• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. TINJAUAN PUSTAKA. 6 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. TINJAUAN PUSTAKA. 6 Universitas Kristen Petra"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

6

Universitas Kristen Petra

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Museum

2.1.1 Pengertian Museum

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Museum adalah gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian umum, seperti peninggalan sejarah, seni, dan ilmu.

2.1.2 Klasifikasi Jenis Museum

Jenis- jenis museum Menurut Sutaarga (43), museum terdiri dari lima,yaitu:

1. Berdasarkan Tingkat Wilayah dan Sumber Lokasi : a. Museum Lokal

b. Museum Regional c. Museum Nasional d. Museum Internasiona 2. Berdasarkan Jenis Koleksi :

a. Museum Umum, koleksi mencakup beberapa bidang b. Museum Khusus, koleksi terbatas pada bidang tertentu 3. Berdasarkan Penyelenggaraannya :

a. Museum Pemerintah b. Museum Yayasan c. Museum Pribadi

4. Berdasarkan Golongan Ilmu Pengetahuan Yang Tersirat Dalam Museum : a. Museum Ilmu Alam dan Teknologi, misalnya : Museum Zoologi, Museum

Geologi, Museum Industri, dan lain-lain.

b. Museum Ilmu Sejarah dan Kebudayaan, misalnya : Museum Seni Rupa, Museum Ethnografi, Museum Arkeologi, dan lain-lain.

5. Berdasarkan Sifat Pelayanannya : a. Museum Berjalan / Keliling b. Museum Umum

c. Museum Lapangan d. Museum Terbuka

(2)

7

Universitas Kristen Petra

2.1.3 Fungsi Museum

Apabila mengacu pada Intertnasional Council of Museum (ICOM) pada tanggal 14 Juni 1974 di Denmark, fungsi dari museum itu sendiri adalah:

1. Tempat untuk pengumpulan dan pengaman warisan alam dan budaya, 2. Penelitian dan dokumentasi,

3. Konservasi,

4. Penyerataan dan penyebaran ilmu untuk umum, 5. Tempat penghayatan dan pengenalan kesenian, 6. Tempat memvisualisasi warisan budaya, 7. Cerminan pertumbuhan peradaban manusia,

8. Pembangkit rasa bersyukur dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, 9. Media perkenalan kebudayaan antar daerah dan bangsa.

2.1.3 Syarat Pendirian Museum

Dalam perancangan museum yang harus diperhatikan adalah organisasi ruang pada museum. Pada umumnya, museum terdiri dari lima area. Pembagian area tersebut berdasarkan kehadiran pengunjung dan keberadaan koleksi pada museum tersebut. Adapun area tersebut terdiri dari:

1. Area publik (tanpa koleksi), 2. Area publik (dengan koleksi), 3. Area non publik (tanpa koleksi), 4. Area publik (dengan koleksi), 5. Area penyimpanan koleksi.

Menurut Joseph De Chiara & Meichael J.Crosbie (677) tahapan yang dilalui dalam membangun sebuah museum adalah:

a) Menentukan tipe dan jenis museum b) Misi museum

c) Membuat rencana strategi (langkah awal untuk menjelaskan program dan kegiatan penting sebagai sebuah museum, sasaran pengunjung, servis pendukung, persyaratan komunitas spesial, staffing, fasilitas dan sumber finansial).

(3)

8

Universitas Kristen Petra

2.1.4 Karakteristik Koleksi Pada Museum

Pada dasarnya sebuah museum mewadahi koleksi penting yang sudah terseleksi. Karakteristik objek koleksi yang ditampung didalamnya adalah:

a) Memiliki nilai ilmiah/sejarah

b) Dapat diidentifikasi wujudnya (morfologi), tipe (typology), fungsi dan maknanya secara geografis dan histori

c) Dapat dijadikan dokumen, yakni sebagai bukti kenyataan (realitas) dan eksistensinya bagi penelitian ilmiah.

d) Dijadikan sesuatu yang menumental (bakal menjadi monumen dalam sejarah alam dan budaya)

e) Benda asli (realis), replika/reproduksi yang sah menurut kaidah permuseuman.

2.1.5 Standarisasi Akomodasi Ruang Museum 1. Bangunan Pokok yang terdiri dari:

 Ruang Pamer tetap

 Ruang Pamer temporer

 Ruang Auditorium

 Ruang Kantor/administrasi

 Ruang Perpustakaan

 Ruang Laboratorium

 Ruang Penyimpanan koleksi

 Ruang Edukasi

 Ruang Transit koleksi

 Bengkel Kerja reparasi

2. Bangunan Penunjang yang terdiri dari:

 Ruang Cenderamata dan kafetaria

 Ruang Penjualan tiket dan penitipan barang

 Ruang Lobi

 Ruang Loilet

 Ruang Parkir dan taman

 Ruang Pos jaga

(Pedoman Museum Indoneisa,

(4)

9

Universitas Kristen Petra

3. Syarat Ruang Pamer

Ruang pamer pada berperan sebagai tempat untuk memamerkan atau mendisplay karya seni. Menurut Neufert (135) ada beberapa hal yang harus dipenuhi dalam membuat ruang pamer yaitu:

a) Terlindung dari kerusakan, pencurian, kelembaban, kekeringan, cahaya matahari langsung dan juga debu.

b) Penghawaan yang baik dan kondisi ruang yang stabil c) Pencahayaan yang cukup

d) Tampilan display dibuat semenarik mungkin dan dapat dilihat dengan mudah

2.1.7 Sistem Pencahayaan Pada Museum

Penggunaan pencahayaan pada bangunan museum sebetulnya sama dengan penggunaan cahaya di bangunan lain pada umumnya. Akan tetapi pencahayaan pada ruang pamer pada umumnya menggunakan pencahayaan buatan karena cahaya buatan cenderung lebih memberikan efek yang lebih bagus pada benda yang ditampilkan. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan dibeberapa banguan museum ada yang menggunakan pencahayaan alami, dikarenakan lebih memberikan kesan hidup pada ruangan.

Pencahayaan dalam ruang pamer diperlukan dua jenis cahaya. Ruangan dapat diterangi secara tidak langsung dengan cahaya lampu incandescent tanpa filter dengan suhu 2800-3100 memberi pencahayaan spot pada objek individual, maupun pencahayaan flood di lokasi tertentu. Pencahayaan ruangan diharapkan tidak melebihi terangnya pencahayaan terhadap objek. Akan tetapi pencahayaan ruangan juga tidak diharapkan terlalu gelap sehingga objek yang dipamerkan terlalu kontras.

Pengaplikasian cahaya pada ruang harus dilakukan secara hati-hati untuk mencegah efek silau, dan pantulan dari silau. Biasanya, digunakan pencahayaan secara tidak langsung pada area pameran di dalam sebuah museum. Selain itu menggunaan skylight juga cukup membantu dalam hal ini. (Illiminating Engineering, Jan 1945. 20).

2.1.9 Syarat Penyajian Museum

Dalam menyajikan koleksi pada museum, haruslah memperhatikan beberapa hal, yaitu:

(5)

10

Universitas Kristen Petra

a. Penataan pameran, penataan barang dimulai dengan menempatkan koleksi di dalam gedung. Untuk area pameran penataan kolesi bisa menggunakan, sistem periode, sistem disiplin ilmu, sistem regional, dan sistem benda sejenis;

b. Pencahayaan, pencahayaan buatan dan alami harus bisa mendukung koleksi c. Informasi, materi, harus padat, ringkas dan dapat dimengerti.

d. Penghawaan di dalam area pamer harus memenuhi persyaratan yang baik, baik bagi koleksi maupun bagi pengunjung;

e. Audio, untuk memperjelas dapat digunakan sound system dan film;

f. Diorama dan Lukisan digunakan unutk menjelaskan peristiwa sejarah;

g. Keamanan pada museum harus diperhatikan dengan saksama, terutama benda- benda yang memiliki nilai orisinilitas yang tinggi.

(Sutarga p. 15-16)

2.2. Galeri

2.2.1 Pengertian Galeri

Djulianto Susilo, (para.3) seorang arkeolog, galeri berbeda dengan museum.

Galeri adalah tempat untuk menjual benda / karya seni, sedangkan Museum tidak boleh melakukan transaksi karena museum hanya merupakan tempat atau wadah untuk memamerkan koleksi benda-benda yang memiliki nilai sejarah dan langka.

2.2.2 Klasifikasi dan Jenis Galeri

Menurut Andri Prasetia Aditama (7), galeri memiliki jenis atau klasifikasi sebagai berikut:

a.) Galeri di dalam museum, Galeri ini merupakan galeri khusus untuk memamerkan benda-benda yang dianggap memiliki nilai sejarah ataupun kelangkaan.

b.) Galeri Kontemporer, Galeri yang memiliki fungsi komersial dan dimiliki oleh perorangan.

c.) Vanity Gallery, Galeri seni artistik yang dapat diubah menjadi suatu kegiatan didalamnya, seperti pendidikan dan pekerjaan.

d.) Galeri Arsitektur, Galeri untuk memamerkan hasil karya-karya di bidang arsitektur yang memiliki perbedaan antara 4 jenis galeri menurut karakter masing-masing.

(6)

11

Universitas Kristen Petra e.) Galeri Komersil, Galeri untuk mencari keuntungan, bisnis secara pribadi untuk menjual hasil karya. Tidak berorientasi mencari keuntungan kolektif dari pemerintah nasional atau lokal.

2.2.3 Syarat Ruang Galeri

Menurut Neufert (205), Ruang pamer pada galeri sebagai tempat untuk memamerkan karya seni harus memenuhi beberapa hal yaitu: Terlindung dari kerusakan, pencurian, kelembaban, kekeringan, cahaya matahari langsung dan debu. Persyaratan umum tersebut antara lain :

a) Pencahayaan yang cukup

b) Penghawaan yang baik dan kondisi ruang yang stabil

c) Tampilan display dibuat semenarik mungkin dan dapat dilihat dengan mudah 2.2.4 Display Pada Galeri

Terdapat tiga macam penataan atau display benda koleksi menurut David Adler (28), yaitu :

a) In show case, benda koleksi mempunyai dimensi kecil maka diperlukan suatu tempat display berupa kotak tembus pandang yang biasanya terbuat dari kaca.

Selain untuk melindungi, kotak tersebut terkadang berfungsi untuk memperjelas atau memperkuat tema benda koleksi yang ada

b) Free standing on the floor or plinth or supports, benda yang akan dipamerkan memiliki dimensi yang besar sehingga diperlukan suatu panggung atau pembuatan ketinggian lantai sebagai batas dari display yang ada. Contoh:

patung, produk instalasi seni, dll.

c) On wall or panels, Benda yang akan dipamerkan biasanya merupakan karya seni 2 dimensi dan ditempatkan di dinding ruangan maupun partisi yang dibentuk untuk membatasi ruang. Contoh: karya seni lukis, karya fotografi, dll.

2.3. Kebudayaan

2.3.1 Pengertian kebudayaan

Menurut Koentjaraningrat, yaitu guru besar Antropologi di Universitas Indonesia kebudayaan adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan, dan hasil karya menusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan cara belajar.

(7)

12

Universitas Kristen Petra

2.3.2 Wujud kebudayaan

Menurut Koentjaraningrat (200-201), wujud kebudayaan terdiri dari:

a.) Sistem Budaya, kebudayaan yang bersifat abstrak dan berpola mengikuti sistem yang ada di masyarakat (nilai kehidupan, pikiran, dan tingkah laku).

b.) Sistem Sosial, merupakan pola tingkah laku manusia yang dilakukan berdasarkan sistem yang sifatnya konkret.

c.) Kebudayaan Fisik, wujud terbesar dan bersifat konkret. Seperti bangunan, candi, benda, kapal, computer, piring, kancing, baju,dan lain-lain.

2.3.3 Unsur Kebudayaan

Unsur kebudayaan terdiri dari tujuh hal, atau yang biasa disebut isi pokok kebudayaan menurut Koentjaraningraat (203), adalah:

a.) Kesenian

b.) Sistem teknologi dan peralatan c.) Sistem organisasi masyarakat d.) Bahasa

e.) Sistem mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi f.) Sistem pengetahuan

g.) Sistem religi

2.4. Pariwisata

1.4.1 Pengertian Pariwisata

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pariwisata memiliki pengertian sesuatu yang berhubungan dengan perjalanan untuk rekreasi dan ber- pelancong.

1.4.2 Jenis Pariwisata

Jenis pariwisata menurut Nyoman S. Pendit (42-48) adalah:

1. Wisata Alam : terdiri dari wisata alam, cagar alam, buru dan argo.

2. Wisata Sosial Budaya : meliputi peninggalan sejarah, monument dan museum 3. Pariwisata Perdagangan: meliputi kegiatan berkunjung ke tempat-tempat

yang berkaitan dengan kegiatan perdagangan.

4. Pariwisata Pemerintahan: meliputi kegiatan berwisata ke tempat-tempat atau suatu kegiatan yang berkaitan dengan pemerintahan atau politik

(8)

13

Universitas Kristen Petra

5. Pariwisata Religi: meliputi kegiatan berwisata ke lokasi-lokasi religious atau yang berhubungan dengan keagamaan.

2.5. Kajian Tentang Kabupaten Kudus

2.5.1 Sejarah dan Asal Usul Kabupaten Kudus

Sabiq,Liliq mengatakan bahwa pada mulanya Kabupaten Kudus merupakan sebuah kota di tepi Sungai Gelis, dan salah satu kota di Pulau Muria. Dahulu Kabupaten Kudus bernama Kota Tajug, disebut Tajug karena di daerah tersebut terdapat banyak Tajug, Di Kudus tajug dahulunya di jadikan tempat bersembahyang warga Hindu di daerah tersebut. Warga Kudus hidup dari bertani, membuat batu bata, menangkap ikan, dan berdagang. Setelah kedatangan Sunan Kudus, Kota ini dikenal sebagai "Al-Quds" yang berarti "Kudus".

Kudus dahulunya memiliki pelabuhan dengan komoditas utama ekspor adalah kayu yang berasal dari Muria (daerah Kudus bagian Utara). Pedagang dari Timur Tengah, Tiongkok, dan pedagang antar pulau dari sejumlah daerah di Nusantara berdagang kain, barang pecah belah, dan hasil pertanian di Tajug, tepatnya di Pelabuhan Tanjung Karang.

Sunan Kudus, mengajarkan tentang Gusjigang. Gus berarti bagus, ji berarti mengaji, dan gang berarti berdagang. Melalui filosofi itu, Sunan Kudus menuntun masyarakat menjadi orang berkepribadian bagus, tekun mengaji, dan mau berdagang. Dari pembauran lewat sarana perdagangan dan semangat

”gusjigang” itulah masyarakat Kudus mengenal dan mampu membaca peluang usaha batik dan jenang (Wawancara pribadi dengan Sekertaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, 15 Oktober 2018).

2.5.2 Aktivitas Tradisi Kabupaten Kudus

a.) Tradisi Buka Luwur: Tradisi ini diadakan untuk memperingati wafatnya Sunan Muria dan Sunan Kudus sebagai tokoh penyebar agama Islam di Kota Kretek.

Dalam tradisi ini terdapat kegiatan pergantian kain klambu penutup makam Sunan Kudus dan Sunan Muriayang yang dilakukan setahun sekali. Kemudian dilanjutkan dengan pembagian nasi dan kain bekas tutup makam yang lama.

Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat, bagi mereka yang mendapatkan nasi serta kain tersebut dipercaya akan mendapat keberuntungan.

(9)

14

Universitas Kristen Petra

Biasanya dilakukan setiap bulan Suro “Bulan Jawa) yaitu tanggal 10 Suro di Sunan Kudus dan 16 Suro di Sunan Muria.

b.) Tradisi Dandangan: merupakan tradisi untuk menyambut bulan suci Ramadhan, yang dilakukan di sekitar Menara Kudus.

c.) Tradisi Kupatan: tradisi yang diadakan pada satu minggu setelah lebaran. Di dalam tradisi ini akan terdapat kupat-kupat yang disusun seperti gunung yang nantinya akan menjadi rebutan masyarakat setempat.

d.) Tradisi Budaya Wiwit Kopi: dilakukan sebagai tanda bahwa panen kopi di desa Colo telah dimulai. Dan sebagai ucapan syukur kepada Tuhan, masyarakat setempat biasanya mengadakan selamatan “tasyakuran” di tengah-tengah kebun kopi.

e.) Tradisi Tari Kretek : Tari Kretek menceritakan awal mula pembuatan rokok Kretek di Kabupaten Kudus, yaitu mulai dari memilih tembakau yang paling baik. Kemudian memotong ujung rokok agar terlihat rapi, lalu para buruh membawanya kepada mandor untuk diperiksa. Para penari selalu menggunakan pakaian adat Kabupaten Kudus.

f.) Tradisi Duta Wisata : Tradisi ini hampir sama seperti pemilihan Abang-None Jakarta. Tujuan dari kegiatan Duta Wisata adalah untuk memilih Duta Pariwisata yang terdiri dari para muda mudi kota Kretek yang memiliki bakat dan terseleksi dengan baik dan benar. Selain memamerkan pakaian adat Kabupaten Kudus, para Duta Wisata juga harus mampu mempromosikan dunia pariwisata di Kabupaten Kudus di segala penjuru. Kegiatan diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus.

g.) Tradisi Jenang Tebokan: salah satu bentuk pelestarian tradisi dan sejarah jenang Kudus yang terkenal sebagai jajanan khas dari kota Kretek seperti jenang Mubarok.

h.) Tradisi Adat Rogomoyo: Rogomoyo merupakan tradisi menggantikan kain luwur/makam Mbah Rogo Moyo di dukuh Prokowinong, Desa Kaliwungu, Kudus. Kegiatan ini biasanya dimeriahkan dengan kirap budaya atau jalan arak-arakan dengan berkonsepkan budaya oleh warga setempat.

i.) Tradisi Ampyong Maulid: Tradisi ini merupakan kegiatan untuk memperingati hari besar kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini biasanya diramaikan

(10)

15

Universitas Kristen Petra

oleh warga desa Loram Kulon, kecamatan Jati dengan arak-arakan membawa makanan dan jajan sebagai syukuran yang dibentuk menjadi gunung besar serta dipinggul oleh beberapa orang.

j.) Tradisi Bulusan: Tradisi ini berbarengan dengan tradisi Kupatan. Tradisi ini juga dimeriahkan dengan adanya berbagai pameran pakaian bernuansa binatang seperti bulus, kupu-kupu, dan lain-lain.

k.) Tradisi Rebo Wekasan: Kegiatan dimeriahkan dengan festival arak-arakan dengan menggunakan pakaian adat Jawa seperi surjan, pangeran yang menunggang kuda, prajurit, dan lain-lain. Sebagai media manusia untuk memohon ampun, belas kasihan, serta bersedekah.

l.) Hari Jadi Kabupaten Kudus: Kabupaten Kudus jadi pada tanggal 23 September.

Biasanya digelar kesenian, hiburan rakyar, parade sepeda hias dan mobil hias, upacara peringatan HUT, acara tasyukuran yang berlangsung di aula Kabupaten, serangkaian atraksi diusung dari gedung kabupaten menuju menara Kudus yang diakhiri dengan ritual keagamaan seperti pembacaan doa dan tahlil (The Hidden Charm of Kudus Tourist Attractions, 37-42).

2.5.3 Artefak kebudayaan Kabupaten Kudus

a) Rumah Adat disebut dengan “Joglo Pencu” yang menggambarkan sifat masyarakat yang agamis dari nenek moyang mereka. Bentuk ukiran merupakan kombinasi/macam-macam gaya, baik gaya Persia eropa, Cina, dan campuran Hindu dan Islam.

b) Tugu Identitas: merupakan monumen perjuangan rakyat Kudus dalam merebut Kemerdekaan RI. Bentuk monumen merupakan stilasi dari Menara Kudus.

c) Pakaian Adat Kudus: terdiri dari pakaian adat wanita dan pria yang masing- masing terdiri dari:

 Pakaian Adat Wanita:

 Caping Kalo

 Baju Kurung Beludru

 Jarik/Sinjang Lasem

 Selendang Tohwatu

 Selop Kelompen

(11)

16

Universitas Kristen Petra

 Aksesoris kepala dan leher yaitu:

 Sanggul

 Suweng beras kecer atau suweng babon angkrem,

 Kalung (sangsang)

 Cincin sigar penjali.

 Pakaian Adat Pria:

 Blankong gaya Surakarta

 Beskap Kudusan

 Jarik laseman

 Selop alas kaki

 Ikat pinggang atau Timang

 Keris motif Gayaman atau Ladrangan

a.) Batik Kudus: batik kudus tergolong batik yang unik karena memiliki motif yang dihasilkan dari akulturasi batik Pekalongan, Solo, dan Yogyakarta, sehingga batik Kudus dikatakan multicultural.

b.) Tarian Kretek: merupakan tarian khas Kudus, dimana bercerita tentang para buruh rokok yang sedang bekerja membuat rokok.

c.) Kriya Khas Kudus:

 Miniatur gebyok: terbuat dari limbah kayu jati, yang diolah dan diproduksi menjadi miniatur bangunan khas kudus.

 Ayaman Bambu: gerabah yang terbuat dari anyaman bambu merupakan kriya khas Kudus, diamana yang pengrajinnya adalah warga di desa Loram Kudus.

 Bordir: seni bornir yang dikerjakan oleh warga Kudus, menjadi salah satu kerajinan yang saat ini sedang dilirik oleh para pelaku fashion di Indonesia.

Baru-baru ini Ivan Gunawan yang sedang mencoba memadu padankan bordir Kudus dengan busana buatannya.

d.) Kuliner Khas Kudus:

 Lentog Tanjung

 Sate Kerbau

 Soto Kerbau

 Pindang kerbau

(12)

17

Universitas Kristen Petra

 Jenang Kudus

(The Hidden Charm of Kudus Tourist Attractions,25).

2.5.4 Pariwisata Kabupaten Kudus A. Pariwisata Bangunan Sejarah di Kudus:

a) Gapura Paduraksa b) Makam Kyai Telingsing c) PG Rendeng

d) Klenteng Hok Tik Bio

B. Pariwisata Alam Kabupaten Kudus

a) Obyek Wisata Colo: terdapat di kawasan Pegunungan Muria, Desa Colo (18 km ke arah Utara dari pusat Kabupaten Kudus). Wisata yang dapat dinikmati adalah panorama alam pegunungan yang indah dan mempesona dengan udara bersih dan sejuk.

b) Mata Air Tiga Rasa: merupakan sumber mata air yang memiliki tiga rasa berbeda. Masyarakat mempercayai bahwa mata air tersebut bisa menjadi alternatif pengobatan. Konon dulunya, Sendang Tiga Rasa ini dijadikan sebagai tempat mandi para murid Sunan Muria.

c) Air Terjun Monthel: terletak disebelah Utara makam Sunan Muria. Dimana untuk menuju kesana, harus melewati 1,5 km dengan berjalan kaki melalui jalan setapak melalui perkebunan kopi. Air terjun ini memiliki ketinggian kurang lebih 50 m.

d) Hutan Wisata dan Bumi perkemahan Kajar: merupaka objek kawasan hutan pinus. Biasanya dijadikan sebagai tempat kegiatan perkemahan, dan hiking.

e) Rahtawu: terletak di kaki Gunung Muria. Terletak sekitar 20 km dari Kabupaten Kudus. Tempat ini memiliki nilai budaya yakni, terdapat nama- nama petilasan dari beberapa cerita pewayangan. Selain itu, tempat wisata ala mini, biasanya dijadikan sebagai lokasi mendaki gunung dengan menyusuri jalan setapak untuk menaklukan puncak “Songolikur”.

C. Pariwisata Religi Kabupaten Kudus

a) Menara Kudus : Merupakan menara yang dibangun oleh Sunan Kudus, yang mana didalamnya terdapat Masjid khas Kudus. Dibangun pada tahun 1549

(13)

18

Universitas Kristen Petra

Masehi dengan menggunakan batu Baitul Maqdis dari Palestina sebagai batu pertamanya. Uniknya, karena bangunan menara menyerupai bangunan candi.

Masjid dan menara ini adalah perpaduan antara budaya Islam dan Hindu.

b) Makam Sunan Kudus: Terletak di puncak Gunung Muria, ditempuh dengan menaiki anak tangga kurang lebih 700 trap, atau bisa dengan menaiki ojek.

Makam Sunan Musria berada didalam bangunan yang cukup kuno di belakang masjid peninggalan Sunan Muria. Namun saat ini, masjid tersebut sudah dipugar secara keseluruhan dengan menggunakan arsitektur modern.

D. Pariwisata Edukasi Kabupaten Kudus

a) Museum Kretek: terletak 3 km ke arah Selatan dari pusat Kabupaten Kudus, tepatnya di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati. Merupakan museum yang dibangun sebagai simbol Kabupaten Kudus, yakni Kota Kretek, menyimpan berbagai peralatan dan mesin tradisional pembuatan rokok kretek dan rokok klobot serta sarana promosi pada masa itu. Terdapat juga diorama yang menggambarkan proses penanaman dan pengolahan bahan baku rokok kretek (tembakau, cengkeh, dan klobot jagung).

b) Situs Patiayam: merupakan situs sejarah yang terletak di Desa terban, yaitu dataran tinggi yang terdapat di belahan timur. Berisi tentang informasi peradaban paling tua di Kudus. Selain itu juga terdapat informasi terkait budaya terdahulu mulai dari manusia purbakala, kapak perimbas, dan peninggalan sejarah lainnya.

E. Pariwisata Desa Kabupaten Kudus

a) Desa Wonocolo: terdapat Goa Sendang dan Petilasan. Untuk menuju kesana memiliki waktu 45 menit dari Kabupaten Kudus.

b) Desa Padurenan: terdapat potensi pembuatan bordir.

c) Desa Jepang: sentra kerajinan dan anyaman bamboo.

d) Desa Loram Kulon: merupakan desa andalan di Kudus, karena di jadikan sebagai lokasi kegiatan tradisi Ampyang. Serta menjadi pusat kerajinan tas dan kuliner.

e) Desa kauman: merupakan desa yang berada di kawasan Menara Kudus f) Desa Tanjungrejo: potensiWaduk Logung yang menjadi kawasan publik dan

tempat rekreasi serta tradisi Udan Dawet.

(14)

19

Universitas Kristen Petra

g) Desa Wates: memiliki potensi wisata argo dan wisata budaya “Munjung Wong Tuwo” yaitu untuk menghormati orang yang lebih tua.

h) Desa Terban: ada potensi rumah sejarah, yakni Situs Patiayam

i) Desa Kaliwungu: Sebagai Desa pembuat rumah adat Kudus dan ukiran Gebyok.

j) Desa Kandangmas: wisata religi makam murid Sunan Muria

k) Desa Margorejo: Sebagai tempat wisata taman penangkaran rusa dan argowisata buah.

l) Desa Rahtawu: potensi wisata pegunungan

m) Desa Colo: merupakan desa yang berada di dataran tinggi, dengan potensi wisata religi Sunan Muria dan wisata alam berupa air terjun

n) Desa Kaliputu: Desa yang memiliki potensi sentra pembuatan jenang, jajanan khas Kudus

o) Desa Hadipolo: merupakan desa dengan potensi sentra pandai besi. Di desa ini, banyak industri yang membuat pisau, kapak, cangkul.

p) Desa Dukuh Waringin: desa dengan wisata air terjun Kedung Gender.

q) Jurang Village: potensi alam yang disuguhi adalah river tubing, kemudian jembatan gantung, serta makanan khas Galecot

r) Ternadi Village: potensi wisata dengan menyediakan wisata alam berupa perbukitan Ternadi, serta air terjun Padas Awu.

F. Pariwisata Taman Rakyar Kabupaten Kudus

a) Taman Krida Wisata: taman dengan menyediakanberbagai patung binatang, kolam renang, serta koleksi satwa rusa

b) Taman Lampion Krida Wisata : taman hiburan rakyat yang memberi fasilitas hiburan berupa lampu dengan bentuk yang bermacam-macam.

c) Taman Gor Kudus: fasilitas publik dengan menyediakan area bermaian anak, air mancur menari, serta warung-warung pedagang kaki lima yang menyediakan makanan.

(The Hidden Charm of Kudus Tourist Attractions, 44-73).

(15)

20

Universitas Kristen Petra

2.6. Teknologi

2.6.1 Pengertian Teknologi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), teknologi adalah metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis, atau dapat dikatakan sebagai keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.

2.6.2 Teknologi VR

Gambar 2. 1. Informasi digital

Sumber:https://www.google.co.id/search?safe=active&hl=ban&authuser=0&tb m=isch&source=hp&biw=1093&bih=486&ei=zH4lXYeFFon2vgSwt7m.

“Kemajuan teknologi yang semakin pesat membuat manusia semakin kreatif pula untuk menciptakan berbagai macam teknologi yang dapat membuat penggunanya merasakan dunia virtual dengan lebih nyata”. Virtual Reality (VR) atau yang biasa disebut sebagai realitas maya adalah sebuah teknologi yang berisikan simulasi komputer mengenai keadaan suatu lingkungan yang membuat pengguna dapat berinteraksi dengan suatu lingkungan yang disimulasikan oleh komputer. Dalam penggunaanya, pengguna diberikan pengalaman visual yang ditampilkan pada sebuah layar, yang didukung dengan efek suara yang berasal dari speaker. (“Nasamedia” para. 3)

2.7 Antropometri

Antropometri manusia berhubungan dengan kebutuhan spasial sirkulasi, maupun dengan dimensi prabot yang sesuai dengan kebutuhan manusia / erginomi.

(16)

21

Universitas Kristen Petra

Adapun prinsip utama yang perlu diperhatikan dalam mendesain, agar pengguna merasakan kenyamanan di dalam museum adalah

Gambar 2.3.Dimensi kritis untuk fasilitas seni visual (Sumber: Chiara, (1990,p.377).

Gambar 2.4.Perbandingan dimensi level ketinggian mata manusia Seumber: Chiara (1990,p.375)

Gambar 2.2.Sudut pandang dengan jarak pandang Sumber: Neufert (2002, p.250)

(17)

22

Universitas Kristen Petra

Gambar 2.5.Jarak pandang melihat lukisan.

(Sumber: Panero (2003, p.138)

Gambar 2.6. Standar Sirkulasi Parsial (Sumber: Panero (2003, p.138)

Gambar

Gambar 2. 1. Informasi digital
Gambar 2.3.Dimensi kritis untuk fasilitas seni visual   (Sumber: Chiara, (1990,p.377)
Gambar 2.5.Jarak pandang melihat lukisan.

Referensi

Dokumen terkait

Misal motor dalam kondisi berhenti, stator dihubungkan dengan jaringan, sedangkan kumparan rotor merupakan rangkaian tertutup, maka kondisi seperti ini seperti

Faktor waktu pemberian, yaitu; 15 hst dan 30 hst Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi campuran ekstrak daun sembung dan daun tembakau berpengaruh nyata

Pada awalnya, sebutan modern bagi Muhammadiyah sudah lazim dalam kajian pemikiran Islam di Indonesia 1. Akan tetapi, hal ini mengalami kritik realitas historis seiring

Kajian ini menghujahkan bahawa ilmu pengetahuan yang seimbang, iaitu yang mengintegrasi antara ilmu naqli (ilmu agama) dan ilmu ‘aqli (ilmu moden) akan memperlihatkan kepada

Untuk mengkaji sejauh mana minat pelajar terhadap pengajaran dan pembelajaran Sains dan Matematik dalam Bahasa Inggeris dari aspek kesediaan pelajar, kebolehan pelajar,

KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian didapatkan waktu yang sesuai untuk melakukan persilangan tantara Hylocereus polyrhizus dan Hylocereus undatus ialah pada jam 00:00

Tujuan disusunnya tugas akhir ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan perkuliahan pada program studi diploma tiga Kimia Industri (D3 KIN) Fakultas

Proses validasi pengalaman merupakan proses yang dilakukan oleh guru pelatih untuk melakukan validasi dari pengalaman-pengalaman yang dimiliki untuk dijadikan data