BERITA DAERAH
KOTA TANGERANG SELATAN
No.32,2018 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN.
Rencana Aksi Daerah Pengarusutamaan Gender.
PROVINSI BANTEN
PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 32 TAHUN 2018
TENTANG
RENCANA AKSI DAERAH PENGARUSUTAMAAN GENDER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
WALIKOTA TANGERANG SELATAN,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka mengimplementasikan pelaksanaan strategi pengarusutamaan gender secara lebih konkrit dan terarah untuk menjamin agar laki- laki dan perempuan memperoleh akses, partisipasi, mempunyai kontrol, dan memperoleh manfaat yang adil dari pembangunan dan berkontribusi pada terwujudnya keadilan dan kesetaraan gender, perlu disusun rencana aksi daerah;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Walikota tentang Rencana Aksi Daerah Pengarusutamaan Gender;
Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia;
2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
SALINAN
- 2 -
3. Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kota Tangerang Selatan Di Provinsi Banten (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 188, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4935);
4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang–Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender Di Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 927);
6. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 8 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah (Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2016 Nomor 8, Tambahan Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 72);
7. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 9 Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2016 Nomor 9, Tambahan Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 73);
8. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 2 Tahun 2018 tentang Pengarusutamaan Gender (Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2018 Nomor 2, Tambahan Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 86);
- 3 -
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN WALIKOTA TENTANG RENCANA AKSI DAERAH PENGARUSUTAMAAN GENDER.
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Peraturan Walikota ini yang dimaksud dengan:
1. Daerah adalah Kota Tangerang Selatan.
2. Pemerintah Daerah adalah Walikota sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah otonom.
3. Walikota adalah Walikota Tangerang Selatan.
4. Gender adalah konsep yang mengacu pada pembedaan peran, fungsi dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang terjadi akibat dari dan dapat berubah oleh keadaan sosial dan budaya masyarakat.
5. Pengarusutamaan Gender yang selanjutnya disingkat PUG adalah strategi yang dibangun untuk mengintegrasikan Gender menjadi laki-laki dan perempuan.
6. Rencana Aksi Daerah Pengarusutamaan Gender yang selanjutnya disingkat RAD PUG adalah dokumen yang memuat kebijakan, program, dan kegiatan dalam pelaksanaan PUG.
BAB II
RENCANA AKSI DAERAH PENGARUSUTAMAAN GENDER Pasal 2
RAD PUG sebagai pencapaian pelaksanaan strategi PUG di Daerah.
Pasal 3 (1) Sistematika RAD PUG terdiri dari:
a. pendahuluan;
b. kedudukan PUG;
c. PUG dalam siklus pembangunan;
d. penguatan kelembagaan PUG;
e. penguatan peran serta masyarakat;
f. PUG dalam peraturan perundang-undangan di Daerah;
g. analisis kondisi;
h. RAD PUG; dan i. Penutup.
LAMPIRAN
PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 32 TAHUN 2018
TENTANG
RENCANA AKSI DAERAH PENGARUSUTAMAAN GENDER
BAB I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Era modernisasi ini kedudukan antara laki-laki dan perempuan telah dijamin di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 khususnya Pasal 27 ayat (1) yang menentukan bahwa “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”. Walaupun Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjamin persamaan kedudukan setiap warga negara baik laki-laki maupun perempuan dan Indonesia telah meratifikasi Konvensi Perempuan di Beijing Tahun 1995, namun hingga saat ini masih dijumpai adanya kesenjangan laki-laki dan perempuan dalam memperoleh akses, berpartisipasi, kontrol dan terutama dalam proses perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan maupun dalam pelaksanaan pembangunan serta merasa manfaat pembangunan di semua bidang dan pada semua tingkatan dari desa sampai pusat.
Berpangkal tolak dari hal tersebut dan sebagai tindak lanjut dari Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota, Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender Dalam Pembangunan Nasional dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan
Pengarusutamaan Gender di Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah, maka pelaksanaan Otonomi Daerah berdasarkan prinsip-prinsip demokratis, keterbukaan, partisipatif, pemerataan dan keadilan serta dengan mempertimbangkan potensi dan keanekaragaman daerah perlu direspon secara arif dan bijaksana oleh Pemerintah Daerah khususnya terhadap pelaksanaan PUG di Kota Tangerang Selatan. Hal ini dimaksudkan agar sumber daya manusia baik laki-laki maupun perempuan mempunyai hak dan kewajiban serta peran dan tanggung jawab yang sama sebagai bagian integral dari potensi pembangunan daerah sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal dalam upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender.
PUG merupakan strategi pembangunan yang dilakukan dengan cara mengintegrasikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan dan kepentingan perempuan dan laki-laki ke dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari seluruh kebijakan, program dan kegiatan di bidang pembangunan. PUG merupakan proses memasukkan analisis gender ke dalam program dan kegiatan dari instansi pemerintah dan organisasi kemasyarakatan mulai dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari seluruh kebijakan, program dan kegiatan instansi pemerintah dan organisasi kemasyarakatan.
Upaya pelaksanaan PUG yang mencakup semua bidang pembangunan, seperti hukum, ekonomi, politik, agama, pendidikan, sosial dan budaya, pembangunan daerah, sumber daya alam, lingkungan hidup dan pertahanan keamanan, perlu dijadikan rujukan dan diterjemahkan serta diserasikan secara operasional ke dalam kebijakan/program kegiatan yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah dalam aspek-aspek perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi, maupun kelembagaan pembangunan daerah.
Untuk memberikan kerangka dan landasan hukum bagi upaya PUG di berbagai bidang pembangunan di Kota Tangerang Selatan secara komprehensif dan berkesinambungan, Pemerintah Daerah perlu merumuskan RAD PUG.
RAD PUG berisi apa yang harus dilakukan oleh siapa dengan cara bagaimana, dan output/outcomenya apa sehingga strategi PUG benar-benar dapat diimplementasikan dalam rangka mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender.
RAD PUG diperlukan karena akan memberikan acuan/arahan kepada setiap stakeholders dalam melaksanakan strategi PUG untuk mencapai Kesetaraan dan Keadilan Gender dengan lebih fokus, efisien, efektif, sistematik, terukur dan berkelanjutan sehingga dapat mendorong mempercepat tersusunnya kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang responsif gender sehingga Pemerintah Daerah dapat mendukung kelancaran perencanaan, pelaksanaan dan monev pengarusutamaan gender secara optimal dalam pembangunan menuju terwujudnya Kesetaraan dan Keadilan Gender di Kota Tangerang Selatan.
1.2. DASAR HUKUM
Dasar Hukum penyusunan menyusun RAD PUG Kota Tangerang Selatan adalah sebagai berikut:
a. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.
b. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang–Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan.
c. Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota;
d. Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
e. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah.
f. Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender Dalam Pembagunan Nasional;
1.3. TUJUAN PENYUSUNAN
Tujuan penyusunan RAD PUG Kota Tangerang Selatan adalah:
a. memberikan panduan dan arahan di dalam menyusun kebijakan, program dan kegiatan dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan monitoring dan evaluasi yang responsif gender pada setiap tahapan pembangunan.
b. mengefektifkan pelaksanaan strategi PUG secara lebih konkrit dan terarah untuk menjamin agar perempuan dan laki-laki memperoleh akses, partisipasi, mempunyai kontrol dan memperoleh manfaat yang adil dari pembangunan, dan berkontribusi pada terwujudnya keadilan dan kesetaraan gender.
c. memperkuat sistem dan komitmen lembaga/instansi baik di pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan kabupaten/kota khususnya Kota Tangerang Selatan dalam mengimplementasikan strategi PUG.
1.4. TARGET PENYUSUNAN
RAD PUG Kota Tangerang Selatan disusun untuk mencapai target sasaran:
a. mendorong implementasi perundang-undangan yang berperspektif gender.
b. memperkuat jaringan kelembagaan PUG termasuk keterpaduan program dan kegiatan.
c. memperkuat komitmen penganggaran yang responsif gender di Perangkat Daerah.
d. peningkatan kemampuan mengintegrasikan isu gender dalam program/kegiatan di Perangkat Daerah.
e. pelaksanaan PUG dalam pembangunan sesuai dengan perencanaan dan penganggaran yang responsif gender di Perangkat Daerah.
1.5. SASARAN PENYUSUNAN
Sasaran dari penyusunan RAD PUG Kota Tangerang Selatan adalah:
a. Eksekutif, yang terdiri dari pejabat pemerintahan meliputi penentu kebijakan di seluruh Perangkat Daerah (khususnya eselon III dan IV) baik laki-laki maupun perempuan.
b. Legislatif.
c. Yudikatif, yaitu semua unsur penegak hukum baik laki-laki maupun perempuan.
d. Kelompok masyarakat diantaranya tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, karang taruna dan sebagainya yang berdomisili di Kota Tangerang Selatan.
1.6. IMPLEMENTASI
1.6.1. Strategi PUG diimplementasikan pada seluruh tahap pembangunan yaitu perencanaan, pelaksanaan dan monitoring, pembangunan. Implementasi pada tahap perencanaan pembangunan melalui:
a. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah menyusun tolok ukur dan indikator kinerja;
b. adanya komitmen dalam persetujuan anggaran;
c. implementasi PUG pada tahap pelaksanaan pembangunan adalah memastikan fungsi manajemen pelaksanaan pembangunan yang responsif gender (koordinasi, sinkronisasi, sinergistis, bimbingan teknis dan supervisi dilakukan oleh penerima mandat).
d. tidak ada kesenjangan antara perencanaan dan pelaksanaan program yang responsif gender ditinjau dari aspek akses, partisipasi, kontrol dan manfaat.
1.6.2. Implementasi PUG pada tahapan monitoring dan evaluasi pembangunan adalah:
a. Sektor/lembaga melaporkan tentang pelaksanaan pembangunan yang responsif gender sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah;
b. Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana melakukan analisis format Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 melaporkannya kepada Sektor/Lembaga sebagai umpan balik dan kepada Walikota sebagai bentuk akuntabilitas;
c. membuat tambahan format Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan baru sesuai tolok ukur/indikator kinerja yang responsif gender.
1.7. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Sistematika pembahasan RAD PUG Kota Tangerang Selatan meliputi seluruh perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi kebijakan dan program pembangunan daerah di Kota Tangerang Selatan, disusun dengan sistematika sebagai berikut:
a. Bab I
Pendahuluan membahas tentang Latar Belakang, Dasar Hukum, Tujuan Penyusunan, Target Penyusunan, Sasaran Penyusunan, Implementasi, Sistematika Pembahasan, Proses Penyusunan, dan Pengguna.
b. Bab II
Kedudukan Pengarusutamaan Gender membahas tentang Kedudukan dalam Peraturan Perundang-undangan di Daerah, dan Kedudukan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah.
c. Bab III
Pengarusutamaan Gender Dalam Siklus Pembangunan membahas tentang Pengarusutamaan Gender Dalam Siklus Pembangunan di Daerah, Metode Analisis Gender, dan Pengarusutamaan Gender Sebagai Strategi Dalam Pembangunan.
d. Bab IV
Penguatan Kelembagaan membahas tentang Penguatan Kelembagaan Melalui Peraturan Perundang-Undangan dan Penguatan Kelembagaan Melalui Kebijakan Anggaran.
e. Bab V
Penguatan Peran Serta Masyarakat membahas tentang Penguatan Peran Serta Masyarakat Terhadap Pengarusutamaan Gender, dan Pengarusutamaan Gender Sebagai Strategi Alternatif Mewujudkan Kesetaraan Gender Dalam Masyarakat.
f. Bab VI
Pengarusutamaan Gender dan Peraturan Perundang- Undangan Daerah membahas tentang Dasar Peraturan Perundang-Undangan Pengarusutamaan Gender di Daerah, dan Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah.
g. Bab VII
Analisis Kondisi membahas tentang Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, Sosial, dan Sektor Publik.
h. Bab VIII
Rencana Aksi Daerah Pengarusutamaan Gender membahas tentang Isu Strategis, Tujuan, Sasaran, Kebijakan, dan Strategi.
i. Bab IX
Penutup membahas tentang Kesimpulan dan Rekomendasi.
1.8. PROSES PENYUSUNAN
Proses menyusunan RAD PUG Kota Tangerang selatan, adalah:
a. membentuk tim penyusun RAD PUG dengan melibatkan pihak ketiga yaitu Lembaga Survei Independen Nusantara (LSIN).
b. pengumpulan data baik primer maupun sekunder.
c. memvalidasi dan verifikasi data yang sudah terkumpulkan d. menganalisis data dan mengkaji isu-isu strategis di Kota
Tangerang Selatan.
e. membuat RAD PUG di Kota Tangerang Selatan.
f. Penyusunan dan Finalisasi RAD PUG di Kota Tangerang Selatan.
1.9. PENGGUNA
Pengguna RAD PUG Kota Tangerang Selatan adalah seluruh stakeholder, Perangkat Daerah, Non pemerintah, yang meliputi para perencana, pelaksana, serta tim monitoring dan evaluasi pembangunan di Kota Tangerang Selatan.
BAB II
KEDUDUKAN PENGARUSUTAMAAN GENDER
2.1. KEDUDUKAN DALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI DAERAH
Pedoman pelaksanaan PUG di daerah yaitu:
a. Instruksi Presiden Nomor 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional.
b. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah.
c. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 2 Tahun 2018 tentang Pengarusutamaan Gender.
Pada ketiga peraturan tersebut terdapat amanat dalam proses perencanaan pembangunan yaitu:
a. Integrasi isu gender dalam proses pembangunan dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
b. Internalisasi PUG dalam dokumen perencanaan jangka panjang (20 tahun), jangka menengah (5 tahun) dan jangka pendek (1 tahun) serta pelembagaan pengelolaan PUG, berdasarkan ketentuan tersebut diharapkan semua elemen penyelenggara Negara melaksanakan PUG pada berbagai bidang pembangunan. PUG menjadi jalan pintas di daerah yang harus direspon dalam proses penyelenggaraan pemerintah daerah.
Kelembagaan PUG mengarah pada upaya percepatan pencapaian kesetaraan dan keadilan gender melalui berbagai lembaga yang ada di daerah seperti Kelompok Kerja (Pokja PUG), Tim Teknis Pokja PUG dan Focal Point PUG.
Pemerintah daerah berkewajiban menyusun kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan responsif gender yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, Rencana Strategis Perangkat Daerah, Rencana Kerja Pemerintah Daerah, dan Rencana Kerja Perangkat Daerah.
Perencanaan responsif gender adalah perencanaan untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender melalui pengintegrasian pengalaman, aspirasi, kebutuhan, potensi, dan penyelesaian permasalahan perempuan dan laki-laki.
Regulasi penyelenggaraan PUG adalah Peraturan Daerah, Peraturan Walikota, Keputusan Walikota dan surat edaran penting yang ditujukan bagi percepatan pencapaian kesetaraan dan keadilan gender. Pelaksanaan PUG di Kota Tangerang Selatan harus didukung dengan berbagai regulasi daerah, baik berupa Peraturan Daerah maupun Peraturan Walikota sehingga mampu mengikat semua pihak untuk mendukung penyelenggaraan PUG di Kota Tangerang Selatan.
Dalam upaya percepatan pelembagaan PUG maka disusun penetapan program, kegiatan dan anggaran yang responsif gender Kota Tangerang Selatan yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Badan Perencanan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor: 027/Kep-0529/Bappeda/xi/2017.
Hal ini tentu saja merespon sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah yaitu:
a. mempromosikan dan memfasilitasi PUG kepada masing- masing Perangkat Daerah;
b. melaksanakan sosialisasi dan advokasi PUG kepada Camat dan Lurah;
c. menyusun program kerja setiap tahun;
d. mendorong terwujudnya perencanaan dan penganggaran yang responsif gender;
e. menyusun rencana kerja Pokja PUG setiap tahun;
f. bertanggung jawab kepada walikota melalui walikota;
g. merumuskan rekomendasi kebijakan kepada walikota;
h. menyusun profil gender kota;
i. melakukan pemantauan pelaksanaan PUG di masing-masing instansi;
j. menetapkan tim teknis untuk melakukan analisis terhadap anggaran daerah;
k. menyusun RAD PUG kota; dan
l. mendorong dilaksanakannya pemilihan dan penetapan Focal Point di masing-masing Perangkat Daerah. Dalam rangka percepatan pelaksanaan PUG pada tingkat Perangkat Daerah dibentuk Focal Point Perangkat Daerah, sayangnya hingga kini belum seluruh Perangkat Daerah di Kota Tangerang Selatan memiliki Focal Point.
Pembentukan Focal Point ditetapkan dengan Keputusan Kepala Perangkat Daerah. Focal Point terdiri dari pejabat dan/atau staf yang membidangi tugas Pemberdayaan Perempuan dan Perwakilan tiap bidang yang ada. Adapun tugas dari Focal Point yaitu:
a. mempromosikan pengarusutamaan gender pada unit kerja;
b. memfasilitasi penyusunan rencana kerja dan penganggaran Perangkat Daerah yang responsif gender;
c. melaksanakan pelatihan, sosialisasi, advokasi PUG kepada seluruh pejabat dan staf di lingkungan Perangkat Daerah;
d. melaporkan pelaksanaan PUG kepada pimpinan Perangkat Daerah;
e. mendorong pelaksanaan analisis gender terhadap kebijakan, program, dan kegiatan pada unit kerja; dan
f. memfasilitasi penyusunan data gender pada masing-masing Perangkat Daerah. Pemerintah Kota Tangerang Selatan memiliki tugas dan tanggungjawab mencapai kesetaraan dan keadilan gender sebagaimana tercantum dalam salah satu misi RPJMD Kota Tangerang Selatan Tahun 2016–2021 yaitu yaitu meningkatkan kesetaraan dan
keadilan gender serta penghargaan yang tinggi terhadap Hak Asasi Manusia. Hal ini merupakan bukti RPJMD Kota Tangerang Selatan telah ada upaya responsif terhadap pencapaian kesetaraan dan keadilan gender.
Pada tahap pelaporan monitoring dan evaluasi, Walikota Tangerang Selatan mempersiapkan laporan pelaksanaan PUG kepada Gubernur secara berkala setiap 6 (enam) bulan. Selain itu, melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan PUG pada setiap Perangkat Daerah. Melakukan pembinaan terhadap pelaksanaan PUG yang meliputi: (1) penetapan panduan teknis pelaksanaan PUG skala Kota Tangerang Selatan, Kecamatan dan Kelurahan; (2) penguatan kapasitas kelembagaan melalui pelatihan, konsultasi, advokasi, dan koordinasi; (3) pemantauan dan evaluasi pelaksanaan PUG di Kelurahan dan pada Perangkat Daerah; (4) peningkatan kapasitas Focal Point dan Pokja PUG; dan (5) strategi pencapaian kinerja.
2.2. KEDUDUKAN DALAM RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH
Kedudukan PUG dalam Dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah merupakan arus utama dalam setiap arah kebijakan, strategi, program dan kegiatan. PUG akan menjadi jiwa dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah yang menjadi pedoman dalam penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk ditetapkan menjadi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah disusun dengan mendasarkan pada Rencana Kerja dan Anggaran seluruh Perangkat Daerah.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ini kemudian akan dijabarkan menjadi Daftar Penetapan Anggaran Perangkat Daerah.
Dalam perencanaan dan penganggaran pembangunan tahunan, Perangkat Daerah perlu melakukan analisis gender, sehingga dapat diketahui permasalahan kesenjangan gender menyangkut akses, kontrol, partisipasi dan manfaat yang diperoleh penduduk perempuan dan laki-laki, dan menentukan RAD yang sesuai
untuk memecahkan permasalahan tersebut. Pengintegrasian PUG dalam pembangunan tahunan harus dimulai sejak penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah. Sementara titik kritis dalam perencanaan yang responsif gender yaitu pada saat penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran dan Dokumen Pelaksanaan Anggaran Perangkat Daerah. Hal ini karena dalam kedua dokumen tersebut telah menyebutkan kelompok sasaran suatu kegiatan, dimana sudah harus memperhatikan prinsip-prinsip kesetaraan dan keadilan gender.
BAB III
PENGARUSUTAMAAN GENDER DALAM SIKLUS PEMBANGUNAN
3.1. PENGARUSUTAMAAN GENDER DALAM SIKLUS PEMBANGUNAN DI DAERAH
Siklus pembangunan daerah dimulai dari tahap perencanaan pembangunan daerah, implementasi pembangunan daerah, evaluasi dan pelaporan pembangunan daerah. Dalam perencanaan pembangunan daerah PUG diintegrasikan ke dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah. Integrasi PUG dalam perencanaan pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan menurut Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, terdapat 4 (empat) tahapan dalam siklus perencanaan pembangunan nasional, yaitu (1) penyusunan rencana; (2) penetapan rencana; (3) pengendalian pelaksanaan rencana; dan (4) evaluasi pelaksanaan rencana.
Pada tingkat daerah, perencanaan pembangunan daerah juga disusun melalui 4 (empat) tahapan dalam siklus perencanaan pembangunan daerah.. Pembangunan di daerah diawali dengan penyusunan dokumen perencanaan pembangunan daerah.
Dokumen perencanaan pembangunan daerah disusun secara berjangka, dokumen perencanaan pembangunan untuk kurun waktu 20 (dua puluh) tahun disebut Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, dokumen perencanaan pembangunan untuk kurun waktu 5 (lima) tahun disebut Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah dan dokumen perencanaan tahunan disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah.
Rencana Kerja Pemerintah Daerah menjadi dasar dalam penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan Penetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Pada tingkat Perangkat Daerah perencanaan pembangunan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun disebut Rencana Strategis Perangkat Daerah, Rencana Strategis Perangkat Daerah merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah. Perencanaan tahunan di Perangkat Daerah disebut Rencana Kerja Perangkat Daerah yang merupakan
penjabaran dari Rencana Kerja Pemerintah Daerah yang selanjutnya dijadikan sebagai pedoman dalam menyusun Rencana Kerja dan Anggaran Perangkat Daerah.
PUG dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah, merupakan strategi yang dibangun untuk mengintegrasikan gender menjadi satu dimensi integral mulai perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi atas kebijakan serta program pembangunan nasional. Penyelenggaraan PUG di daerah dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
PUG dilaksanakan melalui langkah-langkah analisis gender serta Komunikasi, Informasi, dan Edukasi tentang PUG pada instansi dan lembaga pemerintah di tingkat Pusat dan Daerah. Tahap perencanaan, pemerintah daerah berkewajiban menyusun kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan responsif gender yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, Rencana Kerja Pemerintah Daerah, Rencana Strategis Perangkat Daerah, dan Rencana Kerja Perangkat Daerah .
Perencanaan responsif gender disini adalah perencanaan untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender, yang dilakukan melalui pengintegrasian pengalaman, aspirasi, kebutuhan, potensi, dan penyelesaian permasalahan perempuan dan laki-laki. Pengintegrasian PUG juga mencakup proses penganggaran pembangunan daerah, yaitu pada tahap penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran Perangkat Daerah dan penetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya dirinci dalam rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Sumber: Bappenas, 2011 3.2. METODE ANALISIS GENDER
Perencanaan dan penganggaran pembangunan yang responsif gender harus melalui proses analisis gender menggunakan metode Gender Analisys Pathway (GAP) dan Gender Budget Statement (GBS). Gender Analisys Pathway (GAP) dan Gender Budget Statement (GBS) digunakan untuk menganalisis isu gender yang berkembang, merumuskan tujuan, menyusun kegiatan yang responsif gender, menyusun indikator capaian, dan menentukan target kinerja atas rumusan kegiatan responsif gender.
Perumusan isu gender sampai dengan penentuan indikator capaian dan penetapan target kinerja dengan Gender Analisys Pathway (GAP) dan Gender Budget Statement (GBS) dilakukan menggunakan data pilah gender (data menurut jenis kelamin). Data pilah gender penting untuk mengetahui sejauh mana kesenjangan akses, kontrol, partisipasi dan peran antara laki-laki dengan perempuan.
Gender Analisys Pathway (GAP) merupakan salah satu alat analisis gender yang dikembangkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional yang dapat digunakan untuk membantu para perencana memasukan PUG dalam perencanaan kebijakan, program, proyek, dan atau kegiatan pembangunan.
Perencana dapat mengidentifikasikan kesenjangan dan permasalahan gender serta sekaligus menyusun rencana kebijakan/program/proyek/kegiatan yang ditujukan untuk memperkecil atau menghapus kesenjangan gender dengan menggunakan Gender Analisys Pathway (GAP).
Berdasarkan buku pedoman teknis perencanaan dan penganggaran responsif gender bagi daerah yang dikeluarkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan tahun 2010, metode Gender Analisys Pathway (GAP) meliputi 9 (sembilan) langkah yaitu:
a. pilih kebijakan/program/kegiatan yang akan dianalisa
1. memilih kebijakan/program/kegiatan yang hendak dianalisis.
2. menuliskan tujuan kebijakan/program/kegiatan.
b. menyajikan data pembuka wawasan
1. menyajikan data pembuka wawasan yang terpilah menurut jenis kelamin.
2. data terpilah ini bisa berupa data statistik yang kuantitatif atau yang kualitatif, misalnya hasil survei, hasil Focus Group Discussion, reviu pustaka, hasil kajian, hasil pengamatan, atau hasil intervensi kebijakan/program/kegiatan yang sedang dilakukan.
c. mengenali faktor kesenjangan gender
Menemukan dan mengetahui ada tidaknya faktor kesenjangan gender yaitu Akses, Partisipasi, Kontrol, dan Manfaat.
d. menemukan sebab kesenjangan internal
Temukan isu gender di internal lembaga. Misalnya terkait dengan produk hukum, kebijakan, pemahaman gender yang masih kurang diantara pengambil keputusan dalam internal lembaga.
e. menemukan sebab kesenjangan eksternal
Temukan isu gender di eksternal lembaga. Misalnya apakah budaya patriakhi, gender stereotype (laki-laki yang selalu dianggap sebagai kepala keluarga).
f. reformulasi tujuan
merumuskan kembali tujuan kebijakan/program/kegiatan supaya responsif gender.
g. rencana aksi.
1. menetapkan rencana aksi.
2. Rencana aksi diharapkan mengatasi kesenjangan gender yang teridentifikasi pada langkah 3, 4 dan 5.
h. Data Dasar.
Menetapkan data dasar yang dipilih untuk mengukur kemajuan (progress). Data yang dimaksud diambil dari data pembuka wawasan yang telah diungkapkan pada langkah 2 yang terkait dengan tujuan kegiatan dan ouput kegiatan.
i. Indikator Gender
Menetapkan indikator gender sebagai pengukuran hasil melalui ukuran kuantitatif maupun kualitatif.
Selanjutnya dalam pelaksanaan pembangunan PUG juga terintegrasi dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan pembangunan di setiap perangkat daerah yang mengampu urusan-urusan yang dilimpahkan pusat kepada daerah. Dalam pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan manusia secara langsung maupun tidak harus memperhatikan akses kontrol, partisipasi dan peran antara perempuan dan laki-laki. Apalagi kegiatan- kegiatan yang langsung mengarah pada penyelesaian kesenjangan antara laki-laki dan perempuan harus secara efektif dapat mengurangi kesenjangan antara laki-laki dengan perempuan atau sebaliknya.
Tahap pelaksanaan pembangunan daerah PUG tetap harus menjadi “jiwa” setiap kegiatan yang dilaksanakan. Dalam pelaksanaan pembangunan di Kota Tangerang Selatan, PUG harus mengendalikan kegiatan-kegiatan pembangunan supaya tetap memperhatikan kesetaraan gender. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah melakukan pemantauan pelaksanaan PUG di masing-masing instansi agar PUG berjalan dengan optimal.
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah beserta tim teknis Dinas terkait dan Focal Point menjadi garda terdepan dalam mengawal PUG dalam pembangunan daerah.
Keadilan dan kesetaraan gender merupakan tujuan utama dalam evaluasi terhadap kinerja perangkat daerah dan evaluasi dokumen perencanaan, sehingga dapat diketahui apakah hasil kinerja perangkat daerah dan perencanaan sudah responsif gender atau belum. Dalam tahap ini integrasi perencanaan penganggaran pada tahap integrasi dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah tersirat dalam Misi 8, kebijakan daerah,tujuan dan program/kegiatan. Secara khusus Rencana Strategis dan Rencana Kerja Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana memuat amanah-amanah yang harus diemban mencapai Keadilan dan Kesetaraan Gender
Secara umum Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2016- 2021 telah mencerminkan pencapaian misi Walikota dalam PUG. Kedudukan PUG ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah diwujudkan dalam penggambaran kondisi, strategi, arah kebijakan, program dan kegiatan yang selalu memperhatikan akses, kontrol, partisipasi dan peran laki-laki dan perempuan secara seimbang.
Perhatian terhadap akses, kontrol, partisipasi dan peran laki-laki danperempuan dalam setiap aspek dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah diwujudkan dalam setiap aspek dalam perencanaan jangka menengah daerah tersebut. Penyusunan perencanaan yang mengintegrasikan PUG selalu didasarkan pada data pilah. Pada setiap penyajian kondisi dan prediksi selalu memperhatikan data pilah gender dan issue gender yang berkembang berkaitan dengan kondisi data yang ada. Pengintegrasian pengarusutaman gender melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah merupakan langkah strategis dalam proses PUG di daerah.
Hal ini karena Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah akan dijadikan acuan dalam menyusun Rencana Strategis Perangkat Daerah, Rencana Kerja Pemerintah Daerah dan Rencana Kerja Perangkat Daerah. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2016-2021 secara umum sudah memperhatikan kesetaraan dan keadilan gender, terutama
dalam perumusan misi ke-8, yaitu Meningkatkan kesetaraan dan keadilan gender serta penghargaan yang tinggi terhadap Hak Asasi Manusia, yang memiliki arti kesetaraan antara laki- laki dan perempuan dalam memperoleh kesempatan (akses) dan memafaatkan berbagai pelayanan publik, serta kesetaraan dalam berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan perlu terus dikembangkan. Disamping itu perlu adanya jaminan dan penghargaan yang tinggi pada hak asasi manusia. Tujuan pembangunan yang dijabarkan dari misi ke-8 yaitu Mengurangi ketimpangan gender, penguatan kelembagaan dan pemberdayaan perempuan dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.
Adapun sasarannya yaitu (1) Meningkatnya indeks pembangunan gender (IPG); (2) Meningkatnya indeks pemberdayaan gender (IDG); (3) Meningkatnya kesadaran hukum oleh masyarakat;
(4) Meningkatnya pemahaman terhadap Hak Asasi Manusia oleh aparat; (5) Terwujudnya peningkatan sumber daya manusia dan kualitas hidup perempuan dan perlindungan anak yang kompetitif dan memiliki kompetensi; (6) Terwujudnya masyarakat yang mempunyai kemampuan dan pengetahuan yang berlandaskan keadilan dan kesetaraan gender dalam penerapan segala aspek kehidupan. Misi, tujuan dan sasaran tersebut akan menjadi modal awal untuk perencanaan pembangunan tahunan, yaitu Rencana Kerja Pemerintah Daerah dan Rencana Kerja Perangkat Daerah yang lebih responsif gender.
3.3. PENGARUSUTAMAAN GENDER SEBAGAI STRATEGI DALAM PEMBANGUNAN
Pengarusutamaan gender adalah strategi pembangunan untuk mencapai adanya kesetaraan dan keadilan gender melalui pengintegrasian pengalaman, kebutuhan, aspirasi perempuan dan laki-laki kedalam berbagai kebijakan dan program mulai dari tahap perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pemantauan. Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender Dalam Pembangunan Nasional, mengintruksikan kepada seluruh Menteri dan Kepala
Lembaga Non Kementerian (K/L), Lembaga Tinggi Negara, Kapolri, Panglima TNI, para Gubernur dan para Bupati/Walikota seluruh Indonesia untuk melaksanakan PUG dalam pembangunan.
Dalam Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019, menegaskan bahwa PUG merupakan strategi lintas bidang dalam pembangunan selain Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dan Pemerintahan yang baik (good governance).
Dengan mengacu kepada Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000, dan Peraturan Presiden Nomor 2 tahun 2015 tersebut diatas maka jelas PUG merupakan kewajiban bagi seluruh Menteri/Kepala Non Kementerian dan juga para Gubernur dan Bupati/Walikota seluruh Indonesia untuk menerapkan strategi PUG dalam pembangunan sesuai dengan kewenangannya masing-masing.
PUG sebagai strategi pembangunan telah diamanatkan dalam Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000, dan dipertegas dalam Presiden Nomor 2 tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019. Dalam menetapkan prioritas pembangunan pemberdayaan perempuan di Indonesia maka dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019 ditetapkan tiga prioritas yaitu:
1). Meningkatkan kualitas hidup dan peran perempuan di berbagai bidang pembangunan; 2). Meningkatkan perlindungan perempuan dari berbagai tindak kekerasan, termasuk Tindak Pidana Perdagangan Orang; 3). Meningkatkan kapasitas kelembagaan PUG dan kelembagaan perlindungan perempuan dari berbagai tindak kekerasan. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, menjabarkan kedalam “Three End Plus” yaitu: Akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak;
Akhiri perdagangan Manusia; Akhiri kesenjangan ekonomi; Akhiri ketertinggalan perempuan dalam politik.
BAB IV
PENGUATAN KELEMBAGAAN
4.1. PENGUATAN KELEMBAGAAN MELALUI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam pembangunan pada dasarnya dimulai sejak Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender Dalam Pembangunan Nasional. Selanjutnya dalam Peraturan Presiden Nomor 2 tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019 dinyatakan bahwa PUG merupakan salah satu arus utama yang harus dilaksanakan dalam pembangunan disamping pengarusutamaan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) dan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).
Dalam rangka percepatan pelaksanaan PUG baik di pusat maupun di daerah Pemerintah telah mengeluarkan Surat Edaran Bersama antara 4 (empat) menteri yaitu Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan nasional No.270/M.PPN/II/2012, Menteri Keuangan dengan No.SE.33/MK.02/2012, Menteri Dalam Negeri No.050/4370A/SJ dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No.46/MPP-PA/II/2012 tentang Strategi Nasional Percepatan Pengarusutamaan Gender (PUG) melalui Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender. Surat tersebut menjadi dasar dalam menyusun perencanaan dan penganggaran yang responsif gender dan merupakan strategi percepatan pelaksanaan PUG baik di pusat maupun di daerah.
Sedangkan pelaksanaan PUG di daerah telah diamanatkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah, namum dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri tersebut lebih fokus kepada pengaturan sistem perencanaan daerah yang responsif gender, sedangkan pengaturan tentang sistem penganggaran dengan menggunakan instrumen Gender
Analisys Pathway (GAP) dan Gender Budget Statement (GBS) belum diatur. Untuk hal tersebut Kementerian Dalam Negeri telah mengeluarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah. Peraturan Menteri Dalam Negeri tersebut telah mengatur sistem kelembagaan PUG di daerah dan juga mengatur sistem perencanaan dan penganggaran dengan menggunakan instrumen Analisis Gender dengan menggunakan Gender Analisys Pathway (GAP) dan Gender Budget Statement (GBS).
Untuk mencapai palaksanaan PUG sebagaimana termaksud dalam Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000, Peraturan Presiden Nomor 2 tahun 2015, Surat Edaran Bersama antara 4 (empat) menteri yaitu Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas No.270/M.PPN/II/2012, Menteri Keuangan dengan No.SE.33/MK.02/2012, Menteri Dalam Negeri No.050/4370A/SJ dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No.46/MPP-PA/II/2012 tentang Strategi Nasional Percepatan Pengarusutamaan Gender (PUG) melalui Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender, dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah tersebut diatas PUG telah mengamanatkan kepada pemerintah provinsi, dan kabupaten/kota memperhatikan hal- hal sebagai berikut:
1. Pemerintah provinsi berkewajiban menyusun kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan berperspektif gender yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, Rencana Strategis Perangkat Daerah, dan Rencana Kerja Perangkat Daerah (ayat (1) Pasal 4).
Penyusunan kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan berperspektif gender sebagaimana pada ayat
(1) dilakukan melalui analisis gender (ayat (2) Pasal 4).
Analisis gender dapat menggunakan Gender Analysis Pathway (GAP) atau analisis gender lainnya.
2. Pasal 5A menjelaskan bahwa hasil analisis gender sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 ayat (3) dituangkan dalam penyusunan Gender Budget Statement (GBS). Hasil analisis gender yang terdapat dalam Gender Budget Statement (GBS) menjadi dasar perangkat daerah dalam menyusun kerangka acuan kegiatan dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan dokumen Rencana Kerja dan Anggaran/Dokumen Pelaksanaan Anggaran Perangkat Daerah.
3. Tiga lembaga/unit baik di Provinsi maupun di Kabupaten/Kota yaitu: Pokja Provinsi (Pasal 9), Pokja Kabupaten/Kota (Pasal 14), Tim Teknis Provinsi (Pasal 11), Tim Teknis Kabupaten/Kota (Pasal 16), RAD PUG di Provinsi (Pasal 11 ayat (2), RAD PUG Kabupaten/Kota (Pasal 16 ayat (2), Focal point PUG di setiap Perangkat Daerah di Provinsi Pasal 17 ayat (1), Focal point PUG di setiap Perangkat Daerah Kabupaten/Kota Pasal 17 ayat (2).
4. Menteri Dalam Negeri melalui Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa melakukan pembinaan umum terhadap pelaksanaan PUG di provinsi (Pasal 23), Pemberian pedoman dan panduan, Penguatan kapasitas, dan kapasitas tim teknis, dan Pokja Provinsi serta Pemantauan dan evaluasi.
5. Anggota Pokja PUG di Kota Tangerang Selatan dikenal dua peran: Peran Penggerak (driver) dan Peran pelayanan (services). Lembaga Driver atau penggerak terdiri dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana, Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah, dan Inspektorat. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap koordinasi dalam penyusunan perencanaan;
Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan
Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana, sebagai penggerak dan bertanggung jaswab terhadap bantuan teknis substansi PUG dan penyediaan data terpilah;
Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah bertanggung jawab terhadap dalam melakukan koordinasi dan supervisi penganggaran; sedangkan Inspektorat bertanggung jawab terhadap pelaksanaan supervisi, monitoring dan evaluasi kegiatan. Sedangkan unit-unit lembaga pelayanan (services) yaitu Perangkat Daerah. Perangkat Daerah bertanggung jawab terhadap penyusunan kegiatan yang responsif gender dengan menggunakan anlisis gender dan pembuatan Gender Budget Statement (GBS) yang dapat langsung berkaitan dengan sasaran inti yaitu masyarakat.
6. Koordinasi dan sinkronisasi PUG dan perencanaan dan penganggaran yang responsif gender paling utama ada pada lembaga penggerak (driver) yang menggerakkan Pokja;
4.2. PENGUATAN KELEMBAGAAN MELALUI KEBIJAKAN ANGGARAN
PUG adalah proses untuk menjamin perempuan dan laki-laki mempunyai akses dan kontrol terhadap sumber daya, mendapat manfaat dan terlibat dalam pengambilan keputusan yang sama dalam proses pembangunan. Hal tersebut merupakan strategi untuk mengurangi kesenjangan gender dan mencapai kesetaraan gender dengan mengintegrasikan gender menjadi satu demensi integral dari perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi atas kebijakan dan program pembangunan disuatu wilayah. Pelaksanaan PUG dalam pembangunan merupakan strategi untuk memastikan perempuan dan laki-laki mempunyai akses yang sama terhadap sumber daya, dapat berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan, memiliki kesempatan dan peluang yang sama dalam melakukan kontrol, serta memperoleh manfaat yang sama terhadap pembangunan.
Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender merupakan serangkaian cara dan pendekatan untuk mengintegrasikan perspektif gender di dalam proses perencanaan dan penganggaran. Perencanaan yang responsif gender adalah
perencanaan untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender, yang dilakukan melalui pengintegrasian pengalaman, aspirasi, kebutuhan, potensi, dan penyelesaian permasalahan perempuan dan laki-laki. Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender merupakan perencanaan yang disusun dengan mempertimbangkan 4 (empat) aspek yaitu: akses, partisipasi, kontrol dan manfaat yang dilakukan secara setara antara perempuan dan laki-laki. Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender harus mempertimbangkan aspirasi, kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki baik dalam proses perencanaan, penyusunan, pelaksanaan serta monitoring dan evaluasi program kegiatan.
a. Tujuan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender.
Penyusunan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender mempunyai tujuan, yaitu:
1. meningkatkan kesadaran dan pemahaman para pengambil keputusan tentang pentingnya isu gender dalam kebijakan pembangunan dan mempercepat terwujudnya keadilan dan kesetaran gender.
2. memberikan manfaat yang adil bagi kesejahteraan laki- laki dan perempuan, termasuk anak laki-laki dan anak perempuan dari penggunaan belanja/pengeluaran pembangunan.
3. meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan anggaran, serta membangun transparansi anggaran dan akuntabilitas Pemerintah Daerah.
4. membantu mengurangi kesenjangan gender dan menghapuskan diskriminasi terhadap perempuan dalam pembangunan.
5. meningkatkan partisipasi masyarakat, baik laki-laki dan perempuan dalam penyusunan perencanaan anggaran, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi.
6. menjamin agar kebutuhan dan aspirasi laki-laki dan perempuan dari berbagai kelompok sosial (berdasarkan jenis kelamin, usia, ras, suku, dan lokasi) dapat diakomodasikan ke dalam belanja/pengeluaran.
b. Prasyarat Terwujudnya Pengarusutamaan Gender (PUG):
1. Komitmen
Terwujudnya PUG di Kota Tangerang Selatan adanya komitmen bersama stakeholder dan masyarakat sehingga penguatan kelembagaan PUG.
2. Kebijakan
Adanya kebijakan yang berpihak pada PUG di Kota Tangerang Selatan sebagaimana Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 2 Tahun 2018 tentang Pengarusutamaan Gender.
3. Kelembagaan
PUG di Kota Tangerang Selatan dapat terwujud dengan ada penguatan kelembagaan antar stakeholder (antar dinas/lembaga terkait).
4. Sumber Daya Manusia dan Anggaran
Peningkatan sumber daya manusia dan alokasi anggaran yang cukup khusus untuk PUG.
5. Alat Analis Gender
PUG di Kota Tangerang Selatan perlunya adanya analisis gender yang kuat sehingga dapat membantu pelaksanaan PUG secara tepat.
6. Data Gender
PUG di Kota Tangerang Selatan perlu adanya update data gender setiap tahun sekali.
7. Partisipasi Masyarakat
Peran serta masyarakat dalam mewujudkan PUG di Kota Tangerang Selatan.
Dalam mewujudkan penguatan kelembagaan PUG di Kota Tangerang Selatan perlu adanya: 1). Advokasi dan Fasilitasi PUG Bagi Perempuan Fasilitasi pengembangan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan 2). Peningkatan kapasitas dan jaringan kelembagaan pemberdayaan perempuan dan 3).
Evaluasi pelaksanaan PUG Pengembangan sistem informasi Gender dan Anak.
Pemerintah Kota Tangerang Selatan dalam upaya penguatan kelembagaan PUG hendaknya melakukan revitalisasi Pokja setiap tahunnya, pertama dari sisi legalitasnya, kedua dari sisi keanggotaan, peran dan fungsi termasuk target-target capaian PUG. Hal ini perlu menjadi agenda tahunan mengingat bahwa SK Pokja dan Focal point hanya berlaku satu tahun selain itu juga sebagai antisipasi adanya perubahan keanggotaan yang diakibatkan terjadinya pergeseran para pejabat di lingkungan provinsi. Revitalisasi kelembagaan PUG juga dilakukan untuk menyesuaikan dengan kebijakan terbaru dan dinamika perkembangan masyarakat. Provinsi perlu aktif mendorong penguatan kelembagaan PUG khususnya lembaga penggerak PUG Kota Tangerang Selatan seperti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana, Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah, dan Inspektorat agar PUG dapat berjalan dan terlaksana dengan baik di Kota Tangerang Selatan.
BAB V
PENGUATAN PERAN SERTA MASYARAKAT
5.1. PENGUATAN PERAN SERTA MASYARAKAT TERHADAP PENGARUSUTAMAAN GENDER
Data-data empirik yang menunjukkan terjadinya kesenjangan gender merupakan salah satu permasalahan pembangunan.
Memang, kita menyadari kondisi itu tidaklah disengaja melainkan berjalan secara linier, tetapi kita perlu melakukan perubahan struktural, dan kultural dalam tata kelola pemerintahan dan pembangunan yang lebih inklusif sehingga menjamin kepastian manfaat sumberdaya pembangunan yang berkeadilan gender.
Perubahan itu hanya dilakukan manakala para aktor pembangunan memiliki gender mindset dan kesetaraan gender menjadi benchmark dalam penentuan kebijakan pemerintahan dan pembangunan yang sejalan dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 dan agenda UN Womens tentang Planet 50:50 by 2030 Step It Up for Gender Equality.
Bentuk partisipasi masyarakat dalam upaya mendukung pelembagaan PUG dapat dilakukan melalui kegiatan sosialisasi dan advokasi dalam mendorong komitmen pemerintah, Pemerintah Daerah dalam membangun kelembagaan PUG, melakukan kajian dan telaahan terhadap isu-isu gender dan anak di daerah. Bentuk-bentuk partisipasi masyarakat dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, menurut Fatahillah adalah melakukan sosialisasi dan edukasi mengenai peraturan dan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan kekerasan terhadap perempuan dan anak serta penyediaan media komunikasi, informasi dan edukasi tentang pencegahaan kekerasan terhadap perempuan dan anak di keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan dan ruang-ruang publik, melaporkan kepada pihak berwenang jika terjadi pelanggaran hak-hak perempuan dan anak.
Melalui panduan ini diharapkan dapat memberikan kejelasan kepada seluruh unsur masyarakat yang terlibat dalam kegiatan bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dalam menjalankan peran dan kegiatannya sehingga dapat mewujudkan sinergitas dengan pemerintah dalam mencapai tujuan dan sasaran pembangunan pemberdayaan perempuan. Panduan umum bentuk dan tata cara partisipasi masyarakat bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dimaksudkan untuk memberikan acuan bagi organisasi/lembaga masyarakat dalam pelaksanaan partisipasi masyarakat bidang pemberdayaan perempuan baik di pemerintah pusat maupun daerah secara terpadu dan sinergi.
Penguatan kapasitas PUG bagi masyarakat menjadi sangat strategis karena memiliki fungsi transformatif nilai-nilai, gagasan, dan ide-ide perubahan paradigma kesetaraan gender pada semua bidang pembangunan. Masyarakat yang sensitif terhadap gender akan menjadi modal besar dalam mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia laki-laki dan perempuan guna menghadapi dunia global dengan beragam budaya yang berkembang.
Di sinilah letak dan pentingnya semua pejabat tinggi dan madya ASN di pusat dan daerah memahami pentingnya penyusunan kebijakan, program, kegiatan, dan penganggaran yang responsif gender dan peduli anak guna mewujudkan kesetaraan gender di semua bidang pembangunan, yang sejalan dengan upaya mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Pelaksanaan PUG telah banyak meraih kemajuan, bukan saja secara fisik melainkan non-fisik yang ditandai oleh semakin terbukanya paradigma kesetaraan bagi para penentu kebijakan di pusat dan di daerah; dan semakin luasnya partisipasi masyarakat sangat diharapkan dalan penguatan peran serta masayarakat dalam PUG.
5.2. PENGARUSUTAMAAN GENDER SEBAGAI STRATEGI ALTERNATIF MEWUJUDKAN KESETARAAN GENDER DALAM MASYARAKAT
Keberhasilan pembangunan dan keberhasilan dalam menjalani proses historis kehidupan dalam semua tingkatan akan sangat tergantung pada peran serta laki-laki dan perempuan secara bersamaan sebagai pelaku dan pemanfaatnya.
Ketidakseimbangan serta peminggiran terhadap peran serta dari salah satu elemen tersebut bisa berakibat pada ketimpangan dan ketidakadilan. Oleh karena itu, semua program pemberdayaan harus memperhatikan dan diorientasikan pada pencapaian dan optimalisasi peran yang setara antara laki-laki dan perempuan.
PUG adalah suatu strategi untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender melalui perencanaan dan penerapan kebijakan yang berperspektif gender pada organisasi dan institusi.
Pengarusutamaan gender merupakan strategi alternatif bagi usaha pencepatan tercapainya kesetaraan gender karena nuansa kepekaan gender menjadi salah satu landasan dalam penyusunan dan perumusan strategi, struktur, dan sistem dari suatu organisasi atau institusi, serta menjadi bagian dari nafas budaya di dalamnya. Strategi ini merupakan strategi integrasi kesamaan gender secara sistemik ke dalam seluruh sistem dan struktur, termasuk kebijakan, program, proses dan proyek, budaya, organisasi atau sebuah agenda pandangan dan tindakan yang memprioritaskan kesamaan gender berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 yaitu Presiden menginstruksikan untuk melaksanakan PUG guna terselenggaranya penyusunan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi atas kebijakan dan program pembangunan nasional yang berspektif gender sesuai dengan bidang tugas dan fungsi serta kewenangan masing-masing.
BAB VI
PENGARUSUTAMAAN GENDER DALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI DAERAH
6.1 DASAR PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN PENGARUSUTAMAAN GENDER DI DAERAH
Dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan masyarakat di daerah, masih terdapat ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender, sehingga diperlukan strategi pengintegrasian gender melalui perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, penganggaran, pemantauan, dan evaluasi atas kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan di daerah.
Adapun dasar pelaksanaan PUG di daerah berpedoman pada peraturan maupun perundang-undangan sebagai berikut:
1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3277);
2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang–Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
5. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019;
6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah;
7. Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender Dalam Pembangunan Nasional;
8. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 2 Tahun 2018 tentang Pengarusutamaan Gender.
6.2 PELAKSANAAN PENGARUSUTAMAAN GENDER DI DAERAH Pedoman umum pelaksanaan PUG di daerah dimaksudkan untuk memberikan pedoman kepada Pemerintah Daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan masyarakat yang berperspektif gender.
Adapun pedoman umum pelaksanaan PUG di daerah bertujuan:
a. memberikan acuan bagi aparatur Pemerintah Daerah dalam menyusun strategi pengintegrasian gender yang dilakukan melalui perencanaan, pelaksanaan, penganggaran, pemantauan, dan evaluasi atas kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan di daerah;
b. mewujudkan perencanaan berperspektif gender melalui pengintegrasian pengalaman, aspirasi, kebutuhan, potensi, dan penyelesaian permasalahan laki-laki dan perempuan;
c. mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam kehidupan berkeluarga, berbangsa, dan bernegara;
d. mewujudkan pengelolaan anggaran daerah yang responsif gender;
e. meningkatkan kesetaraan dan keadilan dalam kedudukan, peranan, dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan sebagai insan dan sumberdaya pembangunan; dan
f. meningkatkan peran dan kemandirian lembaga yang menangani pemberdayaan perempuan.
BAB VII
ANALISIS KONDISI
Kota Tangerang Selatan adalah salah satu kota di Provinsi Banten, Indonesia. Kota ini diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Indonesia, Mardiyanto, pada 29 Oktober 2008. Kota Tangerang Selatan termasuk kota satelit dari ibukota Jakarta dan daerah urban sprawl dari ibukota. Kota Tangerang Selatan termasuk di wilayah Jabodetabek karena kota ini merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Tangerang.
Slogan “Mari Menata Tangsel Rumah Kita Bersama” Dari permasalahan yang di hadapi sekarang, slogan resmi ”Mari Menata Tangsel Rumah Kita Bersama” menunjukan kehendak untuk menyapa, mengajak dan mempromosikan kepada seluruh masyarakat secara bersama memberikan sesuatu yang terbaik bagi Kota Tangerang Selatan mengingat secara simbolik merupakan sebuah tempat hidup dan beraktivitas bagi semua warga Kota Tangerang Selatan. Sepatutnyalah seluruh masyarakat Kota Tangerang Selatan dari berbagai asal-usul, ras dan etnik, agama dan kepercayaan, serta status sosial lainya memiliki semangat yang sama sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain sebagai warga yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama.
Oleh karena itu, Kota Tangerang Selatan harus di pandang sebagai tempat berdiam, bermukim dan beraktivitas bersama, dan sejahtera bersama, dibangun bersama, dipelihara bersama dan dikembangkan bersama untuk kepentingan dan kemanfaatan bersama.
Sejarah, Wacana pembentukan daerah otonom Kota Tangerang Selatan (dahulu Cipasera) muncul sejak 1999. Namun belum adanya kata sepakat antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tangerang dan Pemerintah Kabupaten Tangerang tentang jumlah kecamatan yang akan tergabung dalam daerah otonom ini, menghambat proses pembentukannya. Sebagian besar warga masyarakat yang tinggal di Kecamatan Ciputat, Pamulang, Serpong, Cisauk, dan Pondok Aren menginginkan lepas dari Kabupaten Tangerang.
Pertimbangan lainnya adalah aspek pelayanan masyarakat dan Pendapatan Asli Daerah enam kecamatan itu sangat besar, yaitu 309 Miliar pertahunnya atau 60% dari Pendapatan Asli Daerah seluruh daerah Kabupaten Tangerang.
Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kota Tangerang Selatan melalui Sidang Paripurna DPR-RI, dengan cakupan wilayah Kecamatan Setu, Serpong, Serpong Utara, Pondok Aren, Pamulang, Ciputat, dan Ciputat Timur bergabung dalam sebuah daerah otonom bernama Kota Tangerang Selatan.
Batasan Wilayah Kota Tangerang Selatan adalah sebelah Utara: Kota Tangerang dan Daerah Khusus Ibukota Jakarta, sebelah Selatan:
Provinsi Jawa Barat (Kabupaten Bogor dan Kota Depok), Barat:
Kabupaten Tangerang, dan sebelah Timur: Provinsi Jawa Barat (Kota Depok) dan Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Adapun Luas Wilayah Kota Tangerang Selatan adalah, sebagai berikut:
1. Serpong dengan luas 2.404 Ha.
2. Serpong Utara dengan luas 1.784 Ha.
3. Ciputat dengan luas 1.838 Ha.
4. Ciputat Timur dengan luas 1.543 Ha.
5. Pondok Aren dengan luas 2.988 Ha.
6. Pamulang dengan luas 2.682 Ha.
7. Setu dengan luas 1.480 Ha.
Kota Tangerang Selatan adalah sebuah kota yang terletak di Tatar Pasundan Provinsi Banten, Indonesia. Kota ini terletak 30 km sebelah barat Jakarta dan 90 km sebelah tenggara Serang, ibukota Provinsi Banten Wilayah Kota Tangerang Selatan merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Tangerang.
Demografi, berdasarkan hasil Sensus Penduduk oleh Badan Pusat Statistik Kota Tangerang Selatan jumlah penduduk Kota Tangerang Selatan adalah 1.290.322 jiwa pada tahun 2010. Penduduk berjenis kelamin laki-laki sebesar 652.281 jiwa sedangkan perempuan 638.041 jiwa. Rasio jenis kelamin adalah sebesar 102,23 yang menunjukkan bahwa jumlah laki-laki sedikit lebih banyak dibandingkan jumlah perempuan.
Kepadatan penduduk, dengan luas wilayah 147,19 Km2, kepadatan penduduk Kota mencapai 8.766 orang/Km2. Kepadatan tertinggi terdapat di Kecamatan Ciputat Timur yaitu 11.589 orang/Km2, sedangkan kepadatan terendah di Kecamatan Setu yaitu 4.475 orang/Km2. Kepadatan penduduk yang tinggi disebabkan kecenderungan peningkatan jumlah penduduk dari waktu ke waktu, yang bukan hanya disebabkan oleh pertambahan secara alamiah, tetapi juga tidak terlepas dari kecenderungan masuknya para migran yang disebabkan oleh daya tarik Kota Tangerang Selatan seperti banyaknya perumahan-perumahan baru yang dibangun sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan Kota Jakarta dan menjadi limpahan penduduk dari Kota Jakarta. Hal tersebut akan menyebabkan dibutuhkannya ruang yang memadai dengan lapangan kerja baru untuk mengimbangi pertambahan tenaga kerja.
Komposisi penduduk berdasarkan Kecamatan se Kota Tangerang Selatan sebagaimana dibawah ini:
Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Tangerang Selatan
Ekonomi, salah satu faktor terbentuknya Kota Tangerang Selatan sendiri adalah dari sektor Ekonominya, karena saat Tangerang Selatan masih bergabung dengan Tangerang, Pendapatan Asli Daerah Tangerang Selatan berjumlah 309 Miliar pertahunnya atau 60% dari Pendapatan Asli Daerah seluruh daerah Kabupaten Tangerang yang membuat Kota Tangerang Selatan layak untuk menjadi kota sendiri dan lepas dari Kabupaten Tangerang.
0% 5% 10% 15% 20% 25% 30%
Setu Serpong Pamulang Ciputat Ciputat timur Pondok Aren Serpong Utara
Sebaran Penduduk Berdasarkan Kecamatan Di Kota Tangerang Selatan