LANDASAN SOSIAL BUDAYA PADA PENDIDIKAN
Rika Ayu Perdana 22002071004
Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Universitas Islam Malang
Abstrak:
Manusia merupakan makhluk hidup yang dianugerahi dan dibekali berbagai potensi oleh Tuhan, setidaknya manusia dianugerahi dan dibekali panca indera dalam hidupnya. Mengingat begitu besar dan berharganya potensi yang dimiliki oleh manusia, maka manusia harus dibekali dengan pendidikan yang cukup sejak dini. Dikarenakan, pendidikan itu ialah usaha yang disengaja dan terencana agar membantu mempersiapkan generasi muda untuk terjun ke dalam kehidupan masyarakat memberi bekal pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat.
Pendidikan dan budaya adalah dua hal yang saling terkait. Pendidikan selalu berubah sesuai perkembangan budaya. Karena pendidikan merupakan proses transfer nilai-nilai kebudayaan (pendidikan bersifat reflektif). Pendidikan bersifat progresif, artinya selalu mengalami perubahan perkembangan sesuai tuntutan perkembangan budaya.
Kedua sifat tersebut berkaitan erat satu dan lainnya. Budaya atau Kebudayaan menjadi cermin bagi bangsa, membuat perbedaan sistem, isi dan pendidikan pengajaran sekaligus menjadi cermin tingkat pendidikan dan budaya. Pendidikan dan budaya saling terkait, yaitu dengan pendidikan bisa membentuk manusia atau insan yang berbudaya, dan dengan budaya pula bisa menuntun manusia untuk hidup yang sesuai dengan aturan atau norma yang dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan.
Kata kunci: landasan sosial budaya, pendidikan.
Pendahuluan
Manusia adalah makhluk hidup yang dianugerahi atau dibekali berbagai potensi oleh Tuhan, setidaknya manusia dianugerahi dan dibekali panca indera dalam hidupnya. Namun tentu saja potensi yang dimilikinya harus dapat digunakan semaksimal mungkin sebagai bekal dalam menjalani hidupnya. Untuk memaksimalkan semua potensi yang dimiliki oleh kita sebagai manusia, tentunya
harus ada sesuatu yang bisa mengarahkan dan membimbingnya, supaya berjalan dan terarah sesuai dengan apa yang diharapkan. Mengingat begitu besar dan berharganya potensi yang dimiliki manusia, maka manusia harus dibekali dengan adanya pendidikan yang cukup sejak dini. Dikarenakan, pendidikan itu adalah usaha yang disengaja dan terencana membantu mempersiapkan generasi muda (baru) untuk terjun ke dalam kehidupan masyarakat memberi bekal pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat.
Secara sosiologi, pendidikan merupakan sebuah warisan budaya dari generasi ke generasi, agar kehidupan masyarakat berkelanjutan, dan identitas masyarakat itu tetap terpelihara. Sosial budaya merupakan bagian hidup manusia yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan hampir setiap kegiatan manusia tidak terlepas dari unsur sosial budaya. Dan pada kenyataannya masyarakat mengalami perubahan sosial yang begitu cepat, maju dan memperlihatkan gejala desintegratif yang meliputi berbagai sendi kehidupan dan menjadi masalah, salah satunya dirasakan oleh dunia pendidikan saat ini. Tidak hanya perubahan sosial, budaya pun berpengaruh besar dalam dunia pendidikan akibat dari pergeseran paradigma pendidikan yaitu mengubah cara hidup, berkomunikasi, berfikir, dan cara bagaimana mencapai kesejahteraan. Dengan mengetahui begitu pesatnya arus perkembangan dunia, diharapkan dunia pendidikan dapat merespon hal-hal tersebut secara baik dan bijak. Sehingga, landasan sosial budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu.
Urusan utama pendidikan adalah manusia. Perbuatan pendidikan diarahkan kepada manusia untuk mengembangkan potensi-potensi dasar manusia agar menjadi nyata (real). Perubahan tuntutan yang terjadi dalam masyarakat, menghendaki peningkatan peranan pendidikan berikutnya. Dengan demikian, wajar jika kiranya batasan atau konsep mengenai pendidikan selalu mengalami perubahan sesuai dengan tuntutan keadaan akibat dari perkembangan kehidupan manusia atau perkembangan peradaban manusia dan perkembangan masyarakat.
Landasan pendidikan sebagai tempat bertumpu atau dasar dalam melakukan analisis kritis terhadap kaidah-kaidah dan kenyataan tentang kebijakan dan praktik pendidikan. Landasan Pendidikan diperlukan dalam dunia pendidikan khususnya di negara kita yaitu negara Indonesia, agar pendidikan yang sedang berlangsung dinegara kita ini mempunyai pondasi atau pijakan yang sangat kuat karena pendidikan di setiap negara tidak sama. Untuk negara kita Indonesia diperlukan landasan pendidikan berupa landasan hukum, landasan filsafat, landasan sejarah, landasan sosial budaya, landasan psikologi, dan landasan ekonomi.
Pembahasan
A. PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT
Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Hirschman mengatakan bahwa kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan. Perubahan sosial budaya terjadi karena beberapa faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal, antara lain meliputi: komunikasi; cara dan pola pikir masyarakat; perubahan jumlah penduduk; penemuan baru; terjadinya konflik atau revolusi; dan faktor eksternal seperti bencana alam dan perubahan iklim, peperangan, dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain.
B. LANDASAN SOSIAL BUDAYA DALAM PENDIDIKAN
Aspek sosial dalam pendidikan sangat berperan penting pada pendidikan begitu juga dengan aspek budaya dalam pendidikan. Dapat dikatakan tidak ada pendidikan yang tidak dimasuki unsur budaya. Materi yang dipelajari anak-anak adalah budaya, cara belajar mereka adalah budaya, begitu pula kegiatan-kegiatan mereka dan bentuk-bentuk yang dikerjakan juga budaya. Maka, bisa dikatakan bahwa pengertian sosiologi pendidikan yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang
hubungan dan interaksi manusia, baik itu individu atau kelompok dengan persekolahan yang terjalin kerja sama yang sinergi dan berkesinambungan antara manusia pendidikan.
Berikut akan dibahas mengenai sosial dan budaya pada pendidikan, sebagai berikut :
1. Sosiologi dan Pendidikan
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan struktur sosialnya. Salah satu bagian sosiologi, yang dapat dipandang sebagai sosiologi khusus adalah sosiologi pendidikan.
Wuradji (1988) menulis bahwa sosiologi pendidikan meliputi : 1. Interaksi guru dan siswa.
2. Dinamika kelompok di kelas dan di organisasi intra sekolah.
3. Struktur dan fungsi sistem pendidikan.
4. Sistem masyarakat dan pengaruhnya terhadap pendidikan.
Wujud Dari Sosiologi Pendidikan Adalah Tentang Konsep Proses Sosial Proses sosial merupakan suatu cara berhubungan antar idividu, antar kelompok atau antara individu dan kelompok yang menghasilkan bentuk hubungan tertentu. Interaksi dan proses sosial dapat terjadi sebagai akibat dari salah satu atau gabungan dari faktor-faktor berikut:
1. Imitasi
Imitasi atau peniruan bisa bersifat positif dan bisa juga bersifat negatif 2. Sugesti
Sugesti akan terjadi jika seorang anak menerima atau tertarik pada
pandangan atau sikap orang lain yang berwibawa atau berwewenang atau mayoritas.
3. Identifikasi
Seorang anak dapat juga mensosialisasikan diri lewat identifikasi yang mencoba menyamakan dirinya dengan orang lain, baik secara sadar maupun di bawah sadar.
4. Simpati
Simpati akan terjadi manakala seseorang merasa tertarik kepada orang lain.
Adapun, sosiologi mempunyai ciri-ciri sebagai uraian berikut :
1. Empiris : bersumber dan diciptakan dari kenyataan yang terjadi di
lapangan.
2. Teoretis : merupakan peningkatan fase penciptaan, bisa disimpan dalam waktu lama, dan dapat diwariskan kepada generasi muda.
3. Kumulatif : berkomulasi mengarah kepada teori yang lebih baik.
4. Nonetis : menceritakan apa adanya, tidak menilai apakah hal itu baik atau buruk.
Untuk memudahkan terjadinya sosialisasi dalam pendidikan, maka guru perlu menciptakan keadaan situasi, terutama pada dirinya, agar faktor-faktor yang mendasari sosialisasi itu muncul pada diri anak-anak.
Interaksi sosial akan terjadi apabila memenuhi dua syarat berikut : 1. Kontak sosial
Kontak sosial dapat menghasilkan interaksi positif atau interaksi negatif. Kontak sosial berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu:
a. Kontak antar individu
b. Kontak antara individu dengan kelompok atau sebalikya.
c. Kontak antar kelompok 2. Komunikasi
Adalah proses penyampaian pikiran dan perasaan seseorang kepada orang lain atau sekelompok orang. Ada sejumlah alat yang dapat dipakai mengadakan komunikasi. Alat-alat yang dimaksud adalah:
· Langsung : Lisan dan isyarat
· Tidak Langsung : tulisan dan alat-alat bantu
Ada sejumlah bentuk interaksi sosial, yaitu sebagai berikut :
· Kerjasama : belajar kelompok/bersama
· Akomodasi : meredakan pertentangan
· Asimilasi atau akulturasi : penyatuan pikiran
· Persaingan : kompetisi
· Pertikaian : pertentangan/konflik
Diketahui bersama bahwa manusia selain sebagai makhluk individu juga merupakan mahluk sosial. Oleh karena itu dalam melakukan interaksi sosial manusia terkadang membentuk kelompok sosial. Kelompok sosial berarti himpunan sejumlah orang, paling sedikit dua orang, yang hidup bersama, karena cita-cita yang sama.
Ada beberapa persyaratan untuk terjadinya kelompok sosial, yaitu :
· Setiap anggota memiliki kesadaran sebagai anggota kelompok
· Ada interaksi timbal balik antar anggota
· Mempunyai tujuan yang sama
· Membentuk norma yang mengatur ikatan kelompok
· Ada struktur dalam kelompok yang membentuk peranan dan status sebagai dasar ikatan atau kegiatan kelompok
Dalam dunia pendidikan, kelompok sosial ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu, berdasarkan keakraban hubungan (kelompok primer dan sekunder) dan berdasarkan peraturan (kelompok formal dan informal). Ada dua teori yang dipakai untuk meningkatkan produktivitas kelompok sosial, yaitu: (Wuraji, 1988 dan Sudarja, 1988) :
Teori Struktural Fungsional
· Setiap struktur (bagian-bagian) kelompok memiliki fungsi masing-masing.
· Setiap bagian memiliki kebebasan untuk berkreasi, berinisiatif, dan mengembangkan ide untuk kemajuan kelompok.
Teori konflik
Perubahan atau perbaikan kelompok dilakukan dengan prinsip-prinsip pemaksaan melalui peraturan.
Ada implikasi konsep sosial pada pendidikan, yaitu ;
· Sekolah dan masayarakat sekitarnya harus bisa saling menunjang
· Perlu dibentuk badan kerjasama antara sekolah dan tokoh masyarakat
· Pendidikan (Sekolah) harus berfungsi secara maksimal sebagai wahana proses sosialisasi anak.
· Dinamika kelompok harus diarahkan untuk kepentingan belajar.
2. Kebudayaan dan Pendidikan
Kebudayaan menurut Taylor adalah totalitas yang kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat, dan kemampuan- kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh orang sebagai anggota masyarakat (Imran Manan, 1989). Kebudayaan produk perseorangan ini tidak disetujui Hasan (1983) dengan mengemukakan kebudayaan adalah keseluruhan dari hasil manusia hidup bermasyarakat berisi aksi-aksi terhadap dan oleh sesama manusia sebagai anggota masyarakat yang merupakan kepandaian, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan lain-lain kepandaian sedangkan Kneller mengatakan kebudayaan atau budaya adalah cara hidup yang telah dikembangkan oleh anggota-anggota masyarakat.
Dari ketiga definisi kebudayaan diatas, tampaknya definisi terakhir yang paling tepat, sebab mencakup semua cara hidup ditambah dengan kehidupan manusia yang diciptakan oleh manusia itu sendiri sebagai warga masyarakat (Made Pidarta, 1997:157). Bisa dikatakan bahwa, kebudayaan adalah hasil cipta dan karya manusia berupa norma-norma, nilai-nilai, kepercayaan, tingkah laku, dan teknologi yang dipelajari dan dimiliki oleh semua anggota masyarakat. Antara pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan yang sangat erat dalam arti keduanya berkenaan dengan suatu hal yang sama yaitu nilai-nilai. Pendidikan membuat orang berbudaya, pendidikan dan budaya bersama dan memajukan.
3. Pendidikan dan Pengembangan/Pembangunan Pendidikan
Pendidikan mempunyai misi pembangunan. Mula-mula membangun manusianya, selanjutnya manusia yang sudah terbentuk oleh pendidikan menjadi sumber daya pembangunan atau pengembangan. Pembangunan yang dimaksud baik yang bersasaran lingkungan fisik maupun yang bersasaran lingkungan sosial yaitu diri manusia itu sendiri. Jika manusia memiliki jiwa pembangunan sebagai
hasil pendidikan maka diharapkan lingkungannya akan terbangun dengan baik.
Sumbangan pendidikan terhadap pengembangan atau pembangunan dapat dilihat dari segi sasarannya, lingkungan pendidikan, jenjang pendidikan, dan sektor kehidupan. Secara khusus sumbangan pendidikan terhadap pembangunan adalah pembagunan atau pengembangan atas penyempurnaan sistem pendidikan itu sendiri.
a) Esensi Pendidikan dan Pembangunan Serta Titik Temunya
Kata pembangunan lazimnya diasosiasikan dengan pembangunan ekonomi dan industri, selanjutnya diasosiasikan dengan dibangunnya pabrik-pabrik, jalan, jembatan sampai kepada pelabuhan, alat-alat transportasi, komunikasi, dan sejenisnya. Sedangkan yang mengenai sumber daya manusia ialah secara langsung terlihat sebagai sasaran pembicaraan.
Kemajuan ekonomi, industri ditandai kenaikan GNP, volume eksport dan sebagainya. Sebagai indikatornya, ternyata tidak otomatis membawa kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian pembangunan ekonomi dan industri saja belum menggambarkan esensi yang sebenarnya dari pembangunan, jika kegiatan-kegiatan tersebut belum dapat mengatasi masalah yang hakiki, yaitu terpenuhinya hajat hidup dari rakyat banyak material dan spiritual.
b) Sumbangan Pendidikan Pada Pembangunan
Pendidikan sebagai upaya yang bulat dan menyeluruh hasilnya tidak dapat dilihat. Ada jarak penantian yang cukup panjang antara dimulainya proses usaha dengan tercapainya hasil. Sumbangan pendidikan terhadap pembangunan dapat dilihat pada beberapa segi:
1. Segi Sasaran Pendidikan.
Pendidikan adalah usaha sadar yang ditujukan kepada peserta didik agar menjadi manusia yang berkepribadian kuat dan utuh serta
bermoral tinggi. Jadi tujuan dari citra manusia pendidikan adalah terwujudnya citra manusia yang dapat menjadi sumber daya pembangunan yang manusiawi.
2. Segi Lingkungan Pendidikan.
Lingkungan keluarga atau (pendidikan informal), lingkungan sekolah atau (pendidikan formal), lingkungan masyarakat atau (pendidikan non formal).
3. Segi Jenjang Pendidikan.
Jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi atau disingkat (PT). Pendidikan dasar merupakan basic education, yang memberikan bekal dasar bagi jenjang pendidikan diatasnya.
4. Segi Pembidangan Kerja atau Sektor Kehidupan.
Bidang ekonomi, hukum, sosial politik, keuangan, perhubungan, komunikasi, pertanian, pertambangan, pertahanan, dll.
Pembangunan Sistem Pendidikan Nasional. Pertanyaaan yang muncul adalah:
1. Mengapa sistem pendidikan harus dibangun.
Setiap pendidikan selalu berurusan dengan manusia, karena hanya manusia yang dapat dididik dan harus selalu dididik. Bayi hanya akan menjadi manusia jika melalui pendidikan. Sedangkan manusia adalah satu-satunya mahkluk yang dikaruniai potensi untuk selalu menyempurnakan diri. Padahal kesempurnaan itu sendiri adalah suatu kondisi yang tidak akan kunjung dapat dicapai oleh manusia.
Disamping itu pengalaman manusia juga berkembang. Itulah sebabnya mengapa sistem pendidikan sebagai sarana yang mengantar manusia untuk dapat menemukan jawaban atas teka-teki mengenai dirinya juga selalu disempurnakan. Selanjutnya masalah pendidikan juga dapat dilihat sebagai persoalan nasional karena pendidikan berhubungan dengan masa depan bangsa. Jika rencana pembangunan masyarakat Indonesia akan berubah dari masyarakat agraris menjadi industri, makan pola pikir dan perilaku yang dilandasi oleh situasi dan kondisi agraris harus berubah kearah situasi dan kondisi dimana manusia disibukkan dengan kegiatan industri. Kriteria “kualitas manusia” tentu berubah sesuai dengan tuntutan masyarakat yang berkembang. Sistem pendidikan harus banyak berubah untuk dapat menyongsong suasana hidup yang dibutuhkan, jangan sampai pendidikan sebagai an agent of social change (agen perubahan sosial).
2. Wujud pembangunan sistem pendidikan.
Secara makro, sistem pendidikan meliputi banyak aspek yang satu sama lain bertalian erat, yaitu:
a) Hubungan antar aspek-aspek, dimana aspek filosofis, keilmuan dan yuridis menjadi landasan bagi butir-butir yang lain, karena memberikan arah serta mewadai butir-butir. Dengan demikian struktur pendidikan, kurikulum, dan lain-lain harus mengacu pada aspek filosofis, aspek keilmuan, dan aspek yuridis. Oleh karena itu perubahan apapun yang terjadi pada struktur pendidikan, kurikulum, dan lain-lain tersebut harus tetap berada didalam wadah filosofis dan yuridis.
b) Aspek filosofis dan keilmuan. Aspek filosofif berupa penggarapan tujuan nasional pendidikan. Rumusan tujuan nasional yang tentunya memberikan peluang bagi pengembangan sifat hakikat manusia yang bersifat kodrati yang artinya adalah bersifat wajar. Sifat kodrati paralel dengan jiwa pancasila. Filsafat pancasila ini menggantikan secara total falsafah pendidikan jaman penjajah. Sedangkan aspek keilmuan memberikan sumbangan penting terhadap sistem pendidikan. Dalam usaha mencapai tujuan yang telah dirumuskan oleh filsafat itu, sistem pendidikan memerlukan tunjangan dari teori keilmuan.
c) Aspek yuridis atau perundang-undangan. Undang-undang dasar 1945 sebagai landasan hukum pendidikan sifatnya relatif tetap. Hal ini dimungkinkan oleh karena UUD 1945 isinya ringkas sehingga sifatnya lugas. Beberapa pasal melandasi pendidikan baik yang bersifat eksplisit, maupun implisit. Pasal-pasal tersebut yang sifatnya masih sangat global dijabarkan lebih rinci kedalam bentuk UU pendidikan. Berdasarkan UU pendidikan inilah sistem pendidikan disusun dan dilaksanakan.
d) Aspek struktur. Aspek struktur pembangunan sistem pendidikan berperan pada upaya pembenahan struktur pendidikan yang mencakup jenjang dan jenis pendidikan, lama waktu belajar dari jenjang yang satu ke jenjang yang lain, sebagai akibat dari perkembangan sosial budaya dan politik.
e) Kurikulum yang meliputi materi, metodologi, pendekatan, orientasi. Aspek filosofis, keilmuan, dan yuridis menjadi landasan bagi butir-butir yang lain karena memberikan arah serta mewadahi butir-butir yang lain. Artinya struktur pendidikan, kurikulum dan lain-lain harus mengacu pada aspek filosofis, keilmuan, dan aspek yuridis. Meskipun sebagai landasan, tetapi tidak berarti setiap kali ada perubahan filosofis dan yuridis harus diikuti dengan perubahan aspek-aspek yang lain secara total. Contoh: Undang- undang pendidikan no.12 tahun 1954 diubah menjadi undang-undang no.2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tetapi struktur pendidikan tetap saja seperti yang dulu: pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
KESIMPULAN
Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa pendidikan adalah bagian dari budaya atau kebudayaan. Bila kebudayaan berubah maka pendidikan juga bisa berubah dan apabila pendidikan berubah akan dapat mengubah kebudayaan.
Pendidikan adalah suatu proses membuat orang kemasukan budaya, membuat orang berprilaku mengikuti budaya yang memasuki dirinya. Sekolah sebagai salah satu dari tempat enkulturasi suatu budaya sesungguhnya merupakan bahan masukan bagi anak dalam mengembangkan dirinya. Dapat dituliskan bahwa hubungan antara kebudayaan dan pendidikan adalah
1. Pendidikan dapat membentuk dan menciptakan kebudayaan 2. Pendidikan dapat melestarikan kebudayaan
3. Pendidikan menggunakan dan berdasarkan kebudayaan terdapat Implikasi Konsep Kebudayaan pada Pendidikan, yaitu :
a) Materi pelajaran banyak dikaitkan dengan keadaan dan masalah masyarakat setempat.
b) Metode belajar ditekankan pada kegiatan siswa baik individual maupun kelompok.
Daftar Rujukan
Pidarta, Made. 1997. Landasan Kependidikan. Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia Jakarta : Rineka Cipta.
Raka Joni, T.S.. 1981. Wawasan Kependidikan. Jakarta:
Depdikbud. http://sosbud.kompasiana.com/2011/03/29/landasan-sosial budaya-terhadap-pendidikan/
http://id.wikipedia.org/wiki/Perubahan_sosial_budaya
http://www.scribd.com/doc/22738648/Lingkungan-Sosial Budaya
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/22/landasan-kurikulum/