• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDUDUK LANJUT USIA Gea Pandhita S

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENDUDUK LANJUT USIA Gea Pandhita S"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PENDUDUK LANJUT USIA Gea Pandhita S

Lanjut usia merupakan tahap akhir proses penuaan yang memiliki dampak terhadap aspek biologis, ekonomi, dan sosial. Lansia akan mengalami proses penuaan biologis secara terus menerus, ditandai dengan penurunan daya tahan fisik dan rentan terhadap serangan penyakit. Laporan survai Badan Pusat Statistik (2015) mengungkapkan bahwa lansia pada umumnya lebih dipandang sebagai beban ekonomi daripada sumber daya. Kehidupan lansia secara sosial juga sering dipersepsikan tidak banyak memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat.

Sebagian besar negara berkembang di dunia mendefinisikan lansia adalah orang yang berusia 60 atau 65 tahun ke atas. World Health Organization (WHO, 2007) membagi usia populasi menjadi usia pertengahan (middle age; antara usia 45 sampai 59 tahun), lanjut usia (elderly; antara usia 60 sampai 74 tahun), lanjut usia tua (old; antara usia 75 sampai 90 tahun), dan usia sangat tua (very old; diatas usia 90 tahun). Undang-Undang Republik Indonesia nomor 13/1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia mendefinisikan lansia adalah penduduk yang berumur 60 tahun ke atas.

Usia harapan hidup di Indonesia terus meningkat. Badan Pusat Statistik (2015) menunjukkan usia harapan hidup di Indonesia pada tahun 2010 adalah sebesar 69,43 tahun. Angka ini meningkat menjadi 70,8 tahun pada tahun 2015. Usia harapan hidup di Indonesia pada tahun 2030 diperkirakan mencapai 72,2 tahun.

Indonesia pernah diprediksi akan mengalami lonjakan populasi penduduk lanjut usia tertinggi di dunia. Kemenkes RI (2013) mengutip laporan dari Kinsella K dan C. M. Taeuber (1993) dalam An Aging World II, International Population Reports, memperkirakan persentase peningkatan jumlah penduduk lansia di Indonesia pada periode tahun 1990-2025 adalah sebesar 414%. Persentase peningkatan ini merupakan tertinggi di dunia. Prediksi persentase peningkatan jumlah penduduk lansia pada periode yang sama di beberapa negara menunjukkan angka yang lebih rendah, yaitu: Brazil (255%), India (242%), China (220%), dan Jepang (129%).

Jumlah penduduk lansia di Indonesia terus bertambah banyak. Badan Pusat Statistik (2015) dan Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2017) mengemukakan bahwa jumlah lansia di Indonesia pada tahun 2010 adalah sebanyak 18,1 juta jiwa, dan meningkat pada tahun 2017 menjadi sebanyak

(2)

23,66 juta jiwa. Jumlah lansia ini pada tahun 2020 diprediksi mencapai 27,08 juta jiwa, tahun 2025 mencapai 33,69 juta jiwa, dan pada tahun 2030 diperkirakan mencapai 40,95 juta jiwa.

Proporsi populasi lansia di Indonesia semakin besar. Kemenkes RI (2013) menyampaikan bahwa proporsi populasi lansia di Indonesia pada tahun 2000 adalah sebesar 7,18% dari total jumlah penduduk. Proporsi populasi lansia ini terus meningkat menjadi 7,56% (2010), 8,03% (2014), dan diperkirakan mencapai 11,34%

pada tahun 2020.

Proporsi populasi lansia yang besar akan menimbulkan dampak yang besar bagi pemerintah dan masyarakat, kususnya terkait aspek sosial, ekonomi, dan kesehatan. Badan Pusat Statistik (2015) menunjukkan nilai rasio ketergantungan lansia (old dependency ratio; ODR) di Indonesia sebesar 12,71. Hal ini menunjukkan bahwa setiap 100 orang penduduk usia produktif harus menanggung sekitar 13 orang lansia. Angka tersebut perlu mendapatkan perhatian khusus, karena mencerminkan beban ekonomi yang harus ditanggung oleh penduduk usia produktif untuk membiayai lansia dengan asumsi lansia tersebut secara ekonomi bukanlah lansia yang produktif.

Proses menua adalah suatu proses kemunduran terutama dari aspek organobiologis dan psikologik. Simanullang dkk (2011) menyampaikan bahwa proses penuaan seseorang ditentukan secara genetik dan dipengaruhi oleh gaya hidup ketika muda. Kondisi kesehatan seseorang ketika usia lanjut merupakan hasil dari proses akumulasi sejak dalam kandungan, anak-anak, dewasa, hingga menjelang lansia.

Lansia yang telah membiasakan pola hidup sehat sejak muda akan memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik dibandingkan lansia yang masa lalunya tidak berperilaku hidup sehat.

Potensi untuk menjadi lansia yang sehat dan aktif akan berhadapan dengan meningkatnya risiko berbagai macam penyakit, khususnya penyakit terkait proses penuaan. Badan Pusat Statistik (2015) mengemukakan angka kesakitan lansia tahun 2014 sebesar 25,05 persen, berarti bahwa sekitar satu dari empat lansia pernah mengalami sakit dalam satu bulan terakhir. World Health Organization (2010) mengemukakan di antara penyakit-penyakit pada lansia yang paling menyita beban ekonomi dan sosial adalah hendaya kognitif (penurunan fungsi kognitif). Hal ini terjadi karena perawatan pasien dengan hendaya kognitif memerlukan perawatan seumur hidup dengan berbagai konsekuensinya.

(3)

Hendaya kognitif (penurunan fungsi kognitif) merupakan masalah kesehatan yang berkaitan erat dengan proses penuaan. World Health Organization (2010) mengemukakan bahwa jumlah lansia yang mengalami hendaya kognitif akan meningkat seiring dengan peningkatan jumlah lansia. Data World Health Organization (2010) menunjukkan jumlah lansia yang mengalami demensia mencapai sekitar 35 juta orang, dengan proporsi bervariasi pada setiap kelompok umur, dan kecenderungan meningkat sesuai pertambahan umur.

Hendaya kognitif mengakibatkan keterbatasan kemampuan sehat pada lansia.

World Health Organization (2010) mengemukakan bahwa hendaya kognitif pada lansia merupakan penyebab terbesar terjadinya ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas normal sehari-hari. Hendaya kognitif juga merupakan alasan tersering yang mengakibatkan terjadinya care dependence pada lansia. Kondisi ini akan menjadi hambatan terbesar lansia untuk dapat menikmati masa tua dengan bahagia, dan peran lansia sebagai agen transfer pengetahuan antar-generasi juga menjadi berkurang. Oleh karena itu, penting sekali dilakukan langkah-langkah prediktif preventif untuk mengantisipasi terjadinya hendaya kognitif pada lansia melalui pelayanan kesehatan yang menyeluruh.

Pelayanan kesehatan lansia harus diberikan secara maksimal untuk memenuhi hak lansia dalam meningkatkan kesejahteraan sosialnya. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1998 Tentang Kesejahteraan Lanjut Usia mengamanatkan pelayanan kesehatan yang maksimal untuk lansia dalam rangka memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan dan kemampuannya. Hal ini dimaksudkan supaya kondisi fisik, mental, dan sosial lansia dapat berfungsi secara wajar. Pelayanan kesehatan lansia mencakup penyuluhan dan penyebarluasan informasi kesehatan, upaya penyembuhan (kuratif) yang diperluas pada bidang pelayanan geriatrik/gerontologik, serta pengembangan lembaga perawatan lansia yang menderita penyakit kronis dan/atau penyakit terminal.

Pemerintah Republik Indonesia telah membuat suatu strategi nasional penanggulangan hendaya kognitif pada lansia. Kementerian Kesehatan RI (2015) menerbitkan suatu dokumen yang diberi judul Strategi Nasional Penanggulangan Penyakit Alzheimer dan Demensia Lainnya: Menuju Lanjut Usia Sehat dan Produktif.

Dokumen tersebut merupakan suatu kerangka rancang bangun tentang langkah- langkah penanggulangan masalah hendaya kognitif pada lansia. Strategi Nasional Penanggulangan Penyakit Alzheimer dan Demensia Lainnya terdiri atas tujuh langkah

(4)

aksi, yaitu: (1) Kampanye kesadaran publik dan promosi gaya hidup sehat, (2) Advokasi hak asasi manusia bagi orang dengan demensia (“pikun”) dan pendampingnya, (3) Memastikan adanya akses informasi menuju layanan yang berkualitas, (4) Deteksi dini, diagnosis dan tata laksana holistik masalah kognitif dan demensia, (5) Sistem penguatan sumber daya manusia yang dilakukan secara professional dan berkelanjutan, (6) Sistem penguatan program kesehatan kognitif sebagai faktor utama mencerdaskan kehidupan bangsa dengan pendekatan siklus kehidupan, (7) Terlaksana dan termanfaatkannya penelitian tentang kognitif dan demensia.

Salah satu langkah penting penanggulangan masalah hendaya kognitif pada lansia adalah peningkatan kualitas deteksi dini dan diagnosis. Kementerian Kesehatan RI (2015) dalam dokumen Strategi Nasional Penanggulangan Penyakit Alzheimer dan Demensia Lainnya: Menuju Lanjut Usia Sehat dan Produktif, mengemukakan tentang pentingnya kemampuan deteksi dini, diagnosis dan tata laksana holistik masalah kognitif dan demensia di pelayanan kesehatan primer dan sekunder. Hal tersebut dapat terlaksana apabila tersedia instrumen yang baku untuk melakukan deteksi dini gangguan kognitif dan diagnosis demensia pada lanjut usia, pra lanjut usia dan semua individu dengan faktor risiko di pelayanan kesehatan primer. Oleh karena itu, Kementeria Kesehatan Republik Indonesia mendorong penguatan dan pengembangan penelitian tentang kognisi lanjut usia dan demensia, supaya hasil penelitian tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendorong pembentukan kebijakan nasional lanjut usia.

Karakteristik Epidemiologi Lansia

Indonesia termasuk negara yang berstruktur tua karena memiliki proporsi penduduk lansia lebih dari tujuh persen. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2017) memperkirakan jumlah penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2017 adalah sebesar 23,66 juta jiwa. Jumlah tersebut mencakup sekitar 9,03% dari seluruh penduduk Indonesia.

Jumlah lansia perempuan lebih banyak dibandingkan lansia laki-laki. Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (2017) menyebutkan perbandingan jumlah lansia perempuan dibandingkan lansia laki-laki di Indonesia adalah sekitar 54% berbanding 46%.

Proporsi lansia 60-65 tahun lebih banyak dibandingkan lansia >65 tahun. Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (2017) melaporkan perbandingan

(5)

persentase lansia muda, lansia madya, dan lansia tua di Indonesia adalah sekitar 61,9%, 28,57%, dan 9,53%.

Sebagian besar penduduk lansia masih berpendidikan rendah. Badan Pusat Statistik (2015) menunjukkan bahwa penduduk lansia yang mendapatkan pendidikan setingkat SLTA-Sarjana sekitar 11,52%, setingkat SD-SLTP sekitar 32,44%, dan yang tidak tamat SD sekitar 56,05%.

Prevalensi obesitas pada penduduk lansia di Indonesia cukup tinggi. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (2013) menunjukkan prevalensi obesitas (IMT ≥ 27) pada penduduk dewasa usia lebih dari 18 tahun adalah sekitar 15,4%, sedangkan prevalensi berat badan lebih (IMT ≥ 25 - < 27) adalah sekitar 13,5%.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (2007) menunjukkan prevalensi obesitas sentral pada lansia adalah sekitar 15,8-23,1%. Penelitian yang dilakukan oleh Rhaditya (2016) di kota Padang, Sumatera Barat, menunjukkan angka prevalensi obesitas pada lansia adalah sekitar 41,2%.

Prevalensi hipertensi pada penduduk lansia di Indonesia termasuk tinggi. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2016) memperkirakan prevalensi penderita hipertensi pada penduduk lansia muda di Indonesia adalah sekitar 45,9%, pada penduduk lansia madya sekitar 57,6%, dan pada penduduk lansia tua sekitar 63,8%.

Penyakit diabetes melitus adalah termasuk penyakit yang banyak diderita oleh penduduk lansia di Indonesia. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2016) menunjukkan bahwa diabetes melitus merupakan masalah kesehatan nomor lima terbesar yang diderita lansia di Indonesia, dengan prevalensi sekitar 5,5% pada lansia muda, 4,8% pada lansia madya, dan sekitar 3,5% pada penduduk lansia tua. Lansia di wilayah perkotaan cenderung memiliki risiko menderita diabetes melitus lebih tinggi (Thelin dan Holmberg, 2014).

Persentase penduduk lansia di Indonesia yang merokok masih cukup tinggi.

Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2017) memperkirakan persentase penduduk lansia yang merokok adalah sekitar 26,04%.

Persentase merokok di daerah pedesaan lebih tinggi dibandingkan perkotaan (29,11%

vs 22,54%). Persentase penduduk lansia laki-laki yang merokok jauh lebih besar (52,47%) dibandingkan lansia perempuan (2,47%).

Persentase penduduk lansia di Indonesia yang rutin melakukan latihan fisik masih belum cukup tinggi. Badan Pusat Statistik (2015) memperkirakan persentase

(6)

penduduk lansia yang rutin melakukan latihan fisik adalah sekitar 10,57%. Persentase ini di daerah perkotaan lebih tinggi dibandingkan pedesaan (17,43% vs 4,53%).

Referensi

Dokumen terkait