• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDEKATAN FENOMENOLOGI (Suatu Ranah Penelitian Kualitatif)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENDEKATAN FENOMENOLOGI (Suatu Ranah Penelitian Kualitatif)"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PENDEKATAN FENOMENOLOGI

(Suatu Ranah Penelitian Kualitatif)

Oleh:

Dr. Farid Hamid, M.Si.

Abstract

Phenomenology is a philosophy made popular by Edmund Husserl. A phenomenological study describes the meaning of the live experiences for several individuals about the phenomenon. Phenomenology is one of fundamental research method whose assumtions respect human uniqueness and subjective experiences.

Kata Kunci: fenomenologi. intersubjektivitas

I. PENDAHULUAN

Istilah fenomenologi secara etimologis berasal dari bahasa Yunani. Dari akar kata “fenomenan” atau “fenomenon” yang secara harfiah berarti “gejala” atau “apa yang telah menampakkan diri” sehingga nyata bagi kita (Drijarkara, 1962:122; Suprayogo dan Tobroni, 2001:102). Istilah feomenologi diperkenalkan oleh Johann Heinrickh Lambert, tahun 1764. Meskipun demikian Edmund Husserl (1859-1938) lebih dipandang sebagai bapak fenomenologi, karena intensitas kajiannya dalam ranah filsafat. Fenomenologi yang kita kenal malalui Husserl adalah ilmu tentang fenomena. Walaupun demikian Alfred Schutz yang lebih dikenal dalam membangun perspektif ini. Melalui Schutz-lah pemikiran-pemikiran Husserl yang dirasakan abstrak dapat dipahami, dan lebih “membumi”. Schutz juga adalah orang pertama yang menerapkan fenomenologi dalam penelitian ilmu sosial. Untuk itu dalam pemahaman menyangkut fenomenologi, penulis akan lebih merujuk pada pemikiran Alfred Schutz.

Teori Max Weber mengenai tindakan sosial secara historis dijadikan dasar lahirnya perspektif fenomenologis (juga interaksionisme simbolik). Weber menyebut tindakan sosial bilamana segala perilaku seseorang ketika dan sejauh yang bersangkutan memberi makna subyektif terhadap perilakunya tersebut. Menurut Weber, tindakan manusia pada dasarnya bermakna, melibatkan penafsiran, berpikir dan kesengajaan. Tindakan sosial

(2)

baginya adanya adalah tindakan yang disengaja, disengaja bagi orang lain dan bagi sang aktor sendiri, yang pikiran-pikirannya aktif saling menafsirkan perilaku orang lainnya, berkomunikasi satu sama lain, dan mengendalikan perilaku dirinya masing-masing sesuai dengan maksud komunikasinya. Jadi mereka saling mengarahkan perilaku mitra interaksi di hadapannya. Karena itu bagi Weber, masyarakat adalah suatu entitas aktif yang terdiri dari orang-orang berfikir dan melakukan tindakan-tindakan sosial yang bermakna (Mulyana, 2001:61). Untuk itu pemahaman terhadap tindakan sosial dilakukan dengan meneliti makna subyektif yang diberikan individu terhadap tindakannya, karena manusia bertindak atas dasar makna yang diberikannya pada tindakan tersebut (Sunarto. 2000:234)

Edmund Husserl kemudian mengkritisi fenomena ilmiah yang ada dengan menyatakan bahwa pengetahuan ilmiah sebenarnya telah terpisahkan dari pengalaman sehari-hari dari kegiatan-kegiatan di mana pengalaman dan pengetahuan itu berakar. Maka itu, ia menawarkan fenomenologi (Maliki, 2003:233). Husserl mengembangkan sistem filosofis yang berakar dari keterbukaan subjektif, sebuah pendekatan radikal terhadap sains yang terus dikritisi. Fenomenologi, bagi Husserl, tak berguna bagi mereka yang berpikiran tertutup (Moustakas, 1994: 25). Seorang fenomenolog adalah orang yang terbuka pada realitas dengan segala kemungkinan rangkaian makna di baliknya, tanpa tendensi mengevaluasi atau menghakimi. Sehingga bisa dikatakan fenomenologi adalah kajian tanpa prasangka.

Konsep fenomenologi Husserl juga mengacu (dipengaruhi) oleh konsep verstehen dari Max Weber. Verstehen adalah pemahaman. Realitas adalah untuk dipahami, bukan untuk dijelaskan. Menurut Husserl, fenomenologi sebagai minat terhadap sesuatu yang dapat dipahami secara langsung dengan indera mereka. Di mana semua pengetahuan diperoleh melalui alat sensor “fenomena” (Wolf & Wallace, 1986:234).

Pemikiran Weber tentang tindakan sosial menarik, demikian juga dengan Husserl menjadi sumber landasan konseptual bagi Schutz dalam membangun fenomenologi (Schutz, 1972: xii). Memperkuat pendapat Weber tentang pentingnya tindakan sosial bagi manusia, Schutz mengemukakan bahwa pemahaman atas tindakan, ucapan dan interaksi merupakan prasyarat bagi eksistensi sosial siapapun (Mulyana, 2003:62).

(3)

Proses pemaknaan diawali dengan proses penginderaan, suatu proses pengalaman yang terus berkesinambungan. Arus pengalaman inderawi ini, pada awalnya, tidak memiliki makna. Makna muncul ketika dihubungkan dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya serta melalui proses interaksi dengan orang lain. Alfred Schutz mengajarkan bahwa setiap individu hadir dalam arus kesadaran yang diperoleh dari proses refleksi atas pengalaman sehari-hari. Dengan mengasumsikan adanya kenyataan orang lain yang diperantarai oleh cara berpikir dan merasa, refleksi lalu diteruskan kepada orang lain melalui hubungan sosialnya (Campbell, 1994: 235).

Menurut Schutz, fenomenologi sebagai metode dirumuskan sebagai media untuk memeriksa dan menganalisis kehidupan batiniah individu yang berupa pengalaman mengenai fenomena atau penampakan sebagaimana adanya, yang lazim disebut arus kesadaran (Campbell, 1994: 233).

Tugas fenomenologi menurut Schutz adalah untuk menghubungkan antara pengetahuan ilmiah dengan pengalaman sehari-hari, sedangkan kegiatan dan pengalaman sehari-hari merupakan sumber dan akar dari pengetahuan ilmiah (Craib, 1986:126)

Selain Husserl dan Alfred Schutz, fenomenologi berkembang, antara lain, dalam pemikiran Morleau-Ponty, Martin Heidegger, dll. Tetapi secara umum dari semua aliran fenomenologi, menurut Lubis (2004:202) memiliki keyakinan yang sama dalam hal:

a. Keyakinan bahwa manusia dapat mengerti kenyataan sesungguhnya dari suatu fenomena.

b. Keyakinan bahwa ada hal yang menghalangi manusia untuk mencapai pengertian yang sebenarnya.

c. Keinginan menerobos kabut (penghalang) dengan melihat fenomena itu sendiri sebagaimana adanya.

II. PEMAHAMAN DASAR

Fenomenologi yang dirintis Edmund Husserl bersemboyankan: zuruck zu den

sachen selbst (kembali ke hal-hal itu sendiri) (Suprayogi dan Tobroni, 2003:102).

(4)

metoda untuk menjelaskan fenomena dalam kemurniannya. Menurut Husserl, fenomena

adalah segala sesuatu yang dengan suatu cara tertentu tampil dalam kesadaran manusia.

Baik berupa sesuatu sebagai hasil rekaan maupun berupa sesuatu yang nyata, yang berupa gagasan maupun berupa kenyataan (Delfgaauw, 1988: 105). Dengan demikian, mengutip pendapat Creswell (1998:51) fenomenologi berupaya untuk menjelaskan makna pengalaman hidup sejumlah orang tentang suatu konsep atau gejala, termasuk di dalamnya konsep diri atau pandangan hidup mereka sendiri.

Littlejohn (1996:204) menyebutkan: “phenomenology makes actual lived

experience the basic data of reality” . jadi dalam fenomenologi, pengalaman hidup yang

sesungguhnya sebagai data dasar dari realita. Sehingga dalam kajian fenomenologi yang penting ialah pengembangan suatu metoda yang tidak memalsukan fenomena, melainkan dapat mendeskripsikannya seperti penampilannya. Untuk tujuan itu fenomenolog hendaknya memusatkan perhatiannya kepada fenomena tersebut tanpa disertai prasangka sama sekali. Seorang fenomenolog hendaknya menanggalkan segenap teori, pranggapan

serta prasangka, agar dapat memahami fenomena sebagaimana adanya. Memahami

fenomena sebagaimana adanya merupakan usaha kembali kepada barangnya sebagaimana penampilannya dalam kesadaran (Delfgaauw, 1988: 105).

Berbeda dengan pendekatan positivistik yang menganggap realitas itu tunggal, Alfred Schutz dengan fenomenologinya memperkenalkan konsep realitas berganda (multiple reality). Bagi Schutz, realita di dunia ini bukan hanya dalam realitas kehidupan sosial, tetapi juga termasuk realitas fantasi, realitas mimpi, dan sebagainya. Dalam hal ini Schutz memodifikasi dasar-dasar pengertian William James tentang “bagian alam semesta”. Kita mengalami berbagai jenis realita atau “bagian alam semesta”, dari dunia fisik yang paling penting, dunia ilmu, dunia keyakinan suatu suku, dunia supernatural, dunia opini individu, sampai pada dunia kegilaan (madness), dan dunia khalayan. Tetapi James tidak membahas implikasi sosial dari tatanan-tatanan realitas sosial yang berbeda tersebut, dan inilah yang ingin dikembangkan lagi oleh Schutz.

Menurut Schutz dunia sehari-hari merupakan dunia intersubjektif yang dimiliki bersama orang lain dengan siapa kita berinteraksi. Dalam dunia ini kita selalu membagi-bagi dengan teman-teman kita, dan dengan yang lainnya, yang juga menjalani dan

(5)

menafsirkannya. Oleh karenanya dunia kita secara keseluruhan tidak akan pernah bersifat pribadi sepenuhnya, bahkan di dalam kesadaran kita, kita akan selalu menemukan bukti adanya kesadaran orang lain. Ini merupakan suatu bukti bahwa situasi biografi kita yang unik ini tidak seluruhnya merupakan produk dari tindakan-tindakan kita sendiri. Sampai di sini teori Schutz, sangat mirip dengan interaksionis simbolis dari George Herbert Mead. Tetapi menurut Schutz dunia intersubyektif terdiri dari realitas-realitas yang sangat berganda, di mana realitas sehari-hari yang merupakan common sense atau diambil begitu saja, tampil sebagai realitas yang utama. Schutz memberikan perhatian besar kepada realitas common-sense ini. Realitas seperti inilah yang kita terima, mengenyampingkan setiap keraguan, kecuali realitas itu dipermasalahkan.

Realitas common-sense dan eksistensi sehari-hari itu dapat disebut sebagai

kepentingan praktis kita dalam dunia sosial. Menurut Schutz esensi dari akal sehat ada

dengan sendirinya, yakni dalam dunia keseharian. Ini merupakan elaborasi Labenswelt yang dikemukakan Husserl.

Kepentingan praktis dalam realitas common sense ini oleh Shutz dilawankan dengan

kepentingan ilmiah atau teoretis kaum ilmiawan (realitas ilmiah). Teori ilmiah merupakan

suatu aktivitas yang bertujuan untuk mengobservasi dan memahami dunia secara sistematis. Menurut Schutz, orang bergerak bukan berdasarkan teori ilmiah, tetapi oleh kepentingan praktis. Dunia intersubyektif ini sama-sama dimiliki dengan orang lain yang juga mengalaminya.

III. FENOMENOLOGI : TRADISI PENELITIAN

Mulyana menyebutkan pendekatan fenomenologi termasuk pada pendekatan subjektif atau interpretif (Mulyana, 2001:59) Lebih lanjut Maurice Natanson mengatakan bahwa istilah fenomenologi dapat digunakan sebagai istilah generik untuk merujuk kepada semua pandangan ilmu sosial yang menempatkan kesadaran manusia dan makna subjektifnya sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial (lihat Mulyana, 2001: 20-21).

Sebagai suatu metode penelitian, fenomenologi, menurut Polkinghorne (Creswell,1998: 51-52) adalah:

(6)

“a phenomenological study describes the meaning of the lived experiences for several individuals about a concept or the phenomenon. Phenomenologist explore the structure of cosciousness in human experiences“.

Menurut Watt dan Berg (1995:417), fenomenologi tidak tertarik mengkaji aspek-aspek kausalitas dalam suatu peristiwa, tetapi berupaya memahami tentang bagaimana orang melakukan sesuatu pengalaman beserta makna pengalaman itu bagi dirinya.

Kuswarno (2009:36), lebih lanjut menggambarkan sifat dasar penelitian kualitatif, yang relevan menggambarkan posisi metodologis fenomenologi dan membedakannya dari penelitian kuantitatif:

a. Menggali nilai-nilai dalam pengalaman kehidupan manusia.

b. Fokus penelitian adalah pada keseluruhannya, bukan pada per bagian yang membentuk keseluruhan itu.

c. Tujuan penelitian adalah menemukan makna dan hakikat dari pengalaman, bukan sekedar mencari penjelasan atau mencari ukuran-ukuran dari realitas.

d. Memperoleh gambaran kehidupan dari sudut pandang orang pertama, melalui wawancara formal dan informal.

e. Data yang diperoleh adalah dasar bagi pengetahuan ilmiah untuk memahami perilaku manusia.

f. Pertanyaan yang dibuat merefleksikan kepentingan, keterlibatan dan komitmen pribadi dari peneliti.

g. Melihat pengalaman dan perilaku sebagai suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, baik itu kesatuan antara subjek dan objek, maupun antara bagian dari keseluruhan.

Fenomenologi berupaya mengungkapkan dan memahami realitas penelitian berdasarkan perspektif subjek penelitian. Seperti yang dikemukakan oleh Bogdan dan Taylor (1975:2):

“The fenomenologist is concerned with understanding human behavior from the actor’s own frame of reference”

Hal ini menuntut bersatunya subyek peneliti dengan subyek pendukung obyek penelitian. Keterlibatan subyek peneliti di lapangan menghayatinya menjadi salah satu ciri utama penelitian dengan pendekatan fenomenologi.

Fenomenologi yang digunakan dalam penelitian ini dalam perspektif Alfred Schutz yang lebih menekankan pada pentingnya intersubjektivitas. Inti dari fenomenologi Schutz adalah memandang bahwa pemahaman atas tindakan, ucapan, dan interaksi merupakan

(7)

prasyarat bagi eksistensi sosial apapun (Mulyana, 2001:62). Schutz (dalam Cresswell, 1998:53) menjelaskan bahwa fenomenologi mengkaji bagaimana anggota masyarakat menggambarkan dunia sehari-harinya, terutama bagaimana individu dengan kesadarannya membangun makna dari hasil interaksi dengan individu lainnya.

Aplikasi fenomenologi dalam ranah kualitatif secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut:

3.1. Fokus Penelitian

Penelitian fenomenologi pada hakekatnya adalah berhubungan dengan interpretasi terhadap realitas. Fenomenologi mencari jawaban tentang makna dari suatu fenomena. Pada dasarnya, ada dua hal utama yang menjadi fokus dalam penelitian fenomenologi yakni:

a. Textural description: apa yang dialami oleh subjek penelitian tentang sebuah fenomena. Apa yang dialami adalah aspek objektif, data yang yang bersifat faktual, hal yang terjadi secara empiris.

b. Structural description: bagaimana subjek mengalami dan memaknai pengalamannya. Deskripsi ini berisi aspek subjektif. Aspek ini menyangkut pendapat, penilaian, perasaan, harapan, serta respons subjektif lainnya dari subjek penelitian berkaitan dengan pengalamannya itu (Hasbiansyah. 2008:171).

3.2. Penentuan Informan dan lokasi penelitian

Penentuan informan dalam penelitian fenomenologi bergantung pada kapabilitas orang yang akan diwawancarai untuk dapat mengartikulasikannya pengalaman hidupnya (lihat Creswell, 1998:111-113). Lebih lanjut Creswell (1998:118) persyaratan informan yang baik adalah: “...all individuals studied represent people who have experienced the

phenomenon”.

Sedangkan lokasi penelitian bisa di suatu tempat tertentu atau tersebar, dengan memperhatikan individu yang akan dijadikan informan. Masalah jumlah bukanlah hal yang utama walaupun Creswell mengatakan bahwajumlah informan cukup sebanyak 10 orang

(8)

(Cresswell, 1998: 122), yang paling penting adalah terjadinya kejenuhan data (redudansi data).

3.3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data utama dalam studi fenomenologi adalah wawancara mendalam dengan informan untuk menguak arus kesadaran. Pada proses wawancara, pertanyaan yang diajukan tidak berstruktur, dan dalam suasana yang cair.Walaupun bisa diperdalam dengan menggunakan teknik lain seperti observasi partisipatif, penelusuran dokumen, dll.

3.4. Teknik Analisis data

Creswell (1998: 147-150), menjelaskan tentang teknik analisis data dalam kajian fenomenologi sebagai berikut:

a. Peneliti mendeskripsikan sepenuhnya fenomena/pengalaman yang dialami subjek penelitian.

b. Peneliti kemudian menemukan pernyataan (hasil wawancara) tentang bagaimana orang-orang menemukan topik, rinci pernyataan-pernyataan tersebut dan perlakuan setiap pernyataan memiliki nilai yang setara, kemudian rincian tersebut dikembangkan dengan tidak melakukan pengulangan.

c. Pernyataan-pernyataan tersebut kemudian dikelompokkan dalam unit-unit bermakna, peneliti merinci unit-unit tersebut dan menuliskan sebuah penjelasan teks tentang pengalaman yang disertai contoh dengan seksama.

d. Peneliti kemudian merefleksikan pemikirannya dengan menggunakan variasi imajinatif (imaginative variation) atau deskripsi struktural (structural description), mencari keseluruhan makna yang memungkinkan dan melalui perspektif yang divergen (divergent perspectives), mempertimbangkan kerangka rujukan atas gejala (phenomenon), dan mengkonstruksikan bagaimana gejala tersebut dialami.

e. Peneliti kemudian mengkonstruksi seluruh penjelasan tentang makna dan esensi pengalamannya.

(9)

f. Peneliti melaporkan hasil penelitiannya. Laporan tersebut menunjukkan adanya kesatuan makna berdasarkan pengalaman seluruh informan. Setelah itu, kemudian tulis deskripsi gabungannya.

Daftar Pustaka

Campbel, Tom. 1994. 1994. Tujuh Teori Sosial. Yogyakarta: Kanisius.

Creswell. 1998. Qualitative Inquiry: Choosing Among Five Traditions. USA: Sage Publications Inc

Driyarkara, N. 1962. Percikan Filsafat. Jakarta: PT. Pembangunan

Delfgaauw, Bernard. 1988. Filsafat Abad 20. Terj. Soejono Soemargono. Yogyakarta: Tiara wacana Yogya

Hasbiansyah. 2008. Pendekatan Fenomenologi: Penelitian dalam Ilmu Sosial dan Komunikasi. (Mediator vol 9 Nomor 1. Juni 2008)

Kuswarno, Engkus. 2009. Fenomenologi. Bandung: Widya Padjadjaran.

Littlejohn, Stephen W. 1996. Theories of Human Communication. Belmont: Thomson Learnig Academic Resource Center

Lubis, Akhyar Yusuf. 2004. Metodologi Posmodernis. Bogor: Akademia

Maliki, Zainuddin. 2003. Narasi Agung: Tiga Teori Sosial Hegemonik. Surabaya: PAM Moustakas, Clark. 1994. Phenomenological Research Methods. New Delhi: Sage

Publications

Mulyana, Deddy. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif, Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Schutz, Alfred. 1972. The Phenomenology of The Social World. London: Heinemann Educational Book

Suprayogo, Imam, dan Tobroni, 2001:Metodologi Penelitian Sosial-Agama. Bandung: Remaja Rosdakarya

Sunarto, Kamanto. 2000. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Wallace, Ruth A. & Alison Wolf. 1986. Contemporary Sociological Theory: Continuing

The Classical Tradition. New Jersey: Practice-Hall Englewood Cliff.

Watt, James H. dan Sjef A. Van den Berg. 1995. Research Methods for Communication Science. Boston: Allyn and Bacon

Referensi

Dokumen terkait