• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

99

3.1 Kinerja Keuangan Daerah Selama 7 Tahun (2005-2011) Adanya perubahan peraturan perundangan tentang keuangan daerah pada kurun waktu tahun 2005-2011 cukup mempengaruhi kinerja penyelenggaraan pemerintahan khususnya dalam pengelolaan APBD. Peraturan perundangan tentang keuangan daerah dalam kurun waktu 2005-2011 terjadi perubahan.Hal tersebut cukup mempengaruhi kinerja penyelenggaraan pemerintahan khusus dalam pengelolaan APBD.

Pada tahun 2005 dan 2006 pengelolaan keuangan daerah Pemerintah Kabupaten Sukabumi mengacu pada Kepmendagri Nomor 29 Tahun 2002 dimana pengelolaan keuangan daerah menggunakan pola sentralisasi. Selanjutnya pada tahun 2007 mengacu pada Permendagri Nomor 13 Tahun 2006, dimana Kepala Daerah selaku pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah melimpahkan kewenangannya kepada Kepala SKPD selaku Pengguna Anggaran/Barang tapi baru sebatas pada SKPD non kecamatan. Sejak mulai tahun 2010, Camat sudah ditetapkan selaku Pengguna Anggaran/Barang.

Dalam rangka mempermudah pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah agar dapat menghasilkan suatu informasi keuangan yang komprehensif, maka pada tahun 2008 Pemerintah Kabupaten Sukabumi mulai menerapkan suatu sistem pengelolaan keuangan daerah yang berbasis teknologi informasi yaitu program aplikasi SIMDA.

3.1.1 Pendapatan Daerah

Kinerja APBD Kabupaten Sukabumi ditinjau dari pendapatan daerah selama kurun waktu tahun 2005 sampai dengan 2011 setiap tahunnya mengalami kenaikan. Target pendapatan yang ditetapkan setiap tahun, dalam realisasinya terlampaui. Realisasi tertinggi pada tahun 2009 sebesar 106,6%

dan terendah pada tahun 2008 sebesar 100,9%. Kenaikan/

pertumbuhan realisasi pendapatan setiap tahun rata-rata sebesar 2,89%. Target dan Realisasi Pendapatan Kabupaten Sukabumi selama tahun anggaran 2005-2011 dapat dilihat pada tabel berikut ini.

(2)

Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015 Tabel 3.1

Target dan Realisasi Pendapatan Tahun 2005 – 2011

Tahun Pendapatan Bertambah/

Target Realisasi (Berkurang) %

2005 610,371,171,000 626,160,761,971 15,789,590,971.00 102.6%

2006 885,621,383,000 897,128,900,646 11,507,517,646.00 101.3%

2007 1,052,084,304,000 1,106,308,945,430 54,224,641,430.31 105.2%

2008 1,210,743,928,000 1,222,160,912,785 11,436,984,785.00 100.9%

2009 1,342,855,120,000 1,432,336,118,445 88,851,773,101.00 106.6%

2010 1,490,276,595,500 1,519,735,050,963 29,458,454,463.00 101.9%

2011 1,810,822,554,000 1,856,087,255,070 45,264,701,070.00 102.5%

Sumber : DPPKAD, Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2005-2011

Berdasarkan kontribusinya, sumber pendapatan Kabupaten Sukabumi sebagian besar bersumber dari Dana Perimbangan/Transfer Pemerintah Pusat, kemudian diikuti Lain- lain Pendapatan Daerah yang Sah dan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Rata-rata kontribusi Dana Perimbangan sebesar 83 % dari seluruh pendapatan daerah, Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah sebesar 11 % dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar 6 %.

Pendapatan yang diterima dari 3 (tiga) sumber pendapatan setiap tahun mengalami peningkatan.

Gambar 3.1

Grafik Perkembangan Pendapatan Kabupaten Sukabumi Tahun 2005-2011 Berdasarkan Sumber Penerimaan

(3)

Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015 3.1.2 Dana Perimbangan

Penerimaan pendapatan dari Dana Perimbangan/Transfer Pemerintah Pusat rata-rata setiap tahun meningkat sebesar 24 %, peningkatan terbesar pada tahun 2006 sebesar 56 % dan terendah pada tahun 2008 sebesar 7 %. Komponen terbesar dari Dana Perimbangan/Transfer Pemerintah Pusat yaitu penerimaan dari Dana Alokasi Umum (DAU) dengan alokasi rata-rata setiap tahun sebesar 83%, kemudian alokasi dari Dana Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak sebesar 11 %.Sebelum tahun 2008 nomenklatur komponen penerimaan ini terbagi dua yaitu Dana Bagi Hasil pajak dan Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam.

Komponen lainnya yaitu Dana Alokasi Khusus dengan jumlah rata-rata sebesar 6 % dari total keseluruhan penerimaan dana perimbangan/transfer setiap tahunnya.

Tabel 3.2

Realisasi Dana Perimbangan Tahun 2005-2011

Tahun DAU DAK DBH Jumlah

2005 446,400,000,000 - 53,161,404,089 499,561,404,089 2006 684,475,000,000 38,050,000,000 56,059,932,812 778,584,932,812 2007 759,683,000,000 72,215,800,000 100,239,076,016 932,137,876,016 2008 827,153,450,000 96,746,000,000 81,442,812,092 1,005,342,262,092 2009 855,787,030,000 105,026,000,000 181,645,811,028 1,142,458,841,028 2010 871,926,247,000 95,938,500,000 141,800,212,724 1,109,665,959,724 2011 971,457,178,000 115,466,900,000 162,869,248,098 1,249,793,326,098 Sumber : DPPKAD, Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2005-2011

Dana perimbangan yang berasal dari Dana Bagi Hasil bersumber dari pajak dan sumber daya alam. Dana Bagi Hasil yang bersumber dari pajak terdiri dari:

a. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sektor perdesaan, perkotaan, perkebunan, pertambangan serta kehutanan;

b. Bea Perolehan Atas Hak Tanah dan Bangunan (BPHTB) sektor perdesaan, perkotaan, perkebunan, pertambangan serta kehutanan;

c. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21, Pasal 25, dan Pasal 29 wajib pajak orang pribadi dalam negeri.

Dana Bagi Hasil yang bersumber dari sumber daya alam berasal dari:

a. Penerimaan kehutanan yang berasal dari iuran hak pengusahaan hutan (IHPH), provisi sumber daya hutan (PSDH) dan dana reboisasi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang

(4)

Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015 bersangkutan;

b. Penerimaan pertambangan umum yang berasal dari penerimaan iuran tetap (landrent) dan penerimaan iuran eksplorasi dan iuran eksploitasi (royalty) yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan;

c. Penerimaan perikanan yang diterima secara nasional yang dihasilkan dari penerimaan pungutan pengusahaan perikanan dan penerimaan pungutan hasil perikanan;

d. Penerimaan pertambangan minyak yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan;

e. Penerimaan pertambangan gas alam yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan;

f. Penerimaan pertambangan panas bumi yang berasal dari penerimaan setoran bagian Pemerintah, iuran tetap dan iuran produksi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan.

3.1.3 Pendapatan Asli Daerah

Penerimaan dari PAD dari tahun 2005 – 2011 rata-rata setiap tahun dapat meningkat 26,03 %, namun pada PAD tahun 2009 turun sebesar 8 % dari PAD tahun 2008, hal ini dikarenakan pada tahun 2008 Kabupaten Sukabumi mendapatkan insentif lunas PBB. Komponen penerimaan yang berasal dari PAD sebagian terbesar diperoleh dari retribusi daerah atau 55 % dari total PAD.

Kemudian diikuti dari penerimaan Lain-lain PAD yang sah sebesar 21 %, Pajak Daerah sebesar 18 % dan pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan sebesar 6 %.

Tabel 3.3

Realisasi Pendapatan Asli Daerah Tahun 2005-2011

Tahun Pajak Retribusi Hasil Peng.

Kekayaan

Lain2 PAD

yg Sah Jumlah 2005 8,787,705,735 21,477,302,604 2,260,319,208 8,107,686,184 40,633,013,731 2006 9,845,572,312 29,612,291,075 3,254,297,624 10,933,022,140 53,645,183,151 2007 11,234,399,206 37,158,476,507 3,803,358,207 14,603,110,873 66,799,344,793 2008 13,596,928,718 44,617,421,393 5,852,965,675 23,335,108,765 87,402,424,551 2009 14,779,112,925 46,766,679,208 4,685,945,386 13,854,350,874 80,086,088,393 2010 15,482,863,348 35,589,585,555 6,271,074,651 41,099,109,074 98,443,632,628 2011 68,498,881,394 33,270,617,694 5,199,149,940 44,857,069,308 151,825,718,336

Sumber : DPPKAD, Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2005-2011 Dalam tahun 2008 kontibusi PAD mencapai 7 % dari jumlah pendapatan daerah. Hal ini menunjukan kemandirian fiskal dalam

(5)

Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015 APBD Kabupaten Sukabumi mengalami peningkatan.Kemandirian fiskal merupakan salah satu penilaian dalam Kinerja Pengelolaan Keuangan Daerah. Pada Tahun 2009 Kabupaten Sukabumi merupakan 1 (satu) dari 40 (empat puluh) Kabupaten/Kota Seluruh Indonesia yang mendapatkan penghargaan dari Menteri Keuangan Republik Indonesia.

3.1.4 Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah

Sementara untuk penerimaan pendapatan dari Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah kecenderungannya berfluktuatif, tahun 2006 penerimaan turun 25 % dari penerimaan tahun 2005, kemudian tahun 2007–2009 mengalami kenaikan rata-rata sebesar 44%. Penerimaan terbesar dari komponen Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah selama 3 (tiga) tahun terakhir yaitu bersumber dari Bantuan Keuangan dari Propinsi Jawa Barat rata- rata sebesar 66,21 %, selanjutnya penerimaan dari Dana Bagi Hasil Pajak dari Propinsi Jawa Barat rata-rata sebesar 31,64 %, Siasanya penerimaan dari Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus serta Pendapatan Lain-Lain.

Tabel 3.4

Realisasi Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah Tahun 2005-2011

Tahun

Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi

dan Pemerintah Daerah Lainnya

Dana Penyesuaian dan Otonomi

Khusus

Bantuan Keuangan dari

Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya

Pendapatan

Lain-lain Jumlah

2005 53,188,764,151 32,777,580,000 85,966,344,151

2006 64,898,784,683 64,898,784,683

2007 31,558,789,055 5,000,000,000 70,812,935,566 107,371,724,621 2008 48,490,174,301 7,002,252,000 73,830,066,361 113,733,480 129,436,226,142 2009 55,347,197,195 2,000,000,000 151,813,303,100 1,463,385 209,161,963,680 2010 57,672,694,773 89,774,362,010 145,390,741,740 18,710,711,400 311,548,542,513 2011 68,468,385,026,307 307,938,491,560 78,061,334,050 454,468,210,636

Sumber : DPPKAD, Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2005-2011

3.1.5 Target dan Realisasi Belanja

Komponen Belanja Daerah dalam APBD diarahkan dalam rangka untuk melayani dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah.Perlindungan dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan,

(6)

Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015 fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak, serta mengembangkan sistem jaminan sosial. Belanja daerah dikelompokan ke dalam 2 jenis belanja yaitu Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung.Dalam mengalokasikan anggaran belanja langsung dan tidak langsung didasarkan pada fungsi ekonomi yang terdiri dari belanja pegawai, belanja operasi dan pemeliharaan (dalam permendagri 13/2006 dirubah menjadi belanja barang dan jasa) dan belanja modal dengan menggunakan prinsip anggaran kinerja bagi seluruh pengguna anggaran dan barang daerah. Pengelolaan belanja diarahkan pada :

a. Anggaran belanja langsung diarahkan untuk meningkatkan fungsi-fungsi pelayanan umum pemerintahan secara berkesinambungan dalam mendukung penyempurnaan maupun memperbaiki sarana dan prasarana yang dapat meningkatkan pembangunan dan kemasyarakatan sesuai dengan rencana kerja SKPD yang mengisi kerangka regulasi dan kerangka pendanaan.

b. Anggaran Belanja Tidak langsung diarahkan untuk menunjang kelancaran tugas Pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan.

Tabel 3.5

Target dan Realisasi Belanja Tahun 2005 - 2011

Tahun Belanja Bertambah/

Target Realisasi (Berkurang) %

2005 638,471,504,000 608,974,526,042 (29,496,977,958) 95.4%

2006 929,232,477,000 880,227,989,488 (49,004,487,512) 94.7%

2007 1,107,464,140,735 1,059,044,638,952 (48,419,501,783) 95.6%

2008 1,313,290,679,000 1,245,147,219,131 (68,143,459,869) 94.8%

2009 1,415,979,538,000 1,274,679,473,955 (141,079,464,233) 90.0%

2010 1,746,046,122,500 1,621,028,469,195 (125,017,653,305) 92,8%

2011 1,978,093,760,000 1,849,556,544,316 (128,537,215,683) 93,5%

Sumber : DPPKAD, Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2005-2011

Anggaran belanja dalam periode tahun 2005 sampai dengan tahun 2011 alokasinya mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Rata-rata kenaikan realisasi belanja pertahun sebesar 21 %.

Kenaikan tertinggi pada tahun 2006 sebesar 45 % dan kenaikan terendah pada tahun 2009 sebesar 2 %. Dalam hal penyerapan anggaran antara target belanja dan realisasi belanja tidak sama.

Berdasarkan tabel 5.2 realisasi dan target belanja antara 90,00 % - 95,6 %, kondisi ini menyebabkan terjadinya Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) pada akhir tahun.

(7)

Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015 Berdasarkan peruntukannya belanja daerah sebagian besar digunakan untuk belanja pegawai/aparatur, dimana pada tahun 2009 jumlah pegawai di Kabupaten Sukabumi yaitu 16,000 orang.

Kenaikan anggaran pegawai, hal ini terkait dengan kebijakan Pemerintah Pusat dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2006 tentang Pengangkatan Pegawai Tenaga Honor Daerah menjadi PNS. Semakin bertambahnya belanja pegawai dapat dilihat pada APBD tahun 2008 – 2009. Kondisi terbalik dengan alokasi belanja publik atau belanja langsung yang semakin menurun, sebagaimana terlihat dalam grafik.

Gambar 3.2

Perkembangan Belanja Kabupaten Sukabumi Tahun 2006 – 2009 Kebijakan belanja daerah selama tahun anggaran 2006 - 2009 mengacu kepada kebijakan umum yang tertuang di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten sukabumi (RPJMD) tahun 2006-2010. Prioritas belanja tersebutsebagai berikut :

1. Penanggulangan kemiskinan berbasis wilayah, difokuskan untuk meningkatkan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan pendidikan, kesehatan dan daya beli.

2. Peningkatan akses pendidikan yang berkualitas, difokuskan dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan pendidikan, PLS, dan pendidikan kedinasan, serta didukung sarana dan prasarana penunjangnya.

3. Peningkatan kualitas kehidupan beragama, difokuskan untuk peningkatan kuantitas dan kualitas sarana peribadatan dan peningkatan pelayanan keagamaan.

4. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan pelayanan sosial, difokuskan untuk peningkatan kualitas pelayanan

(8)

Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015 kesehatan dan pelayanan sosial, serta didukung sarana dan prasarana penunjangnya.

5. Penciptaan iklim investasi yang kondusif bagi pengembangan sektor unggulan daerah, difokuskan untuk meningkatkan minat investasi dalam rangka pengembangan potensi pertanian dalam arti luas, pertambangan, perindustrian, perdagangan, dan pariwisata.

6. Penataan dan pengembangan kelompok-kelompok usaha masyarakat dan koperasi, difokuskan untuk memfasilitasi agar kelompok-kelompok usaha masyarakat dan koperasi dapat tumbuh-kembang secara sehat dan optimal dengan bertumpu pada sumber daya lokal.

7. Pengembangan sentra-sentra agroindustri, difokuskan untuk mengembangkan sentra-sentra agroindustri potensial secara optimal.

8. Peningkatan kualitas kinerja pemerintahan daerah, difokuskan untuk peningkatan kapasitas aparatur dan kelembagaan pemerintah.

9. Peningkatan peran serta masyarakat dalam pembangunan, difokuskan untuk pemberdayaan dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

10. Peningkatan infrastruktur, difokuskan untuk penyediaan dan pemeliharaan berbagai sarana dan prasarana dalam rangka mendukung berbagai kebijakan/ prioritas pembangunan daerah.

Rata-rata persentase belanja berdasarkan kebijakan dalam periode 2006 – 2010, yang tertinggi adalah Kebijakan Peningkatan Akses Pendidikan dengan persentase rata-rata belanja 33,29 % per tahun, kemudian Kebijakan Peningkatan Infrastruktur sebesar 21,71 %, disusul berturut-turut Kebijakan Peningkatan Kinerja Pemerintah 13,39 %, Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan 10,36%, dan Kebijakan Peningkatan Kesehatan dan Pelayanan Sosial 9,32 %. Kebijakan lainnya persentase rata-rata belanjanya di bawah 4 %.

(9)

Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015 Tabel 3.6

Prioritas Belanja Langsung Tahun 2006-2009

Prioritas Belanja Belanja (Jutaan Rupiah)

2006 2007 2008 2009 Jumlah

1. Penanggulangan Kemiskinan 29,069 47,872 36,116 9,871 122,929

2. Peningkatan Akses Pendidikan 67,258 73,444 129,994 118,697 389,394

3. Peningkatan Kehidupan Beragama 10,291 12,577 2,525 602 25,996

4. Peningkatan Kesehatan dan

Pelayanan Sosial 10,584 51,554 50,249 12,024 124,413

5. Peningkatan Kinerja Pemerintah 45,597 34,787 41,722 25,951 148,058 6. Peningkatan Peranserta Masyarakat 4,659 14,817 21,246 2,440 43,164

7. Peningkatan Iklim Investasi 13,691, 9,585 9,287 6,753 39,317

8. Peng. Kelompok Usaha 3,165, 7,613 3,535 1,117 15,432

9. Peng. Sentra Agro Industri 4,800 6,275 3,295 618 14,990

10. Peningkatan Infrastruktur 7,006 76,218 128,605 77,534 289,364

Sumber : Hasil Analisis

3.1.6 Target dan Realisasi Pembiayaan

Pembiayaan Daerah merupakan semua penerimaan yangperlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Pembiayaan daerah terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan.Penerimaan pembiayaan sebagaimana dimaksud mencakup: 1) SiLPA tahun anggaran sebelumnya; 2) pencairan dana cadangan; 3) hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan; 4) penerimaan pinjaman; dan 5) penerimaan kembali pemberian pinjaman. Pengeluaran pembiayaan mencakup: 1) pembentukan dana cadangan; 2) penyertaan modal pemerintah daerah; 3) pembayaran pokok utang; dan 4) pemberian pinjaman.

Target dan realisasi pembiayaan tahun 2005-2011dapat disampaikan dalam tabel berukut :

(10)

Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015 Tabel 3.7

Target dan Realisasi Pembiayaan Tahun 2005-2011

Tahun Pembiayaan Bertambah/

Target Realisasi (Berkurang) %

2005 - - - 0.0%

2006 47,258,718,000 51,361,027,287 4,102,309,287.00 108.7%

2007 59,066,826,000 59,066,826,869 869.00 100.0%

2008 102,546,751,000 98,660,725,174 (3,886,025,826.00) 96.2%

2009 73,124,418,000 (2,550,000,000) (75,674,418,000.00) -3.5%

2010 255,769,526,000 228,781,364,518 (26,988,161,482) 89,4%

2011 167,271,206,000 122,005,633,580 (45,265,572,420) 72,94%

Sumber : DPPKAD, Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2005-2011 Anggaran tahun 2005 tidak ada alokasi untuk pembiayaan atau nihil. Pada Tahun 2006-2009 terdapat penerimaan pembiayaan yang berasal dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun sebelumnya (SILPA)dan untuk tahun 2009 tidak terdapat penerimaan pembiayaan karena terjadi surplus, dan pengeluaran pembiayaan yang dialokasikan untuk pembentukan dana cadangan dalam APBD 2007 dan penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah kepada Perusahaan Daerah dari tahun 2007- 2009.

3.1.7 Dana Tugas Pembantuan dan Dana Dekonsentrasi 1. Dana Tugas Pembantuan

Dana tugas pembantuan adalah dana yang berasal dari penugasan Pemerintah (Kementrian/ Lembaga) kepada Daerah (Gubernur/ Bupati/ Walikota) dan/ atau Desa atau sebutan lain dengan kewajiban melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan, yang dananya bersumber dari APBN.

Kurun waktu tahun 2007-2011, Pemerintah Pusat mendistribusikan anggaran Dana Tugas Pembantuan kepada Pemerintah Kabupaten Sukabumi yang tersebar pada 16 (enam belas) OPD yang meliputi Badan Pemerintahan Desa (Bapemdes), Dinas Pertanian, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Peternakan, RSUD Sekarwangi, RSUD Palabuhanratu, RSUD Jampangkulon, Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi, Dinas Pendidikan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Badan Penyuluh Pertanian Peternakan Perkebunan dan Kehutanan (BP4K), Dinas Kesehatan, Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan, Badan Pendidikan dan Pelatihan, Bagian Ketahanan

(11)

Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015 Pangan/Setda, serta Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA).

Rekapitulasi penerimaan dana tugas pembantuan adalah sebagai berikut :

Tabel 3.8

Rekapitulasi Penggunaan Dana Tugas Pembantuan Kabupaten Sukabumi T.A 2007-2011

No Nama Instansi

Alokasi Dana

Asal Bantuan

2007 2008 2009 2010 2011

1 Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa

15,050,000,000 34,039,500,000 71,324,830,000 112,340,000 Ditjen PMD

Depdagri

2 Dinas Pertanian dan

Tanaman Pangan 1,480,000,000 6,087,830,000 8,141,870,000 5,928,575,000 9,017,425,000 Ditjen Tanaman Pangan

13,683,365,000 10,629,852,000 Ditjen Tanaman

Pangan

3 Dinas Kehutanan

dan Perkebunan 1,181,927,000 251,080,000 793,544,000 6,900,570,000 Ditjen Perkebunan

Deptan

4 Dinas Peternakan 1,656,000,000 2,339,800,000 1,861,000,000 3,508,000,000 Ditjen Peternakan Deptan

5 RSUD Sekarwangi 5,000,000,000

Ditjen Bina Pelayanan Medik

Depkes 6 RSUD Palabuhanratu 1,500,000,000

Ditjen Bina Pelayanan Medik

Depkes 7 RSUD Jampangkulon 1,500,000,000

Ditjen Bina Pelayanan Medik

Depkes

8 Disnakertrans 115,000,000 2,178,716,000 4,525,000,000 864,500,000 513,550,000

Ditjen Pembinaan Pengembangan Masyarakat dan

Kawasan Transmigrasi

9 Dinas Pendidikan 2,214,000,000 3,876,000,000 6,092,800,000 585,820,000

Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.

10 Dinas Kelautan dan

Perikanan 8,000,000,000 6,125,000,000 1,795,052,000

Departemen Kelautan dan Perikanan

11 BP4K 3,929,952,000 1,564,630,000 2,175,102,000 Departemen

Pertanian

12 Dinas Pengelolaan

Sumber Daya Air 416,924,000 2,305,659,250 974,366,000 550,000,000 Ditjen Pengelolaan

SDA Dep.PU

13 Bagian Ketahanan

Pangan/Setda 1,035,000,000 Ditjen Tanaman

Pangan

14 Dinas Kesehatan 4,350,000,000 Kementrian

Kesehatan

15 Badan Pendidikan

dan Pelatihan 437,550,000

Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 16

Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan

1,500,000,000 Kementrian Perdagangan JUMLAH 41,583,216,000 61,346,537,250 102,126,462,000 22,160,505,000 30,895,409,000

(12)

Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015 2. Dana Dekonsentrasi

Dana Dekonsentrasi (DK) adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi, tidak termasuk dana yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat di daerah. Pelaksanaan dana dekonsentrasi dilakukan dalam rangka penyusunan RKPD Provinsi.

Distribusi alokasi dana APBN berupa dana dekonsentrasi yang diterima Provinsi Jawa Barat melalui OPD Provinsi Jawa Barat disampaikan secara langsung ke OPD-OPD Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi.

3.2 Strategi Pendanaan Daerah

Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan yang efektif dan efisien dalam kerangka desentralisai serta mewujudkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Sukabumi 2010 – 2015, dukungan sumber daya merupakan faktor yang cukup menentukan dalam mewujudkan visi dan misi dan arah kebijakan. Sumber pendanaan adalah salah satu instrumen penting dalam sumber daya. Pendanaan daerah secara umum mengindikasikan perkiraan besarnya kebutuhan anggaran yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.

Sumber pendanaan tidak dibatasi oleh sumber pendanaan yang berasal dari dana pemerintah tetapi sumber yang berasal dari masyarakat dan swasta yang memenuhi prinsip-prinsip penganggaran. Secara umum prinsip-prinsip aspek pendanaan RPJMD Tahun 2010-2015 yaitu :

1. Peningkatan sumber-sumber pendapatan pemerintah daerah baik melalui upaya intensifikasi maupun ektensifikasi berdasarkan peraturan perundangan yang ada, maupun yang dapat dikembangkan lebih lanjut oleh pemerintah daerah sesuai dengan kewenangan yang dimiliki;

2. Pembinaan untuk mewujudkan suatu iklim yang semakin kondusif bagi peningkatan pembiayaan melalui skema/pola kemitraan, baik antara pemerintah daerah dengan masyarakat, antara masyarakat dengan swasta atau ketiganya.

3.2.1 Arah Kebijakan Pendapatan Daerah

Berlakunya UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) merupakan langkah yang strategis

(13)

Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015 dan fundamental dalam memantapkan kebijakan desentralisasi fiskal, khususnya dalam rangka membangun hubungan keuangan antara Pusat dan Daerah yang lebih ideal. UU PDRD ini paling tidak memperbaiki 3 (tiga) hal, yaitu: penyempurnaan sistem pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah, pemberian kewenangan yang lebih besar kepada daerah di bidang perpajakan (local taxing empowerment), dan peningkatan efektifitas pengawasan. Ketiga hal tersebut berjalan secara bersamaan, sehingga upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dilakukan dengan tetap sesuai dan konsisten terhadap prinsip- prinsip perpajakan yang baik dan tepat, dan diperkenankan sanksi apabila terjadi pelanggaran.

Penguatan local taxing power dilakukan dengan berbagai cara, antara lain, menambah jenis pajak daerah dan retribusi daerah, memperluas basis pajak daerah dan retribusi daerah yang sudah ada, mengalihkan beberapa jenis pajak pusat menjadi pajak daerah, dan memberikan diskresi (keleluasaan) kepada daerah untuk menetapkan tarif. Disamping itu, tarif maksimum beberapa jenis pajak daerah juga dinaikkan untuk memberikan ruang gerak yang lebih fleksibel bagi daerah dalam melakukan pemungutan pajak daerah sesuai kebijakan dan kondisi daerahnya.

Kebijakan pendapatan Kabupaten Sukabumi Tahun Anggaran 2011-2015 terbagi berdasarkan 3 (tiga) komponen pendapatan, yaitu:

1. Pendapatan Asli Daerah yang merupakan hasil penerimaan dari sumbersumber pendapatan yang berasal dari potensi daerah sesuai dengan kewenangan yang dimiliki dalam rangka membiayai urusan daerah. Kebijakan pendapatan asli daerah sebagai upaya yang diarahkan untuk meningkatkan pendapatan daerah meliputi :

a. Mengoptimalkan Penerimaan Pendapatan Asli Daerah dari sumber pajak dan retribusi dengan cara:

1) Meningkatkan Basis Pajak dan Retribusi melalui :

 Identifikasi wajib pajak dan retribusi yang baru/potensial

 Penyusunan database obyek pajak dan retribusi

 Penilaian atas obyek kena pajak dan retribusi

 Perhitungan secara rasional kapasitas penerimaan dari tiap-tiap sumber penerimaan sehingga memperoleh tarif yang optimal

2) Meningkatkan Pengendalian melalui :

Audit khusus sebagai komplemen dari prosedur self- assesment

 Perbaikan prosedur pengendalian untuk mengurangi kebocoran

(14)

Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015

 Penerapan hukuman berupa denda yang signifikan atas ketidakpatuhan membayar pajak.

 Pemberian sanksi bagi pegawai yang menimbulkan kebocoran

3) Pengelolaan Administrasi melalui :

 Penyederhanaan prosedur perpajakan

 Upaya untuk menghitung tingkat efisiensi pemungutan tiap-tiap jenis penerimaan

 Pengurangan biaya pemungutan dalam rangka efisiensi

 Pemantapan Kelembagaan dan Sistem Operasional Pemungutan Pendapatan Daerah;

b. Meningkatkan koordinasi secara sinergis di bidang Pendapatan Daerah dengan OPD Penghasil;

c. Mengoptimalkan kinerja Badan Usaha Milik Daerah untuk memberikan kontribusi secara signifikan terhadap Pendapatan Daerah;

d. Meningkatkan pelayanan dan perlindungan masyarakat sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam membayar retribusi daerah;

f. Meningkatkan kualitas pengelolaan aset dan keuangan daerah.

2. Dana Perimbangan merupakan pemberian sumber keuangan negara (APBN) kepada Pemerintahan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi didasarkan atas penyerahan tugas oleh Pemerintah kepada Pemerintah Daerah dengan memperhatikan stabilitas dan keseimbangan fiskal. Dana Perimbangan terdiri atas 1) Dana Bagi Hasil; 2) Dana Alokasi Umum; dan 3) Dana Alokasi Khusus. Kebijakan yang akan ditempuh dalam upaya peningkatan pendapatan daerah dari Dana Perimbangan adalah sebagai berikut:

a. Memperbaharui data-data yang diperlukan dalam penghitungan formulasi DAU, seperti jumlah PNS yang up to date, kebutuhan fiscal yang memang sesuai perhitungan yang benar;

b. Meningkatkan akurasi data Sumber Daya Alam sebagai dasar perhitungan pembagian dalam Dana Perimbangan;

c. Memperbaharui data teknis bidang untuk memenuhi kriteria teknis dalam pengalokasian Dana Alokasi Khusus (DAK)

d. Meningkatkan koordinasi dengan Pemerintah Pusat dalam pelaksanaan Dana Perimbangan.

3. Komponen lain-lain pendapatan yang sah meliput hibah, dana darurat, dana bagi hasil pajak, dana penyesuaian dan otonomi khusus serta bantuan keuangan dari provinsi atau dari

(15)

Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015 pemerintah daerah lainnya. Selama ini komponen yang memiliki kontribusi kepada pendapatan Kabupaten Sukabumi adalah dari bagi hasil pajak dan bantuan keuangan dari provinsi atau dari pemerintah daerah lainnya. Kebijakan yang akan ditempuh dalam upaya peningkatan pendapatan daerah dari Lain-Lain Pendapatan yang Sah adalah sebagai berikut:

a. Meningkatkan akurasi data potensi Bagi hasil pajak propinsi seperti data kendaraan bermotor, jumlah transaksi kendaraan bermotor dan konsumsi bahan bakar kendaraan bermotor.

b. Meningkatkan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam kaitan bantuan keuangan kepada Kabupaten Sukabumi.

c. Meningkatkan koordinasi dengan Pemerintah Pusat dalam kaitan dana penyesuaian.

3.2.2 Arah Kebijakan Belanja Daerah

Berpedoman pada prinsip-prinsip penganggaran, belanja daerah Tahun 2011-2015 disusun dengan pendekatan anggaran kinerja yang berorientasi pada pencapaian hasil dari input yang direncanakan. Belanja daerah diarahkan pada peningkatan proporsi belanja untuk kepentingan public serta dapat memberikan dukungan pada program-program strategis daerah dan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Prioritas pembangunan pada RPJMD tahapan kedua ditujukan untuk meningkatkan kualitas SDM pada segala bidang serta akselerasi pembangunan wilayah-wilayah tertinggal dan atau wilayah pengembangan khusus; menumbuhkembangkan ekonomi berbasis pedesaan; pemanfaatan teknologi tepat guna, penguatan pranata sosial, peningkatan infrastruktur sampai pedesaan. Upaya tersebut bertujuan untuk menyiapkan kemandirian masyarakat Kabupaten Sukabumi.

Pengalokasian belanja daerah dilakukan prinsip efisiensi, efektivitas dan ekonomis dengan mengacu kepada kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Sukabumi tahun 2010-2015. Arah pengelolaan belanja daerah diprioritaskan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan daerah yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan sebagaimana ditetapkan dalam ketentuan perundang- undangan.Kebijakan belanja diselaraskan dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten dengan menggunakan indeks relevansi anggaran yang menekankan pada belanja tidak langsung dan belanja langsung. Arah kebijakan pengalokasian belanja tidak langsung dan belanja langsung adalah sebagai berikut :

(16)

Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015 1. Arah Kebijakan Belanja Tidak Langsung

Belanja tidak langsung merupakan Jenis belanja yang tidak langsung dapat diukur dengan keluaran dan hasil yang diharapkan dari suatu program dan kegiatan. Belanja tidak langsung dialokasikan dalam rangka terselenggaranya penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Sukabumi. Arah kebijakan belanja tidak langsung meliputi :

a. Belanja pegawai yang merupakan belanja kompensasi dalam bentuk gaji dan tunjangan, serta penghasilan lainnya yang diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil, Kepala Daerah/Wakil dan Legislatif yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

b. Belanja bantuan sosial yang digunakan untuk menganggarkan pemberian bantuan dalam bentuk uang dan/atau barang kepada masyarakat yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat;

c. Belanja hibah yang digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah dalam bentuk uang, barang dan/atau jasa kepada pemerintah daerah, dan kelompok masyarakat atau perorangan yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya;

d. Belanja tidak terduga yang merupakan belanja untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa atau tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana alam dan bencana sosial yang tidak diperkirakan sebelumnya, termasuk pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahun-tahun sebelumnyayang telah ditutup.

g. Belanja bagi hasil yang digunakan untuk menganggarkan dana bagi hasil yang bersumber dari pendapatan provinsi kepada kabupaten/kota atau pendapatan kabupaten/kota kepada pemerintah desa atau pendapatan pemerintah daerah tertentu kepada pemerintah daerah lainnya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Belanja bagi hasil dialokasikan pada pemerintahan desa sebagai bagi hasil pajak dan retribusi daerah;

h. Belanja bantuan keuangan yang digunakan untuk menganggarkan bantuan keuangan yang bersifat umum atau khusus dari provinsi kepada kabupaten/kota, pemerintah desa dan kepada pemerintah daerah lainnya atau dari pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa dan pemerintah daerah lainnya dalam rangka pemerataan dan/atau peningkatan kemampuan keuangan.

Bantuan keuangan yang bersifat khusus untuk desa diperuntukan bagi Dana Perimbangan (Alokasi Dana Desa).

(17)

Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015 2. Arah Kebijakan Belanja Langsung

Belanja langsung merupakan Jenis belanja yang langsung dapat diukur dengan hasil dari suatu program dan kegiatan yang dianggarkan, termasuk efisiensi dalam pencapaian keluaran dan hasil. Belanja langsung diarahkan dalam rangka mencapai target- target pembangunan yang telah dituangkan dalam dokumen RPJMD 2010-2015. Kebijakan Belanja Langsung diarahkan kepada :

a. Belanja Peningkatan Kualitas Perilaku dan Modal Sosial Masyarakat diarahkan dalam rangka Perlindungan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil, dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial lainnya, Pelayanan Kesejahteraan Sosial dan Bantuan Bencana Alam, Peningkatan Toleransi Kehidupan Beragama, Peningkatan Pengetahuan, Pemahaman, Penghayatan, dan Pengamalan Nilai-nilai Keagamaan, Penguatan Lembaga-lembaga Sosial dan Lembaga Pendidikan Keagamaan, Pengembangan Nilai-nilai Budaya Lokal, Penguatan Lembaga Kebudayaan, Pemeliharaan Keamanan, Ketertiban, dan Perlindungan Masyarakat, Penguatan Kelembagaan Sosial dan Organisasi Massa Program Penjalinan Koordinasi dan Komunikasi dengan Kelembagaan Politik, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Peningkatan Budaya Baca Masyarakat, Peningkatan Kualitas Pelayaanan Perpustakaan

b. Belanja Peningkatan Akses Layanan dan Kualitas Pendidikan difokuskan pada Pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan 12 Tahun, Pemerataan Kesempatan Pendidikan bagi Masyarakat yang Tidak Mampu, Peningkatan Kualitas Pendidikan Dasar, Peningkatan Kualitas Pendidikan Menengah, Peningkatan Kualitas Pendidikan Non Formal, Peningkatan Kualitas Manajemen Pelayanan Pendidikan, Peningkatan Kualitas Sarana dan Prasarana Pendidikan, Peningkatan Kualitas Guru

c. Belanja Peningkatan Akses Layanan dan Derajat Kesehatan diarahkan dalam rangka Pengadaan dan Pengelolaan Obat dan Perbekalan Kesehatan, Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat, Perbaikan dan Peningkatan Gizi Masyarakat, Peningkatan Kualitas Lingkungan, Peningkatan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Sehat, Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin, Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Peningkatan Kualitas Sarana dan Prasarana Kesehatan

d. Belanja Pengendalian Penduduk, Penanggulangan Kemiskinan, dan Pengangguran diarahkan pada Pengendalian

(18)

Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015 Penduduk dan Keluarga Berencana, Keluarga Sakinah, Transmigrasi

e. Belanja Pembangunan Etos Kerja dan Produktivitas diarahkan pada Pembinaan dan Peningkatan Partisipasi Pemuda dan Prestasi Olahraga, Perluasan dan Pemerataan Kesempatan Kerja, Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja, Perlindungan Tenaga Kerja, Penguatan Lembaga Tenaga Kerja

f. Belanja Pembangunan Budaya Organisasi Pemerintahan yang Bersih, Peduli, dan Profesional diarahkan pada Penjalinan Komunikasi dan Kerjasama Media Massa Peningkatan Publikasi dan Informasi Daerah, Peningkatan Komunikasi Data Online Pengembangan Sistem Informasi Terintegrasi.

g. Belanja Peningkatan Kinerja Pemerintahan dan Kualitas Pelayanan Publik diarahkan pada Peningkatan Kualitas Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan, Peningkatan Kualitas Pelayanan Kedinasan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, Peningkatan Kualitas Pengelolaan Keuangan Daerah, Intensifikasi dan Diversifikasi Sumber-sumber Penerimaan Daerah, Peningkatan Kualitas Kelembagaan Pemerintahan Daerah, Ketatalaksanaan, Peningkatan Kualitas Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah, Penegakan Supremasi Hukum, Pengelolaan Wilayah Administrasi Kecamatan dan Desa, Pendidikan Kedinasan, Peningkatan Kualitas Sumber Daya Aparatur, Pengelolaan dan Pemberdayaan Sumber Daya Aparatur, Pembangunan Budaya Organisasi Pemerintah yang Bersih, Peduli, dan Profesional, Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik, Penataan Administrasi Kependudukan Berbasis IT, Penataan Sistem Pertanahan Berbasis GIS dan Pengelolaan Pertanahan, Peningkatan Kualitas Statistik Daerah, Peningkatan Kualitas dan Pelayanan Tata Kearsipan.

h. Belanja Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Pembangunan diarahkan pada Peningkatan Partisipasi Masyarakat dan Pemberdayaan Desa

i. Belanja Penyiapan Infrastruktur dan Suprastruktur Pemekaran diarahkan pada Persiapan Infrastruktur dan Suprastruktur Pemekaran

j. Belanja Peningkatan Daya Beli dan Ketahanan Pangan Masyarakat diarahkan pada Peningkatan Ketahanan Pangan, Pemberdayaan Masyarakat Nelayan, Peningkatan Produktivitas Hasil Kelautan dan Perikanan, Pemberdayaan Masyarakat Petani, Peningkatan Produktivitas Pertanian, Pengembangan Agrobisnis

(19)

Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015 k. Belanja Pengembangan Ekonomi Berbasis Potensi Lokal dan Lembaga Keuangan Mikro diarahkan pada Penciptaan Iklim yang Kondusif untuk KUKM dan Peningkatan Kualitas KUKM l. Belanja Peningkatan Ketersediaan dan Kualitas Infrastruktur Daerah diarahkan pada Pembangunan Jalan dan Jembatan, Peningkatan Pemantapan Jalan Desa, Peningkatan Pemantapan Jalan Kabupaten, Peningkatan Pemantapan Jembatan, Peningkatan Cakupan Jaringan Irigasi, Pengelolaan Jaringan Irigasi, Rawa dan Jaringan Pengairan Lainnya, Peningkatan Sistem Pelayanan Air Minum, Peningkatan Sistem Pembuangan Air Limbah, Peningkatan Sistem Pengelolaan Persampahan, Peningkatan Sistem Drainase, Penataan Keselamatan Bangunan, Peningkatan Sistem Pengelolaan Pertamanan, Peningkatan Sistem Pemakaman, Ketenagalistrikan dan Energi, Perumahan Rakyat, Peningkatan Kualitas Permukiman, Penyediaan dan Pengelolaan Air Bersih m. Belanja Penciptaan iklim investasi yang kondusif dan Pembangunan Industri di Berbagai Sektor yang Memiliki Daya Saing dan Berwawasan Lingkungan diarahkan pada Peningkatan Promosi Potensi Daerah, Peningkatan Kerjasama dan Realisasi Investasi, Penciptaan Iklim Investasi yang Kondusif, Pengelolaan dan Kelancaran Transportasi Darat, Pembangunan dan Pemelihaaan Sarana Prasarana Transportasi Darat, Pembinaan dan Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Industri Rumah Tangga / UKM, Promosi dan Pemasaran Industri Unggulan, Perlindungan Konsumen, Pembangunan dan Pemeliharaan Pasar serta Sarana Perdagangan Lainnya, Pembinaan dan Pengelolaan Usaha Pertambangan dan Sumber Daya Mineral dan Energi Berwawasan Lingkungan, Pemberdayaan Masyarakat Kawasan Hutan dan Perlindungan Hutan Konservasi, Peningkatan Produktivitas Kehutanan, Pencegahan dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan Hidup, Pengelolaan Kualitas Lingkungan Hidup, serta Pemanfaatan dan Pengendalian Tata Ruang.

3. Arah Kebijakan Pembiayaan

Pembiayaan ditetapkan untuk menutup defisit yang disebabkan oleh lebih besarnya belanja daerah dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh. Penyebab utama terjadinya defisit anggaran adalah adanya kebutuhan pembangunan daerah yang semakin meningkat. Kebijakan Pembiayaan Daerah terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan.

(20)

Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015 a. Penerimaan Pembiayaan

Penerimaan pembiayaan adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya, mencakup : sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya (SiLPA); pencairan dana cadangan; hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan; penerimaan pinjaman daerah;

penerimaan kembali pemberian pinjaman; dan penerimaan piutang daerah. Penerimaan pembiayaan tahun 2011-2015 mengoptimalkan Sisa Lebih Anggaran tahun sebelumnya (SiLPA) yang dipergunakan sebagai sumber penerimaan pada APBD tahun berikutnya dan pembentukan SilPA diupayakan seminimal mungkin dengan melaksanakan perencanaan dan pelaksanaan anggaran secara konsisten.

b. Pengeluaran Pembiayaan

Pengeluaran pembiayaan adalah pengeluaran yang akan diterima kembali baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya, mencakup : pembentukan dana cadangan; penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah; pembayaran pokok utang; dan pemberian pinjaman daerah. Pengeluaran pembiayaan tahun 2011-2015 meliputi 1) penyertaan modal BUMD. 2) Pembentukan dana cadangan

4. Arah Pengelolaan Dana Tugas Pembantuan, Dana Dekonsentrasi Dana Badan Usaha dan Dana Masyarakat

Dana tugas pembantuan dan Dana Dekonsentrasi yang pengalokasiannya diarahkan kepada daerah dengan tujuan mewujudkan prioritas nasional yang telah ditetapkan dalam RPJMN. Kebijakan Kabupaten Sukabumi dalam pengelolaan dana tugas pembantuan dan dana dekonsentrasi diarahkan pada pencapaian program-program RPJMD yang bersinergi dengan program-program nasional di daerah.

Sementara dana yang berasal dari badan usaha dan masyarakat merupakan potensi daerah yang masih perlu terus dikembangkan dan didorong untuk mendukung proses pembangunan. Potensi dana dunia usaha dan masyarakat yang masih dapat dikembangkan seperti Corporate Social Resposnsibility (CSR) dan Zakat. Pelaksanan CSR oleh badan usaha yang beroperasi di Indonesia telah diamanatkan dalam UU No.40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. CSR selanjutnya lebih diarahkan kepada peningkatan keselarasan kegiatannya dengan

(21)

Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015 program pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan nasional, antara lain termasuk pencapaian Millenium Development Goals (MDGs). Mengingat potensi CSR cukup besar dalam menunjang pencapaian tujuan pembangunan, maka harus dilakukan upaya harmonisasi kebijakan lembaga/perusahaan dengan pemerintah daerah dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan kegiatan.

Skema pendanaaan pembangunan lain yang semakin berkembang adalah yang terkait dengan keagamaan, seperti zakat.

Beberapa badan pengelola zakat sudah mulai mengembangkan sistem pengelolaan zakat secara lebih profesional dan juga berpotensi untuk mendukung program pemerintah. Untuk itu, sumber dana ini terus didorong agar semakin meningkat, antara lain melalui penguatan lembaga dan manajemen pengelolaan dana berbasis keagamaan serta pemanfaatannya selaras dengan pembangunan daerah.

Selain sumber dan skema pendanaan di atas, terdapat skema global yang berpotensi sebagai sumber pendanaan pembangunan daerah seperti : UNICEF, WISMP, PNPM Carbon Trade dan lain sebagainya. Dalam upaya pemanfaatan sumber pendanaan tersebut, dilakukan pengembangan dan penguatan kebijakan dan kapasitas kelembagaan yang dapat mendukung pemanfaatan dana-dana tersebut.

3.3 Perkiraan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)

Berdasarkan tinjauan terhahap kecenderungan (trend) pencapaian pendapatan daerah selama tahun 2005 – 2011 dan proyeksi pendapatan dalam RPJM Nasional dan RPJM Propinsi Jawa Barat serta kapasitas dinas penghasil, maka diperkirakan penerimaan pendapatan Kabupaten Sukabumi dari PAD mengalami pertumbuhan 15% dan dari dana Perimbangan dan Pendapatan lain tumbuh 8%.

Secara keseluruhan pendapatan mengalami pertumbuhan sebesar 8 - 9 %. Asumsi ini sudah termasuk kenaikan gaji PNS yang setiap tahun ditetapkan pemerintah pusat. Dengan struktur BTL : BL sebesar 60 % : 40 %, maka proyeksi APBD Kabupaten Sukabumi Tahun 2010-2015 dapat dilihat pada tabel berikut :

(22)

Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015 Tabel 3.9

Proyeksi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Sukabumi Tahun 2010-2015 (Dalam Rupiah)

APBD 2010

(Eksisting)

Tahun Rencana

2011 2012 2013 2014 2015

I. PENDAPATAN 1.551.849.470.736,00 1.682.444.358.511,00 1.824.453.876.825,00 1.978.936.252.049,00 2.147.056.127.053,00 2.330.096.338.282,00 1. PAD 92.099.001.652,00 105.913.851.900,00 121.800.929.685,00 140.071.069.137,00 161.081.729.508,00 185.243.988.934,00 2. PERIMBANGAN 1.233.855.548.310,00 1.332.563.992.175,00 1.439.169.111.549,00 1.554.302.640.473,00 1.678.646.851.711,00 1.812.938.599.848,00 3. PENDAPATAN LAIN 225.894.920.774,00 243.966.514.436,00 263.483.835.591,00 284.562.542.439,00 307.327.545.834,00 331.913.749.500,00

II. BELANJA 1.551.849.470.736,00 1.682.444.358.511,00 1.824.453.876.825,00 1.978.936.252.049,00 2.147.056.127.053,00 2.330.096.338.282,00 1. BELANJA TIDAK LANGSUNG 931.109.682.442,00 1.009.466.615.106,00 1.094.672.326.095,00 1.187.361.751.229,00 1.288.233.676.231,00 1.398.057.802.969,00 2. BELANJA LANGSUNG 620.739.788.294,00 672.977.743.405,00 729.781.550.730,00 791.574.500.819,00 858.822.450.822,00 932.038.535.313,00

Gambar

Grafik Perkembangan Pendapatan Kabupaten Sukabumi Tahun 2005-2011  Berdasarkan Sumber Penerimaan

Referensi

Dokumen terkait

Serta semua pihak yang telah membantu selama proses Projek Akhir Arsitektur / PAA 68. Didalam LTP ini masih banyak terdapat kekurangan, dan perlu dikaji untuk

Kondisi inilah yang mendorong untuk mencoba menggunakan model FFNN dengan pelatihan AG untuk prediksi data harga saham, namun yang menjadi masalah adalah

Hasil penghitungan analisa Gambar 6 diatas menunjukkan persentase pemotongan sapi perah betina umur produktif sebanyak 26 % atau 47 ekor dari total pemotongan 184

Merupakan analisa faktor eksternal dan internal perusahaan, dimana analisa ini akan dijadikan informasi bagi manajer untuk melihat kekuatan, kelemahan, peluang, dan

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penerapan IFRS, kendala yang dihadapi pada saat penerapan IFRS dan perbedaan antara laporan keuangan versi

Teori kesantunan berbahasa Brown dan Levinson berdasar pada konsep muka (face). Muka atau citra diri seseorang dapat jatuh. Oleh karena itu, muka perlu dijaga atau

Untuk menganalisis pengaruh investasi, tenaga kerja, pengalaman kerja, dan kapasitas produksi terhadap nilai produksi pengrajin perak di Desa Celuk Kecamatan

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa, Hakim Pengadilan Negeri Gorontalo dalam memeriksa dan memutus berdasarkan Putusan Praperadilan