Disusun Oleh :
APRIWANTA SITANGGANG 170906037
Dosen Pembimbing : Dr. Warjio, MA., Ph. D
PROGRAM STUDI ILMU POLITIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
ii
iii APRIWANTA SITANGGANG (170906037)
MARKETING POLITIK PARTAI DALAM PEMILU (Marketing Politik DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dalam Pemilihan Umum anggota DPRD di Kabupaten Samosir Tahun 2019)
ABSTRAK
Keberhasilan yang diraih oleh DPC PDI-Perjuangan Kab.Samosir pada saat Pemilihan Umum Anggota DPRD Kab.Samosir, tentu tidak lepas dari berbagai strategi maupun marketing politik yang dilakukan oleh Partai maupun calon anggota dewan itu sendiri. Melihat fakta dan data yang ada bahwa DPC PDIP Samosir menjadi partai pemenang dalam Pemilu Tahun 2019 dengan perolehan kursi terbanyak yaitu 8 dari 25 kursi. Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk mendeskripsikan marketing politik yang dilakukan oleh DPC PDI- Perjuangan Samosir dalam merebut hati masyarakat sehingga mempercayakan dan mengantar partai tersebut menjadi partai pemenang.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi kasus dan deskripsi, yakin dengan menggunakan metode wawancara untuk lebih mengetahui tentang marketing politik yang dilakukan oleh DPC PDIP Samosir terhadap masyarakat Samosir.Hasil penelitian menunjukkan bahwa, marketing politik yang dilakukan oleh DPC PDIP Samosir berusaha untuk meyakinkan masyarakat dan pemilih bahwa kader-kader dari partai tersebut layak untuk dipilih.Pemberian informasi tentang semua aspek yang berkaitan dengan latar belakang partai, visi misi politik yang jelas dan program-program kerja yang berguna serta dibutuhkan oleh masyarakat Samosir.
Kata Kunci : Marketing Politik, Partai Politik, Pemilihan Umum Legislatif
iv DEPARTMENT OF POLITICAL SCIENCE
APRIWANTA SITANGGANG (170906037)
PARTY POLITICAL MARKETING IN ELECTIONS (Political Marketing of The DPC PDI-Perjuangan in the General Elections for DPRD Samosir in 2019)
ABSTRACT
The success achieved by the DPC-Perjuangan Party of Samosir at the General Elections of members of DPRD Samosir, of course can’t be separated from the various strategic and political marketing carried out by the party and the candidates for the council members themselves. Looking at the facts and available data, the DPC PDI-Perjuangan Samosir became the winning party in the 2019 election with the most seats 8 out of 25 seats.based on this, the author is interested in describing the political marketing carried out by the DPC PDI-Perjuangan Samosir in winning the hearts of the people, so that they entrust and lead yhe party to become the winning party.
This research uses case study research methods and descriptions, using the interview method to find out more about political marketing carried out by the DPC PDI-Perjuangan Samosir to the Samosir Community. The result showed that political marketing carried out by the DPC PDIP Samosir tried to convince the public and voters that the cadres of the party deserved to be elected. Providing information on all apects to yhe background of the party, a clear political vision and mission and work programs that are useful by the people of Samosir.
Keywords : Political Marketing, Political Party, Legislative General Election
v
vi
vii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.Atas berkat yang berasal dari Tuhan, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Marketing Politik Partai dalam Pemilu (Marketing Politik DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dalam Pemilihan Umum Anggota DPRD di Kab.
Samosir Tahun 2019)”. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi persyaratan kelulusan dalam jenjang perkuliahan Strata 1 (Satu) pada Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, sehingga pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih sebesar- besarnya kepada:
1. Tuhan Yesus Kristus atas berkat, kasih, dan penyertaanNya yang masih memberikan kesehatan dan kekuatan kepada saya sehingga penyusunan skripsi ini dapat saya selesaikan dengan baik.
2. Teristimewa kedua orang tua saya, Pak Bagawan Sitanggang dan Ibu Ritha Bakara yang telah melahirkan, membesarkan dan merawat saya dalam segala kondisi, terima kasih atas kasih sayang yang diberikan, kepercayaan yang diberikan selama kuliah, dukungan dan semangat yang selalu diberikan dalam menyelesaikan skripsi ini. Apapun kondisi nya, jikalau tak ada Bapak dan Ibu, saya tidak akan bisa melangkah sejauh ini.
3. Teristimewa adik-adik kandung saya, Tufany Theresita Sitanggang, Wandy Putra Sitanggang dan Andreas Bakara Sitanggang, terima kasih
viii
hingga bisa membuat kedua orang tua kita bangga dan bahagia.
4. Bapak Dr. Muryanto Amin S. Sos, M. Si, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara
5. Bapak Drs. Hendra Harahap, M.Si., Ph.D selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
6. Bapak Dr.WarjioMA., Ph.D selaku Ketua Program Studi Ilmu Politik sekaligus Dosen Pembimbing, terima kasih saya ucapkan kepada bapak atas bimbingan yang bapak berikan selama ini. Terima kasih untuk segala kebaikan, arahan dan kerelaan hati yang bapak berikan untuk saya hingga skripsi ini dapat selesai. Semoga bapak dan keluarga sehat selalu, lancer rezekinya dan selalu dalam lindungan Tuhan.
7. Seluruh dosen Ilmu Politik FISIP USU yang telah mendidik dan memberikan pengetahuan dan arahan selama kuliah.
8. Staff Departemen Ilmu Politik, terkhusus kak Emma dan Pak Burhan yangtelah membantu saya dalam hal administrasi perkuliahan mulai dari awal kuliah sampai saya mampu menyelesaikan skripsi saya.
9. Para informan saya, Ibu Sorta dan Tim Pemenangan Ibu Romauli yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk melakukan wawancara dan sudah banyak membantu saya dalam pengerjaan skripsi ini.
10. Ruly Shinta Siahaan, sahabat dan saudari saya dari awal PKKMB, kuliah sampai sekarang. Terima kasih untuk semua kebaikanmu, kesabaranmu, dan bantuanmu bes. Banyak hal yang sudah kita lewati di kampus, suka maupun duka. Setelah tamat dari USU, semoga persaudaraan kita tetap terjaga karena saya belum pernah menemukan orang sebaik dirimu di perantauan.
ix
kesah dan semua hal yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Walaupun kata orang tidak ada yang abadi, semoga persaudaraan kita tetap abadi.
12. Dodi Ebroni Marbun, terima kasih untuk semangat, perhatian dan kesabaran yang telah diberikan. Tetap semangat setiap harinya dan Tuhan Yesus memberkati.
13. Seluruh teman-teman Ilmu Politik 2017, saya mengucapkan terimakasih atas waktu dan semua moment-moment yang telah kita lalui bersama selama perkuliahan. Kiranya Tuhan memberkati kita semua.
14. Untuk Bangtan Boys atas musik dan karya-karya nya yang telah mengisi hari-hari saya dan membuat saya menjadi lebih semangat dalam mengerjakan skripsi.
15. Terakhir untuk diri saya sendiri, terima kasih karena sudah kuat dan tetap bisa bertahan sampai sejauh ini. Apapun kondisimu, baik dalam hal terburuk pun tetap terlihat baik-baik saja. Terima kasih sudah menjadi pribadi yang sangat kuat hingga memiliki mental yang sangat kuat yang belum tentu orang lain bisa menjadi dirimu. Tetap lah kuat dan semangat.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini, baik dari segi isi dan bahasa yang digunakan.Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca.Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri maupun para pembaca.
x
Apriwanta Sitanggang NIM. 170906037
xi
ABSTRAK ... iii
ABSTRACT ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Batasan Masalah ... 7
D. Tujuan Penelitian ... 7
E. Manfaat Penelitian ... 8
F. Literature Review ... 8
G. Kerangka Teori dan Konsep ... 10
G.1 Teori Marketing Politik 4p Menurut Niffenegger ... 11
G.2. Branding dan Positioning Politik. ... 13
G.3. Partai Politik... 15
H. Metodologi Penelitian ... 22
H.1. Jenis Penelitian... 23
H.2. Lokasi Penelitian ... 24
H.3. Teknik Pengumpulan Data ... 24
H.4. Teknis Analisis Data ... 26
xii
LEGISLATIF KAB. SAMOSIR TAHUN 2019 ... 28
A. Profil Kabupaten Samosir ... 28
A.1. Sejarah Singkat Terbentuknya Kabupaten Samosir ... 28
A.2 Kondisi Geografis Kabupaten Samosir ... 32
A.3 Topografi Kabupaten Samosir ... 33
A.4 Komposisi Penduduk Kabupaten Samosir ... 35
A.5. Visi dan Misi Kabupaten Samosir ... 37
A.6. Struktur Pemerintahan Kabupaten Samosir ... 43
B. Profil Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)... 45
B.1. Sejarah Partai PDIP ... 45
B.2. Visi Partai PDIP ... 48
B.3. Misi Partai PDIP ... 49
B.4. Susunan Kepengurusan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ... 52
B.5. Susunan Kepengurusan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Provinsi Sumatera Utara ... 53
B.6.Susunan Kepengurusan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kabupaten Samosir ... 54
B.7. Badan Partai dan Organisasi Sayap Partai ... 55
C. Daftar Calon Anggota Legislatif PDI-P Kab. Samosir Tahun 2019 ... 56
BAB III BENTUK MARKETING POLITIK YANG DILAKUKAN OLEH DPC PDIP PADA PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DPRD KAB. SAMOSIR TAHUN 2019 ... 1
xiii
BAB IV PENUTUP ... 13
A. Kesimpulan ... 13
B. Saran ... 14
DAFTAR PUSTAKA ... 15
LAMPIRAN ... 78
DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Persentase Ketinggian Lahan Di Kabupaten Samosir... 34
Tabel 2.2 Persentase Kemiringan Lahan Di Kabupaten Samosir ... 34
Tabel 2.3 Luas Wilayah Per-Kecamatan Kabupaten Samosir ... 35
Tabel 2.4 Jumlah Penduduk PerKecamatan Di Kabupaten Samosir ... 36
DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Peta Kabupaten Samosir... 33
xiv
Lampiran 2. Dokumentasi : ... 91 Lampiran 3. Rekapitulasi Perolehan Suara ... 100
1 BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang MasalahPemilu adalah sarana kedaulatan rakyat untuk memilih anggota DPR, DPD dan untuk memilih anggota DPRD yang dilakukan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 19451. Pemilu adalah salah satu sistem yang diterapkan oleh negara demokrasi untuk memilih wakil rakyat yang akan mengisi kekosongan jabatan dalam pemerintahan negara tersebut. Adapun asas yang digunakan Indonesia dalam pemilu adalah asal LUBER dan Jurdil.LUBER merupakan singkatan dari langsung, umum, bebas dan rahasia, sedangkan jurdil adalah singkatan dari jujur dan adil2. Jadi pemilu di Indonesia merupakan sesuatu yang dilakukan secara umum, bebas serta harus jujur dan adil.Pemilu juga dapat diartikan sebagai proses untuk menentukan anggota Partai Politik yang berhak untuk menduduki jabatan-jabatan tertentu, dan Partai Politik menjadi satu-satunya partai yang berkaitan dengan Pemilu. Dalam Pemilu, tugas Patai Politik adalah menyusun strategi untuk menarik simpati dari masyarakat agar memilih kandidat dari suatu Partai Politik yang ikut bertarung dalam Pemilihan Umum.
Miriam Budiardjo mengatakan bahwa partai politik adalah salah satu kelompok yang terorganisir yang anggotanya mempunyai orientasi dan cita-cita yang sama. Tujuan kelompok ini adalah memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik dengan cara konstitusional untuk melaksanakan
1UU RI NOMOR 8 TAHUN 2012 Tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD, pasal 1
2 Ibid.
2
kebijakan-kebijakan mereka3.Miriam budiharjo, melihat peran partai politik setidaknya ada empat macam peran, pertama sebagai sarana komunikasi politik artinya partai politik sebagai sarana agregasi kepentingan dan sarana permusuan kepentingan. Kedua, sebagai sarana sosialisasipolitik, yaitu sarana bagi proses yang melaluinya seseorang memperoleh sikap dan orientasi terhadap fenomena politik dan untuk menciptakan citra bahwa dia memperjuangkan kepentingan umum. Ketiga, partai politik sebagai sarana rekrutmen politik, fungsi ini berhubungan dengan perkaderan dan rekrutmen anggota legislatif maupun eksekutif, partai politik harus benar-benar mencari sosok yang profesional dan orang-orang yang punya integritas.Keempat, sebagai sarana pengatur konflik, karena masyarakat politik adalah masyarakat yang hitrogen, yang ten ntunya selalu berbeda yang kemungkinan berpotensi konflik4.Di Negara-negara maju, ukuran keberhasilan demokrasi secara tepat bisa dilihat dari bagaimana partai politik menjalankan fungsinya untuk memasukkan agenda-agenda kebijakan public yang bermanfaat tidak saja bagi konstituen pemilihnya, melainkan juga bermanfaat bagi seluruh komponen bangsa yang ada. Ukuran demokratis tidaknya, misalnya, bisa dilihat dalam kerangka apakah aspirasi konstituen sebagaimana yang dicerminkan dalam janji-janji partai politik terwujud dalam implementasinya5. Partai Politik sebagaimana yang digambarkan oleh Ramlan surbakti (1992) adalah suatu organisasi politik yang mengakar dalam masyarakat, memiliki ideologi, memiliki cabang di daerah-daerah, mempunyai kegiatan yang berkelanjutan, ikut di dalam pemilihan umum dan memiliki wakil di Parlemen6. Pandangan tersebut didasarkan pada tiga teori yang menjelaskan asal-usul dari partai politik. Ketiga teori partai politik itu adalah teori perlembagaan yang melihat ada hubungan antara Parlemen awal dan timbulnya partai politik.Kedua, teori keadaan sejarah yang melihat timbulnya partai politik sebagai upaya suatu
3 Miriam Budiardjo. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. hal. 160-161.
4Ibid., hal. 405-409.
5 Koirudin. 2004. Partai Politik dan Agenda Transisi Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hal.1-2.
6Warjio. 2013. DILEMA POLITIK DAN PEMBANGUNAN PKS (Islam dan Konvensional).
Medan: Penerbit Perdana Publishing. hal. 15.
3
sistem politik untuk mengatasi krisis yang ditimbulkan dengan perubahan masyarakat secara luas.Ketiga, teori pembangunan yang melihat partai politik sebagai produk modenisasi sosial ekonomi.Menurut Almomd dan Coleman (1960), partai politiklah yang menyampaikan informasi dan memperjuangkan kepentingan masyarakat kepada pemerintah, serta mencari para calon untuk jabatan politik.Begitu pula sebaliknya, dari segi respon partai dapat pula membantu memastikan bahwa pembentukan peraturan legislative sudah tepat dan diterapkan dengan baik7. Ringkasnya, berbicara soal politik disebuah Negara, maka akan menjadi tidak berkesesuaian jika tidak membahas partai politik di Negara terkait. Berdirinya partai politik dalam suatu masyarakat merupakan media pendidikan yang sesungguhnya (Ferara, 2007, Warjio, 2011). Melalui pendekatan sistem, keberadaan partai politik dengan sendirinya akan mengubah penampilan semua struktur dalam sistem baik kemampuan dalaman maupun kemampuan antar bangsa. Pengurusan partai politik yang baik boleh melahirkan ide, gagasan dan mencapai tujuan8.Partai Politik diharapkan membawa nilai-nilai pendidikan politik yang partisipatif dan bahkan emansipatoris kepada rakyat;
mereka perlu mengajarkan kepada rakyat bahwa pengelolaan kenegaraan ini merupakan tugas rakyat seluruhnya.
Menjelang pesta demokrasi di Indonesia pada tahun 2019, terlihat berbagai kesibukan yang dilakukan oleh partai-partai politik peserta pemilu maupun calon- calon yang ikut dalam pemilihan anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Mereka berlomba-lomba menunjukkan dan menampilkan versi terbaik dari yang mereka punya untuk memperoleh dan memenangkan hati masyarakat dalam mendapatkan kedudukan dan kekuasaan dalam pemerintahan, dan disinilah marketing politik sangat dibutuhkan.Ilmu marketing sangat baik dan cocok digunakan dalam berkampanye dalam rangka mendapatkan simpati dari pemilih. Karena itu, marketing politik merupakan strategi pemenangan yang
7Ibid.
8Ibid. hal. 17
4
mencakup berbagai aspek.Marketing politik yang baik tentunya harus memiliki tujuan yang terukur, sehingga sosialisasi bisa diterima dengan baik oleh masyarakat.Pada dasarnya, political marketing (marketing politik), menurut Adam Nursal, adalah strategi kampanye politik untuk membentuk serangkaian makna politis tertentu di dalam pikiran para pemilih.Serangkaian makna politis terbentuk dalam pikiran para pemilih untuk memilih kontetstan tertentu. Makna politis inilah yang menjadi output penting political marketing yang menentukan pihak mana yang akan dicoblos9.
Alih-alih hanya sekedar menjual partai atau kandidat belaka, marketing politik disisi lain juga menawarkan konsep tentang bagaimana partai politik atau kandidat menciptakan konsep prosedural dengan permasalahan yang nyata. Di Indonesia, khususnya setelah reformasi konsep marketing politik mulai populer dan diterapkan dalam menghadapi Pemilu. Persaingan Parpol yang jumlahnya banyak memaksa setiap elite politik untuk senantiasa membuat kreasi unik dan menarik demi memikat perhatian publik. Salah satu proses kampanye yang penting dilakukan ketika jumlah partai sangat banyak adalah membangun diferensiasi antara satu dengan yang lainnya. Berdirinya partai-partai baru tersebut dapat dikatakan sebagai salah satu indikator bahwa Indonesia semakin demokratis.Hal itu memberikan dampak positif bagi perkembangan politik di Indonesia.Semakin banyak Parpol memberikan peluang lebih besar kepada masyarakat dalam menyalurkan aspirasi politiknya.Rakyat memiliki alternatif pilihan yang lebih beragam kepada partai yang dianggap dapat mewakili suaranya.Kondisi demikian sulit diperoleh saat Pemilu di masa Orde Baru.Reformasi politik yang terjadi juga berdampak pada berubahnya struktur pasar Parpol di Indonesia10. Dalam UU No.
8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, DPRD, kampanye Pemilu diartikan sebagai kegiatan peserta Pemilu untuk menyakinkan pemilih dengan menawarkan visi, misi, dan program peserta. Dalam kampanye Pemilu
9Pito, Toni Andrianus & Efriza & Fasyah Kemal. 2019. MENGEBAL TEORI-TEORI POLITIK (Dari Sistem Politik Sampai Korupsi). Bandung: Penerbit Nuansa Cendekia. hal. 177.
10Fahmi Nurdiansyah. 2018. “Marketing Politik Dpp Partai Gerindra Pada Pemilu Legislatif 2014”. Jurnal Ilmu Politik. Vol. 9 No. 1, hal. 60. https://ejournal.undip.ac.id/index.php/politika/article/view/17505/13061
5
anggota DPR, DPD, dan DPRD ini bertujuan untuk menyakinkan para pemilih dalam memeroleh dukungan sebesar-besarnya dan semaksimal mungkin, dengan menawarkan visi, misi, dan program masing-masing calon anggota DPR, DPD, dan DPRD11.
Marketing politik yang sesungguhnya dirancang tidak untuk menjual partai politik itu sendiri, tetapi suatu kerangka pemikiran yang didalamnya menyalurkan bagaimana suatu partai politik bisa selalu eksis dalam pembuatan suatu program kerja berupa kampanye politik yang ada hubungannya dengan masalah yang sedang menjadi isu sosial. Ketetapan marketing politik merupakan gagasan yang harus dilakukan secara kontinyu dan konsisten oleh suatu partai politik dalam membangun serta menguatkan kepercayaan masyarakat dan citra.Dalam membangun citra tidak bisa dilakukan secara instan, karena hal tersebut bisa membuat masyarakat melupakannya secara cepat pula. Namun diperlukan upaya yang ekstra melalui pembangunan hubungan baik secara jangka panjang, supaya citra yang diciptakan partai politik mampu menumbuhkan brand awareness dibenak masyarakat yang mampu membuat partai politik tersebut sulit untuk dilupakan karena dedikasinya yang tinggi kepada masyarakat yang peduli aspirasinya meskipun tidak mendekati waktu kampanye pemilu. Dalam skripsi saya, salah satu partai yang akan saya jadikan sebagai objek penelitian saya yaitu, PDI Perjuangan cabang Samosir. Melihat fakta empiris bahwa jumlah perolehan kursi yaitu PDI Perjuangan yang merupakan partai pemenang Pemilihan Umum anggota DPRD di Kabupaten Samosir pada April 2019 meraih 8 kursi, disusul partai Nasdem 5 kursi, partai PKB 4 kursi, partai Golkar 3 kursi, partai Gerindra dan Demokrat masing-masing 2 kursi sementara partai Hanura 1 kursi12. Maka berdasarkan uraian di atas, saya tertarik untuk meneliti, mengetahui dan menganalisis strategi marketing politik yang dilakukan oleh DPC PDIP untuk merebut hati masyarakat Samosir melalui calon anggota DPRD yang ikut
11Peraturan KPU RI No.23 Tahun 2018 tentang Kampanye Pemilihan Umum, Pasal 1
12 https://www.greenberita.com/2019/11/resmi-dprd-samosir-dilantik-dan-kader.html diakses pada 01 Maret pukul 20.05 WIB
6
bertarung dalam Pemilu 2019 di Kabupaten Samosir, sehingga bisa memperoleh 8 kursi dari 25 kursi dan menjadi Partai pemenang. Jumlah kursi yang dimenangkan juga meningkat dari tahun 2014 lalu, yang sebelumnya 6 kursi menjadi 8 kursi. Berikut daftar calon terpilih DPRD Kabupaten Samosir Periode 2019-202413.
Daerah Pemilihan 1 : Nasib Simbolon, Dra. Sorta Ertaty Siahaan, Renaldi Naibaho, Polten Simbolon, Polma Hasehaton Gurning, Jonner Simbolon, Russser Baringin Jaya Sihotang. Daerah Pemilihan 1 meliputi Kecamatan Pangururan dan Kecamatan Ronggur Ni Huta dengan jumlah Daftar Pemilih Tetap sebanyak 30.275 pemilih.
Daerah Pemilihan 2 : Haposan Sidauruk, Rismawati Simarmata, Paham Gultom, Pardon Lumbanraja, Magdalena Nurainy Sitinjak dan Parluhutan Samosir. Daerah Pemilihan 2 meliputi Kecamatan Onan Runggu dan Simanindo dengan jumlah Daftar Pemilih Tetap sebanyak 24.717 pemilih.
Daerah Pemilihan 3 : Noni Sulvia, Nurmerita Sitorus, Hary Jono Situmorang, Parluhutan Sinaga, Basrun Sihombing dan Suhanto Sitanggang. Daerah Pemilihan 3 meliputi Kecamatan Nainggolan dan Kecamatan Palipi dengan jumlah Daftar Pemilih Tetap sebanyak 22.035 pemilih.
Daerah Pemilihan 4 : Pantas Limbong, Romauli Panggabean, Saur Martua Tamba, Jonny Sagala dan Pantas Marroha Sinaga. Daerah Pemilihan 4 meliputi Kecamatan Sianjur Mula-Mula, Harian dan Sitio-tio.Jumlah Daftar Pemilih Tetap pada Dapil tersebut adalah 18.754 pemilih.
Keberhasilan yang diraih dari PDIP cabang Kabupaten Samosir pada tahun 2019, tentu tidak lepas dari berbagai strategi marketing politik yang
13https://samosirkab.go.id/2019/08/13/kpu-kabupaten-samosir-tetapkan-perolehan-kursi-partai-politik-dan- calon-legislatif-terpilih-anggota-dprd-kabupaten-samosir-hasil-pemilu-2019/ diakses pada 10 Maret 2021pukul 22.05 WIB
7
dilakukan untuk mendapat kepercayaan masyarakat Samosir dalam Pemilu Legislatif tersebut, karena tanpa strategi mustahil kemenangan itu dapat diraih.
Dalam partai politik, kemenangan adalah harga mati. Dalam tulisan selanjutnya, penulis akan mencoba menggambarkan bagaimana strategi marketing politik yang dilakukan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) cabang Kabupaten Samosir untuk mendulang suara yang banyak dan signifikan dari masyarakat yang ikut memilih. Hingga akhirnya orang-orang yang menjadi calon anggota legislatif dari PDIP menang dalam Pemilihan Umum 2019 dan menjadikan PDIP memimpin pada level legislatif di Kabupaten Samosir14.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang dan judul diatas, maka rumusan masalahdalam penelitian ini adalah : Bagaimana strategi marketing politik DPC PDIP Kab. Samosir Pemilihan Legislatif 2019 ?
C. Batasan Masalah
Dalam membuat penelitian ini, peneliti memerlukan batasan. Pembatasan masalah berguna untuk memperjelas dan membatasi ruang lingkup mengenai hal- hal apa saja dari masalah yang akan diteliti agar masalah yang diangkat tidak menyimpang dari tujuan yang hendak dicapai. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah :Masalah dibatasi pada bagimana marketing politik yang dilakukan oleh DPC PDIP Kabupaten Samosir dalam memenangkan dan memperoleh kursi paling banyak di DPRD yaitu 8 kursi dari 25 kursi yg tersedia pada Pileg 2019. Hal ini menjadi menarik karena pada Pileg 2014 juga dimenangkan oleh PDIP dengan 6 kursi dari 25 kursi di DPRD Kab. Samosir.
D.
Tujuan PenelitianAdapun tujuan dari penelitian ini adalah :
14 https://samosirkab.go.id/wp-content/uploads/2018/08/anggota-dewan.pdf diakses pada 01 Maret 2021 pukul 13.35 WIB
8
a.
Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan marketing politik DPC PDIP Kab.Samosir pada Tahun 2019 dalam Pemilihan Umum Anggota Legislatif.
b.
Untuk mendeskripsikan bentuk marketing politik yang dilakukan oleh DPC PDIP bersama kader terbaik yang mereka miliki dalam memenangkan hati masyarakat pada Pemilihan Umum anggota legislatif Kab. Samosir Tahun 2019.E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat yang baik bagi pembaca dalam menambah wawasan. Adapun yang menjadi maanfat penelitian in secara rinci, yaitu :
a. Secara teoritis, penelitian diharapkan dapat memberi pemahanan kepada pembaca melalui beberapa teori yang sudah disajikan oleh penulis mengenai marketing politik oleh partai politik.
b. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat menambah referensipenelitian dalam mengembangkan pemikiran dan menulis bagi mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
c. Sebagai salah satu syarat menyelesaikan studi S1 Prodi Ilmu PolitikFakultas Ilmu-Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
F. Literature Review
Dalam mengerjakan penelitian ini, penulis menggunakan kajian dari penelitian terdahulu yang dijadikan sebagai acuan dan tolak ukur dalam menulis referensi, menghindari duplikasi dan pengulangan penelitian yang dikaji olehpeneliti terdahulu, penelitian ini berhubungan dengan marketing politik yang dilakukan oleh Partai Politik dalam Pemilihan Umum. Berikut ini adalah beberapa literarute review yang memiliki fokus dalam lingkup yang sama dengan penelitian saya.
9
Pertama, jurnal yang berjudul “PARTAI POLITIK DAN PEMILUKADA (Analisis Marketing Politik dan Strategi Positioning Partai Politik Pada Pilkada Kabupaten Tasikmalaya)” yang ditulis oleh Moh.Ali Andrias dan Taufik Nurohman.Fokus kajian dalam jurnal tersebut adalah analisis marketing Partai Politik dalam Pilkada Kabupaten Tasikmalaya. Dalam jurnal tersebut dituliskan bahwa kemenangan suatu pasangan calon dalam Pilkada tak lepas dari dukungan penuh oleh semua elemen dan kader-kader parpol handal dalam mengkampanyekan dan memasarkan produk politik, visi misi dan program politik pasangan calon, pada proses Pilkada. (Moh Ali Andrias dan Taufik Nurohman, 2018 : 3)
Kedua, “Marketing Politik Partai Gerindra Pada Pemilu Legislatif 2014 Di Kabupaten Karawang”, yang ditulis oleh Maulana Rifai, Pengajar di Fisip Universitas Singaperbangsa Karawang Program StudiI lmu Pemerintahan. Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa manajemen kampanye politik menjadi sangat penting, dimana di dalamnya menyoroti bagaimana manajemen kampanye politik yang dilakukan oleh para manajer dan konsultan politik, manajemen sukarelawan(volunteer), pendukung kandidat dan partai politik, media placement dan fundrising pendanaan politik. Disinilah soliditas tim sukses diuji di lapangan untuk mendapatkan hasil optimal berupa output agar masyarakat atau konstituen mau memilih partai pendukung pada saat pemilihan umum berlangsung. (Maulana Rifai, 2015)
Ketiga, Strategi Marketing Politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kabupaten Sragen Untuk Meningkatkan Citra Partai Tahun 2012, ditulis oleh Nofia Puspitasari sebagaiNaskah PublikASI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Gelar Sarjana S-1 Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa, PDI Perjuangan Kab. Sragen melakukan strategi marketing politik dengan berbagai cara yaitu, melalui kampanye politik yang bermanfaat dengan membuat event yang disesuaikan untuk masing – masing segmentasinya. Disamping itu,
10
PDI Perjuangan Kab. Sragen juga memanfaatkan seluruh jaringan media massa untuk beriklan seperti radio, website, spanduk, baliho dan press release. (Nofia Puspitasari, 2012 : 2)
Dari kajian pustaka ketiga jurnal tersebut, ada bebarapa persamaan yang dilakukan oleh Partai Politik dalam marketing politik yang sudah dipikirkan sebaik mungkin yaitu melalui kampanye politik dengan memanfaatkan seluruh jaringan yang ada. Tentunya tidak akan jauh dari pembahasan yang akan dilakukan oleh penulis dalam penelitian ini. Namun ada sedikit perbedaan tinjauan pustaka di atas dengan penelitian ini, yaitu bahwa selain berfokus terhadap DPC PDIP Kab. Samosir, penulis juga akan melibatkan anggota DPRD terpilih dari PDIP Kab. Samosir dalam penelitian ini.
G. Kerangka Teori dan Konsep
Teori merupakan sumber tenaga bagi penelitian, dimana seiring perkembangan zaman, teori dikembangkan dan dimodifikasi oleh berbagai penelitian.Teori juga merupakan seperangkat dalil mengenai hubungan antara berbagai konsep. Dalam penelitian kualitatif, teori yang sudah ada memiliki kegunaan yang cukup penting, teori dalam penelitian kualitatif digunakan secara lebih longgar, teori memungkinkan dan membantu untuk memahami apa yang sudah diketahui secara intuitif pada saat pertama, tetapi bersifat jamak untuk berubah sebagaimana teori sosial berubah. Pada umumnya teori bagi penelitian kualitatif berguna sebagai sumber inspirasi dan pembanding.Fungsi dan posisi sebuah teori dalam pengertian sederhana adalah bingkai dari sebuah penelitian kualitatif. Di sini tidak lain adalah menggunakan sebuah teori ilmu tertentu untuk menginterpretasikan temuan penelitian dan bukan untuk menentukan variable- variabel yang perlu ditemukan, apalagi untuk membuktikan kebenaran sebuah teori. Dapat dikatakan bahwa pada dasarnya, fungsi dan posisi teori berada pada garis yang kontimum dari awal hingga akhir proses penelitian, tinggal pada posisi mana pada garis tersebut sebuah teori akan digunakan di masing-masing tradisi
11
penelitian kualitatif15.Dalam skripsi ini penulis berpedoman kepada beberapa teori yang dikemukakan oleh para ahli :
G.1 Teori Marketing Politik 4p Menurut Niffenegger
Proses marketing politik memiliki kesamaan dengan proses marketing komersial namun tidak serupa, ketidak serupaan tersebut terdapat pada hal-hal yang dibahas pada setiap tahap proses antara marketing komersial dan marketing politik. Proses marketing politik menurut Niffennege memiliki bauran marketing 4P.Dalam ekonomi,bauran marketing 4P adalah sesuatu yang sudah dikenal banyak orang.Tetapi 4P dalam marketing politik memiliki nuansa yang berbeda dari yang diterapkan dalam dunia bisnis pada kehidupan sehari-hari (Firmanzah, 2012).Berikut adalah 4P dalam proses marketing politik menurut Niffenegger :
a. Product Niffengger, membagi produk politik menjadi tiga kategori, platform partai, masa lalu kandidat, dan karakteristik pribadi kandidat. Produk utama dari partai politik tentunya adalah platform atau paradigma partai yang mengandung konsep, identitas ideologis dan program kerja dari partai politik itu sendiri. Dalam hal ini perlu dilihat bagaimana platform partai pendukung, track record pasangan calon dan karakteristiknya.
b. Promotion, dalammarketing politik harus menggunakan promosi sebagai alat untuk "menjual" produk politik yaitu pasangan calon. Promosi yang baik bukanlah keberuntungan, promosi yang baik harus menempatkan dengan tepat di mana penjualan akan berlangsung, bagaimana jalannya promosi dan untuk siapa promosi itu dilakukan. Dalam hal ini, bagaimana kampanye
15Madekhan. 2018. “Posisi Dan Fungsi Teori Dalam Penelitian Kualitatif “ Reforma: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 7 No. 2. https://jurnalpendidikan.unisla.ac.id/index.php/reforma/article/view/78/0 diakses pada 04 Maret 2021 pukul 21.00 WIB
12
pasangan calon menentukan apakah promosinya berhasil atau tidak. Dalam promosi pasangan calon harus berpikir, Jargon apa yang baik, bahwa media berhak untuk bekerja sama dengannya, dan siapakah artis yang diundang, artis seperti apakah yang dapat mempengaruhi suara.
c. Price, Price atau harga di dalam marketing politik mencakup beberapa hal, mulai dari ekonomis, citra psikologis hingga citra nasional. Harga ekonomi adalah banyaknya dana kampanye yang dikeluarkan selama periode kampanye, citra psikologis mengacu pada persepsi psikologis yang dialami pemilih, seolah-olah pemilih merasa nyaman dengan pasangan calon tersebut. Serta harga citra nasional yaitu apakah pemilih merasa pasangan calon dapat memberikan citra positif dan menjadi kebanggaan atau tidak.
d. Place ,place atau tempat terkait erat dengan bagaimana pasangan calon dapat memaksimalkan semua pemilih secara efektif.
Kampanye politik pasangan calon harus mampu menjangkau semua lapisan masyarakat. Pasangan calon harus dapat mengelompokan, memetakan, serta menganalisa struktur dan karakteristik masyarakat. Identifikasi dilakukan dengan mengamati konsentrasi penduduk di suatu wilayah, penyebarannya dan kondisi fisik geografisnya. Pemetaan juga dapat dilakukan melalui demografi, di mana pemilih dikelompokkan berdasarkan tingkat pendidikan, pekerjaan, usia, kelas sosial, pemahaman tentang keyakinan politik, agama dan etnis. Pemetaan juga perlu didasarkan pada keberpihakan pemilih, seperti jumlah pendukung partai politik, berapa banyak
13
pendukung kandidat lain, seberapa pemilih yang mengambang, dan juga berapa persentase golput16.
G.2. Branding dan Positioning Politik.
Brand dapat diasosiasikan sebagai nama, terminologi, simbol atau logo spesifik atau juga kombinasi berbagai elemen yang bisa digunakan sebagai identitas suatu produk dan jasa. Dalam hal ini brand tidak harus terkait dengan hal-hal yang bersifat fisik.Brand adalah simbolisasi dari imajinasi yang diciptakan dan ditanamkan dalam benak konsumen.Jadi branding adalah semua aktivitas untuk menciptakan brand yang unggul.Realitas yang ada saat ini adalah persaingan yang tidak hanya terjadi pada partai politik saja tetapi persaingan juga terjadi pada calon- calon anggota legislatif yang turut ambil bagian pada pemilihan umum ini.Oleh karena itu agar para calon anggota legislatif ini dapat menarik simpati masyarakat tak jarang mereka melakukan branding diri atau yang lebih lazim dikenal dengan personal branding.Personal branding sebenarnya adalah upaya membangun dan menanamkan persepsi positif untuk mendapatkan dukungan. Personal branding merupakan proses penanaman citra seseorang sehingga terbentuk sebuah persepsi positif tentang seseorang tersebut. Sedangkan citra itu sendiri menurut Kotler didefinisikan sebagai jumlah dari keyakinan, gambaran dan kesan yang dipunyai seseorang dalam suatu objek (orang, organisasi, kelompok orang). Menurut Roberts, citra menunjukkan keseluruhan informasi tentang dunia ini yang telah diolah, diorganisasikan dan disimpan individu.
Seperti dinyatakan Ruslan (2002), pengertian tentang citra pada dasarnya merupakan hal yang abstrak dan tidak bisa diukur secara matematis tetapi
16Sutrisno, Neneng Yani Yuningsih, Leo Agustino. 2018. “Komparasi Teori Marketing Politik 4p Menurut Niffenegger dan 3p Menurut Adman Nursal”. JPPUMA: Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Sosial Politik UMA (Journal of Governance and Political Social UMA). Vol. 6 No. 2.
https://ojs.uma.ac.id/index.php/jppuma/article/view/1617/1746 . diakses pada 04 Maret 2021 pukul 22.30 WIB.
14
wujudnya bisa dirasakan dari hasil penilaian baik atau buruk yang berasal dari khalayak sasarankhususnya dan masyarakat secara luas. Menurut Nimmo citra kandidat terbentuk dari atribut politik dan gaya personal seorang kandidat politik, seperti yang dipersepsikan oleh pemberi suara17.
Positioning untuk partai politik adalah partai-partai dapat dikelompokkan menurut persamaan ideologi dan karakter dasar.Pengelompokkan itu membentuk beberapa kategori partai politik.Masing-masing kategori memiliki kekuatan dan kelemahan.Pengelompokkan itu terbentuk karena masing-masing mempunyai dasar tersendiri, yakni ada konstituennya. Kemudian, masyarakat akan menilai mana partai yang memiliki ciri khas dan mana yang tidak. Hal ini diperkokoh dengan teori bahwa sebuah partai harus mempunyai sebuah positioning agar dapat meraih massa. Ada lima cara untuk mem-positioning-kan sebuah kontestan politik18, yaitu :
1) Partai dapat diposisikan berdasarkan ketagori partai tersebut.
Sebagai contoh, sebuah partai dapat memposisikan diri sebagai partai nasionalis-religius. Akan tetapi, positioning ini tidak efektif karena generik dan tidak menawarkan perbedaan khas bandingkan dengan partai lain yang nasionalis-religius.
2) Positioning berdasarkan atribut tertentu. Misalkan, sebuah organisasi politik bisa saja memposisikan dirinya sebagai partai besar.
3) Positioning berdasarkan benefit, yaitu partai akan memberi manfaat tertentu kepada para pemilih. Misalnya, sebuah partai
17 Dian Rhesa Rahmayanti. 2009. Skripsi: PEMASARAN POLITIK (POLITICAL MARKETING) PARTAI GOLONGAN KARYA DAN PARTAI DEMOKRAT (Studi Tentang Perbandingan Pemasaran Politik Partai Golkar dan Partai Demokrat Dalam Rangka Menarik Massa Pada Pemilihan Umum Legislatif Tahun 2009 di Daerah Pilihan II Kabupaten Madiun). Surakarta: Universitas Sebelas Maret. diakses pada 04 Maret 2021 https://digilib.uns.ac.id
18 Ilham, Teguh & Labolo, Muhadam. 2015. PARTAI POLITIK DAN SISTEM PEMILIHAN DI INDONESIA (TEORI, KONSEP, ISU STRATEGIS). Jakarta: PT. RAJAGRAFINDO PERSADA. hal. 177-178.
15
akan memposisikan dirinya sebagai partai yang akan menghapuskan sumbangan biaya pendidikan
4) Positioning berdasarkan kategori pemilih, sebuah partai dapat memposisikan dirinya sebagai partai wong cilik. Partai lainnya dapat memposisikan dirinya sebagai kelompok sosial tertentu.
5) Positioning berdasarkan pesaing alias competitor positioning, untuk mengalahkan George W. Bush pada Pemilu Presiden Amerika Tahun 1992, Bill Clinton menerapkan competitor positioning. Saat itu, Bush dikenal sebagai pemimpin yang memiliki reputasi politik luar negeri yang hebat, terutama telah mengalahkan Irak dalam Perak Teluk.
Empat kesalahan yang harus dihindari dari menentapkan positioning, yakni :
1) Underpositioning, yaitu gerget sebuah kontestan tidak dirasakan para pemilih karena tidak memiliki posisi yang jelas dank has.
2) Overpositioning, pemasar terlalu sempit memposisikan kontestannya sehingga mengurangi minat para pemilih di segmen yang dibidik.
3) Confuse positioning, para pemilih ragu-ragu karena positioning kontestan terlalu banyak atribut.
4) Doubtful Positioning, parah pemilih meragukan kebenaran positioning yang disampaikan karena tidak didukung bukti yang memadai antara lain karena produk yang ditawarkan tidak sesuai dengan positioning.
G.3. Partai Politik
Partai politik merupakan salah satu institusi inti dari pelaksanaan demokrasi modern.Demokrasi modern mengandaikan sebuah system yang
16
disebut keterwakilan (representativeness), baik keterwakilan dalam lembaga formal kenegaraan seperti parlemen (DPR/DPRD) maupun keterwakilan aspirasi masyarakat dalam institusi kepartaian.Berbeda dengan demokrasi langsung sebagaimana dipraktikkan di masa Yunani Kuno, demokrasi modern sebagai demokrasi tidak langsung membutuhkan media penyampai pesan politik kepada Negara (pemerintah).Media yang berupa intitusi tersebut biasa kita sebut sebagai partai politik dan keberadaannya diatur dalamkonstitusi Negara modern19.Tujuan dari partai politik di Indonesia, dalam UU Nomor 2 Tahun 2008 dibagi menjadi tujuan khusus dan tujuan umum. Pasal 10 ayat (1) dan (2), yaitu:
1. Tujuan umum partai politik adalah: a.mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b.menjaga dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia; c.mengembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila dengan menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia; dan d.mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
2. Tujuan khusus partai politik adalah: a.meningkatkan partisipasi politik anggota dan masyarakat dalam rangka penyelenggaraan kegiatan politik dan pemerintahan; b.memperjuangkan cita-cita Partai Politik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; c.membangun etika dan budaya politik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara20.
19 Koirudin. 2004. Partai Politik dan Agenda Transisi Demokrasi. Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR. hal.1.
20 UU Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik, Pasal 10
17
Menurut Hafied Cangara bahwa partai politik juga mempunyai tiga prinsip dasar21, yaitu :
a. Partai sebagai koalisi, yakni membentuk koalisi dari berbagai kepentingan untuk membangun kekuatan mayoritas. Kehadiran faksi-faksi dalam partai besar sering mengacaukan kesatuan partai karena satu sama lain berusaha menjadi dominan dalam partai.
Ketidakcocokan dalam partai terutama muncul dalam penetapan asas perjuangan, program, kepengurusan organisasi, dan pencalonan kandidat.
b. Partai sebagai organisasi, untuk menjadi sebuah institusi yang eksis, dinamis, dan berkelanjutan partai politik harus dikelola. Partai harus dibina dan dibesarkan sehingga mampu menarik dan menjadi wadah perjuangan, sekaligus representasi dari sejumlah orang atau kelompok. Tugasnya adalah mencalonkan anggota untuk pemilu, mengajukan calon yang disepakati, mengumpulkan dana, dan membuat isu propaganda dalam kampanye. Untuk itu, partai politik melakukan mobilisasi kepada anggota-anggotanya untuk loyak kepada partai.
c. Partai sebagai pembuat kebijakan, dimana partai politik berbeda dengan kelompok sosial lainnya dalam mengambil kebijakan. Partai politik mendukung secara konkret para calon yang mereka ajukan untuk menduduki jabtan-jabatan public. Dari posisi ini mereka memiliki kekuasaan untuk memengaruhi atau mengangkat petugas atau karyawan dalam lingkup kekuasaannya, bahkan turut memberi pengaruh dalam mengambil kebijakan di kementerian dimana kader partai menduduki posisi yang sama melalui kolegitas partai.
21 Ilham, Teguh & Labolo, Muhadam. 2015. PARTAI POLITIK DAN SISTEM PEMILIHAN DI INDONESIA (TEORI, KONSEP, ISU STRATEGIS). Jakarta: PT. RAJAGRAFINDO PERSADA. Hal. 14.
18
Partai politik juga merupakan sarana penyalur aspirasi masyarakat yang memiliki berbagai fungsi antara lain:
1. Sosialisasi politik
Partai politik merupakan wahana bagi masyarakat dalam menyadarkan hak-hak politik tiap warga masyarakat. Hak berpendapat, hak mengeluarkan suara melalui pemilihan umum, dan hak-hak lain. Semua hak ini akan terpelihara melalui perjuangan partai politik. Partai politik memiliki fungsi sebagai sarana sosialisasi terhadap penyadaran akan hak-hak warga negara (hak- hak rakyat), penyampaian informasi yang benar, ikut mendidik masyarakat dalam memelihara hak-hak politiknya. Sosialisasi politik bersifat memelihara budaya politik masyarakat yang berlangsung terus-menerus.
2. Komunikasi politik
Partai Politik berfungsi sebagai sarana komunikasi politik, artinya keberadaan partai politik di dalam kehidupan politik berada pada posisi di tengah, penyalur aspirasi dari arus bawah (rakyat), dan penyalur informasi dari arus atas (penguasa).Titik pertemuan antara aspirasi dan informasi ini diolah oleh partai politik yang melahirkan progam perjuangan partai politik.
3. Pembentuk Kader Politik
Partai politik mempunyai fungsi sebagai pembentuk kader politik.
Di dalam kehidupan partai politik, tiap orang mempunyai peluang yang sama untuk menduduki kepengurusan partai politik bersangkutan. Seseorang sebelum menjadi kader bangsa yang akan menduduki posisi-posisi penting di pemerintahan, memegang jabatan politik baik di legislatif (wakil rakyat) maupun eksekutif (pemerintah), perlu menghadapi seleksi dan teruji terlebih dahulu di kehidupan partai politik.
19 4. Pengendali konflik masyarakat
Fungsi terberat bagi partai politik adalah sebagai pengendali konflik masyarakat.Hakekat partai politik itu sendiri sebagai alat perjuangan politik bagi masyarakat, juga sering mengundang konflik (pemicu konflik) yang terjadi di masyarakat.Lebih ironis lagi, konflik justru berawal dari dalam tubuh partai (internal partai) atau antar partai (lintas partai), kemudian menjalar kepada masyarakat luas22.
5. Kontrol terhadap Pemerintah
Kontrol terhadap pemerintah merupakan suatu kontrol bentuk public yang dilakukan oleh partai politik untuk memastikan bahwa kebijakan ataupun pelaksanaan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah berjalan dengan baik dan semestinya. Ketika partai politik menemukan adanya suatu penyimpangan yang dilakukan oleh pemerintah, maka terdapat dua mekanisme yang dapat dilakukan oleh partai tersebut dalam menyalurkan sikap kritis terhadap pemerintah :
• Melalui Parlemen, sikap kritis disalurkan dan dicerminkan oleh wakil-wakil partai politik yang sedang duduk di lembaga perwakilan rakyat (legislative). Lembaga legislatif ini memiliki fungsi, bisa sebagai partner pemerintah atau sekaligus mengusulkan rancangan undang-undang yang dapat mengubahnya. Pada kenyataannya, hal ini tidak mudah dan otomatis dapat dilakukan mengingat pola pengambilan keputusan yang cukup kompleks dan kerap terjadi negosisasi antar fraksi.
• Melalui Non Parlemen, partai politik dapat menyuarakan analisis dan sikap kritisnya melalui jalur non parlementer.
Misalnya dengan melakukan diskusi dan debat publik
22Miriam Budiharjo. 2008. Dasar Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. hal. 405-409.
20
tentang kebijakan pemerintah. Selain itu, bisa juga dilakukan dialog dengan media massa untuk pembentukan opini publik sehingga mendapatkan dukungan politis publik23.
Mengenai peran partai politik yang paling utama adalah memenuhi hakikatnya sebagai bagian terpenting dari infra struktur politik dan hakikatnya sebagai organisasi sosial politik yang bersifat sukarela24, yakni :
- Peran sebagai mediator antara konstituennya (masyarakat pada umumnya) untuk menyalurkan aspirasi mereka kepada supra stuktur politik. Peran ini dilakukan melalui tindakan aktualisasi, yakni mengemas aspirasi tersebut secara nyata, menyatakannya dan kemudian mengagresikannya (mendesakannya), sehingga supra stuktur politik diharapkan dapat membuat kebijakan-kebijakan yang sesuai dengan aspirasi masyarakat tersebut.
- Bentuk peran tersebut dapat saja dengan mengaktifkan fungsi- fungsi tersebut diatas secara nyata (aksinya), seperti aksi-aksi partisipasi politik yang beraneka ragam dimensi dan intensitasnya, kegiatan komunikasi politik, kampanye menjelang pemilihan dan lain-lainnya.
- Atas dasar keterkaitan antar fungsi dan peran tersebutlah, banyak pendapat yang tidak membedakan antara peran dan fungsi parpol, tetapi menyatukannya sebagai rangkaian yang tidak terpisahkan satu dengan yang lain.
Kemudian, Partai Politik juga memiliki kriteria.Partai tidak hanya berusaha untuk berpartisipasi dalam pembentukan opini publik.Mereka juga bercita-cita untuk berpartisipasi dalam perwakilan rakyat di
23Ilham, Teguh & Labolo, Muhadam. 2015. PARTAI POLITIK DAN SISTEM PEMILIHAN DI INDONESIA (TEORI, KONSEP, ISU STRATEGIS). Jakarta: PT. RAJAGRAFINDO PERSADA. hal. 25-26.
24Ibrahim, Amin. 2009. Pokok- Pokok Pengantar Ilmu Politik. Bandung: Penerbit CV. Mandar Maju. hal.
150-151
21
parlemen.Ini mengandaikan bahwa partai-partai mengambil bagian dalam pemilihan.Kontribusi politik dalam suatu partai dan juga “bobot”
politiknya terkait erat dengan pemilihan.Kehendak para pemilih sangat penting bagi partai-partai.Tipikal bagi partai-partai adalah “semangat juang” mereka, kesiapan mereka untuk aksi politik dan konfrontasi politik dan aspirasi mereka untuk mengambil alih dan mempertahankan kekuasaan pemerintahan.Persaingan diantara partai-partai ini adalah instrumen untuk mendapatkan kekuasan politik dan seluruh organisasi suatu partai pada akhirnya tunduk pada tujuan ini.Hanya pihak-pihak yang berhasil berpartisipasi dalam kompetisi ini yang dapat memperoleh posisi perwakilan politik.Ini juga merupakan rangsangan utama berpartisipasi dalam kegiatan partai dan membuat pesta menjadi sangat menarik setelah menjadi bagian dari pemerintahan. Dalam partisipasi politik tersebut, partai-partai saling bersaing untuk mendapatkan cara terbaik dalam menyelesaikan masalah politik.
Mereka bersaing untuk mendapatkan pengaruh kekuasaan.Tanpa kekuatan untuk menegakkan visi politik, tidak mungkin untuk mengorganisir masyarakat.Diskusi internal dan konflik di dalam, maupun diantara, partai politik menemani kontes ini untuk ide dan kekuasaan.Mereka sah dan penting.Pertumbuhan ekonomi membutuhkan kepemimpinan politik yang kuat, yang disediakan oleh partai politik.25
Berdasarkan pada pemahaman tersebut maka sebuah organisasi yang disebut partai politik harus memiliki kriteria politik26, yaitu :
• Suatu partai berusaha untuk memengaruhi pembentukan opini public dan bertujuan untuk memiliki dampak politik secara umum
25Warjio. 2020. TATA KELOLA PARTAI : BAGAIMANA PARTAI POLITIK BEKERJA DALAM GELOMBANG DEMOKRASI. Medan: Gerhana Media Kreasi. hal. 160.
26Ibid. hal 161.
22
• Pengaruh aktif dari pembuatan opini politik ditujukan pada periode waktu yang lebih lama dan juga wilayah yang lebih luas dan tidak boleh dikonsentrasikan pada tingkat lokal atau masalah tunggal
• Suatu partai adalah asosiasi warga yang memiliki keanggotaan individu, dan harus memiliki jumlah anggota minimum, sehingga keseriusan target dan prospek keberhasilan tetap jelas
• Suatu partai harus menujukkan kemauan untuk secara konsisten untuk mengambil bagian dalam perwakilan politik rakyat selama pemilihan. Karena itu, ia membedakan dirinya dari serikat pekerja, organisasi non pemerintah dan inisiatif lain yang tidak ingin memikul tanggung jawab politik untuk sector yang lebih besar tetapi hanya mencoba untuk memiliki pengaruh selektif, dan yang tidak berpartisipasi dalam pemilihan
• Suatu pihak harus menjadi organisasi yang independen dan permanen, ia tidak akan dibentuk hanya untuk satu pemilihan dan tidak ada lagi sesudahnya
• Suatu partai harus bersedia tampil di depan umum
• Suatu partai tidak perlu memenangkan kursi di parlemen, tetapi partai tersebut harus memenuhi semua kriteria lainnya.
H. Metodologi Penelitian
Metodologi penelitian berasal dari kata “Metode” yang artinya cara yang tepat untuk melakukan sesuatu; dan “Logos” yang artinya ilmu atau pengetahuan.
Jadi, metodologi artinya cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara saksama untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan “Penelitian” adalah suatu kegiatan untuk mencari, mencatat, merumuskan dan menganalisis sampai menyusun laporannya.Metodologi penelitian terdiri dari kata metodologi yang berarti ilmu tentang jalan yang ditempuh untuk memperoleh pemahaman tentang sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya.Sejalan dengan makna penelitian
23
tersebut di atas, penelitian juga dapat diartikan sebagai usaha/kegiatan yang mempersyaratkan keseksamaan atau kecermatan dalam memahami kenyataan sejauh mungkin sebagaimana sasaran itu adanya.Jadi, metodologi penelitian adalah ilmu mengenai jalan yang dilewati untuk mencapai pemahaman.Jalan tersebut harus ditetapkan secara bertanggung jawab ilmiah dan data yang dicari untuk membangun/ memperoleh pemahaman harus melalui syarat ketelitian, artinya harus dipercaya kebenarannya27. Metodologi juga disebut science of methods, yaitu ilmu yang membicarakan cara, jalan, atau petunujuk praktis dalam penelitian atau membahas konsep teoritis berbagai metode atau dapat dikatakan sebagai cara untuk membahas tentang dasar-dasar filsafat ilmu dari metode penelitian. Bagi ilmu seperti sosiologi, antropologi, politik, komunikasi, ekonomi, hukum serta ilmu alam, metodologi merupakan dasar-dasar filsafat ilmu dari suatu metode atau langkah praktis penelitian.
H.1. Jenis Penelitian
Metode penelitian yang saya gunakan adalah metode kualitatif.Cresswell (1998), menyatakan penelitian kualitatif sebagai gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami.Penelitian kualitatif merupakan riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif28.Penelitian yang saya gunakan dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian kualitatif dengan tipe studi kasus dan deskriptif. Studi kasus meliputi analisis mendalam dan kontekstual terhadap situasi yang mirip dengan organisasi lain, dimana sifat dan definisi masalah yang terjadi adalah serupa dengan masalah yang dialami saat ini. Studi kasus pada dasarnya mempelajari secara intensif seorang individu atau kelompok yang dipandang mengalami kasus
27http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/dra-wening-sahayu-mpd/metodologi-penelitian.pd diakses pada 04 Maret 2021
28Noor, Juliansyah. 2011. METODOLOGI PENELITIAN : SKRIPSI TESIS, DISERTASI DAN KARYA ILMIAH. Jakarta: PRENADAMEDIA GROUP. hal. 34.
24
tertentu29.Di dalam studi kasus, saya akan mempelajari subjek secara mendalam dan menyeluruh untuk mendapatkan informasi, serta tekanan utama dalam studi kasus adalah mengapa individu melakukan apa yang dia lakukan dan bagaimana tingkah laku nya dalam kondisi dan pengaruhnya terhadap lingkungan. Kemudian, skripsi saya dibantu dengan penelitian deskriptif yang sesuai karakteristiknya memiliki langkah-langkah tertentu dalam pelaksanaannya.Mulai dengan adanya masalah, jenis informasi yang saya butuhkan dari informan yang saya pilih dan tentukan, menentukan prosedur pengumpulan data melalui observasi atau pengamatan, kemudian diolah hingga saya dapat menarik kesimpulan dari penelitian yang saya lakukan.
H.2. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah tempat dimana penulis mengadakan penelitian untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Adapun penelitian yang dilakukan oleh penulis, yaitu berada di Kecamatan Pangururan, Kab. Samosir.
H.3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan cara mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Umumnya cara megumpulkan data dapat menggunakan teknik : wawancara (interview, angket (questionnaire), pengamatan (observation), studi dokumentasi dan Focus Group Discussion (FDG)30. Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis adalah :
-
Wawancara29Ibid. hal. 35
30Ibid. hal. 138
25
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan berhadapan langsung dengan yang diwawancarai tetapi dapat juga diberikan daftar pertanyaan dahulu untuk dijawab pada kesempatan lain oleh informan. Dalam melakukan teknik pengumpulan data, informan sangat penting guna peneliti mampu mendapatkan informasi.
Adapun informan yang akan diwawancari oleh penulis adalah : 1. Ibu Sorta Ertati Siahaan (Ketua DPC PDIP Samosir dan
Anggota DPRD Terpilih periode 2019-2024)
2. Tim Pemenangan Romauli Panggabean (Anggota DPRD terpilih periode 2019-2024)
- Observasi
Teknik ini menuntut adanya pengamatan dari peneliti baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap objek penelitian. Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi antara lain : ruang (tempat), pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa.
Alasan penulis menggunakan observasi yaitu untuk menyajikan gambaran realistis perilaku atau kejadian, menjawab pertanyaan, membantu mengerti perilaku manusia dan evaluasi.Adapun bentuk observasi yang dilakukan penulis adalah observasi partisipasi (participant observation), yaitu metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan.
- Dokumen
Sejumlah besar fakta dan data tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi.Sifat utama data ini adalah tak terbatas pada ruang dan waktu sehinggamemberi peluang pada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi di waktu silam. Secara detail, bahan dokumenter terbagi beberapa macam, yaitu autobiografi, surat
26
pribadi, buku, dokumen pemerintah atau swasta, data di server dan flashdisk, dan data yang tersimpan di web site seperti jurnal, yang tentunya berkaitan dengan penelitian yang sedang dilakukan oleh penulis.
H.4. Teknis Analisis Data
Teknik analisis data merupakan cara menganalisis data penelitian, termasuk alat-alat statistic yang relevan untuk digunakan dalam penelitian31. Jenis analisis data yang digunakan oleh peneliti adalah dengan metode penelitian kualitatif dengan tipe studi kasus dan deskriptif.
Peneliti akan mempelajari subjek secara mendalam untuk mendapatkan informasi yang dibututuhkan, kemudian dilengkapi dengan data yang sudah diperoleh dari berbagai sumber. Setelah itu, peneliti memeriksa keabsahan data dan menganalis sesuai dengan kemampuan peneliti berdasarkan kerangka teori yang tertera untuk menghasilkan kesimpulan dari penelitian yang dilakukan peneliti.Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat menuju data dan berakhir pada penerimaan atau penolakan data yang digunakan.
I. Sistematika Penulisan
Sistem penulisan skripsi ini terdiri dari empat (4) bab yang tentunya masing-masing akan memiliki titik berat dalam penulisan dan penelitiannya, namun dalam satu-kesatuan akan saling mendukung dan melengkapi. Adapun 4 bab tersebut adalah :
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, kerangka teori dan konsep, metode penelitian, serta sistematika penulisan.
31Noor, Juliansyah. 2011. METODOLOGI PENELITIAN : SKRIPSI TESIS, DISERTASI DAN KARYA ILMIAH. Jakarta: PRENADAMEDIA GROUP. hal. 163
27
BAB II : PROFIL PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN DAN DAFTAR CALON ANGGOTA LEGISLATIF KAB. SAMOSIR TAHUN 2019
Pada bab ini akan membahas profil Partai PDI-Perjuangan dan daftar calon Anggota Legislatif Kab. Samosir 2019.
BAB III : BENTUK MARKETING POLITIK YANG DILAKUKAN OLEH DPC PDIP PADA PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DPRD KAB.
SAMOSIR TAHUN 2019.
Pada bab ini nantinya akan berisikan tentang penyajian data dan fakta yang diperoleh dari wawancara, buku, jurnal, artikel dan referensi lainnya yang diperoleh selama berlangsungnya penelitian.
BAB IV : PENUTUP
Pada bagian akhir dari penelitian ini akan menghasilkan rangkuman dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Bagian ini juga akan menghasilkan saran- saran yang diperoleh dari analisis data yang peneliti temukan selama melakukan penelitian.
28 BAB II
PROFIL KAB. SAMOSIR, PROFIL PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN DAN DAFTAR CALON ANGGOTA LEGISLATIF KAB.
SAMOSIR TAHUN 2019
A. Profil Kabupaten Samosir
A.1. Sejarah Singkat Terbentuknya Kabupaten Samosir
Kabupaten Samosir merupakan sebuah kabupaten yang terbentuk dari hasil pemekaran Kabupaten Toba Samosir. Diawali dengan dicetuskannya UndangUndang Nomor 22 tahun 1998 tentang Pembentukan daerah Tingkat II Toba Samosir dan Kabupaten Daerah Tingkat II Mandailing Natal. Kabupaten daerah Tingkat II Toba Samosir diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden Republik Indonesia pada tanggal 09 Maret 1999 di Kota Medan. Maka setelah 4 tahun usia Kabupaten Toba Samosir, masyarakat Samosir yang bermukim di bona pasogit bersama putera-puteri Samosir yang tinggal diperantauan kembali melakukan upaya pemekaran untuk membentuk Samosir menjadi kabupaten baru. Hal ini juga didasari oleh Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah yang memberi peluang keleluasaan pada daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri rumah tangga daerahnya dalam bentuk pemekaran daerah atau pembentukan daerah otonomi baru. Hal ini diperkuat pula dengan lahirnya Undang Undang Nomor 33 Tahun 1999 tentang perimbangan keuangan antara pusat dan daerah. Undang Nomor 33 Tahun 1999 tentang perimbangan keuangan antara pusat dan daerah. Dengan berlandaskan hal diatas, maka pada tanggal 20 Juni 2002 anggota DPRD Kabupaten Toba Samosir melakukan rapat paripurna yang bersamaan dengan desakan masyarakat maka usul pemekaran Kabupaten Toba Samosir didasarkan pada :
29
1. Kabupaten Toba Samosir (induk), terdiri dari 10 (sepuluh) kecamatan yaitu Kecamatan Balige, Laguboti, Silaen, Habinsaran, Porsea, Lumnajulu, Uluan, Pintupohan Meranti, Ajibata dan Borbor.
2. Kabupaten Samosir (kabupaten baru), terdiri dari 9 (Sembilan) kecamatan yaitu Kecamatan Pangururan, Ronggur Nihuta, Sianjur Mula-mula, Simanindo, Nainggolan, Onan Runggu, Palipi, Harian dan Sitio-Tio. Melalui musyawarah mufakat ditetapkan keputusan DPRD Kabupaten Toba Samosir Nomor 4 tahun 2002 tentang pembentukan pemekaran Kabupaten Toba Samosir untuk Pembentukan kabupaten Samosir sekaligus merekomendasikan dan mengusulkannya ke pemerintah pusat. Dengan surat DPRD Kabupaten Toba Samosir Nomor 171/866/2002 tanggal 21 Juni 2002 tentang usul pembentukan Kabupaten Samosir, kemudian disusul dengan surat ketua DPRD Kabupaten Samosir Nomor 171/878/2002 tanggal 24 Juni 2002 tentang Pemekaran Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara yang ditujukan masing-masing kepada: DPR RI Cq. Komisi II DPR RI,Gubernur dan ketua DPRD Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkaan rekomendasi DPRD Kabupaten Toba Samosir, pada tanggal 26 Juni 2002 beberapa utusan atau delegasi masyarakat Samosir didampingi Pimpinan DPRD Kabupaten Toba Samosir menemui Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia dan Komisi II DPR RI di Jakarta untuk menyampaikan aspirasi masyarakat akan pemekaran Kabupaten Toba Samosir dengan Pembentukan Kabupaten Samosir. Pada tanggal 29 Juni 2002, Tim Komisi II DPR RI dibawah pimpinan Bapak Prof. DR. Manasse Malo bersama anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara mengadakan kunjungan ke Samosir yang disambut Bupati Toba Samosir dan unsur DPRD Kabupaten Toba Samosir serta masyarakat. Selanjutnya atas usul tersebut, Gubernur Sumatera Utara meminta DPRD Provinsi Sumatera Utara mengadakan Rapat Paripurna Pembahasan Pembentukan Kabupaten Samosir yang memberikan Persetujuan Pembentukan Kabupaten Samosir yang diteruskan kepada Pemerintah Pusat. Maka atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa atas perjuangan segenap komponen masyarakat
30
Samosir, baik yang tinggal di bona pasogit maupun yang berada di perantauan seperti yang tinggal di Kota Jakarta dan di Kota Medan, berdasarkan Hak Usul Inisiatif DPR RI ditetapkanlah Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2003 tanggal 18 Desember 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Samosir dan Kabupaten Serdang Bedagai di Provinsi Sumatera Utara. Kemudian oleh Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia atas nama Presiden Republik Indonesia pada tanggal 7 Januari 2004 meresmikan Pembentukan Kabupaten Samosir sebagai salah satu kabupaten baru di Provinsi Sumatera Utara dengan wilayah administrasi pemerintahan sebanyak 9 (sembilan) kecamatan dan 111 (seratus sebelas) desa serta 6(enam) kelurahan dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Karo dan Kabupaten Simalungun;
b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Humbang Hasundutan;
c. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Toba Samosir;
d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Dairi dan Kabupaten Pakpak Bharat.
Atas dasar itu, disepakati bahwa tanggal 7 Januari ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Samosir sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Samosir Nomor 28 Tahun 2005 tentang Hari Jadi Kabupaten Samosir. Seiring dengan diresmikannya Kabupaten Samosir, melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 131.21.27 tanggal 6 Januari 2004 diangkat dan ditetapkan Penjabat Bupati Samosir atas nama Bapak Drs. Wilmar Elyascher Simanjorang, M.Si yang dilantik pada tanggal 15 Januari 2004 di Medan oleh Gubernur Sumatera Utara. Sesuai dengan kebijakan dan peraturan yang ditetapkan pemerintah melalui proses demokrasi-ketatanegaraan, pada bulan Juni 2004 diadakan pemilihan legislatif untuk memilih anggota DPR, DPD dan DPRD yang dilanjutkan dengan pemilihan langsung presiden dan wakil presiden. Sejalan