RELIGIUSITAS MASYARAKAT URBAN
Peran Dewan Kemakmuran Masjid Dalam Transmisi Nilai Religiusitas Pada Masyarakat Pamulang Timur, Tangerang Selatan
Tim Peneliti:
Dr. Abd. Wahid Hasyim, M.Ag. (Koordinator) Dr. Darsita Suparno (Anggota)
Ikri (Anggota)
PUSAT PENELITIAN DAN PENERBITAN (PUSLITPEN) LP2M UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2019
Peran Dewan Kemakmuran Masjid Dalam Transmisi Nilai Religiusitas Pada Masyarakat Pamulang Timur, Tangerang Selatan”, merupakan laporan akhir pelaksanaan penelitian yang dilakukan oleh “ABD. WAHID HASYIM”, dan telah memenuhi ketentuan dan kriteria penulisan laporan akhir penelitian sebagaimana yang ditetapkan oleh Pusat Penelitian dan Penerbitan (PUSLITPEN), LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, Oktober 2019 Peneliti,
Dr. Abd. Wahid Hasyim, M.Ag NIP. 19561708 198603 1 006
Mengetahui;
Kepala Pusat,
Penelitian dan Penerbitan (PUSLITPEN) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Dr. Imam Subchi, MA NIP. 19670810 200003 1 001
Ketua Lembaga,
Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Jajang Jahroni, MA., Ph.D NIP. 19670612 199403 1 006
Nama Jabatan Unit Kerja Alamat
: Abd. Wahid Hasyim : Dosen Tetap
: Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta : Jl. Tarumanegara, Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan
dengan ini menyatakan bahwa:
1. Judul penelitian “RELIGIUSITAS MASYARAKAT URBAN Peran Dewan Kemakmuran Masjid Dalam Transmisi Nilai Religiusitas Pada Masyarakat Pamulang Timur, Tangerang Selatan” merupakan karya orisinal saya.
2. Jika di kemudian hari ditemukan fakta bahwa judul, hasil atau bagian dari laporan penelitian saya merupakan karya orang lain dan/atau plagiasi, maka saya akan bertanggung jawab untuk mengembalikan 100% dana hibah penelitian yang telah saya terima, dan siap mendapatkan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku serta bersedia untuk tidak mengajukan proposal penelitian kepada Puslitpen LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta selama 2 tahun berturut-turut.
Demikian pernyataan ini dibuat untuk digunakan sebagaimana mestinya.
Jakarta, Oktober 2019 Yang Menyatakan,
Dr. Abd. Wahid Hasyim, M.Ag NIP. 19561708 198603 1 006
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Nilai Religiusitas atau nilai agama dalam judul di atas adalah nilai-nilai ajaran Islam atau ajaran Islam itu sendiri, sedangkan ajaran dalam Islam, selain terkait masalah hubungan manusia dengan Allah, hubungan vertikal atau ibadah mahdlah, juga membicarakan masalah hubungan manusia dengan manusia dan makhluq lain, hubungan horizontal atau ibadah ghairu mahdlah.. Harun Nasution dengan mengutip Abdul Wahab Khalaf, menegaskan bahwa al-Qur’an yang terdiri dari 6666 atau 6360 ayat, 114 surah dan 30 juz, terdapat 5’8 % atau sekitar 368 ayat yang membicarakan masalah hukum, baik yang terkait hubungan manusia dengan Tuhan maupun yang terkait hubungan manusia dengan manusia.1 Ajaran Islam tersebut supaya bisa diketahui dan difahami oleh umat Islam, maka perlu disampaikan dan disebar luaskan melalui berbagai macam kegiatan pengajaran yang diselengagarakan di berbagai macam institusi pendidikan. Pada masa Islam klasik, lembaga atau sarana dan prasarana yang biasa dipakai untuk transmisi ajaran Islam terdiri al-Qashru (istana), al-Baitu (rumah), al-Mushalla (langgar), al- Masjidu (masjid), al-Kuttabu/al-Ma’hadu (pesantren), al-Madrasatu (madrasah), al-Dakakinu (tokok buku), al-Mustasyfa (rumah sakit) dan al-Bimaristan (laboratorium),2 sedangkan ajaran Islam dan ilmu agama Islam, di Indonesia hampir semua sarana dan prasarana pada masa klasik, kecuali al-Qashru (istana), biasa digunakan sebagai tempat mentransmisikan, yakni proses untuk membawa, meneruskan, menyebarluaskan dan mengembangkan pengetahuan keislaman,3
1 Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid II, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), Cet. Ke-1, h. 7-8.
2 Husain Heriyanto, Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam, (Jakarta Selatan: Mizan Publika, 2011), Cet. Ke-1, h. 81-95. Lihat pula A. Hasymi, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta:
Bulan Bintang, 1993), Cet. Ke-4, h. 144, 181 dan 261- 263
3Abdul Munip, Transmisi Pengetahuan Timur Tengah ke Indonesia, Studi Tentang Penerjemahan Buku Berbahasa Arab di Indonesia 1950-2004, (Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, 2010), Cet. Ke-1, h. 37.
sedangkan wadah, alat dan media yang bisa digunakan untuk kegiatan transmisi itu banyak, salah satu di antaranya adalah masjid.
Di Pamulang Timur, Tangerang Selatan, transmisi ilmu agama Islam dilaksanakan di berbagai tempat, sama seperti di daerah-daerah lain di Indonesia.
Bila di pesantren banyak ragam ilmu yang diajarkan, maka di rumah ilmu yang diajarkan terbatas pada baca tulis al-Qur’an. Jadi, lebih ditekankan pada bagaimana peserta didik bisa menulis dan membaca al-Qur’an serta trampil membaca tulisan Arab dengan baik, yang muaranya bisa membaca bacaan salat lima waktu dan lain-lain. Pengajaran ilmu agama Islam di mushalla sama dengan pengajaran di rumah. Tetapi, transmisi ilmu agama Islam di masjid, merupakan peningkatan dari dua tempat pengajaran, rumah dan mushalla. Apalagi di madrasah, sebagai institusi kelembagaan mentransmisikan berbagai macam ilmu, baik ilmu agama Islam maupun ilmu umum.
Transmisi ilmu agama Islam pada tema di atas, terutama transmisi yang dilaksanakan di masjid-khusus, khususnya masjid yang terletak di kompleks perumahan di Pamulang Timur. Pamulang Timur terdiri dari dua suku kata, Pamulang dan Timur. Pamulang berasal dari kata “Pulangin/Kembalikan dan Timur merupakan petunjuk arah. Jadi, Pamulang Timur berarti pulangin/kembalikan ke Timur. Pamulang Timur mulanya bagian dari Pamulang Barat, Kecamatan Ciputat, Kabupaten Tangerang (Sekarang Kota Tangerang).
Pada tanggal 25 Mei 1980, terjadi pemekaran desa, sehingga Pamulang Timur menjadi desa tersendiri terpisah dari Desa Pamulang Barat. Kemudian pada tanggal 19 September 2005, bersama 77 desa lainnya di Kabupaten Tangerang, resmi menjadi Kelurahan pamulang Timur, Kecamatan Pamulang, Kabupaten Tangerang. Pada tanggal 26 November 2008, sesuai dengan Undang-undang Nomor 51 tahun 2008 tentang pembentukan Kota Tangerang Selatan, Propinsi Banten, yang terdiri dari dari dua kecamatan dengan 54 kelurahan/desa, maka Kelurahan Pamulang Timur merupakan salaah satu kelurahan yang ada di wilayah Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan.4
4 Profil Kelurahan Pamulang Timur Tahun 2016, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan Tahun 2016, h. 4.
Kelurahan Pamulang Timur memiliki wilayah seluas 283,80 Ha., terdiri dari Darat seluas 270.80 Ha. dan Dataran Rendah seluas 13.00 Ha. Sedangkan batas wilayah, sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Ciputat, sebelah Selatan berbatasan dengan Kota Depok, Jawa Barat, sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Pondok Cabe Udik dan sebelat Barat berbatasan dengan Kelurahan Pamulang Barat.5
Kelurahan Pamulang Timur memiliki penduduk sebanyak 35.894 jiwa terdiri dari laki-laki sebanyak 17.085 jiwa, perempuan sebanyak 18.809 jiwa, jumlah KK sebanyak 9.141 dan KK Miskin sebanyak 540 KK. Jumlah penduduk tersebut, bila dipetakan berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 0-04 tahun sebanyak 2490 jiwa, 05-09 tahun sebanyak 3022 jiwa, 10-14 tahun sebanyak 4501 jiwa, 15-19 tahun sebanyak 2503 jiwa, 20-14 tahun sebanyak 3925 jiwa, 25-29 tahun sebanyak 3248 jiwa, 30-34 tahun sebanyak 2719 jiwa, 35-39 tahun sebanyak 1978 jiwa, 40-44 tahun sebanyak 1978 jiwa, 45-49 tahun sebanyak 3675 jiwa, 50-54 tahun sebanyak 1737 jiwa, 55-59 tahun sebanyak 1499 jiwa, 60-64 tahun sebanyak 1395 jiwa dan 65 >
sebanyak 1260 jiwa.6
Jumlah penduduk Kelurahan Pamulang Timur tersebut, bila dipetakan berdasarkan pada mata pencaharian dapat diklasifikasikan bahwa mayoritas berprofesi sebagai pegawai baik pegawai negeri maupun swasta, sebagian kecil berprofesi sebagai pedagang dan burh kasar. Bila dipetakan berdasarkan keyakinan agama, maka kebanyakan menganut agama Islam, sedikit Kristen Katolik dan Protestan serta lebih sedikit lagi beragama Hindu/Buddha.7
Kelurahan Pamulang Timur yang memiliki tanah seluas 283,80 Ha. dan penduduk sebanyak 35.894, yang mayoritas beragama Islam tersebut, memiliki sarana peribadatan berupa Masjid sebanyak 13 buah, Mushalla sebanyak 19 buah
5 Profil Kelurahan Pamulang Timur Tahun 2016, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan Tahun 2016, h. 5.
6 Profil Kelurahan Pamulang Timur Tahun 2016, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan Tahun 2016, h. 5.
7 Zainudin, Kasi Kesejateraan sosial Kelurahan Pamulang Timur, Wawancara Pribadi, Pamulang Timur, Senin, 2 September 2019. Lihat pula lampiran Data Penduduk Per-Kelurahan Berdasarkan Agama Kecamatan Pamulang Semester 1 Tahun 2016,
dan Gereja tidak ada8. Dengan demikian, sarana peribadatan bagi non muslim tidak ada, sedangkan bagi kaum muslim sarana peribadatan yang dimilikinya sangat banyak, tetapi berdasarkan pengamatan di lapangan, banyak muslim urban dan pendatang yang kebanyakan berprofesi sebagai pegawai baik swasta maupun negeri dan kebanyakan sibuk dan disibukkan oleh pekerjaannya, justru datang ke Masjid-masjid dan Mushalla-mushalla untuk menunaikan ibadah salat secara berjama’ah, mengikuti mudzaakarah/pengajian Sabtu/Ahad pagi,bahkan menghadiri dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan kegamaan dan peringatan hari besar Islam.
Merujuk pada uraian di atas, maka dapat dikatakan terdapat prilaku keagamaan yang baik dan tinggi pada masyarakat muslim urban atau pendatang, sehingga hipotesanya menjadi bertolak belakang, seharusya prilaku keagamaan muslim urban itu melemah dan menurun, mengingat kegiatan mereka sehari-hari banyak menyita pikiran, waktu dan tenaga. Oleh karena itu, berdasarkan realitas tersebut, maka layak diajukan dalam sebuah Penelitian Dasar Interdisipliner dengan judul RELIGIUSITAS MASYARAKAT URBAN: Peran Dewan Kemakmuran Masjid Dalam Transmisi Nilai Religiusitas Pada Masyarakat Pamulang Timur,Tangerang Selatan.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka banyak masalah yang perlu diidentifikasi antara lain sebagai berikut:
1. Dewan Kemakmuran Masjid telah lama ada dalam organisasi masjid, diperkirakan ada sejak tahun 1972 dengan nama Dewan Masjid Indonesia.
sebuah organisasi keagamaan yang bersifat koordinatif dan pembinaan keagamaan. Persoalannya, apakah DMI atau DKM yang ada di setiap masjid telah menumbuhsuburkan dan menghidupkan kemakmuran masjid sebagai pusat kerohanian dan kebudayaan Islam ?
8 Zainudin, Kasi Kesejateraan sosial Kelurahan Pamulang Timur, Wawancara Pribadi, Pamulang Timur, Senin, 2 September 2019. Lihat pula Profil Kelurahan Pamulang Timur Tahun 2016, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan Tahun 2016, h. 39.
2. Nilai Religiusitas atau ajaran Islam telah menjadi kewajiban bagi setiap mukmin dan mukminat serta muslim dan muslimat untuk mempelajarinya.
Persoalannya, apakah nilai religiusitas atau ajaran Islam telah mereka fahami dengan baik dan benar ?
3. Dewan Kemakmuran Masjid telah terbentuk di masjid-masjid yang terletak di kompleks perumahan di Kelurahan Pamulang Timur, jauh setelah berdirinya masjid tersebut. Persolannya, apakah Dewan Kemakmuran Masjid di kompleks Perumahan di Kelurahan Pamulang Timur, telah melaksanakan peran transmisi nilai religiusitas pada masyarakat urban di Pamulang Timur ?
4. Dalam mencapai tujuan transmisi diperlukan banyak penunjang, antara lain sarana dan prasarana. Persoalannya, apakah sarana dan prasana masjid di kompleks Perumahan di Kelurahan Pamulang Timur, mampu mendukung terlaksananya transmisi nilai religiusitas pada masyarakat urban ?
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas, maka permasalahan akan dibatasi pada pertanyaan Bagaimana Peran Dewan Kemakmuran Masjid dalam Transmisi Nilai Religiusitas pada Masyarakat Urban di Kelurahan Pamulang Timur, Tangerang Selatan ?
D. Perumusan Masalah
Dengan merujuk pada latar belakang masalah dan pembatasan masalah di atas, maka permasalahan penelitian yang terkait dengan Peran Dewan Kemakmuran Masjid dalam Transmisi Nilai Religiusitas pada Masyarakat Urban di kompleks perumahan di Kelurahan Pamulang Timur,Tangerang Selatan dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimana nilai religiusitas masyarakat urban di kompleks perumahan di Kelurahan Pamulang Timur, Tangerang Selatan ? 2.
Bagaimana Kondisi Dewan Kemakmuran Masjid di Kompleks Perumahan di Kelurahan Pamulang Timur, Tangerang Selatan ? 3. Bagaimana Peran Dewan
Kemakmuran Masjid dalam Transmisi Nilai Religiusitas pada Masyarakat Urban di Kompleks Perumahan di Kelurahan Pamulang Timur, Tangerang Selatan ?
E. Tujuan dan Signifikansi Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Merujuk pada perumusan masalah di atas, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui :
a. Nilai religiusitas masyarakat urban di kompleks perumahan di Kelurahan Pamulang Timur, Tangerang Selatan;
b. Dewan Kemakmuran Masjid pada masjid di kompleks perumahan di Kelurahan Pamulang, Timur Tangerang Selatan;
c. Peran Dewan Kemakmuran Masjid dalam Transmisi Nilai Religiusitas pada Masyarakat Urban di kompleks perumahan di Kelurahan Pamulang Timur, Tangerang Selatan.
2. Signifikansi Penelitian
Adapaun signifikansi penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Penelitian ini penting dilaksanakan, karena sedikit dan banyaknya fungsi masjid sangat tergantung pada kreatifitas Dewan Kemakmuran Masjid.
Salah satu di antara sekian banyak fungsi masjid adalah sebagai transmisi nilai religiusitas pada masyarakat.
b. Penelitian ini penting dilaksakan, karena dapat diidentifikasi bahwa sebagai sebuah organisasi internal yang mengurus operasional masjid, seperti Dewan Kemakmuran Masjid memiliki peran dalam meramaikan masjid.
Oleh karena itu, keberadaannya harus terus dipertahankan.
c. Penelitian ini penting dilaksanakan, karena Dewan Kemakmuran Masjid memiliki andil yang besar dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia.
F. Hasil Yang Diharapkan
Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan beberapa hal sebagai berikut : 1. Penelitian ini dapat dijadikan acuan oleh Kementerian Agama RI dalam
merumuskan kebijakan tentang pembinaan lembaga sosial keagamaan Islam di Indonesia.
2. Penelitian ini dapat dijadikan dasar oleh Fakultas Adab dan Humaniora, khususnya Prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam dalam menambah wawasan bahwa masjid masjid bisa menjadi salah satu transmisi nilai religiusitas pada masyarakat.
3. Peneltian ini dapat menjadi rujukan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan keagamaan Islam di berbagai tempat, di lembaga pendidikan formal seperti Sekolah dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, lembaga pendidikan non formal seperti pesantren, bimbingan belajar dan lembaga kemasjidan.
4. Penelitian ini dapat diperoleh data-data secara objektif dan akademis terkait dengan lembaga-lembaga sosial keagamaan Islam di Indonesia.
G. Kajian Pustaka Terdahulu
Kajian tentang transmisi nilai spiritual oleh institusi telah banyak dilakukan orang. Kajian itu selain ada yang telah direalisasikan dalam bentuk buku dan tersebar luas, juga ada yang diterbitkan dalam jurnal dalam jumlah yang terbatas.
Di antaranya ada pula yang berbentuk kumpulan paper dari hasil studi literatut dan ada yang berbentuk refleksi pengalaman penulis yang bersangkutan bahkan ada yang merupakan hasil penelitian yang sederhana. Kajian yang cukup kritis dan antropologis dimajukan oleh Zamakhsyari Dhofier, dalam karyanya yang berjudul The Pesantren Tradition, The Role of Kiyai in The Maintenance of Traditional Islam in Java. Ia mengkritik kajian Islam di Jawa yang fokus pada pendekatan dikotomi tradisionalisme dan modernism yang tidak dapat disandingkan, yang selanjutnya menghasilkan penyederhanaan dan penyifatan yang kasar sebagai dua kutub yang saling bertolah belakang. Cara pendekatan seperti ini katanya diduga tidak menghasilkan pengetahuan baru. Untu itu, ia
menawarkan pilihan pendekatan lain yakni “kesinambungan di tengah-tengah perubahan” –continuity and change. Dengan cara ini, ia simpulkan bahwa dalam membangun masa depannya, pesantren berdiri tegak di atas tradisi masa lampaunya. Bahkan lembaga pendidikan pesantren telah mengalami perubahan mendasar tanpa menghilangkan jati diri kiyai sebagai pendirinya dan pesantren itu sendiri. Pendekatan dikotomis tradisionalis dan modernis akan memberikan gambaran yang salah, seolah-olah suatu saat komunitas tradisional akan lenyap setelah komunitas modernis mencapai keberhasilan secara penuh, padahal yang seperti ini tidak akan terjadi.9 Selain itu, ia juga menegaskan bahwa pesantren telah melakukan transmisi kitab-kitab Islam klasik yang dapat digolongkan ke dalam 8 kelompok melalui metode bandongan dan sorogan.
Dengan demikian, Zamakhsyari mau memperlihatkan pada pihak luar, bahwa pada diri kiyai telah terjadi perubahan dan penyesuaian terhadap tuntutan masyarakat, lantaran kiyai telah behasil memodernisasi penafsiran Islam tradisional untuk disesuaikan dengan kehidupan baru. Begitu pula dalam bidang sosial dan politik, kiyai telah menjadi bagian dari kehidupan politik nasional, tidak kalah moderen dibandingkan dengan kelompok-kelompok sosial politik lainnya. Di antara kiyai ada yang mampu memberikan alternatif pemikiran untuk pembangunan bangsa pada tingkat yang luas. Keikut-setaan kiyai dalam merumuskan Dasar Negara Republik Indonesia bisa menjadi contoh betapa besar peran yang dimainkan oleh kiyai dalam bidang politik.
Aisyah Nur Handryant dalam “Masjid Sebagai Pusat Pengembangan Masyarakat, Integrasi Konsep Habluminallah, Habluminannas &
Habluminal’alam” menegaskan bahwa di Indonesia terdapat ratusan ribu masjid yang sebagian besar telah mengalami penyempitan fungsi, hanya digunakan sebagai tempat shalat. Seharusnya seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw bahwa sebuah masjid tidak hanya menjadi tempat shalat, tetapi juga menjadi pusat kegiatan kaum muslim dan menjadikan masyarakat tidak hanya beragama Islam, tetapi juga bercorak Islami yang senantiasa mengedepankan hubungan baik
9 Zamakhsyari Dhofier, The Pesantren Tradition, The Role of Kiyai in The Maintenance of Traditional Islam in Java, (USA: ASU, 1999), h. xx-xii dan xxx.
manusia dengan Allah SWT (Habluminallah), hubungan manusia dengan sesama manusia (Habluminannas), hubungan baik manusia dengan alam (Habluminal’alam). Selain mengalami penyempitan fungsi, ternyata masjid di Indonesia, juga telah mengalami pergeseran niat yang tidak hanya didasarkan atas taqwa dalam pembangunannya seperti tertera dalam al-Qur’an, surat at-Taubah ayat 109, tetapi malah dibangun oleh adanya sebuah konstruksi historis dari arsitektur lewat proses yang didasarkan pada kekuatan sosial dan politik.10
Asep Usman Ismail dan Cecep Castrawijaya dalam “Manajemen Masjid”, yang terdiri dari 6 (enam) bab, antara lain menguraikan tentang masjid dan ruang lingkupnya; visi, misi dan tujuan manajemen masjid; kepemimpinan dan pembinaan jama’ah masjid; administrasi dan kesekretariatan manajemen masjid serta kuangan dan fasilitas manajemen masjid. Khusus dalam bidang pendidikan dan dakwah, masjid menyelenggarakan kegiatan pendidikan melalui pengajian rutin dan pemberian materi keagamaan oleh seorang ulama dan ustadz setiap hari atau beberapa kali dalam seminggu. Program ini merupakan upaya agar jama’ah masjid dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh dan sempurna, sehingga para jama’ah memiliki wawasan keislaman dan pengetahuan yang luas serta konsekuen dalam mengamalkan atau memanfaatkan untuk kebaikan dan kebenaran.11
Martin van Bruinessen dalam bukunya “Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia” telah menguraikan panjang lebar tentang tradisi keilmuan pesantren, kitab kuning dan hubungan pesantren dengan tarekat. Buku ini banyak menyinggung asal usul pesantren, metode dan materi pelajaran yang ditransmisikan di pesantren di pulau Jawa dan Indonesia pada umumnya, juga membahas gerakan tarekat di pesantren dengan pertumbuhan dan
10 Aisyah Nur Handryant, Masjid Sebagai Pusat Pengembangan Masyarakat, Integrasi Konsep Habluminallah, Habluminannas & Habluminal’alam, (Malang: UIN Maliki Press, 2010), h. vi-vii
11 Asep Usman Ismail dan Cecep Castrawijaya, Manajemen Masjid, (Bandung: Angkasa, 2010), h. v dan 94.
perkembangan keagamaan dan semangat perjuangan kemerdekaan Negara Republik Indonesia.12
Manfred Ziemek, dalam “Pesantren dalam Perubahan Sosial” memberikan penjelasan yang memadai dan ala kadarnya tentang asal usul pesantren, pengajaran di pesantren, unsur-unsur pada lembaga pendidikan pesantren yang terus mengalami perkembangan pada abad ke-20 dan peranannya terhadap perubahan sosial.13 Tetapi, Karel A. Steenbrink, dalam karyanya berjudul Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam kurun modern banyak menyinggung masalah dari pesantren hingga madrasah dan sekolah, sebuah tinjauan historis dari zaman colonial hingga zaman kemerdekaan Indonesia, Profil Guru Agama Modern dari Kiyai Haji ke Drs., dan Perubahan dalam materi Pengajaran Agama. Jadi, tulisannya banyak difokuskan pada pendidikan Islam era modern dan perubahan materi pengajaran agama Islam dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.14
Sementara Abdul Munip dalam karyanya berjudul Transmisi Pengetahuan Timur Tengah ke Indonesia: Studi Tentang Penerjemahan Buku Berbahasa Arab di Indonesia 1950-2004, telah berhasil meramu dan memadukan kerangka teori transmisi dan terjemahan yang digunakan oleh sejumlah sarjana seperti Azyumardi Azra, Martin van Bruinessen dan beberapa lainnya. Namun demikian hal yang mengganggu dalam penguraian analisisnya adalah penulis tidak membedakan corak, karakteristik dan terutama out terjemahan pada era tulis tangan dengan era cetak. Semua produknya, misalnya, disebut ‘buku,’ tidak dibedakan dengan manuskrip, sehingga terdengar ‘agak aneh’ ketika karya-karya intelektual Islam yang dihasilkan pada abad ke-17, sepertia Mir’at al-Tullab atau
12 Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat, Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1995), Cet. Ke-1.
13 Manfred Ziemek, Pesantren dalam Perubahan Sosial, alih bahasa oleh Butche B.
Soendjojo dari Pesantren Inlamische Bidung in Sozialen Wandel, (Jakarta: P3M, 1983).
14 Karel A. Steenbrink, Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, (Jakarta: LP3ES, 1974)
‘Umdat al-Muhtajin’ misalnya disebut sebagaai ‘buku’ terjemahan karangan Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri.15
Marujuk pada kajian di atas, nampak lebih banyak memberikan informasi tentang pengajaran ilmu agama Islam di pesantren dan sekolah serta upaya masjid memberikan pemahaman ajaran Islam secara menyeluruh dan sempurna kepada para jama’ahnya, sehingga memiliki wawasan keislaman dan pengetahuan yang luas, bahkan ada upaya pemahaman melalui transmisi pengetahuan ilmu agama Islam melalui penterjemahan buku berbahasa Arab ke Indonesia. Dengan demikian, kajian tersebut berbeda dengan kajian penulis, yang memfokuskan diri pada kajian tentang dewan kemakmuran masjid dan perannya dalam transmis i nilaii Religiusitas pada masyarakat urban di Pamulang Timur, Kota Tangerang Selatan, sebuah kajian yang dapat mencerdaskan kehidupan masyarakat urban di bidang agama, sehingga dapat meningkatkan semangat dan kesadaran keagamaannya.
15 Abdul Munip, Transmisi Pengetahuan Timur Tengah ke Indonesia, Studi Tentang Penerjemahan Buku Berbahasa Arab di Indonesia 1950-2004, (Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, 2010), Cet. Ke-1, h. 3-4.
BAB II KAJIAN TEORI
A. Hakekat Nilai Religiusitas
Nilai religiusitas marupakan nilai-nilai ajaran Islam atau ajaran Islam itu sendiri sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad saw.
Harun Nasution dengan mengutip Abdul Wahab Khalaf, menegaskan bahwa al- Qur’an yang terdiri dari 6666 atau 6360 ayat, 114 surah dan 30 juz, terdapat 5’8 % atau sekitar 368 ayat yang membicarakan masalah hukum, baik yang terkait hubungan manusia dengan Tuhan maupun yang terkait hubungan manusia dengan manusia. Secara rinci dijelaskan bahwa ayat yang berhubungan dengan ibadah salat, puasa, haji, zakat dan lain-lain ada 140 ayat; ayat yang berhubungan dengan hidup kekeluargaan, perkawinan, perceraian, hak waris dan lain sebagainya ada 70 ayat; ayat yang berhubungan dengan hidup perdagangan/perekonomian, jual-beli, sewa-menyewa, pinjam-meminjam, gadai, perseroan, kontrak dan lain sebagainya ada 70 ayat; ayat yang berhubungan dengan soal kriminal ada 30 ayat; ayat yang terkait dengan hubungan Islam dan bukan Islam ada 25 ayat; ayat yang berhubungan dengan soal pengadilan ada 13 ayat, ayat yang terkait hubungan kaya dan miskin ada 10 ayat dan ayat yang berhubungan dengan soal kenegaraan ada 10 ayat.16
Dengan demikian, ayat yang berkaitan dengan hubungan antara sesama manusia lebih banyak, sebesar 228 ayat, sedangkan ayat yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah hanya 140 ayat, dan umumnya terkait dengan masalah Ibadah dan Aqidah. Masalah aqidah dalam Islam dirumuskan dalam
“Arkanul Iman” (Rukun Iman) dan tersimpul dalam “Syahadatain” (Dua Kalimat Syahadat), yakni iman kepada Allah SWT, iman kepada Malaikat, iman kepada Para Rasul, iman kepada Kitab-kitab, iman kepada Hari Akhirat dan iman kepada
16 Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid II, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), Cet. Ke-1, h. 7-8.
Qadla dan Qadar.17 Sementara ayat tentang ibadah dalam pembahasan ini, khusus yang merupakan pokok-pokok ibadah yang dirumuskan dalam “Arkanul Islam,”
(Rukun-rukun Islam), sedang Arkanul Islam sendiri dapat dikatakan bahwa Aqidah dan ibadah telah tercakup semuanya, karena unsurnya yang pertama adalah inti aqidah yaitu “Syahadatain,” yang disusul kemudian ibadah-ibadah pokok lainnya. Jadi, ada keterkaitan atau saling hubungan antara aqidah dan ibadah.
Aqidah atau iman merupakan fondamen dalam kehidupan Islam, sedang ibadah merupakan manifestasi dari pada iman itu sendiri. Kuat atau lemahnya ibadah seseorang ditentukan oleh kualitas imannya. Begitu pula sikap seseorang dalam menerima dan melaksanakan petunjuk-petunjuk dan perintah-perintah Allah serta sikap menjauhi laranganNya yang disebut perundangan Ilahy (Syari’ah), menunjukkan sikap mental yang paling dalam bagi seseorang terhadap Allah. Sebaliknya, kualitas iman seseorang dibuktikan pada pelaksanaan ibadah secara sempurna dan realitas syari’ah dalam kehidupannya.
Dalam Islam, manusia tidak hanya dituntut untuk beriman saja, dan rukun iman tidak untuk dijadikan semboyan dan slogan saja, tetapi Islam juga menuntut agar iman itu dibuktikan dalam perbuatan nyata. Sedang pembuktian dan realitas dari pada iman ialah mengerjakan semua petunjuk dan perintah Allah dan rasul- Nya berdasarkan kemampuan maximal serta menjauhi segala larangannya tanpa ditawar-tawar. Ajaran tentang aqidah dan ibadah bukan suatu yang dogmatik, ritual dan ceremonial yang tak berarti dan tidak dapat difahami, melainkan keduanya membentuk suatu sistem, adanya suatu kebulatan, adanya saling hubungan korelatif’ Keduanya dalam suatu pola yang hidup’ Keyakinan yang ditanamkan ke dalam jiwa serta gerakan-gerakaan teratur yang diperintahkan untuk melakukannya, mengandung hikmah yang luhur dan puncak pendidikan rohani serta moral kemanusiaan. Keduanya membangkitkan jiwa manusia mengejar dan memiliki moral yang sehat, senantiasa dilatih memiliki karakter
17 Maulana Muhammad Ali, Islamologi (Dienul Islam), (Jakarta: Darul Kutub Islamiyah- Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1980), h. 90.
terpuji, untuk itu, member efek yang penting dalam kehidupan mu’amalah antar manusia, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat dan dunia pada umumnya.
Pokok-pokok yang diwajibkan adalah Salat Lima Waktu, Zakat, Puasa di bulan Ramadlan dan Naik Haji, kemudian disusul dengan ibadah bersuci (Thaharah) yang merupakan kewajiban yang menyertai pokok ibadah yang empat itu. Karena itu, genaplah jumlahnya lima pokok ibadah.18 Kelima ibadah itu mengandung nilai yang agung membawa efek baik kepada yang melaksanakannya maupun kepada orang lain. Ia merupakan manifestasi rohaniah, pengagungan terhadap Zat Yang Maha Kuasa, pelepasan kerinduan jiwa kepada Pencipta alam semesta, pernyataan kerendahan dan kelemahan di hadapan Zat Yang Maha Perkasa, sehingga menghancurkan setiap kesombongan hati. Ia juga merupakan realisasi pernyataan terima kasih hamba kepada Tuhaannya yang telah menganugrahkan hidup dan kehidupan serta berbagai nikmat dan rahmat di dalamnya. Maka manusia yang melakukan ibadah akan melahirkan manusia yang punya ciri-ciri dan karateristik muslim yang hidup dalam satu kesatuan masyarakat yang mempunyai karakter Islam sejati atau dalam bahasa lain disebut ihsan, sehingga jika memperhatikan nash Syara’, maka nyatalah bahwa Islam itu terdiri dari tiga unsur, Iman, Islam dan Ihsan.19
Dengan demikian, bila suatu negeri yang penduduknya muslim dan saleh terhina oleh suatu kepercayaan atau agama, maka akan memberikan efek pada semua bidang kehidupan, ekonomi, sosial, peradaban dan lain-lain. Ibnu Khuldun menyatakan “Kerajaan yang luas dan kuat adalah yang didasarkan pada agama.
Sebabnya ialah karena kekuasaan hanyalah bisa diperoleh dengan kemenangan, sedang kemenangan terdapat pada golongan yang menunjukkan yang lebih kuat solidaritasnya dan lebih bersatu dalam tujuannya. Maka hati umat manusia disatukan dan diseragamkan berkat pertolongan Allah dengan pemeluk agama yang sama.20
18 H. E. Hassan Saleh (Ed.), Kajian Fiqh Nabawi & Fiqh Kontemporer, (Jakarta:
Rajawali Pers, 2008), h. 10.
19 TM. Hasbi Ash-Shiddieqy, Al-Islam Jilid I, (Jakarta: Bulan Bintang, 1952), h. 29.
20 Ibnu Khaldun, An Arab Philosophy of History, terjemahan Charles Issawi, Filsfata Islam Tentang Sejarah Pilihan Dari Muqaddimah, (Jakarta: Tintamas, 1976), h. 180.
Ibadah dan aqidah itu penting bagi manusia dari segi filsafat.sosiologis dan psikologis, tetapi dari segi hukum, pokoh-pokoh ibadah itu wajib atau fardlu bagi setiap muslim, yakni bila ditunaikan mendapat pahala. Tetapi, fardlu itu sendiri ada dua macam, fardlu ‘ain dan fardlu kifayah. Yang pertama, wajib atas setiap muslim yang telah dewasa dari laki-laki dan perempuan, sedang yang kedua, apabila telah dilakukan oleh seorang atau lebih, maka anggota masyarakat Islam lainnya bebas dari kewajiban itu. Lawan dari wajib atau fardlu ‘ain adalah haram, yang apabila dikerjakan mendapat dosa yang berujung pada siksaan. Antara perbuatan wajib dan perbuatan haram, terdapat tiga perbuatan yaitu perbuatan yang masuk kategori Sunnah (diutamakan), Mustahab (diharapkan) atau Mandub (dianjurkan). Perbuatan ini bila dilaksanakan mendapatkan pahala dan bila ditinggalkan tidak mendapatkan siksaan. Kedua, perbuatan yang masuk kategori Mubah atau Jaiz, yaitu perbuatan yang dipernankan, yang bila dilaksanakan atau tidak, tidak mendapatkan pahala atau siksaan. Ketiga, perbuatan yang masuk kategori Makruh, yaitu perbuatan yang apabila tidak dilakukan mendapatkan pahala dan apabila dilakukan tidak mendaapatkan siksaan maupun pahala.21
Dalam Islam, sebagaimana dalam agama monotisme lainnya, tersusun dari dua unsur, unsur jasmani dan unsur rohani. Tubuh manusia berasal dari materi dan mempunyai kebutuhan-kebutuhan materiel, sedangkan roh manusia bersifat immateri dan mempunyai kebutuhan spiritual. Badan, karena mempunyai hawa nafsu, bisa membawa pada kejahatan, sedangkan roh, karena berasal dari unsur yang suci, mengajak pada kesucian. Bila seseorang hanya mementingkan hidup kematerian, maka mudah sekali dibawa hanyut oleh kehidupan yang tidak bersih, bahkan dapat dibawa hanyut pada kejahatan. Oleh karena itu, pendidikan jasmani manusia harus disempurnakan dengan pendidikan rohani.Pengembangan daya daya jasmani seseorang tanpa dilengkapi dengan pengembangan daya rohani akan membuat hidupnya berat sebelah dan kehilangan keseimbangan. Orang yang demikian akan menghadapi kesulitan-kesulitan dalam hidup duniawi. Apalagi kalau hal itu membawa perbuatan-perbuatan tidak baik dan kejahatan. Ia akan menjadi manusia yang merugikan, bahkan manusia yang membawa kerusakan
21 Nasruddin Razak, Dienul Islam, (Bandung: al-Ma’arif, 1993), Cet. Ke-11, h. 178.
bagi masyarakat. Ia akan kehilangan hidup bahagia di akhirat dan menghadapi hidup sengsara di sana. Oleh karena itu, amatlah penting mempelajari ajaran Islam yang meliputi keimanan, yang dijelaskan dalam Ilmu Tauhid atau Ilmu Kalam.22
Adapun persoalan ibadah yang meliputi salat, puasa, zakat dan haji dijelaskan dalam Ilmu Fiqh, sedangkan persoalan akhlaq dan pendekatan diri kepada Allah dijelaskan dalam Ilmu Akhlaq dan Ilmu Tasauf. Persoalan dengan cara membaca tulisan Arab dan bacaan-bacaan dalam salat dan bacaan lainnya atau yang terkait dengan al-Qur’an dan hadis, dijelaskan dalam Ilmu al-Qur’an dan hadis, sedangkan persoalan yang terkait dengan sejarah dijelaskan dalam Sejarah Islam. Dengan demikian, ajaran Islam atau ilmu agama Islam itu meliputi al-Qur’an, Hadis, Tauhid, Fiqh, Akhlaq, Tasauf dan Sejarah Islam.23
B. Hakekat Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) 1. Masjid, Nama dan Letaknya
Masjid berasal dari bahasa Arab dari kata Sajada, Yasjudu, Sajdan. Kata Sajada berarti dia telah sujud, Untuk menunjukkan tempat atau Isim Makan, kata Sajada berubah menjadi Masjid yang secara bahasa berarti tempat untuk sujud atau tempat untuk menyembah Allah SWT, tempat orang bersembahyang menurut peraturan Islam.24 Sesuai dengan pendirian, bahwa Allat SWT itu ada dimana saja, tidak terikat dengan suatu tempat, maka untuk menyembah-Nya, manusia dapat melakukan salat dimana-mana, karena menurut sebuah hadis, bahwa masjid adalah setiap jengkal tanah di atas permukaan bumi ini. Namun, dalam prakteknya, untuk melakukan sembahyang itu, terutama sembahyang bersama, selalu orang menyediakan tempat tersendiri, misalnya tanah lapang yang diberi batas-batas yang nyata atau sebuah bangunan khusus, sehingga secara terminology yang dinamakan masjid selalu sebuah bangunan, gedung atau
22 Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid I, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), Cet. Ke-1, h. 51-54.
23 Syed Mahmudunnasir, Islam Konsepsi dan Sejarahnya, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), Cet. Ke-2, h. V-XIV.
24 Asep Usman Ismail dan Cecep Castrawijaya, Manajemen Masjid, (Bandung: Angkasa, 2010), h. 1. Lihat pula Aisyah Nur Handryant, Masjid Sebagai Pusat Pengembangan Masyarakat, Integrasi Konsep Habluminallah, Habluminannas & Habluminal’alam, (Malang: UIN Maliki Press, 2010), h. 51-55.
lingkungan yang berpagar sekelilingnya yang didirikan secara khusus sebagai tempat beribadah kepada Allah SWT, khususnya untuk mengerjakan salat.25 Di Indonesia pembatasan itu lebih dipersempit lagi dan masjid adalah khusus tempat orang melakukan Salat Jum’at, sedangkan tempat sembahyang lima waktu, untuk sehari hari, dinamakan langgar atau surau. Tetapi prinsipnya, masjid dan surau itu sama saja bentuk dan susunannya yaitu sebuah bangunan yang melingkupi sebuah ruangan bujur sangkar dengan sebuah serambi di depannya. Jadi, yang menjadi inti adalah ruangan bujur sangkar itu, dan bagian itu mempunyai atap tersendiri, yang ditunjang oleh empat buah tiang utama. Keempat tiang itu berdiri di tengah- tengah dan menjadi penunjang pokok dari atapnya dan disebut soko guru. Sisi Barat dari ruangan bujur sangkar tersebut merupakan sisi belakang masjid dan mengarahkan orang salat menghadap ke kiblat. Di tengah sisi itu terdapat sebuah ceruk yang biasanya diperbesar menjadi semacam penampil, yaitu tempat yang disediakan untuk imam, yang disebut mihrab. Di sebelah kanan mihrab biasanya terdapat sebuah mimbar, tempat khatib menyampaikan khatbahnya sebelum salat jum’at dimulai. Karena di negeri ini orang salat harus menghadap ke kiblat, maka mihrab atau bagian belakang masjid adanya di sebelah Barat. Jadi, masjid atau surau selalu menghadap ke Timur.26
Dari masjid masjid di negeri ini pada masa pertengahan, ada beberapa yang menarik, misalnya atap masjid yang melingkupi ruang bujur sangkar, kubah sebagai atap masjid yang menjadi cirri seni bangunan Islam tidak terdapat di negeri ini. Atapnya, atap tumpang yaitu atap yang tersusun, semakin ke atas semakin kecil, sedangkan tingkatan yang paling atas berbentu limas. Jumlah tumpang itu selalu ganjil, biasanya 3 (tiga) dan ada juga yang sampai 5 (lima) seperti pada masjid Banten. Ada pula yang tumpangnya 2 (dua), tetapi yang seperti ini dinamakan tumpang satu. Jadi, angka gazal pula. Selain itu, atap tumpang merupakan perkembangan dari 2 (dua) unsur yang berlainan, yaitu atap candi yang denahnya bujur sangkar dan selalu bersusun berundak-undak, dan
25 Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam 3, (Jakarta: Ichtiar Baru, 1994), Cet. Ke-3, h. 169.
26 R. Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3, (Yogyakarta: Kanisius, 1985), Cet. Ke-4, h. 75.
pucuk stupa yang yang adakalanya berbentuk susunan payung payung yang terbuka. Jadi, dari atap masjid tersebut, nampak bahwa bangunan-bangunan Islam biasa menggunakan unsur-unsur seni bangunan yang sudah ada terlebih dahulu, sehingga tiada berbeda dengan yang ada di negara Arab dan India. Kedua, yang menarik dari masjid di negeri ini adalah adanya menara, tempat muadzdzin mengumandangkan adzannya setiap tiba waktu salat, di samping seruan itu juga dilakukan dengan pemukulan beduk atau tabuh. Meskipun menara bukan bagian masjid yang harus ada, namun dalam seni bangunan Islam, menara merupakan tambahan yang memberi keindahan, misalnya menara pada masjid Kudus tidak lain daripada sebuah candi Jawa Timur yang telah dirubah dan disesuaikan penggunaannya dan diberiatap tumpang, sedangkan menara Banten sebaliknya adalah tambahan dari jaman yang kemudian diusahakan oleh seorang pelarian Belanda, Cardeel namanya. Ketiga, yang menarik dari masjid adalah letaknya.
Masjid di ibukota kerajaan atau tempat kedudukan seorang adipati, biasa didirikan sedekat mungkin dengan istana. Di sebelah Utara atau Selatan istana, biasa terdapat tanah lapang yang di Jawa disebut alun-alun, sehingga masjid didirikan pada tepi Barat alun alun, yang berfungsi sebagai tempat bertemunya –meskipun tidak secara langsung – sang raja dengan rakyatnya. Jadi, masjid menjadi tempat bersatunya raja dengan rakyat sebagai sesama mahluk Allah SWT. Dan alun-alun menjadi tempat bertemunya raja dengan rakyatnya.27
Dalam perkembangannya, masjid mulai bergeser letaknya, selain di Ibukota kerajaan, juga terletak di Ibukota Kecamatan yang disebut dengan masjid jami’.
Di desa-desa hanya ada musalla, sehingga jika hendak melaksanakan salat jum’at, maka warga dan masyarakat dengan ihlas berjalan sambil membaca do’a menuju ke masjid. Dewasa ini, seiring dengan semakin bertambahnya penduduk, maka letak masjid menyebar di berbagai tempat, di perkampungan, di kompleks perumahan, bahkan di pusat perbelanjaan dan kantor-kantor baik pemerintah maupun swasta terdapat masjid di dalamnya. Namanya pun beragam, disesuaikan dengan nama tempat masjid itu didirikan atau disesuaikan dengan kesepakatan
27 R. Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3, (Yogyakarta: Kanisius, 1985), Cet. Ke-4, h. 75-78.
dalam musyawarah pengurus masjid dan lain-lain, misalnya di kompleks perumahan di kelurahan Pamulang Timur terdapat masjid yang diberi nama Masjid at-Taqwa, Masjid Darussalam, Masjid al-Madani, Masjid Vila Inti, Masjid Inti Iman, Masjid Muhajirin dan Masjid at-Taqwa Bukit Pamulang Indah 5.28
2. Dewan Kemakmuran Masjid
Dewan Kemakmuran Masjid bermula dari Dewan Masjid Indonesia, sebuah organisasi keagamaan yang bersifat koordinatif dan pembinaan kegiatan masjid.
Didirikan di Jakarta pada tanggal 10 Jumadilawal 1392 H./22 Juni 1972 dan diresmikan oleh Menteri Agama RI, Prof. Dr. Mukti Ali pada tanggal 14 Agustus 1972 di Masjid Sunda Kelapa Jakarta.29 Gagasan untuk mendirikannya berawal dari perlunya sebuah wadah yang akan mengkoordinir aktifitas masjid di seluruh Indonesia guna menghidupkan dan memakmurkan masjid sebagai pusat ibadah dan kebudayaan Islam. Untuk itu, dibentuklah Panitia Persiapan Pembentukan Dewan Kemakmuran Masjid Seluruh Indonesia (DKMSI) di bawah Ketua KH.MS. Rahardjodikromo. Panitia bersaama sejumlah pimpinan organisasi, tokoh-tokoh Islam dan berbagai kalangan kemudian melakukan pertemuan dengan Menteri Agama RI. Hasilnya pada 16 Juni 1972 terbentuk Badan Formatur yang terdiri H. Sudirman, KH. M.S. Rahardjodikromo, KH. Hasan Basri, KH. Muchtar Sanusi, KH. Hasyim Adnan, BA. dan H. Ichsan Sanuha. Pada 22 Juni 1972, formatur mengadakan rapat, yang hasilnya disahkan, sehingga tanggal 22 Juni 1972, menjadi hari jadi Dewan Masjid Indonesia.30
Setelah Dewan Masjid Indonesia yang disahkan pada 22 Juni 1972, maka dibentuklah DMI tingkat Pusat di Ibukota negara, DMI tingkat Propinsi, DMI tingkat Kabupaten, DMI tingkat Kecamatan dan DMI tingkat Desa atau Kelurahan. Sesuai dengan Anggaran Dasarnya, DMI bertujuan untuk
28 Zainudin, Kasi Kesejateraan Sosial Kelurahan Pamulang Timur, Wawancara Pribadi, Pamulang Timur, 2 September 2019. Lihat pula Profil Kelurahan Pamulang Timur Tahun 2016, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan Tahun 2016, h. 16.
29 Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam 1, (Jakarta: Ichtiar Baru, 1994), Cet. Ke-3, h. 309.
30 Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam 1, (Jakarta: Ichtiar Baru, 1994), Cet. Ke-3, h. 309.
mewujudkan fungsi masjid sebagai pusat ibadah dan pusat pengembangan masyarakat dalam rangka meningkatkan ketakwaan, akhlaq mulia, kecerdasan, keterampilan dan kesejahteraan umat demi tercapainya masyarakat adil makmur secara materiel dan spiritual yang diridlai Allah SWT di negara Republik Indonesia.31 Untuk mencapai tujuan itu, DMI melakukan usaha sebagai berikut:
a. Mengembangkan pola idarah (Manajemen), Imarah (Pengelolaan Program) dan Ri’ayah (Pengelolaan Fisik) masjid;
b. Mengembangkan bacaan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan al- Qur’an;
c. Mengembangkan pendidikan formal, nonformal dan dakwah;
d. Mengembangkan program kesejahteraan dan kesehatan masyarakat;
e. Mengembangkan keterampilan dan peningkatan peranan wanita, remaja dan pemuda;
f. Mengusahakan rehabilitasi dan pembangunan masjid baru; dan
g. Mengadakan usaha-usaha lain yang tidak bertentangan dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.32
Bermula dari Dewan Masjid Indonesia tersebut, maka pada setiap masjid di seluruh penjuru wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, terbentuk Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), sebuah organisasi internal masjid yang tujuan, tugas dan fungsinya sama seperti Dewan Masjid Indonesia, yakni menjalankan administrasi dan manajemen masjid. Untuk mencapai tujuan itu, maka pada setiap masjid terdapat pengurus Dewan Kemakmuran Masjid atau pengurus masjid.
Pengurus masjid merupakan sumber-sumber daya insani yang dengan kreatifitas dan kapabilitasnya merencanakan, merancang dan memproduksi ide-ide aktifitas keagamaan di masjid, mengawasi kualitas kegiatan tersebut, mengenalkan kepada umat di sekitar masjid dan pendanaan (finansial) untuk mewujudkan berbagai kegiatan keagamaan yang diselenggarakan di masjid.33 Dengan demikian, DKM
31 Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam 1, (Jakarta: Ichtiar Baru, 1994), Cet. Ke-3, h. 310.
32 Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam 1, h. 310.
33 Asep Usman Ismail dan Cecep Castrawijaya, Manajemen Masjid, (Bandung: Angkasa, 2010), h. 32-32-38.
beserta pengurusnya. merupakan lokomotif atau motor yang menggerakkan umat Islam untuk memakmurkan masjid dan menganekaragamkan kegiatan yang dapat diikuti oleh masyarakat sekitar. Para Takmir masjid harus memiliki tekad dan kesungguhan, sehingga tugas dan program yang dibuat tidak asal jadi atau setengah-setengah. Masjid yang dikelola secara baik akan membuahkan hasil yang baik pula. Keadaan fisik masjid akan terus terpelihara dengan baik, kegiatan- kegiatan masjid akan berjalan dengan baik, jamaah pun akan terbina dengan baik dan masjid akan menjadi makmur. Bangunan yang bagus, tidak ada artinya, bila masjid kurang dan/tidak makmur. Oleh karena itu, sarana yang dimilikinya harus tepat, menyenangkan dan menarik semua umat, anak-anak, remaja, dewasa, tua, muda, pria, wanita, terpelajar dan tidak terpelajar serta kaya dan miskin.
Untuk mencapai tujuan itu, Takmir Masjid atau DKM harus dipilih dari orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kemampuan manajerial dan berakhlaq mulia. Khusus yang terakhir termaktub dalam surat al-Taubah/9: 18 yang artinya Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang- orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapapun) kecuali kepada Allah.
Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang yang mendapatkan petunjuk.
Sedangkan masalah manajerial bisa ditunjukkan dengan kemampuan Takmir atau DKM mengelola atau memanaj. Manajemen berasal dari bahasa Inggris yang berarti to guide or handle with skill or authority; control; direct. (mengarahkan atau mengambil peran dengan kemampuan atau kekuasaan; pengawasan;
pengarahan).34 Frederick W. Taylor lebih lanjut menegaskan bahwa prinsip- prinsip dasar dari manajemen ilmiah dapat diterapkan pada semua kegiatan manusia, mulai dari kegiatan perorangan yang paling sederhana sampai korporasi yang paling besar, yang menghendaki kerjasama yang seluas-luasnya.35 Apabila
34 Lihat Robert K. Barnhart, The World Book Dictionary dalam Ahmad Sutarmadi, Manajemen Masjid Kontemporer, (Jakarta Timur: Media Bangsa, 2012), Cet. Ke-1, h. 1.
35 Dipetik dari Ahmad Sutarmadi, Manajemen Masjid Kontemporer, (Jakarta Timur:
Media Bangsa, 2012), Cet. Ke-1, h. 2.
prinsip-prinsip ini diterapkan dengan tepat, maka hasilnya akan benar-benar menakjubkan.36
Bila F.W. Taylor dianggap sebagai pencetus manajemen ilmiah modern, maka Henry Fayor disebut sebagai bapak teori manajemen modern. Ia mencatat 14 (empat belas) prinsip manajemen yang tumbuh dari pengalamannya dan dapat digunakan dalam kondisi yang berubah-rubah, yaitu pembagian tugas (division of work), wewenang dan tanggung jawab (authority and responsibility), disiplin (discipline), kesatuan perintah (unity of command), kesatuan pengarahan (unity of direction), pengutamaan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi (subordination of individual interest to general interest), penggajian pegawai (remuneration of personal), pemusatan wewenang (centralization), jenjang kepangkatan (scalar chain), ketertiban (order), keadilan (equity), stabilitas masa jabatan (stability of tenure of personnel) prakarsa (initiative) dan jiwa korps (spirit of corps).37
George R. Terry mendifinisikan manajemen merupakan sebuah proses yang khas, yang terdiri dari tindakan-tindakan: perencanaan, pengorganisasian, penggiatan dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya. Sumber daya itu lazim dikenal dengan “Enam M,”
yakni Men (manusia), Materials (bahan), Machines (mesin), Methods (metode), Money (uang) dan Market (pasar). Sumber daya tersebut dikelola dengan tindakan yang dikenal dengan P.O.A.C. (Planning / Perencanaan, Organizing / Pengorganisasian, Actuating / Penggiatan / Pelaksanaan dan Controlling / Pengawasan).38 Dengan demikian, manajemen merupakan sumber kekuatan untuk mencapai tujuan dalam mengelola masjid. Manajemen merupakan instrument, sedangkan Dewan Kemakmuran Masjid merupakan sebuah organisasi, sebuah
36 Onong Uchjana Effendy, Sistem Informasi Manajemen, (Bandung: Mandar Maju, 1989), h. 1-3.
37 Dipetik dari Ahmad Sutarmadi, Manajemen Masjid Kontemporer, (Jakarta Timur:
Media Bangsa, 2012), Cet. Ke-1, h. 5.
38 Dipetik dari Ahmad Sutarmadi, Manajemen Masjid Kontemporer, (Jakarta Timur:
Media Bangsa, 2012), Cet. Ke-1, h. 6-7.
istilah berasal dari kata argagon yang berarti “alat” atau suatu sistem usaha daripada sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama.” Jadi, organisasi merupakan salah satu wadah untuk menghubungkan seseorang dengan orang lain dalam kelompok untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai dengan cara kerja sama. Dalam konteks masjid, maka Dewan Kemakmuran Masjid dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai harus memiliki keterampilan manajemen.
Apabila Dewan Kemakmuran Masjid menerapkan manajemen dengan baik, maka banyak manfaat yang akan diperolehnya, sebagai berikut :
a. Tujuan atau target kemakmuran masjid yang hendak dicapai akan terumuskan dengan jelas dan matang, karena salah satu fungsi utama manajamen adalah perencanaan.
b. Usaha mencapai tujuan kemakmuran masjid bisa dilaksanakan secara bersama-sama dengan kerja sama yang baik melalui koordinasi yang rapih, sehingga tugas takmir yang berat, dapat dilaksanakan dengan ringan.
c. Dapat dihindari terjadinya tumpang tindih antara pengurus yang satu dengan pengurus yang lain, karena dalam kepengurusan akan dijelaskan masing- masing porsi pekerjaan yang harus dilaksanakan dan tanggung jawab yang diemban.
d. Pelaksanaan tugas-tugas memakmurkan masjid dapat dilaksanakan secara efektif dan efesien.
e. Pengontrolan dan evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan standar atau tolak ukur yang jelas.39
Abdurrahman Fathoni menegaskan bahwa kegiatan mengendalikan organisasi sangat tergantung pada kemampuan membina dan mengelola orang- orang yang dipimpin agar menjadi suatu tim yang kompak. Kemampuan ini harus diwujudkan dengan cara memberikan kesempatan yang luas dan mendorong partisipasi setiap orang dan kelompok secara maksimal, sehingga ikut merasa menunjang keberhasilan yang dicapai dan mampu mengembangkan apa yang
39 Asep Usman Ismail dan Cecep Castraawijaya, Manajemen Masjid, (Bandung:
Angkasa, 2010), h. 22-24. Lihat pula Supardi & Teuku Amiruddin, Manajemen Masjid Dalam Pembangunan Masyarakat, Optimalisasi Peran & Fungsi Masjid, (Yogyakarta: UII Press, 2001), Cet. Ke-1, h. 61.
telah diprogramkan dalam organisasi tersebut.40 Jadi, dapat disimpulkan bahwa Dewan Kemakmuran Masjid adalah suatu organisasi yang bertugas memelihara, mengatur, merencanakan dan melaksanakan berbagai kegiatan bersama masyarakat demi mencapai tujuan, yakni menjadikan masjid yang makmur dan tidak hanya dijadikan tempat ibadah saja, tetapi juga berbagai kegiatan lainnya.
3. Fungsi Dewan Kemakuran Masjid
Berdasarkan Anggaran Rumah Tangga Dewan Masjid Indonesia (DMI) pasal 1 dan pasal 3, maka Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) merupakan anggota DMI yang mempunyai tugas/fungsi dan tanggung jawab operasional pengelolaan masjid dengan berkewajiban menjaga kehormatan dan mentaati ketentuan organisasi yang memiliki hak untuk memilih dan dipilih serta hak suara an hak bicara sebagai pengurus DMI.41 Oleh karena itu, fungsi Dewan Kemakmuran Masjid adalah menjadikan masjid sebagai tempat sujud kepada Allah swt tempat shalat dan tempat beribadah kepada-Nya, lima kali sehari semlam umat Islam dianjurkan mengunjungi masjid guna melaksanakan shalat jama’ah. Masjid juga tempat yang paling banyak dikumandangkan nama Allah melalui azan, iqamat, tasbih, tahmid, tahlil, istighfar dan ucapan lain yang dianjurkan dibaca di masjid sebagai bagian dari lafadz yang berkaitan dengan pengagungan asma Allah. Selain itu, fungsi Dewan Kemakmuran Masjid manjadikan masjid sebagai tempat kaum muslimin beribadat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT., sebagai empat kaum muslimin beri’tikaf, membersihkan diri, menggembleng hati untuk membina kesadaran dan mendapatkan pengalaman batin atau keagamaan sehingga selalu terpelihara keseimbangan jiwa dan raga serta keutuhan pribadi, sebagai. tempat bermusyawarah bagi kaum muslimin guna memecahkan persoalan-persoalan yang timbul dalam masyarakat,. Sebagai tempat kaum muslimin berkonsultasi, mengajukan kesulitan-kesulitan, meminta bantuan dan pertolongan, sebagai. tempat membina keutuhan ikatan jama’ah dan kegotong
40 Abdurrahman Fathoni, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), Cet. Ke-1, h. 4.
41 Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam 1, (Jakarta: Ichtiar Baru, 1994), Cet. Ke-3, h. 310-311.
royongan di dalam mewujudkan kesejahteraan bersama, sebagai. wahana untuk kecerdasan dan ilmu pengetahuan muslimin, sebagai tempat pembinaan dan pengembangan kader-kader pimpinan umat, sebagai tempat mengumpulkan dana, menyimpan, dan membagikannya dan sebagai tempat melaksanakan pengaturan dan supervisi sosial. Sedangkan Asadullah al-Faruq menyebut minimal Dewan Kemakmuran Masjid memiliki tiga fungsi, sebagai berikut :
a. Menjadikan masjid sebagai pusat ibadah, baik ibadah mahdlah maupun ibadah sosial. Ibadah Mahdlah adalah ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah, seperti salat, sedangkan ibadah sosial berfungsi sebagai tempat mengelola zakat, wakaf dan meningkatkan perekonomian umat dan lai-lain;
b. Menjadikan masjid sebagai pusat pengembangan masyarakat, meliputi khutbah, pengajian, kursus keterampilan, menyelenggarakan pendidikan formal, seperti Taman Bermain Anak, TPA/TPQ, Remaja Masjid dan Majelis Taklim; dan
c. Menjadi masjid sebagai pusat pembinaan dan persatuan umat.42
4. Kegiatan Dewan Kemakmuran Masjid
Kegiatan yang dilakukan oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) adalah sebagai berikut :
a. Mengkoordinir, memotivasi dan membimbing seluruh kegiatan bidang dan departemen dalam melaksanakan amanah organisasi.
b. Memotivasi jama’ah dalam kemakmuran masjid dengan menyelenggarakan kegiatan peribadatan khususnya sholat dan peringatan hari-hari besar umat Islam.
c. Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang meningkatkan keimanan, keilmuan dan ketaqwaan jama’ah.
d. Melakukan pemeliharaan dan sarana masjid.
42 Asadullah al-Faruq, Panduan Lengkap Mengelola & Memakmurkan Masjid, (Solo:
Pustaka Arafah, 2010), Cet. Ke-1, 255. Lihat pula Aisyah Nur Handryant, Masjid Sebagai Pusat Pengembangan Masyarakat, Integrasi Konsep Habluminallah, Habluminannas &
Habluminal’alam, (Malang: UIN Maliki Press, 2010), h. 66-72.
e. Menyelenggarakan kegiatan sosial atau kemasyarakatan.
f. Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang meningkatkan keilmuan dan ketrampilan jama’ah, baik anak-anak, remaja maupun orangtua.
g. Membina majlis ta’lim ibu-ibu.
h. Mengaktifkan dan membina organisasi remaja masjid.43
5. Urgensi Dewan Kemakmuran Masjid
Dalam setiap masjid sebenarnya memiliki badan atau organisasi yang mengelola dan juga memberdayakannya. Pengurus masjid biasa disebut dengan DKM (Dewan Kemakmuran Masjid). Keberadaaan DKM sangat penting untuk mengelola masjid dengan baik. Karena bukan hanya persoalan bangunan fisik yang menjadi tanggung jawab dari sebuah DKM, tetapi lebih dari itu. yakni bagaimana DKM dapat membina masyarakat ke arah yang lebih baik. Ada beberapa sebab yang membuat DKM tidak menjalankan perannya dengan baik.Pertama, komitmen dan tanggung jawb pengurus yang rendah. Kedua, ada pengurus yang tidak mengerti tentang bagaimana menjalankan roda kepengurusan dan harus dibagaimanakan masjid itu menurut fungsi yang sebenarnya. Ketiga, tidak ada uraian kerja pengurus dan wewenang yang jelas. Keempat, waktu, tenaga dan pikiran serta perhatian pengurus yang kurang, sehingga kepengurusan berjalan sambil lalu. Kelima, terdapat konflik atau ketidak cocokkan pribadi antara pengurus yang satu dengan pengurus yang lain, dan lain-lain.44
Idealnya, pengurus masjid memiliki solidaritas dan kapasitas yang tidak diragukan. Namun, realitanya banyak masjid yang kepengurusannya tidak solid, sebagaimana nampak dari kurang berfungsinya seksi-seksi, pelaksanaan program bertumpu pada satu atau dua orang saja dengan segala keterbatasannya. Aktifitas yang ada di masjid tidak banyak dan tidak bervariasi. Akibatnya kepengurusan masjid tidak memperoleh kepercayaan dari jama’ahnya. Oleh karena itu, agar kepengurusan Dewan Kemakmuran Masjid yang ideal dapat terwujud, maka
43Asadullah al-Faruq, Panduan Lengkap Mengelola & Memakmurkan Masjid, (Solo:
Pustaka Arafah, 2010), Cet. Ke-1, 84-101. Lihat pula Asep Usman Ismail dan Cecep Castraawijaya, Manajemen Masjid, (Bandung: Angkasa, 2010), h. 127-134.
44
Dewan Kemakmuran Masjid perlu melaksanakan pelatihan manajemen masjid, atau mengikut-sertakan pengurus masjid dalam kegiatan di lembaga-lembaga dakwah dan kemasjidan serta pelatihan pengurus (Training Centre Kepengurusan), yang diawali penyamaan visi, persepsi dan langkah-langkah dalam memakmurkan masjid. Materi yang disampaikan mencakup peningkatan kepribadian sebagai pengurus masjid, wawasan kemasjidan dan kemampuan manajerial.45
C. Hakekat Peran dan Transmisi 1. Peran
Peran berarti pemain sandiwara atau film, tukang lawak pada permainan makyong, perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat. Dalam Kamus Bahasa Indonesia peran adalah suatu yang jadi bagian atau yang memegang pimpinan yang terutama.46 Menurut Abu Ahmadi, peran adalah suatu kompleks pengharapan manusia terhadap caranya individu harus bersikap dan berbuat dalam situasi tertentu berdasarkan status dan fungsinya.47 Sedangkan Soerjono Soekanto menegaskan bahwa peran merupakan aspek dinamis kedudukan atau status, apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka ia telah menjalankan suatu peranan yang disebut dengan peranan normatif. Sedangkan peranan normatif yang berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab.48
Peran seperti diuraikan di atas, merupakan sebuah teori yang biasa digunakan dalam dunia hiburan, yakni seorang aktor dalam dunia hiburan harus bermain sebagai tokoh tertentu dan dalam posisinya sebagai tokoh, ia diharapkan bisa berprilaku secara tertentu. Posisi seorang aktor dalam dunia hiburan dianalogikan dengan posisi seseorang dalam masyarakat dan keduanya memiliki kesamaan posisi. Dalam konteks sosial, peran berarti suatu fungsi yang dibawakan
45
46 W.J.S. Poerwodarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaaka, 1984), h. 735.
47 Abu Ahmadi, Ilmu Sosial Dasar, (Jakarta: Bina Aksara, 1988), h. 93.
48 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajawali, 1982), Cet. Ke-1, h.
233
seseorang ketika menduduki suatu posisi dalam struktur sosial. Dengan demikian, peranan dan kedudukan seperti ditegaskan oleh Astrid S. Susanto, kecuali merupakan unsur-unsur baku dalam sistem berlapis, juga mempunyai arti yang penting bagi sistem sosial masyarakat. Sedangkan yang dimaksud dengan sistem sosial adalah pola-pola yang mengatur hubungan timbale balik antar individu dalam masyarakat dan antara individu dengan masyarakatnya dan tingkah laku individu-individu tersebut. Dalam hubungan timbal balik tersebut, maka kedudukan dan peranan individu mempunyai arti penting, karena langgeng dan tidaknya masyarakat tergantung pada terjadinya keseimbangan kepentingan individu-individu tersebut.49
Peranan (role) merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status).
Apabila seseorang melaksanakan hak-hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka dia telah menjalankan suatu peranan. Keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan, lantara yang satu tergantung pada yang lain atau sebaliknya juga demikian.Tak ada peranan tanpa kedudukan atau kedudukan tanpa peranan.
Sebagaimana kedudukan, peranan mempunyai dua arti yakni sebagai penentu apa yang diperbuatnya bagi masyarakat dan kesempatan-kesempatan apa yang bisa diberikan oleh masyarakat kepadanya. Jadi, peranan berarti mengatur perikelakuan seseorang dan menyebabkanseseorang pada batas-batas tertentu dapat meramalkan perbuatan-perbuatan orang lain, sehingga orang tersebut dapat menyesuaikan perikelakuannya sendiri dengan perikelakuan orang-orang sekelompoknya, sehingga hubungan sosial yang ada dalam masyarakat merupakan hubungan antara peranan-peranan individu-individu dalam masyarakat, yang diatur oleh norma-norma yang berlaku dalam masyarakat itu sendiri.50
Minimal peranan itu mencakup 3 hal, sebagai berikut:
49 Astrid S. Susanto, Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial, (Bandung: Bina Cipta, 1979), Cet. Ke-2, h. 94.
50 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajawali, 1982), Cet. Ke-1, h.
237-238. Lihat pula Astrid S. Susanto, Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial, (Bandung: Bina Cipta, 1979), Cet. Ke-2, h. 94.
a. Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan.
b. Peranan adalah suatu konsep perilaku apa yang dapat dilaksanakan oleh individu-individu dalam masyarakat sebagai organisasi.
c. Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu, yang penting bagi struktur sosial masyarakat.51
Dalam pada itu, ditemukan pula bahwa dalam kehidupan peranan tidak sesuai dengan harapan yang tepat dalam menduduki suatu status dan hal itu terjadi karena:
a. Harapan masyarakat kurang memperhatikan tindakan sebenarnya atau sebaliknya;
b. Apabila harapan masyarakat akan tindakannya diketahui, akan tetapi waktu dan situasi tidak memungkinkannya bagi individu yang bersangkutan;
c. Apabila pemenuhan harapan masyarakat di luar kemampuan individu.52 Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa untuk keadaan dimana tindakan dan peranan sesuai satu sama lain, diperlukan adanya suatu “tekanan peranan,” atau suatu ketegangan dalam diri individu. Dalam situasi yang demikian, maka individu memperoleh kesempatan untuk mengadakan reorganisasi dari sistem peraanannya, yakni apabila tidak memenuhi harapan masyarakat akan dikenakan sanksi. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa harapan akan pelaksanaan peranan tertentu oleh orang lain ditentukan oleh factor status dari orang-orang dengan siapa individu mengadakan interaksi; sifat dari hubungan individu dengan orang lain dan apakah individu menduduki lebih dari satu status. Jadi, jelas bahwa peranan seseorang akan berubah-rubah sesuai dengan situasi yang dihadapinya, artinya sesuai dengan situasi dengan siapa ia sedang mengadakan interaksi.
51 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajawali, 1982), Cet. Ke-1, h.
238-239.
52 Astrid S. Susanto, Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial, (Bandung: Bina Cipta, 1979), Cet. Ke-2, h. 95.