• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS OLEH: RIMA ISMIATUR ROIKHANA NPM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TESIS OLEH: RIMA ISMIATUR ROIKHANA NPM"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG DAMPAK PEMBERLAKUAN PASAL 7 AYAT 1 UNDANG-UNDANG NO. 16 TAHUN 2019

TERHADAP PERNIKAHAN DINI DI BENDOSARI KECAMATAN PUJON KABUPATEN MALANG

TESIS

OLEH:

RIMA ISMIATUR ROIKHANA NPM. 22002012004

UNIVERSITAS ISLAM MALANG PROGRAM PASCASARJANA

PROGRAM STUDI MAGISTER HUKUM KELUARGA ISLAM

2022

(2)

TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG DAMPAK PEMBERLAKUAN PASAL 7 AYAT 1 UNDANG-UNDANG NO. 16 TAHUN 2019

TERHADAP PERNIKAHAN DINI DI BENDOSARI KECAMATAN PUJON KABUPATEN MALANG

TESIS

Diajukan kepada Universitas Islam Malang

untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar Magister Hukum Keluarga Islam

OLEH:

RIMA ISMIATUR ROIKHANA NPM. 22002012004

UNIVERSITAS ISLAM MALANG PROGRAM PASCASARJANA

PROGRAM STUDI MAGISTER HUKUM KELUARGA ISLAM

2022

(3)

vii ABSTRAK

Roikhana, Rima Ismiatur. 2022. Tinjauan Hukum Islam Tentang Dampak Pemberlakuan Pasal 7 Ayat 1 Undang-Undang No. 16 Tahun 2019 Terhadap Pernikahan Dini Di Bendosari Kecamatan Pujon Kabupaten Malang. Tesis, Program Studi: Magister Hukum Keluarga Islam, Pascasarjana Universitas Islam Malang. Pembimbing: Dr. H. Dahlan Thamrin, M.Ag dan Dr. H. Syamsu Madyan, Lc., MA

Kata Kunci: Dampak, Undang-Undang, Pernikahan Dini

Menurut riset yang ada, perkawinan usia muda dilandasi dari berbagai faktor. Pertama, kurangnya pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja. Kedua, faktor ekonomi. Ketiga, adat dan tradisi. Begitu pula dengan dampak yang ditimbulkan dari perkawinan usia muda juga sangat beragam, dan yang sudah pasti merugikan diri pelakunya sendiri. Dengan kata lain, pernikahan usia muda lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Untuk mengantisipasi hal-hal yang semacam itu, pemerintah mengeluarkan peraturan baru terkait dengan batas minimal usia perkawinan dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 pasal 7 ayat (1) yang berbunyi “perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita telah mencapai usia 19 (Sembilan belas) tahun.” Batas usia inilah yang dianggap paling efektif untuk mencegah kejadian-kejadian yang tidak diharapkan. Di Desa Bendosari tidak asing lagi dengan banyaknya remaja yang melakukan perkawinan dini, bahkan mayoritas masyarakat di Desa Bendosari lebih menginginkan anaknya menikah di usia dini daripada melanjutkan pendidikannya. Di Desa Bendosari perkawinan dini menjadi ajang yang memang harus segera dilakuan, jika anaknya tidak segera menikah masyarakat Desa takut anaknya menjadi perawan tua. Terkait dengan itu salah satu pemicu perkawinan dibawah umur adalah faktor ekonomi, dimana ketika sang anak telah lulus sekolah dasar ataupun menengah terkadang orang tua kesusahan mendapatkan uang untuk keperluan melanjutkan pendidikan anak, sehingga beberapa orang tua mengambil jalan pintas yang menurut mereka sebagai salah satu penyelesaian yaitu menikahkan anak tersebut agar kewajiban mereka terlepas dan mengalihkan sepenuhnya tanggung jawab kepada psangan. Adapun faktor lain yang menjadi pemicu perkawinan di bawah umur di Desa Bendosari adalah sudah hamil, paksaan orang tua, dan faktor lainnya.

Dari uraian permasalahan di atas, maka penulis memberikan tiga titik fokus yang akan diteliti. Pertama, bagaimana implementasi perkawinan menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap pernikahan dini di Desa Bendosari, serta apa saja dampak dari pemberlakuan Undang-Undang Nomor 16 tahun 2019 terhadap perlindungan perempuan di Desa Bendosari.

Penulis menggunakan jenis penelitian empiris atau lapangan dalam arti pengumpulan data yang ada di lapangan (field research) dengan pendekatan

(4)

viii

kualitatif (yuridis sosiologis). Pengumpulan datanya dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa, Hukum Islam tidak secara mutlak mengatur batas usia perkawinan. Karena dalam Islam asalkan kedua calon mempelai telah masuk kedalam usia aqil baligh, serta telah terpenuhi syarat dan rukun pernikahannya, maka pernikahan tersebut dianggap sah. Akan tetapi baligh saja tidak cukup untuk sebuah tujuan pernikahan yang hakiki. Diperlukan mental dan kedewasaan yang siap untuk mewujudkan cita-cita pernikahan tersebut. Berlakunya Undang-Undang perkawinan No 16 Tahun 2019 tentang usia perkawinan menimbulkan berbagai dampak Negatif dan positif adapun dampak Negatifnya, Masyarakat yang mana mulanya mengetahui usia pernikahan pada anak perempuan yaitu 16 belas tahun dan menjadi 19 tahun adapun masyarakat yang mau melakukan pernikahan di usia 16 tahun terdapat hambatan seperti tidak tercatat dalam akta nikah dan belum sah di mata hukum, juga terdapat melakukan manipulasi umur agar pernikahan dapat tercatatkan. Dan Dampak positifnya masyarakat yang menikah di usia 19 tahun sudah dikatakan dewasa dan matang dalam pemikiranya dan untuk kesehatan dan kehamilan anak dan bisa terhindar dari kematian setelah melahirkan dan bayi prematur.

(5)

ix ABSTRACT

Roikhana, Rima Ismiatur. 2022. Review of Islamic Law on the Impact of the Implementation of Article 7 Paragraph 1 of Law no. 16 of 2019 Against Early Marriage in Bendosari, Pujon District, Malang Regency. Thesis, Study Program: Master of Islamic Family Law, Postgraduate of the Islamic University of Malang. Supervisor: Dr. H. Dahlan Thamrin, M.Ag and Dr. H. Syamsu Madyan, Lc., MA

Keywords: Impact, Law, Early Marriage

According to existing research, marriage at a young age is based on various factors. First, the lack of reproductive health education for adolescents. Second, the economic factor. Third, customs and traditions. Likewise, the impact of marriage at a young age is also very diverse, and which is certainly detrimental to the perpetrators themselves. In other words, marriage at a young age does more harm than good. To anticipate such things, the government issued a new regulation related to the minimum age limit for marriage in Law Number 16 of 2019 article 7 paragraph (1) which reads

"marriage is only permitted if a man and a woman have reached the age of 19 (nineteen years). ) year." This age limit is considered the most effective in preventing unexpected events. In Bendosari Village, it is no stranger to the number of teenagers who marry early, even the majority of people in Bendosari Village prefer their children to marry at an early age rather than continue their education. In Bendosari Village, early marriage is an event that must be carried out immediately, if the child does not get married soon, the villagers are afraid that their child will become an old virgin. Related to that, one of the triggers for underage marriage is the economic factor, where when the child has graduated from elementary or middle school sometimes parents have difficulty getting money for the purpose of continuing their child's education, so some parents take shortcuts which they think is one of the solutions, namely marry off the child so that their obligations are released and completely transfer the responsibility to the spouse. Other factors that trigger underage marriage in Bendosari Village are being pregnant, coercion from parents, and other factors.

From the description of the problem above, the authors provide three focal points to be studied. First, how is the implementation of marriage according to Law Number 16 of 2019 concerning Amendments to Law Number 1 of 1974, how is the review of Islamic law on early marriage in Bendosari Village, and what are the impacts of the enactment of Law Number 16 of 2019 on protection women in Bendosari Village.

The author uses empirical or field research in the sense of collecting data in the field (field research) with a qualitative approach (juridical sociological). The data collection is by using observation, interview and documentation methods.

Based on the research that has been done, it can be concluded that Islamic law does not absolutely regulate the age limit for marriage. Because in Islam as long as the two prospective brides have entered the age of aqil baligh, and the terms and conditions of the marriage have been fulfilled, then the marriage is considered valid. However, baligh alone is not enough for an essential purpose of marriage. It takes mental and maturity that is ready to realize the ideals of marriage. The enactment of the Marriage Law No. 16 of 2019 concerning the age of marriage has various negative and positive impacts. As for the negative impact, the community initially knew the marriage age for

(6)

x

girls was 16 years old and became 19 years old while the people who wanted to get married at the age of 16 years old there are obstacles such as not being recorded in the marriage certificate and not yet valid in the eyes of the law, there is also age manipulation so that the marriage can be registered. And the positive impact is that people who marry at the age of 19 are said to be mature and mature in their thoughts and for the health and pregnancy of children and can avoid death after childbirth and premature babies.

(7)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Konteks Penelitian

Perkawinan adalah hal yang sangat penting bagi manusia, yang mana bukan hanya mengandung hubungan keperdataan melainkan terdapat unsur sakral karena melibatkan hubungan antara Tuhan dengan manusia yang terbukti dengan aturan setiap agama mengenai perkawinan. Menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 pasal 1, yang dimaksud dengan perkawinan adalah: “Ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.” Sehingga memiliki unsur-unsur sebagai berikut:

Timbulnya suatu hubungan hukum anatara seorang wanita dan seorang pria, untuk membentuk keluarga, dalam jangka waktu selama-lamanya, Dilakukan menurut Undang-undang, agama dan kepercayaannya. Melihat unsur-unsur diatas, dalam hal melakukan perkawinan diperlukan kematangan usia atau kedewasaan yang meliputi kematangan psikis dan sosiologis. Dan sebaik-baiknya perkawinan dilakukan oleh orang yang berusia 19 tahun ke atas, karena dalam usia tersebut alat-alat reproduksi lebih siap untuk menjalankan fungsinya sebagimana mestinya (Manuaba, 1996). Dalam Undang-Undang Perkawinan yaitu UU No. 16 Tahun 2019 pasal 7 ayat (1) menyebutkan bahwa “Perkawinan hanya diizinkan bila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (Sembilan belas) tahun”. Terkait batas usia

(8)

2

19 tahun untuk perempuan, sangat bertentangan dengan hak-hak anak yang terdapat dalam UUD 1945 (Mulia, 2006).

Menurut riset yang ada, perkawinan usia muda dilandasi dari berbagai faktor. Pertama, kurangnya pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja. Kedua, faktor ekonomi. Ketiga, adat dan tradisi. Begitu pula dengan dampak yang ditimbulkan dari perkawinan usia muda juga sangat beragam, dan yang sudah pasti merugikan diri pelakunya sendiri. Dengan kata lain, pernikahan usia muda lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Untuk mengantisipasi hal-hal yang semacam itu, pemerintah mengeluarkan peraturan baru terkait dengan batas minimal usia perkawinan dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 pasal 7 ayat (1) yang berbunyi “perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita telah mencapai usia 19 (Sembilan belas) tahun.” Batas usia inilah yang dianggap paling efektif untuk mencegah kejadian-kejadian yang tidak diharapkan.

Di Desa Bendosari tidak asing lagi dengan banyaknya remaja yang melakukan perkawinan dini, bahkan mayoritas masyarakat di Desa Bendosari lebih menginginkan anaknya menikah di usia dini daripada melanjutkan pendidikannya. Di Desa Bendosari perkawinan dini menjadi ajang yang memang harus segera dilakuan, jika anaknya tidak segera menikah masyarakat Desa takut anaknya menjadi perawan tua. Terkait dengan itu salah satu pemicu perkawinan dibawah umur adalah faktor ekonomi, dimana ketika sang anak telah lulus sekolah dasar ataupun menengah terkadang orang tua kesusahan mendapatkan uang untuk keperluan melanjutkan pendidikan anak, sehingga beberapa orang tua mengambil jalan pintas yang menurut mereka sebagai salah satu penyelesaian yaitu

(9)

3

menikahkan anak tersebut agar kewajiban mereka terlepas dan mengalihkan sepenuhnya tanggung jawab kepada psangan. Adapun faktor lain yang menjadi pemicu perkawinan di bawah umur di Desa Bendosari adalah sudah hamil, paksaan orang tua. Dan faktor lainnya.

Dari uraian diatas, maka penulis tertarik untuk membuat karya ilmiah dalam bentuk tesis dengan judul “TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG DAMPAK PEMBERLAKUAN PASAL 7 AYAT 1 UNDANG-UNDANG NO.

16 TAHUN 2019 TERHADAP PERNIKAHAN DINI DI BENDOSARI KECAMATAN PUJON KABUPATEN MALANG”. Permasalahan difokuskan kepada bagaimana implementasi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 (UU No. 16 Tahun 2019) di Desa Bendosari Kecamatan pujon apakah sudah sesuai dengan harapan atau belum. Serta bagaimana dampak dari pemberlakuan batas usia menikah pada pasal 7 UU No. 16 Tahun 2019 bagi masyarakat khususnya masyakat di Desa Bendosari Kecamatan Pujon. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sebenarnya UU No. 16 Tahun 2019 diterapkan, dan efek dari penerapannya. Serta kendala-kendala yang dihadapi pihak-pihak yang bersangkutan dalam menegakkan peraturan mengenai batas minimal perkawinan adalah 19 tahun. Agar kedepannya kendala tersebut dapat diatasi dan dapat menjalankan peraturan dengan maksimal.

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas maka yang akan akan menjadi rumusan masalah adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana implementasi perkawinan menurut Undang-Undang Nomor 16

(10)

4

Tahun 2019 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 di desa Bendosari ?

2. Bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap pernikahan dini di Desa Bendosari?

3. Apa saja dampak dari pemberlakuan Undang-Undang Nomor 16 tahun 2019 terhadap perlindungan perempuan di Desa Bendosari?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari rumusan masalah ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk menganalisis dan mendeskripsikan implementasi perkawinan menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 di Desa Bendosari

2. Untuk menganalisis dan mendeskripsikan tinjauan hukum Islam terhadap pernikahan dini di Desa Bendosari

3. Untuk menganalisis dan mendeskripsikan dampak dari pemberlakuan Undang-Undang Nomor 16 tahun 2019 terhadap perlindungan perempuan di Desa Bendosari

D. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik untuk kepentingan ilmu pengetahuan (teoritis) maupun kepentingan praktis dalam kasus Perkawinan di bawah umur di Desa Bendosari. Adapun manfaat penelitiantersebut adalah sebagai berikut:

1. Secara teoretis penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi atau wawasan yang lebih kongkrit bagi masyarakat khususnya bagi masyarakat

(11)

5

Pujon serta keluarga untuk memberikan sumbangsi dan peranannya dalam menangani kasus perkawinan di bawah umur yang terjadi di Indonesia serta dapat memberikan sumbangan pemikiran ilmiah bagi pengembangan ilmu pengetahuan dalam penangannya.

2. Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan tambahan ilmu terkait dampak yang akan timbul dengan maraknya kasus perkawinan yang melibatkan anak di bawah umur.

E. Penegasan Istilah

Penelitian ini berjudul Tinjauan Hukum Islam Tentang Pemberlakuan Pasal 7 Ayat 1 Undang-Undang No. 16 Tahun 2016 Terhadap Perkara Dispensasi Kawin (Studi Kasus di Bendosari Kecamatan Pujon Kabupaten Malang). Dalam memahami suatu masalah dalam judul penelitian ini tidak hanya melalui pemikiran saja. Melainkan menggunakan analisis dengan dasar teori, yang nantinya dapat mewujudkan karya ilmiah yang maksimal.

Penegasan istilah ini digunakan sebagai penegas dan penjelas dari pembahasan permasalahan yang diangkat. Guna untuk mengurangi kesalahpahaman dan juga multi-interpretasi dalam memahami pembahasan untuk menghindari salah pengertian dan pemahaman terhadap pembaca, maka penulis perlu menjelaskan beberapa kata yang tersirat di dalam penelitian ini. Adapun istilah yang dijelaskan adalah sebagai berikut:

1. Dampak

Arti kata dampak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu benturan; pengaruh kuat yang mendatangkan akibat baik negatif maupun

(12)

6

positif, Benturan yang cukup hebat antara dua benda sehingga menyebabkan perubahan yang berarti dalam momentum (pusa) sistem yang mengalami benturan itu.

2. Undang-Undang

Undang-undang adalah hukum yang telah disahkan oleh badan legislatif atau unsur ketahanan yang lainnya. Sebelum disahkan, undang- undang disebut sebagai rancangan Undang-Undang. Undang-undang berfungsi untuk digunakan sebagai otoritas, untuk mengatur, untuk menganjurkan, untuk menyediakan (dana), untuk menghukum, untuk memberikan, untuk mendeklarasikan, atau untuk membatasi sesuatu.

3. Perkawinan

Perkawinan merupakan upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial. Upacara Perkawinan memiliki banyak ragam dan variasi menurut tradisi suku bangsa, agama, budaya, maupun kelas sosial. Penggunaan adat atau aturan tertentu kadang-kadang berkaitan dengan aturan atau hukum agama tertentu pula.

(13)

100 BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Revisi batas usia perkawinan yang dilakukan oleh pemerintah, merupakan hal yang baik untuk menanggulangi dampak perkawinan anak, namun dalam impelentasinya tentu dibutuhkan pemahaman yang baik di masyarakat, masyarakat dapat menerima dan apabila hal ini sudah dijalankan tentu masyarakat akan mentaati peraturan tersebut. Apalagi faktor budaya, adat, yang masih ada di masyarakat desa yang masih mendukung adanya perkawinan anak. Namun kenyataannya masih ada ketidakpatuhan para calon pengantin untuk memenuhi syarat perkawinan, terutama pada batas usia perkawinan, baik pada saat diberlakukannya Undang-Undang Perkawinan yang lama (Undang-Undang Nomor 1 Tahun1974) maupun Undang-Undang Pekawinan yang baru ( Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019).

2. Hukum Islam tidak secara mutlak mengatur batas usia perkawinan. Karena dalam Islam asalkan kedua calon mempelai telah masuk kedalam usia aqil baligh, serta telah terpenuhi syarat dan rukun pernikahannya, maka pernikahan tersebut dianggap sah. Akan tetapi baligh saja tidak cukup untuk sebuah tujuan pernikahan yang hakiki. Diperlukan mental dan kedewasaan yang siap untuk mewujudkan cita-cita pernikahan tersebut.

3. Berlakunya Undang-Undang perkawinan No 16 Tahun 2019 tentang usia perkawinan menimbulkan berbagai dampak Negatif dan positif adapun

(14)

101

dampak Negatifnya, Masyarakat yang mana mulanya mengetahui usia pernikahan pada anak perempuan yaitu 16 belas tahun dan menjadi 19 tahun adapun masyarakat yang mau melakukan pernikahan di usia 16 tahun terdapat hambatan seperti tidak tercatat dalam akta nikah dan belum sah di mata hukum, juga terdapat melakukan manipulasi umur agar pernikahan dapat tercatatkan. Dan Dampak positifnya masyarakat yang menikah di usia 19 tahun sudah dikatakan dewasa dan matang dalam pemikiranya dan untuk kesehatan dan kehamilan anak dan bisa terhindar dari kematian setelah melahirkan dan bayi prematur

B. Saran

1. Diharapkan kepada tokoh-tokoh masyarakat di Desa Bendosari untuk memahami adanya pemberlakuan undang-undang baru terkait batas usia perkawinan dengan merubah sikap dan cara pandang masyarakat untuk memulai hal yang baru ditengah kebiasaan, adat yang sudah mengakar.

Tentunya harus ada upaya-upaya lain yakni sinergitas dari pemerintah, pejabat yang berwenang, aparat desa dan tokoh adat dan agama untuk menanamkan konsep yang baru ditengah-tengah norma, aturan yang lama sehingga perubahan nilai, aturan yang diinginkan oleh pemerintah dapat diakui dan dilaksanakan oleh masyarakat.

2. Bagi orang tua walaupun dalam pelaksanaan hukum adat di desa Bendosari kecamatan Pujon Kabupaten malang menikahkan anak dalam usia yang muda itu pernah dilaksanakan, namun sebaiknya kedepannya orang tua lebih menjaga anak aga tidak tejerumus ke dalam pergaulan bebas, dan juga tidak

(15)

102

memaksa kehendak anaknya untuk melakukan penikahan dini, tapi memberikan semangat kepada anak tersebut agar bisa meraih cita-citannya.

3. Bagi para penegak hukum agar benar-benar menegakkan hukum seadil- adilnya dan mengikuti semua peraturan ang ada di perundang-undangan karena ini menjadi panutan dan contoh bagi masyarakat.

(16)

103

DAFTAR PUSTAKA

---, Fiqih Islam Wa Adilatuhu Jilid 1 Penerjemah: Abdul Hayie al-Kattani dkk, Jakarta: Gema Insani, 2010.

---, Ideologi, Pancasila dan Konstitusi pdf, (Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia). https://yustypurba.files. wordpress.com, Diunduh Pada Tanggal 25 Mei 2021.

“https://muamalatnet/kategori umur menurut WHO”, diakses pada tanggal 23 Januari 2021.

Abdurrahman. 2007. Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, cetakan kelima.

Jakarta: CV. Akademika Pressindo

Ahmadi, Abu dan Munawar Sholeh. 1991. Psikologi Perkembangan, (Jakarta:

Rineka Cipta

Akbar, Ali, Landasan Filosofis Dispensasi Nikah dalam Undang-Undang No.mor 16 Tahun 2019 pdf., http://repository.uinsu.ac.id., Diunduh pada 9 Juni 2021.

Akbar, Ali. Landasan Filosofis Dispensasi Nikah…, Diunduh pada 9 Juni 2021 Al-Bukhari, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail. 2016. Shahih Al-Bukhari 2,

Penerjemah: Subhan Abdullah, dkk. Cetakan Kedua. Jakarta: Almahira Al-Mahali, Jalaluddin dan Jalaluddin As-Suyuti. 2017. Tafsir Jalalain; Lengkap

dan Disertai Asbabun Nuzul, Penerjemah: Tim Al-Kautsar, Jakarta:

Pustaka Al-Kautsar

Al-Mashri. 2011 Syaikh Mahmud, Bekal Pernikahan, Penerjemah: Iman Firdaus, Jakarta: Qisthi Press

Al-Nadwi, Ali Ahmad. 2000. Al-Qawaid Al-Fiqhiyah, Cetakan Kelima. Beirut:

Dar al-Qalam

Al-Qurtubi, Syekh Imam. 2009. Tafsir Al-Qurtubi, Penerjemah: Dudi Rosyadi, Jakarta: Pustaka Azzam

An-Naisaburi. 2012. Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi, Shahih Muslim 1, Penerjemah: Ferdinand Hasmand dkk., Jakarta: Almahira

Asshiddiqie, Jimly. 2006. Perihal Undang-undang di Indonesia. Jakarta:

Sekretariat Jenderal Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia

Asshiddiqie, Jimly. Ideologi, Pancasila dan Konstitusi pdf. (Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia).

(17)

104

As-Sijistani, Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats al-Azdi. 2013 Sunan Abu Dawud, Penerjemah: Muhammad Ghazali dkk., Jakarta: Almahira

As-Subki , Ali Yusuf. 2012. Fiqh Keluarga, cetakan kedua. Penerjemah: Nur Khozin Jakarta: Amzah

As-Suyuthi, Imam Jalal ad-Din Abd ar-Rahman bin Abi Bakar, al-Asybah wa an- Nazhair, Semarang : Maktubah wa Mathbu’ah Thoha Putera,tt

Asy-Syaukani. 2011. Al-Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad, Tafsir Fathul Qadir Jilid 8, Penerjemah: Amir Hamzah Fachruddin, Jakarta: Pustaka Azzam

Ayub, Syaikh Hasan. 2001 Fikih Keluarga, Penerjemah: Abdul Gofar EM, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar

Az-Zuhaili , Wahbah. 2011 Fiqih Islam Wa Adilatuhu Jilid 9, Penerjemah: Abdul Hayie al-Kattani dkk, Jakarta: Gema Insani

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. 2008 Pendewasaan Usia Perkawinan dan Hak-hak Reproduksi bagi Remaja Indonesia, Jakarta:

Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak-hak Reproduksi

Candra, Mardi. 2018. Aspek Perlindungan Anak Indonesia: Analisis tentang Perkawinan di Bawah Umur, Jakarta: Prenadamedia Group

Dahlan , M. 2015. Fikih Munakahat, Yogyakarta: Deepublish

Dellyana, Shanty. 1998. Wanita Dan Anak Di Mata Hukum. Yogyakarta: Liberty Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan Kementerian Hukum dan

HAM RI, Panduan Praktis Memahami Perancangan Peraturan Daerah Edisi Revisi, Jakarta, Dirjen Peraturan Perundang-Undangan Kemenkumham RI, 2010.

Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan Kementerian Hukum dan HAM RI. 2010. Panduan Praktis Memahami Perancangan Peraturan Daerah Edisi Revisi. Jakarta, Dirjen Peraturan Perundang-Undangan Kemenkumham RI

Dodi , Achmad, ANOTASI (Undang-Undang Berdasarkan Putusan MK: Undang- Undang RI Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan), Jakarta:

Kepaniteraan Sekretariat Jenderal Mahkamah Konstitusi RI, 2018

Dzajuli, A., Kaidah-kaidah Fikih: Kaidah-kaidah Hukum Islam dalam Menyelesaikan Masalah-masalah yang Praktis, Jakarta: Pranadamedia Group, 2016, Cetakan Keenam.

(18)

105

Geldard, David, Konseling Remaja, Penerjemah: Eka Adinugraha, Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 2011.

Ghozali, Abdul Rahman, Fiqh Munakahat, Jakarta: Prenadamedia Group, 2015.

Gipriana, Eka,. Li’an dalam Persepektif Hukum Islam dan Hukum Positif, Skripsi Fakultas Syariah UIN SMH Banten, 2018.

Hakim , Abdul Hamid, Mabadi Awaliyah juz 1, Jakarta: Bulan Bintang, 1976.

Hasan, M. Ali, Pedoman Hidup Berumah Tangga dalam Islam, Jakarta: Siraja, 2006, cetakan ke dua.

Hasanah, Ngiyanatul, PERNIKAHAN DINI (Masalah dan Problematika), Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2017, (ebook dalam Aplikasi Ipusnas RI).

Hasil Penyelarasan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No.mor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Jakarta: Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia, 2019

Hasyim , Syafiq, Menakar Harga Perempuan: Ekspolarasi Lanjut Atas Hak-hak Reproduksi Perempuan dalam Islam, Bandung: Mizan, 1999.

https://wwwunicef.org/indonesia/id/press-releases unicef-sambut revisi UUPA indonesia, diakses tanggall 23 Januari 2021.

Izzan, Ahmad dan Saehudin. 2017. Fiqih Keluarga, Bandung: Mizania

Julijanto, Muhammad, Dampak Pernikahan Dini dan Problematika Hukumnya, (Jurnal Fakultas Syari’ah IAIN Surakarta, Surakarta, tt)

Junaedi, Said Sampara, Dachran S Bustham, “Efektivitas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Dihubungkan Dengan Perkawinan Dibawah Umur: Studi Kecamatan Pajukukang Kabupaten Bantaeng” , Journal of Lex Generalis

Kartikawati, Jamilah Reni, “Dampak Perkawinan Anak di Indonesia” dalam Jurnal Studi Pemuda Vol. 3, No. 1 Mei 2014, https://journal.ugm.ac.id, diunduh pada 22 November 2020.

Khallaf, Abdul Wahhab, Ilmu Ushul Fiqh, Penerjemah: Moh. Zuhri dan Ahmad Qarib, Semarang: Toha Putra Group, 1994.

Khallaf, Abdul Wahhab. 1994. Ilmu Ushul Fiqh, Penerjemah: Moh. Zuhri dan Ahmad Qarib, Cetakan Pertama. Semarang: Toha Putra Group

Khallaf, Abdul Wahhab. Ilmu Ushul Fiqh

(19)

106

Kiwe, Lauma, Mencegeh Pernikahan Dini, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2017, (ebook dalam Aplikasi iPusnas RI).

Majah, Abu Abdullah Muhammad bin Yazid al-Qazwini Ibnu. 2013 Sunan Ibnu Majah, Penerjemah: Saifudin Zuhri, Jakarta: Almahira

Manuaba, Ida Bagus Gde. 1999. Ilmu Kehidupan Penyakit Kanmdungan Dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran

Marliani, Rosleny. 2015 Psikologi Perkembangan, Bandung: Pustaka Setia

Mawardi, Akhmad Farid, Analisis Kritis Makna “Al-Syabab” dan “Istitha’ah”

pada hadis Anjuran Menikah, (Jurnal Penelitian dan Pemikiran Keislaman, 2017, Vol. 2., No. 2)

Mughniyah, M. Jawad. 2003. Fiqih Lima Madzhab, Jakarta: Lentera

Muhammad, Husein. Fiqh Perempuan: Refleksi Kiai atas Tafsir Wacana Agama dan Gender, Yogyakarta: Ircisod, 2018, (ebook dalam Aplikasi Ipusnas RI).

Muhammad, Husein. Fiqh Perempuan (Refleksi Kiai atas Tafsir Wacana Agama dan Gender), ebook dalam Aplikasi Ipusnas RI

Mulia, Siti Musdah. Pentingnya Membatasi Usia Pernikahan Pada Anak. Jakarta:

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Musbikin, Imam. 2001. Qawa’id Fiqhiyah. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada Muthiah, Aulia. 2017 Hukum Islam, Dinamika Seputar Hukum Keluarga,

Yogyakarta: PT Pustaka Baru

Nahrowi, “Penentuan Dewasa Menurut Hukum Islam dan Berbagai Disiplin Hukum”, (Jurnal KORDINAT: Vol. XV No. 2 Oktober 2016), h. 266.

Diunduh pada 21 Okt. 2020, Pukul 09:00 WIB.

Nasional, Badan Koordinasi Keluarga Berencana. 2008 Pendewasaan Usia Perkawinan dan Hak-hak Reproduksi bagi Remaja Indonesia, Jakarta:

Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak-hak Reproduksi

Nawi, Syahruddin dan Salle Salle. 2020. “Analisis Pengaruh Berbagai Variabel Terhadap Permohonan Dispensasi Pernikahan”, Journal of Lex Philosophy

Nugroho, Taufan dan Bobby Indra U. 2014. Masalah Kesehatan Reproduksi Wanita. Yogyakarta: Nuha Medika

(20)

107

Rika, Saraswati. 2015. Hukum Perlindungan Anak Di Indonesia. Bandung: PT Citra Aditya Bakti

Rofiq, Ahmad. 1998. Hukum Islam Di Indonesia cet ke3. Jakarta: Raja Grafindo Rohman, Holilur. 2016. Batas Usia Ideal Pernikahan Perspektif Maqasid

Shariah, Journal of Islamic Studies and Humanities

Rosalina, Lenny Nurhayati. 2020. Mengawal Kedaulatan Bangsa. Jakarta:

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak

Salinan Putusan Mahkamah Konsitusi Nomor 22/PUU-XV 2020 pdf., https://www.mkri.id, Diunduh pada 19 Maret 2021

Salinan Undang-Undang No 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan Undang-Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974

Sanusi, Ahmad dan Sohari, 2015. Ushul Fiqh, Cetakan Pertama. Jakarta: Rajawali Pers

Slamet Arofik, Alvian Riski Yustomi. 2020. Analisis Ushul Dan Kaidah Fikih Terhadap Implementasi Dispensasi Perkawinan Di Bawah Umur Di Kantor Urusan Agama (KUA)Kecamatan Perak Kabupaten Jombang.

Jurnal Usratuna

Soemiyati. 1986. Hukum Perkawinan Isam dan Undang-Undang Perkawinan, cet.ke 2. Yogyakarta: Liberty

Solihah, Cucu dkk. 2019. Dampak Kebijakan Isbat Nikah Terhadap Perkawinan Siri dan Campuran di Kabupaten Cianjur, Masalah-Masalah Hukum Undang-undang Nomor 35 Tahun 2104 tentang Perubahan atas Undang-undang

Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dapat dilakukan dengan.. observasi, wawancara, dan

Penelitian merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi

Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dapat dilakukan dengan.. observasi, wawancara dan

Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi,

Untuk menjawab permasalahan tersebut metode penelitian yang digunakan adalah dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara

10 Dalam penelitian kualitatif, maka pengumpulan data dilakukan dengan cara menggunakan tiga metode yaitu observasi,b. wawancara,

Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan datanya dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk

Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi,