• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER APOTEK UAD 1 PERIODE 24 FEBRUARI S/D 5 MARET 2022

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER APOTEK UAD 1 PERIODE 24 FEBRUARI S/D 5 MARET 2022"

Copied!
105
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER APOTEK UAD 1

PERIODE 24 FEBRUARI S/D 5 MARET 2022

Disusun oleh :

Betha Candra Sari 20214040041 Dyah Wikansih S. 20214040012 Eka Wahyuni Noviasari 20214040048 Melany Ayu Octavia 20214040040 Rizka Kristi Rahayu 20214040043

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

2022

(2)

i

(3)

ii KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, Karena atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek UAD 1 yang telah dilaksanakan pada tanggal 24 Februari – 5 Maret 2022 dengan baik dan lancar. Laporan Kegiatan PKPA ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Apoteker (apt.) bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Laporan ini dapat terselesaikan atas bantuan dan bimbingan dari semua pihak. Untuk itu penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang turut ikut membantu dalam menyelesaikan laporan ini, terutama kepada :

1. Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang telah memberikan kesempatan dan dukungan kepada penyusun untuk dapat melaksanakan Praktik Kerja Profesi Apoteker.

2. Dr. dr. Sri Sundari, M.Kes, selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

3. Dr. apt. Ingenida Hadning, M.Sc., selaku Kepala Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker FKIK UMY.

4. apt. Sabtanti Harimurti, PhD selaku Dosen Pembimbing Praktik Kerja Profesi Apoteker yang telah meluangkan waktu dalam membimbing, memberikan dukungan, arahan dan masukan selama pelaksanaan praktik kerja ini.

5. apt. Tetie Herlina, M.Farm selaku Apoteker Pengelola Apotek sekaligus Perseptor PKPA di Apotek UAD 1 yang telah memberi bimbingan, arahan, semangat serta memberi kritik dan saran yang membangun selama kegiatan PKPA berlangsung.

6. Seluruh Dosen dan Staf Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta atas ilmu selama perkuliahan yang menjadi bekal dalam pelaksanaan PKPA.

7. Seluruh staf dan karyawan Apotek UAD 1 Yogyakarta atas ilmu dan batuan yang diberikan.

(4)

iii 8. Kedua orang tua yang selalu memberi semangat, doa, dan motivasi yang luar biasa

dengan kasih sayang bagi penulis.

9. Teman-teman seperjuangan profesi apoteker angkatan 10 yang selalu kompak, semangat dan memberikan motivasi.

Kami menyadari bahwa penyusunan laporan ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kami dengan senang hati menerima segala kritik dan saran yang ada demi perbaikan laporan ini dimasa yang akan datang. Semoga laporan PKPA ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan pada umunya dan ilmu farmasi secara khususnya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Yogyakarta, 7 Maret 2022

Tim Penulis

(5)

iv DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...

HALAMAN PENGESAHAN ... Error! Bookmark not defined.

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR GAMBAR ... v

DAFTAR LAMPIRAN ... vi

DAFTAR TUGAS ... vii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Praktik Kerja Profesi Apoteker ... 1

B. Tujuan Praktik Kerja Profesi Apoteker ... 3

C. Manfaat Praktik Kerja Profesi Apoteker ... 3

BAB II. KEGIATAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DAN PEMBAHASAN ... 4

A. Profil Apotek Tempat Praktik Kerja Profesi Apoteker ... 4

B. Pengelolaan Obat di Apotek UAD 1 ... 7

C. Pengelolaan dan Pelayanan Resep ... 21

D. Administratif ... 23

E. Sumber Daya Manusia ... 24

F. Perpajakan Apotek ... 25

G. Pharmaceutical Care ... 25

BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN ... 34

A. Kesimpulan ... 34

B. Saran ... 35

BAB IV. DAFTAR PUSTAKA ... 36

(6)

v DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Bagan Organisasi Apotek UAD 1 Yogyakarta ... 5

Gambar 2. Contoh Surat Pesanan Reguler di Apotek UAD ... 12

Gambar 3. Surat Pesanan Psikotropika di Apotek UAD... 13

Gambar 4. Surat Pesanan Prekursor di Apotek UAD ... 13

Gambar 5. Surat Pesanan Narkotika di Apotek UAD ... 14

Gambar 6. Surat Pesanan OOT di Apotek UAD ... 15

(7)

vi DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Apotek UAD 1 ... 38

Lampiran 2. Tampak Depan, Ruang Tunggu, dan Kasir ... 38

Lampiran 3. Meja Peracikan Obat dan Tempat Penyerahan Obat ... 39

Lampiran 4. Lemari Pendingin, Alat Pengatur Suhu, dan Kelembaban Lingkungan ... 40

Lampiran 5. Etalase Obat Herbal ... 41

Lampiran 6. Etalase Obat Sirup ... 41

Lampiran 7. Etalase Obat OTC ... 42

Lampiran 8. Rak Penyimpanan stok obat generik dan paten ... 42

Lampiran 9. Lemari Obat Psikotropika dan Kartu Stok Psikotropika ... 43

Lampiran 10. Etalase Obat Luar dan Produk Penggunaan Non Oral ... 44

Lampiran 11. Etalase Suplemen dan Vitamin ... 45

Lampiran 12. Gudang Penyimpanan Obat ... 46

Lampiran 13. Contoh input pembelian obat ... 46

Lampiran 14. Obat Resep ... 47

Lampiran 15. Penerimaan Obat ... 47

Lampiran 16. Contoh Surat Pesanan ... 48

(8)

vii DAFTAR TUGAS

Tugas 1. Peraturan-Peraturan di Apotek ... 49

Tugas 2. Titik Kritis Halal Haram Suatu Produk ... 51

Tugas 3. Studi Kelayakan ... 56

Tugas 4. Tugas Skrining Resep... 81

(9)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Praktik Kerja Profesi Apoteker

Kesehatan merupakan keadaan seseorang bisa dikatakan baik secara fisik, mental, spiritual, maupun sosial sehingga dapat hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009). Upaya kesehatan merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi, dan berkesinambungan dalam pemeliharaan serta peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat. Bentuk dari upaya kesehatan dapat dilakukan melalui pendekatan peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), pengobatan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif). Salah satu upaya kesehatan yang dapat dilakukan adalah upaya dalam menyediakan obat-obatan yang bermutu tinggi, aman, dan efektif dengan harga yang terjangkau. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penyusunan langkah-langkah untuk menjamin ketersediaan obat dengan jenis dan jumlah yang memadai dengan distribusi secara merata, menjamin kebenaran khasiat obat, serta keamanan dan keabsahan obat yang beredar. Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan adanya pelayanan kesehatan yang berkaitan langsung dengan penyediaan obat-obatan. Salah satu sarana pelayanan kesehatan yang turut berperan sebagai tempat pelayanan penyaluran sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan yang termasuk dalam pekerjaan kefarmasian kepada masyarakat. Apotek juga berperan sebagai sarana pemberian informasi obat kepada masyarakat dan tenaga kesehatan lainnya sehingga kedua belah pihak tersebut dapat mendapatkan pengetahuan yang benar mengenai obat dan turut meningkatkan penggunaan obat-obatan yang rasional (Departemen Kesehatan RI, 2004).

Pekerjaan kefarmasian merupakan kegiatan yang meliputi pengendalian mutu sediaan farmasi: perencanaan, pengadaan, penyimpanan, dan pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dari dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat, dan obat tradisional yang salah satu sarana pelaksanaan pekerjaan kefarmasian adalah di apotek (Peraturan

(10)

2 Pemerintah RI Nomor 51 Tahun 2009). Pelaksanaan pekerjaan kefarmasian sendiri harus dilakukan oleh tenaga kefarmasian yang terdiri dari apoteker dan tenaga teknis kefarmasian. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, yang dimaksud dengan Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker, berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan berhak melakukan pekerjaan kefarmasian. Tenaga teknis kefarmasian merupakan tenaga yang membantu apoteker dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian, yang terdiri dari sarjana farmasi, ahli madya farmasi, analis farmasi, dan tenaga menengah farmasi atau asisten apoteker.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, Apotek merupakan sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukannya praktik kefarmasian oleh apoteker, dalam hal ini apoteker berperan dalam pelaksanaan tugas profesional pelayanan kefarmasian dan kegiatan manajerial di apotek. Dalam hal ini, apoteker harus memahami pengelolaan perbekalan farmasi yang ada di apotek, manajemen apotek dan pelayanan kefarmasian dengan patient-oriented, sehingga aspek dari berpraktek secara profesional sebagai apoteker dan praktek berbisnis sebagai pengusaha dapat berjalan berdampingan dan dapat menguntungkan dengan tetap menjalankan praktik patient-oriented.

Mengingat pentingnya peranan seorang apoteker di apotek dan upaya untuk meningkatkan kompetensi apoteker di apotek, maka calon-calon apoteker perlu membekali diri dengan pengetahuan dan berperan aktif secara langsung di apotek.

Oleh karena itu, dibutuhkan suatu wadah yang mampu memberikan bekal kepada calon apoteker untuk menyelaraskan antara teori yang diperoleh dengan praktik kerja di lapangan yang sesungguhnya. Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) merupakan kegiatan bagi mahasiswa profesi apoteker yang diharapkan dapat melatih kompetensi diri calon apoteker dalam berpraktek langsung di apotek. PKPA apotek ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap profesional kerja dalam melaksanakan pelayanan farmasi klinik dan manajerial di apotek, sehingga dapat menghasilkan calon tenaga apoteker yang sudah siap dalam kompetensinya dan diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat. Praktek Kerja Profesi Apoteker ini dilaksanakan di Apotek UAD 1 yang beralamat di Jl. Cendana No. 9A Yogyakarta pada tanggal 24 Januari 2022 sampai 5 Maret 2022.

(11)

3 B. Tujuan Praktik Kerja Profesi Apoteker

Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) yang dilaksanakan di apotek bertujuan untuk:

1. Meningkatkan pemahaman bagi calon apoteker tentang peran, fungsi, dan tanggung jawab seorang apoteker dalam pelayanan kefarmasian baik secara farmasi klinis maupun manajerial di apotek.

2. Meningkatkan wawasan, pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman praktis kepada calon apoteker untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di apotek.

3. Meningkatkan pengetahuan calon apoteker tentang strategi dalam pengembangan praktek farmasi komunitas di apotek.

C. Manfaat Praktik Kerja Profesi Apoteker

Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) yang dilaksanakan di apotek memberikan manfaat antara lain :

1. Mengetahui, memahami tugas dan tanggung jawab apoteker dalam mengelola apotek sesuai dengan kode etik dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Mendapatkan pengalaman praktis mengenai pekerjaan kefarmasian di apotek.

3. Meningkatkan rasa percaya diri untuk menjadi apoteker yang profesional.

4. Mahasiswa dapat mengetahui gambaran dunia kerja yang sebenarnya untuk dijadikan sebagai suatu sarana pembelajaran dalam meningkatkan komunikasi serta pemahaman manajerial.

5. Melatih calon apoteker untuk bersosialisasi dengan teman profesi lain, teman sejawat maupun pasien.

6. Melatih rasa disiplin dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas.

(12)

4 BAB II

KEGIATAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DAN PEMBAHASAN

A. Profil Apotek Tempat Praktik Kerja Profesi Apoteker

Apotek UAD adalah badan usaha milik Universitas Ahmad Dahlan.

Berdirinya Apotek UAD mempunyai tujuan sebagai tempat pengabdian profesi apoteker serta media pembelajaran calon apoteker Fakultas Farmasi UAD. Apotek UAD sendiri selalu menyediakan obat yang bermutu guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan memberikan informasi tentang kesehatan terutama tentang obat dan pengobatan yang rasional. Apotek UAD memiliki visi dan misi, visi apotek UAD adalah prima dalam pelayanan, profesional dalam bisnis, komitmen dalam pendidikan. Sedangkan misi apotek UAD adalah menjadi apotek yang berorientasi pada pasien melalui pelayanan prima, menjadi apotek yang mampu bersaing melalui pengelolaan bisnis yang profesional dan menjadi apotek pendidikan bagi calon apoteker yang dilandasi nilai-nilai keislaman.

Apotek UAD 1 didirikan pada tanggal 16 Agustus 2004 dengan SIA nomor 503/1912 yang beralamat di Jl. Cendana No. 9A Semaki, Kecamatan Umbulharjo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi apotek ini berada didaerah perkantoran dan terhubung dengan kampus UAD. Apoteker pengelola apotek di apotek UAD yaitu apt. Tetie Herlina, M. Farm. Pada saat ini UAD memiliki beberapa apotek cabang yaitu : Apotek UAD 2 di Ruko IBC Jl. Jambon Kricak Tegalrejo, Apotek UAD 3 di Janturan, dan Apotek UAD 4 di Jl. Bantulan Sidoarum Godean di Yogyakarta.

Apotek UAD 1 memiliki luas bangunan 4x13 m², adapun ruangan yang ada di apotek UAD 1 terdiri dari ruang penerimaan dan penyerahan obat yang dilengkapi 6 dengan etalase obat, ruang konseling, ruang peracikan, ruang penyimpanan obat dan arsip, mushola, ruang tunggu dan toilet. Terdapat ruang praktek dokter gigi dan dokter umum. Akan tetapi, selama pandemi Covid-19 ini dokter umum dan dokter gigi untuk sementara tidak melayani pasien. Dalam kesehariannya, apotek UAD 1 buka pada pukul 08.00 – 21.00 WIB. Terdiri dari dua shift yaitu shift pagi pukul 08.00 – 14.30 dan shift sore pukul 14.30 – 21.00. Setiap shift terdapat 2 orang karyawan yang

(13)

5 bertugas. Gambar 1 adalah struktur organisasi apotek UAD, yang masing-masing memiliki tugas dan tanggung jawab.

Gambar 1. Bagan Organisasi Apotek UAD 1 Yogyakarta

Berdasarkan gambar 1, jumlah tenaga kerja yang ada di Apotek UAD 1 adalah 4 orang, dengan rincian 1 orang sebagai Apoteker Pengelola Apotek (APA), 2 orang sebagai Apoteker Pendamping dan 1 orang sebagai tenaga Administrasi Umum.

Berikut ini merupakan uraian tugas dan tanggung jawab tenaga kerja di apotek UAD 1, yaitu:

1. Apoteker Pengelola Apotek (APA)

a. Bertanggung jawab atas segala kegiatan di apotek b. Bertanggung jawab atas pelayanan kefarmasian c. Bertanggung jawab dalam kemajuan apotek d. Bertanggung jawab dalam pengembangan apotek

e. Bertanggung jawab pelaporan keuangan dan perkembangan apotek ke Universitas Ahmad Dahlan

f. Bertanggung jawab dalam pelaksanaan PKPA dan PKL di apotek g. Membantu apoteker melakukan pelayanan kefarmasian

h. Melakukan teknis pembelian barang ke PBF

i. Melakukan teknis administrasi pembelian, meliputi penomoran SP, pengarsipan copy SP, pengarsipan copy faktur

(14)

6 j. Bertanggung jawab atas monitoring pasien

2. Apoteker Pendamping (APING)

a. Bertanggung jawab atas segala kegiatan di apotek pada shiftnya b. Bertanggung jawab dalam pelayanan kefarmasian pada shiftnya c. Bertanggung jawab atas sumber daya manusia di apotek

d. Bertanggung jawab atas administrasi termasuk pengarsipan SP, faktur, resep, laporan dan segala arsip apotek

e. Bertanggung jawab pelaporan ke instansi pemerintah f. Bertanggung jawab penataan barang dan kerapihannya

g. Bersama APA melakukan pembimbingan mahasiswa PKPA dan PKL di apotek

h. Melakukan pemantauan barang-barang menjelang ED dan proses retur barang tersebut

3. Asisten Apoteker

a. Melakukan pemantauan barang-barang menjelang ED dan proses retur barang tersebut

b. Membantu melakukan pengarsipan resep

c. Melakukan teknis pengarsipan obat narkotika dan psikotropika, meliputi kesesuaian kartu stok dengan fisik obat, arsip copy SP dan copy faktur, arsip resepnya

d. Bertanggung jawab pada laporan keuangan di shift pagi dan melaporkan pada bagian keuangan

e. Membantu pelaksanaan PKPA dan PKL f. Bertanggung jawab atas pengisian buku OWA 4. Administrasi Umum

a. Melakukan pelayanan obat-obatan HV b. Membantu peracikan obat

c. Melakukan entry pembelian

d. Memberi masukan kepada bagian order tentang PBF, harga, dan diskon e. Melakukan teknis pembuatan laporan ke instansi pemerintah

f. Melakukan pemeliharaan sarana dan peralatan apotek g. Membantu pengetikan

h. Melakukan penataan barang dan kerapihannya

(15)

7 i. Melakukan entry kenaikan harga dan mengganti label harga barang yang

berubah

j. Memberi label harga dan memeriksa supaya selalu up to date k. Membantu pelaksanaan PKPA dan PKL

B. Pengelolaan Obat di Apotek UAD 1

Pengelolaan apotek adalah segala upaya dan kegiatan yang dilakukan oleh seorang Apoteker Pengelola Apotek (APA) dalam rangka tugas dan fungsi apotek yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan penilaian.

Pengelolaan apotek merupakan kegiatan yang dilakukan oleh apotek dalam menjalankan fungsinya sebagai suatu tempat pelayanan dan penyediaan perbekalan farmasi.

Pengelolaan persediaan obat di apotek sangat diperlukan karena berkaitan dengan pelayanan terhadap pasien dan berpengaruh pada fungsi pemasaran dan keuangan apotek. Pengelolaan persediaan yang tepat dapat mengantisipasi kebutuhan pasien yang sering kali tidak dapat diprediksi.

Apoteker bertanggung jawab terhadap pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai di Apotek sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta memastikan kualitas, manfaat dan keamanannya. Pengelolaan sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan bahan medis habis pakai meliputi perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan dan lain sebagainya dengan mempertimbangkan anggaran yang diberikan. Pengelolaan sediaan farmasi harus dilaksanakan secara multidisiplin, terkoordinir dan menggunakan proses yang efektif untuk menjamin kendali mutu dan kendali biaya.

Sistem Informasi Manajemen (SIM) di Apotek UAD menggunakan aplikasi IAAS program ini membantu dalam semua pengelolaan obat di Apotek UAD.

Diantaranya yaitu pembelian, penjualan, dan jumlah stok sehingga dapat memudahkan mengetahui obat mana saja yang jumlah stoknya hampir habis ataupun habis sehingga dapat segera dilakukan pemesanan kembali.

Pengelolaan persediaan obat - obatan dilaksanakan secara terstruktur serta menggunakan proses yang efektif untuk menjamin kendali mutu dan kendali biaya.

Pengelolaan persediaan obat - obatan di apotek meliputi beberapa tahapan diantaranya adalah perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pemusnahan, pengendalian, pencatatan, dan pelaporan.

1. Perencanaan

(16)

8 Perencanaan merupakan tahap awal untuk menetapkan jenis, jumlah, serta harga sediaan farmasi, alat kesehatan dan BMHP yang sesuai dengan kebutuhan.

Tujuan Perencanaan antara lain :

a. Mendapatkan perkiraan jenis dan jumlah sediaan farmasi, alat kesehatan dan BMHP yang mendekati kebutuhan;

b. Meningkatkan penggunaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan BMHP secara rasional;

c. Menjamin ketersediaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan BMHP;

d. Menjamin stok sediaan farmasi, alat kesehatan dan BMHP tidak berlebih;

e. Efisiensi biaya;

f. Memberikan dukungan data bagi estimasi pengadaan, penyimpanan dan biaya distribusi sediaan farmasi, alat kesehatan dan BMHP.

Perencanaan di Apotek UAD dilakukan oleh APA (Apoteker Penanggungjawab Apotek) dengan melihat buku defecta di system IAAS. Pada proses perencanaan perlu memperhatikan waktu yang dibutuhkan, mengestimasi periode pengadaan, mengestimasi safety stock dan memperhitungkan leadtime.

Perencanaan di Apotek UAD 1 menggunakan metode konsumsi. Data yang dibutuhkan antara lain data penggunaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan BMHP pasien periode sebelumnya. Data yang dilihat adalah data konsumsi tahun lalu dengan penyesuaian yang dibutuhkan. Perhitungan dengan metode konsumsi didasarkan atas analisa data konsumsi sediaan farmasi periode sebelumnya ditambah stok penyangga (buffer stock), stok waktu tunggu (lead time) dan memperhatikan sisa stok. Buffer stock dapat mempertimbangkan kemungkinan perubahan polapenyakit dan kenaikan jumlah kunjungan (misal: adanya Kejadian Luar Biasa). Jumlah buffer stock bervariasi antara 10% sampai 20% dari kebutuhan atau tergantung kebijakan Apotek. Sedangkan stok lead time adalah stok Obat yang dibutuhkan selama waktu tunggu sejak Obat dipesan sampai Obat diterima.

Namun selama pandemi COVID-19 metode yang digunakan tidak hanya dari metode konsumsi, melainkan juga dari metode epidemiologi dimana perencanaannya dilihat dari data penyakit di sekitar apotek. Contohnya pada saat pandemi obat-obatan yang paling cepat terjual adalah multivitamin, obat batuk, serta obat flu sehingga APA mengadakan obat-obatan tersebut lebih banyak.

(17)

9 Apotek UAD 1 untuk menjamin ketersediaan obat dan efisiensi anggaran perlu dilakukan analisa saat perencanaan. Evaluasi perencanaan dilakukan dengan cara analisis menggunakan metode ABC.

a. Kelompok A

Kelompok A adalah kelompok jenis sediaan farmasi yang jumlah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan dana sekitar 70% dari jumlah dana obat keseluruhan.

b. Kelompok B

Kelompok B adalah kelompok jenis sediaan farmasi yang jumlah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan dana sekitar 20%.

c. Kelompok C

Kelompok C adalah kelompok jenis sediaan farmasi yang jumlah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan dana sekitar 10% dari jumlah dana obat keseluruhan.

Dengan analisis ABC, jenis-jenis sediaan farmasi ini dapat diidentifikasi, untuk kemudian dilakukan evaluasi lebih lanjut. Evaluasi ini misalnya dengan mengoreksi kembali apakah penggunaannya memang banyak atau apakah ada alternatif sediaan lain yang lebih efesiensi biaya (misalnya nama dagang lain, bentuk sediaan lain dan sebagainya). Evaluasi terhadap jenis-jenis sediaan farmasi yang menyerap biaya terbanyak juga lebih efektif dibandingkan evaluasi terhadap sediaan farmasi yang relatif memerlukan anggaran sedikit.

2. Pengadaan

Pengadaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang telah direncanakan dan disetujui, melalui pembelian. Untuk menjamin kualitas pelayanan kefarmasian maka pengadaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan BMHP harus melalui jalur resmi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pengadaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan BMHP di apotek dilaksanakan dengan pembelian. Pengadaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai yang dilakukan oleh Apotek harus sesuai dengan perencanaan agar tidak terjadi kekosongan stok obat dan meminimalkan resiko stok obat kadaluarsa. Pengadaan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Sediaan farmasi diperoleh dari Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang memiliki izin.

(18)

10 b. Alat Kesehatan dan BMHP diperoleh dari Penyalur Alat Kesehatan (PAK)

yang memiliki izin.

c. Terjaminnya keaslian, legalitas dan kualitas setiap sediaan farmasi, alat kesehatan dan BMHP yang dibeli.

d. Sediaan farmasi, alat kesehatan dan BMHP yang dipesan datang tepat waktu.

e. Dokumen terkait sediaan farmasi, alat kesehatan dan BMHP mudah ditelusuri.

f. Sediaan farmasi, alat kesehatan dan BMHP lengkap sesuai dengan perencanaan.

Pengadaan meliputi pemesanan, pembelian dan penerimaan barang.

Pengadaan ini dilakukan oleh Apoteker Penanggungjawab Apotek dan dibantu dengan Asisten Apoteker. Untuk menjamin kualitas Pelayanan Kefarmasian maka pengadaan Sediaan Farmasi harus melalui jalur resmi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Pengadaan sediaan farmasi dilakukan pemesanan ke distributor atau Pedagang Besar Frmasi (PBF). Terdapat 2 jenis PBF yaitu PBF Utama/ Distibutor dan PBF Cabang/ Subdistibutor.

a. PBF Utama/ Distibutor PBF Utama bersifat nasional dan memiliki perwakilan kantor cabang disetiap area. Kelebihan dalam pemesanan melalui PBF Utama yaitu dapat menjamin keaslian produk, ketersediaan produk dan kemudahan retur.

b. PBF Cabang/Subdistibutor 10 PBF Cabang biasanya terdapat di suatu daerah tertentu saja. Hal ini dikarenakan PBF utama tidak dapat menjangkau daerah tersebut. PBF cabang bekerjasama dengan PBF Utama. Kelebihan dari subdistributor biasanya memiliki diskon yang lebih besar disbanding dengan distributor utama.

Pengadaan barang di Apotek UAD 1 berdasarkan buku defecta (buku berisi data obat atau barang yang kosong), rencana anggaran pembelian, pengamatan fisik persediaan obat yang menipis dan pola penyakit yang terjadi di masyarakat yang terdapat dalam system IAAS (komputerisasi). Pengadaan hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam jangka waktu tertentu dan dalam jumlah terbatas berdasarkan stok aman. Ini dilakukan untuk menghindari kelebihan stok yang dapat menyebabkan biaya penyimpanan semakin besar, resiko obat rusak dan ED (expired date).

(19)

11 Kriteria yang perlu diperhatikan dalam pemesanan, antara lain jumlah dan macam barang disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi keuangan dan kategori arus barang (fast atau slow moving), serta pemilihan PBF. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam memilih PBF adalah :

a. Legalitas pemasok atau Pedangang Besar Farmasi (PBF)

b. Service, meliputi kecepatan dan ketepatan pengiriman, serta kemudahan retur c. Kualitas obat, perbekalan farmasi dan pelayanan yang diberikan, dan

d. Harga yang ditawarkan dan diskon atau bonus yang diberikan.

Semua pengadaan dan perbekalan farmasi di Apotek UAD menjadi tanggung jawab APA yang pelaksanaannya dibantu oleh APING. Pemesanan barang dilakukan setiap hari berdasarkan kebutuhan apotek. Kelebihan Apotek UAD adalah berada di tengah kota Jogja sehingga tidak memerlukan lead time/waktu tunggu yang lama. Barang dipesan melalui salesman dari PBF yang datang ke apotek ataupun melalui aplikasi masing-masing PBF. Pemesanan juga dapat dilakukan melalui telepon.

Barang-barang yang dipesan melalui aplikasi ataupun telepon, SP (surat pesanan) dibuat dan diserahkan pada waktu barang datang. Setelah itu SP akan ditanda tangani serta diberikan cap apotek oleh APA atau TTK dan diserahkan kepada PBF bersama dengan barang yang datang. Untuk pemesanan obat narkotika, psikotropika, prekursor dan OOT, SP harus diberikan terlebih dahulu ke pihak PBF, kemudian ketika SP sudah diterima dan barangnya ada, PBF mengirimkan barang yang dipesan dan yang menerima harus APA. Jika barang tidak tersedia di PBF, maka akan diberikan surat penolakan.

Apotek UAD memiliki 5 macam Surat Pesanan (SP) yaitu : a. SP Reguler

SP Reguler digunakan untuk memesan obat dengan golongan Obat Bebas (OB), Obat Bebas Terbatas (OBT), Obat Keras (OK), alat kesehatan, dan barang medis habis pakai. Satu SP regular diperolehkan memuat lebih dari satu jenis item obat. SP Reguler terdiri dari dua rangkap, rangkap pertama untuk diberikan ke PBF dan rangkap kedua untuk arsip apotek.

Gambar 2 merupakan contoh surat pesanan (SP) reguler Apotek UAD.

(20)

12 Gambar 2. Contoh Surat Pesanan Reguler di Apotek UAD

b. SP Psikotropika

SP Psikotropika digunakan hanya untuk memesan golongan obat psikotropika. SP Psikotropika diperbolehkan memuat lebih dari satu jenis item obat dan pemesanan dapat dilakukan selain ke PT. Kimia Farma. SP Psikotropika terdiri dari minimal tiga rangkap, rangkap pertama untuk PBF, rangkap kedua untuk arsip apotek, dan rangkap ketiga untuk surat pengiriman. Contoh obat psikotropika golongan IV adalah alprazolam, diazepam, fenobarbital, klobazam, flurazepam, zoloidem. Pada gambar 3 merupakan contoh dari Surat Pesanan Psikotropika di Apotek UAD.

(21)

13 Gambar 3. Surat Pesanan Psikotropika di Apotek UAD

c. SP Prekursor

SP Prekursor digunakan hanya untuk pemesanan golongan obat prekursor. SP Prekursor diperbolehkan memuat lebih dari satu jenis item obat dan pemesanan dapat dilakukan selain ke PT. Kimia Farma. SP Prekursor terdiri dari dua rangkap, rangkap pertama untuk PBF dan rangkap kedua untuk arsip apotek. Contoh obat golongan prekursor adalah efedrin, pseudoefedrin, norephedrine / phenylpropanolamine, ergotamine, ergometrine, potassium permanganate. Pada gambar 4 merupakan contoh surat pesanan Prekursor Apotek UAD.

Gambar 4. Surat Pesanan Prekursor di Apotek UAD d. SP Narkotika

SP Narkotika digunakan hanya untuk memesan golongan obat narkotik.

Pemesanan obat hanya dapat ditujukan kepada PT. Kimia Farma untuk narkotika jenis MST. Satu SP Narkotika hanya memuat satu jenis item obat dengan satu jenis kekuatan sediaan (dosis). SP Narkotika terdiri dari lima rangkap dengan warna yang berbeda yaitu warna putih untuk Pedagang Besar Farmasi (PBF), warna biru untuk Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), warna merah muda untuk Dinkes Provinsi, warna merah muda untuk Dinkes Kabupaten/Kota, dan warna kuning untuk arsip Apotek. Di

(22)

14 apotek UAD sendiri tidak terdapat obat-obat narkotika sehingga tidak pernah dilakukan pemesanan obat narkotika. Contoh obat narkotika adalah fentanyl, morfin, petidin, oksikodon, kodein, dihidrokodeina, propiram, buprenorfina.

Gambar 5 merupakan contoh surat pesanan narkotika Apotek UAD.

Gambar 5. Surat Pesanan Narkotika di Apotek UAD e. SP Obat-Obat Tertentu (OOT)

SP OOT digunakan hanya untuk pemesanan golongan obat-obat tertentu. SP OOT diperbolehkan memuat lebih dari satu jenis item obat dan pemesanan dapat dilakukan selain ke PT. Kimia Farma. SP OOT terdiri dari dua rangkap, rangkap pertama berwarna putih untuk Pedagang Besar Farmasi (PBF), dan rangkap kedua berwarna biru muda disimpan sebagai arsip untuk apotek. Contoh OOT (Obat-Obat Tertentu) adalah amitriptilin, tramadol, haloperidol, chlordiazepoksid, dekstromethorpan, triheksifenidil, klorpromazin. Gambar 6 merupakan surat pesanan Obat – Obat Tertentu (OOT) Apotek UAD.

(23)

15

Gambar 6. Surat Pesanan OOT di Apotek UAD 3. Penerimaan

Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam surat pesanan dengan kondisi fisik yang diterima. Penerimaan dan pemeriksaan merupakan salah satu kegiatan pengadaan agar obat yang diterima sesuai dengan jenis, jumlah dan mutunya berdasarkan Faktur Pembelian dan/atau Surat Pengiriman Barang yang sah.Penerimaan sediaan farmasi di Apotek harus dilakukan oleh Apoteker. Bila Apoteker berhalangan hadir, penerimaan sediaan farmasi dapat didelegasikan kepada Tenaga Kefarmasian yang ditunjuk oleh Apoteker Pemegang SIA. Pendelegasian dilengkapi dengan Surat Pendelegasian.

Pemeriksaan sediaan farmasi yang dilakukan meliputi :

a. Kondisi kemasan termasuk segel, label/penandaan dalam keadaan baik.

b. Kesesuaian nama, bentuk, kekuatan sediaan obat, isi kemasan antara arsip surat pesanan dengan obat yang diterima.

c. Kesesuaian antara fisik obat dengan Faktur pembelian dan/atau Surat

Pengiriman Barang (SPB) yang meliputi: kebenaran nama produsen, nama pemasok, nama obat, jumlah, bentuk, kekuatan sediaan obat dan isi kemasan;

dan nomor bets dan tanggal kedaluwarsa.

(24)

16 Apabila hasil pemeriksaan ditemukan sediaan farmasi yang diterima tidak sesuai dengan pesanan seperti nama, kekuatan sediaan sediaan farmasi, jumlah atau kondisi kemasan dan fisik tidak baik, maka sediaan farmasi harus segera dikembalikan pada saat penerimaan. Apabila pengembalian tidak dapat dilaksanakan pada saat penerimaan misalnya pengiriman melalui ekspedisi maka dibuatkan Berita Acara yang menyatakan penerimaan tidak sesuai dan disampaikan ke pemasok untuk dikembalikan. Jika pada hasil pemeriksaan dinyatakan sesuai dan kondisi kemasan baik maka Apoteker atau Tenaga Kefarmasian yang mendapat delegasi wajib menandatangani Faktur Pembelian dan/atau Surat Pengiriman Barang dengan mencantumkan nama lengkap, nomor SIPA/SIPTTK dan stempel sarana.

Apabila yang dipesan sesuai dan kondisinya baik maka faktur baru ditandatangani oleh penerima barang (TTK atau APA) yang disertai nama terang, nomor S.I.K, tanggal dan cap apotek. Faktur yang telah ditanda tangani dikembalikan kepada pengiriman barang dan apotek akan menerima 1 lembar salinannya sebagai arsip.

Faktur berfungsi sebagai tanda bukti dari PBF sebagai kreditur pada saat transaksi jual-beli barang. Faktur asli akan diberikan ke PBF dan faktur copy akan menjadi arsip apotek. Faktur akan diarsipkan perbulan berdasarkan pemesanan barang, termasuk obat keras tertentu atau tidak, kemudian disimpan digudang untuk memudahkan pencarian apabila ada barang yang akan di retur. Setelah dilakukan penerimaan barang, kemudian dilakukan input penerimaan barang kedalam SIM apotek melalui aplikasi IAAS. Dalam aplikasi ini akan dicatat nama distributor, nomor faktur, nama item, tanggal kadaluarsa, jumlah item, harga satuan, PPN, diskon dan nomor batch. Setelah pengisian SIM maka otomatis stok obat akan ter-update. Hal ini sangat memudahkan saat pencarian obat, hanya menginput nama obat maka akan muncul jumlah stok yang tersedia.

4. Penyimpanan

Penyimpanan adalah suatu kegiatan menyimpan dan memelihara dengan cara menempatkan perbekalan farmasi yang diterima pada tempat yang dinilai aman dari pencurian serta gangguan fisik yang dapat merusak mutu sediaan farmasi. Tujuan penyimpanan adalah untuk memelihara mutu sediaan farmasi,

(25)

17 menghindari penggunaan yang tidak bertanggungjawab, menjaga ketersediaan, serta memudahkan pencarian dan pengawasan.

Penyimpanan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai harus disimpan sesuai dengan petunjuk penyimpanan agar menjamin stabilitas dan keamanannya. Setelah menerima barang dari PBF maka akan diletakan barang sesuai dengan bentuk sediaan, disusun secara alfabetis dan efek farmakologi. Metode penyimpanan yang digunakan di Apotek UAD 1 yaitu FIFO (First In First Out) dan FEFO (First Expired First Out). Metode FIFO adalah metode penyimpanan sediaan farmasi yang baru masuk diletakkan dibelakang sediaan farmasi yang terdahulu. Metode FEFO adalah metode penyimpanan sediaan farmasi yang mempunyai waktu kadaluarsa lebih lama diletakkan dibelakang sediaan yang mempunyai waktu kadaluarsa lebih pendek maupun sediaan yang baru datang. Selain itu untuk obat-obat LASA (Look Alike Sounds Alike) diberikan stiker LASA untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam penyiapan obat. Etalase penyimpanan obat di Apotek UAD 1 dibedakan berdasarkan golongan obat.

a. Obat Over The Counter (OTC)

Obat golongan OTC diantaranya yaitu golongan Obat Bebas, Obat Bebas Terbatas dan Multivitamin. Etalase obat OTC ini disimpan di etalase bagian depan apotek. Obat-obat ini disimpan berdasarkan bentuk sediaan, efek farmakologis dan sesuai alfabetis.

a) Adapun penataannya yaitu:

b) Sediaan padat untuk multivitamin, obat gangguan pencernaan, obat asma c) Sediaan cair untuk antipiretik, batuk, flu, dan gangguan saluran

pencernaan

d) Sediaan semipadat untuk anti jamur, anti jerawat, dan krim analgetik e) Sediaan tetes mata

f) Sediaan padat untuk antipiretik, analgetik, batuk, flu, dan gangguan saluran cerna

g) Sediaan minyak dan balsam

(26)

18 b. Barang Bukan Obat

Penyimpanan barang bukan obat disimpan pada etalase bagian depan Apotek. Adapun penataannya yaitu:

a) Perlengkapan mandi (sabun, shampo dan pasta gigi).

b) Susu, madu, sari kurma, obat kumur, dan obat herbal.

c) Lain-lain: pembalut wanita, popok anak, popok dewasa, tisu, dan kapas.

d) Alat kesehatan: masker, kompres es, termometer, kassa steril, handsaplast, handsanitizer, wing needle, oxygen, alat kontrasepsi

c. Obat di Ruang Peracikan

Penataan obat yang berada di ruang peracikan yaitu diperuntukkan untuk golongan obat keras. Adapun penataannya yaitu:

a) Lemari obat paten dan branded (obat keras) b) Lemari obat generic

c) Lemari obat salep dan tetes mata d) Lemari penyimpanan stok obat d. Obat Psikotropika dan OOT

Penyimpanan obat psikotropika berada di lemari besi yang terkunci.

Sedangkan untuk obat OOT dipisahkan di lemari lain. Lemari penyimpanan psikotropika dan OOT ini terletak di ruang peracikan.

e. Obat dengan Penyimpanan Khusus

Beberapa obat perlu disimpan dalam suhu khusus yaitu diletakkan di lemari es dengan suhu 20C – 80C. Untuk menjaga stabilitas obat- obat ini maka diperlukan untuk disimpan di suhu tertentu. Beberapa obat yang disimpan pada lemari es diantaranya yaitu insulin, suppositoria, tetes mata, tetes telinga, dan sediaan injeksi.

5. Pemusnahan

Sediaan farmasi kedaluwarsa atau rusak harus dimusnahkan sesuai dengan jenis dan bentuk sediaan. Berdasarkan PMK No. 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, terdapat dua pemusnahan yang dilakukan di apotek yaitu pemusnahan sediaan farmasi dan pemusnahan resep. Pemusnahan sediaan farmasi yang sudah kadaluwarsa atau tidak layak pakai dilaksanakan dengan cara sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Sistem di Apotek UAD 1 untuk sediaan farmasi yang kurang lebih 6 bulan mendekati tanggal kadaluwarsanya akan dipisahkan dan dicatat. Obat tersebut akan di jual ke apotek

(27)

19 lain maupun menawarkan kepada dokter untuk meresepkan obat tersebut. Apabila sudah mendekati 3 bulan sebelum kadaluwarsa maka dilakukan retur kepada PBF dengan menyertakan faktur. PBF akan memberikan uang kembali tetapi tidak disertai PPN atau memberikan barang dengan masa kadaluwarsa yang lebih panjang. Beberapa obat yang tidak dapat diretur akan dimusnahkan.

Cara untuk memusnahakan obat menurut PMK No. 1332 Tahun 2002 yaitu dengan cara dibakar, dipedamkan, dengan cara yang memadai dan harus dilengkapi dengan berita acara pemusnahan serta disaksikan oleh apoteker atau petugas apotek lain. Khusus pemusnahan obat Narkotika dan Psikotropika harus disaksikan oleh pihak Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau BPOM.

Pemusnahan obat harus disertai dengan berita acara pemusnahan yang berisi nama obat, kekuatan, bentuk sediaan dan jumlah. Tata cara pemusnahan obat sesuai bentuk sediannya adalah sebagai berikut:

1) Sediaan cair dan semi padat harus dikeluarkan terlebih dahulu lalu diencerkan menggunakan air lalu dibuang

2) Sediaan tablet atau kapsul harus dibuka semua dan dijadikan satu lalu diblender setelah itu dicampurkan dengan tanah

Pemusnahan resep dilakukan setiap 5 tahun. Untuk resep non-Obat Keras Tertentu (OKT) akan ditimbang dan dituliskan ke dalam berita acara, tetapi untuk resep OKT harus dihitung perlembar dan dituliskan ke dalam berita acara. Berita acara pemusnahan resep meliputi bulan atau tahun resep, golongan obat dan jumlahnya. Pemusnahan resep dilakukan oleh Apoteker disaksikan oleh sekurang-kurangnya petugas lain di Apotek.

6. Pencatatan

Pencatatan merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk memonitor transaksi perbekalan farmasi yang keluar dan masuk di apotek. Adanya pencatatan akan memudahkan petugas untuk melakukan penelusuran bila terjadi adanya mutu sediaan farmasi yang sub standar dan harus ditarik dari peredaran.

Pencatatan dilakukan disetiap proses pengelolaan sediaan farmasi meliputi pengadaan, penyimpanan, penyerahan dan pencatatan lainnya sesuai kebutuhan.

a. Pencatatan saat Perencanaan

Perencanaan pengadaan obat di Apotek UAD dilakukan setiap awal tahun. Acuan perencanaan pengadaan obat berdasarkan metode komsumsi dan di masa pandemic seperti ini kombinasi dengan metode epidemiologi.

(28)

20 Selain itu, perencanaan pengadaan obat tahunan juga memperhatikan beberapa aspek seperti epidemiologi, konsumsi obat tahun sebelumnya, produk baru, permintaan obat dari apotek atau fasilitas kesehatan lainnya, dan daftar obat dari buku defekta.

b. Pencatatan saat Pengadaan

Pencatatan saat pengadaan di Apotek UAD adalah dengan pembuatan form surat pesanan (SP). Form SP dibuat dengan memuat nama apotek, logo apotek, alamat apotek, nomor telepon apotek, nomor SP, nama produk, jumlah, satuan, tanggal penulisan SP, tanda tanga apoteker penanggung jawab apotek, nomor SIPA, dan cap apoteker. Form SP di Apotek UAD 1 terdapat lima jenis yaitu, form SP regular, form Narkotika, form SP Psikotropika, form SP OOT, dan form SP Prekursor. Ketika barang datang, dilakukan pencatatan penerimaan barang melalui faktur yang telah diperiksa kesesuaiannya. Apabila faktur telah sesuai dengan pesanan, maka faktur akan ditandatangani oleh apoteker atau petugas apotek dan dicap apotek. Salinan faktur akan disimpan sebagai arsip.

c. Pencatatan saat Penyimpanan

Setiap pemasukan dan pengeluaran produk harus diinput dalam program IAAS agar selalu diperbaharui dan dapat mendeteksi jumlah sisa stok persediaan di Apotek UAD 1. Pencatatan pengeluaran obat Narkotika dan Psikotropika dilakukan pada Buku Registrasi Narkotika maupun Psikotropika.

d. Pencatatan saat Penyerahan

Pencatatan saat penyerahan di Apotek UAD 1 adalah menggunakan struk atau nota sebagai tanda bukti transaksi penjualan kepada pasien.

7. Pelaporan

Pelaporan adalah kumpulan catatan dan pendataan kegiatan administrasi sediaan farmasi, tenaga dan perlengkapan kesehatan yang disajikan kepada pihak yang berkepentingan. Laporan obat Narkotika dan Psikotropika dilakukan melalui SIPNAP (Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika). Laporan dilakukan sebelum tanggal 10 setiap bulannya dengan melakukan rekap data terlebih dahulu pada buku register Narkotika-Psikotropika, dilakukan stock opname kemudian dilakukan input data ke SIPNAP oleh APA.

(29)

21 C. Pengelolaan dan Pelayanan Resep

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2016 menyatakan bahwa, pelayanan resep dimulai dari penerimaan, pemeriksaan ketersediaan, pengkajian resep, penyiapan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai termasuk peracikan obat, pemeriksaan, penyerahan disertai pemberian informasi. Apoteker harus melakukan pengkajian resep sesuai persyaratan administrasi, persyaratan farmasetik, dan persyaratan klinis baik untuk pasien rawat inap maupun rawat jalan.

Apotek UAD menerima pelayanan resep dari pasien, dokter umum, dan dokter spesialis kedokteran jiwa. untuk pengelolaan resep di apotek UAD 1 sendiri yaitu setelah resep masuk maka yang dilakukan terlebih dahulu adalah pengecekan ketersediaan obat di komputer dan jumlah harga obat tersebut, setelah itu menyampaikan kepada pasien untuk mendapatkan persetujuan. Apabila pasien setuju maka apoteker dapat melakukan dispensing hingga obat diserahkan ke pasien, KIE dan monitoring. Resep yang telah dilayani, dipisahkan sesuai dengan jenis obatnya yaitu obat psikotropika dan non psikotropika kemudian disimpan berdasarkan tanggal, bulan, tahun resep masuk dan disimpan didalam lemari khusus untuk penyimpanan resep, hal ini sangat penting karena apabila terdapat komplain dari pasien maka pihak apotek dapat melihat langsung pada resep aslinya. Resep disimpan selama 5 tahun dan setelah itu akan dilakukan pemusnahan berdasarkan peraturan UU yang sudah ditetapkan.

Saat ini apotek UAD 1 hanya melayani resep psikotropika dan juga resep umum. untuk resep narkotika sendiri sudah ditiadakan karena apotek uad tidak lagi menyediakan stok obat narkotika.

Alur pelayanan resep di Apotek UAD 1, meliputi : 1. Skrining resep administrasi, farmasetis, dan klinis.

a) Skrining administrasi :

Nama dokter, nomor SIP (surat izin praktek), alamat praktek dokter penulis resep, tanggal penulisan resep, nomor Telp dokter, dan tanda tangan atau paraf dokter

Nama pasien, umur, jenis kelamin, berat badan, dan alamat pasien.

b) Skrining farmasetis : - Nama obat

- Bentuk dan kekuatan sediaan obat, jumlah sediaan,

(30)

22 - Stabilitas dan kompatibilitas.

- Aturan dan cara penggunaan obat

- Tidak menuliskan singkatan yang tidak baku.

c) Skrining klinis :

- Ketepatan indikasi obat, dosis dan waktu atau jam penggunaan obat.

- Duplikasi obat

- Alergi dan atau reaksi obat yang tidak diinginkan - Kontraindikasi.

- Interaksi obat.

2. Mengecek ketersediaan obat

Melakukan pengecekan ketersediaan obat diapotek dan harga obat dengan cara melihat data yang ada dikomputer. Apabila obatnya masih tersedia sesuai pada permintaan di resep maka selanjutnya apoteker mengonfirmasi kepada pasien untuk mendapatkan persetujuan terkait biaya obat. Setelah menyetujui biaya obat tersebut maka pasien membayar secara tunai dikasir dan mendapatkan struk bukti pembayaran.

3. Penyiapan Obat

Penyiapan atau yang biasanya disebut dengan dispensing obat, yaitu :

a. Menyiapkan obat sesuai dengan permintaan resep (menghitung jumlah obat dan mengambil obat yang dibutuhkan pada rak penyimpanan dengan memperhatikan nama obat, tanggal kadaluwarsa, dan keadaan fisik obat).

b. Menyiapkan etiket yang berisi nomor resep, nama pasien, tanggal resep, nama obat dan cara penggunaan obat. Setelah itu obat dimasukkan kedalam kemasan etiket. Etiket sekurang-kurangnya meliputi warna putih untuk obat dalam atau oral, warna biru untuk obat luar.

c. Double Checking, yaitu dengan melakukan pemeriksaaan kembali terhadap obat yang telah disiapkan oleh apoteker mengenai penulisan nama pasien pada etiket, cara penggunaan serta jenis obat dan jumlah obat (kesesuaian antara penulisan etiket dengan resep) sebelum obat diserahkan kepada paien.

d. Penyerahan obat kepada pasien disetai dengan KIE dan konseling

Memanggil nama dan nomor tunggu pasien, setelah itu pasien akan diajukan pertanyaan atau three prime questions seperti apakah sebelumnya dokter sudah pernah menjelaskan terkait indikasi obat yang akan diterima, cara penggunaan obat, dan harapan setelah melakukan pengobatan. Apabila pasien

(31)

23 menyatakan belum, maka apoteker akan menanyakan kembali keluhan yang sedang dialami oleh pasien untuk memastikan kebenaran obat yang telah diresepkan oleh dokter dan menyampaikan terkait nama obat, cara penggunaan obat, jangka lama penggunaan obat, makanan dan minuman yang harus dihindari, kemungkinan efek samping, dan cara penyimpanan obat.

D. Administratif

Berdasarkan Kemenkes 73 tahun 2016, pencatatan dilakukan pada setiap proses pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai meliputi pengadaan (surat pesanan, faktur), penyimpanan (kartu stok), penyerahan (nota atau struk penjualan) dan pencatatan lainnya disesuaikan dengan kebutuhan. Pelaporan terdiri dari pelaporan internal dan eksternal. Pelaporan internal merupakan pelaporan yang digunakan untuk kebutuhan manajemen Apotek, meliputi keuangan, barang dan laporan lainnya. Pelaporan eksternal merupakan pelaporan yang dibuat untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, meliputi pelaporan narkotika, psikotropika dan pelaporan lainnya.

a. Pencatatan dan pelaporan

Kegiatan administrasi apotek UAD 1 dilakukan oleh asisten apoteker dan non asisten apoteker yang diawasi langsung oleh apoteker pengelola apotek. Sistem administrasi dilakukan secara komputerisasi dengan menggunakan program IAAS (Integrated Application Apotek System) dan secara manual. Ketelitian dalam menginput data kedalam komputer merupakan hal yang sangat penting dalam manajemen apotek. Hal ini karena kesesuaian data dikomputer berkaitan dengan kelancaran kegitan di apotek. Dengan menggunakan aplikasi IAAS maka data yang ada dapat digunakan sebagai laporan penjualan, laporan pembayaran hutang usaha, retur pembelian, laporan penerimaan konsinyasi, stock opname dan laporan pembelian/penerimaan sediaan. Laporan pembelian/penerimaan sediaan terdiri atas nama PBF, nomor faktur, nama obat, jumlah obat, tanggal kadaluwarsa, nomor batch, diskon, harga satuan, dan total harga. Data tuslah yag berisi tentang pendapatan yang berasal dari tuslah (jasa peracikan) yang akan dibagikan kepada karyawan.

Dengan menggunakan aplikasi IAAS juga dapat mengetahui nama dan jumlah obat/barang yang hampir habis dan jumlah obat/barang yang harus segera dipesan. Data tersebut sebagai laporan defekta. Laporan defekta juga dibuat secara

(32)

24 manual dengan dicatat dibuku defekta dengan tujuan untuk menghindari kelupaan pemesanan kembali obat/barang sehingga ketersediaan obat/barang di apotek tetap terjaga. Pencatatan lainnya yang dilakukan secara manual yaitu buku kas yang berisi tentang seluruh pemasukan dan pengeluaran di apotek dan pencatatan stok obat narkotika dan psikotropika yang disimpan didalam lemari penyimpanan obat.

Kegiatan administrasi untuk obat narkotika dan psikotropika yaitu dilakukan stok opname setiap satu bulan sekali untuk mencocokkan jumlah obat yang tertulis di catatan stok dengan stok obat yang ada. Laporan administrasi obat narkotika dan psikotropika terdiri atas nama obat, tanggal dilakukan stok opname, dan jumlah obat.

Laporan penggunaan psikotropika terdiri atas kode obat, nama sediaan, satuan, stok awal, jumlah penggunaan, keterangan, jumlah akhir dan tanggal kadaluwarsa. Setiap bulannya dilakukan pelaporan secara online melalui web sipnap.kemkes.go.id.

pelaporan selambat-lambatnya tanggal 10 tiap bulannya. Terdapat pelaporan lainnya yang akan dibuat berdasarkan kebutuhan yang diperlukan untuk pelaporan kepada UAD.

b. Pengarsipan

Pengarsipan resep dengan diurutkan berdasarkan tanggal kemudian dikelompokkan per bulan. Untuk resep narkotika dan psikotropika dibuat dalam satu kelompok yang terpisah dari resep lainnya. Disimpan dengan rapi didalam lemari penyimpanan resep agar mudah dilakukan penelusuran resep bila diperlukan.

Pengarsipan faktur dengan diurutkan berdasarkan tanggal kemudian dikelompokkan per bulan. Untuk faktur narkotika dan psikotropika dibuat dalam satu kelompok yang terpisah dari faktur lainnya. Disimpan dengan rapi didalam kardus agar mudah dilakukan penelusuran bila diperlukan.

E. Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia yang ada di Apotek UAD 1 terdiri dari Apoteker, Apoteker pendamping, dan staf administrasi. Apoteker bertanggungjawab terhdapat profesinya dalam melakukan pekerjaan kefarmasian, sedangkan apoteker pendamping dan staf administrasi membantu apoteker dalam kelancaran tugas dalam pengelolaa apotek.

Sumber daya manusia di apotek uad 1 sebanyak 5 orang yang terdiri dari 1 apoteker pemegang SIA, 2 apoteker non SIA, 1 administrasi dan keuangan dan 1 kurir.

(33)

25 Setiap anggota memiliki tugas dan tanggungjawabnya masing – masing agar pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik.

Apoteker harus dapat memberikan pelayanan dan pengetahuan yang luas, selalu belajar sepanjang karir dan membantu dalam memberikan pendidikan dan memberi peluang untuk meningkatkan pengetahuan.

Sistem penggajian di Apotek UAD telah disesuaikan dengan standar upah minimum daerah. Disamping gaji pokok juga ditambah dengan tuslah dan berbagai fasilitas lainnya, yaitu :

a. Tunjangan hari raya

b. Uang resep (tuslah) yang diberikan kepada seluruhu karyawan dihitung berdasarkan tanggungjawab/beban kerja dan jumlah jam kerja selama sebulan.

c. Uang transport yang dihitung tiap kedatangan karyawan

d. Cuti tahunan sesuai dengan peraturan pemerintah yaitu 2 minggu tiap tahun, tetapi tidak dapat diambil sekaligus. Untuk cuti berurutan maksimal 6 hari.

e. Pemberian harga netto untuk pembelian obat serta pembayaran secara kredit.

f. Mendapatkan cuti hamil selama 3 bulan F. Perpajakan Apotek

Apotek UAD 1 melakukan pembayaran pajak rutin sesuai waktu yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Kompoen pajak di Apotek UAD 1 adalah sebagai berikut:

1. Pajak penghasilan Final dengan omset <4,8 M dalam satu tahan pajak 2. Pajak penghasilan

3. Pajak pertambahan Nilai (PPn) 4. Pajak Reklame

5. Pajak Bumi dan Bangunan G. Pharmaceutical Care

1. Swamedikasi

Peraturan Menteri Kesehatan mendefinisikan PERMENKES No.

919/MENKES/PER/X/1993 pengobatan sendiri sebagai upaya pengobatan sendiri untuk mengobati gejala penyakit tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter.

Tujuan pengobatan dari peraturan ini adalah upaya pasien untuk mencari informasi obat yang sesuai dengan gejalanya dengan bertanya kepada apoteker. Pemberian informasi kepada pasien merupakan salah satu tugas dan peran penting apoteker

(34)

26 dalam memberikan informasi obat yang objektif dan rasional untuk pengobatan pasien.

Pengobatan sendiri dapat digunakan untuk penyakit dan kondisi penyakit ringan dan umum yang umum di bidang-bidang seperti: B. Keluhan demam, nyeri, pusing, batuk, flu, sakit maag, diare, penyakit kulit. Praktik pengobatan sendiri menetapkan kriteria penggunaan obat yang wajar, termasuk ketepatan pemilihan obat, ketepatan pemberian obat, kurangnya efek samping, kurangnya kontraindikasi, kurangnya interaksi obat, dan kurangnya polifarmasi. .. Dalam prakteknya, masih terjadi kesalahan dalam penggunaan obat dalam pengobatan sendiri, terutama karena ketidaktepatan obat dan dosis obat. Kesalahan terus menerus dalam jangka waktu yang lama dapat membahayakan kesehatan Anda.

Menurut World Health Organization (WHO), swamedikasi atau pengobatan sendiri merupakan kegiatan pemilihan dan penggunaan obat baik itu obat modern, herbal, maupun obat tradisional oleh seorang individu untuk mengatasi penyakit atau gejala penyakit.

Pada peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1332/MenKes/SK/X/2002 pasal 18 menjelaskan bahwa yang diberikan izin untuk menjual dan menyerahkan Obat Wajib Apotek yaitu Apoteker Pengelola Apotek, Apoteker Pendamping. Dengan adanya peraturan ini maka apoteker memiliki kewajban terhadap pasien dalam memberikan

Obat Wajib Apotek, berikut ketentuan dalam memberikan OWA terhadap pasien, yaitu:

a. Memenuhi ketentuan dan batasan tiap jenis obat per pasien yang disebutkan dalam daftar OWA.

b. Membuat catatan pasien serta obat yang telah diserahkan

c. Memberikan informasi meliputi dosis dan aturan pakai, kontra indikasi, efek samping dan lain-lain.

Terkait dengan pemberian obat keras kepada pasien tanpa resep dokter ini perlu memperhatikan beberapa kriteria yaitu:

a. Obat tidak dikontraindikasikan untuk wanita hamil, anak dibawah 2 tahun dan orang tua diatas 65 tahun

b. Pengobatan sendiri dengan obat yang diberikan tidak memiliki resiko kelanjutan penyakit.

c. Penggunaannya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus dilakukan oleh apoteker

(35)

27 d. Penggunaan obat diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi

e. Obat yang dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggung jawabkan untuk pengobatan sendiri dalam rangka membantu masyarakat dalam pengobatan sendiri yang tepat.

Pada tahun 1998, WHO mensyaratkan obat yang digunakan dalam swamedikasi harus didukung dengan informasi tentang bagaimana cara penggunaan obat; efek terapi yang diharapkan dari pengobatan dan kemungkinan efek samping yang tidak diharapkan; bagaimana efek obat tersebut dimonitoring; interaksi yang mungkin terjadi; perhatian dan peringatan mengenai obat; lama penggunaan; dan kapan harus menemui dokter.

Berdasarkan dua kriteria diatas, kelompok obat yang baik digunakan untuk swamedikasi adalah obat-obat yang termasuk dalam obat Over the Counter (OTC) dan Obat Wajib Apotek (OWA). Obat OTC terdiri dari obat-obat yang dapat digunakan tanpa resep dokter, meliputi obat bebas, dan obat bebas terbatas, sedangkan untuk Obat Wajib Apotek hanya dapat digunakan dibawah pengawasan Apoteker (BPOM, 2006) meliputi :

a. Obat bebas adalah obat yang boleh digunakan tanpa resep dokter. Tanda khusus obat bebas menurut SK MenKes Nomor 2380/A/SK/VI/93 yaitu memiliki tanda lingkaran warna hijau, dan bergaris tepi hitam, diameter minimal 1 cm.

b. Obat bebas terbatas adalah obat-obatan yang dalam jumlah tertentu masih bisa dibeli di apotek tanpa resep dokter. Tanda obat bebas terbatas adalah lingkaran biru bergaris tepi hitam, diameter minimal 1 cm. Berdasarkan SK Menkes Nomor 6355/DIRJEN/SK/69 obat bebas terbatas memiliki tanda peringatan yaitu:

1) P-1: Awas obat keras, bacalah aturan pakainya

2) P-2: Awas obat keras, hanya untuk kumur, jangan ditelan 3) P-3: Awas obat keras, hanya untuk bagian luar

4) P-4: Awas obat keras, hanya untuk dibakar 5) P-5: Awas obat keras, tidak boleh ditelan

6) P-6: Awas obat keras, obat wasir, jangan ditelan.

c. Obat Wajib Apotek (OWA) adalah obat keras yang dapat diserahkan oleh Apoteker kepada pasien di apotek tanpa resep dokter Obat Wajib Apotek

(36)

28 (OWA) dibedakan berdasarkan beberapa Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia yaitu:

1) Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 347/MENKES/SK/VII/1990 tentang obat wajib apotek Nomor 1 yang terdiri dari 7 kelas terapi yaitu: oral kontrasepsi, obat saluran cerna, obat mulut dan tenggorokan, obat saluran napas, obat yang mempengaruhi sistem neuromuscular, antiparasit, dan obat kulit topikal.

2) Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 924/MENKES/PER/IX/1993 tentang daftar obat wajib apotek Nomor 2 yang terdiri dari 34 jenis obat generik sebagai tambahan lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 347/MENKES/SK/VII/1990 tentang obat wajib apotek Nomor 1. 34 jenis obat tambahan tersebut yaitu: albendazol, bacitracin, benorilats, bismuth subcitrate, carbinoxamin, clindamicin, dexametason, dexpanthenol, diklofenak, diponium, fenoterol, flumetason,

hydrocortison butyrat, ibuprofen, isoconazol, ketokonazole, levamizole, methylprednisolon, niclosamide, noretisteron, omeprazole, oxiconazole, pipazetate, piratiasin kloroteofilin, pirenzepine, piroxicam, polymixin B sulfate, prednisolon, scopolamin, silver sulfadiazin, sucralfate, sulfasalazine, tioconazole, dan urea.

3) Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1176/MENKES/SK/X/1999 tentang daftar obat wajib apotek Nomor 3 yang terdiri dari 6 kelas terapi yaitu: saluran pencernaan dan metabolisme, obat kulit, antiinfeksi umum, sistem muskuloskeletal, sistem saluran pernafasan, dan organ-organ sensorik.

Cara pemilihan obat untuk swamedikasi berdasarkan buku pedoman obat bebas dan obat bebas terbatas (2007). Untuk menetapkan jenis obat yang dibutuhkan perlu diperhatikan :

1) Gejala atau keluhan penyakit

2) Kondisi khusus misalnya hamil, menyusui, bayi, lanjut usia, diabetes mellitus dan lain-lain.

3) Pengalaman alergi atau reaksi yang tidak diinginkan terhadap obat tertentu.

(37)

29 4) Nama obat, zat berkhasiat, kegunaan, cara pemakaian, efek samping dan

interaksi obat yang dapat dibaca pada etiket atau brosur obat.

5) Pilihlah obat yang sesuai dengan gejala penyakit dan tidak ada interaksi obat dengan obat yang sedang diminum.

6) Untuk pemilihan obat yang tepat dan informasi yang lengkap, tanyakan kepada apoteker.

Informasi yang harus digali apoteker kepada pasien terkait swamedikasi meliputi :

1) Nama lengkap, umur dan alamat 2) Keluhan pasien

3) Kegiatan yang dilakukan sebelum timbul keluhan 4) Menggali sedetail mungkin penyebab keluhan.

Informasi yang harus diberikan apoteker kepada pasien setelah penggalian informasi dari pasien meliputi :

1) Nama obat serta kandungan aktif didalam obat tersebut 2) Indikasi dari obat serta efek samping yang mungkin terjadi.

3) Aturan pakai serta dosis dari obat tersebut meliputi jumlah dan lama penggunaan.

4) Kemungkinan adanya interaksi obat baik dengan obat lain yang di konsumsi atau makanan.

5) Kontraindikasi dari obat yang diberikan.

6) Alternatif lain dalam pengobatan sebagai informasi tambahan kepada pasien.

7) Anjuran khusus terkait penggunaan obat tersebut missal antibiotic harus dihabiskan, sirup harus dikocok terlebih dahulu dll.

8) Tindakan yang harus dilakukan jika terlupa meminum obat.

9) Cara penyimpanan dan pengembalian jika memungkinkan.

10) Harga obat.

2. Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE)

Pelayanan KIE merupakan suatu pelayanan yang diberikan kepada pasien saat penyerahan obat. Hal – hal yang harus dilakukan saat penyerahan obat adalah :

a) Pemerikasaan kembali (ketidaksesuaian antara penulisan etiket dengan resep) b) Memanggil nama dan nomor tunggu pasien;

c) Memeriksa ulang identitas dan alamat pasien;

(38)

30 d) Menyerahkan obat yang disertai pemberian informasi obat (cara penggunaan obat, manfaat obat, makanan dan minuman yang harus dihindari, kemungkinan efek samping, cara penyimpanan obat, dan lain-lain);

e) Penyerahan obat kepada pasien hendaklah dilakukan dengan cara yang baik, mengingat pasien dalam kondisi tidak sehat dan mungkin emosinya tidak stabil;

f) Memastikan bahwa yang menerima obat adalah pasien atau keluarganya. Tujuan dari KIE yang diberikan apoteker untuk pasien yaitu agar pasien dapat mengkonsumsi obat secara teratur dan benar. Tidak terjadi kesalahan dalam penggunaan obat, sehingga efek yang diharapkan pasien dapat tercapai sesuai dengan harapan pasien (Menkes RI, 2014).

3. PIO

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Apotek bahwa pelayanan informasi obat merupakan kegiatan yang dilakukan oleh Apoteker dalam pemberian informasi mengenai obat yang tidak memihak, dievaluasi dengan kritis dan dengan bukti terbaik dalam segala aspek penggunaan obat kepada profesi kesehatan lain, pasien atau masyarakat.

Informasi mengenai obat termasuk obat resep, obat bebas dan herbal. Informasi meliputi dosis, bentuk sediaan, formulasi khusus, rute dan metoda pemberian, farmakokinetik, farmakologi, terapeutik dan alternatif, efikasi, keamanan penggunaan pada ibu hamil dan menyusui, efek samping, interaksi, stabilitas, ketersediaan, harga, sifat fisika atau kimia dari obat dan lain-lain.

Kegiatan pelayanan informasi obat di Apotek meliputi:

a. Menjawab pertanyaan baik lisan maupun tulisan;

b. Membuat dan menyebarkan buletin/brosur/leaflet, pemberdayaan masyarakat (penyuluhan);

c. Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien

d. Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada mahasiswa farmasi yang sedang praktik profesi;

e. Melakukan penelitian penggunaan obat;

f. Membuat atau menyampaikan makalah dalam forum ilmiah;

g. Melakukan program jaminan mutu

Pelayanan Informasi obat harus didokumentasikan untuk membantu penelusuran kembali dalam waktu yang relatif singkat dengan menggunakan Formulir

(39)

31 6 sebagaimana terlampir. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam dokumentasi pelayanan Informasi Obat:

a) Topik Pertanyaan;

b) Tanggal dan waktu Pelayanan Informasi Obat diberikan;

c) Metode Pelayanan Informasi Obat (lisan, tertulis, lewat telepon);

d) Data pasien (umur, jenis kelamin, berat badan, informasi lain seperti riwayat alergi, apakah pasien sedang hamil/menyusui, data laboratorium);

e) Uraian pertanyaan;

f) Jawaban pertanyaan;

g) Referensi;

h) Metode pemberian jawaban (lisan, tertulis, telepon) dan data Apoteker yang memberikan Pelayanan Informasi Obat Kegiatan PIO di apotek UAD 1 dilakukan baik secara langsung melalui informasi pada leaflet yang di pasang di depan apotek sehingga memudahkan pasien membaca jika sedang menunggu obat, PIO juga dilakukan dengan adanya tanya jawab antara pasien dengan apoteker maupun apoteker pendamping ketika pelayanan serta bisa melalui chat via WhatsApp dengan pasien atau melalui telepon di apotek UAD 1.

4. Pelayanan di rumah (Home Pharmacy Care)

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Apotek bahwa Pelayanan Kefarmasian di Rumah (home pharmacy care) Apoteker sebagai pemberi layanan diharapkan juga dapat melakukan Pelayanan Kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Jenis Pelayanan Kefarmasian di rumah yang dapat dilakukan oleh Apoteker, meliputi :

a) Penilaian/pencarian (assessment) masalah yang berhubungan dengan pengobatan b) Identifikasi kepatuhan pasien

c) Pendampingan pengelolaan obat dan/atau alat kesehatan di rumah, misalnya cara pemakaian obat asma, penyimpanan insulin

d) Konsultasi masalah obat atau kesehatan secara umum

e) Monitoring pelaksanaan, efektifitas dan keamanan penggunaan obat berdasarkan catatan pengobatan pasien

f) Dokumentasi pelaksanaan pelayanan kefarmasian di rumah dengan menggunakan Formulir 8 sebagaimana terlampir.

(40)

32 Pelaksanaan Home Pharmacy Care di apotek UAD dikarenakan adanya wabah pandemi covid-19 maka dialihkan dengan sistem pemesanan obat melalui aplikasi Halodoc, via telepon di apotek UAD, via WhatsApp, serta pasien datang ke apotek dengan membawa resep. Pasien yang telah melakukan pelayanan melalui Home Pharmacy Care selama PKPA paling banyak 1-3 pasien terpilih melihat kondisi pandemik covid-19 yang meningkat di Yogyakarta.

5. Pemantauan Terapi Obat (PTO)

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Apotek bahwa PTO adalah proses yang memastikan bahwa seorang pasien mendapatkan terapi obat yang efektif dan terjangkau dengan memaksimalkan efikasi dan meminimalkan efek samping. Kriteria pasien:

1. Anak-anak dan lanjut usia, ibu hamil dan menyusui.

2. Menerima obat lebih dari 5 (lima) jenis.

3. Adanya multidiagnosis.

4. Pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau hati.

5. Menerima obat dengan indeks terapi sempit.

6. Menerima obat yang sering diketahui menyebabkan reaksi obat yang merugikan.

Kegiatan:

1. Memilih pasien yang memenuhi kriteria.

2. Mengambil data yang dibutuhkan yaitu riwayat pengobatan pasien yang terdiri dari riwayat penyakit, riwayat penggunaan obat dan riwayat alergi; melalui wawancara dengan pasien atau keluarga pasien atau tenaga kesehatan lain 3. Melakukan identifikasi masalah terkait obat. Masalah terkait obat antara lain

adalah adanya indikasi tetapi tidak diterapi, pemberian obat tanpa indikasi, pemilihan obat yang tidak tepat, dosis terlalu tinggi, dosis terlalu rendah, terjadinya reaksi obat yang tidak diinginkan atau terjadinya interaksi obat

4. Apoteker menentukan prioritas masalah sesuai kondisi pasien dan menentukan apakah masalah tersebut sudah atau berpotensi akan terjadi.

Kegiatan PTO di apotek UAD 1 dilakukan bersamaan dengan kegiatan home pharmacy care yaitu secara online (via telepon atau whatsapp)

6. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Apotek bahwa MESO adalah kegiatan pemantauan

Referensi

Dokumen terkait

Pelayanan Kefarmasian (Pharmaceutical care) adalah bentuk pelayanan dan tanggung jawab langsung profesi apoteker dalam pekerjaan kefarmasian untuk meningkatkan

Informasi yang dapat diberikan kepada pasien mengenai obat golongan OTC dalam swamedikasi, antara lain indikasi obat, cara penggunaan, interaksi obat, kontra

Sumber daya di bidang kesehatan adalah segala bentuk dana, tenaga, perbekalan kesehatan, sediaan farmasi dan alat kesehatan serta fasilitas pelayanan kesehatan dan teknologi yang

Sebagai tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat maka, apoteker harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam hal obat-obatan baik dari pelayanan swamedikasi