesia dalam meningkatkan kompetensi SDM perbankan khususnya BPR skla kecil yang bertujuan untuk meningkatkan expertise perbankan tentang UMKM. Untuk mendorong pembiayaan perbankan kepada UMKM juga diberikan pelatihan kepada Konsultasn Keuangan Mitra Bank (KKMB) dalam rangka akrelerasi akses UMKM kepada perbankan.

Dalam upaya mendorong bank untuk meningkatkan akses kepada UMKM, pada tahun 2012 Bank Indonesia telah mengeluarkan dua ketentuan sebagai berikut:

1. Peraturan Bnak Indonesia No.14/22/PBI/2012 tanggal 21 Desember 2012 tentang Pemberian Kredit atau Pembiayaan Oleh Bank Umum dan bantuan Teknis Dalam rangka Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menegah.

(10)

ini dilakukan harmonisasi pendefinisian criteria UMKM sebagaimana yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang usaha Mikri, Kecil, dan Menengah.

2. Peraturan Bank Indonesia No.14/19/PBI/2012 tanggal 30 November 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia No.5/20/PBI/2003 tentang Pengalihan Pengolahan Kredit Likuiditas Bank Indonesia Dalam Rangka Kredit Program

Penerbitan ketentuan ini bertujuan untuk menegaskan wewenang Bank Indonesia dalam melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap pelaksanaan pengolahan Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) oleh BUMN dan penyaluran KLBI oleh Bank Pelaksana (Bank Pelaksana adalah bank penerima fasilitas KLBI dalam rangka Kredit Program). Di samping itu, ketentuan ini mengatur mengenai penetapan suku bunga Sertifikat bank Indonesia (SBI) 1 bulan sebagai acuan perhitungan sanksi atas pelanggaran dalam pengelolaan KLBI serta memperjelas batas waktu penyampaian makalah penerimaan angsuran, penyesuaian baki debet, penyaluran kembali, dan penulasannya.

2.4 Kebijakan dan Dukungan Bank Indonesia dalam Operasional UMKM

Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan sector riil dan UMKM, Bank Indonesia berperan aktif dalam melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk mewujudkan penguatan sector riil dan UMKM. Upaya –upaya yang telah dilakukan oleh Bank Indonesia antara lain: 1. Pendatanganan perpanjangan Kesepakatan Bersama dengan kementrian Kelautan dan

Perikanan KKP) tentang Pengembangan Usaha di Sektor kelautan dan Perikanan pada tanggal 27 Juni 2012 yang telah dimulai sejak 2009. Adapun tujuan dan kesepakatan bersama tersebut adalah:

a. Mensinergikan sumber daya dalam rangka pengembangan usaha sector kelautan dan perikanan;

b. Mendorong peningkatan akses usaha sector kelautan dan perikanan kepada layanan perbankan.

(11)

dan kualitas produk perikanan dan mengembangkan kawasan Minapolitan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi daerah. Dalam hal ini, Bank Indonesia secara berkesinambungan melakukan sinergi program kerja dengan KKP yang telah direalisasikan melalui kegiatan :

 Pemetaan terhadap kelompok petani/pembudidaya terkait potensi pembiayaan perikanana budidaya; dan

 Pemetaan system perikanan tangkap dalam rangka menemukan pola pembiayaan yang sesual.

2. Pendatanganan Nota Kesepahaman antara bank Indonesia dengan Badan Pertahanan nasional (BPN) untuk meningkatkan legalitas asset usaha mikro dan usaha kecil (UMK). Salah satu kendala dalam penyaluran kerdit pada UMKM adalah belum adanya legalitas yang mewadai atas asset UMK yang akan diagunkan kepada perbankan kepada perbankan untuk memperoleh pembiayaan. Melalui pendatanganan Nota kesepahaman antara bank Indonesia dengan BPN pada tanggal 27 Juni 2012 diharapkan akan mengatasi permasalahan legalitas dalam kepemilikan asset UMK sehingga lebih banyak UMk yang dapat memperoleh akses pembiayaan kepada perbankan dan dapat diaplikasikan di seluruh wilayah secara nasioanal. Sebagai tindak lanjut, dilakukan fasilitasi penyediaan calon peserta dengan melibatkan kementerian terkait (Kementerian pertanian, Kementerian Negara koperasi dan UKM, serta Kementerian Kelautan dan Perikanan ) dan Perbankan.

Upaya-upaya lain yang telah dan akan dilakukan oleh Bank Indonesia dalam pengembangan UMKM antara lain meliputi :

1. Pengembangan UMKM melalui pendekatan klaster yang terdiri dari klaster nasional dan daerah. Khusus untuk program klaster nasional, bank Indonesia telah memfasilitasi peningkatan kualitas dalam aspek teknologi/budaya/system produksi melalui pelatihan dan kerjasama dengan stakeholders terkait untuk memfasilitasi peningkatan dalam aspek pemasaran. Sedangkan untuk klaster daerah telah dilakukan pemetaan dan pendalaman klaster komoditas unggulan daerah dan komoditas utama penyumbang inflasi di Indonesia. Pemetaan klaster tersebut dilakukan secara komprehensif untuk mendukung penyusunanmodel pengembangan klaster yang sesuai dengan kondisi perekonomian masing-masing daerah.

(12)

oleh perbankan. Beberapa informasi yang tersedia antara lain berupa hasil kajian pola pembiayaan usaha (leading model) komoditi yang layak untuk dibiayai, pengembangan komoditas, produk, jenis usaha unggulan (KPJU), dan hassil kajian lainnya. Disamping itu, juga terdapat informasi meneganai profil UMKM, sentra UMKM, serta pengembangan klaster. Informasi-iinformasi tersebut dipublikasikan melalui media informasi UMKM berupa microsite info UMKM dalam website BI.

2.5RENCANA PEMBERIAN KREDIT ATAU PEMBIAYAAN UMKM

Rencana pemberian Kredit atau Pembiayaan UMKM merupakan bagian dari Rencana Bisnis Bank (RBB), yang ditetapkan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Bank Umum menyusun dan menyampaikan rencana pemberian Kredit atau Pembiayaan UMKM dengan memperhatikan tahapan pencapaian rasio Kredit atau Pembiayaan UMKM terhadap total Kredit atau Pembiayaan, yaitu:

 pada tahun 2013 dan tahun 2014, sesuai kemampuan Bank Umum;  tahun 2015, paling rendah 5% (lima persen);

 tahun 2016, paling rendah 10% (sepuluh persen);

 tahun 2017, paling rendah 15% (lima belas persen); dan

 tahun 2018 dan seterusnya, paling rendah 20% (dua puluh persen).

b. Bank Umum menyusun rencana pemberian Kredit atau Pembiayaan UMKM yang dikelompokkan berdasarkan:

 lapangan usaha;  jenis penggunaan; dan  propinsi.

Dalam hal terdapat perubahan rencana pemberian Kredit atau Pembiayaan UMKM dari rencana yang telah ditetapkan pada tahun berjalan, Bank Umum wajib menyampaikan perubahan berikut alasannya kepada Bank Indonesia. Selain itu, format, cakupan, dan tata cara pemakalah rencana pemberian Kredit atau Pembiayaan UMKM maupun pemakalah perubahan rencana pemberian Kredit atau Pembiayaan UMKM dan penyampaiannya berpedoman pada ketentuan Bank Indonesia mengenai rencana bisnis bank.

2.6PENCAPAIAN PEMBERIAN KREDIT ATAU PEMBIAYAAN UMKM

(13)

yang disampaikan kepada Bank Indonesia pada bulan Januari tahun berikutnya sesuai batas waktu penyampaian secara online sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai makalah bulanan bank umum.

b. Perhitungan pencapaian rasio pemberian Kredit atau Pembiayaan UMKM sebagaimana dimaksud pada poin “a” dilakukan dengan formula sebagai berikut:

c. Dalam melakukan perhitungan pencapaian rasio pemberian Kredit atau Pembiayaan UMKM sebagaimana dimaksud pada huruf B, berlaku ketentuan sebagai berikut:

1. Total Kredit atau Pembiayaan UMKM adalah jumlah baki debet Kredit atau Pembiayaan UMKM dalam Rupiah dan valuta asing, yaitu:

a. Untuk Bank Umum, berasal dari pemberian Kredit atau Pembiayaan UMKM kepada pelaku usaha yang memenuhi kriteria UMKM yang dilakukan secara langsung; dan/atautidak langsung yaitu melalui kerjasama dengan pihak tertentu menggunakan pola executing, pola channeling, atau pembiayaan bersama (sindikasi).

b. Untuk kantor cabang bank yang berkedudukan di luar negeri dan Bank Campuran, berasal dari:

1) pemberian Kredit atau Pembiayaan UMKM kepada pelaku usaha yang memenuhi kriteria UMKM yang dilakukan secara langsung; dan/atautidak langsung yaitu melalui kerjasama dengan pihak tertentu menggunakan pola executing;

2) pemberian kredit atau pembiayaan untuk produk ekspor non migas.

c. Pedoman rincian komponen kredit atau pembiayaan UMKM dan/atau ekspor non migas yang diperhitungkan sebagai Kredit atau Pembiayaan UMKM sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b mengacu pada Lampiran I.a dan Lampiran I.b yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Surat Edaran Bank Indonesia ini.

(14)

BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan di atas, beberapa hal dapat disimpulkan sebagai berikut: a. Peranan UMKM dalam pereonomian Indonesia sangat besar. Hal ini dapat dilihat dari

besarnya kontribusi UMKM dalam penyerapan tenaga kerja dan sumbangan dalam PDB Indonesia berdasarkan data empiris sebagaimana telah dijelaskna di atas. Oleh karena itu, untuk mendorong pertumbuhan UMKM dalam kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi dibutuhkan akses keuangan dari berbagai pihak, dalam pembahasan kali ini adalah peran Bank Indonesia sebagai salah satu lembaga keuangan dan otoritas moneter.

b. Dukungan Bank Indonesia terhadap perkembangan UMKM direalisasikan dalam berbagai benruk kebijakan yang dikeluarkan guna meningkatkan penyaluran kredit atau pembiayaan dari perbankan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang diperlukan untuk memperkuat peran UMKM dalam struktur perekonomian nasional.

c. Beberpa kebijakan aktual Bank Indonesia mengenai UMKM antara lain dengan dilakukannya perubahan atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/22/PBI/2012 tentang Pemberian Kredit atau Pembiayaan oleh Bank Umum dan Bantuan Teknis dalam rangka Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Adanya pemberian insentif dan pengenaan disinsentif bagi bank umum atas penyaluran kredit atau pembiayaan kepada UMKM juga merupakan kebijakan Bank Indonesia sebagai bentuk dukungannya terhadap UMKM. Selain itu, terdapat pula perubahan dari LDR (loan to deposit ratio) menjadi LFR (loan to funding ratio).

3.2 Saran

Melihat begitu besar potensi dan kontribusi UMKM terhadap perekonomian Indonesia, maka berbagai kebijakan untuk semakin mendorong dan memajukan UMKM sangatlah diperlukan, utamanya kebijakan terkait permodalan atau pembiayaan. Menurut kami tidak hanya bank umum, namun program-program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) diperlukan untuk meningkatkan akses keuangan bagi UMKM. Programprogram seperti ini akan semakin memudahkan masyarakat untuk menjangkau akses permodalan sehingga kedepan kegiatan usaha akan semakin berkembang.

(15)

Artikel Jurnal

Bank Indonesia. 2013. Benang Merah Gerai Info 2013. Jakarta: Bank Indonesia

Sudaryanto, Ragimun, Rahma Rina Wijayanti. 2014. Strategi Pemberdayaan UMKM Menghadapi Pasar Bebas Asean. Jakarta.

Internet

http://www.bi.go.id/id/peraturan/ssk/Documents/pbi_171215_rev.pdf. Diakses 29 November 2015

Peraturan

Referensi

Dokumen terkait

(2) Pelaksanaan kebijakan pengembangan peranan perempuan dalam pembangunan ditingkat kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikoordinasikan oleh Badan

Agar dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam aspek keterampilan menulis, disarankan kepada guru bahasa Indonesia khususnya untuk menerapkan model pembelajaran kontekstual

Faktor-faktor intrinsik yang menyebabkan orang tua termotivasi memilih sekolah berbasis kurikulum syariah di SD Muhammadiyah Program Khusus Nogosari antara lain: (1)

Perancangan Pemilihan Mahasiswa Prestasi Pada Fakultas Ilmu Komputer Universitas Sriwijaya. Gustin Saputri, Mira Afrina,

Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desenfralisasi

Hal ini didukung oleh hasil penelitian Hotang, Rusdiana, & Hamidah (2010) yang menyatakan bahwa pembelajaran berorientasi fenomena memberikan peluang dan

1) Apakah peningkatan hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) dengan media Power Point lebih tinggi

Anna Satyana Karyawati, SP.,MP Moch.. Anna Satyana Karyawati,