PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
A. Deskripsi Data
4. Sejarah Masjid Inti Iman
4. Sejarah Masjid Inti Iman
Masjid Inti Iman berdiri tahun 2003. Bermula dari kegelisahan warga Vila Inti Persada, lantaran tidak memiliki masjid, karena waktu itu, untuk komplek sebesar ini sama sekali belum ada tempat ibadah, sehingga sebagian besar warganya terpaksa keluar ketika harus beribadah baik untuk salat wajib, salat lima waktu maupun untuk salah Jum’at. Jadi sangat merepotkan, apalagi kalau
67 Lihat Lampiran Susunan Struktur Organisasi Yayasan Masjid at-Taqwa, Visi, Misi dan Program Kerja Yayasan Masjid at-Taqwa Periode 2017-2020.
68 Wawan Darmawan, Ketua Bidang Operasional & Ibadah, Wawancara Pribadi, Pamulang Timur, Senin, 30 September 2019.
sudah mulai shalat subuh atau shalat jum’at, kebetulan hari libur mereka harus keluar. Oleh karena itu, beberapa warga ketia ada pengembangan komplek yang tadinya Villa Inti Persada meminta idzin ke pihak developer untuk mendirikan mushola. Alhamdulillah disetujui, sehingga di tempat masjid itu berdiri, di sebuah tanah yang dipersiapkan untuk fasilitas umum, dibangunlah mushalla Inti Iman.
Kemudian dalam perkembangannya ditingkatkan menjadi masjid di Inti Iman, bahkan di kompleks perumahan Vila Inti Persada, warga juga dijinkan untuk membangun Masjid Vila Inti Persada.yang tujuannya untuk mengakomodasi jama’ah Vila Inti.
Dengan terbangunnya dua masjid di Vila Inti Persada, maka pengurus masing-masing masjid mangadakan musyawarah dan bekerja sama agar jama’ah bisa sama-sama memakmurkan masjid. Program-programnya sudah ada dan dalam sebulan ada 4 kali pengajian, qiyamul lail, hampir setahun sekali mengadakan silaturahmi, jalan-jalan pengurus dengan jama’ah. Peminatnya cukup banyak. Oleh karena itu, cara ini pengurus jadikan magnet untuk menarik jama’ah yang lain untuk gemar atau senang ke masjid. Awalnya dari acara seperti ini baru mulai edukasi shalat jama’ah bersama-sama untuk subuh dan mendatangi majelis ta’lim, bahkan anak-anak juga diarahkan untuk selalu gemar main ke masjid.
Dicoba edukasi orang tuanya dari pada main game sesudah magrib lebih baik ke masjid untuk belajar membaca Al-Qur’an dan ikut shalat Magrib bersama-sama, tetapi, tidak serta-merta bisa kalau orang tuanya tidak memberi contoh.
Alhamdulillahnya di sini bisa, walaupun orang tuanya banyak kerja di Jakarta, berangkatnya sesudah salat Subuh dan pulangnya Isya’. Pengurus Juga mencoba menarik jama’ah-jama’ahnya untuk Salat Shubuh berjama’ah dan bila kebetulan mereka puasa, pengurus juga menyediakan kopi dan teh dan sampingannya.
Alhamdulillah berhasil dan sudah berjalan hampir cukup lama sekitar 3 tahun. itu beberapa hal yang bisa menarik jama’ah untuk bisa selalu ke masjid, karena secara kebetulan tempat tinggal mereka tidak terlalu jauh dari masjid dan untuk proses ini dicari warga yang rumahnya agak dekat dengan masjid.
Pengajian di Masjid Inti Iman dilaksanakan setiap pagi minggu kedua dan minggu keempat, serta Ahad malam atau malem Senin, karena jika dilaksanakan
di hari Sabtu dan Minggu, banyak jama’ah yang tidak bisa datang, karena sebagian jama’ah ada acara keluarga, Jadi, dipilih Minggu malem Senin, karena biasanya jama’ah sudah di rumah, sehingga mudah dijalankan. Jadi, 2 kali dengan pola tematik. Dua minggu pertama diisi oleh Ustadz Ali Nurdin yang membahas tentang al-Qur-an dan tafsirnya. Kajian fiqih diisi Pak Sidiq. Minggu pertama dibahas Riyadhus-Shalihin, Minggu kedua ngundang penceramah dari luar, materinya diserahkan keapda narsum dan terstruktur. Pesertanya sekitar 30 -50 orang. Tetapi ketika Shalat Subuh jama’ah mencapai 150 – 200 jama’ah, karena memang daya tamping masjid segitu. Oleh karena itu, perlu diperluas dan dilebarkan baik ke kiri maupun ke kanan. Apalagi kalau Shalat Subuh hari libur,salat jum’at di hari libur,jama’ah harus sudah berangkat dulu-duluan, bila tidak, maka tidak akan dapat tempat.
Selain pengajian bapak-bapak, juga, ada pengajian Ibu-Ibu yang dilaksanakan di hari selasa-kamis, dengan pola tematik, dan tahsin al-Qur’an pada hari Sabtu dan Rabu,minggu kedua oleh Ibu Maimunah Ali Nurdin.Ketuanya Bu Rianah dan sekarang sudah ganti Bu Febri, baru diganti. Kemudian juga mengundang ustadzah, karena memang ada budget untuk pengembangan pengajian ibu-ibu. Jadi, mereka tinggal mencari nara sumber, dan pengurus memberikan dananya. Remaja saat ini sebenanya sudah dibentuk, tetapi belum berjalan karena remaja disini belum banyak, tetapi anak-anak usia 12 tahunan justru lebih banyak. TPA ada, setiap sore dan pagi, Pesertaya juga banyak, hampir 50-60 orang. Pagi untuk TPA-nya, untuk anak-anak TK al-Qur’an, sedang sore baru untuk dari warga disini yang putra putrinya mau belajar atau ngaji. Setiap tahun hampir 60 murid diwisuda untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
TPA kelas sore diikuti oleh anak-anak kompleks. Kebetulan disini ada Pesantren Tahfidz al-Qur’an yang dikelola oleh Dr. Ali Nurdin yang diikuti oleh banyak mahasiswa, baik mahasiswa Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an maupun dari mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dari mereka diharapkan dapat menularkan ilmu yang mereka punyai untuk mengajar TPA.Kemudian untuk mengajar ngaji mereka diperdayakan, bahkan untuk urusan marbot, di antara mereka yang bacaannya bagus, justru menawarkan diri dan diberi insentif. Jadi,
selain belajar al-Qur’an, mereka juga berdayakan untuk ikut sam-sama ngurus masjid. Secara part timer mereka bisa, karena masih muda dan ide-idenya masih banyak. Untuk itu, pengurus selalu menginformasikan kepada seluruh warga dan jama’ah agar menitipkan putra-putrinya, mumpung ada sumber daya yang bagus-bagus. Kalau Bapak/Ibu titipkan anak-anaknya disini untuk belajar, Insya Allah yang didapat bukan sesuatu yang remeh-temeh, melainkan mereka akan dapat ilmu dan bisa menghafal al-Qur’an, dan tentu dari segi bacaan juga bagus, dari pada ngundang ngaji di tempatnya, lebih baik di masjid Inti Iman.
Untuk transfer imam, Dr. Ali Nurdin, pengelola tahfidz al-Qur’an telah melakukannya, dengan menempatkan marbot di Masjid Raya Vila Inti Persada, di Masjid Cilandak KKO, di Masjid Bumi Serpong Damai, dan di Masjid Delatinos.Mereka belum selesai atau hampir selesai sambil praktek dikirim ke masjid-masjid tersebut. Selain itu, kegiatan yang bisa menarik dalam mengajarkan ilmu agama juga dilakukan di rumah warga, mereka di data siapa jama’ah yang bersedia menjadi tempat pengajian. Metodenya setoran, mereka bersama-sama membaca al-Qur’an dan menghafal dan guru menyimak atau sima’iyan,seorang santri menghafal satu juz dan bila tiga orang yang datang berarti 3 juz. Mereka menghafal dan guru nyimak. Biasanya dilaksanakan pada hari Minggu dan Sabtu dari pukul 09.00 – 11.00, salat jama’ah, diteruskan dengan makan bersama. Di samping mereka akrab, juga belajar. Jadi, sudah dibikin program dalam satu tahun, dan sudah dilist siapa yang mau ketempakan untuk program ini, dan ternyata antri, “Pak saya duluan dong karena minggu ini...” Baik, semua bisa diatur, yang penting semua orang bisa datang ke tempat nanti, karena manfaat salah satunya, bila rumah dibacakan al-Qur’an pasti akan mendapatkan keberkahan. Termasuk kalau ada acara shalat Idul Fitri, Idul Adha, pengurus konsultasi ke Dr. Ali Nurdin, siapa santri kira-kira bisa jadi Imam.
Pak Bowo berasal dari Tegal, sedang Dr. Ali Nurdin berasal dari Jombang Jawa Timur, juga ada Dr.Harapandi dari Nusa Tenggara Barat, mengajar di al-Aqidah Kayu Manis, Jakarta Timur. Tentang yayasan, sebenarnya sudah ada wacana untuk membentuknya, tetapi urusannya panjang, antara lain minta surat wakaf dan lain sebagainya. Kemarin sudah dissus dengan beberapa orang dari
DEPAG untuk pengurusan, tetapi minta surat ke developer, harus minta pelepasan, karena sebenarnya kompleks Perumahan Vila Inti Persada kan sudah diserahkan ke PEMDA, sehingga harus minta surat ke PEMDA bahwa fasos dan fasum ini dijadikan sarana masjid, selanjutnya ke Badan Pertanahan untuk mendapatkan idzin. Berarti status tanah masjid Inti Iman masih hak guna pakai.
Dengan Yayasan, maka ada legalitas, sehingga kegiatan keluar juga gampang.Mudah-mudahan yayasan tahun ini bisa selesai.Dengan demikian, posisi Bapak Bowo, hanya sebagai DKM, tetapi ada Strukturnya dan ada AD/ART-nya, mulai pembina, pengawas, penanggung jawabnya dan lain-lain. Cuma legalnya belum ada. Secara organisasi ada AD/ART., lengkap, termasuk secara kewilayahan Lurah dan RW juga dillibatkan dalam kepengurusan. Visi dan Misinya juga ada. BMT, ada BAZIZ, tujuannya untuk memudahkaan zakat mal, tetapi masih untuk menajring warga daerah sekitar. Juga ada kegiatan sembako murah diadakan sebelum Ramadhan. Hampir 300-500 paket dan setiap ada kegiatan dibagikan ke warga disini. Mereka membeli dengan harga murah dan kekurangannya masjid menambah modal. harga Rp 100.000,- mereka beli Rp 10.000,-. Tujuannya adalah untuk menjaga keharmonisan antara warga kompleks dan warga yang tinggal di kampung di luar kompleks perumahan, karena dulunya kurang harmonis, banyak kehilangan, akhirnya Pak Ali Nurdin usulkan dan diterima jama’ah.Tidak perlu menyalahkan siapa-siapa, kita rangkul mereka, dengan cara mereka bisa datang kesini dan bisa mensyi’arkan bila ada masjid di sini. Termasuk kurban, hampir ekor 5 sapi dan kambing + 30 ekor.
Untuk operasional di Masjid Inti Iman, diadakan iuran sukarela, seperti donatur tetap, terserah mereka mau Rp 20.000,- atau mau berapa, tetapi tercatat.
Jadi, maunya berapa nih, misalnya sebulan Rp 100.000,- seperti iuran RT, tapi untuk masjid. Alhamdulillah operasional masjid tercukupi dan ketutup. Untuk zakat fitrah ada bagiannya sendiri yang penyalurannya diberikan ke Kelurahan dan sebagian besar lainnya disalurkan melalui organisasi, tetapi yang utama disalurkan ke warga kampung di sekitar masjid dan kompleks perumahan Vila Inti Persada. Kurban beda, selain disalurkan ke warga kampung, juga disalurkan ke warga kompleks. Kalau disini, bila semua warga kompleks, security dan
pembantu sudah beres, baru ke warga kampung sekitar. Maskudnya juga untuk syi’ar. Maksudnya, di situ ada Masjid Indi Iman, siapa tahu dengan selalu memberi mereka mau ke masjid. Non muslim juga dapat bagian kurban. Masjid Inti Iman tidak membeda-bedakan.
Soal perpustakaan, rintisannya sudah ada, ruangannya sudah ada tapi vakum, sudah sumbangan dari jama’ah, tetapi belum maksimal. Sudah ada semangat untuk memberikan buku yang tidak terpakai. Raknya masih ada, cuma semangat untuk mengumpulkan buku dari warga yang kurang, padahal buku yang sudah tidak terpakai dari anak-anak sekolah menengah, Menengah Atas, Menengah Pertama dan Sekolah Dasar sangat banyak, karena ketika mereka mahasiswa buku-buku itu tidak dipakai lagi, padahal isinya bagus dan sama, hanya penulis dan beda raiannya. Jadi, pengurus sudah bikin ruangan, tetapi konsentrasi belum kesitu. Makanya, nanti generasi berikutnya yang harus perhatian Remajanya sudah mulai banyak dan mereka mulai dibiasakan bagaimana cara merawat perpustakaan, karena perpustakaan memang penitng juga sebagai daya tarik datang ke masjid. Disini minat bacanya masih kurang, Santri hafalkan al-Qur’an, Shalat Dhuha, lalu diam di masjid, deres sendiri.
Soal efektifitas hubungan ta’lim dengan ibadah seperti salat dan amalan salih lainnya, mencari harinya lebih pas, karena tipe jama’ah merupakan pekerja, mulai senin sampai jum’at mereka harus mencari nafkah, terus sabtu minggu mereka di rumah. Hari sabtu, mereka acara keluarga, hari minggu malam direcharge lagi, sudah hampir seminggu urusannya dunia melulu, hari minggunya mungkin bisa membuat mereka harus datang dengerin, kemudian dipraktekan.Jadi, mereka tersentuh untuk melakukan amal-amal tadi, yang prosentasenya diperkirakan mencapai 60%.Jadi, lebih efektif, karena mereka bertanya secara langsung kalau tidak mengerti, sehingga bisa dijelaskan lebih lanjut.Di Masjid Inti Iman juga ada grup untuk jama’ah semua. Jama’ah masjid Inti Iman hampir 300an. Setelah itu, pengurus juga share hasil ta’limnya di group dan melalui bulletin untuk jama’ah tidak ada kesempatan hadir.
Dengan demikian, pengurus harus kreatif dalam menarik jama’ah untuk datang ke masjid dan mengikuti mudlakarah, seperti menyediakan makanan kecil,
sesuatu yang penting, karena setelah itu, mereka bisa silaturahmi, ngobrol dan diskusi materi yang telah dibahas dalam suasana yang berbeda, sambil bercanda,sambil makan soto atau apa saja yang disediakan. Pengadaannya juga swadaya dan jadi rutinitas, kalau tidak datang ke masjid, rugi, tidak bisa ngobrol, tidak bisa rame-rame, dantidak bisa menikmati. karena yang tinggal dan menjadi jama’ah berasal dari daerah yang beragam, beragam sukunya, Tegal makanannya beda, Jawa Timur makanannya beda, Padang makanannya beda. Jadi, semua berlomba-lomba. besok apa ? Besok saya dari Aceh mau bikinin mie Aceh, jadi, semangat untuk itu ada.
Suka duka sebagai DKM, karena kegiatan masjid merupakan kegiatan sosial, maka sukanya kenal banyak orang temasuk, pewawancara. Juga memotivasi saya sebagai pengurus untuk menyekolahkan anak yang SMA ke pesantren. Dalam kehidupan ternyata tidak perlu sekolah favorit-favorit, karena hanya di dunia saja, setelah itu meninggal, lalu mau ngapain ? lebih baik menitipkan anak ke pesantren, sehingga saya juga tenang bekerja, sedangkan dukanya, mengurus masjid, kalau tiba-tiba listriknya mati, kerannya mati yang dicari pengurus, karena masjid Inti Iman belum memiliki Genset, apalagi kalau ada kegiatan, tidak semua jama’ah setuju, misalnya memindahkan tempat wudhu dari samping ke depannya tempat shalat, sudah harus adu argumen, tentang fiqihnya. Semua punya pendapat, sehingga harus ada cara untuk menyatukannya.
Pendapat itu ditampung semua, lalu diserahkan kepada tokoh-tokoh yang bisa menyatukan masalah itu, melalui peran Dr. Ali Nurdin. Jadi, dalam masjid harus ada tokoh setral, karena yang terakhir dimintain pendapat. Kalau tokph sentral tidak ada, maka jama’ahnya bingung, mau minta pendapat ke siapa, tetapi bila ada tokoh sentral, maka dengan jawabannya semua jama’ah setuju. Jadi, dana tidak menjadi kendala, semuanya lancar, apalagi untuk urusan masjid, bila programnya dan dasarnya jelas, jama’ah dengan sukarela akan membantu dan mengeluarkan untuk masjid.
Dengan demikian, untuk pengelolaan masjid, pengurus harus belajar dari kultur masyarakatnya. kultur masyarakat kita itu apa, kalau kaya di Vila Inti banyak, mereka bekerja mulai Senin sampai Jum’at, bila diberi program kegiatan
yang full, percuma, artinya masjid dibangun besar tetapi jama’ahnya tidak ada.
Jadi, pengurus harus megikutin struktur masyarakat yang ada. Efektif itu harussesuai dengan ritme kehidupan orang yang tidak selamanya bekerja terus.
Mereka yang pensiun juga bisa berubah. Pola orang yang pensiun akan berubah, lebih banyak di rumah, sehingga pengurus juga mulai menambah kegiatannya yang sesuai dengan kebutuhan.Untuk yang sekarang, karena mereka masih usia produktif, maka pengurus juga harus mengikuti iramanya. Konsep pengurus, jangan menjauhkan mereka dari masjid betapapun mereka harus selalu diajak untuk datang ke masjid. Apapun jenis kegiatannya,harus selalu ditempelkan dengan masjid, termasuk olahraga, pengurus melaksanakan gowis yang berkumpul dan pulangnya di masjid.
Soal pelatihan, pengurus terakhir pengurus menyelenggarakan pelatihan pemulasaraan jenazah dengan mengundang nara sumber, di sampain juga mengirim jama’ah atau bendaraha untuk mengikuti pelatihan Aplikasi Bendahara di luar Masjid Inti Iman seperti ke ITB. Pemulasaraan jenazah merupakan keprihatinan. Apakah ada yang bisa cara memandikan jenazah dan mengkafaninya? “Belum ada,” maka dipanggillah narsum kesini kita belajar bareng-bareng. Apa saja kebutuhannya, disiapkan, walaupun disini juga ada amil, tetapi setidaknya kita tahu apa yang harus dipersiapkan. Tetapi dalam program kerja harus sering diadakan, minimal setahun sekali atau duakali untuk mengingatkan, termasuk salat jenazah, apalagi jika imam masjid atau marbot memiliki keterampilan tersebut, maka akan lebih memudahkan.