Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Mei 2021 eISSN 2657- 0998
608
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Murid Kelas I Subtema Kegiatan
Keluargaku Melalui Model Pembelajaran Tutor Sebaya Pada SD Negeri
Kandang Kecamatan Kembang Tanjong Kabupaten Pidie
KamaliahGuru SD Negeri KandangKabupaten Pidie Email : [email protected]
ABSTRAK
Kegiatan belajar mengajar tidak selamanya berjalan seperti yang diingkan, karena keberhasilan belajar mengajar dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah pendekatan pembelajaran yang digunakan guru dalam mengajar. Hal ini juga terjadi di SD Negeri Kandang, di mana sebagian besar guru masih melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan metode ceramah sehingga murid merasa bosan dan jenuh ini bisa mempengaruhi hasil belajar murid, sehingga banyak murid yang tidak tuntas. Berdasarkan masalah tersebut diatas peneliti akan melakukan sebuah penelitian tindakan kelas yang mengacu pada model yang dikembangkan Kemmis dan Mc Taggart. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Tema 4 Subtema Kegiatan Keluargaku pada murid Kelas I SD Negeri Kandang Melalui Model Pembelajaran Tutor Sebaya. Penelitian ini dilakukan selama tiga bulan pada semester I tahun ajaran 2019/2020 dimana subjek penelitiannya adalah murid Kelas I SD Negeri Kandang yang berjumlah 20 murid. Data yang diperoleh untuk penelitian berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analisis didapatkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran tutor sebaya. Terjadi peningkatan hasil belajar murid setiap siklus dimana pada prasiklus nilai rata-rata kelasnya 40,83 dengan ketuntasan belajar 20%, dan pada siklus I nilai rata-rata meningkat menjadi 60,67 dengan tingkat ketuntasan 60% dan terus meningkat pada siklus II menjadi 70,66 dengan ketuntasan belajar mencapai 90%. Demikian juga aktivitas guru dan murid terus meningkat setiap siklusnya. Simpulan dari penelitian adalah proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Tutor Sebaya terbukti dapat meningkatkan hasil belajar Subtema Kegiatan Keluargaku pada murid Kelas I SD Negeri Kandang.
Kata Kunci: Tema 4, Hasil Belajar, Tutor Sebaya PENDAHULUAN
Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting bagi manusia. Tilaar (2002: 435) menyatakan bahwa “hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia, yaitu suatu proses yang melihat manusia sebagai suatu keseluruhan di dalam eksistensinya”. Mencermati pernyataan dari Tilaar tersebut dapat diperoleh gambaran bahwa dalam proses pendidikan, ada proses belajar dan pembelajaran, sehingga dalam pendidikan jelas terjadi proses pembentukan manusia yang lebih manusia. Proses mendidik dan dididik merupakan perbuatan yang bersifat mendasar (fundamental), karena di dalamnya terjadi
609 proses dan perbuatan yang mengubah serta menentukan jalan hidup manusia. Hal ini juga sebagaimana yang dinyatakan oleh Saroni (2011: 10) bahwa, “pendidikan merupakan suatu proses yang berlangsung dalam kehidupan sebagai upaya untuk menyeimbangkan kondisi dalam diri dengan kondisi luar diri. Proses penyeimbangan ini merupakan bentuk survive yang dilakukan agar diri dapat mengikuti setiap kegiatan yang berlangsung dalam kehidupan.”
Proses pendidikan menjadi bagian yang tidak terpisahkan atau bagian integral dari pengembangan sumber daya manusia (SDM) sebagai subjek sekaligus objek pembangunan. Dengan demikian, pendidikan harus mampu melahirkan SDM yang berkualitas dan tidak menjadi beban pembangunan dan masyarakat, yaitu SDM yang menjadi sumber kekuatan atau sumber pengerak (driving forces) bagi seluruh proses pembangunan dan kehidupan masyarakat.
Sekolah memainkan peran yang sangat penting sebagai dasar pembentukan sumber daya manusia yang bermutu. Melalui sekolah, anak belajar untuk mengetahui dan membangun keahlian serta membangun karakteristik mereka sebagai bekal menuju kedewasaan.“ The school function as a socializing agent by providing the intellectual and social experiences from which children develop the skill, knowledge, interest, and attitudes that characterize them as individuals and that shape their abilities to perform adult roles” (Berns, 2004: 212-213).
Pendidikan dapat berlangsung di sekolah sebagai institusi pendidikan formal, yang diselenggarakan melalui proses belajar mengajar. Suparlan Suhartono (2008: 46) menyatakan bahwa “menurut pendekatan dari sudut pandang sempit, pendidikan merupakan seluruh kegiatan yang direncanakan serta dilaksanakan secara teratur dan terarah di lembaga pendidikan sekolah”. Suharjo (2006: 1) menyatakan bahwa “sekolah dasar pada dasarnya merupakan lembaga pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan enam tahun bagi anak-anak usia 6-12 tahun.
Pendidikan di Sekolah Dasar merupakan suatu proses pendidikan yang paling penting dalam perkembangan murid. Hal ini dikarenakan Sekolah Dasar adalah sumber pendidikan dasar bagi anak untuk memperoleh ilmu setelah mereka dididik orang tua di dalam rumah, dan memasuki Taman Kanak-kanak yaitu lingkungan bermain dan belajar diluar rumah. Di Sekolah Dasar ini lah mereka akan mendapat bimbingan, ilmu pengetahuan baru, dan pendidikan formal dari seorang guru. Sekolah Dasar dikatakan penting karena sifat dan karakter dasar murid yang mudah menerima dan memproses informasi sejak dini. Hal ini yang membuat pendidikan di Sekolah Dasar sangat menentukan keberhasilan murid di sekolah lanjutan agar mampu bersaing di era globalisasi seperti saat ini.
Sekolah dasar merupakan jenjang pendidikan dasar yang berfungsi sebagai peletakan dasar-dasar keilmuan dan membantu pengoptimalan perkembangan anak. Sekolah dasar merupakan jembatan murid untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Fungsi tersebut dapat tercapai melalui pembelajaran yang dibimbing guru. Untuk itu, pembelajaran harus dilaksanakan dengan baik. Pada kurikulum 2013 di SD pembelajaran dilaksanakan secara tematik.
610
Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang mengaitkan materi pada mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran lainnya. Hal ini sesuai dengan Depdiknas (Trianto, 2010: 147), bahwa pembelajaran tematik merupakan model pembelajaran terpadu yang dapat memberikan pengalaman bermakna bagi murid, dimana dalam model pembelajaran tersebut menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan pula bahwa pembelajaran tematik harus mampu memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi murid. Hal ini tidak luput dari peran serta seorang guru.
Guru berperan sebagai fasilitator atau pemberi layanan terhadap kesulitan belajar murid. Sedangkan dalam pembelajaran tematik disediakan buku guru dan buku murid guna untuk mempermudah dalam proses pembelajaran. Dalam pendekatan pembelajaran Tematik Terpadu, terdapat beberapa mata pelajaran yang tergabung kedalam tema-tema, namun hal ini tidak berlaku pada mata pelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) mata pelajaran tersebut telah berdiri sendiri untuk kelas IV, V dan VI, hal ini sesuai dengan (Permendikbud No 24 : 2016).
Dalam pembelajaran tematik selain sebagai fasilitator, sorang guru sebaiknya mengembangkan model dan metode yang bervariasi agar murid tidak jenuh dalam menerima materi yang disampaikan, hal lain yang juga berpengaruh terhadap minat belajar murid adalah bagaimana seorang guru menyediakan media pembelajaran yang nantinya akan dipergunakan sebagai sarana penunjang pada proses pembelajaran.
Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar di dalam kelas, guru harus memperhatikan tingkat kemampuan murid yang berbeda karena dalam satu kelas terdapat perbedaan kemampuan dalam menangkap ilmu yang diberikan guru. Ketika murid mengalami kesulitan mencerna pelajaran yang disampaikan oleh guru, murid masih malu untuk bertanya kepada guru, murid lebih suka bertanya kepada temannya sedangkan teman yang menjadi tempat bertanya masih ragu-ragu dengan pengetahuan yang dimilikinya. Sehingga pengetahuan murid terhenti sampai disitu. Hal ini sangat dirasakan oleh murid keas 1 SD, dikarenakan pada kelas 1 ini murid masih belajar beradaptasi dengan teman-teman yang baru, dan pada kelas 1 ini merupakan tahap awal murid menjejaki dunia pendidikan formal. Kesulitan murid terjadi pada pembelajaran tematik tema 4 sub tema kegiatan keluargaku. Masih terlihat murid bingung dalam pelaksanaan pembelajaran. Maka dibutuhkan suatu alternatif pemecahan masalah yang memberikan kesempatan untuk murid bertanya kepada teman dalam waktu yang tidak mengganggu proses belajar dan murid yang menjadi tempat bertanya memiliki keyakinan atas kebenaran jawabannya.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya pembaharuan dan inovasi dalam proses belajar mengajar agar murid mau aktif dalam proses belajar mengajar sehingga murid dapat memahami pembuktian sifat-sifat cahaya dengan cara yang lebih mudah, lebih cepat, efektif dan tentunya menyenangkan bagi murid. Salah satunya adalah dengan cara menerapkan metode pembelajaran Tutor Sebaya (Group To Tutor).
Seorang murid lebih mudah menerima keterangan oleh kawannya karena tidak adanya rasa enggan atau malu untuk bertanya, sehingga murid memperoleh pengetahuan dan keterampilan karena dia bergauldengan pesertadidik lainnya, seperti yang
611 disampaikan oleh Muhammad dalam Riyanto (2012:18) bahwa murid yang ditunjuk menjadi tutor mendapat tugas membantu teman-temannya yang mengalami kesulitan belajar, karena hubungan teman umumnya lebih dekat dibanding hubungan guru dengan murid. Hal tersebut juga senada dengan Soeparjo di dalam Efendi (2011:4) yang berpendapat bahwa penggunaan tutor sebaya yang dipilih dari teman mereka sendiri dalam satu kelas akan memungkinkan murid tidak merasa enggan dalam bertanya sehingga kegiatan tersebut memungkinkan terjadinya peningkatan kualitas dalam pembelajaran.
Melalui Tutor Sebaya, murid tidak dijadikan sebagai obyek pembelajaran tetapi menjadi subyek pembelajaran, yaitu murid diajak untuk menjadi tutor atau sumber belajar dan sumber bertanya bagi temannya. Dengan demikian murid yang menjadi tutor dapat mengulang dan menjelaskan kembali sehingga menjadi lebih memahami. Pengajaran Tutor Sebaya adalah sebuah prosedur murid mengajar murid lainnya. Tutor Sebaya dikenal dengan pembelajaran teman sebaya atau antar murid.
Oleh karena peran tutor (pengajar) dijabat oleh teman sekelas, maka pada saat prsoses belajar mengajar berlangsung tidak terdapat lagi suatu kekakuan. Maksudnya disaat proses belajar mengajar berlangsung murid (yang diajar) tidak merasa kaku (ada rasa takut) untuk bertanya kepada tutor (pengajar) yang merupakan temannya sendiri tentang materi pelajaran yang tidak di mengerti olehnya sehingga terciptalah situasi belajar yang menyenangkan dan diharapkan hasil belajar murid pun dapat lebih meningkat. Dengan penerapan metode pembelajaran Tutor Sebaya ini diharapkan dapat meningkatkan keaktifan murid sehingga murid dapat mengalami situasi belajar yang asyik dan menyenangkan serta dapat meningkatkan kemampuan belajarnya yang akhirnya akan diperoleh hasil belajar yang memuaskan.
Dengan menyadari kenyataan tersebut di atas, maka dalam penelitian ini penulis mengambil judul: “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Murid Kelas I Tema 4 Subtema Kegiatan Keluargaku Melalui Model Pembelajaran Tutor Sebaya pada SD Negeri Kandang Kecamatan Kembang Tanjong Kabupaten Pidie”.
METODE PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan, mulai dari bulan Oktober sampai dengan bulan Desember 2019, di SD Negeri Kandang Kecamatan Kembang Tanjong Kabupaten Pidie, dengan subyek penelitiannya adalah murid Kelas I SD Negeri Kandang Kecamatan Kembang Tanjong Kabupaten Pidie Tahun Pelajaran 2019/2020 yang berjumlah 20 orang murid.
Dalam penelitian ini pengumpulan data menggunakan teknik tes dan non tes. Tes tertulis digunakan pada akhir siklus I dan siklus II. Sedangkan Teknik non tes meliputi teknik observasi dan dokumentasi. Observasi digunakan pada saat pelaksanaan penelitian tindakan kelas kemampuan memahami tema 4 subtema kegiatan keluargaku pada siklus I dan siklus II. Sedangkan teknik dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data khususnya nilai Tema 4. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis dekskriptif, yang meliputi:
612
1. Analisis deskriptif komparatif hasil belajar dengan cara membandingkan hasil belajar pada siklus I dengan siklus II dan membandingkan hasil belajar dengan indikator pada siklus I dan siklus II.
2. Analisis deskriptif kualitatif hasil observasi dengan cara membandingkan hasil observasi dan refleksi pada siklus I dan siklus II.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang ditandai dengan adanya siklus, adapun dalam penelitian ini terdiri atas 2 siklus. Setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Kondisi Awal
Pembelajaran sebelum pelaksanaan tindakan kelas, guru mengajar secara konvensional. Guru cenderung menstranfer ilmu pada murid, sehingga murid pasif, kurang kreatif, bahkan cenderung bosan. Disamping itu dalam menyampaikan Materi guru tanpa menggunakan alat peraga. Melihat kondisi pembelajaran yang monoton, suasana pembelajaran tampak kaku, berdampak pada nilai yang diperoleh Pembelajaran Tema 4 khususnya pada Subtema Kegiatan Keluargaku sebelum siklus I (pra siklus). Banyak murid belum mencapai ketuntasan belajar minimal dalam mempelajari kompetensi dasar tersebut. Hal ini diindikasikan pada capaian nilai hasil belajar di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) sebesar 70.
Tabel 1. Nilai Tes Pra Siklus No Hasil
(Angka) Hasil(Huruf) Arti Lambang
Jumlah Murid Persen 1 85-100 A Sangat baik - 0 % 2 75-84 B Baik 4 20 % 3 65-74 C Cukup 6 16,5 % 4 55-64 D Kurang 9 37,5 % 5 <54 E Sangat Kurang 1 18,5 %
Sumber : Hasil tabulasi data Oktober 2019
Berdasarkan hasil analisis dalam tabel di atas diketahui bahwa dari 20 murid, jumlah murid yang mendapat nilai A (sangat baik) sejumlah 0% atau tidak ada, yang mendapat nilai B (baik) sebanyak 20% atau sebanyak 4 murid dan yang mendapat nilai C (cukup) sebanyak 30% atau 6 murid, dan yang mendapat nilai D (kurang) sebanyak 45%% atau sebanyak 9 murid, sedangkan yang mendapat nilai sangat kurang 25% atau sebanyak 5 murid.
Deskripsi Hasil Siklus I Perencanaan Tindakan
Perencanaan tindakan dalam siklus I dapat diuraikan sebagai berikut: a. Pemilihan materi dan penyusunan rencana pelasaksanaan pembelajaran
Materi yang dipilih dalam penelitian ini adalah tugasku sebagai umat beragama. Berdasarkan Materi yang dipilih tersebut, kemudian disusun ke dalam rencana
613 pelaksanaan pembelajaran (RPP). Masing-masing RPP diberikan alokasi waktu sebanyak 2 x 45 menit, artinya setiap RPP disampaikan dalam 1 kali tatap muka.
b. Pembentukan kelompok-kelompok belajar
Pada siklus I, murid dalam satu kelas dibagi menjadi 4 kelompok kecil dengan memperhatikan heterogenitas baik kemampuan, gender.
Pelaksanaan Tindakan a. Pelaksanaan Tatap Muka
Tatap muka I dan II dengan RPP tentang pembelajaran Tema 4 khususnya Subtema Kegiatan Keluargaku. Model pembelajaran yang digunakan adalah Model Pembelajaran Tutor Sebaya dengan langkah-langkahnya sebagai berikut;
1) Guru secara klasikal menjelaskan strategi pembelajaran yang harus dilaksanakan murid.
2) Kelompok yang selesai terlebih dulu boleh memperagakan yel–yelnya. 3) Secara kelompok murid mencari dan menemukan pada buku panduan.
4) Secara kelompok murid bertanya jawab antar kelompok untuk mempresentasikan hasil kerjanya.
5) Kelompok yang mendapat skor paling tinggi mendapat hadiah.
6) Guru memberi umpan balik hasil pemahaman murid terhadap Materi yang dipelajari dengan mengadakan evaluasi berupa tes.
7) Guru menilai hasil evaluasi. 8) Guru memberikan tindak lanjut.
Sekilas gambaran proses pembelajaran pada siklus I, guru tidak lagi mentransfer Materi pada murid, tapi murid secara aktif bekerja sama dalam kelompok untuk mencari Materi serta mendiskusikannya. Murid tampak aktif dan bergairah dalam pembelajaran. Dalam kegiatan ini mereka saling bekerja sama dan bertanggung jawab untuk berkompetisi dengan kelompok lain dalam menyelesaikan lembar kerja murid. Suasana pembelajaran lebih menyenangkan nampak semua murid bergairah dalam mengikuti pelajaran.
b. Wawancara
Wawancara dilaksanakan pada saat kegiatan tatap muka setelah selesai diskusi. Kegiatan wawancara dilaksanakan oleh guru terhadap beberapa anggota kelompok. Wawancara diperlukan untuk mengetahui sejauh mana perasaan murid dalam memahami subtema kegiatan keluargaku melalui model pembelajaran tutor sebaya dengan wawancara juga digunakan sebagai bahan refleksi.
c. Observasi
Observasi dilaksanakan pada keseluruhan kegiatan tatap muka, dalam hal ini observasi dilakukan oleh 2 (dua) observer yaitu guru kelas (teman sejawat) pada SD Negeri Kandang Kecamatan Kembang Tanjong Kabupaten Pidie Observasi dilaksanakan untuk mengetahui secara detail keaktifan, kerjasama, kecepatan dan ketepatan murid dalam memahami materi. Hasil observasi digunakan sebagai bahan refleksi dan untuk merencanakan rencana tindakan pada siklus II.
614
Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan pada siklus I dapat dideskripsikan seperti pada tabel berikut ini. Tabel 2. Hasil Rekap Nilai Tes Siklus I
No Hasil (Angka)
Hasil
( Huruf) Arti Lambang
Jumlah Murid Persen 1 85-100 A Sangat baik 2 10 % 2 75-84 B Baik 10 50 % 3 65-74 C Cukup 7 35 % 4 55-64 D Kurang 1 5 % 5 <54 E Sangat Kurang - - Jumlah 100 %
Sumber: Hasil Tabulasi Data Oktober 2019
Dari hasil tes siklus I, menunjukkan bahwa dari 20 murid, yang mencapai nilai A (sangat baik) adalah 2 murid (10%), sedangkan yang mendapat nilai B (baik) adalah 10 murid atau (50%), sedangkan yang masih mendapatkan nilai C (cukup) sebanyak 7 murid (35%), sedangkan yang mendapat nilai D (kurang) ada 1 murid (5%), sedangkan yang mendapat nilai D (sangat kurang) tidak ada atau 0%.
Refleksi
Berdasarkan hasil tes kemampuan awal dengan hasil tes kemampuan siklus I dapat dilihat adanya pengurangan jumlah murid yang masih di bawah Kriteria ketuntasan Minimal. Pada pra siklus jumlah murid yang dibawah KKM sebanyak 16 anak dan pada akhir siklus I berkurang menjadi 8 anak. Nilai rata-rata kelas meningkat dari 40,83 menjadi 60,67. Jumlah murid yang mencapai ketuntasan belajar mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan siklus I, seperti disajikan dalam tabel berikut ini.
Tabel 4.3. Perbandingan Hasil Nilai Tes Pra Siklus dan Siklus I
No Hasil tes
(dalam huruf )
Jumlah murid yang berhasil Pra siklus Siklus I
1 A (85 -100) - 2 2 B (75-84) 4 10 3 C (65-74) 6 6 4 D (55-64) 9 2 5 E (< 54) 1 - Jumlah 20 20
Sumber : Hasil Tabulasi data Oktober 2019
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa terjadinya peningkatan dari pra siklus ke siklus I. Peningkatan ini dapat dilihat dari jumlah murid yang memperoleh nilai E pada prasiklus berjumlah 1 murid, sedangkan pada siklus I sudah tidak ada. Murid yang memperoleh nilai D pada pra siklus berjumlah 9 murid, sedangkan pada siklus I menurun menjadi 2 murid. Murid yang memperoleh nilai C masih sama yaitu 6 orang baik pada prasiklus maupun Siklus I. Namun murid yang memperoleh nilai B pada prasiklus berjumlah 4 murid, meningkat pada siklus I menjadi 10 murid, sedangkan tidak ada
615 murid yang memperoleh nilai A pada prasiklus, akan tetapi pada siklus I meningkat menjadi 2 murid.
Tabel 4. Perbandingan Ketuntasan Belajar antara Pra Siklus dengan Siklus I No Ketuntasan
Jumlah Murid
Pra Siklus Siklus I
Jumlah Persen Jumlah Persen
1. Tuntas 4 20% 12 60%
2. Belum Tuntas 16 80% 8 40%
Jumlah 20 100% 20 100%
Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa pada prasiklus dari 20 murid, jumlah murid yang tuntas 4 murid (20%) dan jumlah murid yang belum tuntas sebanyak 16 murid (80%). Pada siklus I jumlah murid yang tuntas sebanyak 12 murid (60%) dan jumlah murid yang belum tuntas sebanyak 8 murid (40%) serta mengalami peningkatan ketuntasan sebesar 40% dari pada prasiklus. Dapat disimpulkan bahwa mellui model pembelajaran tutor sebay mampu meningkatkan hasil belajar murid subtema kegiatan keluarga ku.. Walaupun sudah terjadi kenaikan seperti tersebut di atas, namun hasil tersebut belum optimal. Hal ini dapat terlihat dari hasil observasi bahwa dalam kegiatan pembelajaran masih terdapat beberapa murid yang kurang aktif dalam melakukan kegiatan pembelajaran, karena sebagian murid beranggapan bahwa kegiatan secara kelompok akan mendapat prestasi yang sama. Oleh karena itu, diperlukan upaya perbaikan pembelajaran pada siklus II.
Deskripsi Hasil Siklus II Perencanaan Tindakan
a. Pemilihan materi dan penyusunan rencana pelasaksanaan pembelajaran
Materi yang dipilih dalam penelitian ini adalah tugasku sebagai umat beragama. Berdasarkan Materi yang dipilih tersebut, kemudian disusun ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Masing-masing RPP diberikan alokasi waktu sebanyak 2 x 45 menit, artinya setiap RPP disampaikan dalam 1 kali tatap muka.
b. Pembentukan kelompok murid
Pada siklus I, murid dalam satu kelas dibagi menjadi 4 kelompok kecil dengan memperhatikan heterogenitas baik kemampuan, gender.
Pelaksanaan Tindakan a. Pelaksanaan Tatap Muka
Tatap muka I dan II dengan RPP tentang pembelajaran Tema 4 khususnya Subtema Kegiatan Keluargaku. Model pembelajaran yang digunakan adalah Model Pembelajaran Tutor Sebaya dengan langkah-langkahnya sebagai berikut;
1) Guru secara klasikal menjelaskan strategi pembelajaran yang harus dilaksanakan murid.
2) Kelompok yang selesai terlebih dulu boleh memperagakan yel–yelnya. 3) Secara kelompok murid mencari dan menemukan pada buku panduan.
616
4) Secara kelompok murid bertanya jawab antar kelompok untuk mempresentasikan hasil kerjanya.
5) Kelompok yang mendapat skor paling tinggi mendapat hadiah.
6) Guru memberi umpan balik hasil pemahaman murid terhadap Materi yang dipelajari dengan mengadakan evaluasi berupa tes.
7) Guru menilai hasil evaluasi. 8) Guru memberikan tindak lanjut.
Pada pelaksanaan pembelajaran pada siklus II murid masih belajar secara kelompok, namun dalam kegiatan kelompok ini murid tertantang untuk lebih mandiri dalam menguasai materi. Karena disamping belajar secara kelompok, namun mereka antar individu harus berkompetisi secara pribadi
b. Wawancara
Wawancara dilaksanakan pada saat murid melakukan kegiatan pembelajaran. Wawancara diperlukan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan murid dalam memahami, memadukan dengan mata pelajaran lain. Disamping itu, wawancara digunakan untuk mengidentifikasi kesulitan-kesulitan yang dialami oleh murid. Hasil wawancara digunakan sebagai bahan refleksi.
c. Observasi
Observasi dilaksanakan pada keseluruhan kegiatan tatap muka, dalam hal ini observasi dilakukan oleh 2 (dua) observer yaitu guru pada SD Negeri Kandang Kecamatan Kembang Tanjong Kabupaten Pidie. Observasi dilaksanakan untuk mengetahui aktivitas murid secara langsung dalam proses pembelajaran. Hasil observasi digunakan sebagai bahan refleksi.
Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan pada siklus II dapat dideskripsikan seperti pada tabel berikut ini.
Tabel 5. Rekap Hasil Nilai Tes Siklus II No Hasil
(Angka)
Hasil
(Huruf) Arti Lambang
Jumlah Murid Persen 1 85-100 A Sangat Baik 5 25% 2 75-84 B Baik 13 65 % 3 65-74 C Cukup 2 10 % 4 55-64 D Kurang - - 5 <54 E Sangat Kurang - - Jumlah 20 100%
Sumber : Tabulasi Data Desember 2019
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa yang mendapatkan nilai sangat baik (A) adalah 25% atau 5 murid, sedangkan yang terbanyak yaitu yang mendapat nilai baik (B) adalah 65% atau 13 murid, dan yang mendapat nilai C (cukup) adalah 10 % atau sebanyak 2 murid. Sedangkan yang mendapat nilai D dan E tidak ada. Sedangkan nilai rata-rata kelas 70,66. Ketuntasan belajar pada siklus II dapat ditabulasikan seperti pada tabel di bawah ini.
617 Tabel 6. Ketuntasan Belajar Siklus II
No Ketuntasan Belajar Jumlah Murid Jumlah Persen
1. Tuntas 18 90 %
2. Belum Tuntas 2 10 %
Jumlah 20 100 %
Berdasarkan data pada tabel tersebut di atas diketahui bahwa murid yang mencapai ketuntasan sebanyak 18 murid (90%) dan yang beluntas sebanyak 2 murid (10%) yang berarti sudah ada peningkatan dibandingkan siklus I.
Refleksi
Berdasarkan nilai hasil siklus I dan nilai hasil siklus II dapat diketahui bahwa pembelajaran yang digunakan adalah Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Murid Kelas I Subtema Kegiatan Keluargaku Melalui Model Pembelajaran Tutor Sebaya mampu meningkatkan hasil belajar. Untuk lebih jelasnya pada tabel 4.7 berikut dipaparkan hasil refleksi pada siklus II.
Tabel 4.7 Perbandingan Hasil Nilai Tes Model Siklus I dan Siklus II No Hasil Tes
Jumlah Murid yang Berhasil Siklus I Siklus II 1 A (85 -100) 2 5 2 B (75-84) 10 13 3 C (65-74) 6 2 4 D (55-64) 2 - 5 E (< 54) - - Jumlah 20 20
Sumber : Hasil Tabulasi Data Desember 2019
Jika dibandingkan antara keadaan kondisi awal, siklus I dan siklus II dapat dilihat bahwa saat kondisi awal rata- rata kelas sebesar 40,83 , sedangkan nilai rata- rata kelas siklus II sudah ada peningkatan menjadi 60,67. Adapun kenaikan rata-rata pada siklus II menjadi 70,66. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dan diagram dibawah ini :
Tabel 8. Perbandingan Hasil Tes Pra siklus, siklus I dan Siklus II NO Hasil Lambang
Angka
Hasil
Evaluasi Arti Lambang
Pra tindakan Model Siklus I Model Siklus II 1 85-100 A Sangat Baik - 2 5 2 75-84 B Baik 4 10 13 3 65-74 C Cukup 6 6 2 4 55-64 D Kurang 9 2 - 5 <54 E Sangat Kurang 1 - - Jumlah 20 20 20
618
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa terjadinya peningkatan dari pra tindakan, siklus I dan ke siklus II. Peningkatan ini dapat dilihat pada pra siklus terdapat 1 murid memperoleh nilai E, sedangkan tidak ada murid yang memperoleh nilai E baik pada siklus I maupun siklus II. Murid yang memperoleh nilai D pada pra tindakan berjumlah 9 murid dan turun pada siklus I berjumlah 2 murid, sedangkan pada siklus II tidak ada murid yang mendapat nilai D. Murid yang memperoleh nilai C pada pra tindakan berjumlah 6 murid dan pada siklus I menjadi 6 murid, sedangkan pada siklus II menurun menjadi 2 murid. Namun murid yang memperoleh nilai B pada pra tindakan berjulah 4 murid dan siklus I meningkat menjadi 10 murid, meningkat pada siklus II menjadi 13 murid, sedangkan tidak ada murid yang memperoleh nilai A pada pada pra tindakan dan siklus I menjadi 2 murid, akan tetapi pada siklus II meningkat menjadi 5 orang.
Tabel 9. Perbandingan ketuntasan nilai rata-rata Pra siklus,siklus I dan siklus II
No Uraian Jumlah murid Rata-Rata
Tuntas Belum Tuntas
1 Kondisi Awal 4 anak 16 anak 40,83
2 Siklus I 12 anak 8 anak 60,67
3 Siklus II 18 anak 2 anak 70,66
Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa pada prasiklus, jumlah murid yang tuntas 4 murid dan jumlah murid yang belum tuntas sebanyak 16 murid denan rata-rata 40,83. Pada siklus I jumlah murid yang tuntas sebanyak 12 murid dan jumlah murid yang belum tuntas sebanyak 8 murid dengan rata-rata 60,67 serta mengalami peningkatan ketuntasan sebesar 40% dari pada prasiklus. pada siklus II murid yang tuntas berjumlah 18 murid dan murid yang belum tuntas berjumlah 2 orang dengan rata-rata 70,66 dan mengalami peningkatan sebesar 30% dari siklus I. Pada siklus II sudah ketuntasan murid sudah mencapai indikator yang diharapkan. sehingga penelitian dihentikan.
PENUTUP Simpulan
Penerapan Pembelajaran Tutor Sebaya Murid Kelas I Subtema Kegiatan Keluargaku dapat meningkatkan hasi belajar Pada SD Negeri Kandang Kecamatan Kembang Tanjong Kabupaten Pidie Tahun Pelajaran 2019/2020. Pada akhir siklus I, murid yang mencapai ketuntasan belajar sebanyak 60% (12 murid), dan murid yang belum tuntas sebanyak 40% (8 murid), sedangkan pada akhir siklus II, sebanyak 90% (18 murid) dan sebanyak 10% (2 murid) belum mencapai ketuntasan belajar. Dengan nilai rata- rata kelas siklus I, 60,67 dan rata-rata kelas siklus II, 70,66 adapun hasil non tes pengamatan proses belajar menunjukkan perubahan murid lebih aktif selama proses pembelajaran berlangsun. Secara keseluruhan rata-rata kelas mencapai kenaikan sebesar 70,50%, dan ketuntasan belajar murid secara keseluruhan mencapai peningkatan sebesar 70%. Jika dibandingkan dengan kondisi awal.
619
DAFTAR PUSTAKA
Berns, R. M. 2004. Child, Family, School, Community. USA: Thomson.
Efendi, Muhammad. 2011. Pengembangan Media Pengajaran. Jakarta: Kencana.
Permendikbud. 2016. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 24 Tahun 2016 Tentang Kompetensi Inti Dan Kompetensi Dasar Pelajaran Pada Kurikulum 2013 Pada Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah.
Riyanto, Yatim. 2012. Paradigma Baru Guru/Pendidikan dalam Implementasi Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas. Jakarta: Kencana.
Saroni, Muhammad. 2011. Personal Branding Guru. Yogyakarta: Affaruz Media. Suharjo. 2006. Mengenal Pendidikan Sekolah Dasar Teori Dan Praktek. Jakarta: Dikti. Suhartono, Suparlan. 2008. Wawasan Pendidikan: Sebuah Pengantar Pendidikan.
Yogyakarta: Ar-Ruzzmedia.
Tilaar, H.A.R. 2002. Membenahi Pendidikan Nasional. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Trianto. 2010. Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik. Jakarta: PT Prestasi Pustaka.