1
PEMBINAAN PROFESI GURU BERKELANJUTAN:
Tantangan Pendidikan Abad Ke-21 yang Masih Tersisa
Disampaikan pada Webinar “Guru Abad Ke-21 dalam Perspektif Merdeka Belajar.”
Universitas Negeri Padang , Tanggal 8 Juni 2020
Prof. Dr. Unifah Rosyidi. M.Pd
Ketua Umum Pengurus Besar-Persatuan Guru Republik Indonsia (PB-PGRI) Guru Besar Manajemen Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta
Jakarta, 2020
Tantangan Nyata
Pendidikan & Pembinaan Profesi Guru
saat ini
42% anak tidak dapat memecahkan soal
matematika yang termudah sekalipun; 75% tidak dapat mencapai level 2 (kemampuan menafsirkan data dalam grafik); dan hanya 0,3% mencapai matematik level 5 (Anak-anak Shanghai 55%).
25% anak tidak mencapai level terrendah
sekalipun; 42% masih berada di level 1; 66% tidak mampu membuat kesimpulan penelitian
sederhana. Prestasi anak Indonesia menurun sejak 2009.
50% anak tidak mampu menjelaskan main idea dalam teks; tidak memahami kaitan antar kalimat dalam paragraph; tidak dapat menjelaskan makna yang terkandung pada bagian dari teks bacaan
1.
2.
3.
Literasi Anak Indonesia Rendah dan Menurun,
Sejak 2009 (PISA, 2012, 2016, 2019) Skor dan Peringkat PISA Indonesia dengan
OECD Average (2000-2018)
Skor Matematika dan Persepsi Kebahagiaan
Siswa di Sekolah (PISA, 2016, 65 Negara) Skor Sains Anak Usia 15 thn Menerut Level.
di 5 Negara ASEAN (PISA, 2016)
Permasalahan Guru di Indonesia Dewasa ini
1. I. Masalah Jumlah Dan Persebaran
• jumlah guru di Indonesia adalah 3.017. 296 ribu orang, terdiri dari:
guru PNS 1.483.265 ribu (48,6%) dan guru non PNS 1.534.031 guru
(51,4) yang di dalamnya terdapat guru tetap yayasan (GTY) 504.16 ribu orang (16.72%) dan guru honorer sebanyak 988.133 (Dapodik
Kemdikud, 2018);
• Dalam riset yang dilakukan di 10 sekolah (5 SD dan 5 SMP negeri) di daerah terpencil Jawa barat dan Banten, ditemukan 8 sekolah yang memiliki paling banyak 5 orang guru dan hanya kepala sekolah yang PNS, 1 SMP memiliki 2 PNS, dan 1 SMP lainnya memiliki 3 PNS. Guru honorer digaji oleh dana BOS. Pembiayaan untuk mutu terabaikan.
• Perpindahan guru di daerah masih sarat kepentingan politik dan nepotisme, sehingga selalu daerah terpencil kekurangan guru
semakin nyata. Tata kelola guru dan tenaga pendidikan tidak efektif
dan efisien
Permasalahan Guru di Indonesia Dewasa ini (lanjutan)
II. Kualitas Profesional
1. Karena moratorium pengangkatan guru PNS selama 10 tahun, terjadi kekosongan guru akibat pensiun besar-besaran yang tak tergantikan oleh guru PNS baru. Akibatnya,
jumlah guru honorer (GTT) mencapai hampir 1 juta orang,
2. Jumlah guru non-PNS sebanyak 1,53 juta orang (termasuk 504 ribu guru sekolah
swasta) menyimpan persoalan mutu dan kesejahteraan.; rekruitmen GTT dilakukan tanpa prosedur seleksi yang normal sesuai standar pendidik karena adanya desakan kebutuhan jumlah.
3. Belum ada mekanisme Continuing Professional Development (CPD), secara
inherent dalam sistem sertifikasi guru, khususnya bagi guru yang sudah
bekerja (in-service). Akibatnyakurang memacu peningkatan kompetensi dan
kinerja selama mereka bekerja. Menurut UUGD No. 14/2005, guru dalam
jabatan disertifikasi dengan penilaian berbasis mutu dan kinerja yaitu porto
folio.
Sistem Sertifikasi Guru Ambivalen dengan Pengelolaan Guru Nasional yang Berlaku
1. Belum berhasilnya peningkatan kualitas cenderung lebih distigmakan sebagai
kesalahan guru ketimbang kelemahan sistem. Kualitas guru mencerminkan kualitas kebijakan (Kredo dalam teori kebijakan)
2. Sistem remunerasi yang berlaku buruk dampaknya terhadap guru sebagai jabatan profesional karena disamakan dengan pegawai administrasi. TPG bagi guru
bersertifikat tidak memperhitungkan kinerjanya, tetapi ditentukan oleh syarat
administratif, seperti: mengajar minimal 24 jam per-minggu, tidak absen lebih dari tiga hari, serta dengan peraturan yang berbelit-belit
3. Dalam era otonomi daerah, pelatihan guru menjadi sangat langka. Jika pada waktu sebelumnya rata-rata pelatihan yang diperoleh guru adalah 25-50 hari, maka setelah desentralisasi guru yang memperoleh pelatihan kurang dari 10% dengan rata-rata jumlah hari pelatihan 5-7 hari per-tahun (Pusbangprodik GTK, 2015).
4. Kurangnya pelatihan guru disebabkan oleh anggaran pelatihan yang minim atau bahkan mungkin tidak ada sama sekali; sangat jarang pemda menyelenggarakan program pelatihan guru yang sistematis dan terprogram. Selain karena belum
menganggap pentingnya pelatihan guru, Pemda juga tidak memiliki tenaga pelatih
yang profesional dan kurang mampu bekerjasama dengan LPTK setempat.
Untuk Pembinaan Profesional: Indonesia memerlukan Standar Profesi Guru yang Terukur dan Terus Diremajakan (Updated)
Domein Standar Profesi
Guru
(AITSL, Update 2019)
Professional Knowledge:
1. Memahami Siswa
& cara belajarnya 2. Memahami
Konten dan cara mengajarnya
Professional Engagement:
6. Terlibat dalam belajar dunia Profesinya 7. Terlibat dlm kerja-
sama profesional dgn sejawat/karier
& masyarakat Professional
Practice:
3. Renc & pelaksana- an PBM yg efektif 4. Ciptakan & pelihara
lingkngan belajar yg aman & mendukung 5. Menilai, feedback,
dan laporkan hasilnya
Kompetensi Professional yang ditunjukkan oleh pemahaman, sikap dan kecakapan di bidang profesinya termasuk kemampuan belajar untuk memperkaya dan
memutakhirkannya
Kompetensi dalam melakukan inovasi dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran serta memelihara dan meningkatkan
motivasi belajar siswa untuk belajar secara optimal
Mencurahkan sebagian besar waktu dan perhatiannya untuk pekerjaan mengajar dan membimbing siswa untuk belajar dan
mencapai sukses dalam belajar
TEACHER PROFESSIONAL STANDARDS
menurut Brandt & Haxhi Dixie State
University US (2018)”
Merdeka Belajar Menciptakan Peluang untuk Pembinaan Profesi Guru
Berkelanjutan
1. Standar Guru Profesional perlu, dikembangkan dari Kompetensi Utama Siswa yang ingin dicapai
PETA JALAN KEMDIKBUD MASUKAN UMUM UNTUK KEMDIKBUD
1. Kompetensi Utama perlu dirumuskan secara konseptual secara jelas dan terukur. dalam tiga tingkatan kompetensi, ytitu:
a. Kompetensi dasar literasi dan numerasi, sebagai skills bukan mata pelajaran;
b. Kompetensi kecakapan hidup (lapplied skills) yang aplikatif dan berbasis lingkungan (muatan lokal yang bervari);
c. Kompetensi berfikir kritis dan kreatif (HOTS) (pembelajaran kajian secara tematik)
d. Kompetensi aplikasi nilai-nilai karakter, yang berbasis: akademik, nasionalisme, dan
kehidupan sehari-hari.
2. Perumusan standar kompetensi secara jelas dan terukur, relevan dengan: program pendidikan, tingkatan kompetensi. dan jenjang sekolah yang relevan
3. Standar-standar kompetensi yang dirumusan itu harus diiukur capaiannya, sebagai bahan umpan balik untuk updating standar, dan perbaikan mutu peembelajaran.
2. Untuk Pengembangan Profesi Guru, Transformasi (perubahan mendasar) Kurikulum Sekolah adalah Keniscayaan
PETA JALAN KEMDIKBUD MASUKAN UMUM UNTUK KEMDIKBUD
1. Ke depan, kurikulum sekolah tidak dimaknai sebagai daftar mata pelajaran yang padat konten.
2. Kurikukum ditransformasi dari padat konten ke padat literasi dan numerasi yang aplikatif.
3. Kemampuan literasi dan numerasi dapat dibentuk oleh sekolah karena; materinya sudah ada, tekniknya ada, dan cara mengukurnya pun jelas.
4. Pendidikan tidak menyiapkan semua siswa untuk menjadi ilmuwan yang jumlah
kebutuhannya tidak banyak;
5. Sebagian besar siswa akan hidup, bekerja, dan berusaha di masyarakat yang
memerlukan pengetahuan dan kecakapan terpakai yang berubah seiring waktu.
6. Yang terpenting adalah kemampuan belajar sepanjang hayat untuk memutakhirkan
pengetahuan dan kecakapan mereka sesuai
dengan kebutuhan yang berubah.
3. Untuk Pengembangan Profesi Guru, Remodeling Sistem Pembelajaran perlu Dilakukan Berbasis Riset dan Perbaikan Pengalaman
PETA JALAN KEMDIKBUD MASUKAN UMUM UNTUK KEMDIKBUD
1. Profil belajar anak-anak selama ini dominan
“menghafal” konten mata-mata pelajaran yang disampaikan secara berurutan;
2. Ke depan, sistem pembelajaran adalah dominan aplikasi literasi dan numerasi sebagai fondasi untuk belajar lebih lanjut;
3. Dengan transformasi kurikulum, para siswa diberikan kesempatan untuk engage dalam proses belajar, pada empat tingkatan berikut:
• Pelatihan literasi dan numerasi;
• Pelatihan kecakapan hidup terpakai, wajib & pilihan, yang dibutuhkan untuk bekerja dan berusaha
(vokasional, sosial, digital,
• Proses pembelajaran tematik yang: projevt-base, problem-base, and experiential learning; untuk pengembangan berfikir kritis dan kreatif
• Proses internalisasi nilai-nilai karakter, baik melalui semua proses pembelajaran maupun melalui
program khusus nilai-nilai dan perilaku karakter nasionalisme dan keberagaman global.
4. Untuk Pengembangan Profesi Guru, Sistem Asesmen yang Relevan perlu Dirancang dan Dilaksanakan
PETA JALAN KEMDIKBUD MASUKAN UMUM UNTUK KEMDIKBUD
1. Asesmen pendidikan dirancang sebagai sistem yang meliputi tiga jenis: (a) Asesmen literasi dan numerasi, (b) uji kecakapan hidup; (c) uji kompetensi sekolah (termassuk survey karakter); dan (d) uji kompetensi bekerja oleh industri.
2. Uji literasi dan numerasi (membaca, matametik dan sains) berstandar PISA; dilakukan oleh pemerintah setiap tahun (kelas 4, 8, dan 11) bukan untuk kelulusan siswa tetapi untuk evaluasi mutu pendidikan secara nasional (dapat dilakukan secara sampel)
3. Uji kecakapan hiidup dilakukan dengan serifikasi kecakapan oleh provider yang relevan
4. Uji kompetensi sekolah dan karakter dilakukan oleh sekolah berbasis program pendidikan, dilakukan oleh guru dan sekolah melalui asesmen atau survey secara individual/kelompok;
5. Uji kompetensi bekerja dilakukan melalui serifikasi oleh industri dan perusahaan yang relevan
6. Kelulusan sekolah memperhitungkan semua hasil asesmen tersebut
5. Untuk Pengembangan Profesi Guru, Pendidikan Profesi Guru dirancang sebagai Continuing Professional Development (CPD)
PETA JALAN KEMDIKBUD MASUKAN UMUM UNTUK KEMDIKBUD
1. LPTK tetap menjadi pre-service training (konsep simultan/concurrent) dan PT umum (consecutive) untuk melahirkan guru kredensial (uncertified); Juga in service dengan pola sebagai bagian dari CPD. LPTK adalah ruh Pendidikan.
2. PPG dirancang sebagai CPD, menggunakan prinsip
“lifelong learning” dan hasilnya digunakan untuk rekrutmen dan promosi jabatan guru.
3. Sebagai CPD, PPG harus menjadi bagian integral dari dan dilaksanakan secara sistemik di dalam sistem sertifikasi dan pengelolaan guru secara nasional;
4. CPD dirancang sebagai digital learning system, baik secara online mapun offline yang dapat diakses oleh semua guru di seluruh pelosok tanah air.
5. Komposisi asesmen CPD adalah dominan praktek dan Uji portofolio (UU Guru dan Dosen No. 14/2005)
Transformasi Pendidikan = Remodelling Sistem Belajar.
Kebijakan pendidikan yang kurang bermutu yang kini ditengarai telah melahirkan tatakelola pendidikan yang kurang kondusif untuk
melahirkan mutu dan keunggulan.
Guru adalah curriculum cimpliance, selalu patuh pada aturan tatakelola dan kurikulum yang berlaku. Tudingan pada guru sebagai faktor utama terpuruknya pendidikan adalah sebuah
philosophical error.
“Ibarat air yang keruh dari hulunya dan sulit memperoleh air bersih di hilirnya.” Pemeo ini mengatakan bahwa kebijakan yang buruk pasti melahirkan ekosistem tatakelola pendidikan dan sistem operasi sekolah yang buruk, sehingga buruk pula dampaknya terhadap mutu pendidikan
Mutu pembelajaran hanya akan terwujud dalam ekosistem tatakelola pendidikan yang kondusif; ini bergantung pada sistem hulunya, yaitu kebijakan yang bermutu tadi
PANDEMI ADALAH MOMENTUM
Masa pandemi ini adalah momentum untuk kita melakukan hal-hal besar dan mendasar.
.
Untuk mencegah penularan virus,
sementara ini para siswa harus mematuhi protokol kesehatan, seraya melakukan berbagai upaya praktis agar pendidikan berjalan normal.
Education quality can nor accede the quality of teacher
Setelah pandemi berlalu, sekadar menormalkan praksis sekolah tidaklah cukup; yang diperlukan adalah transformasi, yaitu “desain besar” untuk merubah sistem pendidikan secara mendasar.
Benang merahnya bukan menaikan APK atau APM seperti yang kini banyak dilakukan, tetapi melakukan perubahan menyeluruh dan mendasar kurikulum sekolah, baik dominasi kontennya maupun remodeling sistem pembelajarannya
3
1 2
4
5
Survei Periodik PGRI Smart Learning & Character Center, Mei 2020
Reformasi KURIKULUM
03
Yang terpenting bagi
siswa adalah
kemampuan belajar sepanjang hayat agar pengetahuan dan kecakapan mereka dapat dimutakhirkan dan berubah sesuai kebutuhan yang terus berubah.
04
Kemampuan ini bukan sebuah utopi tetapi benar-benar dapat dibentuk oleh sekolah;
materinya ada, tekniknya ada, cara mengukurnya pun jelas, yang mungkin belum jelas adalah
“pemahaman” atau mungkin political will para pembuat kebijakan
02
Sistem pendidikan kita seolah-olah ingin menyiapkan semua siswa menjadi ilmuwan;
padahal yang benar- benar akan menjadi ilmuwan yang sukses tidak banyak dan hanya lapiran tipis teratas saja.
01
Profil belajar anak-anak Indonesia selama ini dominan “menghafal”
konten akademik yang dikemas dalam mata- mata pelajaran; prestasi mereka diukur oleh ujian nasional yang juga berbasis konten
JANGAN LUPA MELIBATKAN AHLINYA ….
REFORMASI KURIKULUM DAN SITEM PENDUKUNG
Adalah fatalistik jika
perubahan kurikulum itu
tidak diikuti oleh perbaikan
sistem pendukungnya
--
Sasaran reformasi kurikulum bukan hanya mengubah dokumen tertulis
“Kurikulum Sekolah,” tetapi
perbaikan seluruh tatanan
dan ekosistem pendukungnya ---
Perubahan kurikulum dimaksudkan
untuk mengubah perilaku guru dan pengelola pendidikan
secara sistematis dan
mendasar
Dalam waktu yang bersamaan,
pendidikan &
pelatihan guru, sistem rekrutmen
guru, sistem redistribusi guru,
manajemen sekolah, dan sarana belajar, harus diperbaiki secara bersamaan
Tujuh kali perubahan kurikulum dalam 40
tahun terakhir, kurang
“menendang”
sebagai sebuah transformasi pendidikan. Bottom
line-nya kurang tersentuh, yaitu perilaku guru dan
pengelola pendidikan yang
tetap saja konvensional, sehingga kualitas
belajar siswa tak pernah sepi dari keterpurukan.
USULAN PGRI TRANSFORMASI PEMBELAJARAN ERA PANDEMI
KURIKULUM SEKOLAH ERA PANDEMI (KSEP)
Merancang “Kurikulum Sekolah Era Pandemi (KSEP)” yang praktis dan aplikatif dengan target pembelajaran yang rasional.
Memberi keleluasaan kepada sekolah (cluster sekolah) menyusun pembelajaran yang mungkin dicapai oleh siswa
Remodelling system belajar (menciptakan proses pembelajaran yang memungkinkan anak termotivasi untuk terus belajar, menjadi
pembelajar mandiri, bertumpu pada proses, guru sebagai learning manajer
Kurikulum sekarang yang padat konten, sulit mendorong anak untuk belajar secara mandiri di rumah
Dengan KSEP guru tidak harus menyampaikan teori mata pelajaran, tetapi melatih anak belajar secara praktis untuk mencapai kompetensi minimum literasi dan numerasi.Basic literacy yaitu membaca, menulis, menyimak, mengkomunikasi dan logika matemtatika untuk survival hidup di alam nyata
Model pembelajaran: thematic instruction, Collaborative learning, Problem based learning, Experimental learning