• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Pustaka

Pemahaman tentang pengembangan dongeng virtual berbasis nilai-nilai Serat Wulang Reh akan dijabarkan secara rinci melalui penjelasan dalam kajian pustaka ini. Beberapa sub topik akan dijelaskan, antara lain: (1) Video; (2) Dongeng; (3) Virtual; (4) Dongeng Virtual; (5) Sastra Wulang dalam Naskah Jawa;

(6) Serat Wulang Reh; dan (7) Pembentukan Karakter.

1. Video

Video diartikan sebagai rekaman gambar hidup atau tayangan gambar bergerak yang disertai dengan suara. Video dimanfaatkan sebagai bahan ajar noncetak dalam proses pembelajaran. Peserta didik bisa memeroleh informasi dan ilmu pengetahuan melalui gambar bergerak beserta suara yang menyertainya.

Video termasuk dalam kategori bahan ajar audio visual atau bahan ajar yang mengombinasikan dua materi, yaitu visual dan auditif. Oleh karena itu, salah satu hal menarik dari penayangan video bagi anak adalah menstimulus penglihatan dan pendengaran anak dalam waktu bersamaan. Sehingga, anak gemar memerhatikan tayangan video baik yang terdapat di televisi, handphone, atau komputer.

Video merupakan salah satu media pembelajaran yang menarik bagi peserta didik. Hal itu dikarenakan, anak dapat melihat, mendengarkan, dan menyerap berbagai informasi melalui penayangan video dalam kegiatan pembelajaran. Video menjadi sebuah metode alternatif bagi guru, yang sekaligus dapat menunjang penyerapan materi pelajaran oleh peserta didik (Chiam, et al., 2017). Dengan menayangkan video dalam kegiatan pembelajaran, guru sudah mengurangi kebiasaan mengajar dengan cara ceramah. Secar atidak langusng, guru dimudahkan untuk membelajarkan materi pelajaran kepada para siswa. Melalui tayangan video, baik guru dan siswa dapat belajar bersama-sama untuk mneyerap apa yang dilihat dan didengar, baik makna tersurat maupun tersirat.

Beberapa manfaat dari program video dalam kegiatan pembelajaran (Prastowo, 2015), antara lain: (1) memberikan pengalaman baru kepada peserta commit to user

(2)

didik; (2) memperlihatkan secara nyata sesuatu yang pada awalnya masih abstrak;

(3) menampilkan presentasi studi kasus tentang kehidupan yang sebenarnya; (4) menunjukkan cara penggunaan suatu alat; (5) memeragakan keterampilan yang akan dipelajari; (6) menunjukkan tahapan prosedur; (7) menghadirkan penampilan drama atau musik; (8) menganalisis perubahan dalam periode waktu tertentu; (10) menyampaikan objek tiga dimensi; (11) memperlihatkan diskusi atau interaksi dua orang atau lebih; dan (12) memberikan pengalaman kepada peserta didik untuk merasakan suatu keadaan tertentu.

Melalui video, anak dapat belajar mengekspresikan diri, mengemukakan pendapat, belajar berinteraksi dengan orang lain, mempraktikkan hal-hal yang diperagakan oleh tokoh dalam video, serta mampu mengungkapkan kembali apa yang telah disaksikan. Setiap video yang ditayangkan, tentu mengandung unsur penokohan, latar, dan pesan. Peserta didik belajar menyerap semua hal baik yang secara tersurat maupun tersirat dalam video tersebut. Dengan demikian, video merupakan sebuah metode yang efektif bagi peserta didik untuk menstimulasi olah pikir, olah hati, dan olah rasa.

Anderson (1987) mengungkapkan adanya kelebihan dan keterbatasan video.

Kelebihan video sebagai bahan ajar audio visual, antara lain: (1) memberikan dampak terhadap topik yang dibahas; (2) dapat diputar ulang untuk menunjukkan kembali gerakan atau adegan tertentu; (3) dapat memperkokoh proses belajar maupun nilai hiburan dari penyajian tersebut; (4) merupakan pembelajaran mandiri, dimana siswa belajar sesuai dengan kecepatan masing-masing; dan (5) menjaga keutuhan isi dan susunan materi pelajaran atau latihan.

Adapun keterbatasan video (Anderson, 1987), antara lain: (1) biaya produksi mahal; (2) ketika akan digunakan piranti video harus sesuai dengan format video yang akan ditayangkan; (3) menyita banyak waktu dalam membuat naskah atau skenario video; (4) jumlah grafis pada garis untuk video terbatas, yakni separuh dari jumlah huruf grafis pada film atau gambar diam; dan (5) perubahan pesat dalam teknologi menyebabkan keterbatasan sistem video menjadi masalah berkelanjutan.

Mencermati perkembangan teknologi dan informasi sekarang ini, banyak video yang dapat diakses dengan mudah di berbagai perangkat media. Salah commit to user

(3)

satunya adalah melalui aplikasi youtube. Salah satu cara menghargai hasil karya pembuat video adalah dengan memberikan subscribe di setiap tayangan video yang dilihat. Hal ini merupakan salah satu kesempatan dan peluang bagi para pendidik dan juga peserta didik untuk meningkatkan pengetahuan melalui tayangan video yang disediakan secara bebas dan beragam. Melalui video tersebut, dapat diperoleh berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman khususnya yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

Pada umumnya, video pembelajaran yang diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran berorientasi pada mata pelajaran tertentu, seperti: sains, sosial, dan matematika. Satuan pendidikan khususnya sekolah dasar yang belum berbasis pada jaringan komputer dan informasi, tidak sepenuhnya mengaplikasikan video dalam kegiatan pembelajaran. Hal itu dikarenakan keterbatasan waktu, sumber daya manusia, sarana dan prasarana untuk menyajikan perangkat video pembelajaran.

Sebaliknya, bagi sekolah-sekolah yang sudah berbasis pada informasi dan teknologi akan mengembangkan pembelajaran melalui video-video aplikatif yang sudah disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Penelitian ini menghasilkan sebuah produk berupa video pembelajaran yang digunakan khsusus untuk mata pelajaran Tembang Jawa. Hal mendasar yang dalam pembuatan video ini adalah kebutuhan peserta didik akan pentingnya nilai-nilai karakter yang harus ditanamkan sejak dini. Selain itu secara khusus di satuan pendidikan yang belum adaptif dengan sistem jaringan teknologi dan informasi, video ini akan sangat membantu bagi kelangsungan proses pembelajaran. Adapun kebutuhan yang lain yaitu Tembang Jawa merupakan salah satu muatan lokal yang dialokasikan ke dalam salah satu mata pelajaran di Jawa Tengah. Keberadaannya selama ini kurang diminati oleh peserta didik karena sistem pembelajaran yang cenderung monoton. Oleh karena itu, penelitian ini menghasilkan sebuah video pembelajaran yang berfaedah bagi pembelajaran Tembang Jawa di satuan pendidikan khususnya sekolah dasar.

commit to user

(4)

2. Dongeng

Mendongeng adalah salah satu upaya untuk menanamkan nilai-nilai luhur pada siswa. Lewat kegiatan mendongeng, nilai-nilai keutamaan (moral, budi pekerti, kejujuran, kebaikan, kemandirian, atau keagamaan, dan lain-lain) bisa ditanamkan kepada siswa-siswa dengan mudah. Melalui dongeng pula, siswa-siswa belajar mengembangkan imajinasi, mengekspresikan diri, menumbuhkan rasa humor, memperluas cakrawala khayalan, mengasah pengalaman emosional dan memetik pesan yang tersirat di balik dongeng (Agus, 2009). Dongeng menjadi salah satu metode alternatif metode yang dapat digunakan untuk membangun dan membentuk karakter siswa. Dalam dongeng terdapat tokoh-tokoh yang memerankan berbagai karakter, sehingga siswa dapat memelajari karakter setiap tokoh yang ada di dalam dongeng.

Mendongeng juga berguna sebagai hiburan, mengasah otak, dan mengubah perilaku siswa (Adin, 2015; Soedardi, 2015). Saat mendongeng di sekolah, guru dapat menggunakan buku cerita (Mustadi, et al., 2017) mengenakan kostum yang berlebihan menyerupai karakter tokoh-tokoh yang diceritakan (Kurniawan, 2016).

Selain itu, guru juga dapat mengajak agar komunikatif dengan cara melibatkan siswa untuk ikut berpartisipasi dalam memerankan tokoh yang ada dalam dongeng (Palacio, 2010). Dengan menayangkan video dongeng, guru dapat dengan leluasa mengembangkan kreativitas siswa. Ragam pilihan metode dapat dipilih oleh guru untuk menajamkan materi yang hendak dipelajari oleh siswa, melalui dongeng.

Dongeng-dongeng yang akrab di masyarakat (Priyono, 2006) antara lain: (1) Mite, yaitu dongeng yang bercerita tentang dewa-dewa, biasanya berkaitan dengan kepercayaan masyarakat; (2) Fabel, yaitu dongeng yang bercerita tentang kehidupan binatang yang digambarkan dan bisa bicara seperti manusia; dan (3) Cerita rakyat, yaitu dongeng yang pada umumnya diciptakan dengan suatu misi pendidikan yang penting bagi dunia siswa-siswa. Dongeng bermanfaat sebagai media yang efektif dalam berkomunikasi dan juga menumbuhkan minat baca pada siswa (Latif, 2014). Dongeng menjadi salah satu metode yang tepat digunakan untuk membudayakan literasi kepada masyarakat yang belum melek huruf (Vitali, 2016). Secara khusus bagi orang dewasa, dongeng yang ditampilkan secara digital commit to user

(5)

dapat meningkatkan kemampuan literasi mereka (Hack, 2013). Kemampuan literasi dalam hal ini meliputi membaca, memahami isi bacaan, menceritakan kembali apa yang sudah dibaca, dan membuat rangkuman tentang apa yang sudah dibaca. Ketika siswa melihat dan mendengarkan dongeng, maka siswa akan dengan mudah mengingat kembali alur cerita dongeng melalui tokoh, tempat kejadian, suasana, maupun kondisi yang ada di dalam dongeng.

Mendongeng merupakan kegiatan yang menyenangkan dan merangsang imajinasi serta kreativitas siswa (Karwowski, Kaufman, Lebuda, Szumski, &

Firkowska-Mankiewicz, 2017). Sebuah penelitian (Merkt & Schwan, 2017) memberikan bukti yang menguatkan bahwa gambar mempengaruhi ingatan peserta didik untuk pembelajaran verbal, yang sekaligus dapat melatih kemampuan peserta didik berkenaan dengan aplikasi desain pembelajaran berdasarkan media dan alat peraga yang digunakan. Penelitian tentang dongeng virtual ini menghasilkan sebuah produk berupa dongeng virtual yang aplikatif, sebab didalamnya dilengkapi dengan berbagai gambar, animasi, suara, dan juga musik.

Dongeng yang ditampilkan secara digital, membutuhkan komponen yang lebih detail dan lengkap. Selain itu, pembelajaran menggunakan dongeng digital juga memerlukan perancangan yang baik dan representasi ruang serta waktu (Calvert, Bizzocchi, & Wei, 2010). Pemanfaatan digital storytelling (Tunjera, et al, 2015) juga diaplikasikan di beberapa perguruan tinggi khususnya pada program studi guru sekolah dasar. Tidak hanya guru, namun para calon guru juga diberikan materi tentang metode mendongeng kepada siswa. Dalam hal ini penerapan media pembelajaran digital storytelling. Dengan demikian, guru dapat belajar untuk membuat dan mengembangkan narasi dongeng berdasarkan ide dan talenta yang dimiliki (Kozi M, et al,. (2007); Edirlei L., Antonio F., & Bruno F., 2015). Narasi dongeng dapat dikembangkan dengan beberapa konsep atau pola untuk kemudian diturunkan menjadi sebuah skenodraft atau skenario untuk dapat diceritakan atau diperankan kembali oleh siswa. Dengan menceritakan atau memerankan kembali, maka siswa dapat belajar untuk mengapresiasikan potensi dan dimiliki. Dalam hal ini, peran guru sangatlah dibutuhkan untuk mendukung dan memfasilitasi siswa.

commit to user

(6)

Cara mendongeng dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu tanpa alat peraga dan dengan alat peraga. Alat peraga yang biasa digunakan oleh pendongeng, antara lain: boneka, bahan, papan flannel, dan panggung gaya teater. Priyono (2006) memaparkan beberapa tata cara yang diperlukan saat mendongeng, antara lain: (1) Cerita dongeng harus diambil dari dunia siswa sesuai usia mereka; (2) Mengandung unsur nilai-nilai pendidikan dan hiburan; (3) Usahakan selalu tercipta suasana gembira saat mendongeng; (4) Bahasa harus sederhana, sesuai dengan tingkat pengetahuan siswa-siswa; (5) Dalam mendongeng harus mneghayati benar isi cerita; (6) Susunlah gambar-gambar peraga yang sesuai dengan urutan cerita; (7) Hafalkan nyanyian yang akan dibawakan untuk menambah suasana menjadi menyenangkan; (8) Senantiasa mengamati perkembangan reaksi emosi pada siswa;

(9) Saat mendongeng usahakan mengucapkan kata-kata yang jelas; (10) Ajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa secara tiba-tiba dan libatkan mereka dalam tokoh cerita yang didongengkan; (11) Lama waktu mendongeng dapat disesuaikan dengan situasi yang berkembang dan kondisi kemampuan siswa-siswa yang mendengarkan.

Mendongeng adalah salah satu bentuk literasi yang dapat dikembangkan dalam dunia pendidikan (Nugrahani, F., 2017). Mendongeng merupakan bagian dari perpanjangan tangan para stakeholder dalam membentuk karakter pada siswa.

Tentunya, dengan bantuan dari para guru yang tersebar di setiap satuan pendidikan.

Guru dan orang tua dapat saling berdiskusi dan bekerjasama dalam membentuk karakter siswa. Guru dapat menjadi penolong yang luar biasa bagi orang tua, tetapi orang tua harus membiarkan para guru mengetahui bahwa karakter adalah penting bagi mereka (Yates and Yates, 2012). Tidak hanya guru dan orang tua yang berperan dalam membentuk kepribadian dan karakter siswa, namun faktor lingkungan juga sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan sifat dan perilaku siswa.

Pembentukan sikap, kompetensi, dan karakter perserta didik dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut (Mulyasa, 2013): (1) Dorong peserta didik untuk menemukan konsep, pengertian, kompetensi dan karakter yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari; (2) Praktikkan pembelajaran secara langsung agar peserta commit to user

(7)

didik dapat membangun sikap, kompetensi dan karakter baru dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan pengertian yang dipelajari; dan (3) Gunakan metode yang paling tepat agar terjadi perubahan sikap, kompetensi, dan karakter peserta didik secara nyata.

Dalam pembentukan karakter dan kompetensi perlu diusahakan keterlibatan peserta didik seoptimal mungkin (Mulyasa, 2013). Salah satunya adalah dengan cara memberikan kesempatan dan mengikutsertakan mereka untuk turut ambil bagian dalam proses pembelajaran. Melalui kegiatan mendongeng, peserta didik dapat dilibatkan secara aktif. Mereka dapat memerankan tokoh secara bergantian, membantu guru menyiapkan peralatan atau kostum, serta aktif membuat aksesoris yang dapat mendukung kegiatan mendongeng. Jika peserta didik dilibatkan secara aktif, maka secara tidak langsung guru memberikan stimulus kreativitas kepada peserta didik. Dengan demikian, peserta didik akan mengikuti proses pembelajaran sekaligus melalui pembentukan karakter yang terbangun melalui kegiatan mendongeng.

Dongeng virtual yang sudah ada di internet. Secara khusus pada aplikasi youtube. Berdasarkan pengamatan dan hasil analisis, maka dapat diperoleh beberapa catatan tentang penyajian dongeng virtual yang udah ada. Hasil kajian dongeng-dongeng virtual yang tersedia di youtube, antara lain: dongeng pertama:

ada satu pendongeng dengan mengumpulkan beberapa siswa duduk bersama dalam satu waktu. Duduk menyimak dan mendengarkan dongeng, lalu bertanyajawab tentang dongeng yang sudah didengarkan. Dongeng kedua: satu pendongeng saja menceritakan dongeng dengan berbagai macam ekspresi. Tokoh yang diceritakan secara fiktif ditampilkan di layar pada saat diceritakan. Dongeng ketiga adalah gabungan antara gerak dan lagu, lebih cenderung disebut drama musikal. Jadi pendongeng tidak nampak, hanya terdengar suaranya. Kemudian para pemain menggenakan kostum sesuai karakternya lalu memainkan peran sambil bernyanyi.

Lagu-lagu tersebut dinyanyikan oleh pendongeng, jadi para tokoh hanya memeragakan masing-masing karakter yang diperankan.

Penelitian ini mengambil beberapa poin dari ketiga dongeng yang sudah ada di dunia virtual. Penelitian ini menggabungkan antara satu dongeng dengan commit to user

(8)

dongeng yang lain. Peneitian ini menggunakan satu pendongeng yang terlihat, kemudian masing-masing tokoh akan memainkan drama secara nyata. Kemudian lagu-lagu yang ditampilkan, akan langsung dinyanyikan oleh tokoh dalam dongeng.

Tokoh akan menyanyikan lagu dan mengajak para penonton untuk menyanyikan lagu bersama-sama. Lagu yang dinyanyikan adalah Tembang Jawa dengan menggunakan bahasa Jawa. Oleh karena itu, setiap lirik lagu yang ditampilkan saat lagu dinyanyikan, akan disertai dengan terjemahan dari dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

3. Virtual

Perkembangan teknologi di era globalisasi semakin canggih. Berbagai sarana komunikasi terus dikembangkan secara luas, demi mendukung kemajuan atau pembangunan bangsa. Salah satunya adalah perkembangan teknologi yang berbasis virtual. Pengertian virtual adalah simulasi dari fenomena atau kejadian yang nyata.

Kaitannya dengan kecanggihan teknologi virtual, sekarang ini dalam dunia pendidikan juga diberlakukan sistem yang menerapkan pembelajaran virtual (Nesson & Nesson, 2008). Pembelajaran yang berbasis pada teknologi dan informasi, biasanya berbentuk virtual. Sebuah konsep pembelajaran yang menekankan pada komunikasi jarak jauh, dimana guru dan siswa tidak perlu bertatap muka satu sama lain untuk melakukan kegiatan pembelajaran.

Teknologi virtual memiliki banyak potensi dan sangat mendukung pengetahuan siswa, khususnya untuk diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran (Chiou, 1995; Gunawan, 2017). Guru dapat memberikan dan menyalurkan materi pelajaran melalui teknologi komunikasi virtual. Sama halnya dengan siswa dapat mengunduh materi tersebut melalui teknologi virtual. Dalam masa pembelajaran secara virtual, guru dan siswa dapat bertanya jawab dengan bebas dan leluasa.

Kemudian, pengumpulan tugas juga dapat langsung disalurkan melalui teknologi virtual. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa teknologi virtual memudahkan para pengguna untuk berkomunikasi dan menyalurkan informasi dalam waktu yang cepat dan jarak yang terlampau jauh sekalipun.

Salah satu teknologi dunia maya yang digemari oleh siswa-siswa adalah aplikasi The Second Life (Woods, Wentz, & Baker, 2009). Didalamnya, siswa-commit to user

(9)

siswa dapat memilih tokoh yang memiliki beragam karakter dan kepribadian.

Melalui program The Second Life, siswa juga dapat berinteraksi dengan sesama dan juga lingkungannya. Siswa-siswa cenderung menikmati aplikasi ini karena membawa siswa memasuki dimensi lain dari dunia kesehariannya. Mereka dapat menyerap informasi yang meningkatkan pengetahuan dan sekaligus menjadikan pengalaman baru untuk bisa dipraktikkan dalam kehidupan nyata.

Virtual Classroom atau yang disebut dengan lingkungan online, digunakan oleh beberapa institusi pendidikan yang berbasis pada teknologi (Anyanwu, 2003).

Lingkungan online membuat para siswa nyaman dan memberikan kesan positif.

Para siswa dapat dengan mudah berinteraksi sosial secara maya, menikmati akses belajar yang mudah, serta meningkatkan kreativitas dan pengalaman mereka (Branley, 2017; Guardado & Palladino, 2017; Loftin, Dede, & Salzman, 1995;

Brelsford, 1993). Komunitas online dimanfaatlan oleh para pengguna untuk berkomunikasi dan berdiskusi terkait materi atau permasalahan yang sedang dihadapi. Tidak hanya komunikasi dan diskusi, namun kelas online juga mampu menyalurkan gambar, suara, dan data-data yang diperlukan.

Istilah virtual tidak hanya digunakan di kalangan para siswa, namun juga di kalangan mahasiswa. Beberapa universitas menyelenggarakan lingkungan yang berbasis pada teknologi, atau yang disebut kampus virtual (Boshier, R.et al., 2001).

Pengondisian kampus virtual bertujuan untuk memudahkan para mahasiswa untuk mengakses berbagai informasi yang diperlukan, kaitannya dengan tugas-tugas kuliah maupun pekerjaan yang mereka miliki. Dampak lain dari adanya program kampus virtual adalah menambah nilai plus bagi universitas, khususnya dalam hal promosi bagi para siswa lulusan sekolah menengah.

Modernisasi teknologi sudah dilakukan sejak tahun 1980an, tentunya disesuaikan dengan kemungkinan arah dan perspektif masa depan (Shields, 1996).

Perkembangan teknologi saat ini sudah memasuki dunia online yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Salah satunya adalah bidang pendidikan, yang tidak hanya nampak namun juga berdampak kemajuannya. Pendidikan yang diselenggarakan secara online dapat menciptakan sebuah komunitas virtual (Peltier,

& Drago, Schibrowsky, 2003). Sebuah model pembelajaran yang membentuk para commit to user

(10)

peserta didik untuk membangun jejaring dalam sebuah komunitas. Interaksi antar siswa maupun antara guru dan siswa. Pembelajaran dilakukan dengan cara pendampingan dan pembimbingan tentang teknologi informasi dan struktur latihan- latihan. Dengan demikian, peserta didik dapat memiliki pengalaman yang efektif tentang pendidikan online.

Teknologi virtual di era digital tidak hanya booming di kalangan generasi muda atau tingkat siswa di sekolah dasar dan menengah. Akan tetapi, juga sangat dekat dengan mahasiswa dari tingkat sarjana, magister, hingga doktoral (Gouseti, 2017). Secara khusus untuk sekolah-sekolah dan universitas yang telah memiliki kemampuan pengelolaan TIK (Teknologi, Informatika, dan Komputer) canggih, akan mulai mengembangkan sistem teknologi digital (Fletcher & Nicholas, 2016).

Salah satunya adalah sistem pembelajaran online (Hartley, Ludlow, & Duff, 2017) dengan E-Learning. Dengan adanya kecanggihan teknologi digital, pembelajaran E-Learning menjadi salah satu alternatif yang baik bagi sistem pembelajaran di era globalisasi.

E-Learning adalah sebuah sistem pembelajaran yang disusun secara lengkap berbasis TIK (Divayana, 2017). E-Learning menyediakan semua materi pelajaran yang dapat diakses dengan mudah secara online, juga dalam kegiatan diskusi atau sharing baik dengan teman sejawat maupun guru atau dosen (Lau, K., et al,.2018).

Pembelajaran tatap muka akan jarang digunakan, ketika semua sekolah atau universitas beralih kepada sistem E-Learning. Dampak budaya E-Learning merupakan sebuah strategi bagi institusi pendidikan untuk menyukseskan peserta didiknya (Aparicio, M., Bacao, F., & Oliveira, T., 2016). Oleh karena itu, perlu diindentifikasi dan dikembangkan tentang sejauh mana kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki oleh guru atau calon guru dalam hal teknologi yang dikuasai (Macfarlane, et al., 2017). Guru perlu memiliki standar kemmapuan dan dasar pemikiran yang selaras dengan perkembangan teknologi saat ini, sehingga guru dapat menjadi agen perubahan bagi sistem pembelajaran yang berbasis pada teknologi digital.

commit to user

(11)

4. Dongeng Virtual

Pada umumnya, dongeng di kalangan peserta didik sudah beragam jenisnya.

Hal itu dibuktikan dengan adanya berbagai jenis dongeng yang ada di internet maupun buku-buku dongeng untuk peserta didik khususnya sekolah dasar.

Dongeng yang disajikan dengan varian warna, animasi, alur, dan juga penokohan, akan menjadi hal yang sangat menarik bagi mereka. Dongeng Virtual merupakan salah satu media pembelajaran yang berwujud video. Dongeng Virtual mengandung unsur intrinsik dan ekstrinsik dongeng yang dimainkan dalam nuansa virtual. Istilah virtual yang dimaksud adalah simulasi dari fenomena atau kehidupan nyata yang dialami dan dihadapi oleh anak dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya, Dongeng Virtual lebih menyoroti sisi interaksi peserta didik kepada lingkungan d sekitarnya.

Seperti halnya program kampus virtual, lingkungan online, dan sistem pembelajaran E-Learning, dongeng virtual juga diciptakan untuk memfasilitasi dan membantu tumbuh kembang siswa ke arah yang positif. Dongeng virtual yang berbentuk video dalam penelitian ini merupakan salah satu bentuk pengembangan media pembelajaran khususnya di jenjang sekolah dasar. Dongeng virtual dalam produk penelitian ini terdiri dari 5 (lima) chapter atau judul yang menceritakan tentang kehidupan keseharian anak. Tokoh-tokoh dalam dongeng memeragakan peran dengan menarik, sehingga peserta didik yang menyaksikan video dongeng virtual akan menyerap isi cerita sekaligus pesan moral yang tersampaikan sebagai salah satu materi pembentukan karakter.

Dongeng Virtual sebagai produk dari penelitian ini bertujuan untuk membentuk karakter para peserta didik, baik itu di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Melalui video yang disaksikan oleh peserta didik, diharapkan akan muncul kesadaran untuk memperbaiki karakter yang buruk menjadi baik, dan yang baik menjadi lebih baik. Dalam penelitian ini, produk video Dongeng Virtual yang dibuat berfokus pada nilai-nilai Serat Wulang Reh. Nilai-nilai budi pekerti budaya Jawa Tengah yang mendukung pembentukan karakter siswa. Ragam nilai-nilai Serat Wulang Reh secara rinci akan dibahas di dalam sub bab selanjutnya.

commit to user

(12)

5. Sastra Wulang Dalam Naskah Jawa

Sastra Wulang atau Piwulang dalam naskah Jawa memiliki ragam bentuk (Setiawan, 2014). Ada yang berbentuk prosa, setengah prosa, syair, ataupun puisi.

Ada bermacam-macam nama dan jenis Serat Wulang dalam naskah Jawa. Beberapa diantaranya dikenal dengan nama Tembang Macapat. Dalam bukunya, Harsono (2010) menjelaskan tentang peradaban para pemimpin di masa lampau. Terkait para narendra yang memerintah di keraton Surakarta, yaitu Sunan Paku Buwana. Setiap pergantian periode, Paku Buwana menciptakan kebijakan yang tertuang dalam Serat-serat Piwulang.

Beberapa contoh Serat Wulang yang dimiliki oleh masyarakat Jawa (Harsono, 2010:109); (Hartini, 2013:33-60), antara lain: Serat Sandi Wanita, Serat Candra Rini, Serat Dharma Waista, Serat Wulang Putri, Serat Wulang Reh, Serat Wulang Sunu, Serat Centhini, Serat Kanjeng Surya Raja, Serat Wiwaha Jarwa, Serat Rama Jarwa, Serat Bratayudha, Serat Paniti Sastra, Serat Arjuna Sasra atau Lokapala, Serat Darmasunya, Serat Dewaruci Jarwa, Serat Menak, Serat Ambia, Serat Tajussalatin, Serat Cebolek, Serat Babad Giyanti, Serat Sasanasunu, dan Serat Wicara Keras.

Setiap Serat Wulang yang ditulis oleh Sunan Paku Buwana dari masa ke masa memiliki ciri khas, karakter dan tujuan yang berbeda. Kekhasan dan tujuan tulisan Serat disesuaikan dengan kondisi faktual yang terjadi di setiap masa pemerintahan Sunan Paku Buwana. Oleh karena itu Serat Wulang memiliki beragam karakteristik dalam segala kondisi kehidupan manusia. Secara khusus penelitian ini merujuk pada Serat Wulang Reh yang disusun oleh Sunan Paku Buwana IV.

6. Serat Wulang Reh

Serat Wulang Reh merupakan karangan Sri Susuhunan Paku Buwana IV di Surakarta Hadiningrat. Harsono (2010) menyatakan bahwa Serat Wulang Reh berasal dari kata “wulang” berarti ajaran, sedangkan “reh” berarti perintah. Dengan demikian, Wulang Reh dapat diartikan sebagai perintah untuk melaksanakan ajaran.

Pengertian ajaran disini adalah nilai-nilai moral yang diberlakukan sebagai standar etika dalam kehidupan bermasyarakat.

commit to user

(13)

Hingga saat ini Serat Wulang Reh sangat popular di lingkungan kebudayaan Jawa. Orang Jawa sangat memperhatikan dan menjunjung tinggi nilai-nilai budi pekerti yang terdapat dalam pengajaran Serat Wulang Reh untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan Serat Wulang Reh ini ditulis adalah untuk memperoleh ketajaman moral serta intelektual agar manusia tepat dalam meniti karier hidup (Harsono, 2010). Serat Wulang Reh berisi tentang pendidikan budi pekerti yang memiliki nilai-nilai karakter, dan sekaligus merupakan warisan leluhur yang bernilai tinggi untuk para generasi penerus bangsa.

Ajaran hidup Serat Wulang Reh yang tertulis dalam buku Harsono (2010) antara lain: pemahaman akan rahasia hidup, mempertajam mata batin, menghindari sikap sombong, kewajiban orang hidup, sikap bakti kepada orang tua, bentuk pengabdian kepada raja, meningkatkan cipta rasa, hidup rukun, berbudi mulia, melaksanakan perintah syariat, mengikuti kemajuan zaman, fatwa kepada putra wayah, serta etika dalam pemerintahan.

Dalam bukunya, Harsono (2010) menjelaskan nilai-nilai Serat Wulang Reh tentang pengajaran hidup dan juga filsafat yang bertitik tumpu pada “Tembang Macapat”. Kumpulan lagu atau tembang dari daerah Jawa, dimana pesan yang disampaikan melalui lagu-lagu tersebut merupakan nilai-nilai budi pekerti.

Beberapa nilai-nilai dalam falsafah hidup Serat Wulang Reh, antara lain: sabar, bijaksana, arif, tidak ceroboh, tidak gegabah, perlahan tapi pasti, teliti, tekun, handarbeni, menghormati orang yang lebih tua, mengurangi tidur dan makan (mengendalikan diri), rendah hati atau tidak sombong, selalu bersyukur, dan senantiasa menjaga kerukunan.

Budi pekerti luhur senantiasa dijunjung tinggi dalam falsafah hidup bangsa, namun demikian kemerosotan moral semakin gencar merintangi kehidupan berbangsa. Berbagai masalah timbul akibat kurangnya kesadaran akan hak asasi manusia yang harus dihormati. Perilaku yang bersifat materialis, hedonis, dan egois, seringkali memicu perselisihan di kehidupan bermasyarakat. Terlalu banyak menuntut dan menghakimi orang lain, tanpa bercermin dengan keadaan diri sendiri.

Tidak lagi tunduk kepada otoritas, namun senang membangkang dengan berbagai alasan. Hal-hal semacam itulah yang menghambat pembentukan karakter manusia. commit to user

(14)

Perlu adanya pengendalian lingkungan pengajaran dan motivasi siswa yang cenderung menuju ke arah negatif (Bartholomew, et. al., 2018).

Berpijak dari pembentukan karakter, setiap wilayah kepulauan di Indonesia memiliki adat istiadat dan budaya yang beragam. Masing-masing suku bangsa memiliki norma yang diberlakukan di masyarakatnya. Dalam hal ini, masyarakat Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki nilai-nilai dan tatanan norma yang dibalut dalam adat istiadat bersejarah (Ghufron, 2017). Hal yang menarik adalah norma-norma ini tidak hanya tertuang dalam bentuk tulisan, melainkan juga lagu. Setiap lirik lagu yang berisikan norma dan nilai-nilai moral dinamakan dengan “Tembang Macapat”. Nilai-nilai karakter yang ada dalam Tembang Macapat, ditulis oleh salah seorang ternama pada zamannya yaitu Pakubuwana IV. Tokoh ini memberi nama tulisannya dengan sebutan “Serat Wulang Reh”. Masyarakat Jawa Tengah hanya terbiasa mendengar Tembang Macapat, sedangkan istilah Serat Wulang Reh belum banyak disosialisasikan kepada khalayak.

Harsono (2010) mengungkapkan bahwa Serat Wulang Reh berisi penjelasan dari setiap lagu atau Tembang Macapat. Penjelasan inilah yang mengandung unsur nilai-nilai karakter, norma etika, moralitas, dan penanaman budi pekerti. Tembang Macapat dijadikan sebagai salah satu muatan lokal kabupaten Semarang yang terintegrasi dalam kurikulum setiap satuan pendidikan. Pada umumnya, Tembang Macapat diajarkan kepada siswa didik dalam bentuk lagu atau nyanyian. Para peserta didik diminta memelajari nada dan lirik setiap Tembang Macapat, agar dapat mengapresiasikan lagu dengan baik dan benar. Namun sangat disayangkan, jika indikator pencapaian Tembang Macapat hanya sebatas siswa didik menguasai lagu tanpa memahami arti dari lagu yang dilantunkan.

Salah satu keunikan Tembang Macapat adalah setiap tembang atau lagu memiliki watak masing-masing. Harsono (2010) memaparkan tentang sebelas tembang Macapat, yaitu: Maskumambang, Mijil, Kinanthi, Sinom, Asmaradana, Gambuh, Dhandhang Gula, Durma, Pangkur, Megatruh, dan Pucung. Masing- masing tembang memiliki ciri, watak, dan nilai-nilai karakter yang berbeda-beda.

Pertama, Maskumambang memiliki watak: sedih, cemas, dan berharap namun tidak commit to user

(15)

berdaya menghadapi kehidupan baru. Kedua, Mijil memiliki watak: asih, lembut, murni, berpengharapan, dan penuh syukur. Tembang Mijil banyak digunakan sebagai media untuk memberi nasihat, cerita cinta, dan pengajaran kepada manusia untuk selalu kuat dan tabah dalam menjalani kehidupan. Gambaran tentang perasaan kesedihan maupun kebahagiaan tercermin dari tembang-tembang macapat Mijil.

Selanjutnya, Sinom memiliki watak: bersemangat, bijaksana, dan bersahaja.

Kinanthi memiliki watak senang, dinamis, dan bersemangat. Asmaradana berwatak: bahagia, kasmaran, dan berpengharapan. Gambuh berisi tentang berbagai pelajaran yang ditujukan kepada generasi muda. Secara khusus, banyak pelajaran tentang hidup sebagai orang muda yang bijaksana dan bersahaja, rendah hati, serta mawas diri. Beberapa kalangan memaknai Gambuh sebagai sebuah wejangan dalam menuturkan kata dan menentukan sikap sesuai porsi dan tempatnya.

Dhandhang Gula memiliki watak: luwes, gembira, dan indah, sangat cocok digunakan sebagai tembang pembuka yang menjabarkan berbagai pengajaran tentang kebaikan, ungkapan rasa cinta, dan kebahagiaan.

Selanjutnya, Durma memiliki watak: amarah, berontak, dan juga pembangkang. Tembang ini menggambarkan keadaan manusia yang cenderung berbuat buruk, egois, dan ingin menang sendiri. Pangkur adalah tembang yang bernuansa Pitutur (nasihat), pertemanan, dan kasih sayang. Tembang ini juga berbicara tentang kegembiraan dan pengendalian hawa nafsu manusia. Megatruh bersifat sedih, prihatin, “getun”, menyesal. Pucung berwatak sembrana parikena (humoris, penuh canda tawa, ceria, mandiri), biasanya dipakai untuk menceritakan hal-hal yang ringan, jenaka atau teka-teki.

Berikut ini adalah contoh bait tembang-tembang macapat (Harsono, 2010), yang mengandung nilai-nilai karakter, khususnya yang berguna bagi generasi muda untuk hidup menjadi para pemimpin bangsa di masa depan.

commit to user

(16)

a. Contoh Tembang Maskumambang

1) Tembang Maskumambang memiliki kaidah: 12i – 6a – 8i – 8a 2) Contoh tembang Maskumambang adalah:

Dhuh siswa mas sira wajib angurmati (siswa-siswa wajib menghormati) Marang yayah rena (kepada orang tua dan orang yang lebih tua)

Aja pisan kumawani (jangan sekalipun berani melawan atau membantah) Anyenyamah gawe susah (karena dapat berakibat buruk bagi diri sendiri)

b. Contoh Tembang Mijil

1) Tembang Mijil memiliki kaidah: 10i – 6o – 10e – 10i – 6i – 6o 2) Contoh tembang Mijil adalah :

Poma kaki padha dipuneling (dengarkan dan ingatlah) Ing pitutur ingong (atas nasihat-nasihat ini)

Sira uga satriya arane (kamu bisa disebut siswa yang bertanggungjawab) Kudu anteng jatmika ing budi (tenang dan bijaksana dalam bersikap) Rukun sarta wasis (rukun dan berbudi pekerti)

Samubarangipun (dan dalam semua yang dikerjakan)

c. Contoh Tembang Kinanthi

1) Tembang Kinanthi memiliki kaidah: 8u – 8i – 8a – 8i – 8a – 8i 2) Contoh tembang Kinanthi adalah:

Padha gulangen ing kalbu (latihlah hatimu)

Ing sasmita amrih lantip (agar kamu menjadi pintar) Aja pijer mangan nendra (jangan hanya makan dan tidur) Ing kaprawiran denkesthi (berpikirlah bijaksana)

Pesunen sariranira (bertekunlah dirimu)

Cegahen dhahar lan guling (kurangi makan dan tidur)

d. Contoh Tembang Sinom

1) Tembang Sinom memiliki kaidah: 8a – 8i – 8a – 8i – 7i – 8u – 7a – 8i – 12a 2) Contoh tembang Sinom adalah: commit to user

(17)

Nulada laku utama (mencontohlah perilaku yang utama) Tumrape wong tanah Jawi (bagi orang di tanah Jawa)

Wong agung ing Ngeksiganda (orang besar dari Ngeksiganda/Mataram) Panembahan Senopati (panembahan Senopati)

Kepati amarsudi (sangat tekun berusaha)

Sudane hawa lan nepsu (mengurangi hawa nafsu) Pinepsu tapa brata (dengan cara laku prihatin/bertapa) Tanapi ing siyang ratri (yang dilakukan siang dan malam)

Amamangun karyenak tyasing sesame (berkarya membangun ketenteraman hati sesama)

e. Contoh Tembang Asmaradana

1) Tembang Asmaradana memiliki kaidah: 8i – 8a – 8e – 7a – 8a – 8u – 8a 2) Contoh tembang Asmaradana adalah:

Gegaraning wong akrami (penguat dalam pernikahan) Dudu bandha dudu rupa (bukan harta atau fisik) Amung ati pawitané (tetapi hatilah modal utamanya) Luput pisan kena pisan (sekali jadi, jadi selamanya)

Lamun gampang luwih gampang (jika mudah, semakin gampang) Lamun angèl, angèl kalangkung (jika sulit, sulitnya bukan main) Tan kena tinumbas arta (tak bisa ditebus dengan harta)

f. Contoh Tembang Gambuh

1) Tembang Gambuh memiliki kaidah: 7u – 10u – 12i – 8u – 8o 2) Contoh tembang Gambuh adalah:

Sekar gambuh ping catur, (tembang gambuh keempat)

Kang cinatur polah kang kalantur, (yang dibicarakan tentang perilaku yang kebablasan)

Tanpa tutur katula-tula katali, (tanpa nasihat terjerat penderitaan) Kadaluwarsa kapatuh, (terlanjur menjadi kebiasaan)

Kapatuh pan dadi awon. (kebiasaan bisa berakibat buruk) commit to user

(18)

g. Contoh Tembang Dhandhang Gula

1) Tembang Dhandhanggula memiliki kaidah: 10i – 10a – 8e – 7u – 9i – 7a – 6u – 8a – 12i – 7a

2) Contoh tembang Dhandhang Gula adalah:

Lamun sira ameguru kaki (jika kamu menuntut ilmu) Amiliha manungsa sanyata (pilihlah guru yang tepat) Ingkang becik martabate (yang baik martabatnya) Sarta kawruh ing ukum (serta mengenal hukum)

Kangibadah lan kang ngirangi (yang mengurangi kebiasaan buruk)

Sukur oleh wong tapa ingkang wus amungkul (bersyukur mendapatkan guru yang berkualitas)

Tan gumantung liyan (yang tidak berpamrih)

Iku wajib guronana kaki (itulah yang pantas kamu jadikan guru) Sartane kawruhana (pelajari dan pahamilah)

h. Contoh Tembang Durma

1) Tembang Durma memiliki kaidah: 12a – 7i – 6a – 7a – 8i – 5a – 7i 2) Contoh tembang Durma adalah:

Ayo kanca gugur gunung bebarengan (marilah kawan-kawan bersama) Aja ana kang mangkir (jangan ada yang duduk diam berpangkutangan) Amrih kasembadan (milikilah hati yang ikhlas)

Tujuan pembangunan (untuk saling membangun) Pager apik dalan resik (pagar yang indah dan bersih) Latar gumelar (halaman yang luas)

Wisma asri kaeksi (tempat tinggal yang asri)

i. Contoh Tembang Pangkur

1) Tembang Pangkur memiliki kaidah: 8a – 11i – 8u – 7a – 12u – 8a – 8i 2) Contoh tembang Pangkur adalah:

commit to user

(19)

Nggugu karsane priyangga, (menuruti kemauan sendiri)

Nora nganggo peparah lamun angling, (tanpa tujuan jika berbicara) Lumuh ingaran balilu (tak mau dikatakan bodoh)

Uger guru aleman, (seolah pandai agar dipuji)

Nanging janma ingkang wus waspadeng semu, (namun manusia yang telah mengetahui akan gelagatnya)

Sinamun samudana, (malah merendahkan diri)

Sesadoning adu manis. (menanggapi semuanya dengan baik)

j. Contoh Tembang Megatruh

1) Tembang Megatruh memiliki kaidah: 12u – 8i – 8u – 8i – 8o 2) Contoh tembang Megatruh adalah:

Mangkanyata wicarane sepet madu (ketika berbicara semanis madu) Sesadone adu manis (bergurau dengan orang lainpun manis)

Memanis yen gumuyu (apalagi ketika tersenyum)

Ayu rahayu ning dhiri (memancarkan aura kecantikan diri)

Widagda nganggit lelakon (menggambarkan pribadi yang cerdas dalam bertingkahlaku)

k. Contoh Tembang Pocung

1) Tembang Pocung memiliki kaidah: 12u – 6a – 8i – 12a 2) Contoh tembang Pocung adalah:

Ngelmu iku kalakone kanthi laku (ilmu itu hanya dapat diraih dengan cara dilakukan dalam perbuatan)

Lekase lawan kas (dimulai dengan kemauan)

Tegese kas nyantosani (artinya kemauan yang menguatkan) Setya budaya pangekese dur angkara

(ketulusan budi dan usaha adalah penakluk kejahatan).

commit to user

(20)

Penelitian ini fokus kepada pengajaran tentang kehidupan manusia khususnya pada generasi muda yang sedang produktif mencari ilmu, berguru untuk menemukan jati diri dan pengalaman, serta meraih cita dan pengharapan yang diidamkan. Tembang Macapat yang dipilih dalam penelitian ini antara lain: tembang Pocung, Dhandhang Gula, Mijil, Gambuh, dan Kinanthi.

Penelitian ini memelajari nilai-nilai yang terkandung dalam Serat Wulang Reh untuk para generasi muda. Hal ini bertujuan agar para generasi muda dapat memiliki wejangan dan fondasi karakter yang kuat dalam menjalani kehidupan dan menyesuaikan diri dengan perkembangan sekarang ini. Meski Serat Wulang Reh merupakan sastra dalam ajaran Jawa kuno, namun nilai-nilai yang terkandung didalamnya sangat beragam dan aplikatif untuk dimanfaatkan pada kehidupan saat ini. Oleh karena itu, penelitian ini khusus mengambil dan mengaplikasikan nilai-nilai karakter yang sesuai untuk dipakai kalangan pemuda remaja dalam menghadapi perkembangan zaman.

7. Pembentukan Karakter

Karakter adalah hal yang utama dari manusia berkualitas (Manullang, 2013). Nilai-nilai karakter yang luhur senantiasa dijunjung tinggi dalam falsafah hidup bangsa, yaitu Pancasila. Namun demikian, kemrosotan moral akibat krisisnya penanaman nilai karakter semakin gencar merintangi kehidupan berbangsa. Berbagai masalah timbul akibat kurangnya kesadaran akan hak asasi manusia yang harus dihormati. Perilaku yang bersifat materialis, hedonis, dan egois, seringkali memicu perselisihan di kehidupan bermasyarakat. Terlalu banyak menuntut dan menghakimi orang lain, tanpa bercermin dengan keadaan diri sendiri. Tidak lagi tunduk kepada otoritas, namun senang membangkang dengan berbagai alasan. Hal-hal semacam itulah yang menghambat pembentukan karakter manusia. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran akan pentingnya pendidikan karakter yang harus dibangun sejak dini untuk menunjang keutuhan bangsa.

Pendidikan memang penting, tetapi pembentukan karakter jauh lebih penting. Guru dapat menjadi penolong yang luar biasa bagi orang tua, tetapi orang tua harus membiarkan para guru mengetahui bahwa karakter adalah commit to user

(21)

penting bagi mereka (Yates dan Yates, 2012:129). Mulyasa (2013) mengemukakan bahwa melalui pendidikan karakter, peserta didik diharapkan mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasikan serta memersonalisasikan nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu Filsuf Yunani yang bernama Aristoteles menyatakan bahwa kecenderungan manusia yang hidup di zaman modern mulai mengikis segala bentuk norma dan budi pekerti yang berlaku di masyarakat (Lickona, 2013).

Kesenjangan yang terjadi khusunya di kalangan muda dewasa ini sungguh memprihatinkan. Nilai-nilai moral dan budi pekerti luhur mulai luntur karena kebiasaan buruk yang sudah membudaya dan dianggap sebagai hal yang wajar serta mendapatkan permakluman oleh beberapa pihak. Oleh karena itu, penting bagi bagi para pendidik untuk menanamkan pendidikan karakter sejak dini.

Pembenahan diri setelah usia anak akan jauh lebih sulit dibandingkan pada masa kanak-kanak. Jika sejak dini siswa-siswa ditanamkan nilai karakter yang baik, maka akan menjadi aset besar untuk menjadi generasi penerus bangsa yang cerdas, berkualitas, dan berkarakter (Dongoran, 2014). Penelitian ini mengangkat salah satu filosofi yang terdapat dalam Serat Wulang Reh sebagai upaya untuk menajamkan nilai-nilai karakter yang sudah ditanamkan sejak dini oleh setiap pendidik, baik orang tua maupun guru.

Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 menyebutkan dengan jelas bahwa kompetensi dasar dalam Kurikulum 2013 mencakup sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan. Keempat kompetensi dasar ini sama pentingnya dalam membangun kemampuan siswa baik kecerdasan akademis, emosi maupun sosial. Chatib (2011) mengemukakan tentang kemampuan dalam arti luas, yaitu kemampuan kognitif (menghasilkan keterampilan berpikir), psikomotorik (menghasilkan keterampilan berkarya) dan afektif (menghasilkan kemampuan bersikap).

Kurikulum 2013 terbagi dalam empat kompetensi dasar yang diupayakan dapat tercapai oleh siswa secara utuh dan menyeluruh. Chatib dan Alamsyah (2012) mengemukakan bahwa sejatinya fungsi pendidikan seperti piramida commit to user

(22)

terbalik, yakni ujung lancip piramida merupakan wilayah kognitif dan wilayah yang paling luas dan teratas adalah akhlak (afektif). Aspek terpenting dalam pribadi manusia adalah akhlak atau faktor afektif. Pengetahuan dan kreatifitas memang penting untuk membangun jati diri, namun sikap dan perilaku jauh lebih penting dalam mewujudkan kehidupan yang menjadi suri teladan.

Integritas, dedikasi, dan loyalitas yang tinggi diperoleh dari sikap yang bertanggungjawab. Oleh karena itu, sikap merupakan faktor penting dalam mengukur tumbuh kembang seseorang ke arah pribadi yang dewasa. Untuk mendapatkan kondisi akhir terbaik dari anak serta dampak yang positif atau keuntungan, maka dapat diupayakan optimalisasi pembiasaan sikap yang baik.

Berikut penjelasannya dalam diagram pada Gambar 1.

Gambar 1. Fungsi Pendidikan menurut Chatib dan Alamsyah (2012)

Kognitif

Kondisi Akhir Terbaik

Daya Manfaat (Benefit)

commit to user

(23)

Sejalan dengan teori yang disampaikan oleh Chatib (2012), pemerintah Indonesia juga sedang mengupayakan revolusi mental melalui program penguatan pendidikan karakter. Nilai-nilai karakter yang semula dikelompokkan menjadi 18, kini dipadatkan atau dirangkum menjadi 5 nilai karakter, yaitu: religius, mandiri, nasionalis, gotong royong, dan integritas. Jika dilihat kembali, kelima nilai karakter tersebut merupakan komponen-komponen nilai karakter yang terangkum dalam kompetensi inti spiritual dan sikap pada Kurikulum 2013. Dengan demikian, implementasi Kurikulum 2013 tidak lepas dari dasar nilai-nilai karakter yang dicanangkan oleh pemerintah melalui sistem pendidikan.

Secara garis besar, ketiga dasar fungsi pendidikan menurut Chatib ini membentuk sebuah teori kolaboratif yang kuat. Bingkai besarnya adalah fungsi pendidikan yang terdiri dari afektif (sikap), psikomotorik (keterampilan), dan kognitif (pengetahuan). Kemudian, pada komponen afektif dijabarkan pula dari dua kompetensi inti Kurikulum 2013 yaitu sikap spiritual dan sosial. Dalam komponen afektif, dapat dijabarkan lagi menjadi nilai-nilai karakter berdasarkan Penguatan Pendidikan Karakter dalam Gerakan Nasional Revolusi Mental 2017, yaitu:

religius, mandiri, nasionalis, gotong royong, dan integritas (Kristiawan, 2015).

Dengan dasar teori ini, maka dapat dibuat sebuah sintak baru tentang penanaman nilai-nilai karakter yang bersumber dari komponen afektif atau sikap.

Penelitian ini fokus kepada nilai afektif dengan unsur sikap spiritual dan sosial yang tercakup dalam penjabaran Kompetensi Inti pada Kurikulum 2013.

Kemudian, untuk nilai-nilai karakter akan disesuaikan dengan Penguatan Pendidikan Karakter yang menekankan pada nilai: religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas. Nilai-nilai karakter difokuskan pada perkembangan generasi muda saat ini. Hal itu bertujuan untuk membentuk dan membangun karakter siswa-siswa muda untuk memiliki keteguhan dan ketangguhan dalam merespon falsafah hidup. Berikut ini dapat dilihat cakupan nilai-nilai karakter Penguatan Pendidikan Karakter sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental pada Tabel 1.

commit to user

(24)

Tabel 1. Cakupan Nilai-nilai Penguatan Pendidikan Karakter

Nomor Nilai

Karakter Definisi Karakter Subnilai Karakter

1 Religius

Mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku untuk melaksanakan referensian agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain, hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain.

cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama, teguh pendirian, percaya diri, kerja sama lintas agama, antibuli dan kekerasan, persahabatan,

ketulusan, tidak

memaksakan kehendak, melindungi yang kecil dan tersisih

2 Nasionalis

Merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya

apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, rela berkorban, unggul dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat

hukum, disiplin,

menghormati keragaman budaya, suku, dan agama

3 Mandiri

Merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi dan cita-cita.

etos kerja (kerja keras), tangguh tahan banting, daya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

4 Gotong

Royong

Mencerminkan tindakan menghargai semangat kerjasama dan bahu membahu menyelesaikan persoalan bersama, memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, bersahabat dengan orang lain dan memberi bantuan pada mereka yang miskin, tersingkir dan membutuhkan pertolongan

menghargai, kerjasama, inklusif, komitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat,

tolong menolong,

solidaritas, empati, anti diskriminasi, anti

kekerasan, sikap

kerelawanan

5 Integritas

Merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral (integritas moral). Karakter integritas meliputi sikap tanggungjawab sebagai warga negara, aktif terlibat dalam kehidupan sosial, melalui konsistensi tindakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran

kejujuran, cinta pada kebenaran, setia, komitmen moral, anti korupsi, keadilan, tanggungjawab, keteladanan, menghargai martabat individu (terutama penyandang disabilitas)

Sumber: Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter

commit to user

(25)

Berdasarkan cakupan nilai-nilai karakter pada Penguatan Pendidikan Karakter seperti dalam Tabel 8, maka akan diambil satu subnilai karakter dari masing-masing nilai karakter. Nilai karakter yang diambil, antara lain: (1) Religius:

ketulusan; (2) Nasionalis: unggul dalam prestasi; (3) Mandiri: kerja keras dan kreatif; (4) Gotong Royong: kerja sama; dan (5) Integritas: keteladanan. Nilai karakter yang sudah ditentukan, kemudian diselaraskan dengan watak-watak yang dimiliki oleh setiap Tembang Macapat. Dengan demikian, akan terbentuk sebuah sintak baru yaitu nilai-nilai karakter yang didapatkan dari penyelerasan nilai-nilai karakter pada Penguatan Pendidikan Karakter (Tabel 1) dan nilai-nilai Tembang Macapat (Tabel 2). Dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 2. Nilai-nilai Tembang Macapat

Tembang Macapat Metrum Nilai-nilai

Maskumambang 12i – 6a – 8i – 8a sedih, cemas

Mijil 10i – 6o – 10e – 10i – 6i – 6o

asih, lembut, murni, berpengharapan, dan penuh syukur

Sinom 8a – 8i – 8a – 8i – 7i – 8u – 7a – 8i – 12a

bersemangat, bijaksana, dan bersahaja

Asmaradana 8i – 8a – 8e – 7a – 8a – 8u – 8a bahagia, kasmaran, dan berpengharapan Kinanthi 8u – 8i – 8a – 8i – 8a – 8i senang, dinamis, dan

bersemangat

Gambuh 7u – 10u – 12i – 8u – 8o rendah hati, mawas diri Dhandhang Gula 10i – 10a – 8e – 7u – 9i – 7a – 6u –

8a – 12i – 7a luwes, gembira, dan indah

Durma 12a – 7i – 6a – 7a – 8i – 5a – 7i sifat amarah, berontak, pembangkang

Pangkur 8a – 11i – 8u – 7a – 12u – 8a – 8i akrab, kasih sayang

Megatruh 12u – 8i – 8u – 8i – 8o Menyesal

Pocung 12u – 6a – 8i – 12a ceria, mandiri

Sumber: Harsono (2010:73-103)

* Metrum adalah ukuran irama yang ditentukan oleh jumlah dan panjang tekanan suku kata di setiap baris.

* Dalam Tembang Macapat, metrum didapatkan dari adanya guru wilangan dan guru lagu.

* Guru Wilangan adalah jumlah suku kata dalam setiap baris tembang.

* Guru Lagu adalah adalah jatuhnya vocal (a, i, u, e, o) dalam setiap baris tembang.

commit to user

(26)

Tabel 3. Sintak Sinkronisasi Nilai-nilai Karakter

Chatif Kurikulum 2013

Nilai Karakter

Revolusi Mental

Tembang Macapat

Nilai-nilai karakter yang

dipilih

Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Afektif

Sikap

Spiritual Religius Mijil Ketulusan Arti sebuah

persahabatan.

Sikap Sosial

Nasionalis Kinanthi Bersemangat

Belajar giat meraih prestasi.

Mandiri Pocung Mandiri

Membantu orang tua (tidak manja).

Gotong Royong

Dhandhang gula

Luwes (fleksibel)

Bekerja sama untuk

menyelesaikan pekerjaan.

Integritas Gambuh Rendah hati

Memberikan teladan sebagai seorang pemimpin.

Psikomotorik Keterampilan Pengetahuan dan keterampilan akan turut berkembang seiring dengan pertumbuhan karakter yang diwujudnyatakan melalui sikap, baik dalam wujud tutur kata maupun perbuatan.

Kognitif Pengetahuan

B. Kajian Hasil Penelitian Relevan

Beberapa penelitian telah dilakukan terkait pengembangan bahan referensi untuk kalangan pendidikan di semua jenjang. Secara khusus penelitian ini membahas tentang pengembangan bahan referensi dongeng virtual di jenjang sekolah dasar. Penelitian tentang pengembangan dongeng virtual dikerjakan dengan basis nilai-nilai karakter pada Serat Wulang Reh. Berikut beberapa kajian tentang hasil penelitian yang relevan guna mendukung penelitian ini.

Sebuah penelitian tentang pembelajaran moral kepada siswa-siswa di Malaysia dengan menggunakan media pembelajaran virtual berbasis pada cerita rakyat Hikayat Land (Masmuzidin et al., 2012). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah teknologi maya dapat menjadi piranti alternatif untuk meningkatkan kegiatan belajar mengajar khususnya tentang penanaman nilai-nilai moral, serta sebagai sebuah cara untuk membuat dongeng-dongeng Malaysia menjadi lebih asyik untuk dipelajari. Peneliti tersebut menjelaskan bahwa jarak antara pengguna yang berdiri di satu titik dan materi bacaan yang dikontribusikan dapat terbaca pada commit to user

(27)

paparan layar. Akan tetapi, peneliti tidak menyebutkan standar jarak membaca untuk siswa serta pada tahapan usia tertentu. Peneliti mengatakan bahwa metode tradisional dan baru akan membuat perbedaan dalam kegiatan belajar mengajar tentang penanaman nilai-nilai moral, khususnya untuk membelajarkan kepada siswa tentang nilai-nilai moral di dalam keluarga. Lebih lanjut dikatakan bahwa ada perbedaan kecepatan membaca antara siswa laki-laki dengan perempuan, juga antara siswa-siswa berusia lebih muda (11-12 tahun) dengan siswa-siswa berusia lebih tinggi (13-14 tahun). Hal ini akan menjadi lebih baik ketika keduanya diukur, baik itu terkait berapa banyak kata yang dapat dibaca dalam oleh siswa-siswa dalam setiap menit, maupun seberapa jauh siswa-siswa memahami apa yang sudah mereka baca.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 112 cerita tersebut, 51 (45,5%) adalah cerita rakyat, 49 (43,7%) cerita pendek, 6 cerita Aesop, 3 cerita Andersen, dan 3 cerita improvisasi. Tiga puluh cerita diceritakan, dan 82 dibaca. Narasi pada dasarnya digunakan untuk cerita rakyat (22 dari 30 cerita adalah cerita rakyat), sedangkan pembacaan cerita didasarkan pada buku cerita bergambar (dari cerita ini, 29 diilustrasikan cerita rakyat). Lima cerita rakyat adalah yang paling populer, diantaranya: (1) Little Red Riding Hood: 9 cerita diceritakan dan 6 dibaca; (2) Tiga Babi Kecil: 4 diriwayatkan dan 5 dibaca; (3) Serigala dan Tujuh Siswa-siswa: 5 diriwayatkan dan 3 dibaca; (4) Hansel dan Gretel: 1 diriwayatkan dan 3 dibaca; dan (5) Putri Salju dan Tujuh Kurcaci: 1 diriwayatkan dan 2 dibaca.

Berkenaan dengan membaca cerita, jumlah interaksi ekstratextual orang dewasa lebih besar daripada jumlah interaksi ekstratextual siswa-siswa. Cara mendongeng tergantung pada latar belakang pendongengnya. Hampir semua peserta dengan latar belakang pendidikan tinggi menggunakan bacaan cerita, sedangkan peserta dengan latar belakang pendidikan yang lebih rendah kebanyakan lebih menyukai narasi. Saya setuju dengan pernyataan para peneliti bahwa cara mendongeng diceritakan dan karakteristik interaksi ekstratekstual antara orang tua dan siswa bergantung pada status pendidikan orang tua. Itu karena status pendidikan orang tua biasanya akan menentukan kemampuan siswa mereka, termasuk kemampuan menyerap dan memahami cerita. commit to user

(28)

Pemanfaatan teknologi di era digital khususnya semakin berkembang. Salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Nesson & Nesson (2008) menyatakan bahwa sistem pendidikan generasi saat ini telah menerapkan model pembelajaran virtual. Model pembelajaran yang terintegrasi dengan semua mata pelajaran, namun disajikan dalam bentuk virtual. Penelitian ini mengembangkan metode pembelajaran klasik. Metode yang tidak hanya menggunakan metode ceramah secara klasikal, namun juga memanfaatkan teknologi virtual untuk memberikan variasi dalam pembelajaran. Penelitian Nesson & Nesson (2008) sejalan dengan penelitian dongeng virtual dalam hal cara penyajiannya dalam kegiatan pembelajaran untuk peserta didik. Kreativitas metode dan media pembelajaran yang bervariasi. Meskipun ada di dalam ruangan, namun tidak membuat siswa merasa jenuh dengan kegiatan pembelajaran rutin. Ada media virtual yang dimanfaatkan di dalam kegiatan pembelajaran untuk mendukung suasana pembelajaran agar efektif dan menyenangkan bagi siswa (Hourigan, M. & Leavy, A.,2016).

Penelitian Nesson & Nesson didukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Chiou (1995). Dikatakan bahwa teknologi virtual memiliki banyak potensi dan mengandung unsur-unsur pengetahuan yang dapat secara mudah diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Salah satu catatan penting adalah perlunya pembekalan bagi guru atau tenaga pengajar dalam menerapkan sistem teknologi virtual. Guru atau yang disebut tenaga pendidik memang sebagai pengguna, namun tidak menutup kemungkinan bagi guru untuk belajar mencipta. Guru dapat mengembangkan teknologi pembelajaran sekaligus menyusun bahan refleksi di akhir kegiatan (Körkkö, M., Kyrö-Ämmälä, O., & Turunen, T. (2016). Dengan mempelajari teknologi virtual, maka guru memiliki banyak kesempatan untuk mengembangkan diri. Dalam pengembangan dongeng virtual juga diberikan petunjuk atau panduan bagi guru untuk mengaplikasikan dongeng virtual dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, penelitian ini sejalan dengan pembuatan video dongeng virtual yang juga memberikan panduan atau buku petunjuk untuk guru dalam kegiatan pembelajaran.

Penelitian tentang animasi komputer dan teknologi virtual reality untuk mengembangkan museum laut virtual. Hasil penelitian ini menunjukkan manfaat commit to user

(29)

yaitu setiap orang dapat mengembangbiakkan ikan favorit mereka di akuarium virtual, serta melakukan pengamatan jaringan untuk tujuan pendidikan atau rekreasi. Selain itu alat ini juga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam pendidikan sains untuk mempelajari ekologi laut dan mempromosikan perlindungan ekologis lingkungan lautan (Tarng, et al., 2008). Melalui penelitian Tarng (2008), ada beberapa hal yang mendukung penelitian tentang pembuatan video dongeng virtual. Pertama, pengembangan teknologi virtual dapat dilakukan menggunakan materi atau bahan apapun. Dalam penelitian video dongeng virtual, materi yang digunakan adalah Tembang Macapat. Selanjutnya, pengembangan teknologi virtual dapat memberikan manfaat selain pendidikan, yaitu rekreasi.

Dalam penelitian video dongeng virtual, manfaat yang didapatkan tidak hanya ilmu secara kognitif, namun juga pengamalan nilai-nilai karakter yang dapat diaplikasikan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Johnston (2017) meneliti sebuah sistem perkembangan teknologi yang memanfaatkan animasi komputer. Berbagai animasi komputer dibuat secara aplikatif dengan tujuan dapat menarik perhatian siswa, sehingga siswa dapat termotivasi dalam belajar. Penelitian Johnston mendukung penelitian tentang video dongeng virtual dalam hal memanfaatkan animasi komputer untuk menciptakan model pembelajaran yang kreatif bagi siswa. Pembuatan video dongeng virtual menggunakan beberapa aplikasi melalui teknologi komputer, yaitu: aplikasi untuk mengatur pencahayaan, ketajaman suara, pemotongan adegan, pemindahan sorotan, menuliskan lirik lagu, serta penggabungan semua bagian untuk disatukan menjadi satu kesatuan video yang utuh.

Penelitian tentang Virtual Classroom dilakukan oleh Anyanwu (2003) atau yang disebut dengan lingkungan online. Sebuah sistem yang dibuat berbasis pada kemajuan teknologi, dengan tujuan untuk membuat para siswa nyaman belajar di sekolah. Tugas-tugas yang diberikan oleh para guru berbasis pada pemanfaatan teknologi, sehingga mereka perlu belajar mencari data dari beberapa sumber secara online. Sistem yang diterapkan dalam Virtual Classroom sejalan dengan berkembangnya berbagai aplikasi dan media komunikasi yang menarik bagi para pelajar. Penelitian dongeng virtual yang dibuat juga berfungsi bagi kenyamanan commit to user

(30)

para peserta didik dalam mengikuti pembelajaran di sekolah. Selain nyaman, juga menyenangkan dan memberi manfaat yang besar bagi siswa untuk menajamkan karakter yang dimiliki.

Penelitian dongeng virtual juga didukung oleh peneliti pendahulu yaitu Loftin, Dede, & Salzman, (1995) yang menyatakan bahwa lingkungan online dapat mempermudah siswa dalam mengakses bahan-bahan pendukung materi pelajaran, serta berinteraksi sosial secara maya. Mereka dapat dengan mudah berkomunikasi dengan kerabat yang jauh atau teman-teman baru di berbagai tempat, melalui komunikasi dunia maya. Selain itu, mereka juga dapat mencari referensi tanpa batas untuk melengkapi dan menolong mereka dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Lingkungan dengan sistem online ini secara tidak langsung dapat menambah wawasan, pengetahuan, dan pengalaman mereka. Demikian pula dalam penelitian tentang pengembangan video dongeng virtual. Nantinya video dongeng virtual juga dapat diakses melalui sistem online, sehingga, siswa-siswa dari segala penjuru dunia dapat membuka, melihat, menyerap, dan memelajari nilai- nilai Serat Wulang Reh yang terintegrasi dalam dongeng virtual.

Brelsford (1993) turut mendukung penelitian tentang dongeng virtual berbasis nilai Serat Wulang Reh dengan membuat suatu tempat yang ditujukan bagi komunitas pelajar khususnya dalam hal mengakses materi yang dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran. Materi atau bahan pelajaran yang dibutuhkan oleh siswa dapat diakses dengan mudah dan cepat. Tidak terbatas oleh guru ataupun waktu.

Kapanpun dan dimanapun, guru juga dapat memberikan instruksi kepada para siswa untuk mengerjakan tugas atau mempersiapkan materi atau peralatan yang dibutuhkan pada jam tatap muka selanjutnya.

Pembentukan karakter pada siswa dipengaruhi oleh beberapa komponen, yaitu: faktor sekolah, keluarga, dan teman sebaya dalam komunitas yang dipilih (Marsh, 1991). Setiap komponen memiliki benang merah yang saling terkait. Oleh karena itu penting sekali mendisiplinkan siswa untuk memilih pergaulan dan komunitas yang tepat, sehingga membawa dampak yang baik. Lingkungan pergaulan mampu memengaruhi kehidupan siswa sedemikian rupa, sampai pada akhirnya siswa sulit untuk diarahkan. Oleh karena itu, penelitian Marsh (1991) commit to user

(31)

sejalan dengan penelitian dongeng virtual yang berbasis pada nilai-nilai Serat Wulang Reh. Bahwasannya karakter sangat penting bagi tumbuh kembang siswa hingga masa yang akan datang.

Tidak hanya lingkungan pergaulan, kebiasaan buruk membuli teman, juga dapat mengakibatkan depresi dan keterpurukan bagi siswa (Nicolaides S, Toda Y, Smith P., 2002). Dengan kata lain, tatanan nilai-nilai moral dan karakter yang ditanamkan pada siswa, seakan hanya berlalu begitu saja. Seperti halnya pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas, jika metode yang digunakan kurang menarik, maka akan menjadi tidak bermakna bagi diri siswa didik dan dengan mudah dilupakan oleh siswa. Oleh karena itu, diciptakan metode yang menarik bagi siswa dalam memelajari nilai-nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dongeng virtual. Penelitian ini terfokus pada produk yang berupa video dongeng virtual, yang menceritakan kisah siswa-siswa dalam kehidupan sehari-hari dengan mengambil nilai-nilai karakter yang bermanfaat. Dengan demikian, siswa akan belajar lebih tenang dan mampu berpikir cerdas dalam menghadapi situasi sulit yang menimpa mereka.

Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa adalah metode storytelling atau mendongeng. Mendongeng merupakan kegiatan yang menyenangkan dan merangsang imajinasi serta kreativitas siswa (Karwowski, Kaufman, Lebuda, Szumski, & Firkowska- Mankiewicz, 2017). Mendongeng menjadi salah satu pilihan menarik bagi guru untuk menggali potensi siswa khususnya dalam hal menyimak. Hal ini sekaligus menjadi peluang bagi guru untuk belajar kreatif memelajari teknik mendongeng, membuat skenario pengembangan cerita, dan gaya bahasa yang digunakan ketika mendongeng kepada siswa. Penelitian tentang dongeng virtual menghasilkan sebuah produk berupa video yang bermanfaat untuk menarik perhatian siswa dan memberikan rasa nyaman dalam kegiatan pembelajaran mereka di dalam kelas.

Guru dapat memelajari video terlebih dahulu, baru kemudian menunjukkan kepada siswa dan membimbing siswa selama menyaksikan video dongeng virtual berbasis nilai-nilai Serat Wulang Reh.

commit to user

Referensi

Dokumen terkait

diagram konteks. Proses input atau edit data penduduk,data kepala keluarga merupakan proses menyimpan dan mengambil data penduduk dari tabel penduduk, proses input atau edit

Tidak pernah memperhatikan apa yang telah dilakukan oleh unit / karyawan dibawahnya dalam melaksanakan tugas yang ada.. Acuh tak acuh terhadap keberhasilan atau masalah

Analisis menunjukkan bahwa Anda yang digunakan sebagai sapaan oleh orang dewasa kepada anak-anak tersebut berfungsi untuk mengonstuksi identitas sosial dalam ranah jurnalistik

Perlakuan skarifikasi+KN03 0,5% yang direndam selama 36 jam+suhu 40°C, menghasilkan indeks vigor hipotetik kecambah aren yang semakin besar yaitu 5,52 bila secara

mengalokasikan sebagian besar dari biaya tidak langsung departemental adalah sulit dan bersifat arbitrer. Yang terbaik yan dapat dilakukan adalah melakukan..

Gameplay adalah perpaduan dari konsep tantangan dan aksi dimana secara spesifik, gameplay merupakan aksi yang dapat dilakukan player untuk menyelesaikan tantangan

Sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 32 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, sertipikat merupakan surat tanda bukti hak yang berlaku