• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. batubara yang terdaftar di BEI periode Berikut ini adalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. batubara yang terdaftar di BEI periode Berikut ini adalah"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

Objek penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah perusahaan- perusahaan batubara yang terdaftar di BEI periode 2010-2014. Berikut ini adalah gambaran umum dari perusahaan-perusahaan batubara yang menjadi objek penelitian dalam skripsi ini :

1. PT Adaro Energy Tbk ( ADARO )

Adaro adalah perusahaan yang berfokus pada bisnis pertambangan batubara yang terintegrasi melalui anak-anak perusahaannya. Lokasi utama operasional Adaro berada di propinsi Kalimantan Selatan dimana Adaro memproduksi Envirocoal yang merupakan batubara sub bituminus dengan nilai kalori sedang dan kandungan sulfur, abu dan emisi NOx yang sangat rendah.

Adaro menjalankan serangkaian bisnis yang terintegrasi secara vertikal, dengan beberapa anak perusahaan yang beroperasi dari pertambangan sampai ketenagalistrikan atau dikenal dengan slogan from pit to power yang meliputi pertambangan, tongkang, pemuatan kapal, pengerukan, jasa pelabuhan, pemasaran dan ketenagalistrikan.

(2)

Strategi Adaro difokuskan pada pertumbuhan secara organik, peningkatan efisiensi dan pengendalian biaya, peningkatan kontribusi dari bisnis non pertambangan batubara, serta pengembangan lebih lanjut menuju divisi ketenagalistrikan.

2. PT Atlas Resources Tbk ( ARII )

PT Atlas Resources ( ARII )berdiri sejak 26 Januari 2007, PT Atlas Resources Tbk (“Perseroan”) adalah salah satu produsen batubara yang cukup dikenal di Indonesia. Dalam perjalanan usahanya selama kurun waktu delapan tahun, Perseroan mengalami pertumbuhan bisnis yang pesat menyusul dilakukannya aksi akuisisi, eksplorasi dan pengembangan, dengan fokus awal pada wilayah pertambangan batubara regional berskala kecil.

Sejak mulai beroperasi, Perseroan telah terlibat dalam sejumlah pengembangan proyek, di antaranya eksplorasi dan produksi dilokasi tambang PT Berau Bara Energi (BBE) di Hub Berau yang memproduksi batubara jenis thermal coal serta proyek eksplorasi dab produksi di lokasi tambang PT Diva Kencana Borneo (DKB) di Hub Kubar yang memproduksi batubara dengan kandungan kalori tinggi dan batubara jenis metallurgical coal. Selain itu, Perseroan juga melakukan ekspansi aset pertambangan dengan mengakuisisi PT Hanson Energy di Hub Oku dan kemudian dilengkapi dengan aksi akuisisi atas Grup Gorby, yang kini dikenal dengan Proyek Mutara (dahulu Muba), serta atas PT Optima Persada Energi (OPE), yang memiliki 6 lahan konsesi pertambangan dan 2 (dua) anak usaha di bidang jasa logistik. Melalui berbagai langkah strategis

(3)

tersebut, Perseroan mampu memperluas skala produksi batubara yang dimilikinya.

Hingga kini, Perseroan telah memiliki banyak lahan konsesi yang secara keseluruhan mencapai luas lebih dari 200.000 Ha.

3. PT Bayan Resources Tbk ( BYAN )

Sejarah Bayan dimulai pada bulan November 1997, saat Pemegang Saham Pendiri mengakuisisi konsesi tambang batubara pertamanya yang berlokasi di Muara Tae, Kalimantan Timur, yang dikenal dengan nama PT Gunungbayan Pratamacoal (GBP).

Sejak itu, sejumlah konsesi batubara telah diakuisisi, termasuk pengambilalihan saham mayoritas atas PT Dermaga Perkasa Pratama yang mengelola Balikpapan Coal Terminal (BCT) yang memiliki kapasitas pengolahan hingga 15,0 juta MT per tahun. Selanjutnya para Pemegang Saham Pendiri mendirikan PT Bayan Resources Tbk. pada tanggal 7 Oktober 2004 berdasarkan Akta Notaris No. 12 tanggal 7 Oktober 2004 yang dibuat di hadapan Yani Indrawaty Wibawa, S.H., notaris di Jakarta.

Pada tahun 2006, Perseroan diubah dari perusahaan non-investasi menjadi perusahaan terbatas di bidang investasi dalam negeri berdasarkan undang-undang Republik Indonesia. Pada tanggal 12 Agustus 2008, Perseroan resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia melalui Penawaran Umum Saham Perdana (IPO) dengan harga perdana sebesar Rp. 5.800/saham.

Di tahun yang sama, Perseroan membeli KFT-1, yang diperuntukkan bagi Proyek WBM guna melayani kapal berukuran tongkang hingga capesize di

(4)

wilayah Kalimantan Selatan. Pada tahun 2010 Perseroan terus melakukan ekspansi dengan mengakuisisi saham Kangaroo Resources Limited (KRL) dan 13 konsesi pertambangannya, sehingga menjadikan Perseroan Pemegang Saham mayoritas di perusahaan yang berdomisili dan terdaftar di Bursa Efek Australia tersebut. Tahun 2012 Perseroan juga membeli KFT- 2 yang diperuntukkan untuk proyek Tabang/Pakar di Kalimantan Timur.

4. PT Darma Henwa Tbk ( DEWA )

Perseroan didirikan sebagai suatu Perseroan terbatas yang didirikan dalam rangka PMDN dengan nama PT Darma Henwa berdasarkan undang-undang Republik Indonesia dengan Akta No. 54, tanggal 8 Oktober 1991, dilakukan perubahan berdasarkan Akta Perubahan No. 141 tanggal 12 Pebruari 1993, dilakukan perubahan berdasarkan Akta Perubahan No. 29 tanggal 5 Juli 1993, yang seluruhnya dibuat di hadapan Siti Pertiwi Henny Shidki, SH, Notaris di Jakarta.

Pada bulan Juli 1996 Perseroan mengubah statusnya dari semula sebagai perusahaan PMDN menjadi perusahaan PMA dengan masuknya Henry Walker Group Limited sebagai pemegang saham dalam Perseroan dan sekaligus mengubah seluruh anggaran dasarnya guna menyesuaikan dengan UU PT Pada bulan Januari 2005, Perseroan mengubah namanya menjadi PT HWE Indonesia dan pada bulan September 2006 berubah lagi namannya menjadi PT Darma Henwa.

(5)

5. PT Delta Dunia Makmur Tbk ( DOID )

PT Delta Dunia Makmur Tbk. (“Delta Dunia”, atau “Perseroan”) adalah perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (“BEI”) dengan kode saham DOID. Sebagai perusahaan induk, Delta Dunia memiliki anak usaha operasional utama yaitu PT Bukit Makmur Mandiri Utama (“BUMA”), yang merupakan salah satu kontraktor jasa pertambangan batubara terbesar di Indonesia berdasarkan volume produksinya.

Delta Dunia memulai usahanya pada tahun 1990 di bidang tekstil yang memproduksi berbagai jenis benang rayon, katun dan poliester untuk memenuhi pasar ekspor dan telah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia – BEI) sejak bulan Juni 2001. Pada tahun 2008, Delta Dunia mengubah usaha utamanya untuk memfokuskan pada pengembangan properti komersial dan industrial di Indonesia. Sejalan dengan perubahan strategi bisnis, Perseroan menjual perusahaan manufaktur tekstilnya pada bulan Februari 2008.

6. PT Golden Energy Mines Tbk ( GEMS )

PT Golden Energy Mines Tbk bergerak di bidang perdagangan hasil tambang dan jasa pertambangan. Pada tanggal 13 Maret 1997 Perseroan didirikan dengan nama PT Bumi Kencana Eka Sakti yang kemudian berubah nama menjadi PT Golden Energy Mines Tbk pada tanggal 16 November 2010.

Pada tanggal 17 November 2011, Perseroan menjadi perusahaan publik dan tercatat di papan utama BEI. Melalui Penawaran Umum Saham Perdana (“IPO”) tersebut, Perseroan memperoleh dana sebesar Rp 2,205 triliun. Dalam IPO

(6)

tersebut, GMR Coal Resources Pte. Ltd. (sebelumnya bernama GMR Infrastructure Investments (Singapore) Pte. Ltd.) (“GMR”), yang merupakan Anak Perusahaan GMR Group, sebuah kelompok usaha infrastruktur terkemuka di India menjadi investor strategis Perseroan dengan memegang/ memiliki 30%

(tiga puluh persen) saham dari seluruh modal yang disetor dan ditempatkan oleh Perseroan.

Pada tanggal 13 Juli 2012, Perseroan mendirikan Anak Perusahaan dengan kepemilikan 100% yang berbasis di Singapura, dengan nama GEMS Coal Resources Pte. Ltd. Yang kemudian berubah nama menjadi GEMS Trading Resources Pte. Ltd. (“GEMSTR”) pada tanggal 27 Januari 2014. GEMSTR adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan yang akan mendukung kegiatan usaha utama Perseroan di luar negeri.

7. PT Garda Tujuh Buana Tbk ( GTBO )

PT Garda Tujuh Buana Tbk. (“GTBO”) didirikan pada tahun 1996.

Perusahaan telah diberi Kuasa Penambangan Eksploitasi. GTBO menangani operasi pengolahan penambangan batubara dan logistik secara terpadu. GTBO melakukan penambangan batubara termal dan dianggap sebagai salah satu produsen batubara yang menambang dan menjual batubara yang bernilai kalori rendah. GTBO telah memastikan dan mengidentifikasi cadangan batubara yang signifikan dan sesuai untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

(7)

PT Garda Tujuh Buana Tbk. (“GTBO”) mendirikan 1 (satu) Anak Perusahaan dengan 100% kepemilikan oleh GTBO yang bernama GTBO International FZE. GTBO International FZE didirikan dengan tujuan untuk melakukan perdagangan produk energi batubara, bijih logam & bahan bakar.

Sampai dengan saat ini anak perusahaan belum beroperasi.

8. PT Harum Energy Tbk ( HRUM )

Harum Energy (“Perusahaan”) merupakan suatu perusahaan induk yang didirikan di tahun 1995 untuk menaungi beberapa anak perusahaan di bidang pertambangan batubara dan logistik di Kalimantan Timur.

Perusahaan mengoperasikan empat tambang batubara, masingmasing melalui PT Mahakam Sumber Jaya (MSJ), PT Santan Batubara (SB), PT Tambang Batubara Harum (TBH) dan PT Karya Usaha Pertiwi (KUP).

Perusahaan juga memiliki PT Layar Lintas Jaya (LLJ), yang bergerak di bidang pengangkutan laut dan alihmuat batubara. Di samping melakukan kegiatan operasional, melalui anak usahanya yang bergerak di bidang investasi, Harum Energy Capital Limited, Perusahaan memiliki 11,02% saham Cockatoo Coal Limited yang beroperasi di Australia.

Kekuatan Perusahaan terletak pada rantai produksinya yang terintegrasi secara vertikal, mulai dari kegiatan penambangan hingga pengapalan di laut lepas, serta sejumlah infrastrukturinfrastruktur kunci yang dimiliki, yaitu jalan angkut, pelabuhan, fasilitas pengolahan, armada kapal tunda dan tongkang, serta derek

(8)

terapung. Perusahaan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham HRUM pada 6 Oktober 2011.

Pada tahun 2012, Perusahaan mendapatkan penghargaan 100 Best Companies in Indonesia dari Fortune Indonesia dan 200 Best Under A Billion dan Best Return on Investment dari Forbes Asia. Pada tahun 2013, Perusahaan berhasil masuk dalam MSCI Global Small Cap Indices.

9. PT Indo Tambangraya Megah Tbk ( ITMG )

PT Indo Tambangraya Megah Tbk merupakan perusahaan produsen batubara Indonesia terkemuka untuk pasar energi dunia melalui anak-anak perusahaannya. Dalam Laporan Tahunan ini, kelompok usaha PT Indo Tambangraya Megah Tbk beserta anak-anak perusahaannya secara kolektif disebut sebagai “ITM”.

ITM berupaya untuk menjalankan bisnis dengan standar tertinggi dalam bidang GCG, serta Kepatuhan terhadap Mutu, Lingkungan, serta Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Seluruh kegiatan ITM dilaksanakan dengan kolaborasi yang erat dengan masyarakat setempat dan pemangku kepentingan lainnya.

Pada tahun 2013, ITM mendirikan anak perusahaan, PT ITM Indonesia, yang bergerak di bidang perdagangan batubara, dan PT Tambang Raya Usaha Tama, yang bergerak di bidang jasa pertambangan. Pada tahun 2014, ITM mendirikan PT ITM Batubara Utama dan PT ITM Energi Utama, masing-masing bergerak di bisnis batubara dan bisnis energi.

(9)

10. PT Resource Alam Indonesia Tbk ( KKGI )

Didirikan dengan nama PT Kurnia Kapuas Utama Glue Industries (KKGI) pada tahun 1981, pada awalnya PT Resource Alam Indonesia Tbk (Perseroan) memfokuskan diri di bidang produksi adhesif kayu.

Seiring dengan pertumbuhan dan dalam rangka ekspansi usaha, Perseroan melakukan penawaran umum perdana pada tahun 1991 dan menerbitkan 4,5 juta lembar saham dengan harga penawaran perdana Rp5.700 per saham. Dari IPO tersebut, Perseroan berhasil menghimpun dana sebesar Rp25,65 miliar. Saham- saham Perseroan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (d/h Bursa Efek Jakarta) dengan kode saham KKGI pada tanggal 1 Juli 1991.

Sebagai bagian dari strategi Perseroan dalam melakukan diversifikasi usaha, Perseroan mulai memasuki industri pertambangan batubara sekaligus melakukan perubahan nama menjadi PT Resource Alam Indonesia Tbk pada tahun 2003.

11. PT Mitrabara Adiperdana, Tbk ( MBAP )

PT Mitrabara Adiperdana Tbk (“Perusahaan”) merupakan bagian dari Group Baramulti, yang didirikan pada tahun 1992, dan bergerak di bidang pertambangan batubara.

Perusahaan memulai kegiatan produksi batubara sejak tahun 2008. Dengan dilengkapi infrastruktur yang terintegrasi milik Entitas Anak yang diakuisisi oleh Perusahaan pada tahun 2013, dan dengan didukung oleh tim manajemen yang berpengalaman di industri batubara selama lebih dari 10 tahun, Perusahaan terus

(10)

meningkatkan produksi batubara hingga 4 juta ton yang akan dipasarkan kepada konsumen yang terletak di kawasan Asia Pasifik.

Spesifikasi produk batubara Perusahaan merupakan batubara medium kalori, dengan kandungan abu yang rendah dan sulfur yang sangat rendah, sehingga lebih ramah lingkungan dan diminati oleh pasar premium.

Pada tahun 2014, Perusahaan sebagai satu-satunya perusahaan tambang yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia, dan mendapatkan penghargaan dari Warta Ekonomi sebagai The Fastest Growing Issuers tahun 2015 untuk sektor pertambangan batubara.

12. Samindo Resources Tbk ( MYOH )

Perseroan merupakan investment holding corporation terkemuka di Indonesia yang menyediakan jasa pertambangan batubara terintegrasi dengan kompetensi inti di bidang jasa pemindahan batuan penutup, produksi batubara, pengangkutan batubara dan pemboran eksplorasi.

Pada awalnya Perseroan didirikan dengan nama PT Myohdotcom Indonesia pada tanggal 15 Maret 2000. Di akhir tahun 2011, Samtan Co. Ltd., salah satu perusahaan terkemuka dari Korea mengakuisisi mayoritas saham Perseroan. Pasca akusisi oleh Samtan Co. Ltd, pada 14 Februari 2012, Perseroan mengubah namanya menjadi PT Samindo Resources, Tbk, yang diikuti dengan perubahan arah bisnis Perseroan dari penyedia jasa teknologi informasi menjadi penyedia jasa pertambangan batubara.

(11)

Sebagai holding corporation, Perseroan melakukan kegiatan operasionalnya melalui empat anak usahanya, yaitu PT SIMS Jaya Kaltim, PT Samindo Utama Kaltim, PT Trasindo Murni Perkasa, PT Mintec Abadi. Melalui keempat anak usaha tersebut Perseroan memberikan jasa pertambangan batubara terintegrasi.

Saat ini Perseroan melalui keempat anak usahanya merupakan salah satu perusahaan penyedia jasa pertambangan batubara yang dipercaya untuk mengelola tambang batubara milik PT Kideco Jaya Agung di daerah Kalimantan Timur.

13. PT Perdana Karya Perkasa Tbk ( PKPK )

PT Perdana Karya Perkasa, Tbk. (PKPK) didirikan di Samarinda, Kalimantan Timur, dengan nama PT Perdana Karya Kaltim, berdasarkan Akta No. 17 tanggal 7 Desember 1983 yang diubah dengan Akta No. 4 tanggal 2 November 1985, keduanya dibuat di hadapan Laden Mering, S.H., Wakil Notaris Sementara di Samarinda.

Pada saat pertama didirikan, PKPK menjalankan usaha di bidang jasa Penyewaan alat berat dan jasa kontraktor penunjang minyak dan gas bumi. PKPK memulai aktivitas di bidang pertambangan batubara dan penyiapan lahan perkebunan sebagai pengembangan usaha sejak awal tahun 2000--‐an.

Pada akhir tahun 2006, PKPK mengakuisisi 80% kepemilikan PT Semoi Prima Lestari, sebuah perusahaan pertambangan batubara seluas 3.557 ha, 1.250 ha diantaranya telah ditingkatkan menjadi area operasi produksi yang terletak di wilayah Kbaupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Sejak 11 Juli 2007 PKPK mencatatkan saham-sahamnya di Bursa Efek Indonesia di Jakarta.

(12)

14. PT Bukit Asam Tbk ( PTBA )

Pada tahun 1876 Tambang batubara di Ombilin, Sumatera Barat mulai beroperasi. Tahun 1919, pada zaman penjajahan Belanda Tambang terbuka di Air Laya, Tanjung Enim, Sumatera Selatan, mulai beroperasi. Tahun 1950, menjadi Perusahaan Negara ( PN ) disebut “PN Tambang Arang Bukit Asam” (PN TABA).

Pada tahun 1981, PN TABA berubah menjadi Perseroan dan namanya berganti menjadi PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA). Tahun 1990, perusahaan batubara milik Negara lainnya, “Perusahaan Umum Tambang Batubara” bergabung dengan PT Bukit Asam (PTBA). Sejak saat itulah PTBA menjadi perusahaan batubara satu-satunya yang dimiliki Negara. Pada tahun 2002, PTBA tercatat sebagai perusahaan public di Bursa Jakarta dengan 25 sahamnya dimiliki public.

15. Petrosea Tbk ( PTRO )

Pada tahun 1972, perusahaan didirikan di Jakarta, Indonesia dengan nama PT Petrosea International Indonesia. Tahun 1984, perusahaan diakuisisi oleh Clough Limited. Tahun 1990, saham perusahaan dicatatkan di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya ( kini bursa Efek Indonesia ) dengan kode perdagangan PTRO, dan nama perusahaan diganti menjadi PT Petrosea Tbk.

Pada tahun 2009, PT Indika Energy tbk, mengakuisisi perusahaan dan pada akhir tahin ini saham Indika Energy di Perusahaan mencapai 98,55%. Tahun 2012, pada bulan Februari, untuk mematuhi peraturan Otoritas Jasa Keuangan

(13)

(OJK) mengenai pengambilalihan perusahaan terbuka, PT Indika Energy Tbk.

Menjual kembali sahamnya sebesar 28,75% kepada masyarakat. Sehingga pada akhir tahun tersebut kepemilikan saham PT Indika Energy Tbk. Pada perusahaan adalah sebesar 69,80%.

16. Golden Eagle Energy Tbk ( SMMT )

PT Golden Eagle Energy Tbk (atau selanjutnya “Perusahaan”, kode saham

“SMMT”) didirikan di tahun 1980 dengan nama PT The Green Pub dengan bisnis utama dalam bidang restoran dan hiburan. Di tahun 1996 namanya berubah menjadi PT Setiamandiri Mitratama.

Pada 29 Februari 2000 Perusahaan melakukan penawaran umum perdana atas 5 juta lembar saham yang dicatat di Bursa Efek Surabaya dengan harga penawaran Rp500 per lembar.

Pada tahun 2004 Perusahaan melakukan stock split 1:4 yang menyebabkan nilai nominal sahamnya menjadi Rp125 per lembar dan mengganti namanya menjadi PT Eatertainment International Tbk. Gerai- gerai restoran dan hiburan yang dikelolanya adalah restoran Meksiko Amigos, restoran pizza siap saji Papa Rons, dan fasilitas mini-golf Putt-putt Golf.

Perusahaan menerbitkan 820 juta lembar saham baru di tahun 2012, yang hasil penjualannya sebagian digunakan untuk membiayai akuisisi konsesi penambangan batubara. Perusahaan juga mendivestasikan unit usaha restoran dan hiburannya untuk semakin fokus pada bisnis pertambangan.

(14)

Kini melalui anak perusahaannya yang beroperasi di konsesi penambangan di Sumatera Selatan, PT Triaryani, Perusahaan telah melakukan produksi batubara secara komersial dan mulai menjual produknya.

17. Toba Bara Sejahtra Tbk ( TOBA )

PT Toba Bara Sejahtra Tbk (Toba Bara) adalah salah satu produsen utama batubara termal yang kompetitif di Indonesia. Didirikan pada tahun 2010 sebagai anak perusahaan PT Toba Sejahtra Group, Toba Bara telah berkembang menjadi produsen batubara utama yang beroperasi pada 3 (tiga) konsesi area tambang batubara di Kalimantan Timur. Area-area tambang yang berdekatan ini, yang dikelola oleh 3 (tiga) anak perusahaan, berada pada lokasi tambang yang menguntungkan, serta dekat jaraknya dengan pelabuhan setempat. Sejak memulai produksi pada tahun 2007, kami mengalami kenaikan yang cepat menjadi sebuah perusahaan terkemuka di bidang batubara didukung oleh kinerja yang kuat dan pertumbuhan yang solid. Luas area tambang Toba Bara secara keseluruhan sekitar 7087 hektar dengan total estimasi sumber daya sebesar 236 juta ton.

Pembangunan pertama kami pada aset greenfield dimulai dengan PT Indomining pada tahun 2007, diikuti dengan PT Adimitra Baratama Nusantara (ABN) pada tahun 2008. Kemudian, pembangunan PT Trisensa Mineral Utama (TMU) dimulai pada tahun 2011. Secara paralel, kami terus mengintegrasikan rantai pasokan batubara untuk lebih baik dalam efisiensi biaya, serta berusaha untuk memperbesar cadangan batubara dan sumber daya.

(15)

Tanggal 6 Juli 2012 merupakan momen bersejarah bagi kami. Toba Bara mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan ticker TOBA dan merilis sebesar 210.681.000 saham atau 10,5 % dari jumlah modal disetor, dengan perolehan dana sebesar Rp 400.293.900.000,-. Harga perdana saham sebesar Rp 1.900,- per lembar saham.

B. Analisis Statistik Deskriptif

Objek penelitian ini adalah perusahaan batubara yang terdaftar di BEI periode penelitian tahun 2010-2014. Sampel diperoleh sebanyak 17 perusahaan yang akan diolah datanya. Objek penelitian adalah perusahaan industry sektor pertambangan yang terdaftar di BEI.

X = 4,3-4,5X1+5,7X2-0,004X3 Keterangan :

X1 = laba bersih / total aktiva ( ROA )

X2 = total hutang / total aktiva ( Debt Ratio ) X3 = aktiva lancar / hutang lancar (Current Ratio ) X = overall index

Nilai X-Score yang diperoleh melalui kondisi keuangan perusahaan dapat diklasifikasi dalam dua kategori, antara lain :

Bangkrut, jika X-Score > 0

Tidak Bangkrut, jika X-Score < 0

(16)

1. ROA (Return On Asset) X1

ROA (return on asset), merupakan indikator yang dapat digunakan sebagai pengukuran profitabilitas perusahaan. Rasio ini mengukur tingkat pengembalian dari bisnis atas seluruh asset yang ada. Atau rasio ini menggambarkan efisiensi pada dana yang digunakan dalam perusahaan. Berikut adalah hasil perhitungan dari ROA:

Tabel 4.1

Hasil perhitungan X1 pada 17 Perusahaan Batubara yang terdaftar di BEI periode 2010 – 2014

NO Nama Perusahaan 2010 2011 2012 2013 2014 1 PT Adaro Energy Tbk 5,50 9,80 5,70 3,50 2,90 2 PT Atlas Resources Tbk 0,21 0,10 0,37 0,34 0,73 3 PT Bayan Resources Tbk 0,89 1,34 0,29 0,35 1,63 4 PT Darma Henwa Tbk 0,00 -0,06 -0,09 -0,14 0,00 5 PT Delta Dunia Makmur Tbk -0,02 -0,01 -0,01 -0,03 0,02 6 PT Golden Energy Mines Tbk 2,72 9,44 5,17 5,67 3,40 7 PT Garda Tujuh Buana Tbk 0,20 15,90 57,70 -6,74 -5,69 8 PT Harum Energy Tbk 23,40 32,50 24,40 8,50 0,10 9 PT Indo Tambangraya Megah

Tbk 1,90 3,50 2,90 1,50 1,50

10 PT Resource Alam Indonesia Tbk 31,00 47,00 23,00 1,63 0,80 11 PT Mitrabara Adiperdana, Tbk 0,00 0,00 0,04 0,05 0,17 12 Samindo Resources Tbk 0,00 -0,01 0,03 0,96 0,13 13 PT Perdana Karya Perkasa Tbk -0,52 -0,14 -0,23 -0,01 -0,94 14 PT Bukit Asam Tbk 23,00 26,80 22,80 15,90 13,60

15 Petrosea Tbk 0,19 0,14 0,09 0,03 0,00

16 Golden Eagle Energy Tbk -7,40 0,40 0,30 0,30 0,00 17 Toba Bara Sejahtra Tbk 0,40 0,50 0,00 0,10 0,10 Sumber : Data diolah

(17)

2. Hasil Perhitungan X2 (Debt Ratio)

Debt Ratio, merupakan indikator yang dapat digunakan sebagai pengukuran leverage perusahaan adalah Debt Ratio. Rasio ini dikenal juga dengan sebutan Debt to Asset yang membandingkan total utang dengan total aktiva. Berikut adalah hasil perhitungan dari debt ratio:

Tabel 4.2

Hasil perhitungan X2 pada 17 Perusahaan Batubara yang terdaftar di BEI periode 2010- 2014

NO Nama Perusahaan 2010 2011 2012 2013 2014 1 PT Adaro Energy Tbk 0,50 0,00 0,00 0,50 0,40 2 PT Atlas Resources Tbk 2,35 2,59 3,10 2,94 2,79 3 PT Bayan Resources Tbk 6,35 5,49 6,29 7,13 7,80 4 PT Darma Henwa Tbk 0,27 0,23 0,38 0,39 0,38 5 PT Delta Dunia Makmur Tbk 0,85 0,75 0,80 0,80 0,80 6 PT Golden Energy Mines Tbk 30,76 0,65 0,00 0,26 0,21 7 PT Garda Tujuh Buana Tbk 0,42 0,29 0,22 0,17 0,15 8 PT Harum Energy Tbk 0,30 0,20 0,20 0,20 0,20 9 PT Indo Tambangraya Megah Tbk 3,40 3,20 3,30 3,20 3,10 10 PT Resource Alam Indonesia Tbk 42,00 33,00 0,29 0,31 0,27 11 PT Mitrabara Adiperdana, Tbk 0,00 0,00 0,79 0,74 0,43 12 Samindo Resources Tbk 0,41 0,42 0,79 0,40 0,40 13 PT Perdana Karya Perkasa Tbk 5,60 5,95 5,59 5,16 5,16 14 PT Bukit Asam Tbk 13,00 12,40 19,30 16,00 17,30

15 Petrosea Tbk 0,46 0,58 0,65 0,61 0,59

16 Golden Eagle Energy Tbk 25,60 1,50 0,70 2,60 3,70 17 Toba Bara Sejahtra Tbk 0,70 0,70 0,60 0,60 0,50 Sumber : Data diolah

(18)

3. Hasil Perhitungan X3 (Current Ratio)

Current Ratio, merupakan indikator yang dapat digunakan sebagai pengukuran leverage perusahaan adalah Curent Ratio. Rasio ini digunakan untuk mengetahui seberapa jauh aktiva lancar perusahaan digunakan untuk melunasi utang (kewajiban) lancar yang akan jatuh tempo/segera dibayar.Berikut adalah hasil perhitungan dari current ratio:

Tabel 4.3

Hasil perhitungan X3 pada 17 Perusahaan Batubara yang terdaftar di BEI periode 2010- 2014

NO Nama Perusahaan 2010 2011 2012 2013 2014

1 PT Adaro Energy Tbk 1,70 1,70 1,60 1,80 1,60 2 PT Atlas Resources Tbk 0,45 1,53 39,00 24,00 33,00 3 PT Bayan Resources Tbk 10,21 6,60 11,57 10,99 6,23 4 PT Darma Henwa Tbk 2,43 2,49 1,41 1,28 1,40 5 PT Delta Dunia Makmur Tbk 1,30 2,20 1,90 1,40 2,40 6 PT Golden Energy Mines Tbk 2,29 5,42 3,50 1,83 2,21 7 PT Garda Tujuh Buana Tbk 49,12 7,85 4,15 6,57 2,00 8 PT Harum Energy Tbk 2,10 2,70 3,10 3,50 3,60 9 PT Indo Tambangraya Megah Tbk 18,30 23,40 22,20 16,20 15,60 10 PT Resource Alam Indonesia Tbk 234,00 283,00 1,95 1,74 1,69 11 PT Mitrabara Adiperdana, Tbk 0,00 0,00 0,76 0,72 1,40 12 Samindo Resources Tbk 1,44 1,41 0,92 1,70 1,90 13 PT Perdana Karya Perkasa Tbk 14,48 12,17 13,07 14,56 12,01 14 PT Bukit Asam Tbk 579,10 461,80 486,70 286,60 207,50

15 Petrosea Tbk 1,04 0,94 1,32 1,55 1,64

16 Golden Eagle Energy Tbk 3,80 3,50 5,10 4,71 12,10 17 Toba Bara Sejahtra Tbk 1,10 0,90 0,80 0,90 1,20 Sumber : Data diolah

(19)

4. Hasil Perhitungan X-Score

Tabel berikut ini menyajikan perhitungan X-Score masing-masing perusahaan yang didasarkan pada laporan keuangan yang tersedia di BEI. Untuk memudahkan analisis, berikut ini disajikan rangkuman hasil perhitungan X-Score masing-masing perusahaan pada tahun 2010 - 2014.

Tabel 4.4

Hasil perhitungan X-Score pada 17 Perusahaan Batubara yang terdaftar di BEI periode 2010

Nama Perusahaan 2010 Keterangan

PT Adaro Energy Tbk -17,59 Tidak bangkrut

PT Atlas Resources Tbk 16,76 Bangkrut

PT Bayan Resources Tbk 36,53 Bangkrut

PT Darma Henwa Tbk 5,85 Bangkrut

PT Delta Dunia Makmur Tbk 9,24 Bangkrut PT Golden Energy Mines Tbk 167,40 Bangkrut PT Garda Tujuh Buana Tbk 6,01 Bangkrut PT Harum Energy Tbk -99,28 Tidak bangkrut PT Indo Tambangraya Megah Tbk 15,20 Bangkrut PT Resource Alam Indonesia Tbk 105,14 Bangkrut PT Mitrabara Adiperdana, Tbk 4,30 Bangkrut

Samindo Resources Tbk 6,64 Bangkrut

PT Perdana Karya Perkasa Tbk 38,61 Bangkrut

PT Bukit Asam Tbk -22,78 Tidak bangkrut

Petrosea Tbk 6,06 Bangkrut

Golden Eagle Energy Tbk 183,54 Bangkrut

Toba Bara Sejahtra Tbk 6,49 Bangkrut

Sumber : Data diolah

(20)

Keterangan :

Bangkrut, jika X-Score > 0

Tidak Bangkrut, jika X-Score < 0

Tabel 4.5

Hasil perhitungan X-Score pada 17 Perusahaan Batubara yang terdaftar di BEI periode 2011

Nama Perusahaan 2011 Keterangan

PT Adaro Energy Tbk -39,79 Tidak bangkrut PT Atlas Resources Tbk 18,61 Bangkrut PT Bayan Resources Tbk 29,59 Bangkrut

PT Darma Henwa Tbk 5,89 Bangkrut

PT Delta Dunia Makmur Tbk 8,65 Bangkrut PT Golden Energy Mines Tbk -34,45 Tidak bangkrut PT Garda Tujuh Buana Tbk -65,54 Tidak bangkrut PT Harum Energy Tbk -140,80 Tidak bangkrut PT Indo Tambangraya Megah Tbk 6,88 Bangkrut PT Resource Alam Indonesia Tbk -17,97 Tidak bangkrut PT Mitrabara Adiperdana, Tbk 4,30 Bangkrut Samindo Resources Tbk 6,74 Bangkrut PT Perdana Karya Perkasa Tbk 38,88 Bangkrut PT Bukit Asam Tbk -43,77 Tidak bangkrut

Petrosea Tbk 6,97 Bangkrut

Golden Eagle Energy Tbk 11,06 Bangkrut Toba Bara Sejahtra Tbk 6,04 Bangkrut Sumber : Data diolah

Keterangan :

Bangkrut, jika X-Score > 0

Tidak Bangkrut, jika X-Score < 0

(21)

Tabel 4.6

Hasil perhitungan X-Score pada 17 Perusahaan Batubara yang terdaftar di BEI periode 2012

Nama Perusahaan 2012 Keterangan

PT Adaro Energy Tbk -21,34 Tidak bangkrut

PT Atlas Resources Tbk 20,45 Bangkrut

PT Bayan Resources Tbk 38,89 Bangkrut

PT Darma Henwa Tbk 6,88 Bangkrut

PT Delta Dunia Makmur Tbk 8,93 Bangkrut PT Golden Energy Mines Tbk -18,95 Tidak bangkrut PT Garda Tujuh Buana Tbk -254,07 Tidak bangkrut PT Harum Energy Tbk -104,35 Tidak bangkrut PT Indo Tambangraya Megah Tbk 10,15 Bangkrut PT Resource Alam Indonesia Tbk -97,54 Tidak bangkrut PT Mitrabara Adiperdana, Tbk 8,62 Bangkrut

Samindo Resources Tbk 8,67 Bangkrut

PT Perdana Karya Perkasa Tbk 37,24 Bangkrut

PT Bukit Asam Tbk 13,66 Bangkrut

Petrosea Tbk 7,57 Bangkrut

Golden Eagle Energy Tbk 6,96 Bangkrut

Toba Bara Sejahtra Tbk 7,72 Bangkrut

Sumber : Data diolah

Keterangan :

Bangkrut, jika X-Score > 0

Tidak Bangkrut, jika X-Score < 0

(22)

Tabel 4.7

Hasil perhitungan X-Score pada 17 Perusahaan Batubara yang terdaftar di BEI periode 2013

Nama Perusahaan 2013 Keterangan

PT Adaro Energy Tbk -8,59 Tidak bangkrut PT Atlas Resources Tbk 19,59 Bangkrut PT Bayan Resources Tbk 43,41 Bangkrut

PT Darma Henwa Tbk 7,16 Bangkrut

PT Delta Dunia Makmur Tbk 8,99 Bangkrut PT Golden Energy Mines Tbk -19,73 Tidak bangkrut PT Garda Tujuh Buana Tbk 35,64 Bangkrut PT Harum Energy Tbk -32,80 Tidak bangkrut PT Indo Tambangraya Megah Tbk 15,85 Bangkrut PT Resource Alam Indonesia Tbk -1,26 Tidak bangkrut PT Mitrabara Adiperdana, Tbk 8,27 Bangkrut

Samindo Resources Tbk 2,27 Bangkrut

PT Perdana Karya Perkasa Tbk 33,78 Bangkrut

PT Bukit Asam Tbk 25,10 Bangkrut

Petrosea Tbk 7,64 Bangkrut

Golden Eagle Energy Tbk 17,79 Bangkrut Toba Bara Sejahtra Tbk 7,27 Bangkrut Sumber : Data diolah

Keterangan :

Bangkrut, jika X-Score > 0

Tidak Bangkrut, jika X-Score < 0

(23)

Tabel 4.8

Hasil perhitungan X-Score pada 17 Perusahaan Batubara yang terdaftar di BEI periode 2014

Nama Perusahaan 2014 Keterangan

PT Adaro Energy Tbk -6,46 Tidak bangkrut PT Atlas Resources Tbk 17,04 Bangkrut PT Bayan Resources Tbk 41,45 Bangkrut

PT Darma Henwa Tbk 6,47 Bangkrut

PT Delta Dunia Makmur Tbk 8,79 Bangkrut PT Golden Energy Mines Tbk -9,79 Tidak bangkrut PT Garda Tujuh Buana Tbk 30,79 Bangkrut

PT Harum Energy Tbk 5,00 Bangkrut

PT Indo Tambangraya Megah Tbk 15,28 Bangkrut PT Resource Alam Indonesia Tbk 2,25 Bangkrut PT Mitrabara Adiperdana, Tbk 5,97 Bangkrut Samindo Resources Tbk 5,99 Bangkrut PT Perdana Karya Perkasa Tbk 37,99 Bangkrut

PT Bukit Asam Tbk 42,54 Bangkrut

Petrosea Tbk 7,63 Bangkrut

Golden Eagle Energy Tbk 25,44 Bangkrut Toba Bara Sejahtra Tbk 6,70 Bangkrut Sumber : Data diolah

Keterangan :

Bangkrut, jika X-Score > 0

Tidak Bangkrut, jika X-Score < 0

(24)

Berdasarkan titik cut-off model Zmijewski (X-Score), maka dapat disimpulkan jika X-Score > 0 dapat dikatakan sebagai perusahaan dengan kondisi bangkrut, sedangkan jika X-Score < 0 maka dapat dikatakan sebagai perusahaan dengan kondisi tidak bangkrut.

Berikut ini adalah grafik dari setiap perusahaan di tahun 2010-2011 serta tindakan yang harus dilakukan perusahaan agar perusahaan dalam keadaan bangkrut/tidak bangkrut.

1. PT Adaro Energy Tbk

Gambar 4.1 PT Adaro Energy Tbk

Berdasarkan dari grafik di atas, maka dapat dilihat bahwa PT Adaro Energy Tbk dari tahun 2010 – 2011 kondisi perusahaan dalam keadaan tidak bangkrut. Terlihat dari garfik tersebut bahwa dari tahun 2010-2011 nilai X-Score perusahaan PT Adaro Energy Tbk < 0, yang artinya perusahaan tersebut dalam

(17,59)

(39,79)

(21,34)

(8,59) (6,46)

(50,00) (40,00) (30,00) (20,00) (10,00)

-

2010 2011 2012 2013 2014

X-SCore

X-Sore > 0, Bangkrut X-Score < 0, Tidak Bangkrut

PT Adaro Energy Tbk

(25)

39,79 dikarenakan tingkat profitabilitas (X1) meningkat. Meningkatnya profitabilitas karena meningkatnya laba bersih yang di hasilkan. Dengan begitu, PT Adaro Energy Tbk masih layak untuk dapat bertahan dalam bisnis pertambangan batubara.

2. PT Atlas Resources Tbk

Gambar 4.2 PT Atlas Resources Tbk

Berdasarkan dari grafik di atas, PT Atlas Resources Tbk dari tahun 2010 – 2014 kondisi perusahaan dalam keadaan bangkrut Terlihat dari garfik tersebut bahwa dari tahun 2010-2014 nilai X-Score perusahaan PT Atlas Resources Tbk >

0, yang artinya perusahaan tersebut dalam kondisi yang bangkrut. Kebangrutan PT Atlas Resources Tbk di karenakan dari tahun 2010-2014 rasio leverage (hutang) meningkat. Semakin rendah tingkat rasio semakin kecil pula leverage perusahaan.

16,76 18,61

20,45 19,59

17,04

- 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00

2010 2011 2012 2013 2014

X_Score

X-Sore > 0, Bangkrut X-Score < 0, Tidak Bangkrut

PT Atlas Resources Tbk

(26)

3. PT Bayan Resources Tbk

Gambar 4.3 PT Bayan Resources Tbk

Berdasarkan dari grafik di atas, maka dapat dilihat bahwa PT Bayan Resources Tbk dari tahun 2010 – 2014 kondisi perusahaan dalam keadaan bangkrut. Terlihat dari garfik tersebut bahwa dari tahun 2010-2014 nilai X-Score perusahaan PT Bayan Resources Tbk > 0, yang artinya perusahaan tersebut dalam kondisi yang bangkrut. Kebangrutan yang terjadi pada PT Bayan Resources Tbk, dikarenakan rasio leverage dan rasio likuiditas. Rasio leverage (X2) di perusahaan ini dari tahun 2010-2014 semakin meningkat, sehingga hutang perusahaan semakin banyak (gambar 4.2). Sedangkan rasio likuiditas dilihat dari seberapa besarnya nilai aktiva lancar di bandingkan kewajiban lancar. Sehingga kewajiban lancar perusahaan di tahun 2010-2014 lebih besar di banding dengan aktiva lancar dan membuat nilai X3 menjadi meningkat.

36,53

29,59

38,89 43,41 41,45

- 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00

2010 2011 2012 2013 2014

X-Score

X-Sore > 0, Bangkrut X-Score < 0, Tidak Bangkrut

PT Bayan Resources Tbk

(27)

4. PT Darma Henwa Tbk

Gambar 4.4 PT Darma Henwa Tbk

Berdasarkan dari grafik di atas, maka dapat dilihat bahwa PT Darma Henwa Tbk dari tahun 2010 – 2014 mengalami kondisi perusahaan dalam keadaan bangkrut. Terlihat dari garfik tersebut bahwa dari tahun 2010-2014 nilai X-Score perusahaan PT Darma Henwa Tbk > 0, yang artinya perusahaan tersebut dalam kondisi bangkrut. Bangkrutnya PT Darma Henwa Tbk, terjadi karena rasio likuiditas dimana kewajiban lancar lebih besar di bandingkan aktiva lancar.

5,85 5,89 6,88 7,16

6,47

- 2,00 4,00 6,00 8,00

2010 2011 2012 2013 2014

X-Score

X-Sore > 0, Bangkrut X-Score < 0, Tidak Bangkrut

PT Darma Henwa Tbk

(28)

5. PT Delta Dunia Makmur Tbk

Gambar 4.5 PT Delta Dunia Makmur Tbk

Berdasarkan dari grafik di atas, maka dapat dilihat bahwa pada tahun 2010- 2014 PT Delta Dunia Makmur Tbk mengalami kondisi perusahaan yang bangkrut.

Dapat dilihat nilai X-Score dari tahun 2010-2014 PT Delta Dunia Makmur Tbk memiliki nilai X-Score > 0. Bangkrutnya PT Delta Dunia Makmur Tbk, terjadi karena rasio likuiditas dimana kewajiban lancar lebih besar di bandingkan aktiva lancar. Dengan begitu, PT Delta Dunia Makmur Tbk harus meningkatkan aktiva lancar agar perusahaan menjadi membaik.

9,24

8,65

8,93 8,99

8,79

8,20 8,40 8,60 8,80 9,00 9,20 9,40

2010 2011 2012 2013 2014

X-Score

X-Sore > 0, Bangkrut X-Score < 0, Tidak Bangkrut

PT Delta Dunia Makmur Tbk

(29)

6. PT Golden Energy Mines Tbk

Gambar 4.6 PT Golden Energy Mines Tbk

Berdasarkan dari grafik di atas, maka dapat dilihat bahwa PT Golden Energy Mines Tbk di tahun 2010 kondisi perusahaan dalam keadaan bangrut.

Kebangkruta yang terjadi di tahun 2010 ini di karenakan tingginya rasio leverage atau tingginya nilai hutang. Di tahun 2011-2014 PT Golden Energy Mines Tbk mengalami kondisi perusahaan tidak bangkrut. Dilihat dari nilai X-Score < 0.

Walaupun di tahun 2010 PT Golden Energy mengalami kebangkrutan, akan tetapi perusahaan ini mampu bangkit dengan cepat di tahun 2011 hingga tahun 2014.

Dengan begitu, PT Golden Energy Mines Tbk masih layak untuk dapat bertahan dalam bisnis pertambangan batubara.

167,40

(34,45) (18,95) (19,73) (9,79)

(50,00) - 50,00 100,00 150,00 200,00

2010 2011 2012 2013 2014

X-Score

X-Sore > 0, Bangkrut X-Score < 0, Tidak Bangkrut

PT Golden Energy Mines Tbk

(30)

7. PT Garda Tujuh Buana Tbk

Gambar 4.7 PT Garda Tujuh Buana Tbk

Berdasarkan dari grafik di atas, maka dapat dilihat bahwa PT Garda Tujuh Buana Tbk dari di tahun 2010 mengalami kondisi perusahaan bangkrut.

Sedanglan di tahun 2011-2012, kondisi PT Garda Tujuh Buana Tbk mengalami keadaan tidak bangkrut. Dan di tahun 2013-2014, PT Garda Tujuh Buana Tbk mengalami keadaan bangkrut kembali. Di tahun 2010, rasio likuiditas sangat meningkat yang berarti kewajiban lancar perusahaan sangat besar sedangkan aktiva lancar kecil. Hampir sama di tahun 2010, pada tahun 2013-2014, rasio likuiditas yang mempengaruhi kebangrutan. Dengan begitu, PT Garda Tujuh Buana harus bisa meningkatkan aktiva lancar agar perusahaan tidak mengalami kebangkrutan di tahun berikutnya.

6,01

(65,54) (254,07) 35,64 30,79

(300,00) (200,00) (100,00)

- 100,00

2010 2011 2012 2013 2014

X-Score

X-Sore > 0, Bangkrut X-Score < 0, Tidak BAngkrut

PT Garda Tujuh Buana Tbk

(31)

8. PT Harum Energy Tbk

Gambar 4.8 PT Harum Energy Tbk

Berdasarkan dari grafik di atas, maka dapat dilihat bahwa PT Harum Energy Tbk dari tahun 2010 – 2013 mengalami kondisi tidak bangkrut. Sedangkan di tahun 2014, PT Harum Energy mengalami kondisi yang bangkrut. Ini di karenakan pada tahun 2014 rasio likuditas perusahaan meningkat. Meningkatnya rasio likuiditas ini diakibatkan karena besarnya kewajiban lancar perusahaan di bandingkan aktiva lancarnya. Bila di tahun berikutnya PT Harum Energy Tbk tidak meningkatkan aktiva lancarnya, maka perusahaan dipastikan mengalami kondisi kebangkrutan. Dengan begitu, PT Harum Energy Tbk masih layak untuk dapat bertahan dalam bisnis pertambangan batubara.

(99,28)

(140,80)

(104,35)

(32,80)

5,00

(150,00) (100,00) (50,00)

- 50,00

2010 2011 2012 2013 2014

X-Score

X-Sore > 0, Bangkrut X-Score < 0, Tidak Bangkrut

PT Harum Energy Tbk

(32)

9. PT Indo Tambangraya Megah Tbk

Gambar 4.9 PT Indo Tambangraya Megah Tbk

Berdasarkan dari grafik di atas, maka dapat dilihat bahwa PT Indo Tambangraya Megah Tbk dari tahun 2010 – 2014 kondisi perusahaan dalam keadaan bangkrut. Terlihat dari garfik tersebut bahwa dari tahun 2010-2014 nilai X-Score perusahaan PT Indo Tambangraya Megah Tbk > 0, yang artinya perusahaan tersebut dalam kondisi yang tidak bangkrut. Kebangkrutan yang terjadi di PT Indo Tambangraya Megah Tbk pada tahun 2010-2014 dikarenakan rasio likuiditas yang tinggi. Likuiditas ini tinggi karena kewajiban lancar perusahaan yang tinggi dibanding aktiva lancar. Bila PT Indo Tambangraya Megah Tbk tidak memperbaiki rasio likuiditasnya di tahun yang akan datang, maka kondisi perusahaan akan terus mengalami kebangkruta.

15,20 6,88 10,15

15,85 15,28

- 5,00 10,00 15,00 20,00

2010 2011 2012 2013 2014

X-Score

X-Sore > 0, Bangkrut X-Score < 0, Tidak Bangkrut

PT Indo Tambangraya Megah Tbk

(33)

10. PT Resource Alam Indonesia Tbk

Gambar 4.10 PT Resource Alam Indonesia Tbk

Berdasarkan dari grafik di atas, maka dapat dilihat bahwa PT Resource Alam Indonesia Tbk di tahun 2010 kondisi perusahaan dalam keadaan bangkrut.

Sedangkan di tahun 2011-2013, perusahaan mengalami keadaan yang tidak bangkrut. Dan di tahun 2014, PT Resource Alam Indonesia Tbk kembali mengalami perusahaan yang bangkrut. Kondisi bangkrut yang terjadi di tahun 2010 dan 2014 dikarenaka kewajiban lancar yang tinggi. Dengan begitu, PT Resource Alam Indonesia Tbk masih layak untuk dapat bertahan dalam bisnis pertambangan batubara.

105,14

(17,97) (97,54)

(1,26)

2,25

(150,00) (100,00) (50,00)

- 50,00 100,00 150,00

2010 2011 2012 2013 2014

X-Score

X-Sore > 0, Bangkrut X-Score < 0, Tidak Bangkrut

PT Resource Alam Indonesia Tbk

(34)

11. PT Mitrabara Adiperdana, Tbk

Gambar 4.11 PT Mitrabara Adiperdana Tbk

Berdasarkan dari grafik di atas, maka dapat dilihat bahwa pada tahun 2010- 2014 PT Mitrabara Adiperdana Tbk mengalami kondisi perusahaan yang bangkrut. Kebangkrutan yang terjadi selama lima tahun ini di karenakan rasio laba bersih yang menurun, hutang yang meningkat dan kewajiban lancar yang tinggi.

Sehingga kesimpulannya PT Mitrabara Adiperdana Tbk di tahun yang akan datang harus lebih memperhatikan laba bersi, hutang dan juga kewajiban lancar, agar tidak terjadi kebangkrutan kembali seperti tahun-tahun sebelumnya. Dengan begitu, PT Mitrabara Adiperdana Tbk masih belum layak untuk dapat bertahan dalam bisnis pertambangan batubara.

4,30 4,30

8,62

8,27

5,97

- 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00

2010 2011 2012 2013 2014

X-SCore

X-Sore > 0, Bangkrut X-Score < 0, Tidak Bengkrut

PT Mitrabara Adiperdana, Tbk

(35)

12. Samindo Resources Tbk

Gambar 4.12 Samindo Resources Tbk

Berdasarkan dari grafik di atas, maka dapat dilihat bahwa Samindo Resources Tbk dari tahun 2010 – 2014 kondisi perusahaan dalam keadaan bangkrut. Terlihat dari garfik tersebut bahwa dari tahun 2010-2041 nilai X-Score perusahaan Samindo Resources Tbk > 0, yang artinya perusahaan tersebut dalam kondisi bangkrut. Kebangkrutan perusahaan terjadi karena kewajiban lancar yang tinggi. Jadi, bila perusahaan Samindo Resources Tbk menginginkan kondisi yang tidak bangkrut, harus meningkatkan aktiva lancar. Dengan begitu, Samindo Resources Tbk masih belum layak untuk dapat bertahan dalam bisnis pertambangan batubara.

6,64 6,74

8,67

2,27

5,99

- 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00

2010 2011 2012 2013 2014

X-Score

X-Sore > 0, Bangkrut X-Score < 0, Tidak Bangkrut

Samindo Resources Tbk

(36)

13. PT Perdana Karya Perkasa Tbk

Gambar 4.13 PT Perdana Karya Perkasa Tbk

Berdasarkan dari grafik di atas, maka dapat dilihat bahwa PT Perdana Karya Perkasa Tbk dari tahun 2010 – 2014 megalami kondisi perusahaan yang bangkrut.

Terlihat dari garfik tersebut bahwa dari tahun 2010-2014 nilai X-Score perusahaan PT Perdana Karya Perkasa Tbk > 0, yang artinya perusahaan tersebut dalam kondisi yang bangkrut. Sama halnya dengan Samindo Resources Tbk, PT Perdana Karya Perkasa Tbk mengalami kebangkrutan karena kewajiban lancar yang tinggi di banding dengan aktiva lancar. Bila PT Perdana Karya Perkasa Tbk menginginkan kondisi yang tidak bangkrut maka, dapat meningkatkan aktiva lancar. Dengan begitu, PT Perdana Karya Perkasa Tbk masih belum layak untuk bertahan dalam bisnis pertambangan batubara.

38,61 38,88

37,24

33,78

37,99

30,00 32,00 34,00 36,00 38,00 40,00

2010 2011 2012 2013 2014

X-Score

X-Sore > 0, Bangkrut X-Score < 0, Tidak Bangkrut

PT Perdana Karya Perkasa Tbk

(37)

14. PT Bukit Asam Tbk

Gambar 4.14 PT Bukit Asam Tbk

Berdasarkan dari grafik di atas, maka dapat dilihat bahwa PT Bukit Asam Tbk dari tahun 2010 – 2011 megalami kondisi perusahaan yang tidak bangkrut.

Terlihat dari garfik tersebut bahwa dari tahun 2010-2011 nilai X-Score perusahaan PT Bukit Asam Tbk < 0, yang artinya perusahaan tersebut dalam kondisi yang tidak bangkrut. Sedangkan tahun 2012-2014 kondisi perusahaan mengalami keadaan bangkrut. Kebangkrutan yang di alami selama 3 tahun berturut-turut dikarenakan kewajiban lancar yang tinggi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perusahaan masih layak untuk dapat bertahan dalam bisnis pertambangan batubara dengan cara meningkatkan aktiva lancar perusahaan.

(22,78)

(43,77)

13,66 25,10

42,54

(60,00) (40,00) (20,00)

- 20,00 40,00 60,00

2010 2011 2012 2013 2014

X-Score

X-Sore > 0, Bangkrut X-Score < 0, Tidak Bangkrut

PT Bukit Asam Tbk

(38)

15. Petrosea Tbk

Gambar 4.15 Petrosea Tbk

Berdasarkan dari grafik di atas, maka dapat dilihat bahwa Petrosea Tbk dari tahun 2010 – 2014 kondisi perusahaan dalam keadaan bangkrut. Terlihat dari garfik tersebut bahwa dari tahun 2010-2041 nilai X-Score perusahaan Petrosea Tbk > 0, yang artinya perusahaan tersebut dalam kondisi yang bangkrut.

Kebangkrutan yang terjadi dikarekan rasio likuiditas yang tinggi terutama kewajiban lancar perusahaan yang tinggi. Dengan begitu, Petrosea Tbk masih belum layak untuk dapat bertahan dalam bisnis pertambangan batubara.

6,06 6,97 7,57 7,64 7,63

- 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00

2010 2011 2012 2013 2014

X-Score

X-Sore > 0, Bangkrut X-Score < 0, Tidak Bangkrut

Petrosea Tbk

(39)

16. Golden Eagle Energy Tbk

Gambar 4.16 Golden Eagle Energy Tbk

Berdasarkan dari grafik di atas, maka dapat dilihat bahwa Golden Eagle Energy Tbk di tahun 2010-2014 mengalami kondisi perusahaan yang bangkrut.

Terlihat dari garfik tersebut bahwa dari tahun 2010-2014 nilai X-Score perusahaan Golden Eagle Energy Tbk > 0, yang artinya perusahaan tersebut dalam kondisi yang bangkrut. Sama halnya dengan perusahaan yang lain, Golden Eagle Energy Tbk mengalami kebangkrutan karena kewajiban lancar yang tinggi disbanding dengan aktiva lancar perusahaan. Dengan begitu, Golden Eagle Energy Tbk masih belum layak untuk dapat bertahan dalam bisnis pertambangan batubara.

183,54

11,06 6,96 17,79 25,44 -

50,00 100,00 150,00 200,00

2010 2011 2012 2013 2014

X-Score

X-Sore > 0, Bangkrut X-Score < 0, Tidak Bangkrut

Golden Eagle Energy Tbk

(40)

17. Toba Bara Sejahtra Tbk

Gambar 4.17 Toba Bara Sejahtra Tbk

Berdasarkan dari grafik di atas, maka dapat dilihat bahwa Toba Bara Sejahtra Tbk dari tahun 2010 – 2014 kondisi perusahaan dalam keadaan bangkrut.

Terlihat dari garfik tersebut bahwa dari tahun 2010-2014 nilai X-Score perusahaan Toba Bara Sejahtra Tbk > 0, yang artinya perusahaan tersebut dalam kondisi yang bangkrut. Kebangrutan yang terjadi dalam Toba Bara Sejahtera Tbk ini dikarenakan menurunnya laba bersih, meningkatnya hutang dan meningkatnya kewajiban lancar. Dengan begitu, Toba Bara Sejahtra Tbk masih belum layak untuk dapat bertahan dalam bisnis pertambangan batubara.

6,49 6,04

7,72 7,27 6,70

- 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00

2010 2011 2012 2013 2014

X-SCore

X-Sore > 0, Bangkrut X-Score < 0, Tidak Bangkrut

Toba Bara Sejahtra Tbk

Referensi

Dokumen terkait

Dalam pemodelan matematik bahwa masalah nyata yang sering dihadapi dalam kehidupan sehari-hari perlu disusun dalam suatu model matematik sehingga mudah dicari solusinya.

Pembuatan aplikasi digunakan untuk karakterisasi sumber elektron (dioda dan trioda) dari hasil nilai sphericity, dan plot distribusi intensitas berkas elektron dengan

Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan: (1) untuk meningkatkan kesempatan kerja sektor pertanian, maka upah dan produksi serta PDRB harus ditingkatkan, (2)

Berdasarkan data-data di atas, dapat disimpulkan bahwa 1) letak ketinggian sistem ventilation shaft pada bangunan dapat mempengaruhi keseragaman kecepatan aliran

Peradaban budaya bersih bagi peserta didik di sekolah dasar yang menjadi harapan besar masa depannya akan membiasakan pada lingkungannya para guru, dan stake

(4) Aset keuangan tersedia untuk dijual Aset keuangan dalam kelompok tersedia untuk dijual adalah aset keuangan non- derivatif yang ditetapkan untuk dimiliki selama

Manajemen proyek adalah penerapan ilmu pengetahuan, keahlian dan keterampilan, cara teknik terbaik dan dengan sumber daya yang terbatas untuk mencapai tujuan yang