245
dalam Pandangan Ibn ‘ArabƯ
Media Zainul Bahri
Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta [email protected]
Abstract: This article explains that ,EQµ$UDEƯSURIHVVHGWKHWUDQVFHQGHQWXQLW\RIUHOLJLRQVZKLFKLVVKRZQ
by the data on unity of essence, unity of the divinity, unity of source or origin of the path, unity of source of WKHVFULSWXUHVXQLW\RISXUSRVHRIZRUVKLSDQGWKH5HOLJLRQRI/RYH7KLVVWXG\¿QGLQJVKRZVLQDVWURQJZD\
that the unity of religions lies in the transcendent or esoteric territory, i.e. it goes beyond formal religious IRUPVVXFKDVUHOLJLRXVODZVKDUƯµDKGRFWULQHDQGULWXDO2QWKHKLVWRULFDOIRUPVRIUHOLJLRQWKHUHDUHPDQ\
GLIIHUHQFHVDQGHYHQFRQÀLFWVRQHHDFKRWKHU7KRXJKGLIIHUHQWLQIRUPWKHVHGLIIHUHQFHVDPRQJUHOLJLRQVDUH
QRWDEVROXWHLQGHSHQGHQWDQGVHSDUDWHEXWERXQGHGE\DVLQJOHHQWLW\LHERWKIURP*RG$OPLJKW\DQGZLOO
culminate in Him as well. However, on the historical form ,EQµ$UDEƯFODLPHGWKHSHUIHFWLRQRIIslam, and simoultaneusly criticized the religion and non-Islamic beliefs. This last fact has been ignored by the scholars, both Islam and the West, who believe the theory of the transcendent unity of religions.
Keywords: unity of essence / divinity / origin or source path / source scriptures / destination servitude, Religion love, Transcendent, Criticism on non-Muslim
Abstraksi: Tulisan ini menjelaskan bahwa ,EQ µ$UDEƯ PHPDQJ PHQJDQXW SDKDP NHVDWXDQ transenden agama-agama yang ditunjukkan dengan data-data tentang kesatuan esensi, kesatuan ketuhanan, kesatuan asal atau sumber jalan, kesatuan sumber kitab-kitab suci, kesatuan tujuan penghambaan dan $JDPD&LQWD
Penemuan penting studi ini adalah bahwa kesatuan agama-agama terletak pada wilayah yang transenden atau esoterik, yaitu yang melampaui bentuk-bentuk formal keagamaan seperti syari‘ah, doktrin dan ritus.
'DODP EHQWXNEHQWXN KLVWRULV WHUGDSDW EDQ\DN SHUEHGDDQSHUEHGDDQ NHDJDPDDQ EDKNDQ NRQÀLN VDWX
sama lain. Meski berbeda dalam bentuk, namun perbedaan di antara agama-agama tidak bersifat absolut, independen dan terpisah, melainkan diikat oleh satu ikatan, yaitu bahwa semua berasal dari Tuhan dan akan kembali kepadaNya. Satu hal yang tidak dapat diabaikan adalah bahwa pada level agama historis ,EQµ$UDEƯ
menglaim kesempurnaan Islam, dan mengritik agama-agama dan keyakinan non Islam. Kenyataan ini sering diabaikan oleh para sarjana, baik Islam maupun Barat, yang menganut teori kesatuan transenden agama- agama.
Katakunci: kesatuan esensi/ketuhanan/asal atau sumber jalan/sumber kitab-kitab suci/tujuan penghambaan,
$JDPDFLQWD, Transenden, Kritik pada agama non-Islam
Pendahuluan
Dalam membincang diskursus pluralisme agama, para sarjana agama, baik datang dari 7LPXUPDXSXQ%DUDWPHUXMXNSDQGDQJDQIbn µ$UDEƯ WHUXWDPD WHUNDLW GRNWULQ µ.HVDWXDQ
Transenden Agama-$JDPD¶ .7$ 'RNWULQ
ini dianggap selaras dengan konsep pluralisme agama. Tulisan ini akan mendiskripsikan keseluruhan pandangan ,EQ µ$UDEƯ GDODP
dua aspek penting KTA: pertama, pada level apa dan bagaimana terjadi KTA, dan kedua, dalam konteks bagaimana agama-agama
berbeda bahkan bertentangan satu sama lain. Dalam kedua kitabnya, DO)XWnjK̡ƗW DO
Makkiyyah dan Fus̞njV̞ al-H̔ikam, ,EQ µ$UDEƯ
mencurahkan perhatian serius mengenai dua aspek penting ini. Di sisi lain, persoalan WHRORJLVVX¿VWLNLQLSHQWLQJGDQWHWDSUHOHYDQ
demi terus memupuk dan membangun kesadaran beragama inklusif dan pluralis:
suatu model, paham dan sikap keagamaan yang dibutuhkan di era perjumpaan secara intens antara agama-agama, dan hal ini sama sekali mustahil dihindari.
Sebab-Sebab Keragaman Syari‘at dan Keyakinan
Seperti diketahui, kemajemukan agama merupakan realitas konkret, suka atau WLGDN 0HVNL VHPXD SHQJDQXW DJDPD \DQJ
beragam itu meyakini bahwa Tuhan adalah 0DKD (VD QDPXQ NHQ\DWDDQQ\D GL PXND
bumi ini terdapat macam-macam agama.1 Karena itu, keragaman agama adalah takdir Tuhan yang tak mungkin berubah, diubah, dilawan dan diingkari. Jika hukum itu coba diubah dan dilawan, akan berakibat fatal bagi kelangsungan dan kedamaian hidup umat manusia. ,EQµ$UDEƯVHSHUWLGLNXWLS&KLWWLFN
memberi komentar terhadap berbagai ayat DO4XU¶ƗQ \DQJ PHQHJDVNDQ EDKZD 7XKDQ
telah mengutus sejumlah nabi-nabi agung dan membangun banyak jalan untuk kembali NHSDGD1\D 6\DULµDWV\DULµDW LWX EHUEHGD
karena mereka tidak mungkin untuk tidak
1 Kenyataan pluralitas itu ditegaskan oleh al- 4XU¶ƗQGDODPEHEHUDSDD\DWGLDQWDUDQ\D
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba- lombalah kamu (dalam berbuat kebaikan.) Di mana VDMD NDPX EHUDGD SDVWL $OODK DNDQ PHQJXPSXONDQ
kamu sekalian (pada Hari Kiamat.) Sesungguhnya
$OODK 0DKD .XDVD DWDV VHJDOD VHVXDWX´ 4V DO
%DTDUDK
³Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan jalan dan metode (aturan hidup.) Sekiranya
$OODKPHQJKHQGDNLQLVFD\DNDPXGLMDGLNDQVDWXXPDW
VDMD WHWDSL $OODK KHQGDN PHQJXML NDPX WHUKDGDS
pemberianNya kepadamu, maka berlomba-lombalah NDPXGDODPEHUEXDWNHEDLNDQ+DQ\DNHSDGD$OODKODK
kamu kembali, lalu diberitahukan kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu´4VDO0ƗǯLGDK
EHUEHGD .HVHOXUXKDQ V\DULµDW WHUVHEXW
PHQJDUDK NHSDGD1\D QDPXQ PDVLQJ
PDVLQJ PHPLOLNL VHEXDK VSHVL¿NDVL \DQJ
sudah ditakdirkan oleh Tuhan dengan tetap memertimbangkan kebahagiaan manusia.2
%DJL,EQµ$UDEƯUDKPDWGDQNDVLK7XKDQ
sejatinya lebih agung, luas, dan lebih dahulu GLEDQGLQJ PXUND1\D 5DKPDW LQL MHODV
dibutuhkan oleh kemajemukan agama demi kebahagiaan manusia. Karena kecenderungan watak manusia yang berbeda-beda, maka dispensasi Tuhan bagi manusia juga berbeda VHVXDLGHQJDQSHUEHGDDQ\DQJDGD%DJLIbn µ$UDEƯ 7XKDQ DGDODK SHQ\HEDE HNVLVWHQVL
segala yang ada di alam ini menurut suatu ketentuan yang berbeda satu sama lain, sekaligus pula penyebab utama berbagai perbedaan yang terlihat di alam ini. 0HVNL
demikian, segala sesuatu itu (termasuk manusia) akan berakhir dalam limpahan UDKPDW1\DMXD,EQµ$UDEƯEHUXMDU
Tuhan sendiri adalah problem pertama dari perbedaan pendapat yang muncul di alam ini, karena hal pertama yang dilihat oleh segala sesuatu adalah penyebab bagi keberadaannya sendiri.
2 William C. Chittick, Imaginal Worlds: Ibn al- µ$UDEƯ DQG WKH 3UREOHP RI 5HOLJLRXV 'LYHUVLW\ 1HZ
<RUN6WDWH8QLYHUVLW\RI1HZ<RUN3UHVV
Hal itu sesuai dengan hҐDGƯWV TXGVƯ EHUEXQ\L
³5DKPDW.X PHQGDKXOXL PXUND.X´
(rah̡PDWƯ VDEDTDW JKDG̟DEƯ) Dalam teks lain hҝDGƯWV LWX
berbunyi, ³5DKPDW.X PHQJDODKNDQ
PXUND.X´ rah̡PDWƯ JKDODEDW ghad̟DEƯ) Pernyataan ini sering diulang-ulang ,EQ µ$UDEƯ GDODP EDQ\DN
kesempatan.
William C. Chittick, Imaginal Worlds,
Dalam dirinya sendiri setiap sesuatu mengetahui bahwa ia (sebenarnya) tidak ada, kemudian PHQMDGL DGD PHODOXL DVDOXVXO GXQLDZL 1DPXQ
dalam proses menjadi ada, kecenderungan watak sesuatu itu berbeda. Karena itu, mereka memunyai pendapat berbeda tentang Penyebab yang menyebabkan mereka ada. Dengan demikian, al- HҐDTT<DQJ0DKD%HQDUDGDODKSUREOHPSHUWDPD
yang menyebabkan perbedaan di alam ini.
Penegasan di atas menjelaskan bahwa secara ontologis Tuhan sendirilah yang menghendaki perbedaan dengan cara menciptakan segala sesuatu dalam karakter dan watak yang telah berbeda-beda sejak DZDO 'ƗUƗ 6\LNnjK VHRUDQJ
VX¿PDV\KXUGDUL,QGLDGDQSHQJDQXWSDKDP (wah̡GDK DOZXMnjG, juga menegaskan hal serupa. Sebagai pengikut ,EQ µ$UDEƯ LD PHQ\DWDNDQ EDKZD 7XKDQ
PHPDQLIHVWDVL GDODP NHVHOXUXKDQ \DQJ DGD
VHJDODVHVXDWXPHPDQFDUGDUL1\Deverything has emanated from Him.7XKDQDGDODK<DQJ
3HUWDPD VHNDOLJXV <DQJ 7HUDNKLU VHJDOD
sesuatu tidak akan eksis kecuali Dia.
%DJL,EQµ$UDEƯNHUDJDPDQEHUEDJDLKDO
termasuk perbedaan pendapat dan keyakinan bukan merupakan sumber malapetaka dan bahaya, sebab pada dasarnya semua perbedaan ini bersumber dari perbedaan
(WDMDOOƯ DO+̔aqq, penampakan diri Tuhan 0DKD%HQDU6HEDOLNQ\DLDPHQJDQJJDSKDO
ini sebagai satu di antara banyak tanda bahwa UDKPDW 7XKDQ PHQJDODKNDQ PXUND1\D
GDQ UDKPDW1\D MXJD PHPELPELQJ SDGD
NHEDKDJLDDQWHUWLQJJLGDULVHPXDFLSWDDQ1\D
,EQ µ$UDEƯ PHODQMXWNDQ ³.HWLND 7XKDQ
adalah akar dari segala keragaman keyakinan di alam ini, dan ketika Dia yang menyebabkan eksistensi segala sesuatu di alam sesuai ketentuan tanpa terasuki oleh apapun, maka
,EQ µ$UDEƯ DO)XWnjK̡ƗW DO0DNNL\\DK, ed.
0DKҝPnjG0DWѽUDMƯYROXPH %HLUXW'ƗUDO)LNU
YRO9,6HODQMXWQ\DGLVLQJNDW)XWnjK̡ƗW
0XKҝDPPDG 'ƗUƗ 6KLNnjK Majma-ul- Bahrain or The Mingling of The Two Oceans: Text and TranslationWHUM00DKIX]8O+DT1HZ'HOKL
$GDP3XEOLVKHU
VHJDODVHVXDWXDGDNDUHQDUDKPDW1\D´ 0HPELFDUDNDQ SHUEHGDDQ EDQ\DN KDO
GLDODPLQLGDODPVLVWHPSHPLNLUDQVX¿VWLN
Ibn µ$UDEƯ EHUDUWL PHVWL PHPELQFDQJ
konsep WDMDOOƯSHQDPSDNDQGLUL dalam arti pembahasan WDMDOOƯ yang menjadi sumber perbedaan banyak hal di semesta raya ini tak mungkin dihindari, keduanya terkait erat.
'DODP NHVHOXUXKDQ VLVWHP PLVWLN¿ORVR¿V
,EQµ$UDEƯNRQVHSWDMDOOƯ al-H̔aqq merupakan teori sentral berkaitan erat dengan doktrin wah̡GDK DOZXMnjG dan dengan wah̡dah DODG\ƗQ. Doktrin wah̡GDK DOZXMnjG dan hubungan ontologis antara al-H̔aqq dan al- Khalq tidak dapat dijelaskan tanpa merujuk NHSDGD NRQVHS LQL %DKNDQ WDMDOOƯ, seperti GLNDWDNDQ 7RVKLKLNR ,]XWVX DGDODK WLWLN
VXPEXSHPLNLUDQ,EQµ$UDEƯ.RQVHSWDMDOOƯ DGDODK GDVDU SDQGDQJDQ GXQLD ,EQ µ$UDEƯ
Seluruh pemikirannya tentang struktur ontologis dunia berputar sekitar poros ini dan dengan demikian berkembang menjadi suatu sistem kosmik berskala besar. Tidak satu bagian pun dari pandangan dunianya dapat dipahami tanpa merujuk kepada konsep VHQWUDO LQL .HVHOXUXKDQ IDOVDIDW ,EQ µ$UDEƯ
adalah teori WDMDOOƯ.
Dalam seluruh proses WDMDOOƯ di atas, te- rutama WDMDOOƯ V\DKƗGDK,10 seorang hamba
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWYRO9,
7DMDOOƯ ( ) biasanya diterjemahkan penulis- penulis modern ke dalam bahasa Inggris dengan self-disclosure (penyingkapan diri, pembukaan diri), self-revelation (pembukaan diri, penyataan diri), self-manifestation (penampakan diri) dan theophany SHQDPSDNDQ7XKDQNHGDODPEDKDVD3HUDQFLVGHQJDQ
devoilement (pembukaan), revelation (pembukaan), irradiation (pemancaran, penyinaran), theophanie (penampakan Tuhan), epiphanie divine (penampakan Tuhan) dan manifestation (penampakan.) Sinonim yang digunakan ,EQ µ$UDEƯ XQWXN WDMDOOƯ adalah fayd̟,
(emanasi, pemancaran, pelimpahan), z̢XKnjU , (pemunculan, penampakan, pelahiran), tanazzul , (penurunan, turun), dan fath̡, (pembukaan.) Kautsar
$]KDUL 1RHU ,EQ DOµ$UDEƯ :DK̡GDK DO:XMnjG GDODP
Perdebatan-DNDUWD3DUDPDGLQD
7RVKLKLNR ,]XWVX 6X¿VP DQG 7DRLVP $
Comparative Study of Key Philosophical Concepts (Los
$QJHOHV8QLYHUVLW\RI&DOLIRUQLD3UHVV
100HQXUXW ,EQ µ$UDEƯ $OODK PHPXQ\DL GXD
NHPXGLDQ PHUHVSRQ PDQLIHVWDVL1\D VHVXDL
dengan kapasitas pengetahuannya. Kapasitas SHQJHWDKXDQ LWX WHUJDQWXQJ NHSDGD µNHVLD- SDQ SDWLNXODU¶ DOLVWLµGƗG DOMX]ǯƯ) masing- masing individu sebagai bentuk penampakan µNHVLDSDQXQLYHUVDO¶DOLVWLµGƗGDONXOOƯ) atau µNHVLDSDQ D]DOL¶ DOLVWLµGƗG DOµD]DOƯ) yang WHODK DGD VHMDN D]DOL GDODP µHQWLWDVHQWLWDV
SHUPDQHQ¶ DODµ\ƗQ DOWVƗELWDK), yang me- rupakan bentuk penampakan diri (WDMDOOƯ) al- H̔aqq 7XKDQ PHQDPSDNNDQ GLUL1\D NHSDGD
KDPED1\DVHVXDLGHQJDQNHVLDSDQVDQJKDP- EDXQWXNPHQFDSDLSHQJHWDKXDQWHQWDQJ1\D
\DQJDNKLUQ\D'LDµGLSHUVHSVL¶DWDXµGLEDWDVL¶
sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
Tuhan memberikan kesiapan (DOLVWLµGƗG se- VXDLGHQJDQ¿UPDQ1\DGDODPVXUDW7ҍƗKƗ
11 Tuhan mengangkat selubung atau tirai (h̡LMƗE DQWDUD 'LD GDQ KDPED1\D ODOX VDQJ
KDPED PHOLKDW1\D GDODP EHQWXN NHSHUFD- yaannya.12 Jadi, Tuhan yang ia saksikan ada- lah Tuhan dalam kepercayaannya sendiri.
Dalam konteks pluralitas agama, SHQMHODVDQ,EQµ$UDEƯWHQWDQJVHOXNEHOXNWDMDOOƯ memunculkan pemahaman aksiomatik bahwa keragaman agama merupakan konsekuensi alamiah dari ketakterbatasan penampakan diri Tuhan. Seperti telah disinggung bahwa 7XKDQ <DQJ (VD DWDX (VHQVL <DQJ 6DWX
merupakan penyebab berbedanya keyakinan- keyakinan (PXµWDTDGƗW) yang beragam.
Tetapi dapat pula dikatakan bahwa keyakinan
tipe WDMDOOƯ: WDMDOOƯ ghayb ( ) dan WDMDOOƯ V\DKƗGDK ). Pada WDMDOOƯ ghayb, Tuhan masih memertahankan bahwa Dia adalah Esa dan Satu.
Dia masih gaib dan belum dapat dilihat oleh entitas apapun. Pada WDMDOOƯV\XKnjGƯ atau V\DKƗGDK, Dia dapat dipersepsi oleh alam secara nyata. Lih. ,EQ µ$UDEƯ
Fus̞njV̞ al-H̔ikam, HG$EnjDOµ$OƗµ$IƯIƯ%HLUXW'ƗUDO
.LWƗEDOµ$UDEƯYRO,µ$IƯIƯ³7DµOƯTƗW´
dalam ,EQµ$UDEƯFus̟njV̟,YRO,,.DXWVDU$]KDUL
1RHU,EQDOµ$UDEƯcf. 7RVKLKLNR,]XWVX6X¿VP
and Taoism,
11Ayat itu berbunyi, “Dia memberi setiap sesuatu bentuk kejadiannya.”
12 ,EQµ$UDEƯFus̞njV̞, vol. I, 121.
.DXWVDU $]KDUL 1RHU Tasawuf Perenial:
.HDULIDQ .ULWLV .DXP 6X¿ -DNDUWD 6HUDPEL
yang beragam itu pulalah yang mewajibkan Tuhan ber-WDMDOOƯ dalam bentuk beraneka.
Jadi ini seperti hubungan yang tiada akhir atau siklus tiada akhir antara WDMDOOƯ Tuhan dengan keyakinan yang dianut manusia.
Dari sisi makhluk, kemajemukan agama dan keyakinan merupakan tahapan simultan dari µNHVLDSDQ¶ DOLVWLµGƗG DWDX µGD\D WHULPD¶
(TDEnjO) tiap-tiap makhluk atau tiap dunia fenomenal untuk menjadi mah̡all (lokus, ZDGDKGDULSHQDPSDNDQ1\D Dengan kata lain, kemajemukan agama yang ada di dunia fenomenal merupakan konsekuensi langsung GDUL SHUEHGDDQ µNHVLDSDQ¶ DWDX NDSDVLWDV
makhluk untuk menerima WDMDOOƯ1\D -DGL
ketika Tuhan menampakkan diri, ukuran EDKZD VHVXDWX PHQHULPD SHQDPSDNDQ1\D
DNDQ GLWHQWXNDQ ROHK µNHVLDSDQQ\D¶ XQWXN
menampungnya.
,EQ µ$UDEƯ mengaitkan WDMDOOƯ dengan V\DULµDW SDUD QDEL GDQ UDVXO 7DMDOOƯ mesti beraneka yang penyebabnya adalah perbedaan V\DULµDW 6\DULµDW DGDODK VHEXDK MDODQ \DQJ
menyampaikan manusia kepada Tuhan. Dan NDUHQD V\DULµDW EHUEHGDEHGD PDND WDMDOOƯ- 1\D PHVWL EHUDJDP VHSHUWL EHUDJDPQ\D
SHPEHULDQ 7XKDQ %HQWXNEHQWXN V\DULµDW
yang beragam tak lain disebabkan perbedaan hubungan-hubungan ketuhanan (al-nisab al- LOƗKL\\DK) Satu umat memiliki hubungan ketuhanan yang berbeda dari umat yang lain NDUHQDV\DULµDWQ\DPHPDQJEHUEHGDVDWXVDPD
lain.-DGLEDJL,EQµ$UDEƯ proses WDMDOOƯ tak dapat dipisahkan dari respon manusia. Ada interaksi antara WDMDOOƯ GDQ UHVSRQ LQWHUDNVL
itu menghasilkan satu bentuk LµWLTƗG(aqidah) selalu berkesesuaian dengan WDMDOOƯ1\D
Karena itu bagi Syaykh (panggilan lain untuk ,EQµ$UDEƯ), seseorang yang meyakini Tuhan
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWYRO,
Kata kerja yaqbal dan mas̞dar-nya DOTDEnjO serta kata DOLVWLµGƗG dalam konteks WDMDOOƯ disebut Ibn µ$UDEƯ dalam banyak tempat pada )XWnjK̡ƗWdan Fus̞njV̞.
Pada )XWnjK̡ƗW misalnya disebut dalam YRO ,
YRO ,9 YRO 9 3DGD
Fus̞njV̞ misalnya disebut dalam vol. I, 120-1.
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWYRO,
itu berbentuk alam atau dalam bentuk lainnya sesuai dengan yang diyakininya, maka Tuhan ber-WDMDOOƯ sesuai dengan keyakinan orang tersebut. Dan karena masing-masing WDMDOOƯ Tuhan adalah satu dan tidak pernah berulang, maka dapat dikatakan masing-masing agama DGDODK VDWX GDQ EHUVLIDW HNVNOXVLI EHUEHGD
satu sama lain. Tetapi, perbedaan itu tidak bersifat mutlak, karena satu sama lain, secara esensial, juga memiliki hubungan, titik temu, bahkan kesatuan.
5HVSRQV PDQXVLD WHUKDGDS SHQDPSDNDQ
Diri Tuhan, seperti telah disinggung, akan sangat bergantung atau disesuaikan dengan NDSDVLWDV µNHVLDSDQ¶ DOLVWLµGƗG) atau µGD\D WHULPD¶ DOTDEnjO) Dengan kata lain, manusia merespon sesuai dengan kapasitas pengetahuan dan pengalamannya, yang kemudian melahirkan keyakinan (aqidah, LµWLTƗG) atau kepercayaan (ƯPƗQ) akan 7XKDQ'DODPNRQWHNVLQL,EQµ$UDEƯsering PHQJXWLS SHQGDSDW LPDP -XQD\G Z
VHRUDQJ JXUX VX¿ PDV\KXU GDUL %DJKGDG
yang memiliki metafora bahwa warna air tergantung akan warna wadah atau bejananya.
0HQXUXW 6\DIDµDWXQ NHFLQWDDQ ,EQ µ$UDEƯ
terhadap metafora air ini tidak menunjukkan bahwa ia memandang semua agama memiliki makna yang sama. Interpretasi Shaykh terhadap metafora air yang dibuat oleh Junayd adalah sebuah penegasan bahwa jika air merepresentasikan wujud Tuhan, maka keaneragaman agama direpresentasikan oleh warna atau warna-warna bejananya.
Karena itu, warna atau warna-warna secara ODQJVXQJEHUNDLWDQGHQJDQµNHVLDSDQ¶DJDPD
tertentu untuk menerima manifestasi tertentu dari al-H̔aqq. Pada gilirannya, akan terlihat ada beberapa agama yang mungkin bersifat monokromatik atau memiliki warna sangat
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWvol. VI, 212.
6\DIDµDWXQ $OPLU]DQDK Paths to Dialogue:
Learning from Great Masters (Herndon: USA: IIIT,
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWYRO,
,EQµ$UDEƯFus̞njV̞,YRO,,EQµ$UDEƯ
)XWnjK̡ƗWYRO,
terbatas atau bahkan kabur. Ada agama- agama lain mungkin memiliki warna-warna yang lebih jelas, tetapi semuanya memunyai NXDOLWDV \DQJ VDPD<DQJ ODLQ ODJL PXQJNLQ
memunyai warna-warna, tetapi dengan nada atau kualitas berbeda-beda, dan begitu seterusnya.20 ,QWHUSUHWDVL 6\DIDµDWXQ LQL
kiranya didasarkan pula pada pernyataan lain ,EQ µ$UDEƯ bahwa Dia yang menampakkan GLUL1\D GDODP DUWL 'LD GDODP GLUL1\D
sendiri adalah Esa dalam entitas, tetapi yang menampakkan diri, maksudnya adalah bentuk-bentuknya (misalnya keragaman agama) adalah beragam tergantung kepada kesiapan wadah untuk menerima WDMDOOƯ1\D
tersebut.21
0DND NHWLND 7XKDQ PHQXUXQNDQ ZDK\X
sebagai salah satu bentuk wujud WDMDOOƯ- 1\D QLVFD\D WHUMDGL DGDODK NHUDJDPDQ
bentuk-bentuk wahyu (parsial) itu sesuai dengan kemajemukan konteks tempat wahyu LWX WXUXQ 'DODP NRQWHNV LQL ,EQ µ$UDEƯ
menjelaskan persepsi tradisionalnya bahwa V\DULµDW \DQJ VDPSDL NHSDGD QDEL WHUNDLW
dengan unsur waktu dan tempat karena itu perbedaan menjadi tak terelakkan. Hal itu wajar karena agama turun bukan di UXDQJ \DQJ KDPSD VHMDUDK 6\DULµDW DJDPD
biasanya hadir sebagai respons terhadap VLWXDVL GDQ NRQGLVL ]DPDQ +Ґassan HҐDQDIƯ
VHRUDQJ LQWHOHNWXDO 0XVOLP NHQDPDDQ GDUL
0HVLU PHQ\DWDNDQ EDKZD ZDK\X EXNDQODK
sesuatu yang berada di luar konteks yang kokoh tak berubah, melainkan berada dalam konteks yang mengalami perubahan demi perubahan.22 Karena itu, keragaman ras, bangsa, suku bahkan perbedaan ruang dan waktu meniscayakan adanya perbedaan V\DULµDW 6HMDXK PHQ\DQJNXW DWXUDQDWXUDQ
rinci, tak mungkin ada ajaran tunggal dan
206\DIDµDWXQ $OPLU]DQDK Paths to Dialogue:
Learning from Great Masters,
21 ,EQ µ$UDEƯ )XWnjK̡ƗW YRO , 6\DIDµDWXQ
Paths to Dialogue: Learning from Great Masters,
22 HҐassan HҐDQDIƯ 'LUƗVƗW ,VOƗPL\\DK (Kairo:
0DNWDEDKDO$QMDOXDO0LVҚUL\\DKWWK
universal yang bisa dipakai di setiap masa, situasi, dan kondisi.
Satu Tuhan Banyak Nama
Dalam perspektif falsafat perenial, manusia, dalam sejarahnya, menyebut 7XKDQ <DQJ (VD GDQ 0XWODN LWX GHQJDQ
berbagai nama dan istilah, namun secara substansial, beragam nama itu menunjuk NHSDGD=DW\DQJVDPD7XKDQVHEDJDLZXMXG
$EVROXW VHNDOLJXV 'LD <DQJ 'LNHQDO LQLODK
yang dijadikan obyek pujaan karena fungsi GDQ SRVLVL1\D \DQJ GL\DNLQL ROHK PDQXVLD
sebagai pencipta dan penguasa jagad semesta ini. Dari sisi WDQ]ƯK, Tuhan diyakini sebagai yang teramat jauh, bahkan tidak terjangkau (transcendent), namun pada level WDV\EƯK, Dia juga sekaligus berada bersama manusia, di sini, bahkan di dalam diri manusia (immanent .DUHQD <DQJ 6DWX GDQ $EVROXW
itu tidak mungkin ditaklukkan oleh kapasitas nalar manusia yang amat terbatas, maka Dia GLWDQJNDS NHKDGLUDQ1\D SHQDPSDNDQ1\D melalui simbol-simbol atau nama-nama yang kemudian disakralkan sehingga di mata manusia lalu muncul bentuk tuhan-tuhan yang plural.
Dalam teologi klasik Islam terjadi perdebatan di antara ahli-ahlinya, apakah µ1DPD¶ name, Arab: ism) identik dengan µ\DQJ GLEHUL QDPD¶ object named, al- PXVDPPƗ %DJL ,EQ µ$UDEƯ QDPD dan yang diberi nama adalah sama pada satu sisi, namun sekaligus juga berbeda pada VLVL ODLQ ,EQ µ$UDEƯ berargumen mengapa 1DPD GDQ \DQJ GLEHUL QDPD DGDODK VDWX
dan sama, adalah karena nama-nama Tuhan
\DQJ VHODOX PHUXMXN NHSDGD <DQJ $EVROXW
sesungguhnya tak lain adalah objek yang GLEHULQDPD\DNQL(VHQVLDWDX=DWGDUL<DQJ
$EG 0RTVLWK *KD]DOL $UJXPHQ Pluralisme
$JDPD, 0HPEDQJXQ 7ROHUDQVL %HUEDVLV $O4XUǯDQ 'HSRN.DWD.LWD
.RPDUXGGLQ +LGD\DW GDQ 0XKDPPDG
:DK\XQL 1D¿V $JDPD 0DVD 'HSDQ 3HUVSHNWLI
Filsafat Perennial-DNDUWD*UDPHGLD
Absolut itu sendiri. Setiap nama adalah aspek DWDXEHQWXNNKXVXVGDUL<DQJ$EVROXWGDODP
PDQLIHVWDVL1\D'DODPSHQJHUWLDQLQLVHWLDS
QDPD VHVXQJJXKQ\D LGHQWLN GHQJDQ <DQJ
(VHQVL ]DW 6HPXD QDPD 7XKDQ DGDODK
realitas-realitas dari hakikat hubungan- hubungan (antara Tuhan dan alam.) Dalam konteks ini, semua nama adalah keseluruhan Esensi Tuhan itu sendiri jika dilihat dari sudut berbagai hubungan khusus yang ditimbulkan dari fenomena penampakan diri Tuhan.
+XEXQJDQKXEXQJDQ <DQJ $EVROXW
dengan alam sesungguhnya tidak terbatas, NDUHQD LWX GDODP WHUPLQRORJL ,EQ µ$UDEƯ
bentuk-bentuk yang menunjukkan penampa- kan diri Tuhan juga tidak terbatas jumlahnya.
0DNDQDPDQDPD7XKDQMXJDVHVXQJJXKQ\D
tidak terbatas, meskipun nama-nama itu dapat GLNODVL¿NDVLNDQ GDQ GLUHGXNVL SDGD MXPODK
nama-nama pokok dan mendasar, misalnya DO4XU¶ƗQ PHQ\HEXWNDQ QDPD 7XKDQ
yang kemudian dikenal dengan DO$VPƗ¶ DO
H̔XVQƗ.
1DPDQDPD LWX DSDNDK WHUEDWDV DWDX
tidak jumlahnya, dapat dianggap berdiri sendiri dan selalu merujuk kepada esensinya masing-masing. Dengan kata lain, nama- nama itu dapat dianggap sebagai nama-nama yang berdiri sendiri-sendiri (independen satu VDPDODLQ\DQJPHPLOLNL5HDOLWDVh̡DTƯTDK) masing-masing dan berbeda satu sama lain.
Dalam hal inilah, nama adalah berbeda dari obyek yang diberi nama. ,EQ µ$UDEƯ
menjelaskan poin penting ini dengan merujuk NHSDGD VHRUDQJ WRNRK VX¿ GDUL $QGDOXVLD
4ƗVLP,EQ4DVƯ
7RVKLKLNR ,]XWVX 6X¿VP DQG 7DRLVP $
Comparative Study of Key Philosophical Concepts
7RVKLKLNR ,]XWVX 6X¿VP DQG 7DRLVP $
Comparative Study of Key Philosophical Concepts
7RVKLKLNR ,]XWVX 6X¿VP DQG 7DRLVP $
Comparative Study of Key Philosophical Concepts, 100.
,QLODK\DQJGLPDNVXGROHK$EnjDO4ƗVLP,EQ4DVƯ
NHWLND LD PHQJDWDNDQ GDODP NDU\DQ\D .KDOµ DO
1DµOD\Q 0HOHSDVNDQ 'XD 6DQGDO EDKZD VHWLDS
nama Tuhan mengandung dalam dirinya semua QDPD 7XKDQ GDQ VHPXD VLIDWVLIDW1\D <DQJ
demikian itu karena setiap nama menunjuk kepada GXDKDO\DNQL(VHQVL=DWGDULQDPDLWXGDQDUWL
khusus yang dituntutnya. Dari segi penunjukan QDPDLWXNHSDGD]DWPDNDWHUNDQGXQJGLGDODPQ\D
VHPXDQDPDQDPD1DPXQGDULVHJLDUWLQ\D\DQJ
berdiri sendiri (unik), ia berbeda dari semua nama ODLQ VHSHUWL QDPD DO5DEE 3HQFLSWD 3HPEXDW
EHQWXN GDQ ODLQODLQ 0DND QDPD DGDODK VDPD
GHQJDQ RE\HN \DQJ GLQDPDL GDUL VHJL ]DW WHWDSL
ia berbeda dari obyek yang dinamai dari segi arti khusus yang dikandungnya.
'DULSHUQ\DWDDQ,EQµ$UDEƯLQLsetidaknya ada dua pengertian yang dapat dipahami.
Pertama, setiap nama adalah satu dan sama dengan nama-nama lain sejauh nama-nama LWX PHUXMXN NHSDGD (VHQVL ]DW \DQJ VDPD
meskipun nama-nama itu menampakkan NRQWUDGLNVL VHSHUWL µ<DQJ 0DKD 3HPDDI¶
GDQ µ<DQJ 0DKD 3HQGHQGDP¶ µal-Z̚ƗKLU¶ ( )GDQµDO%ƗW̜in¶( )µDO$ZZDO¶GDQ
µDOƖNKLU¶ 0HUHND VHPXD LQL DGDODK
identik satu sama lain. Kedua, sebaliknya, setiap nama adalah independen, berdiri sendiri, memiliki realitas masing-masing
\DQJ EHUEHGD VDWX VDPD ODLQ 0LVDOQ\D al- Z̚ƗKLU berbeda dari DO%ƗW̜in, DO$ZZDO juga berbeda dari DOƖNKLU. Pengertian pertama menunjukkan bahwa nama-nama mengandung
,EQµ$UDEƯFus̞njV̞,YRO,cf. Toshihiko ,]XWVX6X¿VPDQG7DRLVP100.
kesatuan (ah̡adiyyah), sedangkan pengertian kedua menunjukkan bahwa nama-nama itu mengandung keanekaan (katsrah.) Dengan kata lain, nama-nama Tuhan mengandung keesaan dan keanekaan sekaligus.
%DJL,EQµ$UDEƯkeesaan Tuhan dari segi ]DW1\D EHEDV GDQ EHUVLK GDUL al-katsrah, QDPXQ VHNDOLJXV MXJD NHHVDDQ1\D GDUL VHJL
QDPDQDPD1\D PHQJDQGXQJ al-katsrah.
,EQ µ$UDEƯ PHQ\HEXW ³7XKDQ SDGD GLUL1\D
VHQGLUL KDQ\D PHPLOLNL NHHVDDQ <DQJ (VD
(ah̡adiyyah al-ah̡ad ), namun GDULVHJLQDPDQDPD1\D,DPHPLOLNLNHHVDDQ
keanekaan (ah̡adiyyah al-katsrah
.
) Dengankata lain, keesaan Allah dari segi nama-nama ilahiah yang membutuhkan makhluk adalah keesaan keanekaan, dan keesaan Allah dari segi ketidakbutuhan kepada makhluk dan nama-nama adalah keesaan entitas. Keduanya GLVHEXWGHQJDQ1DPD<DQJ(VD
)ULWKMRI6FKXRQDKOLPHWD¿VLNDSHQJLNXW
,EQ µ$UDEƯ NHWLND berbicara mengenai
<DQJ 6DWX GDQ \DQJ EDQ\DN PHQMHODVNDQ
bahwa pernyataan (OƗ LOƗKD LOOƗ
$OODK: tiada tuhan kecuali Allah), berarti yang ada (hakiki) hanya Tuhan. Sebagai konsekuensinya, segala sesuatu adalah Tuhan, namun kita sebagai ciptaan melihat keragaman (multiple) di dunia ini padahal
\DQJ DGD KDQ\DODK 6DWX6DWXQ\D 5HDOLWDV
Pluralitas atau keragaman tidak bertentangan dengan Kesatuan (Unity), melainkan berada
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWYRO9,
,EQ µ$UDEƯ ,VWLODKLVWLODK LQL
disebut ,EQ µ$UDEƯ VHFDUD WHUSLVDKSLVDK GDODP al- )XWnjK̡ƗW .HHVDDQ 7XKDQ GDUL VHJL ]DW1\D \DQJ
tidak membutuhkan alam dan nama-nama, disebut µNHHVDDQ HQWLWDV¶ ah̡adiyyah al-‘ayn µNHHVDDQ ]DW¶
(ah̡DGL\\DK DOG]ƗW µNHHVDDQ <DQJ (VD¶ ah̡adiyyah al-ah̡ad GDQ µSHUSDGXDQ GDUL SHUSDGXDQ¶ jam‘
al-jam‘.) Adapun keesaan Tuhan dari segi nama- QDPD1\D \DQJ PHQJDQGXQJ NHDQHNDDQ GLQDPDNDQ
µNHHVDDQ NHDQHNDDQ¶ ah̡adiyyah al-katsrah µNHHVDDQ
SHUEHGDDQ¶ah̡DGL\\DKDOWDP\Ư]µNHHVDDQSHUSDGXDQ¶
(ah̡adiyyah al-jam‘µNHHVDDQQDPDQDPD¶ah̡adiyyah DODVPƗ¶ µNHHVDDQ¶ DOZƗK̡idiyyah GDQ µVWDVLXQ
SHUSDGXDQ¶PDTƗPDOMDPµ/LK.DXWVDU$]KDUL1RHU
,EQDOµ$UDEƯ
GL GDODP1\D GDQ WLGDN PHQGDPSLQJL1\D
DWDXEHUGDPSLQJDQGHQJDQ1\Dit is within it and not alongside it.)
%DJL 6FKXRQ NHUDJDPDQ VHEDJDL µ\DQJ
EDQ\DN¶DGDODKDVSHNOXDUoutward aspect) alam ini, yang keberadaannya amat penting demi melihat fenomena menurut realitas terdalam (inward reality) dari keragaman itu, yang menyebabkan lahirnya bermacam- macam jenis dan bentuk yang berbeda VHEDJDL PDQLIHVWDVL GDUL <DQJ 6DWX the One.) Dengan kata lain, tanpa keragaman DWDX µ\DQJ EDQ\DN¶ UHDOLWDV WHUGDODP GDUL
<DQJ 6DWX DWDX KDNLNDW NHWXKDQDQ WDN DNDQ
diketahui oleh ciptaan (makhluk.)
.RQVHS,EQµ$UDEƯWHQWDQJ<DQJ6DWXal- ZƗK̡id, the One) dan yang banyak (DONDWVƯU
the Many) ini sesungguhnya identik dengan SDQGDQJDQ VX¿VWLNQ\D WHQWDQJ WDMDOOƯ <DQJ
Satu itu ber-WDMDOOƯ menjadi banyak, bahkan WDMDOOƯ1\D WDN WHUEDWDV WDN GDSDW GLKLWXQJ
oleh akal, batasan dan hitungan manusia.
%DJL,EQµ$UDEƯWDMDOOƯ-1\D\DQJEDQ\DNGL
dunia fenomenal sesungguhnya tetap berada GDODP VDWX (VHQVL %HJLWX SXOD QDPDQDPD
Tuhan yang banyak sesungguhnya pasti NHPEDOL NHSDGD (VHQVL <DQJ 6DWX Dalam konteks ini, dapatlah dikatakan bahwa setiap umat beragama yang beragam memiliki QDPDQDPD NKXVXV NHWLND PHQ\HEXW1\D
DWDXPHQ\HUX1\D1DPDQDPD\DQJGLNHQDO
umat manusia semisal God, Lord <DKZHK
7XKDQ%DSD$OODK*XVWL6DQJ+\DQJ:LGL
:DVD 7KLDQ %UDKPDQ Tao dan lain-lain, MLND PHQJLNXWL VLVWHP RQWRORJLV ,EQ µ$UDEƯ
)ULWKMRI6FKXRQ³7KH4XLQWHVVHQWLDO(VRWHULVP
of ,VODP´GDODP-HDQ/RXLV0LFKRQDQG5RJHU*DHWDQL
ed., 6X¿VP /RYH DQG :LVGRP %ORRPLQJWRQ :RUOG
:LVGRP,QF
)ULWKMRI 6FKXRQ ³7KH 4XLQWHVVHQWLDO
Esoterism of ,VODP´
,EQµ$UDEƯFus̞njV̞,YRO,
Dalam tradisi Hindu, tepatnya seperti di MHODVNDQ GDODP 5LJ 9HGD DGD XQJNDSDQ ³7XKDQ
<DQJ 0DKD %HQDU DGDODK (VD RUDQJRUDQJ ELMDN
PHQ\HEXW1\DGHQJDQEDQ\DNQDPD´/LK'LDQD/(FN
(QFRXQWHULQJ*RG$6SLULWXDO-RXUQH\IURP%R]HPDQ
to Banaras%RVWRQ%HDFRQ3UHVV
maka nama-nama tersebut adalah satu dan VDPD VHMDXK PHUXMXN NHSDGD (VHQVL1\D
DWDX ]DW1\D Dari segi penunjukan Esensi ini, nama-nama itu mengandung keesaan (ah̡adiyyah. 1DPXQ VHMDXK QDPDQDPD
itu menunjukkan pengertian, kualitas atau realitas masing-masing, maka nama-nama itu adalah banyak dan beraneka. Dari segi penunjukan makna dan kualitas yang berbeda-beda ini, nama-nama mengandung keanekaan (katsrah.)
Jalan-Jalan Menuju Tuhan
Dalam tradisi agama-agama dunia, agama biasa dimaknai sebagai jalan: jalan menuju Tuhan. Karena itu pluralitas agama berarti kenyataan yang menegaskan ada banyak MDODQPHQXMX7XKDQ$O4XU¶ƗQVHQGLULVHULQJ
menyebut istilah
(
syir‘ah), (VDEƯO atau1DPXQSHQWLQJMXJDGLSHUKDWLNDQEDKZDEDJL
,EQ µ$UDEƯ VHQGLUL VHEDJDL DOLP 0XVOLP NDWD $OODK adalah nama yang paling besar dan mencakup (semua nama.) Karena itu Dia memiliki arti-arti semua nama ilahi. $OODK adalah kumpulan realitas-realitas dari nama-nama ilahi keseluruhannya. $OODK adalah yang mencakup nama-nama yang saling berlawanan dan yang tidak saling berlawanan sekaligus. $OODK adalah QDPD\DQJPHQXQMXNNDQ7XKDQEDLNGDULVHJL]DW1\D
PDXSXQ GDUL VHJL QDPDQDPD1\D VHNDOLJXV /LK Ibn µ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWYRO9,YRO9,,/LK
MXJD6XµƗGDO+ҐDNƯPal-Mu‘jam al-S̞njIƯDO+̔LNPDKIƯ
al-H̔XGnjG DO.DOLPDK %HLUXW 'DQGDUDK
.DXWVDU$]KDUL1RHU,EQDOµ$UDEƯ
6HSHUWLGLVHEXWGDODP4VDO0Ɨ¶LGDK
³Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan jalan dan metode (aturan hidup.) Sekiranya
$OODKPHQJKHQGDNLQLVFD\DNDPXGLMDGLNDQVDWXXPDW
VDMD WHWDSL $OODK KHQGDN PHQJXML NDPX WHUKDGDS
pemberianNya kepadamu, maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Hanya kepada
$OODKODK NDPX NHPEDOL ODOX GLEHULWDKXNDQ NHSDGDPX
apa yang telah kamu perselisihkan itu´
0LVDOQ\DGLVHEXWGDODP4VƖOXµ,PUƗQ
“Dan di antara ahli kitab ada orang yang jika kamu memercayakan kepadanya harta yang banyak, GLNHPEDOLNDQQ\D NHSDGDPX GDQ GL DQWDUD PHUHND
ada orang yang jika kamu memercayakan kepada mereka satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan, “Tidak ada dosa EDJLNDPLVDEƯOPHQMDGLMDODQWHUKDGDSRUDQJRUDQJ
XPPƯ´'DQPHUHNDVHEHQDUQ\DEHUNDWDGXVWDWHUKDGDS
$OODKSDGDKDOPHUHNDPHQJHWDKXL´
DWDXGDODPDO$QµƗP
“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat DO4XU¶ƗQVXSD\DMHODVVDEƯOMDODQRUDQJRUDQJ\DQJ
VDOHKGDQVXSD\DMHODVSXODVDEƯOMDODQRUDQJRUDQJ
yang berdosa.”
DWDXGDODPDO%DTDUDK
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap RUDQJRUDQJ \DQJ JXJXU GL MDODQ $OODK VDEƯOLOOƗK bahwa mereka itu mati, bahkan sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”
DWDXGDODPDO%DTDUDK
³'DQ SHUDQJLODK GL MDODQ $OODK VDEƯOLOOƗK orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah NDPX PHODPSDXL EDWDV NDUHQD VHVXQJJXKQ\D $OODK
tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
DWDXGDODPDO%DTDUDK
“Dan belanjakanlah harta bendamu di jalan
$OODK VDEƯOLOOƗK GDQ MDQJDQODK NDPX PHQMDWXKNDQ
dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat EDLNODK NDUHQD VHVXQJJXKQ\D$OODK PHQ\XNDL RUDQJ
orang yang berbuat baik.”
DWDXGDODPDO%DTDUDK
“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan H̔DUƗP.DWDNDQODK³%HUSHUDQJ
GDODPEXODQLWXDGDODKGRVDEHVDUWHWDSLPHQJKDODQJL
PDQXVLD GDUL MDODQ $OODK VDEƯOLOOƗK ND¿U NHSDGD
$OODK PHQJKDODQJL PDVXN 0DVMLG DO+̔DUƗP GDQ
mengusir penduduknya dari sekitarnya adalah lebih EHVDU GRVDQ\D GL VLVL $OODK´ 'DQ EHUEXDW ¿WQDK
lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-henti memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada NHND¿UDQ VHDQGDLQ\D PHUHND VDQJJXS %DUDQJVLDSD
murtad di antara kamu dari agamanya, lalu Dia PDWL GDODP NHND¿UDQ PDND PHUHND LWXODK RUDQJ VLD
sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang- RUDQJ \DQJ EHUKLMUDK GDQ EHUMLKDG GL MDODQ $OODK
PHUHND LWX PHQJKDUDSNDQ UDKPDW $OODK GDQ $OODK
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Kata ini dengan berbagai variasinya disebut DO4XU¶ƗQ VHNLWDU NDOL /LK )D\Gқ Allah al-HҐDVDQƯ
DO0DTGLVƯ, Fath̡ al-Rah̡PƗQOL7̑ƗOLEDOƖ\ƗWDO4XU¶ƗQ %HLUXW'ƗUDO)LNU
(subul), (t̜DUƯTDK39 (mansak)40 dan (s̞LUƗW̜)41
0LVDOQ\DGLVHEXWGDODP4VDO0Ɨ¶LGDK
³'HQJDQNLWDELWXODK$OODKPHQXQMXNLRUDQJ
orang yang mengikuti keridaanNya ke jalan-jalan VXEXONHVHODPDWDQGDQGHQJDQNLWDELWXSXOD$OODK
mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizinNya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”
DWDXGDODPDO$QµƗP
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (subul) yang lain, karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari MDODQ1\D VDEƯOLKL \DQJ GHPLNLDQ LWX GLSHULQWDKNDQ
$OODK´
atau dalam TҍƗKƗ
“Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan (subul), dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam- macam.”
6HSHUWLGLVHEXWGDODP4VDO-LQQ
“Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan Lurus di atas jalan (t̜DUƯTDKLWXEHQDUEHQDU
Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar.”
0LVDOQ\DGLVHEXWGDODP4VDO+ҐDMM
“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami ciptakan mansak (cara) penyembelihan kurban, supaya mereka PHQ\HEXW QDPD $OODK WHUKDGDS ELQDWDQJ WHUQDN \DQJ
WHODKGLUL]NLNDQ$OODKNHSDGDPHUHND0DND7XKDQPX
ialah Tuhan Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepadaNya, dan berilah kabar gembira kepada RUDQJRUDQJ\DQJWXQGXNSDWXKNHSDGD$OODK´
DWDXGDODP4VDO+ҐDMM
“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan mansak (cara, jalan) tertentu yang mereka lakukan.
Maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari‘ah) ini dan serulah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.”
DWDXGDODPDO%DTDUDK
$SDELOD NDPX WHODK PHQ\HOHVDLNDQ LEDGDK
KDMLPX PDND EHUG]LNLUODK GHQJDQ PHQ\HEXW $OODK
sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga- banggakan) nenek moyangmu, atau bahkan berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,” dan Tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.”
0LVDOQ\DGDODP4VDO)ƗWLKҝDK
'HQJDQPHQ\HEXWQDPD$OODK0DKD3HPXUDK
lagi Maha Penyayang
6HJDODSXMLEDJL$OODK7XKDQVHPHVWDDODP Maha Pemurah lagi Maha Penyayang yang menguasai di Hari Pembalasan
dalam konteks jalan-jalan yang ditempuh manusia menuju Tuhan. Kata atau istilah LQL PHQJLPSOLNDVLNDQ EDKZD µMDODQ GDODP
EHUDJDPD¶ WLGDN KDQ\D VDWX WHWDSL EHUDJDP
Jalan menuju Tuhan memang hanya satu, yaitu jalan lurus (al-s̞LUƗW̜DOPXVWDTƯP), tetapi jalurnya banyak. Karena itu, ada banyak jalan menuju Tuhan.1DPXQGHPLNLDQSHUQ\DWDDQ
DO4XU¶ƗQ WHQWDQJ MDODQ ELDVDQ\D GLEDUHQJL
dengan penegasan tentang jalan yang lurus dan jalan yang diberi nikmat, yakni jalan- jalan yang mesti ditempuh kaum beriman, dan sebaliknya, yakni jalan yang dimurkai, jalan yang sesat dan jalan-jalan lain yang mesti dihindari kaum yang mendambakan kebahagiaan hakiki.
.DXP VX¿ MXJD PHQJDNXL DGD EDQ\DN
MDODQ PHQXMX 7XKDQ $Enj 6DµƯG E $Enj DO
Hanya Engkaulah Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan
Tunjukilah Kami jalan lurus (yaitu)
Jalan orang-orang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai dan
bukan pula jalan mereka yang sesat
DWDXGDODPƖOXµ,PUƗQ
³6HVXQJJXKQ\D$OODK7XKDQNXGDQ7XKDQPX
karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan lurus.”
DWDXGDODP<Ɨ6ƯQ
“Dan hendaklah kamu menyembahKu. Inilah jalan lurus.”
DWDXGDODPDO%DTDUDK
“Orang-orang yang kurang akal di antara PDQXVLD DNDQ EHUNDWD ³$SDNDK \DQJ PHPDOLQJNDQ
mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Bayt al-Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?”
.DWDNDQODK³.HSXQ\DDQ$OODKODKWLPXUGDQEDUDW'LD
memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya ke jalan lurus.”
Kata ini dengan berbagai variasinya disebut DO4XU¶ƗQ VHNLWDU NDOL /LK )D\Gқ DO0DTGLVƯ, Fath̡
al-Rah̡PƗQ
0HQXUXW 1DVU VHWLDS DJDPD \DQJ LQWHJUDO
harus menawarkan kepada pengikutnya tidak hanya petunjuk yang benar untuk hidup di dunia ini serta harapan tentang visi yang penuh kebahagiaan tentang alam berikutnya, melainkan juga sarana (jalan) untuk mencapai visi tersebut yang harus dijalani dalam NHKLGXSDQ LQL 6H\\HG +RVVHLQ 1DVU The Garden of Truth: Mereguk Sari Tasawuf WHUM <XOLDQL /LSXWR
%DQGXQJ 0L]DQ 'DODP NHQ\DWDDQ
historis seluruh agama memang telah menawarkan atau membentangkan bentuk-bentuk jalan (doktrin dan ritus) untuk mencapai Tuhan dan kebahagiaan abadi.
.KD\U VHRUDQJ JXUX VX¿ DJXQJ
GDUL .KXUƗVƗQ ,UDQ SHUQDK EHUGHQGDQJ
³$GDVHULEXMDODQPHQXUXWFDWDWDQODLQMDODQ
itu sebanyak partikel yang ada di dunia ini, namun jalan yang terpendek, terbaik dan termudah menuju Tuhan adalah memberi NHQ\DPDQDQ NHSDGD RUDQJ ODLQ´ %DJL
$Enj 6DµƯG LEDGDK VRVLDO PHUXSDNDQ MDODQ
yang terindah menuju Tuhan. Dalam irama VHUXSD ,EQ µ$UDEƯ MXJD menyebut bahwa jalan-jalan (t̜uruq) menuju Tuhan jumlahnya sebanyak nafas-nafas yang melekat pada VHOXUXK PDNKOXN VHWLDS KHPEXVDQ QDIDV
yang bermakna setiap jalan, sesungguhnya keluar dari hati. Hati, dalam konteks jalan ini, adalah wadah bagi keyakinan (LµWLTƗG) terhadap Tuhan. Seluruh keyakinan manusia EHUVHPD\DPGLKDWLLQL%DJL,EQµ$UDEƯMLND
seseorang menjadikan waktu (dahr) sebagai sesembahannya atau aqidahnya (maksudnya kaum materialis), maka ia akan sampai kepada Tuhan dari penampakan (WDMDOOƯ) QDPD1\Dal-dahr.
-DGLSDGDVLVLLQL,EQµ$UDEƯPHQJDLWNDQ
pandangannya tentang jalan (menuju Tuhan) GHQJDQJDJDVDQVX¿VWLNQ\DPHQJHQDLWDMDOOƯ
DVPƗ¶ .DUHQD LWX ODQMXW ,EQ µ$UDEƯ MLND
seseorang meyakini paham naturalisme sebagai tuhannya, maka Tuhan menampakkan GLUL1\D NHSDGD \DQJ EHUVDQJNXWDQ GDODP
bentuk alam. Demikianlah, Tuhan akan ber-WDMDOOƯ kepada setiap apa yang menjadi keyakinan/aqidah makhluk. Aqidah dalam hubungannya sebagai jalan (manusia) menuju Tuhan. Dari penjelasan Shaykh, kita memahami ada interaksi antara WDMDOOƯ dan respon manusia. Interaksi itu menghasilkan suatu bentuk keyakinan (aqidah) yang selalu berkesesuaian dengan WDMDOOƯ1\D
1DPXQ SDGD VLVL ODLQ SDQGDQJDQ
-DYDG1XUEDNKVK³7KH.H\)HDWXUHVRI6X¿VP
LQWKH(DUO\,VODPLF3HULRG´GDODP/HRQDUG/HZLVRKQ
(ed.), 7KH+HULWDJHRI6X¿VP&ODVVLFDO3HUVLDQ6X¿VP
from its Origin to Rumi (700-1300) 2[IRUG2QHZRUOG
[[YL
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗW vol. VI, 212.
,EQ µ$UDEƯ WHQWDQJ MDODQ sesungguhnya berhubungan erat dengan gagasan teologisnya mengenai perintah WDNZƯQƯ dan WDNOƯIƯ serta NODLPLGHQWLWDVQ\DVHEDJDLµ0XVOLPIRUPDO¶
yang menyatakan hanya jalan (V\DUƯµDK) Islamlah yang dapat mengantarkan seorang hamba kepada Tuhan dengan mudah, ringan dan penuh cahaya serta kebahagiaan. Surat DO)ƗWLKҝDK PLVDOQ\D²\DQJ PHPEDKDV
tentang jalan, yakni (1) jalan lurus (al-s̞LUƗW̜
DOPXVWDTƯP), yaitu jalan orang-orang diberi nikmat, (2) jalan mereka yang dimurkai, GDQMDODQPHUHND\DQJVHVDW²GDULVXGXW
perintah WDNZƯQƯ, semua jalan adalah lurus GDQ EDLN NDUHQD VHPXD DGDODK FLSWDDQ1\D
EHUDVDO GDUL1\D 'DUL VXGXW SHULQWDK LQL
tak ada jalan tak lurus dan tak ada jalan tak mengantarkan makhluk kepada Tuhan.
1DPXQ GDUL VXGXW SHULQWDK WDNOƯIƯ , hanya jalan yang disebut pertama saja (yakni al-s̞LUƗW̜
DOPXVWDTƯP) yang benar-benar merupakan jalan lurus.
6HODQMXWQ\D PHQXUXW ,EQ µ$UDEƯ MDODQ
jalan menuju Tuhan terdiri dari lima jalan.
Pertama jalan Allah (s̞LUƗWҘ $OODK), yakni jalan umum yang terkandung di dalamnya segala jalan yang menyampaikan NHSDGD 7XKDQ EDLN EHUXSD V\DULµDW ,ODKL
PDXSXQKDVLONRQVWUXNVLSHPLNLUDQUDVLRQDO
semuanya akan sampai kepada Tuhan.
1DPXQ GHQJDQ VHEDE MDODQ LQL DGD \DQJ
mendapat kenikmatan dan ada pula yang mendapat kesengsaraan. Inilah jalan umum sebagaimana yang dikatakan oleh para kekasih Allah bahwa jalan menuju Tuhan amat banyak sebanyak nafas makhluk. Jalan- jalan ini berhubungan erat dengan segala macam penampakan (WDMDOOL\\ƗW) nama dan sifat Tuhan seperti yang telah dijelaskan. Di jalan umum ini, jika sang hamba mengikuti perintah Tuhan, ia akan selamat dan bahagia.
Sebaliknya, jika ia enggan mengikuti semua
William. C. Chittick, The 6X¿ 3DWK RI
.QRZOHGJH,EQDOµ$UDEƯ¶V0HWDSK\VLFVRI,PDJLQDWLRQ $OEDQ\6WDWH8QLYHUVLW\RI1HZ<RUN,
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗW vol. VI, 210.
SHULQWDKGDQODUDQJDQ1\DLDDNDQGLVLNVDGL
dalam neraka. Dengan kata lain, di jalan yang umum ini berlaku perintah WDNOƯIƯ 0DQXVLD
memiliki kebebasan untuk memilih dan menentukan jalan hidupnya: apakah ia akan KLGXS GHQJDQ PHQJLNXWL SHULQWDK V\DULµDW
atau membangkangnya.
Kedua adalah jalan mulia (s̞LUƗW̜
al-‘izzah), atau jalan orang mulia,
(s̞LUƗW̜ DOµD]Ư]) Jalan ini diisyaratkan oleh
¿UPDQ 7XKDQ ³menuju jalan Maha Mulia lagi Maha Terpuji´ 4V ,EUƗKƯP Inilah jalan penyucian (WDQ]ƯK) Tidak akan sampai ke jalan ini kecuali seseorang telah menyucikan dirinya (dari keinginan) untuk menjadi Rabb (tuan) atau sayyid (orang mulia.)
Ketiga adalah jalan Tuhan
(s̞LUƗW̜ al-rabb.) Jalan ini diisyaratkan oleh 7XKDQ ³Barang siapa yang dikehendaki
$OODKPDND$OODKDNDQPHPEHULSHWXQMXNGDQ
melapangkan dadanya untuk berserah diri, dan barang siapa yang dikehendaki sesat PDND$OODKDNDQPHQMDGLNDQGDGDQ\DVHVDN
dan sempit seolah-olah ia sedang mendaki ke langit” 4V DO$QµƗP MXJD
¿UPDQ1\D ´Inilah jalan lurus Tuhanmu´
4V DO$QµƗP 'LVHEXW VHEDJDL
jalan Tuhan karena Tuhan (Rabb) memang memanggil para makhluk (DOPDUEnjE) dan menjadikan mereka tetap konsisten di jalan ini. Siapa yang keluar dari jalan ini maka ia telah menyimpang dan tak akan bisa bersikap LVWLTƗPDK lagi.
Keempat adalah jalan nikmat
(s̞LUƗWҘ al-ni‘am) atau jalan Sang Pemberi nikmat (s̞LUƗWҘ al-Mun‘im.) Jalan LQLGLLV\DUDWNDQROHK$OODKGDODP¿UPDQ1\D
´Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat´4VDO)ƗWLKҝDK´Jalan orang- RUDQJ \DQJ GLEHUL QLNPDW ROHK $OODK DWDV
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWYRO9,/LKMXJD
William. C. Chittick, The Self-Disclosure of God:
3ULQFLSOHRI,EQDOµ$UDEƯ¶V&RVPRORJ\$OEDQ\1HZ
<RUN6WDWH8QLYHUVLW\RI1HZ<RUN
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWYRO9,
mereka´4VDO1LVƗ¶-DODQLQLDGDODK
MDODQ\DQJGLDQXJHUDKLSHWXQMXN$OODKMDODQ
\DQJGXOXGLWHPSXKROHKQDEL1njKҝ,EUƗKƯP
0njVƗGDQµƮVƗ4VDO6\njUƗ.DUHQD
LWX ,EQ µ$UDEƯ PHQ\HEXW MDODQ ini sebagai jalan komprehensif yang ditempuh oleh setiap nabi dan rasul dalam menegakkan agama dan PHPELQD SHUVDWXDQ XPDW %DJL ,EQ µ$UDEƯ
agama para nabi dan rasul adalah satu, yakni DJDPD WDXKLG VHPXDQ\D EHUDVDO GDUL$OODK
QDPXQ MDODQ DWDX V\DULµDW PHUHND EHUEHGD
beda satu sama lain sesuai dengan konteks VRVLRKLVWRULV WHPSDW PHUHND EHUDGD 0HVNL
berbeda, tetapi semua jalan mereka adalah MDODQ SHQXK GHQJDQ QLNPDW GDQ NDXP \DQJ
menempuh jalan para nabi ini hendaknya tetap bersatu dan bersikap LVWLTƗPDK49
Kelima adalah jalan khusus
(s̞LUƗW̜ DONKƗV̞sҚ \DNQL MDODQ 1DEL
0XKҝDPPDG \DLWX DO4XU¶ƗQ GHQJDQ WDOL
$OODK \DQJ NRNRK GDQ V\DULµDWQ\D EHUVLIDW
NRPSUHKHQVLI 0HQXUXW ,EQ µ$UDEƯ 1DEL
0XKҝammad adalah imam atau pemimpin para nabi dan rasul, bahkan tuan bagi seluruh umat manusia di Hari Kiamat nanti.
5LVDODK NHQDELDQQ\D PHQXWXS NHQDELDQ GDQ
kerasulan yang lain secara umum, baik secara ODKLU PDXSXQ VHFDUD EDWLQ .DUHQD V\DULµDW
yang dibawanya bersifat sempurna, maka EDJL ,EQ µ$UDEƯ LD PHQJKDSXV nasakh) V\DULµDWV\DULµDW VHEHOXPQ\D GDODP DUWL
V\DULµDWWHUGDKXOX\DQJWLGDNWHUFDNXSGDODP
V\DULµDW0XKҝammad tidak perlu dipraktikkan lagi. %DJL ,EQ µ$UDEƯ \DQJ WHUEDLN adalah mengikuti jalan (VDEƯO 1DEL 0XKҝammad VHFDUD SHQXK GDQ XWXK GHQJDQ FDUD
mengimani, meyakini dan memraktikkan V\DULµDWVDQJ1DELODOXPHQLQJJDONDQVHPXD
jalan (subul) yang lain.-DODQVDQJ1DELLQL
adalah jalan lurus, mudah, tiada hambatan dan mara bahaya, penuh nikmat dan tentu saja inilah jalan kebahagiaan hakiki (t̜DUƯT
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWYRO9,
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWYRO9,
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗW vol. VI, 210.
DOVDµƗGDK) .HZDMLEDQ NDXP 0XVOLP
untuk menempuh jalan ini dan meninggalkan jalan-jalan yang lain secara tegas disebut
$OODK GDODP ¿UPDQ1\D ³Dan ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah ia, dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu akan mencerai- beraikan kalian dari jalanNya [yang benar]
4VDO$QµƗP
-DODQ \DQJ OXUXV LQL GLWXQMXNNDQ 1DEL
0XKҝammad dengan membuat garis lurus di tanah dan beberapa garis lain di sebelah kanan dan kiri garis pertama (lurus.) Kemudian, ia meletakkan jarinya di atas garis itu seraya PHPEDFD D\DW ³Dan sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus maka ikutilah olehmu, dan jangan kalian mengikuti jalan- jalan itu´ VHPEDUL PHQXQMXN NHSDGD JDULV
garis yang terdapat di sebelah kanan dan kiri GDULJDULV\DQJOXUXV³karena menyebabkan kalian bercerai berai dari jalan-Nya´VDPELO
menunjuk kepada garis yang lurus.)
%DJL ,EQ µ$UDEƯ VHPXD MDODQ PHPDQJ
akan berujung (mengantarkan) kepada Tuhan, namun tidak semua jalan-jalan itu memberi dan menghasilkan kebahagiaan bagi para penempuhnya. Secara umum apa yang disebut sebagai jalan lurus terdiri atas jalan yang mulia (s̞LUƗWҘ al-‘izzah), jalan Tuhan (s̞LUƗWҘ al-rabb), jalan nikmat (s̞LUƗWҘ al-ni‘am) dan jalan khusus (s̞LUƗWҘ DONKƗV̞s̞.1DPXQMDODQOXUXV\DQJNKXVXV
dan sempurna serta penuh kebahagiaan sejati tak lain adalah jalan (V\DUƯµDK) yang diturunkan NHSDGD1DEL0XKҝammad.
Dalam konteks ini, penting pula dike- PXNDNDQEDKZDEDJL,EQµ$UDEƯV\DULµDW1DEL
0XKҝammad menghapuskan (nasakh) masa EHUODNXQ\D V\DULµDW WHUGDKXOX 6HVHRUDQJ
\DQJ PDVLK PHQMDODQNDQ V\DULµDW WHUGDKXOX
padahal telah dihapus, maka berarti ia telah PHQJLNXWL KDZD QDIVXQ\D %DJL ,EQ µ$UDEƯ
seseorang yang meninggalkan jalan yang GLWHWDSNDQ$OODK PHODOXL V\DULµDW 1DEL ODOX
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWYRO9,
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWYRO9YRO,,,
menempuh jalan yang lain, meskipun ia DGDODKV\DULµDWQDELWHUGDKXOXPDNDLDWHODK
menyimpang dari jalan lurus Allah. Dalam HҐDGƯWVGLNXWLSGLDWDVJDULVOXUXV\DQJGLEXDW
1DEL DGDODK V\DULµDW 1DEL 0XKҝammad, sementara garis-garis di sebelah kanan dan NLUL DGDODK V\DULµDW SDUD QDEL WHUGDKXOX
.DXP 0XVOLP KHQGDNQ\D PHQJLNXWL JDULV
DWDX V\DULµDW 1DEL 0XKҝammad dan tidak GLSHUNHQDQNDQ PHQJLNXWL V\DULµDW WHUGDKXOX
NHFXDOLMLNDWHWDSGLSDNDLROHKV\DULµDW1DEL
0XKҝammad.
'HQJDQ SHQMHODVDQ ,EQ µ$UDEƯ EDKZD
V\DULµDW 1DEL adalah jalan unik (NKƗV̞s̞) dan sempurna, maka ada tiga kesimpulan menge- nai jalan-jalan. Pertama, jalan pertama atau jalan umum adalah jalan yang ditempuh oleh para pemeluk agama dan keyakinan bermacam-macam yang ada di bumi ini, termasuk jalan (V\DUƯµDK 1DEL 0XKҝammad.
<DQJ WDDW NHSDGD DMDUDQ SDUD SHPEDZD
agama-agama itu akan selamat dan bahagia, tetapi yang membangkang akan terkena siksa. Kedua, jalan yang kedua (s̞LUƗW̜ al-
‘izzah), ketiga (s̞LUƗW̜ al-rabb) dan keempat (s̞LUƗW̜ al-ni‘am) DGDODK V\DULµDW SDUD QDEL
dan rasul terdahulu yang hanya berlaku pada saat mereka masih hidup dan mendakwahkan DMDUDQDMDUDQ PHUHND 6HWHODK V\DULµDW 1DEL
0XKҝammad turun jalan-jalan tersebut tidak berlaku lagi, sebab jalan yang mulia, jalan Tuhan dan jalan nikmat sudah tercakup dalam jalan khusus beliau.
Ketiga, MDODQMDODQ VHODLQ V\DULµDW 1DEL
jika tetap dipakai oleh para pemeluk masing- masing, boleh jadi tetap mengantarkan mereka kepada Tuhan, namun dengan risiko bahaya dan penderitaan tiada terperi.
%DJL,EQµ$UDEƯLVWLODKNKXVXVµMDODQNX¶
EXNDQLVWLODKXPXPµMDODQ$OODK¶s̞LUƗW̜Ư bukan sekedar s̞LUƗW̜ $OODK) yang diungkapkan al- 4XU¶ƗQPHQXQMXNNDQEDKZDLDDGDODKV\DULµDW
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWYRO,,,
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWYRO,,,YRO9,
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWYRO,,,
yang unik (V\DUµNKƗV̞s̞) yang wajib diikuti,
\DNQLMDODQ1DEL0XKҝammad (al-t̜DUƯTDOODG]Ư
MƗCDELKL0XK̡ammad,
) Kaum beriman dilarang untuk mengikuti jalan-jalan yang lain, yakni jalan-jalan (V\DUƗ¶Lµ) dan pedoman-pedoman (PDQƗKLM) SDUD UDVXO VHEHOXP 1DEL 0XKҝammad. Hal LQLWLGDNEHUDUWLNDXP0XVOLPPHVWLEHUVLNDS
HNVNOXVLI NDUHQD V\DULµDW 1DEL 0XKҝammad bukan sekedar mewajibkan beriman kepada
$OODK GDQ UDVXO1\D QDPXQ PHZDMLENDQ
SXOD XQWXN EHULPDQ NHSDGD VHPXD V\DULµDW
dan kitab yang diturunkan kepada para rasul sebelum beliau. %DKNDQ NDWD ,EQ
µ$UDEƯVHOXUXKV\DULµDW\DQJterdahulu telah WHUNDQGXQJGLGDODPV\DULµDW1DEL.6\DULµDW
V\DULµDW WHUGDKXOX WLGDN ODJL PHQMDGL KXNXP
Tuhan, kecuali sebagiannya yang masih GLWHWDSNDQVHEDJDLV\DULµDWSDGDV\DULµDW1DEL
0XKҝDPPDG,EQµ$UDEƯPHQHJDVNDQ
%DJLLPƗPSHPLPSLQSHQJLNXW1DEL0XKҝammad hendaknya memilih jalan beliau dan meninggalkan jalan-jalan yang lain dengan tetap meneguhkan GDQ PHPHUFD\DL MDODQMDODQ LWX ,D VDQJ LPƗP tidak dapat mengabdikan dirinya kecuali pada jalan 1DEL MXJD WLGDN PHQJDUDKNDQ SDUD SHQJLNXWQ\D
NHFXDOLKDQ\DPHQJDEGLSDGDMDODQLWX-DODQ1DEL
menyandang segala sifat yang ada pada jalan-jalan VHEHOXPQ\D VHEDE V\DULµDWQ\D EHUVLIDW XPXP
.DUHQD LWX V\DULµDW 1DEL 0XKҝammad mencakup VHOXUXK V\DULDW PHUHND WHWDSL V\DULµDWV\DULµDW
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWYRO,9
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWYRO,,,
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWYRO,,,
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWYRO,,,
PHUHNDWLGDNPHQFDNXSV\DULµDW1DEL0XKҝammad.
%DJL ,EQ µ$UDEƯ PHVNLSXQ DGD nasakh, tetapi WLGDNPHPEDWDONDQVHPXDV\DULµDW\DQJ
pernah ada. Hanya orang bodoh saja yang menganggap bahwa nasakh membatalkan VHPXD V\DULµDW SDUD QDEL \DQJ SHUQDK DGD
.H\DNLQDQ ,EQ µ$UDEƯ WHQWDQJ MDODQ OXUXV
(al-s̞LUƗW̜DOPXVWDTƯP) dan jalan kebahagiaan (t̜DUƯT DOVDµƗGDK) yang hanya ditemui pada V\DULµDW 1DEL PHPEXDWQ\D MXJD PHODNXNDQ
kritik yang tajam kepada jalan-jalan atau V\DULµDW DJDPD ODLQ NKXVXVQ\D SDGD RUDQJ
RUDQJ1DVUDQLGDQ<DKXGL
Dalam konteks hubungan kitab suci DJDPDDJDPD,EQµ$UDEƯEHUSHQGDSDWDQWDUD
NDOƗP $OODK²MLND memang masing-masing NLWDEVXFLLWXGLDQJJDSVHEDJDLNDOƗP$OODK² tidak ada yang lebih utama (PXIƗG̟alah) antara yang satu dari yang lain, semua kitab bersumber dari satu keluarga yang tunggal (
DONXWXE NXOOXKƗ PLQ
DOZƗK̡id \DNQL EHUDVDO GDUL 7XKDQ 0HVNL
GHPLNLDQ,EQµ$UDEƯPHQHJDVNDQEDKZDDO
,EQ µ$UDEƯ )XWnjK̡ƗW vol. VI, 210. Kesem- SXUQDDQV\DULµDW1DELGLNRNRKNDQSXODROHKNH\DNLQDQ
,EQ µ$UDEƯ EDKZD QDPD $OODK²VHEDJDL QDPD
SDQJJLODQ NHSDGD 7XKDQ EDJL NDXP 0XVOLP²DGDODK
nama yang paling besar dan mencakup (semua nama.) Kata $OODK memiliki arti-arti semua nama ilahi. $OODK adalah kumpulan realitas-realitas dari nama-nama ilahi NHVHOXUXKDQQ\DGDQDO4XU¶ƗQDGDODKNLWDEVXFL\DQJ
paling lengkap dan komprehensif.
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWYRO9
,EQ µ$UDEƯ PHQ\HEXW LVWLODK 1DVUDQL GDQ
<DKXGL 'DODP KDO LQL SHQXOLV PHQJXWLS VHEXWDQ Ibn µ$UDEƯ WHUVHEXW GDQ WLGDN PHPDNDL LVWLODK µ.ULVWHQ¶
XQWXN1DVUDQL'DODPNRQWHNVLQLSHQWLQJGLNHPXNDNDQ
EDKZD6H\\HG+RVVHLQ1DVUWLGDNPHPHUGXOLNDQDWDX
tidak menganggap begitu penting soal kritik-kritik ,EQ µ$UDEƯ GDODP )XWnjK̡ƗW GDQ 5njPƯ GDODP 0DWVQDZƯ WHUKDGDSVLVWHPWHRORJL<DKXGLGDQ1DVUDQL%DJL1DVU
tidak penting apakah )XWnjK̡ƗW, MatsnawƯ GDQ NDU\D
karya serupa ditulis dengan tujuan untuk menyatakan NHWLGDNEHQDUDQ GRNWULQGRNWULQ WHRORJL <DKXGL GDQ
.ULVWHQ 1DVU PHQ\HEXW µ.ULVWHQ¶ <DQJ WHUXWDPD
adalah ,EQ µ$UDEƯ GDQ 5njPƯ PHQHULPD NHEHQDUDQ
esensial (prinsipal) agama-agama non-Islam, terutama
<DKXGL GDQ .ULVWHQ /LK 6H\\HG +RVVHLQ 1DVU 6X¿
Essays/RQGRQ*HRUJH$OOHQDQG8QZLQ/WG
4XU¶ƗQEHUVLIDW lengkap (MƗPLµ), kitab suci yang paling mencukupi (DJKQƗ), lagi meyakinkan sebagai petunjuk ( , wa anta PLQKX µDOƗ \DTƯQ) Tetapi, dengan merujuk NHSDGD EHEHUDSD D\DW GDODP DO4XU¶ƗQ ,EQ
µ$UDEƯ PHQJDQJJDS SDUD SHPLPSLQ $KO DO
.LWƗE telah melakukan WDEGƯO (mengganti perkataan Tuhan dalam hal kata) dan tah̡UƯI (mengubah dalam hal makna) dalam kitab suci mereka. Shaykh EHUNDWD³'DQWLGDNODK
NLWDENLWDE VXFL VHODLQ DO4XU¶ƗQ LWX EROHK
engkau ikuti secara meyakinkan disebabkan tercampur dengan WDEGƯO dan tah̡UƯI , ZD ODVWD PLQ JKD\ULKL µDOƗ \DTƯQ OLPƗ
GDNKDODKXPLQDOWDEGƯOZDDOWDK̡UƯI´
Para pemimpin $KO DO.LWƗE itu, yakni para pemimpin $KO DO7DZUƗW dan Injil, di PDWD ,EQ µ$UDEƯ WHODK PHQMXDO D\DWD\DW
Tuhan itu dengan harga yang murah dengan cara WDEGƯO dan tah̡UƯI itu demi harta dan kedudukan (status sosial) sebagai tokoh agama. Selain itu, yang tak kalah pentingnya GDODPNRQWHNVLQL,EQµ$UDEƯMXJDPHQJULWLN
tajam cerita-cerita yang terdapat dalam kitab VXFLRUDQJ1DVUDQLGDQ<DKXGL\DQJEDQ\DN
merekam cerita-cerita kesalahan (]DOOƗW), cela (PDWVƗOLE) dan skandal (nuqlah) para nabi.
%DJL ,EQ µ$UDEƯ FHULWDFHULWD WHUVHEXW
tidak wajar dikaitkan dengan Allah dan para UDVXO1\D EDKNDQ WLGDN DGD VDWX nas̞s̞ pun GDODP DO4XU¶ƗQ GDQ +ҐDGƯWV \DQJ EHUFHULWD
serupa. ,VODP NDWD ,EQ µ$UDEƯ VHODOX
mendorong sikap hormat terhadap para nabi, dan menjaga rasa malu kepada Allah.
,EQ µ$UDEƯ PHQ\HEXW FHULWDFHULWD WHUVHEXW
sebagai µNHFHODNDDQ¶ al-t̜DPPƗW) dan µEHQFDQD¶al-t̜DZƗP) yang berasaskan takwil yang rusak (WD¶ZƯOƗW IƗVLGDK) dan sumber tidak menentu (DVƗQƯG ZƗKL\DK), datangnya dari mereka yang mengejek dan memerolok
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWYRO9,,,
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWYRO9,,,
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWYRO,,,
,EQµ$UDEƯ)XWnjK̡ƗWYRO9,