• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KEABSAHAN ARISAN ONLINE PADA KASUS PN NO. 106/Pdt.G/2017/PN Plk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III KEABSAHAN ARISAN ONLINE PADA KASUS PN NO. 106/Pdt.G/2017/PN Plk"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

30

BAB III

KEABSAHAN ARISAN ONLINE PADA KASUS PN NO.

106/Pdt.G/2017/PN Plk

Pada bab ini penulis akan menganalisa perkara arisan online. Perkara tersebut diadili di Pengadilan Negeri Palangka Raya dengan nomor perkara 106/Pdt.G/2017/PN Plk.

A. Para Pihak

Perkara di dalam putusan ini melibatkan penggugat yang bernama Ahhiny, S. hut. Penggugat berkedudukan di Jl. Pahlawan No. 31 RT. 029 RT. 04, Kelurahan Buntok Kota, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah. Selain itu, penggugat juga memiliki tempat tinggal di Jl. Kapur Naga II No. 16, Kelurahan Langkai, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. Dalam mengajukan gugatannya, penggugat memberikan kuasa kepada Mahfud Ramadhani, S.H., M.H yang merupakan adovat di Kantor Advokat & Konsultan Hukum Mahfud Ramadhani, S.H., M.H., & Rekan berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal 18 Juli 2017. Kantor tersebut terletak di Jl. Sisingamangaraja No. 13 A, Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah.

Penggugat dalam surat gugatannya menggugat 11 orang tergugat, yaitu Lucia Setianae Subli sebagai Tergugat I. Sesuai dengan keterangan terakhir, dirinya diketahui bertempat tinggal di Jl. Kalimantan No.37, Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. Tergugat II adalah Suciarni yang diketahui bertempat tinggal di Jl. G. Obos 7 Perumahan Pondok Adenium No. 6A, Kota Palangka Raya,

(2)

31

Provinsi Kalimantan Tengah. Tergugat II yakni Jayanti Harta Leloni yang diketahui bertempat tinggal di Jl. Bukit Pararawen Daerah Bukit Keminting, Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. Selanjutnya Titis Eka Wati sebagai Tergugat IV yang diketahui bertempat tinggal di Jl. Paus Raya Blok 23A No.16, Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. Tergugat V yakni Novriani yang diketahui bertempat tinggal di Jl. Temanggung Tilung 12 No. 34, Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. Tergugat VI Yen Nie yang diketahui bertempat tinggal di Jl. Kakap/Sapan Raya Blok B No.07, Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. Tergugat VII Kacalinde yang diketahui bertempat tinggal di Jl. Temanggung Tilung 1 Gang 2 No 33, Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah, Tergugat VIII Mensye Fredelia Mihing yang bertempat tinggal di Jl. Raden Saleh 1, Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. Tergugat IX Dewi Lestari yang diketahui bertempat tinggal di Jl. Haji Ikap No. 16, Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah, dan Tergugat X yakni Dwi Yaniarti yang diketahui bertempat tinggal di Jl. Muhhamad Dampe Desa Petak Bahandang, Kecamatan Pasik Payawan, Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah.

B. Kasus Posisi

Pada mulanya penggugat mengadakan kesepakatan bersama untuk melakukan arisan online dengan para tergugat. Penggugat melakukan kesepakatan bersama tersebut melalui Facebook sebagai sarana komunikasi. Kesepakatan yang terjalin antara penggugat dan para tergugat dilakukan pada hari yang berbeda-beda.

Luciana Setianae Subli mengikuti arisan pada tanggal 27 Januari 2017, Dewi Rejeki mengikuti arisan pada tanggal 5 Februari 2017, Suciarni mengikuti arisan pada

(3)

32

tanggal 14 April 2017, Jayanti Harta Leloni mengikuti arisan pada tanggal 5 April 2017, Titis Eka Wati mengikuti arisan pada tanggal 15 April 2017, Novriani mengikuti arisan pada tanggal 10 Januari 2017, Yen Nie mengikuti arisan pada tanggal 10 Januari 2017, Kacalinde mengikuti arisan pada tanggal 21 Februari 2017, Mensy Fredelia Mihing mengikuti arisan pada tanggal 22 Januari 2017, Dewi Lestari mengikuti arisan pada tanggal 8 April 2017, dan Dwi Yaniarti mengikuti arisan pada tanggal 21 Januari 2017.

Kesepakatan yang mereka lakukan didasari dengan rasa saling percaya untuk mengikuti arisan online tanpa adanya surat perjanjian yang mengatur secara khusus. Para pihak melakukan kegiatannya dengan menggunakan salah satu sosial media yaitu Facebook Messenger. Facebook Messenger sendiri merupakan salah satu fitur yang terdapat di dalam aplikasi Facebook. Para pihak bersepakat untuk mengadakan suatu arisan yang sistemnya tidak jauh berbeda dengan arisan pada umumnya. Yang membedakan adalah teknis penyelenggaraan arisan tersebut yang dilakukan secara online.

Setelah berjalan seiringnya waktu, kegiatan arisan online tersebut berjalan dengan sebagaimana mestinya. Penggugat sebagai admin mengelola grup arisan dengan baik. Namun setelah para tergugat mendapatkan gilirannya untuk menang arisan atau mendapatkan jatah pembayarannya, para tergugat tidak pernah lagi membayarkan kewajibannya untuk membayar tagihan bulanan sebagaimana mestinya sesuai kesepakatan awal. Demi menajaga suasana kondusif dan keberlangsungan arisan online tersebut, penggugat membayarkan kewajiban para tergugat dengan asumsi bahwa para tergugat akan menggantinya. Namun setelah

(4)

33

beberapa waktu para tergugat tidak kunjung membayarkan kwajibannya. Akibat tidak dibayarkannya kewajiban pembayaran arisan oleh para tergugat, penggugat mengalami total kerugian sebesar Rp. 404.390.000,- Rincian nominal tersebut adalah Lucia Setianae Subli sebesar Rp. 20.750.000,- Dewi Rejeki sebesar Rp.

4.980.000,- Suciarni sebesar Rp. 20.700.000,- Jayanti Harta Leloni sebesar Rp.

12.330.000,- Titis Eka Wati sebesar Rp. 5.250.000,- Novriani sebesar Rp.

73.060.000,- Yen Nie sebesar Rp. 134.465.000,- Kacalinde sebesar Rp.

39.230.000,- Mensy Fredelia Mihing sebesar Rp. 1.850.000,- Dewi Lestari sebesar Rp. 54.150.000,- dan Dwi Yaniarti sebesar Rp. 37.625.000,-

Penggugat sudah berupaya untuk melakukan penyelesaian masalah secara kekeluargaan, namun para tergugat tidak memiliki itikad baik untuk menyelesaikannya. Para tergugat tidak dapat dihubungi dan menghilang.

Penggugat juga sudah mencoba untuk melayangkan somasi kepada para tergugat.

Somasi tersebut dikirimkan satu persatu kepada para tergugat pada tanggal 1 Juli 2017. Tidak ada satupun tergugat yang menanggapi somasi tersebut. Oleh karena penggugat sudah tidak mampu membayarkan apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab para tergugat, akhirnya penggugat mengajukan gugatannya ke Pengadilan Negeri Palangka Raya. Dari 11 orang yang digugat oleh penggugat, salah satu member yang bernama Dewi Rejeki melakukan perdamaian pada tanggal 24 Oktober 2017.

(5)

34

C. Petitum

Adapun yang menjadi petitum dalam gugatan yang diajukan penggugat adalah:

1. Menerima dan mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;

2. Menyatakan sah dan berharga alat bukti yang diajukan Penggugat;

3. Menyatakan sah dan berkekuatan hukum kesepakatan bersama arisan online atau Perjanjian arisan online antara Penggugat dengan (Tergugat I s/d Tergugat X / Para Tergugat) yang dibuat secara lisan sebagai berikut:

1) Tergugat I mengikuti arisan tanggal 27 Januari 2017.

2) Tergugat II mengikuti arisan tanggal 14 April 2017.

3) Tergugat III mengikuti arisan tanggal 5 April 2017.

4) Tergugat IV mengikuti arisan tanggal 15 April 2017.

5) Tergugat V mengikuti arisan tanggal 10 Januari 2017.

6) Tergugat VI mengikuti arisan tanggal 10 Januari 2017.

7) Tergugat VII mengikuti arisan tanggal 21 Februari 2017.

8) Tergugat VIII mengikuti arisan tanggal 22 Februari 2017.

9) Tergugat IX mengikuti arisan tanggal 8 April 2017.

10) Tergugat X mengikuti arisan tanggal 21 Januari 2017.

4. Menyatakan Para Tergugat telah melakukan perbuatan ingkar janji (Wanprestasi);

5. Menyatakan kerugian riil Penggugat adalah total sebesar Rp.

389.000.000,- (Tiga Ratus Delapan Puluh Sembilan Juta Rupiah) dan kerugian secara moril dan tercemar nama baiknya di masyarakat terutama

(6)

35

dalam dunia bisnis kalau di uangkan adalah sebesar Rp. 10.000.000.000 (Sepuluh Milyar Rupiah);

6. Menghukum Para Tergugat membayar kerugian riil Penggugat total sebesar Rp. 389.000.000,- (Tiga Ratus Delapan Puluh Sembilan Juta Rupiah);

7. Menghukum Para Tergugat secara tanggung renteng untuk membayar ganti rugi moril dan tercemarnya nama baik Penggugat, jumlah seluruhnya sebesar Rp 10.000.000.000,- (Sepuluh Milyar Rupiah);

8. Menyatakan sah dan berharga sita jaminan terhadap harta benda milik Para Tergugat baik bergerak maupun tidak bergerak;

9. Menghukum Para Tergugat membayar uang paksa (dwangsoom) sebesar Rp. 1.000.000,- (Satu Juta Rupiah) per hari setiap lalai memenuhi isi putusan dalam perkara ini, terhitung sejak putusan diucapkan hingga dilaksanakan;

10. Menyatakan putusan perkara ini dapat dijalankan terlebih dahulu (uit voerbaar bij voorraad) walaupun ada upaya hukum perlawanan/Verzet,

Banding ataupun Kasasi oleh Para Tergugat;

11. Menghukum Para Tergugat secara tanggung renteng membayar seluruh biaya yang timbul dalam Perkara.

Atau, Menjatuhkan Putusan lain yang adil dan patut menurut hukum dalam suatu Peradilan yang baik dan benar (ex aquo et bono).

(7)

36

D. Pertimbangan Hukum Hakim

Hakim menyatakan bahwa yang menjadi pokok sengketa adalah ingkar janji oleh para tergugat. Menurut KBBI, arisan diartikan sebagai kegiatan mengumpulkan uang atau barang yang bernilai sama oleh beberapa orang yang kemudian diundi diantara mereka untuk menentukan siapa yang memperolehnya, undian dilaksanakan dalam sebuah pertemuan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya. Dengan pengertian tersebut, majelis berpendapat bahwa peserta arisan telah sepakat untuk mengadakan arisan dan dengan telah ditetapkan nilai uang iuran serta waktunya maka diantara para peserta arisan telah terjadi perjanjian dimana arisan tersebut akan menimbulkan hak dan kewajiban.

Majelis juga menyatakan walaupun ada beberapa alat bukti yang tidak dapat ditunjukan aslinya, alat bukti yang diajukan penggugat dianggap sah dan berharga dikarenakan diperkuat oleh dua orang saksi dan tidak disangkal oleh para tergugat.

Selanjutnya majelis menyatakan bahwa kesepakatan yang dilakukan oleh penggugat dan para tergugat adalah merupakan perjanjian yang sah dan mengikat secara hukum yang berdasarkan Pasal 1320. Pasal tersebut menjelaskan bahwa suatu perjanjian tidak harus dilakukan secara tertulis. Dengan dianggapnya kesepakatan tersebut sebagai perjanjian, maka petitum keempat yang diajukan penggugat dikabulkan karena adanya perbuatan ingkar janji atau wanprestasi.

Majelis juga mengabulkan petitum ke lima dan ke enam kecuali terhadap petitum yang berkaitan kerugian moril sejumlah Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah), oleh Majelis Hakim tidak dapat dikabulkan karena tidak berdasar pada

(8)

37

Pasal 1370, 1371, 1372 KUH Perdata dan Putusan Peninjauan Kembali No.650/PK/Pdt/1994.

Mengenai petitum kedelapan tentang sita jaminan terhadap harta benda para tergugat, majelis memutuskan menolak hal tersebut dikarenakan penggugat tidak menindaklanjuti permohonan sita tersebut, sehingga majelis menganggap tidak ada keseriusan dari penggugat. Majelis juga menolak petitum ke sembilang mengenai uang paksa atau dwangsom. Hal tersebut berpedoman pada Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 307K/Sip/1976 tanggal 7 Desember 1976 yang intinya menyatakan bahwa dwangsom akan ditolak apabila putusan dapat dilaksanakan dengan eksekusi riil. Selain itu penolakan dwangsom tersebut juga berdasarkan Pasal 259 RBg dan 225 HIR serta asas keadilan, kemanusiaan, efektifitas dan efesiensi. Putusan perara aquo sifatnya dilaksanakan dengna eksekusi riil sehingga penerapan uang paksa (dwangsom) dalam perkara aquo tidaklah beralasan hukum dan harus dinyatakan ditolak. Petitum kesepuluh juga diputuskan oleh majelis.

E. Amar Putusan

Adapun yang menjadi amar putusan dalam Putusan Pengadilan Negeri Palangka Raya Nomor 106/Pdt.G/2017/Pn Plk adalah:

1. Menerima dan mengabulkan gugatan penggugat untuk sebagian;

2. Menyatakan sah dan berharga alat bukti yang diajukan penggugat;

3. Menyatakan sah dan berkekuatan hukum kesepakatan bersama arisan online atau perjanjian arisan online antara penggugat dengan para tergugat yang dibuat secara lisan sebagai berikut:

(9)

38

4. Menyatakan Para Tergugat telah melakukan perbuatan ingkar janji (Wanprestasi);

5. Menyatakan kerugian riil Penggugat adalah total sejumlah Rp 389.000.000,00 (tiga ratus delapan puluh sembilan juta rupiah);

6. Menghukum Para Tergugat membayar seluruh kerugian riil Penggugat sejumlah Rp389.000.000,00 (tiga ratus delapan puluh sembilan juta rupiah) dengan rincian Lucia Setianae Subli sebesar Rp.

20.750.000,- Dewi Rejeki sebesar Rp. 4.980.000,- Suciarni sebesar Rp.

20.700.000,- Jayanti Harta Leloni sebesar Rp. 12.330.000,- Titis Eka Wati sebesar Rp. 5.250.000,- Novriani sebesar Rp. 73.060.000,- Yen Nie sebesar Rp. 134.465.000,- Kacalinde sebesar Rp. 39.230.000,- Mensy Fredelia Mihing sebesar Rp. 1.850.000,- Dewi Lestari sebesar Rp. 54.150.000,- dan Dwi Yaniarti sebesar Rp. 37.625.000,-

7. Menghukum para tergugat secara tanggung renteng membayar biaya perkara yang sampai hari ini ditetapkan sejumlah Rp. 4.738.000,00 (empat juta tujuh ratus tiga puluh delapan ribu rupiah).

8. Menolak gugatan penggugat selain dan selebihnya.

F. Analisa Pertimbangan Hakim dalam Putusan Nomor 106/Pdt.G/2017/PN Plk

Di dalam putusan tersebut, majelis hakim mempertimbangkan untuk menyatakan para tergugat bersalah karena perbuatan wanprestasi terhadap perjanjian lisan arisan online. Menurut analisa yang dilakukan oleh penulis, pertimbangan hukum dalam putusan tersebut tidak tepat secara hukum.

(10)

39

Perjanjian yang dilakukan oleh penggugat dan para tergugat harus dinyatakan tidak sah secara hukum karena melanggar salah satu syarat objektif dalam perjanjian innominate. Di dalam hukum perjanjian tidak diatur mengenai apakah suatu perjanjian harus dilakukan secara tertulis. Pasal 1320 KUH Perdata mengatur mengenai syarat sahnya suatu perjanjian. Pasal 1320 KUH Perdata menjelaskan bahwa perjanjian dapat dikatakan sah apabila para pihak sepakat mereka yang mengikatkan dirinya, kecakapan untuk membuat suatu perikatan, terdapat suatu hal tertentu, dan suatu sebab yang halal. Namun di dalam Pasal 1320 ayat (3) dan (4) KUH Perdata terdapat syarat objektif yaitu perjanjian yang dibuat tidak diperbolehkan bertentangan dengan undang-undang, ketertiban umum, dan kesusilaan, sehingga berakibat perjanjian tersebut batal demi hukum (nietig).

Sedangkan dalam perkara nomor 106/Pdt.G/2017/PN Plk, penyelenggara arisan tersebut tidak mendaftarkan usahanya sebagaimana sesuai dengan Pasal 47 ayat (1) Peraturan Jasa Keuangan No. 57 Tahun 2020 tentang Penawaran Efek Melalui Layanan Urun Dana Berbasis Teknologi Informasi.

Apabila ditinjau dari unsur-unsur perjanjian, kesepakatan yang dilakukan para pihak melalui Facebook Messenger dapat dikatakan sebagai perjanjian. Tiga unsur perjanjian yaitu adanya hubungan hukum, adanya subyek hukum, dan adanya prestasi. Dalam hal ini, hubungan hukum terjadi karena melalui kesepakatan arisan online tersebut melahirkan hak dan kewajiban para pihak. Sedangkan yang menjadi subyek hukumnnya adalah pembuat arisan dan anggotanya. Mereka bersepakat untuk melaksanakan suatu janji atau yang disebut sebagai prestasi. Prestasi dianggap harus menjalankan perbuatan yang dilakukan kedua belah pihak, bisa

(11)

40

terdiri atas melakukan sesuatu, berbuat sesuatu, dan tidak berbuat sesuatu. Namun perjanjian tersebut melanggar syarat objektif yaitu melanggar ketentuan dalam Undang-Undang dalam hal ini POJK. Dalam hukum perjanjian, dikenal adanya asas kebebasan berkontrak. Maksud dari kebebasan tersebut adalah kebebasan dalam menyusun suatu perjanjian adalah poin utama dan absolut dan merupakan representasi dari keadilan yang nantinya akan menjadi hukum yang mengikat bagi para pihak yang melakukan perjanjian tersebut. Namun dalam asas Kebebasan Berkontrak, terdapat ketentuan dimana apa yang diperjanjikan tidak boleh melanggar ketentuan dalam Undang-Undang.

Arisan online yang saat ini menjamur merupakan kegiatan di bidang usaha dimana pembuat arisan melakukan kegiatannya melalui internet. Pembuat arisan akan mengiklankan arisannya sehingga akan menarik calon anggota arisan yang nantinya akan melakukan kegiatan arisan secara virtual. Untuk teknis pembayarannya dilakukan secara transfer. Melalui penjelasan tentang kegiatan arisan tersebut, arisan online dapat dikatakan sebagai kegiatan investasi berbasis crowdfunding. Dapat dikatakan crowdfunding dikarenakan kegiatan arisan online dilakukan secara daring dengan memanfaatkan teknologi internet.

Penulis juga menemukan sedikit tambahan yang dapat memperlengkap putusan tersebut. Di dalam putusan tersebut, print out bukti chat yang dijadikan bukti oleh penggugat sejatinya dapat dikatakan alat bukti yang sah tanpa diperlukan adanya kesaksian. Hal tersebut diatur di dalam Pasal Pasal 5 Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Pasal tersebut diperkuat dengan adanya ketentuan di dalam Pasal 1 angka 12 Peraturan

(12)

41

Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77 /POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi. Dalam Pasal tersebut dituliskan bahwa Dokumen Elektronik adalah setiap informasi elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui komputer atau Sistem Elektronik termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses, simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Di dalam putusan tersebut, penggugat mengajukan gugatan wanprestasi kepada Pengadilan Negeri Palangka Raya setelah para anggota arisan online yang diselenggarakan oleh penggugat tidak melakukan kewajiban pembayarannya.

Adapun para pihak dalam perkara tersebut adalah Ahhiny, S. hut sebagai penggugat. Penggugat menggugat anggota arisannya sebagai para tergugat. Para tergugat tersebut adalah Lucia Setianae Subli, Suciarni, Jayanti Harta Leloni, Titis Eka Wati, Novriani, Yen Nie, Kacalinde, Mensye Fredelia Mihing, Dewi Lestari, Dwi Yaniarti.

Majelis hakim menjelaskan bahwa perbuatan wanprestasi yang dilakukan oleh seorang debitur dapat berupa:43

1. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya;

43 Subekti, Hukum Perjanjian, Intermasa, Jakarta, 2005, hal. 45.

(13)

42

2. Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana dijanjikan;

3. Melakukan apa yang dijanjikannya tetapi terlambat;

4. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya.

Di dalam amar putusan, majelis hakim mengadili bahwa perbuatan para tergugat adalah wanprestasi dengan kerugian riil yang dialami penggugat secara keseluruhan adalah Rp389.000.000,00 (tiga ratus delapan puluh sembilan juta rupiah). Majelis hakim juga menghukum para tergugat untuk membayar seluruh kerugian riil tersebut. Menurut analisa penulis, majelis hakim telah keliru menetapkan hukum. Seharusnya perjanjian yang dilakukan oleh pembuat arisan dan anggotanya harus di dibatalkan. Sehingga gugatan yang diajukan seharusnya bukan wanprestasi namun perbuatan melawan hukum. Hal tersebut dikarenakan apa yang diperjanjikan melanggar syarat objektif dalam perjanjian, yaitu isi perjanjian tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sesuai dengan Pasal 1451 dan Pasal 1452, apabila suatu perjanjian diputuskan untuk dibatalkan, objek yang diperjanjikan harus dikembalikan pada keadaan semula. Bagi para pihak yang mengalami kerugian, dapat mengajukan tuntutan ganti rugi, sedangkan pihak lainnya yang telah terlanjur menerima prestasi dari pihak lain wajib mengembalikannya. Akibat hukum terhadap perjanjian yang batal demi hukum adalah perjanjian dianggap batal atau bahkan perjanjian dianggap tidak ada dan tidak pernah terjadi dari awal. Maka dari itu, penulis menyatakan bahwa perjanjian yang dilakukan para pihak dalam perkara nomor 106/Pdt.G/2017/PN Plk adalah tidak sah menurut hukum dan harus dibatalkan.

Referensi

Dokumen terkait