Abstrak
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui derajat stress kerja pada pekerja Pertamina Refinery Unit di Kota "X". Dalam penelitian ini, teknik pengambilan data yang digunakan adalah cluster sampling, artinya sampel yang diambil dalam jumlah besar dalam sebuah kelompok. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 265 dari 786 pekerja dengan jenis kelamin pria.
Alat ukur dalam penelitian ini dibuat menggunakan teori Fred Luthans (2011) dan dimodifikasi sesuai kebutuhan peneliti. Alat ukur ini terdiri dari 4 buah rancangan kuesioner, dimana Kuesioner I sebagai data utama dan Kuesioner II, III, dan IV menjadi data penunjang. Kuesioner I disusun berdasarkan dampak yang timbulkan akibat derajat stress berupa masalah fisik, psikologis, dan perilaku. Kuesioner II, III, dan IV disusun berdasarkan 4 stressors yang dikemukan oleh Luthans (2011) yaitu: Extra-organizational Stressors, Organizational Stressors, Group Stressors, dan Individual Stressors.
Validitas data diolah menggunakan uji Rank Spearman dan diperoleh hasil sebesar 43 item diterima dengan rentang validitas 0.333 hingga 0.637. Reliabilitas data diperoleh melalui koefisien Alpha Cronbach yang dihitung dengan bantuan program SPSS versi 17 sebesar 0.921. Berdasarkan pengolahan data secara statistika, maka diketahui derajat stress kerja pada pekerja Pertamina Refinery Unit di Kota "X" tergolong tinggi yaitu sebesar 67.5%.
Saran yang dapat diberikan kepada pihak perusahaan adalah perlunya memfasilitasi konseling dan pelatihan manajemen stress bagi pekerja, serta mengadakan sharing session secara berkala yang dihadiri pekerja dan supervisor agar pekerja mampu menyampaikan keluhan dan kesulitan di pekerjaan.
The research is conducted to determine the degree of work stress on Pertamina Refinery Unit workers in "X" City. In this research, using cluster sampling by means samples were taken in large numbers in a group. The researcher managed to gathered 265 male participants from 786 workers.
The researcher used questionnaire developed using Fred Luthans (2011) theory and modified as needs. The instrument consists 4 questionnaires, with First Questionnaires as the main data and the others as supporting data. The First Questionnaire is based on disorders that arise from degree of stress in form of physical, psychological, and behavioral problems. The Second, Third and Fourth Questionnaire are based on four stressors stated by Luthans (2011), namely: Extra-organizational Stressors, Organizational Stressors, Group Stressors and Individual Stressors.
The validity of the data is processed using Spearman's Rank Correlation and obtained 43 acceptable items with range 0.333 to 0.637. The Reliability is obtained through Cronbach's Coefficient Alpha (calculated with SPSS ver.17) and scored 0.921. Based on the statistical data processing, shown that 67.5% Pertamina Refinery Unit workers in "X" City were on high degree of work stress.
The suggestion can be given to the company was the need to facilitate counseling and stress management training for workers, as well as sharing sessions held regularly attended by workers and supervisors so that workers speak regarding troubles at work.
DAFTAR ISI
Halaman Judul ... i
Lembar Pengesahan ... ii
Pernyataan Orisinalitas Laporan ... iii
Pernyataan Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah ... iv
KATA PENGANTAR ... v
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR BAGAN ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ... 1
1.2. Identifikasi Masalah ... 11
1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian ... 11
1.3.1. Maksud Penelitian ... 11
1.3.2. Tujuan Penelitian ... 11
1.4. Kegunaan Penelitian ... 11
1.5. Kerangka Pemikiran ... 12
1.6. Asumsi Penelitian ... 22
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Stress Kerja ... 23
2.1.1. Pengertian Stress ... 23
2.1.2. Pengertian Stress Kerja ... 24
2.1.3. Penyebab Stress Kerja ... 25
2.1.4. Dampak Stress Kerja ... 33
2.1.5. Strategi Mengatasi Stress ... 36
2.2. Pengertian Organisasi ... 40
2.3. Pengertian Pekerja ... 41
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Rancangan Penelitian ... 42
3.2. Bagan Rancangan Penelitian ... 42
3.3. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 43
3.3.1. Variabel Penelitian ... 43
3.3.2. Definisi Operasional ... 43
3.4. Alat Ukur ... 44
3.4.1. Alat Ukur Kuesioner Stress Kerja ... 44
3.4.2.1. Sistem Skoring Kuesioner Stress Kerja ... 46
3.4.3. Data Pribadi dan Data Penunjang ... 47
3.4.3.1. Data Pribadi ... 47
3.4.3.2. Data Penunjang ... 47
3.4.3.2.1. Kuesioner II ... 47
3.4.3.2.2. Kuesioner III ... 48
3.4.3.2.3. Kuesioner IV ... 49
3.4.4. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ... 49
3.4.4.1. Validitas Alat Ukur ... 49
3.4.4.2. Reliabilitas Alat Ukur ... 50
3.5. Sampel Penelitian dan Teknik Sampling ... 52
3.5.1. Sasaran Sampel ... 52
3.5.2. Karateristik Sampel ... 52
3.5.3. Teknik Penarikan Sampel ... 52
3.6. Teknik Analisis Data ... 52
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Responden ... 54
4.1.1. Gambaran responden berdasarkan Section ... 54
4.1.2. Gambaran responden berdasarkan Usia ... 55
4.1.3. Gambaran responden berdasarkan Domisili ... 56
4.1.4. Gambaran responden berdasarkan Masa Kerja ... 56
4.2.1. Gambaran Derajat Stress Kerja Sampel Penelitian ... 58
4.2.2. Tabulasi Silang Derajat Stress Kerja dengan Gejala Stress Kerja ... 58
4.2.2.1. Tabulasi Silang Derajat Stress Kerja dengan Masalah Fisik ... 58
4.2.2.2. Tabulasi Silang Derajat Stress Kerja dengan Masalah Psikologis ... 59
4.2.2.3. Tabulasi Silang Derajat Stress Kerja dengan Masalah Perilaku ... 60
4.3. Pembahasan ... 62
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ... 75
5.2. Saran ... 76
5.2.1. Saran Teoritis ... 76
5.2.2. Saran Praktis ... 77
DAFTAR PUSTAKA ... 79
Daftar Rujukan ... 81
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1.Kisi-kisi Kuesioner Stress Kerja ... 45
Tabel 3.2. Kriteria Penilaian Kuesioner Stress Kerja ... 46
Tabel 3.3. Rentang Kategori Skor Stress Kerja ... 46
Tabel 3.4. Rentang Kategori Skor Personality Type ... 48
Tabel 3.5. Kisi-Kisi Kuesioner Produktivitas Kerja ... 48
Tabel 4.1. Frekuensi Section Responden ... 54
Tabel 4.2. Frekuensi Usia Responden ... 55
Tabel 4.3. Frekuensi Domisili Responden ... 56
Tabel 4.4. Frekuensi Masa Kerja Responden ... 56
Tabel 4.5. Frekuensi Pendidikan Responden ... 57
Tabel 4.6. Gambaran Derajat Stress Kerja ... 58
Tabel 4.7. Tabulasi Silang Derajat Stress Kerja dengan Masalah Fisik ... 59
Tabel 4.8. Tabulasi Silang Derajat Stress Kerja dengan Masalah Psikologis .. 60
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 01. Kuesioner Pengambilan Data ... 82
Lampiran 02. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ... 93
Lampiran 03. Hasil Pengolahan Data ... 98
Lampiran 04. Informed Consent ... 109
Lampiran 05. Profile Perusahaan ... 112
Lampiran 06. Struktur Organisasi ... 122
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
PT Pertamina (Persero) adalah sebuah BUMN yang bertugas mengelola
penambangan minyak dan gas bumi di Indonesia. Kegiatan Pertamina meliputi
eksplorasi dan produksi minyak, gas, dan panas bumi. PT Pertamina (Persero)
memiliki 6 kilang minyak yang tersebar di Indonesia yakni: di Plaju, Cilacap,
Balikpapan, Balongan, Kasim, dan di Kota "X". Dalam menjalankan
perusahaannya, PT Pertamina (Persero) dalam sistem keamanan dan keselamatan
memberlakukan penghargaan "Zero Incident". Penghargaan ini diberikan pada
Refinery Unit yang dalam satu tahun penuh tidak memiliki rekor kecelakan kerja baik dari tingkatan paling ringan hingga berat. Peneliti memilih melakukan
penelitian pada Pertamina Refinery Unit di Kota "X" dikarenakan hingga saat ini,
Refinery Unit ini belum mendapatkan penghargaan "Zero Incident" tersebut. Pertamina Refinery Unit di Kota "X" memiliki 7 bagian dalam pengoperasiannya, yakni Engineering and Development, Procurement, Reliability,
2
merupakan pekerja lapangan atau operator (termasuk di dalamnya mekanik,
inspektor, dan engineer). Menurut beliau, pekerja lapangan atau operator memegang peranan paling penting dalam jalannya perusahaan, dan pekerjaan
yang dilakukan tergolong berat. Pekerja lapangan terbagi dalam 3 bagian yaitu:
Engineering and Development, Reliability, dan Operation and Manufacturing. Perincian tersebut terbilang 58 pekerja bekerja di bagian Engineering and Development, 719 pekerja bekerja di bagian Operation and Manufacturing (Production) dan 9 pekerja bekerja di bagian Reliability (Sumber: Data Statistik
Pekerja Berdasarkan Golongan, 2011). Berdasarkan kebijaksanaan yang diberikan
oleh perusahaan, pekerja lapangan atau operator secara keseluruhan berjenis
kelamin pria. Perusahaan memberlakukan kebijakan tersebut dengan dasar
pertimbangan beroperasinya kilang minyak yang mengharapkan pekerja harus ada
dan siap panggil 24 jam (On Call 24 Hours).
Pekerja lapangan memiliki 3 shift jam kerja. Shift pertama dilakukan dimulai dari pukul 23.00 hingga pukul 07.00, kemudian shift kedua dimulai dari pukul 07.00 hingga pukul 15.00, dan shift ketiga dimulai dari pukul 15.00 hingga
pukul 23.00. Pekerjaan yang dilakukan pekerja meliputi pengecekan (inspeksi
lapangan khususnya pada equipments vital dan non-vital), pemeliharaan, dan perbaikan equipments serta pembuatan laporan mengenai keadaan equipments yang ada. Kedua hal tersebut dapat dilakukan secara berurutan maupun
sebaliknya, yakni dari inspeksi lapangan hingga pembuatan laporan keadaan
Tugas inspeksi ke lapangan berupa pengecekan, pemeliharaan, dan
perbaikan equipments merupakan tugas yang cukup berat, karena pekerja harus berada pada lingkungan penuh dengan gas-gas liar seperti metana, suhu yang
tinggi/panas, serta suara mesin. Kesalahan kecil pada saat inspeksi lapangan dapat
menimbulkan kebakaran ataupun lemasnya tubuh karena terlalu banyak
menghirup gas liar. Untuk itu setiap pekerja yang bekerja di lapangan dituntut
berdisplin tinggi, melaksanakan SOP (standard operational procedure) dengan teliti, serta kesigapan dan ketepatan dalam setiap tindakan dan keputusan.
Keterlambatan dalam tindakan dan pengambilan keputusan, merupakan
kesalahan fatal yang dalam hitungan detik saja akan mengakibatkan ledakan pada
peralatan ataupun instalasi lainnya. Padatnya jadwal kerja dan tugas di luar job description yang bersangkutan membuat pekerja kewalahan. Apalagi bagi mereka yang bekerja di bagian pengecekan kinerja equipments, mereka diharuskan melakukan pengecekan rutin. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir gangguan
teknis pada equipments. Kesalahan pada satu equipments mengakibatkan efek berantai pada equipments lain, yang dapat berdampak kerugian bagi perusahaan.
Inspeksi lapangan adalah pekerjaan yang bersifat rutin dan monoton.
Pekerjaan tersebut harus dilakukan dengan teliti mengingat dampaknya. Kondisi
ini adalah kondisi yang berat dan membosankan. Selain itu, pekerja juga
diharapkan bisa menguasai pekerjaan di luar job description yang dimiliki. Kondisi inilah yang menciptakan pekerja dengan peran ganda. Peran ganda yang
dimaksudkan adalah dimana seorang pekerja secara tidak langsung menjabat dan
4
diberikan Kepala bagian Human Resource, pekerja di bagian Operation and Manufacturing (Production) juga akan mengerjakan pekerjaan di bagian Engineering and Development ataupun di bagian Reliability. Ini membuat munculnya istilah seperti pekerja PE (Production and Engineering), PM
(Production and Maintenance), PR (Production and Reliability), dan sebagainya.
Berdasarkan wawancara kepada 15 pekerja Production and Engineering (PE) menyatakan bahwa pengecekan rutin dan berulang tersebut, membuat
mereka menjadi lengah dan hanya memperhatikan mesin secara keseluruhan dan
melupakan kondisi material kecil (seberapa erat putaran baut pada pipa atau
mesin) yang berakibat fatal. Kecelakaan kerja yang dapat terjadi antara lain
sengatan listrik, luka bakar, dan sebagainya. Hal ini disebabkan oleh kelalaian dan
ketidak hati-hatian pekerja ketika bekerja. Menurut mereka, kecelakaan kerja
dapat terjadi kapan saja, sehingga membuat pekerja harus selalu waspada.
Masalah kerja yang tergolong berat dihadapi pekerja adalah pada saat TA
berlangsung. TA (Turn Around), yaitu suatu kegiatan pemeliharaan yang berskala
besar, yang dilakukan secara berkala dimana pekerjaan yang dimaksud hanya
dapat dilaksanakan pada saat unit dalam keadaan tidak beroperasi. Berdasarkan
buku paduan perlaksaan TA, durasi TA tergantung dari kompleksitas pekerjaan
yang akan dilaksanakan, dan pelaksanaannya berkisar antara 15 hingga 32 hari
kalender. Menurut buku paduan, TA dijadwalkan minimal 3 tahun sekali, namun
pada kenyataannya terkadang setiap enam bulan sekali ada jadwal stop unit yang meskipun lingkup pekerjaannya tidak sebanyak TA, tetapi unsur perhatian dan
pekerja Production and Engineering (PE) mengatakan bahwa kondisi kerja pada saat TA, pekerja dituntut untuk bekerja over-time yaitu melebihi 12 jam per hari
dan kondisi ini cukup banyak mempengaruhi keadaan fisik dan mental.
Pekerja pada saat TA akan lebih banyak menghabiskan waktu di
lapangan, bahkan ada pekerja yang selama seminggu penuh tidak pulang ke
rumah dikarenakan begitu pentingnya TA. Pekerja akan melakukan semua
kegiatan kesehariannya di lapangan seperti makan dan tidur. Berdasarkan
wawancara yang dilakukan, khususnya pada pelaksanaan TA Oktober-November
2011 yang lalu, diperoleh informasi bahwa 10 hari sejak TA berlangsung, sudah
ada 20 pekerja yang masuk rumah sakit dan akan bertambah banyak selama
proses berlangsung. Berdasarkan pengalaman dari 15 pekerja PE yang
diwawancari, mereka mengalami gangguan tidur dan mudah marah karena harus
standby mengawasi kinerja kelompok dan mengejar deadline perbaikan mesin. Keadaan ini menyebabkan gangguan seperti sakit kepala, naiknya tekanan darah,
dan meningkatnya konsumsi rokok.
Kondisi pekerja lapangan (operator) dan TA yang telah dijelaskan di atas,
menurut Luthans (2011) merupakan kondisi yang menjadi stressors atau sumber stress bagi pekerja. Stressors tersebut akan dihayati pekerja dan berpengaruh pada derajat stress kerja. Luthans mendefinisikan stress kerja sebagai respon adaptif terhadap situasi eksternal yang memberikan pengaruh pada kondisi fisik,
psikologis dan atau penyimpangan tingkah laku pekerja. Dalam melaksanakan
tugas dan pemenuhan kewajibannya, seorang pekerja akan dipengaruhi oleh
6
dialami oleh pekerja yaitu Extra-organizational Stressors, Organizational Stressors, Group Stressors, dan Individual Stressors.
Sumber stress pertama yang akan dialami pekerja adalah Extra-organizational Stressors. Extra-organizational Stressors dapat berasal dari: societal/technological change, globalization, family, relocation, economic and financial conditions, race, and gender, dan residential/community condition.. Berdasarkan wawancara pada 10 pekerja PM (Production and Maintenance) dan
7 dari 15 pekerja PE (Production and Engineering), 6 dari 17 pekerja menyatakan
kesulitan dalam menyesuaikan diri di lingkungan perumahan yang berbeda
budaya dengannya. Mereka merasa sulit dan berinteraksi dengan penghuni
disekitar rumahnya yang kebetulan merupakan rekan kerja dalam bagian yang
sama. Selain itu mereka sangat tidak menyukai cara berkomunikasi dan pola
bertingkah lakunya (suku tertentu) dan merasa terganggu dengan kebiasaannya.
Kemudian 6 dari 17 menyatakan bahwa mereka merasa sulit dalam membagi
waktu bersama keluarga. Mereka harus mengerjakan laporan di rumah, dan
mengurangi waktu bersama istri dan anak. Ini membuat hubungan keluarga yang
menurutnya terkesan dingin. Sembilan dari tujuh belas lainnya mengalami
kesulitan ekonomi khususnya biaya hidup yang semakin mahal dan biaya
pendidikan anaknya.
dari 15 pekerja bagian Production and Engineering (PE), 13 pekerja menyatakan
bahwa mereka diminta melakukan tugas yang sebenarnya bukan menjadi
tanggung jawabnya dan atau tugas tersebut terkadang juga melampaui batas
kemampuan pekerja contohnya adalah pekerja dengan peran ganda. Pernyataan
lain yang diungkapkan, 10 dari 13 pekerja mengalami kesulitan dalam
melaksanakan instruksi dari atasan. Mereka memberi contoh seperti pemberian
pekerjaan yang harus dikerjakan dalam jangka waktu yang tidak realistis
(melanggar prosedur yang ada). 11 dari 15 pekerja lain merasa komunikasi antara
atasan dan bawahan tidak jelas dan terkadang terjadi kesalahan informasi yang
diedarkan. Sedangkan 5 dari 15 pekerja, mengatakan mereka merasa tertantang
dan menyenangi pekerjaannya. Mereka mengakui bahwa kebijakan perusahaan
banyak terdapat penyimpangan, akan tetapi itu membuat mereka untuk lebih aktif
mencari solusi permasalahan dan meningkatkan kinerjanya.
Sumber stress kerja ketiga berasal dari hubungan dengan rekan kerja atau disebut Group Stressors. Stress terjadi dikarenakan kurangnya cohesiveness dan social support dalam kelompok. Berdasarkan wawancara kepada 10 pekerja PM (Production and Maintenance), menyatakan bahwa kesulitan yang terjadi dalam
kelompok kerja terletak pada permasalahan senioritas. Pekerja yang telah bekerja
melebihi 5 tahun (senior) terlihat lebih memaksakan tugas-tugas kelompok pada
pekerja baru (junior). Ini menyebabkan kohesivitas dari kelompok pekerja
menjadi lemah. Pernyataan lain yang diperoleh dari 6 dari 10 pekerja dalam
8
yang diberikan oleh senior. Kedua pekerja tersebut menjelaskan bahwa itu sebagai
salah satu bentuk penyesuaian diri terhadap pekerjaan di luar tugas.
Sumber stress yang terakhir yaitu Individual Stressors, merupakan sumber
stress yang berasal dari individu itu sendiri. Individual Stressors melakukan penekanan pada predisposisi individu, seperti pada personality types, personal control, learned helplessness, dan psychological hardiness. Luthans (berdasarkan Friedman dan Rosenman) menyatakan terdapat 2 jenis personality types yaitu Type A Characteristics yang cenderung bekerja lebih cepat, ambisius, agresif dan bersaing, dan Type B Characteristics yang cenderung merasa rileks dan tenang serta dapat menguasai diri.
Personality types yang berbeda akan mempengaruhi potensi untuk stress yang berbeda pula. Berdasarkan wawancara pada 10 pekerja PM (Production and
Maintenance) dan 15 pekerja PE (Production and Engineering), 6 dari 25 pekerja, mengerjakan pekerjaan mereka dengan ketepatan dan kecepatan yang tinggi dan
lebih berorientasi pada menyelesaikan tugas tepat waktu. Akan tetapi mereka
mendapat kesulitan kondisi perusahaan yang memiliki prosedur panjang dan
struktur yang rigid, sehingga pekerja yang cenderung tidak ingin dan tidak mau mempermasalahkan prosedur yang menyimpang. Sedangkan, 7 lain menampilkan
perilaku santai dan lambat dalam bekerja. Pekerja tersebut terlihat lebih banyak
menghabiskan waktu berbicara daripada bekerja.
serupa bahwa mereka merasa pasrah atas perintah yang diberikan atasan. Mereka
mengatakan bahwa mereka tidak memiliki kemampuan untuk memberikan
masukan, berpendapat, menolak perintah yang diberikan. Tindakan ini jika
dilakukan akan mempengaruhi jenjang karier mereka.
Stressors yang telah disebutkan di atas dihayati pekerja dan memberi pengaruh pada kondisi fisik, masalah psikologis, dan penyimpangan perilaku.
Berdasarkan informasi yang diberikan oleh 25 pekerja mengenai masalah fisik, 10
diantaranya mengeluhkan sakit kepala saat bekerja, 5 pekerja mengeluhkan
gangguan pencernaan seperti kenaikan asam lambung (maag) dan sakit perut, 4
mengeluhkan sakit pada persendian dan punggung, 3 pekerja merasa kesulitan
mengambil nafas saat berhadapan dengan atasan, dan 3 pekerja lainnya
mengeluhkan turunnya imunitas tubuh menjelang dan setelah proses TA.
Pekerja Pertamina Refinery Unit di Kota "X" selain mengeluhkan masalah
fisik, mereka juga mengeluhkan masalah psikologis. Pekerja merasa diri mereka
sulit untuk mengontrol emosionalitasnya. Berdasarkan informasi yang diberikan
oleh 25 pekerja mengenai masalah psikologis, 7 pekerja merasa mudah marah
ketika berbicara dengan rekan lain saat rapat dan TA, 8 pekerja merasa cepat dan
tegang saat berhadapan dengan atasan dan menginspeksi mesin di lapangan, 6
pekerja merasa sulit berkonsentrasi dalam jangka waktu yang lama saat
memeriksa mesin dan membuat laporan pertanggungjawaban kerja, dan 4 pekerja
lainnya mengeluh bahwa pekerjaan yang dilakukan monoton dan membosankan.
Tidak terlepas dari masalah fisik dan psikologis, penyimpangan perilaku yang
10
Berdasarkan hasil wawancara kepada 25 pekerja mengenai penyimpangan
perilaku, 8 pekerja mengeluhkan hilangnya nafsu makan dan jam makan yang
tidak teratur, 5 pekerja mengeluhkan gangguan tidur seperti insomnia, 10 pekerja mengeluhkan peningkatan konsumsi rokok, dan 2 lainnya mengeluhkan enggan
masuk kerja setelah liburan.
Penghayatan pekerja terhadap lingkungan kerjanya menurut Luthans, akan
mempengaruhi tinggi rendahnya derajat stress pada pekerja. Semakin pekerja menghayati pekerjaannya sebagai hambatan, semakin tinggi pula derajat stress yang dialami. Begitu pula sebaliknya, bila pekerja menghayati pekerjaan mereka
sebagai tantangan, maka derajat stress yang dihayati merendah. Tinggi rendahnya
derajat stress tersebut akan memberi dampak pada fisik, psikologis dan tingkah laku pekerja itu sendiri. Berdasarkan keseluruhan wawancara dengan 25 pekerja
yang bekerja di Pertamina Refinery Unit di Kota "X", kebanyakan dari mereka merasa stress dengan pekerjaan mereka. Sebanyak 8% kurang cocok dengan kondisi lingkungan perumahan yang dia tempati, 33% mengatakan tidak
menyukai prosedur dan kebijakan perusahaan, 8% kurang menyukai perlakuan
dalam kelompoknya, dan 17% memiliki ketidakcocokan dengan fase kerja atasan.
Sedangkan 34% lain merasa tertantang dan menyukai pekerjaan mereka. Uraian di
atas mendasari ketertarikan peneliti untuk mengetahui lebih lanjut mengenai
1.2. Identifikasi Masalah
Dari penelitian ini ingin diketahui bagaimana derajat stress kerja pada Pekerja Pertamina Refinery Unit di Kota "X".
1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian
1.3.1. Maksud Penelitian
Maksud penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai
derajat stress pada Pekerja Pertamina Refinery Unit di Kota "X".
1.3.2. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran mengenai
derajat stress pada Pekerja Pertamina Refinery Unit di Kota "X" yang ditunjukkan melalui masalah fisik, psikologis, dan atau perilaku.
1.4. Kegunaan Penelitian
1.4.1. Kegunaan Teoritis
1. Memberi masukan bagi disiplin ilmu Psikologi, khususnya Psikologi
Industri dan Organisasi mengenai derajat stress pada Pekerja Pertamina Refinery Unit di Kota "X".
2. Memberi informasi dan menjadi referensi bagi peneliti lain yang hendak
12
1.4.2. Kegunaan Praktis
1. Memberi informasi bagi Human Resource Department Pertamina Refinery
Unit di Kota "X" untuk mengetahui sumber stressors (Extra-organizational Stressors, Organizational Stressors, Group Stressors, dan Individual Stressors) mana yang dihayati pekerja sebagai tekanan.
2. Memberi informasi bagi Human Resource Department Pertamina Refinery
Unit di Kota "X" mengenai dampak derajat stress yang ditimbulkan akibat tekanan yang dihayati pekerja.
3. Memberi informasi bagi pekerja Pertamina Refinery Unit di Kota "X" mengenai kondisi kerja yang terkait derajat stress kerja.
1.5. Kerangka Pemikiran
Luthans (2011) membagi empat sumber stress (stressors) dapat dialami pekerja yaitu Extra-organizational Stressors, Organizational Stressors, Group Stressors, dan Individual Stressors. Extra-organizational Stressors, merupakan sumber stress yang berasal dari luar organisasi. Adapun aspek dari stressor tersebut yaitu societal/technological change, globalization, the family, relocation,
economic and financial, race and class, and residential or community condition. Perubahan dalam teknologi (technological change) dapat mempengaruhi fase
kerja dari pekerja. Pekerja belum terbiasa dengan modernisasi dalam era
globalisasi (globalization) ini akan mengalami kesulitan dalam mengikuti
perkembangan tersebut terutama pada pekerja-pekerja yang tergolong senior.
dapat mengalami stress dari keluarga. Pekerja Pertamina bekerja, juga akan berhadapan dengan kondisi keluarga (the family) yang berubah-ubah setiap saat.
Pembagian waktu antara pekerjaan dan keluarga akan menjadi stressor jika tidak seimbang. Kemudian, perpindahan (relocation) atau alokasi keluarga pada
komunitas baru dapat menimbulkan masalah baru, seperti ketidakcocokan antar
ras ataupun kesulitan dalam mengikuti kebudayaan setempat.
Aspek economic and financial akan menjadi masalah seiring pertambahan
anggota keluarga atau naiknya biaya hidup. Meskipun PT Pertamina (Persero)
memberi fasilitas kepada pekerjanya berupa rumah beserta isinya di dalam
kompleks perumahan Pertamina, kendaraan pribadi, tunjangan pendidikan bagi
pekerja beserta anak pekerja, jaminan kesehatan, dan tunjangan pensiun yang
besar. Pekerja menjalankan perannya sebagai orang tua, tentu ingin anak-anak
mereka mendapat pendidikan yang lebih baik, ini menjadi permasalahan dalam
keuangan. Kompleks perumahan Pertamina terdiri dari hampir beragam ras, suku,
dan agama di Indonesia. Ini menjadi permasalahan pada pekerja yang memiliki
ketidakcocokan pada ras/suku/agama tertentu. Ketidakcocokan ini mempengaruhi
pola perilaku pekerja terhadap ras/suku/agama yang bersangkutan.
Sumber stress kedua yaitu Organizational Stressors. Ini adalah Stressors yang berasal dari dalam organisasi itu sendiri. Organizational Stressors memiliki
empat aspek yakni: administrative policies and strategies, organizational structure and design, organizational processes, dan working condition. Pada keempat aspek dari masing-masing memiliki dimensi lagi. Penghayatan pekerja
14
stressnya. Pada administrative policies and strategies, terdapat 2 dimensi yang sering dialami pekerja Pertamina, yakni bureaucratic rules dan advanced technology.
Pada bureaucratic rules, pekerja sering merasa perintah yang diberikan atasan tidak sesuai SOP (standard operational procedure). Pekerja harus melaksanakannya meskipun perintah yang berikan sering menyimpang dari SOP yang ada. Pekerja tidak bebas mengutarakan pendapatnya dalam forum terbuka,
meskipun pendapat tersebut akan memberikan kontribusi pada perusahaan.
Pengutaraan tersebut dipandang atasan sebagai bentuk perlawanan terhadap aturan
yang telah ada. Prosedur perusahaan yang rigid dan kaku, membuat pekerja kesulitan dalam melakukan pekerjaan mereka, terlebih lagi dalam pelaksanaannya
banyak terdapat penyimpangan. Ini membuat pekerja menjadi stress dan mulai tidak menyukai prosedur perusahaan. Advanced technology pada peralatan dan alat bantu mesin lain menimbulkan kesulitan pada pekerja lama yang terbiasa
dengan kinerja sebelumnya. Ini membuat mereka sulit mengikuti perkembangan
dan seringkali menjadi masalah yang dapat menurunkan produktivitas kerja.
Aspek kedua merupakan organizational structure and design, pada aspek ini dimensi yang sering mempengaruhi pekerja adalah line-staff conflicts,
specialization, role ambiguity and conflict, dan no opportunity for advancement. Line-staff conflict biasanya terjadi karena perbedaan golongan dan atau senioritas. Pekerja senior dan atau golongan yang lebih tinggi terkadang memaksakan
pekerjaan mereka pada pekerja yang berada di bawah. Ini yang menjadi salah satu
Line-staff conflict juga terkadang diwarnai dengan masalah perbedaan suku, pekerja dengan jabatan tertentu akan lebih memilih menyerahkan proyek
pada pekerja yang sesuku dengannya daripada yang berbeda suku. Kedua kondisi
diatas menyebabkan penyimpangan prosedural mulai terjadi. Selain itu,
specialization menjadi permasalahan yang cukup berpengaruh dalam pekerja Pertamina. Pekerja dengan latar belakang pendidikan yang berbeda, diharuskan
bisa menguasai bidang pekerjaan tersebut. Ini akan memberi dampak dimana
pekerja akan cenderung menjadi pasrah dalam mengerjakan pekerjaan tersebut
apa adanya, atau menjadi lebih aktif untuk menguasai bidang tersebut.
Terkait dengan masalah specialization, maka muncul role ambiguity and conflict dimana pekerja kebingungan akan perannya. Pekerja tidak menguasai bidang pekerjaan tersebut karena bukan spesialisasinya dan atasan tidak
mempertimbangkan masalah, ini memicu munculnya muncul role ambiguity and
conflict. Peran yang dimainkan pekerja menjadi tidak jelas, ini membuat produktivitas yang dikeluarkannya menjadi tidak maksimal. Tinggi rendahnya
produktivitas tersebut akan mempengaruhi penilaian kerja yang diberikan oleh
supervisor. Penilaian (point) akan menentuan kenaikan golongan dan jabatan dari
pekerja yang bersangkutan. No opportunity for advancement selain terkait dengan
penilaian kinerja, ini juga dipengaruhi oleh faktor ras, agama, dan jenis
pekerjaannya.
16
atasan bersifat downward dan pekerja hanya melaksanakan perintah atasan tanpa dapat berargumentasi mengenai perintah yang menyimpang. Selain itu, feed-back pekerjaan yang dilakukan jarang dilakukan, ini menyebabkan terjadi
kesalahan-kesalahan dalam prosedur pekerjaan, dan sering kali terkesan tidak bertanggung
jawab. Pembuatan keputusan (decision making ) hanya dilakukan satu pihak saja,
membuat pekerja lain yang terlibat menjadi pasif dalam berpartisipasi (lack of
participation). Jika pekerja melakukan masukan atau menolak keputusan yang dibuat, maka mereka dicap sebagai penghambat dalam keberhasilan bersama.
Working condition merupakan masalah yang tampak jelas dalam Pertamina Refinery Unit di Kota "X". Working condition terkait didalamnya dimensi noise, heat, and cold, polluted air, strong odor, toxic chemicals or radiation, unsafe, dangerous conditions, dan physical or mental strain. Kondisi lingkungan kilang minyak penuh dengan suara keras dari mesin yang beroperasi,
suhu panas/tinggi, bau-bau campuran kimia maupun gas-gas hasil pengolahan
minyak yang beracun jika terlalu lama dihirup, dan radiasi panas dari mesin dan
kilang yang beroperasi. Kondisi yang disebutkan diatas merupakan kondisi yang
setiap hari dihadapi pekerja lapangan/operator. Meskipun dengan perlengkapan
keselamatan yang telah disediakan, tetap saja kondisi tersebut memberikan
penghayatan yang berbeda pada pekerja. Ini memberi tekanan pada fisik maupun
mental dari pekerja itu sendiri.
support. Pekerja akan merasa lebih baik bila sesama pekerja dalam kelompoknya dapat bekerja sama dan saling berbagi masalah. Akan tetapi kondisi ini sedikit
sulit untuk terbentuk karena permasalahan senioritas tersebut. Kondisi ini
mempengaruhi produktivitas pekerja.
Sumber stress yang keempat yaitu Individual Stressors, merupakan sumber stress yang berasal dari individu itu sendiri. Pada stressors ini memiliki 4 aspek berdasarkan predisposisi individu yakni: personality types, personal control, learned helplessness, dan psychological hardiness. Luthans (2011) membagi tipe kepribadian pekerja menjadi dua (Friedman dan Rosenman, 1974)
yaitu Type A dan Type B. Pekerja dengan Type A Characteristics cenderung lebih
mudah mengalami stress kerja.
Pekerja dengan Type A memiliki sifat agresif, ambisius, bersaing, berorientasi pada pekerjaan. Pekerja ini cenderung bekerja dalam waktu lama, dan
berusaha bersaing atau melampaui hasil pekerjaan yang telah mereka keluarkan
sekarang. Mereka mudah mengalami kesulitan dalam pekerjaannya dan sering
merasa kesal dengan hasil pekerjaan orang lain. Sedangkan pekerja dengan Type B tidak merasakan tekanan konflik, baik dengan orang atau waktu, merasa tenang atau rileks, sabar, mantap dan dapat menguasai diri. Mereka tidak ambisius dan
mengerjakan pekerjaan mereka dengan pelan dan santai, sehingga performa yang
diberikan terkadang kurang memuaskan.
Personal control, merupakan kemampuan pekerja dalam menguasai dan memegang kendali dari kondisi lingkungannya. Menurut Luthans (2011),
18
sangat mempengaruhi tingkat dari stress yang dimiliki. Pekerja yang memiliki kontrol terhadap lingkungannya seperti berpartisipasi dalam pembuatan
keputusan, dapat mengurangi derajat stress. Akan tetapi situasi tersebut sedikit sulit terjadi bagi pekerja lapangan. Pekerja lapangan lebih banyak terlibat dalam
pengoperasian mesin (operator), dan hanya pada jabatan tertentu seorang pekerja
lapangan dapat terlibat dalam pengambilan keputusan. Ini membuat pekerja
lapangan dengan golongan lebih rendah kurang memiliki kontrol situasi
pekerjaannya.
Learned Helplessness adalah suatu kondisi dimana pekerja memiliki perasaan pasrah terhadap situasi pekerjaannya. Pekerja akan berusaha menerima
kondisi yang dimilikinya dan tidak melakukan perlawanan terhadap stressors lingkungan. Learned Helplessness memiliki keterkaitan dengan Personal Control,
dimana Learned Helplessness akan mempengaruhi Personal Control dalam peningkatan derajat stress. Pekerja yang pasrah akan lingkungan pekerjaan mereka dapat disebabkan oleh kurangnya kontrol terhadap lingkungan. Pekerja
yang berada dalam kondisi pekerjaan yang penuh dengan stressors, akan membuat
pekerja masuk ke dalam fase bertahan (enduring) dan berusaha menyesuaikan diri
terhadap permintaan lingkungan. Seiring pekerja berada dalam fase bertahan,
maka derajat stress cenderung meningkat.
Psychological Hardiness merupakan predisposisi pekerja untuk bertahan
pada situasi yang menekan. Pekerja dengan presdiposisi 'hardiness' mampu bertahan dan menguasi kondisi lingkungan. Kemampuan ini akan mengurangi
sebagai situasi yang menantang. Akan tetapi pekerja yang tidak memiliki
'hardiness' akan menghayati lingkungan sebagai kondisi yang menyiksa, ini akan menimbulkan derajat stress.
Penghayatan (cognitive appraisal) memiliki fungsi penting dalam
penentuan tinggi rendahnya derajat stress pekerja. Penghayatan pekerja terhadap stressors yang disebutkan di atas akan mempengaruhi derajat stress kerja pekerja. Jika pekerja menghayati stressors yang disebutkan sebagai menghambat, ini akan
mempengaruhi naiknya derajat stress tersebut. Sebaliknya jika pekerja menghayati stressors tersebut sebagai tantangan, ini akan menurunkan derajat stress kerja.
Tingginya dejarat stress kerja dikarenakan penghayatan pekerja dapat menimbulkan dampak-dampak, yaitu gangguan kondisi kesehatan fisik, gangguan
kondisi psikologis, dan gangguan tingkah laku (Luthans, 2011). Gangguan
kesehatan fisik dapat terlihat dari munculnya gangguan pada sistem kekebalan
tubuh, tubuh akan mengalami kesulitan untuk melawan atau menangkal penyakit
dan infeksi. Selain itu adanya gangguan sistem kardiovaskular (tekanan darah
tinggi dan penyakit jantung) dan sistem musculosketal (sakit kepala atau migrain)
dan yang terakhir adalah masalah sistem pencernaan (diare, maag, sembelit).
Gangguan psikologis dapat terlihat dari adanya gangguan-gangguan pada
kondisi psikologis seperti kemarahan, kecemasan, depresi, dan bosan. Masalah
psikologis yang berasal dari stress dapat dilihat dari buruknya performa kerja, kurang percaya diri, menolak untuk diawasi, tidak dapat berkonsentrasi dalam
20
kebanyakan pekerja yang cenderung merasa bosan terhadap pekerjaannya. Mereka
menyatakan bahwa setiap hari harus menghadapi pekerjaan yang sama dengan
jumlah pekerjaan yang sama banyaknya.
Gangguan tingkah laku dapat terlihat dari sulit makan atau sebaliknya
makan berlebihan, tidak bisa tidur, banyak merokok, mengkonsumsi obat-obatan
dan alkohol. Stress pada tingkah laku terlihat seperti datang terlambat ke tempat kerja, tidak masuk kerja, keluar dari pekerjaan, diam di rumah, menghindari
pekerjaan, mengerjakan hal lain pada jam kerja, marah-marah atau menjadi
agresif.
Konsekuensi dari semua hal diatas adalah tingkat stress kerja kerja pada pekerja Pertamina Refinery Unit di Kota "X" dapat dikatakan tinggi atau rendah.
Tingkat stress kerja dikatakan tinggi apabila pekerja Pertamina Refinery Unit di Kota "X" dalam menanggapi dan menghayati adanya masalah-masalah akibat
stress kerja secara fisik, psikologis, dan atau perilaku. Sedangkan tingkat stress kerja dapat dikatakan rendah bila individu dalam menanggapi situasi pekerjaan
jarang atau bahkan tidak merasakan masalah-masalah seperti gangguan fisik,
psikologis dan tingkah laku yang diakibatkan oleh stress kerja.
Melalui penelitian ini, peneliti ingin melihat bagaimana tingkat stress kerja
pada pekerja Pertamina Refinery Unit di Kota "X" yang dapat digambarkan dalam
Bagan 1.5. Bagan Kerangka Pikir Dampak:
- Gangguan Fisik
- Gangguan Psikologis
- Gangguan Tingkah laku Derajat
Stress Kerja
Bagian Engineering and Development Bagian Reliability Bagian Operation &
Manufacturing Pekerja Petamina RU
di Kota "X"
Penghayatan
(Cognitive
Appraisal)
Tinggi
Rendah Stressors:
- Extraorganizational - Organizational - Group
22
1.6. Asumsi Penelitian
1. Pekerja Pertamina Refinery Unit di Kota "X akan menunjukkan intensitas gangguan pada fisik, psikologis, dan tingkah laku yang dipengaruhi oleh
derajat stress yang dihayati pekerja dalam jangka waktu lama.
2. Stress kerja pekerja Pertamina Refinery Unit di Kota "X" dipengaruhi oleh Extraorganizational Stressors, Organizational Stressors, Group Stressors, dan Individual Stressors.
3. Stress kerja yang dialami oleh pekerja Pertamina Refinery Unit di Kota "X berbeda, tergantung pada penghayatan pekerja tersebut.
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Pada bab ini jika meruju kembali hasil pengolahan data dan pembahasan
pada bab IV, maka dapat ditarik kesimpulan mengenai derajat stress kerja pada
pekerja Pertamina Refinery Unit di Kota "X" sebagai berikut:
1. Pekerja Pertamina Refinery Unit di Kota "X" sebagian besar memiliki derajat
stress kerja yang tergolong tinggi.
2. Pekerja Pertamina Refinery Unit di Kota "X" sebagian mengalami masalah
fisik berupa sakit punggung, tubuh tidak bertenaga, sakit kepala, dan
gangguan pencernaan.
3. Pekerja dengan derajat stress kerja tinggi sebagian besar mengalami masalah
psikologis berupa mengkhawatirkan kondisi kerja, tertekan dalam mengejar
deadline, dan kurang nyaman dengan perlakuan atasan/rekan/bawahan.
4. Pekerja dengan derajat stress kerja tinggi sebagian besar menunjukkan
masalah perilaku dengan intensitas tinggi berupa gangguan makan dan tidur,
dan bertambahnya konsumsi rokok.
5. Organizational Stressors berupa ketidakmampuan pekerja untuk menyuarakan
keluhan merupakan stressor paling berpengaruh pada masalah fisik,
psikologis dan perilaku pekerja Pertamina Refinery Unit dalam menghadapi
76
6. Extra-organizational Stressors berupa kondisi finansial/keuangan
berpengaruh kuat pada derajat stress kerja pekerja Pertamina Refinery Unit
terutama pada pekerja yang memasuki tahap pensiun.
7. Group Stressors berupa kurangnya dukungan dari rekan kerja dalam
menyelesaikan pekerjaan yang sulit berpengaruh kuat pada derajat stress kerja
pekerja.
8. Individual Stressors dalam hal ini Psychological Hardiness mempengaruhi
derajat stress kerja pekerja Pertamina Refinery Unit di Kota "X". Pekerja
Pertamina yang "hardy" cenderung memiliki derajat stress kerja yang
tergolong tinggi. Hal ini disebabkan oleh persepsi pekerja terhadap
tanggungjawab dan lingkungan kerjanya. Akan tetapi, pekerja dengan "hardy"
memiliki masalah fisik yang rendah. Hal ini dikarenakan pekerja mampu
menggunakan aspek positif dari dalam dirinya (efficacy, harapan, optimisme,
resiliensi, dan psychological capital) dalam mengatasi stressor saat bekerja,
dan mengganggap stressor tersebut sebagai suatu tantangan bukan hal yang
menekan.
5.2 Saran
5.2.1 Saran Teoritis
1. Dalam memperkaya ilmu psikologi khususnya bidang industri dan
organisasi, dapat dilakukan penelitian mengenai kontribusi
faktor-faktor penyebab stress kerja terhadap derajat stress kerja pekerja
psikologis, dan perlaku yang ditimbulkan oleh Organizational
Stressors.
2. Kepada peneliti yang tertarik untuk meneliti pekerja Pertamina
Refinery Unit secara umum dan pekerja Pertamina Refinery Unit di
Kota "X" secara khusus, diharapkan mengembangkan penelitian terkait
Psychological Hardiness (Kobasa, 1979, 1982) dengan ketiga
komponennya (control, commitment, dan challenge).
3. Kepada peneliti yang tertarik untuk meneliti pekerja Pertamina
Refinery Unit secara umum dan pekerja Pertamina Refinery Unit di
Kota "X" secara khusus, diharapkan melakukan variabel penelitian
terkait self-efficacy, optimisme, dan resiliensi.
5.2.2 Saran Praktis
1. Bagi pihak perusahaan disarankan untuk memfasilitasi konseling dan
pelatihan manajemen kinerja bagi pekerja yang masalah pribadi dan
kesulitan pengaturan kinerja untuk meningkatkan produktivitas
pekerja.
2. Bagi pihak perusahaan disarankan untuk mengadakan sharing session
secara berkala yang dihadiri pekerja dan supervisor agar pekerja
mampu menyampaikan keluhan dan kesulitan di pekerjaan dalam
rangka menurunkan stressor.
3. Bagi pihak perusahaan disarankan untuk mengadakan program acara
78
senam pagi), untuk menciptakan kohesivitas kelompok yang solid
antar pekerja Pertamina Refinery Unit dalam rangka menurunkan
Apprenticeship and Traineeship Act 2001. 2010. New South Wales: LW Publisher.
Bernard, S. Rosenblatt, Robert L. Bonnington, & Belverd E. Needles. 1977.
Modern business: a systems approach. Boston: Houghton Mifflin.
Butterfield, Jeremy. 2003. Collins English Dictionary: Business/Industrial
Relations & HR Terms. New York: HarperCollins Publishers.
Effendy, Onong Uchjana., 1985. Psikologi Manajemen. Bandung: Penerbit Alumni.
Gibson, James L., Ivancevich John L., & Donnely, Jr. James H. 1994.
Organizations: Behavior, Structure, Processes. United State : McGraw Hill
Higher Education.
Graziano, Anthony M. 2000. Research Methods: A Process of Inquiry 4 th
edition. Boston: Allyn and Bacon Publisher.
Gulo, W. 2002. Metode Penelitian. Jakarta : Gransido.
Kobasa, S. C. 1979. Stressful life events, personality, and health – Inquiry into hardiness. Journal of Personality and Social Psychology 37 (1): 1–11. (Online).
Kobasa, S. C., Maddi, S. R., & Kahn, S. 1982. Hardiness and health: A prospective study. Journal of Personality and Social Psychology 42 (1): 168–177. (Online).
Luthans, Fred. 2006. Perilaku Organisasi (terjemahan Vivin Andika et. al). Yogyakarta: Penerbit Andi.
Luthans, Fred. 2011. Organizational Behavior: An Evidence Based Approach. Edisi Duabelas. New York : McGraw Hill.
Newstrom, John W., & Davis Keith. 1985. Human Behavior at Work:
Organizational Behavior. Edisi Tujuh. New York : McGraw-Hill.
Publication Manual of the American Psychological Association, 6th ed. 2010.
Washington, DC: American Psychological Association.
80
Robbins, Stephen P. 2010. Organizational Behavior. Edisi Sepuluh, Jilid 2. New Jersey : Pearson Education International.
Schultz, Duane P., & Schultz, S. E. 1994. Psychology and Work Today: An
Introduction to Industrial and Organizational Psychology. New York:
Macmillan Publishing Company.
Siegel, Sidney. 1997. Statistik Non Parametrik Untuk Ilmu-ilmu Sosial. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Daftar Rujukan
Ayuningtyas, Putri, 2006. Studi Deskriptif Mengenai Tingkat Stres kerja Pada Manajer Menengah Atas Dalam Menjalankan Persiapan Pensium di
Kantor Pusat PT "X" Bandung. Skripsi. Bandung: Fakultas Psikologi
Universitas Kristen Maranatha
Novena, Angela Kewas. 2009. Studi Deskriptif Mengenai Tingkat Stres kerja
Pada Karyawan Garmen Bagian Produksi PT "X" Di Bandung. Skripsi.
Bandung: Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha
Tyas, Hilda Ayuning, 2012. Studi Deskriptif Mengenai Tingkat Stres Kerja
Karyawan Divisi Regional Fault Monitoring PT "X" Kota Tangerang.