• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARYA TULIS ILMIAH. Oleh : SATRIA RIMBA KUSUMA D

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KARYA TULIS ILMIAH. Oleh : SATRIA RIMBA KUSUMA D"

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISA KINERJA PETUGAS FILLING DI RUMAH SAKIT PANTI WILASA DR

CIPTO SEMARANG TAHUN 2017

KARYA TULIS ILMIAH

Disusun guna memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar

Diploma (Amd, PK) dari Program Studi DIII RekamMedisdanInformasiKesehatan

Oleh :

SATRIA RIMBA KUSUMA

D22.2012.01287

PROGRAM STUDI DIII REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN

FAKULTAS KESEHATAN UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO

SEMARANG

2017

(2)

ii

©2017

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

vii

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya tulis ini kupersembahkan untuk :

 Terimakasih untuk Allah SWT yang selalu memberikan kehidupan dan kekuatan untuk menghadapi segala masalah dan akhirnya bias

mneyelesaikan karya tulis ini

 Untuk ibu tercinta (SITI MARYAM) terima kasih telah berjuang untuk mendidik dan selalu marah dan akhirnya bias terselesaikan karya tulis ini . terima kasih telah menjadi surga yang nyata .

 Untuk bapak tersayang ( SUTRISNO) terima kasih telah berjuang juga untukku dan sudah menjadi malaikat yang nyata.

 Terima kasih untuk kakak tercinta MOH.SIGIT yang sudah mensuport dan menjadi kakak terbaik .

 Untuk semua keluarga besarku terima kasih sudah memberi semangat  Untuk teman-teman seangkatan (BANYAK) tetap semangat dan jangan

lupakan persaudaraan kita , we are family bro .

 Untuk teman-teman bakul computer terima kasih juga telah mensuport adik kalian ini untuk tetap semangat dalam mengerjakan karya tulis ini .  Terima kasih untuk MIlanisti Basis Purwodadi yang tetap ngajak main dan

nakal bareng akhirnya saya bias menyelesaikan KTI ini ,tetap kompak dan FORZA MILAN!

 Untuk kota Semarang terima kasih sudah menerima saya dengan baik .  Buat usahaku sendiri The NR Game terima kasih sudah selalu menjadi

penyemangat dan akhirnya buka usaha lagi dengan The NR Design dan akhirnya bisa bantu buat bayar kuliah .

(8)

viii

RIWAYAT HIDUP

Nama : Satria Rimba Kusuma

Tempat & TanggalLahir : Grobogan , 17 Desember 1993

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Alamat : Gang Srikaya Jengglong Timur RT05 RW06

Purwodadi Grobogan Jawa Tengah

Riwayat Pendidikan :

1. SDN 10 Purwodadi tahun 2000-2006 2. SMP Kristen Purwodadi 2006-2009 3. SMA Kristen tahun2009-2012

4. Program Studi D-III RMIK Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Semarang tahun 2012-2017

(9)

ix

PRAKATA

Puji dan puji syukur oleh peneliti atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat, Inayah, serta RidhoNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini. Keberhasilan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada :

1. Prof.Dr. Ir. Edi Noersasongko, M.Kom, selaku Rektor Universitas Dian Nuswantoro Semarang.

2. Dr. Guruh Fajar Shidik S.Kom.,M.Cs selaku Dekan Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Semarang.

3. Arif Kurniadi, M.Kom, selaku Ka. Progdi DIII RMIK Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro.

4. Jaka Prasetya,S.Kep, M.Kes, selaku Dosen Pembimbing KTI.

5. Andri Asmorowati, S.KM Sebagai Kepala Unit Rekam Medis RS Panti Wilasa Dr.Cipto Semarang

6. Seluruh bapak dan ibu karyawan di RS Panti Wilasa Dr.Cipto Semarang.

7. Semua Kanca-Kanca RMIK angkatan tahun 2012 .

(10)

x

Dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah ini, penulis menyadari masih jauh dari sempurna. Karenanya penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaannya. penulis berharap, semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat.

Semarang, Maret 2017

(11)

xi

Program Studi D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Semarang 2017 ABSTRAK

SATRIA RIMBA KUSUMA

Analisa Kinerja Petugas Filing di Rumah Sakit Panti Wilasa DR Cipto Semarang Tahun 2017

57 + xi + 4 tabel + 3 gambar + 4 lampiran

Rekam medis dapat dijaga dan dikelola dengan baik apabila sistem penyimpanannya didukung oleh sumber daya manusia yang handal. Sarana yang digunakan di filing Rumah Sakit Panti Wilasa DR Cipto Semarang Tahun 2017adalah tracer, namun tracer yang digunakan masih manual . Jarak antar rak filing masih sangat terlalu berdekatan. Tingkat pendidikan petugas filing belum terdapat lulusan DIII Rekam Medis. Keefektifan dan efisiensi di rumah sakit dalam pelayanan belum tercapai, kemungkinan petugas rumah sakit tersebut belum melaksanakan prosedur dan kebijakan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang sudah diberikan rumah sakit dengan maksimal. Maka dari itu peneliti ingin menganalisisKinerja Petugas Filing di Rumah Sakit Panti Wilasa DR Cipto Semarang Tahun 2017

Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan pendekatancross sectional. Metode yang digunakan yaitu observasi untuk mengamati kinerja petugas filing dalam menyediakan DRM bagi pemberian pelayanan dan wawancara kepada satu kepala Rekam Medis dan 5 petugas filing dengan cara menyiapkan pertanyaan-pertanyaan tertulis sebagai pedoman untuk mengetahui kinerja petugas filing.

Hasil penelitian menunjukkan perbandingan kinerja petugas dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) didapatkan hasil bahwa target yang dicapai sasaran mutu penyediaan dokumen rawat jalan sebesar 80% dan yang tidak memenuhi target adalah 20%. Hasil pengukuran jarak antar rak filing didapat rata-rata 40-60 cm. Belum adanya petugas filing yang berlatar belakang pendidikan D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan.

Dari hasil penelitian disarankan sebaiknya prosedur Standar Pelayanan Minimal (SPM) dibuatkan Protap tertulis agar petugas lebih tertib dalam serta mendapatkan sasaran target mutu penyediaan dokumen tercapai. Dibuatkan tracer yang secara otomatis tercetak setelah petugas pendaftaran selesai melayani pasien. Pembenahan jarak antar rak filing dengan ukuran antropometri 95% yaitu 2 kali lebar bahu orang dewasa. Petugas rekam medis bagian filing sebaiknya berlatar belakang pendidikan DIII Rekam Medis dan Informasi Kesehatan.

Kata Kunci : kinerja petugas,filing, Standar Pelayanan Minimal (SPM) Jumlah pustaka : 19 (1989-2015)

(12)

xii

Diploma Degree (D-3) of Medical Records and Health Information Faculty of Health Science, Dian Nuswantoro University Semarang

2016 Abstract

SATRIA RIMBA KUSUMA

Performance Analysis of Filing Officer in Panti Wilasa Dr. Cipto Hospital Semarang Year 2017

57 + xii + 4 tables + 3 picture +

Medical records could be kept and maintained properly if the storage system supported by reliable human resources. Filing clerk was not graduated from diploma degree of medical record. The purpose of this study was to analyze performance Filing clerk at Panti Wilasa Hospital Dr. Cipto Semarang Year 2017

This research was descriptive with cross sectional approach. The method used is observation to observe the performance of the officer filing in providing DRM for service delivery and interview to the head of the Medical Record and 5 officers to determine the performance of the officer filing filing.

The research results of comparison officer performance with the Minimum Service Standards showed that the target to achieve targets quality provision of outpatient documents by 80%. The distance average between filing shelf was 40-60 cm. There had been no filing clerk with D-III Medical Records and Health Information educational background.

Research recomendation, Minimum sevice standards should be made in written SOPs so the Officer would be considerate and provision of documents quality targets could be reached.

Key words : Filing Officer Perfomance, Minimum Sevice Standards. Bibliography : 19 (1989-2015)

(13)

xiii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……… I HALAMAN HAK CIPTA ……… II PERSETUJUAN LAPORAN TUGAS AKHIR ……… III PENGESAHAN PENGUJI………. IV KEASLIAN PENELITIAN……….. V PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK ………. VI HALAMAN PERSEMBAHAN ………. VII RIWAYAT HIDUP ……….… VIII PRAKATA ………..………..………. IX ABSTRAK INDONESIA ………….………..……….. XI ABSTRAK INGGRIS …………...……… XII DAFTAR ISI ……….………..……… XIII DAFTAR TABEL ………...……… XVI DAFTAR GAMBAR ……….….……… XVII DAFTAR LAMPIRAN ……….………..………… XVIII DAFTAR SINGKATAN ………. XIX BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ………,……… 1

B. Rumusan Masalah ………. 4

(14)

xiv

D. Manfaat Penelitian ………..…...……… 4

E. Lingkup Penelitian……….…………. 5

F. Keaslian Penelitian ……….. 6

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA A. Rekam Medis ……… 9

B. Filling……… ………. 11

C. Sistem Penomoran Rekam Medis………. 12

D. Sistem Penyimpananan Rekam Medis………. 14

E. Sistem Penjajaran Rekam Medis Menurut Nomor……… 15

F. Sistem Penyimpanan Rekam Medis ……….……… 18

G. Pengertian 5 W……… 20 H. Tracer…….. ………..……… 20 I. Prosedur Tetap ………. 21 J. Ergonomi……… 21 K. Sarana Filling……… 22 L. Kinerja……….. 23

M. Sumber Daya Manusia……….. 24

N. Tugas Pokok Filling……….. 24

O. Kerangka Teori………. 26

BAB III : METODE PENELITIAN A. Kerangka Konsep ……….……… 27

B. Jenis Penelitian ……… 28

C. Variabel Penelitian ..……….. 28

(15)

xv

E. Subjek dan Objek ……….…….………. 30

F. Instrumen Penelitian……….. 30

G. Pengumpulan Data ………. 27

H. Pengolahan Data ……….……… 31

I. Analisis Data ……… 31

BAB IV : HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Rumah Sakit ………. 32

B. Gambaran Umum Rumah Sakit……….. 36

C. Hasil Penelitian ……….……… 40

1. SOP (Standart Oprasional Pelayanan)……… 40

2. Sistem Filling……….………. 40

3. Karakteristik Petugas ……….…………..………….……… 43

4. Kinerja Petugas Filling ……… 44

BAB V : PEMBAHASAN 1. SOP (Standart Oprasional Pelayanan)………….……… 45

2. Sistem Filling…. ……… 45

3. Karakteristik Petugas ……….… 49

4. Kinerja Petugas Filling ……… 51

BAB VI : PENUTUP A. Kesimpulan ……….. 52

B. Saran ………..……….. 53

DAFTAR PUSTAKA ……… 54

(16)

xvi DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1.1 Keaslian Penelitian………...………6 3.1 Definisi Operasional ………..……… ... 28 4.1 Karakteristik Petugas………..………...43 4.2. Perbandingan Kinerja Petugas Dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) ...44

(17)

xvii

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1 Kerangka Teori ……….. 26 3.1 Kerangka Konsep ……… 27 2.4 Tata Letak dan Jarak Filing……….……… 42

(18)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Jawaban Penelitian Lampiran 2 Hasil Observasi

Lampiran 3 Hasil Wawancara

(19)

xix

DAFTAR SINGKATAN

1. DRM : Dokume Rekam Medis 2. SNF : Straight Numerical Filing 3. TDF : Terminal Digit Filing

4. SPO : Standar Prosedur Operasional 5. SPM : Standar Pelayanan Minimal 6. UNS : Unit Numbering System 7. RM : Rekam Medis

8. TPPRI : Tempat Pendaftaran Pasien Rawat Inap 9. TPPRJ : Tempat Pendaftaran Pasien Rawat Jalan 10. RS : Rumah Sakit

(20)

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan merupakan hal yang sangat penting agar manusia dapat bertahan hidup dan melakukan aktivitas.Pentingnya kesehatan ini mendorong pemerintah untuk mendirikan layanan kesehatan.Pemerintah mendirikan lembaga kesehatan atau fasilitas pelayanan kesehatan seperti Puskesmas, Rumah Sakit Umum Daerah dan Rumah Sakit Umum milik Swasta.Lembaga kesehatan yang sering diakses oleh masyarakat adalah Puskesmas.Keterbatasan fasilitas yang ada pada puskesmas, membuat masyarakat memilih rumah sakit umum pusat menjadi rujukan untuk mengakses layanan kesehatan.Pengelolaan unit usaha rumah sakit memiliki keunikan tersendiri karena selain sebagai unit bisnis, rumah sakit juga memiliki misi sosial yang berperan penting dalam hal kesehatan masyarakat.

Menurut Permenkes RI No. 269/Menkes/Per/III/2008 tentang rekam medis pada pasal 1 adalah dokumen yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, hasil pemeriksaan, pengobatan yang telah diberikan, serta tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. Catatan merupakan tulisan yang dibuat oleh dokter mengenai tindakan – tindakan yang dilakukan kepada pasien dalam rangka pelayanan kesehatan. Rekam medis juga berguna sebagai bukti tertulis atas pelayanan terhadap seseorang pasien dan juga mampu melindungi kepentingan hukum bagi pasien yang bersangkutan. Sedangkan pasien ialah setiap orang yang melakukan konsultasi tentang

(21)

2

masalah kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan, baik secara langsung maupun tidak langsung kepada dokter atau dokter gigi dan atau tenaga kesehatan tertentu..(1)

Sedangkan Pasal 10 Permenkes Nomor 749a/1989 tentang rekam medis berbunyi berkas rekam medis milik sarana pelayanan kesehatan dan isi rekam medis milik pasien.Dengan demikian, konsekuensinya adalah semua fasyankes wajib menyelenggarakan rekam medis, termasuk pusat kesehatan masyarakat (puskesmas).Oleh karena itu, sebuah fasilitas pelayanan kesehatan secara integral harus memiliki unit rekam medis.Unit rekam medis sendiri meliputi subunit-subunit pencatatan di bagian luar dan pengolahan data di bagian dalam unit rekam medis suatu fasilitas pelayanan kesehatan. Adapun salah satu tugas pokok dan fungsi (tupoksi) salah satu subunit pengolahan rekam medis, yaitu subunit filing, meliputi menyimpan dokumen rekam medis (DRM) pasien dengan metode tertentu sesuai dengan kebijakan, mengambil kembali (retrieve) DRM untuk berbagai keperluan, menyusutkan/meretensi DRM sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan fasyankes, memisahkan penyimpanan DRM inaktif dari DRM aktif, menyimpan DRM yang diabadikan dan membantu pelaksanaan pemusnahan dokumen yang sudah tidak bernilai guna bersama dengan tim pemusnahan fasilitas pelayanan kesehatan.(2)

Berdasarkan survei awal di bagian filing bulan November 2016 di Rumah Sakit Panti Wilasa DR Cipto Semarang penyimpanan dokumen rekam medis dengan cara sentralisasi yaitu penyimpanan Dokumen Rekam Medis (DRM) dalam satu kesatuan baik catatan rawat jalan

(22)

maupun rawat inap. Sistem penomoran pada filing menggunakan

Unit Numbering System (UNS) yaitu setiap pasien yang berkunjung pada

pelayanan kesehatan hanya diberikan satu nomor rekam medis untuk dipakai seumur hidup sehingga rekam medis pasien tersebut tersimpan dalam satu folder dan berkesinambungan.

Penggunaan sarana filing di Rumah Sakit Panti Wilasa DR Cipto Semarang salah satunya adalah penggunaan tracer namun yang digunakan masih manual, petugas pendaftaran masih harus menulis nomer rekam medis, nama pasien dan poli yang dituju pada selembar kertas buffalo bergaris. Filing Rumah Sakit Panti Wilasa DR Cipto Semarangsudah menggunakan kode warna.Jarak antar rak filing masih terlalu berdekatan sehingga jika 2 petugas berpapasan harus bergantian, hal tersebut menjadikan petugas filling lama dalam mengambil dokumen rekam medis yang berdampak pada lamanya waktu tunggu pasien ada poliklinik.

Ditinjau dari Sumber Daya Manusia tingkat pendidikan yang ada di Rumah Sakit Panti Wilasa DR Cipto Semarang belum terdapat petugas filing dengan lulusan Perekam Medis dan terdapat dokumen rekam medis yang diletakkan dilantai serta di samping rak penyimpanan. Kinerja merupakan penerapan kemampuan pembelajaran untuk melengkapi proses berkaitan dengan spesifikasi dengan standart yang telah ditetapkan. Menurut wawancara kepala unit Rekam Medis Rumah Sakit Panti Wilasa DR Cipto Semarangterdapat Standart Pelayanan Minimal penyediaan dokumen rawat jalan adalah 10 menit , namun belum ada SOP atau peraturan tertulis yang mengatur standart pelayanan minimal

(23)

4

tersebut, kepala unit rekam medis hanya menyampaikan secara lisan kepada petugas filling Rumah Sakit Panti Wilasa DR Cipto Semarang . hal tersebut menjadikan petugas filling tidak tertib dalam pengambilan dokumen .

Dengan ditemukannya beberapa masalah di bagian penyimpanan maka, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisa Kinerja Petugas Filing di Rumah Sakit Panti Wilasa DR Cipto Semarang Tahun 2017”.

B. Rumusan Masalah

Mengetahui kinerja petugas yang menghambat lamanya waktu pelayanan terhadap pasien maka dapat dirumuskan suatu pertanyaan penelitian yaitu Bagaimana gambaran kinerja petugas filing di Rumah Sakit Panti Wilasa DR Cipto Semarang Tahun 2016 ?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Menggambarkan kinerja petugas filing di Rumah Sakit Panti Wilasa DR Cipto Semarang Tahun 2017.

2. Tujuan Khusus

a. Mendeskripsikan SOP (Standar Oprasional Pelayanan) pelayanan filling .

b. Mendeskripsikan sistem penomoran , sistem penyimpanan , sistem penjajaran ,dan tata letak ruangan filling di Rumah Sakit Panti Wilasa DR Cipto Semarang Tahun 2017.

(24)

c. Mendeskripsikan karakteristik petugas filing di Rumah Sakit Panti Wilasa DR Cipto Semarang Tahun 2017 berdasarkan umur , jenis kelamin, pendidikan, pelatihan dan pengalaman kerja .

d. Mendiskripsikan kinerja petugas petugas filling Rumah Sakit Panti Wilasa DR Cipto Semarang .

D. Manfaat Peneliti 1. Bagi Peneliti

Dapat menambah wawasan dan pengetahuan, sehingga peneliti dapat membedakan apa yang di pelajari di kampus dengan apa yang ada di rumah sakit.

2. Bagi Akademik

Memberikan masukan materi yang berharga sebagai pembelajaran bagipendidikan mahasiswa Program Studi D-III rekam medis dan informasi kesehatan tentang sistem penjajaran dokumen yang baik dan benar .

3. Bagi Rumah Rumah Sakit Panti Wilasa DR Cipto Semarang

Penelitian ini diharapkan menjadi masukan untuk Rumah Sakit Panti Wilasa DR Cipto Semarang dalam memperbaiki sistem penjajaran di filling.

E. Lingkup Penelitian

1. Ruang Lingkup Keilmuan Lingkup ilmu rekam medis. 2. Ruang Lingkup Objek

(25)

6

Sasaran penelitian ini adalah filling Rumah Sakit Panti Wilasa DR Cipto Semarang.

3. Ruang Lingkup Materi

Materi yang digunakan adalah prosedur penjajaran dan penomoran DRM.

4. Ruang Lingkup Lokasi

Lingkup dari penelitian ini adalah Rumah Sakit Panti Wilasa DR Cipto Semarang.

5. Ruang Lingkup Metode Penelitian

Metode yang di gunakan adalah metode observasi dan wawancara. 6. Ruang Lingkup Waktu

Penelitian ini mulai dilakukan pada tahun 2017 di Rumah Sakit Panti Wilasa DR Cipto Semarang.

F. Keaslian Penelitian

Tabel 1.1

No Penelitian Judul Penelitian Metode Hasil

1. Ahmad Rusadi Tinjauan Tata Kelola Sistem Filling Rekam Medis Rawat Inap di RSUD Ade Mohammad Djoen Sintang Penelitian diskriptif, dengan metode observasi dan wawancara studi dokumen Jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional Hasil penelitian disimpulkan bahwa 2 petugas filing rawat inap telah

(26)

fungsi mereka sebagai penyedia DRM dengan cukup baik karena telah

menyediakan DRM untuk keperluan yang dibutuhkan baik dari pihak dalam rumah sakit maupun luar rumah sakit

2. Cahyati Tinjauan Kinerja

Petugas dalam Mengelola Rekam mMedis di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Penelitian diskriptif , dengan metode wawancara dan mengambil sample Jenis penelitian deskriptif dengan pengumpulan daya wawancara dan observasi Hasil penelitian kinerja petugas filing dilihat dari sistem penjajaran dan penggunaan kode warna belum seluruhnya digunakan sebelum tahun 2010 sehingga mempengaruhi kecepatan pecarian.dokumen rekam medis,

(27)

8 maka menggunakan tracer sebagai pedoman dalam penyimpanan dokumen rekam medis kembali selain adanya kode warna, sehingga dalam penyimpanan dan pengambilan kembali dokumen rekam medis lebih cepat.

3. Wahyu Sofyan Tinjauan Kinerja Petugas Rekam Medis di BKPM Semarang guna Peningkatan Pelayanan Kesehatan Penelitian diskriptif , dengan metode wawancara dan mengambil sample Jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional Hasil penelitian pada bagian pendaftaran pasien baru (100%) Instruksi Kerja telah dilaksanakan, pendaftaran pasien lama (100%), assembling (50%), koding / indeksing (100%)

(28)

dan filing (50%).

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah terletak pada lingkup lokasi, lingkup objek dan lingkup waktu penelitian. Untuk lingkup lokasi penelitian ini di Rumah Sakit Panti Wilasa DR Cipto Semarang sedangkan lingkup lokasi sebelumnya RSUD Kota Semarang, BKPM Semarang dan RSUD Ade Mohammad Djoen Sintang. Lingkup waktu penelitian ini adalah tahun 2017 sedangkan penelitian sebelumnya tahun 2013 dan 2014.Sedangkan Objek penelitian ini adalah Petugas Filing sedangkan penelitian sebelumnya filing rawat inap dan bagian rekam medis.

(29)

10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Rekam Medis

1. Definisi Rekam Medis

Rekam Medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah di berikan kepada pasien (permenkes 269/2008).(12)

Menurut Edna K.Huffman (Health information Managemen, physician

Recod Co, 1994) Rekam Medis adalah kumpulan dari fakta – fakta atau bukti

keadaan pasien, riwayat penyakit dan pengobatan masa lalu serta saat ini yang di tulis oleh profesi kesehatan yang memberikan pelayanan pada pasien tersebut.(3)

Menurut MF Skurka (AHA= American Hospital Association, 1988) Istilah rekam medis mengandung arti adanya dokter yang berpartisipasi dalam mensupervisi pelayanan medis yang di berikan kepada pasien dalam institusi pelayanan kesehatan.(4)

Menurut permenkes 269 tahun 2008 tentang Rekam Medis yang menyebutkan bahwa rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan. Penjelasan penyelenggaraan rekam medis di rumah sakit bahwa rekam medis adalah dokumen yang berisikan anamnesa, pemeriksaan, diagnosa, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang diberikan kepada seorang pasien selama dirawat di rumah sakit yang dilakukan di unit – unit rawat jalan termasuk unit gawat darurat dan unit rawat inap.(5)

(30)

2. Kegunaan Rekam Medis

Menurut Gibori th 1991 Kegunaan Rekam Medis atau manfaat yang dikenal dengan singkatan ALFRED,

a. Administration (Administrasi)

Data dan informasi yang dihasilkan rekam medis dapat digunakan manegemen untuk melaksanakan fungsi guna mengelolah berbagai sumber daya.

b. Legal (Hukum)

Dokumen rekam medis mempunyai nilai hukum karena isinya menyangkut masalah adanya hukum atas dasar keadilan dalam rangka usaha menegakkan hukum serta penyediaan bahan bukti untuk menegakkan keadilan.

c. Financial (Keuangan)

Setiap jasa yang diterima pasien bila dicatat dengan lengkap dan benar makan dapat untuk menghitung biaya yang harus dibayar pasien. Selain itu jumlah dan jenis kegiatan pelayanan yang dicatat dalam formulir dapat digunakan untuk memprediksi pendapatan dan biaya sarana pelayanan kesehatan.

d. Research (penelitian)

Berbagai macam pelayanan yang telah dicatat ke dalam rekam medis dapat dilakukan penelusuran guna kepentingan penelitian.

e. Education (Pendidikan)

Berkas rekam medis mempunyai nilai pendidikan, karena isinya menyangkut data atau informasi tentang pengembangan kronologis dan kegiatan pelayanan medis yang diberikan kepada pasien, informasi tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan atau refensi penjajaran di bidang profesi. f. Dokumentation (Dokumentasi)

(31)

12

Mempunyai nilai dokumentasi, karena isinya menyangkut sumber ingatan yang harus didokumentasikan dan sebagai bahan pertanggung jawaban dan laporan rumah sakit berdasarkan surat Keputusan Dirjen Yanmed no. 78/yanmed/PS UM.Dib/YMU/I/91 tentang petunjuk pelaksaan penyelenggara rekam medis atau Medical Record di Rumah Sakit maka Rekam Medis dipakai sebagai:

1) Sumber informasi medis pasien yang berobat ke Rumah Sakit yang berguna untuk keperluan pengobatan dan pemeliharaan kesehatan pasien.

2) Alat komunikasi antara dokter dengan dokter lainnya, antara dokter dengan paramedis dalam usaha memberikan pelayanan pengobatan dari perawatan.

3) Bukti tertulis (Documentary Evidence) tentang pelayanan yang telah diberikan oleh rumah sakit dari keperluan lainnya.

4) Alat untuk analisa dan evaluasi terhadap kualitas pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit.

5) Alat untuk melindungi kepentingan hukum, bukan pasien, dokter, tenaga kesehatan lainnya dan rumah sakit.

6) Untuk penelitian dan pengobatan.

7) Untuk perencanaan dan pemanfaatan sumber daya.

8) Untuk keperluan lain yang ada kaitannya dengan rekam medis.(6)

B. Filing

Bagian filing adalah salah satu bagian dalam unit rekam medis yang mempunyai tugas pokok diantaranya yaitu:

a. Menyimpan dokumen rekam medis dengan metode tertentu sesuai dengan kebijakan penyimpanan dokumen rekam medis.

b. Mengambil kembali (retriev) dokumen rekam medis untuk berbagai keperluan.

(32)

c. Menyusutkan (meretensi) dokumen rekam medis sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan sarana pelayanan kesehatan.

d. Memisahkan penyimpanan dokumen inaktif dari dokumen aktif. e. Membantu dalam penilaian nilai guna rekam medis

f. Menyimpan dokumen rekam medis yang dilestarikan (diabadikan). g. Membantu dalam pelaksaaan pemusnahan formulir rekam medis. Fungsi filing di dalam pelayanan rekam medis yaitu sebagai berikut:

a. Penyimpanan dokumen rekam medis.

b. Pelindung dokumen rekam medis terhadap kerahasiaan isi data dan kerusakan fisik.

c. Penyedia dokumen rekam medis untuk berbagai keperluan seperti penelitian dan pengarsipan.(7)

C. Sistem Penomoran Rekam Medis

Rekam medis pada hampir semua lembaga pelayanan kesehatan disimpan menurut nomor, yaitu berdasarkan nomor pasien masuk (admission number). Menurut Buku Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Rekam Medis Rumah Sakit, (1991 : 13) ada 3 (tiga) macam sistem pemberian nomor pasien masuk (admission numbering system) yang umum dipakai yaitu :

1. Pemberian nomor cara seri (serial numbering system)

Dengan sistem ini setiap pasien mendapat nomor baru setiap kujungan ke rumah sakit. Jika pasien berkunjung lima kali, mendapat lima nomor yang berbeda. Semua nomor yang diberikan kepada pasien tersebut harus di catat pada Kartu Indeks Utama Pasien (KIUP) pasien yang bersangkutan.Rekam medisnya disimpan diberbagai tempat sesuai nomor yang telah diperoleh.

(33)

14

Sistem ini memberikan hanya satu unit rekam medis kepada pasien baik pasien tersebut berobat jalan maupun rawat inap. Pada saat seorang pasien berkunjung pertama kali ke rumah sakit apakah sebagai pasien berobat jalan ataupun untuk dirawat, kepadanya diberikan satu nomor (admitting number) yang akan dipakai selamanya setiap kunjungan berikutnya, sehingga pasien tersebut hanya mempunyai satu rekam medis yang tersimpan dibawah satu nomor.

3. Pemberian nomor cara seri unit (serial unit numbering system) Sistem ini merupakan gabungan antara sistem seri dan sistem unit.Setiap pasien yang berkunjung ke rumah sakit diberikan satu nomor baru tetapi rekam medisnya yang terahuludigabungkan dan disimpan di bawah nomor yang paling baru sehingga terciptalah satu unit rekam medis.Apa bila satu rekam medis lama diambil dan dipindahkan tempatnya ke nomor yang baru, di tempat yang lama diberi tanda petunjuk yang menunjukkan kemana rekam medis tersebut dipindahkan. Tanda petunjuk tersebut diletakkan menggantikan tempat rekam medis yang lama. Dari ketiga macam sistem penomoran berdasarkan nomor pasien masuk tersebut, pemberian nomor cara unit lah yang lebih baik digunakan, karena dengan cara ini seorang pasien hanya memiliki satu nomor setiap kunjungan ke rumah sakit, dan rekam medisnya baik rawat jalan maupun rawat inap terkumpul dalam satu map (folder) sehingga dengan cepat memberikan gambaran yang lengkap mengenai riwayat penyakit dan pengobatan seorang pasien kepada rumah sakit maupun staf medis lainnya. Selain itu juga menghilangkan kerepotan mencari/mengumpulkan rek am medis pasien yang terpisah-pisah seperti pada sistem seri, menghilangkan kerepotan mengambil rekam medis lama untuk disimpan ke nomor baru seperti dalam sistem seri unit.

(34)

Penjajaran adalah sistem penataan rekam medis dalam suatu sekuens yang khusus agar rujukan dan pengambilan kembali (retrieve) menjadi mudah dan cepat , terdapat 3 cara dalam sistem penjajaran rekam medis, yaitu

:

1.Sistem nomor langsung / straight numerical filing

Sistem penjajaran nomor langsung yaitu suatu sistem penyimpanan dokumen rekam medis dengan mensejajarkan berkas dokumen rekam medis berdasarkan urutan langsung nomor rekam medisnya pada rak penyimpanan.

2. Sistem angka akhir / terminal digit filing

Sistem penjajaran dengan sistem angka tengah atau MDF yaitu suatu sistem penyimpanan dokumen rekam medis dengan menjajarkan folder dokumen rekam medis berdasarkan urutan nomor rekam medis pada 2 angka kelompok tengah.

3. Sistem angka tengah/ middle digit filing .

Sistem penjajaran dengan sistem angka akhir yaitu suatu sistem penyimpanan dokumen rekam medis dengan mensejajarkan folder/dokumen rekam medis berdasarkan urutan nomor rekam medis pada 2 angka kelompok akhir. (9)

E. Sistem Penjajaran Rekam Medis Menurut Nomor

Sistem penyimpanan rekam medis yang dipergunakan adalah sistem numerik (berdasarkan angka atau nomor). Ada 3 (tiga) macam penyimpanan dengan sistem numerik yaitu:

1. Sistem nomor langsung (straight numerical filing system) Penyimpanan dengan sistem nomor langsung adalah penyimpanan berkas rekam medis

(35)

16

dalam rak secara berurutan sesuai dengan urutan nomor rekam medis. Misalnya, 225023, 225024, 225025, 225026.

Kebaikan dari sistem ini adalah :

- Sangat mudah mengambil sejumlah rekam medis sekaligus dengan nomor yang berurutan dari rak pada waktu diperlukan, juga untuk mengambil rekam medis yang tidak aktif.

- Mudah melatih petugas yang melaksanakan pekerjaan penyimpanan. Kelemahannya adalah :

- Kesibukan tidak merata. Pekerjaan paling sibuk terjadi pada rak penyimpanan yaitu rekam medis dengan nomor terbaru.

- Perlu konsentrasi petugas yang sangat tinggi, karena harus memperhatikan seluruh angka dari nomor rekam medis untuk menghindari tertukarnya angka-angka yang bisa menyebabkan rekam medis salah simpan.

- Pengawasan kerapian sukar dilakukan.

2. Sistem angka akhir (terminal digit filing system)

Sistem ini menggunakan nomor dengan 6 angka, yang dikelompokkan menjadi 3, masing-masing terdiri dari 2 angka. Angka pertama adalah kelompok 2 angka yang terletak paling kanan, angka kedua adalah kelompok 2 angka yang terletak di tengah dan angka ketiga adalah kelompok 2 angka yang terletak paling kiri.

Contoh : 22 50 23

angka ketiga angka kedua angka pertama (tertiary digits) (secondary digits) (primary digits)

(36)

Dalam penyimpanan dengan sistem angka akhir ada 100 kelompok angka pertama yaitu 00 sampai dengan 99.pada waktu menyimpan, petugas harus melihat angka pertama dan membawa rekam medis tersebut kedaerah rak penyimpanan untuk kelompok angka pertama yang bersangkutan. Pada kelompok angka pertama ini rekam medis disesuaikan urutan letaknya menurut angka kedua, kemudian rekam medis dimpan didalam urutan sesuai dengan kelompok angka ketiga, sehingga dalam setiap kelompok penyimpanan nomor pada kelompok angka ketigalah yang selalu berlainan. Contoh : 22-50-23 23-50-23 24-50-23 25-50-24 26-50-25

Kebaikan sistem angka akhir ini adalah :

- Pertambahan rekam medis merata ke 100 kelompok (section) di dalam rak penyimpanan.

- Pekerjaan penyimpanan dan pengambilan rekam medis dapat dibagi secara merata.

- Rekam medis yang tidak aktif dapat diambil dari rak penyimpanan dari setiap section, pada saat ditambahnya rekam medis baru di setiap section tersebut.

- Jumlah pertambahan rekam medis terkontrol, memudahkan perencanaan rak.

(37)

18

- Kekeliruan menyimpan dapat di cegah, karena petugas hanya memperhatikan 2 (dua) angka akhir saja dalam memasukkan rekam medis kedalam rak.

Sedangkan kelemahannya adalah perlu waktu yang cukup lama untuk melatih dan membimbing petugas penyimpanan.

3. Sistem angka tengah (middle digit)

Dalam sistem penyimpanan angka tengah, rekam medis diurutkan dengan pasangan angka-angka.Angka yang terletak ditengah menjadi angka pertama, angka yang terletak paling kiri menjadi angka kedua, dan angka paling kanan menjadi angka ketiga.

Contoh : 22 23 50

Angka kedua angka pertama angka ketiga

Kebaikan sistem angka tengah adalah :

- Memudahkan pengambilan 100 buah rekam medis yang nomornya berurutan.

- Penggantian dari sistem nomor langsung ke sistem angka tengah lebih muda daripada penggantian sistem nomor langsung ke sistem angka akhir.

- Penyebaran nomor-nomor lebih merata jika dibandingkan dengan sistem nomor langsung, tetapi masih tidak menyamai sistem angka akhir.

- Petugas dapat dibagi pada section penyimpanan tertentu sehingga kekeliruan menyimpan dapat di cegah.

(38)

- Terjadi rak lowong pada beberapa section, bila rekam medis dialihkan ke tempat penyimpanan in-aktif (DEPKES, 1991 : 19). (10)

F. Sistem Penyimpanan Rekam Medis

Kegiatan menyimpan rekam medis merupakan usaha melindungi rekam medis dari kerusakan fisik dan isi dari rekam medis itu sendiri. Rekam medis harus disimpan dan dirawat dengan baik karena rekam medis merupakan harta benda rumah sakit yang sangat berharga . Ada 2 (dua)cara pengurusan penyimpanan dalam pengelolaan rekam medis yaitu:

1. Sentralisasi Sentralisasi adalah penyimpanan rekam medis pasien dalam satu kesatuan baik catatan kunjungan poliklinik maupun catatan selama seorang pasien dirawat, disimpan pada satu tempat yaitu bagian rekam medis.

Kebaikan sistem sentralisasi adalah :

- Dapat mengurangi terjadinya duplikasi dalam pemeliharaan dan penyimpanan rekam medis

- Mudah menyeragamkan tata kerja, peraturan dan alat yang digunakan.

- Efisiensi kerja petugas.

- Permintaan akan rekam medis mudah dilayani setiap saat.

Kelemahannya adalah :

- Perlu waktu dalam pelayanan rekam medis.

- Perlu ruangan yang luas, alat-alat dan tenaga yang banyak terlebih bila tempat penyimpanan jauh terpisah dengan lokasi penggunaan rekam medis, misalnya dengan poliklinik.

(39)

20

2. Desentralisasi

Desentralisasi adalah penyimpanan rekam medis pada masing-masing unit pelayanan.Terjadi pemisahan antara rekam medis pasien poliklinik dengan rekam medis pasien dirawat.Rekam medis poliklinik disimpan pada poliklinik yang bersangkutan, sedangkan rekam medis pasien dirawat disimpan dibagian rekam medis.

Kebaikan sistem desentralisasi adalah :

- Efisiensi waktu, dimana pasien mendapat pelayanan lebih cepat. - Beban kerja yang dilaksanakan petugas rekam medis lebih ringan.

- Pengawasan terhadap rekam medis lebih mudah karena lingkungan lebih sempit.

Kelemahannya adalah :

- Terjadi duplikasi dalam pembuatan rekam medis sehingga informasi tentang riwayat penyakit pasien terpisah.

- Biaya yang diperlukan untuk pengadaan rekam medis, peralatan dan ruangan lebih banyak.

- Bentuk/isi rekam medis berbeda.

- Menghambat pelayan bila rekam medis dibutuhkan oleh unit lain.

G. Pengertian 5 M (Man,Money,Market,Machine,Methode)

Unsur manajemen atau sumber daya bagi manajemen adalah hal-hal yang merupakan modal bagi pelayanan manajemen , dengan modal itu akan lebih menjamin pencapaian tujuan . orang sering menyebut 5 M :

1. Man : Sumber daya manusia 2. Money : Uang atau anggaran

(40)

3. Market : Pasien

4. Machine : Alat-alat , mesin

5. Methode : Metode ,tata cara , prosedur H. Tracer

Tracer atau kartu petunjuk keluar (out guide) yaitu kartu yang digunakan untuk penggantian DRM yang diambil untuk digunakan berbagai keperluan. Setiap DRM yang diambil dari rak file maka pada tracer harus dicatat nomer rekam medis, tanggal pengambilan/peminjaman, nama penerima/peminjam, untuk apa dan dimana (unit pelayanan apa), digunakan oleh, nomer surat ijin (bila diperlukan).

Setelah tracer dicatat selipkan diantara DRM yang akan diambil dengan nomer rekam medis tampak diluar. Bila telah diselipkan ambil DRM yang dimaksud. Dengan demikian maka DRM yang sedang dgunakan (keluar dari rak) dapat diketahui digunakan untuk apa dan siapa penggunaanya mulai kapan digunakan. Selanjutnya apabila DRM telah selesai digunakan, maka ketika akan mengembalikan sudah ada petunjuk tracer tersebut.

Tracer selain bermanfaat sebagai petunjuk keberadaan DRM, bermanfaat pula untuk menghitung tingkat penggunaannya per periode tertentu. Selain tingkat penggunaan DRM, dapat pula dihitung tingkat penggunaan atau unit penggunaan dengan cara yang sama.(11)

I. Prosedur Tetap

1. Pengertian Prosedur Tetap

Prosedur adalah suatu rangkaian tugas-tugas yang saling berhubungan yang merupakan urutan-urutan tugas menurut waktu dan tata cara tertentu untuk melaksanakan suatu pekerjaan yang dilaksanakan berulang-ulang yang berarti prosedur adalah suatu tata kerja atau kegiatan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan urutan waktu dan memiliki pola kerja yang tetap dan telah ditentukan.(12)

(41)

22

J. Ergonomi

a. Pengertian Ergonomi

Ergonomi adalah ilmu yang penerapannya berusaha untuk menyerasikan pekerjaan dan lingkungan terhadap orang atau sebaliknya dengan bertujuan mencapai produktivitas dan efisiensi yang setinggi-tingginya melalui pemanfaatan faktor manusia seoptimal-optimalnya.

b. Ergonomi dan Pembangunan

Pembangunan bertujuan suatu pertumbuhan yang cukup cepat. Pertumbuhan demikian hanya akan dicapai dengan baik bila produktivitas dan efisiensi tenaga kerja cukup tinggi.

c. Antromometri Ergonomi

antropometri adalah ilmu yang secara khusus mempelajari tentang pengukuran tubuh manusia, ukuran tubuh manusia bervariasi berdasarkan umur, jenis kelamin, suku bangsa, bahkan kelompok pekerjaan, antropometri interaksi antara ruang dengan manusia secara dimensional dapat menimbulkan dampak antropometris, yaitu kesesuaian dimensi-dimensi ruang terhadap dimensi tubuh manusia.

Tenaga kerja dalam Undang-undang No.14 Tahun 1969 tentang ketentuan-ketentuan pokok tenaga kerja merupakan subyek dan obyek pembangunan. Ergonomi yang mempunyai sasaran efisiensi dan keserasian kerja memiliki arti penting bagi tenaga kerja baik subyek maupun obyek.(13)

K. Sarana Filling

Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud dan tujuan, yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses. Fasilitas dan peralatan harus disediakan agar pelayanan yang efisien. (14)

(42)

1. Kode Warna

Penyimpanan dokumen rekam medis sering terjadi salah letak atau

missfile.Hal ini terjadi karena banyaknya dokumen yang harus diambil dan

disimpan setiap harinya.Dalam upaya mengatasi salah letak / missfile maka pada sistem penjajaran angka akhir atau tengah dapat diberi kode warna sesuai 2 angka kelompok yang digunakan sebagai penjajaran.

Ketentuan warnanya yaitu: 1. Angka 1 = Ungu 2. Angka 2 = Kuning 3. Angka 3 = Hijau tua 4. Angka 4 = Oranye 5. Angka 5 = Biru muda 6. Angka 6 = Coklat

7. Angka 7 = Kemerahan / Merah muda 8. Angka 8 = Hijau muda

9. Angka 9 = Merah 10. Angka 0 = Biru tua

Warna tersebut ditempelkan dibawah nomor rekam medis yang bersangkutan. Misalnya pada nomor rekam medis 2 angka kelompok akhir adalah 21 maka, dibawah nomor akan ditempelkan warna kuning dan ungu.(15) L. Kinerja

Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Kinerja petugas Rekam Medis didasarkan pada uraian tugas pokok dan fungsinya sebagai petugas rekam medis baik dibagian pendaftaran, pengkodean, pendistribusian dan analisis data berkas rekam medis. Pelaksaaan tugas

(43)

24

pokok dan fungsi dalam suatu organisasi tergantung pada pendidikan, pengetahuannya, kejelasan uraian tugasnya, serta faktor pengalamannya.(15)

Dalam penilaian kinerja umumnya hanya menilai hasil fisik, tetapi pelaksanaan pekerjaan perlu dipertimbangkan secara keseluruhan karena menyangkut berbagai bidang seperti kemampuan kerja, kerajinan, disiplin, hubungan kerja atau hal-hal khusus sesuai dengan bidang dan tingkat pekerjaan yang dijabatnya dimana ada 5 (lima) faktor dalam penilaian kinerja antara lain adalah kualitas pekerjaan, meliputi: akurasi, ketelitian, penampilan, dan penerimaan keluaran, kuantitas pekerjaan, meliputi: volume keluaran dan kontribusi, supervisi, meliputi: membutuhkan saran, arahan, atau perbaikan, kehadiran, meliputi: reguralitas, dapat dipercayai/andalkan, ketepatan waktu, dan konservasi, meliputi: pencegahan pemborosan, kerusakan, dan pemeliharaan peralatan.(16)

M. Sumber Daya Manusia a. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan petugas filing di Rumah Sakit Panti Wilasa DR Cipto Semarang belum terdapat lulusan DIII Rekam Medis. Kelima petugas dengan berlatar belakang pendidikan SMA. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan Perekam Medis. Di dalam pasal 3 berbunyi :

1) Standar kelulusan Diploma tiga (D3) sebagai ahli madya Rekam Medis dan Informasi Kesehatan.

2) Standar kelulusan Diploma empat (D4) sebagai Sarjana Terapan Rekam Medis dan Informasi Rekam Medis.

3) Standar kelulusan Sarjana (S1) sebagai Sarjana Rekam Medis dan Informasi Rekam Medis.

4) Standar kelulusan Magister (S2) sebagai Magister Sarjana Rekam Medis dan Informasi Rekam.(18)

(44)

N. Tugas Pokok Filling

a. Menyimpan dokumen rekam medis dengan metode tertentu sesuai dengan kebijakkan penyimpanan dokumen rekam medis.

b. Mengambil kembali dokumen rekam medis untuk berbagai keperluan. c. Meretensi dokumen rekam medis sesuai dengan ketentuan yang

ditetapkan sarana pelayanan kesehatan.

d. Memisahkan penyimpanan dokumen rekam medis in-aktif dari dokumen rekam medis aktif.

e. Membantu dalam penilaian nilai guna rekam medis. f. Menyimpan dokumen rekam medis yang dilestarikan.

(45)

26

O. Kerangka Teori

Gambar 2.1 Kerangka Teori

Karakteristik petugas 1. Pendidikan 2. Pelatihan 3. Pengalaman Kerja Mutu Pelayanan Kinerja Sistem Filing : 1. Sistem Penomoran 2. Sistem Penyimpanan 3. Sarana Filing

4. Tata letak dan jarak filing dengan ruangan

(46)

27

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Kerangka Konsep

Gambar3.1 kerangka Konsep

Sistem Filling

1. Sistem Penomoran 2. Sistem Penyimpanan 3. Sistem Penjajaran 4. Tata Letak Ruang

Filling

Kinerja Petugas Filling Karakteristik petugas Filling

1. Umur

2. Jenis Kelamin 3. Pendidikan 4. Pelatihan

5. Pengalaman Kerja

(47)

28

B. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif, yaitu peneliti menganalisis sebuah kasus untuk mengetahui permasalahan yang ada .Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode observasi dan wawancara yaitu dengan melakukan pengamatan secara langsung di dalam lapangan. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan cross sectional yaitu mengambil data secara lagsung pada saat penelitian .

C. Variabel Penelitian 1. Krakteristik Petugas 2. Kinerja Petugas

3. Sistem Filing , meliputi: 1. Sistem Penomoran 2. Sistem Penyimpanan 3. Sistem Penjajaran 4. Sarana Filing

5. Tata letak dan jarak filing dengan ruangan

D. Definisi Operasional

Tabel 3.1

Tabel Definisi Operasional

No Variable Definisi Operasional

1. Karakteristik Petugas Ciri atau karakteristik petugas filling yang diukur berdasarkan hasil wawancara meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan dan pengalaman kerja .

2. SOP pelayanan filling Aturan tertulis tentang Standart Pelayanan Minimal (SPM) berdasarkan hasil wawancara dan observasidi RS

(48)

Panti Wilasa Dr. Cipto Semarang . 3. Tata Letak Ruangan

Filling

Tataletak ruangan filling berdasarkan observasi diukur dari luas ruangan , panjang ruangan , jarak antar sub rak filling di RS Panti Wilasa Dr. Cipto Semarang .

4. Kinerja Petugas Hasil kerja berdasarkan hasil observasi petugas filling dalam pengambilan rekam medis dinilai dari kecepatan , ketepatan , dalam pengambilan dokumen rekam medis dan dalam pengelolaan sistem filling di RS Panti Wilasa Dr. Cipto Semarang .

5. Sistem Penomoran Sistem penomoran yang digunakan di RS Panti Wilasa Dr. Cipto Semarang berdasarkan hasil wawancara .

6. Sistem Pyimpanan Sistem Penyimpanan yang digunakan di RS Panti Wilasa Dr. Cipto Semarang berdasarkan hasil wawancara .

7. Sistem Penjajaran Sistem penomoran yang digunakan di RS Panti Wilasa Dr. Cipto Semarang berdasarkan hasil Observasi .

(49)

30

E. Subjek dan Objek Penelitian 1. Subjek

5 petugas filing dan 1 kepala Rekam Medis di Rumah Sakit Panti Wilasa DR Cipto Semarang

2. Objek

Objek dalam penelitian ini adalah kinerja petugas filing.

F. Instrumen Penelitian A. Pedoman Wawancara

Membuat Pertanyaan kepada petugas 5 Filing dan 1 kepala Rekam Medis dengan pedoman wawancara yang sudah peneliti siapkan untuk mendapat jawaban dari petugas filing untuk mengetahui pendidikan, pelatihan, pengalaman kerja, sistem penjajaran, tata letak dan jarak filing dan sarana.

B. Pedoman Observasi

Cara pengumpulan data dengan mengamati objek penelitian secara langsung di lapangan .

G. Cara pengumpulan data 1. Wawancara Terstruktur

Data yang diperoleh secara langsung dengan mengamati subjek penelitian sebagai informasi yang dicari melalui wawancara kepada petugas filing dan dari hasil observasi.

(50)

Data yang diperoleh dengan cara mengamati secara langsung pada bagian filling Rumah Sakit Panti Wilasa DR Cipto Semarang .

H. Pengolahan Data

Pengolahan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:

1. Editing : mengoreksi data yang telah dikumpulkan. 2. Collecting : mengumpulkan data sebagai sumber data.

3. Tabulasi : mengelompokkan data hasil penelitian dalam sebuah table yang informatif.

I. Analisa Data

Dalam penelitian ini analisis yang digunakan adalah analisis diskriptif yaitu menganalisa hasil penelitian berdasarkan teori yang dicantumkan dalam tinjauan pustaka, agar diperoleh suatu gambaran yang jelas tentang kinerja petugas filing.

(51)

32

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Rumah Sakit Panti Wilasa Dr.Cipto Semarang 1. Sejarah Singkat Rumah Sakit

Tahun 1948 muncul gagasan untuk mendirikan rumah sakit Kristen oleh pekerja Zending di Semarang yaitu Zr. N.G. de Jonge dan RH. Van Eyk. Kemudian dibentuk panitia pendiri Klinik Bersalin dengan ketua Ds. R. Soehardi Hadipranowo.

Tahun 1949, Zr. A.J. Heidema dari Nederland datang akan memimpin klinik yang akan dibentuk. Tanggal 19 Januari 1950 diresmikan Klinik Bersalin Panti Wilasa yang mengandung arti Rumah Sih Kamirahan/Kawilasan.Klinik ini di bawah pengawasan Dr. Thio Kee Tiong.

Akhir tahun 1950 ada 13 tempat tidur dan 18 orang karyawan. Kedatangan Dr. G.J. Dreckmeier pada bulan Januari 1952 memperkuat tim Klinik Bersalin Pantiwilasa.

Tahun 1959, Dr. J. Bouma Spesialis Kebidanan/Kandungan datang dari Nederland.Tahun 1959, Dr. Oei Kiem Hien datang dari Sumba.Ibu J.T de Jong juga datang dari Nederland menjadi ibu asrama.Dr. A. Hoogerwerf datang dari Netherland menggantikan Dr. J. Bouma.Tahun 1967–1968 Dr. Kwik Tjhiang Poen membantu RB.Panti Wilasa serta aktif dalam bidang KB.

Tahun 1969–1973 Dr. B. Kandu memimpin RS Bersalin dan Anak Panti Wilasa. Tanggal 9 November 1969 dilaksanakan peletakan batu pertama kompleks Panti Wilasa baru yang berlokasi di Jalan Citarum 98 Semarang, oleh Bapak Walikota Dati II Kodya Semarang, dengan bantuan dana dari pemerintah Kerajaan Belanda.

Tanggal 28 November 1973 Dr. Mangkureno Sadijo memimpin komplek Panti Wilasa di Jl. Dr. Cipto 50 yang rencananya akan digunakan untuk Bagian

(52)

Penyakit Dalam dan Bedah serta Balai Pengobatan Umum. Sedangkan di tahun yang sama, gedung baru di Jl. Citarum diresmikan sebagai RS Panti Wilasa I yang menangani Bagian Kebidanan/penyakit kandungan dan penyakit anak. Tanggal 19 Januari 1974 merupakan saat bersejarah karena pada saat itu pelayanan di kompleks Jl. Dr. Cipto diresmikan : Rumah Sakit Umum Pantiwilasa Citarum.

Tanggal 1 November 1978 adalah pemisahan RS.Panti Wilasa di kompleks Jl. Dr. Cipto 50 menjadi Rumah Sakit Panti Wilasa II, sedangkan kompleks di Jl. Citarum menjadi Rumah Sakit Panti Wilasa.

Tahun 1985–1988 Dr. Guno Samekto, Direktur RS Bethesda Yogyakarta, ditetapkan sebagai pejabat Direktur di RS Panti Wilasa II.Tahun 1991 -1994 Jabatan Direktur dipegang oleh Dr. M. Haryanto.

Tahun 1994–1997, Dr. Sri Kadarsih Soebroto, MM menjabat sebagai Direktur RS Panti Wilasa II, jumlah tempat tidur 60 dan 90 orang karyawan.

Tanggal 1 April 1994 tepat pada permulaan Pembangunan Jangka Panjang RS tahap II, dimulai pula pembangunan dan renovasi RS Panti Wilasa “Dr. Cipto“ terjadi penggantian nama rumah sakit melalui SK Direktur Jendral Pelayanan Medik tanggal 29 Agustus 1995 No. : YM. 02.04.3.5.03831, nama RS Panti Wilasa II diubah nama menjadi RS Panti Wilasa Dr. Cipto, sedangkan nama RS Panti Wilasa I diubah nama menjadi RS Panti Wilasa Citarum.

Pada tahun 1966 RS Panti Wilasa Dr. Cipto Semarangmendapat penghargaan Penampilan Terbaik Pertama Tingkat Nasional RSU Swasta setara kelas D. Di tahun yang sama jumlah tempat tidur ditingkatkan menjadi 100 tempat tidur sehingga meningkat dari RSU kelas pertama menjadi RSU kelas Madya.

Pada periode 1997–2001 kembali Direktur RS Pantiwilasa Dr. CiptoSemarang dijabat oleh Dr. Sri Kadarsih Subroto, MM, dan diperpanjang sampai dengan akhir tahun 2003.

(53)

34

Akhir tahun 1998 memperoleh Sertifikat Akreditasi Penuh dari Kesehatan Republik Indonesia untuk 5 standar pelayanan.Pada awal tahun 1999 jumlah tempat tidur ditingkatkan secara bertahap menjadi 120 dan karyawan sebanyak 228 orang.

Pada tahun 2000 jumlah tempat tidur bertambah menjaddi 125 buah. Pada bulan April 2001, RS Panti Wilasa Dr. Cipto Semarang mulai digunakan sesuai Rencana Induk Pemgembangan dengan pembangunan gedung 4 lantai yang akan digunakan untuk Ruang ICU dan Ruang VIP. September 2001, memperoleh Sertifikat Akreditasi Penuh Tingkat Lanjut 12 standar dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Pada tanggal 19 Januari 2002, gedung 4 lantai untuk Ruang ICU/CCU/PICU/NICU, Ruang VIP dan aula diresmikan.Bertepatan dengan itu RS Pantiwilasa Dr. Cipto menerima sertifikat Akreditasi Tingkat Lanjut 12 standar yang diserahkan oleh Dirjen Yanmed DepkesRI.

Pada tanggal 28 Februari 2003, diresmikan Ruang Helsa dan Ruang Gamma (Gedung 2 lantai yang semula adalah Ruang Gamma).Dengan demikian jumlah tempat tidur menajdi 180 buah. Dengan dioperasionalkan lantai II ini, maka pelayanan Ruang Pasca beRSalin bisa dipusatkan di lantai I (Ruang Helsa). Sedangkan pelayanan Ruang Anak menempati lantai II (Ruang Gamma).

Pada bulan Maret 2003 mulai dibangun gedung (Instalansi Pengolahan Air Limbah)IPALberlantai II yang telah selesai pada tanggal 31 Desember 2003. Uniknya, lantai dasar digunakan untuk parkir kendaraan roda 2, lantai II (atas) untuk “pot bunga raksasa“ sebagai indikator bagi IPAL tersebut.

Akhir tahun 2003, Tim Akreditasi RS Panti Wilasa Dr. CiptoSemarang yang diketuai oleh Dr. Yoseph, M.Kes mulai mempersiapkan diri untuk akreditasi 16 standar yang rencananya akan maju pada pertengahan tahun 2004.

(54)

17 Januari 2004, dilakukan pelantikan dan serah terima jabatan Direktur dari Dr. Sri Kadarsih Soebroto, MM kepada Dr. Yoseph Candra M.Kes untuk periode 2004–2008.

2. Motto, Visi, Misi Rumah Sakit a. Motto

Melayani dengan cinta kasih, mengutamakan kualitas pelayanan. b. Visi

1) Rumah sakit bermutu pilihan masyarakat.

2) Rumah sakit bermutu sebagai rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kesehatan sesuai standar pelayanan medis keperawatan dan menunjang secara professional untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat.

3) Rumah sakit pilihan masyarakat sebagai rumah yang mampu menjadi rujukan masyarakat yang memiliki pelayanan kualitas, penuh cinta kasih yang tulus, hangat, dan bersahabat.

c. Misi

1) Meningkatkan kualitas sumber daya manusia 2) Meningkatkan mutu sistem pelayanan

3) Meningkatkan kepuasan pelanggan 4) Meningkatkan produktivitas dan efisiensi d. Jenis Pelayanan Rumah Sakit

1) Pelayanan Rawat Jalan 2) Pelayanan Rawat Inap 3) Pelayanan Gawat Darurat

(55)

36

B. GAMBARAN UMUM UNIT REKAM MEDIS 1. Struktur Organisasi Unit Rekam Medis

INPUT / INDEKSING PENGELOLAAN Adm REKAM MEDIS FILLING ASSEMBLIN G DAN KODING ASURANSI BALASAN RUJUKAN PEMBUATAN VISUM REPORTING / PELAPORAN WAKIL DIREKTUR TPPRI TPPGD TPPRJ

KOORD KEPALA INSTANSI PENUNJANG REKAM MEDIS

KEPALA INSTALANSI REKAM MEDIS

BAGIAN PENERIMAAN PASIEN Petrus A. Hermawan INFORMASI KESEHATAN DAN MEDIK LEGAL SUB KOMITE REKAM MEDIS DIREKTUR

(56)

2. Tugas Pokok Dan Fungsi Unit Rekam Medis.

a. Prosedur Pelayanan Rekam Medis di Bagian Pencatatan Data Rekam Medis (TPPRJ, TPPRI, TPPGD, IPP, URJ, URI, UGD)

1) Tempat Pendaftaran Pasien Rawat Jalan (TPPRJ) a) Menyediakan catatan dan dokumen RM baru

b) Memberi informasi yang lengkap kepada pasien dan keluarganya tentang pelayanan di rumah sakit

c) Melakukan pendaftaran pasien secara komputerisasi yaitu: 1. Pencatatan identitas dengan jelas dan benar

2. Mencari nomor RM lama dengan komputerisasi bagi pasien kunjungan lama yang tidak membawa KIB

3. Mendistribusikan dokumen RM ke IRJ 4. Membuat KIB

5. Melakukan registasi pasien rawat jalan

6. Membuat buku catatan penggunaan nomor RM dan buku pengendalian pemakaian dokumen RM

7. Membuat laporan kegiatan urusan penerimaan pasien rawat jalan setiap bulan kepada kepala urusan rekam medis

8. Bertanggung jawab masalah ketertiban, keamanan dan kebersihan di bagian penerimaan pasien rawat jalan

9. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diperintahkan oleh atasan. 2) Tempat Pendaftaran Pasien Rawat Inap (TPPRI)

a) Menerima dan mendaftar pasien dari IRJ dan IGD yang akan dirawat inap

b) Menyediakan dokumen RM yang sesuai dengan ruangan yang dituju atau sesuai dengan admission note.

(57)

38

1. Nama pasien-pasien yang dirawat inap sesuai dengan ruangan dan kelas perawatannya

2. Tarif rawat inap 3. Pelayanan BPJS.

4. Informasi lain yang diperlukan oleh berbagai pihak

d) Membuat laporan kegiatan urusan penerimaan rawat inap setiap bulannya kepala kepala urusan RM.

e) Bertanggung jawab terhadap masalah ketertiban, keamanan dan kebeRSihan serta inventarisasi barang di bagian penerimaan pasien rawat inap

f) Melaksanakan tugas tugas lain yang diberikan oleh atasan.

b. Prosedur Pelayanan Rekam Medis di Bagian Pengolahan Data Rekam Medis (Assembling, Koding/Indeksing, Filling, Analising/Reporting)

1) Assembling

a) Mengalokasikan dan mengendalikan penggunaan dokumen Rekam Medis

b) Memeriksa kelengkapan dokumen RM dan menyerahkan dokumen yang tidak lengkap ke kepala ruangan untuk dilengkapi

c) Menulis nomor RM pada formulir yang belum terisi nomornya d) Melepas formulir yang tidak terpakai dan merakit kembali

e) Mengurutkan jenis formulir sesuai nomor formulirnya atau riwayat pelayanan pasien

f) Menjaga ketertiban, keamanan, dan kebersihan dilingkungan urusan

assembling

(58)

2) Koding/Indeksing

a) Memberi kode diagnosis penyakit berdasarkan ICD-10

b) Membuat indeks pernyakit, operasi, kematian, dan indeks dokter kemudian disimpan menurut abjad

c) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diperintahkan oleh atasan.

3) Filing

a) Menerima dan mancatat dokumen RM pasien pulang

b) Menyimpan dokumen yang sudah lengkap dengan metode angka akhir dan diurutkan sesuai nomor urut

c) Mengambil dokumen RM untuk keperluan pelayanan dan keperluan lainnya

d) Melakukan retensi dokumen RM menjadi dokumen aktif dan non-aktif e) Melayani peminjaman dokumen RM

f) Mengusulkan pemusnahan dokumen RM

g) Membuat laporan kegiatan kepada urusan filing setiap bulannya kepada kepala RM

h) Bertangung jawab masalah ketertiban, keamanan pada bagian filing i) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diperintahkan oleh atasan.

4) Analising/Reporting

a) Mengumpulkan data RM sensus harian (rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat) dan buku laporan (instalasi pemeriksaan penunjang dan kebidanan & kandungan)

b) Mengolah dan menabulasi data RM yang diperlukan untuk pelaporan c) Menyusun laporan bulanan, triwulan dan tahunan data RM, sesuai

dengan :

(59)

40

2. Petunjuk pelaporan dari Depkes RI

d) Menjaga ketertiban, keamanan dan kebeRSihan di lingkungan urusan analisis dan pelaporan.

e) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan.

C. Hasil Penelitian

Hasil pengamatan diperoleh dengan cara mengamati kegiatan pelayanan petugas filing sehari-hari dengan menggunakan pedoman observasi dan wawancara yang telah dibuat. Maka didapatkan hasil sebagai berikut :

1. SOP (Standart Operasional Pelayanan)

Berdasarkan hasil wawancara kepada kepala Unit Rekam Medis RS Panti Wilasa Dr.Cipto Semarang terdapat Standart Pelayanan Minimal (SPM) kepada petugas filling RS Panti Wilasa Dr.Cipto Semarang yaitu 10 menit waktu pengambilan dokumen Rekam Medis untuk pelayanan rawat jalan . Namun SPM (Standart Pelayanan Minimal) tersebut belum dibuat secara tertulis dan hanya disampaikan secara lisan kepada petugas filling RS Panti Wilasa Dr.Cipto Semarang .

2. Sistem Filing

a. Sistem Penomoran

Di filing RS Panti Wilasa Dr.Cipto Semarang, menggunakan sistem penomoran secara Unit Numbering System (UNS). Sistem penomoran ini dengan cara memberikan satu nomor rekam medis pada pasien rawat jalan, rawat inap, gawat darurat dan bayi baru lahir.

(60)

Di filing RS Panti Wilasa Dr.Cipto Semarang, menggunakan sistem penyimpanan Sentralisasi. Sistem penyimpanan ini dengan cara menyatukan formulir rekam medis milik pasien kedalam satu kesatuan baik dokumen rekam medis rawat jalan, rawat inap, gawat darurat menjadi satu folder (map).

c. Sistem Penjajaran

Sistem penjajaran di filling Panti Wilasa Dr.Cipto Semarang menggunakan TDF (terminal digit filling) yaitu mengelompokkan nomor rekam medis berdasarkan angka akhir nomor rekam medis .

d. . Sarana Filing

Lokasi filing di RS Panti Wilasa Dr.Cipto Semarang terletak satu ruangan dengan bagian assembling, koding indeksing, analysing reporting , pendaftaran berada di lantai bawah . Sarana yang digunakan untuk menunjang bagian filing antara lain :

a. Kode Warna

Di filing metode sudah menggunakan sistem kode warna.Hal tersebut menjadikan petugas lebih mudah dalam pencarian.

b.Tracer

Di filing RS Panti Wilasa Dr.Cipto Semarang, metode sudah menggunakan tracer, namun masih manual yaitu petugas pendaftaran rawat jalan harus menulis nomor rekam medis, nama pasien dan poli yang dituju didalam selembar kertas buffalo bergaris kemudian diserahkan kepada petugas filing guna pencarian dokumen rekam medis pasien.

(61)

42

e. Tata Letak Jarak Filing

s

^

Gambar 2.4 Tata Letak dan Jarak Rak Filing

Keterangan :

1. Meja Filling 2. Rak Filling

3. Meja Kepala Rekam Medis

4. Meja Petugas Analising Reporting 5. Meja Koding 6. Meja Assembling 7. Mesin Fotocopy 8. Loket Filling 3 4 7 6 5 6 5 1 2 8 60cm 40cm

(62)

3. Karakteristik Petugas

Tabel 4.1 Karakteristik Petugas Tingkat

Pendidikan

Pelatihan Pengalaman Kerja Kepala RM Sarjana Kesehatan Masyarakat Pelatihan Koding dan pelatihan Rekam Medis dan UU rekam medis 14th

Petugas Filing 1 SMA Pelatihan Rekam Medis dan UU rekam Medis

7th

Petugas Filing 2 SMA Pelatihan Rekam Medis dan UU rekam Medis

7th

Petugas Filing 3 SMA Pelatihan Rekam Medis dan UU rekam Medis

2th

Petugas Filing 4 SMA Pelatihan Rekam Medis dan UU rekam Medis

3th

Petugas Filing 5 SMA Pelatihan Rekam Medis dan UU rekam Medis

9th

Berdasarkan tabel 4.1 sebagian besar petugas filing berpendidikan terakhir SMA, dan dengan masa kerja 6-10 tahun . Semua petugas filling sudah mendapatkan pelatihan Rekam Medis dan Undang-Undang Rekam Medis .

(63)

44

4. Kinerja Petugas Filling

Berdasarkan hasil penelitian kinerja petugas filling didapatkan sebagai berikut

Tabel 4.2

Perbandingan Kinerja Petugas Dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM)

No No.RM Pelaksanaan Memenuhi Tidak

memenuhi 1 101xxx 12 menit  2 102xxx 5 menit  3 205xxx 5 menit  4 175xxx 6 menit  5 078032 9 menit  6 223xxx 8 menit  7 285xxx 9 menit  8 026xxx 11 menit  9 095xxx 5 menit  10 018xxx 5 menit 

Berdasarkan tabel diatas presentase yang tidak memenuhi standart ( ) mencapai

(64)

45

BAB V

PEMBAHASAN

A. Pembahasan

1. SOP (Standart Oprasional Pelayanan)

Di RS Panti Wilasa Dr.Cipto Semarang belum ada SOP yang mengatur tentang SPM (Standart Pelayanan Minimal) pengambilan dokumen Rekam Medis rawat jalan , sehingga masih ada petugas yang terlambat mengambil dokumen untuk pasien rawat jalan dikarenakan SPM (Standart Pelayanan Minimal) disampaikan secara lisan oleh kepada Unit Rekam Medis kepada petugas filling RS Panti Wilasa Dr.Cipto Semarang.

2. Sistem Filing

a. Sistem Penomoran

Di filing RS Panti Wilasa Dr.Cipto Semarang, menggunakan sistem penomoran secara Unit Numbering System (UNS). Sistem penomoran ini dengan cara memberikan satu nomor rekam medis pada pasien rawat jalan, rawat inap, gawat darurat dan bayi baru lahir.

Sistem penomoran Unit Numbering System (UNS) memberikan hanya satu unit rekam medis kepada pasien baik pasien tersebut berobat jalan maupun rawat inap. Pada saat seorang pasien berkunjung pertama kali ke rumah sakit apakah sebagai pasien berobat jalan ataupun untuk dirawat, kepadanya diberikan satu nomor (admitting number) yang akan dipakai selamanya setiap kunjungan berikutnya, sehingga pasien tersebut hanya mempunyai satu rekam medis yang tersimpan dibawah satu nomor.(11)

Sistem penomoran yang digunakan di bagian filing RS Panti Wilasa Dr.Cipto Semarang sudah sesuai dengan teori yang ada

(65)

46

b. Sistem Penyimpanan

Di filing RS Panti Wilasa Dr.Cipto Semarang menggunakan sistem penyimpanan Sentralisasi. Sistem penyimpanan ini dengan cara menyatukan formulir rekam medis milik pasien kedalam satu kesatuan baik dokumen rekam medis rawat jalan, rawat inap, gawat darurat menjadi satu folder (map).

Dalam teori disebutkan sistem penyimpanan sentralisasi adalah suatu sistem penyimpanan dengan cara menyatukan formulir rekam medis milik pasien kedalam satu kesatuan dimana dokumen rekam medis rawat jalan, rawat inap, gawat darurat, milik seorang pasien menjadi satu dalam satu folder (map).(11)

Sistem penyimpanan yang digunakan di bagian filing RS Panti Wilasa Dr.Cipto Semarang sudah sesuai dengan teori yang ada.

c. Sistem penjajaran

Di filing RS Panti Wilasa Dr.Cipto Semarang, metode penyimpanan DRM menggunakan sistem sentralisasi (rawat jalan dan rawat inap jadi satu).Sistem penjajaran digunakan dengan metode TDF (Terminal Digit

Filling).

Dalam teori disebutkan pemberian nomor secara unit (Unit Numbering

System) yaitu sistem penomoran dimana sistem ini memberikan satu nomor

rekam medis pada pasien berobat jalan, pasien rawat inap, gawat darurat dan bayi baru lahir. Kelebihan sistem ini adalah informasi klinis dapat berkesinambungan, tetapi pengambilan data pasien akan lebih lama karena semua data dan informasi mengenai pasien dan pelayanan pendaftaran pasien pernah berkunjung (berobat) atau sebagai pasien lama hanya

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Teori Karakteristik petugas 1. Pendidikan 2. Pelatihan 3. Pengalaman Kerja  Mutu Pelayanan Kinerja Sistem Filing : 1
Gambar 2.4 Tata Letak dan Jarak Rak Filing
Tabel 4.1  Karakteristik Petugas  Tingkat

Referensi

Dokumen terkait

 Informasi tujuan pembelajaran yaitu: dengan menggunakan langkah-langkah pemecahan masalah yang logis dan sesuai dengan algoritma pemecahan masalah peserta didik

[r]

Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa yang berhubungan dengan peranan media sosial yang berisikan tentang hukum dan pedoman bermuamalah melalui media

Pada makalah ini telah dihitung laju pengeringan double-drum dryer 7,83-13,14 kg/m 2 jam dengan rata- rata 9.52 kg/m 2 jam, Sedangkan efisiensi termal nya berada pada nilai

Dengan adanya Media Pembelajaran Interaktif Bahasa Jawa tentang materi Aksara Jawa, siswa-siswi kelas III pada Sekolah Dasar Negeri Sragen Tiga tidak merasa jenuh bahkan

Krayan, maka dengan ini kami mengundang saudara untuk hadir dalam acara pembuktian/klarifikasi dokumen kualifikasi sesuai jadwal berikut :.. Tempat : Kantor Dinas Pekerjaan

Sehubungan telah dilaksanakannya evaluasi Administrasi, Teknis, Biaya, dan Kualifikasi untuk Paket Pekerjaan BELANJA JASA KONSULTAN STUDY (KAJIAN) PENATAAN PENGEMBANGAN OVOP

1) Diisi dengan Nama Satuan Kerja Perangkat daerah. 2) Diisi dengan Nama Pengguna Anggaran atau Kuasa Pengguna Anggaran. 3) Diisi dengan nama bendahara Penerimaan Pembantu