• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Penelitian ini akan membahas mengenai penyelesaian konflik yang terjadi antara Thailand dengan Kamboja. Konflik yang terjadi antara Thailand dan Kamboja dimulai karena adanya perebutan atas wilayah Kuil Preah Vihear.1 Wilayah kuil ini ini berbatasan langsung dengan bagian timur laut Thailand yakni Sisaket. Kuil ini merupakan tempat penting baik bagi warga Thailand maupun warga Kamboja. Hal ini dikarenakan mereka mensucikan dan melakukan ibadah keagamaan di kuil tersebut terutama bagi umat Hindu dan Budha.2 Kedua negara yakni Thailand dan Kamboja memperebutkan wilayah ini sebagai daerahnya masing-masing.3

Kamboja mengklaim kuil tersebut sudah ada dalam peta wilayah Kamboja sejak 1970-an, sementara Thailand mengklaim bahwasanya kuil tersebut sudah berada di wilayah kekuasaan Thailand sejak 1940-an. Kuil Preah Vihear diperebutkan pertama kali di tahun 1954, dimana pada saat itu Perancis menarik diri dari Kamboja.4 Sebelumnya wilayah kuil tersebut masuk ke dalam wilayah jajahan Perancis karena Perancis menduduki wilayah tersebut dan Kamboja semenjak tahun 1863 hingga 1953.5 Pada tahun 1954 Thailand berusaha menduduki wilayah kuil Preah Vihear dengan dasar bahwa daerah kuil tersebut adaah wilayah Thailand sesuai dengan peta tahun 1904 yang dimana wilayah kuil Preah Vihear masuk kedalam wilayah kedaulatan Thailand.6

1 Seruni. The Role of Indonesia as a Mediator in The Border Disputes Between Thailand and Cambodia during Indonesia’s Chairmanship in ASEAN 2011. UIN Jakarta. 2013.

2 Met Chandra. Upaya dan Hambatan Indonesia sebagai Ketua ASEAN Meredakan Ketegangan antar Kamboja dengan Thailand dalam Konflik Perebutan Kuil Preah Vihear. Universitas Jember.

2016.

3 Ibid.

4 Ibid.

5 Ibid.

6 Ibid.

(2)

Kamboja dilain sisi merasa bahwa tindakan tersebut merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan negaranya. Maka dari itu, di tahun 1959 Kamboja melaporkan permasalahan ini ke ICJ atau International Court of Justice.7 Dan pada 1962 ICJ memutuskan bahwa kuil tersebut milik dan masuk ke wilayah Kamboja.8 Konflik masih terus berlanjut dikarenakan Thailand konsisten mengklaim bahwa wilayah kuil tersebut adalah milik Thailand dan bukan milik Kamboja yang berdasarkan pada peta wilayah Thailand pada tahun 1940-an. Selain kuil tersebut, Thailand juga mengklaim wilayah yang mengelilingi kuil tersebut sebesar 4.6 km2 yang mana, pada waktu dibuatnya keputusan ICJ di tahun 1962 wilayah tersebut tidak termasuk didalamnya.9

Sengketa atau konflik wilayah perbatasan yang terjadi antara Kamboja dan Thailand di wilayah Kuil Preah Vihear telah berlangsung sejak lama. Kejadian penembakan di atas sebenarnya merupakan akumulasi dari beberapa peristiwa bulan sebelumnya. Pada tahun 2008, Kamboja mendaftarkan Kuil Preah Vihear ke UNESCO sebagai warisan dunia atau world heritage. Selanjutnya, pada tanggal 7 Juli 2008 UNESCO (United Nations Economic, Social and Cultural Organization) resmi memasukkan Kuil Preah Vihear kedalam daftar warisan dunia (World Heritage List).10 Hal ini juga menandai bahwasanya kuil ini resmi diakui sebagai warisan dunia yang berada di wilayah Kamboja.11

Langkah ini nampaknya menjadi salah satu hal yang memicu pemerintah Thailand semakin marah. Adanya pengakuan dari UNESCO ini menjadi salah satu alasan dibalik terjadinya pengiriman militer Thailand ke wilayah kuil Preah

7 International Court of Justice. Temple of Preah Vihear Cambodia v. Thailand. ICJ. Diakses dari:

https://www.icj-cij.org/en/case/45. Pada tanggal 15/11/2021 01:23 WIB

8 Ibid.

9 Lenne Breuker. The Preah Vihear Disputes Invisible Challenge. Diakses dari:

https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/40652/1/SERUNI%20-%20FISIP.pdf..

Pada tanggal 15/11/2021 00:23 WIB

10 Okki Ayu Oktria. Kebijakan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra terhadap Sengketa Kuil Preah Vihear antara Thailand dan Kamboja. Universitas Airlangga. 2013. Diakses

dari:https://repository.unair.ac.id/view/creators/OKKI_AYU_OKTRIA=3A070912066=3A=3A.ht ml. Pada tanggal 15/11/2021 01:20 WIB

11 Ibid.

(3)

Vihear.12 Di mulai dari tanggal 15 Juli 2008 militer mulai memasuki wilayah Kamboja di dekat kuil tersebut.13 Militer Thailand semakin banyak dikerahkan untuk memasuki wilayah Keo Sikha Kiri Svara Pagoda pada tanggal 21 Juli 2008.14 Keadaan memanas tepatnya pada tanggal 7 Oktober 2008, dimana pada saat itu 2 orang anggota militer Thailand terluka akibat terkena ranjau darat di sekitar Kuil Preah Vihear.15 Karena kejadian ini, pemerintah Thailand mengutarakan bahwasanya pemerintah Kamboja secara sengaja memasang ranjau di wilayah yang sedang disengketakan.16 Pemerintah Kamboja langsung membantah pernyataan yang dikeluarkan oleh pemerintah Thailand, dimana menurut pemerintah Kamboja ranjau-ranjau tersebut merupakan sisa persenjataan dari konflik tiga faksi yang terjadi di Kamboja.17 Karena semakin memanasnya hubungan kedua negara ini, membuat konflik bersenjata dan berdarah pun tidak dapat dihindarkan lagi.

Konflik yang terjadi masih terus berlanjut sejak tahun 2008 hingga tahun 2011 dimana, ini menyebabkan hubungan antara Thailand-Kamboja terus menerus memburuk. Kedua negara pernah saling mencoba mengirim diplomat-diplomat guna menyelesaikan konflik ini, selain itu para pemimpin mereka saling menyerang dengan kata-kata, warga dari masing-masing wilayah ditangkap karena dianggap sebagai mata-mata, hingga masing-masing militer dari negara-negara tersebut saling menjaga ketat wilayah kuil itu.18

Thailand dan Kamboja sebelumnya sudah melakukan berbagai upaya penyelesaian konflik. Hal ini bisa dilihat dari surat yang dikeluarkan oleh Perdana Menteri Hun Sen pada tanggal 17 Juli 2008, yakni ia meminta kepada Perdana Menteri Samak Suntaravei untuk segera menarik mundur para tentara dari wilayah

12 Ibid.

13 Ibid.

14 Ibid.

15 Ibid.

16 Ibid.

17Ibid.

18 Seruni. The Role of Indonesia as a Mediator in The Border Disputes Between Thailand and Cambodia during Indonesia’s Chairmanship in ASEAN 2011. UIN Jakarta. 2013. Diakses dari:

https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/40652. Pada tanggal 12/11/2021

(4)

disekitar Kuil Preah Vihear, demi mengurangi ketegangan di wilayah perbatasan.19 Dalam balasannya, Perdana Menteri Samak Suntaravej menanggapi hal ini secara baik dimana ia, melalukan penjadwalan untuk dilakuakannya Thailand-Kamboja General Border Committee (GBC) di tanggal 21 Juli 2008.20 Selain itu, Perdana Menteri Samak Suntaravej dalam balasan terhadap permintaan Perdana Menteri Hun Sen menyatkan bahwa area disekitar Kuil Preah Vihear merupakan wilayah yang berada dalam kedaulatan teritorial kerajaan Thailand, dimana justru Kamboja lah yang sudah melakukan pelanggaran atas kedaulatan dan integritas wilayah Thailand.21 Karena hal ini, Perdana Menteri Kamboja saat itu yakni Perdana Menteri Mun Sen kembali menjawab bahwasanya ia menyambut baik pertemuan Thailand-Kamboja General Border Committee (GBC), namun ia tetap bersikukuh bahwasanya Kamboja lah yang memiliki wilayah tersebut, hal iini didasari atas “ Annex I Map’’ yang menjadi dasar yang digunakan oleh Mahkamah Internasional (International Court of Justice), dimana pada tahun 1962 dalam menyelesaikan sengketa perbatasan ini, diputuskan bahwa Preah Vihear Pagoda berada pada jarak 700 meter di dalam wilayah teritorial kerajaan Kamboja.22

Dari pernyataan-pernyataan diatas dapat dilihat bahwasanya kedua negara tidak memiliki satu pemahaman atau berbeda pemahaman atas Keputusan Mahkamah Internasional tanggal 15 Juni 1962 tentang Case Concerning The Temple Preah Vihear.23 Dalam keputusan tersebut mentakan bahwa Kuil Preah Vihear merupkan wilayah yang berada dalam kedaulatan Kamboja dan Thailand, harus menarik personi kepolisian dan militernya dari wilayah kuil tersebut.24

Berdasarkan latar belakang di atas maka perlu dikaji lebih jauh terkait bagaimana proses penyelesaian konflik wilayang yang terjadi antara Kamboja dan

19 Richard Turcsanyi. Thai-Cambodian Conflict: The Final Stage at Preah Vihear?. 2016. Diakses dari: https://www.researchgate.net/publication/325698451_Thai-

Cambodian_Conflict_The_Final_Stage_at_Preah_Vihear. Pada tanggal 12/11/2021

20 Ibid.

21 Ibid.

22 Ibid.

23 Ibid.

24 Ibid.

(5)

Thailand atas kuil sekitar Kuil Preah Vihear. Penulis tertarik dalam mengkaji penelitian ini dikarenakan peneliti ingin melihat melalui kacamata diplomasi dalam penyelesaian konflik yang terjadi ini.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah yang dapat ditarik dalam penelitian ini adalah: “Bagaimana proses diplomasi antara Kamboja dan Thailand dalam penyelesaian konflik perbatasan wilayah di sekitar Kuil Preah Vihear?”

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian

Adapun dalam penelitian ini, terdapat beberapa tujuan yang ingin penulis sampaikan yakni:

1. Menggambarkan latar belakang konflik perbatasan wilayah yang terjadi anatara Kamboja dan Thailand di sekitar wilayah Kuil Preah Vihear.

2. Menjelaskan dinamika hubungan bilateral Thailand dan Kamboja selama berlangsungnya konflik di Kuil Preah Vihear.

3. Menjelaskan proses diplomasi penyelesaian konflik perbatasan wilayah sekitar Kuil Preah Vihear antara Thailand dan Kamboja.

1.3.2 Manfaat Penelitian

Ada dua manfaat dari penelitian ini yakni manfaat Akademis dan manfaat Praktis, kedua manfaat ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.3.2.1 Manfaat Akademis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat akademis yang dapat membantu menambah pemahaman bagi mahasiswa Hubungan Internasional mengenai bagaimana proses diplomasi yang dilakukan oleh negara-negara yang

(6)

berkonflik dalam menyelesaikan konflik terutama konflik perbatasan yang sedang terjadi.

1.3.2.2 Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah maupun organisasi non-pemerintahan melihat bagaimana proses diplomasi dalam menyelesaikan konflik penyelesaian konflik perbatasan.

1.4 Penelitian Terdahulu

Akibat keragaman data yang didapatkan penulis untuk digunakan sebagai sumber penelitian terdahulu, penulis kemudian membagi data tersebut kedalam beberapa kategori untuk mempermudah pembaca memahaminya. Kategori tersebut didasarkan pada kesamaan topik penelitian.

Penelitian terdahulu pertama didapat dari skripsi dengan judul “Analisa Kebijakan Thailand dalam sengketa perbatasan dengan kamboja, Studi Kasus: Konflik wilayah sekitar kuil Preah Vihear” ditulis oleh Travuda Widia dari Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia yang dipublikasi pada tahun 2018. Hal yang dibahas pada penelitian terdahulu ini adalah hal-hal yang melatarbelakangi kebijakan pemerintah Thailand atas penyelesaian konflik dengan kamboja atas klaim wilayah sekitar kuil. Konflik dua negara ini kembali muncul pasca diakuinya kuil tersebut sebagai warisan dunia milik kamboja oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization(UNESCO) tahun 2008, setelah kedua negara saling sepakat atas keputusan International Court of Justice (ICJ) tahun 1962 yang memutuskan bahwa kedaulatan Kuil Preah Vihear adalah milik Kamboja.25 Sementara dalam putusan tersebut, garis batas wilayah masih tidak memiliki status hukum dari keputusan yang dikeluarkan oleh ICJ. Dimana area sekitar kuil seluas 4,6 km2, menjadi rebutan kedua negara.

25 Trivida Widya, Anaisa Kebijakan Thailadn dalam Sengketa Perbatasan dengan Kamboja Studi Kasus: Konflik Wilayah Sekitar Kuil Preah Vihear,. Skripsi, Universitas Islam Indonesia, 2008, diakses dalam

https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/11120/08%20naskah%20publikasi.pdf?sequen ce=12&isAllowed=y, pada tanggal 9 maret 2022.

(7)

Untuk mengkaji permasalahan yang diangkat, penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan hal-hal yang mendasari kebijakan pemerintah Thailand atas penyelesaian perselisihan atas klaim wilayah sekitar kuil dengan kamboja. Analisa penelitian didukung oleh teori Decision Making Theory dari Richard Snyder, H. W Bruck dan Burton, untuk melihat sejauh mana sebuah kebijakan luar negeri yang dikeluarkan oleh pemerintah yang bersangkutan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.

Dalam analisa yang dilakukan penulis penelitian ini, didapat bahwa kebijakan luar negeri yang dikeluarkan oleh Thailand mempertimbangkan dua aspek yakni internal dan eksternal. Faktor internal yang meliputi opini publik, politik domestik, sikap publik, kekuatan nasional dan posisi geografis. Sedangkan faktor eksternal merupakan kondisi yang ada di luar wilayah negara tersebut seperti aksi dan reaksi dari negara lain serta situasi dunia saat itu.

Adapun kesamaan penelitian ini dengan penelitian penulis terletak pada kesamaan topik yang diangkat yakni terkait dengan konflik anatara Thailand dan Kamboja atas klaim Kuil Preah Vihear. sedangkan, perbedaannya terletak pada fokus rumusan masalah penelitian. penelitian terdahulu pertama berfokus pada kebijakan Thailand dalam sengketa di wilayah Kuil Preah Vihear, sementara penelitian ini berfokus pada penyelesaian konflik melalui jalan diplomasi.

Penelitian terdahulu kedua didapat dari jurnal penelitian berjudul “Peran ASEAN dalam Penyelesaian Sengketa Kuil Preah Vihear” yang ditulis oleh Oktavina Yohana Pottu dan Chontina Siahaan, Universitas Kristen Indonesia yang dipublikasi pada tahun 2021.26 isu yang diangkat dalam penelitian ini adalah konflik yang terjadi antara Thailand dan Kamboja yang memperebutkan klaim atas wilayah sekitar kuil Preah Vihear, yang kemudian diselesaikan melalui skema ASEAN.

Guna mengkaji permasalahan yang diangkat, penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan tujuan mendeskripsikan peran dan langkah

26 Oktavina Yohana Pottu & Chontina Siahaan, Peran ASEAN dalam Penyelesaian Sengketa Kuil Preah Vihear. 2021. Diakses melalui

https://www.jurnalintelektiva.com/index.php/jurnal/article/download/636/479, pada tanggal 11 November 2021

(8)

ASEAN sebagai organisasi regional dalam penyelesaian konflik kedua negara tersebut.

Berdasarkan analisa yang dilakukan oleh penulis penelitian ini, ditemukan bahwa penyelesaian konflik Thailand dan Kamboja sebelumnya telah melalui perundingan antara kedua negara namun tidak menemui titik terang. Upaya penyelesaian konflik juga melibatkan pihak ketiga yaitu PBB, ICJ dan ASEAN.

Pada tahun 1962, ICJ telah memutuskan bawah kedaulatan kuil Preah Vihear adalah milik kamboja. Kelemahan keputusan ICJ adalah tidak ada keabsahan hukum terkait dengan garis batas wilayah tersebut. Sehingga wilayah sebesar 4,6 km2 sekitar kuil masih menjadi perebutan kedua negara. PBB sebagai organisasi negara- negara di dunia menyerahkan permasalahan ini agar diselesaikan di level regional oleh ASEAN. Dalam perannya, ASEAN menjadi mediator atas penyelesaian konflik sengketa wilayah pada kedua negara tersebut yang meliputi upaya-upaya sebagai berikut: mempertemukan Thailand dan Kamboja tanggal 22 februari 2011 secara informal untuk mencari jalan tengah, menggelar pertemuan formal melalui kerangka Joint Border Committee (JBC) di Bogor, pertemuan Trilateral di sela-sela KTT ASEAN ke-18, dan pertemuan formal Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM).

Adapun kesamaan penelitian ini dengan penelitian penulis terletak pada kesamaan topik yang diangkat yakni terkait dengan konflik anatara Thailand dan Kamboja atas klaim Kuil Preah Vihear. Sedangkan, perbedaannya terletak pada cara penyelesaian konflik oleh dua negara. penelitian terdahulu berfokus pada penyelesaian konflik dengan melibatkan pihak ketiga yakni ASEAN, sementara penelitian terbaru berfokus pada penyelesaian konflik melalui jalan diplomasi.

Penelitian terdahulu ketiga didapat dari skripsi berjudul “Upaya dan Hambatan Indonesia sebagai Ketua ASEAN Meredakan Ketegangan antar Kamboja dengan Thailand dalam Konflik Perebutan Kuil Preah Vihear” yang ditulis oleh Met Chandra, Universitas Jember yang dipublikasi pada tahun 2016.27 Isu yang diambil dalam penelitian ini adalah konflik yang terjadi antara Thailand

27 Met Chandra.. Upaya dan Hambatan Indonesia sebagai Ketua ASEAN Meredakan Ketegangan antar Kamboja dengan Thailand dalam Konflik Perebutan Kuil Preah Vihear. Universitas Jember.

2016. Diakses dari: https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/76655. Pada tanggal: 10/11/21 21:20 WIB

(9)

dan Kamboja yang memperebutkan klaim atas wilayah sekitar kuil Preah Vihear, yang dimana, Indonesia yang saat itu menjadi ketua ASEAN melakukan upaya- upaya guna menyelesaikan konflik.

Demi mengkaji permasalahan yang diangkat, penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan tujuan mendeskripsikan upaya dan hambatan Indonesia sebagai ketua ASEAN pada saat itu dalam penyelesaian konflik kedua negara tersebut.

Berdasarkan analisa yang dilakukan oleh penulis dalam penelitian ini, ditemukan bahwa konflik masih terus berlanjut antar dua negara walaupun sebelumnya sudah ada beberapa upaya-upaya penyelesaian konflik. Indonesia dalam menjalankan perannya sebagai ketua ASEAN pada saat itu yakni menjadi mediator terhadap pihak yang berkonflik, Indonesia juga memfasilitasi pertemuan perundingan dan berdialog menawarkan solusi. Walaupun pada akhirnya, konflik masih juga belum terselesaikan karena adanya hambatan-hambatan di luar kendali mediator seperti, klaim kedaulatan wilayah di dua negara yang bersengketa dan adanya ketidakstabilan politik internal antar negara yang berkonflik.

Adapun kesamaan penelitian ini dengan penelitian penulis terletak pada kesamaan topik yang diangkat yakni terkait dengan konflik anatara Thailand dan Kamboja atas klaim Kuil Preah Vihear. Sedangkan, perbedaannya terletak pada cara penyelesaian konflik. Penelitian terdahulu berfokus pada penyelesaian konflik dengan melibatkan pihak ketiga yakni Indonesia sebagai ketua ASEAN pada saat itu, sementara penelitian terbaru berfokus pada penyelesaian konflik melalui jalan diplomasi.

Penelitian terdahulu keempat didapat dari jurnal penelitian berjudul

“Kebijakan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra terhadap Sengketa Kuil Preah Vihear antara Thailand dan Kamboja” yang ditulis oleh Okki Ayu Oktria, Universitas Airlangga yang dipublikasi pada tahun 2013.28

28Okki Ayu Oktria. Kebijakan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra terhadap Sengketa Kuil Preah Vihear antara Thailand dan Kamboja. Universitas Airlangga. 2013. Diakses

dari:https://repository.unair.ac.id/view/creators/OKKI_AYU_OKTRIA=3A070912066=3A=3A.ht ml. Pada tanggal 15/11/2021 21:22 WIB

(10)

Demi mengkaji permasalahan yang diangkat, penelitian ini menggunakan metode eksplanatif dengan tujuan menjelaskan bagaimana seorang perdana menteri yakni Yingluck Shinawatra mengambil keputusan atau kebijakan dalam penyelesaian konflik.

Berdasarkan analisa yang dilakukan oleh penulis dalam penelitian ini, ditemukan bahwa pengambilan kebijakan yang dilakukan oleh Perdana Menteri Yingluck Shinawatra dipengaruhi oleh dua standar yakni tanggung jawab sosial dan materialisme. Dua standar ini bisa ditelusuri dari worldview-nya seorang Yingluck Shinawatra yang sebelum menjadi perdana menteri adalah seorang pebisnis. Maka dari itu, dua standar diatas tidak dapat dilepaskan dari bagaimana seorang Yingluck Shinawatra mengambil kebijakan. Selain dua standar tadi dalam menyelesaikan masalah Yingluck Shinawatra lebih memilih menggunakan cara rekonsiliasi dan ini dianggap sebagai perannya sebagai wanita yang mempengaruhi dalam menggunakan cara rekonsiliasi.

Adapun kesamaan penelitian ini dengan penelitian penulis terletak pada kesamaan topik yang diangkat yakni terkait dengan konflik antara Thailand dan Kamboja atas klaim Kuil Preah Vihear. Sedangkan, perbedaannya terletak pada aktor yang terlibat di dalamnya. Penelitian terdahulu berfokus pada aktor individu dalam mengambil kebijakan untuk penyelesaian konflik, sementara penelitian terbaru berfokus pada aktor negara dalam penyelesaian konflik melalui jalan diplomasi.

Penelitian terdahulu kelima didapat dari skripsi berjudul “The Role of Indonesia as a Mediator in The Border Disputes Between Thailand and Cambodia during Indonesia’s Chairmanship in ASEAN 2011” yang ditulis oleh Seruni, UIN Jakarta yang dipublikasi pada tahun 2013.29 Isu yang diambil dalam penelitian ini adalah konflik yang terjadi antara Thailand dan Kamboja yang memperebutkan klaim atas wilayah sekitar kuil Preah Vihear, yang dimana,

29 Seruni. The Role of Indonesia as a Mediator in The Border Disputes Between Thailand and Cambodia during Indonesia’s Chairmanship in ASEAN 2011. UIN Jakarta. 2013. Pada tanggal 02/11/2021 10:31 WIB

(11)

Indonesia yang saat itu menjadi ketua ASEAN melakukan upaya-upaya guna menyelesaikan konflik.

Demi mengkaji permasalahan yang diangkat, penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan tujuan mendeskripsikan peran Indonesia sebagai ketua ASEAN pada saat itu dalam penyelesaian konflik kedua negara tersebut. Peran Indonesia pada saat itu adalah melakukan diskusi terbuka, mediasi secara langsung dan mengirimkan obeservers ke wilayah konflik. Mediasi yang dilakukan oleh Indonesia melalui “Shuttle diplomacy” demi mendapatkan informasi dari kedua belah pihak yang berkonflik. Selain itu, Indonesia juga memberikan beberapa solusi yakni: (1) Joint Border Committee, (2) boundary demarcation process, (3) ceasefire, dan (4) mengirimkan Indonesian Observer Team (IOT).

Adapun kesamaan penelitian ini dengan penelitian penulis terletak pada kesamaan topik yang diangkat yakni terkait dengan konflik anatara Thailand dan Kamboja atas klaim Kuil Preah Vihear. Sedangkan, perbedaannya terletak pada cara penyelesaian konflik. Penelitian terdahulu berfokus pada penyelesaian konflik dengan melibatkan pihak ketiga yakni Indonesia sebagai ketua ASEAN pada saat itu, sementara penelitian terbaru berfokus pada penyelesaian konflik melalui jalan diplomasi.

Tabel 1.1 Posisi Penelitian

No Judul dan Nama Peneliti

Jenis Penelitian dan Konsep/Teori

Hasil

1 Analisa Kebijakan Thailand dalam sengketa perbatasan dengan kamboja, Studi Kasus: Konflik wilayah sekitar kuil preah vihear

Deskriptif kualitatif Teori Decision Making Theory dari Richard

kebijakan luar negeri yang dikeluarkan oleh Thailand mempertimbangkan dua aspek yakni internal dan eksternal.

Faktor internal yang meliputi opini publik, politik domestik, sikap publik, kekuatan nasional

(12)

Travuda Widia

Snyder, H. W Bruck dan Burton

dan posisi geografis. Sedangkan faktor eksternal merupakan kondisi yang ada di luar wilayah negara tersebut seperti aksi dan reaksi dari negara lain serta situasi dunia saat itu.

2 Peran ASEAN dalam Penyelesaian

Sengketa Kuil Preah Vihear

Oktavina Yohana Pottu dan Chontina Siahaan

Deskriptif kualitatif Kerjasama regional

Penyelesaian konflik atas Kuil Preah Vihear yang dilakukan antar negara yang bersangkutan yakni Thailand dan Kamboja tidak menemui titik terang.

PBB memberikan mandat pada ASEAN untuk menangani konflik ini dengan menjadi mediator antara dua negara.

peran yang ditunjukkan ASEAN meliputi mempertemukan Thailand dan Kamboja secara informal untuk mencari jalan tengah, menggelar pertemuan formal melalui kerangka Joint Border Committee (JBC) di Bogor, pertemuan Trilateral di sela-sela KTT ASEAN ke-18, dan pertemuan formal Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM).

3 Upaya dan Hambatan Indonesia sebagai Ketua ASEAN Meredakan Ketegangan antar Kamboja dengan Thailand dalam Konflik Perebutan Kuil Preah Vihear

Met Chandra

Deskriptif Kualitatif Teori resolusi konflik dan konsep mediator

Upaya yang dilakukan Indonesia sebagai ketua ASEAN dalam proses mediasi sebagai bentuk upaya penyelesaian konflik yakni menggunakan tiga strategi:

strategi komunikasi, formulasi dan manipulasi untuk

menciptakan perdamaian antara Thailand dan Kamboja.

Hambatan yang ditemukan adalah adanya ketidakstabilan politik internal di negara yang bersengketa

4 Kebijakan Perdana Menteri Yingluck

Eksplanatif Adanya dua standar yang mempengaruhi pengambilan

(13)

Shinawatra terhadap Sengketa Kuil Preah Vihear antara Thailand dan Kamboja

Okki Ayu Oktria

Worldview dan pendekatan feminisme.

kebijakan yang dilakukan oleh Yingluck Shinawatra yakni tanggung jawab sosial dan materialisme.

Hal ini dipengaruhi karena Yingluck Shinawatra memiliki worldview sebagai seorang perdana menteri dan pebisnis.

5 The Role of Indonesia as a Mediator in The Border Disputes Between Thailand and Cambodia during Indonesia’s Chairmanship in ASEAN 2011.

Seruni

Teori Foreign Policy dan konsep mediator

Indonesia melakukan diskusi terbuka, mediasi secara langsung dan mengirimkan obeservers ke wilayah konflik.

Mediasi yang dilakukan oleh Indonesia melalui “Shuttle diplomacy” demi mendapatkan informasi dari kedua belah pihak yang berkonflik. Selain itu, Indonesia juga memberikan beberapa solusi yakni: (1) Joint Border Committee, (2) boundary demarcation process, (3)

ceasefire, dan (4) mengirimkan Indonesian Observer Team (IOT).

1.5 Kerangka Konseptual

Untuk menganalisis upaya penyelesaian konflik Kamboja dan Thailand atas Kuil Preah Vihear berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan dalam hubungan internasional, penulis menggunakan dua konsep yaitu konsep Resolusi Konflik yakni upaya-upaya yang ditujukan untuk menyelesaikan konflik dan Shuttle Diplomacy untuk menjelaskan cara diplomasi yang seperti apa yang digunakan dalam penyelesaian konflik tersebut.

(14)

1.5.1 Konsep Resolusi Konflik

Istilah resolusi konflik dapat dipahami sebagai suatu upaya yang ditujukan untuk penyelesaian konflik. Dimana resolusi konflik berfokus pada sumber peristiwa yang mendalam atau akar dari suatu permasalahan.

Menurut Galtung, pendekatan pada resolusi konflik merujuk pada deskripsi konflik yang merujuk pada tiga hal utama, diantaranya: (1) perbedaan kepentingan, (2) munculnya perilaku negatif atas timbulnya stereotip negatif atau persepsi yang berkembang di antara pihak-pihak yang berkonflik, (3) perilaku kekerasan atau adanya ancaman yang dimunculkan oleh pihak-pihak yang terlibat konflik.30

Selanjutnya, sebagai resolusi dari sebuah konflik, Galtung menawarkan beberapa cara yang dipergunakan untuk penyelesaian konflik untuk mengakomodasi kepentingan antara pihak-pihak yang berkonflik agar dicapainya kesepakatan antara pihak yang terlibat. Metode penyelesaian konflik tersebut yakni:

peacemaking, peacekeeping, dan peacebuilding. Dari ketiga metode model resolusi konflik yang dikemukakan oleh Galtung tersebut memiliki target, dimensi, serta tujuannya masing-masing. Namun, serangkain model tersebut akan bermuara pada tujuan akhir yang sama yakni mewujudkan perdamaian jangka panjang dalam upaya menciptakan resolusi konflik.31

1) Peacemaking

Peacemaking merupakan tahapan awal yang harus dilakukan dalam upaya penyelesaian konflik. Adapun metode-metode yang bisa diterapkan dalam mewujudkan suatu perdamaian, di antaranya adalah :

a) Coercive, merupakan jalan penyelesaian konflik dengan menggunakan kekerasan atau paksaan secara fisik (coercive capacity). Coercive dapat berupa ancaman, maupun penjatuhan sanksi kepada pihak yang sedang berkonflik. Selain itu coercive juga perlu dan dapat digunakan ketika dalam

30 Universitas Negeri Yogyakarta, Diakses dari:

https://eprints.uny.ac.id/66284/13/BAB%20II.pdf. Pada tanggal 21/12/21 10:11 WIB

31 ibid

(15)

keadaan genting, terutama dalam hal menghentikan konflik terbuka antar pihak terkait.

b) Litigasi, merupakan penyelesaian konflik dengan mengedepankan jalur hukum dalam penyelesaiannya, namun di sini perlu dicermati bahwa pemilihan jalur litigasi untuk menyelesaikan konflik harus dipertimbangkan secara bijak karena memiliki beberapa kekurangan, salah satunya adalah proses peradilan menyerap banyak waktu dalam jangka panjang.

c) Non-litigasi, merupakan model penyelesaian konflik yang berada di luar pengadilan. Penyelesaian konflik melalui lembaga non-peradilan dimana dipertimbangkan lembaga peradilan tak mampu menjawab permasalahan yang semakin kompleks. Model non litigasi biasanya direpresentasikan dalam model negosiasi, mediasi maupun arbitrase, dimana di dalamnya akan mendapatkan suatu kemenangan bersama (win-win solution).

2) Peacekeeping

Setelah perjanjian pembuatan perdamaian terealisasi, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah bagaimana mengimplementasikan poin-poin yang telah disepakati sebelumnya, guna perdamaian tetap terjaga (peacekeeping).

Tahapan menjaga perdamaian ini merupakan tahap lanjutan dari perjanjian damai yang telah disepakati oleh pihak-pihak yang tengah berkonflik (peacemaking).

Operasi peacekeeping sendiri, melibatkan personel militer tetapi tidak menggunakan kekuatan daya serang.32

Kegiatan ini bertujuan guna memantau, menegakkan kesepakatan, serta melegalkan kekerasan bila perlu. Dimana cara yang dilakukan mencakup pengawasan terhadap kesepakatan-kesepakatan oleh pihak-pihak yang pernah berkonflik dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang telah disepakati. Ketika tahap peacekeeping sudah terwujud, maka akan memudahkan dalam penerapan berbagai bentuk cara untuk membuat perdamaian menjadi bertahan lama dalam jangka

32 Ibid.

(16)

waktu yang panjang di masa mendatang, karena peacekeeping pada dasarnya diharapkan bisa menghentikan segala bentuk kekerasan yang ditimbulkan akibat berkonflik dimana sebelumnya hal ini (kekerasan) telah terjadi di tengah masyarakat.33

3) Peacebuilding

Peacebuilding adalah tahap akhir dalam penyelesaian konflik, yakni membangun jembatan komunikasi, agar bisa memperbaiki berbagai kerusakan akibat konflik.34 Peacebuilding dapat diartikan sebagai upaya atau strategi mencoba mengembalikan keadaan destruktif akibat kekerasan yang terjadi dalam konflik, dengan cara membangun jembatan komunikasi yang baik antar pihak-pihak yang pernah terlibat konflik.

Pembangunan setelah atau pasca konflik harus dilaksanakan secara menyeluruh, semua aspek harus terkena dampak dari rekonstruksi pasca konflik terjadi, rekonstruksi harus difokuskan pada sisi fisik, sosial dan psikologis.35 Dimana secara fisik, kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh konflik yang terjadi harus dipulihkan terlebih dahulu, kemudian harus adanya rekonstruksi dari dalam diri manusia itu sendiri melalui psikologis bagi masyarakat yang terguncang dengan adanya konflik.36

Pada kasus konflik Kamboja dan Thailand, meskipun konflik sengketa telah berlangsung sejak lama sebelum tahun 1962, namun kedua negara tetap mencoba untuk menyelesaikan konflik melalui jalan diplomasi dengan melakukan berbagai perundingan bilateral. Hingga puncaknya pada tahun 2008, ketika UNESCO mengakui kuil Preah Vihear sebagai warisan dunia milik kamboja, ketegangan kedua negara mulai meningkat. Berbagai perundingan bilateral dan negosiasi telah diupayakan oleh kedua negara namun gagal. Atas usulan Kamboja yang menilai

33 Ibid.

34 Ibid.

35 Ibid.

36 Ibid.

(17)

bahwa perlu melibatkan pihak ketiga sebagai mediator yang dapat mengakomodasi perbedaan kepentingan dan memberikan alternatif solusi bagi keduanya. Dengan demikian, penulis menggunakan konsep shuttle diplomasi untuk menjelaskan hal tersebut sesuai dengan kaidah keilmuan dalam hubungan internasional.

1.5.2 Shuttle Diplomasi

Peperangan maupun konflik merupakan hal yang banyak menyita perhatian publik dan meninggalkan jejak yang membekas pada kehidupan manusia akibat dampak negatif yang ditinggalkannya. Terkait dengan hal tersebut, meskipun penting, nyatanya sebagai strategi penyelesaian konflik, diplomasi jarang mendapat banyak perhatian. Seorang ahli teori militer Carl von Clausewitz pada tahun 1800 an dalam gagasannya mengatakan bahwa perang merupakan perpanjangan dari kebijakan.37 Ia berusaha untuk menormalkan gagasan perang dalam politik modern.

Ia juga menunjukkan bahwa perang merupakan suatu cara untuk mencapai tujuan nasional. Seiring dengan perkembangan zaman, perspektif terhadap perang sebagai penyelesaian masalah mulai bergeser dan beralih ke cara lain.38 Diplomasi merupakan strategi penyelesaian konflik tanpa melibatkan kekerasan.

Diplomasi bukan merupakan sesuatu yang baru. Diplomasi telah ada setidaknya sekitar 2500 tahun lalu. Cara mudah melihat keberadaan diplomasi adalah dengan melihatnya sebagai sistem pada struktur komunikasi antara dua atau lebih pihak. Meskipun demikian, dapat dikatakan diplomasi versi dulu masih banyak kekurangan dibandingkan diplomasi versi modern seperti saat ini yang meliputi kedutaan, adanya hukum internasional dan layanan diplomatik professional.39 Praktik diplomasi modern merupakan produk dari sistem negara Eropa pasca-Renaisans. Ditinjau dari segi historis, diplomasi berarti pelaksanaan hubungan secara resmi (biasanya bilateral) antara negara-negara yang berdaulat.40 Pada abad ke-20, praktik diplomasi yang dirintis di Eropa mulai diadopsi di seluruh dunia, dan praktik diplomasi mengalami perkembangan hingga mencakup summit

37 Stephen McGlinchey, 2017, “Diplomacy”, e-international relations, diakses dalam https://www.e-ir.info/2017/01/08/diplomacy/, pada tanggal 12 maret 2022

38 ibid

39 ibid

40 Sally Marks, diplomacy, diakses dalam https://www.britannica.com/topic/diplomacy

(18)

meetings dan bentuk konferensi internasional lainnya, diplomasi parlementer, kegiatan internasional entitas supranasional dan subnasional, diplomasi tidak resmi oleh elemen non-pemerintah, dan pegawai negeri sipil internasional.41

Dilihat dari sejarahnya, istilah diplomasi berasal dari bahasa Prancis yang diambil dari bahasa Yunani kuno diplōma, terdiri dari diplo, yang berarti "dilipat menjadi dua," dan akhirannya “ma” berarti "suatu objek”. Hal tersebut merujuk pada dokumen yang mempunyai hak istimewa beruba perizinan perjalanan dinas bagi pembawanya. Dan istilah diploma muncul untuk menunjukkan dokumen yang telah diberikan keabsahan oleh pemimpin negara. Kemudian, hal tersebut juga berlaku pada semua dokumen yang dikeluarkan oleh kanselir, terutama yang berisi perjanjian antara penguasa. Diplomasi kemudian diidentikkan dengan hubungan internasional, dan ikatan langsung dengan dokumen-dokumen tersebut perlahan berakhir. Hingga abad ke-18 istilah Bahasa prancis “diplomate” muncul yang merujuk pada orang yang berwenang untuk bernegosiasi atas nama negara.

Diplomasi sering kali diartikan sebagai kebijakan luar negeri, meskipun kedua istilah tersebut berbeda. Diplomasi merupakan instrumen utama kebijakan luar negeri, tetapi bukan satu-satunya instrumen yang dibuat oleh pemimpin politik, melalui diplomat yang digunakan pertimbangan mereka dalam membuat keputusan.

Kebijakan luar negeri menetapkan tujuan, menetapkan strategi, dan menetapkan taktik yang luas yang akan digunakan dalam pencapaiannya. Instrument mencapainya dapat menggunakan agen rahasia, subversi, perang, atau bentuk kekerasan lainnya serta dapat pula menggunakan cara diplomasi.42

Pada dasarnya terdapat keberagaman pendefinisian terkait diplomasi.

Secara sederhana diplomasi dapat didefinisikan sebagai proses antar aktor (diplomat, atau yang mempunyai kewenangan mewakili negara) yang ada dalam suatu sistem (hubungan internasional) dan terlibat dalam dialog pribadi dan public (diplomasi) untuk mengejar tujuan mereka dengan cara damai.43 Diplomasi juga

41 ibid

42 ibid

43 ibid

(19)

dapat dipahami sebagai sebuah metode utama untuk mewujudkan politik luar negeri dan sebagai sarana komunikasi yang normal dalam hubungan internasional.44

Seiring dengan berkembangnya kajian diplomasi dalam internasional, jenis diplomasi sendiri menjadi semakin beragam. Setidaknya ada delapan jenis diplomasi yang berkembang dalam masyarakat kita saat ini, yakni meliputi : Diplomasi politik pasifikasi (politic of pacification), Diplomasi kapal perang (Gunboat diplomacy), Diplomasi dolar (Dollar diplomacy), Diplomasi Publik (Public Diplomacy), Diplomasi rakyat (people’s diplomacy), Diplomasi melibatkan pihak ketiga (Shuttle Diplomacy), Diplomasi ekonomi (economic diplomacy), dan diplomasi digital (digital diplomacy).

Pada konteks penelitian ini, dalam mengkaji penyelesaian konflik Thailand- Kamboja atas perebutan kuil preah vihear, penulis menggunakan teori Shuttle Diplomacy atau diplomasi melalui perantara dalam penyelesaian konflik antara Thailand dan Kamboja.

Secara sederhana istilah Shuttle Diplomacy merujuk pada keterlibatan seorang perantara atau pihak ketiga yang dapat menyampaikan pesan-pesan antara pihak yang bersengketa. Pada beberapa konflik, komunikasi langsung antara pihak terkait tidak jarang justru menyebabkan memburuknya situasi dan menyelesaikan yang lebih lama. alih-alih memungkinkan pertukaran pandangan dan kompromi, komunikasi langsung tidak jarang menghasilkan pengulangan kegagalan negosiasi.

Begitu pula dengan jalan penyelesaian konflik melalui peperangan, daripada menyelesaikan masalah, cara ini justru banyak membawa kerugian baik materiil dan immateriil. Sehingga, shuttle diplomacy dapat digunakan pada situasi seperti ini, atau paling tidak pada tahap awal ketika komunikasi langsung cenderung kontraproduktif. Pihak ketiga dibutuhkan untuk menyampaikan informasi dua arah di antara para pihak, yang berfungsi sebagai sarana komunikasi yang andal yang

44 Kristina Plavšak Krajnc, 2004, Public Diplomacy: basic concept and trend. Ifimes. diakses dalam https://www.ifimes.org/en/researches/public-diplomacy-basic-concepts-and-trends/2995#.

Pada tanggal 09/12/2021 13:41 WIB

(20)

bersifat netral.45 Ada dua bentuk intervensi pihak ketiga dalam mediasi yakni:46 Pertama, secara sukarela dan tidak ikut campur sedikitpun dalam penentuan hasil (pure mediation). Kedua, adanya dorongan-dorongan baik positif maupun negatif dalam penentuan hasil (mediation with musle).

Perantara tidak hanya berfungsi sebagai estafet untuk tanya jawab, tetapi juga dapat memberikan saran untuk penyelesaian. “Dengan menjaga komunikasi tetap pribadi dan tidak langsung, para pihak tidak akan merasa perlu menggunakan taktik debat yang biasa mereka gunakan dalam percakapan publik, dan akan mampu membangun tingkat kepercayaan pihak yang terlibat. setelah pihak ketiga berhasil mendapatkan kepercayaan dari pihak yang terlibat konflik, maka komunikasi secara langsung dapat dilaksanakan".47

Pada kasus konflik Kamboja dan Thailand atas perebutan kuil preah vihear, konsep shuttle diplomacy dapat membantu penulis untuk menjelaskan keterlibatan pihak ketiga dalam hal ini ASEAN sebagai organisasi regional di wilayah Asia Tenggara, ditunjuk untuk membantu penyelesaian konflik antara Kamboja dan Thailand, setelah dilakukannya berbagai upaya perundingan bilateral hingga menggunakan pendekatan militer yang tidak kunjung dapat menyelesaikan konflik tersebut.

1.6. Metode Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dengan menggunakan metode pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini menyajikan suatu gambaran yang terperinci tentang kejadian secara khusus yang bertujuan untuk menggambarkan secara tepat sifat-sifat individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu yang disajikan melalui fakta48. Penulis menjelaskan melalui data dan fakta

45 Eric Brahm and Heidi Burgess, 2003, Shuttle Diplomacy, diakses dalam

https://www.beyondintractability.org/essay/shuttle_diplomacy. Pada tanggal 09/12/2021 11:21 WIB

46 Selma Myers, Et al. Conflict Resolution Across Culture: From Talking it Out to Third Party Mediation. 1997

47 ibid

48 Ulber Silalahi. 2009. Metode Penelitian Sosial. Bandung: Refika Aditama. Hal, 7

(21)

dengan fokus pernyataan bagaimana Penyelesaian Konflik Perbatasan Thailand dengan Kamboja di Wilayah Kuil Preah Vihear.

1.6.1 Teknik Pengumpulan Data

Dalam mendapatkan data yang akurat peneliti melakukan penelitian studi kepustakaan atau ”library research”, dimana data-data berasal dari sumber-sumber pustaka dari buku, jurnal, media online, artikel dan beberapa penelitian terdahulu untuk membantu dalam mengumpulkan data dan referensi yang relevan.

1.6.2 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan metode kualitatif. Hal ini dikarenakan data yang diperoleh terdiri dari susunan kata-kata bukan angka. Kemudian data tersebut diolah untuk menguraikan dan menganalisis mengenai Penyelesaian Konflik Perbatasan Thailand dengan Kamboja di Wilayah Kuil Preah Vihear.

1.6.3 Ruang Lingkup Penelitian

Demi menghindari meluasnya pembahasan diluar topik yang akan dibahas, maka penulis memberikan ruang lingkup penelitian yang digunakan untuk memberikan batasan atas permasalahan yang akan diangkat. Kedua, ruang lingkup penelitian digunakan untuk membantu penulis agar tetap fokus dalam membahas topik permasalahan yang diangkat.

1.6.3.1 Batasan Waktu

Dalam penelitian ini, penulis akan membatasi waktu penelitian antara tahun 2008-2011. Pada tahun 2008, terjadi puncak eskalasi dari Thailand dan Kamboja yang mengakibatkan perang senjata di daerah perbatasan sekitar kuil Preah Vihear.

Proses penyelesaian konflik ini semakin mengerucut ketika masuknya pihak ketiga sebagai mediator penyelesaian konflik di tahun 2011.

(22)

1.6.3.2 Batasan Materi

Batasan materi dalam penelitian ini adalah didasari pada isu konflik perbatasan Thailand dengan Kamboja di Wilayah Kuil Preah Vihear dengan fokus bagaimana proses resolusi konflik melalui diplomasi antara pemerintahan Kamboja dan Thailand melalui pihak ketiga.

1.7 Argumen Pokok

Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah serta landasan konseptual yang penulis telah uraikan diatas maka, argumen pokok yang dapat ditarik sementara bahwa konflik yang terjadi antara Thailand dengan Kamboja di wilayah Kuil Preah Vihear disebabkan adanya perbedaan cara pandang terkait batas wilayah yang ada di sekitar Kuil preah Vihear. Dalam upaya meredam konflik yang berkelanjutan dan menghindari konflik yang lebih luas, kedua belah pihak sudah melakukan upaya-upaya penyelesaian konflik baik melalui jalur negosiasi pada perundingan-perundingan yang diadakan secara bilateral, hingga penyelesaian konflik dengan cara mediasi atau melibatkan pihak ketiga dalam hal ini ASEAN untuk membantu mencari alternatif-alternatif solusi.

(23)

1.8 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan yang digunakan dalam skripsi ini akan dibagi menjadi 4 bab, antara lain:

Tabel 1.2 Sistematika Penulisan

BAB ISI

BAB I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.4 Penelitian Terdahulu

1.5 Konsep

1.5.1 Konsep Diplomasi

1.5.1.1 Konsep Diplomasi Perantara 1.6 Metode Penelitian

1.6.1 Jenis Penelitian

1.6.2 Ruang Lingkup Penelitian 1.6.3 Teknik Pengumpulan Data 1.6.4 Jenis Data

1.7 Argumen Pokok 1.8 Sistematika Penulisan BAB II

Permasalahan Perbatasan Kuil Preah

2.1 Sejarah dan Profil Kuil Preah Vihear

2.2 Potensi Ekonomi, Budaya, dan Alam di Wilayah Sengketa

(24)

Vihear 2.3 Sejarah Konflik Perebutan Kuil Preah Vihear Sebelum Putusan UNESCO Tahun 2008

2.4 Dinamika Hubungan Bilateral Thailand dan Kamboja Pasca Penetapan Warisan Budaya Kuil Preah oleh

UNESCO BAB III

Resolusi Konflik Kamboja dan Thailand atas Kuil Preah Vihear

3.1 Upaya Penyelesaian Konflik Wilayah Melalui Jalur Bilateral antara Thailand dan Kamboja

3.2 Tahapan Resolusi Konflik Kamboja dan Thailand

BAB IV Penyelesaian Konflik Kamboja dan Thailand

melalui Shuttle Diplomacy

4.1 Peran Mediator Internasional dalam Upaya Penyelesaian Konflik Wilayah Kuil Preah Vihear

4.3 Proses Penyelesaian Konflik Perbatasan Thailand dan Kamboja di Wilayah Kuil Preah Vihear melalui Jalur Shuttle Diplomacy

BAB V Penutup

4.1 Kesimpulan 4.2 Saran

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian, standarisasi dari ruang tunggu, termasuk dalam kualitas pelayanan dari shuttle Minibus Cipaganti, Melihat kegunaan dari pelayanan travel &

Awal mula perusahaan 4848 menjadi perusahaan pertama yang membuka usaha shuttle travel yang mengantarkan orang yang membutuhkan jasa transportasi antar kota, kemudian pada tahun

Alat bubut dop shuttle cock hasil perancangan adalah serangkaian gabungan dari beberapa komponen penyusun yang berfungsi sebagai alat untuk membubut kayu bahan

Mediasi dipilih sebagai salah satu konsep yang dipakai oleh penulis dalam penelitian ini untuk menggambarkan upaya penyelesaian konflik antara Thailand dan Kamboja

Dalam menyusun kerangka pemikiran yang mampu menjelaskan struktur sumber dana pihak ketiga dan penggunaan dana, dan menyediakan informasi yang dapat dipakai oleh pengambil

Pembuatan diagram x dan R dilakukan untuk mengetahui batas- batas pengendalian jarak antar lubang dop shuttle cock dengan menggunakan alat pelubang dop yang

c) Terdapat hal-hal lain yang berada diluar kendali bank, seperti adanya keterlibatan pihak ketiga diluar Bank dalam Transaksi Keuangan yang dilakukan

Bab ini berisi penutup yang menjelaskan kesimpulan dari Pengaruh Inflasi dan Jumlah Uang Beredar terhadap Dana Pihak Ketiga (DPK) Tabungan dan Deposito Mudharabah di