• Tidak ada hasil yang ditemukan

Volume 2, No 2, Desember 2019 (41-49) ISSN: DOI:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Volume 2, No 2, Desember 2019 (41-49) ISSN: DOI:"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Volume 2, No 2, Desember 2019 (41-49) ISSN: 2621-6220

DOI: https://doi.org/10.32490/didaktik.v2i2.66 https://journal.stipakdh.ac.id/index.php/didaktikos

Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap Perilaku Phubbing pada Mahasiswa STIPAK Malang, Angkatan Tahun 2018-2019

Suratni

1

, Kristyana

2

1

TK Charis Morotai

2

Sekolah Tinggi Pendidikan Agama Kristen, Malang

1

[email protected],

2

[email protected]

Abstract: Phubbing behavior is part of someone who is addicted to gadgets. The impact is the

emergence of a sense of disregard for the people around them as well as for the environment.

Allegedly because someone has low emotional intelligence then phubbing behavior can appear.

The purpose of this study was to determine whether emotional intelligence can affect phubbing behavior in STIPAK, Malang students for the 2018-2019 class. The method used in this research is quantitative by using survey method. The results showed a negative relationship which explains that when students’ emotional intelligence is high, phubbing behavior is low, and vice versa when student’s emotional intelligence is low, phubbing behavior is high.

Keywords: emotional intelligence; phubbing behavior; student

Abstrak: Perilaku phubbing merupakan bagian dari dalam diri seseorang yang kecanduan akan gawai. Dampaknya adalah munculnya rasa tidak peduli terhadap orang sekitarnya juga terhadap linkungan. Diduga karena seseorang memiliki kecerdasan emosional yang rendah maka perilaku phubbing dapat muncul. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui apakah dengan kecerdasan emosional dapat mempengaruhi perilaku phubbing pada mahasiswa STIPAK Malang Angkatan 2018-2019. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan metode survey. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang menjelaskan bahwa saat kecerdasan emosional mahasiswa tinggi maka perilaku phubbing rendah, demikian pula sebaliknya saat kecerdasan emosional mahasiswa rendah maka perilaku phubbing tinggi.

Kata kunci: kecerdasan emosional; perilaku phubbing; mahasiswa

PENDAHULUAN

Pengamatan awal menunjukkan bahwa pandemi covid-19 yang sedang terjadi mengakibatkan mahasiswa jarang atau sama sekali tidak dapat bertemu secara langsung dengan teman sesama mahasiswa. Pembatasan dalam bersosialisasi membuat mahasiswa memilih gawai sebagai media yang dipergunakan dalam menjalin komunikasi selama ini.

Dan tanpa disadari pemakaian gawai yang terus menerus membuat mahasiswa STIPAK

Angkatan 2018-2019 berperilaku phubbing. Kata hubbing merupakan perpaduan dari kata

phone and snubbing yang diartikan sebagai “gawai” dan “menghina”. Maknanya

menunjukkan pada sebuah tindakan menghina pada seseorang dalam lingkungan sosial

oleh sebab lebih perhatian gawai yang sedang dipergunakan daripada berinteraksi secara

langsung dengan orang lain. Istilah phubbing dipublikasikan oleh Macquarie Dictionary

sebagai pesan yang menunjukkan adanya permasalahan dalam penyalahgunaan gawai yang

(2)

terus berkembang dalam lingungan sosial.

1

Normawati berpendapat bahwa orang berperilaku phubbing identik dengan selalu memegang dan membawa gawainya dimanapun dan kapanpun dalam situasi apapun. Diiringi dengan perasaan khawatir jika melewatkan sesuatu, biasanya ia akan selalu mengecek notifikasi yang muncul.

2

Perilaku phubbing Menurut Tiara Amelia akan menimbulkan tidak adanya interaksi sosial dalam lingkungan, sebab fokus perhatian hanya pada gawai. Sedangkan orang-orang yang disekitarnya diabaikan dan tidak dipedulikan. Mereka yang phubbing akan menundukan kepala dan menggerakkan jari-jarinya pada layar gawai dengan waktu yang melebihi 4 jam/hari.

3

Sedangkan Gulman menyatakan bahwa dampak yang timbul dari perilaku phubbing, yaitu sikap mengabaikan orang lain, kurang mampunya mengontrol keinginannya untuk tidak terlalu lama dalam menggunakan gawai, dan mengalami kecan- duan. Indikator yang berhubungan untuk memengaruhi perilaku phubbing turun, salah satunya adalah dengan meningkatkan kecerdasan emosional.

4

Sedangkan perilaku phubbing dapat dilihat dari tinggi atau rendahnya tingkat kecerdasan emotional seseorang. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan individu dalam memahami dirinya juga orang lain, sekaligus sebagai bentuk ekspresi emosi dan kemampuan dalam mengolah emosi pribadi.

5

Salah satu komponen dari seseorang sehingga ia menjadi pelaku phubbing adalah kurangnya empati. Empati merupakan bagian dari kecerdasan emosional disebutkan sebagai kemampuan seseorang untuk mengenali emosi, dapat mengerti dan memahami perasaan orang lain, serta mengetahui bagaimana cara menanggapinya. Kemampuan seseorang dalam mengendalikan perasaan dan kemampuan-nya dalam bertindak untuk memahami perasaan orang lain serta dapat menyisihkan waktu buat orang lain dalam lingkungan sosial menggambarkan ciri-ciri individu yang memiliki kecerdasan emosional.

6

Seseorang dengan kecerdasan emosional akan memiliki kualitas emosional yang dapat mendorongnya untuk berhasil dalam hidup.

7

Letak dari kualitas kecerdasan emosional seseorang yaitu pada kemampuannya dalam mengenali perasaan melalui pikiran. Saat perasaan dan pikiran saling bekerja sama maka akan menunjukkan hasil dimana seseorang mampu memiliki pengendalian diri atau pengendalian emosi secara lebih cerdas. Kecerdasan yang rendah membuat seseorang cenderung merasa kesepian, tidak mampu mengenali perasaan dan tindakannya sendiri maupun tidak mampu untuk memahami orang lain. Dengan demikian orang dengan

1 Tania, L., “Bentuk Ekspresif komunikasi nonverbal dalam perilaku phubbing”, Jurnal pendidikan, (2017).

2 Normawati, M. S. “Pengaruh Kampanye "let's disconnect to connect" Terhadap Sikap Anti Phubbing (survei pada follosers official account line starbucks Indonesia)”. Jurnal Komunikasi, Media dan Informatika, 7(3), 155-164. (2018).

3 Tiara Amelia, d.. phubbing, penyebab dan dampaknya pada mahasiswa fakultas kesehatan masyarakat, universitas Indonesia. Jurnal ekologi kesehatan , 122-134. (2019)

4 Goleman, D. Emotional Intelligence-terjemahan. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007).

5 Mayer, D. S, “Perceiving affective content in ambiguous visual stimuli: a component of emotional intelligence”, Journal of Personality Assessment, 54, 772-781. (1990).

6 Gusniwati, M., “Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Minat Belajar terhadap Penguasaan Konsep Matematika Siswa SMAN di Kecamatan Kebon Jeruk”, Jurnal Formatif, 26-4, (2015).

7 Rachmi, F. “Pengaruh Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual, dan Perilaku Belajar Terhadap Tingkat Pemahaman Akuntasi”. fakultas Ekonomi. (2010).

(3)

kecerdasan emosional yang rendah akan mengalami kesulitan dalam mengontrol penggunaan gawai saat sedang berada dalam lingkungan sosial.

Penelitian ini sangat beralasan untuk dilakukan mengingat sebagai calon guru terlebih lagi guru pendidikan agama Kristen (PAK) mahasiswa STIPAK hendaknya memiliki kemampuan untuk berempati pada siswa dan sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Sidjabat mengemukakan bahwa dalam pribadi yang unggul seseorang hendaknya memiliki budi pekerti dalam berelasi.

8

Peduli dan membangun relasi merupakan bentuk dari kecerdasan emosional yang harus dimiliki guru dalam mengembangkan kompetensi pribadi dan kompetensi sosialnya.

9

Tugas guru tidak hanya mengajar pengetahuan yang baik pada siswanya, namun juga harus memiliki perhatian, kesediaan menolong serta mampu bergaul dengan siswa.

10

Kemampuan guru untuk dapat bergaul dan perhatian dengan penuh empati pada siswa menunjukkan guru memiliki kepribadian yang menarik. Dengan salah satu modal ini akan lebih mudah bagi guru untuk menjadi teladan dengan memberikan contoh dalam berperilaku. Jelas ini menunjukkan sisi spiritualitas guru sebagai gambaran Kristus yang ada dalam diri guru untuk menjalankan tugas pelayanan membangun siswa menjadi manusia seutuhnya dengan kasih Kristus.

11

Seperti yang dinyatakan oleh Yesus dalam kitab Matius 22: 37-39; hukum kasih tidak hanya menggambarkan kasih umat pada Allah, namun terdapat hukum kedua yang memiliki level sama dengan hukum kasih yang pertama yaitu mengasihi sesama manusia. Demikian pula yang dicatat dalam Yohanes 15:17, Yesus memerintahkan umatNya untuk mengasihi seorang akan yang lain. Tindakan mengasihi yang diwujudkan dengan kerendahan hati untuk bersedia melayani dengan tidak hanya fokus pada kepentingan pribadi melainkan juga memperhatikan kepentingan orang lain adalah gambaran Kristus yang ada dalam dirinya, hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Rasul Paulus dalam Filipi 2: 1-5.

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Menurut Creswell penelitian kuantitatif merupakan jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti untuk memutuskan apa yang akan diteliti, menyusun pertanyaan secara spesifik, membatasi pertanyaan, mengumpulkan data yang terukur dari partisipan, menganalisis angka-angka dengan menggunakan statistik, melakukan penyelidikan yang tidak memihak, dengan cara-cara yang objektif.

12

Sedangkan jenis metode penelitian yang dipergunakan adalah metode survei. Jenis metode penelitian survei untuk menggambarkan dan menjelaskan alasan tentang mengapa suatu situasi ada serta ditujukan pada populasi besar maupun kecil. Di

8 B.S. Sidjabat, Membangun Pribadi Unggul: Suatu pendekatan Teologis terhadap Pendidikan Karakter, (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2015), 213-214.

9 Zainal Aqip, Penjadi Guru Profesional Berstandar Nasional, (Bandung: Penerbit Yrama Widya, 2009), 60.

10 H.A.R. Tilaar, Pedagogik Teeoritis Untuk Indonesia, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2015),145- 147.

11 B. Samuel Sidjabat, Strategi Pendidikan Kristen: Suatu Tinjauan Teologis-Filosofis, (Yogyakarta:

Penerbit Andi, 1996), 211-212.

12 Creswell, J. W. Education Research, Planningm Conducting, and Evaluating Quantitave and Qualitative Research. (New Jersey USA: Pearson Education Inc, 2008), 46.

(4)

sini memungkinkan peneliti untuk dapat menguji hubungan antara variabel dengan meng- gunakan perhitungan statistik sekaligus juga untuk menguji hipotesa.

13

Mahasiswa STIPAK menjadi populasi yang peneliti gunakan dalam penelitian ini.

Populasi merupakan objek atau subjek yang memiliki karakteristik tertentu guna dipelajari agar dapat ditarik kesimpulan.

14

Populasi berasal dari angkatan tahun 2018-2019 dengan jumlah 48 mahasiswa yang terdiri dari 25 mahasiswa dari Angkatan 2018 dan 23 mahasiswa dari Angkatan 2019. Alasan peneliti memilih populasi tersebut berkaitan dengan karakteristik obyek mewakili karakteristik yang telah dipaparkan serta berhubungan dengan variabel yang telah dirancang di awal penelitian. Teknik yang dipergunakan adalah teknik sampling yang disebut simple random sampling, dengan mengambil sampel secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi.

Teknik ini dipilih karena populasi bersifat homogen atau memiliki karakteristik yang sama.

Peneliti menggunakan taraf kesalahan 5% dengan demikian sampel yang dipergunakan sebanyak 44 responden, sesuai dengan tabel 1.

Tabel 1: Tabel penentuan jumlah sampel Isaac dan Michael

Variabel penelitian yang dipergunakan adalah variable bebas (X) merupakan kecerdasan emosional dan variable terikat (Y) merupakan perilaku phubbing. Masing- masing variabel memiliki indikator, dan instrument akan disusun berdasarkan indikator dari setiap variabel yang telah ditentukan. Berikut adalah gambaran bahwa variabel bebas memengaruhi variabel terikat:

Mengenali Emosi Diri Sendiri Mengelola Emosi Diri Sendiri Mengenali Emosi Orang Lain Membina Hubungan Sosial

Gambar 1: Bagan Variabel Penelitian

13 Morissan, Metode Penelitian Survei, (Jakarta: KENCANA, 2012).

14 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D, (Bandung:

Alfabeta, 2016).

Kecanduan Terhadap Gawai Gangguan Komunikasi Kecerdasan Emosional

(X)

Perilaku Phubbing

Indikator (Y) Indikator

(5)

Berdasarkan gambar bagan diatas, maka penjabaran variabel bebas atau variabel kecerdasan emosional dapat ditunjukkan sebagai berikut ini:

Tabel 2: Nomor Item Variabel Kecerdasan Emosional

Indikator Kecerdasan Emosional (Variabel X)

Nomor item soal (Variabel X) Mengenali emosi diri sendiri 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7.

Mengelola emosi diri sendiri 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20.

Mengenali emosi orang lain 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28.

Membina hubungan sosial 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40.

Berdasarkan gambar bagan diatas, maka penjabaran variabel terikat atau variabel perilaku phubbing dapat ditunjukkan sebagai berikut ini:

Tabel 3: Nomor Item Variabel Perilaku Phubbing

Indikator Perilaku Phubbing (variaberl Y)

Nomor Item Soal (variabel Y) Mengenali kecanduan pada gawai 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, 50.

Mengenali gangguan komunikasi 51, 52, 53, 54, 55, 56, 57, 58, 59, 60, 61.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner atau angket yang diberikan kepada responden. Angket disusun dalam bentuk pernyataan tertutup. Pernyataan tertutup digunakan untuk mengukur variabel bebas dan variable terikat. Alasan peneliti menggunakan angket dengan pernyataan tertutup adalah agar responden tidak terlalu luas dalam menjawab. Adapun skala pengukuran yang digunakan untuk mengukur interval.

Skala yang digunakan adalah skala likert. Terdapat lima alternatif jawaban untuk setiap soal yaitu: 5 untuk Sangat Sesuai (SS), 4 untuk Sesuai (S), 3 untuk Cukup Sesuai (CS), 2 untuk Tidak Sesuai (TS) dan 1 untuk Sangat Tidak Sesuai (STS).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Uji validitas instrumen penelitian, peneliti menggunakan bantuan SPSS statistics 20 for windows. Pengambilan keputusan pada uji validitas ini, yaitu menggunakan batasan r

tabel

dengan signifikansi 0,05, dengan syarat bahwa H

1

diterima pada setiap item soal.

Berikut ini kriteria pengambilan keputusan dalam uji validitas:

H

0

= bila, r

hitung

lebih kecil dari r

tabel

dengan sig. 0,05, maka tidak valid.

H

1

= bila, r

hitung

lebih besar dari r

tabel

dengan sig. 0,05, maka valid.

Diketahui bahwa r

tabel

berdasarkan signifikansi 0,05 adalah 0,297 dan jumlah item soal sebanyak 61. Dari hasil uji validitas diketahui bahwa ada beberapa item soal yang valid dan tidak valid. Dari hasil uji validitas, maka item soal yang tidak valid harus gugur.

Pada variabel X terdapat 11 item, yaitu nomor 3, 5, 8, 9, 12, 13, 18, 19, 31, 32, 35.

Sehingga item soal yang tersisa di variabel X adalah 29 item. Sedangkan variabel Y masih

dengan jumlah yang tetap karena semua item soal valid, yaitu 21 item soal valid. Maka

total item soal yang valid adalah sebanyak 51 item soal. Instrumen yang digunakan dalam

penelitian dinyatakan akurat dan dapat dipercaya, karena terdapat 51 item soal yang valid.

(6)

Hasil uji reliabilitas variabel kecerdasan emosional dan variabel perilaku phubbing ditunjukkan dalam tabel 4.

Tabel 4: Hasil Uji Reliabilitas

Variabel Cronbach’s Alpha Interprestasi

Kecerdasan Emosional (X) 0,849 Sangat tinggi

Perilaku Phubbing (Y) 0,902 Sangat tinggi

Berdasarkan perhitungan statistika, maka didapat hasil uji reliabilitas dalam tabel 15 yang menunjukkan bahwa nilai Cronbach’s Alpha adalah 0,849 untuk variabel kecerdasan emosional (X) yang artinya nilai reliabelnya tinggi. Sedangkan nilai Cronbach’s Alpha adalah 0,902 untuk variabel perilaku phubbing (Y), artinya nilai reliabelnya juga tinggi.

Jadi, secara keseluruhan butir-butir soal yang ada dalam masing-masing variabel adalah reliabel atau andal dan tidak memiliki masalah pada instrumen penelitian karena nilai Alpha diatas 0,6.

Uji normalitas bertujuan untuk menilai sebaran data pada sebuah kelompok data atau variabel tersebar atau terdistribusi secara normal atau tidak normal. Dalam penelitian ini dihitung dengan uji One Sample Kolmogorof-Smirnov dengan menggunakan taraf signifikansi 0,05. Data penelitian terdistribusi normal karena nilai signifikansi lebih besar dari 0,05, yaitu 0,272 > 0,05. Untuk melihat sebaran data terdistribusi normal dapat dilihat pada tabel 16, yaitu tabel normalitas Kolmogorov-smirnov.

Tabel 5: Normalitas Kolmogorov-Smirnov

Unstandardized Residual

N 44

Normal Parametersa,b

Mean .0000000

Std. Deviation 14.63094269 Most Extreme

Differences

Absolute .150

Positive .150

Negative -.075

Kolmogorov-Smirnov Z .998

Asymp. Sig. (2-tailed) .272

Berikut hasil uji normalitas menggunakan P-P Plot untuk melihat sebaran titik-titik ploting, diketahui bahwa titik-titik ploting yang terdapat pada gambar 2 “Normal P-Plot of Regression Standardized Residual” selalu mengikuti dan mendekati garis diagonal. Oleh karena itu, sebagaimana dasar atau pedoman pengambilan keputusan dalam uji normalitas teknik probability plot dapat disimpulkan bahwa nilai residual berdistribusi normal.

Dengan demikian asumsi normalitas untuk nilai residual dalam analisis regresi linier sederhana dalam penelitian ini dapat terpenuhi.

Gambar 2: Normalitas P-P Plot

(7)

Berdasarkan output pada tabel 6 diketahui bahwa nilai Deviation from Linearity Sig.

adalah 0,985. Maka 0,985 (nilai Sig.) lebih besar dari 0,05. Dengan demikian H

1

diterima dan kesimpulannya adalah bahwa ada hubungan yang linier secara signifikan antara variabel kecerdasan emosional dengan variabel perilaku phubbing.

Uji Heteroskedestisitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik heteroskedestisitas, yaitu adanya ketidaksamaan varian dari residual untuk semua pengamatan pada model regresi.

Berdasarkan output pada gambar 4, dapat diketahui bahwa titik-titik pada scatterplots penyebarannya tidak terdapat pola yang jelas, serta titik-titik menyebar. Hal itu dapat diartikan bahwa data tidak mengalami gejala heteroskedestisitas.

Gambar 3: Heteroskedestisitas Scatterplots

Untuk membuktikan dugaan dalam hipotesa, maka dilakukanlah tahap uji korelasi digunakan untuk menemukan hubungan negatif atau hubungan positif yang terjadi pada kedua variabel. Sedangkan uji regresi linier sederhana untuk mengetahui besarnya pengaruh.

Tabel 6: Korelasi Pearson

Correlations

kecerdasan emosional perilaku phubbing

kecerdasan emosional

Pearson Correlation 1 -.295

Sig. (2-tailed) .052

N 44 44

perilaku phubbing

Pearson Correlation -.295 1

Sig. (2-tailed) .052

N 44 44

Berdasarkan output di atas, diketahui bahwa nilai Pearson Correlation adalah -0,295.

Jika nilai Pearson Correlation lebih kecil dari 0, maka artinya adalah terjadi hubungan negatif. Hubungan variabel yang bersifat negatif artinya adalah ketika kenaikan atau penurunan suatu variabel diikuti oleh penurunan atau kenaikan variabel lainnya.

15

Jadi, hipotesa penelitian diterima karena melalui tahap ini diketahui bahwa terdapat hubungan yang sifatnya negatif. Jadi, pengaplikasiannya adalah ketika kecerdasan emosional mengalami kenaikan, maka perilaku phubbing mengalami penurunan, dan sebaliknya bila

15 Purwoto, A., Panduan Laboratorium Statistika Inferensial, (Jakarta: Grasindo, 2007), 51.

(8)

kecerdasan emosional mengalami penurunan, maka perilaku phubbing mengalami kenaikan.

Tabel 7: Regresi Linier Sederhana

Model Summary

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 .295a .087 .065 8.561

a. Predictors: (Constant), kecerdasan emosional

Berdasarkan output di tabel 7 regresi linier sederhana, diketahui bahwa nilai R Square adalah 0,087. Itu artinya, besar pengaruh varibel kecerdesan emosional terhadap variabel perilaku phubbing adalah 8,7%. Jadi, hipotesa penelitian diterima dengan bukti bahwa hasil uji regresi mengatakan bahwa terdapat pengaruh sebesar 8,7%. Skor determinasi 8,7% ini disebabkan oleh teknik sampling, teknik sampling yang digunakan adalah teknik random sampling sehingga responden belum cukup memenuhi kriteria dari variabel yang diinginkan.

Terdapat 91,3% dipengengaruhi oleh faktor lain. Faktor lain yang diduga memengaruhi perilaku phubbing, yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, peran orang tua, peran guru atau pendidik. Mencakup hal tersebut, penelitian telah memberikan batasan bahwa penelitian ini hanya meneliti tentang kecerdasan emosional terhadap perilaku phubbing.

KESIMPULAN

Hasil analisis data dengan uji korelasi person diperoleh hasil bahwa ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan perilaku phubbing mahasiswa STIPAK. Skor determinasi dari korelasi person adalah -0,295. Purwoto menyatakan bahwa jika r < 0 maka artinya bahwa terjadi hubungan negatif, dapat dilihat dari hasil uji korelasi bahwa nilai r adalah -0,295 lebih kecil dari 0, artinya bahwa terindikasi hubungan negatif. Menurut Purwoto hubungan variabel yang bersifat negatif memiliki makna bahwa apabila kenaikan atau penurunan suatu variabel, maka akan diikuti oleh penurunan atau kenaikan variabel lainnya.

16

Hal tersebut dapat bermakna bahwa ketika kecerdasan emosional mengalami kenaikan, maka perilaku phubbing mengalami penurunan, dan sebaliknya apabila kecerdasan emosional mengalami penurunan, maka perilaku phubbing mengalami kenaikan.

Sedangkan melihat pada hasil analisis dengan uji regresi linier sederhana dapat diketahui adanya pengaruh antara kecerdasan emosional terhadap perilaku phubbing mahasiswa STIPAK sebesar 8,7%. Skor determinasi tersebut disebabkan oleh pengaruh teknik sampling. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik random sampling, salah satu karakteristik dari teknik ini adalah penentuan sampelnya secara acak. Oleh karena acak dan tidak melihat keunikan dari setiap responden, hal ini dapat memengaruhi skor determinasi regresi sebesar 8,7%.

16 ibid

(9)

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih dan penghargaan yang besar pada Suratni atas kontribusinya dalam melaksanakan penelitian bersama dengan penulis.

REFERENSI

B. Samuel Sidjabat, Strategi Pendidikan Kristen: Suatu Tinjauan Teologis-Filosofis, Yogyakarta: Penerbit Andi, 1996.

B.S. Sidjabat, Membangun Pribadi Unggul: Suatu pendekatan Teologis terhadap Pendidikan Karakter, Yogyakarta: Penerbit Andi, 2015

Creswell, J. W. Education Research, Planningm Conducting, and Evaluating Quantitave and Qualitative Research. New Jersey USA: Pearson Education Inc, 2008.

Goleman, D. Emotional Intelligence-terjemahan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007.

Gusniwati, M., “Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Minat Belajar terhadap Penguasaan Konsep Matematika Siswa SMAN di Kecamatan Kebon Jeruk”, Jurnal Formatif, 26- 4, (2015).

H.A.R. Tilaar, Pedagogik Teeoritis Untuk Indonesia, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2015.

Mayer, D. S, “Perceiving affective content in ambiguous visual stimuli: a component of emotional intelligence”, Journal of Personality Assessment, 54, 772-781. (1990).

Morissan, Metode Penelitian Survei, Jakarta: KENCANA, 2012.

Normawati, M. S. “Pengaruh Kampanye "let's disconnect to connect" Terhadap Sikap Anti Phubbing (survei pada follosers official account line starbucks Indonesia)”. Jurnal Komunikasi, Media dan Informatika, 7(3), 155-164. (2018).

Purwoto, A., Panduan Laboratorium Statistika Inferensial, Jakarta: Grasindo, 2007, 51.

Rachmi, F. “Pengaruh Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual, dan Perilaku Belajar Terhadap Tingkat Pemahaman Akuntasi”. fakultas Ekonomi. (2010).

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D, Bandung: Alfabeta, 2016.

Tania, L., “Bentuk Ekspresif komunikasi nonverbal dalam perilaku phubbing”, Jurnal pendidikan, (2017).

Tiara Amelia, d.. phubbing, penyebab dan dampaknya pada mahasiswa fakultas kesehatan masyarakat, universitas Indonesia. Jurnal ekologi kesehatan , 122-134. (2019).

Zainal Aqip, Penjadi Guru Profesional Berstandar Nasional, Bandung: Penerbit Yrama

Widya, 2009.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian diperoleh: (1) implementasi standar proses dalam pembelajaran matematika di SMP Negeri 1 Wonosobo mengikuti alur standar proses yaitu per- encanaan,

Desain antarmuka halaman menu utama merupakan desain antarmuka yang akan dilihat oleh pengguna Android. Desain ini terdiri dari beberapa sub menu, yaitu Materi

Interval penyiraman air 6 hari sekali dengan koefisien tanaman 0.52 dan fraksi air 14.32% nyata menghasilkan tinggi tanaman yang lebih tinggi, jumlah daun yang lebih banyak,

divinidad juguetona que comparte conocimientos de ambos lados del universo, tanto derecha como izquierda, se encarga de reportarle a Olódùmarè todo lo que pasa.

Pada era tahun 1990an, perekonomian Indonesia pernah disebut-sebut sebagai salah satu macan Asia dimana pertumbuhan ekonomi Indonesia saat itu mencapai rata-rata tumbuh sekitar

laboratorium beserta alat praktikum. Secara kenyataannya, terlihat bahwa guru kurang memiliki kemampuan dalam menggunakan alat praktikum atau membuat alat

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh klon penghasil lateks tinggi yang tahan penyakit adalah dengan teknik konvensional yaitu menyilangkan tetua

Pengambilan data dilakukan langsung dilapangan karena kurangnya data geometrik di ruas jalan Singkawang – Bengkayang yang didapatkan dari instansi yang terkait dengan