1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kegiatan perencanaan gizi di Indonesia telah mulai dilakukan dari Pelita I. Pada awal-awal pelaksanaannya perencanaan gizi dilandasi oleh informasi yang sangat terbatas, berasal dari hasil-hasil penelitian di berbagai daerah, sehingga sering menggambarkan keadaan yang kurang tepat bagi seluruh wilayah Indonesia.
Didorong oleh permasalahan yang dihadapi terutama masalah rawan pangan di berbagai daerah, memicu minat kalangan gizi di Indonesia untuk mulai melakukan kegiatan-kegiatan kearah pengembangan suatu sistem sesuai dengan kebutuhan dan situasi di Indonesia.
Pemerintah pun menganggap Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) penting dan sudah waktunya untuk dikembangkan untuk menunjang usaha pembangunan yang semakin meningkat.
Prinsip-prinsip yang selanjutnya digunakan sebagai penuntun dalam upaya pengembangan SKPG di Indonesia antara lain :
a. SKPG dikembangkan secara bertahap dengan memperhatikan tujuan- tujuan SKPG yang hendak dicapai
b. Pengembangan SKPG dipusatkan pada salah satu masalah gizi yang penting dan menjadi prioritas
c. Pengembangan SKPG semaksimal mungkin memanfaatkan apa yang sudah ada, baik data maupun organisasi
Pendekatan yang digunakan untuk tujuan tersebut diatas dimulai dengan menyusun suatu rencana usulan proyek pengembangan SKPG di Indonesia pada tahun 1979 Proyek penelitian dan pengembangan SKPG dilaksanakan di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat dan
2 Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah dengan dukungan dari Cornell University Amerika Serikat. Dari pilot Proyek di Lombok Tengah dan Boyolali diperoleh proses pengembangan sistem Isyarat Dini untuk Intervensi (SIDI), proyek ini selanjutnya diaplikasikan di seluruh Indonesia.
Dalam perkembangan selanjutnya masalah pangan dan gizi dapat terjadi setiap waktu dan tidak hanya tergantung pada kegagalan produksi.
Oleh karena itu dalam periode 1990–1997, SKPG dikembangkan dengan lingkup yang lebih luas ke seluruh Indonesia, dengan komponen kegiatan terdiri dari :
1. Sistem Isyarat Dini untuk Intervensi (SIDI) 2. Pemantauan Status Gizi, dan
3. Jejaring Informasi Pangan dan Gizi (JIPG)
Berbagai permasalahan tentang pangan dapat dipahami sebagai keadaan yang meliputi kelebihan, kekurangan, ketidakmampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan pangan. Penanganan masalah pangan perlu mendapatkan fokus perhatian karena sangat terkait dengan upaya- upaya pemenuhan hak azasi akan pangan bagi masyarakat dan pembentukan sumberdaya manusia. Terwujudnya ketahanan pangan dihasilkan oleh keterkaitan bebarapan aspek yaitu : (1) aspek ketersediaan, (2) aspek distribusi, (3) aspek konsumsi.
Pembangunan ketahanan pangan memerlukan harmonisasi dari pembangunan ketiga aspek tersebut. Pendekatan yang ditempuh dalam membangun ketiga aspek tersebut adalah koordinasi pemberdayaan masyarakat secara partisipatif.
Kondisi terpenuhi/tidak terpenuhinya ketersediaan pangan baik skala rumah tangga, kabupaten/kota maupun lingkup yang lebih luas lagi akan selalu mengalami dinamisasi dalam menghadapi tantangan dan permasalahan, karena sangat dipengaruhi oleh kemampuan atau potensi sumberdaya yang dimiliki dalam menghasilkan produksi untuk mendukung
3 ketersediaan pangan suatu daerah, kelancaran fasilitasi input produksi baik yang disediakan oleh pemerintah maupun masyarakat. Hal yang demikian ini dapat menjadikan suatu daerah yang secara agroklimat potensial menjadi daerah rawan pangan.
Berbagai kondisi pemenuhan ketersediaan pangan dapat memberikan gambaran yang komprehensif ada/tidaknya masalah pangan yang harus dideteksi sedini mungkin dan diketahui penyebabnya, antara lain :
1. Besarnya kemampuan dan potensi suatu wilayah untuk menyediakan pangan dari wilayah sendiri atau adanya pasokan dari luar tanpa memperhatikan ketersediaan pangan yang sudah ada, sehingga ketersediaan pangan menjadi berlebih.
2. Rendahnya kemampuan atau potensi sumberdaya suatu wilayah untuk menyediakan pangan dari wilayahnya maupun memenuhi ketersediaan pangan melalui pasokan sehingga ketersediaan pangan wilayah tidak dapat memenuhi kebutuhan produk pangan yang dapat mengakibatkan timbulnya kerawanan pangan.
3. Rendahnya akses fisik dan akses rumah tangga/individu untuk memenuhi pangan yang cukup (ketidakmampuan rumah tangga/
individu) dalam memenuhi kebutuhan pangannya sehingga dapat dimungkinkan terjadi kerawanan pangan.
Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pendapatan dan mengatasi kerawanan pangan yang terjadi di masyarakat. Kepedulian, keterbatasan kemampuan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia untuk melakukan upaya mengatasi kerawanan pangaan yang ada di sekitarnya.
Kegiatan perencanaan gizi di Indonesia telah mulai dilakukan dari Pelita I. Pada awal-awal pelaksanaannya perencanaan gizi dilandasi oleh informasi yang sangat terbatas, berasal dari hasil-hasil penelitian di berbagai daerah, sehingga sering menggambarkan keadaan yang kurang tepat bagi seluruh wilayah Indonesia.
4 Didorong oleh permasalahan yang dihadapi terutama masalah rawan pangan di berbagai daerah, memicu minat kalangan gizi di Indonesia untuk mulai melakukan kegiatan-kegiatan ke arah pengembangan suatu sistem sesuai dengan kebutuhan dan situasi di Indonesia. Pemerintah pun menganggap Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) penting dan sudah waktunya untuk dikembangkan untuk menunjang usaha pembangunan yang semakin meningkat. Prinsip-prinsip yang selanjutnya digunakan sebagai penuntun dalam upaya pengembangan SKPG di Indonesia, antara lain: (a) SKPG dikembangkan secara bertahap dengan memperhatikan tujuan SKPG yang hendak dicapai,(b) pengembangan SKPG dipusatkan pada salah satu masalah gizi yang penting dan menjadi prioritas, (c) pengembangan SKPG semaksimal mungkin memanfaatkan apa yang sudah ada, baik data maupun organisasi.
Pendekatan yang digunakan untuk tujuan tersebut di atas dimulai dengan menyusun suatu rencana usulan proyek pengembangan SKPG di In- donesia pada tahun 1979. Proyek penelitian dan pengembangan SKPG dilaksanakan di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat dan Kabupaten Boyolali,Jawa Tengah dengan dukungan dari Cornell University Amerika Serikat. Dari pilot proyek di Lombok Tengah dan Boyolali diperoleh proses pengembangan Sistem Isyarat Dini untuk Intervensi (SIDI). Pilot proyek ini selanjutnya diaplikasikan di seluruh Indonesia.
Dalam perkembangan selanjutnya masalah pangan dan gizi dapat terjadi setiap waktu dan tidak hanya tergantung pada kegagalan produksi.
Oleh karena itu dalam periode 1990-1997 SKPG dikembangkan dengan lingkup yang lebih luas ke seluruh Indonesia, dengan komponen kegiatan terdiri dari: (1) Sistem Isyarat Dini untuk Intervensi (SIDI), (2) Pemantauan Status Gizi, dan (3) Jejaring Informasi Pangan dan Gizi (JIPG).
SKPG sampai saat ini masih dirasakan sangat penting sebagaimana dinyatakan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah
5 Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten dan Kota, dimana sebagian aspek-aspek penanganan kerawanan pangan merupakan urusan daerah.
Pemerintahan Provinsi mempunyai kewajiban:
1. Pencegahan dan pengendalian masalah pangan akibat menurunnya ketersediaan pangan di daerah karena berbagai sebab;
2. Pencegahan dan penanggulangan masalah pangan sebagai akibat menurunya mutu, gizi dan keamanan pangan;
3. Peningkatan dan pencegahan penurunan akses pangan masyarakat;
4. Penanganan dan pengendalian kerawanan pangan.
Pemerintahan Kabupaten/Kota mempunyai kewajiban penanganan urusan ketahanan pangan yang terkait dengan SKPG seperti:
1. Melakukan identifikasi kelompok rawan pangan;
2. Melakukan penanganan penyaluran pangan untuk kelompok rawan pangan tingkat kabupaten;
3. Melakukan pencegahan dan pengendalian, serta penanggulangan masalah pangan sebagai akibat penurunan akses pangan, mutu, gizi, ketersediaan dan keamanan pangan;
4. Melakukan pengumpulan dan analisis informasi ketahanan pangan kabupaten untuk penyusunan kebijakan ketahanan pangan tingkat provinsi dan nasional.
B. Tujuan
1. Mewaspadai timbulnya ancaman kerawanan pangan, kelaparan dan gizi buruk dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan dan gizi penduduk Jawa Tengah.
2. Sebagai dasar untuk mengetahui situasi pangan dan gizi di suatu daerah.
3. Mencegah dan menanggulangi kejadian kelaparan dan gizi buruk.
C. Sasaran
Pemetaan dan peramalan situasi pangan dan gizi di Provinsi Jawa Tengah.
6 D. Keluaran
1. Tersedianya informasi situasi pangan dan gizi tahunan
2. Tersedianya informasi hasil investigasi daerah yang diindikasikan rawan pangan
3. Tersusunnya rekomendasi kebijakan dan pelaksanaan intervensi bagi penanganan kerawanan pangan dan gizi
4. Tersedianya laporan dan rekomendasi kebijakan dan perencanaan program yang berkaitan dengan pangan dan gizi.
E. Ruang Lingkup
Ruang lingkup kegiatan SKPG terdiri dari pengumpulan, pemrosesan, penyimpanan, analisis, dan penyebaran informasi situasi pangan dan gizi serta investigasi mendalam (indepth investigation) bagi Kabupaten dan Kecamatan yang diindikasikan akan terjadi kerawanan pangan dan gizi.
Hasil analisis SKPG dapat dimanfaatkan sebagai bahan perumusan kebijakan, perencanaan, penentuan intervensi atau tindakan dalam penanganan kerawanan pangan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota.
7
BAB II
GAMBARAN UMUM SITUASI PANGAN DAN GIZI
2.1. Ketersediaan Pangan 2.1.1. Produksi Padi
Tanam padi di Jawa Tengah tahun 2014 seluas 1.874.375 ha dengan luas puso 41.812 ha sehingga diperoleh luas panen 1.800.908 ha dengan produksi 9.648.104 ton menurun 6,73 % dibanding tahun 2013 sebesar 10.344.816 ha.
Tabel 1 : Produksi Padi di Jawa Tengah Tahun 2014
No Kabupaten/Kota Luas Tanam
(Ha) Luas Puso
(Ha) Luas Panen
(Ha) Produksi (Ha)
1 Cilacap 141.718 1.239 132.074 697.918
2 Banyumas 65.792 1.081 63.831 316.917
3 Purbalingga 34.841 94 36.149 174.031
4 Banjarnegara 26.167 89 25.684 147.391
5 Kebumen 91.418 630 80.248 447.306
6 Purworejo 54.106 92 55.526 298.341
7 Wonosobo 29.201 3 30.528 152.321
8 Magelang 57.159 6 57.579 334.987
9 Boyolali 51.678 85 49.781 266.490
10 Klaten 63.575 189 63.751 344.548
11 Sukoharjo 48.576 24 49.028 310.276
12 Wonogiri 90.722 88 74.672 395.043
13 Karanganyar 49.174 739 46.671 289.381
14 Sragen 103.174 535 100.061 584.627
15 Grobogan 118.508 540 113.540 579.076
16 Blora 80.769 13 82.732 424.436
17 Rembang 42.992 2.131 39.673 182.545
18 Pati 104.489 11.690 92.559 497.070
19 Kudus 26.510 5.661 21.682 129.088
20 Jepara 47.427 7.519 38.833 204.011
21 Demak 100.215 3.488 96.675 566.627
22 Semarang 39.340 196 38.510 218.529
23 Temanggung 25.425 35 27.156 161.625
24 Kendal 45.842 1.784 43.616 235.580
25 Batang 39.306 268 42.007 178.492
26 Pekalongan 42.229 1.609 42.604 172.078
27 Pemalang 80.163 1.533 82.961 421.639
28 Tegal 62.412 120 60.649 297.206
29 Brebes 99.308 133 99.756 571.508
8
No Kabupaten/Kota Luas Tanam (Ha)
Luas Puso (Ha)
Luas Panen (Ha)
Produksi (Ha)
30 Kota Magelang 528 0 523 3.043
31 Kota Surakarta 209 0 185 956
32 Kota Salatiga 1.287 0 1.328 7.652
33 Kota Semarang 7.717 8 7.808 25.490
34 Kota Pekalongan 1.524 82 1.882 8.305
35 Kota Tegal 874 108 646 3.569
Jawa Tengah 1.874.375 41.812 1.800.908 9.648.104 Sumber data :: Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Tengah, Atap 2014
2.1.2. Produksi Jagung
Tanam jagung di Jawa Tengah tahun 2014 seluas 554.237 ha dan tidak terjadi puso sehingga diperoleh luas panen 538.102 ha dengan produksi 3.051.516 ton meningkat 4,11 % dibanding tahun 2013 sebesar 2.930.911 ton.
Tabel 2 : Produksi Jagung di Jawa Tengah Tahun 2014
No Kabupaten/Kota Luas Tanam
(Ha) Luas Puso
(Ha) Luas Panen
(Ha) Produksi (Ha)
1 Cilacap 3.285 0 2.682 15.278
2 Banyumas 3.711 0 2.683 14.220
3 Purbalingga 5.758 0 5.861 31.801
4 Banjarnegara 14.079 0 14.167 78.990
5 Kebumen 4.607 0 4.221 23.415
6 Purworejo 2.542 0 2.381 14.935
7 Wonosobo 24.644 0 24.461 97.420
8 Magelang 10.276 0 10.970 59.356
9 Boyolali 28.791 0 26.933 136.434
10 Klaten 11.188 0 11.178 82.935
11 Sukoharjo 2.296 0 2.210 18.498
12 Wonogiri 54.749 0 53.078 304.048
13 Karanganyar 5.744 0 5.001 35.295
14 Sragen 15.827 0 15.323 97.011
15 Grobogan 105.589 0 105.447 590.776
16 Blora 51.501 0 47.199 244.815
17 Rembang 31.615 0 26.948 128.385
18 Pati 19.734 0 20.751 126.411
19 Kudus 2.959 0 2.792 17.064
20 Jepara 6.140 0 6.752 52.162
21 Demak 27.467 0 26.082 192.156
22 Semarang 13.074 0 13.589 71.486
9
No Kabupaten/Kota Luas Tanam (Ha)
Luas Puso (Ha)
Luas Panen (Ha)
Produksi (Ha)
23 Temanggung 21.450 0 22.865 104.530
24 Kendal 32.541 0 31.607 214.637
25 Batang 8.356 0 8.395 49.761
26 Pekalongan 2.027 0 1.936 8.558
27 Pemalang 7.896 0 8.179 27.764
28 Tegal 16.854 0 15.790 99.963
29 Brebes 18.800 0 17.799 111.333
30 Kota Magelang 0 0 0 0
31 Kota Surakarta 0 0 0 0
32 Kota Salatiga 200 0 196 514
33 Kota Semarang 537 0 626 1.566
34 Kota Pekalongan 0 0 0 0
35 Kota Tegal 0 0 0 0
Jawa Tengah 554.237 0 538.102 3.051.516
Sumber data :: Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Tengah, Atap 2014..
2.1.3. Produksi Ubi Kayu
Tanam Ubi kayu di Jawa Tengah tahun 2014 seluas 152.634 ha dengan luas puso 2 ha sehingga diperoleh luas panen 153.201 ha dengan produksi 3.977.810 ton turun 2,73 % dibanding tahun 2013 sebesar 4.089.635 ton.
Tabel 3 : Produksi Ubi Kayu di Jawa Tengah Tahun 2014.
No Kabupaten/Kota Luas Tanam
(Ha) Luas Puso
(Ha) Luas Panen
(Ha) Produksi (Ha)
1 Cilacap 4.393 0 4.381 113.015
2 Banyumas 3.655 0 2.987 43.050
3 Purbalingga 2.767 0 3.304 93.285
4 Banjarnegara 7.481 0 8.400 204.511
5 Kebumen 6.536 0 5.436 124.660
6 Purworejo 4.371 1 5.489 142.144
7 Wonosobo 5.465 0 6.880 256.687
8 Magelang 1.839 0 2.070 85.421
9 Boyolali 4.508 0 5.057 94.322
10 Klaten 951 0 698 14.701
11 Sukoharjo 1.360 0 1.600 27.864
12 Wonogiri 52.305 0 51.656 1.041.880
13 Karanganyar 3.988 0 4.324 127.873
14 Sragen 2.252 0 2.491 44.738
15 Grobogan 1.375 0 1.272 28.187
10
No Kabupaten/Kota Luas Tanam (Ha)
Luas Puso (Ha)
Luas Panen (Ha)
Produksi (Ha)
16 Blora 1.468 0 2.482 68.517
17 Rembang 7.422 0 4.815 129.330
18 Pati 18.544 0 17.871 744.746
19 Kudus 1.362 0 1.488 34.122
20 Jepara 9.423 0 9.073 305.105
21 Demak 392 0 428 9.406
22 Semarang 1.900 0 1.822 34.812
23 Temanggung 2.288 0 1.739 52.638
24 Kendal 571 0 694 21.208
25 Batang 1.474 1 1.825 47.454
26 Pekalongan 434 0 504 7.861
27 Pemalang 1.117 0 1.415 26.044
28 Tegal 479 0 517 12.092
29 Brebes 1.991 0 1.872 27.860
30 Kota Magelang 3 0 2 29
31 Kota Surakarta 8 0 9 121
32 Kota Salatiga 133 0 180 6.474
33 Kota Semarang 379 0 420 7.652
34 Kota Pekalongan 0 0 0 0
35 Kota Tegal 0 0 0 0
Jawa Tengah 152.634 2 153.201 3.977.810
Sumber data :: Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Tengah, Atap 2014
2.1.4. Produksi Ubi Jalar
Tanam Ubi Jalar di Jawa Tengah tahun 2014 seluas 7.881 ha dengan luas puso 51 ha sehingga diperoleh luas panen 9.053 ha dengan produksi 179.394 ton turun 2,34 % dibanding tahun 2013 sebesar 183.694 ton.
Tabel 4 : Produksi Ubi Jalar di Jawa Tengah Tahun 2014
No Kabupaten/Kota Luas Tanam (Ha)
Luas Puso (Ha)
Luas Panen (Ha)
Produksi (Ha)
1 Cilacap 255 0 253 3.408
2 Banyumas 212 1 205 2.098
3 Purbalingga 95 0 131 2.274
4 Banjarnegara 67 0 51 653
5 Kebumen 53 0 63 1.059
6 Purworejo 127 0 128 1.149
11
No Kabupaten/Kota Luas Tanam (Ha)
Luas Puso (Ha)
Luas Panen (Ha)
Produksi (Ha)
7 Wonosobo 957 0 999 20.164
8 Magelang 1.051 0 1.154 28.354
9 Boyolali 47 0 48 639
10 Klaten 32 0 108 1.155
11 Sukoharjo 3 0 13 173
12 Wonogiri 61 0 70 1.158
13 Karanganyar 666 2 860 23.882
14 Sragen 0 0 7 83
15 Grobogan 50 0 56 727
16 Blora 142 0 134 2.253
17 Rembang 405 0 510 6.568
18 Pati 141 0 140 2.122
19 Kudus 38 0 52 522
20 Jepara 141 0 157 2.773
21 Demak 172 42 300 2.735
22 Semarang 1.136 0 1.186 19.903
23 Temanggung 199 0 251 4.324
24 Kendal 235 0 286 5.154
25 Batang 870 0 1.192 36.979
26 Pekalongan 123 0 119 1.294
27 Pemalang 271 6 222 2.910
28 Tegal 143 0 155 1.583
29 Brebes 180 0 190 3.116
30 Kota Magelang 0 0 0 0
31 Kota Surakarta 0 0 0 0
32 Kota Salatiga 2 0 2 28
33 Kota Semarang 7 0 11 154
34 Kota Pekalongan 0 0 0 0
35 Kota Tegal 0 0 0 0
Jawa Tengah 7.881 51 9.053 179.394
Sumber data :: Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Tengah, Atap 2014.
12 2.1.2. Konsumsi Pangan
Tabel 5 : Angka kecukupan energi Jawa Tengah Tahun 2014
No. Kelompok Pangan
AKG
Ideal AKG
Tahun 2014 Kecukupan Energi Aktual Kkal/kap/hr Kkal/kap/hr (%)
1 Padi-padian 1000 1.001,12 100
2 Umbi-umbian 120 88,28 73,57
3 Pangan Hewani 240 179,59 74,83
4 Minyak & lemak 200 256,65 100
5 Buah/biji berminyak 60 54,86 91,43
6 Kacang-kacangan 100 223,45 100
7 Gula 100 71,61 71,61
8 Sayur & buah 120 115,29 96,06
9 Lain-lain 60 13,66 -
Jawa Tengah 2.000 2004,50
Sumber data : Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah
Tabel 6 : Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Jawa Tengah Tahun 2014 No. Kelompok Pangan PPH Ideal PPH tahun 2014
1 Padi-padian 25 25
2 Umbi-umbian 2,5 2,21
3 Pangan Hewani 24 17,96
4 Minyak dan lemak 5 5
5 Buah/biji berminyak 1 1
6 Kacang-kacangan 10 10
7 Gula 2,5 1,79
8 Sayur dan buah 30 28,82
9 Lain-lain - -
Jawa Tengah 100 91,78
Sumber data : Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah
2.1.3. Cadangan Pangan
Balai Pengadaan Cadangan Pangan (BPCP) Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah sebagai mengelola Cadangan Pangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dari penyediaan 333.493 kg GKG setara 195.438 kg beras tahun 2014 telah terdistribusikan untuk
13 penanganan kerawanan pangan transien sebesar 136.930 kg GKG setara 77.500 kg beras sehingga sisa stok awal tahun 2015 sebesar 196.563 kg GKG setara 117.938 kg beras.
Tabel 7 : Stok dan Distribusi Cadangan Pangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014.
No Urian Gabah
(Kg) Setara
Beras (Kg) Uraian
Kejadian Tanggal Pengiriman 1 Kab Grobogan 3.400 2.000 Banjir 09 Januari 2014 2 Kota Pekalongan 1.700 1.000 Banjir 20 Januari 2014 3 Kab Jepara 3.450 2.000 Banjir 22 Januari 2014 4 Kab Kudus 3.450 2.000 Banjir 22 Januari 2014 5 Kabupaten Pati 1.700 1.000 Banjir 22 Januari 2014 6 Kota Semarang 3.450 2.000 Banjir 24 Januari 2014 7 Kab Pekalongan 25.850 15.000 Banjir 28 Januari 2014 8 Kab Kendal 5.150 3.000 Angin barat 28 Januari 2014 9 Kab Demak 8.600 5.000 Banjir 29 Januari 2014 10 Kota Semarang 3.450 2.000 Banjir 30 Januari 2014 11 Kab Pemalang 5.150 3.000 Banjir 30 Januari 2014 12 Kab Batang 1.700 1.000 Banjir 10 Pebruari 2014 13 Kab Pekalongan 7.700 4.500 Banjir 10 Pebruari 2014 14 Kota Pekalongan 1.700 1.000 Banjir 2 April 2014 15 Kab Pemalang 1.700 1.000 Banjir 2 April 2014 16 Kab Pekalongan 1.700 1.000 Banjir 2 April 2014 17 Kab Magelang 9.000 5.000 Puting beliung 14 Nopember 2014 18 Kab Semarang 6.400 3.500 Gagal panen 8 Desember 2014 19 Kab Banjarnegara 15.500 8.500 Tanah longsor 13 Desember 2014 20 Kab Pekalongan 7.300 4.000 Rob 30 Desember 2014 21 Kab Cilacap 18.000 10.000 Banjir 31 Desember 2014
Penyusutan dan
tercecer 880
- 31 Desember 2014
Jumlah Distribusi 136.930 77.500
Sisa Stock 196.563 117.938
Sumber data : Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah
14 2.2. Akses Pangan
2.1. Perkembangan Harga Pangan komoditas utama dan strategis Tabel 8 : Harga rata-rata Komoditas Pangan Tahun 2014 di Jateng
Bulan Beras Jagung Ubi kayu
Ubi
Jalar Gula Minyak
Goreng Ayam Telur Januari 8.163 4.012 2.148 2.862 10.659 11.170
26.733
16.344 Pebruari 8.198 3.944 2.170 2.868 10.622 11.194
26.540
16.229 Maret 8.169 3.948 2.816 2.861 10.646 11.323
26.557
15.960 April 8.146 4.069 2.147 2.766 10.442 12.080
25.314
15.593 Mei 8.170 4.160 2.197 2.780 10.413 12.099
26.009
16.352 Juni 8.134 4.244 2.262 2.717 10.348 12.079
27.567
16.938 Juli 8.245 4.205 2.197 2.785 10.304 11.961
28.293
17.369 Agustus 8.251 4.167 2.212 2.809 10.229 11.872
28.822
17.248 September 8.285 4.151 2.251 2.834 10.217 11.767
28.566
17.146 Oktober 8.295 4.167 2.265 2.853 10.209 11.760
28.216
16.964 Nopember 8.120 3.970 2.178 2.743 10.866 11.181
26.686
15.451 Desember 8.395 4.051 2.254 2.865 10.394 11.303
26.929
16.693 Rata-rata 8.214 4.091 2.258 2.812 10.446 11.649
27.186
16.524 Max 8.395 4.244 2.816 2.868 10.866 12.099
28.822
17.369 Min 8.120 3.944 2.147 2.717 10.209 11.170
25.314
15.451 Sumber data : Enumerator harga Kabupaten/Kota, diolah Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah.
Secara makro harga komoditas pangan strategis Beras, jagung, Ubi kayu, Ubi jalar, Gula pasir, Daging sapi, Daging Ayam ras, Telur ayam ras adalah aman terkendali terlihat dari realisasi CV (koefisien variasi) masih dibawah target CV. Untuk komoditas Ubi kayu merupakan komoditas mengalami fluktusi harga di Jawa Tengah terlihat dari realisasi CV sebesar 8, lebih tinggi dibanding target CV sebesar 5.
Perkembangan harga konsumen untuk komoditas pangan strategis di Jawa Tengah dapat dilihat pada gambar grafik berikut :
15 Gambar 1 : Harga Beras Tahun 2014 di Jawa Tengah
Sumber data : Enumerator Harga Pangan Kab/Kota, diolah BKP Prov Jateng.
Gambar 2 : Harga Jagung Tahun 2014 di Jawa Tengah
Sumber data : Enumerator Harga Pangan Kab/Kota, diolah BKP Prov Jateng.
Gambar 3 : Harga Ubi Kayu Tahun 2014 di Jawa Tengah
Sumber data : Enumerator Harga Pangan Kab/Kota, diolah BKP Prov Jateng.
16 Gambar 4 : Harga Ubi Jalar Tahun 2014 di Jawa Tengah
Sumber data : Enumerator Harga Pangan Kab/Kota, diolah BKP Prov Jateng.
Gambar 5 : Harga Gula Pasir Tahun 2014 di Jawa Tengah
Sumber data : Enumerator Harga Pangan Kab/Kota, diolah BKP Prov Jateng.
Gambar 6 : Harga Minyak Goreng Tahun 2014 di Jawa Tengah
Sumber data : Enumerator Harga Pangan Kab/Kota, diolah BKP Prov Jateng.
17 Gambar 7 : Harga Daging Ayam Ras Tahun 2014 di Jawa Tengah
Sumber data : Enumerator Harga Pangan Kab/Kota, diolah BKP Prov Jateng.
Gambar 8 : Harga Telur Ayam Ras Tahun 2014 di Jawa Tengah
Sumber data : Enumerator Harga Pangan Kab/Kota, diolah BKP Prov Jateng.
2.2. Jumlah Penduduk
Aspek akses pangan dinilai dengan pendekatan prosentase KK pra KS dan KSI alasan ekonomi berdasarkan data setahun terakhir yang dikeluarkan oleh Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi Jawa Tengah (Tahun 2014) diperoleh bahwa Penduduk Jawa Tengah tahun 2014 sebesar 35.087.032 jiwa, meningkat 0,52 % dibanding tahun 2013 sebesar 34.906.679 jiwa. Pertumbuhan penduduk terbesar pada kabupaten Semarang 6,29% dan Pati 4,35%.
18 Tabel 9 : Jumlah penduduk Jawa Tengah Tahun 2014 dibanding Tahun 2013.
No Kabupaten /Kota Tahun 2013 (Jiwa) Tahun 2014
(Jiwa) Peningkatan/
penurunan
1 Cilacap 1.881.423 1.892.650 0,60%
2 Banyumas 1.627.274 1.674.786 2,92%
3 Purbalingga 947.182 955.814 0,91%
4 Banjarnegara 977.619 985.981 0,86%
5 Kebumen 1.209.141 1.241.165 2,65%
6 Purworejo 768.156 763.131 -0,65%
7 Wonosobo 833.053 843.645 1,27%
8 Magelang 1.216.539 1.225.742 0,76%
9 Boyolali 946.111 978.108 3,38%
10 Klaten 1.233.953 1.246.135 0,99%
11 Sukoharjo 901.944 907.876 0,66%
12 Wonogiri 1.099.977 1.058.149 -3,80%
13 Karanganyar 875.893 867.684 -0,94%
14 Sragen 902.734 884.080 -2,07%
15 Grobogan 1.453.170 1.479.737 1,83%
16 Blora 959.180 981.969 2,38%
17 Rembang 615.685 592.598 -3,75%
18 Pati 1.284.707 1.340.549 4,35%
19 Kudus 801.820 820.953 2,39%
20 Jepara 1.127.861 907.888 -19,50%
21 Demak 1.210.217 1.227.951 1,47%
22 Semarang 913.101 970.562 6,29%
23 Temanggung 731.294 745.649 1,96%
24 Kendal 973.011 988.748 1,62%
25 Batang 784.086 793.479 1,20%
26 Pekalongan 942.571 954.548 1,27%
27 Pemalang 1.459.399 1.487.184 1,90%
28 Tegal 1.597.187 1.608.290 0,70%
29 Brebes 1.939.385 1.996.460 2,94%
30 Kota Magelang 112.425 110.769 -1,47%
31 Kota Surakarta 413.777 398.926 -3,59%
32 Kota Salatiga 191.806 195.448 1,90%
33 Kota Semarang 1.437.347 1.438.961 0,11%
34 Kota Pekalongan 289.465 282.713 -2,33%
35 Kota Tegal 248.186 238.704 -3,82%
Jawa Tengah 34.906.679 35.087.032 0,52%
Sumber data : Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi Jawa Tengah
19 Gambar 9 : Grafik sebaran penduduk Jawa Tengah Tahun 2015
Jumlah jiwa dalam keluarga menurut komposisi umur adalah sebagai berikut :
Usia 0 - <1 tahun (bayi) tercatat 510.881 jiwa (1,46%)
Usia 1 - <5 tahun tercatat 1.987.540 jiwa (5,66%)
Usia 5 - <10 tahun tercatat 3.174.738 jiwa (9,05%)
Usia 7 – 15 tahun tercatat 5.369.984 jiwa (15,3%)
Usia 10 - <25 tahun tercatat 7.625.256 jiwa (21,73%)
Usia 25 - <60 tahun tercatat 18.407.346 jiwa (52,46%)
Usia 60 tahun keatas tercatat 3.381.471 jiwa (9,64%)
20 Dari 10.185.469 KK, dirinci menurut jenis kelamin, sebagai berikut :
Kepala keluarga laki-laki sebanyak 8.887.382 atau 87,26%
Kepala keluarga perempuan sebanyak 1.298.087 atau 12,74%.
Kepala Keluarga berdasarkan status pekerjaan, yang bekerja sebanyak 9.281.756 atau 91,13%. Sedangkan yang tidak bekerja 903.713 atau 8,8%.
2.3. Aspek Keluarga Sejahtera
Berdasarkan pendataan keluarga tahun 2014 dari jumlah keluarga sebanyak 10.185.469 dapat dikelompokkan Kepala Keluarga (KK) sebagai berikut : Gambar 10 : Komposisi Keluarga Sejahtera di Jawa Tengah Tahun 2014
2.3.1. Jumlah Keluarga Pra sejahtera
Jumlah keluarga Pra Sejahtera tahun 2014 sebanyak 2.659.070 KK atau 26,11 % dari jumlah keluarga yang ada sebanyak 10.185.469.
Jumlah keluarga pra sejahtera tersebut apabila dibandingkan dengan kondisi tahun 2013 sebanyak 2.724.692 KK. Terjadi penurunan keluarga pra sejahtera sebanyak 65.622 KK (2,4 %).
21 2.3.2. Jumlah Keluarga Sejahtera Tahap I (KS I)
Jumlah Keluarga Sejahtera Tahap I (KS I) tahun 2014 sebanyak 2.108.289 KK atau 20,70 % dari jumlah yang ada sebanyak 10.185.469.
Jumlah tersebut apabila dibandingkan dengan kondisi tahun 2013 sebanyak 2.003.596 sehingga terjadi kenaikan sebanyak 104.693 KK atau mencapai sebesar 5,23%.
2.3.3. Jumlah Keluarga Sejahtera Tahap II (KS II)
Jumlah Sejahtera Tahap II (KS II) tahun 2014 sebanyak 2.383.519 KK atau mencapai sebesar 23,4% dari jumlah keluarga yang ada sebanyak 10.185.469. Jumlah tersebut apabila dibandingkan dengan kondisi tahun 2013 sebanyak 2.273.481 KK sehingga terjadi kenaikan sebanyak 110.038 KK atau mencapai sebesar 4,84%.
2.3.4. Jumlah Keluarga Sejahtera tahap III (KS III)
Jumlah Sejahtera Tahap III (KS III) tahun 2014 sebanyak 2.584.723 KK atau mencapai sebesar 25,38% dari jumlah keluarga yang ada sebanyak 10.185.469. Jumlah tersebut apabila dibandingkan dengan kondisi tahun 2013 sebanyak 2.589.542 KK sehingga terjadi penurunan sebanyak 4.819 KK atau mencapai sebesar 0,19%.
2.3.5. Jumlah Keluarga Sejahtera tahap III Plus (KS III+)
Jumlah Sejahtera Tahap III Plus (KS III+) tahun 2014 sebanyak 449.868 KK atau mencapai sebesar 4,42% dari jumlah keluarga yang ada sebanyak 10.185.469. Jumlah tersebut apabila dibandingkan dengan kondisi tahun 2013 sebanyak 433.167 KK sehingga terjadi kenaikan sebanyak 4.819 KK atau mencapai sebesar 3,86%.
22 Tabel 10 : Jumlah Keluarga Miskin Tahun 2014 di Jawa Tengah
No Kabupaten/Kota Jumlah Keluarga
KK Pra
Sejahtera
KK
Sejahtera I Jumlah KK
Miskin %
1 Cilacap 519.850 130.794 134.269 265.063 50,99 2 Banyumas 484.416 109.299 95.772 205.071 42,33 3 Purbalingga 287.939 71.844 58.112 129.956 45,13 4 Banjarnegara 286.266 70.726 68.977 139.703 48,80 5 Kebumen 357.854 92.777 74.842 167.619 46,84 6 Purworejo 222.238 53.630 44.073 97.703 43,96 7 Wonosobo 245.916 54.274 51.244 105.518 42,91 8 Magelang 353.720 92.743 63.378 156.121 44,14 9 Boyolali 296.675 98.895 48.399 147.294 49,65 10 Klaten 364.056 65.271 75.559 140.830 38,68 11 Sukoharjo 242.714 47.453 52.798 100.251 41,30 12 Wonogiri 328.187 49.781 60.509 110.290 33,61 13 Karanganyar 253.155 29.256 24.719 53.975 21,32 14 Sragen 262.073 65.618 89.457 155.075 59,17 15 Grobogan 453.269 272.242 57.381 329.623 72,72 16 Blora 288.146 121.764 73.741 195.505 67,85 17 Rembang 183.978 75.268 29.166 104.434 56,76 18 Pati 420.626 137.055 83.179 220.234 52,36 19 Kudus 229.168 23.231 40.904 64.135 27,99 20 Jepara 279.235 69.154 92.323 161.477 57,83 21 Demak 355.791 127.691 82.897 210.588 59,19 22 Semarang 297.193 76.407 67.873 144.280 48,55 23 Temanggung 224.509 53.866 28.814 82.680 36,83 24 Kendal 290.467 100.536 41.980 142.516 49,06 25 Batang 230.134 77.247 53.051 130.298 56,62 26 Pekalongan 259.047 52.352 60.523 112.875 43,57 27 Pemalang 400.915 121.145 90.032 211.177 52,67 28 Tegal 432.575 79.146 92.563 171.709 39,69 29 Brebes 554.163 152.265 126.567 278.832 50,32 30 Kota Magelang 33.571 4.860 6.769 11.629 34,64 31 Kota Surakarta 122.925 10.259 22.108 32.367 26,33 32 Kota Salatiga 62.398 6.926 8.741 15.667 25,11 33 Kota Semarang 415.526 41.788 74.932 116.720 28,09 34 Kota Pekalongan 77.061 11.712 14.971 26.683 34,63 35 Kota Tegal 69.713 11.795 17.666 29.461 42,26 Jawa Tengah 10.185.469 2.659.070 2.108.289 4.767.359 46,81 Sumber data : Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi Jawa Tengah
23 2.3. Pemanfaatan Pangan
2.3.1. Status gizi balita
Dari 1.557.022 balita yang ditimbang pada tahun 2013, status gizi buruk 12.141 balita (0,78%), gizi kurang 87.372 balita (5,61%), gizi normal 1.435.633 balita (92,20%) dan gizi lebih 21.876 balita (1,4%).
Tabel 11 : Status Gizi Balita Tahun 2013 di Jawa Tengah.
No Kab /Kota Balita
Ditimbang
Balita Gizi Buruk
% Balita Gizi Kurang
%
1 Cilacap 137.495 429 0,31 2.359 1,72
2 Banyumas 15.451 155 1,00 1.208 7,82
3 Purbalingga 56.992 434 0,76 1.736 3,05
4 Banjarnegara 51.776 198 0,38 240 0,46
5 Kebumen 72.587 21 0,03 314 0,43
6 Purworejo 46.259 370 0,80 3.511 7,59
7 Wonosobo 9.727 48 0,49 751 7,72
8 Magelang 17.877 76 0,43 1.389 7,77
9 Boyolali 36.813 310 0,84 1.978 5,37
10 Klaten 7.800 67 0,86 594 7,62
11 Sukoharjo 51.540 275 0,53 2.194 4,26
12 Wonogiri 10.169 100 0,98 2.033 19,99
13 Karanganyar 11.767 61 0,52 3.309 28,12
14 Sragen 59.495 287 0,48 1.712 2,88
15 Grobogan 6.016 104 1,73 811 13,48
16 Blora 52.415 765 1,46 4.374 8,34
17 Rembang 70.605 289 0,41 3.432 4,86
18 Pati 77.341 522 0,67 5.348 6,91
19 Kudus 58.188 445 0,76 2.177 3,74
20 Jepara 61.997 1.394 2,25 7.269 11,72
21 Demak 27.100 373 1,38 2.558 9,44
22 Semarang 66.370 629 0,95 3.960 5,97
23 Temanggung 50.197 451 0,90 6.770 13,49
24 Kendal 60.077 562 0,94 2.117 3,52
25 Batang 16.800 238 1,42 1.749 10,41
26 Pekalongan 53.465 48 0,09 277 0,52
27 Pemalang 28.131 644 2,29 4.623 16,43
28 Tegal 80.694 981 1,22 4.750 5,89
29 Brebes 89.056 674 0,76 6.257 7,03
30 Kota Magelang 5.795 45 0,78 498 8,59
31 Kota Surakarta 29.448 105 0,36 1.096 3,72
32 Kota Salatiga 9.125 56 0,61 196 2,15
24
No Kab /Kota Balita
Ditimbang
Balita Gizi Buruk
% Balita Gizi Kurang
%
33 Kota Semarang 86.516 95 0,11 801 0,93
34 Kota Pekalongan 18.246 476 2,61 1.831 10,04
35 Kota Tegal 23.692 414 1,75 3.150 13,30
Jawa Tengah 1.557.022 12.141 0,78 87.372 5,61 Sumber data : Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah
2.3.2. Kasus gizi buruk
Kejadian Luar Biasa Gizi Buruk di Jawa Tengah tahun 2012 pada awal tahun sejumlah 1.370 anak dan telah ditangani oleh Dinas Kesehatan sehingga sembuh 383 anak, meninggal 15 dan lain-lain (pindah tempat tinggal) 9 anak sehingga sisa kasus Gizi buruk akhir Desember 2013 masih 963 anak.
Tabel 12 : Kasus dan Penanganan Gizi Buruk Tahun 2013 di Jawa Tengah
No Kabupaten / Kota
Kasus Gizi Buruk (BB/TB)
Meninggal Sembuh Lain- lain
Sisa Kasus
1 Cilacap 145 0 33 0 112
2 Banyumas 33 0 5 0 28
3 Purbalingga 22 0 1 0 21
4 Banjarnegara 39 0 9 0 30
5 Kebumen 22 1 0 0 21
6 Purworejo 76 0 28 0 48
7 Wonosobo 15 0 4 0 11
8 Magelang 33 0 6 0 27
9 Boyolali 11 0 0 1 10
10 Klaten 14 0 3 0 11
11 Sukoharjo 18 0 6 0 12
12 Wonogiri 56 0 9 0 47
13 Karanganyar 38 2 27 1 8
14 Sragen 10 0 1 0 9
15 Grobogan 22 0 7 0 15
16 Blora 60 1 8 0 51
17 Rembang 47 1 7 0 39
18 Pati 32 0 5 0 27
19 Kudus 31 1 20 0 10
20 Jepara 162 2 105 0 55
21 Demak 23 0 6 0 17
22 Semarang 26 0 5 0 21
23 Temanggung 23 0 7 0 16
25
No Kabupaten / Kota
Kasus Gizi Buruk (BB/TB)
Meninggal Sembuh Lain- lain
Sisa Kasus
24 Kendal 29 0 6 0 23
25 Batang 44 0 13 0 31
26 Pekalongan 48 0 0 0 48
27 Pemalang 32 0 0 0 32
28 Tegal 82 2 8 0 72
29 Brebes 103 0 20 7 76
30 Kota Magelang 6 0 2 0 4
31 Kota Surakarta 0 0 0 0 0
32 Kota Salatiga 6 0 0 0 6
33 Kota Semarang 49 5 31 0 13
34 Kota Pekalongan 8 0 1 0 7
35 Kota Tegal 5 0 0 0 5
Jawa Tengah 1.370 15 383 9 963 Sumber data : Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah