• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Era globalisasi masuk ke segala bidang seperti bidang politik, bidang ekonomi, bidang sosial dan budaya. Globalisasi pula yang menekan kemajuan penggunaan teknologi karena manusia merasa kehidupan yang cukup jauh dari lingkungannya perlu untuk diraih atau didekatkan melalui teknologi, maka dari itu teknologi begitu penting dalam penuhan kebutuhaan hidup sehari-hari. Hal ini pula yang mendorong manusia menciptakan mesin atau alat-alat yang mempermudah pekerjan manusia, seperti halnya teknologi dalam industri. Teknologi industri membantu manusia mempermudah dalam memproduksi baik barang dalam bentuk benda keperluan rumah tangga, perkantoran dan lain sebagainnya hingga produksi makanan untuk memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari. Namun manusia kadang lupa karena terlalu menikmati kecanggihan dari teknologi tersebut, akhirnya manusia memproduksi barang-barang yang berlebihan dan hal ini akan memberikan dampak seperti melimpahnya barang-barang bekas kemasan yang digunakan untuk makanan ataupun barang-barang produksi lainnya. Jika tidak tepat penanganannya maka akan menimbulkan tumpukan sampah dan mencemari lingkungan apalagi jika sampah berupa kaleng yang sulit diuraikan.

Sebagai contoh penanganan penanggulangan penumpukan sampah yang sulit terurai seperti kaleng bekas makanan dan kaleng cat bekas produksi karya seni hingga kaleng cat bekas bangunan dan masih banyak lagi, hal seperti ini bisa diatasi dengan memanfaatkan kembali barang-barang bekas tersebut menjadi barang-barang yang berguna sebagai contoh bisa dijadikan karya seni. Karya seni tersebut bisa berupa karya seni rupa seperti lukisan, karya seni instalasi atau bisa berupa karya seni kriya. Pada titik inilah kreatifitas kita diuji untuk mengubah barang-barang bekas tersebut menjadi barang-barang yang lebih bermanfaat atau bahkan menciptakan karya seni yang

(2)

2

bernilai tinggi dari barang bekas tersebut. Namun tidak sekedar menyulap tapi kita juga harus mempertimbangkan nilai keindahan atau nilai estetika, makna atau arti dari karya seni yang kita buat hingga bisa diyakini bahwa karya seni yang dibuat bernilai tinggi.

Karya seni mengandung makna dan arti yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Karya seni juga menimbulkan perpedaan persepsi diantara penikmatnya, karena karya seni yang bisa dilihat dan dirasakan oleh semua orang yang menyaksikannya mengeluarkan pendapat masing-masing mengenai karya seni tersebut. Hal ini biasanya terjadi ketika para penikmat seni atau pengunjung pameran berada dalam satu pergelaran karya seni seperti di sebuah galeri yang memamerkan karya seni rupa berupa lukisan, patung, karya seni instalasi dan karya seni rupa lainnya.

Perdebatan bukan berarti menimbulkan dampak buruk terhadap karya seni tersebut atau bahkan pamerannya, akan tetapi perdebatan atau perselisihan persepsi yang terjadi menjadikan daya tarik terhadap karya seni sehingga karya seni tersebut menjadi sorotan banyak orang untuk membahas lebih dalam mengenai karya seni tersebut dan tidak sedikit para kritikus yang mengangkat karya seni tersebut untuk dijadikan bahan pembahasan mereka selanjutnya di ranah seni.

Estetika seni hal yang paling penting dalam pembahasan ini karena dengan ilmu yang dibekali dari estetika seni memberikan kita kematangan dalam mengutarakan persepsi terhadap karya seni. Suatu karya seni mengandung estetika, namun jika kita tidak mengetahui letak atau apa yang dimaksud dengan estetika suatu karya seni maka kita hanya menilai karya seni sebatas penglihatan saja. Seperti diketahui bahwa estetika merupakan ilmu yang mempelajari tentang persepsi indrawi sehingga ketika kita mengerti dan memahami estetika suatu karya seni, indrawi atau semua pancaindra akan ikut merasakan dan membuat tanggapan atau argumen terhadap suatu karya seni dan inilah yang menimbulkan perbedaan persepsi setiap orang.

Secara etimologis, istilah “estetika” berasal dari kata sifat dalam bahasa Yunani, aisthetikos, yang artinya ‘berkenan dengan persepsi’. Bentuk kata bendanya adalah aisthesis, yang artinya ‘persepsi indrawi’. Sementara bentuk kata kerja orang pertamanya adalah aisthanomai, yakni ‘saya mempersepsi’. Pengertian

‘indrawi’ di sini sangat luas, mencakup penglihatan, pendengaran, sekaligus juga perasaan. Dalam konteks Yunaninya, istilah lazimnya dibedakan dari noesis, yakni ‘persepsi konseptual’ atau ‘pikiran’ (Tatarkiewicz, dikutip dalam Martin

(3)

3

Suryajaya, 2016:1).

Umumnya barang bekas pakai seperti kaleng bekas yang digunakan sehari-hari oleh manusia biasanya akan dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk membuat karya seni rupa terapan seperti pembuatan karya kerajinan tangan. Namun berbeda dengan karya seni pada pameran yang digelar di Galeri Selasar Sunaryo Art Space yang berjudul “Ngindeuw”, pameran ini merupakan pameran tunggal perdana bagi seniman Arya Sudrajat. Seniman membawa istilah “Ngindeuw” sebagai judul dari pameran tunggalnya, kata “Ngindeuw” merupakan bahasa lokal dari bahasa sunda yang berarti memungut barang bekas. Pada hakikatnya memungut barang bekas merupakan kegiatan atau aktifitas yang dilakukan untuk mengambil dan mengumpulkan barang- barang yang sudah tidak terpakai, hal ini yang membuat seniman cenderung menggunakan kata “Ngindeuw” sebagai judul pamerannya yaitu seniman ‘memungut’

gagasan untuk berkarya dengan berkeliling sambil mengamati keadaan lingkungan sekitar tempat tinggal seniman yaitu Desa Jelekong.

Pameran “Ngindeuw” ini dikuratori oleh Danuh Tyas Pradipta. Menurut Danuh pada teks kuratorialnya “Ngindeuw adalah istilah yang berasal dari khazanah lokal bahasa Sunda yang berarti memungut barang bekas” ( Danuh Tyas, 2020).

Konsep dari pameran “Ngindeuw” ini membawa barang bekas seperti kaleng bekas biskuit, oli bahkan kaleng bekas cat lukis yang digunakan oleh para seniman Jelekong dalam membuat karya. Kaleng-kaleng tersebut diubah menjadi karya seni rupa murni berupa lukisan hingga karya seni instalasi. Karya dalam pameran tersebut tentunya memperlihatkan karakter kaleng bekas secara visual kepada pengunjung yang dapat dilihat dan dirasakan berupa warna serta tekstur dari lekukan-lekukan kaleng bekas, tidak hanya itu karya-karya tersebut juga menyimpan makna yang mendalam bagi seniman karena kaleng bekas pada pameran ini digunakan sebagai objek dan material utama dalam membuat karya tidak bisa terlepaskan dari identitas tanah kelahiran seniman yaitu Desa Jelekong.

Metode memungut atau “Ngindeuw” dipilih seniman agar dapat memunculkan nilai estetis pada objek (kaleng bekas) tersebut melalui karya seni berupa lukisan serta

(4)

4

karya seni instalasi dan hal ini perlahan melepaskan nilai utama dari objek (kaleng bekas) tersebut yang sebenarnya memiliki fungsi dari segi kegunaan dalam kehidupan sehari-hari.

Arya Sudrajat merupakan seniman yang bukan berlatar belakang pendidikan seni rupa, beliau merupakan seniman yang mengawali karir sebagai seniman dengan melalui proses berkarya dari ilmu dan pengalaman yang ia dapatkan dari lingkungan sekitar kehidupannya, beliau memahami dan mempelajari seni rupa secara autodidak.

Beliau berasal dari daerah yang terkenal dengan produksi lukisan yaitu Kampung Jelekong Kabupaten Bandung, beliau lahir dan di besarkan di daerah tersebut hingga beliau berkesenin di kampung Jelekong hingga sekarang.

Cara seniman mengangkat kaleng bekas sebagai material dan objek dalam pembuatan karya seni berupa lukisan hingga karya seni instalasi ini memberikan nilai tambah untuk seniman. Berkarya dengan memanfaatkan barang bekas itu merupakan sikap yang positif dikarenakan dengan seringnya kita berperilaku baik kepada lingkungan sekitar kita akan berdampak pada kemajuan dalam sektor ekonomi dan sosial di lingkungan hidup kita. Lingkungan menjadi bersih dan kaleng bekas merupakan benda yang sulit terurai, dengan cara dibakar pun akan susah untuk memusnahkannya, namun dengan cara mengolah kaleng bekas menjadi karya seni yang bermakna dan bernilai tinggi akan mengurangi limbah kaleng yang menumpuk.

Pameran “Ngindeuw” dapat memberikan gambaran bahwa sebagai seorang seniman muda tidak harus berkarya dengan memikirkan konsep atau ide karya yang masuk ke ranah politik dan sebagainya untuk menciptakan sebuah karya dan memamerkannya ke publik. Cukup peka atau sadar dengan kondisi lingkungan tempat tinggal kita sudah mendapatkan ide untuk membuat konsep dan gagasan dalam membuat karya seni. Mulai dari hal yang kecil bisa memberikan makna yang mendalam, kita dapat mempelajari serta mengamati karakter dari setiap kaleng bekas yang memiliki warna, ketebalan, pola, bentuk, ukuran, corak dan tekstur yang berbeda- beda. Jadi hal ini tidak membuat wawasan kita sempit mengenai gagasan atau konsep yang akan kita buat untuk berkarya seni khususnya dalam dunia seni rupa.

Berdasarkan latar belakang ini, penulis ingin menganalisis nilai estetika atau

(5)

5

nilai keindahan yang terkandung di dalam karya seni lukis Arya Sudrajat dalam pameran “Ngindeuw”. Topik ini diangkat untuk membantu menjelaskan yang dimaksud dengan estetika pada karya seni yang menggunakan barang bekas sebagai objek lukisan. Penulis mengharapkan dari penelitian ini masalah sampah atau penumpukan barang bekas yang sulit terurai seperti barang-barang berbahan kaleng di lingkungan sekitar kita dapat diatasi dan ditanggulangi dengan baik.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, peneliti merumuskan masalah yaitu sebagai berikut.

1. Bagaimana nilai estetika yang terkandung di dalam karya seni lukis Arya Sudrajat dalam pameran “Ngindeuw”?

2. Bagaimana cara seniman dapat melepaskan nilai fungsional dari objek yang digunakan dalam berkarya sehingga dapat menjadi karya seni lukis?

C. Batasan Masalah

Pembatasan suatu masalah digunakan untuk memfokuskan peneliti pada masalah yang telah dirumuskan dan akan diteliti. Beberapa batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Karya seni yang diteliti adalah karya seni lukis dari seniman Arya Sudrajat dalam pameran yang berjudul ”Ngindeuw”. Karya yang dikupas dalam penelitian ini adalah karya seni lukis yang berjudul Timbris#1.

2. Teori yang digunakan untuk menganalisis karya yaitu teori menurut Martin Suryajaya mengenai makna estetika sebagai filsafat seni dan teori seni lukis yang difokuskan pada analisis unsur-unsur serta prinsip-prinsip seni rupa pada seni lukis.

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini memiliki tujuan yaitu sebagai berikut.

1. Untuk mengetahui nilai estetika yang terkandung di dalam karya seni lukis Arya Sudrajat dalam pameran “Ngindeuw”.

(6)

6

2. Untuk mengetahui cara serta proses seniman dalam mengubah nilai fungsional atau kegunaan objek (kaleng bekas) dalam kehidupan sehari-hari hingga menjadi nilai estetis dalam karya seni lukis.

E. Manfaat Penelitian

Peneliti mengharapkan adanya manfaat yang diperoleh dari penelitian ini yaitu sebagai berikut.

1. Bagi penulis, dapat memahami dan menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang pemahaman-pemahaman baru yang dibawa seiring dengan perkembangan karya seni lukis baik dari dalam maupun luar negeri.

2. Bagi masyarakat, diharapkan dengan karya tulis ini dapat menambah wawasan mengenai pemahaman tentang seni lukis.

3. Bagi institusi, diharapkan dengan adanya hasil penelitian dalam bentuk karya tulis ini institusi mendapatkan informasi dan penulisan ini menjadi referensi dalam penelitian selanjutnya tentunya dengan topik pembahasan yang serupa.

F. Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan tipe fenomenologi sebagai strategi yang digunakan untuk membantu penulis dalam penelitian menganalisis nilai estetika dari karya seni lukis Arya Sudrajat dalam pamerannya yang berjudul “Ngindeuw”.

Prof. Dr. A. Muri Yusuf, M.Pd. dalam bukunya yang berjudul Metodologi Penelitian menjelaskan pengertian fenomenologi yaitu,

“Phenomenology (Inggris) berasal dari “phainomenon” dan “logos”

(Yunani). Phainomenon berasal dari kata “phaenoo”, yang berarti membuat kelihatan atau membuat tampak. Logos adalah ilmu atau ucapan. Dengan demikian, fenomenologi dapat dirtikan ilmu ilmu tentang fenomena yang menampakkan diri dari kesadaran peneliti. Dalam arti luas, fenomenologi adalah ilmu tentang gejala atau hal-hal apa saja yang tampak” (Muri Yusuf,

(7)

7

2014:350)

Cara memperolah data, yaitu:

1. Wawancara seniman dalam pameran “Ngindeuw”. Pameran tersebut diselenggarkan dari tanggal 31 Januari hingga 1 Maret 2020. Wawancara dapat dilakukan dengan mengikuti diskusi antara seniman dan pengunjung pameran yang dilakukan di dalam ruang galeri tempat pameran berlangsung dan wawancara yang dilakukan secara personal antara peneliti dan narasumber yaitu seniman Arya Sudrajat.

2. Observasi, kegiatan observasi dilakukan penulis untuk mengamati, menganalisis hingga menyimpulkan apa saja yang terjadi baik dari karya seni hingga pamerannya. Kegiatan observasi membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian ini karena penulis secara langsung mengamati karya yang dipamerkan di galeri Selasar Sunaryo Art Space dalam pameran yang berjudul “Ngindeuw”

ini.

3. Dokumen, data yang ada di dalam dokumen berupa catatan penting hasil observasi penulis mengenai biografi seniman serta catatan mengeni karya seni dan pameran.

Dokumentasi pribadi penulis berupa foto tentang pameran “Ngindeuw” juga menjadi data pendukung untuk memperkuat penelitian ini.

G. Sistematika Penelitian

Sistematika penyajian dibuat dengan tujuan untuk mempermudah peneliti dalam penyusunan penelitian ini maka perlu ditentukan sistematika penyajian yang baik. Sistematika penyajiannya adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bab 1 merupakan bab pendahuluan dibuat agar mengantar para pembaca masuk ke dalam pembahasan yang diangkat oleh penulis kedalam penelitiannya. Bab pendahuluan mendeskripsikan mengenai latar belakang penelitian, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metodologi penelitian,

(8)

8

sistematika penulisan serta alur penelitian.

BAB II LANDASAN TEORI

Membahas tentang ringkasan sekaligus penjelasan mengenai kajian prinsip teori yang digunakan dalam menggambarkan langkah dan arah analisis, berisi alasan pemilihan dari teori yang digunakan dalam penelitian, terdapat kajian pustaka yang menjelaskan temuan-temuan penelitian terdahulu dan berhubungan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis saat ini yaitu mengenai nilai estetika suatu karya seni.

BAB III PENYAJIAN DATA

Bab penyajian data membahas tentang metode yang digunakan dalam penelitian, lokasi atau tempat penelitian dilaksanakan, sumber data yang digunakan dalam penelitian, teknik pengumpulan data yang sudah dilakukan, analisis data hingga validasi data yang diperoleh dari penelitian ini yaitu analisis nilai estetika dari karya seni lukis Arya Sudrajat dalam pameran “Ngindeuw”.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Memaparkan hasil dari tahapan-tahapan penelitian, mulai dari analisis nilai estetika dari karya seni lukis Arya Sudrajat dalam pameran “Ngindeuw”, makna, ide, konsep serta gagasan yang terkandung didalam karya dan pameran tersebut. Berisi ilustrasi atau contoh-contoh karya dalam bentuk gambar atau foto.

BAB V PENUTUP

Berisi kesimpulan dan saran dari seluruh penelitian yang telah dilakukan.

Kesimpulan berisi pernyataan-pernyataan hasil dari simpulan analisis atau pembahsan yang telah dilakukan oleh penulis. Kesimpulan berisi jawaban dari permasalahan yang diangkat kedalam penelitian ini. Saran dalam penelitian ini disampaikan kepada pembaca berkenaan dengan pembahasan karya ilmiah ini.

(9)

9

H. Alur Penelitian

( Rahmah, 2021)

ANALISIS NILAI ESTETIKA PADA KARYA SENI LUKIS ARYA SUDRAJAT DALAM PAMERAN “NGINDEUW”

Rumusan Masalah

1. Bagaimana nilai estetika yang terkandung di dalam karya seni lukis Arya Sudrajat dalam pameran

“Ngindeuw”?

2. Bagaimana cara seniman dapat melepaskan nilai fungsional dari objek yang digunakan dalam berkarya sehingga dapat menjadi karya seni lukis?

Tujuan Penelitian

1. Mengetahui nilai estetika yang terkandung di dalam karya seni lukis Arya Sudrajat dalam pameran “Ngindeuw”.

2. Mengetahui cara serta proses seniman dalam mengubah nilai fungsional atau kegunaan objek (kaleng bekas) dalam kehidupan sehari-hari hingga menjadi nilai estetis dalam karya seni lukis.

Batasan Masalah

1. Karya seni yang diteliti adalah karya seni lukis dari seniman Arya Sudrajat dalam pameran yang berjudul

”Ngindeuw”. Karya yang dikupas dalam penelitian ini adalah karya yang berjudul Timbris#1.

2. Teori yang digunakan untuk menganalisis karya yaitu teori menurut Martin Suryajaya mengenai makna estetika sebagai filsafat seni dan teori seni lukis yang difokuskan pada analisis unsur-unsur serta prinsip- prinsip seni rupa pada seni lukis.

Pengumpulan Data

Wawancara Observasi Dokumen

Analisis Data

Kesimpulan

Referensi

Dokumen terkait

Penyajian data dalam hal ini adalah penyampaian informasi berdasarkan data yang diperoleh dari MTs.Qudsiyyah Kudus sesuai dengan fokus penelitian untuk

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui respons jamaah terhadap penyajian khutbah yang disampaikan khatib di masjid-masjid Kabupaten Banjar yang

(1) guru ragu dengan cara penyajian yang dilakukan saat mengajarkan puisi; (2) siswa yang belum dapat membacakan puisi dengan baik hal ini karena metode yang digunakan

Penelitian hukum tidak mengenal istilah data, namun dikenal dengan istilah bahan hukum. Sumber-sumber penelitian hukum dapat dibedakan menjadi sumber-sumber

Pada bab ini membahas mengenai pentingnya mempelajari bahasa Inggris, tujuan dari pembuatan data mart , cakupan dari data warehouse , dan manfaat yang diterima dari hasil

Metode ini digunakan untuk menganalisis data mengenai obyek penelitian yaitu MI Al-Falah Beran Ngawi, serta untuk menyimpulkan data-data di lapangan yang berhubungan dengan

Bab I membahas tentang latar belakang penelitian yang akan dilakukan. Latar belakang dari penelitian ini adalah keterampilan sosial pada siswa tunagrahita ringan

Bab ini membahas pengolahan atau anlisis data untuk menghasilkan temuan berkaitan dengan kondisi geografis Desa Malangnengah Kecamatan Sukatani Kabupaten Purwakarta