• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAMUS DWIBAHASA BAHASA TARFIA BAHASA INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KAMUS DWIBAHASA BAHASA TARFIA BAHASA INDONESIA"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

i

KAMUS DWIBAHASA

BAHASA TARFIA—BAHASA INDONESIA

TIM PENYUSUN

Yohanis Sanjoko, S.Pd, M.A.

Siswanto, S.Pd.

Siti Masitha Iribaram, S.Pd.

Ratna Mala Sukma, S.S.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN BAHASA

BALAI BAHASA PROVINSI PAPUA

TAHUN 2020

(2)

ii

LEMBAR PENGESAHAN

Judul : Kamus Dwibahasa Bahasa Tarfia—Bahasa Indonesia Tim Penyusun : Yohanis Sanjoko, S.Pd., M.A. (Ketua)

Siswanto, S.Pd. (Anggota)

Siti Masitha Iribaram, S.Pd. (Anggota) Ratna Mala Sukma, S.S. (Anggota)

Sumber Dana : DIPA Balai Bahasa Provinsi Papua Tahun Anggaran 2020

Jayapura, November 2020

Menyetujui

Kepala Balai Bahasa Ketua Tim

Drs. Firman Susilo, M.Hum. Yohanis Sanjoko, S.Pd., M.A.

NIP 196903301992031001 NIP 197607142002121003

(3)

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena penyusunan Kamus Dwibahasa Bahasa Tarfia—Bahasa Indonesia ini dapat diselesaikan dengan baik.

Kamus adalah karya acuan yang berisi khazanah kosakata bahasa masyarakat pendukungnya, yang dapat pula digunakan sebagai indikator kemajuan peradaban masyarakat tersebut. Kamus berisi kosakata yang merekam segala sesuatu pengetahuan yang ada di sekitar kita. Kekayaan kosakata suatu bahasa menggambarkan pula kekayaan alam, kekayaan nilai-nilai budaya, kekayaan cara berpikir, dan kekayaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Penyusunan Kamus Dwibahasa Bahasa Tarfia—Bahasa Indonesia ini dimaksudkan untuk mendokumentasikan apa yang dimiliki oleh masyarakat penutur bahasa Tarfia berupa kosakata.

Atas selesainya penyusunan Kamus Dwibahasa Bahasa Tarfia—Bahasa Indonesia ini kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang ikut serta dalam penyusunan kamus ini. Kamus ini dapat selesai dengan baik berkat kerja sama anggota tim. Para tim penyusun kamus ini adalah Yohanis Sanjoko, S.Pd., M.A. (ketua), Siswanto, S.Pd. (anggota), Siti Masitha Iribaram, S.Pd.

(anggota), dan Ratna Mala Sukma, S.S. (anggota).

(4)

iv

Tim penyusun menyampaikan terima kasih kepada Kepala Balai Bahasa Provinsi Papua atas kepercayaan yang diberikan sehingga kami dapat menyusun kamus ini.

Penyusunan kamus ini tidak akan berhasil dengan baik tanpa bantuan Bapak Oscar Chris Bernifu, Bapak Boaz Taurui, Bapak Yonatan Daisiu, dan Bapak Agustinus Fetowin selaku informan. Pada kesempatan ini, kami dengan tulus ikhlas mengucapkan terima kasih kepada para informan, Kepala Kampung Kamdera (Tarfia), Ondoafi Besar Tarfia, dan masyarakat Kampung Kamdera (Tarfia), Distrik Demta, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua yang telah bersedia meluangkan waktu untuk memberikan informasi yang sangat kami butuhkan dalam penyusunan kamus ini.

Kami menyadari bahwa kamus ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca, khususnya penutur bahasa Tarfia. Mudah-mudahan kamus ini berguna bagi para pemerhati bahasa.

Tim Penyusun

(5)

v

DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan . ... ii

Kata Pengantar ... iii

Daftar Isi ... v

Petunjuk Pemakaian ... vi

Lema

A ... 1

B ... 30

D ... 35

E ... 45

F ... 47

I ... 48

K ... 49

M ... 65

N ... 77

O ... 84

P ... 85

R ... 98

S ... 100

T ... 107

U ... 118

W ... 119

Y ... 126

Lampiran Biodata Informan ... 134

Lampiran Foto Pengambilan Data ... 136

Lampiran SK Tim Peneliti ... 149

Lampiran Surat Tugas Pengambilan Data ... 152

(6)

vi

PETUNJUK PEMAKAIAN KAMUS DWIBAHASA

BAHASA TARFIA —BAHASA INDONESIA

I. Pengantar

Bahasa daerah adalah bagian dari budaya bangsa Indonesia. Kehilangan sebuah bahasa itu berarti kita telah kehilangan sebuah budaya. Bahasa daerah paling banyak terdapat di Papua dengan jumlah penutur yang tidak terlalu banyak sehingga kemungkinan bahasa akan punah itu amat besar. Untuk mencegah agar bahasa daerah terhindar dari kepunahan diperlukan usaha untuk mendokumentasikan bahasa daerah tersebut. Salah satu usaha yang harus dilaksanakan adalah penyusunan kamus bahasa. Seandainya bahasa daerah itu punah, masih ada kamus bahasa daerah yang bisa dijadikan bukti bahwa bahasa daerah yang punah tersebut pernah ada dan pernah digunakan oleh penuturnya dalam berkomunikasi.

Penyusunan kamus sebuah bahasa sangat penting, terutama bagi bahasa daerah sebagai salah satu usaha pelestarian dan pendokumentasian bahasa daerah.

Salah satu program Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa adalah pendokumentasian bahasa daerah. Balai Bahasa Provinsi Papua sebagai unit kerja dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa berusaha untuk mendokumentasikan salah satu bahasa daerah yang berada di Kabupaten Jayapura. Pada kesempatan ini, bahasa yang dipilih untuk didokumentasikan dalam bentuk kamus adalah bahasa Tarfia.

(7)

vii

Salah satu bahasa daerah di Provinsi Papua yang masuk dalam rumpun

Austronesia dan bahasa-bahasa dalam kelompok pantai utara, subkelompok Sarmi-Yotefa, yaitu bahasa Tarfia. Menurut Badan Bahasa (2019), bahasa Tarfia dituturkan oleh masyarakat Kampung Kamdera, Distrik Demta, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Menurut pengakuan penduduk, bahasa Tarfia berbatasan dengan bahasa Ambora di sebelah timur, bahasa Muaif di sebelah barat, dan bahasa Genyem di sebelah utara. Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Tarfia merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81—100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya.

SIL (2006) mengidentifikasi bahasa Tarfia di Provinsi Papua dengan nama bahasa Tarpia (Kaptiauw, Kapitiauw, Sufrai). Dinyatakan pula bahwa bahasa ini terdiri atas dua dialek, yaitu Sufrai dan Tarpia (Tarfia).

Yulius Pagappong dan Jemmi Musa Ayomi (2020) dalam laporan penelitian tentang fonologi bahasa Tarfia mengemukakan bahwa bahasa Tarfia memiliki 31 buah fonem segmental yang terdiri atas 16 fonem konsonan, 5 fonem vokal (monoftong), dan 10 diftong. Fonem-fonem bahasa Tarfia, yaitu: /p/, /b/, /c/, /j/, /t/, /d/, /k/, /s/, /k/, /r/, /m/, /n/, /G/, /~n/, /y/, /w/, /a/, /i/, /u/, /e/, dan /o/, serta diftong /au/, /ae/, /ao/, /oa/, /iu/, /eu/, /ai/, /ou/, /ui/, dan /oa/.

Sitti Mariati S. dan Yulius Pagappong (2020) dalam laporan penelitian tentang morfologi bahasa Tarfia mengemukakan nomina bahasa Tarfia dari segi bentuk terdiri atas nomina dasar dan nomina turunan. Nomina dasar ada dua, yaitu nomina dasar umum dan nomina dasar khusus. Sementara nomina turunan diperoleh dari hasil reduplikasi dan kompositium atau pemajemukan. Perulangan

(8)

viii

atau reduplikasi nomina ditandai dengan pemakaian kata pok ‘banyak’ dan menyatakan makna jamak atau lebih dari satu. Dari segi bentuk, verba bahasa Tarfia terdiri atas verba asal dan verba turunan. Verba turunan dibentuk dari adanya pengafiksan, reduplikasi, dan pemajemukan atau kompositium. Sementara itu, adjektiva dari segi bentuk terdiri atas adjektiva dasar dan adjektiva turunan.

Adjektiva turunan diperoleh dari pengafiksan, reduplikasi, dan pemajemukan.

Pengafiksan adjektiva yang ada dalam bahasa Tarfia adalah sufiks. Sufiks yang melekat pada kata adjektiva adalah sufiks -mom. Reduplikasi dalam bahasa Tarfia adalah reduplikasi utuh adjektiva dasar. Sementara kompositium atau pemajemukan dalam adjektiva adalah komposisi adjektiva + adjektiva bermakna gramatikal dan komposisi adjektiva bermakna idiomatikal.

Sementara itu, Yohanis Sanjoko dan Novaria Panggabean (2020) dalam laporan penelitian tentang sintaksis bahasa Tarfia menjelaskan dalam bahasa Tarfia, frasa terdiri atas frasa nominal, frasa verbal, frasa adjektival, frasa pronominal, dan frasa posposisional. Frasa nominal terdiri atas frasa nominal endosentris atributif dan frasa nominal endosentris koordinatif. Satuan sintaksis yang kedua adalah klausa. Klausa terdiri atas klausa klausa verbal, klausa nominal, klausa adjektival, klausa posposisional, dan klausa numerial. Klausa verbal dibagi atas beberapa jenis, yaitu (1) klausa verbal tindakan bersasaran tak berpelengkap disusun dari sebuah verba berkomponen makna (+ tindakan) dan (+

sasaran), klausa ini memiliki fungsi sintaksis subjek, objek, dan predikat; (2) klausa verbal tindakan tak bersasaran disusun dari sebuah verba berkomponen makna (+ tindakan) dan (- sasaran) sehingga klausa ini hanya memiliki fungsi

(9)

ix

sintaksis subjek (S), predikat (P), dan klausa ini kadang-kadang diikuti oleh keterangan (K); (3) klausa verbal tindakan bersasaran berpelengkap disusun dari sebuah verba berkomponen makna (+ tindakan), (+ sasaran), dan (+ pelengkap), klausa ini memiliki fungsi sintaksis subjek (S), Objek (O), Pelengkap (Pel.), dan predikat (P); dan (4) klausa verbal keadaan disusun dari sebuah predikat verbal berkomponen makna (+ keadaan).

Klausa lainnya dalam bahasa Tarfia, yaitu klausa nominal yang hanya memiliki fungsi wajib Subjek (S) dan predikat (P); klausa adjektival hanya memiliki fungsi wajib subjek (S) dan predikat (P); klausa posposisional dapat disusun dari fungsi subjek (S) dan predikat (P), dalam ragam formal fungsi P akan diisi oleh sebuah verba dan frasa posposisinya menjadi fungsi keterangan (K); dan klausa numeral yang dapat disusun dari fungsi S yang berupa frasa berkategori nomina dan P yang berupa frasa berkategori numeral.

Satuan sintaksis yang ketiga adalah kalimat. Dalam bahasa Tarfia, kalimat terdiri atas kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Dalam penelitian tersebut, kalimat tunggal dianalisis berdasarkan urutan fungsi unsur-unsur pembentuk kalimat tunggal, pola dasar kalimat tunggal, dan modus. Berdasarkan urutan fungsi unsur-unsur dapat diketahui unsur-unsur yang menduduki fungsi untuk membentuk struktur kalimat tunggal, yaitu (1) urutan fungsi unsur subjek (S) dan predikat (P); (2) urutan fungsi unsur subjek (S), objek (O), dan predikat (P); (3) urutan fungsi unsur subjek (S), keterangan (K), dan predikat (P); dan (4) urutan fungsi unsur subjek (S), objek (O), predikat (P), dan keterangan (K).

(10)

x

Satuan sintaksis kalimat majemuk terdiri atas kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Kalimat majemuk setara dibagi atas beberapa jenis, yaitu (1) kalimat majemuk setara penjumlahan adalah kalimat majemuk yang menyatakan hubungan penjumlahan dan dapat terjadi dengan cara merangkai dua klausa dengan konjungsi pe/ma ‘dan’; (2) kalimat majemuk setara perlawanan adalah kalimat majemuk yang menyatakan hubungan perlawanan/pertentangan dan dapat terjadi dengan cara merangkai dua klausa dengan konjungsi do ‘tapi’;

dan (3) kalimat majemuk setara pemilihan adalah kalimat majemuk setara yang mempunyai klausa-klausa yang merupakan suatu pilihan yang harus dilakukan dan terjadi dengan cara merangkai dua klausa dengan konjungsi ato ‘atau’.

Kalimat majemuk bertingkat dalam bahasa Tarfia dibedakan menjadi tiga, yaitu (1) kalimat majemuk bertingkat dengan subordinat klausa nomina; (2) kalimat majemuk bertingkat dengan subordinat klausa adjektival; dan (3) kalimat majemuk bertingkat dengan subordinat klausa adverbial.

II. Informasi dalam Kamus

Ada beberapa informasi yang perlu diperhatikan untuk mempermudah penggunaan kamus ini, yaitu:

1. Lema disusun secara alfabetis.

2. Lema yang berupa kata dasar, kata berimbuhan, kata berulang, kata majemuk, dan gabungan kata menjadi judul tiap lema. Hal-hal itulah yang dicarikan padanan atau konsep yang sama dalam bahasa Indonesia.

(11)

xi

3. Tiap-tiap lema pada bahasa sumber (bahasa Tarfia) ditulis dengan sistem ejaan yang telah disesuaikan dengan sistem ejaan bahasa Indonesia dan berpedoman pada sistem ejaan seperti yang termuat dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

4. Lema diikuti pelafalan yang penulisan bunyinya disesuaikan dengan sistem fonetis internasional yang cara penulisannya disesuaikan dengan International Phonetic Alphabeth (IPA). Pelafalan lema tersebut ditulis di antara tanda kurung siku ([---]).

Contoh:

abokni [abOkni] n bangkai ace [acE] pron ia

aitako [aytakO] v mencebur; terjun ke dalam air

5. Sesuai dengan konteks dan keperluannya, setiap lema diberi label kelas kata.

Label ditulis dengan singkatan dan dicetak miring setelah pelafalan. Adapun singkatan label-label tersebut sebagai berikut.

a adjektiva, yaitu kata yang menjelaskan nomina atau pronomina;

adv adverbia, yaitu kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain, atau kalimat;

n nomina, yaitu kata benda;

num numeralia, yaitu kata bilangan;

p partikel, yaitu kelas kata yang meliputi kata depan, kata sambung, kata seru, kata sandang, ucapan salam;

(12)

xii

pron pronomina, yaitu kelas kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, dan kata tanya;

v verba, yaitu kata kerja

6. Penjelasan makna bahasa sumber (bahasa Tarfia) dinyatakan melalui padanan kata bahasa sasaran (bahasa Indonesia). Apabila sebuah lema mempunyai lebih dari satu makna atau padanan kata, perbedaan makna atau padanan kata itu ditandai dengan nomor polisemi dengan menggunakan angka Arab yang dicetak tebal.

Contoh:

a’to [a’tO] 1 v ada; hadir: note duk ya’to daryeni kemarin saya ada di tempat

itu; 2 v berada: bobomupin tauwi a’to nenek masih berada di kampung aisi [aysi] 1 v asuh, mengasuh; menjaga anak kecil: ide dukni karpau aisi dia yang mengasuh anakku; 2 v jahit, menjahit: nani tang yen aisi ibu sedang menjahit tas

7. Lema yang mempunyai bentuk homonim ditandai dengan menggunakan angka Arab dengan tika atas (superskrip) di belakang lema.

Contoh:

1akasi [akasi] a sesak: yatem apa akasi sesak napas

2akasi [akasi] 1 n bilas: nani sunsun akasi ibu membilas baju; 2 v cebok, menceboki: tasini nani potodan akasi ibu menceboki adik

1dar [dar] n alamat: dar kayap kito’ ni de siki alamat rumahmu di mana?

(13)

xiii

2dar [dar] n jalan: dinde dar kapkote ampatator kami melewati jalan yang

sempit

1dasa [dasa] a kabur: bobo tamukni mapu de dasa mata kakek sudah kabur

2dasa [dasa] n bubuk; barang yang ditumbuk menjadi tepung: pom dasa kop

papoi aptar bubuk sagu terhambur di lantai

3dasa [dasa] n debu: darii dasa pok di jalanan banyak debu

4dasa [dasa] n ketombe: tasini piridau dasa pok banyak ketombe di rambut adik

5dasaa [dasa:] n abu-abu: dada sunsun dasaa ma aunei kakak memakai baju abu-abu

III. Penyajian Lema 1. Kata Dasar

Kata dasar yang menjadi dasar segala bentukan kata (kata jadian) diperlakukan sebagai lema atau entri, sedangkan bentuk-bentuk derivasinya diperlakukan sebagai sublema atau subentri. Tidak semua kata dasar mempunyai bentuk jadian. Berikut adalah kata dasar yang mempunyai bentuk jadian. Misalnya, kata atapur adalah kata dasar dan kata atapur apor dan atapuri adalah bentuk jadian atau derivasinya. Contoh lain, kata dan adalah kata dasar dan kata dan ba’ta atau dani adalah bentuk jadian atau derivasinya. Kata kada adalah kata dasar dan kata kada poto, kada raro, dan

(14)

xiv

kada kuru adalah bentuk jadian atau derivasinya. Dengan demikian, cara menyusunnya adalah sebagai berikut.

Contoh:

atapur [atapur] v 1 bimbing, membimbing; memegang tangan untuk menuntun: ide amtom bobo tamukni atapur miwaroi ia berjalan sambil membimbing kakeknya; 2 pegang, memegang: ide ningwaro sambum atapur dia memegang ular besar;

atapur apor [atapur apOr] v genggam, menggenggam: tasi wen atapur apor adik mengenggam pasir;

atapuri [atapuri] v cekam, mencekam; memegang erat-erat dengan cakar (kuku) atau tangan: temtan yen man atapuri burung elang itu mencekam seekor ayam

dan [dan] n air: dan wayii kaur mom air di sungai sangat jernih;

dan ba’ta [dan ba’ta] n kopi: mama dan ba’ta ayin bapak sedang

minum kopi;

dani [dani] a basah: tasi ni sunsun dani atau madupi baju adik basah kena hujan

kada [kada] n kaki: tasini kada akpetek kaki adik terkilir;

kada poto [kada pOtO] n tumit: nani kada poto duru asok tumit ibu

tertusuk duri;

kada raro [kadararO] n tapak kaki: ini kada’raro duru asikatori tapak kakinya tertusuk duri;

(15)

xv kada kuru [kadak kuru] n sepatu

2. Gabungan Kata

Gabungan kata atau kelompok kata yang merupakan frasa tidak diperlakukan sebagai lema, tetapi diperlakukan sebagai sublema. Letaknya langsung di bawah lema yang berkaitan, yaitu kata pertama unsur pembentukan gabungan kata itu disusun berderet ke samping. Unsur pertama gabungan kata itu dicetak tebal.

Contoh:

kada’ [kada’] n duda;

kada’ ma’mei [kada’ma’mey] n janda: mupin yende kada’ma’mei

wanita itu seorang janda

kai [kay] n kayu; papan: sirbi kayap yarir dimariuni kai mereka mencari kayu untuk tiang rumah; kayap kop de kaite diyap lantai rumah terbuat dari papan

kai kuru [kay kuru] n kulit kayu;

kai pa’pisi [kay pa’pisi] n salib: kai pa’pisi di’kemawa kayu salib

sudah dipasang;

kai paton [kay patOn] n tongkat: bobotamu’ kai patonnte amtomni kakek berjalan dengan bantuan tongkat;

kai tarko [kay tarkO] n tombak: mama por kai tarkote asok bapak melempar tombak ke babi;

(16)

xvi kai waka [kay waka] n akar kayu

karam [karam] n 1 penyu; penyu belimbing: karam rim ditaudi pip warek ada lima penyu yang dilepas ke laut; 2 kura-kura: karam amtom kirikte kura- kura berjalan lambat

karam pano [karam panO] n telur penyu;

karam pau [karam paw] n sayap penyu;

karam taya [karam taya] n tempurung penyu 3. Kata Majemuk

Kata majemuk diperlakukan sebagai lema dengan unsur pertama diletakkan di depan dan unsur-unsurnya dicetak tebal.

Contoh:

karpao baram [karpaO baram] n dara: ide karpao baram Meraukete ayi’ dia menikah dengan dara dari Merauke

kawe papku [kawe papku] n kalajengking: kapi den kawe papku pok banyak kalajengking di hutan

nau karpau [naw karpaw] n jendela: nau karpau yendi pu’seki jendela rumah itu terbuka

IV. Urutan Susunan Lema

Lema disusun menurut abjad, baik secara horizontal maupun secara vertikal.

Dalam kamus ini, lema disusun secara vertikal, huruf b diletakkan di bawah huruf a dan seterusnya.

(17)

xvii

Urutan lema dan derivasi yang menjadi sublema disusun dengan berpegang pada pola umum sebagai berikut.

1. Lema pokok 2. Gabungan kata 3. Kata majemuk

Urutan susunan lema di atas tidak semua ada dalam kamus ini. Hal ini disesuaikan dengan lema dan sublema yang ada padanan katanya dalam bahasa sasaran.

V. Ejaan

Masyarakat Tarfia hingga saat ini belum memiliki budaya tulis. Dengan sendirinya, bahasa Tarfia juga tidak memiliki sistem ejaan untuk menuliskan bunyi-bunyi bahasanya. Berhubung masyarakat Mooi saat ini lebih menguasai bahasa Indonesia, dalam kamus ini sistem ejaannya menyesuaikan dengan sistem ejaan bahasa Indonesia. Artinya, dalam kamus ini digunakan ejaan bahasa Indonesia seperti yang diatur dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Untuk keperluan kamus ini, digunakan beberapa ketentuan khusus, antara lain, yang tertera di bawah ini.

1. Huruf Miring a. Label kelas kata

Huruf miring dipakai untuk menuliskan label kelas kata.

Contoh penggunaannya:

arko [arkO] num dua arob [arOb] v terbang

(18)

xviii binim [binim] n pinang

dada [dada] n kakak

damor [damOr] n udang laut duk [duk] pron saya

kayap [kayap] n rumah

mama [mama] n bapak

si’namen [si’namen] pron bagaimana

siiyan [si:yan] pron siapa tane [tane] pron apa tor [tOr] num tiga yar [yar] n pagar

yen [yen] pron itu

warorek [warOrEk] a cengeng

b. Huruf miring dipakai untuk menuliskan kalimat contoh pemakaian kata lema dan kata sublema dalam bahasa sumber.

Contoh:

pom [pOm] n sagu: nani pom arok ibu menapis sagu; pom dau daun sagu;

pom kau’ [pOm kau’] n bagea; kue kering, dibuat dari sagu dan

dibungkus dengan daun nipah: nani pom kau’ bakkem ibu membuat bagea;

(19)

xix

pom siniu [pOm siniw] n jamur yang tumbuh di kayu lapuk pohon

sagu;

pom tayap [pOm tayap] n dusun sagu

1yateba [yat|ba] a gelisah: mama yateba ausiu dada amaitap kayap warek bapak gelisah kakak belum pulang ke rumah;

yateba aci [yat|ba aci] a resah: ide yateba aci nimpur yeni dia resah

menunggu hasil;

yateba aici [yat|ba aici] a kesal: nani tasi tauru yateba aici ibu kesal sama adik yang nakal;

yateba aus [yat|ba aws] a sedih: ide yateba ausiu bobomupin aperni dia sedih, nenek meninggal

2. Huruf Tebal

Cetak tebal menunjukkan lema, sublema, angka untuk polisemi, dan tika atas untuk homonim.

Contoh:

amau’ [amau’] v 1 karam: wayau sambum yen dape amau’ kapal itu karam

karena bocor; 2 tenggelam: wayau yende nap apornei amawu’ perahu itu tenggelam diterjang ombak

1tauru [tawru] a 1 kasar: siniraro yen tauru mom perlakuannya sangat kasar;

2 keras: tamop kai tauru mom kayu matoa sangat keras;

(20)

xx

tauru a’kem [tawru a’kem] a kaku: sini den tauru a’kem tubuhnya sudah

kaku

2tauru [tawru] n gigih: apikdi dan pite akkem nimpur tauru usahanya sukses karena gigih bekerja

3. Garis Bawah

Garis bawah dipakai untuk menandai lema, sublema, gabungan kata atau kata majemuk yang dipakai dalam contoh kalimat.

Contoh:

motan [mOtan] n labu: nani motan uu’raroi apek’nei ibu memetik labu di kebun

num [num] n nyamuk: denini num pok di sini banyak nyamuk

3sunsun [sunsun] n rok: sunsun nayer rok rumbai-rumbai;

sunsun marasi [sunsun marasi] n celana panjang;

sunsun didu [sunsun didu] n celana pendek

dapeni [dapEni] pron di sana: dide dapeni dinyenei mereka tinggal di sana damar tamsu [damar tamsu] n orang yang disegani; ondoafi

4. Tanda Koma (,)

Tanda koma (,) dipakai untuk memisahkan padanan lema yang memiliki lebih dari satu padanan kata.

(21)

xxi Contoh:

prikop erurnek [prikOp erurnEk] v geleng, menggeleng: tasi prikop erurnek nani emsimini adik menggeleng saat ditanya ibu

sombrote [sOmbrOtE] v cencang, mencencang; memotong halus-halus: nani pankanir sombrote ibu mencencang daging

takan [takan] v santap, menyantap: dim kiri’ dakan kami menyantap papeda

yanweror [yanwerOr] v maki, memaki: yante ka’sitau dinii yanweror karpu’dii jangan engkau memaki orang tua!

5. Tanda Titik Koma (;)

a. Tanda titik koma (;) dipakai untuk memisahkan bentuk-bentuk kata yang bermakna sama atau hampir sama (sinonim) yang terdapat pada padanan kata atau pada penjelasan makna.

Contoh:

2paru [paru] n batas; pemisah antara dua bidang; daerah: yar dente mamani uu’raro paru pagar ini menjadi batas kebun bapak

3tarma [tarma] v bentrok; berselisih; berkelahi: dada pe tasi den puni

puni tarma kakak dan adik itu sering bentrok; tarma dikem akbor pite dinyen setelah berkelahi mereka rukun kembali

wanom [wanOm] n celurut; tikus rumah; tikus kecil yang berbau tidak sedap, berbulu coklat keabu-abuan: wanom pok kayap yeni

(22)

xxii

banyak celurut di rumah itu; wanom pok kayapi banyak tikus di rumah

b. Titik koma (;) dipakai sebagai penanda akhir deskripsi makna sebuah sublema yang masih belum merupakan bentuk derivasi terakhir (deskripsi makna sublema yang merupakan bentuk derivasi terakhir sebuah lema tidak diakhiri dengan tanda baca apa pun).

Contoh:

2yap [yap] n 1 api; lampu: nani yap a’kem arbi ibu menyalakan api;

mama yap atawi bapak menyalakan lampu; 2 obor: mama yap a’nii bapak menyalahkan obor;

yap karansu [yap karansu] n pelita: dukde miriu yap karansu yaknei saya memasang pelita malam hari;

yap karansu [yap karansu] n unggun: yap karansu arbi awa api

unggun sudah menyala

2dauru [dawru] n pohon enau: mama dauru akik bapak memanjat pohon enau;

dauru pawa [dawru pawa] n buah enau: mama dauru pawa a’koi bapak mengambil enau

c. Titik koma (;) dipakai sebagai penanda akhir deskripsi makna polisemi.

Contoh:

2di’ [di’] 1 a tinggi: tor yende di’ mom gunung itu sangat tinggi; 2 n atas; bagian yang lebih tinggi: dukde kaipaka den te saya dari atas

(23)

xxiii

pohon; 3 v tanjak, menanjak: dar ini kayapde warekni di’ jalanan ke rumahnya menanjak

e’rik [e’rik] v 1 merangkak: karpou yende e’rik kirite bayi itu

merangkak pelan; 2 merayap: ningwaro e’krik nari ular merayap di tanah

1ka’kadu [ka’kadu] n 1 bunyi: man ka’kadu bunyi burung, man kiku

suara burung; 2 gemuruh: nap ka’kadu dirnek rapaiki gemuruh ombak terdengar kuat

6. Tanda Titik Dua (:)

Tanda titik dua (:) dipakai untuk mengawali suatu contoh pemakaian kata dalam kelompok kata atau kalimat.

Contoh:

mampa [mampa] a lebar; luas: kayapde mata mampa mom halaman rumahnya sangat lebar; narde mampa mom tanahnya sangat luas

narka [narka] n darah: wamarde narka a’tor lukanya mengeluarkan darah

pado [padO] a ompong: bobotamsu nopo pado kakek sudah ompong rana [rana] n ranting: dim rana ampa’ koinei kami mengumpulkan ranting

7. Tanda Kurung ((…))

Tanda kurung dipakai untuk menunjukkan bahwa kata atau bagian kalimat yang terdapat dalam deskripsi yang diapit tanda kurung itu merupakan

(24)

xxiv

keterangan penjelas bagi kata-kata atau pernyataan yang terdapat di depannya.

Contoh:

1kabemtaya [kabEmtaya] n uang; kulit bia (zaman dulu digunakan sebagai

alat pembayaran): nani kabem taya apanduk ibu memberi saya uang tam [tam] n semang perahu bagian kanan (ini disesuaikan dengan pemilik

perahu kidal atau tidak, jika kidal maka semang berada di sisi kiri) kebiasaan orang Tarpi memasang semang hanya sebelah kanan

tandra paiki [tandra payki] n penyebutan untuk hari besar (Minggu, natal, 17 Agustus, dll)

8. Tanda kurung siku ([---])

Kurung siku dipakai untuk lafal kata secara fonetis.

Contoh:

apirne [apirne] n keriting: pridau tasi apirne rambut adik keriting

bakoi [bakOy] n ubi jalar; petatas: bakoi yapi diran dim angkan kami makan ubi jalar bakar

dai [day] n timur: maram akik dai amatate matahari terbit sebelah timur

(25)

xxv 9. Tika Atas atau Superskrip (…1 ...23)

Tika atas dipakai untuk menandai bentuk homonim yang homograf dan homofon (diletakkan di belakang lema yang memiliki bentuk homonim, setengah spasi ke atas).

Contoh:

1kuru [kuru] n belulang; kulit binatang yang dikeringkan: karbo kuru

belulang kerbau

2kuru [kuru] n guru: dimni kuru aram mamsar mom guru kami sangat pandai

3kuru [kuru] n kulit: kai kuru kulit kayu

4kuru’ [kuru’] n gurita: mama kuru’ sambum atapur bapak menangkap

gurita besar

1makor [makOr] n babu; perempuan yang bekerja sebagai pembantu: nani

den makor mukme prikop tamsu ni kayap ibu itu menjadi babu di rumah kepala suku

2makor [makOr] n besan; orang tua dari menantu (baik menantu laki-laki

maupun perempuan)

3makor [makOr] n kawan: ide dukni makor dia kawan saya

10. Angka Arab Cetak Tebal (1, 2, 3, …)

Angka Arab cetak tebal dipakai untuk menandai makna polisemi (yaitu arti kesatu, arti kedua, dan seterusnya).

Contoh:

(26)

xxvi

3tansiu [tansiw] n 1 cuaca: tan kendeni tansiu pi hari ini cuaca terang; 2

keadaan tawi tansiu pi a’kem keadaan di kampung itu sudah aman

2yane [yanE] a 1 emosi; marah: mama yane a’em tasi tarni tauru bapak

emosi karena adik nakal; mama yane a’em namkini pinsi sambun bapak marah mendengar suara keras kakak; 2 jengkel: tasi a’kem mama yane a’kem adik membuat jengkel bapak

2di’ [di’] 1 a tinggi: tor yende di’ mom gunung itu sangat tinggi; 2 n atas;

bagian yang lebih tinggi: dukde kaipaka den te saya dari atas pohon; 3 v tanjak, menanjak: dar ini kayapde warekni di’ jalanan ke rumahnya menanjak

(27)

xxvii

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1997. Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan. (Edisi Kedua). Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik (Edisi Keempat). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Mariati, Sitti dan Yulius Pagappong. 2020. “Morfologi Bahasa Tarfia”. Jayapura:

Balai Bahasa Provinsi Papua.

Pagappong, Yulius dan Jemi Musa Ayomi. 2020. “Fonologi Bahasa Tarfia”.

Jayapura: Balai Bahasa Provinsi Papua.

SIL International Indonesia. 2006. Bahasa-bahasa di Indonesia (Edisi Kedua).

Jakarta: SIL International.

Silzer, Peter J. dkk. 1986. Peta Lokasi Bahasa-Bahasa Daerah di Propinsi Irian Jaya. Jayapura: Universitas Cendrawasih dan Summer Institute of Linguistic.

Sanjoko, Yohanis dan Novaria Panggabean. 2020. “Sintaksis Bahasa Tarfia”.

Jayapura: Balai Bahasa Provinsi Papua.

Sunaryo, Adi dkk. 1990. Pedoman Penyusunan Kamus Dwibahasa. Jakarta:

Departemen Pendidikan Nasional.

Tim Penyusun. 2019. Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Edisi ke-4, cetakan ke-1. 2008. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk membantu mempermudah penggunaaan kamus ini, lema disusun secara alfabetis, lema yang berupa kata dasar, kata berimbuhan, kata berulang, kata majemuk, dan gabungan kata

Jika verba yang mengisi fungsi predikat pada klausa inti merupakan verba aktif transitif, klausa tersebut berposisi di depan, tetapi permutasi tersebut berkaitan erat

Frasa adalah bagian kalimat yang terbentuk dari dua kata atau lebih yang hanya menduduki satu fungsi atau jabatan di dalam kalimat.Di dalam kalimat terdapat subjek (S), predikat

Pada kalimat yang berstruktur S-O-P, unsur yang menduduki fungsi (S) bisa berkategori nomina atau frase nominal, unsur yang menduduki fungsi (P) selalu

Subjek dalam klausa tersebut terdiri dari partikel (anna) dan nomina (ni) membentuk frasa nominal (annani>), sedangkan predikat dalam klausa tersebut adalah jumlah filiyyah

Dalam bahasa Kodi, konstruksi klausa dengan PRED berupa nominal membentuk konstruksi bermarkah karena subjek dirujuk silang oleh klitika yang secara kanonis

Berdasarkan jenis predikatnya, kalimat dasar bahasa Indonesia dan bahasa Bali sama-sama bisa berpredikat frasa verbal, adjektival, nominal termasuk pronominal, numeral, dan

]adi, pengertian lokatif, tiga tataran, yaitu 1 fungsi sintaksis seperti bukan saja menyangkut lokatif yang mengisi subjek S, predikat P; 2 kategori sintaksis fungsi keterangan, tetapi