• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBINAAN PROFESI GURU BERKELANJUTAN: Tantangan Pendidikan Abad Ke-21 yang Masih Tersisa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PEMBINAAN PROFESI GURU BERKELANJUTAN: Tantangan Pendidikan Abad Ke-21 yang Masih Tersisa"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

1

PEMBINAAN PROFESI GURU BERKELANJUTAN:

Tantangan Pendidikan Abad Ke-21 yang Masih Tersisa

Disampaikan pada Webinar “Guru Abad Ke-21 dalam Perspektif Merdeka Belajar.”

Universitas Negeri Padang , Tanggal 8 Juni 2020

Prof. Dr. Unifah Rosyidi. M.Pd

Ketua Umum Pengurus Besar-Persatuan Guru Republik Indonsia (PB-PGRI) Guru Besar Manajemen Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta

Jakarta, 2020

(2)

Tantangan Nyata

Pendidikan & Pembinaan Profesi Guru

saat ini

(3)

42% anak tidak dapat memecahkan soal

matematika yang termudah sekalipun; 75% tidak dapat mencapai level 2 (kemampuan menafsirkan data dalam grafik); dan hanya 0,3% mencapai matematik level 5 (Anak-anak Shanghai 55%).

25% anak tidak mencapai level terrendah

sekalipun; 42% masih berada di level 1; 66% tidak mampu membuat kesimpulan penelitian

sederhana. Prestasi anak Indonesia menurun sejak 2009.

50% anak tidak mampu menjelaskan main idea dalam teks; tidak memahami kaitan antar kalimat dalam paragraph; tidak dapat menjelaskan makna yang terkandung pada bagian dari teks bacaan

1.

2.

3.

Literasi Anak Indonesia Rendah dan Menurun,

Sejak 2009 (PISA, 2012, 2016, 2019) Skor dan Peringkat PISA Indonesia dengan

OECD Average (2000-2018)

(4)

Skor Matematika dan Persepsi Kebahagiaan

Siswa di Sekolah (PISA, 2016, 65 Negara) Skor Sains Anak Usia 15 thn Menerut Level.

di 5 Negara ASEAN (PISA, 2016)

(5)

Permasalahan Guru di Indonesia Dewasa ini

1. I. Masalah Jumlah Dan Persebaran

• jumlah guru di Indonesia adalah 3.017. 296 ribu orang, terdiri dari:

guru PNS 1.483.265 ribu (48,6%) dan guru non PNS 1.534.031 guru

(51,4) yang di dalamnya terdapat guru tetap yayasan (GTY) 504.16 ribu orang (16.72%) dan guru honorer sebanyak 988.133 (Dapodik

Kemdikud, 2018);

• Dalam riset yang dilakukan di 10 sekolah (5 SD dan 5 SMP negeri) di daerah terpencil Jawa barat dan Banten, ditemukan 8 sekolah yang memiliki paling banyak 5 orang guru dan hanya kepala sekolah yang PNS, 1 SMP memiliki 2 PNS, dan 1 SMP lainnya memiliki 3 PNS. Guru honorer digaji oleh dana BOS. Pembiayaan untuk mutu terabaikan.

• Perpindahan guru di daerah masih sarat kepentingan politik dan nepotisme, sehingga selalu daerah terpencil kekurangan guru

semakin nyata. Tata kelola guru dan tenaga pendidikan tidak efektif

dan efisien

(6)

Permasalahan Guru di Indonesia Dewasa ini (lanjutan)

II. Kualitas Profesional

1. Karena moratorium pengangkatan guru PNS selama 10 tahun, terjadi kekosongan guru akibat pensiun besar-besaran yang tak tergantikan oleh guru PNS baru. Akibatnya,

jumlah guru honorer (GTT) mencapai hampir 1 juta orang,

2. Jumlah guru non-PNS sebanyak 1,53 juta orang (termasuk 504 ribu guru sekolah

swasta) menyimpan persoalan mutu dan kesejahteraan.; rekruitmen GTT dilakukan tanpa prosedur seleksi yang normal sesuai standar pendidik karena adanya desakan kebutuhan jumlah.

3. Belum ada mekanisme Continuing Professional Development (CPD), secara

inherent dalam sistem sertifikasi guru, khususnya bagi guru yang sudah

bekerja (in-service). Akibatnyakurang memacu peningkatan kompetensi dan

kinerja selama mereka bekerja. Menurut UUGD No. 14/2005, guru dalam

jabatan disertifikasi dengan penilaian berbasis mutu dan kinerja yaitu porto

folio.

(7)

Sistem Sertifikasi Guru Ambivalen dengan Pengelolaan Guru Nasional yang Berlaku

1. Belum berhasilnya peningkatan kualitas cenderung lebih distigmakan sebagai

kesalahan guru ketimbang kelemahan sistem. Kualitas guru mencerminkan kualitas kebijakan (Kredo dalam teori kebijakan)

2. Sistem remunerasi yang berlaku buruk dampaknya terhadap guru sebagai jabatan profesional karena disamakan dengan pegawai administrasi. TPG bagi guru

bersertifikat tidak memperhitungkan kinerjanya, tetapi ditentukan oleh syarat

administratif, seperti: mengajar minimal 24 jam per-minggu, tidak absen lebih dari tiga hari, serta dengan peraturan yang berbelit-belit

3. Dalam era otonomi daerah, pelatihan guru menjadi sangat langka. Jika pada waktu sebelumnya rata-rata pelatihan yang diperoleh guru adalah 25-50 hari, maka setelah desentralisasi guru yang memperoleh pelatihan kurang dari 10% dengan rata-rata jumlah hari pelatihan 5-7 hari per-tahun (Pusbangprodik GTK, 2015).

4. Kurangnya pelatihan guru disebabkan oleh anggaran pelatihan yang minim atau bahkan mungkin tidak ada sama sekali; sangat jarang pemda menyelenggarakan program pelatihan guru yang sistematis dan terprogram. Selain karena belum

menganggap pentingnya pelatihan guru, Pemda juga tidak memiliki tenaga pelatih

yang profesional dan kurang mampu bekerjasama dengan LPTK setempat.

(8)

Untuk Pembinaan Profesional: Indonesia memerlukan Standar Profesi Guru yang Terukur dan Terus Diremajakan (Updated)

Domein Standar Profesi

Guru

(AITSL, Update 2019)

Professional Knowledge:

1. Memahami Siswa

& cara belajarnya 2. Memahami

Konten dan cara mengajarnya

Professional Engagement:

6. Terlibat dalam belajar dunia Profesinya 7. Terlibat dlm kerja-

sama profesional dgn sejawat/karier

& masyarakat Professional

Practice:

3. Renc & pelaksana- an PBM yg efektif 4. Ciptakan & pelihara

lingkngan belajar yg aman & mendukung 5. Menilai, feedback,

dan laporkan hasilnya

Kompetensi Professional yang ditunjukkan oleh pemahaman, sikap dan kecakapan di bidang profesinya termasuk kemampuan belajar untuk memperkaya dan

memutakhirkannya

Kompetensi dalam melakukan inovasi dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran serta memelihara dan meningkatkan

motivasi belajar siswa untuk belajar secara optimal

Mencurahkan sebagian besar waktu dan perhatiannya untuk pekerjaan mengajar dan membimbing siswa untuk belajar dan

mencapai sukses dalam belajar

TEACHER PROFESSIONAL STANDARDS

menurut Brandt & Haxhi Dixie State

University US (2018)”

(9)

Merdeka Belajar Menciptakan Peluang untuk Pembinaan Profesi Guru

Berkelanjutan

(10)

1. Standar Guru Profesional perlu, dikembangkan dari Kompetensi Utama Siswa yang ingin dicapai

PETA JALAN KEMDIKBUD MASUKAN UMUM UNTUK KEMDIKBUD

1. Kompetensi Utama perlu dirumuskan secara konseptual secara jelas dan terukur. dalam tiga tingkatan kompetensi, ytitu:

a. Kompetensi dasar literasi dan numerasi, sebagai skills bukan mata pelajaran;

b. Kompetensi kecakapan hidup (lapplied skills) yang aplikatif dan berbasis lingkungan (muatan lokal yang bervari);

c. Kompetensi berfikir kritis dan kreatif (HOTS) (pembelajaran kajian secara tematik)

d. Kompetensi aplikasi nilai-nilai karakter, yang berbasis: akademik, nasionalisme, dan

kehidupan sehari-hari.

2. Perumusan standar kompetensi secara jelas dan terukur, relevan dengan: program pendidikan, tingkatan kompetensi. dan jenjang sekolah yang relevan

3. Standar-standar kompetensi yang dirumusan itu harus diiukur capaiannya, sebagai bahan umpan balik untuk updating standar, dan perbaikan mutu peembelajaran.

(11)

2. Untuk Pengembangan Profesi Guru, Transformasi (perubahan mendasar) Kurikulum Sekolah adalah Keniscayaan

PETA JALAN KEMDIKBUD MASUKAN UMUM UNTUK KEMDIKBUD

1. Ke depan, kurikulum sekolah tidak dimaknai sebagai daftar mata pelajaran yang padat konten.

2. Kurikukum ditransformasi dari padat konten ke padat literasi dan numerasi yang aplikatif.

3. Kemampuan literasi dan numerasi dapat dibentuk oleh sekolah karena; materinya sudah ada, tekniknya ada, dan cara mengukurnya pun jelas.

4. Pendidikan tidak menyiapkan semua siswa untuk menjadi ilmuwan yang jumlah

kebutuhannya tidak banyak;

5. Sebagian besar siswa akan hidup, bekerja, dan berusaha di masyarakat yang

memerlukan pengetahuan dan kecakapan terpakai yang berubah seiring waktu.

6. Yang terpenting adalah kemampuan belajar sepanjang hayat untuk memutakhirkan

pengetahuan dan kecakapan mereka sesuai

dengan kebutuhan yang berubah.

(12)

3. Untuk Pengembangan Profesi Guru, Remodeling Sistem Pembelajaran perlu Dilakukan Berbasis Riset dan Perbaikan Pengalaman

PETA JALAN KEMDIKBUD MASUKAN UMUM UNTUK KEMDIKBUD

1. Profil belajar anak-anak selama ini dominan

“menghafal” konten mata-mata pelajaran yang disampaikan secara berurutan;

2. Ke depan, sistem pembelajaran adalah dominan aplikasi literasi dan numerasi sebagai fondasi untuk belajar lebih lanjut;

3. Dengan transformasi kurikulum, para siswa diberikan kesempatan untuk engage dalam proses belajar, pada empat tingkatan berikut:

• Pelatihan literasi dan numerasi;

• Pelatihan kecakapan hidup terpakai, wajib & pilihan, yang dibutuhkan untuk bekerja dan berusaha

(vokasional, sosial, digital,

• Proses pembelajaran tematik yang: projevt-base, problem-base, and experiential learning; untuk pengembangan berfikir kritis dan kreatif

• Proses internalisasi nilai-nilai karakter, baik melalui semua proses pembelajaran maupun melalui

program khusus nilai-nilai dan perilaku karakter nasionalisme dan keberagaman global.

(13)

4. Untuk Pengembangan Profesi Guru, Sistem Asesmen yang Relevan perlu Dirancang dan Dilaksanakan

PETA JALAN KEMDIKBUD MASUKAN UMUM UNTUK KEMDIKBUD

1. Asesmen pendidikan dirancang sebagai sistem yang meliputi tiga jenis: (a) Asesmen literasi dan numerasi, (b) uji kecakapan hidup; (c) uji kompetensi sekolah (termassuk survey karakter); dan (d) uji kompetensi bekerja oleh industri.

2. Uji literasi dan numerasi (membaca, matametik dan sains) berstandar PISA; dilakukan oleh pemerintah setiap tahun (kelas 4, 8, dan 11) bukan untuk kelulusan siswa tetapi untuk evaluasi mutu pendidikan secara nasional (dapat dilakukan secara sampel)

3. Uji kecakapan hiidup dilakukan dengan serifikasi kecakapan oleh provider yang relevan

4. Uji kompetensi sekolah dan karakter dilakukan oleh sekolah berbasis program pendidikan, dilakukan oleh guru dan sekolah melalui asesmen atau survey secara individual/kelompok;

5. Uji kompetensi bekerja dilakukan melalui serifikasi oleh industri dan perusahaan yang relevan

6. Kelulusan sekolah memperhitungkan semua hasil asesmen tersebut

(14)

5. Untuk Pengembangan Profesi Guru, Pendidikan Profesi Guru dirancang sebagai Continuing Professional Development (CPD)

PETA JALAN KEMDIKBUD MASUKAN UMUM UNTUK KEMDIKBUD

1. LPTK tetap menjadi pre-service training (konsep simultan/concurrent) dan PT umum (consecutive) untuk melahirkan guru kredensial (uncertified); Juga in service dengan pola sebagai bagian dari CPD. LPTK adalah ruh Pendidikan.

2. PPG dirancang sebagai CPD, menggunakan prinsip

“lifelong learning” dan hasilnya digunakan untuk rekrutmen dan promosi jabatan guru.

3. Sebagai CPD, PPG harus menjadi bagian integral dari dan dilaksanakan secara sistemik di dalam sistem sertifikasi dan pengelolaan guru secara nasional;

4. CPD dirancang sebagai digital learning system, baik secara online mapun offline yang dapat diakses oleh semua guru di seluruh pelosok tanah air.

5. Komposisi asesmen CPD adalah dominan praktek dan Uji portofolio (UU Guru dan Dosen No. 14/2005)

(15)

Transformasi Pendidikan = Remodelling Sistem Belajar.

Kebijakan pendidikan yang kurang bermutu yang kini ditengarai telah melahirkan tatakelola pendidikan yang kurang kondusif untuk

melahirkan mutu dan keunggulan.

Guru adalah curriculum cimpliance, selalu patuh pada aturan tatakelola dan kurikulum yang berlaku. Tudingan pada guru sebagai faktor utama terpuruknya pendidikan adalah sebuah

philosophical error.

“Ibarat air yang keruh dari hulunya dan sulit memperoleh air bersih di hilirnya.” Pemeo ini mengatakan bahwa kebijakan yang buruk pasti melahirkan ekosistem tatakelola pendidikan dan sistem operasi sekolah yang buruk, sehingga buruk pula dampaknya terhadap mutu pendidikan

Mutu pembelajaran hanya akan terwujud dalam ekosistem tatakelola pendidikan yang kondusif; ini bergantung pada sistem hulunya, yaitu kebijakan yang bermutu tadi

(16)

PANDEMI ADALAH MOMENTUM

Masa pandemi ini adalah momentum untuk kita melakukan hal-hal besar dan mendasar.

.

Untuk mencegah penularan virus,

sementara ini para siswa harus mematuhi protokol kesehatan, seraya melakukan berbagai upaya praktis agar pendidikan berjalan normal.

Education quality can nor accede the quality of teacher

Setelah pandemi berlalu, sekadar menormalkan praksis sekolah tidaklah cukup; yang diperlukan adalah transformasi, yaitu “desain besar” untuk merubah sistem pendidikan secara mendasar.

Benang merahnya bukan menaikan APK atau APM seperti yang kini banyak dilakukan, tetapi melakukan perubahan menyeluruh dan mendasar kurikulum sekolah, baik dominasi kontennya maupun remodeling sistem pembelajarannya

3

1 2

4

5

(17)

Survei Periodik PGRI Smart Learning & Character Center, Mei 2020

(18)
(19)

Reformasi KURIKULUM

03

Yang terpenting bagi

siswa adalah

kemampuan belajar sepanjang hayat agar pengetahuan dan kecakapan mereka dapat dimutakhirkan dan berubah sesuai kebutuhan yang terus berubah.

04

Kemampuan ini bukan sebuah utopi tetapi benar-benar dapat dibentuk oleh sekolah;

materinya ada, tekniknya ada, cara mengukurnya pun jelas, yang mungkin belum jelas adalah

“pemahaman” atau mungkin political will para pembuat kebijakan

02

Sistem pendidikan kita seolah-olah ingin menyiapkan semua siswa menjadi ilmuwan;

padahal yang benar- benar akan menjadi ilmuwan yang sukses tidak banyak dan hanya lapiran tipis teratas saja.

01

Profil belajar anak-anak Indonesia selama ini dominan “menghafal”

konten akademik yang dikemas dalam mata- mata pelajaran; prestasi mereka diukur oleh ujian nasional yang juga berbasis konten

JANGAN LUPA MELIBATKAN AHLINYA ….

(20)

REFORMASI KURIKULUM DAN SITEM PENDUKUNG

Adalah fatalistik jika

perubahan kurikulum itu

tidak diikuti oleh perbaikan

sistem pendukungnya

--

Sasaran reformasi kurikulum bukan hanya mengubah dokumen tertulis

“Kurikulum Sekolah,” tetapi

perbaikan seluruh tatanan

dan ekosistem pendukungnya ---

Perubahan kurikulum dimaksudkan

untuk mengubah perilaku guru dan pengelola pendidikan

secara sistematis dan

mendasar

Dalam waktu yang bersamaan,

pendidikan &

pelatihan guru, sistem rekrutmen

guru, sistem redistribusi guru,

manajemen sekolah, dan sarana belajar, harus diperbaiki secara bersamaan

Tujuh kali perubahan kurikulum dalam 40

tahun terakhir, kurang

“menendang”

sebagai sebuah transformasi pendidikan. Bottom

line-nya kurang tersentuh, yaitu perilaku guru dan

pengelola pendidikan yang

tetap saja konvensional, sehingga kualitas

belajar siswa tak pernah sepi dari keterpurukan.

(21)

USULAN PGRI TRANSFORMASI PEMBELAJARAN ERA PANDEMI

KURIKULUM SEKOLAH ERA PANDEMI (KSEP)

Merancang “Kurikulum Sekolah Era Pandemi (KSEP)” yang praktis dan aplikatif dengan target pembelajaran yang rasional.

Memberi keleluasaan kepada sekolah (cluster sekolah) menyusun pembelajaran yang mungkin dicapai oleh siswa

Remodelling system belajar (menciptakan proses pembelajaran yang memungkinkan anak termotivasi untuk terus belajar, menjadi

pembelajar mandiri, bertumpu pada proses, guru sebagai learning manajer

Kurikulum sekarang yang padat konten, sulit mendorong anak untuk belajar secara mandiri di rumah

Dengan KSEP guru tidak harus menyampaikan teori mata pelajaran, tetapi melatih anak belajar secara praktis untuk mencapai kompetensi minimum literasi dan numerasi.Basic literacy yaitu membaca, menulis, menyimak, mengkomunikasi dan logika matemtatika untuk survival hidup di alam nyata

Model pembelajaran: thematic instruction, Collaborative learning, Problem based learning, Experimental learning

PERTAMA

(22)

KEDUA

menyusun berbagai standar minimal pendidikan era pandemi lebih praktis dan terukur dan berbeda dengan SNP yang berlaku sekarang. Standar-standar itu di antaranya meliputi:

1. Capaian kompetensi literasi dan numerasi siswa; sumber belajar, beban, dan proses pembelajaran di rumah;

2. Manajemen pembelajaran yang dilakukan guru, tenaga kependidikan dan orangtua;

3. Akses jaringan internet dan perangkat digital;

4. Aplikasi online-offline pembelajaran digital yang dapat digunakan siswa dalam belajar sesuai kompetensi yang ingin dicapai;

5. Pendanaan pembelajaran, sumber dan alokasinya;

6. Monitoring proses pembelajaan;

7. Jadwal, pelaksana, dan mekanismenya; serta

8. Evaluasi dan asesmen pembelajaran sederhana bersfat performance siswa.

(23)

KETIGA

Menyusun dan mensosialisasikan pedoman umum pembelajaran termasuk: jenis

kegiatan belajar; jadwal; bentuk, motivasi, bimbingan dan fasilitasi siswa untuk belajar;

dan hubungan sekolah-rumah, agar sekolah dan orangtua dapat mendorong siswa untuk tetap belajar sesuai dengan KSEP dan standar-standar yang sudah ditetapkan.

KEEMPAT

Menyusun dan mensosialisasikan pedoman pengelolaan pendidikan untuk

memfasilitasi proses pembelajaran optimal, termasuk sumber dan pendayagunaan pembiayaan, pendanaan, sarana belajar digital dan non-digital, serta pembagian tugas antara sekolah, orangtua, dan masyarakat, sesuai dengan standar-standar yang

relevan.

KELIMA

Menyusun dan mengembangkan pedoman praktis asesmen kompetensi minimum siswa, yang meliputi: mekanisme, jadwal, pengawasan, penilaian, serta alat ukur asesmen yang digunakan. KEENAM

Pendidikan karakter ditanamkan pendekatan tematik, problem based learning dan

experiential learning melalui isu-isu yang dikaji oleh siswa dalam proses pembelajaran.

Kurikulum sekolah menggariskan perlunya ada isu-isu yang dikaji oleh siswa.

(24)

KESIMPULAN 1:

1. Jangan ada kesan meminggirkan LPTK di dalam agenda besar negara untuk “Peningkatan Mutu dan Keunggulan Pendidikan” karena itu adalah sebuah Phylosophical Error. Visi presiden tidak demikian. Dalam “Peta Jalan Pendidikan Indonesia” berbagai solusi telah diangkat namun memerlukan pemikiran kebijakan yang mendasar; Sebaiknya bekerja sama dan bersinergi dengan para ahli Pendidikan dan para ahli lain yang relevan.

2. Rendahnya kemampuan literasi siswa yang diukur oleh PISA, berakar pada cara mengajar yang terlalu teoritis dengan kurikulum yang padat konten akademik. Menurut kurikulum yang berlaku, matematik, sains dan reading yang diajarkan di sekolah, sepenuhnya berbasis akademik seolah menyiapkan siswa semuanya menjadi ilmuwan; padahal yang diukur oleh PISA bukan aspek akademik tetapi aspek literasinya; Selain itu, Pendidikan di Indonesia harus berakhar pada budaya bangsa.

3. Tekanan pada pendidikan akademik di sekolah, guru tidak dituntut mengaktifkan siswa untuk

berlatih dan belajar secara aplikatif yang dilakukan oleh semua guru lulusan manapun, karena

requirement kurikulum sekolah. Sejak tahun 2005, guru lulusan pendidikan tinggi umum semakin

besar proporsinya, namun sejak saat itu pula skor PISA anak Indonesia tidak semakin baik,

bahkan cenderung semakin menurun; jadi masalhnya bukan terletal pada guru dan LPTK;

(25)

KESIMPULAN 2:

4. Hingga kini pemerintah belum melakukan diagnosa yang cermat terhadap faktor pengelolaan guru (seperti: rekrutmen yang merit, pengelolaan yang profesional, asesmen kinerja, dan pembinaan profesional berkelanjutan), padahal itulah “penyakitnya” dan LPTK tidak berperan di situ.

5. Jadi, jangan sampai kesalahan mendiagnosa karena LPTK dalam Peta Jalan Pendidikan adalah kebijakan yang tidak luput dari pemeo “Solving the Wrong Problem (type 3 error),” seperti halnya dokter yang keliru mendiagnosa penyakit dan fatal akibatnya.

6. Guru kredensial (uncertified) dapat dihasilkan baik secara concurrent melalui LPTK atau consecutive melalui PT umum; dua pilihan ini tetap menjadi pilihan di negara maju.

Dengan konsep school of Education, LPTK tidak hanya bertugas mencetak guru, tetapi melahirkan “pemikir” dan “pemikiran” kebijakan pendidikan berbasis riset, yang sejatinya diperankan oleh LPTK. PT umum tidak dapat dituntut untuk melahirkan pemikiran dan pemikir kebijakan pendidikan pendidikan, nanti lupa akan sektornya yang juga masih bermasalah di negeri ini.

7. Jadi pilihan kebijakan Kemdikbud yang “bijaksana” adalah menguatkan LPTK, bukan

meminggirkannya misalnya dengan cara: moratorium izin pendirian LPTK baru,

menyeleksi LPTK Terbaik dengan akreditasi, meningkatkan mutu LPTK, serta

memampukan LPTK untuk menghasilan calon guru dan para pemikiran dan pemikiran

yang inovatif, mulai dari tingkatan makro, meso hingga mikro.

(26)

KESIMPULAN 3 (Lanjutan)

1. Salah satu masalah krusial yang menjadi faktor sebab rendahnya mutu pendidikan adalah missing-nya sistem dan mekanisme Pembinaan

Profesi Guru Berkelanjutan (CPD). CPD harus merupakan bagian integral dari sistem sertifikasi pendidik (SSP); dan SSP pun harus

menjadi bagian integral dari pengelolaan guru secara nasional. Namun kini, ketiganya seperti terpisah.

2. CPD bukan hanya merupakan “pelatihan guru” sebagai konsep yang makin usang (obsolete), CPD memvariasikan pembinaan profesi guru (seperti: pelatihan formal yang dirancang khusus; tugas belajar guru di PT (part time atau full time); kerjasama guru di sekolah dalam teamwork;

kolaborasi proyek antar-guru; dan berbagi best practices antar guru

secara rutin dan bertingkat mulai dari tingkat sekolah, kecamatan, kab /kota, provinsi hingga nasional;

3. CPD bukan hanya melakukan pembinaan profesi guru dari hari-kehari

tetapi juga melakukan dan mengatur asesment kinerja profesional guru

(27)

KESIMPULAN (Lanjutan)

1. CPD tidak bisa dilakukan oleh pemerintah, tetapi ditawarkan kepada lembaga atau organisasi profesi pendidikan, dan diseleksi bukan atas dasar politis tetapi profesional, dengan menerapkan syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi penyelenggara CPD, di antaranya:

a. Memiliki jejaring (network) yang luas dan keterkaiktan secara emosional dengan setiap guru dan sekolah secara individual;

b. Memiliki jejaring organisasi yang luas hingga ke seluruh pelosok tanah air sehingga mampu menjadi sumber penggerak (driving force);

c. Organisasi non-partisan tetapi berkiprah secara profesional;

d. Mampu melakukan riset dan kajian terhadap berbagai persoalan guru dan sekolah secara berkelanjutan

e. Mampu menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan guru secara online yang menggerakan semua tingkatan kewilayahan secara simuitan dan melibatkan semua guru dalam proses pendidikan dan pelatihan tgersebut.

5. “Guru Penggerak” akan tetap berguna dan dapat langsung “bergerak” tetapi harus

merupakan bagian integral dari CPD ini; jadi tidak digerakkan oleh Menteri. Dalam

konteks ini, harus berhati-hati karena memerlukan syarata memahami kebutuhan guru

, dalam hal ini LPTK hendaknya dilibatkan.

(28)

Sekian dan semoga bermanfaat

Referensi

Dokumen terkait

GLS merupakan upaya menyeluruh yang melibatkan semua warga sekolah (guru, peserta didik, orang tua/wali murid) dan masyarakat, sebagai bagian dari ekosistem pendidikan. GLS

Selain tidak memiliki buku panduan belajar, berdasarkan hasil pengamatan, sebagian siswa datang ke sekolah hanya dengan satu buku, padahal berdasarkan jadwal pembelajaran

akademik yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam membina kinerja guru mengelola pembelajaran di SMP Negeri 1 Sekayam dalam bentuk ; jadual pelaksanaan,

maka seorang guru akan senantiasa terus belajar untuk mengembangkan kemampuan. dirinya secara

Sesuai dengan kecakapan abad 21 yang harus dimiliki peserta didik, maka guru juga harus mampu mengimplementasikan strategi pembelajaran sebagai berikut: (1) berpusat pada peserta

Bagi sekolah, dapat dijadikan alternatif sumber belajar Biologi kelas X, dan dapat memberikan informasi kepada guru dan siswa tentang pengaruh ekstrak kunyit dan ekstrak cacing