1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Perempuan dan laki-laki merupakan suatu identitas yang digunakan masyarakat untuk membedakan jenis kelamin manusia. Perbedaan ini mengakibatkan adanya perbandingan kedudukan antar kedua gender tersebut.
Masyarakat memandang laki-laki sebagai sosok yang cenderung lebih kuat, gagah, dan bebas memperoleh pekerjaan namun, beda halnya dengan perempuan yang biasanya dipandang sebagai sosok yang lemah, lembut, dan adanya keterbatasan memilih pekerjaan. Perbedaan kedudukan gender ini menimbulkan suatu ketidakadilan hak dan kewajiban antara kedua gender tersebut. Istilah ketidakadilan gender ini disebut juga dengan bias gender (Alfian Rokhmansyah, 2016:2).
Bias gender adalah keadaan mendukung atau tidak salah satu jenis kelamin. Bias gender mencakup pembagian posisi dan peran yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan. (Alfian Rokhmansyah, 2016:11). Bias gender masih saja terdapat nilai-nilai budaya patriarki pada masyarakat di Korea Selatan. Dengan adanya pemahaman akan nilai-nilai tersebut, masyarakat mengotak ngotakan laki-laki dan perempuan berdasarkan jenis pekerjaan dan tanggung jawab mereka. Hal inilah yang memunculkan adanya bias gender dalam masyarakat, khususnya di Korea Selatan. Bias gender ini cenderung melekat pada kaum perempuan (sumber: tirto.id).
Adanya kesadaran terhadap bias gender ini dikarenakan terdapatnya perbedaan penempatan posisi terhadap perempuan. Terkait dengan bias gender, permasalahan yang sering dijumpai di masyarakat Korea Selatan adalah perlakuan yang tidak adil terhadap kaum perempuan, seperti kesempatan bekerja, uang pendapatan, penampilan harus bagus, pemanipulasian skor kelulusan dalam melamar pekerjaan, dan memberikan suara akan hak mereka (sumber : idntimes,com).
Dalam data ILO menunjukkan bahwa hanya seperempat manajer adalah perempuan namun mereka tidak mendapatkan gaji yang sama untuk pekerjaan yang sama dengan laki-laki. Secara global, terdapat kesenjangan
2
upah antar gender tetap pada rata-rata 20 persen (sumber : voaindonesia.com).
Berdasarkan data upah di Korea Selatan, terlihat perbandingan yang signifikan diantara keduanya. Berikut statistik upah di Korea Selatan pada tahun 2019 :
Gambar 1.1 Perbandingan upah pekerja wanita dan laki-laki (sumber : statista.com, diunduh 14 November 2020)
Sejarah singkat feminisme di Korea selatan dimulai pada tahun 1980- an yang merupakan titik balik bagi feminisme di Korea Selatan. Gerakan demokratisasi melawan militer memainkan peran penting dalam pengembangan gerakan hak perempuan. Walaupun kelompok feminis tersebut sudah ada sebelum dekade ini, mereka sangat terfragmentasi akan organisasi masyaakat sipil pada akhir tahun 1980-an. Adanya pembentukan KWAU (Korean Women’s Association United) pada tahun 1987 atau bisa juga disebut dengan persatuan wanita korea, feminis Korea Selatan mengambil bentuk kelembagaan pertamanya, akan tetapi kelompok feminis tersebut memprioritaskan transisi demokratis dibanding mendorong agenda mereka sendiri. Disamping itu, terdapat gerakan hak-hak perempuan guna untuk merubah dinamika sosial dan politik, yang menargetkan beberapa isu berupa UU tentang kejahatan seks, kesenjangan upah gender, shift ganda, dan sistem patriarki dalam keluarga. UU ketenagakerjaan mulai diperkenalkan pertama
3
kali pada akhir tahun 1987 untuk menargetkan kesetaraan upah dan peluang kerja bagi perempuan. Kemudian, beberapa revisi mulai dikeluarkan, seperti adanya cuti hamil dan keseimbangan kehidupan kerja keluarga namun karena adanya perubahan legislatif tersebut, statistik kesetaraan gender di Korea Selatan menunjukkan suatu gejala, yaitu kurangnya tingkat partisipasi dalam pekerjaan pada wanita berusia 30-an, setara dengan periode pernikahan dan persalinan, menyebabkan kurangnya jam asuh anak dan membuat mereka sulit untuk melanjutkan pekerjaan mereka setelah menjadi orang tua. Hal itulah yang membuat munculnya pergerakan-pergerakan feminisme di Korea Selatan pada saat ini.
Gambar 1.2 sosok Bona Lee yang menyuarakan gerakan anti menikah
(sumber : IDNTimes.com, diunduh 22 Februari 2020)
Kaum perempuan di Korea Selatan sendiri sempat membuat gerakan untuk menyuarakan bentuk penolakan mereka akan ketidakadilan gender terhadap kesenjangan posisi perempuan. Gerakan ini awalnya dicetuskan oleh seorang perempuan bernama Bona Lee, dimana disebut juga #NoMarriage.
Bona Lee mengatakan bahwa pernikahan itu tidak ada keuntungannya dikarenakan hal tersebut menghambat kaum perempuan dalam memperoleh pekerjaan walaupun mereka sudah bersekolah tinggi. Hal ini tidak hanya dirasakan oleh Bona Lee saja, namun kaum perempuan lainnya turut merasakan hal tersebut, sehingga tidak hanya Bona Lee yang bergerak, tetapi
4
kaum perempuan lainnya ikut serta dalam gerakan ini. Menurutnya, hal terpenting di Korea Selatan adalah peran perempuan dalam mengurus suami, sanak saudara, dan anak di rumah. Dia juga mengatakan bahwa walaupun perempuan menempuh pendidikan yang tinggi, masyarakat Korea Selatan memandang jika hal tersebut dapat menghambat pernikahan mereka(sumber : IDNTimes.com).
Gerakan #NoMarriage dibentuk pada tahun 2016. Adanya gerakan ini membuat angka kelahiran di Korea Selatan menjadi paling rendah se-Asia Pasifik. Selain itu, gerakan #NoMarriage tersebut dibuat untuk menyuarakan adanya kekhawatiran kaum perempuan terhadap beberapa hal, diantaranya adalah adanya biaya pernikahan yang sangat mahal, takutnya dikekang dalam beban ganda (karir dan domestik), kurangnya subsidi dan dukungan dari pemerintah, dan pengeluaran untuk mengurus anak sangat tinggi, gaji standar untuk membayar uang sewa tempat tinggal, transportasi, makan, dll (sumber : tirto.com).
Gambar 1.3 Angka Kelahiran di Korea Selatan (sumber : statista.com, diunduh 10 September 2021)
Angka kelahiran di Korea Selatan mengalami penurunan pada tahun 2019 berdasarkan data lembaga statistik nasional. Hal ini diakibatkan karena pemuda di Korea Selatan enggan untuk membangun rumah tangga. Selain itu, Kim Eun-Jin yang merupakan ibu asal Seoul mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki waktu untuk bersantai. Ia adalah wanita karir yang harus mengurus
5
suami, anak, serta rumah dan ia dapat beristirahat pada tengah malam. Ia juga melontarkan bahwa dirinya ingin memilih melajang karena menurutnya menjadi ibu rumah tangga sekaligus wanita karir (beban ganda) adalah pekerjaan yang sulit (sumber : tirto.com).
Walaupun sudah ada gerakan-gerakan tersebut dan adanya film yang menampilkan bias gender tetapi masih saja tidak mengubah cara pandang masyarakat akan perbedaan posisi dan peran akan gender tersebut. Budaya tersebut masih saja melekat pada diri masyarakat Korea Selatan. Mereka masih berpikir bahwa laki-laki lebih tinggi, kuat, berani, tangguh, dan berhak melakukan apa saja. Berbeda halnya dengan perempuan yang dipandang lebih lemah, lembut, feminim, dan lebih pantas berada dibawah laki-laki.
Pada tahun 2017 terdapat suatu kejadian mengenai penganiayaan kekasih oleh pria di Korea Selatan. Hal ini bukanlah merupakan kejadian yang langka. Sekitar 71 persen pasangan laki-laki pernah mengendalikan segala aktivitas pacarnya seperti membatasi interaksi dengan teman dan keluarganya, bahkan mereka juga mengatur cara berpakaian pacar mereka (sumber : Liputan6).
Gambar 1.4 Presiden Korea Selatan, Moon Jae In (sumber : rmol.id, diunduh 16 Maret 2020 )
Disamping itu pada tahun 2019 lalu, Presiden Moon Jae In yang mendeskripsikan dirinya sebagai presiden feminis dengan menunjukkan rasa hormat kepada perempuan. Pemerintahan Korea Selatan berencana untuk menghapus disinsentif untuk memperkerjakan perempuan. Langkah lain yang
6
ditawarkan juga adalah perawatan kesuburan pada wanita atau pasangan yang belum menikah. Selain itu, terdapat juga sebuah kampanye sosial guna menggerakkan kaum laki-laki untuk lebih banyak berpartisipasi atau ikut ambil bagian dalam mengurus pekerjaan rumah tangga dan merawat anak. (sumber : rmol.id).
Jika dibandingkan dengan negara Indonesia, budaya patriarki antara Korea Selatan dan Indonesia tidak jauh berbeda. Budaya patriarki di Indonesia masih dapat ditemukan dalam ruang lingkup seperti, ekonomi, pendidikan, politik, hingga hukum. Hal yang masih dipermasalahkan selalu pada ranah perempuan yang masih dianggap terlalu domestik. Budaya ini masih ada di Indonesia karena sudah tertanam kuat pada masyarakat sejak dahulu dan diturunkan ke beberapa generasi. (sumber : neliti.com)
Oleh karena itu, peneliti tertarik mengambil objek penelitian film Kim Ji Young: Born 1982 yang berdasarkan adaptasi dari novel terlaris karya Cho Nam Joo karena film tersebut menceritakan realita di Korea Selatan. Dalam film Kim Ji Young: Born 1982 menceritakan bagaimana perempuan tinggal di tengah masyarakat Korea Selatan yang masih menganut budaya patriarki.
Selain itu, Kim Ji Young menggambarkan bagaimana isu perempuan yang mengalami diskriminasi, pengucilan, dan sempat menimbulkan kontroversi di Korea Selatan karena dianggap sebagai simbol perjuangan kaum perempuan.
Gambar 1.5 Film Kim Ji Young: Born 1982 (sumber : tirto.id, diunduh 10 September 2021)
7
Sinopsis singkat dari film ini yaitu kisah seorang wanita yang sudah berkeluarga. Sebelum wanita ini menikah, wanita ini dulunya adalah seorang pekerja kantoran namun, ketika dia sudah menikah dan hamil, direktur perusahaannya menyuruhnya berhenti. Hal ini membuatnya sedih, namun dia tetap menguatkan dirinya tanpa diketahui oleh orang lain.
Tidak sampai disitu, saat Kim Ji Young datang ke rumah mertuanya bersama suami dan anaknya, Kim Ji Young terus saja bekerja di dapur. Suami Kim Ji Young ingin membantunya dengan mencuci piring yang banyak, namun mertuanya menyindirnya dengan tidak langsung. Kemudian, disaat adik iparnya datang bertamu, Kim Ji Young masih saja berada di dapur menyiapkan makanan dan ibu mertua menyuruhnya untuk menyajikan makanan. Selain itu, masih banyak pekerjaan rumah lainnya yang harus ia kerjakan sendirian tanpa adanya pembagian yang adil dengan suami. Hal ini membuat Kim Ji Young merasa sangat lelah, tertekan, dan depresi.
Menurut sutradara film Kim Ji Young: Born 1982 yaitu Kim Do Yeong, novel yang ditulis oleh Jo Nam Joo yang berjudul Kim Ji Young: Born 1982 ini patut untuk diceritakan dan difilmkan. Buku novel tersebut terdiri dari episode-episode yang terdapat diskriminasi pada Kim yang menempatkan dirinya sebagai murid,anak, remaja dewasa, ibu, dan wanita di lingkungan masyarakat Korea Selatan. Ia mengatakan, “Sebagai seorang ibu, seorang putri sekaligus menjadi perempuan yang tinggal di masyarakat ini, ada terdapat banyak bagian (dalam buku) yang bisa saya kaitkan” (sumber : The Korea Herald).
Selain itu, Gong Yoo selaku aktor yang berperan sebagai suami dari Kim Ji Young, mengatakan bahwa naskah film tersebut mengingatkan dia akan keluarganya yang membuatnya sangat emosional pada saat itu. Gong Yoo juga berkata bahwa ketika ia membaca naskah itu, ia merasakan jika ia harus mngambil bagian pada film tersebut dan dengan prasaan emosionalnya itu, Gong Yoo bertanya kepada ibunya bagaimana sulitnya membesarkan dirinya pada waktu itu (sumber: tirto.id).
Pada film Kim Ji Young yang berdurasi 118 menit ini memiliki beragam batasan yang sering dialami perempuan di dunia kerja. Film ini juga dikemas secara sederhana oleh sutradara dan ko-penulis dengan segala
8
permasalahan tersebut sehingga membuat penonton larut dengan film ini. Film Kim Ji Young ini memberikan dorongan kepada perempuan agar dapat membuka suara mereka dalam menghadapi ketidaksetaraan gender tersebut dalam masyrakat (sumber: tirto.id).
Disamping itu, film Kim Ji Young, Born : 1982 sempat membuat para penonton laki-laki tidak terima hingga mereka membuat petisi ke Presiden Korea Selatan agar melarang pelirisan film tersebut. Kaum laki-laki tersebut juga berlomba-lomba untuk mengirimkan komentar negatif terhadap film tersebut, namun sebelum lirisnya film Kim Ji Young ini, novel asli Kim Ji Young: born 1982 tersebut juga sudah menimbulkan pro dan kontra terlebih dahulu. Bahkan, ketika dua aktris di Korea selatan membaca dan mengunggah foto dari buku tersebut di akun sosial media, terdapat banyak hujatan dan kritikan negatif di akun mereka. Masyarakat Korea Selatan masih mengganggap tabu akan isu gender tersebut namun film Kim Ji Young, Born : 1982 ini berhasil mencapai 1 juta penonton dalam lima hari penayangan dan 3 juta penonton hanya dalam waktu 18 hari sejak pertama kali dirilis. Perilisan film tersebut juga disambut baik dan didukung oleh kaum perempuan\ (sumber : detik.com).
Menurut statistik, terdapat rata-rata pekerja pria dan wanita sebesar 71 persen dan 52 persen pada tahun 2019. Dari tahun 2010 hingga 2019, pekerja pria lebih unggul disbanding pekerja wanita.
Gambar 1.5 Data Perbandingan Pekerja Wanita dan Pria
9
(sumber : statista.com, diunduh 12 November 2020)
Berdasarkan fenomena diatas, film ini menarik untuk diteliti. Dalam penelitian ini, peneliti lebih memfokuskan dalam mengkaji bagaimana penggambaran bias gender yang ditampilkan dalam film ini dengan menggunakan Analisis Wacana Kritis Sara Mills, dimana bias gender ini pula juga sudah melekat pada kehidupan Korea Selatan.
1.2 Fokus Penelitian
Berdasarkan penjelasan pada latar belakang, fokus penelitian peneliti adalah Bias Gender pada film Kim Ji Young: Born 1982 dengan menggunakan analisis wacana kritis Sara Mills dengan 2 yaitu posisi subjek-objek dan posisi pembaca/penonton.
1.3 Identifikasi Masalah
Berdasarkan fokus penelitian yang telah dipaparkan diatas, maka identifikasi masalah yang akan peneliti teliti adalah :
a. Bagaimana posisi subjek-objek yang ditampilkan pada film Kim Ji Young?
b. Bagaimana posisi pembaca yang ditampilkan pada film Kim Ji Young?
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Untuk mengetahui bagaimana posisi subjek-objek yang ditampilkan pada film Kim Ji Young.
b. Untuk mengetahui bagaimana posisi pembaca yang ditampilkan pada film Kim Ji Young.
1.5 Kegunaan Penelitian 1.5.1 Aspek Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengadaan penelitian yang serupa dan dapat memberikan pemahaman mengenai analisis wacana kritis yang dapat diteliti dalam film. Penelitian ini juga merupakan suatu karya ilmiah yang bertujuan untuk mengembangkan dan menerapkan pemahaman akan ilmu yang didapat selama menjadi mahasiswi Telkom University dalam bidang Ilmu Komunikasi.
10 1.5.2 Aspek Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pembaca atau masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap ketidakadilan pada gender khususnya wanita yang terjadi di kehidupan atau lingkungan sekitar.
Selain itu, masyarakat dapat mengetahui dan memahami film Kim Ji young yang menjadi media dalam mengkontruksikan bias gender.
11 1.6 Tahapan Penelitian
Gambar 1.6 Tahapan Penelitian, Olahan Peneliti 2020 MENCARI IDE DAN MENGAJUKAN
JUDUL PENELITIAN
PRA RISET DAN MENGUMPULKAN DATA
DATA PRIMER (FILM KIM JI YOUNG)
DATA SEKUNDER (STUDI LITERATUR)
MENONTON FILM KIM JI YOUNG
TEORI SARA MILLS
MENGANALISIS BIAS GENDER PADA FILM KIM JI YOUNG
HASIL AKHIR PENELITIAN
12 1.7 Lokasi dan Waktu Penelitian
1.7.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan dimana saja dikarenakan fokus penelitian dan analisis wacana kritis ini tidak terkait dengan tempat penelitian.
1.7.2 Waktu Penelitian
Waktu untuk melakukan penelitian ini dimulai dari bulan Februari 2020 – September 2021.
Tabel 1.1 Waktu Penelitian
NO Tahapan
Bulan
1. Mencari ide dan mengajukan judul penelitian
2. Pra riset dan mengumpulkan data
3. Menonton dan menganalisis film Kim Ji Young 4. Menyusun dan
membuat hasil akhir penelitian 5. Pengajuan sidang
skripsi
6. Sidang skripsi 7. Revisi
Mei Ags
Feb Mar Apr Jun Sep