30 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Data Penelitian
Hubungan antar variabel diujikan pada 53 siswa kelas 11 SMA Al Islam 1 Surakarta sebagai sampel. Data yang diperoleh dapat dilihat pada lampiran 11. Pada deskripsi hasil penelitian ini akan dijabarkan data statistik pada tiap variabel serta dijabarkan pula tabel distribusi frekuensi serta data menurut skala Likert pada tiap variabel.
a. Self-Efficacy Siswa dalam Pembelajaran Kimia
Pengukuran self-efficacy dilakukan melalui angket berisi 20 item dilampirkan pada Lampiran 4. Pada pengambilan data, didapatkan skor terendah yaitu 42, skor tertinggi 72, median 60, nilai rata-rata 59,41, modus 60 dan standar deviasi 8,24. Banyaknya kelas interval ditentukan dengan rumus 1 + 3,3 log n, dengan n sejumlah 53 sampel.
Dari rumus perhitungan tersebut diperoleh jumlah kelas yang dibuat ialah 6,69 dibulatkan menjadi 7 kelas dengan interval 4.
Pada tabel Tabel 4.1 dapat diketahui distribusi frekuensi dan persentase data self-efficacy siswa, dimana frekuensi terbesar sebanyak 13 siswa terdapat pada interval 60-63 dengan persentase sebesar 24,52%.
Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Angket Self-efficacy
Interval Frekuensi Persentase (%) 42 – 45
46 – 50 51 – 54 55 – 59 60 – 63 64 – 68 69 – 72
3 7 5 8 13
8 9
5,6 13,2
9,4 15,09 24,52 15,09 16,98
Jumlah 53 100
Berdasarkan Tabel 4.1 data digolongkan menjadi empat kategori. Dari Gambar 4.1 disimpulkan mayoritas siswa mempunyai
commit to user
31
tingkat self-efficacy dengan kategori tinggi dengan persentase siswa sebesar 37,73% .
Gambar 4.1. Kategori Self-Efficacy b. Kemandirian Belajar Siswa dalam Pembelajaran Kimia
Pengukuran kemandirian belajar dilakukan melalui angket berisi 25 item dilampirkan pada Lampiran 5. Pada pengambilan data, didapatkan skor terendah yaitu 55, skor tertinggi 87, median 73, nilai rata-rata 72,24, modus 73 dan standar deviasi 9,20. Dari rumus yang ada diperoleh banyaknya kelas yang dibuat ialah 6,69 dibulatkan menjadi 7 kelas dengan interval 5.
Pada tabel Tabel 4.2 dapat diketahui distribusi frekuensi dan persentase data kemandirian belajar siswa, dimana frekuensi terbesar sebanyak 11 siswa terdapat pada interval 70 – 74 dengan persentase sebesar 20,75%.
Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Angket Kemandirian Belajar Interval Frekuensi Persentase (%) 55 – 59
60 – 64 65 – 69 70 – 74 75 – 79 80 – 83 84 – 87
6 9 4 11
9 7 7
11,32 16,98 7,54 20,75 16,98 13,2 13,2
Jumlah 53 100
19%
21% 38%
22% Sangat Tinggi
Tinggi Sedang Rendah
commit to user
32
Berdasarkan Tabel 4.2 data digolongkan menjadi empat kategori. Dari Gambar 4.2 disimpulkan mayoritas siswa mempunyai tingkat kemandirian belajar dengan kategori tinggi dengan persentase siswa sebesar 37,73%.
Gambar 4.2. Kategori Kemandirian Belajar c. Hasil Belajar Kognitif Siswa
Pengukuran hasil belajar kognitif siswa dilakukan melalui soal berisi 20 item pertanyaan yang dilampirkan pada Lampiran 6. Pada pengambilan data, didapatkan skor terendah yaitu 12, skor tertinggi 19, median 16, nilai rata-rata 15,77, modus 16 dan standar deviasi 2,14.
Dari rumus yanga ada diperoleh jumlah kelas yang dibuat ialah 6,69 dibulatkan menjadi 7 kelas dengan interval 1.
Pada Tabel 4.3 diketahui distribusi frekuensi dan persentase data hasil belajar kognitif siswa, dimana frekuensi terbesar sebanyak 9 siswa terdapat pada interval 16 dengan persentase sebesar 16,98%.
Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Siswa
Interval Frekuensi Persentase (%) 12
13 14 15 16 17 18 19
4 6 6 7 9 7 8 6
7,55 11,32 11,32 13,2 16,98
13,2 15,09 11,32
Jumlah 53 100
17%
22% 38%
23% Sangat Tinggi
Tinggi Sedang Rendah
commit to user
33
Berdasarkan Tabel 4.3 data digolongkan menjadi empat kategori. Dari Gambar 4.3 disimpulkan mayoritas siswa mempunyai tingkat hasil belajar kognitif dengan kategori tinggi dengan persentase siswa sebesar 30%.
Gambar 4.3. Kategori Hasil Belajar Siswa 2. Hasil Uji Hipotesis
a. Uji Hipotesis Pertama antara Self-Efficacy (X1) dengan Hasil Belajar Kognitif Siswa (Y)
Uji ini dilakukan guna mendeteksi kekuatan korelasi dan bentuk hubungan antar dua variabel dalam penelitian, yakni antar self- efficacy (X1) dengan hasil belajar kognitif siswa (Y)
H0 : tidak adanya korelasi positif antara X1 dengan Y H1 : adanya korelasi positif antara X1 dengan Y
Analisis pada uji ini menggunakan SPSS dengan memeriksa nilai signifikansi serta Pearson Correlation. Hasil pengolahan data uji korelasi sederhana menggunakan SPSS dijabarkan pada Tabel 4.4.
26%
30%
25%
19%
Sangat Tinggi Tinggi
Sedang Rendah
commit to user
34
Tabel 4.4. Hasil Uji Korelasi Sederhana antara X1 dengan Y
Self-Efficacy Hasil Belajar Kognitif Siswa
Self- Efficacy
Pearson Correlation Sig.(2-tailed) N
1
53
0,778 0,000 53 Hasil
Belajar Kognitif Siswa
Pearson Correlation Sig.(2-tailed) N
0,778 0,000 53
1
53
Dilihat dari Tabel 4.4 diperoleh nilai koefisien korelasi 0,778 dan nilai signifikansi 0,000. Hal ini berarti self-efficacy berkorelasi dengan hasil belajar kognitif siswa. Artinya, apabila self-efficacy meningkat maka hasil belajar kognitif ikut meningkat. Dari hasil yang diperoleh dapat diketahui bahwa variabel memiliki hubungan positif dengan korelasi kuat, sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak.
b. Uji Hipotesis Kedua antara Kemandirian Belajar (X2) dengan Hasil Belajar Kognitif Siswa (Y)
Uji ini dilakukan guna mendeteksi kekuatan korelasi dan bentuk hubungan antar dua variabel dalam penelitian, yakni antar kemandirian belajar (X2) dengan hasil belajar kognitif siswa (Y) H0 : tidak adanya korelasi positif antara X2 dengan Y
H1 : adanya korelasi positif antara X2 dengan Y
Analisis pada uji ini menggunakan SPSS dengan memeriksa nilai signifikansi serta Pearson Correlation. Hasil pengolahan data uji korelasi sederhana menggunakan SPSS dijabarkan pada Tabel 4.5.
commit to user
35
Tabel 4.5. Hasil Uji Korelasi Sederhana antara X2 dengan Y Kemandirian
Belajar
Hasil Belajar Kognitif
Siswa Kemandirian
Belajar
Pearson Correlation Sig.(2-tailed) N
1
53
0,805 0,000 53 Hasil Belajar
Kognitif Siswa
Pearson Correlation Sig.(2-tailed) N
0,805 0,000 53
1
53 Dilihat dari Tabel 4.5 diperoleh nilai koefisien korelasi 0,805 dan nilai signifikansi 0,000. Hal ini berarti kemandirian belajar berkorelasi dengan hasil belajar kognitif siswa. Artinya, apabila kemandirian belajar meningkat maka hasil belajar kognitif ikut meningkat. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa variabel memiliki hubungan positif dengan korelasi kuat, sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak.
c. Uji Hipotesis Ketiga antara Self-Efficacy (X1) dan Kemandirian Belajar (X2) dengan Hasil Belajar Kognitif Siswa (Y)
Uji ini dilakukan guna mendeteksi korelasi antar dua variabel ataupun lebih secara bersamaan dengan variabel lainnya, yakni hubungan antara self-efficacy (X1) dan kemandirian belajar (X2) terhadap hasil belajar kognitif siswa (Y)
H0 : tidak adanya korelasi positif antara X1 dan X2 dengan Y H1 : adanya korelasi positif antara X1 dan X2 dengan Y
Korelasi antar self-efficacy dan kemandirian belajar terhadap hasil belajar kognitif siswa dijabarkan pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6. Hasil Uji Korelasi Berganda
Model R R Square Std. Error of the Estimate
Sig
1 0,837 0,700 1,19840 0,000
Dilihat pada Tabel 4.6 diperoleh koefisien korelasi yaitu sebesar 0,837 dan nilai signifikansi 0,000. Hal ini berarti self-efficacy commit to user
36
dan kemandirian belajar secara bersama-sama berkorelasi dengan hasil belajar kognitif siswa. Artinya, apabila self-efficacy dan kemandirian belajar meningkat maka hasil belajar kognitif ikut meningkat.
Berdasarkan data diatas ditarik kesimpulan bahwa adanya korelasi antara self-efficacy dan kemandirian belajar terhadap hasil belajar kognitif, maka H0 ditolak. Adapun hasil Uji regresi berganda dijabarkan Tabel 4.7.
Tabel 4.7. Hasil Uji Regresi Berganda
Model
Understandarized Coefficients
Standarized Coefficients
T Sig
B Std.
Error Beta (Constant)
Self-Efficacy Kemandirian Belajar
4,534 0,081 0,097
1,061 0,028 0,025
0,374 0,507
4,273 2,921 3,958
0,000 0,005 0,000 Berdasarkan Tabel 4.7 dapat diketahui hubungan X1 dengan Y sebesar 0,081 dengan nilai signifikansi 0,005. Sementara, hubungan X2
dengan Y sebesar 0,097 dengan nilai signifikansi 0,05. Dari hasil tersebut didapatkan persamaan regresi :
Y = 4,534 + 0,081 X1 + 0,097 X2 (12) Dimana :
X1 = Self-Efficacy
X2 = Kemandirian Belajar
Y = Hasil Belajar Kognitif Siswa
Apabila nilai maksimal X1 = 100 dan nilai X2 = 0 (konstan), maka akan diperoleh nilai Y sebesar :
Y = 4,534 + 0,081 X1 + 0,097 X2
Y = 4,534 + 0,081 (100) + 0,097 (0) Y = 4,534 + 8,1
Y = 12,634 (13)
Apabila nilai X1 = 0 (konstan) dan nilai maksimal X2 = 100, maka akan diperoleh nilai Y sebesar : commit to user
37 Y = 4,534 + 0,081 X1 + 0,097 X2
Y = 4,534 + 0,081 (0) + 0,097 (100) Y = 4,681 + 9,7
Y = 14,381 (14)
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Dari perolehan data yang telah diolah dengan bantuan SPSS pada uji hipotesis dan analisis regresi diperoleh data yang menunujukkan bahwa terdapat hubungan dan signifikan antar variabel bebas terhadap variabel terikat dengan analisis sebagai berikut :
1. Hubungan antara Self-Efficacy dalam Pembelajaran Kimia dengan Hasil Belajar Kognitif Siswa
Berdasarkan Gambar 4.1 dapat diketahui tingkat self-efficacy siswa yang dikelompokkan menjadi empat kelompok dengan pembagian sebagai berikut :
Sangat tinggi = 10 siswa (18,86%) Tinggi = 20 siswa (37,73%) Sedang = 11 siswa (20,75%) Rendah = 12 siswa (22,64%)
Data tersebut menunjukkan bahwa siswa kelas 11 MIPA SMA Al Islam 1 Surakarta memiliki tingkat self-efficacy yang tinggi dalam pembelajaran kimia. Self-efficacy yang baik dinilai memberi dampak positif terhadap kesuksesan pembelajaran. Siswa dengan tingkat self-efficacy yang tinggi dapat dengan lancar menyelesaikan tugas dan berhasil dalam kegiatan belajarnya. Suseno (2009) berpendapat bahwa individu dengan self-efficacy tinggi akan melakukan tindakan tertentu dalam menggapai hasil yang ditargetkan, berusaha lebih tekun dan giat.
Berdasarkan data angket self-efficacy yang diperoleh didapatkan nilai rata-rata terbesar pada level strength meliputi : bertahan diberbagai situasi, ulet dan tekun, dan berupaya maksimal. Artinya, siswa dengan tingkat self-efficacy tinggi pada level strength tidak mudah dipengaruhi oleh lingkungan yang dapat mempengaruhi tingkat keyakinan atas kemampuan commit to user
38
diri sehingga siswa memiliki ketahanan dan keuletan dalam belajar kimia (Kartika dan Hairida, 2010).
Siswa dengan self-efficacy tinggi memiliki kecenderungan dalam pengembangan minat serta dan rasa tertarik yang dalam pada aktivitas tertentu, pengembangan tujuan, serta memiliki komitmen dalam mencapai tujuannya. Siswa juga menambah usahanya dalam menghindari kegagalan.
Self-efficacy tinggi membuat siswa memiliki kepercayaan pada kemampuan diri dalam menyelesaikan tugas dengan baik. Siswa mempunyai kepercayaan diri dalam menyelesaikan tugas yang sukar dan meyakini kemampuannya dalam menuntaskan permasalahannya. Mereka mampu melakukan analisis tingkah laku yang akan dilakukan dengan baik serta menambah upaya dalam meraih tujuan belajar kimia (Hairida dan Erlina, 2013).
Berdasarkan Tabel 4.7 diperoleh koefisien korelasi 0,778. Hal tersebut mengartikan terdapat korelasi positif yang kuat antar self-efficacy dengan hasil belajar kognitif siswa. Koefisien korelasi positif mengartikan self-efficacy yang tinggi membuat hasil belajar kognitif siswa meningkat.
Sebaliknya, apabila tingkat self-efficacy yang rendah, maka hasil belajar kognitif siswa semakin rendah pula.
Sejalan dengan penelitian Alminingtyas, dkk (2018), diperoleh koefisien korelasi 0,598 mengartikan adanya korelasi yang positif antara self- efficacy dengan hasil belajar matematika siswa SMA. Sementara itu, dari hasil penelitian Rosyida, dkk (2016) menujukkan bahwa self-efficacy berkontribusi sebanyak 15,80% terhadap hasil belajar geografi di SMA.
Penelitian lainnya dari Hairida, dkk (2013) diperoleh koefisien korelasi 0,796 mengartikan adanya korealasi yang positif antara self-efficacy dengan hasil belajar kimia.
Berdasarkan perhitungan koefisien determinasi yang diperoleh sebesar 60,53% memberi kesimpulan bahwa self-efficacy berkontribusi terhadap hasil belajar kognitif siswa sebesar 60,53% dan 39,47% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain.
commit to user
39
2. Hubungan antara Kemandirian Belajar dalam Pembelajaran Kimia dengan Hasil Belajar Kognitif Siswa
Berdasarkan Gambar 4.2 diketahui taraf kemandirian belajar siswa yang dikelompokkan menjadi empat kelompok dengan pembagian sebagai berikut :
Sangat tinggi = 9 siswa (16,98%) Tinggi = 20 siswa (37,73%) Sedang = 12 siswa (22,64%) Rendah = 12 siswa (22,64%)
Data tersebut menunjukkan bahwa siswa kelas 11 MIPA SMA Al Islam 1 Surakarta memiliki tingkat kemandirian belajar yang tinggi dalam pembelajaran kimia. Kemandirian belajar yang tinggi diyakini memberi dampak positif terhadap kesuksesan pembelajaran. Tingginya tingkat kemandirian belajar menjadikan siswa lebih berinisiatif untuk memenuhi kebutuhannya yang berkaitan dengan poses pembelajaran. Siswa juga dianggap lebih tanggap dalam menyelesaikan masalah dan tantangan dalam pembelajaran.
Berdasarkan data angket kemandirian belajar yang diperoleh didapatkan nilai rata-rata terbesar pada indikator memiliki rasa tanggung jawab yang terdiri dari subindikator : melaksanakan rencana kegiatan belajar dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Artinya pada aspek perilaku, kemandirian belajar yang tinggi menandakan siswa telah memiliki kemandirian dalam pengambilan keputusan tertentu dalam belajar kimia serta dapat mengaplikasikan tindakan-tindakan yang sudah direncanakan sebelumnya dalam proses belajar kimia (Kartika & Hairida, 2010).
Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kemandirian belajar kimia siswa. Menurut Asrori (2008), faktor pertama datang dari orang tua yang membangun kondisi aman dalam interaksi antar keluarga dapat mendukung berkembangnya kemandirian pada anak. Cara orang tua mengasuh siswa dengan mengajarkannya melakukan segala kegiatannya dengan mandiri dapat mendorong berkembangnya kemandirian siswa commit to user
40
termasuk dalam belajar kimia. Kedua, model pendidikan yang mengutamakan penghargaan pada kemampuan anak, pemberian hadiah, dan adanya kompetensi positif dapat meningkatkan kemandirian remaja. Proses pendidikan yang beracuan pada sistem pendidikan di sekolah dengan kedisiplinan dan fasilitas yang menopang kegiatan pembelajaran dengan adanya perpustakaan dan laboratorium sebagai sumber belajar siwa. Kegiatan ekstrakulikuler juga membantu siswa mengembangkan kemandirian belajarnya sehingga tidak bergantung kepada orang lain. Kedisiplinan dan cara guru mengajar yang mengharuskan siswa belajar mandiri di kelas juga dapat meningkatkan kemandirian belajar siswa.
Ketiga, lingkungan masyarakat yang aman, menghormati kemampuan remaja dalam berbagai kegiatan akan menstimulasi perkembangan kemandirian belajar. Menurut Kartika dan Hairida (2010), selain lingkungan masyarakat, faktor lain yang memberi pengaruh ialah lingkungan pertemanan yang positif. Siswa dengan kemandirian belajar yang baik akan memberi pengaruh yang baik terhadap kemandirian belajar temannya.
Berdasarkan Tabel 4.8 diperoleh koefisien korelasi 0,805. Hal tersebut memberi arti ini terdapat korelasi positif dengan tingkat korelasi kuat antara kemandirian belajar dengan hasil belajar kognitif siswa. Koefisien korelasi bernilai positif mengartikan tingginya tingkat kemandirian belajar dapat memberi dampak peningkatan hasil belajar kognitif siswa. Sedangkan, tingkat kemandirian belajar yang rendah menghasilkan hasil belajar kognitif yang rendah pula.
Sejalan dengan penelitian Suhendri (2011), diperoleh koefisien korelasi 0,307 menunjukkan adanya korelasi positif antar kemandirian belajar dengan hasil belajar matematika dengan hubungan yang signifikan.
Sementara itu, dari hasil penelitian Prayuda, dkk (2014), diperoleh koefisien korelasi 0,257 menunjukkan adanya korelasi positif antar kemandirian belajar dengan hasil belajar ekonomi. Pada penelitian Tahar (2006) diperoleh koefisien korelasi 0,800 menunjukkan adanya korelasi antar kemandirian commit to user
41
belajar dengan hasil belajar pendidikan jarak jauh pada mata kuliah manajemen keuangan dengan kontribusi sebanyak 63,91% .
Dari perhitungan koefisien determinasi diperoleh hasil sebesar 64,80% yang menunjukkan kemandirian belajar berkontribusi sebanyak 64,80% sementara 35,20% lainnya ialah pengaruh dari faktor lain.
3. Hubungan antara Self-Efficacy dan Kemandirian Belajar dalam Pembelajaran Kimia dengan Hasil Belajar Kognitif Siswa
Berdasarkan Gambar 4.3 dapat diketahui tingkat hasil belajar kognitif siswa yang dikelompokkan menjadi empat kelompok dengan pembagian sebagai berikut :
Sangat tinggi = 14 siswa (26,41%) Tinggi = 16 siswa (30,18%) Sedang = 13 siswa (24,53%) Rendah = 10 siswa (18,86%)
Dari pengelompokkan tersebut dapat diketahui hasil belajar kognitif mayoritas siswa kelas XI MIPA SMA Al Islam 1 Surakarta berada dalam kategori tinggi. Faktor yang mempengaruhi diantaranya faktor dari dalam yang meliputi self-efficacy dan kemandirian belajar, serta faktor dari luar yang meliputi lingkungan.
Self-efficacy dan kemandirian belajar memegang penanan penting yang dapat mempengaruhi hasil belajar kimia. Untuk dapat menangkap dengan baik materi kimia, siswa perlu memiliki self-efficacy tinggi. Hal tersebut disebabkan karena siswa harus mencerna materi-materi penting yang dianggap sukar, yakni berkaitan dengan konsep, prinsip, hukum serta penerapan teori di dalam soal (Kartika dan Hairida, 2010). Kesuksesan individu dalam memahami materi didorong oleh keyakinan dirinya, karena keyakinan dapat membuat individu melakukan perilaku tertentu sehingga keyakinan yang dimilikinya menjadi kenyataan (Wade dan Tavris, 2007). Hal tersebut juga berlaku pada kemandirian belajar. Pada aspek perilaku, kemandirian belajar yang tinggi menandakan siswa telah memiliki kemandirian dalam pengambilan keputusan tertentu dalam belajar kimia serta commit to user
42
dapat mengaplikasikan tindakan-tindakan yang sudah direncanakan sebelumnya dalam proses belajar kimia (Kartika dan Hairida, 2010).
Pada Tabel 4.9 diperoleh koefisien korelasi 0,837 yang berarti adanya korelasi positif dan signifikan antar variabel tersebut. Berdasarkan perhitungan didapatkan koefisien determinasi 70,05% yang memberi arti self- efficacy (X1) dan kemandirian belajar (X2) secara bersamaan berkorelasi dengan hasil belajar siswa (Y). Hal tersebut menunjukkan bahwa self-efficacy dan kemandirian belajar memberi pengaruh 70,05% terhadap hasil belajar kognitif siswa. Sedangkan faktor-faktor lain memberikan pengaruh 29,95%.
Dari hasil yang diperoleh, dapat diketahui antara variabel tersebut memiliki tingkat keeratan hubungan yang kuat.
Berdasarkan Tabel 4.10 dapat diketahui hubungan self-efficacy dengan hasil belajar kognitif siswa sebesar 0,081 artinya apabila self-efficacy bertambah 1 angka, hasil belajar kognitif meningkat 0,081. Sementara itu, hubungan kemandirian belajar dengan hasil belajar kognitif siswa diperoleh nilai 0,097 artinya jika kemandirian belajar bertambah 1 angka akan meningkatkan hasil belajar kognitif sebesar 0,097.
Berdasarkan persamaan (13), apabila self-efficacy ditingkatkan nilainya sebesar 100 maka diperoleh hasil perhitungan nilai hasil belajar kognitif sebesar 12,634. Sementara itu pada persamaan (14), apabila kemandirian belajar ditingkatkan nilainya sebesar 100, maka diperoleh hasil perhitungan nilai hasil belajar kognitif sebesar 14,381.
Menurut Kartika dan Hairida (2010), ketika siswa telah memiliki kepercayaan yang kuat akan kapabilitas dirinya pada mata pelajaran kimia, siswa menjadi lebih gigih belajar, inisiatif dalam mencari-cari informasi berkaitan dengan kimia yang belum dipahami, percaya diri dan pantang menyerah, serta bersandar pada kapabilitas dirinya dan tak bergantung pada orang lain. Hal diatas dapat memotivasi siswa menjadi mandiri serta tidak menggantungkan hasil belajar dan penyelesaian tugas kimianya pada orang lain.
commit to user
43
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa tingkat self-efficacy dan kemandirian belajar dalam pembelajaran kimia di sekolah memegang peranan penting dalam peningkatan hasil belajar siswa. Terlepas dari kedua faktor diatas yang telah disebutkan, terdapat faktor-faktor lainnya yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa di sekolah.
commit to user